Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan dalam Kabinet Merah Putih, Zulkifli Hasan saat mengunjungi stan UNUSIDA Tech Factory. (Foto: NU Delta)

Menko Zulhas Apresiasi Inovasi UNUSIDA, Dorong Perkuat Khidmah NU melalui Transformasi Digital

JOMBANG — Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan dalam Kabinet Merah Putih, Zulkifli Hasan (Zulhas), mengapresiasi berbagai inovasi teknologi yang dikembangkan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) saat mengunjungi stan UNUSIDA Tech Factory dalam rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Kamis-Senin (27/8/2026).

Dalam kunjungannya, Zulhas melihat langsung sejumlah inovasi digital yang ditampilkan UNUSIDA, termasuk platform kecerdasan buatan (AI) GUS GPT yang dikembangkan untuk mendukung kebutuhan pengetahuan keislaman dan khazanah pesantren.

Zulhas mengaku terkejut melihat perkembangan teknologi di lingkungan pesantren, khususnya kemampuan generasi santri dalam memanfaatkan teknologi digital dan kecerdasan buatan. Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa santri dan pesantren saat ini telah mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Salah satu inovasi yang mendapat perhatian khusus adalah GUS GPT. Zulhas menilai platform tersebut memiliki keunggulan karena tidak hanya memanfaatkan teknologi AI, tetapi juga memiliki karakter khas Aswaja dalam memberikan jawaban.

“GUS GPT sangat bagus, terlebih lagi ada ciri khas Aswaja dalam setiap jawabannya,” ungkapnya saat mengunjungi stan UNUSIDA Tech Factory usai Kegiatan literasi kesehatan, lingkungan hidup, dan ketahanan pangan, Jum’at (28/8/2026).

Selain mengapresiasi inovasi teknologi, Zulhas juga memberikan perhatian terhadap peran perguruan tinggi NU dalam mendorong digitalisasi organisasi dan lembaga di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Menurutnya, keberadaan kampus NU seperti UNUSIDA memiliki posisi strategis dalam menghadirkan inovasi sekaligus memperluas akses pelayanan NU kepada masyarakat.

Ia menilai pengembangan teknologi yang dilakukan UNUSIDA sejalan dengan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam memberikan kontribusi nyata melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

“Kampus NU juga berperan dalam meningkatkan digitalisasi organisasi dan lembaga NU. Ini menjadi bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam meningkatkan akses pelayanan NU bagi umat,” ujarnya.

Zulhas juga menilai langkah UNUSIDA dalam mengambil posisi sebagai perguruan tinggi yang fokus pada pengembangan dan pemanfaatan teknologi merupakan langkah yang tepat di tengah percepatan transformasi digital.

Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga perlu mengambil peran dalam menggagas dan mempelopori pemanfaatannya untuk kebutuhan masyarakat dan organisasi.

“UNUSIDA mengambil positioning yang tepat sebagai perguruan tinggi yang menggagas dan mempelopori penggunaan teknologi,” katanya.

Sementara itu, Dosen Informatika Anggay Luri Pramana mengatakan bahwa kehadiran UNUSIDA Tech Factory di Muktamar ke-35 NU menjadi ruang bagi UNUSIDA untuk memperkenalkan berbagai solusi digital yang dikembangkan untuk organisasi, lembaga pendidikan, pesantren, yayasan, hingga masyarakat.

Selain GUS GPT, ia dan tim juga memperkenalkan sejumlah produk seperti Smart Presence ASWAJA, SITASNUDA, dan SIMAYA, serta membuka ruang konsultasi pengembangan website, aplikasi, sistem informasi, dan solusi berbasis AI.

“Kami berkomitmen untuk menjadikan teknologi sebagai bagian dari khidmah kepada umat sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi NU dalam menghadapi tantangan transformasi digital,” tandasnya.

Dosen FAI UNUSIDA, Rangga Sa'adillah S.A.P. (Foto: Humas UNUSIDA)

Dosen UNUSIDA Sebut Kortas Tipikor sebagai Manifestasi Etika Publik dan Maqashid Syariah

SIDOARJO — Pembentukan Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortas Tipikor) di tubuh Kepolisian Republik Indonesia dinilai tidak semata-mata sebagai perubahan struktur kelembagaan, tetapi juga dapat dimaknai sebagai upaya memperkuat etika publik dan menghadirkan pendekatan yang lebih komprehensif dalam pemberantasan korupsi.

Pandangan tersebut disampaikan Rangga Sa’adillah, S.A.P., Dosen dan Kabag MKU Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), dalam opininya bertajuk ‘Kortas Tipikor Polri: Manifestasi Maqashid Syariah dalam Pemberantasan Korupsi’. Menurutnya, korupsi tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan administratif atau pelanggaran prosedur hukum. Korupsi merupakan bentuk kerusakan yang berdampak luas terhadap keadilan, kesejahteraan masyarakat, kohesi sosial, hingga legitimasi negara.

“Korupsi adalah kejahatan yang memiskinkan kemanusiaan. Maka, perlawanan terhadapnya tidak bisa lagi bersandar pada rasionalitas hukum yang usang dan parsial,” tulisnya.

Ia menilai kehadiran Kortas Tipikor dapat menjadi momentum untuk menghadirkan pendekatan baru dalam penegakan hukum. Terlebih, pemberantasan korupsi tidak cukup berhenti pada proses penindakan dan pemidanaan, tetapi juga harus memastikan kerugian negara dapat dipulihkan.

Penegakan Hukum Harus Berorientasi Pemulihan

Wakil Sekretaris Komisi Pengkajian, Penelitian, dan Pelatihan (KP3) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur tersebut menjelaskan, selama ini penegakan hukum acap kali terjebak dalam paradigma positivistik yang memandang hukum sebatas teks dan keadilan sebagai proses penghukuman.

Padahal, menurutnya, korupsi meninggalkan kerusakan sosial dan ekonomi yang jauh lebih luas. Karena itu, penegakan hukum idealnya memiliki orientasi pemulihan terhadap hak-hak publik yang telah dirampas.

Dalam konteks tersebut, fungsi penelusuran dan pengamanan aset menjadi sangat penting. Pengembalian aset hasil korupsi, lanjutnya, bukan sekadar bentuk pembalasan kepada pelaku, melainkan bagian dari upaya menghadirkan keadilan bagi masyarakat.

“Memiskinkan koruptor dan mengembalikan kerugian negara bukanlah tindakan balas dendam, melainkan rasionalitas tertinggi dari keadilan itu sendiri,” tegasnya.

Hifdzul Mal sebagai Landasan Etis

Lebih jauh, Rangga mengaitkan pemberantasan korupsi dengan konsep Maqashid Syariah, khususnya prinsip Hifdzul Mal atau perlindungan terhadap harta.

Dalam perspektif tersebut, APBN, pajak, dan sumber daya alam merupakan bagian dari harta publik yang diamanahkan untuk dikelola demi kemaslahatan masyarakat. Penyalahgunaan kekayaan publik, menurutnya, bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga bentuk pengkhianatan terhadap amanah.

Karena itu, ia melihat penguatan institusi pemberantasan korupsi sebagai bagian dari upaya melembagakan prinsip perlindungan terhadap harta publik dalam tata kelola negara modern.

“Dengan memusatkan energi pada pencegahan dan penyelamatan aset, aparat penegak hukum sedang menjalankan mandat moral tertinggi dari Maqashid Syariah,” jelasnya.

Ia menambahkan, perlindungan terhadap harta publik juga memiliki keterkaitan dengan prinsip Hifdzun Nafs atau perlindungan jiwa dan Hifdzun Nasl atau perlindungan generasi masa depan.

Anggaran negara yang berhasil diselamatkan dari praktik korupsi, kata dia, pada akhirnya dapat dikembalikan untuk kepentingan masyarakat, seperti pembangunan fasilitas kesehatan, pendidikan, infrastruktur, dan berbagai pelayanan publik.

Kolaborasi, Bukan Kompetisi Kelembagaan

Komisi Pendidikan MUI Kabupaten Sidoarjo tersebut juga menyadari adanya pandangan kritis mengenai keberadaan Kortas Tipikor, termasuk kekhawatiran terkait potensi tumpang tindih kewenangan dengan lembaga penegak hukum lain.

Namun, ia menilai persoalan tersebut seharusnya tidak dilihat dalam kerangka kompetisi antarinstansi. Menurutnya, korupsi merupakan kejahatan yang kompleks dan sistemik sehingga membutuhkan kerja bersama seluruh lembaga penegak hukum.

“ Kita harus menggeser kerangka pandang kita menuju tata kelola kolaboratif (collaborative governance) yang berlandaskan prinsip ta’awun, yakni tolong-menolong dalam penegakan kebaikan,” ujarnya.

Menurutnya, jaringan kewilayahan Polri yang luas dapat menjadi kekuatan strategis dalam membangun sistem pencegahan dan deteksi dini terhadap praktik korupsi. Jika dikelola secara profesional dan berintegritas, struktur tersebut dapat memperkuat pengawasan hingga ke tingkat pemerintahan paling bawah.

Harus Diiringi Transformasi Kultur

Meski memberikan optimisme terhadap pembentukan Kortas Tipikor, Rangga menegaskan bahwa dukungan tersebut bukanlah cek kosong. Penguatan struktur kelembagaan harus berjalan beriringan dengan pengawasan masyarakat dan pembenahan budaya organisasi.

Integritas, profesionalitas, transparansi, serta keberanian untuk menindak korupsi tanpa pandang bulu menjadi faktor penting agar Kortas Tipikor benar-benar mampu menjalankan mandatnya.

“Transformasi struktural ini wajib diiringi oleh transformasi kultural di dalam tubuh kepolisian itu sendiri. Integritas, profesionalitas, dan keberanian membongkar kejahatan tanpa pandang bulu adalah ruh yang akan menghidupkan kerangka institusi ini,” ungkapnya.

Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat sipil untuk turut mengawal penguatan pemberantasan korupsi. Menurutnya, Kortas Tipikor harus mampu berkembang menjadi instrumen keadilan yang benar-benar menghadirkan manfaat bagi masyarakat, bukan sekadar menjadi simbol birokrasi baru.

“Dengan mengintegrasikan ketajaman epistemologis dalam melihat kejahatan dan mengamalkan prinsip Maqashid Syariah dalam melindungi hak publik, kita memiliki alasan yang sah untuk berharap bahwa babak baru perang melawan korupsi telah menemukan momentumnya,” pungkasnya.

Suasana English Festival UNUSIDA 2026 yang dilaksanakan oleh Hima PBI dan UKM English Club UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Meriah! Puluhan Peserta Unjuk Bakat dalam English Festival 2026 di UNUSIDA

SIDOARJO — Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (HIMA PBI) bersama UKM English Club Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses menggelar English Festival 2026. Kegiatan yang diikuti oleh puluhan peserta tersebut dilaksanakan di Hall Kampus 2 Gedung A UNUSIDA, Sabtu (22/8/2026).

Dalam kegiatan tersebut, peserta berkesempatan menunjukkan kemampuan mereka melalui empat kategori perlombaan, yakni Speech, Singing, Storytelling, dan News Anchor. Melalui kategori tersebut, peserta tidak hanya ditantang untuk menguasai kemampuan berbahasa Inggris, tetapi juga mengembangkan keterampilan komunikasi, ekspresi, kreativitas, serta keberanian tampil di depan publik.

Kepala Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UNUSIDA, Evi Mahsunah, S.S., M.Pd., mengapresiasi pelaksanaan kegiatan yang digagas mahasiswa tersebut. Menurutnya, English Festival memberikan pengalaman belajar di luar pembelajaran formal sekaligus mendorong mahasiswa mengembangkan kompetensi bahasa Inggris melalui praktik langsung.

“English Festival menjadi ruang bagi peserta untuk belajar, berkompetisi, membangun jejaring, sekaligus memperoleh pengalaman baru dalam menggunakan bahasa Inggris,” ujarnya.

English Festival 2026 menjadi ruang bagi mahasiswa dan peserta untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris sekaligus menyalurkan kreativitas dan bakat melalui kompetisi yang edukatif dan kreatif. Kegiatan ini mengusung semangat untuk membangun kepercayaan diri peserta dalam menggunakan bahasa Inggris secara aktif dan aplikatif.

Tampak antusiasme puluhan peserta terlihat dalam berbagai kategori perlombaan. Mereka tampil dengan gaya dan kreativitas masing-masing, sekaligus menunjukkan keberanian dalam mengembangkan kemampuan komunikasi berbahasa Inggris.

Evi menjelaskan Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya PBI UNUSIDA menciptakan ekosistem pembelajaran yang lebih aplikatif. Kompetisi tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga proses belajar, pengalaman, dan pengembangan potensi peserta.

Melalui tema ‘Speak with Confidence, Perform with Passion, Shine with Excellence’, ia ingin mendorong Organisasi Mahasiswa (Ormawa) di lingungan program studi untuk aktif dalam menghadirkan ruang yang mendorong peserta untuk berani berkomunikasi, berkarya, dan mengembangkan potensi melalui bahasa Inggris.

“English Festival 2026 ini menjadi momentum untuk menumbuhkan budaya berbahasa Inggris yang lebih aktif di lingkungan pendidikan serta memperluas kesempatan bagi mahasiswa dan peserta untuk terus belajar dan berkembang,” pungkasnya.

KKN UNUSIDA Dorong UMKM Desa Sentul Naik Kelas melalui Pendampingan Pembuatan NIB 1

KKN UNUSIDA Dorong UMKM Desa Sentul Naik Kelas melalui Pendampingan Pembuatan NIB

Sidoarjo – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menunjukkan kontribusi nyata dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui program kerja Pendampingan Pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB) bagi Pelaku UMKM di Desa Sentul. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Jumat, 14 Agustus 2026, pukul 18.00 WIB, bertempat di Balai Desa Sentul, dan diikuti oleh sejumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang berada di wilayah Desa Sentul.

Program pendampingan ini menjadi salah satu bentuk kepedulian mahasiswa KKN UNUSIDA terhadap perkembangan usaha masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya memberikan edukasi mengenai pentingnya legalitas usaha, tetapi juga mendampingi masyarakat secara langsung dalam proses pengurusan NIB. Langkah ini diharapkan dapat membantu pelaku UMKM memahami pentingnya legalitas sebagai bagian dari upaya membangun usaha yang lebih tertata, profesional, dan berkelanjutan.

Kegiatan diawali dengan pemaparan materi mengenai Nomor Induk Berusaha (NIB) yang disampaikan oleh Bahrul Ulum, S.Ag. Dalam penyampaiannya, narasumber menjelaskan pengertian NIB, manfaat yang diperoleh pelaku usaha, serta pentingnya memiliki legalitas dalam menjalankan dan mengembangkan usaha.

NIB merupakan identitas pelaku usaha yang diterbitkan melalui sistem Online Single Submission (OSS) setelah proses pendaftaran dilakukan. Keberadaan NIB menjadi salah satu bagian penting dalam memberikan identitas dan legalitas yang lebih jelas bagi pelaku usaha. Dengan memiliki NIB, pelaku UMKM dapat memiliki dasar legalitas usaha yang lebih tertata sehingga dapat mendukung langkah pengembangan usaha di masa mendatang.

Materi yang diberikan juga diarahkan pada pemahaman praktis agar para pelaku UMKM tidak menganggap proses pengurusan legalitas sebagai sesuatu yang sulit. Mahasiswa KKN UNUSIDA berupaya memberikan penjelasan dengan bahasa yang mudah dipahami sehingga peserta dapat mengetahui manfaat NIB sekaligus memahami tahapan yang perlu dipersiapkan.

Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Para pelaku UMKM tampak antusias menyampaikan berbagai pertanyaan terkait NIB dan legalitas usaha yang mereka jalankan. Pertanyaan yang muncul menjadi gambaran bahwa masih terdapat masyarakat yang membutuhkan informasi dan pendampingan mengenai proses legalisasi usaha.

Sesi diskusi tersebut memberikan ruang kepada peserta untuk menyampaikan kendala yang mereka hadapi. Narasumber kemudian memberikan penjelasan dan arahan berdasarkan pertanyaan yang disampaikan. Melalui diskusi ini, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga memiliki pemahaman yang lebih konkret mengenai pentingnya legalitas usaha.

Antusiasme peserta semakin terlihat ketika kegiatan memasuki tahap praktik pembuatan NIB. Pada sesi ini, mahasiswa KKN UNUSIDA memberikan pendampingan secara langsung kepada para pelaku usaha dalam melakukan proses pendaftaran melalui sistem OSS. Pendampingan dilakukan secara bertahap, mulai dari mempersiapkan data yang dibutuhkan hingga mengikuti tahapan pendaftaran.

Mahasiswa turut membantu peserta yang mengalami kesulitan dalam proses pengisian maupun tahapan pendaftaran. Pendampingan secara langsung tersebut dilakukan agar para pelaku UMKM dapat mengikuti proses dengan lebih mudah sekaligus memahami langkah-langkah yang nantinya dapat mereka lakukan secara mandiri.

Program ini tidak hanya berorientasi pada penyelesaian proses pembuatan NIB, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya membangun usaha yang memiliki legalitas. Legalitas dapat menjadi salah satu fondasi bagi pelaku UMKM untuk mengembangkan bisnis secara lebih terarah dan meningkatkan kesiapan dalam memanfaatkan berbagai peluang pengembangan usaha.

Bagi mahasiswa KKN UNUSIDA, kegiatan tersebut menjadi pengalaman dalam menerapkan ilmu sekaligus berinteraksi secara langsung dengan masyarakat. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pemberi informasi, tetapi juga menjadi pendamping yang membantu masyarakat menyelesaikan persoalan yang dihadapi dalam proses pengurusan legalitas usaha.

Melalui program Pendampingan Pembuatan NIB ini, mahasiswa KKN UNUSIDA berharap kesadaran pelaku UMKM Desa Sentul terhadap pentingnya legalitas usaha semakin meningkat. Para pelaku usaha juga diharapkan mampu memahami proses pengurusan NIB sehingga ke depan dapat mengurus kebutuhan legalitas secara lebih mandiri.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu langkah konkret KKN UNUSIDA dalam mendukung UMKM Desa Sentul agar semakin tertata, berdaya saing, dan siap berkembang. Dengan meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai legalitas usaha, diharapkan UMKM di Desa Sentul mampu tumbuh secara berkelanjutan serta memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian masyarakat desa.

stan UNUSIDA Tech Factory di Stan Bazaar Nomor 20, SMK Kreatif Hasbullah. (Foto: Humas UNUSIDA)

Intip Ragam Inovasi Teknologi, Yuk Mampir ke Stan UNUSIDA Tech Factory saat Muktamar ke-35 NU di Tambakberas Jombang

JOMBANG — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) turut memeriahkan pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Tambakberas, Jombang, dengan membuka stan yang secara khusus mengusung tema pengembangan teknologi dan transformasi digital.

Melalui UNUSIDA Tech Factory, perguruan tinggi NU tersebut memperkenalkan sejumlah inovasi digital yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan organisasi, lembaga pendidikan, pesantren, maupun masyarakat.

Penanggung Jawab (PJ) stand UNUSIDA, Dr. Arda Surya Editya, mengatakan kehadiran UNUSIDA dalam Muktamar NU ke-35 menjadi momentum untuk memperkenalkan sekaligus mendemonstrasikan berbagai solusi teknologi yang telah dikembangkan dan diimplementasikan.

“Stan UNUSIDA menjadi ruang untuk memperkenalkan berbagai inovasi digital yang dikembangkan sebagai solusi bagi organisasi, lembaga pendidikan, pesantren, serta masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, stan UNUSIDA tidak sekadar menjadi ruang pamer produk teknologi, tetapi juga ruang konsultasi dan demonstrasi. Pengunjung dapat berdiskusi secara langsung mengenai kebutuhan pembuatan website, aplikasi, sistem informasi, pemanfaatan kecerdasan buatan, hingga digitalisasi tata kelola lembaga.

Sejumlah produk unggulan yang diperkenalkan antara lain Smart Presence ASWAJA, sistem presensi dan manajemen kepegawaian berbasis digital; SITASNUDA, sistem tata kelola organisasi dan aset NU; SIMAYA, sistem informasi terpadu untuk yayasan dan pondok pesantren; serta GUS GPT, platform kecerdasan buatan yang dikembangkan untuk mendukung pengelolaan dan pemanfaatan pengetahuan keislaman serta khazanah pesantren.

Selain produk yang telah tersedia, UNUSIDA juga menawarkan layanan pengembangan website dan sistem informasi secara custom. Layanan tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan organisasi NU, pesantren, sekolah, yayasan, komunitas, maupun pelaku usaha.

Konsep stan dibuat interaktif dengan menyediakan perangkat display dan demonstrasi yang memungkinkan pengunjung melihat langsung cara kerja berbagai sistem. Dengan demikian, pengunjung tidak hanya mendapatkan informasi mengenai produk, tetapi juga dapat mencoba layanan, berkonsultasi mengenai kebutuhan digitalisasi, dan memperoleh gambaran solusi yang dapat diterapkan di lembaganya.

Teknologi untuk Memperkuat Khidmah

Dr. Arda menjelaskan, pengembangan teknologi di UNUSIDA tidak hanya diarahkan pada aspek inovasi, tetapi juga pada kebermanfaatan. Teknologi diharapkan mampu membantu organisasi bekerja lebih efektif, meningkatkan transparansi tata kelola, mempermudah pelayanan, sekaligus membuka peluang pengembangan lembaga secara berkelanjutan.

Semangat tersebut sejalan dengan konsep yang dibawa dalam stan UNUSIDA, yakni menghadirkan teknologi sebagai sarana untuk memperkuat pelayanan kepada umat.

Melalui berbagai solusi digital yang ditampilkan, UNUSIDA membuka peluang kolaborasi dengan pesantren, lembaga pendidikan, organisasi NU, yayasan, maupun berbagai institusi yang membutuhkan pengembangan teknologi sesuai dengan karakter dan kebutuhannya masing-masing.

Menjadi Ruang Kolaborasi Digital

Kehadiran UNUSIDA dalam Muktamar NU ke-35 juga diharapkan menjadi pintu masuk bagi terbentuknya berbagai kerja sama baru. Pengunjung dapat melakukan konsultasi langsung terkait pengembangan website, aplikasi, sistem tata kelola, hingga solusi berbasis kecerdasan buatan.

Khusus melalui pengembangan GUS GPT, pihaknya juga membuka peluang bagi pesantren untuk berkolaborasi sebagai mitra pengetahuan. Kolaborasi tersebut dapat dilakukan melalui penyediaan kitab, karya ulama, modul pembelajaran, materi kajian, maupun berbagai sumber pengetahuan pesantren yang dapat dikembangkan menjadi basis pengetahuan digital secara terkurasi.

Dengan demikian, transformasi digital tidak hanya dimaknai sebagai penggunaan teknologi, tetapi juga sebagai upaya menjaga, mengembangkan, dan memperluas manfaat khazanah keilmuan pesantren di era kecerdasan buatan.

Kunjungi Stan UNUSIDA

Pengunjung Muktamar NU ke-35 dapat mengunjungi stan UNUSIDA Tech Factory di Stan Bazaar Nomor 20, SMK Kreatif Hasbullah, di kompleks yang sama dengan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Karena berada di kompleks yang sama dengan Pondok Pesantren Bahrul Ulum—yang menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 NU—lingkungan sekolah ini turut berada di area sekitar pusat kegiatan pesantren di Tambakberas, Jombang.

Di lokasi tersebut, pengunjung dapat melihat demonstrasi sistem, mencoba berbagai produk digital, berkonsultasi mengenai kebutuhan teknologi, serta mendiskusikan peluang kerja sama dan pengembangan sistem bersama UNUSIDA.

“Melalui partisipasi dalam Muktamar NU ke-35 ini, kami berkomitmen untuk terus menghadirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi NU dalam pengembangan teknologi. Inovasi Digital untuk Lembaga, Umat, dan Masa Depan,” pungkasnya.

Penyerahan apresiasi untuk Mahasiswa dan Dosen Berprestasi saat Mujahadah Putaran 4 Tahun 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

Momentum Mujahadah, UNUSIDA Beri Apresiasi bagi Dosen dan Mahasiswa Berprestasi

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) memberikan apresiasi kepada mahasiswa dan dosen pembimbing yang berhasil meraih prestasi dalam berbagai kompetisi tingkat nasional maupun internasional. Pemberian apresiasi tersebut menjadi bentuk penghargaan kampus atas capaian sekaligus motivasi bagi mahasiswa untuk terus mengembangkan potensi dan mengukir prestasi.

Apresiasi diberikan kepada mahasiswa dari berbagai program studi yang berhasil meraih juara dalam kompetisi karya ilmiah, inovasi, olahraga, hingga ajang internasional. Momentum tersebut juga menjadi bagian dari upaya UNUSIDA membangun budaya akademik dan kemahasiswaan yang kompetitif, produktif, serta berorientasi pada pengembangan potensi mahasiswa.

Kepala Biro Kemahasiswaan, Karier dan Alumni UNUSIDA, Fajar Nur Yasin, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa penghargaan tersebut tidak hanya ditujukan sebagai bentuk apresiasi atas prestasi yang telah diraih, tetapi juga sebagai inspirasi bagi mahasiswa lainnya.

“Apresiasi ini sebagai inspirasi untuk lebih berprestasi sebagai mahasiswa. Semoga capaian yang diraih oleh teman-teman mahasiswa dapat memotivasi mahasiswa lainnya untuk berani mengikuti kompetisi dan mengembangkan potensi yang dimiliki,” jelasnya usai penyerahan apresiasi dalam Mujahadah UNUSIDA, Jum’at (21/8/2026).

Sejumlah prestasi yang mendapatkan apresiasi di antaranya Juara 1 Karya Tulis Ilmiah Nasional kategori Sains Indonesia Young Scientist Association (IYSA) 2026 yang diraih Moch. Rifky Sabilul K., Khoirul Anam, dan M. Athaalf Attohir dari Program Studi Informatika dengan dosen pembimbing Mochammad Machlul Alamin, M.Kom.

Prestasi serupa juga diraih M. Rafi Nur Setyawan, A. Raffy Nadjib, dan M. Satrio Rohmatullah dari Program Studi Informatika yang berhasil meraih Juara 1 Karya Tulis Ilmiah Nasional kategori Sosial IYSA 2026, juga dengan dosen pembimbing Mochammad Machlul Alamin, M.Kom.

Dari Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV), Maulidatul Qomariyah, Mir’a Tia Musfiro, dan Elysia Hilda Maghfiroh berhasil meraih Juara 1 Karya Terapan dan Inovatif (Karya HKI) dalam Lomba Aksi Inklusi Nasional 2025.

Prestasi lainnya diraih Aininna Halizah Rahma dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang meraih Juara 1 Duta Putri PTNU LPTNU Award 2026.

Di bidang olahraga, Revalina Bilqis Saputri dari Program Studi Akuntansi berhasil meraih Juara 2 Kelas C Dewasa Putri UMSURA National Pencaksilat Championship 2026. Sementara M. Badrun Najah dari Program Studi Manajemen meraih Juara 3 Kelas F Dewasa Putra pada ajang yang sama.

Prestasi di tingkat internasional juga berhasil ditorehkan mahasiswa UNUSIDA. Tim yang terdiri atas Nafi’ Mardiansyah, Rijal Maulana, M. Fathir Firmansyah, Pingkia Angelica T., dan Rizky Octavian R. berhasil meraih Bronze Award dalam Rembau International Innovation & Design Exhibition (RIIDEX), dengan dosen pembimbing Devika Cherly P., S.Mn., M.M.

Sementara itu, M. Azizil Ghofur, Abdulrashid Lawal, Silmi Za’iimah, M. Syauqi Ardani F., dan M. Farid Maulana berhasil meraih Silver Medal dalam Malaysia Invention & Innovation Expo 2026 (University Student Innovator). Tim tersebut dibimbing oleh Dr. Arda Surya Editya, S.Pd., M.T.

Beragam capaian tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa UNUSIDA memiliki ruang yang luas untuk mengembangkan kemampuan di berbagai bidang, baik akademik, inovasi, olahraga, maupun kompetisi internasional.

Fajar menambahkan, prestasi mahasiswa tidak terlepas dari dukungan dosen pembimbing, program studi, fakultas, serta berbagai pihak di lingkungan kampus. Karena itu, apresiasi juga diberikan kepada dosen yang telah mendampingi mahasiswa dalam proses persiapan hingga mengikuti kompetisi.

“Semoga sinergi antara mahasiswa dan dosen pembimbing terus diperkuat. Prestasi bukan hanya tentang mendapatkan juara, tetapi juga tentang proses belajar, keberanian mencoba, kerja keras, dan pengalaman yang diperoleh selama mengikuti kompetisi,” tambahnya.

Dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) tersebut menjelaskan, pemberian apresiasi ini menjadi bagian dari komitmen UNUSIDA dalam menciptakan lingkungan kampus yang mendorong mahasiswa untuk aktif berprestasi. Ia berharap capaian tersebut dapat menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya, berinovasi, dan membawa nama baik UNUSIDA di tingkat nasional maupun internasional.

“Dengan semakin banyaknya mahasiswa yang berprestasi, kami ingin terus mendorong terwujudnya ekosistem pendidikan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pengembangan karakter, kreativitas, kompetensi, dan daya saing mahasiswa,” pungkasnya.