Shalat: Dari Kewajiban Ritual Menuju Transformasi Akhlak dan Kepedulian Sosial
Oleh: Dr. H. Wachyudi Achmad, M.Pd.
Salat merupakan salah satu ibadah utama yang menjadi kewajiban setiap Muslim. Salat tidak hanya menjadi bentuk penghambaan seorang manusia kepada Allah SWT, tetapi juga memiliki tujuan yang lebih luas, yaitu membentuk pribadi yang bertakwa, berakhlak mulia, dan memiliki kepedulian terhadap sesama. Oleh karena itu, memahami salat tidak cukup hanya dari sisi tata cara pelaksanaannya, tetapi juga perlu memahami makna dan dampaknya terhadap kehidupan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-‘Ankabut ayat 45 bahwa sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ayat tersebut memberikan gambaran yang sangat jelas bahwa salat memiliki fungsi transformatif. Salat seharusnya mampu memberikan perubahan dalam diri seseorang. Semakin baik kualitas salat seseorang, idealnya semakin baik pula perilaku dan akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.
Salat merupakan kewajiban yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Bahkan ketika seseorang berada dalam kondisi sakit dan tidak mampu melaksanakan salat secara normal, Allah SWT tetap memberikan kemudahan. Salat dapat dilaksanakan dengan duduk atau berbaring sesuai dengan kemampuan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya salat sehingga dalam kondisi apa pun seorang Muslim tetap diperintahkan untuk menjaga hubungan dengan Allah SWT.
Namun, ada sebuah pertanyaan yang penting untuk kita renungkan. Mengapa seseorang yang telah melaksanakan salat masih dapat menyimpan kebencian di dalam hati? Mengapa seseorang yang rajin salat terkadang masih kurang memiliki kepedulian terhadap tetangga, saudara, atau orang-orang yang berada di sekitarnya?
Pertanyaan tersebut membawa kita kepada pemahaman bahwa salat memiliki dimensi yang lebih luas. Salat dapat dipahami melalui dua dimensi, yaitu dimensi eksoteris dan dimensi esoteris.
Dimensi eksoteris merupakan dimensi lahiriah yang berkaitan dengan pelaksanaan salat berdasarkan ketentuan syariat. Salat dimulai dengan niat, takbiratul ihram, dilanjutkan dengan rukun dan bacaan yang telah ditentukan, kemudian diakhiri dengan salam. Semua ketentuan tersebut harus dipenuhi agar salat dapat dilaksanakan secara benar.
Akan tetapi, salat tidak berhenti pada aspek lahiriah. Terdapat dimensi esoteris yang berkaitan dengan hati dan kedalaman spiritual seseorang. Dimensi inilah yang seharusnya menjadi perhatian dalam kehidupan seorang Muslim. Salat seharusnya menghadirkan kesadaran bahwa kita sedang berhadapan dan bermunajat kepada Allah SWT.
Ketika seseorang berdiri dalam salat, sesungguhnya ia sedang belajar untuk tunduk, menyerahkan diri, dan mengakui bahwa dirinya adalah hamba Allah. Kesadaran tersebut seharusnya tidak hanya hadir selama beberapa menit ketika salat berlangsung, tetapi juga terbawa setelah seseorang selesai melaksanakan salat.
Jika salat benar-benar dihayati, maka hati akan menjadi lebih peka. Kepekaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga hubungan manusia dengan manusia. Orang yang memahami makna salat seharusnya memiliki kepedulian terhadap kesulitan orang lain, memperhatikan kondisi tetangga, membantu saudara yang membutuhkan, dan tidak bersikap egois terhadap lingkungan sosialnya.
Di sinilah pentingnya membedakan antara sekadar menjalankan salat dan menghadirkan nilai salat dalam kehidupan. Seseorang mungkin telah memenuhi ketentuan lahiriah salat, tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya belum sepenuhnya terwujud dalam perilakunya. Karena itu, yang perlu dilakukan bukan mempertanyakan keberadaan salatnya, tetapi melakukan introspeksi terhadap kualitas penghayatan salat tersebut.
Salat juga merupakan momentum bagi manusia untuk mengadu kepada Allah SWT. Setiap manusia memiliki persoalan dan problematika kehidupan. Ada persoalan keluarga, pekerjaan, ekonomi, pendidikan, maupun berbagai persoalan lainnya. Dalam salat, seorang hamba memiliki ruang untuk menyerahkan segala kegelisahan tersebut kepada Allah SWT.
Pesan tersebut semakin kuat ketika kita memahami Surah Al-Fatihah, khususnya ayat “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.” Hanya kepada Allah kita menyembah dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. Ayat tersebut mengajarkan tentang ketundukan sekaligus ketergantungan manusia kepada Allah SWT.
Karena itu, mari kita menjadikan salat bukan sekadar rutinitas lima waktu, tetapi sebagai proses pembentukan diri. Salat harus menjadi sumber kekuatan spiritual, ketenangan hati, pengendalian diri, dan dorongan untuk berbuat baik kepada sesama.
Pada akhirnya, kualitas salat dapat tercermin dari kualitas kehidupan seseorang. Salat yang benar akan mendorong seseorang untuk menjauhi keburukan, memperbaiki akhlak, meningkatkan kepekaan sosial, serta semakin dekat kepada Allah SWT.
Salat adalah perjalanan dari gerakan menuju kesadaran, dari kewajiban menuju kebutuhan, dan dari ibadah menuju transformasi akhlak. Semoga kita semua mampu menjaga salat secara lahir dan batin, sehingga menjadi hamba-hamba Allah SWT yang bertakwa, beriman, memiliki kepedulian sosial, serta memperoleh keberuntungan dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Upacara HUT ke-81 RI, Plt Rektor UNUSIDA: Jadilah Pejuang Masa Kini
SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026). Upacara berlangsung khidmat dan semarak dengan diikuti ratusan peserta dari seluruh sivitas akademika UNUSIDA, mulai dari dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa.
Nuansa nasionalisme semakin terasa karena para peserta mengenakan beragam pakaian adat Nusantara dari Sabang hingga Merauke. Sejumlah peserta juga tampil mengenakan atribut yang menggambarkan para pejuang kemerdekaan, sebagai simbol penghormatan terhadap jasa para pendahulu bangsa.
Bertindak sebagai pembina upacara, Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., menegaskan bahwa peringatan kemerdekaan tidak boleh dimaknai sebatas kegiatan seremonial.
“Peringatan kemerdekaan bukan sekadar kegiatan seremonial. Setiap tanggal 17 Agustus, kita sesungguhnya sedang diajak untuk mengingat kembali sejarah, menghargai pengorbanan para pendahulu, dan meneguhkan kembali tanggung jawab kita terhadap masa depan bangsa,” ujarnya.
Menurutnya, kemerdekaan Indonesia lahir melalui perjuangan panjang berbagai elemen bangsa, mulai dari para pejuang, pemuda, tokoh nasional, rakyat, hingga para ulama. Salah satu tokoh yang memiliki peran penting dalam membangun kesadaran keagamaan, pendidikan, kebangsaan, dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan adalah Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.
Ia kemudian mengutip artikel Al-Manzhumah karya Muhammad Asad Syihab (1972) yang menyebut KH Hasyim Asy’ari sebagai “Wāḍi‘u Labinati Istiqlāli Andūnīsiyā: al-‘Allāmah al-Mujāhid Muḥammad Hāsyim Asy‘arī. Yang bermakna ‘Peletak batu fondasi kemerdekaan Indonesia: Al-‘Allāmah Al-Mujāhid Muhammad Hasyim Asy’ari’.
Hadi menjelaskan, ungkapan tersebut memberikan pesan bahwa KH Hasyim Asy’ari dapat dipandang sebagai salah satu peletak fondasi perjuangan kemerdekaan, terutama melalui pendidikan, pesantren, kepemimpinan umat, perjuangan moral, serta penguatan semangat kebangsaan.
Belajar dari Sejarah Perjuangan
Dalam amanatnya, Hadi juga mengajak sivitas akademika melihat perjuangan kemerdekaan tidak hanya dari perspektif kekuatan fisik dan persenjataan. Ia menyinggung pemikiran Carl von Clausewitz dalam On War yang menempatkan kekuatan moral, kepemimpinan, kehendak rakyat, persatuan, dan tujuan sebagai bagian penting dalam sebuah perjuangan.
“Ketika kita berbicara tentang kemerdekaan, kita tidak cukup hanya bertanya siapa yang mengangkat senjata. Tetapi kita juga perlu bertanya, siapa yang mendidik rakyat, siapa yang membangun kesadaran, siapa yang menanamkan nilai perjuangan, dan siapa yang hari ini akan melanjutkan perjuangan itu? Jawabannya adalah kita semua,” tegasnya.
Menurut Hadi, perjuangan pada masa kini memiliki bentuk yang berbeda. Jika para pendahulu berjuang dengan senjata untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan, generasi saat ini berjuang melalui ilmu pengetahuan, pendidikan, pelayanan, profesionalisme, inovasi, serta pengabdian kepada masyarakat.
Ia menempatkan dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga pimpinan universitas sebagai bagian dari perjuangan tersebut.
“Dosen berjuang melalui ilmu, penelitian, pembelajaran, dan pembentukan karakter generasi bangsa. Tenaga kependidikan berjuang melalui pelayanan, administrasi, dan tata kelola. Mahasiswa berjuang melalui belajar, kreativitas, inovasi, organisasi, penelitian, dan keberanian menghadapi tantangan zaman,” jelasnya.
Karena itu, ia menegaskan bahwa tidak ada satu pun sivitas akademika yang berada di luar perjuangan membangun Indonesia. Setiap pekerjaan yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab untuk kemajuan pendidikan dan kemaslahatan masyarakat merupakan bagian dari upaya mengisi kemerdekaan.
Pendidikan Harus Hadir di Tengah Masyarakat
Lebih lanjut, Hadi menekankan pentingnya pendidikan yang membumi dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Ia mengingatkan agar pendidikan tidak sekadar menghasilkan lulusan dengan gelar dan ijazah, tetapi juga mampu melahirkan manusia yang memiliki kepedulian sosial dan memberikan solusi bagi persoalan masyarakat.
“Ilmu harus hadir di tengah masyarakat. Ukuran keberhasilan pendidikan bukan hanya berapa banyak orang yang memperoleh gelar, tetapi seberapa besar ilmu yang kita miliki mampu memberikan manfaat bagi kehidupan,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan sivitas akademika agar tetap memiliki jati diri di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan globalisasi. Menurutnya, UNUSIDA harus mampu membuka diri terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dari berbagai penjuru dunia, namun tetap berpijak pada nilai-nilai ke-Indonesiaan dan ke-NU-an.
Dalam amanatnya, Hadi mengajak seluruh sivitas akademika melakukan refleksi: apakah ilmu, tenaga, pelayanan, penelitian, dan aktivitas pendidikan yang dilakukan selama ini telah memberikan kontribusi bagi Indonesia.
“Bagi kita semua sebagai sivitas akademika UNUSIDA, sudahkah keberadaan kita memberikan kontribusi nyata bagi bangsa? Mari kita jawab pertanyaan tersebut bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan karya dan pengabdian,” ajaknya.
Menutup amanatnya, Hadi mengajak seluruh sivitas akademika menjadikan UNUSIDA sebagai bagian dari perjuangan mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus menjadi ruang tumbuh bagi ilmu pengetahuan, akhlak, inovasi, pengabdian, dan kemanusiaan.
“Jika dahulu para ulama dan pejuang mempertaruhkan jiwa untuk kemerdekaan, maka hari ini kita harus mempertaruhkan ilmu, waktu, tenaga, integritas, dan profesionalisme untuk mengisi kemerdekaan,” katanya.
Ia pun menegaskan bahwa generasi saat ini tidak hanya menjadi pewaris kemerdekaan, tetapi memiliki tanggung jawab untuk menentukan masa depan bangsa.
“Kita bukan hanya pewaris kemerdekaan. Kita adalah penanggung jawab masa depan kemerdekaan,” pungkasnya.
IRONI PERAYAAN KEMERDEKAAN
Rangga Sa’adillah S.A.P.
Tatkala memasuki bulan Agustus, suasana perayaan mulai terasa di berbagai pelosok desa. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, gang-gang dihiasi berbagai ornamen kemerdekaan, perlombaan digelar, panggung hiburan didirikan, dan masyarakat larut dalam kegembiraan. Anak-anak berlarian mengikuti berbagai permainan, para pemuda sibuk mempersiapkan kegiatan, sementara orang tua turut menikmati suasana kebersamaan.
Semua itu tentu sah-sah saja sebagai bentuk ekspresi kebahagiaan atas kemerdekaan yang telah kita nikmati selama puluhan tahun. Bahkan, kegembiraan dan kebersamaan masyarakat merupakan bagian penting dari kehidupan sosial. Kemerdekaan memang patut dirayakan.
Namun, saya merasakan sebuah ironi ketika perayaan kemerdekaan justru kehilangan ruh kemerdekaan itu sendiri. Ketika semangat memperingati perjuangan para pahlawan bergeser menjadi sekadar hura-hura. Ketika kebahagiaan seolah diukur dari seberapa meriah panggung hiburan, seberapa besar kerumunan masyarakat, dan seberapa keras suara musik yang diperdengarkan.
Sound horeg menjadi pusat perhatian dalam perayaan. Persoalannya bukan semata-mata tentang musik atau hiburan. Yang patut kita renungkan adalah ketika kemeriahan tersebut justru mengganggu ketenteraman masyarakat, mengusik kenyamanan orang lain, atau menjadikan perayaan kemerdekaan kehilangan nilai edukatif dan moralnya.
Apakah demikian cara kita memaknai kemerdekaan?
Pertanyaan yang sama juga layak kita ajukan terhadap berbagai bentuk perlombaan. Perlombaan sejatinya dapat menjadi media pendidikan karakter. Di dalamnya terdapat nilai perjuangan, sportivitas, kerja sama, keberanian, kreativitas, dan kegigihan. Namun, ketika perlombaan justru lebih banyak diarahkan kepada sekadar tontonan dan sensasi, kita patut melakukan refleksi.
Misalnya, ketika sebuah perlombaan sepak bola dikemas dengan menggunakan kostum yang menyerupai perempuan atau waria: seperti sepak bola berdaster, barangkali bagi sebagian orang itu dianggap lucu dan menghibur. Tetapi apakah kita pernah bertanya, nilai pendidikan apa yang sedang kita tanamkan kepada anak-anak dan generasi muda melalui tontonan tersebut?
Kita tentu tidak sedang berbicara tentang persoalan boleh atau tidak boleh seseorang mengenakan pakaian tertentu dalam sebuah permainan. Yang lebih penting adalah pertanyaan mengenai arah budaya perayaan yang sedang kita bangun. Apakah kita sedang membentuk generasi yang gagah dalam arti positif berani, tangguh, kreatif, sportif, dan bertanggung jawab. Atau justru membiasakan mereka bahwa kemeriahan harus selalu diwujudkan melalui sensasi dan olok-olok?
Kemerdekaan Republik Indonesia adalah rahmat dan nikmat dari Allah SWT yang semestinya disyukuri dengan cara-cara yang baik dan benar. Kemerdekaan bukan sekadar momentum untuk bersenang-senang, tetapi amanah yang diwariskan oleh para pendahulu kepada generasi penerus.
Kemerdekaan juga bukan hadiah yang turun begitu saja dari langit. Ia lahir dari perjuangan panjang. Ada air mata, darah, harta, bahkan nyawa yang dikorbankan oleh para pahlawan. Mereka berjuang bukan agar generasi setelahnya hanya menikmati pesta kemerdekaan, tetapi agar anak cucunya dapat hidup sebagai bangsa yang merdeka, bermartabat, dan memiliki masa depan.
Karena itu, memperingati kemerdekaan semestinya tidak berhenti pada merayakan, tetapi juga menghayati dan melanjutkan perjuangan.
Jika para pahlawan dahulu berjuang mengangkat senjata untuk merebut kemerdekaan, maka perjuangan kita hari ini adalah menjaga kemerdekaan agar tidak kehilangan makna. Kita berjuang melawan kebodohan, kemiskinan, korupsi, ketidakadilan, intoleransi, kerusakan lingkungan, narkoba, dan berbagai bentuk penjajahan baru yang secara perlahan dapat menggerogoti martabat bangsa.
Perjuangan hari ini tidak selalu membutuhkan senjata. Seorang guru berjuang melalui pendidikan. Orang tua berjuang mendidik anak-anaknya. Pelajar berjuang dengan belajar. Mahasiswa berjuang dengan ilmu dan gagasan. Para pekerja berjuang dengan kejujuran dan profesionalitas. Para pemimpin berjuang dengan amanah. Dan masyarakat berjuang dengan menjaga persaudaraan serta ketenteraman lingkungan.
Maka, tidak ada salahnya kita bergembira. Tidak ada salahnya mengadakan perlombaan, pentas seni, pengajian, kegiatan sosial, maupun berbagai kegiatan masyarakat. Tetapi kegembiraan jangan sampai mengalahkan rasa syukur; kemeriahan jangan sampai menghilangkan penghormatan kepada para pahlawan; dan kebebasan jangan sampai berubah menjadi kebisingan yang mengganggu kebebasan orang lain.
Bukankah salah satu hakikat kemerdekaan adalah hidup dalam kebebasan yang tetap menghormati hak dan ketenteraman sesama?
Karena itu, barangkali kita perlu bertanya kembali kepada diri sendiri:
Sudahkah cara kita merayakan kemerdekaan menjadi bagian dari rasa syukur kepada Allah?
Sudahkah perayaan itu mendidik anak-anak kita untuk mengenal sejarah perjuangan bangsanya?
Sudahkah kemeriahan itu mempererat persaudaraan warga?
Sudahkah kegembiraan itu menghadirkan kemaslahatan bagi lingkungan?
Dan yang tidak kalah penting, sudahkah kita mengisi kemerdekaan dengan menjadi manusia yang lebih baik dan bangsa yang lebih bermartabat?
Kemerdekaan tidak membutuhkan kebisingan untuk membuktikan bahwa kita bahagia. Kemerdekaan membutuhkan kesadaran bahwa ada harga yang sangat mahal yang telah dibayar oleh para pahlawan.
Maka, mari kita rayakan kemerdekaan dengan gembira, tetapi jangan kehilangan makna. Kita boleh meriah, tetapi tetap santun. Kita boleh bersenang-senang, tetapi tetap peduli kepada sesama. Kita boleh menikmati kebebasan, tetapi jangan menjadikan kebebasan sebagai alasan untuk mengganggu orang lain.
Sebab kemerdekaan bukan sekadar tentang bebas dari penjajahan. Kemerdekaan adalah tentang kemampuan sebuah bangsa menggunakan kebebasannya untuk menghadirkan kebaikan.
Mari kita wariskan kepada generasi berikutnya bukan hanya cerita tentang betapa meriahnya perayaan kemerdekaan, tetapi juga cerita tentang betapa besar perjuangan untuk mendapatkannya dan betapa mulianya tanggung jawab untuk menjaganya.
Dirgahayu Republik Indonesia.
Mari merayakan kemerdekaan dengan syukur, bukan sekadar dengan gemuruh.
*(Kabag MKU UNUSIDA, Komisi Pendidikan MUI Kab. Sidoarjo, KP3 MUI Jatim)
KKN UNUSIDA Sukses Dongkrak Kreativitas Siswa MA Nurul Ikhlas lewat Pembuatan Sabun Cuci Piring
Sidoarjo – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNUSIDA menggelar kegiatan sosialisasi pembuatan sabun cuci piring bersama siswi Madrasah Aliyah (MA) Nurul Ikhlas, Desa Sepande, Kecamatan Candi, Sidoarjo, Kamis (13/8/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 13.00 WIB hingga selesai tersebut menjadi bagian dari program kerja KKN yang diarahkan untuk memberikan pengetahuan, wawasan, sekaligus keterampilan praktis kepada siswa.
Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan sebagai bentuk kontribusi mahasiswa KKN dalam mendukung pengembangan keterampilan peserta didik di lingkungan masyarakat. Tidak hanya memperoleh materi secara teori, para siswi juga mendapatkan kesempatan untuk mengenal tahapan pembuatan sabun cuci piring melalui pemaparan dan praktik yang dilakukan bersama mahasiswa KKN.
Pemilihan pembuatan sabun cuci piring sebagai materi kegiatan didasarkan pada pertimbangan bahwa produk tersebut dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sabun cuci piring merupakan salah satu kebutuhan rumah tangga yang mudah ditemukan dan digunakan. Melalui kegiatan tersebut, siswa diharapkan tidak hanya memahami proses pembuatannya, tetapi juga dapat melihat peluang kreativitas dan kewirausahaan dari produk sederhana yang memiliki manfaat praktis.
Kegiatan diawali dengan penyampaian materi oleh mahasiswa KKN mengenai pengenalan sabun cuci piring serta gambaran umum proses pembuatannya. Materi disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami agar peserta dapat mengikuti kegiatan dengan baik.
Mahasiswa KKN kemudian memberikan pemaparan mengenai tahapan-tahapan yang perlu diperhatikan dalam proses pembuatan sabun cuci piring. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif sehingga para siswi dapat mengikuti kegiatan dengan antusias. Mahasiswa juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan pertanyaan terkait materi maupun proses yang sedang dipelajari.
Sesi diskusi dan tanya jawab menjadi salah satu bagian yang menarik dalam kegiatan tersebut. Para siswi diberikan ruang untuk menyampaikan rasa ingin tahu mereka mengenai proses pembuatan sabun cuci piring. Interaksi dua arah antara mahasiswa KKN dan peserta membuat kegiatan sosialisasi tidak hanya berlangsung sebagai penyampaian materi, tetapi juga menjadi ruang bertukar informasi dan pengalaman.
Setelah mendapatkan pemahaman melalui pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan sabun cuci piring. Pada tahap ini, mahasiswa KKN memberikan arahan kepada para siswi agar dapat memahami proses secara lebih nyata. Praktik tersebut sekaligus menjadi sarana untuk melatih ketelitian, kreativitas, kerja sama, dan keberanian siswa dalam mencoba sesuatu yang baru.
Melalui praktik secara langsung, peserta dapat melihat bahwa proses menghasilkan sebuah produk membutuhkan tahapan yang harus dilakukan dengan cermat. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menumbuhkan sikap teliti dan bertanggung jawab sekaligus mendorong siswa untuk lebih percaya diri dalam mengembangkan keterampilan.
Kegiatan ini juga memiliki nilai edukatif yang lebih luas. Mahasiswa KKN tidak hanya berperan sebagai penyelenggara kegiatan, tetapi juga menjadi fasilitator yang berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada siswa. Sementara itu, para siswi MA Nurul Ikhlas mendapatkan kesempatan untuk memperoleh wawasan baru yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain memberikan pengetahuan dan wawasan, sosialisasi pembuatan sabun cuci piring diharapkan dapat membuka pandangan siswa mengenai pentingnya keterampilan produktif. Keterampilan tersebut dapat menjadi salah satu modal untuk mengembangkan kreativitas maupun mengenali peluang usaha sederhana di masa mendatang.
Program kerja KKN seperti ini menjadi bentuk implementasi pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Ilmu yang diperoleh selama berada di lingkungan perguruan tinggi tidak hanya diterapkan dalam ruang akademik, tetapi juga dibagikan kepada masyarakat melalui kegiatan yang memberikan manfaat secara langsung.
Bagi mahasiswa KKN, kegiatan sosialisasi juga menjadi pengalaman dalam membangun komunikasi dengan peserta didik. Mahasiswa dituntut mampu menyampaikan materi dengan jelas, mengelola kegiatan, menjawab pertanyaan peserta, serta menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Hal tersebut menjadi pengalaman penting dalam meningkatkan kemampuan komunikasi dan kerja sama.
Antusiasme para siswi selama mengikuti rangkaian kegiatan menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis praktik dapat menjadi metode yang menarik untuk mengenalkan keterampilan baru. Materi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari membuat peserta lebih mudah memahami manfaat dari pengetahuan yang diberikan.
Melalui kegiatan sosialisasi pembuatan sabun cuci piring ini, mahasiswa KKN berharap pengetahuan dan keterampilan yang telah diberikan dapat terus dikembangkan oleh para siswi MA Nurul Ikhlas. Tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, pengalaman tersebut diharapkan menjadi pemantik bagi siswa untuk terus belajar, berkreasi, dan menghasilkan berbagai inovasi sederhana yang bermanfaat.
Kegiatan yang berlangsung di MA Nurul Ikhlas, Desa Sepande, Kecamatan Candi, tersebut menjadi salah satu langkah nyata mahasiswa KKN dalam menghadirkan program yang edukatif, aplikatif, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat. Dengan memadukan penyampaian materi, pemaparan, diskusi, tanya jawab, serta praktik, kegiatan ini diharapkan mampu memberikan pengalaman belajar yang berkesan sekaligus membangun keterampilan dan kreativitas siswa.
KKN Kelompok 14 Pondok Pesantren Nurul Ikhlas UNUSIDA Sukses Bazar, Sabun Cuci Piring Jadi Produk Unggulan yang Ludes Diborong
Sidoarjo – Kreativitas dan semangat kewirausahaan ditunjukkan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 14 di Pondok Pesantren Nurul Ikhlas melalui kegiatan bazar yang menghadirkan berbagai produk unggulan. Salah satu produk yang paling menarik perhatian pengunjung adalah sabun cuci piring hasil inovasi mahasiswa KKN UNUSIDA. Produk tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat hingga ludes diborong pembeli.

Keikutsertaan KKN Kelompok 14 dalam bazar menjadi salah satu momentum untuk memperkenalkan potensi produk yang dikembangkan selama pelaksanaan program KKN. Sabun cuci piring dipilih sebagai produk unggulan karena memiliki manfaat praktis dalam kebutuhan rumah tangga sekaligus berpotensi dikembangkan menjadi produk usaha yang bernilai ekonomis.
Sejak bazar dimulai, stan KKN Kelompok 14 tampak mendapat perhatian dari para pengunjung. Mereka tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga memberikan informasi mengenai manfaat dan keunggulan sabun cuci piring yang dipasarkan. Antusiasme pembeli terlihat dari meningkatnya jumlah transaksi hingga seluruh produk yang disiapkan berhasil terjual.
Keberhasilan tersebut menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa KKN Kelompok 14. Mereka mendapatkan kesempatan untuk menerapkan secara langsung berbagai keterampilan, mulai dari proses produksi, pengemasan, pemasaran, komunikasi dengan konsumen, hingga pengelolaan transaksi.
Ketua Pelaksana KKN Kelompok 14, Herlinawati, menyampaikan rasa syukur atas antusiasme masyarakat terhadap produk yang dihadirkan dalam bazar. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa untuk belajar membangun sebuah produk sekaligus memahami proses pemasaran secara langsung.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur karena produk sabun cuci piring yang kami bawa dalam kegiatan bazar mendapat respons yang sangat baik dari masyarakat. Produk yang kami siapkan bahkan ludes diborong pembeli. Bagi kami, ini bukan hanya tentang produk yang terjual, tetapi juga menjadi pengalaman berharga untuk belajar bekerja sama, berkomunikasi dengan konsumen, dan membangun jiwa kewirausahaan,” ujar Herlinawati.
Ia menambahkan, keberhasilan tersebut tidak lepas dari kerja sama seluruh anggota kelompok. Mulai dari persiapan produk, pengemasan, promosi, hingga pelayanan kepada pembeli dilakukan secara bersama-sama.
“Harapan kami, pengalaman ini dapat menjadi bekal bagi anggota kelompok untuk terus berani berinovasi dan menciptakan produk yang memiliki nilai manfaat serta nilai jual. Kami juga berharap kegiatan seperti ini dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar Pondok Pesantren Nurul Ikhlas,” lanjutnya.
Sementara itu, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Kelompok 14, Afifatus Sholikhah, memberikan apresiasi atas kreativitas dan kerja keras mahasiswa dalam mengikuti kegiatan bazar. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian penting dari proses pembelajaran mahasiswa di tengah masyarakat.
“Keikutsertaan mahasiswa dalam bazar ini merupakan bentuk pembelajaran nyata. Mahasiswa tidak hanya belajar secara akademik, tetapi juga belajar bagaimana melihat peluang, mengembangkan produk, melakukan pemasaran, serta membangun komunikasi dengan masyarakat. Saya mengapresiasi kerja keras Kelompok 14 yang mampu menghasilkan produk sabun cuci piring dan mendapatkan respons positif dari konsumen,” tutur Afifatus Sholikhah.
Ia berharap pengalaman yang diperoleh mahasiswa selama kegiatan KKN dapat menjadi bekal untuk menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan. Jiwa kewirausahaan, kreativitas, kemampuan bekerja sama, dan keberanian mengambil peluang dinilai menjadi kompetensi penting yang perlu terus dikembangkan.
“Semoga pengalaman ini tidak berhenti pada kegiatan KKN saja. Apa yang telah dilakukan mahasiswa dapat menjadi awal untuk mengembangkan potensi kewirausahaan secara berkelanjutan. Ketika sebuah produk sederhana mampu mendapatkan sambutan baik dari masyarakat, itu menunjukkan bahwa kreativitas dan kerja keras dapat menghasilkan sesuatu yang bernilai,” tambahnya.
Bagi KKN Kelompok 14, ludesnya produk sabun cuci piring dalam bazar menjadi pencapaian tersendiri. Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa produk yang lahir dari proses kreativitas mahasiswa dapat diterima oleh masyarakat ketika dikembangkan dengan memperhatikan kebutuhan konsumen dan dikemas secara menarik.
Kegiatan bazar juga menjadi sarana untuk mempererat interaksi antara mahasiswa KKN dan masyarakat di sekitar Pondok Pesantren Nurul Ikhlas. Melalui aktivitas tersebut, mahasiswa dapat memahami secara lebih dekat bagaimana sebuah kegiatan ekonomi berjalan sekaligus mengenali potensi yang dapat dikembangkan di lingkungan masyarakat.
Lebih dari sekadar kegiatan jual beli, pengalaman KKN Kelompok 14 dalam bazar menjadi bukti bahwa program pengabdian mahasiswa dapat diarahkan pada kegiatan yang kreatif, produktif, dan berdampak. Produk sabun cuci piring yang ludes diborong pembeli menjadi kisah sukses tersendiri sekaligus pemantik semangat bagi mahasiswa untuk terus menciptakan inovasi.
Dengan semangat kolaborasi dan kewirausahaan, KKN Kelompok 14 Pondok Pesantren Nurul Ikhlas diharapkan mampu melanjutkan berbagai ide kreatif yang telah dirintis selama program berlangsung. Bazar tersebut menjadi salah satu momentum yang memperlihatkan bahwa dari proses sederhana, mahasiswa dapat menghadirkan produk yang bermanfaat sekaligus memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi usaha berkelanjutan.
Luar Biasa! Alumni DKV UNUSIDA Sukses Berkarya sebagai Guru, Kreator, dan Desainer
SIDOARJO– Perjalanan pendidikan di perguruan tinggi tidak hanya menjadi proses untuk memperoleh gelar akademik, tetapi juga menjadi ruang untuk menemukan potensi, mengasah keterampilan, membangun karakter, dan mempersiapkan diri menghadapi dunia profesional. Hal tersebut tercermin dalam perjalanan Masudin Fahmi, S.Ds., alumni Program Studi S1 Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) tahun 2022.
Setelah menyelesaikan pendidikan di UNUSIDA, Masudin terus mengembangkan kompetensi dan berkarya di berbagai bidang yang sesuai dengan keahliannya. Saat ini, ia menjalani beberapa profesi sekaligus, yakni sebagai Guru Seni Rupa di SMP PGRI 1 Buduran, Konten Kreator, Graphic Designer di PT Garvita Jaladri Logistik, serta Guru Sanggar Lukis di Sanggar Lukis Jenggolo.
Perjalanan tersebut menjadi gambaran bahwa kompetensi yang diperoleh selama menempuh pendidikan DKV dapat diterapkan secara luas dalam berbagai bidang kreatif dan profesional. Ilmu desain, seni, komunikasi visual, serta pengalaman selama menjadi mahasiswa menjadi fondasi bagi Masudin untuk mengembangkan karier sekaligus menyalurkan kreativitasnya.
Bagi Masudin, pengalaman selama kuliah di UNUSIDA memiliki peran besar dalam membentuk pribadi dan perjalanan kariernya. Ia mengakui bahwa begitu banyak pengalaman berharga yang diperoleh selama menjadi mahasiswa hingga sulit untuk dijabarkan satu per satu.
“*Sangat banyak pengalaman berharga yang saya dapatkan selama kuliah di UNUSIDA, hingga sulit untuk saya jabarkan satu per satu. Yang pasti, jika saya tidak berkuliah di UNUSIDA, mungkin saya tidak akan pernah menjadi pribadi seperti sekarang.*” ungkap Masudin.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa proses pendidikan bagi seorang mahasiswa tidak hanya berlangsung melalui materi perkuliahan. Interaksi dengan dosen, teman, lingkungan kampus, tugas akademik, kegiatan kreatif, hingga berbagai tantangan selama menjalani studi menjadi bagian dari pengalaman yang turut membentuk kemampuan dan karakter.
Sebagai mahasiswa Program Studi DKV, Masudin mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan di bidang desain dan seni visual. Kompetensi tersebut kemudian menjadi bekal penting untuk memasuki dunia kerja sekaligus mengembangkan profesi yang memiliki keterkaitan erat dengan kreativitas.
Di bidang pendidikan, Masudin kini mengabdikan dirinya sebagai *Guru Seni Rupa di SMP PGRI 1 Buduran*. Peran tersebut memberikan kesempatan baginya untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada generasi muda. Seni rupa tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis dalam menghasilkan karya, tetapi juga mendorong siswa untuk mengembangkan kreativitas, imajinasi, keberanian berekspresi, serta kemampuan melihat berbagai persoalan dari sudut pandang yang berbeda.
Selain menjadi guru, Masudin juga aktif sebagai *Guru Sanggar Lukis di Sanggar Lukis Jenggolo*. Aktivitas tersebut semakin memperkuat kiprahnya dalam dunia seni. Melalui sanggar, ia dapat terus mengembangkan kemampuan melukis sekaligus mendampingi para peserta dalam mengenal dan mengeksplorasi dunia seni rupa.
Di sisi lain, kemampuan desain komunikasi visual yang diperoleh selama kuliah juga diterapkan dalam dunia industri. Masudin menjalani profesi sebagai *Graphic Designer di PT Garvita Jaladri Logistik*. Dalam profesi ini, kemampuan visual, kreativitas, ketelitian, serta pemahaman terhadap komunikasi melalui desain menjadi kompetensi yang sangat dibutuhkan.
Tidak berhenti di dunia pendidikan dan industri, Masudin juga mengembangkan dirinya sebagai *konten kreator*. Perkembangan media digital memberikan ruang yang luas bagi lulusan DKV untuk mengembangkan karya sekaligus menyampaikan pesan melalui berbagai bentuk konten visual. Kemampuan mengolah ide menjadi konten yang menarik dan komunikatif menjadi salah satu keterampilan yang semakin relevan di era digital.
Perjalanan Masudin menunjukkan bahwa lulusan DKV memiliki peluang karier yang beragam. Keahlian di bidang komunikasi visual dapat dikembangkan untuk memasuki dunia industri kreatif, pendidikan, media digital, periklanan, desain grafis, maupun berbagai bidang lain yang membutuhkan kreativitas dan kemampuan visual.
Kisah tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya mahasiswa untuk tidak membatasi diri pada satu bidang saja. Selama memiliki kompetensi yang kuat, kemauan belajar, dan keberanian mencoba berbagai peluang, ilmu yang diperoleh di perguruan tinggi dapat dikembangkan menjadi beragam profesi.
Bagi mahasiswa DKV UNUSIDA, perjalanan Masudin dapat menjadi inspirasi untuk memanfaatkan masa perkuliahan secara maksimal. Selain memahami teori dan keterampilan teknis, mahasiswa perlu membangun portofolio, mengembangkan kreativitas, mengikuti perkembangan teknologi, serta berani menghasilkan karya yang dapat menjadi bekal ketika memasuki dunia profesional.
Pengalaman Masudin juga menjadi bukti bahwa proses belajar di perguruan tinggi dapat memberikan dampak jangka panjang. Setiap tugas, proyek, diskusi, maupun pengalaman yang dijalani selama kuliah dapat menjadi bagian dari proses membentuk kemampuan yang berguna setelah lulus.
UNUSIDA terus mendorong mahasiswa untuk menjadi lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, memiliki kreativitas, serta memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat. Kisah para alumni yang berkembang di berbagai bidang menjadi salah satu cerminan bahwa pendidikan yang diperoleh di kampus dapat menjadi fondasi untuk membangun masa depan.
Perjalanan Masudin Fahmi menjadi contoh bahwa keberhasilan tidak selalu harus diwujudkan melalui satu profesi. Dengan mengembangkan potensi dan berani mengambil berbagai kesempatan, seorang lulusan dapat berkarya di banyak ruang sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Dari ruang kuliah DKV UNUSIDA, Masudin kini hadir sebagai pendidik, seniman, kreator, dan desainer. Perjalanannya menjadi bukti bahwa pengalaman selama kuliah dapat menjadi bagian penting dalam membentuk pribadi dan menentukan arah masa depan.
Kisah inspiratif Masudin diharapkan dapat memotivasi mahasiswa dan alumni UNUSIDA untuk terus belajar, berkarya, dan mengembangkan potensi. Sebab, setiap pengalaman yang diperoleh selama proses pendidikan dapat menjadi bekal berharga untuk menghadapi dunia profesional dan menciptakan karya yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.







