Pos

Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto bersama Ketua HIPSI Sidoarjo, FIdi Handoko Usai Penandatanganan MoU. (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA Resmi Jalin Kerja Sama dengan HIPSI Sidoarjo, Perkuat Ekosistem Wirausaha Santri

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) resmi menjalin kerja sama dengan Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Sidoarjo sebagai upaya memperkuat pengembangan kewirausahaan di kalangan santri dan generasi muda. Kolaborasi ini menjadi bagian dari komitmen UNUSIDA dalam mewujudkan kampus wirausaha muda yang mendorong mahasiswa mengenali potensi diri, mengembangkan kreativitas, dan menciptakan peluang usaha.

Pelaksana Tugas (Plt) Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.HI., M.Pd., menegaskan bahwa perguruan tinggi perlu menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan akademik sekaligus membangun jiwa kewirausahaan. Menurutnya, mahasiswa dan santri perlu dipersiapkan agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menghasilkan karya dan menciptakan peluang ekonomi melalui pemanfaatan teknologi digital.

Ia berharap kerja sama ini dapat mendorong lahirnya berbagai inisiatif pengembangan usaha, pemanfaatan teknologi digital, serta penguatan jejaring kewirausahaan di kalangan mahasiswa dan santri.

“Semoga kerja sama dengan HIPSI Sidoarjo ini membuka peluang yang lebih luas bagi mahasiswa menjadi wadah untuk menempa diri, mengenali bakat dan potensi, serta memperoleh wawasan mengenai dunia usaha. Melalui kolaborasi tersebut, UNUSIDA berupaya menghubungkan proses pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan ekonomi digital,” jelasnya.

Hadi menjelaskan bahwa perkembangan teknologi membuka ruang yang semakin luas bagi generasi muda untuk berinovasi. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki keberanian untuk mencoba, mengembangkan gagasan, dan mengubah potensi yang dimiliki menjadi produk atau layanan yang bermanfaat.

Ia selalu berupaya meneguhkan komitmen UNUSIDA sebagai kampus yang mendorong tumbuhnya wirausaha muda. Dengan memadukan ilmu pengetahuan, nilai-nilai keislaman, dan inovasi, mahasiswa diharapkan mampu menjadi generasi yang mandiri sekaligus berkontribusi dalam memperkuat ekonomi umat di era digital.

“Komitmen tersebut sejalan dengan upaya UNUSIDA membangun lingkungan kampus yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga mendorong lahirnya wirausahawan muda yang mandiri, kreatif, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua HIPSI Sidoarjo, Fidi Handoko, S.E., S.Pd., menegaskan pentingnya menumbuhkan jiwa kewirausahaan di kalangan santri dan generasi muda di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

“Kolaborasi ini juga menjadi langkah untuk memperluas peran santri dalam pembangunan ekonomi masyarakat. Santri diharapkan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja, mengembangkan usaha, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya,” tandasnya.

Menurutnya, santri memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam penguatan ekonomi umat. Bekal ilmu pengetahuan dan akhlak yang dimiliki perlu diiringi dengan keberanian berinovasi, keterampilan mengelola usaha, serta kemampuan membaca peluang pasar.

Fidi menilai, kolaborasi antara perguruan tinggi dan organisasi pengusaha santri dapat membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal praktik kewirausahaan secara lebih luas. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga terdorong mengembangkan gagasan usaha yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

“Santri harus berilmu dan berani berinovasi untuk menguatkan ekonomi umat,” tuturnya.

Plt Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto saat menjadi keynote speaker dalam Seminar Spesial Hari Santri 2026 oleh HIPSI Sidoarjo. (Foto: Humas UNUSIDA)

Plt. Rektor UNUSIDA Dorong Santri Jadi Kreator dan Wirausahawan Digital

SIDOARJO — Pelaksana Tugas (Plt) Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Dr. Hadi Ismanto, S.HI., M.Pd., mendorong santri dan generasi muda untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu bertransformasi menjadi kreator dan wirausahawan digital. Pesan tersebut disampaikan saat menjadi keynote speaker dalam Seminar Spesial Hari Santri 2026 oleh Himma Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Sidoarjo di Hall Lantai 5 Gedung A Kampus UNUSIDA, Lingkar Timur, Sidoarjo, Selasa (20/10/2026).

Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari Badan Otonom (Banom) Nahdlatul Ulama, seperti Fatayat NU, GP Ansor, IPNU, dan IPPNU, hingga mahasiswa UNUSIDA. Keterlibatan lintas organisasi ini menjadi ruang untuk memperluas wawasan dan mendorong kolaborasi dalam pengembangan kewirausahaan di kalangan santri dan generasi muda.

Mengawali penyampaiannya, Hadi mengajak mahasiswa untuk mengenal lingkungan akademik serta para pimpinan yang akan mendampingi perjalanan mereka selama menempuh pendidikan di UNUSIDA. Menurutnya, lingkungan kampus tidak hanya menjadi tempat memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk mengembangkan potensi, kreativitas, dan kemampuan menghadapi perubahan zaman.

Ia menekankan bahwa perkembangan teknologi perlu disikapi dengan kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, dan berinovasi. Santri, menurutnya, memiliki peluang untuk mengambil peran lebih luas dengan memanfaatkan teknologi sebagai sarana menciptakan produk, membangun usaha, dan menghadirkan solusi bagi kebutuhan masyarakat.

“Kita harus dapat mengendalikan Artificial Intelligence (AI), jangan sampai kita yang dimanfaatkan. Teknologi ini yang harus kita manfaatkan untuk mendukung proses belajar sekaligus membuka peluang pengembangan produk dan layanan digital,” jelasnya.

Hadi menjelaskan, salah satu platform yang dapat dimanfaatkan adalah Quriosity, yakni platform berbasis AI yang dirancang untuk membuat kursus atau materi pembelajaran secara instan dan personal berdasarkan topik yang diinginkan pengguna.

Menurutnya, pemanfaatan platform semacam ini menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya berfungsi sebagai sarana konsumsi informasi, tetapi juga dapat membantu seseorang menghasilkan materi, mengembangkan pengetahuan, dan menciptakan produk digital sesuai kebutuhan pengguna.

“Santri dan mahasiswa harus mengenali potensi teknologi serta menggunakannya secara produktif. Kemampuan memanfaatkan AI perlu diimbangi dengan pemahaman terhadap kebutuhan pasar, kreativitas, dan kemampuan mengembangkan ide menjadi produk yang memiliki nilai guna,” tandasnya.

Dalam konteks kewirausahaan, ia menjelaskan bahwa penguasaan teknologi juga perlu disertai strategi yang tepat. Pemahaman terhadap data pasar, identifikasi kebutuhan konsumen, serta keberanian memulai usaha menjadi bagian penting dalam membangun bisnis digital yang berkelanjutan.

Semangat Hari Santri 2026 menjadi pengingat bahwa kontribusi santri terhadap bangsa dapat diwujudkan melalui berbagai bidang, termasuk inovasi teknologi dan kewirausahaan. Dengan bekal ilmu, akhlakul karimah, kreativitas, serta kemandirian, santri diharapkan mampu menjadi pelaku perubahan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pihaknya akan terus mendorong lahirnya generasi santri yang tidak berhenti sebagai pengguna teknologi, tetapi berani menciptakan karya, membangun usaha, dan mengambil peran dalam penguatan ekonomi digital menuju Indonesia Emas.

“Santri harus memiliki wawasan luas mengenai peluang ekonomi di era digital. Santri masa kini tidak hanya memiliki keunggulan dalam ilmu agama dan akhlak, tetapi juga mampu mengembangkan keterampilan yang relevan dengan perkembangan teknologi dan dunia kerja,” tuturnya.

Ketua HIPSI Sidoarjo Fidi Handoko, S.E., S.Pd. saat menjadi narasumber dalam Seminar Spesial Hari Santri Nasional Tahun 2026. (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA dan HIPSI Sidoarjo Hadirkan Seminar Spesial Hari Santri 2026, Bahas Peluang Bisnis Produk Digital

SIDOARJO — Himma Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Sidoarjo berkolaborasi dengan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menghadirkan Seminar Spesial Hari Santri 2026 bertema ‘Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas: Sharing Sukses Bisnis Produk Digital Zaman Now’ di Hall Lantai 5 Gedung A Kampus II UNUSIDA, Sidoarjo, Selasa (20/10/2026).

Hadir sebagai narasumber, Rektor UNUSIDA Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd.; Founder Santripreneur Academy Dr. Heri Cahyo Bagus Setiawan, M.S.M.; serta Ketua HIPSI Sidoarjo Fidi Handoko, S.E., S.Pd.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua HIPSI Sidoarjo, Fidi Handoko, S.E., S.Pd., menegaskan pentingnya mendorong santri dan generasi muda untuk mengembangkan jiwa kewirausahaan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan seminar kewirausahaan yang menjadi ruang inspirasi bagi peserta untuk mengenal peluang usaha di era modern.

Menurut Fidi, perkembangan teknologi digital membuka berbagai peluang bagi santri untuk membangun usaha, mengembangkan produk, serta memperluas jangkauan pasar. Karena itu, santri perlu membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan kewirausahaan agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Ia berharap, melalui seminar tersebut, peserta dapat memperoleh wawasan dan pengalaman mengenai pengembangan bisnis produk digital, strategi membangun usaha di era modern, serta peluang santri untuk berkontribusi dalam memperkuat perekonomian masyarakat.

“Seminar ini menjadi ruang inspirasi bagi santri dan generasi muda untuk mengenal peluang usaha di era digital sekaligus menumbuhkan jiwa kewirausahaan yang inovatif, mandiri, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi,” ujarnya.

Fidi menambahkan, pengembangan kewirausahaan di kalangan santri perlu didukung melalui kolaborasi berbagai pihak. Sinergi tersebut menjadi salah satu langkah untuk memperluas akses pengetahuan, membangun jejaring usaha, serta mendorong lahirnya wirausahawan muda yang mampu memanfaatkan teknologi secara produktif.

Menurutnya, santri memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam perkembangan ekonomi digital. Bekal ilmu agama dan akhlak yang dimiliki perlu diiringi dengan kemampuan berinovasi, keberanian mengambil peluang, serta keterampilan mengelola usaha.

“Kolaborasi ini menjadi salah satu upaya mendorong santri agar tidak hanya unggul dalam ilmu dan akhlak, tetapi juga mampu berinovasi, berwirausaha, serta mengambil peran dalam perkembangan ekonomi digital,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa penguatan kemandirian ekonomi santri merupakan bagian penting dari upaya mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan masa depan. Melalui kewirausahaan, ini menekankan santri tidak hanya mampu menciptakan peluang bagi dirinya sendiri, tetapi juga membuka kesempatan kerja dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Momentum Hari Santri 2026 kali ini menjadi kesempatan untuk memperkuat peran santri dalam pembangunan bangsa. Semangat perjuangan santri perlu diwujudkan melalui kreativitas, kemandirian ekonomi, penguasaan teknologi, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Ia berharap semakin banyak santri yang berani memulai usaha, mengembangkan produk digital, serta menjadi generasi mandiri yang mampu menjawab tantangan ekonomi di era transformasi teknologi.

“Santri harus mampu mengambil bagian dalam mewujudkan Indonesia Emas melalui pengembangan usaha yang inovatif dan berkelanjutan, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan akhlakul karimah,” terangnya.

Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari Badan Otonom (Banom) Nahdlatul Ulama, seperti Fatayat NU, GP Ansor, IPNU, dan IPPNU, hingga mahasiswa UNUSIDA.

pengurus KPU-M dan Bawaslu-M UNUSIDA Resmi Dilantik oleh Wakil Rektor 2 UNUSIDA, Dr. Ana Christanti, M.Pd. (Foto: Humas UNUSIDA)

Pengurus KPU-M dan Bawaslu-M UNUSIDA 2026–2027 Resmi Dilantik, Perkuat Demokrasi Kampus Berintegritas

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) melaksanakan pelantikan pengurus Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPU-M) dan Badan Pengawas Pemilihan Umum Mahasiswa (Bawaslu-M) periode 2026–2027 di Hall Lantai 5 UNUSIDA, Kamis (15/10/2026). Kegiatan ini menjadi langkah awal bagi kepengurusan baru dalam mengemban amanah sekaligus memperkuat praktik demokrasi yang berintegritas dan bertanggung jawab di lingkungan kampus.

Ketua pelaksana, Fahrul Syah Alam, menyampaikan bahwa kegiatan pelantikan ini tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga momentum untuk mempersiapkan pengurus baru agar mampu menjalankan tugas dan tanggung jawab organisasi dengan baik.

Ia menegaskan, pelantikan tersebut merupakan langkah awal dalam mengembangkan amanah demi terwujudnya demokrasi kampus yang menjunjung tinggi integritas dan tanggung jawab.

Dalam kesempatan itu, Fahrul menyampaikan terima kasih kepada pimpinan universitas, pihak terkait, Presiden Mahasiswa, serta seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan. Ia juga mengapresiasi kerja sama dan kontribusi seluruh panitia dalam mempersiapkan acara pelantikan.

“Demokrasi kampus harus dapat menjadi ruang pembelajaran bagi lahirnya pemimpin mahasiswa yang amanah, berintegritas, dan mampu membawa perubahan positif bagi lingkungan universitas,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Rektor II UNUSIDA, Dr. Ana Christanti, dalam sambutannya menekankan pentingnya kejujuran, keikhlasan, dan komitmen dalam menjalankan tugas sebagai penyelenggara pemilihan mahasiswa.

Menurutnya, pengurus KPU-M dan Bawaslu-M yang baru diharapkan mampu membawa suasana demokrasi kampus yang lebih segar, jujur, serta berorientasi pada kepentingan bersama.

“Harus ada kejujuran, ada keikhlasan untuk bekerja dan mengabdi kepada kampus. Untuk itu, kepengurusan yang baru ini diharapkan bisa membawa angin demokrasi yang lebih segar, lebih berkomitmen, dan lebih jujur di kampus yang kita cintai,” tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa KPU-M memiliki peran penting dalam menyelenggarakan proses pemilihan pemimpin mahasiswa. Sementara itu, Bawaslu-M bertugas mengawasi jalannya proses demokrasi agar berlangsung sesuai dengan prinsip dan ketentuan yang berlaku.

Dr. Ana juga mengingatkan agar seluruh pengurus menghindari praktik-praktik yang dapat mencederai nilai demokrasi, termasuk upaya memengaruhi pilihan melalui pendekatan yang tidak semestinya.

Menurutnya, hal-hal yang terlihat sederhana sekalipun perlu menjadi perhatian agar proses pemilihan mahasiswa tetap berlangsung secara jujur, adil, dan transparan.

“Jangan sampai hal-hal kecil yang dapat mencederai demokrasi itu terjadi. Kita ingin mahasiswa UNUSIDA benar-benar belajar berdemokrasi dengan baik,” pesannya.

Pada kesempatan tersebut, Dr. Ana turut menyampaikan apresiasi kepada pengurus KPU-M dan Bawaslu-M periode sebelumnya atas pengabdian yang telah diberikan. Ia juga mengucapkan selamat bertugas kepada kepengurusan periode 2026–2027.

“Kami harap, pelantikan ini menjadi awal bagi penguatan tata kelola organisasi kemahasiswaan di UNUSIDA. Melalui peran KPU-M dan Bawaslu-M, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami demokrasi secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkan nilai kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan integritas dalam praktik organisasi,” pungkasnya.

Tim PPK Ormawa HIMA PBI UNUSIDA Gelar pembelajaran Bahasa Inggris secara rutin setiap hari Senin di SDN Kedungpandan 1. (Foto: Humas UNUSIDA)

Tim PPK Ormawa HIMA PBI UNUSIDA Gelar Pembelajaran Bahasa Inggris Rutin di SDN Kedungpandan

SIDOARJO — Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (HIMA PBI) terus berupaya mendukung peningkatan kualitas pendidikan melalui kegiatan pembelajaran Bahasa Inggris secara rutin setiap hari Senin di SDN Kedungpandan 1, Kabupaten Sidoarjo.

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) dalam mengenalkan Bahasa Inggris sejak dini melalui metode pembelajaran yang menarik, interaktif, dan menyenangkan bagi siswa sekolah dasar.

Ketua Tim PPK Ormawa HIMA PBI UNUSIDA, Widya Afifuddina, menjelaskan bahwa program tersebut dilatarbelakangi oleh pentingnya penguasaan bahasa asing sebagai bekal siswa dalam menghadapi perkembangan zaman. Kemampuan berbahasa Inggris dinilai dapat membuka kesempatan lebih luas bagi generasi muda untuk mengakses informasi, mengembangkan wawasan, serta mempersiapkan diri menghadapi tantangan pendidikan di masa depan.

Menurut Widya, pengenalan bahasa Inggris sejak usia dini perlu dilakukan melalui pendekatan yang sesuai dengan karakteristik peserta didik. Pembelajaran tidak cukup hanya berfokus pada penguasaan materi, tetapi juga perlu menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan agar siswa merasa nyaman ketika mengenal bahasa baru.

“Dengan semangat kolaborasi dan pengabdian, program ini bertujuan untuk meningkatkan ketertarikan siswa terhadap bahasa Inggris, juga menumbuhkan generasi muda yang lebih percaya diri, terbuka terhadap pengetahuan baru, dan siap menghadapi perkembangan zaman. Upaya sederhana yang dilakukan secara konsisten menjadi langkah berarti dalam membangun fondasi pendidikan yang lebih baik bagi masa depan,” jelasnya.

Melalui program ini, tim PPK Ormawa HIMA PBI UNUSIDA terlibat langsung dalam memberikan materi bahasa Inggris dasar kepada para siswa SDN Kedungpandan 1. Materi pembelajaran disusun dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan siswa sekolah dasar sehingga dapat dipahami secara bertahap.

Pendekatan tersebut menjadi penting karena siswa pada usia sekolah dasar masih berada dalam tahap perkembangan kemampuan dasar berbahasa. Oleh sebab itu, pembelajaran dirancang untuk membantu siswa mengenal kosakata sederhana, memahami pelafalan, serta mulai membiasakan diri menggunakan bahasa Inggris dalam situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Untuk menciptakan suasana belajar yang menarik, ia dan tim mengedepankan metode pembelajaran interaktif. Kegiatan dilaksanakan melalui pengenalan kosakata, latihan pengucapan, permainan edukatif, serta berbagai aktivitas yang mendorong keterlibatan aktif siswa selama proses pembelajaran.

Melalui metode tersebut, siswa memperoleh kesempatan untuk belajar tanpa merasa terbebani oleh suasana kelas yang terlalu formal. Permainan edukatif dan latihan sederhana juga membantu menciptakan interaksi yang lebih dinamis antara mahasiswa dan peserta didik.

Siswa tidak hanya diajak mengenal kata-kata baru dalam bahasa Inggris, tetapi juga didorong untuk mencoba mengucapkannya secara langsung. Proses ini memberikan ruang bagi mereka untuk berlatih, melakukan kesalahan, memperbaiki pengucapan, dan membangun keberanian dalam menggunakan bahasa asing.

Kepercayaan diri menjadi salah satu aspek penting yang ingin ditumbuhkan melalui kegiatan ini. Sebagian siswa mungkin masih merasa ragu ketika diminta mengucapkan kata dalam bahasa yang belum familiar. Dengan suasana belajar yang suportif dan menyenangkan, siswa diharapkan semakin berani mencoba serta tidak takut untuk terus belajar.

Selain memberikan manfaat bagi siswa, kegiatan ini juga menjadi sarana bagi mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris UNUSIDA untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan. Pengalaman mengajar secara langsung memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan pedagogis dan memahami dinamika pembelajaran di sekolah dasar.

Mahasiswa dituntut untuk mampu menyampaikan materi secara jelas, memilih metode yang tepat, serta membangun komunikasi yang efektif dengan peserta didik. Mereka juga memperoleh pengalaman dalam menyesuaikan strategi pembelajaran berdasarkan respons dan kebutuhan siswa selama kegiatan berlangsung.

Wisyda mengaku, pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris yang dipersiapkan untuk berkontribusi dalam dunia pendidikan. Melalui interaksi langsung dengan siswa, ia dapat memahami bahwa keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh penguasaan materi, tetapi juga oleh kemampuan pendidik dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, komunikatif, dan menyenangkan.

“Program ini memperkuat peran mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki tanggung jawab sosial. Ilmu yang diperoleh di perguruan tinggi tidak hanya dikembangkan untuk kepentingan akademik, tetapi juga diterapkan secara nyata guna membantu menjawab kebutuhan pendidikan di lingkungan sekitar.” tandasnya.

Kegiatan pembelajaran bahasa Inggris tersebut dilaksanakan secara rutin setiap Senin. Konsistensi ini diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengulang materi, memperkaya kosakata, dan membangun kebiasaan belajar secara bertahap.

Ketua Tim PPK Ormawa Hima PBI UNUSIDA, Zainira Ihsanty berharap pelaksanaan program secara berkelanjutan mampu meningkatkan minat dan motivasi belajar bahasa Inggris siswa SDN Kedungpandan 1. Melalui pembelajaran yang terarah dan menyenangkan, siswa dapat memiliki fondasi kemampuan berbahasa Inggris yang semakin kuat serta keberanian untuk mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, lebih dari sekadar kegiatan mengajar, program ini menjadi wujud kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam mendukung pendidikan generasi muda. Kehadiran mahasiswa di lingkungan sekolah dapat memberikan pengalaman belajar tambahan sekaligus menumbuhkan semangat siswa untuk terus mengembangkan kemampuan diri.

“Kami terus mendorong mahasiswa untuk berperan aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat yang memberikan manfaat nyata. Pembelajaran bahasa Inggris di SDN Kedungpandan 1 menjadi salah satu langkah untuk menghadirkan pendidikan yang lebih dekat dengan kebutuhan siswa sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi bagi masyarakat,” pungkasnya.

Kepala LSDM UNUSIDA, Jeziano Rizkita Boyas, S.E., M.M., C.I.R.P., CHCS., CHRM., dalam kegiatan Sosialisasi Penguatan Kedisiplinan, Tata Kelola Arsip, dan Apresiasi SDM UNUSIDA. (Foto: Humas UNUSIDA)

Perkuat Kedisiplinan dan Profesionalisme, SDM UNUSIDA Ajak Pegawai Bekerja dengan Hati dan Aksi Nyata

SIDOARJO — Lembaga Sumber Daya Manusia (LSDM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menegaskan pentingnya kedisiplinan, tanggung jawab, dan integritas dalam membangun budaya kerja yang profesional. Penguatan tersebut disampaikan Kepala LSDM UNUSIDA, Jeziano Rizkita Boyas, S.E., M.M., C.I.R.P., CHCS., CHRM., dalam kegiatan Sosialisasi Penguatan Kedisiplinan, Tata Kelola Arsip, dan Apresiasi SDM UNUSIDA di Hall Lantai 5 Gedung A, Kampus UNUSIDA, Selasa (13/10/2026).

Dalam pemaparannya, Jeziano mengingatkan bahwa setiap pegawai memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing yang saling berkaitan dalam mendukung kemajuan universitas. Menurutnya, seluruh dosen dan tenaga kependidikan merupakan aset berharga yang perlu dijaga, dikembangkan, dan diberdayakan untuk mencapai tujuan bersama.

Ia mengibaratkan UNUSIDA sebagai sebuah kapal besar yang membutuhkan kontribusi setiap bagian agar dapat berlayar dengan baik. Setiap orang memiliki tugas dan fungsi yang berbeda, mulai dari pemimpin hingga pelaksana teknis. Apabila salah satu bagian tidak menjalankan perannya secara optimal, hal tersebut dapat memengaruhi kinerja organisasi secara keseluruhan.

“Bapak dan Ibu semua merupakan aset berharga bagi UNUSIDA. Kita memiliki fungsi dan tugas masing-masing. Karena itu, setiap orang perlu menjalankan perannya dengan baik agar organisasi ini dapat terus berkembang,” pesannya.

Jeziano juga menekankan bahwa kedisiplinan tidak cukup dimaknai sebagai kepatuhan terhadap jam masuk dan pulang kerja. Lebih dari itu, disiplin harus tercermin dalam pelaksanaan tugas, pemanfaatan waktu kerja, kepatuhan terhadap aturan, serta kesungguhan dalam memberikan kontribusi nyata bagi institusi.

Dosen Program Studi (Prodi) Manajemen tersebut mengajak seluruh pegawai untuk memastikan bahwa kehadiran di tempat kerja benar-benar menghasilkan nilai tambah. Kehadiran secara fisik perlu diiringi dengan pelaksanaan tanggung jawab, penyelesaian pekerjaan, dan pelayanan yang optimal.

Menurutnya, waktu kerja merupakan amanah yang harus dimanfaatkan secara bertanggung jawab. Oleh karena itu, seluruh pegawai diharapkan mampu menjaga fokus selama jam kerja dan menghindari aktivitas yang tidak berkaitan dengan tugas kedinasan.

Dalam kesempatan tersebut, Jeziano menguraikan sejumlah nilai utama yang perlu diperkuat dalam budaya kerja UNUSIDA, yaitu kedisiplinan, tanggung jawab, integritas, profesionalisme, dan nilai-nilai khidmah.

Kedisiplinan mencakup kepatuhan terhadap waktu, aturan, dan prosedur kerja. Tanggung jawab diwujudkan melalui kesungguhan dalam menyelesaikan tugas sesuai uraian pekerjaan dan kewenangan masing-masing. Apabila terdapat ketidakjelasan mengenai tugas maupun tanggung jawab, pegawai diharapkan aktif berkoordinasi dengan pimpinan agar pelaksanaan pekerjaan berjalan sesuai ketentuan.

Sementara itu, integritas menjadi landasan penting dalam membangun kepercayaan di lingkungan kerja. Integritas menuntut keselarasan antara perkataan dan tindakan, sedangkan profesionalisme tercermin melalui kompetensi, etika, komunikasi, kerja sama, dan kemampuan menjalankan pekerjaan secara optimal.

Di samping nilai-nilai tersebut, ia mengingatkan agar seluruh pegawai tidak meninggalkan semangat khidmah dalam bekerja. Bagi UNUSIDA, bekerja bukan semata-mata menjalankan kewajiban profesional, melainkan juga menjadi bagian dari pengabdian untuk memberikan manfaat bagi sesama dan institusi.

“Ketika kita berada di tempat yang sama, bekerja bersama, dan mencari keberkahan bersama, kita harus saling menjaga. Jangan sampai kita justru saling melemahkan. Mari membangun lingkungan kerja yang saling mendukung dan membawa UNUSIDA menjadi lebih baik,” ungkapnya.

Sebagai penguatan budaya kerja, LSDM UNUSIDA juga memperkenalkan semangat yang dirangkum dalam tagline ‘Bekerja dengan Hati, Berkhidmah dengan Aksi, Bertumbuh untuk UNUSIDA’. Tagline tersebut menjadi ajakan bagi seluruh pegawai untuk mengintegrasikan kepedulian, tindakan nyata, dan kemauan untuk terus berkembang dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.

Pada kesempatan yang sama, Jeziano turut mengingatkan pentingnya konsistensi dalam memenuhi kewajiban administratif kepegawaian, termasuk pengisian Key Performance Indicator (KPI) dan pencatatan kehadiran. Ia mendorong pegawai yang mengalami kendala dalam penggunaan sistem agar berkoordinasi dengan LSDM sehingga persoalan teknis dapat segera ditangani.

Ia menyebut, penguatan kedisiplinan ini menjadi bagian dari upaya UNUSIDA dalam membangun tata kelola sumber daya manusia yang semakin tertib, terukur, dan berorientasi pada peningkatan kualitas layanan. Melalui pemahaman terhadap tugas, tanggung jawab, serta nilai-nilai profesionalisme, setiap pegawai diharapkan mampu memberikan kontribusi terbaik sesuai perannya.

“Mari menjadikan kedisiplinan sebagai kebiasaan, integritas sebagai prinsip, dan khidmah sebagai semangat dalam bekerja. Dengan komitmen bersama, kita jadikan UNUSIDA menjadi tempat khidmah yang terus bertumbuh menjadi perguruan tinggi yang profesional, solid, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” tuturnya.

Lembaga SDM UNUSIDA memberikan apresiasi kepada Staff UNUSIDA TV, Mujianto, S.Kom., sebagai Tenaga Kependidikan Terbaik dan Akhmad Maulana Didayat sebagai Tenaga Operasional Terbaik. (Foto: Humas UNUSIDA)

Perkuat Semangat Berkhidmah, SDM UNUSIDA Beri Apresiasi Tenaga Operasional dan Tenaga Kependidikan Terbaik

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menyelenggarakan kegiatan Apresiasi Sumber Daya Manusia (SDM) UNUSIDA di Hall Lantai 5 Gedung A, Kampus UNUSIDA, Selasa (13/10/2026). Kegiatan ini menjadi bentuk penghargaan atas dedikasi dosen dan tenaga kependidikan sekaligus momentum untuk memperkuat budaya kerja, meningkatkan kapasitas, serta mendorong tata kelola perguruan tinggi yang semakin baik.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, Kepala Lembaga Sumber Daya Manusia (LSDM) UNUSIDA, Jeziano Rizkita Boyas, serta jajaran kepala biro, kepala lembaga, kepala unit pelaksana teknis (UPT), dosen, dan tenaga kependidikan di lingkungan UNUSIDA.

Dalam sambutannya, Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, menegaskan bahwa pertumbuhan institusi harus berjalan seiring dengan peningkatan kedewasaan dalam tata kelola, kedisiplinan, dan kualitas sumber daya manusia.

Menurutnya, UNUSIDA yang terus berkembang membutuhkan seluruh elemen kampus yang juga bersedia bertumbuh, belajar, dan meningkatkan kompetensi sesuai dengan tuntutan institusi. Kedewasaan organisasi tidak hanya ditunjukkan melalui perkembangan fasilitas, tetapi juga melalui kualitas pelayanan, tanggung jawab, serta kemampuan setiap individu dalam menjalankan perannya.

“UNUSIDA tumbuh sejalan dengan usianya. Karena itu, tata kelola harus semakin baik dan kedisiplinan tenaga kependidikan harus terus meningkat. Kita perlu belajar, meningkatkan kapasitas masing-masing, dan menjaga semangat berkhidmah di UNUSIDA,” pesannya.

Ia juga menekankan bahwa apresiasi merupakan bagian dari upaya membangun lingkungan kerja yang positif dan mendorong seluruh sivitas akademika untuk terus memberikan kontribusi terbaik. Penghargaan tidak hanya menjadi bentuk pengakuan atas capaian, tetapi juga motivasi untuk memperbaiki kualitas diri dan kinerja secara berkelanjutan.

Lebih lanjut, Dr. Hadi mengajak seluruh keluarga besar UNUSIDA untuk membangun semangat tumbuh bersama. Setiap unsur, baik dosen maupun tenaga kependidikan, memiliki peran penting dalam mendukung pelayanan akademik, pengembangan mahasiswa, dan kemajuan universitas.

Ia menyampaikan apresiasi kepada LSDM yang telah menginisiasi kegiatan tersebut. Ia berharap penghargaan ini dapat menjadi pemantik semangat bagi seluruh pegawai untuk terus meningkatkan profesionalisme, menjaga kekompakan, dan memperkuat kontribusi bagi kemajuan universitas.

“Seiring dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap perguruan tinggi, kita juga dituntut untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan tata kelola. Oleh sebab itu, kita semua harus mampu beradaptasi, terbuka terhadap evaluasi, serta memiliki kemauan untuk mengembangkan kompetensi sesuai bidang tugas masing-masing,” tandasnya.

Dalam kesempatan tersebut, SDM UNUSIDA memberikan apresiasi kepada Staff UNUSIDA TV, Mujianto, S.Kom., sebagai Tenaga Kependidikan Terbaik dan Akhmad Maulana Didayat sebagai Tenaga Operasional Terbaik sebagai bentuk pengakuan atas dedikasi, kedisiplinan, dan kontribusi dalam mendukung kelancaran layanan serta operasional kampus.

Sementara itu, Kepala LSDM UNUSIDA, Jeziano Rizkita Boyas, menjelaskan bahwa pemberian penghargaan dilaksanakan berdasarkan Surat Keputusan Nomor 0709.1/2026 tentang Dosen Berprestasi serta Tenaga Kependidikan dan Tenaga Operasional Terbaik.

Ia memaparkan bahwa proses penilaian dilakukan melalui sejumlah indikator yang dirancang untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai kinerja dan kontribusi pegawai selama menjalankan tugasnya.

Indikator pertama adalah rata-rata Key Performance Indicator (KPI) selama enam bulan. Indikator kedua berupa survei pelayanan yang dapat diakses melalui kode batang atau barcode yang tersedia di lingkungan kampus. Survei tersebut menjadi salah satu instrumen untuk melihat kualitas pelayanan yang diberikan kepada sivitas akademika maupun pihak yang berkepentingan.

Indikator ketiga adalah performa operasional yang dinilai oleh kepala biro, kepala lembaga, dan kepala UPT. Penilaian ini tidak hanya memperhatikan hasil pekerjaan teknis, tetapi juga karakter dan perilaku profesional dalam bekerja, seperti kerja sama, tanggung jawab, komunikasi, serta kemampuan mengambil keputusan.

Adapun indikator keempat adalah keaktifan dalam mengikuti kegiatan yang diselenggarakan universitas. Partisipasi tersebut dinilai sebagai bagian dari kontribusi pegawai dalam mendukung berbagai agenda dan pengembangan institusi.

Jeziano menegaskan bahwa keseluruhan indikator tersebut dinilai secara komprehensif agar penghargaan dapat diberikan berdasarkan kinerja dan kontribusi yang terukur. Dengan demikian, penilaian tidak hanya bertumpu pada satu aspek, tetapi mempertimbangkan berbagai dimensi yang mendukung profesionalisme dan kualitas pelayanan.

“Melalui mekanisme tersebut, proses apresiasi ini dapat mendorong budaya kerja yang transparan, objektif, dan berorientasi pada peningkatan mutu. Hasil penilaian juga menjadi bahan refleksi bagi seluruh pegawai untuk mengenali keunggulan sekaligus memperbaiki aspek yang masih perlu ditingkatkan,” jelasnya.

Dosen Manajemen tersebut mengatakan bahwa apresiasi SDM UNUSIDA 2026 menjadi bagian dari komitmen universitas dalam membangun lingkungan kerja yang menghargai dedikasi, mendorong prestasi, dan memperkuat semangat pengabdian. Melalui penghargaan ini, ia berharap dosen dan tenaga kependidikan semakin termotivasi untuk meningkatkan kapasitas, menjaga integritas, serta memberikan pelayanan terbaik.

“Dengan semangat tumbuh bersama, mari terus berupaya membangun tata kelola yang semakin baik dan sumber daya manusia yang profesional, kompeten, serta berorientasi pada kebermanfaatan. Sebab, kemajuan perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh sistem dan fasilitas, tetapi juga oleh komitmen setiap individu yang bekerja, berkarya, dan berkhidmah untuk mewujudkan pendidikan yang berdampak bagi masyarakat,” pungkasnya.

Rapat Koordinasi Akademik dalam rangka persiapan perkuliahan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027. (Foto: Humas UNUSIDA)

Mantapkan Persiapan Perkuliahan, UNUSIDA Gelar Rapat Koordinasi Akademik Semester Ganjil 2026/2027

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) melalui Lembaga Sumber Daya Manusia (LSDM) menggelar Rapat Koordinasi Akademik dalam rangka persiapan perkuliahan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027 di Hall Lantai 5 Gedung A, Kampus UNUSIDA, Lingkar Timur, Sidoarjo, Rabu (23/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi akademik sekaligus mendorong transformasi digital melalui pengenalan Sistem Data UNUSIDA (SIDANU) oleh Unit Pelayanan Teknis (UPT) Teknologi dan Informasi (TI) UNUSIDA yang terus bergerak menghadirkan inovasi digital untuk kampus yang terintegrasi, adaptif, dan berdampak.

SIDANU diperkenalkan sebagai platform digital terpadu yang dirancang untuk menghubungkan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, serta berbagai layanan kampus dalam satu pengalaman digital. Mengusung semangat Satu Akses. Satu Data. Satu UNUSIDA, sistem ini menjadi bagian dari upaya universitas dalam membangun ekosistem digital kampus yang terintegrasi, efektif, dan mudah diakses oleh seluruh civitas akademika.

Pengenalan SIDANU ini menjadi langkah strategis UNUSIDA untuk mengembangkan sistem akademik terpadu yang mampu mendukung kelancaran berbagai aktivitas perkuliahan. Melalui integrasi layanan dan data, proses pengelolaan informasi akademik diharapkan menjadi lebih efisien, terstruktur, dan mudah dimanfaatkan sesuai kebutuhan pengguna.

Transformasi digital di lingkungan perguruan tinggi menjadi salah satu upaya penting dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan. Pemanfaatan teknologi tidak hanya berkaitan dengan penggunaan aplikasi, tetapi juga bagaimana sistem yang dibangun mampu menyederhanakan proses administrasi, mempercepat akses informasi, serta mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat berdasarkan data.

Melalui SIDANU, UNUSIDA berupaya menghadirkan pengalaman digital yang lebih terhubung bagi seluruh civitas akademika. Mahasiswa diharapkan dapat memperoleh kemudahan dalam mengakses layanan akademik, sementara dosen dan tenaga kependidikan dapat terbantu dalam menjalankan tugas serta mengelola informasi yang berkaitan dengan kegiatan kampus.

Selain pengenalan sistem digital, rapat koordinasi akademik ini menjadi bagian penting dalam menyelaraskan kesiapan berbagai unsur universitas menjelang dimulainya perkuliahan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027. Koordinasi diperlukan agar penyelenggaraan kegiatan akademik berjalan lebih terarah, mulai dari kesiapan layanan hingga dukungan administrasi yang menunjang proses pembelajaran.

Pengembangan ekosistem digital terpadu juga membutuhkan keterlibatan seluruh unsur kampus. Karena itu, penerapan SIDANU diharapkan tidak hanya menjadi inovasi teknologi, tetapi juga mendorong terbentuknya budaya kerja yang lebih kolaboratif, adaptif, dan berorientasi pada pelayanan. Kesamaan akses terhadap data dan informasi menjadi salah satu fondasi untuk memperkuat koordinasi lintas unit di lingkungan universitas.

Dengan mengintegrasikan sistem akademik dan layanan kampus dalam satu platform, UNUSIDA terus berupaya menjawab kebutuhan perguruan tinggi di era digital. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen universitas untuk meningkatkan mutu tata kelola pendidikan tinggi melalui pemanfaatan teknologi yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan.

Ke depan, pengembangan SIDANU diharapkan dapat mendukung terwujudnya layanan akademik yang semakin mudah, cepat, dan terintegrasi. Melalui semangat Satu Akses. Satu Data. Satu UNUSIDA, seluruh civitas akademika diajak untuk bersama-sama membangun ekosistem digital kampus yang kuat, demi mendukung proses pembelajaran yang berkualitas dan tata kelola universitas yang semakin baik.

Rapat Koordinasi Akademik ini juga berkolaborasi dengan Biro Akademik UNUSIDA yang menyampaikan penjelasan mengenai hak dan kewajiban dosen dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran di lingkungan UNUSIDA. Penyampaian ini bertujuan untuk menyamakan pemahaman seluruh dosen terkait standar pelaksanaan perkuliahan, tanggung jawab dalam proses pembelajaran, serta pemenuhan hak dan kewajiban sesuai dengan ketentuan akademik yang berlaku. Melalui koordinasi ini, diharapkan dosen dapat menjalankan tugas secara profesional, disiplin, dan bertanggung jawab, sehingga tercipta proses pembelajaran yang tertib, berkualitas, serta mendukung peningkatan mutu akademik UNUSIDA.

Siti Fatimah Wisudawan terbaik dalam Wisuda ke-10 UNUSIDA (Foto:Humas UNUSIDA)

Siti Fatimah, Wisudawan Terbaik UNUSIDA: Gelar Sarjana Jadi Pengingat untuk Terus Bermanfaat

SURABAYA — Siti Fatimah, wisudawati Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi menjadi wisudawan terbaik dengan IPK 3.98 dalam wisuda ke-10 Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), di Dyandra Convention Center, Jl. Basuki Rahmat No.93-105, Embong Kaliasin, Kec. Genteng, Surabaya, Ahad (20/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Ima sapaan akrabnya menyampaikan rasa syukur sekaligus haru karena dapat berdiri mewakili teman-teman wisudawan. Menurutnya, mengenakan toga pada hari wisuda mengingatkan kembali pada perjalanan panjang yang telah dilalui selama masa perkuliahan.

“Perjalanan kita untuk sampai ke titik ini bukanlah perjalanan yang selalu mudah. Ada begitu banyak cerita, perjuangan, doa, air mata, dan juga harapan yang mungkin tidak semuanya dapat kita ceritakan kepada orang lain,” ungkapnya.

Ia mengajak seluruh wisudawan untuk memberikan apresiasi kepada diri sendiri atas berbagai perjuangan yang telah dilewati. Mulai dari menyelesaikan tugas, menghadapi tenggat waktu, menjalani proses skripsi, revisi, hingga berbagai tantangan akademik lainnya.

Ima yang selama kuliah juga aktif berorganisasi tersebut menyebutkan bahwa setiap mahasiswa memiliki cerita perjuangan yang berbeda. Ada yang harus membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan, berjuang melalui beasiswa, menjalani perkuliahan sembari mondok, aktif berorganisasi, hingga menghadapi tanggung jawab keluarga maupun persoalan pribadi.

Sebagai salah satu penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), Ima mengaku memahami bahwa kesempatan menempuh pendidikan tinggi merupakan amanah yang sangat berarti.

“Bagi saya, beasiswa ini bukan hanya tentang bantuan biaya pendidikan. Di dalamnya ada kesempatan untuk belajar, bertumbuh, membangun harapan, dan membuktikan bahwa keadaan awal seseorang tidak harus menjadi batas bagi masa depannya,” tuturnya.

Namun, ia menegaskan bahwa perjuangan tidak hanya dimiliki oleh mahasiswa penerima beasiswa. Setiap mahasiswa memiliki tantangan masing-masing yang layak untuk dihargai.

“Bukan waktunya untuk membandingkan siapa yang paling berat perjuangannya. Hari ini adalah waktunya untuk saling menghargai karena kita semua telah melewati proses yang tidak mudah,” katanya.

Gelar Sarjana sebagai Awal Perjalanan

Ima juga mengingatkan bahwa prosesi wisuda bukanlah akhir dari perjalanan. Setelah menyelesaikan pendidikan, para lulusan akan menghadapi babak kehidupan yang baru dengan berbagai pilihan, mulai dari bekerja, melanjutkan pendidikan, membangun usaha, mengabdi kepada masyarakat, maupun mencari kesempatan baru.

Ia berpesan agar para lulusan tidak menjadikan gelar sarjana sebagai tanda bahwa proses belajar telah selesai.

“Jangan pernah merasa bahwa gelar sarjana adalah tanda bahwa kita telah mengetahui segalanya. Justru gelar ini menjadi pengingat bahwa kita memiliki tanggung jawab untuk terus mengembangkan ilmu dan memberikan manfaat bagi orang lain,” ujarnya.

Ima juga mengajak para wisudawan untuk tetap menjaga integritas, menghargai proses, serta membawa nama baik almamater di mana pun berada.

Ia berharap ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di UNUSIDA dapat menjadi bekal untuk memberikan kontribusi bagi keluarga, masyarakat, agama, dan negara.

Terima Kasih untuk Orang Tua dan Almamater

Dalam sambutannya, Siti memberikan apresiasi khusus kepada orang tua dan keluarga yang selama ini menjadi sumber dukungan bagi para mahasiswa. “Gelar sarjana yang kami raih bukan hanya tentang pencapaian pribadi kami. Di dalamnya ada doa orang tua, ada perjuangan keluarga, dan ada harapan yang selama ini kita bawa,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada pimpinan UNUSIDA, para dosen, serta seluruh pihak yang telah mendukung proses pendidikan mahasiswa. Menurutnya, para dosen tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan, tetapi juga mengajarkan tanggung jawab, kedisiplinan, integritas, serta pentingnya untuk terus belajar.

Tak lupa, Siti mengapresiasi teman-teman seperjuangan yang telah menjadi bagian dari perjalanan selama masa perkuliahan. “Semoga persahabatan yang telah kita bangun selama masa perkuliahan tidak berhenti hanya karena hari ini kita telah mengenakan toga,” harapnya.

Ia mengajak seluruh wisudawan untuk terus melangkah dengan semangat dan tidak melupakan perjuangan yang telah mengantarkan mereka hingga hari wisuda.

“Jika suatu hari nanti kita menghadapi kegagalan, semoga kita mengingat kembali perjuangan hari ini. Jika suatu saat kita merasa tidak mampu, semoga kita kembali menemukan keberanian untuk melangkah,” pesannya.

Ia juga mendoakan agar seluruh lulusan senantiasa diberikan keberkahan, kesehatan, kekuatan, dan kemudahan dalam menapaki kehidupan setelah kampus. Ia mengajak para lulusan untuk turut mengenalkan dan menyampaikan kepada masyarakat bahwa UNUSIDA merupakan kampus yang luar biasa, sekaligus terus menjaga nama baik almamater di tengah masyarakat.

“Semoga ilmu yang kita peroleh menjadi ilmu yang bermanfaat, menjadi amal jariah, dan menjadi bekal untuk memberikan kontribusi bagi keluarga, masyarakat, agama, dan negara,” pungkasnya.

Sekretaris LPT-PBNU, Dr. rer. pol. Muhammad Faishal Aminuddin, S.S., M.Si. saat menyampaikan Orasi Ilmiah dalam Wisuda ke-10 UNUSIDA. (Foto: Humas UNUSIDA)

Wisuda ke-10 UNUSIDA, Sekretaris LPT-PBNU Tekankan Karakter, Lifelong Learning, dan Daya Saing Lulusan

SURABAYA — Sekretaris Lembaga Pendidikan Tinggi (LPT) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Dr. rer. pol. Muhammad Faishal Aminuddin, S.S., M.Si., menekankan pentingnya pembentukan karakter, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk terus belajar bagi para lulusan perguruan tinggi. Pesan tersebut disampaikan saat dirinya memberikan Orasi Ilmiah dalam Wisuda ke-10 Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) di Dyandra Convention Center, Jl. Basuki Rahmat No.93-105, Embong Kaliasin, Kec. Genteng, Surabaya, Ahad (20/9/2026).

Di hadapan para wisudawan, orang tua, dan sivitas akademika, Faishal mengingatkan bahwa gelar sarjana bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal untuk terus mengembangkan kapasitas diri. Menurutnya, kondisi dunia kerja yang terus berubah menuntut lulusan memiliki kemampuan untuk beradaptasi. Keahlian atau skill yang diperoleh selama kuliah memang penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya bekal.

“Keahlian itu bisa berubah, bisa diasah. Apa yang Anda pelajari hari ini mungkin lima atau sepuluh tahun yang akan datang tidak laku lagi,” ujarnya.

Ia mencontohkan perkembangan teknologi dan perangkat kerja yang membuat berbagai keterampilan terus mengalami perubahan. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki fondasi kemampuan belajar yang kuat agar dapat mengikuti perubahan zaman.

Karakter Lebih Panjang Umurnya daripada Skill

Faishal menilai karakter menjadi salah satu modal penting yang perlu dibawa lulusan ketika memasuki dunia profesional. Kemampuan teknis dapat dipelajari melalui berbagai pelatihan dalam waktu relatif singkat, sedangkan pembentukan karakter membutuhkan proses yang lebih panjang.

“Yang paling penting adalah bagaimana kita membangun karakter diri. Itu yang paling penting agar Anda bisa diterima, pergaulannya luas, jaringannya banyak, dan Anda bisa membuktikan bahwa Anda mampu serta bisa dipercaya untuk melaksanakan pekerjaan,” jelasnya.

Ia mengingatkan para wisudawan agar tidak memandang pendidikan tinggi hanya sebagai jalan untuk mendapatkan pekerjaan. Kuliah, kata dia, pada dasarnya merupakan proses untuk mencari ilmu agar seseorang menjadi pribadi yang lebih baik dan bijaksana.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah persoalan ketenagakerjaan dan ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Faishal menyebut kondisi tersebut sebagai mismatch, yakni ketika kompetensi atau bidang yang dipelajari tidak sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.

Namun, ia mengajak para lulusan untuk tidak memandang mismatch semata-mata sebagai hambatan. Lulusan justru harus mampu memperluas kemungkinan kontribusinya melalui kompetensi yang dimiliki.

“Yang menghidup kita itu Tuhan, yang menghidup kita itu Allah. Percaya sajalah,” pesannya.

Jangan Putus Hubungan dengan Almamater

Salah satu gagasan yang ditekankan Faishal dalam orasinya adalah pentingnya konsep lifelong learning atau pembelajaran sepanjang hayat. Ia mengusulkan agar hubungan mahasiswa dengan kampus tidak berakhir setelah prosesi wisuda. Para alumni diharapkan tetap terhubung dengan almamater, bukan sekadar untuk menjaga silaturahmi, tetapi juga sebagai ruang untuk meningkatkan kemampuan.

“Setelah lulus jangan kemudian tiba-tiba lepas dari UNUSIDA. Anda sebagai alumni harus tetap terhubung, meng-upgrade diri, dan UNUSIDA selalu harus menyediakan tempat itu,” katanya.

Menurutnya, perguruan tinggi perlu menyediakan berbagai layanan pengembangan kompetensi bagi alumni, terutama dalam menghadapi perubahan keterampilan yang berlangsung cepat.

Dengan demikian, hubungan antara perguruan tinggi dan alumni dapat menjadi ekosistem pembelajaran yang terus berlangsung meskipun mahasiswa telah menyelesaikan pendidikan formalnya.

Lulusan PTNU Harus Memiliki Penciri

Dalam kesempatan tersebut, Faishal juga menjelaskan peran LPT-PBNU dalam pengembangan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama. Ia menyampaikan bahwa LPT-PBNU membawahi 44 perguruan tinggi dan terus mendorong penguatan kualitas serta kekhasan pendidikan tinggi NU.

Menurutnya, perguruan tinggi NU perlu memiliki penciri yang jelas, sehingga lulusan PTNU memiliki identitas sekaligus kualitas yang dapat dibawa ke dunia profesional.

Ia meminta para lulusan UNUSIDA untuk tidak merasa rendah diri ketika harus bersaing dengan lulusan perguruan tinggi negeri maupun swasta lainnya.

“Yang dilihat pertama kali itu adalah mutu, bukan hanya sekadar kuliah,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa perguruan tinggi NU memiliki tanggung jawab besar untuk memberikan pendidikan yang dapat menampung keberagaman masyarakat. Nilai toleransi dan kemampuan hidup berdampingan dengan berbagai perbedaan menjadi bagian yang perlu terus dirawat.

Karena itu, lulusan PTNU diharapkan mampu membangun jejaring dengan sesama alumni perguruan tinggi NU di berbagai daerah. Jejaring tersebut dapat dikembangkan dalam dunia kerja maupun ruang profesional lainnya.

Tiga Pesan untuk Wisudawan

Menutup orasinya, Faishal menyampaikan tiga hal yang perlu diingat para wisudawan dalam menghadapi kehidupan setelah kampus.

Pertama, lulusan harus memiliki kesadaran untuk terus melakukan upgrading skill. Dunia terus berubah sehingga proses belajar tidak boleh berhenti setelah mendapatkan ijazah.

Kedua, lulusan harus memiliki daya saing tinggi. Daya saing tersebut dibuktikan dengan kemampuan dan kompetensi yang benar-benar dibutuhkan oleh dunia kerja. Bahkan, menurutnya, lulusan dengan mental kewirausahaan dapat memilih untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.

Ketiga, lulusan harus tetap memegang prinsip sebagai bagian dari keluarga besar perguruan tinggi Nahdlatul Ulama yang meyakini pentingnya keberkahan.

“Saya itu mulai dari desa, kuliah sampai di luar negeri, tinggal lama, itu tidak bisa lepas dari kepercayaan mengenai barokah, keberkahan. Karena sesuatu yang tidak mungkin itu bisa menjadi mungkin,” ungkapnya.

Tegaskan Status Transisi Kepemimpinan UNUSIDA

Dalam orasi tersebut, Faishal juga menyampaikan penjelasan mengenai status kepemimpinan UNUSIDA. Ia menegaskan bahwa badan hukum UNUSIDA berada di bawah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, sehingga kewenangan strategis terkait perguruan tinggi berada pada LPT-PBNU sebagai lembaga yang menangani pendidikan tinggi NU.

Ia menjelaskan bahwa posisi Pelaksana Tugas (Plt) Rektor merupakan bagian dari masa transisi dan proses penataan kelembagaan. “Status Plt ini transisi saja. Tidak lama lagi transisi itu akan bisa berakhir dan ada rektor definitif yang hak dan kewajibannya juga sama,” ujarnya.

Ia juga memastikan kepada para wisudawan dan keluarga bahwa ijazah yang diterbitkan tetap memiliki keabsahan. Menurutnya, LPT-PBNU telah memberikan mandat terkait otoritas dan keabsahan ijazah tersebut sehingga para lulusan tidak perlu meragukan status ijazah yang mereka terima.

Lebih lanjut, ia berharap para lulusan mampu membawa ilmu yang diperoleh selama berada di kampus untuk terus berkembang, memiliki daya saing, membangun jejaring, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Wisuda, bukanlah garis akhir pendidikan. Justru setelah mengenakan toga dan menerima ijazah, para lulusan memasuki fase baru untuk membuktikan bahwa ilmu, karakter, kompetensi, dan nilai yang diperoleh selama berada di UNUSIDA dapat menjadi bekal menghadapi perubahan zaman sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.