Gen Z Naik Kelas! Dobrak Cara Pandang, Ciptakan Masa Depan Gemilang Sejak Bangku Kuliah 1

Gen Z Naik Kelas! Dobrak Cara Pandang, Ciptakan Masa Depan Gemilang Sejak Bangku Kuliah

Oleh: Pingkia Angelica Taufani
Gubernur Fakultas Ekonomi UNUSIDA 

Menjadi mahasiswa di era digital memberikan banyak kesempatan yang mungkin tidak dimiliki generasi sebelumnya. Akses terhadap informasi semakin terbuka, teknologi berkembang begitu cepat, dan media sosial dapat menjadi ruang untuk belajar, membangun jaringan, bahkan menciptakan penghasilan. Namun, di tengah berbagai peluang tersebut, masih ada satu pertanyaan penting yang perlu kita renungkan: apakah kita benar-benar memanfaatkan masa kuliah untuk membangun masa depan, atau hanya sekadar mengejar gelar?

Sudah waktunya Gen Z mengubah cara pandang terhadap dunia perkuliahan. Kuliah seharusnya tidak hanya dipahami sebagai jalan untuk mendapatkan ijazah dan pekerjaan setelah wisuda. Kampus merupakan ruang untuk bereksperimen, mengembangkan kemampuan, membangun relasi, menghasilkan karya, dan menciptakan peluang.

Selama ini, pertanyaan yang sering muncul di benak mahasiswa adalah, “Apa yang bisa saya dapatkan dari kampus?” Pertanyaan tersebut tidak salah. Namun, akan jauh lebih bermakna jika kita mulai mengubahnya menjadi, “Apa yang bisa saya ciptakan selama berada di kampus?”

Perubahan pertanyaan sederhana tersebut dapat mengubah cara kita menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.

Ketika mahasiswa mulai berpikir tentang apa yang dapat diciptakan, maka organisasi bukan lagi sekadar tempat mencari pengalaman kepemimpinan, tetapi menjadi ruang untuk menghasilkan program yang berdampak. Tugas kuliah bukan lagi hanya kewajiban akademik, tetapi dapat menjadi kesempatan untuk menghasilkan ide, penelitian, produk, maupun solusi terhadap permasalahan di sekitar.

Begitu pula dengan kewirausahaan. Menjadi mahasiswa tidak harus menunggu sampai memiliki modal besar untuk memulai bisnis. Banyak usaha besar berawal dari ide sederhana, kemampuan membaca kebutuhan masyarakat, dan keberanian untuk mencoba. Gen Z memiliki keunggulan berupa kemampuan memanfaatkan teknologi dan media sosial. Kemampuan tersebut dapat menjadi modal awal untuk membangun usaha bahkan sejak masih duduk di bangku kuliah.

Baca juga:  Panitia KKN UNUSIDA 2026 Perkuat Sinergi Strategis dengan TAPM Sidoarjo untuk Matangkan Program Kerja Mahasiswa

Namun, menjadi entrepreneur mahasiswa bukan berarti harus mengorbankan pendidikan. Justru keduanya dapat berjalan beriringan. Ilmu yang diperoleh di kelas dapat diterapkan dalam dunia nyata. Konsep pemasaran dapat digunakan untuk mempromosikan produk. Ilmu manajemen dapat diterapkan untuk mengelola bisnis. Pengetahuan keuangan dapat membantu mengatur arus kas. Bahkan tugas perkuliahan dapat dikembangkan menjadi ide bisnis yang memiliki nilai ekonomi.

Di sinilah makna “Gen Z naik kelas” menjadi penting. Naik kelas bukan hanya tentang memperoleh nilai akademik yang tinggi. Naik kelas berarti berkembang menjadi pribadi yang memiliki kemampuan untuk menciptakan nilai, menyelesaikan masalah, beradaptasi dengan perubahan, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Gen Z juga perlu berhenti takut terhadap kegagalan. Salah satu alasan mahasiswa enggan memulai adalah kekhawatiran bahwa ide mereka tidak sempurna. Padahal, tidak ada karya yang langsung sempurna sejak pertama kali dibuat. Kegagalan, kritik, dan proses evaluasi merupakan bagian dari perjalanan untuk menjadi lebih baik.

Lebih baik memulai dari sesuatu yang sederhana daripada terus menunggu sampai semuanya sempurna. Sebuah konten pertama mungkin belum memiliki banyak penonton. Sebuah produk pertama mungkin belum langsung laku. Sebuah kegiatan pertama mungkin memiliki banyak kekurangan. Namun, dari proses itulah pengalaman terbentuk.

Selain menghasilkan karya dan usaha, mahasiswa juga perlu membangun personal branding. Di era digital, kemampuan seseorang tidak hanya dilihat dari ijazah, tetapi juga dari karya dan kontribusi yang dapat ditunjukkan. Portofolio menjadi bukti bahwa seseorang pernah melakukan sesuatu, menyelesaikan masalah, dan menghasilkan nilai.

Karena itu, masa kuliah seharusnya menjadi masa untuk membangun portofolio kehidupan. Mengikuti organisasi, mengikuti kompetisi, membuat konten edukatif, melakukan penelitian, membangun bisnis kecil, mengikuti program magang, hingga terlibat dalam kegiatan sosial merupakan bagian dari proses tersebut.

Baca juga:  FKIP UNUSIDA Mengajar Angkatan 3 Resmi Dimulai, Bekali 143 Mahasiswa Jadi Calon Guru Inspiratif

Kampus pada akhirnya bukan sekadar tempat untuk menunggu masa depan datang. Kampus adalah tempat untuk mempersiapkan sekaligus menciptakan masa depan.

Maka, jangan tunggu lulus untuk mulai berkarya. Jangan tunggu memiliki pekerjaan untuk mulai belajar menghasilkan uang. Jangan menunggu memiliki jabatan untuk mulai memberikan dampak. Dan jangan menunggu sempurna untuk mulai mencoba.

Gen Z memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana masa depannya dibangun. Pertanyaannya bukan lagi sekadar “Setelah lulus saya akan menjadi apa?”, tetapi juga “Selama menjadi mahasiswa, apa yang sudah saya bangun?”

Sebab, masa depan bukanlah hadiah yang otomatis diberikan setelah wisuda. Masa depan adalah hasil dari keputusan, keberanian, keterampilan, relasi, karya, dan pengalaman yang kita bangun sejak hari ini.

Mari kuliah bukan hanya untuk mendapatkan gelar. Mari kuliah untuk bertumbuh, berkarya, menciptakan peluang, dan memberikan dampak. Karena menjadi mahasiswa bukan sekadar fase menunggu masa depan—tetapi kesempatan untuk mulai menciptakannya.