Suasana Wisuda Program Sarjana ke-X di Dyandra Convention Center Surabaya. (Foto: Humas UNUSIDA)

Wisuda ke-10 UNUSIDA, 497 Lulusan Siap Melanjutkan Khidmat di Masyarakat

SURABAYA — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Wisuda Program Sarjana ke-X di Dyandra Convention Center Surabaya, Ahad (20/9/2026). Sebanyak 497 wisudawan dan wisudawati dari lima fakultas mengikuti prosesi wisuda dengan penuh khidmat.

Ke-497 lulusan tersebut berasal dari Fakultas Agama Islam (FAI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Ekonomi (FE), Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), dan Fakultas Teknik (FT).

Dalam sambutannya, Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, menyampaikan bahwa UNUSIDA masih berada dalam usia yang relatif muda dan menghadapi berbagai keterbatasan serta kekurangan. Namun, kondisi tersebut tidak menjadi alasan bagi perguruan tinggi di bawah naungan Nahdlatul Ulama tersebut untuk berhenti berprestasi.

“Usia muda bukanlah alasan untuk tidak berprestasi. Berbagai langkah inovasi telah dan sedang dijalankan untuk meningkatkan mutu pelayanan dan mendorong semangat prestasi di semua bidang,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga kerukunan, kebersamaan, dan keharmonisan dengan para ulama serta Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Sidoarjo. Menurutnya, sinergi tersebut menjadi modal penting bagi UNUSIDA untuk terus tumbuh menjadi perguruan tinggi yang lebih besar, sehat, kuat, dan unggul.

Di tengah proses pengembangan tersebut, UNUSIDA telah menorehkan sejumlah prestasi, baik pada tingkat kelembagaan maupun bidang kemahasiswaan.

Salah satunya melalui penghargaan dalam Kongres Pendidikan Besar Nahdlatul Ulama 2025 dengan kategori Winner Pengabdian kepada Masyarakat. Penghargaan tersebut diraih melalui kajian mengenai pemahaman orang tua tentang substansi pendidikan dengan wilayah studi kasus Sidoarjo dan Sumenep, Madura.

Selain itu, sivitas akademika UNUSIDA terus didorong untuk menghasilkan karya dan prestasi dalam berbagai bidang, termasuk penulisan ilmiah serta kompetisi di tingkat nasional maupun internasional.

Dorong Kemandirian Finansial

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Hadi juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan yang terus berkomitmen membangun UNUSIDA. Menurutnya, semangat membangun kampus juga diarahkan pada upaya memperkuat kemandirian finansial universitas melalui pengembangan berbagai program produktif.

Salah satunya melalui UNUSIDA Training Center yang telah dipercaya menyelenggarakan berbagai pelatihan berskala nasional. Program tersebut mencakup pelatihan dan sertifikasi dengan peserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

UNUSIDA juga terus mengembangkan produk pengetahuan dan layanan profesional dalam bidang manajemen, tata kelola kelembagaan, pengelolaan keuangan, serta pengembangan sumber daya manusia untuk organisasi, UMKM, pesantren, masjid, sekolah, perguruan tinggi, dan berbagai lembaga lainnya.

Selain itu, universitas mengembangkan budidaya tambak sebagai salah satu potensi ekonomi produktif. Pelatihan dan praktik manasik bagi masyarakat, khususnya siswa-siswi RA Muslimat Nahdlatul Ulama, juga menjadi bagian dari pengembangan layanan UNUSIDA kepada masyarakat.

“Jajaran pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo memberikan dukungan, pembinaan, dan bimbingan kepada kami. Itu semua menjadi penyemangat bagi kami dalam bekerja dan membangun universitas ini,” jelasnya.

Pesan untuk Para Wisudawan

Lebih lanjut, Dr. Hadi mengingatkan bahwa prosesi wisuda bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan. Gelar akademik yang diperoleh diharapkan menjadi bekal bagi para lulusan untuk terus berkarya dan memberikan manfaat di tengah masyarakat. Ia mengajak seluruh keluarga besar UNUSIDA untuk terus menjaga kebersamaan dalam membangun kampus.

“Jadikan momentum ini untuk melanjutkan perjalanan menuju dunia profesional, pengabdian, dan kehidupan bermasyarakat dengan membawa ilmu serta pengalaman yang diperoleh selama menempuh pendidikan di UNUSIDA,” pesannya.

Penandatanganan MoU oleh Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, dan Ketua Bawaslu Kabupaten Sidoarjo, Agung Nugraha. (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA Perkuat Pendidikan Demokrasi melalui Kerja Sama dengan Bawaslu Sidoarjo

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) memperkuat komitmennya dalam mendukung pendidikan demokrasi dan literasi politik masyarakat melalui kerja sama dengan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Sidoarjo. Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di Ruang Pertemuan Gedung B, Kampus UNUSIDA, Lingkar Timur, Sidoarjo, Kamis (17/9/2026).

MoU ditandatangani oleh Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, dan Ketua Bawaslu Kabupaten Sidoarjo, Agung Nugraha. Kerja sama ini membuka ruang kolaborasi kedua lembaga dalam pengembangan pendidikan kepemiluan, pendidikan demokrasi, serta pengawasan partisipatif yang melibatkan mahasiswa dan masyarakat.

Bagi UNUSIDA, kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya melalui pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. Lingkungan perguruan tinggi dipandang memiliki ruang strategis untuk membangun sikap kritis mahasiswa sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai demokrasi dan kepemiluan.

Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, menyampaikan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan Bawaslu dapat menghadirkan ruang pembelajaran yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa.

“Kemitraan ini membuka ruang bagi kedua lembaga untuk mengembangkan berbagai kegiatan kepemiluan yang melibatkan mahasiswa dan masyarakat, sekaligus memperkuat pemahaman serta partisipasi dalam pengawasan pemilu,” ujar Hadi.

Menurutnya, pendidikan politik menjadi salah satu bagian penting dalam membangun masyarakat yang memiliki pemahaman memadai terhadap proses demokrasi. Karena itu, perguruan tinggi dapat mengambil peran melalui kegiatan akademik maupun pengabdian yang berkaitan dengan isu kepemiluan.

Ia menambahkan, masyarakat perlu mendapatkan ruang untuk memahami proses pemilu secara kritis, termasuk kemampuan menyaring informasi dan memahami pentingnya integritas dalam penyelenggaraan pemilu.

“Kolaborasi antara lembaga pendidikan dengan Bawaslu sangat diperlukan dalam rangka bersama-sama melaksanakan pendidikan politik kepada masyarakat. Masyarakat perlu dididik agar kritis terhadap penyelenggaraan pemilu, menjadi pemilih yang cerdas, tidak mudah termakan hoaks, serta memiliki sikap untuk menolak politik uang,” jelasnya.

Kerja sama UNUSIDA dan Bawaslu Sidoarjo juga diarahkan untuk memperluas pengalaman mahasiswa dalam memahami persoalan kepemiluan. Sejumlah kegiatan yang dapat dikembangkan antara lain kuliah tamu, pendampingan Pemilu Raya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), KKN Tematik, serta program magang.

Melalui berbagai kegiatan tersebut, mahasiswa dapat memperoleh kesempatan untuk belajar, berdiskusi, sekaligus memahami praktik kepemiluan dan pengawasan partisipatif secara lebih dekat. Bagi UNUSIDA, ruang pembelajaran semacam ini juga menjadi bagian dari upaya menghubungkan pengetahuan akademik dengan persoalan yang berkembang di masyarakat.

Kolaborasi tersebut sekaligus memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, serta kepedulian terhadap persoalan publik.

Ketua Bawaslu Kabupaten Sidoarjo Agung Nugraha menyampaikan bahwa pengawasan pemilu membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat, termasuk perguruan tinggi. Menurutnya, kampus dapat menjadi ruang strategis untuk memperluas pemahaman kepemiluan sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda dalam pengawasan partisipatif.

Agung juga menyebut sinergi dengan kalangan akademisi UNUSIDA dapat menjadi ruang pembelajaran praktis bagi mahasiswa, termasuk melalui KKN Tematik dan program magang.

Kerja sama tersebut hadir di tengah berbagai upaya Bawaslu Sidoarjo memperluas pendidikan demokrasi dan partisipasi masyarakat. Pada September 2026, Bawaslu Sidoarjo juga menjalankan kegiatan seperti Bawaslu Goes to School dan #KODESEPEKAN sebagai ruang dialog dan penguatan pemahaman demokrasi.

Melalui MoU tersebut, UNUSIDA berkomitmen menjadikan kampus sebagai ruang pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan kompetensi akademik, tetapi juga mendorong mahasiswa memahami persoalan publik dan mengambil bagian dalam kegiatan kemasyarakatan secara bertanggung jawab.

Sinergi dengan Bawaslu Sidoarjo diharapkan dapat menghadirkan berbagai program yang memberikan manfaat bagi mahasiswa sekaligus masyarakat. Penguatan literasi politik, pendidikan demokrasi, dan pengawasan partisipatif menjadi ruang kolaborasi yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

“Dengan kolaborasi ini, mari bersama terus mendorong terwujudnya pendidikan yang berdampak, melalui pengalaman belajar yang relevan dengan kehidupan masyarakat sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam membangun kesadaran demokrasi di Kabupaten Sidoarjo,” pungkasnya.

Neng PGSD UNUSIDA, Munzilatun Jinan Berhasil Sabet Juara 2 Lomba Da’i GENVESTA Tingkat Jawa Timur (Foto: Humas UNUSIDA)

Inspiratif! Neng PGSD UNUSIDA Raih Juara 2 Lomba Da’i GENVESTA Tingkat Jawa Timur

SURABAYA — Kabar membanggakan kembali datang dari mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Munzilatun Jinan, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) 2025 A, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNUSIDA, berhasil meraih Juara 2 Lomba Da’i General Event of State Affairs (GENVESTA) Tingkat Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Sabtu (12/9/2026).

Bagi Zila sapaan akrabnya, keberhasilan tersebut tidak datang secara instan. Sebelumnya, ia telah beberapa kali mengikuti perlombaan dakwah secara daring, tetapi belum memperoleh kesempatan untuk menjadi juara. Pengalaman tersebut justru menjadi motivasi untuk kembali mencoba dan memperbaiki diri.

“Sebelumnya saya pernah mengikuti beberapa kali perlombaan melalui online, tetapi belum ditakdirkan untuk mendapatkan juara. Kemudian saya mencoba lagi di lomba yang diadakan oleh HMPHTN UINSA melalui beberapa tahapan seleksi online, kemudian lanjut babak final offline yang diadakan di Kampus 1 UINSA. Alhamdulillah, di babak final ini saya diberikan kesempatan menjadi Juara 2 di Lomba Da’i GENVESTA 2026,” ungkap Zila.

Dalam kompetisi tersebut, Neng PGSD tersebut mengangkat tema ‘Menjadi Pengguna Media Sosial yang Etis dan Bernalar Kritis’. Tema tersebut dipilih untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai pentingnya menggunakan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan media sosial membuat informasi dapat tersebar dengan sangat cepat. Namun, kecepatan penyebaran informasi perlu diimbangi dengan kemampuan untuk berpikir kritis. Informasi yang viral tidak selalu berarti informasi tersebut benar sehingga masyarakat perlu memastikan kebenarannya sebelum mempercayai maupun membagikannya.

“Saya mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam bermedia sosial, karena tidak semua berita yang viral itu benar. Semua harus kita teliti dulu kebenarannya sebelum membagikan kepada orang lain,” jelasnya.

Untuk menghadapi babak final, Munzilatun melakukan berbagai persiapan, terutama dalam penguasaan materi dakwah. Ia juga meminta masukan dari guru terkait materi yang telah dipersiapkan agar pesan yang disampaikan dapat tersusun dengan baik dan lebih mudah diterima oleh audiens.

Persiapan tersebut telah dilakukan sejak Juni ketika peserta mulai mengumpulkan karya untuk mengikuti tahap seleksi. Setelah dinyatakan lolos, Munzilatun kembali mematangkan materi dan penampilan hingga akhirnya mengikuti babak final pada September 2026.

Tidak hanya memberikan pengalaman berkompetisi, keikutsertaan dalam Lomba Da’i GENVESTA juga menjadi ruang bagi Munzilatun untuk bertemu dengan para juri dan peserta yang memiliki pengalaman serta kemampuan di bidang dakwah. Dari proses tersebut, ia memperoleh wawasan baru yang dapat menjadi bekal untuk mengembangkan kemampuannya.

“Saya merasa sangat bersyukur karena diberikan kesempatan untuk bertemu dengan juri dan peserta yang hebat. Dari sana saya mendapatkan banyak ilmu dari mereka yang ahli dalam bidang da’i,” tuturnya.

Ketertarikan Munzilatun terhadap dunia dakwah berawal dari keinginannya untuk terus belajar sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Baginya, dakwah tidak hanya sebatas menyampaikan pesan keislaman, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun pribadi yang mampu memberikan pengaruh positif bagi masyarakat.

Di tengah perkembangan teknologi, ia menilai generasi muda memiliki peran penting dalam menyampaikan nilai-nilai dakwah. Dengan kreativitas dan kemampuan memanfaatkan media digital, anak muda memiliki ruang yang luas untuk menyebarkan pesan positif kepada masyarakat.

“Peran generasi muda saat ini sangatlah penting dalam menyampaikan sebuah dakwah, karena bangsa yang baik dilihat dari bagaimana seorang pemuda mengimplementasikan nilai-nilai keislamannya dalam kehidupan sehari-hari serta dapat menyampaikannya kepada masyarakat luas,” ujarnya.

Bagi Munzilatun, pencapaian sebagai Juara 2 Lomba Da’i GENVESTA 2026 bukan sekadar sebuah penghargaan. Prestasi tersebut menjadi pembelajaran bahwa keberhasilan membutuhkan proses, keberanian untuk mencoba kembali, serta kesediaan untuk terus belajar dari pengalaman sebelumnya.

“Makna dari pencapaian ini bagi saya adalah sebuah pembelajaran bahwa segala sesuatu yang indah tidak diraih dengan perjuangan yang mudah,” katanya.

Ia berharap pencapaian tersebut dapat menjadi bagian dari perjalanan untuk terus berkembang dan berkarya. Munzilatun juga menyampaikan harapannya agar UNUSIDA semakin maju serta mampu melahirkan lebih banyak mahasiswa berprestasi di berbagai bidang.

“Harapan saya untuk kampus UNUSIDA adalah semoga lebih bersinar ke depannya, semoga bisa menjadi kampus yang maju dan berprestasi,” pungkasnya.

Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto saat menyampaikan sambutan dalam Pembukaan KARISMA FAI 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

Plt Rektor Ajak Mahasiswa Baru FAI UNUSIDA Aktif Berkarya dan Bangun Narasi Positif tentang Islam

SIDOARJO — Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Dr. Hadi Ismanto, mengajak mahasiswa baru Fakultas Agama Islam (FAI) untuk tidak sekadar menjalani perkuliahan, tetapi aktif mengembangkan potensi, memperluas pengalaman, serta berani membangun narasi positif tentang Islam di tengah masyarakat.

Di hadapan mahasiswa baru, ia membagikan perjalanan pendidikan dan kariernya sebagai contoh bahwa latar belakang pendidikan tidak menjadi batas untuk berkembang selama seseorang memiliki kemauan untuk belajar dan terus berusaha.

Dr. Hadi menceritakan bahwa dirinya merupakan lulusan Sarjana Hukum Islam. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia sempat berdoa agar segera mendapatkan pekerjaan. Perjalanan tersebut kemudian membawanya pada pengalaman menjadi pendidik dan berbagai kesempatan pengembangan profesional.

Ia mengisahkan salah satu pengalaman ketika mendapatkan kesempatan mengajar. Saat itu, dirinya menghadapi tantangan karena harus menguasai materi pembelajaran dan berhadapan dengan banyak peserta didik. Kondisi tersebut justru membuatnya terdorong untuk belajar lebih keras.

“Bukunya banyak, maka buku itu harus saya kuasai. Saya baca berkali-kali. Setelah saya mampu, baru saya masuk kelas,” tuturnya saat menyampaikan sambutan dalam pembukaan kegiatan Kajian, Orientasi, dan Silaturahmi Mahasiswa (KARISMA) FAI UNUSIDA 2026, Rabu (16/9/2026).

Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting bahwa kemampuan tidak hadir secara instan. Seseorang harus mau berproses, belajar, berlatih, dan menghadapi tantangan secara langsung.

Perjalanan tersebut kemudian membawanya memperoleh berbagai pengalaman profesional dan kesempatan mengikuti program pengembangan pendidikan. Bagi Dr. Hadi, setiap kesempatan yang datang harus dimanfaatkan sebagai ruang untuk belajar dan meningkatkan kapasitas diri.

Jangan Diam, Bangun Narasi tentang Islam

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Hadi juga menekankan pentingnya mahasiswa FAI memiliki keberanian untuk menyampaikan narasi positif tentang Islam dan pendidikan Islam kepada masyarakat.

Ia menggunakan kisah tentang kuliner Indonesia sebagai ilustrasi mengenai pentingnya narasi. Menurutnya, sesuatu yang memiliki nilai dan berasal dari Indonesia dapat dikenal secara berbeda ketika narasi yang dibangun tidak cukup kuat.

“Jangan diam saja, nanti seperti rawon. Jelas-jelas berasal dari Indonesia, tetapi kalau narasinya tidak dibangun, bisa saja orang lain yang lebih dulu dikenal,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa mahasiswa FAI memiliki peran untuk memperkenalkan nilai-nilai Islam secara lebih luas. Kebanggaan terhadap agama, menurutnya, tidak cukup hanya disimpan dalam diri, tetapi perlu diwujudkan melalui dakwah, karya, tulisan, maupun pemanfaatan media sosial.

“Sekarang tugas kita bersama, ceritakan. Jangan malu-malu, bangga dengan agama Islam. Bangga itu tidak cukup, tetapi bagaimana kita menyampaikan dan mendakwahkannya,” pesannya.

Menurutnya, media sosial dapat menjadi salah satu ruang strategis bagi mahasiswa untuk menyebarkan pengetahuan dan narasi positif. Mahasiswa tidak harus selalu menyampaikan sesuatu yang besar, tetapi dapat memulai dari informasi sederhana yang memiliki dasar data dan pengetahuan. “Kalau menyampaikan sesuatu, sampaikan data. Itulah narasi,” tegasnya.

Mahasiswa Diminta Tidak Hanya Pulang Setelah Kuliah

Dr. Hadi juga mengingatkan mahasiswa FAI agar tidak menjadikan kampus hanya sebagai tempat mengikuti perkuliahan kemudian pulang. Masa mahasiswa, menurutnya, harus dimanfaatkan untuk membangun pengalaman sebanyak mungkin. “Di FAI jangan pulang saja. Kalau pulang, harus beraktivitas untuk mengembangkan potensi saudara-saudara,” ujarnya.

Ia mendorong mahasiswa untuk mengikuti organisasi, komunitas, pelatihan, kursus, maupun kegiatan lain yang dapat meningkatkan kompetensi. Kemampuan tambahan, termasuk bahasa, komunikasi, kepemimpinan, dan keterampilan digital, dinilai dapat menjadi bekal penting bagi mahasiswa ketika terjun ke masyarakat.

Ia juga menyinggung pentingnya membangun kebiasaan belajar dan berlatih secara konsisten. Menurutnya, keberhasilan bukan semata-mata hasil dari keberuntungan, melainkan buah dari proses panjang dan latihan yang dilakukan secara terus-menerus.

Dr. Hadi kemudian menggunakan analogi olahraga untuk menggambarkan pentingnya latihan. Seorang pemain yang mampu melakukan teknik tertentu dengan baik, menurutnya, tidak langsung mendapat kemampuan tersebut, tetapi melalui latihan berulang. “Berhasil itu karena latihan. Itu namanya semangat,” pesannya.

Pentingnya Membuat Jurnal dan Menetapkan Target

Selain aktif berkegiatan, mahasiswa juga diajak untuk memiliki perencanaan yang jelas selama menempuh pendidikan. Dr. Hadi mendorong mahasiswa membuat jurnal atau catatan perkembangan diri sebagai sarana untuk menetapkan target dan mengevaluasi pencapaian.

Menurutnya, mahasiswa perlu mengetahui apa yang ingin dicapai selama empat tahun masa kuliah. Target tersebut kemudian dapat dipecah menjadi langkah-langkah yang lebih konkret dan terukur.

“Kalau kita tidak bisa berhitung, bagaimana kita tahu perkembangannya? Maka harus jelas tahapannya,” jelasnya.

Ia berharap mahasiswa FAI dapat memanfaatkan masa kuliah untuk membangun kompetensi sekaligus menghasilkan karya. Menurutnya, proses tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan lulusan yang memiliki bekal keilmuan dan pengalaman ketika kembali ke masyarakat.

Mengakhiri pesannya, Dr. Hadi mengucapkan selamat datang kepada seluruh mahasiswa baru FAI UNUSIDA. Ia berharap mahasiswa mampu menjalani perkuliahan dengan penuh semangat, aktif mengambil kesempatan, dan terus mengembangkan potensi diri.

“Selamat datang di Fakultas Agama Islam. Jangan hanya menjadi mahasiswa yang datang untuk kuliah, tetapi jadilah mahasiswa yang terus belajar, beraktivitas, berkarya, dan mengembangkan potensi,” pesannya.

Suasana Pembukaan KARISMA Fakultas Agama Islam 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

KARISMA FAI UNUSIDA 2026, Ajak Mahasiswa Baru Aktif Berorganisasi dan Kembangkan Pengalaman

SIDOARJO — Masa Kajian, Orientasi, dan Silaturahmi Mahasiswa (KARISMA) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) 2026 menjadi momentum bagi mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan kampus sekaligus mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akademik dan sosial selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa baru FAI UNUSIDA tidak hanya diperkenalkan dengan lingkungan akademik, tetapi juga diajak aktif mencari pengalaman melalui organisasi, kegiatan kemahasiswaan, serta berbagai aktivitas di luar ruang perkuliahan.

Ketua BEM FAI UNUSIDA, Wiwin Lestari, mengingatkan mahasiswa baru agar tidak menjadikan aktivitas kuliah sebatas datang ke kampus, mengikuti pembelajaran, kemudian langsung pulang. Menurutnya, masa perkuliahan merupakan kesempatan penting untuk memperluas pengalaman dan mengembangkan kemampuan yang nantinya dapat diterapkan di tengah masyarakat.

“Ilmu akademik adalah pembelajaran yang bisa kalian ikuti. Kuliah tidak harus pulang kuliah langsung pulang saja. Kalau seperti itu, pengalaman yang kalian dapatkan juga terbatas. Di kampus ini banyak pengalaman yang bisa kalian cari dan kembangkan untuk nantinya kalian bawa ketika terjun di masyarakat,” tuturnya saat menyampaikan sambutan dalam pembukaan KARISMA FAI 2026, Rabu (16/9/2026).

Ia juga menekankan bahwa mahasiswa FAI memiliki tanggung jawab lebih dalam mengembangkan keilmuan dan pengalaman, khususnya karena berada di lingkungan Fakultas Agama Islam. Pengalaman berorganisasi, berkomunikasi, bekerja sama, dan terlibat dalam berbagai kegiatan dinilai menjadi bagian penting dalam proses pembentukan mahasiswa.

“Apalagi kalian berada di Fakultas Agama Islam. Ada tuntutan untuk terus mengembangkan diri, bukan hanya dari sisi akademik, tetapi juga bagaimana ilmu dan pengalaman yang diperoleh dapat memberikan manfaat di masyarakat,” lanjutnya.

Sementara itu, Dekan FAI UNUSIDA, Feri Kuswanto, menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh mahasiswa baru yang telah memilih FAI UNUSIDA sebagai tempat melanjutkan pendidikan.

“Selamat bergabung di Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo. Kalian adalah mahasiswa yang terpilih dari sekian banyak anak yang memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Kesempatan yang baik ini mari kita gunakan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Feri menegaskan bahwa kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi tidak dimiliki oleh semua anak. Karena itu, mahasiswa diharapkan mampu memanfaatkan masa perkuliahan dengan sungguh-sungguh, baik dalam kegiatan akademik maupun pengembangan diri.

“Tidak semua anak di Indonesia mendapatkan kesempatan seperti ini. Maka di Fakultas Agama Islam, bagaimana mahasiswa mendapat kesempatan sebanyak-banyaknya untuk belajar, berkembang, dan memperoleh pengalaman,” jelasnya.

Ia juga mengajak mahasiswa baru untuk memandang masa perkuliahan sebagai proses menyiapkan masa depan. Setiap ilmu, pengalaman, dan proses yang dijalani selama menjadi mahasiswa merupakan bagian dari investasi untuk kehidupan setelah lulus.

“Percayalah, kita saat ini sedang menanam bibit kesuksesan dan akan memetik kesuksesan kelak,” pesannya.

Melalui KARISMA FAI UNUSIDA 2026, ia berharap mahasiswa baru tidak hanya mampu beradaptasi dengan lingkungan perguruan tinggi, tetapi juga memiliki semangat untuk belajar, aktif berorganisasi, mengembangkan potensi, serta membangun jejaring dan pengalaman sebagai bekal berkontribusi di tengah masyarakat.

“Jadikan momentum ini menjadi langkah awal bagi mahasiswa baru FAI UNUSIDA untuk menapaki perjalanan akademik sekaligus membangun karakter sebagai insan yang berilmu, berpengalaman, dan memiliki kepedulian sosial,” pungkasnya.

Warek 3 UNUSIDA Kobarkan Semangat Mahasiswa Baru FKIP 2026: Jangan Minder, Saatnya Berprestasi dan Berdampak 1

Warek 3 UNUSIDA Kobarkan Semangat Mahasiswa Baru FKIP 2026: Jangan Minder, Saatnya Berprestasi dan Berdampak

Sidoarjo, 15 September 2026 — Pekan Orientasi Keguruan (POKER) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) Tahun 2026 menjadi momentum penting bagi mahasiswa baru untuk memulai perjalanan akademiknya sebagai calon pendidik. Mengusung tema “Membentuk Generasi Pendidik yang Berkarakter, Berkarya, Berdampak”, kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan lingkungan fakultas, tetapi juga membangun mental, karakter, dan kepercayaan diri mahasiswa.

Salah satu pesan kuat disampaikan Wakil Rektor III Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo, Dr. H. Ali Masykuri, M.Pd., di hadapan mahasiswa baru FKIP. Ia mengajak seluruh mahasiswa untuk tidak pernah merasa minder, rendah diri, maupun menganggap diri sebagai kelompok yang kurang unggul hanya karena perbedaan jumlah mahasiswa pada masing-masing program studi.

Jangan pernah minder. Jangan pernah merasa rendah diri.” pesan Dr. Ali Masykuri kepada mahasiswa baru.

Menurutnya, jumlah mahasiswa dalam suatu program studi bukanlah ukuran utama untuk menentukan kualitas maupun peluang keberhasilan. Ia menegaskan bahwa seluruh mahasiswa memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, berprestasi, dan memberikan kontribusi terbaik bagi fakultas maupun universitas.

Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak membangun rasa superior hanya karena berada pada program studi dengan jumlah mahasiswa lebih banyak. Seluruh mahasiswa, baik dari program studi dengan jumlah besar maupun kecil, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari FKIP UNUSIDA.

“Kita semua adalah bagian dari FKIP,” tegasnya.

Dr. Ali Masykuri juga menegaskan bahwa FKIP merupakan fakultas yang memiliki kontribusi besar dalam perkembangan universitas. Keberadaan para dosen, pimpinan, mahasiswa, hingga alumni yang berkembang dan mengambil peran strategis menjadi bukti bahwa lingkungan FKIP memiliki potensi besar untuk melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Karena itu, mahasiswa baru didorong untuk tidak sekadar menjadi penerus, tetapi mampu melampaui pencapaian generasi sebelumnya. Menurutnya, apa yang telah dibangun oleh dosen dan mahasiswa terdahulu harus menjadi pijakan bagi mahasiswa baru untuk menciptakan prestasi yang lebih tinggi.

“Tugas kalian sekarang adalah meneruskan dan bahkan melampaui prestasi mahasiswa-mahasiswa sebelumnya,” ujarnya.

Ia juga meyakinkan mahasiswa bahwa keputusan memilih UNUSIDA dan FKIP merupakan pilihan yang tepat. Lingkungan kampus memberikan berbagai kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar, mengembangkan potensi, mengikuti kegiatan, membangun jejaring, dan meraih prestasi.

Momentum POKER kemudian menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Setelah sebelumnya mahasiswa mendapatkan informasi umum melalui kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di tingkat universitas, POKER memberikan pemahaman yang lebih spesifik mengenai FKIP, program studi, kehidupan akademik, serta proses perkuliahan.

Mahasiswa diminta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan sungguh-sungguh, menyerap berbagai informasi, serta tidak menganggap remeh setiap materi yang diberikan. Menurut Dr. Ali, berbagai informasi yang disampaikan selama orientasi merupakan bekal awal untuk menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.

Selain aspek akademik, Dr. Ali Masykuri memberikan penekanan khusus mengenai perubahan identitas dari siswa menjadi mahasiswa. Menurutnya, perubahan tersebut bukan sekadar pergantian status, melainkan harus diikuti dengan perubahan pola pikir, sikap, tanggung jawab, dan kemampuan mengatur diri.

Kalian sekarang sudah bukan siswa. Kalian sudah menjadi mahasiswa.” tegasnya.

Sebagai mahasiswa, setiap individu memiliki ruang yang lebih besar untuk mengatur dirinya sendiri. Mulai dari mengelola waktu, menentukan kegiatan, bertanggung jawab terhadap tugas, mengambil keputusan, hingga menjaga sikap dan penampilan ketika berada di lingkungan kampus.

Hal tersebut menjadi semakin penting bagi mahasiswa FKIP karena mereka dipersiapkan menjadi calon guru. Seorang pendidik tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik, tetapi juga harus mampu menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat.

Karena itu, karakter sebagai calon pendidik harus mulai dibangun sejak menjadi mahasiswa. Mahasiswa perlu memahami batas kebebasan, mampu menata diri, serta menunjukkan perilaku yang mencerminkan calon profesional di bidang pendidikan.

Dr. Ali juga mengajak mahasiswa untuk mulai menanamkan identitas sebagai mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari. Kalimat “Saya adalah mahasiswa” harus dimaknai sebagai kesiapan untuk menjadi pribadi yang lebih mandiri, mampu mengatur waktu, bertanggung jawab, mengambil keputusan, dan mengembangkan kedewasaan.

Ia berharap mahasiswa baru FKIP UNUSIDA 2026 mampu menjadikan POKER sebagai titik awal untuk mengenal fakultas, dosen, teman, lingkungan akademik, sekaligus membangun karakter sebagai calon pendidik.

Menutup sambutannya, Dr. Ali kembali membakar semangat mahasiswa agar tidak minder dan terus berani mengembangkan potensi. Ia mengajak mahasiswa untuk bangga menjadi bagian dari FKIP UNUSIDA, menjaga nama baik fakultas dan universitas, serta membuktikan bahwa mereka mampu menjadi generasi penerus yang lebih berprestasi dan bertanggung jawab.

POKER FKIP UNUSIDA 2026 pun menjadi langkah awal untuk menggelorakan semangat, membangun kepercayaan diri, dan meneguhkan karakter mahasiswa sebagai calon pendidik yang siap berproses, berkarya, dan memberikan dampak nyata bagi dunia pendidikan.