Kajian Nashoihul ‘Ibad: Menguatkan Ilmu, Amal, Kompetensi, dan Moral dalam Kehidupan
Sidoarjo, UNUSIDA – Kegiatan rutin kajian keislaman kembali dilaksanakan sebagai bagian dari upaya memperkuat pemahaman keagamaan dan pembelajaran Al-Qur’an di lingkungan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Kajian yang berlangsung secara rutin tersebut menghadirkan H. M. Arisy Karomy, S.T., M.Pd.I. sebagai pemateri dengan pembahasan kitab Nashoihul ‘Ibad, salah satu kitab yang berisi nasihat dan tuntunan kehidupan bagi umat Islam.
Dalam penyampaiannya, H. M. Arisy Karomy mengawali kajian dengan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ia juga mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk mengikuti kegiatan pengajian dan memperdalam ilmu agama secara rutin.
Kajian tersebut menekankan bahwa pembelajaran agama tidak hanya bertujuan menambah pengetahuan, tetapi juga menjadi sarana untuk membentuk karakter, memperbaiki amal, dan mengarahkan manusia agar mampu menjalani kehidupan sesuai dengan tuntunan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Salah satu pesan penting yang disampaikan adalah mengenai ilmu dan kemampuan yang dimiliki manusia sebagai karunia sekaligus amanah dari Allah. Setiap manusia memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Melalui pendidikan dan pengalaman, seseorang dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, kemampuan berkomunikasi, menguasai teknologi, menjalankan berbagai profesi, serta menyelesaikan beragam persoalan dalam kehidupan.
Namun, kemampuan tersebut tidak semestinya hanya dipandang sebagai hasil usaha manusia. Di balik kemampuan yang dimiliki terdapat karunia Allah yang patut disyukuri. Oleh karena itu, semakin tinggi ilmu dan kompetensi seseorang, semakin besar pula tanggung jawab untuk menggunakan kemampuan tersebut dalam kebaikan.
Dalam perspektif tersebut, ilmu tidak cukup hanya dipelajari dan disimpan sebagai pengetahuan pribadi. Ilmu perlu diamalkan sehingga memberikan manfaat bagi kehidupan. Seseorang yang memiliki ilmu dan kompetensi diharapkan mampu menghasilkan karya, membantu orang lain, serta menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan di masyarakat.
H. M. Arisy Karomy juga mengingatkan pentingnya moral dan akhlak dalam penggunaan ilmu serta kemampuan. Kemajuan teknologi dan perkembangan zaman membuat manusia memiliki semakin banyak kesempatan untuk berkembang. Akan tetapi, kemajuan tersebut harus tetap diiringi dengan nilai moral dan akhlak yang baik.
Kompetensi tanpa moral dapat kehilangan arah. Sebaliknya, ilmu yang dibangun bersama akhlak akan menjadi bekal penting dalam membentuk pribadi yang berkualitas. Karena itu, kualitas seseorang tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi pendidikan atau seberapa banyak keterampilan yang dimiliki, tetapi juga oleh bagaimana ia menggunakan ilmu tersebut.
Pesan tersebut juga berkaitan dengan pentingnya kepemimpinan. Seseorang yang memiliki ilmu, kompetensi, dan kemampuan memimpin harus mampu memberikan teladan kepada orang lain. Kepemimpinan bukan sekadar kemampuan untuk mengarahkan, tetapi juga tanggung jawab untuk membimbing, memberikan manfaat, dan membawa orang-orang di sekitarnya menuju kebaikan.
Ilmu yang dimiliki seseorang akan menjadi lebih bermakna ketika mampu ditransformasikan menjadi karya dan kebermanfaatan. Demikian pula pengalaman yang dimiliki hendaknya dapat dibagikan kepada generasi berikutnya. Dengan demikian, ilmu tidak berhenti pada satu individu, tetapi dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas.
Kajian Nashoihul ‘Ibad tersebut menjadi momentum untuk melakukan refleksi bahwa kehidupan manusia tidak hanya berkaitan dengan pencapaian duniawi. Pendidikan, pekerjaan, teknologi, kompetensi, dan berbagai kemampuan yang dimiliki harus diarahkan untuk mendekatkan diri kepada Allah serta memberikan kemaslahatan bagi sesama.
Melalui kajian rutin ini, jamaah diharapkan semakin memahami pentingnya keseimbangan antara ilmu, amal, kompetensi, dan moral. Ilmu yang disertai amal akan melahirkan kebermanfaatan, kompetensi yang disertai akhlak akan melahirkan pribadi yang berkualitas, sedangkan kepemimpinan yang dilandasi nilai-nilai agama akan mampu memberikan arah dan keteladanan bagi masyarakat.
Kajian tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap ilmu dan kemampuan merupakan amanah. Maka, tugas manusia bukan hanya terus belajar, tetapi juga mengamalkan, mengembangkan, dan membagikan ilmu tersebut agar menjadi manfaat bagi keluarga, lingkungan, masyarakat, dan umat.
Dengan semangat memperdalam ilmu agama melalui kajian Nashoihul ‘Ibad, kegiatan rutin ini diharapkan dapat terus menjadi ruang pembinaan spiritual dan intelektual. Tidak hanya meningkatkan pemahaman keagamaan, tetapi juga membentuk insan yang memiliki ilmu, kompetensi, akhlak, serta kepedulian untuk menghadirkan kebermanfaatan di tengah masyarakat.










