Seluruh peserta Yudisium ke-12 FILKOM UNUSIDA berfoto bersama dengan seluruh Dosen, Dekan, Plt. Rektor UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Yudisium ke-12 FILKOM UNUSIDA, Teguhkan Komitmen Cetak Lulusan Tepat Waktu, Bermutu, dan Berintegritas

SIDOARJO — Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Yudisium ke-12 Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 di Hall Lantai 5 Kampus 2 UNUSIDA, Selasa (4/8/2026). Prosesi yudisium tersebut dilaksanakan berdasarkan Surat Keputusan Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo Nomor 123/U9.3/3/GAR/SK-GAR/2026 tentang penetapan mahasiswa FILKOM yang lulus pada Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026.

Pada yudisium kali ini, sebanyak 42 lulusan Program Studi Informatika, 22 lulusan Sistem Informasi, dan 37 lulusan Desain Komunikasi Visual resmi dikukuhkan.

Dalam sambutannya, Plt. Rektor UNUSIDA Dr. Hadi Ismanto menyampaikan apresiasi kepada seluruh lulusan dari tiga program studi di lingkungan FILKOM. Ia juga memberikan semangat kepada mahasiswa yang belum berhasil menyelesaikan studinya agar tetap optimistis.

“Kita doakan teman-teman yang hari ini belum beruntung, semoga segera menyusul teman-teman kita semua,” ujarnya.

Dalam pesannya kepada para lulusan, Hadi menekankan tiga nilai utama yang harus menjadi pegangan setelah memasuki dunia kerja, yaitu menjaga salat, berbakti kepada orang tua (birrul walidain), serta menjauhi sifat sombong.

Menurutnya, kesombongan tidak hanya diwujudkan melalui sikap merendahkan orang lain, tetapi juga menolak kebenaran, termasuk dalam cara seseorang berkomunikasi di media sosial.

“Mari kita lihat apa yang kita kirim di media sosial. Jangan sampai kesombongan itu muncul dalam bentuk merendahkan orang lain atau menolak kebenaran,” pesannya.

Hadi kemudian membagikan kisah inspiratif tentang mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh yang semasa muda rutin mengikuti pengajian Mbah Hamid Pasuruan. Dari kisah tersebut, ia menegaskan bahwa keberhasilan seseorang tidak lepas dari bakti kepada orang tua.

“Apapun kesuksesan yang kalian raih, jangan pernah melupakan birrul walidain. Berbakti kepada orang tua menjadi salah satu kunci keberkahan hidup,” tuturnya.

Sebagai lulusan bidang teknologi informasi, Hadi juga mengingatkan bahwa kemampuan digital yang dimiliki para sarjana komputer harus diimbangi dengan integritas. Menurutnya, perkembangan teknologi membuka peluang besar, tetapi juga menghadirkan godaan untuk menempuh jalan pintas yang tidak benar.

Ia berharap budaya akademik di UNUSIDA yang selalu diawali dengan pembacaan Surah Al-Fatihah dan doa sebelum perkuliahan mampu menjadi benteng moral bagi para lulusan dalam menghadapi berbagai tantangan di dunia profesional.

“Semakin tinggi kemampuan teknologi seseorang, semakin besar pula tantangan untuk menjaga integritas. Kembalilah kepada Allah SWT agar ilmu yang dimiliki membawa keberkahan,” katanya.

Sementara itu, lulusan terbaik FILKOM UNUSIDA 2026, Zahrotun Nafisah, S.Kom., menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi kepada seluruh dosen, orang tua, dan teman-teman seperjuangan yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan akademiknya.

Menurutnya, keberhasilan menyelesaikan pendidikan bukan hanya tentang memperoleh nilai terbaik, melainkan hasil dari perjuangan panjang yang dilalui setiap mahasiswa.

“Hari ini bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan penghargaan. Hari ini adalah tentang perjuangan kita semua untuk sampai di titik ini. Kita berhasil karena tidak menyerah,” ungkapnya.

Ia mengenang berbagai proses selama kuliah, mulai dari menyelesaikan tugas hingga larut malam, menghadapi revisi yang seolah tak berujung, hingga melewati berbagai tantangan yang sempat membuat ingin menyerah.

Mahasiswi Program Studi Sistem Informasi tersebut menyampaikan terima kasih kepada seluruh dosen FILKOM, khususnya dosen wali sekaligus pembimbingnya, Rizki Aditya Nugroho, S.T., M.Kom., atas bimbingan dan kesabaran selama masa studi.

Selain itu, ia mengapresiasi dukungan orang tua, keluarga, dan rekan-rekan mahasiswa yang selalu memberikan semangat selama menempuh pendidikan.

Lebih lanjut, Zahrotun berharap Fakultas Ilmu Komputer UNUSIDA terus berkembang dan melahirkan lulusan yang unggul, adaptif, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Kelulusan ini bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari langkah yang lebih besar. Semoga Fakultas Ilmu Komputer UNUSIDA terus maju dan mencetak generasi terbaik yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Dekan FILKOM UNUSIDA, Dr. Arda Surya Editya, S.Pd., M.T. saat menyampaikan sambutan dalam Yudisium ke-12 (Foto: Humas UNUSIDA)

Yudisium ke-12, Dekan FILKOM UNUSIDA: Jadilah Sarjana yang Berilmu dan Berakhlak

SIDOARJO — Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Yudisium ke-12 Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 di Hall Lantai 5 Kampus UNUSIDA, Selasa (4/8/2026). Kegiatan ini menjadi penanda resmi kelulusan mahasiswa Program Studi Informatika, Sistem Informasi, dan Desain Komunikasi Visual sebelum mengikuti prosesi wisuda.

Acara tersebut dihadiri oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor UNUSIDA Dr. Hadi Ismanto, S.H., M.Pd., Kepala Biro Akademik Muhammad Mansur Yafi, M.T., Wakil Dekan FILKOM Neni Kurniati, S.Kom., M.T., Ketua Program Studi Sistem Informasi Syahri Mukmin, S.Kom., M.T., Ketua Program Studi Desain Komunikasi Visual Putra Uji Deva Satrio, S.Sn., M.Sn., Ketua Program Studi Informatika Muhammad Mahlul Alamin, S.Kom., M.Kom., serta perwakilan sponsorship dari Bank Raya Indonesia Cabang Sidoarjo.

Dalam sambutannya, Dekan FILKOM UNUSIDA Dr. Arda Surya Editya, S.Pd., M.T. menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh peserta yudisium atas keberhasilan mereka menyelesaikan studi hingga meraih gelar sarjana. Ia optimis sarjana FILKOM UNUSIDA dapat terus berkarya, berinovasi, serta memberikan kontribusi nyata bagi bangsa melalui bidang teknologi informasi dan industri kreatif.

“Tiada kata yang mampu menggambarkan perasaan kami kecuali kata selamat. Selamat bagi kalian yang telah berjuang sampai akhir dalam penyelesaian studi di Fakultas Ilmu Komputer,” ujarnya.

Ia mengajak para lulusan untuk mengenang kembali perjalanan akademik mereka sejak awal menjadi mahasiswa hingga mencapai titik kelulusan. Menurutnya, setiap mahasiswa memiliki cerita dan dinamika perjuangan yang berbeda, yang akan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup ke depan.

“Setiap orang memiliki cerita yang berbeda-beda. Semua pengalaman itu akan menjadi bekal berharga dalam menghadapi kehidupan selanjutnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Arda menegaskan bahwa pendidikan di perguruan tinggi tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan akhlak. Ia mengingatkan pentingnya peran dosen sebagai orang tua dalam dunia pendidikan yang tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan.

Ia juga berpesan kepada para lulusan untuk senantiasa menghormati dan meminta restu kepada dosen agar ilmu yang diperoleh menjadi berkah dan bermanfaat.

“Saya berharap setelah prosesi yudisium ini, kalian menemui dosen-dosen kalian, meminta maaf dan meminta restu. Keberkahan ilmu juga datang dari ridha para guru,” pesannya.

Dalam kesempatan tersebut, Arda juga mengungkapkan kebiasaannya membaca Basmalah setiap kali menandatangani Surat Keterangan Lulus (SKL) sebagai doa agar para lulusan senantiasa mendapatkan perlindungan dan pertolongan Allah SWT dalam menjalani kehidupan setelah lulus.

Lebih lanjut, ia menyampaikan tiga pesan penting sebagai bekal kehidupan, yakni menjaga tauhid dengan tidak menyekutukan Allah SWT, menjaga salat, serta menjauhi sikap sombong.

“Apapun profesi kalian nanti, tetap pegang nilai-nilai tersebut. Semoga kalian menjadi pribadi yang sukses, bermanfaat bagi masyarakat, dan mampu mengharumkan nama almamater,” pungkasnya.

UEC UNUSIDA dan ESI Sidoarjo Sukses Kolaborasi Gelar Porkab Esports 2026, Perkuat Pembinaan Atlet Muda 1

UEC UNUSIDA dan ESI Sidoarjo Sukses Kolaborasi Gelar Porkab Esports 2026, Perkuat Pembinaan Atlet Muda

SIDOARJO – Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) melalui UNUSIDA Esport Competition (UEC) berkolaborasi dengan Pengurus Kabupaten Esports Indonesia (ESI) Sidoarjo dalam penyelenggaraan Pekan Olahraga Kabupaten (Porkab) Esports Sidoarjo 2026. Kegiatan yang berlangsung pada 26–28 Juni 2026 tersebut menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat pembinaan, pengembangan, serta regenerasi atlet esports di Kabupaten Sidoarjo.

Kolaborasi ini mempertemukan unsur perguruan tinggi, organisasi olahraga esports, mahasiswa, dan generasi muda dalam sebuah ajang kompetisi yang tidak hanya berorientasi pada pertandingan, tetapi juga menjadi ruang strategis untuk menjaring, membina, dan mengembangkan talenta-talenta esports potensial di tingkat daerah.

Penyelenggaraan Porkab Esports Sidoarjo 2026 menjadi salah satu tahapan penting dalam proses pembinaan atlet esports menuju kompetisi yang lebih tinggi. ESI Sidoarjo menempatkan ajang ini sebagai wadah untuk menemukan bibit-bibit atlet yang nantinya dapat dipersiapkan untuk mewakili Kabupaten Sidoarjo pada berbagai kejuaraan tingkat regional maupun provinsi.

Keterlibatan UEC UNUSIDA dalam pelaksanaan Porkab Esports 2026 merupakan bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung perkembangan industri kreatif dan olahraga digital. Selama ini, UEC telah menjadi wadah kompetisi esports di lingkungan UNUSIDA yang tidak hanya memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berprestasi, tetapi juga menjadi sarana pengembangan keterampilan dalam bidang manajemen event, teknologi digital, publikasi, hingga penyelenggaraan turnamen.

Melalui kolaborasi bersama ESI Sidoarjo, pengalaman penyelenggaraan kompetisi yang dimiliki UEC diperluas ke tingkat kabupaten sehingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Sinergi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan esports membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari dunia pendidikan, organisasi olahraga, pemerintah, hingga komunitas esports.

Ketua Umum ESI Sidoarjo, Julius Ivan, menjelaskan bahwa Porkab memiliki peran strategis dalam pembinaan olahraga elektronik di daerah. Menurutnya, kompetisi bukan hanya menjadi tempat untuk menentukan pemenang, tetapi juga menjadi sarana untuk memetakan potensi atlet dan membangun sistem pembinaan yang berkelanjutan.

“Porkab menjadi bagian penting dalam proses penjaringan atlet potensial yang nantinya dipersiapkan untuk kompetisi tingkat lebih tinggi. Melalui kompetisi yang terstruktur, para atlet memperoleh pengalaman bertanding sekaligus kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya,” ujarnya.

Kompetisi esports tingkat kabupaten ini juga menjadi bagian dari persiapan menuju Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) Jawa Timur X Tahun 2027. Dengan demikian, Porkab tidak hanya menjadi agenda olahraga tahunan, tetapi juga memiliki fungsi strategis dalam proses seleksi dan pembinaan atlet yang akan membawa nama Kabupaten Sidoarjo pada ajang olahraga tingkat provinsi.

Bagi para atlet muda, Porkab Esports Sidoarjo 2026 menjadi kesempatan berharga untuk mengasah kemampuan teknis sekaligus membangun mental bertanding. Kompetisi yang berlangsung secara terstruktur memberikan pengalaman berbeda dibandingkan turnamen biasa, karena para peserta dituntut untuk menunjukkan kemampuan, sportivitas, dan konsistensi dalam setiap pertandingan.

Perkembangan esports yang semakin pesat juga menunjukkan bahwa olahraga elektronik kini telah menjadi salah satu ruang prestasi baru bagi generasi muda. Tidak hanya sebagai hiburan, esports berkembang menjadi bidang yang membutuhkan keterampilan, strategi, kerja sama tim, serta kemampuan berpikir cepat dalam mengambil keputusan.

Dalam konteks tersebut, kehadiran perguruan tinggi menjadi penting untuk mendukung pengembangan ekosistem esports yang sehat dan profesional. Melalui UEC, UNUSIDA menghadirkan ruang bagi mahasiswa untuk belajar sekaligus berkontribusi secara nyata dalam penyelenggaraan kegiatan esports berskala besar.

Mahasiswa tidak hanya terlibat sebagai peserta, tetapi juga menjadi bagian dari tim penyelenggara yang menangani berbagai aspek teknis, seperti manajemen pertandingan, publikasi, desain kreatif, dokumentasi, broadcasting, komunikasi, hingga koordinasi kegiatan. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja yang semakin membutuhkan kemampuan kolaborasi dan penguasaan teknologi digital.

Kolaborasi UEC UNUSIDA dan ESI Sidoarjo juga memperlihatkan bahwa esports dapat menjadi media pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman. Selain melahirkan atlet berprestasi, kegiatan ini turut mendorong lahirnya sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dalam industri kreatif dan teknologi.

Mengusung semangat “The Golden Legacy: Forge Your Glory”, UEC 2026 membawa pesan bahwa kompetisi tidak hanya berbicara tentang kemenangan, tetapi juga tentang proses belajar, membangun pengalaman, serta meninggalkan warisan positif bagi generasi berikutnya. Setiap pertandingan menjadi bagian dari perjalanan untuk menciptakan prestasi sekaligus membangun karakter yang sportif, disiplin, dan profesional.

Kolaborasi antara UEC UNUSIDA dan ESI Sidoarjo dalam Porkab Esports 2026 menjadi salah satu contoh bagaimana perguruan tinggi dapat mengambil peran aktif dalam perkembangan olahraga dan industri digital di daerah. Kompetisi, pembinaan, dan regenerasi atlet menjadi satu kesatuan yang saling mendukung dalam menciptakan ekosistem esports yang lebih terarah dan berkelanjutan.

Melalui sinergi antara UNUSIDA, UEC, dan ESI Sidoarjo, diharapkan semakin banyak generasi muda yang memperoleh kesempatan untuk mengembangkan potensi di bidang esports secara positif, profesional, dan berprestasi. Selain mencetak atlet andal, kolaborasi ini juga diharapkan mampu melahirkan talenta-talenta muda yang siap berkontribusi dalam industri digital kreatif, sehingga esports tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran, inovasi, dan pengembangan masa depan generasi muda Sidoarjo.

Mahasiswa KKN UNUSIDA Sukses Gelar Pelatihan Pembuatan Sabun Cuci Piring, Ciptakan Peluang Usaha bagi Santri Ponpes Nurul Ikhlas 2

Mahasiswa KKN UNUSIDA Sukses Gelar Pelatihan Pembuatan Sabun Cuci Piring, Ciptakan Peluang Usaha bagi Santri Ponpes Nurul Ikhlas

SIDOARJO – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) Kelompok Pondok Pesantren Nurul Ikhlas menggelar Pelatihan Pembuatan Sabun Cuci Piring sebagai upaya meningkatkan keterampilan sekaligus menumbuhkan jiwa kewirausahaan di kalangan santri. Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (2/8/2026) pukul 13.00 WIB di Pondok Pesantren Nurul Ikhlas, Sepande, ini menjadi salah satu program pemberdayaan masyarakat dalam rangkaian KKN UNUSIDA Berdaya 2026.

Mengusung tema “Meningkatkan keterampilan, menciptakan peluang usaha. Dari pelatihan menjadi peluang penghasilan,” kegiatan ini bertujuan membekali peserta dengan keterampilan praktis yang dapat dikembangkan menjadi usaha mandiri dan memberikan nilai ekonomi bagi pondok pesantren maupun masyarakat sekitar.

Pelatihan secara resmi dibuka dan didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN UNUSIDA, Afifatus Sholikhah, S.M., M.M. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, yang tidak hanya memberikan edukasi tetapi juga mendorong terciptanya kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal.

Afifatus Sholikhah mengapresiasi inisiatif mahasiswa KKN yang menghadirkan program pemberdayaan sesuai kebutuhan masyarakat. Menurutnya, keterampilan membuat produk kebutuhan rumah tangga seperti sabun cuci piring memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi usaha mikro yang berkelanjutan.

“Kami berharap pelatihan ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu menjadi awal lahirnya usaha produktif di lingkungan pondok pesantren. Dengan keterampilan yang dimiliki, santri dapat menghasilkan produk yang bermanfaat untuk kebutuhan internal pondok maupun dipasarkan kepada masyarakat sehingga memberikan nilai tambah secara ekonomi,” ujarnya.

Pelatihan menghadirkan M. Jeffri Aprilianto sebagai narasumber yang membagikan pengetahuan mengenai proses pembuatan sabun cuci piring cair, mulai dari pengenalan bahan baku, teknik pencampuran, proses pengadukan, hingga pengemasan produk agar memiliki kualitas yang baik dan layak dipasarkan.

Dalam pemaparannya, Jeffri menjelaskan bahwa sabun cuci piring merupakan salah satu produk rumah tangga dengan tingkat kebutuhan yang tinggi sehingga memiliki prospek usaha yang menjanjikan. Selain modal produksinya relatif terjangkau, proses pembuatannya juga cukup sederhana sehingga dapat dipraktikkan oleh masyarakat maupun santri yang ingin memulai usaha skala rumahan.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga kualitas produk agar mampu bersaing di pasaran. Menurutnya, kualitas tidak hanya ditentukan dari kemampuan membersihkan peralatan makan, tetapi juga dipengaruhi oleh komposisi bahan, tingkat kekentalan, aroma, serta kemasan yang menarik sehingga memiliki daya jual yang lebih tinggi.

Tidak hanya menerima materi secara teoritis, peserta juga mengikuti praktik langsung pembuatan sabun cuci piring. Dalam sesi ini, narasumber mendampingi peserta mulai dari proses penimbangan bahan, pencampuran formula, pengadukan hingga menghasilkan sabun yang siap digunakan. Pendekatan praktik tersebut membuat peserta lebih mudah memahami setiap tahapan produksi sekaligus meningkatkan kepercayaan diri untuk mencoba membuat produk secara mandiri.

Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Para peserta tampak antusias mengajukan berbagai pertanyaan mengenai teknik produksi, cara memperoleh bahan baku, strategi menjaga kualitas produk, hingga peluang pemasaran yang dapat dilakukan baik secara langsung maupun melalui platform digital.

Kegiatan dipandu oleh Nazahah Mudhiah sebagai moderator yang mengarahkan jalannya diskusi sehingga berlangsung komunikatif dan penuh semangat. Berbagai pengalaman yang dibagikan narasumber memberikan motivasi kepada peserta bahwa usaha dapat dimulai dari produk sederhana selama dikelola dengan baik dan memiliki kualitas yang terjaga.

Melalui pelatihan ini, mahasiswa KKN UNUSIDA berharap keterampilan yang diberikan mampu menjadi bekal bagi para santri untuk mengembangkan usaha berbasis kebutuhan sehari-hari. Produk sabun cuci piring yang dihasilkan bahkan dapat dimanfaatkan terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan operasional pondok pesantren sehingga mengurangi biaya pengeluaran sekaligus menjadi media pembelajaran kewirausahaan.

Ke depan, apabila produksi dilakukan secara berkelanjutan dengan standar kualitas yang baik, produk tersebut berpotensi dipasarkan kepada masyarakat sekitar sebagai salah satu produk unggulan hasil karya santri. Bahkan, mahasiswa KKN turut mendorong lahirnya identitas merek lokal yang dapat memperkuat daya saing produk sekaligus menjadi kebanggaan Pondok Pesantren Nurul Ikhlas.

Program pelatihan ini merupakan bagian dari komitmen KKN UNUSIDA Berdaya 2026 dalam menghadirkan kegiatan yang tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Mahasiswa berupaya mentransfer ilmu pengetahuan dan keterampilan praktis yang dapat terus dimanfaatkan setelah masa KKN berakhir.

Selain meningkatkan keterampilan teknis, kegiatan ini juga bertujuan menanamkan semangat berwirausaha kepada para santri. Mereka diajak untuk melihat kebutuhan sehari-hari sebagai peluang usaha yang dapat dikembangkan melalui inovasi, kreativitas, dan pengelolaan yang baik. Dengan demikian, santri tidak hanya menjadi pengguna produk, tetapi juga mampu menjadi produsen yang menghasilkan produk berkualitas dan bernilai jual.

Melalui kolaborasi antara mahasiswa, dosen pembimbing lapangan, narasumber, dan pihak Pondok Pesantren Nurul Ikhlas, pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun kemandirian ekonomi berbasis pesantren. Semangat pemberdayaan yang diusung KKN UNUSIDA diharapkan mampu melahirkan lebih banyak inovasi dan usaha produktif yang memberikan manfaat bagi masyarakat, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan ekonomi berbasis komunitas.

Disiplin Salat Berjamaah, Kunci Membangun Etos Kerja dan Keberkahan Hidup 3

Disiplin Salat Berjamaah, Kunci Membangun Etos Kerja dan Keberkahan Hidup

SIDOARJO – Salat berjamaah tidak hanya menjadi kewajiban ibadah bagi setiap muslim, tetapi juga merupakan sarana efektif dalam membentuk karakter yang disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki etos kerja yang baik. Nilai-nilai tersebut menjadi pokok pembahasan dalam Kajian Amaliyah Nahdlatul Ulama (NU) yang diselenggarakan di Masjid KH. Hasyim Asy’ari Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA).

Kajian yang diikuti oleh sivitas akademika serta jamaah dari lingkungan sekitar ini mengangkat pentingnya menjadikan salat berjamaah sebagai budaya hidup. Dalam perspektif Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, ibadah tidak hanya dipahami sebagai hubungan vertikal antara manusia dengan Allah SWT, tetapi juga memiliki dampak nyata terhadap pembentukan akhlak, profesionalisme, dan kehidupan sosial.

Pada kesempatan tersebut, pemateri membagikan sebuah pengalaman inspiratif ketika menghadiri acara bedah buku di Kota Surabaya. Saat seluruh panitia tengah sibuk melakukan persiapan menjelang dimulainya acara, waktu salat Asar tiba. Alih-alih meneruskan pekerjaan hingga acara dimulai, panitia justru menghentikan seluruh aktivitas dan mengajak semua yang hadir untuk melaksanakan salat Asar berjamaah terlebih dahulu.

Pengalaman sederhana tersebut memberikan pelajaran mendalam bahwa sebesar apa pun tanggung jawab pekerjaan, kewajiban kepada Allah SWT tetap harus ditempatkan sebagai prioritas utama. Ketika manusia mampu mendahulukan panggilan Allah, maka setiap aktivitas yang dikerjakan setelahnya akan memperoleh keberkahan dan kemudahan.

“Di atas etos kerja, kedisiplinan, dan profesionalisme, ada Allah SWT yang harus selalu didahulukan. Salat berjamaah menjadi pengingat bahwa setiap aktivitas dunia harus tetap berorientasi pada ibadah,” ungkap pemateri.

Menurutnya, banyak orang beranggapan bahwa kesuksesan hanya ditentukan oleh kerja keras, kecerdasan, atau strategi yang matang. Padahal, sebagai seorang muslim, seluruh ikhtiar tersebut harus dilandasi dengan ketaatan kepada Allah SWT. Salat berjamaah menjadi simbol bahwa keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari capaian duniawi, tetapi juga dari sejauh mana seseorang mampu menjaga hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.

Kajian tersebut juga menekankan bahwa salat berjamaah memiliki peran penting dalam membentuk karakter disiplin. Lima kali sehari, umat Islam diajak untuk menghentikan segala aktivitas ketika azan berkumandang. Panggilan itu mengajarkan bahwa setiap pekerjaan memiliki batas, sedangkan kewajiban kepada Allah tidak boleh diabaikan.

Di dalam saf salat, seluruh jamaah berdiri sejajar tanpa membedakan jabatan, profesi, status sosial, maupun latar belakang ekonomi. Seorang pimpinan dapat berdampingan dengan karyawan, dosen berdiri bersama mahasiswa, dan tokoh masyarakat berada dalam saf yang sama dengan masyarakat biasa. Kesetaraan tersebut menjadi pelajaran bahwa di hadapan Allah SWT, yang membedakan manusia hanyalah ketakwaannya.

Nilai inilah yang kemudian melahirkan sikap rendah hati, saling menghargai, serta memperkuat ukhuwah Islamiyah. Salat berjamaah tidak hanya mempererat hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah), tetapi juga memperkuat hubungan antarsesama manusia (hablum minannas). Melalui pertemuan rutin di masjid, jamaah dapat saling mengenal, bersilaturahmi, berbagi kabar, hingga membangun kepedulian sosial terhadap sesama.

Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, masjid bukan sekadar tempat melaksanakan salat, melainkan juga menjadi pusat pembinaan umat, pendidikan keagamaan, serta penguatan nilai-nilai kebersamaan. Oleh karena itu, membiasakan salat berjamaah berarti turut menghidupkan fungsi masjid sebagai pusat peradaban Islam yang penuh rahmat dan kasih sayang.

Pemateri juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pekerjaan, ibadah, dan keluarga. Menurutnya, manusia sering kali terlalu fokus mengejar target pekerjaan hingga melupakan hak keluarga maupun kebutuhan spiritualnya. Padahal, keduanya merupakan amanah yang harus dijaga secara seimbang.

Salat Asar, misalnya, menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa setelah menyelesaikan berbagai urusan pekerjaan, seseorang perlu kembali kepada keluarganya. Kehangatan keluarga merupakan salah satu nikmat terbesar yang harus disyukuri sekaligus dijaga dengan penuh tanggung jawab.

Dalam kajian tersebut juga disampaikan kisah menarik mengenai pandangan masyarakat non-Muslim terhadap kebiasaan umat Islam menjalankan salat. Salah satu pengalaman yang dibagikan adalah adanya masyarakat non-Muslim yang mengaku kagum terhadap kedisiplinan umat Islam dalam menjaga waktu salat. Bahkan, ada yang menyampaikan bahwa suara azan Subuh dari masjid justru membantunya bangun pagi untuk memulai aktivitas.

Pengalaman tersebut menjadi refleksi bahwa syiar Islam sesungguhnya memiliki nilai positif yang dapat dirasakan oleh siapa saja. Apa yang sering dianggap biasa oleh umat Islam ternyata mampu menghadirkan kesan mendalam bagi orang lain. Oleh sebab itu, umat Islam diajak untuk semakin mencintai identitas keislamannya dan menjaga pelaksanaan ibadah dengan penuh kesungguhan.

Menutup kajian, pemateri mengajak seluruh jamaah untuk membiasakan salat berjamaah sebagai bagian dari gaya hidup seorang muslim. Kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten akan membentuk pribadi yang disiplin, amanah, bertanggung jawab, serta memiliki etos kerja tinggi yang berlandaskan keimanan.

Melalui Kajian Amaliyah NU, UNUSIDA terus berupaya menghadirkan ruang pembinaan spiritual bagi sivitas akademika agar nilai-nilai Islam tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Semangat ibadah diharapkan mampu melahirkan generasi yang unggul secara intelektual, kuat secara spiritual, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

Dengan demikian, setiap aktivitas, baik dalam dunia pendidikan, pekerjaan, maupun kehidupan bermasyarakat, tidak semata-mata berorientasi pada pencapaian duniawi, melainkan juga menjadi amal saleh yang menghadirkan keberkahan. Inilah esensi Amaliyah NU, yakni membentuk pribadi muslim yang profesional, amanah, mencintai keluarga, menjaga ukhuwah, dan senantiasa menempatkan Allah SWT sebagai tujuan utama dalam setiap langkah kehidupan.

Suasana pembukaan Workshop INACOM IoT Series 2026 Hima Informatika UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

HIMA Informatika UNUSIDA Gelar INACOM IoT Series 2026, Ajak Generasi Muda Bangun Smart System

SIDOARJO — Himpunan Mahasiswa (HIMA) Informatika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Workshop INACOM IoT Series 2026 bertema “Misi Otomasi: Bangun Smart System dengan Tanganmu Sendiri” di Hall Lantai 5 Kampus UNUSIDA, Lingkar Timur Sidoarjo, Sabtu (1/8/2026). Kegiatan ini terselenggara bekerja sama dengan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Sidoarjo dengan menghadirkan praktisi Diam Pratiwi, S.T. dan Firstanta Winawan Khansa R., S.T. sebagai narasumber.

Workshop ini diikuti oleh peserta dari berbagai SMA, SMK, MA, mahasiswa UNUSIDA, hingga mahasiswa dari perguruan tinggi lain. Mereka mendapatkan pembekalan mengenai konsep Internet of Things (IoT) sekaligus praktik langsung membangun sistem otomatisasi menggunakan perangkat yang telah disiapkan oleh panitia.

Ketua HIMA Informatika UNUSIDA, M. Satrio Rahmatullah dalam sambutannya mengatakan bahwa perkembangan teknologi otomasi dan Internet of Things kini bukan lagi sekadar tren, melainkan telah menjadi kebutuhan di berbagai sektor kehidupan. Melalui kolaborasi dengan BPVP Sidoarjo, HIMA Informatika ingin menghadirkan ruang belajar yang mampu menjembatani teori dengan praktik.

“Pemahaman tentang Internet of Things bukan lagi sekadar sesuatu yang menarik untuk dipelajari, tetapi sudah menjadi kebutuhan. Melalui kegiatan ini kami ingin memberikan wadah agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu membangun sistem cerdas yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada BPVP Sidoarjo, para narasumber, panitia, dan seluruh peserta yang telah berkontribusi menyukseskan kegiatan tersebut. Menurutnya, kesempatan belajar bersama praktisi harus dimanfaatkan sebaik mungkin sebagai bekal menghadapi perkembangan teknologi digital.

Sementara itu, Ketua Program Studi Informatika UNUSIDA, Mochammad Machlul Alamin, S.Kom., M.Kom., menyampaikan bahwa workshop ini merupakan agenda tahunan HIMA Informatika yang setiap tahun mengangkat tema berbeda sesuai perkembangan teknologi.

“Workshop ini merupakan program tahunan HIMA Informatika. Tahun-tahun sebelumnya kami mengangkat tema digital marketing, pembuatan website, hingga artificial intelligence (AI). Tahun ini kami fokus pada Internet of Things agar peserta memiliki pengalaman baru dalam bidang otomasi dan sistem cerdas,” ungkapnya.

Ia mengapresiasi tingginya antusiasme peserta yang berasal dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi. Menurutnya, kegiatan seperti ini menjadi salah satu bentuk komitmen Program Studi Informatika UNUSIDA dalam mendukung peningkatan kompetensi generasi muda di bidang teknologi informasi.

Tidak hanya mendapatkan materi teori, peserta juga diajak melakukan praktik langsung menggunakan perangkat IoT di bawah pendampingan para instruktur dari BPVP Sidoarjo. Selama sesi praktik, peserta diberi kesempatan untuk mencoba merancang sistem otomatisasi sederhana sekaligus berdiskusi mengenai berbagai kendala teknis yang ditemui.

“Kami berharap setelah mengikuti workshop ini, peserta dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di sekolah, kampus, maupun lingkungan masing-masing sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara nyata,” tambahnya.

Pihaknya terus mendorong UNUSIDA sebagai kampus yang terus mendorong inovasi dan pengembangan kompetensi digital. Ia mengajak para peserta, khususnya siswa SMA, SMK, dan MA, untuk melanjutkan pendidikan di Program Studi Informatika UNUSIDA dan menjadi bagian dari keluarga besar kampus Nahdlatul Ulama tersebut.

“Semoga melalui Workshop INACOM IoT Series 2026 mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya memahami konsep teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan praktis dalam mengembangkan sistem cerdas berbasis Internet of Things sebagai bekal menghadapi kebutuhan industri dan transformasi digital di masa depan,” pungkasnya.