Plt Rektor UNUSIDA saat menjadi narasumber dalam Dialog Kebangsaan di Pendopo Delta Wibawa Sidoarjo (Foto: Humas UNUSIDA)

Dialog Kebangsaan, Plt. Rektor UNUSIDA Dorong Penguatan Literasi Digital untuk Merawat Persatuan

SIDOARJO — Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sidoarjo menggelar Dialog Kebangsaan di Pendopo Delta Wibawa, Sidoarjo, Kamis (13/8/2026) sebagai ruang refleksi dan penguatan nilai kebangsaan di tengah perkembangan teknologi digital.

Dalam kegiatan tersebut, Plt. Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Dr. Hadi Ismanto hadir sebagai salah satu narasumber. Ia menyoroti pentingnya literasi digital sebagai bekal masyarakat dalam menghadapi derasnya arus informasi di ruang digital.

Menurutnya, perkembangan teknologi telah mengubah pola komunikasi masyarakat. Penggunaan telepon pintar dan media sosial yang semakin masif membuka akses terhadap berbagai informasi, tetapi pada saat yang sama juga menghadirkan tantangan berupa informasi yang tidak selalu dapat dipertanggungjawabkan.

Karena itu, masyarakat perlu membangun kesadaran dan kemampuan untuk memilah informasi sebelum menerima maupun menyebarkannya. Literasi digital tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga kemampuan memahami, menilai, dan merespons informasi secara bijak.

Ia menekankan bahwa masyarakat perlu memiliki kesadaran kritis terhadap berbagai konten yang beredar di media digital. Setiap informasi perlu dipahami konteksnya agar tidak mudah menimbulkan kesalahpahaman maupun konflik di tengah masyarakat.

“Yang harus dibangun adalah kesadaran dan minat untuk memahami informasi. Jangan sampai teknologi yang seharusnya memberikan pengetahuan justru membawa dampak negatif karena informasi diterima tanpa dipahami terlebih dahulu,” ujarnya.

Dalam konteks komunikasi antarumat beragama, ia juga menilai perubahan pola komunikasi akibat perkembangan teknologi membutuhkan cara baru dalam membangun dialog. Jika sebelumnya komunikasi lebih banyak dilakukan melalui pertemuan langsung, kini interaksi juga berlangsung melalui ruang digital.

Perubahan tersebut menuntut masyarakat untuk tetap mengedepankan etika komunikasi. Perbedaan pandangan, agama, maupun latar belakang tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menyerang di ruang digital.

Menurutnya, komunikasi yang baik harus dibangun dengan memahami siapa komunikator, pesan yang disampaikan, serta konteks komunikasi. Nilai-nilai agama dan kemanusiaan tetap menjadi landasan penting dalam menggunakan teknologi.

“Melalui literasi digital yang baik, masyarakat akan mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana memperkuat persatuan, memperluas pengetahuan, serta membangun komunikasi yang sehat di tengah keberagaman Indonesia,” pungkasnya.

Momen Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Memaknai Kemerdekaan Melalui Pilar Tri Dharma yang Dijiwai Khidmah bil Hikmah

Kemerdekaan kerap dipahami sebatas terbebas dari penjajahan dan memiliki keleluasaan untuk menentukan pilihan. Namun, dalam konteks perguruan tinggi, kemerdekaan memiliki makna yang jauh lebih mendalam: kemerdekaan adalah kedaulatan berpikir. Ia bukan sekadar kebebasan untuk menyampaikan gagasan, melainkan kemampuan menggunakan ilmu pengetahuan secara bertanggung jawab untuk menghadirkan kemaslahatan publik.

Di sinilah Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menemukan relevansi makna kemerdekaan. Sebagai perguruan tinggi yang berakar pada tradisi Nahdlatul Ulama, UNUSIDA dapat memaknai kemerdekaan melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dijiwai semangat Khidmah bil Hikmah: mengabdi dengan ilmu, kebijaksanaan, dan orientasi kemanfaatan.

Gagasan ini penting karena kebebasan akademik tanpa orientasi etis berpotensi berubah menjadi egoisme intelektual. Sebaliknya, ilmu yang dilepaskan dari kebebasan berpikir akan kehilangan daya kritisnya. Karena itu, kemerdekaan akademik membutuhkan dua hal sekaligus: keberanian berpikir dan kebijaksanaan dalam menggunakan hasil pemikiran.

Kemerdekaan Dimulai dari Pendidikan

Pendidikan adalah pintu pertama menuju kemerdekaan manusia. Paulo Freire dalam gagasan Pendidikan Pembebasan memandang pendidikan sebagai proses yang membebaskan manusia dari kesadaran naif dan ketidakberdayaan. Pendidikan tidak seharusnya menjadikan peserta didik sekadar objek yang menerima pengetahuan, tetapi subjek yang mampu membaca realitas dan mengambil peran dalam mengubahnya.

Dalam konteks UNUSIDA, semangat tersebut dapat diwujudkan melalui integrasi antara sains modern dan nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Mahasiswa tidak cukup dibekali kemampuan akademik dan profesional, tetapi juga perlu memiliki kesadaran etis tentang untuk apa ilmu tersebut digunakan.

Semangat Khidmah bil Hikmah memberikan arah bahwa proses pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan. Ada tanggung jawab moral yang menyertainya. Sarjana yang merdeka bukanlah mereka yang bebas melakukan apa saja, melainkan mereka yang mampu menggunakan kebebasan intelektualnya untuk menghadirkan manfaat.

Dengan demikian, kampus menjadi ruang pembentukan manusia yang mampu berpikir kritis sekaligus memiliki kepekaan sosial.

Merdeka Meneliti, Merdeka Menjawab Persoalan

Kemerdekaan akademik juga menemukan bentuknya dalam penelitian. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab epistemologis untuk menghasilkan pengetahuan yang mampu menjelaskan dan menjawab persoalan masyarakat.

Pemikiran B.J. Habibie tentang pentingnya penguasaan sains dan teknologi memberikan pelajaran bahwa kemajuan bangsa tidak mungkin dicapai tanpa penguasaan ilmu pengetahuan. Namun, teknologi tidak boleh berhenti pada kecanggihan. Ia harus memiliki relevansi terhadap kebutuhan manusia.

Karena itu, kemerdekaan riset di UNUSIDA semestinya tidak dimaknai sebagai kebebasan menghasilkan penelitian sebanyak-banyaknya, tetapi sebagai keberanian mengeksplorasi ilmu untuk menemukan solusi atas persoalan nyata.

Semangat Khidmah bil Hikmah menjadi pengingat agar penelitian tidak terjebak menjadi “menara gading”. Penelitian harus memiliki kedalaman metodologis sekaligus kepekaan sosial. Pertanyaan mendasarnya bukan hanya “apa yang bisa diteliti?”, tetapi juga “persoalan siapa yang hendak diselesaikan melalui penelitian ini?”

Pengabdian: Ketika Ilmu Pulang kepada Masyarakat

Jika pendidikan membebaskan manusia melalui pengetahuan dan penelitian menghasilkan solusi, maka pengabdian kepada masyarakat menjadi ruang untuk mengembalikan pengetahuan tersebut kepada publik.

Perguruan tinggi tidak dapat berdiri sebagai institusi yang hanya berbicara tentang masyarakat dari balik ruang kelas. Ia harus hadir di tengah masyarakat, mendengarkan persoalan mereka, memahami kebutuhan mereka, kemudian menghadirkan pengetahuan sebagai instrumen pemberdayaan.

Dalam konteks inilah gagasan Social Contract of Science yang dikembangkan Michael Gibbons menjadi relevan. Ilmu pengetahuan memiliki hubungan sosial dengan masyarakat yang menjadi sumber sekaligus penerima manfaatnya.

UNUSIDA dapat menerjemahkan gagasan tersebut melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat, pendampingan UMKM, penguatan pendidikan, digitalisasi desa, kesehatan, lingkungan, hingga pengembangan ekonomi masyarakat.

Ilmu menjadi benar-benar merdeka ketika ia tidak hanya tinggal di ruang seminar, jurnal, dan perpustakaan, tetapi mampu mengubah kehidupan manusia menjadi lebih baik.

Khidmah bil Hikmah: Menjaga Kebebasan Agar Tetap Beradab

Kebebasan akademik membutuhkan kompas moral. Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, semangat pengabdian tidak dapat dilepaskan dari nilai tawassuth, keseimbangan, moderasi, dan hikmah.

Di sinilah konsep Khidmah bil Hikmah menjadi penting. Khidmah mengandung semangat pengabdian, sedangkan hikmah menunjukkan kedalaman ilmu dan kebijaksanaan dalam bertindak. Keduanya harus berjalan bersama.

Gagasan tersebut memiliki kedekatan dengan konsep ‘ilm nafi’ ilmu yang bermanfaat yang banyak dibicarakan dalam tradisi keilmuan Islam, termasuk pemikiran Imam Al-Ghazali. Ilmu tidak cukup membuat seseorang mengetahui sesuatu; ilmu harus membentuk cara berpikir, sikap, dan tindakan yang membawa manfaat.

Karena itu, mahasiswa UNUSIDA idealnya tidak hanya bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan?”, tetapi juga “Apa manfaat yang dapat saya berikan?”

Pertanyaan kedua inilah yang mengubah kebebasan menjadi pengabdian.

Merdeka Berpendapat, Tetap Menjaga Persaudaraan

Kemerdekaan berpikir juga tidak berarti bebas dari tanggung jawab. Di tengah era media sosial, kebebasan berpendapat dapat dengan mudah berubah menjadi penyebaran kebencian, disinformasi, atau konflik identitas.

Nilai-nilai Aswaja seperti tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal memberikan fondasi penting dalam membangun budaya akademik yang sehat. Kebebasan berpikir harus berjalan bersama penghormatan terhadap perbedaan.

Gus Dur mengajarkan bahwa nilai keislaman tidak boleh berhenti sebagai identitas, tetapi harus menjadi energi untuk memperjuangkan kemanusiaan dan keadilan sosial.

Maka, kebebasan akademik di UNUSIDA idealnya melahirkan mahasiswa yang berani mengkritik tanpa merendahkan, berbeda pendapat tanpa bermusuhan, dan mempertahankan argumentasi tanpa kehilangan adab.

Kebebasan berpendapat adalah hak; kesantunan dalam menggunakannya adalah tanggung jawab.

Dari Resolusi Jihad ke Resolusi Keilmuan

Ada tautan historis yang kuat antara perjuangan Nahdlatul Ulama dan gagasan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Jika para ulama dan santri dahulu mengangkat senjata dan mengobarkan semangat Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan fisik bangsa, maka generasi hari ini menghadapi medan perjuangan yang berbeda.

Medannya adalah ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan.

Dalam konteks tersebut, UNUSIDA memiliki peran strategis untuk meneruskan spirit perjuangan Nahdlatul Ulama melalui jalan keilmuan. Kampus dapat menjadi ruang untuk memperkuat pendidikan pesantren, mengembangkan teknologi tepat guna, meningkatkan kapasitas ekonomi warga Nahdliyin, serta memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat.

Kemerdekaan hari ini bukan lagi soal siapa yang menguasai wilayah kita, tetapi siapa yang menguasai pengetahuan, teknologi, informasi, dan sumber daya ekonomi. Karena itu, kedaulatan ilmu adalah bagian dari kedaulatan bangsa.

Sidoarjo dan Tantangan Kemerdekaan Sosial

Memaknai kemerdekaan juga berarti berani melihat persoalan yang ada di sekitar. Di Sidoarjo, berbagai persoalan sosial seperti penyalahgunaan narkoba, peredaran minuman keras, prostitusi tersembunyi, ketimpangan ekonomi, hingga persoalan generasi muda membutuhkan perhatian bersama.

Persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan dengan pendekatan represif. Diperlukan riset, pendidikan, pemberdayaan keluarga, penguatan komunitas, dan kebijakan publik berbasis data.

Dalam perspektif Fiqh Sosial KH. Sahal Mahfudh, keberagamaan harus memiliki keberpihakan terhadap kemaslahatan masyarakat. Karena itu, akademisi tidak cukup hanya menjadi pengamat persoalan sosial. Ia harus ikut terlibat dalam mencari jalan keluar.

UNUSIDA dapat mengambil peran tersebut melalui penelitian multidisipliner yang mempertemukan ilmu hukum, psikologi, pendidikan, teknologi informasi, ekonomi, kesehatan, dan keislaman.

Penelitian tentang persoalan sosial Sidoarjo, misalnya, tidak berhenti pada pemetaan masalah. Hasilnya harus diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan, program pencegahan berbasis komunitas, pendidikan bagi generasi muda, serta model pemberdayaan yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.

Di titik inilah Khidmah bil Hikmah menemukan bentuk konkretnya: ilmu yang bekerja untuk menyelamatkan manusia yang menjadi cara pandang tentang bagaimana sebuah perguruan tinggi mengisi kemerdekaan.

UNUSIDA tidak cukup hanya mencetak lulusan yang kompeten. Ia harus melahirkan manusia yang merdeka dalam berpikir, matang dalam bersikap, kuat dalam keilmuan, dan tulus dalam pengabdian.

Kemerdekaan sejati bukan ketika manusia dapat melakukan apa saja yang diinginkannya. Kemerdekaan sejati adalah ketika manusia memiliki kemampuan menentukan yang terbaik berdasarkan ilmu, etika, dan tanggung jawab sosial.

Pendidikan membebaskan manusia dari kebodohan. Penelitian membebaskan masyarakat dari ketidakberdayaan pengetahuan. Pengabdian membebaskan masyarakat dari ketertinggalan.

Dan Khidmah bil Hikmah memastikan seluruh proses itu tetap memiliki arah: ilmu untuk kemaslahatan, kebebasan untuk tanggung jawab, dan kemerdekaan untuk kemanusiaan.

Jika dahulu kemerdekaan diperjuangkan dengan keberanian para pejuang di medan perang, maka hari ini kemerdekaan harus dirawat dengan keberanian berpikir, keberanian meneliti, keberanian mengabdi, dan keberanian menghadirkan solusi.

Itulah kemerdekaan yang relevan bagi UNUSIDA: merdeka berpikir, merdeka berkarya, dan merdeka mengabdi untuk kemaslahatan publik.

Olimpiade Horizon 2026 Sukses Dorong Siswa Menuju Puncak Intelektual 1

Olimpiade Horizon 2026 Sukses Dorong Siswa Menuju Puncak Intelektual

SIDOARJO – Semangat kompetisi dan pengembangan potensi akademik mewarnai pelaksanaan Olimpiade Horizon 2026 yang diselenggarakan oleh FKIP ORMAWA BEM FKIP Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) berkolaborasi dengan HIMA PGSD, HIMA PBI, serta SSC Buduran. Mengusung tema “Menuju Puncak Intelektual, Meraih Masa Depan Gemilang”, kegiatan ini menjadi ruang edukatif bagi siswa SMA kelas 11 dan 12 untuk menguji kemampuan sekaligus mempersiapkan diri menghadapi tantangan pendidikan di masa mendatang.

Olimpiade Horizon 2026 tidak sekadar dirancang sebagai kompetisi untuk menentukan peserta terbaik. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi wadah bagi para siswa untuk mengembangkan potensi, melatih kemampuan berpikir, meningkatkan keberanian berkompetisi, serta membangun kepercayaan diri. Pengalaman tersebut diharapkan dapat memberikan bekal positif bagi peserta dalam menentukan langkah pendidikan dan cita-cita setelah menyelesaikan jenjang sekolah menengah.

Bagi siswa SMA kelas 11 dan 12, masa sekolah merupakan periode penting untuk mengenali kemampuan serta menentukan arah masa depan. Siswa kelas 12, khususnya, mulai dihadapkan pada berbagai pilihan setelah lulus, mulai dari melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi hingga mempersiapkan diri memasuki dunia profesional. Sementara itu, siswa kelas 11 memiliki kesempatan lebih panjang untuk mengembangkan kompetensi dan mempersiapkan diri menghadapi jenjang pendidikan berikutnya.

Melalui Olimpiade Horizon 2026, para peserta diajak untuk melihat kompetisi sebagai bagian dari proses pembelajaran. Setiap soal, tantangan, maupun pengalaman selama mengikuti perlombaan dapat menjadi sarana untuk mengukur kemampuan diri. Dengan demikian, keberhasilan tidak hanya diukur berdasarkan perolehan juara, tetapi juga dari keberanian peserta untuk mencoba, kemampuan menghadapi tantangan, serta kemauan untuk belajar dari setiap proses yang dilalui.

Tema “Menuju Puncak Intelektual, Meraih Masa Depan Gemilang” menjadi refleksi atas pentingnya proses belajar dalam membangun masa depan. Puncak intelektual tidak dapat dicapai secara instan, tetapi membutuhkan ketekunan, keberanian, disiplin, dan kemauan untuk terus berkembang. Semangat tersebut menjadi nilai utama yang ingin ditanamkan kepada seluruh peserta Olimpiade Horizon 2026.

Kolaborasi antara FKIP ORMAWA BEM FKIP, HIMA PGSD, HIMA PBI, dan SSC Buduran juga menjadi salah satu kekuatan dalam pelaksanaan kegiatan. Sinergi tersebut menunjukkan peran aktif mahasiswa dalam menghadirkan kegiatan pendidikan yang memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya bagi siswa sekolah menengah.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk kontribusi mahasiswa FKIP UNUSIDA dalam mempertemukan lingkungan perguruan tinggi dengan dunia pendidikan tingkat sekolah menengah. Melalui kegiatan kompetitif dan edukatif, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai penyelenggara, tetapi juga ikut membangun ruang interaksi yang dapat memberikan motivasi kepada generasi muda untuk terus belajar dan mengembangkan potensi.

Ketua Pelaksana Olimpiade Horizon 2026, Ketua Pelaksana, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan pengalaman yang bermakna bagi seluruh peserta.

“Olimpiade Horizon 2026 bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan juara, tetapi bagaimana setiap peserta berani mencoba, mengasah kemampuan, dan belajar dari proses kompetisi. Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi pengalaman yang mendorong siswa untuk semakin percaya diri dalam mempersiapkan masa depan,” ujarnya.

Menurutnya, kompetisi akademik dapat menjadi salah satu cara untuk membangun mental dan karakter siswa. Ketika berhadapan dengan peserta lain yang memiliki kemampuan berbeda, siswa dapat belajar untuk mengenali kelebihan dan kekurangan diri. Proses tersebut diharapkan mampu menumbuhkan sikap sportif, percaya diri, pantang menyerah, serta terbuka terhadap evaluasi dan pembelajaran baru.

Bagi peserta kelas 12, pengalaman mengikuti Olimpiade Horizon 2026 diharapkan semakin memperkuat kesiapan mereka dalam menghadapi seleksi dan lingkungan pendidikan tinggi. Sementara bagi peserta kelas 11, kegiatan ini dapat menjadi langkah awal untuk mengukur kemampuan sekaligus mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan akademik pada tahun berikutnya.

Lebih jauh, Olimpiade Horizon 2026 juga membawa pesan bahwa prestasi tidak selalu berhenti pada sebuah penghargaan. Pengalaman berkompetisi, keberanian mengambil kesempatan, dan kemampuan untuk terus belajar merupakan bagian penting dari perjalanan menuju masa depan. Setiap peserta memiliki kesempatan untuk berkembang selama mampu menjadikan setiap pengalaman sebagai proses pembelajaran.

Penyelenggaraan Olimpiade Horizon 2026 menjadi bukti bahwa kolaborasi antara mahasiswa, organisasi kemahasiswaan, dan mitra pendidikan dapat menghadirkan ruang yang positif bagi generasi muda. Kegiatan tersebut diharapkan dapat terus berkembang dan menjadi agenda yang memberikan dampak lebih luas bagi siswa di tingkat sekolah menengah.

Melalui semangat “Menuju Puncak Intelektual, Meraih Masa Depan Gemilang”, Olimpiade Horizon 2026 diharapkan mampu meninggalkan pengalaman berharga bagi seluruh peserta. Bukan hanya membawa pulang pencapaian dalam kompetisi, para siswa juga diharapkan membawa semangat belajar, keberanian menghadapi tantangan, serta motivasi untuk terus berprestasi dalam perjalanan pendidikan mereka.

Olimpiade Horizon 2026 pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar ajang perlombaan. Kegiatan ini menjadi ruang untuk menumbuhkan potensi, membangun kepercayaan diri, memperluas pengalaman, dan mempersiapkan generasi muda agar semakin siap menyongsong pendidikan tinggi serta masa depan yang gemilang.

YUDISIUM KE-11 FAKULTAS EKONOMI UNUSIDA: BEKAL ILMU, ADAPTASI, DAN INTEGRITAS MENUJU DUNIA PROFESIONAL 2

YUDISIUM KE-11 FAKULTAS EKONOMI UNUSIDA: BEKAL ILMU, ADAPTASI, DAN INTEGRITAS MENUJU DUNIA PROFESIONAL

Sidoarjo, 12 Agustus 2026 — Fakultas Ekonomi Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menyelenggarakan Yudisium ke-11 Fakultas Ekonomi pada Rabu, 12 Agustus 2026, bertempat di DJIE POK DW. Kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi mahasiswa Program Studi Manajemen dan Akuntansi yang telah menyelesaikan seluruh tahapan akademiknya untuk memasuki fase kehidupan baru sebagai lulusan dan calon profesional.

Yudisium berlangsung dalam suasana penuh kebahagiaan dan haru. Para mahasiswa hadir bersama jajaran pimpinan fakultas, dosen, serta tamu undangan untuk mengikuti prosesi sebagai bentuk apresiasi atas perjalanan akademik yang telah mereka lalui.

Dalam kesempatan tersebut, Dekan Fakultas Ekonomi UNUSIDA, Ibu Dr. Hj. Muhafidhah Novie, S.E., M.M., menyampaikan pesan kepada seluruh peserta yudisium agar tidak hanya menjadikan kelulusan sebagai akhir dari perjalanan pendidikan, tetapi sebagai awal untuk memasuki dunia yang penuh dengan tantangan dan peluang.

“Hari ini adalah hari yang jauh berbeda dengan kehidupan kita selama berada di kampus. Hari ini menjadi awal dari sebuah perjalanan baru bagi kalian semua,” tutur Dekan Fakultas Ekonomi dalam sambutannya.

Ia menyampaikan bahwa pihak fakultas akan terus mengiringi perjalanan para mahasiswa dengan doa dan berharap kesuksesan senantiasa menyertai langkah mereka setelah menyelesaikan pendidikan di UNUSIDA.

Dekan juga memberikan pesan penting kepada seluruh lulusan untuk senantiasa menjaga nama baik almamater. Menurutnya, status sebagai alumni akan selalu melekat dalam diri setiap lulusan, sehingga setiap tindakan dan pencapaian mereka juga menjadi bagian dari citra almamater.

“Kami mohon dengan sangat kepada seluruh alumni Fakultas Ekonomi untuk senantiasa menjaga nama baik almamater dan menjaga nama baik kampus kita. Ingatlah bahwa gelar sebagai alumni akan selalu melekat dalam diri kalian,” pesannya.

Lebih lanjut, Dekan menjelaskan bahwa hubungan antara dosen dan mahasiswa setelah kelulusan tidak berhenti begitu saja. Hubungan tersebut justru berkembang menjadi hubungan antara kolega dan mitra yang dapat terus saling mendukung.

“Mungkin hari ini hubungan kita masih sebagai dosen dan mahasiswa. Namun, setelah hari ini, akan ada sebuah perubahan. Kita tidak lagi hanya menjadi dosen dan mahasiswa, tetapi kita akan menjadi mitra, menjadi kolega, dan menjadi bagian dari jejaring yang saling mendukung,” ungkapnya.

Dalam sambutannya, ia juga mengingatkan para lulusan agar tidak melupakan peran orang tua, keluarga, guru, dan dosen yang telah memberikan dukungan selama proses pendidikan. Keberhasilan yang diraih hari ini, menurutnya, merupakan hasil dari perjuangan dan doa banyak pihak.

“Tetaplah menyapa. Tetaplah menjaga silaturahmi. Ketika kita bertemu di suatu tempat ataupun di kesempatan yang lain, jangan pernah ragu untuk menyapa dan berkomunikasi,” pesannya kepada para lulusan.

Memasuki dunia profesional, para lulusan Fakultas Ekonomi juga diharapkan memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi. Perubahan ekonomi, perkembangan teknologi, dinamika dunia bisnis, serta perubahan sosial menuntut lulusan untuk terus belajar dan mengembangkan kompetensi.

Dekan menekankan tiga karakter penting yang perlu dimiliki oleh para alumni, yaitu adaptif, inovatif, dan berintegritas.

“Kita harus mampu beradaptasi terhadap setiap perubahan. Kita harus terus belajar, karena ilmu yang diperoleh selama di bangku kuliah bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan menjadi bekal untuk terus berkembang,” jelasnya.

Menurutnya, lulusan Fakultas Ekonomi tidak cukup hanya menguasai teori, tetapi juga harus mampu mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan dalam kehidupan nyata. Alumni diharapkan mampu memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, dunia usaha, bangsa, serta almamater.

“Jadilah pribadi yang tidak hanya sukses untuk diri sendiri, tetapi juga mampu memberikan kontribusi bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan almamater,” tegasnya.

Sementara itu, Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.Pd., M.Pd.I., turut memberikan sambutan sekaligus membuka secara resmi Yudisium ke-11 Fakultas Ekonomi UNUSIDA.

Dalam sambutannya, Rektor memberikan apresiasi kepada para mahasiswa yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan, termasuk mahasiswa dari kelas reguler maupun kelas khusus pesantren. Ia menilai perjuangan mahasiswa dalam menyelesaikan pendidikan merupakan proses yang tidak mudah dan tidak terlepas dari peran dosen pembimbing.

Rektor juga menekankan pentingnya awareness before change, yakni kesadaran sebelum melakukan perubahan. Menurutnya, setelah lulus dari perguruan tinggi, pertanyaan yang dihadapi mahasiswa akan berubah. Jika sebelumnya mahasiswa disibukkan dengan pertanyaan mengenai mata kuliah dan tugas akademik, setelah lulus mereka akan menghadapi pertanyaan yang lebih besar: apa yang dapat dilakukan untuk menjadi pribadi yang mandiri dan memberikan manfaat?

Karena itu, para lulusan didorong untuk tidak berhenti belajar. Perubahan dunia yang berlangsung cepat menuntut setiap individu untuk terus meningkatkan kemampuan, beradaptasi, dan menciptakan peluang.

Rektor juga mengingatkan bahwa lulusan Fakultas Ekonomi diharapkan mampu menjadi penggerak ekonomi, bukan hanya sebagai pencari kerja, tetapi juga sebagai pelaku usaha, profesional, maupun individu yang mampu menciptakan peluang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Selain kompetensi akademik dan profesional, para lulusan UNUSIDA juga dibekali dengan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Nilai tersebut diharapkan menjadi landasan dalam menjalankan kehidupan profesional maupun sosial.

Rektor berharap para lulusan dapat menjadi pribadi yang sukses dan mandiri, kemudian mampu memberikan kontribusi melalui pengabdian kepada masyarakat dan Nahdlatul Ulama.

“Belajar tidak boleh berhenti. Saya menunggu kabar baik dari seluruh alumni Fakultas Ekonomi UNUSIDA. Jadilah orang yang terbaik di bidang masing-masing, mandiri secara ekonomi, dan mampu memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, Nahdlatul Ulama, serta bangsa,” pesan Rektor.

Rangkaian kegiatan Yudisium ke-11 Fakultas Ekonomi UNUSIDA kemudian dilanjutkan dengan prosesi akademik dan doa bersama. Kegiatan tersebut ditutup dengan harapan agar seluruh lulusan diberikan kemudahan, kesuksesan, keberkahan, serta mampu mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan di UNUSIDA.

Yudisium ke-11 ini menjadi penanda bahwa perjalanan akademik para mahasiswa Fakultas Ekonomi telah memasuki babak baru. Dengan bekal ilmu, pengalaman, karakter adaptif, inovatif, dan integritas, para lulusan diharapkan mampu hadir sebagai generasi profesional yang tidak hanya sukses secara individu, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan pembangunan ekonomi.

Selamat kepada seluruh peserta Yudisium ke-11 Fakultas Ekonomi UNUSIDA. Selamat memasuki dunia baru, terus belajar, terus berkarya, dan terus membawa nama baik almamater.

Kajian Nashoihul ‘Ibad: Menguatkan Ilmu, Amal, Kompetensi, dan Moral dalam Kehidupan 3

Kajian Nashoihul ‘Ibad: Menguatkan Ilmu, Amal, Kompetensi, dan Moral dalam Kehidupan

Sidoarjo, UNUSIDA – Kegiatan rutin kajian keislaman kembali dilaksanakan sebagai bagian dari upaya memperkuat pemahaman keagamaan dan pembelajaran Al-Qur’an di lingkungan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Kajian yang berlangsung secara rutin tersebut menghadirkan H. M. Arisy Karomy, S.T., M.Pd.I. sebagai pemateri dengan pembahasan kitab Nashoihul ‘Ibad, salah satu kitab yang berisi nasihat dan tuntunan kehidupan bagi umat Islam.

Dalam penyampaiannya, H. M. Arisy Karomy mengawali kajian dengan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ia juga mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk mengikuti kegiatan pengajian dan memperdalam ilmu agama secara rutin.

Kajian tersebut menekankan bahwa pembelajaran agama tidak hanya bertujuan menambah pengetahuan, tetapi juga menjadi sarana untuk membentuk karakter, memperbaiki amal, dan mengarahkan manusia agar mampu menjalani kehidupan sesuai dengan tuntunan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Salah satu pesan penting yang disampaikan adalah mengenai ilmu dan kemampuan yang dimiliki manusia sebagai karunia sekaligus amanah dari Allah. Setiap manusia memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Melalui pendidikan dan pengalaman, seseorang dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, kemampuan berkomunikasi, menguasai teknologi, menjalankan berbagai profesi, serta menyelesaikan beragam persoalan dalam kehidupan.

Namun, kemampuan tersebut tidak semestinya hanya dipandang sebagai hasil usaha manusia. Di balik kemampuan yang dimiliki terdapat karunia Allah yang patut disyukuri. Oleh karena itu, semakin tinggi ilmu dan kompetensi seseorang, semakin besar pula tanggung jawab untuk menggunakan kemampuan tersebut dalam kebaikan.

Dalam perspektif tersebut, ilmu tidak cukup hanya dipelajari dan disimpan sebagai pengetahuan pribadi. Ilmu perlu diamalkan sehingga memberikan manfaat bagi kehidupan. Seseorang yang memiliki ilmu dan kompetensi diharapkan mampu menghasilkan karya, membantu orang lain, serta menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan di masyarakat.

H. M. Arisy Karomy juga mengingatkan pentingnya moral dan akhlak dalam penggunaan ilmu serta kemampuan. Kemajuan teknologi dan perkembangan zaman membuat manusia memiliki semakin banyak kesempatan untuk berkembang. Akan tetapi, kemajuan tersebut harus tetap diiringi dengan nilai moral dan akhlak yang baik.

Kompetensi tanpa moral dapat kehilangan arah. Sebaliknya, ilmu yang dibangun bersama akhlak akan menjadi bekal penting dalam membentuk pribadi yang berkualitas. Karena itu, kualitas seseorang tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi pendidikan atau seberapa banyak keterampilan yang dimiliki, tetapi juga oleh bagaimana ia menggunakan ilmu tersebut.

Pesan tersebut juga berkaitan dengan pentingnya kepemimpinan. Seseorang yang memiliki ilmu, kompetensi, dan kemampuan memimpin harus mampu memberikan teladan kepada orang lain. Kepemimpinan bukan sekadar kemampuan untuk mengarahkan, tetapi juga tanggung jawab untuk membimbing, memberikan manfaat, dan membawa orang-orang di sekitarnya menuju kebaikan.

Ilmu yang dimiliki seseorang akan menjadi lebih bermakna ketika mampu ditransformasikan menjadi karya dan kebermanfaatan. Demikian pula pengalaman yang dimiliki hendaknya dapat dibagikan kepada generasi berikutnya. Dengan demikian, ilmu tidak berhenti pada satu individu, tetapi dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas.

Kajian Nashoihul ‘Ibad tersebut menjadi momentum untuk melakukan refleksi bahwa kehidupan manusia tidak hanya berkaitan dengan pencapaian duniawi. Pendidikan, pekerjaan, teknologi, kompetensi, dan berbagai kemampuan yang dimiliki harus diarahkan untuk mendekatkan diri kepada Allah serta memberikan kemaslahatan bagi sesama.

Melalui kajian rutin ini, jamaah diharapkan semakin memahami pentingnya keseimbangan antara ilmu, amal, kompetensi, dan moral. Ilmu yang disertai amal akan melahirkan kebermanfaatan, kompetensi yang disertai akhlak akan melahirkan pribadi yang berkualitas, sedangkan kepemimpinan yang dilandasi nilai-nilai agama akan mampu memberikan arah dan keteladanan bagi masyarakat.

Kajian tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap ilmu dan kemampuan merupakan amanah. Maka, tugas manusia bukan hanya terus belajar, tetapi juga mengamalkan, mengembangkan, dan membagikan ilmu tersebut agar menjadi manfaat bagi keluarga, lingkungan, masyarakat, dan umat.

Dengan semangat memperdalam ilmu agama melalui kajian Nashoihul ‘Ibad, kegiatan rutin ini diharapkan dapat terus menjadi ruang pembinaan spiritual dan intelektual. Tidak hanya meningkatkan pemahaman keagamaan, tetapi juga membentuk insan yang memiliki ilmu, kompetensi, akhlak, serta kepedulian untuk menghadirkan kebermanfaatan di tengah masyarakat.

Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., saat menyampaikan sambutan dalam Yudisium ke-2 FAI UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Plt Rektor UNUSIDA: Lulusan FAI Harus Sadar, Kompeten, dan Berani Menciptakan Peluang

SIDOARJO — Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., berpesan kepada para lulusan Fakultas Agama Islam (FAI) UNUSIDA agar menjadikan kelulusan sebagai momentum memasuki babak baru kehidupan. Menurutnya, perubahan hanya dapat dimulai dari kesadaran diri untuk terus berkembang dan menghadapi tantangan.

Pesan tersebut disampaikan Hadi saat memberikan sambutan dalam Yudisium ke-2 Fakultas Agama Islam (FAI) UNUSIDA, yang diikuti para mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), Jum’at (7/8/2026).

Dalam kesempatan tersebut, pihaknya sangat mengapresiasi perjuangan para mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan, termasuk mereka yang sudah lama mengabdi sebagai guru namun tetap meluangkan waktu untuk menempuh pendidikan tinggi.

Menurutnya, proses pendidikan tidak selalu mudah. Ada mahasiswa yang menghadapi persoalan administrasi, keterbatasan waktu, hingga faktor usia. Namun, semangat untuk menyelesaikan pendidikan menjadi modal penting dalam membangun perubahan.

Mengutip gagasan tentang awareness before change, Hadi menekankan bahwa kesadaran merupakan pintu menuju perubahan. Ia mengajak para lulusan untuk menyadari bahwa kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal untuk memasuki kehidupan yang lebih luas dengan tanggung jawab yang lebih besar.

“Kalau saudara-saudara semua ingin berubah, nomor satu adalah sadar. Selesai. Akhirnya empat tahun memasuki babak baru. Kalau tidak sadar, maka akan menjadi problem,” tegasnya.

Hadi menilai kesadaran tersebut penting karena lulusan PGMI dan PIAUD akan menghadapi persaingan yang cukup besar. Ribuan lulusan bidang pendidikan terus bertambah setiap tahun, sehingga para lulusan UNUSIDA harus memiliki keunggulan dan keberanian untuk mengambil peluang.

“Sekarang banyak sekali yang melakukan pendidikan di sini. Lalu ke mana ribuan yang sudah lulus itu? Tempatnya banyak atau tambah sedikit? Oleh karena itu, sadar itu penting sekali,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan para lulusan, khususnya yang akan menekuni profesi guru, untuk menguasai kompetensi yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan. Ia menyebut tiga kompetensi utama guru, yakni kompetensi profesional, pedagogik, dan sosial.

“Kompetensi utama guru ada tiga, profesional, pedagogik, dan sosial. Kita harus sadar tantangan di depan kita itu besar,” ujarnya.

Menurutnya, kompetensi yang telah diperoleh selama kuliah harus benar-benar diterapkan dalam kehidupan nyata. Para lulusan tidak boleh hanya menunggu mendapatkan pekerjaan dari sekolah atau yayasan, tetapi harus berani menciptakan peluang sesuai dengan keahlian yang dimiliki.

Ia mencontohkan peluang menjadi guru les sebagai salah satu bentuk edupreneurship yang dapat dikembangkan lulusan pendidikan.

“Jangan takut membuat les. Banyak sekali anak-anak yang membutuhkan les, bukan hanya kelas enam, tetapi anak PAUD, TK, kelas satu dan dua. Itu peluang,” tuturnya.

Ia menyebut sikap tersebut sebagai bagian dari semangat edupreneur, yakni keberanian mengembangkan kompetensi pendidikan menjadi peluang yang memberikan manfaat sekaligus nilai ekonomi.

“Ini namanya edupreneur. Jangan takut. Tapi jangan berhenti untuk menaikkan kompetensi. Itu yang penting,” pesannya.

Tak hanya itu, ia berharap para lulusan tidak hanya mendapatkan gelar sarjana, tetapi mampu menghadirkan perubahan di lingkungan masing-masing. Bagi lulusan yang sudah bekerja, keberhasilan bukan sekadar mendapatkan ijazah, melainkan mampu menunjukkan perubahan positif di tempat kerja.

“Kalau yang sudah bekerja, perubahan apa di tempat kerja yang orang luar biasa itu hadir membawa perubahan,” katanya.

Ia mencontohkan keberadaan lembaga pendidikan di tingkat masyarakat yang berkembang sebagai bukti bahwa kehadiran seorang pendidik dapat meninggalkan jejak perubahan. Menurutnya, lulusan UNUSIDA harus mampu “menulis sejarah” melalui karya dan pengabdian yang dilakukan setelah menyelesaikan pendidikan.

“Setelah dikuasai, peluang itu akan datang. Jangan takut,” tegasnya.

Dalam sambutannya, Hadi juga menekankan pentingnya pendidikan tinggi sebagai investasi jangka panjang bagi keluarga dan generasi berikutnya.

Menurutnya, ketika orang tua memiliki pendidikan yang baik, maka wawasan dan cara pandang keluarga terhadap masa depan juga akan berkembang. Pendidikan kemudian tidak berhenti pada individu, tetapi dapat diwariskan menjadi semangat bagi generasi berikutnya.

Ia menggambarkan bahwa orang tua yang telah menyelesaikan pendidikan sarjana akan memiliki dorongan agar anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi.

“Maka saya ucapkan selamat karena saudara beruntung lulus di FAI UNUSIDA. Lulus bukan garis akhir. Lulus adalah awal untuk membuktikan bahwa ilmu yang diperoleh di UNUSIDA benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.