Yudisium ke-12 FILKOM UNUSIDA, Teguhkan Komitmen Cetak Lulusan Tepat Waktu, Bermutu, dan Berintegritas
SIDOARJO — Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Yudisium ke-12 Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 di Hall Lantai 5 Kampus 2 UNUSIDA, Selasa (4/8/2026). Prosesi yudisium tersebut dilaksanakan berdasarkan Surat Keputusan Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo Nomor 123/U9.3/3/GAR/SK-GAR/2026 tentang penetapan mahasiswa FILKOM yang lulus pada Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026.
Pada yudisium kali ini, sebanyak 42 lulusan Program Studi Informatika, 22 lulusan Sistem Informasi, dan 37 lulusan Desain Komunikasi Visual resmi dikukuhkan.
Yudisium ke-12, Dekan FILKOM UNUSIDA: Jadilah Sarjana yang Berilmu dan Berakhlak
SIDOARJO — Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Yudisium ke-12 Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 di Hall Lantai 5 Kampus UNUSIDA, Selasa (4/8/2026). Kegiatan ini menjadi penanda resmi kelulusan mahasiswa Program Studi Informatika, Sistem Informasi, dan Desain Komunikasi Visual sebelum mengikuti prosesi wisuda.
Acara tersebut dihadiri oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor UNUSIDA Dr. Hadi Ismanto, S.H., M.Pd., Kepala Biro Akademik Muhammad Mansur Yafi, M.T., Wakil Dekan FILKOM Neni Kurniati, S.Kom., M.T., Ketua Program Studi Sistem Informasi Syahri Mukmin, S.Kom., M.T., Ketua Program Studi Desain Komunikasi Visual Putra Uji Deva Satrio, S.Sn., M.Sn., Ketua Program Studi Informatika Muhammad Mahlul Alamin, S.Kom., M.Kom., serta perwakilan sponsorship dari Bank Raya Indonesia Cabang Sidoarjo.
Dalam sambutannya, Dekan FILKOM UNUSIDA Dr. Arda Surya Editya, S.Pd., M.T. menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh peserta yudisium atas keberhasilan mereka menyelesaikan studi hingga meraih gelar sarjana. Ia optimis sarjana FILKOM UNUSIDA dapat terus berkarya, berinovasi, serta memberikan kontribusi nyata bagi bangsa melalui bidang teknologi informasi dan industri kreatif.
“Tiada kata yang mampu menggambarkan perasaan kami kecuali kata selamat. Selamat bagi kalian yang telah berjuang sampai akhir dalam penyelesaian studi di Fakultas Ilmu Komputer,” ujarnya.
Ia mengajak para lulusan untuk mengenang kembali perjalanan akademik mereka sejak awal menjadi mahasiswa hingga mencapai titik kelulusan. Menurutnya, setiap mahasiswa memiliki cerita dan dinamika perjuangan yang berbeda, yang akan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup ke depan.
“Setiap orang memiliki cerita yang berbeda-beda. Semua pengalaman itu akan menjadi bekal berharga dalam menghadapi kehidupan selanjutnya,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Arda menegaskan bahwa pendidikan di perguruan tinggi tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan akhlak. Ia mengingatkan pentingnya peran dosen sebagai orang tua dalam dunia pendidikan yang tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan.
Ia juga berpesan kepada para lulusan untuk senantiasa menghormati dan meminta restu kepada dosen agar ilmu yang diperoleh menjadi berkah dan bermanfaat.
“Saya berharap setelah prosesi yudisium ini, kalian menemui dosen-dosen kalian, meminta maaf dan meminta restu. Keberkahan ilmu juga datang dari ridha para guru,” pesannya.
Dalam kesempatan tersebut, Arda juga mengungkapkan kebiasaannya membaca Basmalah setiap kali menandatangani Surat Keterangan Lulus (SKL) sebagai doa agar para lulusan senantiasa mendapatkan perlindungan dan pertolongan Allah SWT dalam menjalani kehidupan setelah lulus.
Lebih lanjut, ia menyampaikan tiga pesan penting sebagai bekal kehidupan, yakni menjaga tauhid dengan tidak menyekutukan Allah SWT, menjaga salat, serta menjauhi sikap sombong.
“Apapun profesi kalian nanti, tetap pegang nilai-nilai tersebut. Semoga kalian menjadi pribadi yang sukses, bermanfaat bagi masyarakat, dan mampu mengharumkan nama almamater,” pungkasnya.
Mahasiswa KKN UNUSIDA Sukses Gelar Pelatihan Pembuatan Sabun Cuci Piring, Ciptakan Peluang Usaha bagi Santri Ponpes Nurul Ikhlas
SIDOARJO – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) Kelompok Pondok Pesantren Nurul Ikhlas menggelar Pelatihan Pembuatan Sabun Cuci Piring sebagai upaya meningkatkan keterampilan sekaligus menumbuhkan jiwa kewirausahaan di kalangan santri. Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (2/8/2026) pukul 13.00 WIB di Pondok Pesantren Nurul Ikhlas, Sepande, ini menjadi salah satu program pemberdayaan masyarakat dalam rangkaian KKN UNUSIDA Berdaya 2026.
Mengusung tema “Meningkatkan keterampilan, menciptakan peluang usaha. Dari pelatihan menjadi peluang penghasilan,” kegiatan ini bertujuan membekali peserta dengan keterampilan praktis yang dapat dikembangkan menjadi usaha mandiri dan memberikan nilai ekonomi bagi pondok pesantren maupun masyarakat sekitar.
Pelatihan secara resmi dibuka dan didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN UNUSIDA, Afifatus Sholikhah, S.M., M.M. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, yang tidak hanya memberikan edukasi tetapi juga mendorong terciptanya kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal.
Afifatus Sholikhah mengapresiasi inisiatif mahasiswa KKN yang menghadirkan program pemberdayaan sesuai kebutuhan masyarakat. Menurutnya, keterampilan membuat produk kebutuhan rumah tangga seperti sabun cuci piring memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi usaha mikro yang berkelanjutan.
“Kami berharap pelatihan ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu menjadi awal lahirnya usaha produktif di lingkungan pondok pesantren. Dengan keterampilan yang dimiliki, santri dapat menghasilkan produk yang bermanfaat untuk kebutuhan internal pondok maupun dipasarkan kepada masyarakat sehingga memberikan nilai tambah secara ekonomi,” ujarnya.
Pelatihan menghadirkan M. Jeffri Aprilianto sebagai narasumber yang membagikan pengetahuan mengenai proses pembuatan sabun cuci piring cair, mulai dari pengenalan bahan baku, teknik pencampuran, proses pengadukan, hingga pengemasan produk agar memiliki kualitas yang baik dan layak dipasarkan.
Dalam pemaparannya, Jeffri menjelaskan bahwa sabun cuci piring merupakan salah satu produk rumah tangga dengan tingkat kebutuhan yang tinggi sehingga memiliki prospek usaha yang menjanjikan. Selain modal produksinya relatif terjangkau, proses pembuatannya juga cukup sederhana sehingga dapat dipraktikkan oleh masyarakat maupun santri yang ingin memulai usaha skala rumahan.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kualitas produk agar mampu bersaing di pasaran. Menurutnya, kualitas tidak hanya ditentukan dari kemampuan membersihkan peralatan makan, tetapi juga dipengaruhi oleh komposisi bahan, tingkat kekentalan, aroma, serta kemasan yang menarik sehingga memiliki daya jual yang lebih tinggi.
Tidak hanya menerima materi secara teoritis, peserta juga mengikuti praktik langsung pembuatan sabun cuci piring. Dalam sesi ini, narasumber mendampingi peserta mulai dari proses penimbangan bahan, pencampuran formula, pengadukan hingga menghasilkan sabun yang siap digunakan. Pendekatan praktik tersebut membuat peserta lebih mudah memahami setiap tahapan produksi sekaligus meningkatkan kepercayaan diri untuk mencoba membuat produk secara mandiri.
Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Para peserta tampak antusias mengajukan berbagai pertanyaan mengenai teknik produksi, cara memperoleh bahan baku, strategi menjaga kualitas produk, hingga peluang pemasaran yang dapat dilakukan baik secara langsung maupun melalui platform digital.
Kegiatan dipandu oleh Nazahah Mudhiah sebagai moderator yang mengarahkan jalannya diskusi sehingga berlangsung komunikatif dan penuh semangat. Berbagai pengalaman yang dibagikan narasumber memberikan motivasi kepada peserta bahwa usaha dapat dimulai dari produk sederhana selama dikelola dengan baik dan memiliki kualitas yang terjaga.
Melalui pelatihan ini, mahasiswa KKN UNUSIDA berharap keterampilan yang diberikan mampu menjadi bekal bagi para santri untuk mengembangkan usaha berbasis kebutuhan sehari-hari. Produk sabun cuci piring yang dihasilkan bahkan dapat dimanfaatkan terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan operasional pondok pesantren sehingga mengurangi biaya pengeluaran sekaligus menjadi media pembelajaran kewirausahaan.
Ke depan, apabila produksi dilakukan secara berkelanjutan dengan standar kualitas yang baik, produk tersebut berpotensi dipasarkan kepada masyarakat sekitar sebagai salah satu produk unggulan hasil karya santri. Bahkan, mahasiswa KKN turut mendorong lahirnya identitas merek lokal yang dapat memperkuat daya saing produk sekaligus menjadi kebanggaan Pondok Pesantren Nurul Ikhlas.
Program pelatihan ini merupakan bagian dari komitmen KKN UNUSIDA Berdaya 2026 dalam menghadirkan kegiatan yang tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Mahasiswa berupaya mentransfer ilmu pengetahuan dan keterampilan praktis yang dapat terus dimanfaatkan setelah masa KKN berakhir.
Selain meningkatkan keterampilan teknis, kegiatan ini juga bertujuan menanamkan semangat berwirausaha kepada para santri. Mereka diajak untuk melihat kebutuhan sehari-hari sebagai peluang usaha yang dapat dikembangkan melalui inovasi, kreativitas, dan pengelolaan yang baik. Dengan demikian, santri tidak hanya menjadi pengguna produk, tetapi juga mampu menjadi produsen yang menghasilkan produk berkualitas dan bernilai jual.
Melalui kolaborasi antara mahasiswa, dosen pembimbing lapangan, narasumber, dan pihak Pondok Pesantren Nurul Ikhlas, pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun kemandirian ekonomi berbasis pesantren. Semangat pemberdayaan yang diusung KKN UNUSIDA diharapkan mampu melahirkan lebih banyak inovasi dan usaha produktif yang memberikan manfaat bagi masyarakat, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan ekonomi berbasis komunitas.
Disiplin Salat Berjamaah, Kunci Membangun Etos Kerja dan Keberkahan Hidup
SIDOARJO – Salat berjamaah tidak hanya menjadi kewajiban ibadah bagi setiap muslim, tetapi juga merupakan sarana efektif dalam membentuk karakter yang disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki etos kerja yang baik. Nilai-nilai tersebut menjadi pokok pembahasan dalam Kajian Amaliyah Nahdlatul Ulama (NU) yang diselenggarakan di Masjid KH. Hasyim Asy’ari Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA).
Kajian yang diikuti oleh sivitas akademika serta jamaah dari lingkungan sekitar ini mengangkat pentingnya menjadikan salat berjamaah sebagai budaya hidup. Dalam perspektif Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, ibadah tidak hanya dipahami sebagai hubungan vertikal antara manusia dengan Allah SWT, tetapi juga memiliki dampak nyata terhadap pembentukan akhlak, profesionalisme, dan kehidupan sosial.
Pada kesempatan tersebut, pemateri membagikan sebuah pengalaman inspiratif ketika menghadiri acara bedah buku di Kota Surabaya. Saat seluruh panitia tengah sibuk melakukan persiapan menjelang dimulainya acara, waktu salat Asar tiba. Alih-alih meneruskan pekerjaan hingga acara dimulai, panitia justru menghentikan seluruh aktivitas dan mengajak semua yang hadir untuk melaksanakan salat Asar berjamaah terlebih dahulu.
Pengalaman sederhana tersebut memberikan pelajaran mendalam bahwa sebesar apa pun tanggung jawab pekerjaan, kewajiban kepada Allah SWT tetap harus ditempatkan sebagai prioritas utama. Ketika manusia mampu mendahulukan panggilan Allah, maka setiap aktivitas yang dikerjakan setelahnya akan memperoleh keberkahan dan kemudahan.
“Di atas etos kerja, kedisiplinan, dan profesionalisme, ada Allah SWT yang harus selalu didahulukan. Salat berjamaah menjadi pengingat bahwa setiap aktivitas dunia harus tetap berorientasi pada ibadah,” ungkap pemateri.
Menurutnya, banyak orang beranggapan bahwa kesuksesan hanya ditentukan oleh kerja keras, kecerdasan, atau strategi yang matang. Padahal, sebagai seorang muslim, seluruh ikhtiar tersebut harus dilandasi dengan ketaatan kepada Allah SWT. Salat berjamaah menjadi simbol bahwa keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari capaian duniawi, tetapi juga dari sejauh mana seseorang mampu menjaga hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.
Kajian tersebut juga menekankan bahwa salat berjamaah memiliki peran penting dalam membentuk karakter disiplin. Lima kali sehari, umat Islam diajak untuk menghentikan segala aktivitas ketika azan berkumandang. Panggilan itu mengajarkan bahwa setiap pekerjaan memiliki batas, sedangkan kewajiban kepada Allah tidak boleh diabaikan.
Di dalam saf salat, seluruh jamaah berdiri sejajar tanpa membedakan jabatan, profesi, status sosial, maupun latar belakang ekonomi. Seorang pimpinan dapat berdampingan dengan karyawan, dosen berdiri bersama mahasiswa, dan tokoh masyarakat berada dalam saf yang sama dengan masyarakat biasa. Kesetaraan tersebut menjadi pelajaran bahwa di hadapan Allah SWT, yang membedakan manusia hanyalah ketakwaannya.
Nilai inilah yang kemudian melahirkan sikap rendah hati, saling menghargai, serta memperkuat ukhuwah Islamiyah. Salat berjamaah tidak hanya mempererat hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah), tetapi juga memperkuat hubungan antarsesama manusia (hablum minannas). Melalui pertemuan rutin di masjid, jamaah dapat saling mengenal, bersilaturahmi, berbagi kabar, hingga membangun kepedulian sosial terhadap sesama.
Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, masjid bukan sekadar tempat melaksanakan salat, melainkan juga menjadi pusat pembinaan umat, pendidikan keagamaan, serta penguatan nilai-nilai kebersamaan. Oleh karena itu, membiasakan salat berjamaah berarti turut menghidupkan fungsi masjid sebagai pusat peradaban Islam yang penuh rahmat dan kasih sayang.
Pemateri juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pekerjaan, ibadah, dan keluarga. Menurutnya, manusia sering kali terlalu fokus mengejar target pekerjaan hingga melupakan hak keluarga maupun kebutuhan spiritualnya. Padahal, keduanya merupakan amanah yang harus dijaga secara seimbang.
Salat Asar, misalnya, menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa setelah menyelesaikan berbagai urusan pekerjaan, seseorang perlu kembali kepada keluarganya. Kehangatan keluarga merupakan salah satu nikmat terbesar yang harus disyukuri sekaligus dijaga dengan penuh tanggung jawab.
Dalam kajian tersebut juga disampaikan kisah menarik mengenai pandangan masyarakat non-Muslim terhadap kebiasaan umat Islam menjalankan salat. Salah satu pengalaman yang dibagikan adalah adanya masyarakat non-Muslim yang mengaku kagum terhadap kedisiplinan umat Islam dalam menjaga waktu salat. Bahkan, ada yang menyampaikan bahwa suara azan Subuh dari masjid justru membantunya bangun pagi untuk memulai aktivitas.
Pengalaman tersebut menjadi refleksi bahwa syiar Islam sesungguhnya memiliki nilai positif yang dapat dirasakan oleh siapa saja. Apa yang sering dianggap biasa oleh umat Islam ternyata mampu menghadirkan kesan mendalam bagi orang lain. Oleh sebab itu, umat Islam diajak untuk semakin mencintai identitas keislamannya dan menjaga pelaksanaan ibadah dengan penuh kesungguhan.
Menutup kajian, pemateri mengajak seluruh jamaah untuk membiasakan salat berjamaah sebagai bagian dari gaya hidup seorang muslim. Kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten akan membentuk pribadi yang disiplin, amanah, bertanggung jawab, serta memiliki etos kerja tinggi yang berlandaskan keimanan.
Melalui Kajian Amaliyah NU, UNUSIDA terus berupaya menghadirkan ruang pembinaan spiritual bagi sivitas akademika agar nilai-nilai Islam tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Semangat ibadah diharapkan mampu melahirkan generasi yang unggul secara intelektual, kuat secara spiritual, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Dengan demikian, setiap aktivitas, baik dalam dunia pendidikan, pekerjaan, maupun kehidupan bermasyarakat, tidak semata-mata berorientasi pada pencapaian duniawi, melainkan juga menjadi amal saleh yang menghadirkan keberkahan. Inilah esensi Amaliyah NU, yakni membentuk pribadi muslim yang profesional, amanah, mencintai keluarga, menjaga ukhuwah, dan senantiasa menempatkan Allah SWT sebagai tujuan utama dalam setiap langkah kehidupan.
HIMA Informatika UNUSIDA Gelar INACOM IoT Series 2026, Ajak Generasi Muda Bangun Smart System
SIDOARJO — Himpunan Mahasiswa (HIMA) Informatika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Workshop INACOM IoT Series 2026 bertema “Misi Otomasi: Bangun Smart System dengan Tanganmu Sendiri” di Hall Lantai 5 Kampus UNUSIDA, Lingkar Timur Sidoarjo, Sabtu (1/8/2026). Kegiatan ini terselenggara bekerja sama dengan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Sidoarjo dengan menghadirkan praktisi Diam Pratiwi, S.T. dan Firstanta Winawan Khansa R., S.T. sebagai narasumber.
Workshop ini diikuti oleh peserta dari berbagai SMA, SMK, MA, mahasiswa UNUSIDA, hingga mahasiswa dari perguruan tinggi lain. Mereka mendapatkan pembekalan mengenai konsep Internet of Things (IoT) sekaligus praktik langsung membangun sistem otomatisasi menggunakan perangkat yang telah disiapkan oleh panitia.
Ketua HIMA Informatika UNUSIDA, M. Satrio Rahmatullah dalam sambutannya mengatakan bahwa perkembangan teknologi otomasi dan Internet of Things kini bukan lagi sekadar tren, melainkan telah menjadi kebutuhan di berbagai sektor kehidupan. Melalui kolaborasi dengan BPVP Sidoarjo, HIMA Informatika ingin menghadirkan ruang belajar yang mampu menjembatani teori dengan praktik.
“Pemahaman tentang Internet of Things bukan lagi sekadar sesuatu yang menarik untuk dipelajari, tetapi sudah menjadi kebutuhan. Melalui kegiatan ini kami ingin memberikan wadah agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu membangun sistem cerdas yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada BPVP Sidoarjo, para narasumber, panitia, dan seluruh peserta yang telah berkontribusi menyukseskan kegiatan tersebut. Menurutnya, kesempatan belajar bersama praktisi harus dimanfaatkan sebaik mungkin sebagai bekal menghadapi perkembangan teknologi digital.
Sementara itu, Ketua Program Studi Informatika UNUSIDA, Mochammad Machlul Alamin, S.Kom., M.Kom., menyampaikan bahwa workshop ini merupakan agenda tahunan HIMA Informatika yang setiap tahun mengangkat tema berbeda sesuai perkembangan teknologi.
“Workshop ini merupakan program tahunan HIMA Informatika. Tahun-tahun sebelumnya kami mengangkat tema digital marketing, pembuatan website, hingga artificial intelligence (AI). Tahun ini kami fokus pada Internet of Things agar peserta memiliki pengalaman baru dalam bidang otomasi dan sistem cerdas,” ungkapnya.
Ia mengapresiasi tingginya antusiasme peserta yang berasal dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi. Menurutnya, kegiatan seperti ini menjadi salah satu bentuk komitmen Program Studi Informatika UNUSIDA dalam mendukung peningkatan kompetensi generasi muda di bidang teknologi informasi.
Tidak hanya mendapatkan materi teori, peserta juga diajak melakukan praktik langsung menggunakan perangkat IoT di bawah pendampingan para instruktur dari BPVP Sidoarjo. Selama sesi praktik, peserta diberi kesempatan untuk mencoba merancang sistem otomatisasi sederhana sekaligus berdiskusi mengenai berbagai kendala teknis yang ditemui.
“Kami berharap setelah mengikuti workshop ini, peserta dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di sekolah, kampus, maupun lingkungan masing-masing sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara nyata,” tambahnya.
Pihaknya terus mendorong UNUSIDA sebagai kampus yang terus mendorong inovasi dan pengembangan kompetensi digital. Ia mengajak para peserta, khususnya siswa SMA, SMK, dan MA, untuk melanjutkan pendidikan di Program Studi Informatika UNUSIDA dan menjadi bagian dari keluarga besar kampus Nahdlatul Ulama tersebut.
“Semoga melalui Workshop INACOM IoT Series 2026 mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya memahami konsep teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan praktis dalam mengembangkan sistem cerdas berbasis Internet of Things sebagai bekal menghadapi kebutuhan industri dan transformasi digital di masa depan,” pungkasnya.







