Hari Kesaktian Pancasila: Saatnya Mahasiswa Menghidupkan Nilai, Bukan Sekadar Menghafalnya
SIDOARJO — Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober bukan semata-mata momentum untuk mengenang perjalanan sejarah bangsa. Bagi mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), peringatan ini juga dapat menjadi ruang refleksi tentang bagaimana nilai-nilai Pancasila tetap relevan di tengah tantangan kehidupan generasi muda saat ini.
“Bagi saya, Hari Kesaktian Pancasila bukan sekadar mengenang peristiwa 1965, tetapi menjadi bahan refleksi. Pancasila dulu bertahan karena dijaga bersama. Sekarang tantangannya berbeda, bukan lagi sekadar pemberontakan, tetapi juga sikap apatis, intoleransi, dan korupsi,” ungkap Nelly seorang mahasiswi UNUSIDA, Kamis (1/10/2026).
Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya menghafalkan lima sila. Sebagai bagian dari generasi muda, mahasiswa juga memiliki tanggung jawab untuk memahami, mengkritisi, dan mengamalkan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau ada praktik yang tidak sesuai dengan nilai Pancasila, kita harus berani mengkritisi. Kesaktian Pancasila baru benar-benar terbukti kalau nilainya hidup dalam perilaku kita, bukan hanya dibacakan saat upacara,” ujarnya.
Pengamalan tersebut, lanjutnya, tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Lingkungan kampus justru menjadi tempat paling dekat untuk membangun karakter yang sesuai dengan nilai Pancasila.
Salah satunya adalah menjaga kejujuran dalam proses akademik. Tidak menyontek, tidak melakukan plagiarisme, serta mengerjakan tugas dengan kemampuan sendiri merupakan bentuk sederhana dari membangun integritas. Kejujuran menjadi bagian penting dalam menciptakan kehidupan yang adil dan bertanggung jawab.
“Mulai dari hal yang paling dekat. Jujur ketika mengerjakan tugas dan ujian, tidak menyontek atau melakukan plagiarisme. Integritas itu pondasi keadilan,” jelasnya.
Selain kejujuran, mahasiswa juga perlu membangun budaya berdiskusi dan bermusyawarah. Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam kehidupan kampus. Namun, perbedaan tersebut semestinya tidak menjadi alasan untuk merasa paling benar ataupun merendahkan pandangan orang lain.
Begitu pula dalam pergaulan. Mahasiswa dituntut untuk tidak memilih-milih teman berdasarkan suku, agama, maupun latar belakang organisasi. Lingkungan kampus yang beragam dapat menjadi ruang untuk belajar menghargai perbedaan sekaligus membangun persaudaraan.
“Kalau di kampus saja kita bisa belajar adil dan terbuka, nanti ketika terjun ke masyarakat kita sudah terbiasa menghadapi perbedaan dengan sikap yang dewasa,” tuturnya.
Ia juga menilai bahwa generasi muda yang mencerminkan nilai Pancasila bukan selalu mereka yang melakukan sesuatu dalam skala besar. Kepedulian terhadap lingkungan sekitar, keberanian bersikap dengan tetap menghormati perbedaan, serta kemauan untuk berkontribusi sesuai bidang masing-masing juga merupakan bentuk nyata pengamalan Pancasila.
“Tidak harus yang besar-besar. Yang penting konsisten dan bermanfaat bagi orang lain,” katanya.
Pada akhirnya, Hari Kesaktian Pancasila dapat menjadi pengingat bahwa mencintai Indonesia tidak cukup hanya dengan mengucapkan rasa bangga sebagai warga negara. Kebanggaan tersebut perlu dibuktikan melalui tindakan nyata, dimulai dari lingkungan terdekat.
“Jangan hanya bangga menjadi orang Indonesia, tetapi buktikan melalui tindakan. Pancasila akan benar-benar sakti kalau kita sebagai generasi muda mau menghidupkan nilainya setiap hari, mulai dari lingkungan terdekat,” tuturnya.
Baginya, Pancasila bukan sekadar materi yang dipelajari di ruang kelas atau lima sila yang dihafalkan. Ia menjadi nilai yang diuji melalui kejujuran, kepedulian, sikap menghargai perbedaan, keberanian menyampaikan pendapat, serta kemauan untuk memberikan manfaat bagi sesama.
“Selamat Hari Kesaktian Pancasila. Saatnya nilai Pancasila hidup dalam tindakan,” pungkasnya.










