Kajian Nashoihul ‘Ibad: Menguatkan Ilmu, Amal, Kompetensi, dan Moral dalam Kehidupan 1

Kajian Nashoihul ‘Ibad: Menguatkan Ilmu, Amal, Kompetensi, dan Moral dalam Kehidupan

Sidoarjo, UNUSIDA – Kegiatan rutin kajian keislaman kembali dilaksanakan sebagai bagian dari upaya memperkuat pemahaman keagamaan dan pembelajaran Al-Qur’an di lingkungan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Kajian yang berlangsung secara rutin tersebut menghadirkan H. M. Arisy Karomy, S.T., M.Pd.I. sebagai pemateri dengan pembahasan kitab Nashoihul ‘Ibad, salah satu kitab yang berisi nasihat dan tuntunan kehidupan bagi umat Islam.

Dalam penyampaiannya, H. M. Arisy Karomy mengawali kajian dengan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ia juga mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk mengikuti kegiatan pengajian dan memperdalam ilmu agama secara rutin.

Kajian tersebut menekankan bahwa pembelajaran agama tidak hanya bertujuan menambah pengetahuan, tetapi juga menjadi sarana untuk membentuk karakter, memperbaiki amal, dan mengarahkan manusia agar mampu menjalani kehidupan sesuai dengan tuntunan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Salah satu pesan penting yang disampaikan adalah mengenai ilmu dan kemampuan yang dimiliki manusia sebagai karunia sekaligus amanah dari Allah. Setiap manusia memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Melalui pendidikan dan pengalaman, seseorang dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, kemampuan berkomunikasi, menguasai teknologi, menjalankan berbagai profesi, serta menyelesaikan beragam persoalan dalam kehidupan.

Namun, kemampuan tersebut tidak semestinya hanya dipandang sebagai hasil usaha manusia. Di balik kemampuan yang dimiliki terdapat karunia Allah yang patut disyukuri. Oleh karena itu, semakin tinggi ilmu dan kompetensi seseorang, semakin besar pula tanggung jawab untuk menggunakan kemampuan tersebut dalam kebaikan.

Dalam perspektif tersebut, ilmu tidak cukup hanya dipelajari dan disimpan sebagai pengetahuan pribadi. Ilmu perlu diamalkan sehingga memberikan manfaat bagi kehidupan. Seseorang yang memiliki ilmu dan kompetensi diharapkan mampu menghasilkan karya, membantu orang lain, serta menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan di masyarakat.

H. M. Arisy Karomy juga mengingatkan pentingnya moral dan akhlak dalam penggunaan ilmu serta kemampuan. Kemajuan teknologi dan perkembangan zaman membuat manusia memiliki semakin banyak kesempatan untuk berkembang. Akan tetapi, kemajuan tersebut harus tetap diiringi dengan nilai moral dan akhlak yang baik.

Kompetensi tanpa moral dapat kehilangan arah. Sebaliknya, ilmu yang dibangun bersama akhlak akan menjadi bekal penting dalam membentuk pribadi yang berkualitas. Karena itu, kualitas seseorang tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi pendidikan atau seberapa banyak keterampilan yang dimiliki, tetapi juga oleh bagaimana ia menggunakan ilmu tersebut.

Pesan tersebut juga berkaitan dengan pentingnya kepemimpinan. Seseorang yang memiliki ilmu, kompetensi, dan kemampuan memimpin harus mampu memberikan teladan kepada orang lain. Kepemimpinan bukan sekadar kemampuan untuk mengarahkan, tetapi juga tanggung jawab untuk membimbing, memberikan manfaat, dan membawa orang-orang di sekitarnya menuju kebaikan.

Ilmu yang dimiliki seseorang akan menjadi lebih bermakna ketika mampu ditransformasikan menjadi karya dan kebermanfaatan. Demikian pula pengalaman yang dimiliki hendaknya dapat dibagikan kepada generasi berikutnya. Dengan demikian, ilmu tidak berhenti pada satu individu, tetapi dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas.

Kajian Nashoihul ‘Ibad tersebut menjadi momentum untuk melakukan refleksi bahwa kehidupan manusia tidak hanya berkaitan dengan pencapaian duniawi. Pendidikan, pekerjaan, teknologi, kompetensi, dan berbagai kemampuan yang dimiliki harus diarahkan untuk mendekatkan diri kepada Allah serta memberikan kemaslahatan bagi sesama.

Melalui kajian rutin ini, jamaah diharapkan semakin memahami pentingnya keseimbangan antara ilmu, amal, kompetensi, dan moral. Ilmu yang disertai amal akan melahirkan kebermanfaatan, kompetensi yang disertai akhlak akan melahirkan pribadi yang berkualitas, sedangkan kepemimpinan yang dilandasi nilai-nilai agama akan mampu memberikan arah dan keteladanan bagi masyarakat.

Kajian tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap ilmu dan kemampuan merupakan amanah. Maka, tugas manusia bukan hanya terus belajar, tetapi juga mengamalkan, mengembangkan, dan membagikan ilmu tersebut agar menjadi manfaat bagi keluarga, lingkungan, masyarakat, dan umat.

Dengan semangat memperdalam ilmu agama melalui kajian Nashoihul ‘Ibad, kegiatan rutin ini diharapkan dapat terus menjadi ruang pembinaan spiritual dan intelektual. Tidak hanya meningkatkan pemahaman keagamaan, tetapi juga membentuk insan yang memiliki ilmu, kompetensi, akhlak, serta kepedulian untuk menghadirkan kebermanfaatan di tengah masyarakat.

Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., saat menyampaikan sambutan dalam Yudisium ke-2 FAI UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Plt Rektor UNUSIDA: Lulusan FAI Harus Sadar, Kompeten, dan Berani Menciptakan Peluang

SIDOARJO — Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., berpesan kepada para lulusan Fakultas Agama Islam (FAI) UNUSIDA agar menjadikan kelulusan sebagai momentum memasuki babak baru kehidupan. Menurutnya, perubahan hanya dapat dimulai dari kesadaran diri untuk terus berkembang dan menghadapi tantangan.

Pesan tersebut disampaikan Hadi saat memberikan sambutan dalam Yudisium ke-2 Fakultas Agama Islam (FAI) UNUSIDA, yang diikuti para mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), Jum’at (7/8/2026).

Dalam kesempatan tersebut, pihaknya sangat mengapresiasi perjuangan para mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan, termasuk mereka yang sudah lama mengabdi sebagai guru namun tetap meluangkan waktu untuk menempuh pendidikan tinggi.

Menurutnya, proses pendidikan tidak selalu mudah. Ada mahasiswa yang menghadapi persoalan administrasi, keterbatasan waktu, hingga faktor usia. Namun, semangat untuk menyelesaikan pendidikan menjadi modal penting dalam membangun perubahan.

Mengutip gagasan tentang awareness before change, Hadi menekankan bahwa kesadaran merupakan pintu menuju perubahan. Ia mengajak para lulusan untuk menyadari bahwa kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal untuk memasuki kehidupan yang lebih luas dengan tanggung jawab yang lebih besar.

“Kalau saudara-saudara semua ingin berubah, nomor satu adalah sadar. Selesai. Akhirnya empat tahun memasuki babak baru. Kalau tidak sadar, maka akan menjadi problem,” tegasnya.

Hadi menilai kesadaran tersebut penting karena lulusan PGMI dan PIAUD akan menghadapi persaingan yang cukup besar. Ribuan lulusan bidang pendidikan terus bertambah setiap tahun, sehingga para lulusan UNUSIDA harus memiliki keunggulan dan keberanian untuk mengambil peluang.

“Sekarang banyak sekali yang melakukan pendidikan di sini. Lalu ke mana ribuan yang sudah lulus itu? Tempatnya banyak atau tambah sedikit? Oleh karena itu, sadar itu penting sekali,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan para lulusan, khususnya yang akan menekuni profesi guru, untuk menguasai kompetensi yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan. Ia menyebut tiga kompetensi utama guru, yakni kompetensi profesional, pedagogik, dan sosial.

“Kompetensi utama guru ada tiga, profesional, pedagogik, dan sosial. Kita harus sadar tantangan di depan kita itu besar,” ujarnya.

Menurutnya, kompetensi yang telah diperoleh selama kuliah harus benar-benar diterapkan dalam kehidupan nyata. Para lulusan tidak boleh hanya menunggu mendapatkan pekerjaan dari sekolah atau yayasan, tetapi harus berani menciptakan peluang sesuai dengan keahlian yang dimiliki.

Ia mencontohkan peluang menjadi guru les sebagai salah satu bentuk edupreneurship yang dapat dikembangkan lulusan pendidikan.

“Jangan takut membuat les. Banyak sekali anak-anak yang membutuhkan les, bukan hanya kelas enam, tetapi anak PAUD, TK, kelas satu dan dua. Itu peluang,” tuturnya.

Ia menyebut sikap tersebut sebagai bagian dari semangat edupreneur, yakni keberanian mengembangkan kompetensi pendidikan menjadi peluang yang memberikan manfaat sekaligus nilai ekonomi.

“Ini namanya edupreneur. Jangan takut. Tapi jangan berhenti untuk menaikkan kompetensi. Itu yang penting,” pesannya.

Tak hanya itu, ia berharap para lulusan tidak hanya mendapatkan gelar sarjana, tetapi mampu menghadirkan perubahan di lingkungan masing-masing. Bagi lulusan yang sudah bekerja, keberhasilan bukan sekadar mendapatkan ijazah, melainkan mampu menunjukkan perubahan positif di tempat kerja.

“Kalau yang sudah bekerja, perubahan apa di tempat kerja yang orang luar biasa itu hadir membawa perubahan,” katanya.

Ia mencontohkan keberadaan lembaga pendidikan di tingkat masyarakat yang berkembang sebagai bukti bahwa kehadiran seorang pendidik dapat meninggalkan jejak perubahan. Menurutnya, lulusan UNUSIDA harus mampu “menulis sejarah” melalui karya dan pengabdian yang dilakukan setelah menyelesaikan pendidikan.

“Setelah dikuasai, peluang itu akan datang. Jangan takut,” tegasnya.

Dalam sambutannya, Hadi juga menekankan pentingnya pendidikan tinggi sebagai investasi jangka panjang bagi keluarga dan generasi berikutnya.

Menurutnya, ketika orang tua memiliki pendidikan yang baik, maka wawasan dan cara pandang keluarga terhadap masa depan juga akan berkembang. Pendidikan kemudian tidak berhenti pada individu, tetapi dapat diwariskan menjadi semangat bagi generasi berikutnya.

Ia menggambarkan bahwa orang tua yang telah menyelesaikan pendidikan sarjana akan memiliki dorongan agar anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi.

“Maka saya ucapkan selamat karena saudara beruntung lulus di FAI UNUSIDA. Lulus bukan garis akhir. Lulus adalah awal untuk membuktikan bahwa ilmu yang diperoleh di UNUSIDA benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Foto bersama seluruh yudisiawan Yudisium ke-12 FAI UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Yudisium ke-2 FAI UNUSIDA: Teguhkan Dedikasi Cetak Guru Unggul dan Berakhlakul Karimah

SIDOARJO — Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menggelar Yudisium ke-2 dengan mengusung semangat ‘Meneguhkan Dedikasi, Menginspirasi Negeri, Mencetak Guru Unggul, Adaptif, dan Berakhlakul Karimah’, Jumat (7/8/2026).

Kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi mahasiswa setelah menyelesaikan rangkaian pendidikan di jenjang sarjana sekaligus menjadi awal untuk mengabdikan ilmu di tengah masyarakat.

Tanpak hadir Plt. Rektor UNUSIDA Dr. Hadi Ismanto, S.HI., M.Pd., BPP UNUSIDA Hj. Yuli Qayyumillah, MA., Dekan FAI UNUSIDA Feri Kuswanto, S.Pd.I., M.Pd.I., Ketua Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Moh. Anang Abidin, S.H.I., M.Pd., serta Ketua Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Rifatul Anita, S.Pd., M.Pd.

Dekan FAI UNUSIDA, Feri Kuswanto, menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja keras mahasiswa, dosen pembimbing, serta seluruh pemangku kepentingan di lingkungan UNUSIDA. Capaian kelulusan tersebut juga mengalami peningkatan sekitar 5,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Sudah tidak perlu mikir nilai saya jelek atau nilai saya baik. Sekarang sudah selesai. Itu masa-masa di bangku kuliah, sekarang sudah tidak lagi di bangku. Maka senyumnya jangan sampai kecut seperti saat menghadapi ujian skripsi,” ujar Feri dalam sambutannya.

Ia menegaskan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan pintu masuk menuju fase kehidupan dan pengabdian yang baru. Karena itu, para lulusan didorong untuk menentukan langkah setelah menyelesaikan pendidikan.

Menurutnya, setidaknya terdapat tiga pilihan yang dapat ditempuh para lulusan. Pertama, melanjutkan pendidikan ke jenjang magister (S2). Kedua, membangun karier dan keluarga dengan menjadi pribadi yang berprestasi. Ketiga, mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh selama kuliah di lembaga maupun lingkungan tempat mereka mengabdi.

Khusus bagi lulusan yang telah maupun akan berkecimpung di dunia pendidikan, Feri mengingatkan bahwa gelar sarjana kependidikan membawa tanggung jawab besar. Para lulusan tidak cukup hanya memiliki ijazah, tetapi harus mampu menerapkan kompetensi yang telah diperoleh selama perkuliahan.

Ia mencontohkan berbagai kompetensi yang telah dipelajari mahasiswa, mulai dari apersepsi, pre-test, elaborasi, post-test, asesmen, hingga penyusunan perangkat pembelajaran.

“Tidak boleh ada cerita dari mitra bahwa lulusan UNUSIDA tidak bisa mengerjakan RPS. Tantangan kita sering kali adalah hal yang kita bisa itu tidak kita lakukan,” tegasnya.

Feri juga mengingatkan pentingnya integritas akademik dalam menjalankan tugas sebagai pendidik. Menurutnya, perangkat pembelajaran seperti RPS dan RPP harus benar-benar disusun dan dilaksanakan sebagai bagian dari proses pendidikan, bukan sekadar dibuat untuk memenuhi kebutuhan administrasi atau akreditasi.

“Kunci sukses di dunia pendidikan itu tulis apa yang sudah dikerjakan, evaluasi, dan kerjakan apa yang sudah ditulis,” pesannya.

Ia berharap para lulusan FAI UNUSIDA mampu menjadi pendidik yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga menjunjung tinggi integritas, profesionalisme, adaptif terhadap perubahan, serta memiliki akhlakul karimah.

Dalam kesempatan tersebut, Feri juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan dengan berbagai dinamika. Sebagian mahasiswa menyelesaikan studi dalam waktu empat tahun, sementara lainnya membutuhkan waktu lebih panjang maupun lebih singkat sesuai dengan kondisi masing-masing.

Ia menegaskan bahwa proses akademik yang telah dilalui merupakan bagian penting dalam membentuk kesiapan mahasiswa menghadapi dunia profesional.

Feri turut menjelaskan kepada para peserta yudisium mengenai proses administrasi kelulusan, termasuk penerbitan ijazah dan Penomoran Ijazah Nasional (PIN). Ia mengingatkan mahasiswa untuk mengikuti seluruh tahapan administrasi sesuai ketentuan agar proses penerbitan dokumen kelulusan berjalan lancar.

“Selamat kepada seluruh mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan, semoga mampu membawa nama baik almamater, mengabdikan keilmuan di tengah masyarakat, serta mengambil peran dalam mencetak generasi yang unggul, adaptif, berkarakter, dan berakhlakul karimah,” tuturnya.

Suasana forum Program Guru Besar Infokom Mengabdi (GBIM) di UGM (Foto: Humas UNUSIDA)

Perkuat Kurikulum dan Akreditasi, FILKOM UNUSIDA Ikuti Program Guru Besar Infokom Mengabdi APTIKOM di UGM

YOGYAKARTA — Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi melalui keikutsertaan dalam Program Guru Besar Infokom Mengabdi (GBIM) yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pendidikan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Turing, Lantai 4, Gedung D Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (7/8/2026).

Dalam kesempatan tersebut, FILKOM UNUSIDA memperoleh pendampingan langsung dari dua akademisi terkemuka di Indonesia, yakni Prof. Sri Hartati, M.Sc., Ph.D., selaku Ketua Dewan LAM INFOKOM, dan Prof. Agus Harjoko, M.Sc., Ph.D. Kehadiran kedua guru besar tersebut memberikan perspektif yang komprehensif mengenai pengembangan kurikulum, tata kelola akademik, hingga strategi peningkatan mutu program studi sesuai dengan standar nasional akreditasi.

Pendampingan difokuskan pada bedah kurikulum dan pengkajian dokumen akreditasi yang meliputi Instrumen Akreditasi Program Studi (APS) serta Laporan Evaluasi Diri (LED). Kegiatan ini melibatkan seluruh program studi di lingkungan FILKOM UNUSIDA, yaitu Program Studi Sistem Informasi, Informatika, dan Desain Komunikasi Visual (DKV). Seluruh dosen dan tim penyusun dokumen akreditasi berpartisipasi aktif dalam proses diskusi, evaluasi, dan penyempurnaan berbagai dokumen akademik yang menjadi indikator penilaian mutu program studi.

Selama proses pendampingan, kedua guru besar memberikan berbagai masukan strategis mengenai penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi digital yang terus berubah. Selain itu, pembahasan juga menitikberatkan pada implementasi Outcome-Based Education (OBE), penguatan capaian pembelajaran lulusan, pemetaan mata kuliah terhadap profil lulusan, serta penyempurnaan dokumen akreditasi agar sesuai dengan standar dan instrumen terbaru dari LAM INFOKOM.

Tidak hanya berfokus pada aspek administratif, pendampingan juga memberikan wawasan mengenai pentingnya membangun budaya mutu secara berkelanjutan di lingkungan fakultas. Kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, didukung tata kelola akademik yang baik, dinilai menjadi fondasi utama dalam menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan dunia kerja sekaligus mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Dekan FILKOM UNUSIDA, Dr. Arda Surya Editya, S.Pd., M.T., menyampaikan bahwa keikutsertaan dalam Program Guru Besar Infokom Mengabdi merupakan langkah strategis dalam memperkuat kualitas akademik di lingkungan fakultas. Menurutnya, pendampingan dari para guru besar memberikan banyak perspektif baru yang sangat bermanfaat bagi pengembangan program studi.

“Program ini menjadi langkah strategis bagi FILKOM UNUSIDA untuk memperkuat kualitas kurikulum, tata kelola akademik, sekaligus memperluas jejaring kolaborasi antarperguruan tinggi di bidang informatika. Berbagai rekomendasi yang diberikan menjadi bekal penting dalam meningkatkan kualitas akademik dan memperkuat daya saing program studi di tengah tantangan transformasi digital,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat menuntut perguruan tinggi untuk selalu melakukan pembaruan kurikulum secara berkala. Oleh karena itu, masukan dari para guru besar menjadi referensi penting dalam memastikan kurikulum yang diterapkan tetap relevan dengan kebutuhan industri, perkembangan ilmu pengetahuan, serta kebijakan pendidikan tinggi yang terus berkembang.

Selain mendukung peningkatan kualitas akreditasi, pihaknya juga ingin membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara FILKOM UNUSIDA dengan berbagai perguruan tinggi anggota APTIKOM. Ia berharap, melalui kolaborasi ini dapat diwujudkan dalam bentuk penelitian bersama, pengabdian kepada masyarakat, pertukaran dosen, pengembangan kurikulum, hingga penyelenggaraan berbagai kegiatan akademik yang mampu meningkatkan kualitas pendidikan di bidang informatika.

“Kami optimistis mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi teknis di bidang teknologi informasi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, serta mampu menjawab tantangan transformasi digital di berbagai sektor,” ungkapnya.

Ia menyebutkan bahwa kolaborasi ini menjadi bukti komitmen fakultas untuk terus melakukan perbaikan berkelanjutan dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi. Upaya tersebut sejalan dengan visi UNUSIDA dalam menghasilkan lulusan yang unggul, inovatif, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta memiliki karakter yang mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat.

“Hasil kolaborasi ini menjadi fondasi penting bagi penyempurnaan kurikulum, penguatan akreditasi program studi, peningkatan tata kelola akademik, serta lahirnya berbagai kolaborasi inovatif yang memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu komputer dan teknologi informasi di Indonesia. Sebagai ikhtiar dalam menghadirkan pendidikan berkualitas yang relevan dengan kebutuhan zaman sekaligus mendukung terwujudnya sumber daya manusia unggul di era digital.,” jelasnya.

Selain agenda pendampingan, kegiatan ini juga dihadiri oleh Aina Musdholifah, Ph.D., Head Department of Computer Science and Electronics, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, UGM. Dalam kesempatan tersebut, dilakukan diskusi mengenai peluang kerja sama antarperguruan tinggi di bidang computer science.

Pembahasan mencakup pengembangan kurikulum, kolaborasi penelitian, pertukaran dosen dan mahasiswa, penyelenggaraan program akademik bersama, hingga penguatan jejaring internasional. Diskusi tersebut menjadi langkah awal dalam membangun sinergi yang lebih luas untuk mendukung kemajuan pendidikan tinggi di bidang informatika.

UNUSIDA Sukses Perkuat Komitmen Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi melalui Workshop PPKPT 2

UNUSIDA Sukses Perkuat Komitmen Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi melalui Workshop PPKPT

Surabaya – Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) terus menunjukkan komitmennya dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui partisipasi aktif Tim Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) UNUSIDA dalam Workshop Capability PPKPT yang diselenggarakan di Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya.

Workshop menghadirkan sejumlah narasumber dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta berbagai perguruan tinggi yang telah berpengalaman dalam implementasi PPKPT. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas anggota Satgas agar mampu menjalankan fungsi pencegahan, penanganan, pendampingan, hingga pelaporan kasus kekerasan secara profesional sesuai regulasi yang berlaku.

Pada sesi pertama, Agung Yundi Bahuda Sistawan dari LLDIKTI Wilayah VII menegaskan bahwa keberadaan Satgas PPKPT tidak hanya bertujuan memenuhi kewajiban administratif perguruan tinggi, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi terciptanya rasa aman dan nyaman bagi seluruh sivitas akademika. Ia menjelaskan bahwa kebijakan terbaru melalui Permendikbud Nomor 55 Tahun 2024 memperluas cakupan penanganan yang sebelumnya hanya berfokus pada kekerasan seksual menjadi seluruh bentuk kekerasan di lingkungan perguruan tinggi.

Menurutnya, implementasi PPKPT harus berlandaskan prinsip transparansi, akuntabilitas, kehati-hatian, keadilan, non-diskriminasi, serta keberpihakan terhadap korban. Ia juga mengingatkan bahwa kekerasan tidak hanya berbentuk fisik, tetapi juga dapat berupa kekerasan psikis, perundungan, kekerasan seksual, hingga diskriminasi dan intoleransi. Oleh karena itu, setiap perguruan tinggi didorong untuk membangun budaya pencegahan melalui edukasi yang berkelanjutan dan minimal memiliki satu program pencegahan setiap tahun.

Materi berikutnya disampaikan oleh Iman Pasu Marganda Hadiarto Purba, M.H., dari Universitas Negeri Surabaya yang menekankan pentingnya perubahan paradigma dalam implementasi PPKPT. Ia membedakan karakteristik kampus progresif dengan kampus yang masih bersifat formalitas. Kampus progresif, menurutnya, memiliki kebijakan yang benar-benar dijalankan, didukung sumber daya yang memadai, budaya sadar terhadap isu kekerasan, serta mekanisme pelaporan yang aman bagi korban.

Ia menjelaskan bahwa keberhasilan implementasi kebijakan dipengaruhi oleh empat faktor utama, yaitu komunikasi yang efektif, ketersediaan sumber daya, komitmen pelaksana, dan struktur birokrasi yang jelas. Keempat faktor tersebut harus berjalan secara beriringan agar kebijakan mampu diimplementasikan secara optimal.

Selain itu, peserta juga diajak memahami pentingnya menjaga proses hukum yang adil (due process of law). Dalam penanganan kasus kekerasan, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan penghakiman di media sosial, menyebarkan identitas korban, melakukan perundungan digital, maupun menyebarkan data pribadi tanpa izin. Penanganan kasus harus tetap mengedepankan mekanisme hukum yang berlaku, sementara kampus berperan memberikan perlindungan kepada korban tanpa membuka identitas maupun substansi perkara kepada publik.

Sementara itu, Dr. Weni Endahing Warni, M.Psi., Psikolog dari Universitas Hang Tuah membekali peserta mengenai penerapan Psychological First Aid (PFA) sebagai bentuk pertolongan pertama psikologis kepada korban. Ia menjelaskan bahwa PFA bukanlah terapi, melainkan respons awal yang aman, empatik, dan membantu korban memperoleh dukungan yang dibutuhkan.

Dalam praktiknya, anggota Satgas diharapkan mampu mendengarkan korban secara aktif tanpa menghakimi, memberikan rasa aman, menghormati keputusan korban untuk berbicara atau tidak, serta memvalidasi perasaan korban. Sebaliknya, petugas tidak dianjurkan memaksa korban menceritakan detail kejadian, memotong pembicaraan, maupun memberikan kalimat yang justru meremehkan pengalaman korban.

Pada sesi penutup, Irmashanti Danadharta, S.Hub.Int., M.A. dari UNTAG Surabaya menjelaskan pentingnya pemenuhan kewajiban administratif Satgas PPKPT. Setiap perguruan tinggi diwajibkan menyusun laporan semester yang memuat kegiatan pencegahan, jumlah penanganan kasus, serta tren pelanggaran yang terjadi di lingkungan kampus. Selain itu, Satgas juga wajib melakukan pengisian matriks Indikator Kinerja Utama (IKU) setiap bulan sebagai bentuk evaluasi implementasi kebijakan PPKPT.

Beliau juga menjelaskan penggunaan berbagai borang pelaporan, mulai dari formulir yang diisi oleh pelapor hingga lembar asesmen yang disusun oleh Satgas sebagai dasar tindak lanjut penanganan kasus secara profesional.

Melalui keikutsertaan dalam workshop ini, Satgas PPKPT UNUSIDA memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai implementasi kebijakan terbaru, mekanisme penanganan kasus yang berorientasi pada korban, hingga strategi membangun budaya kampus yang aman dan bebas dari kekerasan.

Ke depan, hasil workshop ini diharapkan menjadi bekal bagi UNUSIDA untuk terus memperkuat sistem pencegahan dan penanganan kekerasan melalui edukasi, penguatan kebijakan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta kolaborasi seluruh sivitas akademika. Dengan demikian, UNUSIDA dapat mewujudkan lingkungan pembelajaran yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, keadilan, dan perlindungan terhadap seluruh warga kampus.

UNUSIDA Sukses Hadiri Seminar AI Business PC, Perkuat Transformasi Digital Pendidikan Bersama AMD, Microsoft, dan HP 3

UNUSIDA Sukses Hadiri Seminar AI Business PC, Perkuat Transformasi Digital Pendidikan Bersama AMD, Microsoft, dan HP

Pasuruan – Biro Humas dan Kerja Sama Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menghadiri seminar teknologi bertajuk “The New Era of AI Business PCs: Empowering the Future of Work with AMD Ryzen™ AI PRO, Windows 11 Pro, Copilot+ PC & HP” yang diselenggarakan oleh AsiaMas Teknologi Informatika bekerja sama dengan AMD, Microsoft, HP, dan VST ECS di Welirang Meeting Room, Taman Dayu Golf Club & Resort, Prigen, Pasuruan, Kamis (6/8/2026).

Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 50 peserta yang merupakan perwakilan pengguna (user) dari berbagai instansi, baik dunia industri maupun dunia pendidikan. Salah satu peserta yang hadir adalah Biro Humas dan Kerja Sama UNUSIDA, sebagai bagian dari upaya universitas mengikuti perkembangan teknologi informasi dan menjajaki peluang kolaborasi strategis dengan berbagai mitra industri.

Acara diawali dengan sambutan dari AsiaMas Teknologi Informatika sebagai penyelenggara. Dalam pemaparannya, AsiaMas memperkenalkan perusahaan sebagai distributor dan master dealer berbagai solusi teknologi informasi dari merek global seperti HP, AMD, IBM, dan Microsoft. Selain menyediakan perangkat teknologi seperti laptop, desktop, printer, scanner, UPS, dan CCTV, AsiaMas juga menawarkan layanan IT Service, implementasi Smart Classroom, hingga solusi sewa printer untuk membantu instansi yang ingin lebih efisien dalam pengelolaan aset teknologi.

Perwakilan AsiaMas juga menegaskan komitmennya untuk menjadi mitra strategis bagi instansi pemerintah, perguruan tinggi, maupun perusahaan dalam memenuhi kebutuhan transformasi digital melalui penyediaan perangkat, layanan, serta dukungan purna jual yang terintegrasi.

Pada sesi berikutnya, Yorita Anggraini, Partner Account Manager AMD Indonesia, memaparkan perkembangan teknologi AMD Ryzen AI Pro yang dirancang untuk menjawab kebutuhan komputasi modern berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Menurutnya, dunia kerja saat ini telah memasuki era AI PC, di mana berbagai aktivitas dapat diselesaikan lebih cepat melalui pemanfaatan AI secara langsung pada perangkat tanpa harus selalu bergantung pada layanan cloud. AMD menghadirkan prosesor terbaru yang telah dilengkapi Neural Processing Unit (NPU) sehingga mampu menjalankan berbagai proses AI secara lokal dengan performa tinggi, keamanan yang lebih baik, serta konsumsi daya yang lebih efisien.

AMD juga memperkenalkan fitur AMD Memory Guard, teknologi keamanan yang mampu mengenkripsi data secara otomatis apabila perangkat hilang atau dicuri. Selain itu, AMD bekerja sama dengan Microsoft dalam membangun ekosistem keamanan yang terintegrasi sehingga perangkat bisnis memiliki perlindungan berlapis mulai dari tingkat hardware hingga sistem operasi.

Dalam presentasinya, AMD menjelaskan bahwa penggunaan Ryzen AI Pro dapat meningkatkan produktivitas karyawan, mempercepat proses pengolahan data, mengurangi ketergantungan terhadap cloud, serta memberikan efisiensi biaya operasional bagi organisasi. Teknologi tersebut dinilai sangat relevan bagi institusi pendidikan yang mulai mengintegrasikan AI dalam kegiatan pembelajaran, penelitian, maupun administrasi kampus.

Materi selanjutnya disampaikan oleh perwakilan Microsoft yang membahas pentingnya migrasi menuju Windows 11 Pro seiring berakhirnya masa dukungan (End of Support) untuk Windows 10. Microsoft mengingatkan bahwa perangkat yang masih menggunakan Windows 10 tidak lagi memperoleh pembaruan keamanan sehingga memiliki risiko lebih tinggi terhadap ancaman siber.

Microsoft memperkenalkan berbagai fitur unggulan Windows 11 Pro, seperti BitLocker, Windows Sandbox, Windows SmartScreen, dan Trusted Platform Module (TPM) yang memberikan perlindungan menyeluruh terhadap data dan perangkat.

Selain itu, Microsoft juga memperkenalkan Microsoft Copilot, asisten berbasis AI yang telah terintegrasi langsung dengan Windows 11 dan aplikasi Microsoft 365. Melalui Copilot, pengguna dapat menyusun dokumen, membuat presentasi, menganalisis data di Microsoft Excel, hingga menghasilkan gambar hanya melalui perintah sederhana.

Fitur Live Captions juga menjadi perhatian peserta karena mampu menerjemahkan percakapan secara langsung (real-time translation), sehingga sangat membantu komunikasi lintas bahasa dalam rapat maupun webinar internasional.

Microsoft juga memperkenalkan konsep Copilot Agent, yaitu agen AI yang mampu menyelesaikan alur pekerjaan secara otomatis mulai dari mengumpulkan data, memproses informasi, hingga menghasilkan laporan tanpa harus dilakukan secara manual oleh pengguna. Inovasi tersebut diyakini akan menjadi bagian penting dalam transformasi digital organisasi di masa depan.

Sementara itu, HP memperkenalkan berbagai lini perangkat bisnis terbaru yang telah mengusung prosesor AMD Ryzen AI Pro dan Windows 11 Pro. Perangkat komersial HP dirancang memiliki daya tahan tinggi, performa stabil, efisiensi baterai yang lebih baik, serta telah melalui berbagai pengujian standar industri sehingga sesuai digunakan untuk kebutuhan institusi pendidikan, pemerintahan, maupun dunia usaha.

Melalui kolaborasi AMD, Microsoft, dan HP, peserta memperoleh gambaran mengenai ekosistem perangkat AI modern yang mengedepankan tiga aspek utama, yaitu produktivitas, keamanan, dan efisiensi biaya.

Bagi UNUSIDA, keikutsertaan dalam seminar ini menjadi bagian dari komitmen universitas dalam memperkuat transformasi digital kampus sekaligus memperluas jejaring kerja sama dengan dunia industri. Informasi mengenai perkembangan AI, keamanan siber, serta perangkat komputasi berbasis kecerdasan buatan diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan layanan akademik, administrasi, penelitian, maupun pembelajaran berbasis teknologi di lingkungan UNUSIDA.

Melalui sinergi antara perguruan tinggi dan industri, UNUSIDA terus berupaya menghadirkan inovasi yang mendukung terciptanya ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus mempersiapkan lulusan yang memiliki kompetensi digital sesuai kebutuhan dunia kerja di era transformasi berbasis Artificial Intelligence (AI).

Seluruh yudisiawan berfoto bersama dengan Dosen dan Tenaga Kependidikan dalam Yudisium ke-11 UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Yudisium ke-11 FKIP UNUSIDA Cetak 171 Calon Pendidik Berkarakter, Inovatif, dan Adaptif

SIDOARJO — Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Yudisium ke-11 dengan mengusung tema ‘Mencetak Pendidik yang Berkarakter, Inovatif, dan Adaptif untuk Mewujudkan Pendidikan yang Berdampak’ di Graha Delta Sekretariat Daerah Kabupaten Sidoarjo, Rabu (5/8/2026).

Sebanyak 171 mahasiswa resmi diyudisium, terdiri atas 23 lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) dan 148 lulusan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Para peserta berasal dari beberapa angkatan, yakni mahasiswa angkatan 2019, 2020, 2021, dan 2022 yang berhasil menuntaskan studinya pada semester genap Tahun Akademik 2025/2026.

Hadir dalam kegiatan tersebut Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor UNUSIDA Dr. Hadi Ismanto, S.H., M.Pd., Ketua Badan Pelaksana Penyelenggara (BPP) UNUSIDA, Dekan FKIP Muawwinatul Laili, S.S., M.Pd., jajaran pimpinan universitas dan fakultas, dosen, orang tua, serta para yudisiumwan.

Dalam sambutannya, Dekan FKIP UNUSIDA Muawwinatul Laili, S.S., M.Pd. menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya prosesi yudisium yang diikuti 171 lulusan. Ia berharap momen tersebut menjadi awal keberkahan bagi seluruh lulusan dalam mengabdikan ilmunya kepada masyarakat.

Menurutnya, tema yudisium tahun ini menegaskan pentingnya tiga kompetensi utama yang harus dimiliki seorang calon pendidik, yaitu berkarakter, inovatif, dan adaptif. Ketiga kompetensi tersebut dinilai menjadi bekal penting dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan dinamika dunia pendidikan.

“Jadilah pendidik yang memiliki karakter positif, mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta terus menghadirkan inovasi dalam proses pembelajaran,” ujarnya.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa terdapat satu nilai yang lebih utama daripada seluruh kompetensi tersebut, yakni akhlakul karimah yang berlandaskan Ahlussunnah wal Jamaah. “Jadilah pendidik yang berakhlakul karimah dengan menjunjung tinggi nilai kejujuran. Akhlak menjadi fondasi utama yang harus dimiliki setiap lulusan FKIP UNUSIDA,” pesannya.

Ia mengingatkan bahwa seorang guru bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menjadi teladan bagi peserta didik melalui ucapan, sikap, dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyebutkan bahwa momen Yudisium awal pengabdian sebagai lulusan untuk menjadi pendidik profesional, berkarakter, inovatif, adaptif, dan memberikan dampak positif bagi kemajuan pendidikan di Indonesia.

“Mulai hari ini, apa yang kalian lakukan akan menjadi contoh bagi peserta didik. Jadikan seluruh proses selama kuliah sebagai pengalaman positif yang dapat dibanggakan dan diceritakan kepada generasi berikutnya,” tambahnya.

Sementara itu, Plt. Rektor UNUSIDA Dr. Hadi Ismanto, S.H., M.Pd. menyampaikan apresiasi atas capaian para lulusan FKIP. Ia menekankan bahwa guru merupakan sosok yang menjadi role model bagi peserta didik sehingga harus terus meningkatkan kualitas diri, baik dari sisi keilmuan maupun akhlak.

Menurutnya, seorang pendidik tidak boleh berhenti belajar karena perkembangan ilmu pengetahuan terus berlangsung.

“Guru adalah teladan bagi muridnya. Seorang guru tidak boleh berhenti menambah ilmu, kemampuan, dan kualitas dirinya,” katanya.

Hadi juga mengingatkan pentingnya menjaga ibadah, khususnya salat lima waktu, sebagai kunci keselamatan dan keberkahan dalam menjalani kehidupan maupun profesi sebagai pendidik.

“Kunci hidup adalah menjaga salat lima waktu. Kalau bisa berjamaah dan dilaksanakan di awal waktu. Insyaallah Allah akan menjaga setiap langkah kehidupan kita,” pesannya.

Di kesempatan yang sama, Ketua Badan Pelaksana Penyelenggara (BPP) UNUSIDA, Drs. H. Arli Fauzi, S.H., M.Hum., menyampaikan bahwa profesi guru merupakan salah satu profesi yang paling mulia karena mendidik manusia dengan penuh ketulusan.

“Seorang guru mengajar dan mendidik dengan hati. Guru menerima peserta didik apa adanya, membimbing yang sudah baik menjadi lebih baik, dan membantu yang belum baik agar berkembang. Itulah amal jariyah seorang pendidik,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan para lulusan agar tidak berkecil hati apabila nantinya berkarier di luar profesi guru. Menurutnya, ilmu yang diperoleh selama kuliah tetap dapat memberikan manfaat dalam berbagai bidang pekerjaan.

“Kesuksesan seseorang tidak selalu ditentukan oleh kesesuaian antara ijazah dan profesinya. Yang terpenting adalah tetap menjaga nilai-nilai yang telah dipelajari dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT,” tuturnya.

Seluruh peserta Yudisium ke-12 FILKOM UNUSIDA berfoto bersama dengan seluruh Dosen, Dekan, Plt. Rektor UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Yudisium ke-12 FILKOM UNUSIDA, Teguhkan Komitmen Cetak Lulusan Tepat Waktu, Bermutu, dan Berintegritas

SIDOARJO — Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Yudisium ke-12 Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 di Hall Lantai 5 Kampus 2 UNUSIDA, Selasa (4/8/2026). Prosesi yudisium tersebut dilaksanakan berdasarkan Surat Keputusan Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo Nomor 123/U9.3/3/GAR/SK-GAR/2026 tentang penetapan mahasiswa FILKOM yang lulus pada Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026.

Pada yudisium kali ini, sebanyak 42 lulusan Program Studi Informatika, 22 lulusan Sistem Informasi, dan 37 lulusan Desain Komunikasi Visual resmi dikukuhkan.

Dalam sambutannya, Plt. Rektor UNUSIDA Dr. Hadi Ismanto menyampaikan apresiasi kepada seluruh lulusan dari tiga program studi di lingkungan FILKOM. Ia juga memberikan semangat kepada mahasiswa yang belum berhasil menyelesaikan studinya agar tetap optimistis.

“Kita doakan teman-teman yang hari ini belum beruntung, semoga segera menyusul teman-teman kita semua,” ujarnya.

Dalam pesannya kepada para lulusan, Hadi menekankan tiga nilai utama yang harus menjadi pegangan setelah memasuki dunia kerja, yaitu menjaga salat, berbakti kepada orang tua (birrul walidain), serta menjauhi sifat sombong.

Menurutnya, kesombongan tidak hanya diwujudkan melalui sikap merendahkan orang lain, tetapi juga menolak kebenaran, termasuk dalam cara seseorang berkomunikasi di media sosial.

“Mari kita lihat apa yang kita kirim di media sosial. Jangan sampai kesombongan itu muncul dalam bentuk merendahkan orang lain atau menolak kebenaran,” pesannya.

Hadi kemudian membagikan kisah inspiratif tentang mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh yang semasa muda rutin mengikuti pengajian Mbah Hamid Pasuruan. Dari kisah tersebut, ia menegaskan bahwa keberhasilan seseorang tidak lepas dari bakti kepada orang tua.

“Apapun kesuksesan yang kalian raih, jangan pernah melupakan birrul walidain. Berbakti kepada orang tua menjadi salah satu kunci keberkahan hidup,” tuturnya.

Sebagai lulusan bidang teknologi informasi, Hadi juga mengingatkan bahwa kemampuan digital yang dimiliki para sarjana komputer harus diimbangi dengan integritas. Menurutnya, perkembangan teknologi membuka peluang besar, tetapi juga menghadirkan godaan untuk menempuh jalan pintas yang tidak benar.

Ia berharap budaya akademik di UNUSIDA yang selalu diawali dengan pembacaan Surah Al-Fatihah dan doa sebelum perkuliahan mampu menjadi benteng moral bagi para lulusan dalam menghadapi berbagai tantangan di dunia profesional.

“Semakin tinggi kemampuan teknologi seseorang, semakin besar pula tantangan untuk menjaga integritas. Kembalilah kepada Allah SWT agar ilmu yang dimiliki membawa keberkahan,” katanya.

Sementara itu, lulusan terbaik FILKOM UNUSIDA 2026, Zahrotun Nafisah, S.Kom., menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi kepada seluruh dosen, orang tua, dan teman-teman seperjuangan yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan akademiknya.

Menurutnya, keberhasilan menyelesaikan pendidikan bukan hanya tentang memperoleh nilai terbaik, melainkan hasil dari perjuangan panjang yang dilalui setiap mahasiswa.

“Hari ini bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan penghargaan. Hari ini adalah tentang perjuangan kita semua untuk sampai di titik ini. Kita berhasil karena tidak menyerah,” ungkapnya.

Ia mengenang berbagai proses selama kuliah, mulai dari menyelesaikan tugas hingga larut malam, menghadapi revisi yang seolah tak berujung, hingga melewati berbagai tantangan yang sempat membuat ingin menyerah.

Mahasiswi Program Studi Sistem Informasi tersebut menyampaikan terima kasih kepada seluruh dosen FILKOM, khususnya dosen wali sekaligus pembimbingnya, Rizki Aditya Nugroho, S.T., M.Kom., atas bimbingan dan kesabaran selama masa studi.

Selain itu, ia mengapresiasi dukungan orang tua, keluarga, dan rekan-rekan mahasiswa yang selalu memberikan semangat selama menempuh pendidikan.

Lebih lanjut, Zahrotun berharap Fakultas Ilmu Komputer UNUSIDA terus berkembang dan melahirkan lulusan yang unggul, adaptif, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Kelulusan ini bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari langkah yang lebih besar. Semoga Fakultas Ilmu Komputer UNUSIDA terus maju dan mencetak generasi terbaik yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Dekan FILKOM UNUSIDA, Dr. Arda Surya Editya, S.Pd., M.T. saat menyampaikan sambutan dalam Yudisium ke-12 (Foto: Humas UNUSIDA)

Yudisium ke-12, Dekan FILKOM UNUSIDA: Jadilah Sarjana yang Berilmu dan Berakhlak

SIDOARJO — Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Yudisium ke-12 Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 di Hall Lantai 5 Kampus UNUSIDA, Selasa (4/8/2026). Kegiatan ini menjadi penanda resmi kelulusan mahasiswa Program Studi Informatika, Sistem Informasi, dan Desain Komunikasi Visual sebelum mengikuti prosesi wisuda.

Acara tersebut dihadiri oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor UNUSIDA Dr. Hadi Ismanto, S.H., M.Pd., Kepala Biro Akademik Muhammad Mansur Yafi, M.T., Wakil Dekan FILKOM Neni Kurniati, S.Kom., M.T., Ketua Program Studi Sistem Informasi Syahri Mukmin, S.Kom., M.T., Ketua Program Studi Desain Komunikasi Visual Putra Uji Deva Satrio, S.Sn., M.Sn., Ketua Program Studi Informatika Muhammad Mahlul Alamin, S.Kom., M.Kom., serta perwakilan sponsorship dari Bank Raya Indonesia Cabang Sidoarjo.

Dalam sambutannya, Dekan FILKOM UNUSIDA Dr. Arda Surya Editya, S.Pd., M.T. menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh peserta yudisium atas keberhasilan mereka menyelesaikan studi hingga meraih gelar sarjana. Ia optimis sarjana FILKOM UNUSIDA dapat terus berkarya, berinovasi, serta memberikan kontribusi nyata bagi bangsa melalui bidang teknologi informasi dan industri kreatif.

“Tiada kata yang mampu menggambarkan perasaan kami kecuali kata selamat. Selamat bagi kalian yang telah berjuang sampai akhir dalam penyelesaian studi di Fakultas Ilmu Komputer,” ujarnya.

Ia mengajak para lulusan untuk mengenang kembali perjalanan akademik mereka sejak awal menjadi mahasiswa hingga mencapai titik kelulusan. Menurutnya, setiap mahasiswa memiliki cerita dan dinamika perjuangan yang berbeda, yang akan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup ke depan.

“Setiap orang memiliki cerita yang berbeda-beda. Semua pengalaman itu akan menjadi bekal berharga dalam menghadapi kehidupan selanjutnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Arda menegaskan bahwa pendidikan di perguruan tinggi tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan akhlak. Ia mengingatkan pentingnya peran dosen sebagai orang tua dalam dunia pendidikan yang tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan.

Ia juga berpesan kepada para lulusan untuk senantiasa menghormati dan meminta restu kepada dosen agar ilmu yang diperoleh menjadi berkah dan bermanfaat.

“Saya berharap setelah prosesi yudisium ini, kalian menemui dosen-dosen kalian, meminta maaf dan meminta restu. Keberkahan ilmu juga datang dari ridha para guru,” pesannya.

Dalam kesempatan tersebut, Arda juga mengungkapkan kebiasaannya membaca Basmalah setiap kali menandatangani Surat Keterangan Lulus (SKL) sebagai doa agar para lulusan senantiasa mendapatkan perlindungan dan pertolongan Allah SWT dalam menjalani kehidupan setelah lulus.

Lebih lanjut, ia menyampaikan tiga pesan penting sebagai bekal kehidupan, yakni menjaga tauhid dengan tidak menyekutukan Allah SWT, menjaga salat, serta menjauhi sikap sombong.

“Apapun profesi kalian nanti, tetap pegang nilai-nilai tersebut. Semoga kalian menjadi pribadi yang sukses, bermanfaat bagi masyarakat, dan mampu mengharumkan nama almamater,” pungkasnya.

UEC UNUSIDA dan ESI Sidoarjo Sukses Kolaborasi Gelar Porkab Esports 2026, Perkuat Pembinaan Atlet Muda 4

UEC UNUSIDA dan ESI Sidoarjo Sukses Kolaborasi Gelar Porkab Esports 2026, Perkuat Pembinaan Atlet Muda

SIDOARJO – Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) melalui UNUSIDA Esport Competition (UEC) berkolaborasi dengan Pengurus Kabupaten Esports Indonesia (ESI) Sidoarjo dalam penyelenggaraan Pekan Olahraga Kabupaten (Porkab) Esports Sidoarjo 2026. Kegiatan yang berlangsung pada 26–28 Juni 2026 tersebut menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat pembinaan, pengembangan, serta regenerasi atlet esports di Kabupaten Sidoarjo.

Kolaborasi ini mempertemukan unsur perguruan tinggi, organisasi olahraga esports, mahasiswa, dan generasi muda dalam sebuah ajang kompetisi yang tidak hanya berorientasi pada pertandingan, tetapi juga menjadi ruang strategis untuk menjaring, membina, dan mengembangkan talenta-talenta esports potensial di tingkat daerah.

Penyelenggaraan Porkab Esports Sidoarjo 2026 menjadi salah satu tahapan penting dalam proses pembinaan atlet esports menuju kompetisi yang lebih tinggi. ESI Sidoarjo menempatkan ajang ini sebagai wadah untuk menemukan bibit-bibit atlet yang nantinya dapat dipersiapkan untuk mewakili Kabupaten Sidoarjo pada berbagai kejuaraan tingkat regional maupun provinsi.

Keterlibatan UEC UNUSIDA dalam pelaksanaan Porkab Esports 2026 merupakan bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung perkembangan industri kreatif dan olahraga digital. Selama ini, UEC telah menjadi wadah kompetisi esports di lingkungan UNUSIDA yang tidak hanya memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berprestasi, tetapi juga menjadi sarana pengembangan keterampilan dalam bidang manajemen event, teknologi digital, publikasi, hingga penyelenggaraan turnamen.

Melalui kolaborasi bersama ESI Sidoarjo, pengalaman penyelenggaraan kompetisi yang dimiliki UEC diperluas ke tingkat kabupaten sehingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Sinergi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan esports membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari dunia pendidikan, organisasi olahraga, pemerintah, hingga komunitas esports.

Ketua Umum ESI Sidoarjo, Julius Ivan, menjelaskan bahwa Porkab memiliki peran strategis dalam pembinaan olahraga elektronik di daerah. Menurutnya, kompetisi bukan hanya menjadi tempat untuk menentukan pemenang, tetapi juga menjadi sarana untuk memetakan potensi atlet dan membangun sistem pembinaan yang berkelanjutan.

“Porkab menjadi bagian penting dalam proses penjaringan atlet potensial yang nantinya dipersiapkan untuk kompetisi tingkat lebih tinggi. Melalui kompetisi yang terstruktur, para atlet memperoleh pengalaman bertanding sekaligus kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya,” ujarnya.

Kompetisi esports tingkat kabupaten ini juga menjadi bagian dari persiapan menuju Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) Jawa Timur X Tahun 2027. Dengan demikian, Porkab tidak hanya menjadi agenda olahraga tahunan, tetapi juga memiliki fungsi strategis dalam proses seleksi dan pembinaan atlet yang akan membawa nama Kabupaten Sidoarjo pada ajang olahraga tingkat provinsi.

Bagi para atlet muda, Porkab Esports Sidoarjo 2026 menjadi kesempatan berharga untuk mengasah kemampuan teknis sekaligus membangun mental bertanding. Kompetisi yang berlangsung secara terstruktur memberikan pengalaman berbeda dibandingkan turnamen biasa, karena para peserta dituntut untuk menunjukkan kemampuan, sportivitas, dan konsistensi dalam setiap pertandingan.

Perkembangan esports yang semakin pesat juga menunjukkan bahwa olahraga elektronik kini telah menjadi salah satu ruang prestasi baru bagi generasi muda. Tidak hanya sebagai hiburan, esports berkembang menjadi bidang yang membutuhkan keterampilan, strategi, kerja sama tim, serta kemampuan berpikir cepat dalam mengambil keputusan.

Dalam konteks tersebut, kehadiran perguruan tinggi menjadi penting untuk mendukung pengembangan ekosistem esports yang sehat dan profesional. Melalui UEC, UNUSIDA menghadirkan ruang bagi mahasiswa untuk belajar sekaligus berkontribusi secara nyata dalam penyelenggaraan kegiatan esports berskala besar.

Mahasiswa tidak hanya terlibat sebagai peserta, tetapi juga menjadi bagian dari tim penyelenggara yang menangani berbagai aspek teknis, seperti manajemen pertandingan, publikasi, desain kreatif, dokumentasi, broadcasting, komunikasi, hingga koordinasi kegiatan. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja yang semakin membutuhkan kemampuan kolaborasi dan penguasaan teknologi digital.

Kolaborasi UEC UNUSIDA dan ESI Sidoarjo juga memperlihatkan bahwa esports dapat menjadi media pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman. Selain melahirkan atlet berprestasi, kegiatan ini turut mendorong lahirnya sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dalam industri kreatif dan teknologi.

Mengusung semangat “The Golden Legacy: Forge Your Glory”, UEC 2026 membawa pesan bahwa kompetisi tidak hanya berbicara tentang kemenangan, tetapi juga tentang proses belajar, membangun pengalaman, serta meninggalkan warisan positif bagi generasi berikutnya. Setiap pertandingan menjadi bagian dari perjalanan untuk menciptakan prestasi sekaligus membangun karakter yang sportif, disiplin, dan profesional.

Kolaborasi antara UEC UNUSIDA dan ESI Sidoarjo dalam Porkab Esports 2026 menjadi salah satu contoh bagaimana perguruan tinggi dapat mengambil peran aktif dalam perkembangan olahraga dan industri digital di daerah. Kompetisi, pembinaan, dan regenerasi atlet menjadi satu kesatuan yang saling mendukung dalam menciptakan ekosistem esports yang lebih terarah dan berkelanjutan.

Melalui sinergi antara UNUSIDA, UEC, dan ESI Sidoarjo, diharapkan semakin banyak generasi muda yang memperoleh kesempatan untuk mengembangkan potensi di bidang esports secara positif, profesional, dan berprestasi. Selain mencetak atlet andal, kolaborasi ini juga diharapkan mampu melahirkan talenta-talenta muda yang siap berkontribusi dalam industri digital kreatif, sehingga esports tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran, inovasi, dan pengembangan masa depan generasi muda Sidoarjo.