Pos

Rapat Koordinasi Akademik dalam rangka persiapan perkuliahan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027. (Foto: Humas UNUSIDA)

Mantapkan Persiapan Perkuliahan, UNUSIDA Gelar Rapat Koordinasi Akademik Semester Ganjil 2026/2027

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) melalui Lembaga Sumber Daya Manusia (LSDM) menggelar Rapat Koordinasi Akademik dalam rangka persiapan perkuliahan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027 di Hall Lantai 5 Gedung A, Kampus UNUSIDA, Lingkar Timur, Sidoarjo, Rabu (23/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi akademik sekaligus mendorong transformasi digital melalui pengenalan Sistem Data UNUSIDA (SIDANU) oleh Unit Pelayanan Teknis (UPT) Teknologi dan Informasi (TI) UNUSIDA yang terus bergerak menghadirkan inovasi digital untuk kampus yang terintegrasi, adaptif, dan berdampak.

SIDANU diperkenalkan sebagai platform digital terpadu yang dirancang untuk menghubungkan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, serta berbagai layanan kampus dalam satu pengalaman digital. Mengusung semangat Satu Akses. Satu Data. Satu UNUSIDA, sistem ini menjadi bagian dari upaya universitas dalam membangun ekosistem digital kampus yang terintegrasi, efektif, dan mudah diakses oleh seluruh civitas akademika.

Pengenalan SIDANU ini menjadi langkah strategis UNUSIDA untuk mengembangkan sistem akademik terpadu yang mampu mendukung kelancaran berbagai aktivitas perkuliahan. Melalui integrasi layanan dan data, proses pengelolaan informasi akademik diharapkan menjadi lebih efisien, terstruktur, dan mudah dimanfaatkan sesuai kebutuhan pengguna.

Transformasi digital di lingkungan perguruan tinggi menjadi salah satu upaya penting dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan. Pemanfaatan teknologi tidak hanya berkaitan dengan penggunaan aplikasi, tetapi juga bagaimana sistem yang dibangun mampu menyederhanakan proses administrasi, mempercepat akses informasi, serta mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat berdasarkan data.

Melalui SIDANU, UNUSIDA berupaya menghadirkan pengalaman digital yang lebih terhubung bagi seluruh civitas akademika. Mahasiswa diharapkan dapat memperoleh kemudahan dalam mengakses layanan akademik, sementara dosen dan tenaga kependidikan dapat terbantu dalam menjalankan tugas serta mengelola informasi yang berkaitan dengan kegiatan kampus.

Selain pengenalan sistem digital, rapat koordinasi akademik ini menjadi bagian penting dalam menyelaraskan kesiapan berbagai unsur universitas menjelang dimulainya perkuliahan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027. Koordinasi diperlukan agar penyelenggaraan kegiatan akademik berjalan lebih terarah, mulai dari kesiapan layanan hingga dukungan administrasi yang menunjang proses pembelajaran.

Pengembangan ekosistem digital terpadu juga membutuhkan keterlibatan seluruh unsur kampus. Karena itu, penerapan SIDANU diharapkan tidak hanya menjadi inovasi teknologi, tetapi juga mendorong terbentuknya budaya kerja yang lebih kolaboratif, adaptif, dan berorientasi pada pelayanan. Kesamaan akses terhadap data dan informasi menjadi salah satu fondasi untuk memperkuat koordinasi lintas unit di lingkungan universitas.

Dengan mengintegrasikan sistem akademik dan layanan kampus dalam satu platform, UNUSIDA terus berupaya menjawab kebutuhan perguruan tinggi di era digital. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen universitas untuk meningkatkan mutu tata kelola pendidikan tinggi melalui pemanfaatan teknologi yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan.

Ke depan, pengembangan SIDANU diharapkan dapat mendukung terwujudnya layanan akademik yang semakin mudah, cepat, dan terintegrasi. Melalui semangat Satu Akses. Satu Data. Satu UNUSIDA, seluruh civitas akademika diajak untuk bersama-sama membangun ekosistem digital kampus yang kuat, demi mendukung proses pembelajaran yang berkualitas dan tata kelola universitas yang semakin baik.

Rapat Koordinasi Akademik ini juga berkolaborasi dengan Biro Akademik UNUSIDA yang menyampaikan penjelasan mengenai hak dan kewajiban dosen dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran di lingkungan UNUSIDA. Penyampaian ini bertujuan untuk menyamakan pemahaman seluruh dosen terkait standar pelaksanaan perkuliahan, tanggung jawab dalam proses pembelajaran, serta pemenuhan hak dan kewajiban sesuai dengan ketentuan akademik yang berlaku. Melalui koordinasi ini, diharapkan dosen dapat menjalankan tugas secara profesional, disiplin, dan bertanggung jawab, sehingga tercipta proses pembelajaran yang tertib, berkualitas, serta mendukung peningkatan mutu akademik UNUSIDA.

LSDM UNUSIDA Berikan Anugerah Dosen Berprestasi Periode Genap Tahun Akademik 2025/2026. (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA Berikan Anugerah Dosen Berprestasi Tahun Akademik 2025/2026, Apresiasi Dedikasi dan Kontribusi Nyata bagi Pendidikan

SIDOARJO – Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) memberikan Anugerah Dosen Berprestasi Tahun Akademik 2025/2026 Periode Genap sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi, konsistensi, dan kontribusi nyata para dosen dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi. Penghargaan ini diberikan saat Rapat Koordinasi Akademik Persiapan Perkuliahan Semester Ganjil 2026/2027, di Hall Lantai 5 Gedung A, Kampus UNUSIDA, Lingkar Timur, Sidoarjo, Rabu (23/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Dr. Hadi Ismanto, menegaskan bahwa dosen memiliki peran strategis dalam menentukan kualitas pendidikan dan membentuk generasi masa depan. Peran tersebut tidak hanya diwujudkan melalui pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga melalui penelitian, pengembangan keilmuan, pengabdian kepada masyarakat, serta keteladanan dalam kehidupan akademik.

Menurutnya, prestasi dosen merupakan salah satu indikator kontribusi nyata dalam pengembangan institusi. Capaian tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi seluruh sivitas akademika untuk terus meningkatkan kompetensi, menjaga integritas, dan memperkuat kontribusi bagi kemajuan universitas.

“Prestasi bukan hanya tentang pencapaian, tetapi tentang dedikasi, konsistensi, dan kontribusi nyata dalam memberikan dampak bagi pendidikan,” tegasnya.

Ia menyampaikan bahwa penghargaan terhadap prestasi dosen bukan sekadar bentuk apresiasi atas capaian individu. Lebih dari itu, penghargaan menjadi bagian dari upaya universitas dalam membangun budaya kerja yang unggul, produktif, dan berdampak bagi pengembangan akademik.

Melalui penghargaan tersebut, pihaknya mendorong para dosen untuk mempertahankan kinerja positif, terus berinovasi, serta menghasilkan karya yang memberikan manfaat lebih luas bagi mahasiswa, masyarakat, dan institusi.

“Tetap semangat berkarya dan komitmen terhadap peningkatan mutu pendidikan. Hal ini perlu menjadi landasan dalam menjalankan tugas tridarma perguruan tinggi. Dengan demikian, setiap capaian akademik dapat berkontribusi terhadap terciptanya lingkungan pendidikan yang berkualitas dan berkelanjutan,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Lembaga Sumber Daya Manusia (LSDM) UNUSIDA, Jeziano Rizkita Boyas, S.E., M.M., menjelaskan bahwa pemberian penghargaan dilakukan berdasarkan hasil penilaian terhadap kriteria yang telah ditentukan sebelumnya. Proses tersebut menjadi bagian dari upaya institusi untuk memberikan apresiasi secara terukur terhadap kinerja dosen.

Keberadaan dosen yang kompeten dan berdedikasi menjadi salah satu fondasi penting bagi perguruan tinggi dalam menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga karakter, integritas, serta kepedulian sosial. Oleh karena itu, apresiasi terhadap kinerja dosen merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk membangun ekosistem pendidikan yang semakin berkualitas.

Menurutnya, Anugerah Dosen Berprestasi merupakan bentuk penghargaan atas kinerja luar biasa yang telah ditunjukkan oleh para dosen. Penilaian berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan diharapkan dapat mendorong budaya profesionalisme, meningkatkan motivasi, serta memperkuat komitmen dosen dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab akademik.

“Penghargaan ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap mahasiswa yang berkembang, ada dosen yang terus menginspirasi, membimbing, dan berkarya. Anugerah ini juga merupakan bentuk apresiasi terhadap kinerja dosen yang telah memenuhi kriteria penilaian yang ditetapkan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia berharap penghargaan tersebut dapat menjadi motivasi bagi dosen lainnya untuk terus meningkatkan kompetensi, mengembangkan inovasi pembelajaran, memperkuat produktivitas akademik, serta menghadirkan kontribusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

“Semoga langkah ini menjadi penguatan sumber daya manusia merupakan langkah strategis untuk mendorong kemajuan institusi. Budaya apresiasi seperti ini juga dapat menumbuhkan lingkungan kerja yang positif, mendorong kolaborasi, dan memberikan ruang bagi setiap dosen untuk terus mengembangkan potensi serta menghasilkan karya yang bermanfaat,” harapnya.

Melalui Anugerah Dosen Berprestasi Tahun Akademik 2025/2026 Periode Genap, ia menegaskan komitmennya untuk terus menghargai kontribusi sivitas akademika sekaligus mendorong peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan.

Anugerah bagi dosen juga menjadi pengingat bahwa prestasi lahir melalui proses panjang yang membutuhkan komitmen, integritas, konsistensi, dan kemauan untuk terus berkembang. Pengakuan atas kinerja tersebut diharapkan dapat memperkuat motivasi sivitas akademika untuk bersama-sama membawa UNUSIDA menjadi perguruan tinggi yang semakin unggul dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.

“Selamat kepada seluruh dosen penerima Anugerah Dosen Berprestasi UNUSIDA Tahun Akademik 2025/2026 Periode Genap. Semoga penghargaan ini menjadi penyemangat untuk terus berkarya, menginspirasi, dan menciptakan dampak nyata bagi pendidikan tinggi, masyarakat, dan Indonesia,” pungkasnya.

Adapun tiga dosen yang meraih penghargaan tersebut adalah Achmad Wicaksono, S.Ak., M.Ak., yang menempati peringkat pertama, Muchammad Tamyiz, S.Si., M.Si., Ph.D., sebagai peringkat kedua, serta Ruri Fadhilah Kurniati, S.Hum., M.Pd., yang meraih peringkat ketiga.

Anugerah Dosen Berprestasi UNUSIDA Periode Genap Tahun Akademik 2025/2026 juga mendapat dukungan dari Pegadaian Syariah Sidoarjo, yang turut memberikan apresiasi berupa tabungan emas kepada para dosen berprestasi. Dukungan ini menjadi bentuk sinergi positif antara dunia pendidikan dan lembaga keuangan syariah dalam menghargai dedikasi serta kontribusi insan akademik.

Kepala UPT PIK UNUSIDA, Gus Arisy Kuswanto saat Ngaji Rutin Kitab Nashoihul Ibad. (Foto: Humas UNUSIDA)

Ngaji Rutin Kitab Nashoihul Ibad: Koreksi Diri dalam Ibadah dan Belajar Menumbuhkan Rasa Syukur

SIDOARJO — Kajian rutin Kitab Nashoihul Ibad bersama H. M. Arisy Karomy, S.T., M.Pd.I., kembali digelar di Masjid KH Muhammad Hasyim Asy’ari PCNU Sidoarjo, Selasa Kliwon, (22/9/2026). Dalam kajian tersebut, Gus Arisy mengajak jamaah untuk senantiasa melakukan muhasabah atau introspeksi diri, khususnya dalam pelaksanaan ibadah salat. Menurutnya, seorang muslim perlu membiasakan diri mengevaluasi kualitas ibadah, bukan sibuk menilai ibadah orang lain.

“Coba koreksi diri kita sendiri. Salat kita, gerakan dan doa-doanya, apakah sudah sempurna?” pesannya.

Ia juga mengingatkan agar amal ibadah tidak menjadi alasan untuk menyombongkan diri ataupun mencari pengakuan dari orang lain. Amal seharusnya menjadi jalan seorang hamba untuk semakin merendahkan diri di hadapan Allah SWT.

“Tidak perlu melihat validasi orang lain. Cukup bersimpuh di hadapan Allah. Kita perlu melatih diri setiap hari untuk mengakui kekurangan dan kelemahan kita,” tuturnya.

Melihat ke Atas dalam Urusan Akhirat

Dalam kajian tersebut, jamaah juga diajak membangun cara pandang yang tepat dalam menjalani kehidupan. Untuk urusan akhirat, seseorang dianjurkan melihat kepada mereka yang lebih baik dalam beribadah.

Jika ada orang yang lebih disiplin menjaga salat, termasuk menjalankan salat-salat sunnah, maka hal tersebut dapat dijadikan teladan. Begitu pula ketika melihat orang yang lebih tekun membaca Al-Qur’an, hendaknya muncul keinginan untuk meniru dan meningkatkan kualitas diri.

Menurutnya, melihat orang lain dalam konteks tersebut bukan untuk merasa rendah diri, melainkan sebagai motivasi untuk memperbaiki kualitas ibadah.

Dalam Urusan Dunia, Belajarlah Melihat ke Bawah

Sebaliknya, ketika berbicara mengenai urusan duniawi, manusia dianjurkan melihat kepada mereka yang memiliki keterbatasan lebih besar.

Ia memberikan gambaran sederhana. Ketika seseorang sudah memiliki sepeda motor, jangan hanya melihat orang yang mempunyai mobil. Sebaliknya, lihatlah mereka yang bahkan belum memiliki sepeda motor.

Begitu pula dengan kesehatan. Ketika diberikan kesehatan, jangan hanya membandingkan diri dengan orang yang memiliki kondisi lebih baik. Lihat pula mereka yang sedang sakit dan mungkin belum memiliki kesempatan untuk datang mengaji atau menjalankan aktivitas seperti biasa.

Cara pandang tersebut dapat menumbuhkan rasa syukur atas berbagai nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Menurutnya, kehidupan tidak hanya membutuhkan usaha untuk meningkatkan kualitas diri, tetapi juga kemampuan untuk mengenali nikmat dan keterbatasan yang dimiliki.

“Dengan begitu akan muncul rasa syukur. Melalui muhasabah, keteladanan dalam ibadah, serta kebiasaan melihat ke bawah dalam urusan dunia, seseorang diharapkan mampu menjalani kehidupan dengan hati yang lebih rendah diri, tidak mudah membandingkan diri secara berlebihan, dan semakin dekat kepada Allah SWT.,” jelasnya.

Dosen FAI UNUSIDA, Rangga Sa'adillah S.A.P. (Foto: Humas UNUSIDA)

Dosen UNUSIDA Sebut Kortas Tipikor sebagai Manifestasi Etika Publik dan Maqashid Syariah

SIDOARJO — Pembentukan Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortas Tipikor) di tubuh Kepolisian Republik Indonesia dinilai tidak semata-mata sebagai perubahan struktur kelembagaan, tetapi juga dapat dimaknai sebagai upaya memperkuat etika publik dan menghadirkan pendekatan yang lebih komprehensif dalam pemberantasan korupsi.

Pandangan tersebut disampaikan Rangga Sa’adillah, S.A.P., Dosen dan Kabag MKU Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), dalam opininya bertajuk ‘Kortas Tipikor Polri: Manifestasi Maqashid Syariah dalam Pemberantasan Korupsi’. Menurutnya, korupsi tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan administratif atau pelanggaran prosedur hukum. Korupsi merupakan bentuk kerusakan yang berdampak luas terhadap keadilan, kesejahteraan masyarakat, kohesi sosial, hingga legitimasi negara.

“Korupsi adalah kejahatan yang memiskinkan kemanusiaan. Maka, perlawanan terhadapnya tidak bisa lagi bersandar pada rasionalitas hukum yang usang dan parsial,” tulisnya.

Ia menilai kehadiran Kortas Tipikor dapat menjadi momentum untuk menghadirkan pendekatan baru dalam penegakan hukum. Terlebih, pemberantasan korupsi tidak cukup berhenti pada proses penindakan dan pemidanaan, tetapi juga harus memastikan kerugian negara dapat dipulihkan.

Penegakan Hukum Harus Berorientasi Pemulihan

Wakil Sekretaris Komisi Pengkajian, Penelitian, dan Pelatihan (KP3) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur tersebut menjelaskan, selama ini penegakan hukum acap kali terjebak dalam paradigma positivistik yang memandang hukum sebatas teks dan keadilan sebagai proses penghukuman.

Padahal, menurutnya, korupsi meninggalkan kerusakan sosial dan ekonomi yang jauh lebih luas. Karena itu, penegakan hukum idealnya memiliki orientasi pemulihan terhadap hak-hak publik yang telah dirampas.

Dalam konteks tersebut, fungsi penelusuran dan pengamanan aset menjadi sangat penting. Pengembalian aset hasil korupsi, lanjutnya, bukan sekadar bentuk pembalasan kepada pelaku, melainkan bagian dari upaya menghadirkan keadilan bagi masyarakat.

“Memiskinkan koruptor dan mengembalikan kerugian negara bukanlah tindakan balas dendam, melainkan rasionalitas tertinggi dari keadilan itu sendiri,” tegasnya.

Hifdzul Mal sebagai Landasan Etis

Lebih jauh, Rangga mengaitkan pemberantasan korupsi dengan konsep Maqashid Syariah, khususnya prinsip Hifdzul Mal atau perlindungan terhadap harta.

Dalam perspektif tersebut, APBN, pajak, dan sumber daya alam merupakan bagian dari harta publik yang diamanahkan untuk dikelola demi kemaslahatan masyarakat. Penyalahgunaan kekayaan publik, menurutnya, bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga bentuk pengkhianatan terhadap amanah.

Karena itu, ia melihat penguatan institusi pemberantasan korupsi sebagai bagian dari upaya melembagakan prinsip perlindungan terhadap harta publik dalam tata kelola negara modern.

“Dengan memusatkan energi pada pencegahan dan penyelamatan aset, aparat penegak hukum sedang menjalankan mandat moral tertinggi dari Maqashid Syariah,” jelasnya.

Ia menambahkan, perlindungan terhadap harta publik juga memiliki keterkaitan dengan prinsip Hifdzun Nafs atau perlindungan jiwa dan Hifdzun Nasl atau perlindungan generasi masa depan.

Anggaran negara yang berhasil diselamatkan dari praktik korupsi, kata dia, pada akhirnya dapat dikembalikan untuk kepentingan masyarakat, seperti pembangunan fasilitas kesehatan, pendidikan, infrastruktur, dan berbagai pelayanan publik.

Kolaborasi, Bukan Kompetisi Kelembagaan

Komisi Pendidikan MUI Kabupaten Sidoarjo tersebut juga menyadari adanya pandangan kritis mengenai keberadaan Kortas Tipikor, termasuk kekhawatiran terkait potensi tumpang tindih kewenangan dengan lembaga penegak hukum lain.

Namun, ia menilai persoalan tersebut seharusnya tidak dilihat dalam kerangka kompetisi antarinstansi. Menurutnya, korupsi merupakan kejahatan yang kompleks dan sistemik sehingga membutuhkan kerja bersama seluruh lembaga penegak hukum.

“ Kita harus menggeser kerangka pandang kita menuju tata kelola kolaboratif (collaborative governance) yang berlandaskan prinsip ta’awun, yakni tolong-menolong dalam penegakan kebaikan,” ujarnya.

Menurutnya, jaringan kewilayahan Polri yang luas dapat menjadi kekuatan strategis dalam membangun sistem pencegahan dan deteksi dini terhadap praktik korupsi. Jika dikelola secara profesional dan berintegritas, struktur tersebut dapat memperkuat pengawasan hingga ke tingkat pemerintahan paling bawah.

Harus Diiringi Transformasi Kultur

Meski memberikan optimisme terhadap pembentukan Kortas Tipikor, Rangga menegaskan bahwa dukungan tersebut bukanlah cek kosong. Penguatan struktur kelembagaan harus berjalan beriringan dengan pengawasan masyarakat dan pembenahan budaya organisasi.

Integritas, profesionalitas, transparansi, serta keberanian untuk menindak korupsi tanpa pandang bulu menjadi faktor penting agar Kortas Tipikor benar-benar mampu menjalankan mandatnya.

“Transformasi struktural ini wajib diiringi oleh transformasi kultural di dalam tubuh kepolisian itu sendiri. Integritas, profesionalitas, dan keberanian membongkar kejahatan tanpa pandang bulu adalah ruh yang akan menghidupkan kerangka institusi ini,” ungkapnya.

Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat sipil untuk turut mengawal penguatan pemberantasan korupsi. Menurutnya, Kortas Tipikor harus mampu berkembang menjadi instrumen keadilan yang benar-benar menghadirkan manfaat bagi masyarakat, bukan sekadar menjadi simbol birokrasi baru.

“Dengan mengintegrasikan ketajaman epistemologis dalam melihat kejahatan dan mengamalkan prinsip Maqashid Syariah dalam melindungi hak publik, kita memiliki alasan yang sah untuk berharap bahwa babak baru perang melawan korupsi telah menemukan momentumnya,” pungkasnya.

Momen Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Memaknai Kemerdekaan Melalui Pilar Tri Dharma yang Dijiwai Khidmah bil Hikmah

Kemerdekaan kerap dipahami sebatas terbebas dari penjajahan dan memiliki keleluasaan untuk menentukan pilihan. Namun, dalam konteks perguruan tinggi, kemerdekaan memiliki makna yang jauh lebih mendalam: kemerdekaan adalah kedaulatan berpikir. Ia bukan sekadar kebebasan untuk menyampaikan gagasan, melainkan kemampuan menggunakan ilmu pengetahuan secara bertanggung jawab untuk menghadirkan kemaslahatan publik.

Di sinilah Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menemukan relevansi makna kemerdekaan. Sebagai perguruan tinggi yang berakar pada tradisi Nahdlatul Ulama, UNUSIDA dapat memaknai kemerdekaan melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dijiwai semangat Khidmah bil Hikmah: mengabdi dengan ilmu, kebijaksanaan, dan orientasi kemanfaatan.

Gagasan ini penting karena kebebasan akademik tanpa orientasi etis berpotensi berubah menjadi egoisme intelektual. Sebaliknya, ilmu yang dilepaskan dari kebebasan berpikir akan kehilangan daya kritisnya. Karena itu, kemerdekaan akademik membutuhkan dua hal sekaligus: keberanian berpikir dan kebijaksanaan dalam menggunakan hasil pemikiran.

Kemerdekaan Dimulai dari Pendidikan

Pendidikan adalah pintu pertama menuju kemerdekaan manusia. Paulo Freire dalam gagasan Pendidikan Pembebasan memandang pendidikan sebagai proses yang membebaskan manusia dari kesadaran naif dan ketidakberdayaan. Pendidikan tidak seharusnya menjadikan peserta didik sekadar objek yang menerima pengetahuan, tetapi subjek yang mampu membaca realitas dan mengambil peran dalam mengubahnya.

Dalam konteks UNUSIDA, semangat tersebut dapat diwujudkan melalui integrasi antara sains modern dan nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Mahasiswa tidak cukup dibekali kemampuan akademik dan profesional, tetapi juga perlu memiliki kesadaran etis tentang untuk apa ilmu tersebut digunakan.

Semangat Khidmah bil Hikmah memberikan arah bahwa proses pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan. Ada tanggung jawab moral yang menyertainya. Sarjana yang merdeka bukanlah mereka yang bebas melakukan apa saja, melainkan mereka yang mampu menggunakan kebebasan intelektualnya untuk menghadirkan manfaat.

Dengan demikian, kampus menjadi ruang pembentukan manusia yang mampu berpikir kritis sekaligus memiliki kepekaan sosial.

Merdeka Meneliti, Merdeka Menjawab Persoalan

Kemerdekaan akademik juga menemukan bentuknya dalam penelitian. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab epistemologis untuk menghasilkan pengetahuan yang mampu menjelaskan dan menjawab persoalan masyarakat.

Pemikiran B.J. Habibie tentang pentingnya penguasaan sains dan teknologi memberikan pelajaran bahwa kemajuan bangsa tidak mungkin dicapai tanpa penguasaan ilmu pengetahuan. Namun, teknologi tidak boleh berhenti pada kecanggihan. Ia harus memiliki relevansi terhadap kebutuhan manusia.

Karena itu, kemerdekaan riset di UNUSIDA semestinya tidak dimaknai sebagai kebebasan menghasilkan penelitian sebanyak-banyaknya, tetapi sebagai keberanian mengeksplorasi ilmu untuk menemukan solusi atas persoalan nyata.

Semangat Khidmah bil Hikmah menjadi pengingat agar penelitian tidak terjebak menjadi “menara gading”. Penelitian harus memiliki kedalaman metodologis sekaligus kepekaan sosial. Pertanyaan mendasarnya bukan hanya “apa yang bisa diteliti?”, tetapi juga “persoalan siapa yang hendak diselesaikan melalui penelitian ini?”

Pengabdian: Ketika Ilmu Pulang kepada Masyarakat

Jika pendidikan membebaskan manusia melalui pengetahuan dan penelitian menghasilkan solusi, maka pengabdian kepada masyarakat menjadi ruang untuk mengembalikan pengetahuan tersebut kepada publik.

Perguruan tinggi tidak dapat berdiri sebagai institusi yang hanya berbicara tentang masyarakat dari balik ruang kelas. Ia harus hadir di tengah masyarakat, mendengarkan persoalan mereka, memahami kebutuhan mereka, kemudian menghadirkan pengetahuan sebagai instrumen pemberdayaan.

Dalam konteks inilah gagasan Social Contract of Science yang dikembangkan Michael Gibbons menjadi relevan. Ilmu pengetahuan memiliki hubungan sosial dengan masyarakat yang menjadi sumber sekaligus penerima manfaatnya.

UNUSIDA dapat menerjemahkan gagasan tersebut melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat, pendampingan UMKM, penguatan pendidikan, digitalisasi desa, kesehatan, lingkungan, hingga pengembangan ekonomi masyarakat.

Ilmu menjadi benar-benar merdeka ketika ia tidak hanya tinggal di ruang seminar, jurnal, dan perpustakaan, tetapi mampu mengubah kehidupan manusia menjadi lebih baik.

Khidmah bil Hikmah: Menjaga Kebebasan Agar Tetap Beradab

Kebebasan akademik membutuhkan kompas moral. Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, semangat pengabdian tidak dapat dilepaskan dari nilai tawassuth, keseimbangan, moderasi, dan hikmah.

Di sinilah konsep Khidmah bil Hikmah menjadi penting. Khidmah mengandung semangat pengabdian, sedangkan hikmah menunjukkan kedalaman ilmu dan kebijaksanaan dalam bertindak. Keduanya harus berjalan bersama.

Gagasan tersebut memiliki kedekatan dengan konsep ‘ilm nafi’ ilmu yang bermanfaat yang banyak dibicarakan dalam tradisi keilmuan Islam, termasuk pemikiran Imam Al-Ghazali. Ilmu tidak cukup membuat seseorang mengetahui sesuatu; ilmu harus membentuk cara berpikir, sikap, dan tindakan yang membawa manfaat.

Karena itu, mahasiswa UNUSIDA idealnya tidak hanya bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan?”, tetapi juga “Apa manfaat yang dapat saya berikan?”

Pertanyaan kedua inilah yang mengubah kebebasan menjadi pengabdian.

Merdeka Berpendapat, Tetap Menjaga Persaudaraan

Kemerdekaan berpikir juga tidak berarti bebas dari tanggung jawab. Di tengah era media sosial, kebebasan berpendapat dapat dengan mudah berubah menjadi penyebaran kebencian, disinformasi, atau konflik identitas.

Nilai-nilai Aswaja seperti tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal memberikan fondasi penting dalam membangun budaya akademik yang sehat. Kebebasan berpikir harus berjalan bersama penghormatan terhadap perbedaan.

Gus Dur mengajarkan bahwa nilai keislaman tidak boleh berhenti sebagai identitas, tetapi harus menjadi energi untuk memperjuangkan kemanusiaan dan keadilan sosial.

Maka, kebebasan akademik di UNUSIDA idealnya melahirkan mahasiswa yang berani mengkritik tanpa merendahkan, berbeda pendapat tanpa bermusuhan, dan mempertahankan argumentasi tanpa kehilangan adab.

Kebebasan berpendapat adalah hak; kesantunan dalam menggunakannya adalah tanggung jawab.

Dari Resolusi Jihad ke Resolusi Keilmuan

Ada tautan historis yang kuat antara perjuangan Nahdlatul Ulama dan gagasan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Jika para ulama dan santri dahulu mengangkat senjata dan mengobarkan semangat Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan fisik bangsa, maka generasi hari ini menghadapi medan perjuangan yang berbeda.

Medannya adalah ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan.

Dalam konteks tersebut, UNUSIDA memiliki peran strategis untuk meneruskan spirit perjuangan Nahdlatul Ulama melalui jalan keilmuan. Kampus dapat menjadi ruang untuk memperkuat pendidikan pesantren, mengembangkan teknologi tepat guna, meningkatkan kapasitas ekonomi warga Nahdliyin, serta memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat.

Kemerdekaan hari ini bukan lagi soal siapa yang menguasai wilayah kita, tetapi siapa yang menguasai pengetahuan, teknologi, informasi, dan sumber daya ekonomi. Karena itu, kedaulatan ilmu adalah bagian dari kedaulatan bangsa.

Sidoarjo dan Tantangan Kemerdekaan Sosial

Memaknai kemerdekaan juga berarti berani melihat persoalan yang ada di sekitar. Di Sidoarjo, berbagai persoalan sosial seperti penyalahgunaan narkoba, peredaran minuman keras, prostitusi tersembunyi, ketimpangan ekonomi, hingga persoalan generasi muda membutuhkan perhatian bersama.

Persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan dengan pendekatan represif. Diperlukan riset, pendidikan, pemberdayaan keluarga, penguatan komunitas, dan kebijakan publik berbasis data.

Dalam perspektif Fiqh Sosial KH. Sahal Mahfudh, keberagamaan harus memiliki keberpihakan terhadap kemaslahatan masyarakat. Karena itu, akademisi tidak cukup hanya menjadi pengamat persoalan sosial. Ia harus ikut terlibat dalam mencari jalan keluar.

UNUSIDA dapat mengambil peran tersebut melalui penelitian multidisipliner yang mempertemukan ilmu hukum, psikologi, pendidikan, teknologi informasi, ekonomi, kesehatan, dan keislaman.

Penelitian tentang persoalan sosial Sidoarjo, misalnya, tidak berhenti pada pemetaan masalah. Hasilnya harus diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan, program pencegahan berbasis komunitas, pendidikan bagi generasi muda, serta model pemberdayaan yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.

Di titik inilah Khidmah bil Hikmah menemukan bentuk konkretnya: ilmu yang bekerja untuk menyelamatkan manusia yang menjadi cara pandang tentang bagaimana sebuah perguruan tinggi mengisi kemerdekaan.

UNUSIDA tidak cukup hanya mencetak lulusan yang kompeten. Ia harus melahirkan manusia yang merdeka dalam berpikir, matang dalam bersikap, kuat dalam keilmuan, dan tulus dalam pengabdian.

Kemerdekaan sejati bukan ketika manusia dapat melakukan apa saja yang diinginkannya. Kemerdekaan sejati adalah ketika manusia memiliki kemampuan menentukan yang terbaik berdasarkan ilmu, etika, dan tanggung jawab sosial.

Pendidikan membebaskan manusia dari kebodohan. Penelitian membebaskan masyarakat dari ketidakberdayaan pengetahuan. Pengabdian membebaskan masyarakat dari ketertinggalan.

Dan Khidmah bil Hikmah memastikan seluruh proses itu tetap memiliki arah: ilmu untuk kemaslahatan, kebebasan untuk tanggung jawab, dan kemerdekaan untuk kemanusiaan.

Jika dahulu kemerdekaan diperjuangkan dengan keberanian para pejuang di medan perang, maka hari ini kemerdekaan harus dirawat dengan keberanian berpikir, keberanian meneliti, keberanian mengabdi, dan keberanian menghadirkan solusi.

Itulah kemerdekaan yang relevan bagi UNUSIDA: merdeka berpikir, merdeka berkarya, dan merdeka mengabdi untuk kemaslahatan publik.

Suasana forum Program Guru Besar Infokom Mengabdi (GBIM) di UGM (Foto: Humas UNUSIDA)

Perkuat Kurikulum dan Akreditasi, FILKOM UNUSIDA Ikuti Program Guru Besar Infokom Mengabdi APTIKOM di UGM

YOGYAKARTA — Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi melalui keikutsertaan dalam Program Guru Besar Infokom Mengabdi (GBIM) yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pendidikan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Turing, Lantai 4, Gedung D Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (7/8/2026).

Dalam kesempatan tersebut, FILKOM UNUSIDA memperoleh pendampingan langsung dari dua akademisi terkemuka di Indonesia, yakni Prof. Sri Hartati, M.Sc., Ph.D., selaku Ketua Dewan LAM INFOKOM, dan Prof. Agus Harjoko, M.Sc., Ph.D. Kehadiran kedua guru besar tersebut memberikan perspektif yang komprehensif mengenai pengembangan kurikulum, tata kelola akademik, hingga strategi peningkatan mutu program studi sesuai dengan standar nasional akreditasi.

Pendampingan difokuskan pada bedah kurikulum dan pengkajian dokumen akreditasi yang meliputi Instrumen Akreditasi Program Studi (APS) serta Laporan Evaluasi Diri (LED). Kegiatan ini melibatkan seluruh program studi di lingkungan FILKOM UNUSIDA, yaitu Program Studi Sistem Informasi, Informatika, dan Desain Komunikasi Visual (DKV). Seluruh dosen dan tim penyusun dokumen akreditasi berpartisipasi aktif dalam proses diskusi, evaluasi, dan penyempurnaan berbagai dokumen akademik yang menjadi indikator penilaian mutu program studi.

Selama proses pendampingan, kedua guru besar memberikan berbagai masukan strategis mengenai penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi digital yang terus berubah. Selain itu, pembahasan juga menitikberatkan pada implementasi Outcome-Based Education (OBE), penguatan capaian pembelajaran lulusan, pemetaan mata kuliah terhadap profil lulusan, serta penyempurnaan dokumen akreditasi agar sesuai dengan standar dan instrumen terbaru dari LAM INFOKOM.

Tidak hanya berfokus pada aspek administratif, pendampingan juga memberikan wawasan mengenai pentingnya membangun budaya mutu secara berkelanjutan di lingkungan fakultas. Kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, didukung tata kelola akademik yang baik, dinilai menjadi fondasi utama dalam menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan dunia kerja sekaligus mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Dekan FILKOM UNUSIDA, Dr. Arda Surya Editya, S.Pd., M.T., menyampaikan bahwa keikutsertaan dalam Program Guru Besar Infokom Mengabdi merupakan langkah strategis dalam memperkuat kualitas akademik di lingkungan fakultas. Menurutnya, pendampingan dari para guru besar memberikan banyak perspektif baru yang sangat bermanfaat bagi pengembangan program studi.

“Program ini menjadi langkah strategis bagi FILKOM UNUSIDA untuk memperkuat kualitas kurikulum, tata kelola akademik, sekaligus memperluas jejaring kolaborasi antarperguruan tinggi di bidang informatika. Berbagai rekomendasi yang diberikan menjadi bekal penting dalam meningkatkan kualitas akademik dan memperkuat daya saing program studi di tengah tantangan transformasi digital,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat menuntut perguruan tinggi untuk selalu melakukan pembaruan kurikulum secara berkala. Oleh karena itu, masukan dari para guru besar menjadi referensi penting dalam memastikan kurikulum yang diterapkan tetap relevan dengan kebutuhan industri, perkembangan ilmu pengetahuan, serta kebijakan pendidikan tinggi yang terus berkembang.

Selain mendukung peningkatan kualitas akreditasi, pihaknya juga ingin membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara FILKOM UNUSIDA dengan berbagai perguruan tinggi anggota APTIKOM. Ia berharap, melalui kolaborasi ini dapat diwujudkan dalam bentuk penelitian bersama, pengabdian kepada masyarakat, pertukaran dosen, pengembangan kurikulum, hingga penyelenggaraan berbagai kegiatan akademik yang mampu meningkatkan kualitas pendidikan di bidang informatika.

“Kami optimistis mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi teknis di bidang teknologi informasi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, serta mampu menjawab tantangan transformasi digital di berbagai sektor,” ungkapnya.

Ia menyebutkan bahwa kolaborasi ini menjadi bukti komitmen fakultas untuk terus melakukan perbaikan berkelanjutan dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi. Upaya tersebut sejalan dengan visi UNUSIDA dalam menghasilkan lulusan yang unggul, inovatif, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta memiliki karakter yang mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat.

“Hasil kolaborasi ini menjadi fondasi penting bagi penyempurnaan kurikulum, penguatan akreditasi program studi, peningkatan tata kelola akademik, serta lahirnya berbagai kolaborasi inovatif yang memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu komputer dan teknologi informasi di Indonesia. Sebagai ikhtiar dalam menghadirkan pendidikan berkualitas yang relevan dengan kebutuhan zaman sekaligus mendukung terwujudnya sumber daya manusia unggul di era digital.,” jelasnya.

Selain agenda pendampingan, kegiatan ini juga dihadiri oleh Aina Musdholifah, Ph.D., Head Department of Computer Science and Electronics, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, UGM. Dalam kesempatan tersebut, dilakukan diskusi mengenai peluang kerja sama antarperguruan tinggi di bidang computer science.

Pembahasan mencakup pengembangan kurikulum, kolaborasi penelitian, pertukaran dosen dan mahasiswa, penyelenggaraan program akademik bersama, hingga penguatan jejaring internasional. Diskusi tersebut menjadi langkah awal dalam membangun sinergi yang lebih luas untuk mendukung kemajuan pendidikan tinggi di bidang informatika.

Dekan FILKOM UNUSIDA, Dr. Arda Surya Editya, S.Pd., M.T. saat menyampaikan sambutan dalam Yudisium ke-12 (Foto: Humas UNUSIDA)

Yudisium ke-12, Dekan FILKOM UNUSIDA: Jadilah Sarjana yang Berilmu dan Berakhlak

SIDOARJO — Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Yudisium ke-12 Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 di Hall Lantai 5 Kampus UNUSIDA, Selasa (4/8/2026). Kegiatan ini menjadi penanda resmi kelulusan mahasiswa Program Studi Informatika, Sistem Informasi, dan Desain Komunikasi Visual sebelum mengikuti prosesi wisuda.

Acara tersebut dihadiri oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor UNUSIDA Dr. Hadi Ismanto, S.H., M.Pd., Kepala Biro Akademik Muhammad Mansur Yafi, M.T., Wakil Dekan FILKOM Neni Kurniati, S.Kom., M.T., Ketua Program Studi Sistem Informasi Syahri Mukmin, S.Kom., M.T., Ketua Program Studi Desain Komunikasi Visual Putra Uji Deva Satrio, S.Sn., M.Sn., Ketua Program Studi Informatika Muhammad Mahlul Alamin, S.Kom., M.Kom., serta perwakilan sponsorship dari Bank Raya Indonesia Cabang Sidoarjo.

Dalam sambutannya, Dekan FILKOM UNUSIDA Dr. Arda Surya Editya, S.Pd., M.T. menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh peserta yudisium atas keberhasilan mereka menyelesaikan studi hingga meraih gelar sarjana. Ia optimis sarjana FILKOM UNUSIDA dapat terus berkarya, berinovasi, serta memberikan kontribusi nyata bagi bangsa melalui bidang teknologi informasi dan industri kreatif.

“Tiada kata yang mampu menggambarkan perasaan kami kecuali kata selamat. Selamat bagi kalian yang telah berjuang sampai akhir dalam penyelesaian studi di Fakultas Ilmu Komputer,” ujarnya.

Ia mengajak para lulusan untuk mengenang kembali perjalanan akademik mereka sejak awal menjadi mahasiswa hingga mencapai titik kelulusan. Menurutnya, setiap mahasiswa memiliki cerita dan dinamika perjuangan yang berbeda, yang akan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup ke depan.

“Setiap orang memiliki cerita yang berbeda-beda. Semua pengalaman itu akan menjadi bekal berharga dalam menghadapi kehidupan selanjutnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Arda menegaskan bahwa pendidikan di perguruan tinggi tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan akhlak. Ia mengingatkan pentingnya peran dosen sebagai orang tua dalam dunia pendidikan yang tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan.

Ia juga berpesan kepada para lulusan untuk senantiasa menghormati dan meminta restu kepada dosen agar ilmu yang diperoleh menjadi berkah dan bermanfaat.

“Saya berharap setelah prosesi yudisium ini, kalian menemui dosen-dosen kalian, meminta maaf dan meminta restu. Keberkahan ilmu juga datang dari ridha para guru,” pesannya.

Dalam kesempatan tersebut, Arda juga mengungkapkan kebiasaannya membaca Basmalah setiap kali menandatangani Surat Keterangan Lulus (SKL) sebagai doa agar para lulusan senantiasa mendapatkan perlindungan dan pertolongan Allah SWT dalam menjalani kehidupan setelah lulus.

Lebih lanjut, ia menyampaikan tiga pesan penting sebagai bekal kehidupan, yakni menjaga tauhid dengan tidak menyekutukan Allah SWT, menjaga salat, serta menjauhi sikap sombong.

“Apapun profesi kalian nanti, tetap pegang nilai-nilai tersebut. Semoga kalian menjadi pribadi yang sukses, bermanfaat bagi masyarakat, dan mampu mengharumkan nama almamater,” pungkasnya.

Kerja sama antara FILKOM UNUSIDA dan Media Dakwah Pondok Pesantren Langitan Tuban (Foto: Humas UNUSIDA)

Transformasi Digital Pesantren, FILKOM UNUSIDA Dampingi Media Dakwah Langitan Kelola Database dan AI

TUBAN — Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menjalin kolaborasi strategis dengan Media Dakwah Pondok Pesantren Langitan dalam penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) Akademi Media Dakwah Langitan bertema ‘Akselerasi Dakwah Santri: Sinkronisasi Manajemen Database dan Optimalisasi AI untuk Efisiensi Media Pesantren’ di Kantor Pusat Langitan Lantai 3, Kamis (11/6/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Dekan FILKOM UNUSIDA Dr. Arda Surya Editya, S.Pd., M.T. sebagai fasilitator utama sekaligus narasumber menyebutkan bahwa kolaborasi ini menjadi langkah nyata dalam mendukung transformasi digital di lingkungan pesantren, khususnya dalam pengelolaan data dan pengembangan media dakwah berbasis teknologi. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, lembaga pesantren dituntut untuk mampu mengelola berbagai aset data secara efektif agar dapat mendukung aktivitas dakwah yang lebih terstruktur, efisien, dan berkelanjutan.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital telah mendorong pertumbuhan data yang sangat cepat di lingkungan pesantren. Berbagai data penting mulai dari data personalia, arsip dakwah digital, inventaris media, hingga rekam jejak konten terus bertambah seiring meningkatnya aktivitas dakwah dan publikasi digital.

Dalam pemaparannya, Dr. Arda Surya Editya menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital harus diawali dengan tata kelola data yang baik.

“AI akan memberikan manfaat yang optimal apabila didukung oleh sistem database yang terstruktur, terdokumentasi dengan baik, dan mampu terintegrasi antar-unit kerja. Karena itu, pembenahan manajemen data menjadi fondasi utama sebelum melakukan pengembangan teknologi yang lebih lanjut,” jelasnya.

Namun demikian, Direktur Media Dakwah Pondok Pesantren Langitan Ustadz Muhammad Sholeh menerangkan bahwa tantangan yang dihadapi saat ini tidak hanya terletak pada jumlah data yang semakin besar, melainkan juga bagaimana data tersebut dapat dikelola, disimpan, dan disinkronisasikan secara efektif antar-divisi. Ketidakteraturan pengelolaan data berpotensi menimbulkan duplikasi informasi, kesulitan pencarian arsip, hingga risiko kehilangan data penting yang dibutuhkan dalam proses kerja media.

Melihat kondisi tersebut, pihaknya mencoba berkolaborasi bersama FILKOM UNUSIDA menginisiasi forum diskusi terarah untuk merumuskan sistem pengelolaan data yang lebih terstruktur, aman, dan aplikatif dengan memanfaatkan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI).

“FGD ini diikuti oleh anggota Media Dakwah Langitan yang terlibat langsung dalam pengelolaan media dan arsip digital pesantren. Kegiatan dibagi menjadi dua sesi utama yang dirancang untuk menghasilkan solusi yang dapat diterapkan secara nyata,” katanya.

Pada sesi pertama, peserta melakukan pemetaan struktur database internal yang selama ini digunakan. Diskusi difokuskan pada identifikasi berbagai kendala sinkronisasi data antar-divisi, sekaligus merancang alur pengelolaan data yang lebih sistematis dan terintegrasi.

Sementara itu, sesi kedua membahas pemanfaatan teknologi AI dalam mendukung pengelolaan database media pesantren. Berbagai peluang penerapan AI diperkenalkan, mulai dari otomatisasi pengarsipan, pencarian data yang lebih cepat dan cerdas, hingga pengolahan informasi yang mampu meningkatkan produktivitas kerja tim media.

Diskusi berlangsung secara partisipatif dengan melibatkan seluruh peserta berdasarkan bidang kerja masing-masing, seperti tim redaksi, tim kreatif, dan tim administrasi arsip. Setiap kelompok melakukan identifikasi terhadap kondisi pengelolaan data yang berjalan saat ini, kemudian merumuskan berbagai rekomendasi perbaikan berdasarkan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi.

Lebih lanjut, kegiatan ini menargetkan terbentuknya draf blueprint standarisasi database internal Media Dakwah Langitan yang lebih terintegrasi dan mudah diimplementasikan. Selain itu, peserta juga menyusun rekomendasi berbagai perangkat berbasis AI yang dapat mendukung otomatisasi pengelolaan data guna meningkatkan efisiensi administrasi media.

“Kami berharap, hasil FGD ini menjadi pijakan awal dalam membangun sistem pengelolaan data yang lebih modern, terukur, dan berkelanjutan di lingkungan pesantren,” ungkapnya.

FGD Penelitian Dosen PIAUD UNUSIDA Ungkap Tingkat Pemahaman Orang Tua tentang Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini (Foto: Humas UNUSIDA)

PIAUD UNUSIDA Soroti Peran Orang Tua dan Lembaga PAUD dalam Peningkatan Kesehatan dan Gizi Anak

SIDOARJO — Upaya meningkatkan kualitas kesehatan dan gizi anak usia dini membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari keluarga, lembaga pendidikan, hingga pemerintah. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) penelitian yang diselenggarakan oleh tim peneliti dari Dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Rabu (10/6/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari riset yang dipimpin oleh Ketua Peneliti, Shofiyatuz Zahroh, S.Sos., M.Pd. FGD tersebut menjadi forum strategis untuk memotret kondisi riil di lapangan sekaligus menghimpun berbagai masukan guna memperkuat kebijakan dan praktik pendidikan anak usia dini, khususnya terkait kesehatan dan gizi anak.

Dalam pemaparannya, tim peneliti menegaskan bahwa kesehatan dan gizi merupakan dua faktor utama yang sangat menentukan tumbuh kembang anak. Kedua aspek tersebut juga menjadi perhatian serius dalam berbagai program nasional, termasuk upaya percepatan penanganan masalah gizi anak di Indonesia.

“Data yang kami sampaikan masih bersifat sementara dan apa adanya. Namun, dari temuan awal ini akan muncul berbagai hal yang mungkin tidak kita duga sebelumnya dan dapat membuka kesadaran bersama tentang pentingnya peran orang tua,” ungkapnya.

Hasil sementara penelitian menunjukkan adanya perbedaan tingkat pemahaman orang tua mengenai kesehatan dan gizi anak berdasarkan wilayah. Kabupaten Sidoarjo mencatat skor tertinggi dalam pemahaman kesehatan dan gizi anak. Sebaliknya, wilayah Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Madura, masih berada pada tingkat pemahaman yang relatif rendah.

Temuan menarik lainnya menunjukkan bahwa keberadaan lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memiliki pengaruh yang sangat signifikan dalam meningkatkan literasi orang tua mengenai kesehatan dan gizi anak. Di wilayah Waru, misalnya, tingkat pemahaman orang tua terkait kesehatan dan gizi anak tergolong lebih baik dibandingkan daerah lainnya.

Penelitian ini juga menemukan bahwa tingkat pendidikan maupun pendapatan orang tua tidak selalu berbanding lurus dengan pemahaman gizi anak. Orang tua dengan latar belakang pendidikan dan ekonomi yang lebih tinggi cenderung memberikan kebebasan lebih besar kepada anak dalam memilih makanan atau jajanan. Namun di sisi lain, mereka umumnya memiliki perhatian lebih tinggi terhadap aspek kesehatan seperti imunisasi, pemeriksaan kesehatan, dan penanganan medis.

Wakil Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) UNUSIDA tersebut berharap, melalui FGD ini mampu melahirkan berbagai rekomendasi yang dapat menjadi dasar penguatan program pendidikan keluarga, peningkatan literasi kesehatan, serta pengembangan kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan tumbuh kembang anak usia dini.

“Investasi terbaik dalam pembangunan bangsa sesungguhnya dimulai dari perhatian yang serius terhadap kesehatan, gizi, dan pendidikan anak sejak usia dini. Sebab, kualitas generasi masa depan sangat ditentukan oleh bagaimana bangsa ini merawat dan mempersiapkan anak-anaknya hari ini,” terangnya.

Sementara itu, Koordinator Litbangjirap BRIDA Jawa Timur, Wiwik Heny Winarsih, M.Si., yang hadir sebagai narasumber memberikan penekanan penting terkait literasi gizi bagi masyarakat. Menurutnya, masih banyak orang tua yang memiliki persepsi keliru mengenai indikator kesehatan anak.

“Pemahaman masyarakat masih perlu diperkuat. Tidak semua anak yang tampak gemuk itu sehat. Justru sekarang banyak ditemukan kasus kelebihan gula pada anak. Ini perlu edukasi serius, termasuk pembatasan konsumsi makanan tertentu sejak dini,” ujarnya.

Wiwik juga mengingatkan pentingnya mengenalkan berbagai jenis makanan kepada anak sejak usia dini. Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat membantu anak memiliki pola konsumsi yang lebih sehat dan beragam. Oleh karena itu, pihaknya sepakat bahwa peningkatan kualitas kesehatan dan gizi anak tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Sinergi antara keluarga, lembaga pendidikan, tenaga kesehatan, dan pemangku kebijakan menjadi kunci utama agar berbagai program intervensi dapat berjalan efektif dan memberikan dampak nyata.

“Anak yang sejak kecil tidak dikenalkan variasi makanan cenderung memiliki preferensi makanan yang terbatas dan lebih mudah bergantung pada makanan instan. Karena itu, pembiasaan pola makan beragam perlu dilakukan sejak dini,” tambahnya.

Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak strategis sebagai pemangku kebijakan, di antaranya perwakilan dari Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, serta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sidoarjo. Selain itu, forum ini juga dihadiri oleh organisasi profesi dan mitra lembaga pendidikan anak usia dini, seperti IGRA, IGTKI, HIMPAUDI, serta sejumlah kepala RA, TK, dan KB di wilayah Sidoarjo dan sekitarnya.

PIAUD UNUSIDA Gelar FGD Penelitian tentang Pemahaman Orang Tua terhadap Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini di Sumenep (Foto: Humas UNUSIDA)

PIAUD UNUSIDA Gelar FGD Penelitian tentang Pemahaman Orang Tua terhadap Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini

SUMENEP — Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Focus Group Discussion (FGD) penelitian bertema ‘Tingkat Pemahaman Orang Tua Tentang Kesehatan dan Gizi Pada Anak Usia Dini 4–6 Tahun’, Kamis (7/6/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian berjudul ‘Analisis Tingkat Pemahaman Orang Tua tentang Stunting (Kesehatan dan Gizi) pada Anak Usia Dini (4–6 Tahun) (Studi Kasus di Sidoarjo–Sumenep)’.

Penelitian tersebut diketuai oleh Shofiyatuz Zahro, S.Sos., M.Pd., dosen PIAUD UNUSIDA. FGD diselenggarakan sebagai upaya akademik untuk mengkaji sejauh mana pemahaman orang tua mengenai kesehatan dan gizi anak usia dini, khususnya dalam pencegahan stunting yang masih menjadi perhatian nasional.

Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh tim dosen PIAUD UNUSIDA, Akhmad Supriyanto, S.Pd., M.Pd., perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, Desy Febriana, S.St., M.Kes. selaku Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Kabupaten Sumenep, Diah Evi Nurani, S.Tp., M.Si. selaku Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia (PPM) Bappeda Kabupaten Sumenep, jajaran Pengurus Yayasan Pendidikan Al Hidayah Guluk-Guluk Sumenep, IGRA Sumenep, IGTKI Sumenep, serta kepala PAUD, TK, dan RA se-Kabupaten Sumenep.

Ketua peneliti, Shofiyatuz Zahro, menyampaikan bahwa penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran nyata mengenai tingkat pengetahuan orang tua terkait kesehatan dan gizi anak usia dini, sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pemahaman tersebut.

“Orang tua memiliki peran sentral dalam memastikan tumbuh kembang anak berjalan optimal. Melalui penelitian ini, kami ingin mengetahui sejauh mana pemahaman mereka terkait pemenuhan gizi, pola hidup sehat, serta pencegahan stunting pada anak usia dini,” ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa hasil dari kegiatan ini akan menjadi bahan kajian ilmiah sekaligus referensi dalam penyusunan program edukasi dan pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada peningkatan kualitas kesehatan dan gizi anak usia dini. Selain itu, temuan penelitian juga diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kebijakan dan program yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

“Melalui kegiatan penelitian ini, kami berkomitmen dalam menghasilkan penelitian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat serta berkontribusi dalam mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Ketua Program Studi PIAUD UNUSIDA, Rif’atul Anita, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menggali informasi mengenai tingkat pengetahuan dan pemahaman orang tua dalam memenuhi kebutuhan kesehatan dan gizi anak usia dini. Menurutnya, aspek kesehatan dan gizi merupakan fondasi penting yang akan menentukan kualitas pertumbuhan dan perkembangan anak pada masa emas (golden age).

“Melalui kegiatan ini, kami ingin memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai pemahaman orang tua terkait kesehatan dan gizi anak usia dini. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam merancang program edukasi yang lebih tepat sasaran bagi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Desy Febriana, S.St., M.Kes. menegaskan bahwa pencegahan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi juga memerlukan keterlibatan keluarga, lembaga pendidikan, dan pemerintah secara berkelanjutan.

Pihaknya sangat mengapresiasi inisiatif penelitian yang dilakukan UNUSIDA karena dinilai dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan dan program pembangunan sumber daya manusia, khususnya dalam meningkatkan kualitas kesehatan anak sejak usia dini.

“Kami berharap hasil penelitian dosen PIAUD UNUSIDA dapat memberikan kontribusi nyata bagi penguatan program edukasi kesehatan dan gizi keluarga, serta mendukung upaya pemerintah dalam percepatan penurunan angka stunting di Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Sumenep,” harapnya.