Inspiratif! Dosen Manajemen UNUSIDA Ungkap Strategi Jitu Transformasi My Sneaker SBY Menuju UMKM Berdaya Saing
Oleh: Achmad Zaki, S.E., M.M.
Dosen Program Studi Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo dan Pelaku Usaha My Sneaker SBY
Menjadi seorang dosen bukan hanya tentang menyampaikan teori di ruang kelas, tetapi juga tentang bagaimana ilmu pengetahuan dapat diterapkan untuk menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat. Bagi saya, dunia akademik dan dunia usaha merupakan dua ruang yang saling melengkapi. Keduanya memberikan kesempatan untuk terus belajar, menguji gagasan, membangun inovasi, serta menciptakan nilai yang bermanfaat bagi orang lain.
Pengalaman menjalankan My Sneaker SBY menjadi salah satu ruang pembelajaran bagi saya dalam memahami dinamika bisnis secara langsung. Di dunia usaha, berbagai konsep manajemen yang dipelajari secara akademis berhadapan dengan realitas yang jauh lebih kompleks. Pelaku usaha tidak hanya dituntut mampu menghasilkan produk atau layanan yang baik, tetapi juga harus memahami kebutuhan konsumen, menjaga kualitas, mengelola keuangan, membangun kepercayaan, dan beradaptasi dengan perubahan pasar.
Merintis usaha mengajarkan bahwa keberhasilan bisnis tidak terbentuk dalam satu malam. Ada proses mengenali peluang, memahami perilaku konsumen, menyusun strategi pemasaran, membangun identitas usaha, hingga mengevaluasi keputusan yang telah diambil. Setiap tantangan menjadi bahan pembelajaran, sedangkan setiap perubahan pasar menuntut pelaku usaha untuk terus memperbarui cara berpikir dan cara bekerja.
Dalam konteks bisnis yang semakin kompetitif, usaha di bidang perawatan dan kebersihan sepatu seperti My Sneaker SBY memiliki peluang untuk dikembangkan melalui pendekatan yang berorientasi pada kebutuhan pelanggan. Sepatu bukan sekadar perlengkapan penunjang aktivitas, melainkan juga bagian dari gaya hidup, penampilan, dan identitas seseorang. Perubahan gaya hidup masyarakat, terutama generasi muda, membuka peluang bagi layanan yang mengutamakan kebersihan, perawatan, kenyamanan, dan kualitas pelayanan.
Namun, peluang pasar saja tidak cukup untuk menjamin keberlanjutan usaha. Pelaku bisnis perlu memahami bahwa konsumen tidak hanya membeli produk atau menggunakan layanan, tetapi juga menilai pengalaman yang mereka peroleh. Ketepatan waktu, komunikasi yang jelas, kualitas hasil, transparansi harga, dan kemudahan akses menjadi bagian penting dalam membangun kepuasan pelanggan.
Dari pengalaman tersebut, saya memandang bahwa salah satu kunci mengembangkan usaha adalah kemampuan menggabungkan kualitas layanan dengan inovasi. Inovasi tidak selalu berarti menciptakan teknologi yang rumit atau mengeluarkan investasi besar. Inovasi dapat dimulai dari hal sederhana, seperti memperbaiki alur pelayanan, menyediakan informasi yang lebih mudah dipahami, membangun sistem pencatatan transaksi, mengoptimalkan media sosial, serta menjadikan masukan pelanggan sebagai dasar perbaikan.
Digitalisasi juga memberikan peluang besar bagi usaha kecil untuk meningkatkan daya saing. Melalui media sosial, pelaku usaha dapat memperkenalkan layanan, menampilkan dokumentasi hasil pekerjaan, membangun interaksi dengan pelanggan, dan memperluas jangkauan pasar tanpa harus bergantung sepenuhnya pada promosi konvensional. Sementara itu, pencatatan keuangan digital dapat membantu pemilik usaha memisahkan keuangan pribadi dan bisnis, memantau biaya operasional, menghitung keuntungan, serta merencanakan pengembangan usaha secara lebih terukur.
Meski demikian, digitalisasi bukan sekadar mengikuti tren. Teknologi harus digunakan untuk menyelesaikan persoalan bisnis yang nyata. Pelaku usaha perlu menentukan platform yang sesuai dengan karakteristik konsumennya, membuat konten yang relevan, menjaga konsistensi komunikasi, dan mengevaluasi efektivitas setiap strategi pemasaran. Dengan demikian, aktivitas digital tidak berhenti pada peningkatan jumlah pengikut, tetapi diarahkan untuk membangun kepercayaan, meningkatkan transaksi, dan mempertahankan pelanggan.
Perspektif tersebut memiliki relevansi penting dalam pendampingan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). UMKM merupakan bagian penting dari perekonomian masyarakat karena membuka peluang kerja, menggerakkan aktivitas ekonomi lokal, serta memberikan ruang bagi tumbuhnya kreativitas dan kemandirian. Akan tetapi, sebagian pelaku UMKM masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan keuangan, pemasaran, pengembangan produk, pemanfaatan teknologi, dan perencanaan bisnis.
Menurut saya, pendampingan UMKM perlu bergerak melampaui kegiatan pelatihan yang hanya menyampaikan materi. Pendampingan yang efektif harus berangkat dari kebutuhan nyata pelaku usaha dan diarahkan pada perubahan yang dapat diukur. Sebelum memberikan solusi, pendamping perlu memahami karakteristik usaha, proses bisnis, konsumen, sumber daya, serta kendala yang dihadapi. Dari hasil pemetaan tersebut, program pendampingan dapat disusun secara lebih relevan dan aplikatif.
Sebagai contoh, UMKM yang mengalami kesulitan menjangkau konsumen dapat didampingi untuk menyusun strategi pemasaran digital, memperbaiki foto produk, membuat katalog, dan mengoptimalkan media sosial. UMKM yang belum memiliki pencatatan keuangan dapat dibantu membangun sistem pembukuan sederhana. Sementara itu, usaha yang menghadapi persaingan ketat dapat diarahkan untuk memperjelas keunggulan produk, meningkatkan kualitas layanan, dan mengembangkan nilai tambah yang membedakannya dari pesaing.
Dalam hal ini, perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai mitra pengembangan usaha masyarakat. Dosen tidak hanya berperan sebagai pengajar dan peneliti, tetapi juga dapat menjadi fasilitator yang menjembatani pengetahuan akademik dengan kebutuhan pelaku usaha. Melalui kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, perguruan tinggi dapat membantu UMKM mengidentifikasi persoalan, merancang solusi, menguji inovasi, dan mengevaluasi hasil pendampingan.
Di Program Studi Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), semangat tersebut dapat diwujudkan melalui pembelajaran yang semakin dekat dengan realitas bisnis. Mahasiswa perlu memperoleh kesempatan untuk mengamati usaha secara langsung, menganalisis model bisnis, menyusun strategi pemasaran, membuat prototipe produk atau layanan, serta mendampingi UMKM dalam memanfaatkan teknologi digital. Dengan cara ini, mahasiswa tidak hanya memahami konsep manajemen secara teoritis, tetapi juga mengembangkan keterampilan memecahkan masalah, berkomunikasi, berkolaborasi, dan mengambil keputusan.
Pengalaman praktik bisnis juga dapat menjadi sumber pembelajaran yang berharga bagi mahasiswa. Melalui studi kasus dari usaha yang dijalankan, mahasiswa dapat memahami bahwa keputusan bisnis selalu berkaitan dengan keterbatasan sumber daya, perubahan kebutuhan pelanggan, ketidakpastian pasar, dan tuntutan menjaga kualitas. Mereka belajar bahwa strategi yang baik bukan sekadar strategi yang terlihat menarik di atas kertas, melainkan strategi yang dapat dilaksanakan, dievaluasi, dan disesuaikan dengan kondisi nyata.
Saya meyakini bahwa masa depan UMKM tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan produk yang berkualitas, tetapi juga oleh kemampuan membangun sistem usaha yang sehat, memanfaatkan teknologi secara tepat, mengembangkan sumber daya manusia, dan menciptakan hubungan jangka panjang dengan pelanggan. Pelaku usaha harus terus belajar, sedangkan perguruan tinggi perlu membuka ruang kolaborasi yang lebih luas agar pengetahuan dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Pada akhirnya, perjalanan mengembangkan usaha seperti My Sneaker SBY bukan semata-mata tentang membangun bisnis, melainkan juga tentang memahami bagaimana sebuah usaha dapat tumbuh melalui proses belajar, inovasi, dan keberanian beradaptasi. Dunia usaha memberikan pengalaman nyata, dunia akademik menyediakan kerangka berpikir, dan masyarakat menjadi ruang tempat gagasan diuji serta manfaatnya dirasakan.
Bagi saya, keberhasilan seorang dosen sekaligus pelaku usaha bukan hanya diukur dari apa yang berhasil dibangun untuk dirinya sendiri, tetapi juga dari seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan tersebut dapat dibagikan untuk membantu orang lain berkembang. Ketika ruang kelas terhubung dengan dunia usaha dan inovasi diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat, perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan yang memahami bisnis, tetapi juga generasi yang mampu menciptakan peluang, mengembangkan UMKM, dan menghadirkan dampak ekonomi yang berkelanjutan.











