Sekretaris LPT-PBNU, Dr. rer. pol. Muhammad Faishal Aminuddin, S.S., M.Si. saat menyampaikan Orasi Ilmiah dalam Wisuda ke-10 UNUSIDA. (Foto: Humas UNUSIDA)

Wisuda ke-10 UNUSIDA, Sekretaris LPT-PBNU Tekankan Karakter, Lifelong Learning, dan Daya Saing Lulusan

SURABAYA — Sekretaris Lembaga Pendidikan Tinggi (LPT) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Dr. rer. pol. Muhammad Faishal Aminuddin, S.S., M.Si., menekankan pentingnya pembentukan karakter, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk terus belajar bagi para lulusan perguruan tinggi. Pesan tersebut disampaikan saat dirinya memberikan Orasi Ilmiah dalam Wisuda ke-10 Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) di Dyandra Convention Center, Jl. Basuki Rahmat No.93-105, Embong Kaliasin, Kec. Genteng, Surabaya, Ahad (20/9/2026).

Di hadapan para wisudawan, orang tua, dan sivitas akademika, Faishal mengingatkan bahwa gelar sarjana bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal untuk terus mengembangkan kapasitas diri. Menurutnya, kondisi dunia kerja yang terus berubah menuntut lulusan memiliki kemampuan untuk beradaptasi. Keahlian atau skill yang diperoleh selama kuliah memang penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya bekal.

“Keahlian itu bisa berubah, bisa diasah. Apa yang Anda pelajari hari ini mungkin lima atau sepuluh tahun yang akan datang tidak laku lagi,” ujarnya.

Ia mencontohkan perkembangan teknologi dan perangkat kerja yang membuat berbagai keterampilan terus mengalami perubahan. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki fondasi kemampuan belajar yang kuat agar dapat mengikuti perubahan zaman.

Karakter Lebih Panjang Umurnya daripada Skill

Faishal menilai karakter menjadi salah satu modal penting yang perlu dibawa lulusan ketika memasuki dunia profesional. Kemampuan teknis dapat dipelajari melalui berbagai pelatihan dalam waktu relatif singkat, sedangkan pembentukan karakter membutuhkan proses yang lebih panjang.

“Yang paling penting adalah bagaimana kita membangun karakter diri. Itu yang paling penting agar Anda bisa diterima, pergaulannya luas, jaringannya banyak, dan Anda bisa membuktikan bahwa Anda mampu serta bisa dipercaya untuk melaksanakan pekerjaan,” jelasnya.

Baca juga:  JPZIS LAZISNU UNUSIDA Gelar Ziarah ke Makam Auliya di Pasuruan

Ia mengingatkan para wisudawan agar tidak memandang pendidikan tinggi hanya sebagai jalan untuk mendapatkan pekerjaan. Kuliah, kata dia, pada dasarnya merupakan proses untuk mencari ilmu agar seseorang menjadi pribadi yang lebih baik dan bijaksana.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah persoalan ketenagakerjaan dan ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Faishal menyebut kondisi tersebut sebagai mismatch, yakni ketika kompetensi atau bidang yang dipelajari tidak sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.

Namun, ia mengajak para lulusan untuk tidak memandang mismatch semata-mata sebagai hambatan. Lulusan justru harus mampu memperluas kemungkinan kontribusinya melalui kompetensi yang dimiliki.

“Yang menghidup kita itu Tuhan, yang menghidup kita itu Allah. Percaya sajalah,” pesannya.

Jangan Putus Hubungan dengan Almamater

Salah satu gagasan yang ditekankan Faishal dalam orasinya adalah pentingnya konsep lifelong learning atau pembelajaran sepanjang hayat. Ia mengusulkan agar hubungan mahasiswa dengan kampus tidak berakhir setelah prosesi wisuda. Para alumni diharapkan tetap terhubung dengan almamater, bukan sekadar untuk menjaga silaturahmi, tetapi juga sebagai ruang untuk meningkatkan kemampuan.

“Setelah lulus jangan kemudian tiba-tiba lepas dari UNUSIDA. Anda sebagai alumni harus tetap terhubung, meng-upgrade diri, dan UNUSIDA selalu harus menyediakan tempat itu,” katanya.

Menurutnya, perguruan tinggi perlu menyediakan berbagai layanan pengembangan kompetensi bagi alumni, terutama dalam menghadapi perubahan keterampilan yang berlangsung cepat.

Dengan demikian, hubungan antara perguruan tinggi dan alumni dapat menjadi ekosistem pembelajaran yang terus berlangsung meskipun mahasiswa telah menyelesaikan pendidikan formalnya.

Lulusan PTNU Harus Memiliki Penciri

Dalam kesempatan tersebut, Faishal juga menjelaskan peran LPT-PBNU dalam pengembangan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama. Ia menyampaikan bahwa LPT-PBNU membawahi 44 perguruan tinggi dan terus mendorong penguatan kualitas serta kekhasan pendidikan tinggi NU.

Baca juga:  POKER FKIP UNUSIDA 2026 Kobarkan Semangat Generasi Pendidik yang Berkarakter, Berkarya, dan Berdampak

Menurutnya, perguruan tinggi NU perlu memiliki penciri yang jelas, sehingga lulusan PTNU memiliki identitas sekaligus kualitas yang dapat dibawa ke dunia profesional.

Ia meminta para lulusan UNUSIDA untuk tidak merasa rendah diri ketika harus bersaing dengan lulusan perguruan tinggi negeri maupun swasta lainnya.

“Yang dilihat pertama kali itu adalah mutu, bukan hanya sekadar kuliah,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa perguruan tinggi NU memiliki tanggung jawab besar untuk memberikan pendidikan yang dapat menampung keberagaman masyarakat. Nilai toleransi dan kemampuan hidup berdampingan dengan berbagai perbedaan menjadi bagian yang perlu terus dirawat.

Karena itu, lulusan PTNU diharapkan mampu membangun jejaring dengan sesama alumni perguruan tinggi NU di berbagai daerah. Jejaring tersebut dapat dikembangkan dalam dunia kerja maupun ruang profesional lainnya.

Tiga Pesan untuk Wisudawan

Menutup orasinya, Faishal menyampaikan tiga hal yang perlu diingat para wisudawan dalam menghadapi kehidupan setelah kampus.

Pertama, lulusan harus memiliki kesadaran untuk terus melakukan upgrading skill. Dunia terus berubah sehingga proses belajar tidak boleh berhenti setelah mendapatkan ijazah.

Kedua, lulusan harus memiliki daya saing tinggi. Daya saing tersebut dibuktikan dengan kemampuan dan kompetensi yang benar-benar dibutuhkan oleh dunia kerja. Bahkan, menurutnya, lulusan dengan mental kewirausahaan dapat memilih untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.

Ketiga, lulusan harus tetap memegang prinsip sebagai bagian dari keluarga besar perguruan tinggi Nahdlatul Ulama yang meyakini pentingnya keberkahan.

“Saya itu mulai dari desa, kuliah sampai di luar negeri, tinggal lama, itu tidak bisa lepas dari kepercayaan mengenai barokah, keberkahan. Karena sesuatu yang tidak mungkin itu bisa menjadi mungkin,” ungkapnya.

Tegaskan Status Transisi Kepemimpinan UNUSIDA

Dalam orasi tersebut, Faishal juga menyampaikan penjelasan mengenai status kepemimpinan UNUSIDA. Ia menegaskan bahwa badan hukum UNUSIDA berada di bawah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, sehingga kewenangan strategis terkait perguruan tinggi berada pada LPT-PBNU sebagai lembaga yang menangani pendidikan tinggi NU.

Baca juga:  UNUSIDA Tunjukkan Peran Aktif di Forum Lingkungan, Jalin Kolaborasi bersama WWF Indonesia

Ia menjelaskan bahwa posisi Pelaksana Tugas (Plt) Rektor merupakan bagian dari masa transisi dan proses penataan kelembagaan. “Status Plt ini transisi saja. Tidak lama lagi transisi itu akan bisa berakhir dan ada rektor definitif yang hak dan kewajibannya juga sama,” ujarnya.

Ia juga memastikan kepada para wisudawan dan keluarga bahwa ijazah yang diterbitkan tetap memiliki keabsahan. Menurutnya, LPT-PBNU telah memberikan mandat terkait otoritas dan keabsahan ijazah tersebut sehingga para lulusan tidak perlu meragukan status ijazah yang mereka terima.

Lebih lanjut, ia berharap para lulusan mampu membawa ilmu yang diperoleh selama berada di kampus untuk terus berkembang, memiliki daya saing, membangun jejaring, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Wisuda, bukanlah garis akhir pendidikan. Justru setelah mengenakan toga dan menerima ijazah, para lulusan memasuki fase baru untuk membuktikan bahwa ilmu, karakter, kompetensi, dan nilai yang diperoleh selama berada di UNUSIDA dapat menjadi bekal menghadapi perubahan zaman sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.