Siti Fatimah, Wisudawan Terbaik UNUSIDA: Gelar Sarjana Jadi Pengingat untuk Terus Bermanfaat
SURABAYA — Siti Fatimah, wisudawati Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi menjadi wisudawan terbaik dengan IPK 3.98 dalam wisuda ke-10 Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), di Dyandra Convention Center, Jl. Basuki Rahmat No.93-105, Embong Kaliasin, Kec. Genteng, Surabaya, Ahad (20/9/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Ima sapaan akrabnya menyampaikan rasa syukur sekaligus haru karena dapat berdiri mewakili teman-teman wisudawan. Menurutnya, mengenakan toga pada hari wisuda mengingatkan kembali pada perjalanan panjang yang telah dilalui selama masa perkuliahan.
“Perjalanan kita untuk sampai ke titik ini bukanlah perjalanan yang selalu mudah. Ada begitu banyak cerita, perjuangan, doa, air mata, dan juga harapan yang mungkin tidak semuanya dapat kita ceritakan kepada orang lain,” ungkapnya.
Ia mengajak seluruh wisudawan untuk memberikan apresiasi kepada diri sendiri atas berbagai perjuangan yang telah dilewati. Mulai dari menyelesaikan tugas, menghadapi tenggat waktu, menjalani proses skripsi, revisi, hingga berbagai tantangan akademik lainnya.
Ima yang selama kuliah juga aktif berorganisasi tersebut menyebutkan bahwa setiap mahasiswa memiliki cerita perjuangan yang berbeda. Ada yang harus membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan, berjuang melalui beasiswa, menjalani perkuliahan sembari mondok, aktif berorganisasi, hingga menghadapi tanggung jawab keluarga maupun persoalan pribadi.
Sebagai salah satu penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), Ima mengaku memahami bahwa kesempatan menempuh pendidikan tinggi merupakan amanah yang sangat berarti.
“Bagi saya, beasiswa ini bukan hanya tentang bantuan biaya pendidikan. Di dalamnya ada kesempatan untuk belajar, bertumbuh, membangun harapan, dan membuktikan bahwa keadaan awal seseorang tidak harus menjadi batas bagi masa depannya,” tuturnya.
Namun, ia menegaskan bahwa perjuangan tidak hanya dimiliki oleh mahasiswa penerima beasiswa. Setiap mahasiswa memiliki tantangan masing-masing yang layak untuk dihargai.
“Bukan waktunya untuk membandingkan siapa yang paling berat perjuangannya. Hari ini adalah waktunya untuk saling menghargai karena kita semua telah melewati proses yang tidak mudah,” katanya.
Gelar Sarjana sebagai Awal Perjalanan
Ima juga mengingatkan bahwa prosesi wisuda bukanlah akhir dari perjalanan. Setelah menyelesaikan pendidikan, para lulusan akan menghadapi babak kehidupan yang baru dengan berbagai pilihan, mulai dari bekerja, melanjutkan pendidikan, membangun usaha, mengabdi kepada masyarakat, maupun mencari kesempatan baru.
Ia berpesan agar para lulusan tidak menjadikan gelar sarjana sebagai tanda bahwa proses belajar telah selesai.
“Jangan pernah merasa bahwa gelar sarjana adalah tanda bahwa kita telah mengetahui segalanya. Justru gelar ini menjadi pengingat bahwa kita memiliki tanggung jawab untuk terus mengembangkan ilmu dan memberikan manfaat bagi orang lain,” ujarnya.
Ima juga mengajak para wisudawan untuk tetap menjaga integritas, menghargai proses, serta membawa nama baik almamater di mana pun berada.
Ia berharap ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di UNUSIDA dapat menjadi bekal untuk memberikan kontribusi bagi keluarga, masyarakat, agama, dan negara.
Terima Kasih untuk Orang Tua dan Almamater
Dalam sambutannya, Siti memberikan apresiasi khusus kepada orang tua dan keluarga yang selama ini menjadi sumber dukungan bagi para mahasiswa. “Gelar sarjana yang kami raih bukan hanya tentang pencapaian pribadi kami. Di dalamnya ada doa orang tua, ada perjuangan keluarga, dan ada harapan yang selama ini kita bawa,” tuturnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada pimpinan UNUSIDA, para dosen, serta seluruh pihak yang telah mendukung proses pendidikan mahasiswa. Menurutnya, para dosen tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan, tetapi juga mengajarkan tanggung jawab, kedisiplinan, integritas, serta pentingnya untuk terus belajar.
Tak lupa, Siti mengapresiasi teman-teman seperjuangan yang telah menjadi bagian dari perjalanan selama masa perkuliahan. “Semoga persahabatan yang telah kita bangun selama masa perkuliahan tidak berhenti hanya karena hari ini kita telah mengenakan toga,” harapnya.
Ia mengajak seluruh wisudawan untuk terus melangkah dengan semangat dan tidak melupakan perjuangan yang telah mengantarkan mereka hingga hari wisuda.
“Jika suatu hari nanti kita menghadapi kegagalan, semoga kita mengingat kembali perjuangan hari ini. Jika suatu saat kita merasa tidak mampu, semoga kita kembali menemukan keberanian untuk melangkah,” pesannya.
Ia juga mendoakan agar seluruh lulusan senantiasa diberikan keberkahan, kesehatan, kekuatan, dan kemudahan dalam menapaki kehidupan setelah kampus. Ia mengajak para lulusan untuk turut mengenalkan dan menyampaikan kepada masyarakat bahwa UNUSIDA merupakan kampus yang luar biasa, sekaligus terus menjaga nama baik almamater di tengah masyarakat.
“Semoga ilmu yang kita peroleh menjadi ilmu yang bermanfaat, menjadi amal jariah, dan menjadi bekal untuk memberikan kontribusi bagi keluarga, masyarakat, agama, dan negara,” pungkasnya.
Ngaji Rutin Kitab Nashoihul Ibad: Koreksi Diri dalam Ibadah dan Belajar Menumbuhkan Rasa Syukur
SIDOARJO — Kajian rutin Kitab Nashoihul Ibad bersama H. M. Arisy Karomy, S.T., M.Pd.I., kembali digelar di Masjid KH Muhammad Hasyim Asy’ari PCNU Sidoarjo, Selasa Kliwon, (22/9/2026). Dalam kajian tersebut, Gus Arisy mengajak jamaah untuk senantiasa melakukan muhasabah atau introspeksi diri, khususnya dalam pelaksanaan ibadah salat. Menurutnya, seorang muslim perlu membiasakan diri mengevaluasi kualitas ibadah, bukan sibuk menilai ibadah orang lain.
“Coba koreksi diri kita sendiri. Salat kita, gerakan dan doa-doanya, apakah sudah sempurna?” pesannya.
Ia juga mengingatkan agar amal ibadah tidak menjadi alasan untuk menyombongkan diri ataupun mencari pengakuan dari orang lain. Amal seharusnya menjadi jalan seorang hamba untuk semakin merendahkan diri di hadapan Allah SWT.
“Tidak perlu melihat validasi orang lain. Cukup bersimpuh di hadapan Allah. Kita perlu melatih diri setiap hari untuk mengakui kekurangan dan kelemahan kita,” tuturnya.
Melihat ke Atas dalam Urusan Akhirat
Dalam kajian tersebut, jamaah juga diajak membangun cara pandang yang tepat dalam menjalani kehidupan. Untuk urusan akhirat, seseorang dianjurkan melihat kepada mereka yang lebih baik dalam beribadah.
Jika ada orang yang lebih disiplin menjaga salat, termasuk menjalankan salat-salat sunnah, maka hal tersebut dapat dijadikan teladan. Begitu pula ketika melihat orang yang lebih tekun membaca Al-Qur’an, hendaknya muncul keinginan untuk meniru dan meningkatkan kualitas diri.
Menurutnya, melihat orang lain dalam konteks tersebut bukan untuk merasa rendah diri, melainkan sebagai motivasi untuk memperbaiki kualitas ibadah.
Dalam Urusan Dunia, Belajarlah Melihat ke Bawah
Sebaliknya, ketika berbicara mengenai urusan duniawi, manusia dianjurkan melihat kepada mereka yang memiliki keterbatasan lebih besar.
Ia memberikan gambaran sederhana. Ketika seseorang sudah memiliki sepeda motor, jangan hanya melihat orang yang mempunyai mobil. Sebaliknya, lihatlah mereka yang bahkan belum memiliki sepeda motor.
Begitu pula dengan kesehatan. Ketika diberikan kesehatan, jangan hanya membandingkan diri dengan orang yang memiliki kondisi lebih baik. Lihat pula mereka yang sedang sakit dan mungkin belum memiliki kesempatan untuk datang mengaji atau menjalankan aktivitas seperti biasa.
Cara pandang tersebut dapat menumbuhkan rasa syukur atas berbagai nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Menurutnya, kehidupan tidak hanya membutuhkan usaha untuk meningkatkan kualitas diri, tetapi juga kemampuan untuk mengenali nikmat dan keterbatasan yang dimiliki.
“Dengan begitu akan muncul rasa syukur. Melalui muhasabah, keteladanan dalam ibadah, serta kebiasaan melihat ke bawah dalam urusan dunia, seseorang diharapkan mampu menjalani kehidupan dengan hati yang lebih rendah diri, tidak mudah membandingkan diri secara berlebihan, dan semakin dekat kepada Allah SWT.,” jelasnya.
Wisuda ke-10 UNUSIDA, Sekretaris LPT-PBNU Tekankan Karakter, Lifelong Learning, dan Daya Saing Lulusan
SURABAYA — Sekretaris Lembaga Pendidikan Tinggi (LPT) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Dr. rer. pol. Muhammad Faishal Aminuddin, S.S., M.Si., menekankan pentingnya pembentukan karakter, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk terus belajar bagi para lulusan perguruan tinggi. Pesan tersebut disampaikan saat dirinya memberikan Orasi Ilmiah dalam Wisuda ke-10 Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) di Dyandra Convention Center, Jl. Basuki Rahmat No.93-105, Embong Kaliasin, Kec. Genteng, Surabaya, Ahad (20/9/2026).
Di hadapan para wisudawan, orang tua, dan sivitas akademika, Faishal mengingatkan bahwa gelar sarjana bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal untuk terus mengembangkan kapasitas diri. Menurutnya, kondisi dunia kerja yang terus berubah menuntut lulusan memiliki kemampuan untuk beradaptasi. Keahlian atau skill yang diperoleh selama kuliah memang penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya bekal.
“Keahlian itu bisa berubah, bisa diasah. Apa yang Anda pelajari hari ini mungkin lima atau sepuluh tahun yang akan datang tidak laku lagi,” ujarnya.
Ia mencontohkan perkembangan teknologi dan perangkat kerja yang membuat berbagai keterampilan terus mengalami perubahan. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki fondasi kemampuan belajar yang kuat agar dapat mengikuti perubahan zaman.
Karakter Lebih Panjang Umurnya daripada Skill
Faishal menilai karakter menjadi salah satu modal penting yang perlu dibawa lulusan ketika memasuki dunia profesional. Kemampuan teknis dapat dipelajari melalui berbagai pelatihan dalam waktu relatif singkat, sedangkan pembentukan karakter membutuhkan proses yang lebih panjang.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita membangun karakter diri. Itu yang paling penting agar Anda bisa diterima, pergaulannya luas, jaringannya banyak, dan Anda bisa membuktikan bahwa Anda mampu serta bisa dipercaya untuk melaksanakan pekerjaan,” jelasnya.
Ia mengingatkan para wisudawan agar tidak memandang pendidikan tinggi hanya sebagai jalan untuk mendapatkan pekerjaan. Kuliah, kata dia, pada dasarnya merupakan proses untuk mencari ilmu agar seseorang menjadi pribadi yang lebih baik dan bijaksana.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah persoalan ketenagakerjaan dan ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Faishal menyebut kondisi tersebut sebagai mismatch, yakni ketika kompetensi atau bidang yang dipelajari tidak sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
Namun, ia mengajak para lulusan untuk tidak memandang mismatch semata-mata sebagai hambatan. Lulusan justru harus mampu memperluas kemungkinan kontribusinya melalui kompetensi yang dimiliki.
“Yang menghidup kita itu Tuhan, yang menghidup kita itu Allah. Percaya sajalah,” pesannya.
Jangan Putus Hubungan dengan Almamater
Salah satu gagasan yang ditekankan Faishal dalam orasinya adalah pentingnya konsep lifelong learning atau pembelajaran sepanjang hayat. Ia mengusulkan agar hubungan mahasiswa dengan kampus tidak berakhir setelah prosesi wisuda. Para alumni diharapkan tetap terhubung dengan almamater, bukan sekadar untuk menjaga silaturahmi, tetapi juga sebagai ruang untuk meningkatkan kemampuan.
“Setelah lulus jangan kemudian tiba-tiba lepas dari UNUSIDA. Anda sebagai alumni harus tetap terhubung, meng-upgrade diri, dan UNUSIDA selalu harus menyediakan tempat itu,” katanya.
Menurutnya, perguruan tinggi perlu menyediakan berbagai layanan pengembangan kompetensi bagi alumni, terutama dalam menghadapi perubahan keterampilan yang berlangsung cepat.
Dengan demikian, hubungan antara perguruan tinggi dan alumni dapat menjadi ekosistem pembelajaran yang terus berlangsung meskipun mahasiswa telah menyelesaikan pendidikan formalnya.
Lulusan PTNU Harus Memiliki Penciri
Dalam kesempatan tersebut, Faishal juga menjelaskan peran LPT-PBNU dalam pengembangan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama. Ia menyampaikan bahwa LPT-PBNU membawahi 44 perguruan tinggi dan terus mendorong penguatan kualitas serta kekhasan pendidikan tinggi NU.
Menurutnya, perguruan tinggi NU perlu memiliki penciri yang jelas, sehingga lulusan PTNU memiliki identitas sekaligus kualitas yang dapat dibawa ke dunia profesional.
Ia meminta para lulusan UNUSIDA untuk tidak merasa rendah diri ketika harus bersaing dengan lulusan perguruan tinggi negeri maupun swasta lainnya.
“Yang dilihat pertama kali itu adalah mutu, bukan hanya sekadar kuliah,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa perguruan tinggi NU memiliki tanggung jawab besar untuk memberikan pendidikan yang dapat menampung keberagaman masyarakat. Nilai toleransi dan kemampuan hidup berdampingan dengan berbagai perbedaan menjadi bagian yang perlu terus dirawat.
Karena itu, lulusan PTNU diharapkan mampu membangun jejaring dengan sesama alumni perguruan tinggi NU di berbagai daerah. Jejaring tersebut dapat dikembangkan dalam dunia kerja maupun ruang profesional lainnya.
Tiga Pesan untuk Wisudawan
Menutup orasinya, Faishal menyampaikan tiga hal yang perlu diingat para wisudawan dalam menghadapi kehidupan setelah kampus.
Pertama, lulusan harus memiliki kesadaran untuk terus melakukan upgrading skill. Dunia terus berubah sehingga proses belajar tidak boleh berhenti setelah mendapatkan ijazah.
Kedua, lulusan harus memiliki daya saing tinggi. Daya saing tersebut dibuktikan dengan kemampuan dan kompetensi yang benar-benar dibutuhkan oleh dunia kerja. Bahkan, menurutnya, lulusan dengan mental kewirausahaan dapat memilih untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.
Ketiga, lulusan harus tetap memegang prinsip sebagai bagian dari keluarga besar perguruan tinggi Nahdlatul Ulama yang meyakini pentingnya keberkahan.
“Saya itu mulai dari desa, kuliah sampai di luar negeri, tinggal lama, itu tidak bisa lepas dari kepercayaan mengenai barokah, keberkahan. Karena sesuatu yang tidak mungkin itu bisa menjadi mungkin,” ungkapnya.
Tegaskan Status Transisi Kepemimpinan UNUSIDA
Dalam orasi tersebut, Faishal juga menyampaikan penjelasan mengenai status kepemimpinan UNUSIDA. Ia menegaskan bahwa badan hukum UNUSIDA berada di bawah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, sehingga kewenangan strategis terkait perguruan tinggi berada pada LPT-PBNU sebagai lembaga yang menangani pendidikan tinggi NU.
Ia menjelaskan bahwa posisi Pelaksana Tugas (Plt) Rektor merupakan bagian dari masa transisi dan proses penataan kelembagaan. “Status Plt ini transisi saja. Tidak lama lagi transisi itu akan bisa berakhir dan ada rektor definitif yang hak dan kewajibannya juga sama,” ujarnya.
Ia juga memastikan kepada para wisudawan dan keluarga bahwa ijazah yang diterbitkan tetap memiliki keabsahan. Menurutnya, LPT-PBNU telah memberikan mandat terkait otoritas dan keabsahan ijazah tersebut sehingga para lulusan tidak perlu meragukan status ijazah yang mereka terima.
Lebih lanjut, ia berharap para lulusan mampu membawa ilmu yang diperoleh selama berada di kampus untuk terus berkembang, memiliki daya saing, membangun jejaring, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Wisuda, bukanlah garis akhir pendidikan. Justru setelah mengenakan toga dan menerima ijazah, para lulusan memasuki fase baru untuk membuktikan bahwa ilmu, karakter, kompetensi, dan nilai yang diperoleh selama berada di UNUSIDA dapat menjadi bekal menghadapi perubahan zaman sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.
Gen Z Naik Kelas! Dobrak Cara Pandang, Ciptakan Masa Depan Gemilang Sejak Bangku Kuliah
Oleh: Pingkia Angelica Taufani
Gubernur Fakultas Ekonomi UNUSIDA
Menjadi mahasiswa di era digital memberikan banyak kesempatan yang mungkin tidak dimiliki generasi sebelumnya. Akses terhadap informasi semakin terbuka, teknologi berkembang begitu cepat, dan media sosial dapat menjadi ruang untuk belajar, membangun jaringan, bahkan menciptakan penghasilan. Namun, di tengah berbagai peluang tersebut, masih ada satu pertanyaan penting yang perlu kita renungkan: apakah kita benar-benar memanfaatkan masa kuliah untuk membangun masa depan, atau hanya sekadar mengejar gelar?
Sudah waktunya Gen Z mengubah cara pandang terhadap dunia perkuliahan. Kuliah seharusnya tidak hanya dipahami sebagai jalan untuk mendapatkan ijazah dan pekerjaan setelah wisuda. Kampus merupakan ruang untuk bereksperimen, mengembangkan kemampuan, membangun relasi, menghasilkan karya, dan menciptakan peluang.
Selama ini, pertanyaan yang sering muncul di benak mahasiswa adalah, “Apa yang bisa saya dapatkan dari kampus?” Pertanyaan tersebut tidak salah. Namun, akan jauh lebih bermakna jika kita mulai mengubahnya menjadi, “Apa yang bisa saya ciptakan selama berada di kampus?”
Perubahan pertanyaan sederhana tersebut dapat mengubah cara kita menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.
Ketika mahasiswa mulai berpikir tentang apa yang dapat diciptakan, maka organisasi bukan lagi sekadar tempat mencari pengalaman kepemimpinan, tetapi menjadi ruang untuk menghasilkan program yang berdampak. Tugas kuliah bukan lagi hanya kewajiban akademik, tetapi dapat menjadi kesempatan untuk menghasilkan ide, penelitian, produk, maupun solusi terhadap permasalahan di sekitar.
Begitu pula dengan kewirausahaan. Menjadi mahasiswa tidak harus menunggu sampai memiliki modal besar untuk memulai bisnis. Banyak usaha besar berawal dari ide sederhana, kemampuan membaca kebutuhan masyarakat, dan keberanian untuk mencoba. Gen Z memiliki keunggulan berupa kemampuan memanfaatkan teknologi dan media sosial. Kemampuan tersebut dapat menjadi modal awal untuk membangun usaha bahkan sejak masih duduk di bangku kuliah.
Namun, menjadi entrepreneur mahasiswa bukan berarti harus mengorbankan pendidikan. Justru keduanya dapat berjalan beriringan. Ilmu yang diperoleh di kelas dapat diterapkan dalam dunia nyata. Konsep pemasaran dapat digunakan untuk mempromosikan produk. Ilmu manajemen dapat diterapkan untuk mengelola bisnis. Pengetahuan keuangan dapat membantu mengatur arus kas. Bahkan tugas perkuliahan dapat dikembangkan menjadi ide bisnis yang memiliki nilai ekonomi.
Di sinilah makna “Gen Z naik kelas” menjadi penting. Naik kelas bukan hanya tentang memperoleh nilai akademik yang tinggi. Naik kelas berarti berkembang menjadi pribadi yang memiliki kemampuan untuk menciptakan nilai, menyelesaikan masalah, beradaptasi dengan perubahan, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Gen Z juga perlu berhenti takut terhadap kegagalan. Salah satu alasan mahasiswa enggan memulai adalah kekhawatiran bahwa ide mereka tidak sempurna. Padahal, tidak ada karya yang langsung sempurna sejak pertama kali dibuat. Kegagalan, kritik, dan proses evaluasi merupakan bagian dari perjalanan untuk menjadi lebih baik.
Lebih baik memulai dari sesuatu yang sederhana daripada terus menunggu sampai semuanya sempurna. Sebuah konten pertama mungkin belum memiliki banyak penonton. Sebuah produk pertama mungkin belum langsung laku. Sebuah kegiatan pertama mungkin memiliki banyak kekurangan. Namun, dari proses itulah pengalaman terbentuk.
Selain menghasilkan karya dan usaha, mahasiswa juga perlu membangun personal branding. Di era digital, kemampuan seseorang tidak hanya dilihat dari ijazah, tetapi juga dari karya dan kontribusi yang dapat ditunjukkan. Portofolio menjadi bukti bahwa seseorang pernah melakukan sesuatu, menyelesaikan masalah, dan menghasilkan nilai.
Karena itu, masa kuliah seharusnya menjadi masa untuk membangun portofolio kehidupan. Mengikuti organisasi, mengikuti kompetisi, membuat konten edukatif, melakukan penelitian, membangun bisnis kecil, mengikuti program magang, hingga terlibat dalam kegiatan sosial merupakan bagian dari proses tersebut.
Kampus pada akhirnya bukan sekadar tempat untuk menunggu masa depan datang. Kampus adalah tempat untuk mempersiapkan sekaligus menciptakan masa depan.
Maka, jangan tunggu lulus untuk mulai berkarya. Jangan tunggu memiliki pekerjaan untuk mulai belajar menghasilkan uang. Jangan menunggu memiliki jabatan untuk mulai memberikan dampak. Dan jangan menunggu sempurna untuk mulai mencoba.
Gen Z memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana masa depannya dibangun. Pertanyaannya bukan lagi sekadar “Setelah lulus saya akan menjadi apa?”, tetapi juga “Selama menjadi mahasiswa, apa yang sudah saya bangun?”
Sebab, masa depan bukanlah hadiah yang otomatis diberikan setelah wisuda. Masa depan adalah hasil dari keputusan, keberanian, keterampilan, relasi, karya, dan pengalaman yang kita bangun sejak hari ini.
Mari kuliah bukan hanya untuk mendapatkan gelar. Mari kuliah untuk bertumbuh, berkarya, menciptakan peluang, dan memberikan dampak. Karena menjadi mahasiswa bukan sekadar fase menunggu masa depan—tetapi kesempatan untuk mulai menciptakannya.
FKIP UNUSIDA Mengajar Angkatan 3 Resmi Dimulai, Bekali 143 Mahasiswa Jadi Calon Guru Inspiratif
Sidoarjo, 17 September 2026 – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Pembekalan FKIP UNUSIDA Mengajar Angkatan 3 sebagai langkah strategis mempersiapkan mahasiswa sebelum terjun langsung ke satuan pendidikan. Mengusung tema “Mendidik, Mengabdi, Menginspirasi”, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kesiapan mahasiswa dalam menjalankan peran sebagai calon pendidik.
Sebanyak 143 mahasiswa FKIP UNUSIDA akan mengikuti program mengajar yang ditempatkan di 12 Sekolah Dasar (SD), 1 Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan 1 Sekolah Menengah Atas (SMA). Kegiatan mengajar tersebut dijadwalkan berlangsung mulai akhir September hingga akhir November 2026.
Dekan FKIP UNUSIDA, Muawwinatul Laili, S.S., M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa pembekalan merupakan tahapan penting untuk memastikan mahasiswa memiliki kesiapan sebelum menghadapi kondisi pembelajaran secara langsung di sekolah.
Menurutnya, mahasiswa tidak hanya membutuhkan penguasaan materi akademik, tetapi juga kemampuan pedagogik, sosial, dan profesional. Selama berada di sekolah mitra, mahasiswa diharapkan mampu beradaptasi dengan lingkungan sekolah, membangun komunikasi yang baik dengan peserta didik dan guru, serta memahami dinamika pembelajaran secara nyata.
“Pembekalan ini menjadi bagian penting agar mahasiswa memiliki kesiapan akademik, pedagogik, sosial, dan profesional ketika melaksanakan kegiatan mengajar di sekolah,” ujarnya.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd. Dalam arahannya, ia menegaskan bahwa kegiatan mengajar tidak semata-mata menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mempraktikkan ilmu yang telah diperoleh selama perkuliahan.
Lebih dari itu, pengalaman di sekolah menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar, beradaptasi, membangun karakter, sekaligus memahami tanggung jawab seorang pendidik.
Ia mendorong mahasiswa agar mampu mengintegrasikan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah dengan kondisi pembelajaran yang sesungguhnya. Dengan demikian, pengalaman mengajar dapat menjadi proses pembelajaran yang utuh bagi mahasiswa sekaligus memberikan kontribusi positif kepada sekolah mitra.
“Mahasiswa harus mampu hadir sebagai pembelajar sekaligus calon pendidik yang profesional. Jadikan setiap pengalaman di sekolah sebagai kesempatan untuk belajar, berkolaborasi, dan memberikan kontribusi positif bagi peserta didik,” pesan Dr. Hadi.
Pembekalan semakin relevan dengan hadirnya Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo, Dr. Netti Lastiningsih, M.Pd., yang memberikan pengarahan mengenai kebijakan pendidikan di Sidoarjo melalui materi “Upgrade Calon Guru: sebagai Pemimpin Pembelajaran di Era Digital.”
Dalam paparannya, Dr. Netti membahas tantangan calon guru di tengah perkembangan teknologi dan perubahan ekosistem pendidikan. Ia juga menyampaikan penerjemahan Asta Cita Kemendikdasmen melalui berbagai program prioritas pendidikan di Indonesia
KH Zainal Abidin: Sarjana UNUSIDA Harus Bawa Ilmu dan Iman ke Tengah Masyarakat
SURABAYA — Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo, KH Zainal Abidin, menyampaikan pesan kepada para wisudawan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) agar menjadikan iman dan ilmu sebagai bekal utama ketika kembali ke tengah masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan dalam Wisuda ke-10 UNUSIDA yang digelar di Dyandra Convention Center Surabaya, Ahad (20/9/2026). Di hadapan para wisudawan, KH Zainal Abidin menegaskan bahwa gelar sarjana membawa tanggung jawab untuk memberikan manfaat dan turut membangun kesejahteraan masyarakat.
“Anak-anakku yang hari ini diwisuda juga mempunyai tugas berat. Kes arjanaan Anda ke tengah-tengah masyarakat, sajikan kesejahteraan Anda di tengah masyarakat,” tuturnya.
Menurutnya, iman menjadi fondasi penting bagi seorang sarjana dalam menjalani kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan. Iman tersebut, kata dia, harus tercermin melalui akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Ia meyakini selama menempuh pendidikan di UNUSIDA, para mahasiswa telah mendapatkan penguatan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dan akhlakul karimah. Pembelajaran keagamaan, budaya yang dibangun di lingkungan kampus, serta keberadaan masjid dan ruang-ruang pembinaan rohani dinilai menjadi bagian dari proses tersebut.
“Iman terpancar dalam sebuah akhlak. Di UNUSIDA saya yakin sudah dibangun akhlakul karimah. Materi-materi Ahlussunnah wal Jamaah sudah diajarkan sekian semester, nilai-nilai akhlak sudah disampaikan,” jelasnya.
Selain iman, Kiai Zainal menekankan pentingnya ilmu. Menurutnya, ilmu yang diperoleh selama berada di bangku perkuliahan harus terus dipegang dan dikembangkan agar dapat memberikan manfaat di tengah masyarakat.
“Ketika kita punya bekal ilmu yang cukup, pastilah Allah mengangkat derajat kita sekalian. Dengan dua bekal, iman dan ilmu, itulah yang nanti menjadikan Anda tidak boleh ragu, tidak boleh gampang dan tidak boleh takut menghadapi situasi dan kondisi yang hari ini menjadi tantangan kita,” pesannya.
Ia juga mengingatkan para wisudawan agar tidak khawatir menghadapi masa depan. Menurutnya, setiap manusia telah memiliki jalan kehidupan masing-masing, sementara tugas seorang sarjana adalah terus berikhtiar dan berusaha meraih kesempatan yang tersedia.
“Allah sudah menyiapkan pekerjaan kepada Anda. Tinggal Anda bagaimana berikhtiar dan mengejar pekerjaan itu untuk membangun kesejahteraan,” ujarnya.
Kiai Zainal berharap para lulusan UNUSIDA mampu menjadi alumni yang membawa kebermanfaatan bagi masyarakat. Ilmu yang diperoleh selama kuliah diharapkan tidak berhenti pada gelar akademik, tetapi diwujudkan dalam pengabdian nyata.
“Mudah-mudahan anak-anakku menjadi alumni UNUSIDA yang benar-benar manfaat ilmunya, benar-benar barokah ilmunya, dan bisa dibawa di tengah-tengah masyarakat,” harapnya.
Dalam kesempatan tersebut, KH Zainal Abidin juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran rektorat, dosen, dan seluruh pihak yang selama ini berkontribusi dalam membangun UNUSIDA. Ia menilai pengabdian para dosen tidak semata-mata diukur dari aspek materi, tetapi juga dari semangat mereka dalam mendidik dan membimbing mahasiswa.
“Terima kasih kepada jajaran rektorat, para dosen yang mungkin honornya tidak terlalu tinggi, tetapi yang tinggi adalah semangatnya. Maknai bahwa mengajar itu sudah tidak hanya sekadar mencari honor, tidak hanya sekadar mencari pendapatan, tetapi di sana tempat berkhidmah,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Kiai Zainal mendoakan seluruh keluarga besar UNUSIDA agar senantiasa diberikan keberkahan, kesehatan, serta kemudahan dalam menjalankan pengabdian. Ia mengajak para wisudawan untuk membawa semangat iman dan ilmu dalam perjalanan kehidupan setelah kampus.
“Keimanan yang ditanamkan dan ilmu yang Anda peroleh dari UNUSIDA pegang teguh. Karena di situlah tempat dibangunnya derajat yang dijanjikan oleh Allah SWT. Ketika kita punya iman, ketika kita punya ilmu, maka masyarakat akan menghargai kita sekalian,” pungkasnya.







