Gagasan dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo

Inspiratif! Dosen Manajemen UNUSIDA Ungkap Strategi Jitu Transformasi My Sneaker SBY Menuju UMKM Berdaya Saing 1

Inspiratif! Dosen Manajemen UNUSIDA Ungkap Strategi Jitu Transformasi My Sneaker SBY Menuju UMKM Berdaya Saing

Oleh: Achmad Zaki, S.E., M.M.
Dosen Program Studi Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo dan Pelaku Usaha My Sneaker SBY

Menjadi seorang dosen bukan hanya tentang menyampaikan teori di ruang kelas, tetapi juga tentang bagaimana ilmu pengetahuan dapat diterapkan untuk menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat. Bagi saya, dunia akademik dan dunia usaha merupakan dua ruang yang saling melengkapi. Keduanya memberikan kesempatan untuk terus belajar, menguji gagasan, membangun inovasi, serta menciptakan nilai yang bermanfaat bagi orang lain.

Pengalaman menjalankan My Sneaker SBY menjadi salah satu ruang pembelajaran bagi saya dalam memahami dinamika bisnis secara langsung. Di dunia usaha, berbagai konsep manajemen yang dipelajari secara akademis berhadapan dengan realitas yang jauh lebih kompleks. Pelaku usaha tidak hanya dituntut mampu menghasilkan produk atau layanan yang baik, tetapi juga harus memahami kebutuhan konsumen, menjaga kualitas, mengelola keuangan, membangun kepercayaan, dan beradaptasi dengan perubahan pasar.

Merintis usaha mengajarkan bahwa keberhasilan bisnis tidak terbentuk dalam satu malam. Ada proses mengenali peluang, memahami perilaku konsumen, menyusun strategi pemasaran, membangun identitas usaha, hingga mengevaluasi keputusan yang telah diambil. Setiap tantangan menjadi bahan pembelajaran, sedangkan setiap perubahan pasar menuntut pelaku usaha untuk terus memperbarui cara berpikir dan cara bekerja.

Dalam konteks bisnis yang semakin kompetitif, usaha di bidang perawatan dan kebersihan sepatu seperti My Sneaker SBY memiliki peluang untuk dikembangkan melalui pendekatan yang berorientasi pada kebutuhan pelanggan. Sepatu bukan sekadar perlengkapan penunjang aktivitas, melainkan juga bagian dari gaya hidup, penampilan, dan identitas seseorang. Perubahan gaya hidup masyarakat, terutama generasi muda, membuka peluang bagi layanan yang mengutamakan kebersihan, perawatan, kenyamanan, dan kualitas pelayanan.

Namun, peluang pasar saja tidak cukup untuk menjamin keberlanjutan usaha. Pelaku bisnis perlu memahami bahwa konsumen tidak hanya membeli produk atau menggunakan layanan, tetapi juga menilai pengalaman yang mereka peroleh. Ketepatan waktu, komunikasi yang jelas, kualitas hasil, transparansi harga, dan kemudahan akses menjadi bagian penting dalam membangun kepuasan pelanggan.

Dari pengalaman tersebut, saya memandang bahwa salah satu kunci mengembangkan usaha adalah kemampuan menggabungkan kualitas layanan dengan inovasi. Inovasi tidak selalu berarti menciptakan teknologi yang rumit atau mengeluarkan investasi besar. Inovasi dapat dimulai dari hal sederhana, seperti memperbaiki alur pelayanan, menyediakan informasi yang lebih mudah dipahami, membangun sistem pencatatan transaksi, mengoptimalkan media sosial, serta menjadikan masukan pelanggan sebagai dasar perbaikan.

Digitalisasi juga memberikan peluang besar bagi usaha kecil untuk meningkatkan daya saing. Melalui media sosial, pelaku usaha dapat memperkenalkan layanan, menampilkan dokumentasi hasil pekerjaan, membangun interaksi dengan pelanggan, dan memperluas jangkauan pasar tanpa harus bergantung sepenuhnya pada promosi konvensional. Sementara itu, pencatatan keuangan digital dapat membantu pemilik usaha memisahkan keuangan pribadi dan bisnis, memantau biaya operasional, menghitung keuntungan, serta merencanakan pengembangan usaha secara lebih terukur.

Meski demikian, digitalisasi bukan sekadar mengikuti tren. Teknologi harus digunakan untuk menyelesaikan persoalan bisnis yang nyata. Pelaku usaha perlu menentukan platform yang sesuai dengan karakteristik konsumennya, membuat konten yang relevan, menjaga konsistensi komunikasi, dan mengevaluasi efektivitas setiap strategi pemasaran. Dengan demikian, aktivitas digital tidak berhenti pada peningkatan jumlah pengikut, tetapi diarahkan untuk membangun kepercayaan, meningkatkan transaksi, dan mempertahankan pelanggan.

Perspektif tersebut memiliki relevansi penting dalam pendampingan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). UMKM merupakan bagian penting dari perekonomian masyarakat karena membuka peluang kerja, menggerakkan aktivitas ekonomi lokal, serta memberikan ruang bagi tumbuhnya kreativitas dan kemandirian. Akan tetapi, sebagian pelaku UMKM masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan keuangan, pemasaran, pengembangan produk, pemanfaatan teknologi, dan perencanaan bisnis.

Menurut saya, pendampingan UMKM perlu bergerak melampaui kegiatan pelatihan yang hanya menyampaikan materi. Pendampingan yang efektif harus berangkat dari kebutuhan nyata pelaku usaha dan diarahkan pada perubahan yang dapat diukur. Sebelum memberikan solusi, pendamping perlu memahami karakteristik usaha, proses bisnis, konsumen, sumber daya, serta kendala yang dihadapi. Dari hasil pemetaan tersebut, program pendampingan dapat disusun secara lebih relevan dan aplikatif.

Sebagai contoh, UMKM yang mengalami kesulitan menjangkau konsumen dapat didampingi untuk menyusun strategi pemasaran digital, memperbaiki foto produk, membuat katalog, dan mengoptimalkan media sosial. UMKM yang belum memiliki pencatatan keuangan dapat dibantu membangun sistem pembukuan sederhana. Sementara itu, usaha yang menghadapi persaingan ketat dapat diarahkan untuk memperjelas keunggulan produk, meningkatkan kualitas layanan, dan mengembangkan nilai tambah yang membedakannya dari pesaing.

Dalam hal ini, perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai mitra pengembangan usaha masyarakat. Dosen tidak hanya berperan sebagai pengajar dan peneliti, tetapi juga dapat menjadi fasilitator yang menjembatani pengetahuan akademik dengan kebutuhan pelaku usaha. Melalui kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, perguruan tinggi dapat membantu UMKM mengidentifikasi persoalan, merancang solusi, menguji inovasi, dan mengevaluasi hasil pendampingan.

Di Program Studi Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), semangat tersebut dapat diwujudkan melalui pembelajaran yang semakin dekat dengan realitas bisnis. Mahasiswa perlu memperoleh kesempatan untuk mengamati usaha secara langsung, menganalisis model bisnis, menyusun strategi pemasaran, membuat prototipe produk atau layanan, serta mendampingi UMKM dalam memanfaatkan teknologi digital. Dengan cara ini, mahasiswa tidak hanya memahami konsep manajemen secara teoritis, tetapi juga mengembangkan keterampilan memecahkan masalah, berkomunikasi, berkolaborasi, dan mengambil keputusan.

Pengalaman praktik bisnis juga dapat menjadi sumber pembelajaran yang berharga bagi mahasiswa. Melalui studi kasus dari usaha yang dijalankan, mahasiswa dapat memahami bahwa keputusan bisnis selalu berkaitan dengan keterbatasan sumber daya, perubahan kebutuhan pelanggan, ketidakpastian pasar, dan tuntutan menjaga kualitas. Mereka belajar bahwa strategi yang baik bukan sekadar strategi yang terlihat menarik di atas kertas, melainkan strategi yang dapat dilaksanakan, dievaluasi, dan disesuaikan dengan kondisi nyata.

Saya meyakini bahwa masa depan UMKM tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan produk yang berkualitas, tetapi juga oleh kemampuan membangun sistem usaha yang sehat, memanfaatkan teknologi secara tepat, mengembangkan sumber daya manusia, dan menciptakan hubungan jangka panjang dengan pelanggan. Pelaku usaha harus terus belajar, sedangkan perguruan tinggi perlu membuka ruang kolaborasi yang lebih luas agar pengetahuan dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Pada akhirnya, perjalanan mengembangkan usaha seperti My Sneaker SBY bukan semata-mata tentang membangun bisnis, melainkan juga tentang memahami bagaimana sebuah usaha dapat tumbuh melalui proses belajar, inovasi, dan keberanian beradaptasi. Dunia usaha memberikan pengalaman nyata, dunia akademik menyediakan kerangka berpikir, dan masyarakat menjadi ruang tempat gagasan diuji serta manfaatnya dirasakan.

Bagi saya, keberhasilan seorang dosen sekaligus pelaku usaha bukan hanya diukur dari apa yang berhasil dibangun untuk dirinya sendiri, tetapi juga dari seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan tersebut dapat dibagikan untuk membantu orang lain berkembang. Ketika ruang kelas terhubung dengan dunia usaha dan inovasi diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat, perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan yang memahami bisnis, tetapi juga generasi yang mampu menciptakan peluang, mengembangkan UMKM, dan menghadirkan dampak ekonomi yang berkelanjutan.

Mahasiswa UNUSIDA mengikuti upacara Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2026 yg diselenggarakan Pemkab Sidoarjo. (Foto: Humas UNUSIDA)

Hari Kesaktian Pancasila: Saatnya Mahasiswa Menghidupkan Nilai, Bukan Sekadar Menghafalnya

SIDOARJO — Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober bukan semata-mata momentum untuk mengenang perjalanan sejarah bangsa. Bagi mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), peringatan ini juga dapat menjadi ruang refleksi tentang bagaimana nilai-nilai Pancasila tetap relevan di tengah tantangan kehidupan generasi muda saat ini.

“Bagi saya, Hari Kesaktian Pancasila bukan sekadar mengenang peristiwa 1965, tetapi menjadi bahan refleksi. Pancasila dulu bertahan karena dijaga bersama. Sekarang tantangannya berbeda, bukan lagi sekadar pemberontakan, tetapi juga sikap apatis, intoleransi, dan korupsi,” ungkap Nelly seorang mahasiswi UNUSIDA, Kamis (1/10/2026).

Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya menghafalkan lima sila. Sebagai bagian dari generasi muda, mahasiswa juga memiliki tanggung jawab untuk memahami, mengkritisi, dan mengamalkan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau ada praktik yang tidak sesuai dengan nilai Pancasila, kita harus berani mengkritisi. Kesaktian Pancasila baru benar-benar terbukti kalau nilainya hidup dalam perilaku kita, bukan hanya dibacakan saat upacara,” ujarnya.

Pengamalan tersebut, lanjutnya, tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Lingkungan kampus justru menjadi tempat paling dekat untuk membangun karakter yang sesuai dengan nilai Pancasila.

Salah satunya adalah menjaga kejujuran dalam proses akademik. Tidak menyontek, tidak melakukan plagiarisme, serta mengerjakan tugas dengan kemampuan sendiri merupakan bentuk sederhana dari membangun integritas. Kejujuran menjadi bagian penting dalam menciptakan kehidupan yang adil dan bertanggung jawab.

“Mulai dari hal yang paling dekat. Jujur ketika mengerjakan tugas dan ujian, tidak menyontek atau melakukan plagiarisme. Integritas itu pondasi keadilan,” jelasnya.

Selain kejujuran, mahasiswa juga perlu membangun budaya berdiskusi dan bermusyawarah. Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam kehidupan kampus. Namun, perbedaan tersebut semestinya tidak menjadi alasan untuk merasa paling benar ataupun merendahkan pandangan orang lain.

Begitu pula dalam pergaulan. Mahasiswa dituntut untuk tidak memilih-milih teman berdasarkan suku, agama, maupun latar belakang organisasi. Lingkungan kampus yang beragam dapat menjadi ruang untuk belajar menghargai perbedaan sekaligus membangun persaudaraan.

“Kalau di kampus saja kita bisa belajar adil dan terbuka, nanti ketika terjun ke masyarakat kita sudah terbiasa menghadapi perbedaan dengan sikap yang dewasa,” tuturnya.

Ia juga menilai bahwa generasi muda yang mencerminkan nilai Pancasila bukan selalu mereka yang melakukan sesuatu dalam skala besar. Kepedulian terhadap lingkungan sekitar, keberanian bersikap dengan tetap menghormati perbedaan, serta kemauan untuk berkontribusi sesuai bidang masing-masing juga merupakan bentuk nyata pengamalan Pancasila.

“Tidak harus yang besar-besar. Yang penting konsisten dan bermanfaat bagi orang lain,” katanya.

Pada akhirnya, Hari Kesaktian Pancasila dapat menjadi pengingat bahwa mencintai Indonesia tidak cukup hanya dengan mengucapkan rasa bangga sebagai warga negara. Kebanggaan tersebut perlu dibuktikan melalui tindakan nyata, dimulai dari lingkungan terdekat.

“Jangan hanya bangga menjadi orang Indonesia, tetapi buktikan melalui tindakan. Pancasila akan benar-benar sakti kalau kita sebagai generasi muda mau menghidupkan nilainya setiap hari, mulai dari lingkungan terdekat,” tuturnya.

Baginya, Pancasila bukan sekadar materi yang dipelajari di ruang kelas atau lima sila yang dihafalkan. Ia menjadi nilai yang diuji melalui kejujuran, kepedulian, sikap menghargai perbedaan, keberanian menyampaikan pendapat, serta kemauan untuk memberikan manfaat bagi sesama.

“Selamat Hari Kesaktian Pancasila. Saatnya nilai Pancasila hidup dalam tindakan,” pungkasnya.

Suasana PKKMB UNUSIDA 2026 di Masjid KH Muhammad Hasyim Asy'ari PCNU Sidoarjo. (Foto: Humas UNUSIDA)

Mahasiswa UNUSIDA Harus Sedikit ‘Gila’ untuk Mengejar Mimpi Besar

SIDOARJO — Memulai perjalanan sebagai mahasiswa baru bukan sekadar berpindah dari bangku sekolah menengah menuju perguruan tinggi. Bagi mahasiswa baru Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) angkatan 2026/2027, masa awal perkuliahan seharusnya menjadi momentum untuk menentukan seberapa jauh mereka ingin melangkah dan seberapa besar mimpi yang ingin diwujudkan.

Dalam perjalanan itu, keberanian menjadi modal penting. Bahkan, mahasiswa terkadang perlu memiliki sedikit “kegilaan” dalam arti positif: berani memasang target tinggi, berani mengambil peluang, berani mencoba hal baru, dan berani keluar dari zona nyaman.

Ketika seorang mahasiswa baru menetapkan target akademik yang tinggi, memenangkan kompetisi, aktif dalam organisasi, menghasilkan karya ilmiah, atau bahkan membangun inovasi sejak semester awal, tidak semua orang akan langsung memahami pilihannya. Ada kalanya ambisi tersebut dianggap berlebihan atau tidak realistis.

Namun, penilaian lingkungan tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengecilkan mimpi.

Pola pikir serba rata-rata cenderung melahirkan capaian yang juga rata-rata. Jika mahasiswa menjalani kuliah hanya sebatas hadir di kelas, mengerjakan tugas, mengikuti ujian, kemudian menunggu wisuda, maka peluang untuk menghasilkan sesuatu yang luar biasa tentu menjadi lebih kecil.

Mimpi besar membutuhkan energi, fokus, disiplin, dan keberanian yang lebih besar pula.

Meski demikian, “gila” dalam mengejar cita-cita bukan berarti bertindak tanpa perhitungan. Justru keberanian yang dibutuhkan mahasiswa adalah keberanian yang rasional. Mengikuti kompetisi, mengambil peran dalam organisasi, melakukan penelitian, membangun usaha, maupun mencoba teknologi baru harus disertai kalkulasi risiko dan manajemen waktu yang baik.

Ambisi tanpa disiplin hanya akan berubah menjadi kekacauan. Sebaliknya, ambisi yang dipadukan dengan perencanaan matang dapat menjadi mesin penggerak prestasi.

Jangan Takut Keluar dari Zona Nyaman
Lingkungan sosial sering kali mendorong seseorang untuk memilih jalan yang aman. Menjadi mahasiswa yang biasa-biasa saja mungkin terasa nyaman karena tidak terlalu banyak menghadapi risiko kegagalan maupun kritik.

Tetapi kenyamanan yang berlebihan juga dapat menjadi jebakan.

Mahasiswa baru yang ingin berkembang perlu berani bertanya ketika belum memahami materi, berani tampil dalam kompetisi meskipun belum pernah menang, berani mengajukan gagasan meskipun masih mentah, dan berani menerima kritik ketika hasil pekerjaan belum sempurna.

Di sinilah ketahanan mental menjadi penting.

Kegagalan dalam ujian, proposal penelitian yang ditolak, revisi dari dosen, kekalahan dalam kompetisi, atau kegagalan menjalankan program organisasi seharusnya tidak langsung dianggap sebagai akhir perjalanan. Semua itu dapat diperlakukan sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki strategi.

Mentalitas seperti ini sejalan dengan konsep growth mindset yang diperkenalkan psikolog Carol Dweck, yakni pandangan bahwa kemampuan seseorang dapat berkembang melalui proses belajar, usaha, strategi yang tepat, dan pengalaman menghadapi tantangan.

Dengan pola pikir tersebut, tugas yang sulit bukan lagi sesuatu yang harus dihindari. Justru tantangan menjadi ruang untuk meningkatkan kemampuan.

Prestasi Tidak Lahir dari Kenyamanan
Perjalanan menuju prestasi membutuhkan konsistensi. Mahasiswa yang ingin menjadi lulusan terbaik tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan atau bakat.

Konsep grit yang dipopulerkan peneliti Angela Duckworth menekankan pentingnya ketekunan dan konsistensi dalam mengejar tujuan jangka panjang. Dalam konteks mahasiswa, grit dapat terlihat dari kesediaan untuk terus belajar meskipun hasil ujian belum sesuai harapan, memperbaiki penelitian berkali-kali, atau tetap berlatih setelah mengalami kegagalan.

Empat tahun masa perkuliahan adalah perjalanan yang panjang. Semangat yang muncul pada masa orientasi mahasiswa baru sangat mungkin mengalami pasang surut. Karena itu, mahasiswa membutuhkan alasan yang lebih kuat daripada sekadar motivasi sesaat.

Di sinilah makna sebuah cita-cita menjadi penting.

Mahasiswa yang memiliki visi jelas akan lebih mudah menentukan apa yang harus dilakukan dan apa yang perlu dikorbankan. Waktu untuk bersantai mungkin harus dikurangi ketika tenggat penelitian semakin dekat. Kesempatan mengikuti kegiatan yang kurang relevan mungkin harus dilewatkan ketika ada target akademik yang lebih penting.

Pengorbanan tersebut bukan berarti mahasiswa harus kehilangan keseimbangan hidup. Istilah “gila” dalam mengejar mimpi justru harus dipahami sebagai obsesi yang terkendali, semangat besar yang tetap berjalan bersama kesehatan, relasi sosial, tanggung jawab akademik, dan manajemen waktu.

Berani Tidak Populer
Salah satu tantangan terbesar mahasiswa bukan hanya tugas akademik, melainkan keinginan untuk mendapatkan validasi dari lingkungan.

Ada mahasiswa yang sebenarnya memiliki potensi besar, tetapi mengurungkan langkah karena takut dianggap sok pintar. Ada yang enggan mengikuti kompetisi karena takut kalah. Ada pula yang memilih tidak aktif karena khawatir berbeda dengan kelompok pertemanannya.

Padahal, perjalanan menuju prestasi tidak selalu populer.

Steve Jobs pernah dikenal luas karena pandangannya tentang orang-orang yang berani berpikir berbeda dan mengubah keadaan. Pesan yang dapat diambil bukanlah untuk bertindak secara sembrono, melainkan berani mempertanyakan kebiasaan lama dan membayangkan kemungkinan yang belum terlihat.

Dalam kehidupan kampus, keberanian berpikir berbeda dapat dimulai dari hal sederhana: memiliki target yang lebih tinggi, membaca lebih banyak, bertanya lebih kritis, mencoba teknologi baru, membangun jejaring, hingga berani menghasilkan karya.

Tidak semua orang akan langsung memberikan apresiasi. Dan itu tidak masalah. Validasi terbesar seorang mahasiswa pada akhirnya bukan berasal dari tepuk tangan teman, melainkan dari perkembangan dirinya sendiri dan karya nyata yang berhasil dihasilkan.

Kampus Sebagai Ruang untuk Menempa Diri
UNUSIDA bukan hanya tempat untuk memperoleh gelar sarjana. Kampus juga menjadi ruang untuk menempa karakter, kemampuan intelektual, kepemimpinan, kreativitas, serta kepedulian sosial.

Semangat tersebut semakin bermakna ketika perjalanan pendidikan ditempatkan dalam kerangka nilai pengabdian dan khidmah. Bagi mahasiswa UNUSIDA, cita-cita akademik idealnya tidak berhenti pada pencapaian pribadi, tetapi dapat diarahkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Karena itu, menjadi “gila” dalam konteks ini bukan tentang menjadi paling keras, paling sibuk, atau paling banyak kegiatan. Bukan pula tentang mengorbankan kesehatan demi prestasi.

Menjadi “gila” adalah berani memiliki visi yang besar, kemudian membayarnya dengan kerja keras yang nyata.

Berani bermimpi menjadi lulusan terbaik, lalu konsisten belajar.

Berani ingin memenangkan kompetisi, lalu disiplin berlatih.

Berani ingin menghasilkan penelitian, lalu siap menghadapi revisi.

Berani ingin menjadi pemimpin, lalu bersedia belajar mendengarkan.

Berani ingin menciptakan inovasi, lalu tidak takut gagal berkali-kali.

Pada akhirnya, setiap mahasiswa baru memiliki pilihan. Menjalani masa kuliah sekadar untuk menyelesaikan kewajiban atau menjadikannya sebagai perjalanan untuk membangun kapasitas diri dan menghasilkan karya yang berarti.

Jangan takut jika ide besar hari ini dianggap terlalu tinggi. Jangan pula buru-buru menyerah ketika langkah pertama belum menghasilkan apa-apa. Bisa jadi, apa yang hari ini disebut “gila” justru merupakan keberanian yang kelak mengantarkan seseorang menuju prestasi.

Untuk maba UNUSIDA 2026/2027, bermimpilah setinggi mungkin. Beranilah berpikir berbeda. Namun pastikan setiap keberanian dibarengi disiplin, strategi, dan tanggung jawab. Sebab mimpi besar tidak cukup hanya dibayangkan—ia harus diperjuangkan sampai menjadi kenyataan.

Gen Z Naik Kelas! Dobrak Cara Pandang, Ciptakan Masa Depan Gemilang Sejak Bangku Kuliah 2

Gen Z Naik Kelas! Dobrak Cara Pandang, Ciptakan Masa Depan Gemilang Sejak Bangku Kuliah

Oleh: Pingkia Angelica Taufani
Gubernur Fakultas Ekonomi UNUSIDA 

Menjadi mahasiswa di era digital memberikan banyak kesempatan yang mungkin tidak dimiliki generasi sebelumnya. Akses terhadap informasi semakin terbuka, teknologi berkembang begitu cepat, dan media sosial dapat menjadi ruang untuk belajar, membangun jaringan, bahkan menciptakan penghasilan. Namun, di tengah berbagai peluang tersebut, masih ada satu pertanyaan penting yang perlu kita renungkan: apakah kita benar-benar memanfaatkan masa kuliah untuk membangun masa depan, atau hanya sekadar mengejar gelar?

Sudah waktunya Gen Z mengubah cara pandang terhadap dunia perkuliahan. Kuliah seharusnya tidak hanya dipahami sebagai jalan untuk mendapatkan ijazah dan pekerjaan setelah wisuda. Kampus merupakan ruang untuk bereksperimen, mengembangkan kemampuan, membangun relasi, menghasilkan karya, dan menciptakan peluang.

Selama ini, pertanyaan yang sering muncul di benak mahasiswa adalah, “Apa yang bisa saya dapatkan dari kampus?” Pertanyaan tersebut tidak salah. Namun, akan jauh lebih bermakna jika kita mulai mengubahnya menjadi, “Apa yang bisa saya ciptakan selama berada di kampus?”

Perubahan pertanyaan sederhana tersebut dapat mengubah cara kita menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.

Ketika mahasiswa mulai berpikir tentang apa yang dapat diciptakan, maka organisasi bukan lagi sekadar tempat mencari pengalaman kepemimpinan, tetapi menjadi ruang untuk menghasilkan program yang berdampak. Tugas kuliah bukan lagi hanya kewajiban akademik, tetapi dapat menjadi kesempatan untuk menghasilkan ide, penelitian, produk, maupun solusi terhadap permasalahan di sekitar.

Begitu pula dengan kewirausahaan. Menjadi mahasiswa tidak harus menunggu sampai memiliki modal besar untuk memulai bisnis. Banyak usaha besar berawal dari ide sederhana, kemampuan membaca kebutuhan masyarakat, dan keberanian untuk mencoba. Gen Z memiliki keunggulan berupa kemampuan memanfaatkan teknologi dan media sosial. Kemampuan tersebut dapat menjadi modal awal untuk membangun usaha bahkan sejak masih duduk di bangku kuliah.

Namun, menjadi entrepreneur mahasiswa bukan berarti harus mengorbankan pendidikan. Justru keduanya dapat berjalan beriringan. Ilmu yang diperoleh di kelas dapat diterapkan dalam dunia nyata. Konsep pemasaran dapat digunakan untuk mempromosikan produk. Ilmu manajemen dapat diterapkan untuk mengelola bisnis. Pengetahuan keuangan dapat membantu mengatur arus kas. Bahkan tugas perkuliahan dapat dikembangkan menjadi ide bisnis yang memiliki nilai ekonomi.

Di sinilah makna “Gen Z naik kelas” menjadi penting. Naik kelas bukan hanya tentang memperoleh nilai akademik yang tinggi. Naik kelas berarti berkembang menjadi pribadi yang memiliki kemampuan untuk menciptakan nilai, menyelesaikan masalah, beradaptasi dengan perubahan, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Gen Z juga perlu berhenti takut terhadap kegagalan. Salah satu alasan mahasiswa enggan memulai adalah kekhawatiran bahwa ide mereka tidak sempurna. Padahal, tidak ada karya yang langsung sempurna sejak pertama kali dibuat. Kegagalan, kritik, dan proses evaluasi merupakan bagian dari perjalanan untuk menjadi lebih baik.

Lebih baik memulai dari sesuatu yang sederhana daripada terus menunggu sampai semuanya sempurna. Sebuah konten pertama mungkin belum memiliki banyak penonton. Sebuah produk pertama mungkin belum langsung laku. Sebuah kegiatan pertama mungkin memiliki banyak kekurangan. Namun, dari proses itulah pengalaman terbentuk.

Selain menghasilkan karya dan usaha, mahasiswa juga perlu membangun personal branding. Di era digital, kemampuan seseorang tidak hanya dilihat dari ijazah, tetapi juga dari karya dan kontribusi yang dapat ditunjukkan. Portofolio menjadi bukti bahwa seseorang pernah melakukan sesuatu, menyelesaikan masalah, dan menghasilkan nilai.

Karena itu, masa kuliah seharusnya menjadi masa untuk membangun portofolio kehidupan. Mengikuti organisasi, mengikuti kompetisi, membuat konten edukatif, melakukan penelitian, membangun bisnis kecil, mengikuti program magang, hingga terlibat dalam kegiatan sosial merupakan bagian dari proses tersebut.

Kampus pada akhirnya bukan sekadar tempat untuk menunggu masa depan datang. Kampus adalah tempat untuk mempersiapkan sekaligus menciptakan masa depan.

Maka, jangan tunggu lulus untuk mulai berkarya. Jangan tunggu memiliki pekerjaan untuk mulai belajar menghasilkan uang. Jangan menunggu memiliki jabatan untuk mulai memberikan dampak. Dan jangan menunggu sempurna untuk mulai mencoba.

Gen Z memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana masa depannya dibangun. Pertanyaannya bukan lagi sekadar “Setelah lulus saya akan menjadi apa?”, tetapi juga “Selama menjadi mahasiswa, apa yang sudah saya bangun?”

Sebab, masa depan bukanlah hadiah yang otomatis diberikan setelah wisuda. Masa depan adalah hasil dari keputusan, keberanian, keterampilan, relasi, karya, dan pengalaman yang kita bangun sejak hari ini.

Mari kuliah bukan hanya untuk mendapatkan gelar. Mari kuliah untuk bertumbuh, berkarya, menciptakan peluang, dan memberikan dampak. Karena menjadi mahasiswa bukan sekadar fase menunggu masa depan—tetapi kesempatan untuk mulai menciptakannya.

Dekan FKIP UNUSIDA Kobarkan Semangat POKER 2026, Cetak Generasi Pendidik Berkarakter, Berkarya, dan Berdampak 3

Dekan FKIP UNUSIDA Kobarkan Semangat POKER 2026, Cetak Generasi Pendidik Berkarakter, Berkarya, dan Berdampak

Sidoarjo, 16 September 2026 — Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Pekan Orientasi Keguruan (POKER) FKIP Tahun 2026 sebagai momentum penyambutan sekaligus pengenalan lingkungan akademik bagi mahasiswa baru. Mengusung tema “Membentuk Generasi Pendidik yang Berkarakter, Berkarya, Berdampak”, kegiatan ini menjadi langkah awal dalam membangun karakter, rasa memiliki, serta semangat berprestasi mahasiswa sebagai calon pendidik.

Dekan FKIP UNUSIDA, Muawwinatul Laili, S.S., M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa POKER merupakan kegiatan yang memiliki arti penting bagi mahasiswa baru. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda penyambutan, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan mahasiswa terhadap lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan secara lebih dekat.

Pada POKER FKIP 2026, sebanyak 120 mahasiswa baru mengikuti kegiatan yang terdiri atas mahasiswa reguler maupun mahasiswa dari program mitra. Kehadiran mahasiswa baru tersebut menjadi bagian dari bertambahnya keluarga besar FKIP UNUSIDA yang diharapkan mampu tumbuh bersama, mengembangkan potensi, dan memberikan kontribusi positif bagi fakultas maupun universitas.

“Tak kenal maka tak sayang,” menjadi salah satu ungkapan yang menggambarkan pentingnya proses pengenalan dalam kegiatan POKER. Menurut Dekan FKIP, ketika mahasiswa telah mengenal fakultas, program studi, dosen, serta lingkungan akademiknya, diharapkan tumbuh rasa memiliki terhadap almamater.

Rasa memiliki tersebut, lanjutnya, perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, salah satunya dengan menjaga nama baik FKIP dan UNUSIDA. Mahasiswa tidak hanya membawa nama pribadi, tetapi juga membawa identitas fakultas dan universitas dalam setiap aktivitasnya, baik di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat.

“Sebagai mahasiswa FKIP, kalian memiliki tanggung jawab untuk menjaga nama baik fakultas dan universitas,” pesan Muawwinatul kepada mahasiswa baru.

Ia juga menjelaskan bahwa POKER menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenal lebih jauh berbagai aspek kehidupan akademik. Mahasiswa tidak hanya berkenalan dengan teman-teman baru, tetapi juga dengan dosen, tenaga kependidikan, serta seluruh sivitas akademika FKIP UNUSIDA.

Pemahaman mengenai visi dan misi fakultas, lingkungan akademik, etika mahasiswa, hingga Tri Dharma Perguruan Tinggi menjadi bagian penting yang perlu diketahui sejak awal. Bekal tersebut diharapkan dapat membantu mahasiswa beradaptasi dengan kehidupan perguruan tinggi sekaligus memahami tanggung jawabnya sebagai bagian dari civitas akademika.

Karena itu, Dekan FKIP mengajak seluruh mahasiswa baru untuk mengikuti setiap rangkaian POKER dengan sungguh-sungguh. Setiap materi yang diberikan hendaknya disimak dan dipahami dengan baik karena memiliki manfaat dalam menunjang perjalanan studi mahasiswa.

“Jangan sampai ada materi yang dianggap tidak penting. Materi apa pun yang disampaikan, insyaallah memiliki manfaat dan dapat menunjang perjalanan studi kalian di FKIP,” tuturnya.

Selain aspek akademik, Muawwinatul menekankan pentingnya membangun kebersamaan dan rasa memiliki sejak mahasiswa pertama kali bergabung dengan FKIP. Mahasiswa diharapkan mampu membangun hubungan yang baik dengan sesama mahasiswa, dosen, maupun seluruh sivitas akademika.

Lebih jauh, FKIP UNUSIDA memiliki harapan besar terhadap mahasiswa baru Tahun 2026. Mereka diharapkan mampu menjadi mahasiswa yang berprestasi, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik. Prestasi tersebut juga harus berjalan seiring dengan pembentukan karakter dan akhlakul karimah.

Sebagai calon pendidik, mahasiswa FKIP tidak cukup hanya menguasai pengetahuan dan keterampilan akademik. Mereka juga dituntut memiliki karakter, keteladanan, etika, sikap, serta akhlak yang baik. Hal ini menjadi penting karena seorang pendidik nantinya memiliki peran besar dalam membentuk karakter generasi berikutnya.

“Sebagai calon pendidik, kalian tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik. Seorang pendidik juga harus memiliki karakter, keteladanan, sikap, etika, dan akhlak yang baik,” jelasnya.

Dekan FKIP juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia yang telah mempersiapkan POKER FKIP 2026, mulai dari sarana dan prasarana hingga rangkaian kegiatan yang telah dirancang untuk mahasiswa baru.

Ia menilai tema “Membentuk Generasi Pendidik yang Berkarakter, Berkarya, Berdampak” sangat relevan dengan harapan FKIP terhadap generasi mahasiswa yang sedang dipersiapkan. Karakter menjadi fondasi dalam menjalankan peran sebagai pendidik, karya menjadi bentuk pengembangan potensi, sementara dampak menjadi wujud kontribusi nyata bagi masyarakat.

Melalui POKER FKIP 2026, mahasiswa baru diharapkan mampu menjadikan masa perkuliahan sebagai proses untuk terus belajar, berkembang, dan membangun pengalaman. Mereka didorong untuk tidak hanya mengejar pencapaian akademik, tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan yang dapat mengembangkan kompetensi, kepemimpinan, kreativitas, dan kepedulian sosial.

Menutup sambutannya, Muawwinatul Laili mengucapkan selamat datang kepada seluruh mahasiswa baru POKER FKIP Tahun 2026. Ia berpesan agar mahasiswa mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh semangat hingga selesai.

POKER FKIP UNUSIDA 2026 diharapkan menjadi titik awal yang kuat bagi 122 mahasiswa baru untuk mengenal, mencintai, dan menjadi bagian dari keluarga besar FKIP. Dengan semangat berkarakter, berkarya, dan berdampak, mahasiswa baru FKIP UNUSIDA dipersiapkan untuk tumbuh menjadi generasi pendidik yang profesional, berintegritas, berakhlak, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan dunia pendidikan.

Bangkitkan Potensi, Raih Prestasi: Dekan FE UNUSIDA Dorong Mahasiswa Baru Menjadi Generasi Unggul 4

Bangkitkan Potensi, Raih Prestasi: Dekan FE UNUSIDA Dorong Mahasiswa Baru Menjadi Generasi Unggul

SIDOARJO – Memasuki dunia perguruan tinggi bukan sekadar berpindah dari bangku sekolah menuju ruang perkuliahan. Bagi mahasiswa baru, momentum tersebut merupakan awal dari sebuah perjalanan panjang untuk membangun kompetensi, karakter, pengalaman, jejaring, sekaligus menentukan arah masa depan. Pandangan tersebut menjadi salah satu gagasan yang disampaikan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Dr. Hj. Muhafidhah Novie, S.E., M.M., dalam rangkaian kegiatan HARMONIKAFE Fakultas Ekonomi Tahun 2026.

Bagi Dr. Hj. Muhafidhah Novie, kehadiran mahasiswa baru di lingkungan Fakultas Ekonomi merupakan sebuah awal yang harus disambut dengan optimisme. Mahasiswa tidak hanya datang untuk mengikuti perkuliahan dan memperoleh gelar akademik, tetapi juga memasuki lingkungan yang memberikan ruang luas untuk belajar, berkembang, berorganisasi, berprestasi, dan memberikan kontribusi kepada masyarakat.

Karena itu, HARMONIKAFE dipandang bukan hanya sebagai kegiatan seremonial penyambutan. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk membangun kedekatan antara mahasiswa baru dengan lingkungan Fakultas Ekonomi sekaligus memberikan gambaran mengenai perjalanan yang akan mereka tempuh selama berada di perguruan tinggi.

Menurut Dr. Hj. Muhafidhah Novie, mahasiswa baru perlu mengikuti setiap rangkaian kegiatan dengan sungguh-sungguh. Setiap materi, arahan, dan pengalaman yang diberikan harus dipandang sebagai bagian dari proses pembentukan diri.

Dua hari pertama di lingkungan kampus menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal budaya akademik, memahami lingkungan perguruan tinggi, serta mempersiapkan diri menghadapi tantangan selama masa studi. Apa yang diperoleh dalam kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti setelah acara selesai, tetapi menjadi bekal yang terus diterapkan dalam kehidupan perkuliahan.

“Selamat datang dan selamat bergabung menjadi bagian dari keluarga besar Fakultas Ekonomi Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo,” menjadi pesan penting yang disampaikan kepada mahasiswa baru.

Namun, sambutan tersebut tidak berhenti pada ucapan selamat datang. Ada harapan besar yang disematkan kepada generasi baru Fakultas Ekonomi.

Dr. Hj. Muhafidhah Novie berharap mahasiswa baru mampu menjadi mahasiswa yang berprestasi, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik. Prestasi tidak hanya diukur dari Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), tetapi juga dari kemampuan mahasiswa dalam mengembangkan potensi, mengikuti kompetisi, aktif berorganisasi, melakukan penelitian, membangun kreativitas, serta memberikan kontribusi positif.

Untuk mencapai hal tersebut, mahasiswa perlu berani keluar dari zona nyaman. Lingkungan kampus harus dimanfaatkan sebagai ruang untuk mencoba berbagai pengalaman baru. Mahasiswa dapat bergabung dalam organisasi, mengikuti kegiatan kemahasiswaan, berpartisipasi dalam kompetisi, maupun mengembangkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

Bagi Dekan Fakultas Ekonomi, mahasiswa juga memiliki tanggung jawab untuk memahami dan menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.

Tri Dharma tidak seharusnya dipahami sebagai konsep yang hanya melekat pada dosen dan perguruan tinggi. Mahasiswa juga merupakan bagian penting dari ekosistem akademik yang memiliki kesempatan untuk terlibat di dalamnya.

Dalam bidang pendidikan, mahasiswa dituntut untuk serius mengikuti proses pembelajaran. Dalam penelitian, mahasiswa didorong untuk memiliki rasa ingin tahu dan kemampuan berpikir kritis. Sementara dalam pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa diharapkan mampu menggunakan ilmu yang dimiliki untuk memberikan manfaat nyata.

Gagasan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi tidak hanya berorientasi pada kelulusan, tetapi juga pada proses pembentukan manusia yang berkualitas.

Dr. Hj. Muhafidhah Novie juga menekankan pentingnya kedisiplinan dan tanggung jawab mahasiswa selama menjalani masa studi. Menurutnya, keberhasilan mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga oleh konsistensi dalam menjalani proses.

Mahasiswa harus memiliki komitmen untuk belajar, aktif mengikuti kegiatan, menjaga kedisiplinan, serta bertanggung jawab terhadap pilihan yang telah diambil.

Di sisi lain, Fakultas Ekonomi berkomitmen memberikan pendampingan dan pelayanan terbaik kepada mahasiswa. Dukungan dari dosen, tenaga kependidikan, organisasi mahasiswa, dan seluruh sivitas akademika diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan mahasiswa.

Pendampingan tersebut menjadi bagian dari upaya fakultas untuk membantu mahasiswa mencapai salah satu target penting dalam perjalanan pendidikan, yaitu lulus tepat waktu dengan prestasi yang membanggakan.

Namun, lulus tepat waktu bukan satu-satunya tujuan. Lebih jauh, mahasiswa diharapkan mampu meninggalkan kampus dengan membawa kompetensi, karakter, pengalaman, dan nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan profesional maupun sosial.

Dengan demikian, HARMONIKAFE menjadi sebuah titik awal. Dari kegiatan inilah mahasiswa mulai mengenal keluarga besar Fakultas Ekonomi, memahami lingkungan akademik, membangun relasi, dan mempersiapkan diri untuk menjalani perjalanan pendidikan.

Pesan Dr. Hj. Muhafidhah Novie kepada mahasiswa baru pada akhirnya merupakan ajakan untuk menjadikan masa kuliah sebagai kesempatan terbaik untuk bertumbuh.

Belajar dengan sungguh-sungguh, aktif mengembangkan diri, berani meraih prestasi, memahami Tri Dharma, serta membangun karakter yang kuat merupakan fondasi yang perlu dimiliki mahasiswa sejak awal.

HARMONIKAFE 2026 diharapkan menjadi langkah pertama menuju perjalanan akademik yang penuh pengalaman dan prestasi. Sebab, mahasiswa yang baik bukan hanya mereka yang mampu menyelesaikan studinya, tetapi juga mereka yang mampu tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kompetensi, karakter, dan kebermanfaatan bagi masyarakat.

Bagi Fakultas Ekonomi UNUSIDA, mahasiswa baru bukan sekadar peserta didik baru. Mereka adalah generasi penerus yang dipersiapkan untuk menjadi insan akademik, profesional, entrepreneur, dan pemimpin masa depan.

Karena itu, perjalanan menuju kesuksesan harus dimulai sejak hari pertama.

Selamat datang mahasiswa baru Fakultas Ekonomi UNUSIDA. Mari belajar, bertumbuh, berprestasi, dan bersama-sama membangun masa depan yang lebih berdampak.

#UNUSIDA #AyokuliahUNUSIDA #KampusBerdampak #Diktisaintekberdampak

Menguatkan Ukhuwah dan Membuka Jalan Surga, Hadis ke-21 Dorong Umat Gemar Menolong dan Menuntut Ilmu 5

Menguatkan Ukhuwah dan Membuka Jalan Surga, Hadis ke-21 Dorong Umat Gemar Menolong dan Menuntut Ilmu

Sidoarjo — Semangat untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama kembali ditekankan dalam kajian keislaman melalui pembahasan Hadis ke-21 dalam Kitab Adab. Kajian tersebut mengangkat pesan penting tentang keutamaan membantu sesama Muslim, meringankan kesulitan, menjaga aib, serta menempuh jalan untuk mencari ilmu sebagai bagian dari upaya mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pembahasan diawali dengan hadis Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Rasulullah ﷺ bersabda:

«“Barang siapa menghilangkan satu kesusahan dari seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, maka Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan pada hari kiamat.”»

Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa kepedulian kepada sesama bukan sekadar bentuk hubungan sosial, tetapi juga memiliki nilai ibadah yang besar. Setiap Muslim dianjurkan untuk peka terhadap kondisi saudaranya dan berusaha memberikan pertolongan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Dalam kehidupan sehari-hari, pertolongan tersebut dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk. Tidak harus selalu berupa materi, tetapi juga dapat berupa makanan, tenaga, waktu, perhatian, maupun bantuan dalam menyelesaikan persoalan. Hal sederhana yang dilakukan dengan ikhlas dapat menjadi amal yang bernilai di sisi Allah.

“Kebaikan yang kita lakukan kepada orang lain sebenarnya akan kembali kepada diri kita sendiri. Kita membantu saudara kita di dunia, dan Allah menjanjikan pertolongan bagi kita di akhirat,” menjadi salah satu pesan penting yang disampaikan dalam kajian.

Pembahasan kemudian berlanjut pada keutamaan memberikan kemudahan kepada orang yang sedang menghadapi kesulitan. Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa siapa saja yang memberikan kemudahan kepada orang yang mengalami kesulitan, Allah akan memberikan kemudahan kepadanya di dunia dan akhirat.

Pesan tersebut menjadi motivasi agar umat tidak bersikap acuh ketika melihat orang lain sedang membutuhkan pertolongan. Selama memiliki kemampuan untuk membantu, seseorang dianjurkan mengambil peran untuk meringankan beban saudaranya.

Selain membantu secara nyata, bentuk kepedulian lainnya adalah menjaga kehormatan sesama Muslim. Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira bahwa siapa saja yang menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.

Pesan ini sangat relevan dalam kehidupan sosial, terlebih di tengah kemudahan masyarakat dalam menyebarkan informasi melalui media sosial. Setiap orang perlu berhati-hati agar tidak menjadikan kekurangan atau kesalahan orang lain sebagai bahan pembicaraan, candaan, maupun konsumsi publik.

Menutup aib bukan berarti membenarkan perbuatan yang salah. Namun, menjaga kehormatan seseorang, memberikan nasihat dengan cara yang baik, dan tidak menyebarkan keburukannya merupakan bagian dari akhlak seorang Muslim.

Lebih lanjut, kajian tersebut menekankan janji Rasulullah ﷺ bahwa Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. Pesan ini memperkuat keyakinan bahwa menjadi pribadi yang bermanfaat merupakan salah satu jalan untuk mendapatkan pertolongan Allah.

“Jangan takut kehilangan ketika kita membantu orang lain. Ketika dilakukan dengan ikhlas karena Allah, pertolongan tersebut dapat menjadi sebab datangnya pertolongan Allah kepada kita,” menjadi refleksi yang disampaikan dalam kajian.

Tidak berhenti pada hubungan sosial, Hadis ke-21 juga memberikan perhatian besar terhadap aktivitas mencari ilmu. Rasulullah ﷺ bersabda:

«“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”»

Pesan tersebut menjadi motivasi khususnya bagi para pelajar dan mahasiswa agar memandang proses pendidikan tidak hanya sebagai sarana memperoleh nilai, ijazah, atau gelar. Jika dilakukan dengan niat yang benar, proses belajar dapat menjadi bagian dari ibadah dan jalan mendekatkan diri kepada Allah.

Membaca, berdiskusi, mendengarkan penjelasan guru atau dosen, membaca kitab, mengikuti kajian, serta mempelajari ilmu yang bermanfaat merupakan aktivitas yang dapat bernilai ibadah ketika dilandasi niat karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam konteks tradisi keagamaan masyarakat Nahdliyyin, semangat menuntut ilmu juga berjalan beriringan dengan upaya menjaga berbagai tradisi keagamaan seperti majelis ilmu, dzikir, istighatsah, mujahadah, tahlil, dan pembacaan maulid Nabi ﷺ. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat spiritualitas, mempererat ukhuwah, memperbanyak dzikir dan shalawat, serta meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.

Dari keseluruhan pembahasan, terdapat beberapa pesan utama yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari: membantu saudara yang mengalami kesulitan, memberikan kemudahan, menjaga aib sesama Muslim, menjadi pribadi yang bermanfaat, serta istiqamah dalam menuntut ilmu.

Kajian tersebut pada akhirnya mengajak setiap Muslim untuk tidak berhenti pada pemahaman terhadap hadis, tetapi mengubahnya menjadi amalan nyata.

“Ketika ada saudara kita yang kesulitan, kita bantu. Ketika ada saudara kita yang memiliki kekurangan, kita jaga aibnya. Ketika ada kesempatan untuk menuntut ilmu, mari kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya.”

Dengan menghidupkan nilai-nilai tersebut, diharapkan tumbuh pribadi-pribadi yang tidak hanya memiliki ilmu, tetapi juga memiliki kepedulian, akhlak, dan semangat memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Semoga setiap langkah dalam membantu sesama, menjaga ukhuwah, dan menuntut ilmu menjadi bagian dari ikhtiar untuk memperoleh pertolongan Allah serta dimudahkan menuju jalan surga-Nya.

Amin, amin ya Rabbal ‘alamin.

Sumber: Shahih Muslim, Hadis No. 2699a.

Dosen FAI UNUSIDA, Rangga Sa'adillah S.A.P. (Foto: Humas UNUSIDA)

Dosen UNUSIDA Sebut Kortas Tipikor sebagai Manifestasi Etika Publik dan Maqashid Syariah

SIDOARJO — Pembentukan Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortas Tipikor) di tubuh Kepolisian Republik Indonesia dinilai tidak semata-mata sebagai perubahan struktur kelembagaan, tetapi juga dapat dimaknai sebagai upaya memperkuat etika publik dan menghadirkan pendekatan yang lebih komprehensif dalam pemberantasan korupsi.

Pandangan tersebut disampaikan Rangga Sa’adillah, S.A.P., Dosen dan Kabag MKU Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), dalam opininya bertajuk ‘Kortas Tipikor Polri: Manifestasi Maqashid Syariah dalam Pemberantasan Korupsi’. Menurutnya, korupsi tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan administratif atau pelanggaran prosedur hukum. Korupsi merupakan bentuk kerusakan yang berdampak luas terhadap keadilan, kesejahteraan masyarakat, kohesi sosial, hingga legitimasi negara.

“Korupsi adalah kejahatan yang memiskinkan kemanusiaan. Maka, perlawanan terhadapnya tidak bisa lagi bersandar pada rasionalitas hukum yang usang dan parsial,” tulisnya.

Ia menilai kehadiran Kortas Tipikor dapat menjadi momentum untuk menghadirkan pendekatan baru dalam penegakan hukum. Terlebih, pemberantasan korupsi tidak cukup berhenti pada proses penindakan dan pemidanaan, tetapi juga harus memastikan kerugian negara dapat dipulihkan.

Penegakan Hukum Harus Berorientasi Pemulihan

Wakil Sekretaris Komisi Pengkajian, Penelitian, dan Pelatihan (KP3) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur tersebut menjelaskan, selama ini penegakan hukum acap kali terjebak dalam paradigma positivistik yang memandang hukum sebatas teks dan keadilan sebagai proses penghukuman.

Padahal, menurutnya, korupsi meninggalkan kerusakan sosial dan ekonomi yang jauh lebih luas. Karena itu, penegakan hukum idealnya memiliki orientasi pemulihan terhadap hak-hak publik yang telah dirampas.

Dalam konteks tersebut, fungsi penelusuran dan pengamanan aset menjadi sangat penting. Pengembalian aset hasil korupsi, lanjutnya, bukan sekadar bentuk pembalasan kepada pelaku, melainkan bagian dari upaya menghadirkan keadilan bagi masyarakat.

“Memiskinkan koruptor dan mengembalikan kerugian negara bukanlah tindakan balas dendam, melainkan rasionalitas tertinggi dari keadilan itu sendiri,” tegasnya.

Hifdzul Mal sebagai Landasan Etis

Lebih jauh, Rangga mengaitkan pemberantasan korupsi dengan konsep Maqashid Syariah, khususnya prinsip Hifdzul Mal atau perlindungan terhadap harta.

Dalam perspektif tersebut, APBN, pajak, dan sumber daya alam merupakan bagian dari harta publik yang diamanahkan untuk dikelola demi kemaslahatan masyarakat. Penyalahgunaan kekayaan publik, menurutnya, bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga bentuk pengkhianatan terhadap amanah.

Karena itu, ia melihat penguatan institusi pemberantasan korupsi sebagai bagian dari upaya melembagakan prinsip perlindungan terhadap harta publik dalam tata kelola negara modern.

“Dengan memusatkan energi pada pencegahan dan penyelamatan aset, aparat penegak hukum sedang menjalankan mandat moral tertinggi dari Maqashid Syariah,” jelasnya.

Ia menambahkan, perlindungan terhadap harta publik juga memiliki keterkaitan dengan prinsip Hifdzun Nafs atau perlindungan jiwa dan Hifdzun Nasl atau perlindungan generasi masa depan.

Anggaran negara yang berhasil diselamatkan dari praktik korupsi, kata dia, pada akhirnya dapat dikembalikan untuk kepentingan masyarakat, seperti pembangunan fasilitas kesehatan, pendidikan, infrastruktur, dan berbagai pelayanan publik.

Kolaborasi, Bukan Kompetisi Kelembagaan

Komisi Pendidikan MUI Kabupaten Sidoarjo tersebut juga menyadari adanya pandangan kritis mengenai keberadaan Kortas Tipikor, termasuk kekhawatiran terkait potensi tumpang tindih kewenangan dengan lembaga penegak hukum lain.

Namun, ia menilai persoalan tersebut seharusnya tidak dilihat dalam kerangka kompetisi antarinstansi. Menurutnya, korupsi merupakan kejahatan yang kompleks dan sistemik sehingga membutuhkan kerja bersama seluruh lembaga penegak hukum.

“ Kita harus menggeser kerangka pandang kita menuju tata kelola kolaboratif (collaborative governance) yang berlandaskan prinsip ta’awun, yakni tolong-menolong dalam penegakan kebaikan,” ujarnya.

Menurutnya, jaringan kewilayahan Polri yang luas dapat menjadi kekuatan strategis dalam membangun sistem pencegahan dan deteksi dini terhadap praktik korupsi. Jika dikelola secara profesional dan berintegritas, struktur tersebut dapat memperkuat pengawasan hingga ke tingkat pemerintahan paling bawah.

Harus Diiringi Transformasi Kultur

Meski memberikan optimisme terhadap pembentukan Kortas Tipikor, Rangga menegaskan bahwa dukungan tersebut bukanlah cek kosong. Penguatan struktur kelembagaan harus berjalan beriringan dengan pengawasan masyarakat dan pembenahan budaya organisasi.

Integritas, profesionalitas, transparansi, serta keberanian untuk menindak korupsi tanpa pandang bulu menjadi faktor penting agar Kortas Tipikor benar-benar mampu menjalankan mandatnya.

“Transformasi struktural ini wajib diiringi oleh transformasi kultural di dalam tubuh kepolisian itu sendiri. Integritas, profesionalitas, dan keberanian membongkar kejahatan tanpa pandang bulu adalah ruh yang akan menghidupkan kerangka institusi ini,” ungkapnya.

Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat sipil untuk turut mengawal penguatan pemberantasan korupsi. Menurutnya, Kortas Tipikor harus mampu berkembang menjadi instrumen keadilan yang benar-benar menghadirkan manfaat bagi masyarakat, bukan sekadar menjadi simbol birokrasi baru.

“Dengan mengintegrasikan ketajaman epistemologis dalam melihat kejahatan dan mengamalkan prinsip Maqashid Syariah dalam melindungi hak publik, kita memiliki alasan yang sah untuk berharap bahwa babak baru perang melawan korupsi telah menemukan momentumnya,” pungkasnya.

kajian aswaja ngaji rutin pasaran unusida

Shalat: Dari Kewajiban Ritual Menuju Transformasi Akhlak dan Kepedulian Sosial

Oleh: Dr. H. Wachyudi Achmad, M.Pd.

Salat merupakan salah satu ibadah utama yang menjadi kewajiban setiap Muslim. Salat tidak hanya menjadi bentuk penghambaan seorang manusia kepada Allah SWT, tetapi juga memiliki tujuan yang lebih luas, yaitu membentuk pribadi yang bertakwa, berakhlak mulia, dan memiliki kepedulian terhadap sesama. Oleh karena itu, memahami salat tidak cukup hanya dari sisi tata cara pelaksanaannya, tetapi juga perlu memahami makna dan dampaknya terhadap kehidupan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-‘Ankabut ayat 45 bahwa sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ayat tersebut memberikan gambaran yang sangat jelas bahwa salat memiliki fungsi transformatif. Salat seharusnya mampu memberikan perubahan dalam diri seseorang. Semakin baik kualitas salat seseorang, idealnya semakin baik pula perilaku dan akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.

Salat merupakan kewajiban yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Bahkan ketika seseorang berada dalam kondisi sakit dan tidak mampu melaksanakan salat secara normal, Allah SWT tetap memberikan kemudahan. Salat dapat dilaksanakan dengan duduk atau berbaring sesuai dengan kemampuan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya salat sehingga dalam kondisi apa pun seorang Muslim tetap diperintahkan untuk menjaga hubungan dengan Allah SWT.

Namun, ada sebuah pertanyaan yang penting untuk kita renungkan. Mengapa seseorang yang telah melaksanakan salat masih dapat menyimpan kebencian di dalam hati? Mengapa seseorang yang rajin salat terkadang masih kurang memiliki kepedulian terhadap tetangga, saudara, atau orang-orang yang berada di sekitarnya?

Pertanyaan tersebut membawa kita kepada pemahaman bahwa salat memiliki dimensi yang lebih luas. Salat dapat dipahami melalui dua dimensi, yaitu dimensi eksoteris dan dimensi esoteris.

Dimensi eksoteris merupakan dimensi lahiriah yang berkaitan dengan pelaksanaan salat berdasarkan ketentuan syariat. Salat dimulai dengan niat, takbiratul ihram, dilanjutkan dengan rukun dan bacaan yang telah ditentukan, kemudian diakhiri dengan salam. Semua ketentuan tersebut harus dipenuhi agar salat dapat dilaksanakan secara benar.

Akan tetapi, salat tidak berhenti pada aspek lahiriah. Terdapat dimensi esoteris yang berkaitan dengan hati dan kedalaman spiritual seseorang. Dimensi inilah yang seharusnya menjadi perhatian dalam kehidupan seorang Muslim. Salat seharusnya menghadirkan kesadaran bahwa kita sedang berhadapan dan bermunajat kepada Allah SWT.

Ketika seseorang berdiri dalam salat, sesungguhnya ia sedang belajar untuk tunduk, menyerahkan diri, dan mengakui bahwa dirinya adalah hamba Allah. Kesadaran tersebut seharusnya tidak hanya hadir selama beberapa menit ketika salat berlangsung, tetapi juga terbawa setelah seseorang selesai melaksanakan salat.

Jika salat benar-benar dihayati, maka hati akan menjadi lebih peka. Kepekaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga hubungan manusia dengan manusia. Orang yang memahami makna salat seharusnya memiliki kepedulian terhadap kesulitan orang lain, memperhatikan kondisi tetangga, membantu saudara yang membutuhkan, dan tidak bersikap egois terhadap lingkungan sosialnya.

Di sinilah pentingnya membedakan antara sekadar menjalankan salat dan menghadirkan nilai salat dalam kehidupan. Seseorang mungkin telah memenuhi ketentuan lahiriah salat, tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya belum sepenuhnya terwujud dalam perilakunya. Karena itu, yang perlu dilakukan bukan mempertanyakan keberadaan salatnya, tetapi melakukan introspeksi terhadap kualitas penghayatan salat tersebut.

Salat juga merupakan momentum bagi manusia untuk mengadu kepada Allah SWT. Setiap manusia memiliki persoalan dan problematika kehidupan. Ada persoalan keluarga, pekerjaan, ekonomi, pendidikan, maupun berbagai persoalan lainnya. Dalam salat, seorang hamba memiliki ruang untuk menyerahkan segala kegelisahan tersebut kepada Allah SWT.

Pesan tersebut semakin kuat ketika kita memahami Surah Al-Fatihah, khususnya ayat “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.” Hanya kepada Allah kita menyembah dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. Ayat tersebut mengajarkan tentang ketundukan sekaligus ketergantungan manusia kepada Allah SWT.

Karena itu, mari kita menjadikan salat bukan sekadar rutinitas lima waktu, tetapi sebagai proses pembentukan diri. Salat harus menjadi sumber kekuatan spiritual, ketenangan hati, pengendalian diri, dan dorongan untuk berbuat baik kepada sesama.

Pada akhirnya, kualitas salat dapat tercermin dari kualitas kehidupan seseorang. Salat yang benar akan mendorong seseorang untuk menjauhi keburukan, memperbaiki akhlak, meningkatkan kepekaan sosial, serta semakin dekat kepada Allah SWT.

Salat adalah perjalanan dari gerakan menuju kesadaran, dari kewajiban menuju kebutuhan, dan dari ibadah menuju transformasi akhlak. Semoga kita semua mampu menjaga salat secara lahir dan batin, sehingga menjadi hamba-hamba Allah SWT yang bertakwa, beriman, memiliki kepedulian sosial, serta memperoleh keberuntungan dalam kehidupan dunia dan akhirat.

IRONI PERAYAAN KEMERDEKAAN 6

IRONI PERAYAAN KEMERDEKAAN

Rangga Sa’adillah S.A.P.

Tatkala memasuki bulan Agustus, suasana perayaan mulai terasa di berbagai pelosok desa. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, gang-gang dihiasi berbagai ornamen kemerdekaan, perlombaan digelar, panggung hiburan didirikan, dan masyarakat larut dalam kegembiraan. Anak-anak berlarian mengikuti berbagai permainan, para pemuda sibuk mempersiapkan kegiatan, sementara orang tua turut menikmati suasana kebersamaan.

Semua itu tentu sah-sah saja sebagai bentuk ekspresi kebahagiaan atas kemerdekaan yang telah kita nikmati selama puluhan tahun. Bahkan, kegembiraan dan kebersamaan masyarakat merupakan bagian penting dari kehidupan sosial. Kemerdekaan memang patut dirayakan.

Namun, saya merasakan sebuah ironi ketika perayaan kemerdekaan justru kehilangan ruh kemerdekaan itu sendiri. Ketika semangat memperingati perjuangan para pahlawan bergeser menjadi sekadar hura-hura. Ketika kebahagiaan seolah diukur dari seberapa meriah panggung hiburan, seberapa besar kerumunan masyarakat, dan seberapa keras suara musik yang diperdengarkan.

Sound horeg menjadi pusat perhatian dalam perayaan. Persoalannya bukan semata-mata tentang musik atau hiburan. Yang patut kita renungkan adalah ketika kemeriahan tersebut justru mengganggu ketenteraman masyarakat, mengusik kenyamanan orang lain, atau menjadikan perayaan kemerdekaan kehilangan nilai edukatif dan moralnya.

Apakah demikian cara kita memaknai kemerdekaan?

Pertanyaan yang sama juga layak kita ajukan terhadap berbagai bentuk perlombaan. Perlombaan sejatinya dapat menjadi media pendidikan karakter. Di dalamnya terdapat nilai perjuangan, sportivitas, kerja sama, keberanian, kreativitas, dan kegigihan. Namun, ketika perlombaan justru lebih banyak diarahkan kepada sekadar tontonan dan sensasi, kita patut melakukan refleksi.

Misalnya, ketika sebuah perlombaan sepak bola dikemas dengan menggunakan kostum yang menyerupai perempuan atau waria: seperti sepak bola berdaster, barangkali bagi sebagian orang itu dianggap lucu dan menghibur. Tetapi apakah kita pernah bertanya, nilai pendidikan apa yang sedang kita tanamkan kepada anak-anak dan generasi muda melalui tontonan tersebut?

Kita tentu tidak sedang berbicara tentang persoalan boleh atau tidak boleh seseorang mengenakan pakaian tertentu dalam sebuah permainan. Yang lebih penting adalah pertanyaan mengenai arah budaya perayaan yang sedang kita bangun. Apakah kita sedang membentuk generasi yang gagah dalam arti positif berani, tangguh, kreatif, sportif, dan bertanggung jawab. Atau justru membiasakan mereka bahwa kemeriahan harus selalu diwujudkan melalui sensasi dan olok-olok?

Kemerdekaan Republik Indonesia adalah rahmat dan nikmat dari Allah SWT yang semestinya disyukuri dengan cara-cara yang baik dan benar. Kemerdekaan bukan sekadar momentum untuk bersenang-senang, tetapi amanah yang diwariskan oleh para pendahulu kepada generasi penerus.

Kemerdekaan juga bukan hadiah yang turun begitu saja dari langit. Ia lahir dari perjuangan panjang. Ada air mata, darah, harta, bahkan nyawa yang dikorbankan oleh para pahlawan. Mereka berjuang bukan agar generasi setelahnya hanya menikmati pesta kemerdekaan, tetapi agar anak cucunya dapat hidup sebagai bangsa yang merdeka, bermartabat, dan memiliki masa depan.

Karena itu, memperingati kemerdekaan semestinya tidak berhenti pada merayakan, tetapi juga menghayati dan melanjutkan perjuangan.

Jika para pahlawan dahulu berjuang mengangkat senjata untuk merebut kemerdekaan, maka perjuangan kita hari ini adalah menjaga kemerdekaan agar tidak kehilangan makna. Kita berjuang melawan kebodohan, kemiskinan, korupsi, ketidakadilan, intoleransi, kerusakan lingkungan, narkoba, dan berbagai bentuk penjajahan baru yang secara perlahan dapat menggerogoti martabat bangsa.

Perjuangan hari ini tidak selalu membutuhkan senjata. Seorang guru berjuang melalui pendidikan. Orang tua berjuang mendidik anak-anaknya. Pelajar berjuang dengan belajar. Mahasiswa berjuang dengan ilmu dan gagasan. Para pekerja berjuang dengan kejujuran dan profesionalitas. Para pemimpin berjuang dengan amanah. Dan masyarakat berjuang dengan menjaga persaudaraan serta ketenteraman lingkungan.

Maka, tidak ada salahnya kita bergembira. Tidak ada salahnya mengadakan perlombaan, pentas seni, pengajian, kegiatan sosial, maupun berbagai kegiatan masyarakat. Tetapi kegembiraan jangan sampai mengalahkan rasa syukur; kemeriahan jangan sampai menghilangkan penghormatan kepada para pahlawan; dan kebebasan jangan sampai berubah menjadi kebisingan yang mengganggu kebebasan orang lain.

Bukankah salah satu hakikat kemerdekaan adalah hidup dalam kebebasan yang tetap menghormati hak dan ketenteraman sesama?

Karena itu, barangkali kita perlu bertanya kembali kepada diri sendiri:

Sudahkah cara kita merayakan kemerdekaan menjadi bagian dari rasa syukur kepada Allah?

Sudahkah perayaan itu mendidik anak-anak kita untuk mengenal sejarah perjuangan bangsanya?

Sudahkah kemeriahan itu mempererat persaudaraan warga?

Sudahkah kegembiraan itu menghadirkan kemaslahatan bagi lingkungan?

Dan yang tidak kalah penting, sudahkah kita mengisi kemerdekaan dengan menjadi manusia yang lebih baik dan bangsa yang lebih bermartabat?

Kemerdekaan tidak membutuhkan kebisingan untuk membuktikan bahwa kita bahagia. Kemerdekaan membutuhkan kesadaran bahwa ada harga yang sangat mahal yang telah dibayar oleh para pahlawan.

Maka, mari kita rayakan kemerdekaan dengan gembira, tetapi jangan kehilangan makna. Kita boleh meriah, tetapi tetap santun. Kita boleh bersenang-senang, tetapi tetap peduli kepada sesama. Kita boleh menikmati kebebasan, tetapi jangan menjadikan kebebasan sebagai alasan untuk mengganggu orang lain.

Sebab kemerdekaan bukan sekadar tentang bebas dari penjajahan. Kemerdekaan adalah tentang kemampuan sebuah bangsa menggunakan kebebasannya untuk menghadirkan kebaikan.

Mari kita wariskan kepada generasi berikutnya bukan hanya cerita tentang betapa meriahnya perayaan kemerdekaan, tetapi juga cerita tentang betapa besar perjuangan untuk mendapatkannya dan betapa mulianya tanggung jawab untuk menjaganya.

Dirgahayu Republik Indonesia.

Mari merayakan kemerdekaan dengan syukur, bukan sekadar dengan gemuruh.

 

*(Kabag MKU UNUSIDA, Komisi Pendidikan MUI Kab. Sidoarjo, KP3 MUI Jatim)