Seminar Nuzulul Qur'an Unusida (Foto: Humas Unusida)

Unusida Gelar Seminar Nuzulul Qur’an, Tadarrus Ayat-ayat Moderasi Beragama

Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida) menggelar Seminar Nuzulul Qur’an di Masjid KH Muhammad Hasyim Asy’ari, Kampus Unusida Lingkar Timur Sidoarjo, Kamis (28/03/2024). Kegiatan ini dalam rangka memperingati Nuzulul Qur’an, 17 Ramadan 1445 Hijriah dengan mengangkat topik pembahasan ‘Tadarrus Ayat-ayat Moderasi Beragama’.

Kegiatan ini menghadirkan 2 narasumber yaitu, Ketua Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengkajian Islam dan Keaswajaan (PIK) Unusida, Ustadz Arisy Karomy, S.T,. M.Pd.I, Instruktur Nasional Penguatan Moderasi Beragama  Dr H Sholehuddin, M.Pd.I.

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Arisy Karomy mentelaah moderasi Aswaja an Nahdliyah yang menjadi pedoman bagi warga NU dalam menjaga kerukunan di tengah masyarakat. Ia menyebutkan bahwa moderasi Aswaja an Nahdliyah banyak dicontohkan oleh Rasulullah, seperti saat Rasulullah menghormati jenazah kaum Yahudi.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Kholil, Jetis Sidoarjo tersebut mengatakan bahwa Moderasi Beragama juga terdapat dalam Dokumen NU, seperti Muqoddimah Qonun Asasi dan Trilogi Ukhuwah yang menjadi pedoman bagi warga NU.

“Moderasi Beragama dapat kita biasakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti tidak suka berlebihan yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan, seperti dalam hal bersedekah dan makan berbuka puasa,” jelasnya.

Instruktur Nasional Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama tersebut mengatakan bahwa dalam Moderasi Beragama harus mencontoh profil insan moderat seperti Rasulullah SAW. Seperti mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu Siddiq (jujur), Amanah (dapat dipercaya), Tablig (menyampaikan), dan Fathanah (cerdas).

“Dari sifat tersebut yang menjadi dasar kepribadian yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW yang menjadikannya figur utama dengan segala nilai kebaikan dan egaliter dalam bersosialisasi. Oleh karena itu, kita sebagai umatnya kita harus juga berupaya untuk mengamalkannya setiap saat dan dimana pun berada,” tuturnya.

Sementara itu, Dr Sholehuddin mengatakan pelatihan dan pendidikan Moderasi Beragama di lingkungan Perguruan Tinggi sangat penting dalam rangka menjaga dan meningkatkan kerukunan umat beragama, baik di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat.

“Kampus menjadi tempat berkumpulnya mahasiswa dari berbagai daerah, ras, suku, maupun agama yang berbeda. Oleh karena itu mahasiswa menjadi agen-agen Moderasi Beragama ditengah kemajemukan bangsa dimana harus turut serta dan mempelopori budaya moderasi untuk menciptakan iklim sosial yang rukun dan damai,” terangnya.

Ketua Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Sidoarjo tersebut menjelaskan seluruh civitas akademika Unusida memiliki peran sangat penting untuk menggelorakan Moderasi Beragama. Karena dengan keilmuan yang menjunjung tinggi nilai toleransi, mahasiswa bisa menjadi garda terdepan untuk mengedukasi masyarakat soal moderasi beragama. Sebab moderasi beragama saat ini sangat penting untuk menjaga kerukunan umat beragama di tengah masyarakat.

Oleh karena itu, dunia kampus harus melakukan antitesa dengan mengubah mental model baru, meredesaining dan memastikan kembali kebiasaan baik yang sudah ada untuk mencapai negeri yang damai. Semua itu bersumber dari Al Quran. Bahwa manusia diciptakan berbeda merupakan keniscayaan karena sudah menjadi kehendak Allah agar sesama umat saling mengenal, menghormati dan menjadi umat terbaik.

“Di sinilah mengapa Tri Darma Perguruan Tinggi harus hadir. UNUSIDA harus menjadi agen Moderasi Beragama melalui pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat”, pungkasnya.

(my)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 − 14 =