Pos

Feri Kuswanto, S.Pd.I., M.Pd.I. Dekan Fakultas Agama Islam UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Membangun Budaya Anti Korupsi dalam Perspektif Fikih dan Tasawuf, Jalan Menuju Umat yang Berintegritas

Peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia yang diperingati setiap tanggal 9 Desember 2025 ini, menjadi momentum bagi Bangsa Indonesia yang harus kembali dihadapkan pada refleksi mendalam terkait persoalan besar yang belum kunjung usai, yaitu korupsi. Meski berbagai instrumen regulasi telah disiapkan oleh negara, praktik korupsi masih terjadi di banyak sektor—pemerintahan, pendidikan, bisnis, bahkan institusi sosial yang seharusnya menjadi teladan moral bagi publik.

Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum. Ia adalah luka moral, kerusakan akhlak, dan penyakit sosial yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa. Karena itulah, pemberantasan korupsi tidak cukup hanya mengandalkan hukum, sanksi, dan pengawasan. Dibutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif: pendekatan fikih, tasawuf, dan pendidikan karakter yang dapat membersihkan perilaku lahir sekaligus menata batin.

Undang-undang Indonesia melalui UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001 mengelompokkan tujuh jenis utama tindak pidana korupsi:

  1. Merugikan keuangan negara,

  2. Suap-menyuap,

  3. Penggelapan dalam jabatan,

  4. Pemerasan,

  5. Perbuatan curang,

  6. Benturan kepentingan,

  7. Gratifikasi.

Fikih Islam memandang seluruh tindakan ini sebagai perbuatan yang bertentangan secara mutlak dengan syariat. Korupsi bukan hanya mencederai hukum negara, tetapi juga pengkhianatan terhadap amanah yang berasal dari Allah SWT. Dalam literatur fikih, perilaku koruptif dikenal dengan istilah:

  • Ghulul (penggelapan),

  • Risywah (suap),

  • Aklu al-maal bi al-bathil (memakan harta secara batil),

  • Khiyanah (pengkhianatan).

Selain itu, Al-Qur’an juga mengingatkan dengan tegas dalam QS. Al-Baqarah: 188: “Janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan cara yang batil dan janganlah kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim untuk memakan sebagian harta orang lain dengan dosa, padahal kamu mengetahui”

Korupsi merendahkan martabat pelakunya, mencoreng lembaga yang menaunginya, menistakan keluarganya, dan menurunkan kepercayaan publik. Pelaku korupsi tidak hanya diadili di dunia, melalui pidana dan kewajiban mengembalikan kerugian negara, tetapi juga akan dihukum oleh masyarakat secara moral serta diadili di hadapan Allah SWT.

Jika fikih mengatur batasan hukum, maka tasawuf menata kedalaman hati. Korupsi adalah buah dari penyakit spiritual seperti tamak, cinta dunia berlebihan, hilangnya rasa malu, dan hilangnya kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi.

Yang ironis, pelaku korupsi bukan orang yang kekurangan, tetapi mereka yang telah berkecukupan, namun tetap tidak merasa puas.

Tasawuf menawarkan “obat rohani” melalui nilai-nilai seperti:

  • Muraqabah (merasa diawasi Allah)

  • Muhasabah (introspeksi diri)

  • Zuhud (tidak diperbudak oleh dunia)

  • Qana’ah (merasa cukup atas karunia Allah)

Nilai-nilai ini bukan menghalangi manusia untuk sukses secara duniawi, tetapi menempatkan harta pada tempatnya: sebagai sarana ibadah, bukan tujuan hidup. Ketika tasawuf mengaliri karakter seseorang, ia akan menolak korupsi meski tidak ada yang melihat, karena merasa diawasi oleh Yang Maha Melihat.

Fikih dan tasawuf tidak dapat dipisahkan dalam membangun budaya antikorupsi. Fikih mengatur apa yang halal dan haram. Sementara Tasawuf mengajarkan apa yang pantas dan tidak pantas.

Jika digabungkan, keduanya akan melahirkan pribadi yang taat hukum, jujur, berakhlak, matang secara emosional dan spiritual, dan menjauhi korupsi bukan karena takut hukuman, tetapi karena cinta pada kebenaran. Inilah konsep ideal Muslim berintegritas.

Peran Strategis Fakultas Agama Islam UNUSIDA
Sebagai institusi pendidikan Islam, UNUSIDA khususnya Fakultas Agama Islam memiliki tanggung jawab moral dalam menyiapkan generasi muda yang berkarakter antikorupsi. Pendidikan agama tidak boleh berhenti pada teori, tetapi harus hadir dalam praktik kehidupan kampus. Beberapa langkah penting yang perlu terus diperkuat, diantaranya:

  • Kajian fikih antikorupsi,

  • Seminar dan diskusi integritas publik,

  • Mata kuliah ASWAJA,

  • Program Pembiasaan Amaliyah ASWAJA (P2A),

  • Budaya akademik yang jujur dan transparan,

  • Keteladanan dosen dan pimpinan fakultas,

  • Bebas pungutan liar dan administrasi yang bersih,

  • Penilaian akademik yang objektif.

Mahasiswa harus melihat teladan langsung, bukan hanya mendengar teori. Ketika kampus bersih, mahasiswa akan belajar menjadi pribadi yang bersih.

Momentum Hari Antikorupsi: Saatnya Refleksi Kolektif
Hari Antikorupsi Sedunia bukan sekadar seremoni tahunan. Ini adalah momen untuk memperbaiki diri dan sistem sosial yang kita jalankan. Setiap pemangku kebijakan—baik lembaga pemerintah, pendidikan, maupun masyarakat—perlu memperkuat komitmen bersama untuk menghentikan praktik KKN di segala lini.

Amanah yang diberikan kepada kita bukan sekadar tugas duniawi, tetapi janji yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Semoga semangat antikorupsi tumbuh dalam diri kita, keluarga kita, kampus, dan masyarakat Indonesia secara luas. Dengan integritas moral dan kekuatan spiritual, kita dapat membangun bangsa yang lebih bersih, adil, dan bermartabat.

Oleh: Feri Kuswanto, S.Pd.I., M.Pd.I.
Dekan Fakultas Agama Islam UNUSIDA.

LSDM UNUSIDA Inisiasi Program Jumat Sehat untuk Tendik dan Dosen (Foto: Humas UNUSIDA)

LSDM Ajak Dosen dan Tendik UNUSIDA Jalani Jum’at Sehat Lewat Lari Pagi di Taman MPP Sidoarjo

SIDOARJO – Suasana penuh energi dan kebersamaan mewarnai kegiatan Jum’at Sehat yang diinisiasi Lembaga Sumber Daya Manusia (LSDM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) pada Jum’at (28/11/2025). Melalui agenda lari pagi di Taman Mall Pelayanan Publik (MPP) Sidoarjo, para dosen dan tenaga kependidikan (tendik) diajak untuk memulai hari dengan aktivitas fisik yang menyegarkan.

Kegiatan ini disambut antusias oleh seluruh peserta. Sejak pagi, para dosen dan tendik berkumpul untuk melakukan pemanasan bersama sebelum memulai rute lari pagi mengelilingi area taman. Selain menjadi sarana menjaga kebugaran, kegiatan ini juga memperkuat interaksi dan kekompakan antar-unit kerja di lingkungan UNUSIDA.

Kepala Bagian Peningkatan Kinerja Tenaga Kependidikan UNUSIDA Moch. Fabet Ali Thoufan, S.Si., menyampaikan bahwa Jum’at Sehat merupakan langkah kolaboratif untuk membangun kualitas kesehatan sekaligus produktivitas sumber daya manusia kampus.

“Ketika tubuh sehat, semangat kerja otomatis meningkat. Melalui kegiatan ini kami ingin menumbuhkan budaya hidup sehat yang berkelanjutan di lingkungan UNUSIDA,” ujarnya.

Menurutnya, program ini juga menjadi ruang positif bagi sivitas akademika untuk keluar sejenak dari rutinitas pekerjaan, menikmati udara segar, serta merajut kebersamaan yang harmonis. Tidak hanya berolahraga, para peserta tampak saling menyemangati sepanjang kegiatan, menambah nuansa kebugaran yang menyenangkan.

Ia berharap kegiatan Jumat Sehat dapat menjadi agenda rutin yang memberi dampak nyata bagi peningkatan kesehatan, kenyamanan kerja, dan produktivitas seluruh SDM UNUSIDA.

“Semoga kegiatan olahraga bersama ini dapat meningkatkan kebugaran harian, memperbaiki mood, serta menunjang produktivitas kerja. Rencananya akan menjadi agenda rutin setiap bulan sebagai upaya kampus membangun lingkungan kerja yang sehat, kompak, dan produktif,” ungkapnya.

Selain olahraga bersama, ia panitia juga menyiapkan snack pagi untuk peserta sebagai bentuk apresiasi dan penguat energi setelah berolahraga. Ia yakin kegiatan inimenjadi awal yang baik bagi UNUSIDA dalam membangun ekosistem kampus yang sehat.

“Kami ingin menutup minggu dengan nuansa positif. Badan bergerak, pikiran segar, semangat kerja kembali maksimal. Terima kasih atas partisipasi dan antusiasnya dalam mewujudkan pola hidup sehat di lingkungan UNUSIDA,” pungkasnya.

Dr. H. Rangga Sa’adillah, S.A.P., M.Pd.I., Dosen UNUSIDA (Foto: Istimewa)

Dosen UNUSIDA Soroti Kerawanan Baru bagi Anak: Lahgun Gadget, Apa Itu?

SURABAYA – Fenomena lahgun (penyalahgunaan) gadget oleh anak-anak kini menjadi perhatian serius akademisi dan pemerhati sosial. Hal ini ditegaskan oleh Dr. H. Rangga Sa’adillah, S.A.P., M.Pd.I., Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sekaligus Kepala Bagian Pengelolaan Mata Kuliah Umum. Ia tampil sebagai fasilitator bersama Novri Susan, Ph.D., Sosiolog Konflik Universitas Airlangga (UNAIR) dan mantan Staf Khusus Presiden RI era Joko Widodo, dalam Rapat Koordinasi Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Provinsi Jawa Timur yang digelar di Hotel Aria Surabaya, Jum’at-Ahad (21–23/11/2025) lalu.

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber kunci, di antaranya, Ketua FKDM Jawa Timur Dr. Listyono Santoso, S.S., M.Hum., Kepala Bakesbangpol Jawa Timur Eddy Supriyanto, M.SDM., dan Guru Besar Sosiologi Universitas Airlangga Prof. Bagong Suyanto.

Penyalahgunaan Gadget: Kerawanan Baru bagi Anak

Dalam sesi fasilitasi yang dipimpinnya, Dr. Rangga Sa’adillah menekankan bahwa penyalahgunaan gadget kini menjadi salah satu bentuk kerawanan sosial baru yang tidak boleh diremehkan.

Menurutnya, gadget tidak hanya sekadar alat komunikasi, tetapi telah menjadi medium penyebaran berbagai bentuk kekerasan digital, termasuk perundungan (cyberbullying) lewat game online maupun platform seperti YouTube dan media sosial lainnya.

“Anak-anak hari ini hidup dalam dunia yang tidak lagi berbatas ruang fisik. Tanpa pengawasan memadai, gadget dapat menjadi pintu masuk berbagai bentuk kekerasan digital,” tegasnya.

Selain risiko perundungan, Dr. Rangga juga menyoroti potensi paparan konten radikalisme berbasis agama pada anak-anak. Ia mencontohkan kasus tragedi peledakan di SMAN 72 Jakarta, yang dilakukan oleh seorang pelajar dan diduga kuat terinspirasi dari konten YouTube.

“Beberapa tayangan dapat menginspirasi pemahaman keagamaan yang ekstrem. Ini harus diwaspadai sejak dini,” tambahnya.

Perlu Respons Serius dari Banyak Pihak

Dr. Rangga menyatakan bahwa problem lahgun gadget tidak bisa diselesaikan hanya oleh satu institusi. Kerawanan ini, menurutnya, harus mendapat respons cepat dari berbagai pihak, seperti pemangku kebijakan pendidikan, Kementerian Agama (Kemenag), Dinas Komunikasi dan Informatika, Akademisi hingga Pemerintah daerah hingga tingkat desa.

“Mari ciptakan lingkungan yang sehat untuk anak-anak. Bukan hanya sehat fisik, tetapi juga sehat digital,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa paparan ekstremisme yang muncul melalui ajaran keagamaan masih bisa diimbangi dengan moderasi beragama. Namun, paparan melalui layar biru digital jauh lebih sulit dikendalikan jika tidak ada regulasi dan literasi yang tepat.

“Karena itu, krusial untuk merumuskan kebijakan penggunaan gadget bagi anak-anak guna mencegah kerawanan yang lebih besar,” tandasnya.

IDDIDIKEMAS: Instrumen Baru untuk Deteksi Dini Kerawanan Sosial

Sebagai tindak lanjut strategis, forum Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Jawa Timur menginisiasi IDDIKEMAS, Instrumen Deteksi Dini Kerawanan Masyarakat. Instrumen ini dirancang untuk memetakan potensi kerawanan sosial, memantau perkembangan isu kerawanan dari tingkat provinsi hingga desa, serta menguatkan ketahanan masyarakat dalam menghadapi ancaman era digital.

Instrumen ini menjadi harapan baru bagi pemerintah daerah dan masyarakat dalam memperkuat upaya pencegahan dini yang lebih sistematis, menyeluruh, dan efektif hingga akar rumput. Melalui forum ini, kembali ditegaskan pentingnya kolaborasi lintas akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam menghadapi kompleksitas kerawanan sosial di era digital yang terus berkembang.

UNUSIDA Resmi Menjadi Co-Host KOPEMAS 6 Tahun 2025, Hadirkan Enam Program Inovatif Pengabdian Masyarakat (Foto: Istimewa)

UNUSIDA Jadi Co-Host KOPEMAS 6 Tahun 2025, Hadirkan Enam Program Inovatif Pengabdian Masyarakat

SIDOARJO – Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) secara resmi ditetapkan sebagai Co-Host dalam Konferensi Nasional Pengabdian kepada Masyarakat (KOPEMAS) ke-6 Tahun 2025, sebuah agenda nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Malang (UNISMA) secara virtual.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNUSIDA, Elsa Rosyidah, S.TP., M.I.L., menjelaskan bahwa keterlibatan ini menegaskan komitmen UNUSIDA dalam memperkuat implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang pengabdian kepada masyarakat yang berbasis riset, teknologi, dan pemberdayaan komunitas.

Ia menekankan partisipasi UNUSIDA sebagai Co-Host tidak hanya bersifat seremonial belaka. Akan tetapi diwujudkan melalui kontribusi langsung dengan mengirimkan enam tim pengabdian masyarakat terbaik. “Saya sangat mengapresiasi kepada seluruh tim UNUSIDA yang membawa inovasi unggulan yang relevan dengan tema KOPEMAS 2025, yaitu Strategi Membangkitkan Ekosistem Pengabdian Terintegrasi: Riset, Industri, dan Komunitas Membangun Inovasi Berdampak,” ungkapnya, Ahad (23/11/2025).

Berikut program-program pengabdian masyarakat yang dipresentasikan oleh tim UNUSIDA:

1. Pelatihan Content Creator & Branding Desa untuk Kreativitas Warga Glagaharum
Tim: Arda Surya Editya, Sonhaji Arif, Amalia Hartiningrum, Akhya’ Muhammad K., Athika Dwi Wiji Utami, Trias Widha Andari, Putra Uji Deva Satrio, Ragil Noviyanti.
Program ini mengasah kreativitas warga melalui pelatihan produksi konten digital, storytelling, dan branding desa, sehingga potensi lokal dapat dipromosikan secara lebih luas di media sosial.

2. Pelatihan Coding dan AI untuk Guru Madrasah Ibtidaiyah se-Kecamatan Tulangan
Tim: Mochammad Machlul Alamin, Anggay Luri Pramana, Arda Surya Editya, Neny Kurniati, Ahmad Khoir Alhaq.
Kegiatan ini fokus meningkatkan literasi digital guru melalui pemrograman dasar, pemanfaatan kecerdasan buatan untuk edukasi, hingga integrasi teknologi dalam pembelajaran.

3. Optimalisasi Legalitas dan Daya Saing UMKM melalui Penerbitan NIB Berbasis OSS Digital
Tim: Yasmin Qhurota A’yun, Rikke Kurniawati, Esthi Dippoprameswari, Lintang Rahma Putri, Arifin.
Program ini memberi pendampingan kepada UMKM untuk memperoleh legalitas usaha, memahami OSS-RBA, serta meningkatkan kredibilitas dan daya saing usaha.

4. Pendampingan Strategi Branding untuk UMKM Naik Kelas di Desa Kepatihan
Tim: Daniel Achmad Farizki, Ainul Farisa, Nur Chamidah Ajijah, Laily Muzdalifah.
Tim melakukan penguatan identitas merek, strategi pemasaran, dan peningkatan kualitas tampilan produk agar UMKM lebih siap bersaing di pasar digital.

5. Pelatihan Pembuatan Kain Tie Dye untuk Kreativitas Anak di Jumputrejo
Tim: Maulida Nikmatul Azizah, Naswa Ika Febrianty, Ruri Fadhilah Kurniati.
Kegiatan ini menjadi wadah edukasi dan kreativitas bagi anak-anak melalui seni pewarnaan kain, sekaligus membuka peluang pengembangan kerajinan bernilai ekonomi.

6. Implementasi Website Sistem Informasi Desa untuk Promosi Potensi dan Transparansi Informasi
Tim: M. Syifa’ul Anam, Achmad Mu’afi Taufiqurrochman, Fitto Ardiansyah, Nadhif Fathur Rahman, Ismawati Ainol Robbi, Nur Syaifuddin, Anggay Luri Pramana.
Program ini menghasilkan website desa sebagai etalase digital potensi lokal, sarana publikasi informasi, serta upaya peningkatan transparansi pemerintah desa.

Menurutnya, keterlibatan UNUSIDA sebagai Co-Host KOPEMAS 2025 kali ini menjadi bukti nyata bahwa kampus NU semakin aktif dalam memberikan kontribusi sosial berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Melalui enam program unggulan yang dihadirkan, UNUSIDA menunjukkan keberpihakan kepada pemberdayaan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.

“Program-program ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga menjadi model praktik baik bagi pengabdian masyarakat di tingkat nasional. UNUSIDA menegaskan bahwa kolaborasi antara kampus, masyarakat, industri, dan pemerintah menjadi kunci untuk menciptakan inovasi yang berdampak luas,” pungkasnya.

Ilustrasi Hari Pahlawan Nasional (Istimewa)

Semangat Kepahlawanan sebagai Puncak Pembelajaran Hidup

Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 November bukan sekadar penanda sejarah, melainkan sebuah monumen pembelajaran hidup yang paling berat bagi bangsa Indonesia. Pertempuran Surabaya 1945 menjadi sekolah kehidupan yang menghasilkan “lulusan” berupa kemerdekaan dan kedaulatan, yang semuanya itu ditebus dengan darah dan pengorbanan para pejuang.

Konsep spiritual Guru dalam Kehidupan, yang terdiri dari tiga hal: Kefakiran, Hati yang Patah, dan Keinginan yang Tidak Terwujud, memberikan lensa filosofis untuk memahami kedalaman makna perjuangan para pahlawan. Tiga guru ini mengajarkan bagaimana ketakutan berubah menjadi keberanian, kekalahan menjadi kemenangan batin, dan kepasrahan menjadi tindakan nyata.

Dari sini, semangat kepahlawanan bukan hanya dimaknai sebagai keberanian mengangkat senjata, tetapi sebagai transformasi batin yang mendalam. Transformasi inilah yang membuat rakyat sipil yang minim pengalaman tempur mampu bangkit melawan kekuatan militer modern dengan tekad dan keyakinan yang tak tergoyahkan.

Guru Pertama: Kefakiran

Kefakiran, dalam konteks individu, mengajarkan ketergantungan mutlak kepada Tuhan. Ia menyadarkan manusia bahwa kekayaan sejati tidak terletak pada harta, melainkan pada rasa cukup dan keberkahan. Nilai ini tercermin jelas dalam peristiwa Pertempuran Surabaya.

Pasca-proklamasi, Indonesia adalah bangsa yang fakir secara material. Laskar rakyat berjuang dengan senjata seadanya, bambu runcing melawan tank dan pesawat tempur. Namun, kefakiran material ini justru melahirkan kekuatan spiritual yang luar biasa. Ketika manusia kehilangan segalanya, yang tersisa hanyalah keyakinan dan doa.

Kekurangan yang ekstrem membuat para pejuang mencari sumber kekuatan yang tak kasat mata: keberkahan, persatuan, dan keimanan. Inilah makna sejati kefakiran, bahwa lapang dan sempitnya hidup tidak ditentukan oleh banyaknya harta, melainkan oleh luasnya hati. Bambu runcing yang disertai tekad dan keikhlasan jauh lebih tajam dari peluru mana pun.

Sebaliknya, pasukan Sekutu yang memiliki senjata dan logistik melimpah justru sering merasa sempit, tertekan oleh perlawanan rakyat yang tak gentar. Senjata mereka gagal menembus semangat yang lahir dari kefakiran.

Dari pelajaran ini, kita belajar bahwa kemerdekaan tidak bisa dibeli dengan uang atau teknologi. Ia ditebus dengan ketulusan berkorban dan keyakinan pada cita-cita. Kesadaran akan kefakiran material justru melahirkan mentalitas “merdeka atau mati”. Seolah menjadi penegasan bahwa kebebasan hanya bisa diraih melalui ketergantungan total kepada Tuhan, bukan kepada fasilitas duniawi.

Guru Kedua: Hati yang Patah

“Hati yang patah” mengajarkan manusia untuk tidak salah menaruh harapan. Ketika seseorang berharap pada selain Tuhan, ujungnya adalah kekecewaan. Pelajaran ini juga dialami oleh bangsa Indonesia dalam perjalanan kemerdekaannya.

Kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah bunga harapan yang baru mekar. Namun, kehadiran tentara Sekutu dan kembalinya ambisi Belanda mematahkan harapan itu. Ultimatum Sekutu agar rakyat Surabaya menyerahkan senjata menjadi luka kolektif yang mendalam.

Rakyat dan pemimpin Surabaya, termasuk Bung Tomo, mengalami patah hati besar. Mereka sadar, harapan terhadap janji baik pihak asing hanya berujung pengkhianatan. Ucapan Sayyidina Ali “jangan terlalu berharap pada manusia, karena yang pasti engkau dapat hanyalah kecewa” menemukan relevansinya di sini.

Kekecewaan itu bukan melemahkan, melainkan membakar tekad perlawanan. Rakyat Surabaya memilih menghadapi kematian daripada kembali diperdaya oleh janji palsu. Dari patah hati itu lahir keberanian yang sejati, keputusan untuk berjuang tanpa berharap pada belas kasihan siapa pun, kecuali pada pertolongan Tuhan.

Pelajaran besar dari Hati yang Patah adalah bahwa kedaulatan sejati hanya dapat dijaga oleh tangan sendiri. Para pahlawan menitipkan harapan kedaulatan kepada Tuhan dan rakyatnya sendiri, bukan pada pengakuan atau bantuan dari bangsa lain.

Guru Ketiga: Keinginan yang Tidak Terwujud

Guru terakhir, Keinginan yang Tidak Terwujud, mengajarkan kita untuk berserah diri dengan penuh kesadaran bahwa tidak semua yang kita inginkan adalah yang terbaik menurut kehendak Tuhan.

Pasca-proklamasi, keinginan terbesar rakyat Indonesia adalah hidup damai. Namun, kenyataan berkata lain: Pertempuran Surabaya pecah, dan ribuan nyawa menjadi taruhan. Keinginan akan kedamaian tidak terwujud, tetapi dari situlah lahir pelajaran besar tentang keteguhan dan tawakal.

Para pahlawan belajar menerima kenyataan pahit bahwa kemerdekaan sejati memerlukan pengorbanan yang tidak sedikit. Mereka berdoa sepenuh hati, berjuang sepenuh tenaga, dan berpasrah sepenuh jiwa. Tiga sikap inilah yang menjadikan perjuangan mereka suci dan tulus.

Kegagalan mencapai perdamaian justru menjadi batu loncatan bagi legitimasi internasional dan penguatan semangat nasionalisme. Dari keinginan yang tidak terwujud lahir keberkahan yang jauh lebih besar, yaitu pengakuan, persatuan, dan semangat juang yang tidak padam.

Pelajaran utama dari Keinginan yang Tidak Terwujud adalah bahwa perjuangan sejati tidak diukur dari keberhasilan meraih hasil, tetapi dari ketulusan dalam menjalankan peran. Pahlawan sejati adalah mereka yang berjuang sampai akhir, sambil menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.

Hari Pahlawan adalah perayaan keberhasilan bangsa Indonesia dalam menempuh tiga kurikulum kehidupan: Kefakiran yang melahirkan keikhlasan, Hati yang Patah yang menumbuhkan keberanian, dan Keinginan Tak Terwujud yang mengajarkan kepasrahan. Ketiganya membentuk karakter bangsa yang kuat, berdaulat, dan beriman.

Nilai-nilai ini harus terus diwariskan kepada generasi penerus. Semangat 10 November mengingatkan bahwa kemerdekaan batin dan kemajuan bangsa tidak akan lahir dari kemudahan dan kenyamanan, tetapi dari kesanggupan menghadapi kekurangan, kekecewaan, dan kegagalan dengan hati yang teguh.

Mengenang Hari Pahlawan seharusnya bukan sekadar upacara atau ritual tahunan, melainkan refleksi mendalam tentang bagaimana tiga guru kehidupan. Kefakiran, Hati yang Patah, dan Keinginan Tak Terwujud, telah mendidik bangsa ini menjadi bangsa yang merdeka lahir dan batin.

Penulis: Achmad Wahyudi (MY)

Dosen FILKOM UNUSIDA Beri Pelatihan Content Creator bagi Warga Glagaharum (Foto: FILKOM UNUSIDA)

Dosen FILKOM UNUSIDA Beri Pelatihan Content Creator bagi Warga Glagaharum: Dorong Branding Desa dan Kreativitas Digital

SIDOARJO — Dalam upaya memperkuat literasi digital dan memperkenalkan potensi lokal, Dosen Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) memberikan pelatihan content creator bagi warga Desa Glagaharum, Kecamatan Porong, Sidoarjo, Ahad (19/10/2025).

Kegiatan ini menjadi bagian dari pengabdian masyarakat yang mengusung tema ‘Branding Desa dan Personal Branding Menuju Desa Kreatif Digital’, dengan peserta terdiri dari perangkat desa, karang taruna, dan pelaku UMKM lokal.

Pelatihan ini menghadirkan Dekan FILKOM UNUSIDA, Dr. Arda Surya Editya, M.T., sebagai narasumber utama dengan materi tentang Branding Desa: Membangun Citra Positif dan Identitas Lokal’. Dalam paparannya, Dr. Arda menjelaskan bahwa branding desa bukan sekadar membuat logo atau slogan, tetapi tentang membangun citra positif melalui identitas visual, cerita, dan aktivitas digital.

“Branding desa adalah upaya membangun citra positif desa melalui identitas visual, cerita, dan aktivitas digital. Tujuannya agar desa dikenal, dipercaya, dan menarik bagi wisatawan, investor, serta masyarakat luas,” jelasnya.

Menurutnya, manfaat branding desa meliputi peningkatan daya tarik wisata dan produk lokal, memperkuat rasa bangga warga terhadap desanya, menarik mitra dan investor, serta menumbuhkan semangat gotong royong dan inovasi.

Dalam sesi materi, peserta juga diajak memahami unsur penting dalam membangun citra digital desa, antara lain logo dan tagline desa yang mudah diingat, warna dan simbol khas lokal, cerita unik (storytelling), aktivitas media sosial yang aktif, produk unggulan seperti UMKM, hasil pertanian, dan wisata.

Dr. Arda juga menekankan langkah-langkah praktis untuk memulai branding desa, seperti mengidentifikasi potensi lokal, membuat logo dan slogan, mendokumentasikan kegiatan positif, menggunakan media sosial secara konsisten, serta melibatkan warga dalam promosi digital.

Selain branding desa, pelatihan juga membahas branding personal dan pembuatan konten kreatif. Mahasiswa dan dosen FILKOM UNUSIDA memberikan panduan teknis tentang pembuatan video pendek, fotografi digital, hingga strategi storytelling untuk media sosial.

Content creator bukan hanya pekerjaan, tetapi juga peluang besar dalam ekonomi digital. Siapa pun bisa menjadi kreator asalkan memiliki ide, konsistensi, dan kemampuan beradaptasi dengan tren,” terangnya.

Menurut Dr. Arda, profesi content creator kini tidak hanya menjadi sarana ekspresi, tetapi juga dapat membuka peluang ekonomi baru. Banyak pelaku UMKM, komunitas, dan individu yang berhasil mengembangkan usahanya melalui strategi digital marketing dan konten kreatif yang menarik.

“Dengan kemampuan storytelling yang kuat dan konsistensi dalam membangun audiens, masyarakat desa pun bisa memasarkan produk dan potensi lokalnya ke tingkat nasional, bahkan global,” tambahnya.

Dr. Arda juga menerangkan bahwa menjadi content creator sukses memerlukan strategi dan etika yang kuat, bukan hanya sekadar aktif di media sosial. Ia menyampaikan lima langkah utama dalam membangun karier sebagai kreator digital:

 

  • Temukan niche, yakni topik spesifik yang disukai dan dikuasai,
  • Buat konten yang bermanfaat dan konsisten, agar audiens percaya dan setia,
  • Gunakan gaya dan ciri khas pribadi, untuk membedakan diri dari kreator lain,
  • Bangun interaksi dengan audiens, melalui komentar, diskusi, dan kolaborasi,
  • Evaluasi insight dan kembangkan kualitas konten, agar tetap relevan dan menarik.

Selain strategi teknis, Dr. Arda juga menekankan pentingnya etika dalam membuat konten. Ia menegaskan beberapa prinsip etika yang harus dijunjung tinggi oleh content creator, yakni Gunakan konten untuk mendidik dan menginspirasi, Hindari hoaks, ujaran kebencian, dan plagiarisme, Jaga citra diri dan nama baik desa, serta Gunakan bahasa yang sopan dan visual yang positif.

Tak hanya fokus pada konten digital, Dr. Arda juga mengupas pentingnya personal branding, terutama bagi pemuda Karang Taruna sebagai garda depan perubahan sosial di desa. Oleh karena itu itu, ia mendorong pemuda setempat untuk menjadi content creator yang dapat membagikan berbagai bentuk konten digital di platform seperti YouTube, Instagram, TikTok, hingga Facebook.

“Personal branding bukan pencitraan palsu, tapi cara menampilkan diri dengan karakter dan kontribusi nyata. Dari sanalah kepercayaan publik tumbuh,” ujarnya.

Menurutnya, personal branding yang baik dapat membantu pemuda menjadi teladan positif di masyarakat, membangun kepercayaan publik terhadap Karang Taruna, memudahkan kolaborasi dengan mitra desa, serta meningkatkan peluang kerja dan usaha.

Karang Taruna Desa Glagaharum juga didorong menjadi duta digital desa, dengan peran aktif seperti membuat konten kreatif di media sosial, meliput dan mendokumentasikan kegiatan masyarakat, serta mengedukasi warga tentang pentingnya citra positif di dunia digital.

“Kreator digital harus bertanggung jawab atas apa yang dibagikan. Konten seharusnya mengedukasi, menginspirasi, dan membawa nilai positif bagi masyarakat,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, warga akan diajak membuat aktivitas branding desa, seperti video promosi wisata dan produk lokal, poster digital kegiatan karang taruna, kampanye kebersihan, hingga lomba foto desa.

Ia berharap, kegiatan ini dapat memperkuat peran kampus sebagai mitra strategis desa dalam menghadapi era digital, sekaligus mendorong masyarakat untuk bangga, kreatif, dan mandiri melalui identitas desanya sendiri.

“Kami ingin masyarakat Glagaharum mampu memanfaatkan media digital secara bijak dan kreatif untuk kemajuan desanya,” pungkasnya. (MY)

LSDM UNUSIDA Serahkan SK Bagi 11 Pegawai Tetap (Foto: Humas UNUSIDA)

LSDM UNUSIDA Serahkan SK Bagi 11 Pegawai Tetap: 1 Dosen, 9 Tendik, dan 1 Tenaga Operasional

SIDOARJO — Lembaga Sumber Daya Manusia (LSDM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar kegiatan penyerahan Surat Keputusan (SK) Pegawai Tetap, Kamis (tanggal kegiatan menyesuaikan). Sebanyak 11 pegawai resmi menerima SK sebagai pegawai tetap, terdiri dari 1 dosen tetap dan 10 tenaga kependidikan, termasuk satu tenaga operasional.

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan kampus UNUSIDA ini dihadiri oleh pimpinan universitas, kepala biro, serta seluruh pegawai penerima SK. Penyerahan dilakukan secara simbolis oleh Wakil Rektor 2 UNUSIDA Dr. Ana Christanti, S.Pd,. M.Pd.

Dalam kesempatan tersebut, ia turut mengapresiasi langkah LSDM serta menyampaikan pesan agar seluruh pegawai yang telah diangkat dapat terus berkontribusi meningkatkan kualitas manajemen dan pelayanan kepada mahasiswa.

“Menjadi pegawai tetap bukanlah akhir, tapi awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Mari kita bersama-sama memperbaiki manajemen, memperkuat pelayanan, dan menjaga semangat kebersamaan agar UNUSIDA terus tumbuh menjadi kampus yang unggul dan berdaya saing,” pesannya.

Kepala LSDM UNUSIDA, Jeziano Rizkita Boyas, S.E., M.M., sebagai bentuk apresiasi dan pengukuhan status kepegawaian di lingkungan universitas. Dalam laporannya, Jeziano menyampaikan bahwa penyerahan SK ini merupakan bagian dari komitmen LSDM dalam membangun sistem pengelolaan sumber daya manusia yang profesional, adil, dan berorientasi pada peningkatan kinerja.

“Hari ini kami menyerahkan SK kepada 11 pegawai yang telah melalui proses penilaian kinerja dan dinilai layak menjadi pegawai tetap. Dari jumlah tersebut, satu orang merupakan dosen tetap, sembilan tenaga kependidikan, dan satu tenaga operasional,” jelasnya.

Adapun penerima SK pegawai tetap tersebut antara lain:

  • Nur Asitah, S.Pd., M.Pd. – Dosen Tetap Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD),

  • Dewi Sri Rahayu, S.Ak. – Staf LSDM, Biro Umum,

  • Febriyanti Ryan Ariyani, S.Pd., M.Pd. – Tata Usaha Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM),

  • Lestari, S.Pd. – Tata Usaha Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP),

  • Mahmudi – Tenaga Operasional (Security), Biro Umum,

  • Maschan Yusuf Musthofa, S.T. – Biro Humas dan Kerja Sama,

  • Nuzula Firdaus, S.Pd. – Tata Usaha Fakultas Agama Islam (FAI),

  •  Suci Lestari, S.Ak. – Biro Keuangan,

  • Tantri Risda Zubaidah, S.Ak. – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM),

  • Yusuf Bagus Sholihin, S.Kom. – UPT Teknologi dan Digitalisasi,

  • Anita Fudiana, S.Pd.,M.M. – Badan Pelaksana Penyelenggara (BPP) UNUSIDA.

Jeziano menegaskan bahwa proses seleksi dan penetapan pegawai tetap dilakukan secara objektif dengan mempertimbangkan kinerja, komitmen, dan loyalitas. Momentum ini menjadi langkah penting dalam memperkuat fondasi kelembagaan dan meningkatkan kualitas SDM UNUSIDA secara berkelanjutan.

“Setiap hari kami menerima banyak lamaran kerja, baik secara daring maupun langsung. Itu artinya banyak yang ingin bergabung di UNUSIDA. Karena itu, kami berharap rekan-rekan yang hari ini menerima SK dapat menjaga kepercayaan ini dengan bekerja sebaik-baiknya di bidang masing-masing,” pungkasnya.

Prof. Dr. Ahmad Taufiq, S.Pd., M.Si saat menyampaikan materi dalam Workshop Strategi Publikasi Ilmiah Internasional dan Review Roadmap Penelitian di UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

LPPM UNUSIDA Gelar Workshop Strategi Publikasi Ilmiah Internasional dan Review Roadmap Penelitian

SIDOARJO — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Workshop Strategi Publikasi Ilmiah Internasional Bereputasi dan Review Roadmap Penelitian bersama Prof. Dr. Ahmad Taufiq, S.Pd., M.Si. dari Universitas Negeri Malang. Kegiatan ini dilaksanakan di Hall Kampus 2 UNUSIDA, Lingkar Timur, Sidoarjo, Selasa (14/10/2025).

Dalam sambutannya, Rektor UNUSIDA, Dr. H. Fatkul Anam, M.Si., menegaskan pentingnya riset dan publikasi ilmiah sebagai salah satu pilar utama peningkatan mutu dan reputasi akademik. Ia menjelaskan bahwa UNUSIDA saat ini memiliki 92 dosen, dan sebanyak 27 di antaranya tengah menempuh studi lanjut S3.

“InsyaAllah dalam lima tahun ke depan, kita akan panen doktor hingga mencapai 50 persen dari total dosen. Ini menjadi modal besar bagi penguatan kapasitas akademik dan produktivitas riset di UNUSIDA,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan rasa syukur karena pada awal tahun 2025 UNUSIDA berhasil masuk dalam klaster utama perguruan tinggi nasional, yang menandakan peningkatan signifikan dalam kinerja penelitian dan pengabdian masyarakat. Oleh karena itu, kegiatan ini menjadi bagian penting dalam memperkuat arah riset dan publikasi ilmiah dosen menuju peningkatan mutu akademik dan reputasi universitas di tingkat nasional maupun internasional.

“Sebagai perguruan tinggi NU yang kini berada di klaster utama, kita harus mampu berkompetisi dengan kampus-kampus besar. Karena itu, kegiatan workshop ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat roadmap penelitian agar setiap program studi memiliki arah riset yang jelas, terukur, dan berdampak bagi masyarakat,” tambahnya.

Lebih lanjut, Dr. Fatkul Anam menekankan bahwa review roadmap penelitian bukan sekadar kegiatan administratif, melainkan bagian dari upaya menyeluruh untuk memastikan integrasi riset dengan kurikulum dan pengembangan keilmuan.

“Riset harus berorientasi pada manfaat, bukan hanya publikasi. Sengaja saya datangkan Prof. Taufiq karena beliau baham betul bagaimana budaya di kalangan NU. Kita ingin membangun UNUSIDA sebagai universitas unggul dalam riset dan pengabdian berbasis nilai-nilai Aswaja, yang hasilnya tidak hanya bermanfaat bagi dunia akademik, tetapi juga memberi solusi bagi pemerintah daerah, industri, dan masyarakat luas,” tuturnya.

Sementara itu, narasumber Prof. Dr. Ahmad Taufiq, S.Pd., M.Si., dalam paparannya membahas roadmap penelitian: pengantar dan strategi penyusunannya. Ia menegaskan bahwa riset merupakan proses sistematis untuk menghasilkan pengetahuan baru atau solusi ilmiah atas permasalahan nyata.

“Negara maju karena risetnya bagus. Maka tanamkan sejak sekarang bahwa riset dan publikasi itu mudah, asalkan dilakukan dengan niat yang benar. Riset yang lelah karena lillah akan menjadi mudah,” pesannya.

Prof. Taufiq juga memaparkan sembilan prinsip penyusunan roadmap penelitian, yaitu: fokus riset harus jelas, terstruktur, realistis dan terukur, memiliki target yang spesifik, fleksibel mengikuti perkembangan zaman, dapat dievaluasi, sesuai dengan kepakaran, mengikuti perkembangan IPTEKS, serta komunikatif. Ia menegaskan bahwa riset yang baik harus kolaboratif, bukan kompetitif.

Roadmap penelitian harus dibangun dengan semangat kolaborasi lintas disiplin ilmu agar menghasilkan penelitian yang berkualitas dan berdampak luas,” ujarnya.

Di akhir sesi, Prof. Taufiq mengingatkan pentingnya spiritualitas dalam perjalanan akademik. Ia berharap, melalui kegiatan ini UNUSIDA dapat semakin memperkuat budaya riset, meningkatkan produktivitas publikasi ilmiah, dan memperjelas arah roadmap penelitian menuju universitas yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah.

“Jangan pernah lupakan doa dalam meraih kesuksesan, termasuk dalam riset dan publikasi. Ketika Allah SWT menggerakkan lidahmu untuk berdoa, itu tandanya Dia ingin memberi,” pungkasnya.

Parenting: Mengubah Pemikiran Deduktif Menjadi Inspiratif bersama Dosen UNUSIDA dan SSC Sidoarjo (Foto: Humas UNUSIDA)

Dosen UNUSIDA Berikan Pendampingan Parenting untuk Orang Tua Anak Jalanan: Ubah Pola Pikir Deduktif Menjadi Inspiratif dengan Menggunakan Metode Hypnotherapy

SIDOARJO — Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) memberikan pendampingan parenting bagi orang tua anak jalanan bersama komunitas Save Street Child (SSC) Sidoarjo. Kegiatan bertajuk Parenting: Mengubah Pemikiran Deduktif Menjadi Inspiratif mengusung tema ‘Pencegahan Kekerasan Seksual dan Penyalahgunaan Narkoba’, Ahad (12/10/2025).

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Program Hibah Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai oleh Kemdiktiristek Tahun 2025 melalui tim pelaksana dari dosen UNUSIDA.

Acara ini dihadiri oleh puluhan orang tua binaan SSC Sidoarjo dan menghadirkan narasumber dari akademisi serta praktisi perlindungan anak. Fokus kegiatan ini adalah memberikan wawasan dan keterampilan kepada orang tua dalam mendampingi anak-anak mereka agar terhindar dari kekerasan, penyalahgunaan narkoba, serta pengaruh negatif lingkungan digital.

Salah satu anggota tim pelaksana, Jeziano Rizkita Boyas, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bentuk nyata sinergi antara kampus dan komunitas sosial.

“Kami berupaya mengubah pola pikir orang tua dari yang deduktif atau sekadar memberi tahu menjadi inspiratif, yaitu memberikan teladan nyata bagi anak. Orang tua adalah model pertama yang membentuk karakter anak,” ujarnya.

Dosen Program Studi Manajemen UNUSIDA tersebut menegaskan pentingnya peran orang tua sebagai teladan utama dalam pembentukan karakter anak. Ia mengingatkan bahwa orang tua sering kali hanya memberi nasihat tanpa memberi contoh nyata kepada anak.

“Jangan hanya mengingatkan anak dengan amarah. Kita sering bilang ‘jangan ngomong kotor, jangan kasar’, tapi kita sendiri kadang melakukannya di depan anak. Anak akan meniru apa yang dia lihat, bukan apa yang dia dengar,” terangnya.

Jezy menambahkan bahwa perilaku anak pada dasarnya merupakan cerminan dari lingkungan rumah. Ketika orang tua menggunakan bahasa yang kasar atau menunjukkan emosi negatif, anak akan menganggap hal itu sebagai hal yang wajar.

“Anak-anak sekarang cerdas dan kritis. Saat orang tua melarang tapi justru melakukan hal yang sama, mereka akan menilai orang tuanya tidak konsisten. Itulah yang menjadi masalah saat ini,” lanjutnya.

Menurutnya, orang tua harus mampu menjadi role model atau teladan nyata bagi anak-anak. “Orang tua itu adalah madrasah utama bagi anaknya. Segala nilai dan perilaku anak berawal dari apa yang mereka lihat di rumah,” tegasnya.

Dalam sesi tersebut, ia juga menggunakan pendekatan hypnotherapy sebagai salah satu metode komunikasi efektif antara orang tua dan anak. Metode ini digunakan untuk membantu orang tua mengendalikan emosi, memahami kondisi psikologis anak, dan menanamkan nilai-nilai positif melalui sugesti yang lembut dan penuh kasih.

Metode tersebut digunakan untuk memberikan afirmasi kepada orang tua anak jalanan, agar bisa lebih peduli kepada anak, lebih sayang terhadap anak, dan yang terpenting memiliki rasa syukur karena telah dianugerahi anak yang luar biasa yang tidak semua orang bisa merasakannya.

Ketua Lembaga Sumber Daya Manusia (LSDM) UNUSIDA tersebut, menyampaikan terima kasih kepada komunitas SSC Sidoarjo yang menjadi mitra kolaborasi, serta berbagai pihak yang mendukung terselenggaranya program ini. Jeziano berharap kegiatan tersebut dapat berlanjut dan menjangkau lebih banyak keluarga rentan di wilayah Sidoarjo.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat memperkuat peran orang tua dalam membangun keluarga yang tangguh, peduli, dan inspiratif. Kolaborasi antara akademisi, pemerintah daerah, dan komunitas seperti SSC Sidoarjo menjadi bukti bahwa pendidikan karakter dan pencegahan kekerasan bisa dimulai dari ruang terkecil yaitu keluarga,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Sidoarjo, Prastiwi Triyanti, S.KM., yang turut hadir sebagai narasumber, menegaskan pentingnya kehadiran orang tua dalam proses tumbuh kembang anak.

“Kesuksesan anak tidak hanya ditentukan oleh sekolah, tetapi dimulai dari rumah. Lingkungan terdekat, terutama orang tua, adalah pondasi pembentuk karakter. Jika orang tua tidak hadir, maka dunia luar yang akan mendidik mereka,” jelasnya.

Prastiwi juga mengingatkan bahwa peran orang tua tidak cukup hanya dengan memberi nasihat, tetapi juga dengan menjadi contoh yang baik, memberi batasan, dan mengawasi penggunaan media sosial anak. Menurutnya, banyak perilaku negatif anak muncul karena kurangnya pendampingan dan kontrol di rumah.

Oleh karena itu, pengawasan orang tua merupakan kunci utama dalam mencegah berbagai bentuk kekerasan maupun penyimpangan perilaku anak.

“Orang tua harus intens mengawasi anak, baik ketika di rumah maupun di luar rumah. Jangan hanya fokus pada kebutuhan materi, tetapi juga perhatikan dengan siapa anak bergaul dan apa yang mereka akses setiap hari,” tandasnya.

Tak hanya itu, di era digital saat ini, tantangan pengasuhan semakin kompleks karena anak-anak mudah terpapar berbagai informasi yang belum tentu sesuai dengan usia dan nilai moral. Oleh karena itu, ia mendorong agar orang tua memperkuat komunikasi terbuka dengan anak agar lebih mudah memberikan arahan tanpa menimbulkan jarak emosional.

“Anak harus merasa bahwa rumah adalah tempat yang aman dan orang tua adalah teman bercerita. Dengan begitu, anak tidak akan mencari pelarian ke lingkungan yang salah,” pungkasnya. (MY)

Dosen UNUSIDA Dampingi Peternak Kambing dan Sapi di Sidoarjo Tingkatkan Produktivitas Lewat Teknologi dan Pelatihan (Foto: Humas UNUSIDA)

Dosen UNUSIDA Dampingi Peternak Kambing dan Sapi di Sidoarjo Tingkatkan Produktivitas Lewat Teknologi dan Pelatihan

SIDOARJO – Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung kemajuan ekonomi lokal melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Kali ini giliran Dosen UNUSIDA yang berkesempatan untuk mendampingi kelompok peternak kambing dan sapi di Desa Tambak Kalisogo, Kecamatan Jabon, Sidoarjo, guna meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha peternakan mereka melalui penerapan teknologi tepat guna dan pelatihan intensif.

Desa Tambak Kalisogo dikenal sebagai salah satu desa dengan sektor peternakan rakyat yang cukup berkembang. Namun, metode tradisional yang masih digunakan dalam pengelolaan pakan, kesehatan hewan, dan pemasaran, membuat produktivitas belum optimal, biaya operasional tinggi, serta potensi digitalisasi belum tergarap maksimal.

Menjawab tantangan tersebut, Tim Pengabdian UNUSIDA yang diketuai oleh Dr. Hj. Muhafidhah Novie, M.M., merancang program komprehensif yang mencakup investasi alat, pelatihan tematik, dan pendampingan berkelanjutan. Program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan efisiensi peternakan, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi masyarakat desa.

“Melalui program ini, kami ingin menghadirkan solusi menyeluruh: mulai dari penyediaan alat, pelatihan praktis, hingga pendampingan lapangan. Tujuannya agar peternak dapat mengelola usaha mereka secara lebih profesional dan berkelanjutan,” ujarnya, Selasa (23/9/2025).

Bantuan Alat Penunjang Produktivitas Peternakan

Langkah awal yang dilakukan adalah penyerahan peralatan pendukung untuk meningkatkan efisiensi operasional peternakan:

  • 4 Mesin Chopper (termasuk 1 mesin pencetak pelet): untuk mencacah hijauan pakan agar lebih mudah dicerna ternak.

  • 19 Tong Silase: untuk menyimpan pakan fermentasi berkualitas tinggi, terutama saat musim kemarau.

  • 19 Bak Minum Ternak: memastikan ketersediaan air bersih dan mengurangi risiko penyakit.

  • 1 Timbangan Ternak: untuk memantau bobot hewan secara akurat dan menentukan waktu jual yang tepat.

“Pemberian alat ini bukan sekadar bantuan fisik, tetapi bagian dari strategi jangka panjang untuk menekan biaya operasional dan meningkatkan kualitas produk ternak,” jelas Novie.

Pelatihan Komprehensif: Dari Silase hingga Digital Marketing

Program dilanjutkan dengan tiga jenis pelatihan tematik yang dirancang berdasarkan kebutuhan kelompok peternak:

  1. Pelatihan Pembuatan Silase
    🗓 Senin, 28 Juli 2025
    📍 Peternakan Bapak Katirin
    👥 30 peserta
    ➤ Peternak diajarkan teknik memilih bahan hijauan, menambahkan molases, serta proses fermentasi yang benar. Peternak menjadi lebih siap menghadapi musim kemarau, tidak khawatir kekurangan pakan lagi.

  2. Pelatihan Pemasaran Online
    🗓 Kamis, 21 Agustus 2025
    📍 Balai Desa Tambak Kalisogo
    👥 25 peserta
    ➤ Fokus pada strategi promosi digital melalui media sosial, pembuatan konten, dan transaksi daring. Hal tersebut mendorong agar peternak berani masuk ke pasar digital karena potensi pasarnya jauh lebih luas.

  3. Pelatihan Manajemen Usaha dan Keuangan
    🗓 Senin, 1 September 2025
    📍 Balai Desa Tambak Kalisogo
    👥 25 peserta
    ➤ Peserta belajar menyusun pembukuan sederhana, menghitung biaya produksi, serta membuat rencana usaha.

Salah satu kekuatan utama program ini adalah adanya pendampingan pasca-pelatihan. Tim UNUSIDA melakukan 5 kali kunjungan lapangan untuk memantau implementasi materi pelatihan dan memberikan saran teknis secara langsung kepada 19 peternak aktif.

“Pendampingan ini menjadi kunci agar program tidak hanya berhenti pada pelatihan, tapi benar-benar memberi dampak nyata,” tegas Novie.

Dampak Nyata: Hemat Biaya, Harga Jual Meningkat, dan Jangkauan Pasar Lebih Luas

Sejak program berjalan, para peternak mulai merasakan berbagai manfaat langsung, seperti:

  • Penggunaan silase menurunkan ketergantungan pada pakan hijauan segar.

  • Kesehatan hewan membaik berkat pasokan air bersih dan pakan yang lebih terkontrol.

  • Timbangan ternak membantu menentukan waktu jual ideal, sehingga harga jual meningkat.

  • Pemasaran online mulai dilakukan oleh beberapa peternak, bahkan telah menerima pesanan dari luar daerah.

  • “Dulu kami hanya menunggu pembeli datang. Sekarang, kami bisa promosi lewat media sosial dan mulai mendapat pesanan dari luar,” kata salah satu peternak dengan bangga.

Sinergi Kampus dan Desa: Contoh Kolaborasi yang Menginspirasi

Kepala Desa Tambak Kalisogo menyampaikan apresiasinya terhadap program ini. Menurutnya, program ini sangat membantu peternak di Kalisogo untuk meningkatkan pendapatan dan kualitas hasil ternaknya.

“Kami sangat berterima kasih atas perhatian dan dukungan dari UNUSIDA. Program ini sangat membantu meningkatkan pengetahuan dan pendapatan peternak, bahkan ekonomi desa secara keseluruhan,” ujarnya.

Novie menambahkan bahwa program ini juga memberi peluang riset lanjutan dan kerja sama dengan berbagai pihak. Ia menyebutkan, keberhasilan program ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat dan kolaboratif, perguruan tinggi dapat menjadi motor perubahan sosial yang signifikan. Ia berharap, inisiatif ini dapat menjadi model pemberdayaan peternak rakyat yang dapat direplikasi di wilayah lain.

Pengabdian adalah jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat. Ke depan, kami akan terus mendampingi dan membuka peluang kerja sama agar peternak semakin mandiri dan berdaya saing,” pungkasnya.