Pos

Kerja sama antara FILKOM UNUSIDA dan Media Dakwah Pondok Pesantren Langitan Tuban (Foto: Humas UNUSIDA)

Transformasi Digital Pesantren, FILKOM UNUSIDA Dampingi Media Dakwah Langitan Kelola Database dan AI

TUBAN — Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menjalin kolaborasi strategis dengan Media Dakwah Pondok Pesantren Langitan dalam penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) Akademi Media Dakwah Langitan bertema ‘Akselerasi Dakwah Santri: Sinkronisasi Manajemen Database dan Optimalisasi AI untuk Efisiensi Media Pesantren’ di Kantor Pusat Langitan Lantai 3, Kamis (11/6/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Dekan FILKOM UNUSIDA Dr. Arda Surya Editya, S.Pd., M.T. sebagai fasilitator utama sekaligus narasumber menyebutkan bahwa kolaborasi ini menjadi langkah nyata dalam mendukung transformasi digital di lingkungan pesantren, khususnya dalam pengelolaan data dan pengembangan media dakwah berbasis teknologi. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, lembaga pesantren dituntut untuk mampu mengelola berbagai aset data secara efektif agar dapat mendukung aktivitas dakwah yang lebih terstruktur, efisien, dan berkelanjutan.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital telah mendorong pertumbuhan data yang sangat cepat di lingkungan pesantren. Berbagai data penting mulai dari data personalia, arsip dakwah digital, inventaris media, hingga rekam jejak konten terus bertambah seiring meningkatnya aktivitas dakwah dan publikasi digital.

Dalam pemaparannya, Dr. Arda Surya Editya menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital harus diawali dengan tata kelola data yang baik.

“AI akan memberikan manfaat yang optimal apabila didukung oleh sistem database yang terstruktur, terdokumentasi dengan baik, dan mampu terintegrasi antar-unit kerja. Karena itu, pembenahan manajemen data menjadi fondasi utama sebelum melakukan pengembangan teknologi yang lebih lanjut,” jelasnya.

Namun demikian, Direktur Media Dakwah Pondok Pesantren Langitan Ustadz Muhammad Sholeh menerangkan bahwa tantangan yang dihadapi saat ini tidak hanya terletak pada jumlah data yang semakin besar, melainkan juga bagaimana data tersebut dapat dikelola, disimpan, dan disinkronisasikan secara efektif antar-divisi. Ketidakteraturan pengelolaan data berpotensi menimbulkan duplikasi informasi, kesulitan pencarian arsip, hingga risiko kehilangan data penting yang dibutuhkan dalam proses kerja media.

Melihat kondisi tersebut, pihaknya mencoba berkolaborasi bersama FILKOM UNUSIDA menginisiasi forum diskusi terarah untuk merumuskan sistem pengelolaan data yang lebih terstruktur, aman, dan aplikatif dengan memanfaatkan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI).

“FGD ini diikuti oleh anggota Media Dakwah Langitan yang terlibat langsung dalam pengelolaan media dan arsip digital pesantren. Kegiatan dibagi menjadi dua sesi utama yang dirancang untuk menghasilkan solusi yang dapat diterapkan secara nyata,” katanya.

Pada sesi pertama, peserta melakukan pemetaan struktur database internal yang selama ini digunakan. Diskusi difokuskan pada identifikasi berbagai kendala sinkronisasi data antar-divisi, sekaligus merancang alur pengelolaan data yang lebih sistematis dan terintegrasi.

Sementara itu, sesi kedua membahas pemanfaatan teknologi AI dalam mendukung pengelolaan database media pesantren. Berbagai peluang penerapan AI diperkenalkan, mulai dari otomatisasi pengarsipan, pencarian data yang lebih cepat dan cerdas, hingga pengolahan informasi yang mampu meningkatkan produktivitas kerja tim media.

Diskusi berlangsung secara partisipatif dengan melibatkan seluruh peserta berdasarkan bidang kerja masing-masing, seperti tim redaksi, tim kreatif, dan tim administrasi arsip. Setiap kelompok melakukan identifikasi terhadap kondisi pengelolaan data yang berjalan saat ini, kemudian merumuskan berbagai rekomendasi perbaikan berdasarkan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi.

Lebih lanjut, kegiatan ini menargetkan terbentuknya draf blueprint standarisasi database internal Media Dakwah Langitan yang lebih terintegrasi dan mudah diimplementasikan. Selain itu, peserta juga menyusun rekomendasi berbagai perangkat berbasis AI yang dapat mendukung otomatisasi pengelolaan data guna meningkatkan efisiensi administrasi media.

“Kami berharap, hasil FGD ini menjadi pijakan awal dalam membangun sistem pengelolaan data yang lebih modern, terukur, dan berkelanjutan di lingkungan pesantren,” ungkapnya.

FGD Penelitian Dosen PIAUD UNUSIDA Ungkap Tingkat Pemahaman Orang Tua tentang Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini (Foto: Humas UNUSIDA)

PIAUD UNUSIDA Soroti Peran Orang Tua dan Lembaga PAUD dalam Peningkatan Kesehatan dan Gizi Anak

SIDOARJO — Upaya meningkatkan kualitas kesehatan dan gizi anak usia dini membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari keluarga, lembaga pendidikan, hingga pemerintah. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) penelitian yang diselenggarakan oleh tim peneliti dari Dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Rabu (10/6/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari riset yang dipimpin oleh Ketua Peneliti, Shofiyatuz Zahroh, S.Sos., M.Pd. FGD tersebut menjadi forum strategis untuk memotret kondisi riil di lapangan sekaligus menghimpun berbagai masukan guna memperkuat kebijakan dan praktik pendidikan anak usia dini, khususnya terkait kesehatan dan gizi anak.

Dalam pemaparannya, tim peneliti menegaskan bahwa kesehatan dan gizi merupakan dua faktor utama yang sangat menentukan tumbuh kembang anak. Kedua aspek tersebut juga menjadi perhatian serius dalam berbagai program nasional, termasuk upaya percepatan penanganan masalah gizi anak di Indonesia.

“Data yang kami sampaikan masih bersifat sementara dan apa adanya. Namun, dari temuan awal ini akan muncul berbagai hal yang mungkin tidak kita duga sebelumnya dan dapat membuka kesadaran bersama tentang pentingnya peran orang tua,” ungkapnya.

Hasil sementara penelitian menunjukkan adanya perbedaan tingkat pemahaman orang tua mengenai kesehatan dan gizi anak berdasarkan wilayah. Kabupaten Sidoarjo mencatat skor tertinggi dalam pemahaman kesehatan dan gizi anak. Sebaliknya, wilayah Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Madura, masih berada pada tingkat pemahaman yang relatif rendah.

Temuan menarik lainnya menunjukkan bahwa keberadaan lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memiliki pengaruh yang sangat signifikan dalam meningkatkan literasi orang tua mengenai kesehatan dan gizi anak. Di wilayah Waru, misalnya, tingkat pemahaman orang tua terkait kesehatan dan gizi anak tergolong lebih baik dibandingkan daerah lainnya.

Penelitian ini juga menemukan bahwa tingkat pendidikan maupun pendapatan orang tua tidak selalu berbanding lurus dengan pemahaman gizi anak. Orang tua dengan latar belakang pendidikan dan ekonomi yang lebih tinggi cenderung memberikan kebebasan lebih besar kepada anak dalam memilih makanan atau jajanan. Namun di sisi lain, mereka umumnya memiliki perhatian lebih tinggi terhadap aspek kesehatan seperti imunisasi, pemeriksaan kesehatan, dan penanganan medis.

Wakil Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) UNUSIDA tersebut berharap, melalui FGD ini mampu melahirkan berbagai rekomendasi yang dapat menjadi dasar penguatan program pendidikan keluarga, peningkatan literasi kesehatan, serta pengembangan kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan tumbuh kembang anak usia dini.

“Investasi terbaik dalam pembangunan bangsa sesungguhnya dimulai dari perhatian yang serius terhadap kesehatan, gizi, dan pendidikan anak sejak usia dini. Sebab, kualitas generasi masa depan sangat ditentukan oleh bagaimana bangsa ini merawat dan mempersiapkan anak-anaknya hari ini,” terangnya.

Sementara itu, Koordinator Litbangjirap BRIDA Jawa Timur, Wiwik Heny Winarsih, M.Si., yang hadir sebagai narasumber memberikan penekanan penting terkait literasi gizi bagi masyarakat. Menurutnya, masih banyak orang tua yang memiliki persepsi keliru mengenai indikator kesehatan anak.

“Pemahaman masyarakat masih perlu diperkuat. Tidak semua anak yang tampak gemuk itu sehat. Justru sekarang banyak ditemukan kasus kelebihan gula pada anak. Ini perlu edukasi serius, termasuk pembatasan konsumsi makanan tertentu sejak dini,” ujarnya.

Wiwik juga mengingatkan pentingnya mengenalkan berbagai jenis makanan kepada anak sejak usia dini. Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat membantu anak memiliki pola konsumsi yang lebih sehat dan beragam. Oleh karena itu, pihaknya sepakat bahwa peningkatan kualitas kesehatan dan gizi anak tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Sinergi antara keluarga, lembaga pendidikan, tenaga kesehatan, dan pemangku kebijakan menjadi kunci utama agar berbagai program intervensi dapat berjalan efektif dan memberikan dampak nyata.

“Anak yang sejak kecil tidak dikenalkan variasi makanan cenderung memiliki preferensi makanan yang terbatas dan lebih mudah bergantung pada makanan instan. Karena itu, pembiasaan pola makan beragam perlu dilakukan sejak dini,” tambahnya.

Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak strategis sebagai pemangku kebijakan, di antaranya perwakilan dari Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, serta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sidoarjo. Selain itu, forum ini juga dihadiri oleh organisasi profesi dan mitra lembaga pendidikan anak usia dini, seperti IGRA, IGTKI, HIMPAUDI, serta sejumlah kepala RA, TK, dan KB di wilayah Sidoarjo dan sekitarnya.

PIAUD UNUSIDA Gelar FGD Penelitian tentang Pemahaman Orang Tua terhadap Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini di Sumenep (Foto: Humas UNUSIDA)

PIAUD UNUSIDA Gelar FGD Penelitian tentang Pemahaman Orang Tua terhadap Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini

SUMENEP — Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Focus Group Discussion (FGD) penelitian bertema ‘Tingkat Pemahaman Orang Tua Tentang Kesehatan dan Gizi Pada Anak Usia Dini 4–6 Tahun’, Kamis (7/6/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian berjudul ‘Analisis Tingkat Pemahaman Orang Tua tentang Stunting (Kesehatan dan Gizi) pada Anak Usia Dini (4–6 Tahun) (Studi Kasus di Sidoarjo–Sumenep)’.

Penelitian tersebut diketuai oleh Shofiyatuz Zahro, S.Sos., M.Pd., dosen PIAUD UNUSIDA. FGD diselenggarakan sebagai upaya akademik untuk mengkaji sejauh mana pemahaman orang tua mengenai kesehatan dan gizi anak usia dini, khususnya dalam pencegahan stunting yang masih menjadi perhatian nasional.

Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh tim dosen PIAUD UNUSIDA, Akhmad Supriyanto, S.Pd., M.Pd., perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, Desy Febriana, S.St., M.Kes. selaku Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Kabupaten Sumenep, Diah Evi Nurani, S.Tp., M.Si. selaku Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia (PPM) Bappeda Kabupaten Sumenep, jajaran Pengurus Yayasan Pendidikan Al Hidayah Guluk-Guluk Sumenep, IGRA Sumenep, IGTKI Sumenep, serta kepala PAUD, TK, dan RA se-Kabupaten Sumenep.

Ketua peneliti, Shofiyatuz Zahro, menyampaikan bahwa penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran nyata mengenai tingkat pengetahuan orang tua terkait kesehatan dan gizi anak usia dini, sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pemahaman tersebut.

“Orang tua memiliki peran sentral dalam memastikan tumbuh kembang anak berjalan optimal. Melalui penelitian ini, kami ingin mengetahui sejauh mana pemahaman mereka terkait pemenuhan gizi, pola hidup sehat, serta pencegahan stunting pada anak usia dini,” ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa hasil dari kegiatan ini akan menjadi bahan kajian ilmiah sekaligus referensi dalam penyusunan program edukasi dan pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada peningkatan kualitas kesehatan dan gizi anak usia dini. Selain itu, temuan penelitian juga diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kebijakan dan program yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

“Melalui kegiatan penelitian ini, kami berkomitmen dalam menghasilkan penelitian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat serta berkontribusi dalam mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Ketua Program Studi PIAUD UNUSIDA, Rif’atul Anita, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menggali informasi mengenai tingkat pengetahuan dan pemahaman orang tua dalam memenuhi kebutuhan kesehatan dan gizi anak usia dini. Menurutnya, aspek kesehatan dan gizi merupakan fondasi penting yang akan menentukan kualitas pertumbuhan dan perkembangan anak pada masa emas (golden age).

“Melalui kegiatan ini, kami ingin memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai pemahaman orang tua terkait kesehatan dan gizi anak usia dini. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam merancang program edukasi yang lebih tepat sasaran bagi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Desy Febriana, S.St., M.Kes. menegaskan bahwa pencegahan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi juga memerlukan keterlibatan keluarga, lembaga pendidikan, dan pemerintah secara berkelanjutan.

Pihaknya sangat mengapresiasi inisiatif penelitian yang dilakukan UNUSIDA karena dinilai dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan dan program pembangunan sumber daya manusia, khususnya dalam meningkatkan kualitas kesehatan anak sejak usia dini.

“Kami berharap hasil penelitian dosen PIAUD UNUSIDA dapat memberikan kontribusi nyata bagi penguatan program edukasi kesehatan dan gizi keluarga, serta mendukung upaya pemerintah dalam percepatan penurunan angka stunting di Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Sumenep,” harapnya.

Salah Seorang Tim Relawan UNUSIDA, Joko Romadoni Sabrian untuk Monev Pilkades Serentak Se Kabupaten Sidoarjo di Desa Kendalpecabean (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA Kirim 39 Relawan Tim Monev, Sukseskan Pilkades Serentak Sidoarjo 2026

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan daerah melalui partisipasi aktif pada pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak se-Kabupaten Sidoarjo, Ahad (24/5/2026). Sebanyak 39 relawan mahasiswa UNUSIDA diterjunkan untuk membantu pemantauan jalannya pesta demokrasi tingkat desa tersebut.

Keterlibatan relawan UNUSIDA menjadi bentuk kontribusi nyata civitas akademika yang melibatkan unsur dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, hingga tenaga operasional kampus dalam mendukung proses demokrasi yang aman, tertib, dan kondusif di wilayah Kabupaten Sidoarjo.

Pada pelaksanaan Pilkades Serentak tahun ini, tercatat sebanyak 80 desa di 17 kecamatan se-Kabupaten Sidoarjo menyelenggarakan pemilihan kepala desa secara bersamaan. Para relawan UNUSIDA disebar ke sejumlah titik pelaksanaan untuk melakukan observasi, dokumentasi, serta membantu memastikan proses pemilihan berjalan sesuai prosedur dan prinsip demokrasi.

Ketua Tim Relawan UNUSIDA, Moch Fabet Ali Thoufan, menyampaikan bahwa keikutsertaan mahasiswa dalam agenda tersebut tidak hanya menjadi bentuk pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga sarana pembelajaran langsung mengenai dinamika sosial dan praktik demokrasi di lapangan.

“Melalui kegiatan ini, seluruh tim relawan tidak hanya hadir sebagai pengamat, tetapi juga belajar memahami proses demokrasi secara nyata. Ini menjadi pengalaman berharga untuk melatih sikap kritis, tanggung jawab sosial, dan kemampuan berkolaborasi dengan masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, keterlibatan mahasiswa dalam tim Monev diharapkan mampu membentuk karakter generasi muda yang aktif, responsif, dan berintegritas dalam mendukung pembangunan daerah.

Bagi para relawan, turun langsung ke tengah masyarakat menjadi pengalaman yang berbeda dari pembelajaran di ruang kelas. Mereka berhadapan langsung dengan dinamika pemilihan, interaksi warga, serta proses penyelenggaraan demokrasi di tingkat akar rumput. Situasi tersebut memberikan pemahaman baru bahwa demokrasi bukan hanya teori dalam buku, melainkan praktik sosial yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

“Jadi tugas relawan kali ini adalah melakukan observasi lapangan, dokumentasi kegiatan, serta membantu memastikan proses Pilkades berlangsung sesuai prosedur, regulasi, dan prinsip-prinsip demokrasi yang berlaku,” terangnya.

Dengan semangat kolaborasi dan pengabdian, Kepala Bagian Peningkatan Kinerja Tenaga Kependidikan UNUSIDA tersebut terus mendorong mahasiswanya untuk mengambil peran dalam berbagai agenda strategis masyarakat. Keterlibatan dalam Monev Pilkades menjadi salah satu wujud nyata kampus dalam memperkuat nilai-nilai demokrasi lokal sekaligus membangun kepedulian sosial mahasiswa terhadap lingkungan sekitarnya.

“Kolaborasi ini menjadi wujud nyata bagaimana kalangan akademisi dapat mengambil peran penting dalam mendukung terciptanya demokrasi yang inklusif, transparan, dan berintegritas di Kabupaten Sidoarjo,” tambahnya.

Sementara itu, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMP) Kabupaten Sidoarjo, Yustina Tri Prastiwi, menyampaikan apresiasinya atas partisipasi civitas akademika UNUSIDA dalam menyukseskan pelaksanaan Pilkades Serentak tahun ini.

“Keberadaan tim monitoring dan evaluasi ini bertujuan untuk meninjau secara langsung pelaksanaan demokrasi di tingkat desa agar berjalan tertib, aman, dan lancar. Kami sangat mengapresiasi keterlibatan UNUSIDA yang telah mendukung proses ini,” tuturnya.

Yustina menjelaskan, hasil monitoring yang dilakukan tim nantinya tidak hanya menjadi catatan lapangan semata, tetapi juga akan digunakan sebagai bahan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Pilkades di Kabupaten Sidoarjo.

“Kami berharap, sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam pelaksanaan Pilkades serentak kali ini mampu menghadirkan proses demokrasi yang semakin berkualitas, transparan, dan partisipatif. Kehadiran relawan UNUSIDA pun menjadi bukti bahwa dunia akademik memiliki peran penting dalam mengawal demokrasi, bahkan hingga ke tingkat desa,” pungkasnya.

Dosen Informatika UNUSIDA, Ahmad Khoir Alhaq, S.Kom., M.Kom. (Foto: Humas UNUSIDA)

Perjalanan Inspiratif Ahmad Khoir Alhaq, Alumni yang Kini Mengabdi Sebagai Dosen Informatika UNUSIDA

Perjalanan menuju kesuksesan tidak selalu dimulai dari hal besar, tetapi dari keberanian mencoba dan terus belajar. Hal ini tercermin dari sosok Ahmad Khoir Alhaq, S.Kom., M.Kom., alumni S1 Informatika tahun 2020 yang kini mengabdi sebagai dosen di Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA).

Sejak masa kuliah, Ahmad dikenal sebagai mahasiswa yang aktif berorganisasi. Keterlibatannya dalam berbagai kegiatan kampus menjadi titik awal terbentuknya karakter dan kepercayaan dirinya. Ia tidak hanya berperan sebagai anggota, tetapi juga dipercaya mengemban tanggung jawab sebagai wakil ketua panitia dalam sebuah seminar.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan hidupnya. Dalam peran tersebut, ia mendapatkan kesempatan untuk membawakan sambutan di hadapan banyak peserta. Meski sempat merasa gugup, Ahmad justru melihat hal itu sebagai bagian dari proses belajar yang berharga.

“Saya aktif berorganisasi hingga dipercaya menjadi wakil ketua panitia seminar dan membawakan sambutan. Meski sempat gugup, pengalaman tersebut melatih kemampuan komunikasi publik saya dan memperkuat rasa percaya diri dalam menghadapi audiens yang luas,” ungkapnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (29/4/2026).

Dari pengalaman sederhana itulah, Ahmad mulai menyadari bahwa organisasi bukan sekadar wadah berkegiatan, tetapi juga ruang pembentukan diri. Ia belajar bagaimana mengelola tanggung jawab, bekerja dalam tim, serta menyampaikan ide dengan baik di depan publik.

Menurutnya, kemampuan komunikasi publik menjadi salah satu keterampilan penting yang sering kali tidak disadari manfaatnya sejak dini. Padahal, di dunia akademik maupun profesional, kemampuan ini sangat dibutuhkan baik saat presentasi, mengajar, maupun berinteraksi dengan banyak orang.

Perjalanan Ahmad tidak berhenti setelah menyelesaikan studi sarjana. Semangat belajarnya membawanya melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. Ia berhasil mendapatkan kesempatan beasiswa untuk melanjutkan studi S2, sebuah pencapaian yang menjadi bukti bahwa kerja keras dan konsistensi akan selalu menemukan jalannya.

Selama menempuh pendidikan magister, Ahmad semakin mengasah kemampuan akademiknya sekaligus memperkuat visi untuk berkontribusi di dunia pendidikan. Hingga akhirnya, ia kembali ke almamater sebagai dosen Informatika, mengabdikan ilmu yang telah diperolehnya kepada generasi berikutnya.

Sebagai dosen, Ahmad tidak hanya mengajarkan materi perkuliahan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai penting kepada mahasiswa. Ia sering membagikan pengalaman pribadinya tentang pentingnya aktif berorganisasi dan berani keluar dari zona nyaman.

“Aktif berorganisasi bukan hanya soal pengalaman, tapi juga tentang membentuk keberanian dan kepercayaan diri. Dari rasa gugup hingga mampu berbicara di depan banyak orang, semua adalah proses yang berharga,” tuturnya.

Ia juga menekankan bahwa keterlibatan dalam organisasi membuka banyak peluang belajar yang tidak selalu didapatkan di ruang kelas. Mulai dari melatih kepemimpinan, manajemen waktu, hingga kemampuan beradaptasi dengan berbagai karakter.

Menurut Ahmad, mahasiswa yang aktif cenderung memiliki kesiapan lebih baik dalam menghadapi dunia kerja. Mereka terbiasa menghadapi tantangan, berkomunikasi, serta mengambil keputusan dalam situasi tertentu.

Kisah Ahmad menjadi bukti nyata bahwa pengalaman organisasi memiliki peran besar dalam membentuk masa depan seseorang. Dari rasa gugup saat pertama kali berbicara di depan umum, hingga kini mampu berdiri sebagai dosen yang mengajar di depan banyak mahasiswa, semuanya adalah hasil dari proses panjang yang dijalani dengan konsisten.

Ia berharap mahasiswa saat ini tidak ragu untuk mencoba berbagai pengalaman selama kuliah. Baginya, kegagalan atau rasa tidak percaya diri di awal bukanlah hambatan, melainkan bagian dari perjalanan menuju versi terbaik diri.

“Jangan takut untuk mencoba. Semua orang pernah merasa tidak percaya diri. Tapi dari situlah kita belajar dan berkembang,” pesannya.

Sebagai alumni, Ahmad juga merasa bangga dapat kembali ke UNUSIDA, tidak hanya sebagai lulusan, tetapi juga sebagai pengajar yang turut berkontribusi dalam mencetak generasi unggul di bidang teknologi.

Perjalanannya menjadi inspirasi bagi banyak mahasiswa bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik, tetapi juga oleh keberanian mengambil peluang, kemauan belajar, dan konsistensi dalam mengembangkan diri.

Dari organisasi, Ahmad belajar berbicara. Dari pengalaman, ia belajar percaya diri. Dan dari proses itulah, ia tumbuh menjadi sosok pendidik yang menginspirasi.

Kisah Ahmad Khoir Alhaq, S.Kom., M.Kom. mengingatkan bahwa setiap langkah kecil yang diambil hari ini dapat menjadi fondasi besar di masa depan. Aktif berorganisasi bukan hanya menambah pengalaman, tetapi juga membuka jalan menuju peluang yang lebih luas—bahkan hingga kembali mengabdi sebagai dosen di kampus tercinta.

Dosen UNUSIDA, Afifatus Sholikhah, S.M., M.M. (Foto: Humas UNUSIDA)

Kartini Masa Kini Hadir dalam Setiap Perempuan yang Menjalani Perannya

Dalam momentum Hari Kartini, Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Afifatus Sholikhah, S.M., M.M. menyampaikan gagasan reflektif bahwa Kartini tidak lagi sekadar sosok sejarah, melainkan representasi nyata dari perempuan masa kini yang menjalani perannya dengan keberanian, ketulusan, dan makna.

Menurutnya, Kartini hari ini hadir dalam berbagai wajah: perempuan pekerja, ibu rumah tangga, mahasiswi, pelaku usaha, hingga mereka yang berjuang dalam diam. Tidak ada standar tunggal tentang bagaimana menjadi perempuan hebat, karena setiap perempuan adalah Kartini dengan versinya masing-masing.

“Dunia tidak membutuhkan perempuan yang seragam, tetapi perempuan yang autentik, yang mampu menjalani perannya dengan kesadaran dan tanggung jawab,” ujarnya.

Kepala Bagian Humas dan Informasi Publik UNUSIDA tersebut menyoroti perempuan yang bekerja sebagai wujud nyata emansipasi yang hidup dalam tindakan sehari-hari. Bangun pagi, menghadapi tuntutan pekerjaan, menyelesaikan tanggung jawab, hingga tetap berusaha memberikan yang terbaik adalah bentuk perjuangan yang sering kali tak terlihat, namun sangat bermakna.

Di sisi lain, ia juga menegaskan bahwa peran ibu rumah tangga memiliki kemuliaan yang sama. Mengurus rumah, mendidik anak, dan menjaga keharmonisan keluarga merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban. “Dari tangan seorang ibu, lahir generasi yang kuat, berakhlak, dan berdaya,” tambahnya.

Baginya, baik perempuan yang bekerja, ibu rumah tangga, maupun yang menjalani keduanya, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Yang membedakan hanyalah jalan yang dipilih, bukan nilai dari peran itu sendiri.

Lebih jauh, ia mengajak perempuan masa kini untuk berani bermimpi, berkembang, dan tidak terjebak pada standar sosial yang tidak realistis. Menjadi perempuan hebat bukan berarti harus sempurna, tetapi berani menjadi diri sendiri dan terus bertumbuh.

Hari Kartini, lanjutnya, menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan belum selesai. Namun perjuangan itu bisa dimulai dari hal kecil: keberanian untuk berbicara, keteguhan untuk bertahan, dan ketulusan dalam menjalani peran sehari-hari. Dalam refleksi ini, alumni UNUSIDA tersebut mengajak untuk merayakan setiap perjuangan perempuan, sekecil apa pun, serta menghargai setiap peran yang dijalani dengan penuh keyakinan bahwa tidak ada usaha yang sia-sia.

“Sebagai perempuan, kita tidak harus menjadi orang lain untuk dianggap hebat. Kita hanya perlu menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri,” pungkasnya.

Dr. Rangga Sa’adillah S.A.P. (Kabag MKU UNUSIDA)

Memperoleh Lailatul Qadar dan Habituasi Setelahnya, Membangun Spiritualitas yang Berkelanjutan

Malam 27 Bulan Ramadhan kali ini tampak berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Pada malam ini hampir separuhnya diguyur hujan dengan intensitas tinggi hingga sedang. Bagi sebagian wilayah yang merasakan guyuran hujan dengan intensitas tinggi mereka akan merasakan bahwa hujan pada malam ini tidak menimbulkan dampak negatif, seperti banjir yang merusak atau angin yang memporak-porandakan lingkungan. Kelembaban udara serta suhu pada malam ini juga tidak begitu gerah dan tidak begitu dingin serasa sejuk meski tidak ada angin yang berhembus.

Suasana yang nyaman pada malam 27 ini dimanfaatkan oleh banyak orang untuk beribadah secara individual maupun kolektif. Pada waktu sepertiganya, sekitar pukul satu dini hari. Tampak terlihat beberapa kerumunan orang berbondong-bondong ke masjid atau musholla untuk qiyamul lail. Mereka benar-benar menghidupkan malam ini dengan pengabdian penuh kepada Allah SWT. Shalat Tahajud, Shalat Taubat, Shalat Hajat hingga Shalat Tasbih mereka persembahkan untuk Allah. Demikian juga dengan panjatan harapan serta doa terbaik mereka mohonkan kepada Sang Penunai Hajat. Mereka menengadahkan tangan, memohon, meminta, memuji, mengagungkan Tuhan Semesta Alam. Memang pada dasarnya malam 27 ini seperti terkondisikan nyaman untuk beribadah.

Praktik beribadah secara kolektif semacam ini dilakukan dengan berbagai macam motivasi. Seperti motivasi untuk memperoleh fadhilah malam Lailatul Qadar. Beribadah dengan motivasi mendapatkan Lailatul Qadar sah saja sebab kaum Muslimin memang diajarkan untuk mencari dan menghidupkan malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Artinya, nilai ibadah pada malam tersebut memiliki keutamaan yang luar biasa besar, melampaui nilai ibadah yang dilakukan selama puluhan tahun.

Motivasi memperoleh Lailatul Qadar inilah yang kemudian mendorong banyak orang untuk meningkatkan intensitas ibadahnya pada penghujung Ramadhan. Masjid-masjid yang biasanya mulai sepi setelah pertengahan malam tiba-tiba kembali hidup. Lampu-lampu menyala, lantunan doa terdengar khusyuk, dan jamaah duduk bersila membaca Al-Qur’an atau berzikir dengan penuh harap. Ada semacam kesadaran kolektif bahwa kesempatan ini tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Namun demikian, terdapat satu pertanyaan penting yang patut kita renungkan bersama. Apakah semangat ibadah yang memuncak pada malam-malam tertentu di bulan Ramadhan itu akan terus berlanjut setelah Ramadhan berlalu? Ataukah semangat tersebut hanya menjadi fenomena musiman yang menghilang begitu saja ketika kalender telah berganti menjadi bulan Syawal?

Di sinilah pentingnya memahami makna spiritual Lailatul Qadar secara lebih mendalam. Lailatul Qadar bukan sekadar malam yang diburu untuk mendapatkan pahala berlipat ganda, tetapi juga momentum transformasi spiritual bagi seorang Muslim. Malam ini seharusnya menjadi titik balik kesadaran manusia untuk memperbaiki hubungan dengan Tuhan sekaligus memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Jika seseorang benar-benar merasakan kehadiran spiritual Lailatul Qadar, maka dampaknya tidak berhenti pada satu malam saja. Pengalaman spiritual tersebut semestinya melahirkan perubahan sikap, perubahan perilaku, dan perubahan orientasi hidup hingga seribu bulan lamanya. Orang yang merasakan kedekatan dengan Tuhan pada malam itu akan terdorong untuk mempertahankan kualitas ibadahnya pada hari-hari berikutnya, itulah Lailatul Qadar yang membekas pada spiritualitasnya.

Dalam perspektif pendidikan spiritual, hal ini dapat disebut sebagai proses habituasi atau pembiasaan. Ramadhan pada dasarnya adalah madrasah ruhaniyah yang melatih manusia untuk membentuk kebiasaan baik. Puasa melatih pengendalian diri, tarawih melatih konsistensi ibadah malam, sedekah melatih kepedulian sosial, dan tadarus Al-Qur’an melatih kedekatan dengan wahyu Ilahi.

Semua latihan tersebut mencapai puncaknya pada sepuluh hari terakhir Ramadhan ketika umat Islam berlomba-lomba mencari Lailatul Qadar. Namun, tujuan akhir dari latihan tersebut bukanlah sekadar pengalaman spiritual yang bersifat sesaat, melainkan terbentuknya karakter religius yang berkelanjutan.

Dalam konteks inilah, habituasi setelah Ramadan menjadi sangat penting. Orang yang terbiasa bangun malam selama Ramadhan idealnya tetap melanjutkan kebiasaan tersebut meskipun dalam kadar yang lebih sederhana. Orang yang terbiasa membaca Al-Qur’an setiap hari selama Ramadhan juga diharapkan tetap menjaga kedekatannya dengan Al-Qur’an pada bulan-bulan berikutnya. Demikian pula dengan kebiasaan bersedekah, menjaga lisan, dan memperbanyak doa.

Habituasi ini penting karena dalam ajaran Islam, amal yang paling dicintai oleh Allah bukanlah amal yang besar tetapi dilakukan sekali, melainkan amal yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit. Konsistensi atau istiqamah inilah yang menjadi indikator kematangan spiritual seseorang.

Dengan demikian, keberhasilan seseorang memperoleh keberkahan Lailatul Qadar tidak hanya diukur dari seberapa khusyuk ia beribadah pada malam itu, tetapi juga dari sejauh mana ia mampu mempertahankan nilai-nilai spiritual Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari setelahnya. Jika setelah Ramadhan seseorang kembali pada kebiasaan lama yang jauh dari nilai-nilai ketakwaan, maka bisa jadi ia hanya mendapatkan euforia spiritual sesaat tanpa transformasi yang nyata.

Sebaliknya, jika pengalaman spiritual pada malam-malam Ramadhan mampu melahirkan kebiasaan baik yang terus dipelihara, maka di situlah hakikat keberkahan Lailatul Qadar benar-benar terwujud. Malam itu tidak hanya menjadi malam yang penuh pahala, tetapi juga menjadi awal dari perjalanan spiritual yang lebih matang.

Walhasil, Lailatul Qadar bukan hanya tentang satu malam yang penuh kemuliaan, tetapi tentang bagaimana kemuliaan malam tersebut mampu membentuk kebiasaan hidup yang lebih baik hingga seribu bulan. Ramadhan mungkin akan berlalu, tetapi nilai-nilai spiritual yang ditanamkan di dalamnya seharusnya tetap hidup dalam diri setiap Muslim. Dengan cara itulah, cahaya Lailatul Qadar tidak hanya menerangi satu malam, tetapi juga menerangi perjalanan hidup manusia sepanjang waktu. Semoga kita diperkenankan oleh Allah untuk menjumpai Ramadhan berikutnya.

Oleh: Dr. Rangga Sa’adillah S.A.P. (Kabag MKU UNUSIDA)

Kepala UPT PIK UNUSIDA, Aris Kuswanto saat menerima penghargaan LPTNU Award 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

Kepala UPT PIK UNUSIDA, Aris Kuswanto Raih Peringkat 2 Dosen Berdampak pada Masyarakat dalam Anugerah LPTNU Award 2026

SIDOARJO – Kepala UPT Pengkajian Islam dan Keaswajaan (PIK) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Aris Kuswanto, M.Pd.I, meraih Peringkat 2 Kategori Dosen Berdampak pada Masyarakat Bidang Khidmat Jam’iyah dalam ajang Anugerah LPTNU Award 2026 di Auditorium Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) Tower Lt.9 Jalan Jemursari No.51-57 Surabaya, Selasa (10/03/2026) malam.

Penghargaan ini diberikan oleh Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebagai bentuk apresiasi kepada dosen yang dinilai memiliki kontribusi nyata dalam pengabdian kepada masyarakat serta penguatan nilai-nilai ke-NU-an di lingkungan perguruan tinggi.

Menanggapi penghargaan tersebut, Aris Kuswanto menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT atas kesempatan yang diberikan untuk terus berkhidmat melalui dunia pendidikan tinggi.

“Pertama tentu saya bersyukur kepada Allah SWT karena diberi kesempatan untuk terus melanjutkan khidmah melalui pendidikan tinggi sebagai dosen, akademisi, dan pendidik. Bisa bertemu dengan mahasiswa, berdiskusi dengan sesama dosen, serta bersama-sama berkontribusi untuk kemajuan pendidikan dan bangsa,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA, Jum’at (13/3/2026).

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan dukungan, mulai dari LPTNU, pimpinan UNUSIDA, hingga rekan-rekan dosen serta civitas akademika yang selama ini bekerja bersama dalam membangun kampus. Menurutnya, penghargaan tersebut bukanlah capaian pribadi semata, melainkan hasil dari kerja bersama seluruh elemen di lingkungan UNUSIDA.

“Ini sebenarnya bukan prestasi individu. Banyak pihak yang berkontribusi dan bekerja keras di kampus. Kebetulan saja nama saya yang mewakili dalam kategori ini. Jadi penghargaan ini milik kita bersama,” ungkapnya.

Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UNUSIDA tersebut, mengenang perjalanan panjang keterlibatannya dalam proses berdirinya UNUSIDA sejak masa awal perintisan. Ia mengaku turut berkontribusi dalam berbagai upaya pengembangan kampus, mulai dari penyusunan kurikulum Aswaja, pendampingan organisasi kampus, hingga berbagai tugas pengelolaan lembaga.

“Sejak sebelum kampus berdiri kami sudah berikhtiar bersama, baik secara lahir maupun batin. Saya juga pernah diminta membantu menyusun kurikulum Aswaja, ikut dalam berbagai tim pengembangan, hingga mendampingi pengelolaan di beberapa unit di kampus,” jelasnya.

Baginya, khidmah di perguruan tinggi merupakan bentuk pelayanan terhadap lembaga dan masyarakat. Dalam konsep tersebut, dosen tidak hanya mengajar, tetapi juga melayani dan memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan institusi.

“Dalam khidmah, kita melayani lembaga. Artinya kita menjalankan tugas sesuai amanah yang diberikan. Sebagai pelayan lembaga, tugas kita adalah melaksanakan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya,” tuturnya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga keistiqamahan dalam berjuang membangun lembaga pendidikan. Menurutnya, perjalanan membangun kampus tidak selalu mudah, karena terdapat berbagai tantangan yang harus dihadapi.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Kholil, Jetis, Sidoarjo tersebut mengingat kembali masa-masa awal ketika UNUSIDA masih menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari sarana prasarana hingga proses perkuliahan yang harus menumpang di beberapa sekolah.

“Kami pernah mengalami masa ketika kampus masih kekurangan ruang kelas dan harus menumpang di sekolah lain. Bahkan ada pengalaman-pengalaman yang cukup menguji kesabaran. Namun semua itu menjadi bagian dari proses perjuangan,” kenangnya.

Kini, setelah berbagai upaya dan kerja keras dilakukan, ia mengaku bersyukur dapat menyaksikan perkembangan UNUSIDA yang semakin maju dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

“Sekarang kita mulai menikmati hasil dari perjuangan tersebut. Ini sekaligus menjadi tantangan bagi kita semua untuk tetap menjaga keikhlasan dan komitmen dalam berkhidmah,” katanya.

Selain manfaat ekonomi, Aris menilai pengabdian di perguruan tinggi juga memberikan banyak pengalaman berharga, seperti perluasan jaringan, peningkatan kapasitas keilmuan, serta kesempatan bertemu dengan berbagai tokoh akademisi dan ulama.

“Banyak hal yang saya dapatkan di sini, bukan hanya materi tetapi juga ilmu, jaringan pertemanan, serta kesempatan belajar dari para profesor, doktor, dan kiai. Itu semua menjadi pengalaman yang sangat berharga,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Aris memberikan pesan kepada generasi muda, khususnya para akademisi dan mahasiswa, agar tetap istiqamah dalam menjalankan tugas dan proses kehidupan.

“Pesannya sederhana, nikmati proses yang diberikan Allah kepada kita. Jalankan tugas dengan sebaik-baiknya, terus belajar, dan tingkatkan kapasitas intelektual serta emosional. Jika itu dilakukan dengan sungguh-sungguh, insyaAllah hasilnya akan mengikuti,” pesannya.

Rapat Koordinasi Pimpinan UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Rapat Koordinasi Pimpinan UNUSIDA, Perkuat Konsolidasi dan Orientasi Pelayanan Prima

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Rapat Koordinasi Pimpinan pada Jum’at (27/2/2026) di Hall Kampus 2, Lingkar Timur, Sidoarjo. Rapat ini diikuti oleh seluruh jajaran pimpinan, mulai dari Dekan dan Wakil Dekan Fakultas, Kepala Program Studi, Kepala Biro, Kepala Bagian, hingga Kepala UPT di lingkungan UNUSIDA.

Sekretaris BPP UNUSIDA, Dr. Sholehudin, dalam arahannya menegaskan bahwa momentum bulan puasa hendaknya dimaknai lebih dari sekadar ibadah ritual. Menurutnya, mentalitas puasa tidak hanya mengajarkan tentang ruhaniyah, tetapi juga membentuk kekuatan spiritual dan ketangguhan mental.

“Puasa tidak hanya berbicara tentang dimensi ruhaniyah, tetapi juga spiritualitas yang membentuk karakter. Hal ini harus diartikan bahwa UNUSIDA harus menjadi kampus yang tangguh, memiliki ketangguhan mental untuk bersaing dengan perguruan tinggi lain, sekaligus melaksanakan pelayanan prima dalam pengabdian,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa orientasi pelayanan di UNUSIDA harus ditekankan dengan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, sehingga budaya kerja yang dibangun tidak hanya profesional, tetapi juga berlandaskan akhlak dan prinsip ke-NU-an.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., menyampaikan bahwa rapat koordinasi ini dilaksanakan dalam rangka memperkuat konsolidasi pimpinan di semua lini. Selain itu, rapat juga membahas strategi rekrutmen dosen dan karyawan, serta tindak lanjut hasil rapat kerja universitas.

“Rapat ini menjadi momentum untuk menguatkan konsolidasi pimpinan, membahas rekrutmen dosen dan karyawan, serta menindaklanjuti rapat kerja universitas, termasuk strategi promosi UNUSIDA agar semakin dikenal luas oleh masyarakat,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Dr. Hadi menekankan pentingnya peningkatan kualitas lulusan sebagai prioritas utama. Salah satu langkah strategis yang dibahas adalah penentuan syarat kelulusan yang selaras dengan kebutuhan dunia kerja, sehingga lulusan UNUSIDA tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga relevan dan kompetitif di pasar kerja.

Melalui rapat koordinasi ini, pihaknya berkomitmen untuk terus memperkuat tata kelola kelembagaan, meningkatkan mutu layanan, serta membangun sinergi antarunit demi mewujudkan kampus yang tangguh, berdaya saing, dan berorientasi pada pelayanan prima kepada masyarakat.

Selain itu, sinergi antarunit juga menjadi perhatian penting. Setiap fakultas, lembaga, dan unit kerja didorong untuk saling berkolaborasi, bukan berjalan sendiri-sendiri. Dengan sinergi yang kuat, ia yakin UNUSIDAmampu menghadirkan inovasi serta pelayanan yang lebih optimal kepada mahasiswa dan masyarakat luas.

“Koordinasi yang solid adalah kunci kemajuan institusi. Kita harus bergerak bersama, saling mendukung, dan berorientasi pada pelayanan prima,” pungkasnya.

Dekan FILKOM UNUSIDA Turut Berkontribusi dalam YSEALI Regional Workshop CyberSafe ASEAN di Jakarta (Foto: Humas UNUSIDA)

Dekan FILKOM UNUSIDA Diundang dalam Forum ASEAN Outsmart the Scammers, Perkuat Kolaborasi Lawan Kejahatan Siber

JAKARTA — Dekan Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) Dr. Arda Surya Editya, S.Pd., M.T., turut berkontribusi dalam kegiatan YSEALI Regional Workshop CyberSafe ASEAN: Equipping Young Leaders to Outsmart Scammers yang digelar di Jakarta pada akhir Januari 2026 lalu.

Workshop regional ini menjadi wadah strategis bagi para pemimpin muda dari negara-negara anggota ASEAN dan Timor-Leste untuk meningkatkan kapasitas, memperdalam pemahaman, serta membangun jejaring kolaboratif dalam menghadapi ancaman keamanan siber dan penipuan daring yang kian kompleks.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Arda menyampaikan bahwa pihaknya sangat mendukung upaya memperkuat kolaborasi regional menghadapi maraknya penipuan online dan kejahatan siber ini. Sebagai seorang dari kalangan akademisi, pihaknya memiliki komitmen bersama untuk memberantas kejahatan digital lintas negara.

“Saya hadir disini untuk mencerminkan komitmen institusi pendidikan tinggi dalam mendukung upaya pencegahan penipuan online dan kejahatan siber, sekaligus memperkuat peran akademisi dalam pengembangan literasi digital, keamanan siber, serta kolaborasi lintas negara,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (3/2/2026).

Forum ini mempertemukan praktisi, akademisi, pembuat kebijakan, serta pegiat keamanan digital dari berbagai negara di kawasan ASEAN. Melalui diskusi strategis, berbagi praktik terbaik, dan penguatan jejaring profesional, kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran, kapasitas, serta kerja sama regional dalam menghadapi ancaman penipuan online yang kian kompleks dan masif.

Melalui tema Outsmart the Scammers, acara ini menegaskan pentingnya pendekatan cerdas, kolaboratif, dan berbasis pengetahuan dalam melawan pelaku kejahatan siber. Para peserta diajak memahami pola terbaru penipuan digital, dampak sosial-ekonomi yang ditimbulkan, serta strategi pencegahan dan penanganan yang efektif di tingkat nasional maupun regional.

Dalam forum ini, Dr. Arda juga turut berbagi perspektif akademik terkait penguatan literasi keamanan siber di kalangan generasi muda serta pentingnya sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun ekosistem digital yang sehat. Kontribusi tersebut menegaskan peran institusi pendidikan tinggi sebagai agen perubahan, khususnya dalam pengembangan sumber daya manusia yang adaptif terhadap tantangan teknologi.

“Kolaborasi regional seperti sangat penting untuk menghadapi modus penipuan online yang semakin beragam, mulai dari phishing, penipuan investasi digital, hingga penyalahgunaan data pribadi,” tandasnya.

Ia mengungkapkan, kegiatan internasional ini sejalan dengan komitmen kampus untuk terus memperluas jejaring global sekaligus memperkuat kontribusi nyata dalam isu-isu strategis, khususnya keamanan siber. Ia berharap, hasil dari workshop ini dapat ditransformasikan menjadi program edukasi dan pengabdian masyarakat yang berdampak langsung, guna meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya menjaga keamanan di ruang digital.

“Sinergi berkelanjutan antarprofesional ASEAN untuk saling berbagi informasi, memperkuat kebijakan, dan mendorong aksi nyata dalam melindungi masyarakat dari ancaman kejahatan digital. Inisiatif ini menjadi langkah strategis menuju kawasan ASEAN yang lebih aman, cerdas, dan tangguh di era transformasi digital,” ungkapnya.

Kegiatan ini didukung berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap isu keamanan digital dan perlindungan masyarakat di ruang siber, serta diimplementasikan oleh Biji–Biji Initiative sebagai bagian dari komitmen bersama dalam menciptakan ekosistem digital yang aman dan terpercaya di kawasan ASEAN.