Dosen Prodi Manajemen UNUSIDA Berikan Pelatihan Public Speaking dan Live Selling di Dinas Koperasi, Usaha Kecil & Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Kota Mojokerto 1

Dosen Prodi Manajemen UNUSIDA Berikan Pelatihan Public Speaking dan Live Selling di Dinas Koperasi, Usaha Kecil & Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Kota Mojokerto

MOJOKERTO – Dosen Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), turut berkontribusi dalam meningkatkan kompetensi pelaku ekonomi kreatif melalui kegiatan pelatihan yang diselenggarakan di Dinas Koperasi, Usaha Kecil & Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Kota Mojokerto. Dalam kegiatan tersebut, dosen Prodi Manajemen UNUSIDA hadir sebagai narasumber dengan membawakan dua materi utama, yakni Public Speaking dan Live Selling di E-Commerce.

Kegiatan ini diikuti oleh para pelaku ekonomi kreatif Kota Mojokerto yang berasal dari berbagai bidang industri kreatif. Peserta terdiri atas content creator, live streamer, pembuat mural, digital agency, digital printing, fotografer, wedding organizer (WO), event organizer (EO), desainer, serta berbagai pelaku usaha kreatif lainnya.

Keberagaman latar belakang peserta menjadikan kegiatan ini sebagai ruang pembelajaran dan berbagi pengalaman yang relevan dengan perkembangan industri kreatif dan transformasi digital. Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan tidak hanya mampu menghasilkan produk atau karya kreatif, tetapi juga memiliki keterampilan komunikasi dan pemasaran digital yang efektif untuk memperluas jangkauan pasar.

Pada sesi pertama, narasumber menyampaikan materi mengenai Public Speaking. Materi ini menitikberatkan pada pentingnya kemampuan komunikasi dalam membangun personal branding, menyampaikan ide, mempresentasikan produk, serta menjalin hubungan dengan pelanggan maupun mitra bisnis.

Dalam dunia ekonomi kreatif, kemampuan berbicara di depan publik menjadi salah satu kompetensi penting. Pelaku usaha dituntut mampu mengomunikasikan nilai dan keunggulan produk secara menarik, meyakinkan, serta mudah dipahami oleh audiens. Kemampuan tersebut juga diperlukan ketika melakukan presentasi bisnis, membuat konten promosi, menghadapi klien, hingga membangun jejaring profesional.

Peserta mendapatkan pembekalan mengenai teknik dasar public speaking, mulai dari membangun kepercayaan diri, menyusun pesan komunikasi, mengatur intonasi dan artikulasi, menggunakan bahasa tubuh, mengelola ekspresi, hingga menyesuaikan gaya komunikasi dengan karakter audiens. Selain itu, peserta juga diajak memahami bagaimana komunikasi yang baik dapat meningkatkan kredibilitas dan profesionalitas pelaku ekonomi kreatif.

Menariknya, pada akhir sesi pertama, kegiatan tidak hanya diisi dengan penyampaian materi, tetapi juga dilanjutkan dengan praktik langsung melalui roleplay public speaking. Setiap peserta mendapatkan kesempatan untuk tampil satu per satu dengan memerankan berbagai peran komunikasi sesuai dengan konteks yang diberikan.

Beberapa bentuk praktik yang dilakukan di antaranya menjadi Master of Ceremony (MC), talking head atau berbicara langsung di depan kamera, motivator, moderator, presenter, pembawa berita, hingga menjadi seorang public speaker yang menyampaikan gagasan atau pesan tertentu di hadapan audiens.

Melalui praktik tersebut, peserta dapat mengasah keberanian, spontanitas, penguasaan materi, ekspresi, serta kemampuan menyampaikan pesan secara terstruktur. Kegiatan ini juga memberikan pengalaman nyata bagi peserta untuk mengenali karakter komunikasi masing-masing.

Setelah setiap peserta menyelesaikan praktiknya, narasumber memberikan evaluasi dan masukan secara langsung. Evaluasi dilakukan dengan mengidentifikasi aspek yang sudah menjadi kekuatan peserta sekaligus bagian yang masih perlu dikembangkan. Beberapa aspek yang menjadi perhatian meliputi artikulasi, intonasi, kontak mata, bahasa tubuh, ekspresi wajah, penguasaan panggung, kepercayaan diri, serta kemampuan membangun interaksi dengan audiens.

Pendekatan praktik dan evaluasi langsung ini diharapkan dapat membantu peserta memahami bahwa kemampuan public speaking tidak cukup hanya dipelajari melalui teori, tetapi perlu dilatih secara konsisten melalui pengalaman berbicara dan menerima umpan balik.

Memasuki sesi kedua, kegiatan dilanjutkan dengan materi Live Selling di E-Commerce. Pada sesi ini, pembahasan diarahkan pada pemanfaatan platform digital sebagai sarana pemasaran dan penjualan produk melalui siaran langsung atau live streaming.

Live selling menjadi salah satu strategi pemasaran digital yang semakin relevan karena memungkinkan penjual berinteraksi secara langsung dengan calon konsumen. Melalui fitur tersebut, pelaku usaha dapat memperkenalkan produk, menjelaskan manfaat dan keunggulannya, menjawab pertanyaan konsumen, memberikan penawaran khusus, serta mendorong terjadinya transaksi secara real time.

Peserta diperkenalkan pada berbagai aspek penting dalam menjalankan live selling, seperti persiapan sebelum siaran langsung, penentuan konsep dan tema, penyusunan script selling, teknik membuka percakapan, demonstrasi produk, membangun interaksi dengan audiens, hingga teknik menawarkan produk yang mampu mendorong keputusan pembelian.

Selain kemampuan berbicara, keberhasilan live selling juga dipengaruhi oleh pemahaman terhadap karakteristik konsumen, pemilihan platform e-commerce, kualitas visual dan audio, serta konsistensi dalam memproduksi konten pemasaran. Oleh karena itu, pelaku ekonomi kreatif perlu mengintegrasikan kemampuan komunikasi dengan strategi pemasaran digital agar aktivitas promosi tidak hanya menghasilkan interaksi, tetapi juga memberikan dampak terhadap penjualan.

Kedua materi tersebut saling berkaitan dan menjadi bekal penting bagi pelaku ekonomi kreatif dalam menghadapi persaingan bisnis yang semakin kompetitif. Public speaking menjadi fondasi dalam membangun komunikasi yang persuasif, sedangkan live selling menjadi salah satu sarana untuk mengimplementasikan keterampilan tersebut dalam aktivitas pemasaran dan penjualan digital.

Keikutsertaan dosen Prodi Manajemen UNUSIDA sebagai narasumber dalam kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mengimplementasikan ilmu pengetahuan dan keahlian akademik kepada masyarakat. Peran dosen tidak hanya terbatas pada kegiatan pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga mencakup pelatihan, pendampingan, serta pemberdayaan masyarakat melalui penerapan ilmu manajemen dan bisnis.

Bagi pelaku ekonomi kreatif, penguasaan keterampilan komunikasi dan pemasaran digital merupakan modal penting untuk meningkatkan daya saing. Kreativitas dalam menghasilkan produk dan jasa perlu didukung dengan kemampuan memasarkan, membangun citra usaha, serta menciptakan pengalaman positif bagi pelanggan.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para peserta dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam aktivitas bisnis masing-masing. Content creator dapat meningkatkan kualitas komunikasi dalam produksi konten, live streamer dapat mengembangkan teknik penjualan yang lebih persuasif, sementara pelaku usaha di bidang desain, fotografi, digital printing, WO, EO, dan industri kreatif lainnya dapat memanfaatkan keterampilan tersebut untuk memperluas jaringan serta menjangkau pelanggan potensial.

UNUSIDA melalui Program Studi Manajemen terus mendorong peran aktif dosen dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat, kolaborasi kelembagaan, serta pengembangan kompetensi pelaku usaha. Sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah menjadi langkah strategis dalam menciptakan ekosistem ekonomi kreatif yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing.

Melalui kontribusi nyata tersebut, UNUSIDA berkomitmen untuk terus menghadirkan pendidikan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan akademik, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat dan dunia usaha, sejalan dengan semangat Kampus Berdampak dan Kampus Wirausaha Muda.

KH. Abdul Mun’im DZ: Sejak Awal Berdiri, NU Memiliki Misi Merawat Jagat hingga Tingkat Internasional

SIDOARJO — Nahdlatul Ulama (NU) sejak awal berdiri telah memiliki visi perjuangan yang tidak hanya berorientasi pada kepentingan umat Islam di dalam negeri, tetapi juga mencakup upaya menjaga perdamaian dan kemaslahatan dunia. Semangat tersebut menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan Drs. K.H. Abdul Mun’im DZ dalam Webinar Nasional Hari Santri 2026 yang diselenggarakan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Rabu (21/10/2026), secara daring melalui Zoom Meeting.

Mengusung tema ‘Santri Go Internasional, Kontribusi Nahdlatul Ulama Merawat Jagat’, kegiatan ini menjadi ruang untuk mengulas kembali sejarah perjuangan NU sekaligus menggali relevansinya dalam menghadapi tantangan global. Dalam pemaparannya, K.H. Abdul Mun’im DZ menegaskan bahwa perjuangan umat Islam tidak semata-mata terbatas pada lingkungan pesantren. Meskipun NU lahir dari tradisi pesantren, cita-cita perjuangannya memiliki cakupan yang jauh lebih luas.

Menurutnya, tema merawat jagat bukanlah gagasan baru yang muncul karena mengikuti perkembangan zaman. Sejak awal pendiriannya, NU telah memiliki visi untuk berkontribusi dalam menjaga kehidupan, memperjuangkan kepentingan umat, serta menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat luas.

Ia menjelaskan bahwa kelahiran NU dilatarbelakangi oleh semangat para ulama dalam menjaga ajaran Islam dan memperjuangkan kepentingan umat ketika menghadapi berbagai tantangan. Salah satu bentuk perjuangan penting yang disorot adalah keterlibatan ulama Indonesia dalam merespons persoalan pelaksanaan ajaran Islam di Tanah Suci. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa ulama pesantren Indonesia memiliki keberanian dan kapasitas untuk mengambil peran dalam persoalan umat Islam pada tingkat internasional.

Lebih lanjut, K.H. Abdul Mun’im DZ mengungkapkan bahwa visi internasional NU sebenarnya telah tercermin dalam dokumen-dokumen organisasi sejak masa awal berdirinya. Salah satunya dapat ditelusuri melalui dokumen NU tahun 1928, ketika organisasi tersebut masih berusia sekitar tiga tahun.

Dalam catatan sejarah tersebut, NU menunjukkan perkembangan organisasi yang cukup pesat. Pergerakannya tidak hanya berkembang di wilayah Jawa, tetapi mulai menjangkau berbagai daerah di luar Jawa. Hal ini memperlihatkan bahwa sejak awal NU telah memiliki semangat untuk memperluas jangkauan perjuangan dan membangun kontribusi yang lebih besar.

Ia menambahkan, cita-cita untuk menjadikan NU sebagai organisasi yang memiliki kepedulian terhadap persoalan dunia telah diletakkan sejak generasi pendahulu. Karena itu, upaya membawa santri dan NU ke tingkat internasional sejatinya merupakan kelanjutan dari fondasi perjuangan yang telah dibangun oleh para ulama terdahulu.

Salah satu bukti nyata kontribusi NU dalam percaturan internasional juga terlihat melalui perjuangan pembebasan Irian Barat. K.H. Abdul Mun’im DZ menyoroti peran NU melalui kekuatan politiknya pada masa itu, khususnya ketika dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti K.H. Abdul Wahab Hasbullah.

Di tengah situasi ketika belum banyak kekuatan politik yang secara serius memperjuangkan persoalan tersebut melalui forum internasional, NU mengambil bagian dalam mendukung langkah pemerintah Indonesia. Perjuangan dilakukan dengan membangun dukungan dari negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), memengaruhi pandangan negara lain, serta memperkuat posisi Indonesia dalam memperjuangkan pembebasan Irian Barat.

Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan bahwa NU tidak hanya berperan dalam urusan keagamaan dan pendidikan pesantren, tetapi juga memiliki kontribusi dalam perjuangan kebangsaan dan diplomasi internasional. Keterlibatan NU dalam persoalan Irian Barat menjadi gambaran bagaimana organisasi keagamaan dapat mengambil peran strategis dalam memperjuangkan kepentingan bangsa di hadapan dunia.

Dari berbagai catatan sejarah tersebut, K.H. Abdul Mun’im DZ mengajak generasi santri untuk memahami bahwa semangat go international bukan sekadar tuntutan zaman atau upaya mengikuti tren globalisasi. Lebih dari itu, semangat tersebut merupakan bagian dari cita-cita perjuangan NU yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

“Saya mempunyai kespektasi bahwa santri masa kini mampu melanjutkan perjuangan tersebut dengan meningkatkan kapasitas keilmuan, memperluas wawasan, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan dan perdamaian dunia. Nilai-nilai pesantren harus tetap menjadi landasan dalam menghadapi perkembangan global, sehingga kemajuan yang dicapai tidak membuat generasi santri kehilangan identitas dan akar perjuangannya,” pesannya.

Pemikiran tersebut sekaligus mempertegas bahwa menjadi santri bukan berarti hanya berkiprah di lingkungan pesantren. Santri dapat hadir dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, politik, sosial, ekonomi, diplomasi, hingga pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ketua tim penyusun buku biografi K.H. Abdul Wahab Hasbullah (KH. Abdul Wahab Hasbullah Pendiri NU Penggerak NKRI) tersebut memberikan perspektif bahwa kontribusi Nahdlatul Ulama dalam merawat jagat memiliki akar sejarah yang kuat. Generasi santri saat ini memiliki tanggung jawab untuk meneruskan warisan perjuangan tersebut dengan menghadirkan gagasan, karya, dan pengabdian yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dunia.

“Semangat Santri Go Internasional bukan hanya tentang kemampuan bersaing di tingkat global, melainkan juga tentang bagaimana membawa nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin, tradisi pesantren, dan semangat kebangsaan untuk ikut merawat kehidupan serta membangun perdamaian dunia,” tuturnya.

Tampak ratusan Ratusan Dosen dan Mahasiswa UNUSIDA Sukseskan Upacara Hari Santri PCNU Sidoarjo. (Foto: Humas UNUSIDA)

Civitas Akademika UNUSIDA Sukseskan Upacara Hari Santri 2026 PCNU Sidoarjo, Ajak Santri Peduli Lingkungan

SIDOARJO — Civitas akademika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) turut menyukseskan upacara peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 yang diselenggarakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sidoarjo di Kampus UNUSIDA, kawasan Lingkar Timur, Sidoarjo, Kamis (22/10/2026) pagi.

Keterlibatan tersebut melibatkan seluruh unsur kampus, mulai dari dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, hingga tenaga operasional. Selain mengikuti upacara, sejumlah civitas akademika juga mengambil peran dalam berbagai tugas guna mendukung kelancaran seluruh rangkaian kegiatan.

Salah satu peserta upacara, Lili Itaurrahmah, mahasiswi Program Studi Manajemen UNUSIDA, mengungkapkan bahwa Hari Santri Nasional bukan sekadar momentum untuk mengenang sejarah perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Lebih dari itu, peringatan ini menjadi kesempatan untuk memperluas makna pengabdian santri dalam menjawab berbagai tantangan kebangsaan masa kini.

Menurut Duta Fakultas Ekonomi tersebut, jika dahulu santri berjuang mempertahankan kedaulatan bangsa, saat ini semangat perjuangan dapat diwujudkan melalui berbagai ikhtiar, termasuk menjaga kelestarian lingkungan, memperjuangkan hak masyarakat atas udara bersih, serta mengawal kebijakan publik yang berpihak pada keselamatan rakyat.

“Perjuangan santri hari ini tidak hanya tentang mengenang sejarah, tetapi juga bagaimana nilai-nilai perjuangan itu kita hadirkan untuk menjawab persoalan masyarakat, termasuk persoalan lingkungan,” tegasnya.

Ia menjelaskan, dalam tradisi Islam yang menjadi landasan pendidikan pesantren, manusia memiliki tanggung jawab sebagai khalifah fil ardh, yakni pengelola bumi yang berkewajiban menjaga keseimbangan dan menghindari kerusakan. Prinsip tersebut sejalan dengan semangat hifzh al-bi’ah, yaitu menjaga lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab etis dan keagamaan.

Karena itu, persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta pencemaran udara tidak semestinya dipandang sebagai isu yang terpisah dari kehidupan keagamaan. Kerusakan lingkungan berkaitan langsung dengan keselamatan manusia, keberlangsungan kehidupan, dan keadilan sosial.

Lili juga menyoroti kelompok masyarakat rentan yang kerap menanggung dampak paling berat ketika bencana terjadi. Anak-anak, lanjut usia, masyarakat berpenghasilan rendah, serta warga yang tinggal di kawasan rawan kebakaran membutuhkan perhatian khusus dalam kebijakan pencegahan maupun penanganan bencana.

Baginya, mahasiswa NU perlu meningkatkan empati dan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bentuk pengamalan nilai keagamaan sekaligus tanggung jawab sebagai warga negara. Langkah tersebut dapat dimulai dari hal sederhana, seperti edukasi lingkungan, kampanye pencegahan pembakaran lahan, penyebaran informasi resmi, kegiatan penghijauan, hingga pengawasan terhadap kebijakan publik sesuai kapasitas masing-masing.

Ia berharap, semangat Hari Santri dapat terus diwujudkan melalui kontribusi nyata dalam bidang pendidikan, sosial, kebangsaan, dan kepedulian terhadap lingkungan.

“Mahasiswa NU tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Kader muda NU perlu membangun tradisi berpikir kritis, membaca persoalan secara utuh, serta menyampaikan aspirasi masyarakat dengan argumentasi yang kuat dan bertanggung jawab,” katanya.

Sementara itu, Ketua PCNU Kabupaten Sidoarjo, KH Zainal Abidin, dalam amanat upacara mengajak para santri dan kader NU untuk melanjutkan perjuangan para ulama dan pejuang bangsa dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ia mengingatkan bahwa peringatan Hari Santri bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan momentum untuk mengambil inspirasi dari pengorbanan para kiai dan santri yang telah mempertaruhkan jiwa, raga, harta, serta waktu demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Pagi hari ini, di tengah terik matahari, kita bersama-sama berkhidmah mengikuti upacara peringatan Hari Santri Nasional. Panasnya matahari yang kita rasakan belum ada apa-apanya dibandingkan dengan pengorbanan para mujahid dan syuhada,” tuturnya.

Kiai Zainal juga menegaskan pentingnya menjaga tradisi baik yang diwariskan para pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus mempersiapkan diri menghadapi perkembangan zaman. Menurutnya, generasi penerus harus mampu menjawab berbagai tantangan, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Ia mengajak seluruh kader NU menjadikan semangat Resolusi Jihad sebagai inspirasi untuk memperkuat pengabdian kepada agama, masyarakat, dan negara.

“Jangan hanya sekadar berupacara dan mengibarkan bendera Merah Putih, tetapi mari kita jadikan Hari Santri sebagai inspirasi besar dalam jiwa kita,” pesannya.

Tangkapan Layar YouTube UNUSIDA TV saat Webinar Nasional Hari Santri 2026

Webinar Nasional Hari Santri 2026, UNUSIDA Dorong Santri Go Internasional dan Berkontribusi Merawat Jagat

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengkajian Islam dan Keaswajaan (PIK) menyelenggarakan Webinar Nasional dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026 pada Rabu (21/10/2026) secara daring melalui Zoom Meeting. Mengusung tema ‘Santri Go Internasional, Kontribusi Nahdlatul Ulama Merawat Jagat’, kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan wawasan bagi generasi santri untuk mengambil peran lebih luas di tingkat nasional maupun internasional.

Webinar tersebut menghadirkan Drs. K.H. Abdul Mun’im DZ sebagai narasumber. Kegiatan ini diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan. Dalam sambutannya, Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan. Ia menyebutkan bahwa jumlah peserta yang tercatat mencapai 267 orang dan terus mengalami peningkatan.

Dalam kesempatan tersebut Dr. Hadi Ismanto menegaskan bahwa pembahasan mengenai santri dan Nahdlatul Ulama (NU) tidak dapat dilepaskan dari keberadaan pesantren. Pesantren merupakan embrio sekaligus fondasi penting dalam perjalanan dan perkembangan NU. Meskipun seseorang tidak secara langsung menempuh pendidikan di pesantren, identitas santri tetap memiliki keterkaitan dengan nilai-nilai perjuangan, keilmuan, dan tradisi Nahdlatul Ulama.

Ia juga menyoroti besarnya potensi sumber daya manusia yang dimiliki NU. Berdasarkan data yang disampaikan dalam sambutannya, terdapat puluhan ribu pesantren dengan jutaan santri yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama. Potensi tersebut juga terlihat dalam bidang pendidikan tinggi. Ia menyampaikan bahwa terdapat sekitar 285 perguruan tinggi yang terafiliasi dengan NU, dengan 44 di antaranya berbadan hukum Nahdlatul Ulama serta jumlah mahasiswa yang mencapai sekitar 500 ribu orang.

Menurutnya, besarnya potensi tersebut perlu diiringi dengan upaya penguatan kualitas sumber daya manusia agar mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Tantangan selanjutnya bukan sekadar memiliki jumlah pesantren, santri, dan perguruan tinggi yang besar, melainkan bagaimana seluruh potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi kekuatan yang mampu bersaing di tingkat global.

“Bagaimana kita merawat potensi yang begitu besar ini? Kemudian, apa yang harus dimiliki oleh santri sehingga mampu go internasional?” menjadi salah satu pertanyaan penting yang perlu dijawab bersama melalui peningkatan kualitas pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan, dan penguatan kompetensi.

Lebih lanjut, Dr. Hadi Ismanto mengajak peserta untuk merefleksikan peran mahasiswa sekaligus santri dalam menjaga dan membangun bangsa. Menurutnya, generasi muda NU perlu mempersiapkan bekal yang memadai agar mampu berkontribusi di tengah perkembangan dunia yang semakin kompetitif. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, integritas, dan kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan.

“Semoga kegiatan ini mampu menumbuhkan kebanggaan sebagai bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama sekaligus mendorong lahirnya generasi santri yang berwawasan luas, kompetitif, dan memiliki kontribusi nyata bagi masyarakat. Sebab, perjuangan santri hari ini tidak hanya tentang menjaga warisan para pendahulu, tetapi juga tentang menghadirkan solusi, membangun peradaban, dan merawat jagat melalui karya serta pengabdian yang berdampak,” harapnya.

Sementara itu, Kepala UPT PIK UNUSIDA, H. Arisy Karomi, dalam pengantarnya menjelaskan bahwa kehadiran narasumber dalam webinar ini memiliki tujuan lebih dari sekadar berbagi pengetahuan. Kegiatan tersebut juga menjadi upaya menyambungkan pemikiran dan sanad perjuangan antara tokoh NU dengan generasi muda.

Ia berharap pertemuan secara daring ini dapat menjadi kesempatan bagi para kader dan mahasiswa untuk mengenal lebih dekat pemikiran serta pengalaman perjuangan narasumber, meskipun belum pernah bertemu secara langsung.

Menurut H. Arisy Karomi, kesinambungan pemikiran merupakan bagian penting dalam menjaga keberlanjutan perjuangan organisasi. Dari pemahaman terhadap pemikiran para tokoh, generasi muda diharapkan dapat meneruskan nilai perjuangan, membangun pergerakan, dan mengambil peran dalam menjawab tantangan zaman.

Ia juga mengungkapkan bahwa narasumber memiliki pengalaman dan kontribusi dalam berbagai proses perdamaian serta penyelesaian konflik. Melalui jalur organisasi dan pendekatan sosial-keagamaan, NU dinilai memiliki ruang untuk berkontribusi dalam membangun perdamaian, menjembatani perbedaan, serta merawat kehidupan masyarakat di tengah berbagai dinamika.

Selain itu, H. Arisy Karomi turut menyinggung perjalanan awal berdirinya UNUSIDA. Ia menyampaikan bahwa proses pengajuan pendirian universitas telah dimulai sejak 2010 dan menghadapi tantangan kebijakan moratorium perguruan tinggi. Dalam proses tersebut, terdapat kontribusi berbagai pihak, termasuk tokoh-tokoh yang turut memperjuangkan kebijakan agar pendirian perguruan tinggi dapat kembali memperoleh ruang.

Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa keberadaan UNUSIDA saat ini merupakan hasil dari proses panjang, ikhtiar, dan perjuangan berbagai pihak. Nilai perjuangan inilah yang diharapkan dapat dipahami serta diteruskan oleh generasi muda NU.

Melalui webinar ini, ia mengajak peserta untuk melihat bahwa menjadi santri tidak membatasi seseorang untuk berkembang dan berkiprah di tingkat global. Sebaliknya, nilai-nilai kepesantrenan seperti keilmuan, akhlak, kemandirian, toleransi, dan kepedulian sosial dapat menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan internasional.

“Peringatan Hari Santri Nasional 2026 menjadi momentum bagi UNUSIDA untuk memperkuat identitas sebagai perguruan tinggi yang berakar pada tradisi Nahdlatul Ulama, tetapi tetap terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan dinamika global,” tuturnya.

Penandatanganan kerja sama Prodi PIAUD UNUSIDA dengan PERGUNU Sidoarjo dilaksanakan dalam rangkaian Workshop dan Pelepasan Praktik Pengalaman Lapangan (PLP) dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik FAI UNUSIDA. (Foto: Humas UNUSIDA)

PIAUD UNUSIDA Gandeng Pergunu Sidoarjo, Siapkan Kolaborasi Pengembangan Guru

SIDOARJO — Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menjalin kerja sama dengan Pimpinan Cabang (PC)  Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Sidoarjo. Penandatanganan Implementation Agreement (IA) tersebut dilaksanakan dalam rangkaian Workshop dan Pelepasan Praktik Pengalaman Lapangan (PLP) dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik FAI UNUSIDA di Hall Lantai 5 Gedung A, Rabu (28/10/2026).

Kepala Program Studi (Kaprodi) PIAUD UNUSIDA, Rif’atul Anita, menyambut baik terjalinnya kerja sama tersebut. Menurutnya, kolaborasi dengan PC Pergunu Sidoarjo merupakan peluang untuk memperluas kontribusi perguruan tinggi dalam pengembangan kualitas guru, khususnya di lingkungan lembaga pendidikan NU.

Ia menegaskan bahwa PIAUD UNUSIDA berkomitmen untuk turut mengambil peran dalam meningkatkan kualitas dan kompetensi guru melalui kerja sama, pengembangan keilmuan, serta kegiatan akademik yang relevan dengan kebutuhan lembaga pendidikan.

“Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan organisasi profesi guru, khususnya dalam meningkatkan kompetensi serta kualitas tenaga pendidik di lingkungan lembaga pendidikan Nahdlatul Ulama,” ujarnya.

Ke depan, ia menekankan untuk kolaboratif dalam menghadirkan berbagai program kolaboratif yang berdampak langsung terhadap peningkatan kompetensi guru, penguatan kualitas pembelajaran, serta pengembangan sumber daya manusia di lingkungan pendidikan Nahdlatul Ulama.

“Perguruan tinggi tidak hanya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam menjawab kebutuhan dan tantangan dunia pendidikan di tengah masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua PC Pergunu Sidoarjo, Ahmad Anwar menyampaikan bahwa kerja sama tersebut dibangun dengan semangat sinergi dan prinsip saling menguntungkan atau simbiosis mutualisme.

“Melalui kerja sama ini, kami akan saling bersinergi. Harapannya, kolaborasi ini dapat meningkatkan kompetensi guru-guru di Sidoarjo, baik yang mengajar di TK, MI, SMP, Aliyah, maupun satuan pendidikan lainnya,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa kerja sama dengan UNUSIDA memiliki cakupan yang lebih luas karena direncanakan melibatkan empat fakultas. Namun, kolaborasi yang mulai direalisasikan saat ini merupakan langkah awal melalui Program Studi PIAUD.

Menurutnya, kerja sama tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi pengembangan kolaborasi dengan program studi dan fakultas lainnya di lingkungan UNUSIDA. Setelah kerja sama dengan PIAUD berjalan baik, Pergunu berharap sinergi serupa dapat diperluas ke bidang pendidikan lainnya, termasuk jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI).

“Alhamdulillah, terima kasih kepada UNUSIDA yang telah menjalin kerja sama dengan kami. Ini menjadi langkah awal. Insyaallah, ketika kerja sama dengan PIAUD dan MI berjalan baik, ke depan dapat dilanjutkan bersama fakultas yang lain,” tambahnya.

Mahasiswa UNUSIDA berpartisipasi dalam kegiatan Pelatihan Cloud Computing dan Generative AI AWS Technology bagi Mahasiswa Disabilitas yang diselenggarakan DIC UNESA. (Foto: Humas UNUSIDA)

Mahasiswa UNUSIDA Ikuti Pelatihan Cloud Computing dan Generative AI di UNESA

SURABAYA — Tiga mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) berpartisipasi dalam kegiatan Pelatihan Cloud Computing dan Generative AI AWS Technology bagi Mahasiswa Disabilitas yang diselenggarakan Disability Innovation Center (DIC) Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Senin (26/10/2026).

Ketiga mahasiswa tersebut adalah Ganis dari Program Studi Informatika angkatan 2024 kelas B, Fathul Mubin dari Desain Komunikasi Visual (DKV) angkatan 2025 kelas B, serta Robith Adani dari Program Studi Informatika angkatan 2026 kelas A.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai 4 Gedung O6 Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA ini merupakan kolaborasi DIC UNESA bersama Yayasan Sagasitas Indonesia, Amazon Web Services (AWS), dan Telkomsel. Pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kompetensi digital sekaligus memperluas akses teknologi yang inklusif bagi mahasiswa penyandang disabilitas.

Pelatihan ini dirancang untuk membekali peserta dengan keterampilan teknologi masa kini sekaligus mempersiapkan mereka menuju sertifikasi internasional AWS Certified AI Practitioner.

Materi yang diberikan meliputi pengenalan Cloud Computing dan AWS Technology, pendaftaran serta pemanfaatan platform AWS Skill Builder, pengenalan Generative AI, praktik langsung penggunaan kecerdasan buatan generatif, hingga presentasi proyek mahasiswa.

Salah satu peserta, Fathul Mubin, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, materi yang disampaikan memberikan pengalaman dan pengetahuan baru yang bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan, khususnya soft skill dan kompetensi digital.

“Saya senang sekali mengikuti kegiatan ini. Materi yang disampaikan sangat membantu dalam meningkatkan soft skill serta menambah wawasan tentang perkembangan teknologi digital,” ungkapnya.

Menurutnya, kegiatan ini menjadi salah satu langkah untuk membuka kesempatan belajar yang lebih luas bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Melalui pelatihan berbasis teknologi, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan potensi diri, meningkatkan kepercayaan diri, serta memiliki daya saing dalam menghadapi perkembangan dunia kerja digital.

“Alhamdulillah, terima kasih UNUSIDA dan UNESA. Kegiatan ini sangat penting bagi kami dalam mengembangkan jejaring keilmuan. Kami sangat mengaharapkan kampus di Indonesia dapat menyediakan pendidikan tinggi yang inklusif seperti ini, yakni memberikan kesempatan yang setara bagi setiap mahasiswa untuk mengakses pengetahuan, teknologi, dan pengalaman belajar tanpa terkecuali,” tandasnya.

UNUSIDA resmi membuka Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Tahun Akademik 2027/2028 melalui prosesi pelepasan sembilan ekor burung merpati di halaman Kampus UNUSIDA. (Foto: Humas UNUSIDA)

Lepas Sembilan Merpati, UNUSIDA Resmi Buka PMB Tahun Akademik 2027/2028

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) resmi membuka Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Tahun Akademik 2027/2028 melalui prosesi pelepasan sembilan ekor burung merpati di halaman Kampus 2 UNUSIDA, Kamis (22/10/2026). Prosesi simbolis ini menjadi penanda dimulainya perjalanan penerimaan mahasiswa baru sekaligus membawa pesan tentang harapan, keteguhan, dan cita-cita generasi masa depan.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) PMB UNUSIDA, Achmad Wahyudi, menjelaskan bahwa pemilihan sembilan ekor burung merpati jenis megan memiliki filosofi tersendiri. Angka sembilan merepresentasikan nilai-nilai luhur Bintang Sembilan serta semangat menebarkan keberkahan dan ilmu pengetahuan.

Menurutnya, merpati menjadi simbol keteguhan, kebijaksanaan, dan harapan dalam menggapai masa depan. Sementara itu, prosesi pelepasan yang dilakukan bersama Plt. Rektor, Wakil Rektor II, Wakil Rektor III, jajaran dekanat, dan Tim PMB UNUSIDA mencerminkan sinergi serta komitmen seluruh elemen kampus dalam membuka jalan bagi generasi penerus yang berilmu, berakhlak, dan unggul.

“Terbang tinggi meraih cita-cita, melangkah bersama menuju masa depan gemilang bersama UNUSIDA,” menjadi semangat yang diusung dalam pembukaan PMB tahun akademik mendatang.

Ia mengajak generasi muda untuk mempersiapkan diri dan menjadi bagian dari keluarga besar kampus yang mengusung semangat Religius Campus with Entrepreneurship Spirit.

“Sebagaimana filosofi pelepasan sembilan merpati, semoga setiap mahasiswa UNUSIDA mampu terbang tinggi meraih cita-cita, berbekal ilmu pengetahuan, akhlak mulia, serta nilai-nilai keislaman dan ke-NU-an,” terangnya.

Dukungan terhadap penerimaan mahasiswa baru juga disampaikan Ketua PCNU Sidoarjo, Muhammad Zainal Abidin. Ia mengajak seluruh kader Nahdlatul Ulama, khususnya di Sidoarjo dan umumnya di seluruh Indonesia, termasuk calon mahasiswa dari luar negeri, untuk melanjutkan pendidikan tinggi di UNUSIDA.

“Saya Muhammad Zainal Abidin, Ketua PCNU Sidoarjo. Mari seluruh kader-kader Nahdlatul Ulama yang ada di Sidoarjo khususnya, seluruh Indonesia pada umumnya, dan mungkin mahasiswa dari luar negeri, mari kita belajar bersama-sama di Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo,” tuturnya.

Ia berharap, para mahasiswa yang menempuh pendidikan di UNUSIDA memperoleh ilmu yang bermanfaat dengan pendampingan para kiai dan masyaikh.

“Mudah-mudahan dengan belajar di UNUSIDA, ilmu panjenengan semua akan menjadi ilmu yang bermanfaat karena dikawal oleh para kiai dan para masyaikh. Semua cita-cita itu akan menjadi nyata,” imbuhnya.

Timeline Pendaftaran
Seiring dibukanya PMB Tahun Akademik 2027/2028, UNUSIDA menyediakan empat periode pendaftaran bagi calon mahasiswa baru. Pada Gelombang 1, pendaftaran berlangsung mulai 22 Oktober 2026 hingga 8 Januari 2027. Khusus pendaftar Gelombang 1, UNUSIDA menghadirkan promo spesial berupa diskon 20% biaya pendaftaran.

Adapun jadwal penerimaan mahasiswa baru UNUSIDA Tahun Akademik 2027/2028 sebagai berikut:

  • Gelombang 1: 22 Oktober 2026 – 8 Januari 2027.
  • Gelombang 2: 11 Januari – 2 April 2027.
  • Gelombang 3: 5 April – 2 Juli 2027.
  • Gelombang 4: 5 Juli – 27 Agustus 2027.

Calon mahasiswa dapat melakukan pendaftaran secara daring melalui laman resmi www.pmb.unusida.ac.id. Pendaftaran secara langsung juga tersedia di Kampus UNUSIDA, Jalan Lingkar Timur KM 5,5, Rangkah Kidul, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur 61234, pada hari Senin hingga Jumat.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UNUSIDA, Dr. H. Ali Masykuri, saat menyampaikan sambutan dalam Workshop Bina Talenta DPR RI Komisi X dan Kemdiktisaintek. (Foto: Humas UNUSIDA)

Wakil Rektor III UNUSIDA Ajak Mahasiswa Kembangkan Inovasi Solutif dan Berdampak bagi Masyarakat

SIDOARJO — Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Dr. H. Ali Masykuri, mengajak mahasiswa untuk terus mengembangkan potensi, kreativitas, dan inovasi yang mampu menghadirkan solusi nyata bagi persoalan masyarakat. Menurutnya, pengembangan talenta mahasiswa harus dilakukan secara terencana, sistematis, dan berkelanjutan dengan memperhatikan keunikan potensi masing-masing individu.

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Workshop Bina Talenta DPR RI Komisi X dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama UNUSIDA yang mengusung tema ‘Sinergi Kebijakan Pendidikan Tinggi, Riset, dan Inovasi dalam Mewujudkan Generasi Unggul, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan’, di Hall Lantai 5 Gedung A Kampus UNUSIDA, Lingkar Timur KM 5,5 Rangkah Kidul, Sidoarjo, Sabtu (31/10/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Ali Masykuri menyampaikan apresiasi atas kepercayaan dan kolaborasi DPR RI Komisi X bersama Kemdiktisaintek yang telah menghadirkan Workshop Bina Talenta di lingkungan UNUSIDA. Ia berharap kegiatan tersebut dapat memberikan wawasan, masukan, sekaligus dukungan bagi pengembangan kualitas pendidikan tinggi dan pembinaan mahasiswa.

Menurutnya, pengembangan talenta mahasiswa tidak dapat dilakukan secara instan ataupun sekadar mengikuti tren. Perguruan tinggi perlu memiliki peta jalan (roadmap) yang jelas, terencana, dan sistematis dengan menjadikan keunikan potensi mahasiswa sebagai dasar pengembangan.

“Pengembangan talenta harus memiliki roadmap yang terencana dan sistematis. Kita tidak bisa melakukannya secara asal-asalan, tetapi harus melihat potensi yang dimiliki mahasiswa, kemudian memberikan ruang, kesempatan, dan pendampingan agar potensi tersebut dapat berkembang secara optimal,” jelasnya.

Ia menambahkan, keberhasilan pengembangan talenta tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mahasiswa secara individu, tetapi juga membutuhkan ekosistem pendukung yang kuat. Ekosistem tersebut melibatkan dosen, tenaga kependidikan, pimpinan perguruan tinggi, mentor, serta berbagai pemangku kepentingan yang dapat memberikan dukungan sesuai kapasitas masing-masing.

Wakil Sekretaris PCNU Sidoarjo tersebut mengibaratkan pengembangan talenta sebagai pertemuan antara potensi, kesempatan, dan dukungan yang tepat. Mahasiswa yang memiliki kemampuan perlu diberikan ruang untuk berkembang, didampingi mentor yang kompeten, serta difasilitasi melalui jejaring dan sarana pendukung yang tersedia.

“Penghargaan capaian mahasiswa ini penting. Akan tetapi, apresiasi tidak harus selalu berbentuk finansial atau bantuan bisnis, tetapi dapat diwujudkan melalui pengakuan, dukungan, kesempatan pengembangan diri, dan bentuk penghargaan lain sesuai kemampuan institusi,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Ali Masykuri menjelaskan bahwa UNUSIDA berkomitmen membangun sistem pembinaan talenta mahasiswa secara berkelanjutan. Upaya tersebut dimulai melalui pemetaan minat, bakat, dan kemampuan mahasiswa sejak proses penerimaan mahasiswa baru hingga kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB).

Hasil pemetaan kemudian menjadi dasar dalam menyusun program pembinaan dan pendampingan sesuai potensi mahasiswa. UNUSIDA juga melibatkan dosen dan tenaga kependidikan untuk mendukung pengembangan kompetensi, kreativitas, serta prestasi mahasiswa selama menempuh pendidikan.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai program pengembangan prestasi, kreativitas, dan kewirausahaan mahasiswa. Beberapa program yang menjadi perhatian di antaranya Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW), serta Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa).

Selain itu, UNUSIDA terus mempersiapkan mahasiswa untuk mengikuti berbagai kompetisi dan program rekognisi yang diselenggarakan oleh kementerian maupun lembaga terkait. Persiapan dilakukan sejak tingkat universitas agar mahasiswa memiliki bekal kompetensi dan kesiapan sebelum berkompetisi pada tingkat yang lebih tinggi.

Dalam mendukung proses tersebut, UNUSIDA mengembangkan sistem dokumentasi prestasi dan rekognisi mahasiswa melalui SIPOMA (Sistem Poin Mahasiswa). Sistem ini memungkinkan berbagai aktivitas dan capaian mahasiswa, mulai dari kompetisi, prestasi, seminar, hingga kegiatan pengembangan kompetensi lainnya, terdokumentasi secara lebih terstruktur.

Data yang dihimpun melalui SIPOMA selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai salah satu dasar penyusunan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI). Dengan demikian, pengalaman dan capaian mahasiswa selama perkuliahan dapat tercatat secara terukur dan berbasis data.

Lebih jauh, Ali Masykuri menyoroti pentingnya mengarahkan hasil penelitian dan inovasi perguruan tinggi agar tidak berhenti pada publikasi ilmiah semata. Menurutnya, perguruan tinggi perlu memastikan bahwa hasil riset dapat diterapkan dan memberikan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Ia menilai bahwa tidak sedikit hasil penelitian yang memiliki kualitas akademik tinggi, tetapi belum sepenuhnya mampu menjawab persoalan nyata di lingkungan masyarakat. Karena itu, diperlukan upaya untuk menjembatani hasil penelitian dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat, termasuk kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap teknologi maupun sumber daya.

“Perguruan tinggi harus transformatif dan mampu menghasilkan solusi. Jangan sampai penelitian yang kita lakukan hasilnya luar biasa secara akademik, tetapi belum bisa menjadi solusi atau belum memberikan manfaat bagi masyarakat. Ini yang harus kita benahi bersama agar inovasi benar-benar menjadi budaya,” tegasnya.

Menurutnya, inovasi harus dibangun sebagai budaya di lingkungan perguruan tinggi. Mahasiswa tidak cukup hanya didorong menghasilkan gagasan kreatif, tetapi juga perlu dibimbing untuk mengembangkan gagasan tersebut menjadi karya, produk, maupun program yang memiliki kebermanfaatan sosial.

Ia menegaskan bahwa talenta mahasiswa merupakan aset bangsa yang perlu dikembangkan melalui ekosistem pendidikan tinggi yang inklusif, kolaboratif, dan berorientasi pada solusi. Dengan perencanaan yang matang, pendampingan berkelanjutan, serta penguatan riset dan inovasi, mahasiswa UNUSIDA harus mampu tumbuh menjadi generasi unggul, berdaya saing, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan pembangunan Indonesia.

“Semoga melalui workshop ini dapat terbangun sinergi yang semakin kuat antara perguruan tinggi, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan dalam mendukung pembinaan talenta mahasiswa.

Anggota Komisi X DPR RI Daerah Pemilihan Jawa Timur I (Surabaya–Sidoarjo), Adela Kanasya Adies saat menyampaikan keynote speaker dalam Workshop Bina Talenta di UNUSIDA. (Foto: Humas UNUSIDA)

Workshop Bina Talenta di UNUSIDA, Anggota DPR RI Komisi X Dorong Mahasiswa Siap Hadapi Era AI

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menjadi tuan rumah penyelenggaraan Workshop Bina Talenta hasil kolaborasi DPR RI Komisi X dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Kegiatan ini erlangsung di Hall Lantai 5 Gedung A Kampus UNUSIDA, Lingkar Timur KM 5,5 Rangkah Kidul, Sidoarjo, Sabtu (31/10/2026).

Dengan mengusung tema ‘Sinergi Kebijakan Pendidikan Tinggi, Riset, dan Inovasi dalam Mewujudkan Generasi Unggul, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan’, kegiatan yang diikuti sekitar 120 peserta yang terdiri atas dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa UNUSIDA ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat kolaborasi dalam pengembangan talenta mahasiswa dan menghadapi tantangan pendidikan tinggi di era transformasi digital.

Workshop . Hadir sejumlah narasumber terkemuka, di antaranya Prof. Junaidi Khotib, S.Si., M.Kes., Ph.D., Apt. (Narasumber 1), Dr. Ng. Tirto Adi, M.Pd. (Narasumber 2), dan Dr. H. Ali Masykuri, S.Pd., M.Pd.I. (Narasumber 3).

Dalam kesempatan tersebut, Anggota Komisi X DPR RI Daerah Pemilihan Jawa Timur I (Surabaya–Sidoarjo), dr. Adela Kanasya Adies menyoroti pentingnya kesiapan generasi muda dalam menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Menurutnya, tantangan pendidikan Indonesia saat ini bukan hanya memastikan masyarakat memperoleh akses pendidikan tinggi, melainkan juga menjamin lulusan perguruan tinggi memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah berbagai sektor pekerjaan. Sejumlah profesi baru bermunculan, bahkan jenis pekerjaan yang sebelumnya belum terpikirkan satu dekade lalu kini mulai menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Kondisi tersebut menuntut mahasiswa untuk terus belajar, meningkatkan keterampilan, dan memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.

Adela mengingatkan bahwa penguasaan teknologi harus berjalan beriringan dengan kemampuan berpikir kritis dan nilai-nilai kemanusiaan. AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan produktivitas, mengembangkan kreativitas, hingga mendukung penyelesaian berbagai pekerjaan. Namun, manusia tetap harus memiliki kendali atas proses berpikir dan pengambilan keputusan.

“Tantangan kita bukan untuk melawan teknologi, tetapi menguasai teknologi tanpa kehilangan rasa kemanusiaan. Kita bisa menggunakan dan mempelajari AI, tetapi jangan menyerahkan kemampuan berpikir sebagai manusia kepada teknologi,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa empati, tanggung jawab, integritas, serta keberanian mengambil keputusan merupakan nilai yang tidak boleh ditinggalkan dalam menghadapi perkembangan teknologi. Menurutnya, generasi muda harus mampu memanfaatkan kemajuan digital secara bijak tanpa kehilangan identitas dan tanggung jawab sosial.

Selain kesiapan teknologi, Adela menyoroti pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, peneliti, dan masyarakat dalam membangun ekosistem pendidikan serta inovasi. Ia mendorong agar hasil penelitian di perguruan tinggi tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga mampu dikembangkan menjadi inovasi, teknologi, kebijakan, maupun produk yang memberikan manfaat nyata.

Riset perguruan tinggi diharapkan dapat menjawab berbagai persoalan masyarakat, mulai dari sektor industri, UMKM, pertanian, pendidikan, hingga pembangunan daerah. Dalam konteks wilayah Surabaya dan Sidoarjo, ia melihat adanya potensi besar yang dapat dikembangkan melalui sinergi antarsektor. Surabaya memiliki ekosistem pendidikan yang kuat, sementara Sidoarjo didukung basis industri dan UMKM yang berkembang. Kedua potensi tersebut perlu dihubungkan melalui kolaborasi yang berkelanjutan.

Lebih lanjut, Adela mengajak mahasiswa untuk mengubah pola pikir dari sekadar menjadi pencari kerja menjadi generasi yang mampu menciptakan peluang dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Generasi unggul, menurutnya, tidak cukup diukur melalui capaian akademik, popularitas, maupun jumlah pengikut di media sosial. Hal yang lebih penting adalah kemampuan menghadirkan gagasan, memberikan solusi, dan menghasilkan dampak positif bagi masyarakat.

Ia turut mengingatkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting sebagai ruang pembentukan budaya demokrasi, pengembangan pemikiran kritis, serta pembelajaran dalam menghargai perbedaan pendapat yang dilandasi literasi dan tanggung jawab.

“Workshop ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif terhadap perubahan zaman,” pungkasnya.

Ketua BPP UNUSIDA, KH. Arly Fauzi saat menyampaikan Tausiyah dalam Kajian Rutin Aswaja An-Nahdliyah UNUSIDA. (Foto: Humas UNUSIDA)

Ketua BPP UNUSIDA, KH Arly Fauzi: Ilmu Harus Bermuara pada Keimanan dan Amal Saleh

SIDOARJO — Ketua Badan Pelaksana Penyelenggara (BPP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), KH Arly Fauzi, menegaskan bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban sekaligus bagian penting dalam membangun kehidupan manusia. Namun, ilmu pengetahuan tidak cukup hanya dikuasai secara intelektual, melainkan harus dilandasi keimanan dan diwujudkan melalui amal saleh.

Hal tersebut disampaikan dalam tausiahnya dalam Kajian Rutin Aswaja An-Nahdliyah UNUSIDA yang diselenggarakan oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengkajian Islam dan Keaswajaan (PIK) UNUSIDA, di Masjid KH. Hasyim Asy’ari, Kamis (29/10/2026).

Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak civitas akademika UNUSIDA untuk memahami hakikat menuntut ilmu, baik ilmu yang bersifat fardhu ain maupun fardhu kifayah. Menurutnya, ilmu fardhu ain merupakan ilmu yang wajib dipelajari setiap individu untuk memenuhi kebutuhan ibadah dan kewajiban agama. Misalnya, setiap Muslim wajib memahami tata cara salat. Begitu pula ketika seseorang telah memenuhi syarat untuk menunaikan ibadah haji, maka mempelajari ilmu tentang pelaksanaan haji menjadi sebuah kewajiban.

Sementara itu, ilmu fardhu kifayah merupakan ilmu yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan masyarakat secara luas. Di antaranya ilmu kedokteran, teknik, dan berbagai bidang keilmuan lainnya yang dibutuhkan untuk menunjang keberlangsungan kehidupan manusia.

“Pada dasarnya, menuntut ilmu adalah untuk memenuhi kebutuhan kita. Ada ilmu yang wajib dipelajari setiap individu untuk menjalankan ibadah, dan ada pula ilmu yang harus dipelajari sebagian orang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa orang yang menempuh jalan untuk mencari ilmu akan mendapatkan kemudahan jalan menuju surga. Karena itu, ilmu pengetahuan harus menjadi prioritas dalam membangun kemajuan suatu bangsa.

Lebih lanjut, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ikhlas Sepande tersebut menguraikan alasan mengapa Allah SWT mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Menurutnya, ilmu yang dilandasi keimanan akan mengantarkan seseorang semakin mengenal kekuasaan Allah, meningkatkan ketakwaan, serta membentuk perilaku yang semakin baik terhadap sesama.

Ia menegaskan bahwa ukuran keberhasilan seseorang dalam menuntut ilmu bukan sekadar bertambahnya pengetahuan, gelar akademik, atau kemampuan intelektual, melainkan juga meningkatnya kualitas keimanan dan amal saleh.

“Ketika ilmu itu dilandasi oleh keimanan dan didorong oleh keimanan, maka ilmu yang didapatkan semakin menjadikan seseorang beriman kepada Allah, semakin taat kepada Allah, semakin mengenal kekuasaan Allah, dan semakin baik kepada sesama,” tuturnya.

Dalam penjelasannya, ia juga mengingatkan bahwa ilmu tanpa disertai ketakwaan dapat menjauhkan seseorang dari Allah SWT. Pengetahuan yang semakin luas seharusnya membuat manusia semakin menyadari keterbatasan dirinya di hadapan Sang Pencipta.

Menurutnya, berbagai cabang ilmu pengetahuan, mulai dari astronomi, biologi, kedokteran, meteorologi hingga teknik, sesungguhnya dapat menjadi jalan untuk mengenali tanda-tanda kebesaran Allah SWT.

Melalui ilmu astronomi, misalnya, manusia dapat mempelajari keteraturan benda-benda langit. Begitu pula ilmu biologi dan kedokteran yang mengungkap kompleksitas kehidupan serta anatomi tubuh manusia. Semua itu semestinya semakin memperkuat keyakinan terhadap kekuasaan Allah.

“Semakin luas ilmu pengetahuan seseorang, seharusnya semakin terlihat tanda-tanda kekuasaan Allah. Maka, semakin besar pula ketundukan, rasa takut, dan sikap tawaduknya di hadapan Allah SWT,” ungkapnya.

Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo tersebut menambahkan, ilmu pengetahuan harus memiliki orientasi yang jelas, yakni mengantarkan manusia kepada kebenaran dan menghasilkan amal yang bermanfaat. Ilmu tidak boleh berhenti sebagai teori atau sekadar menjadi alat untuk memperoleh pengakuan pribadi.

Bahkan, kepedulian terhadap sesama menjadi salah satu indikator penting dari meningkatnya kualitas keimanan seseorang. Semakin baik kualitas keimanan dan ketakwaan, seharusnya semakin besar pula kepedulian sosial yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Semua ilmu itu harus bermuara pada semakin kuatnya iman kepada Allah, semakin taat kepada-Nya, semakin mengenal kekuasaan-Nya, serta semakin baik dan bermanfaat bagi kehidupan manusia,” tegasnya.

Melalui tausiah tersebut, Kiai Arly mengajak seluruh civitas akademika UNUSIDA untuk menjadikan ilmu pengetahuan sebagai jalan pengabdian. Perguruan tinggi tidak hanya bertugas melahirkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga membentuk insan beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Ilmu dan iman harus berjalan beriringan serta diwujudkan melalui amal saleh. Sebab, hakikat ilmu yang sesungguhnya bukan hanya membuat seseorang semakin cerdas, tetapi juga semakin dekat kepada Allah SWT dan semakin bermanfaat bagi sesama,” pungkasnya.