Ketua BPP UNUSIDA, KH. Arly Fauzi saat menyampaikan Tausiyah dalam Kajian Rutin Aswaja An-Nahdliyah UNUSIDA. (Foto: Humas UNUSIDA)

Ketua BPP UNUSIDA, KH Arly Fauzi: Ilmu Harus Bermuara pada Keimanan dan Amal Saleh

SIDOARJO — Ketua Badan Pelaksana Penyelenggara (BPP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), KH Arly Fauzi, menegaskan bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban sekaligus bagian penting dalam membangun kehidupan manusia. Namun, ilmu pengetahuan tidak cukup hanya dikuasai secara intelektual, melainkan harus dilandasi keimanan dan diwujudkan melalui amal saleh.

Hal tersebut disampaikan dalam tausiahnya dalam Kajian Rutin Aswaja An-Nahdliyah UNUSIDA yang diselenggarakan oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengkajian Islam dan Keaswajaan (PIK) UNUSIDA, di Masjid KH. Hasyim Asy’ari, Kamis (29/10/2026).

Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak civitas akademika UNUSIDA untuk memahami hakikat menuntut ilmu, baik ilmu yang bersifat fardhu ain maupun fardhu kifayah. Menurutnya, ilmu fardhu ain merupakan ilmu yang wajib dipelajari setiap individu untuk memenuhi kebutuhan ibadah dan kewajiban agama. Misalnya, setiap Muslim wajib memahami tata cara salat. Begitu pula ketika seseorang telah memenuhi syarat untuk menunaikan ibadah haji, maka mempelajari ilmu tentang pelaksanaan haji menjadi sebuah kewajiban.

Sementara itu, ilmu fardhu kifayah merupakan ilmu yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan masyarakat secara luas. Di antaranya ilmu kedokteran, teknik, dan berbagai bidang keilmuan lainnya yang dibutuhkan untuk menunjang keberlangsungan kehidupan manusia.

“Pada dasarnya, menuntut ilmu adalah untuk memenuhi kebutuhan kita. Ada ilmu yang wajib dipelajari setiap individu untuk menjalankan ibadah, dan ada pula ilmu yang harus dipelajari sebagian orang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa orang yang menempuh jalan untuk mencari ilmu akan mendapatkan kemudahan jalan menuju surga. Karena itu, ilmu pengetahuan harus menjadi prioritas dalam membangun kemajuan suatu bangsa.

Lebih lanjut, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ikhlas Sepande tersebut menguraikan alasan mengapa Allah SWT mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Menurutnya, ilmu yang dilandasi keimanan akan mengantarkan seseorang semakin mengenal kekuasaan Allah, meningkatkan ketakwaan, serta membentuk perilaku yang semakin baik terhadap sesama.

Ia menegaskan bahwa ukuran keberhasilan seseorang dalam menuntut ilmu bukan sekadar bertambahnya pengetahuan, gelar akademik, atau kemampuan intelektual, melainkan juga meningkatnya kualitas keimanan dan amal saleh.

“Ketika ilmu itu dilandasi oleh keimanan dan didorong oleh keimanan, maka ilmu yang didapatkan semakin menjadikan seseorang beriman kepada Allah, semakin taat kepada Allah, semakin mengenal kekuasaan Allah, dan semakin baik kepada sesama,” tuturnya.

Dalam penjelasannya, ia juga mengingatkan bahwa ilmu tanpa disertai ketakwaan dapat menjauhkan seseorang dari Allah SWT. Pengetahuan yang semakin luas seharusnya membuat manusia semakin menyadari keterbatasan dirinya di hadapan Sang Pencipta.

Menurutnya, berbagai cabang ilmu pengetahuan, mulai dari astronomi, biologi, kedokteran, meteorologi hingga teknik, sesungguhnya dapat menjadi jalan untuk mengenali tanda-tanda kebesaran Allah SWT.

Melalui ilmu astronomi, misalnya, manusia dapat mempelajari keteraturan benda-benda langit. Begitu pula ilmu biologi dan kedokteran yang mengungkap kompleksitas kehidupan serta anatomi tubuh manusia. Semua itu semestinya semakin memperkuat keyakinan terhadap kekuasaan Allah.

“Semakin luas ilmu pengetahuan seseorang, seharusnya semakin terlihat tanda-tanda kekuasaan Allah. Maka, semakin besar pula ketundukan, rasa takut, dan sikap tawaduknya di hadapan Allah SWT,” ungkapnya.

Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo tersebut menambahkan, ilmu pengetahuan harus memiliki orientasi yang jelas, yakni mengantarkan manusia kepada kebenaran dan menghasilkan amal yang bermanfaat. Ilmu tidak boleh berhenti sebagai teori atau sekadar menjadi alat untuk memperoleh pengakuan pribadi.

Bahkan, kepedulian terhadap sesama menjadi salah satu indikator penting dari meningkatnya kualitas keimanan seseorang. Semakin baik kualitas keimanan dan ketakwaan, seharusnya semakin besar pula kepedulian sosial yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Semua ilmu itu harus bermuara pada semakin kuatnya iman kepada Allah, semakin taat kepada-Nya, semakin mengenal kekuasaan-Nya, serta semakin baik dan bermanfaat bagi kehidupan manusia,” tegasnya.

Melalui tausiah tersebut, Kiai Arly mengajak seluruh civitas akademika UNUSIDA untuk menjadikan ilmu pengetahuan sebagai jalan pengabdian. Perguruan tinggi tidak hanya bertugas melahirkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga membentuk insan beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Ilmu dan iman harus berjalan beriringan serta diwujudkan melalui amal saleh. Sebab, hakikat ilmu yang sesungguhnya bukan hanya membuat seseorang semakin cerdas, tetapi juga semakin dekat kepada Allah SWT dan semakin bermanfaat bagi sesama,” pungkasnya.

Dr. H. Ali Masykuri, S.Pd., M.Pd.I., dosen Program Studi PIAUD, sebagai Pengurus Harian Bidang Pendidikan, Olahraga, dan Kebudayaan dan Listin Fitrianah, S.P., M.Si., dosen Program Studi Teknik Lingkungan, turut dipercaya menjadi bagian dari kepengurusan Forum TJSLP Kabupaten Sidoarjo. (Foto: Humas UNUSIDA)

Dosen UNUSIDA Dikukuhkan sebagai Pengurus Forum TJSLP Sidoarjo, Siap Dukung Pembangunan Daerah

SIDOARJO — Dua dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) mendapat kepercayaan untuk berkontribusi dalam pembangunan daerah melalui pengukuhan pengurus Forum Pelaksana Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan (TJSLP) Kabupaten Sidoarjo. Kegiatan tersebut berlangsung di Pendopo Delta Wibawa, Kamis (29/10/2026).

Dua dosen UNUSIDA yang dikukuhkan yakni Dr. H. Ali Masykuri, S.Pd., M.Pd.I., dosen Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), sebagai Pengurus Harian Bidang Pendidikan, Olahraga, dan Kebudayaan. Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik UNUSIDA Listin Fitrianah, S.P., M.Si., dosen Program Studi Teknik Lingkungan, turut dipercaya menjadi bagian dari kepengurusan Forum TJSLP Kabupaten Sidoarjo.

Pengukuhan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan pemerintah daerah untuk mengoptimalkan pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai salah satu instrumen pendukung pembangunan daerah.

H. Ali Masykuri yang juga sebagai Wakil Rektor 3 UNUSIDA tersebut menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan. Ia menyatakan kesiapan untuk menjalankan amanah tersebut dan berkontribusi dalam mendukung program pembangunan Kabupaten Sidoarjo, khususnya melalui penguatan bidang pendidikan, olahraga, dan kebudayaan.

Menurutnya, Forum TJSLP memiliki peran strategis sebagai ruang komunikasi, koordinasi, konsultasi, dan evaluasi berbagai program CSR perusahaan. Melalui forum tersebut, pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan diharapkan dapat lebih terarah dan selaras dengan prioritas pembangunan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo.

“Sinergi antara unsur pendidikan, korporasi, dan pemerintah daerah menjadi penting agar program CSR tidak berjalan secara parsial, melainkan mampu memberikan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat,” jelasnya.

Keterlibatan dosen UNUSIDA dalam kepengurusan Forum TJSLP juga memperkuat komitmen perguruan tinggi untuk mengambil peran lebih luas dalam pembangunan daerah. Kampus tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga mitra strategis pemerintah dan dunia usaha dalam menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

Wakil Sekretaris PCNU Sidoarjo tersebut, menjelaskan bahwa UNUSIDA memiliki potensi untuk mendorong akuntabilitas dan keterbukaan dalam perencanaan serta evaluasi program kerja sama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sidoarjo. Keterlibatan akademisi diharapkan dapat membantu memastikan bahwa program-program CSR memiliki arah yang jelas, terukur, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Selain itu, perguruan tinggi dapat mengambil peran sebagai pusat pemecahan masalah (problem solver) dengan mengarahkan hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat untuk menjawab persoalan nyata di daerah, seperti pengentasan kemiskinan, penanganan stunting, pengurangan angka pengangguran, hingga persoalan lingkungan.

“Pengembangan teknologi tepat guna dan inovasi lokal juga menjadi peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan. Melalui kompetensi akademik dan riset dosen, perguruan tinggi dapat menghadirkan gagasan serta solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha, termasuk dalam pengelolaan lingkungan, energi terbarukan, serta pembangunan berkelanjutan,” terangnya.

Ia berharap, melalui forum ini akan terbangun kolaborasi yang semakin kuat antara perguruan tinggi, pemerintah, dan sektor industri. “Kepercayaan tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi UNUSIDA untuk memperluas kontribusi kelembagaan dalam pembangunan daerah, sekaligus mewujudkan peran kampus sebagai mitra strategis, pusat inovasi, dan agen perubahan yang mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat Sidoarjo,” pungkasnya.

Dekan FAI UNUSIDA Saat Menyampaikan sambutan saat Pembukaan Workshop dan Pelepasan PLP dan KKN Tematik 2026. (Foto: Humas UNUSIDA)

FAI UNUSIDA Gelar Workshop dan Pelepasan Mahasiswa PLP serta KKN Tematik 2026

SIDOARJO — Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Workshop dan Pelepasan Mahasiswa Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) serta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik di Hall Lantai 5 Gedung A, Rabu (28/10/2026).

Dekan FAI UNUSIDA, Feri Kuswanto, menegaskan bahwa PLP dan KKN Tematik merupakan bagian penting dari proses pendidikan mahasiswa, khususnya dalam mempersiapkan calon pendidik yang kompeten, profesional, dan bertanggung jawab. Kegiatan ini menjadi langkah awal bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan teori dan ilmu yang telah diperoleh selama perkuliahan melalui praktik langsung di lingkungan sekolah dan masyarakat.

Menurutnya, pelaksanaan PLP memiliki sejumlah persyaratan akademik yang harus dipenuhi mahasiswa. Salah satunya adalah kelulusan mata kuliah microteaching sebagai bekal keterampilan dasar sebelum terjun ke sekolah.

“PLP bisa dilaksanakan apabila mahasiswa telah dinyatakan lulus mata kuliah microteaching. Mata kuliah ini menjadi salah satu bekal penting agar mahasiswa siap melaksanakan praktik pembelajaran di sekolah,” jelasnya.

Ia menyampaikan bahwa mahasiswa telah memperoleh berbagai materi pendukung sejak semester awal, di antaranya teori belajar dan pembelajaran, psikologi perkembangan anak, microteaching, serta mata kuliah keahlian sesuai program studi. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat diterapkan secara nyata selama menjalani PLP.

Feri juga mengingatkan bahwa tugas seorang guru tidak hanya sebatas menyampaikan materi di dalam kelas. Guru harus mampu merencanakan pembelajaran secara menyeluruh, mulai dari menyiapkan perangkat pembelajaran, menentukan metode dan model pembelajaran, hingga menyusun evaluasi yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.

Dalam praktiknya, mahasiswa juga perlu memahami perbedaan pendekatan pembelajaran untuk siswa kelas rendah, yakni kelas I hingga III, dan kelas tinggi, yakni kelas IV hingga VI. Pemahaman terhadap tahap perkembangan anak menjadi dasar untuk menentukan strategi pembelajaran yang efektif.

Selain kesiapan akademik, Feri menekankan pentingnya kedisiplinan, etika, dan tanggung jawab selama mahasiswa menjalani praktik di sekolah mitra. Ia meminta seluruh peserta menjaga nama baik fakultas, program studi, dan universitas.

Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak datang terlambat, meninggalkan kelas tanpa izin, atau meninggalkan lingkungan sekolah tanpa persetujuan pihak yang berwenang.

“Jaga nama baik fakultas dan program studi kita. Jangan terlambat, jangan meninggalkan kelas saat praktik, dan jangan meninggalkan sekolah tanpa kesepakatan dengan pimpinan atau kepala sekolah,” pesannya.

Menurutnya, PLP bukan sekadar kesempatan untuk mengajar, tetapi juga menjadi sarana mengenal lingkungan sekolah secara menyeluruh. Mahasiswa diharapkan aktif mengikuti berbagai kegiatan, seperti rapat guru, memahami program sekolah, mengamati karakter peserta didik, serta belajar menghadapi persoalan yang muncul dalam proses pembelajaran.

Melalui keterlibatan tersebut, mahasiswa dapat memperoleh pengalaman langsung mengenai budaya kerja guru, pengelolaan kelas, dan upaya mendampingi siswa yang mengalami kesulitan belajar.

Feri juga menjelaskan bahwa mahasiswa perlu memanfaatkan waktu pelaksanaan PLP secara optimal. Kegiatan praktik tidak boleh hanya berfokus pada jumlah pertemuan mengajar, tetapi juga mencakup persiapan pembelajaran, pelaksanaan kegiatan sekolah, dan refleksi terhadap pengalaman yang diperoleh.

“Jalani seluruh aktivitas PLP dengan sungguh-sungguh. Manfaatkan kesempatan ini untuk belajar sebanyak-banyaknya, baik melalui praktik mengajar maupun kegiatan lain yang ada di sekolah,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Feri turut mengingatkan mahasiswa agar mempersiapkan kebutuhan teknis sebelum berangkat ke lokasi penempatan. Mahasiswa diminta mempelajari rute perjalanan, memperkirakan waktu tempuh, serta mengantisipasi kemungkinan kemacetan agar dapat tiba tepat waktu. Kesiapan tersebut dinilai sebagai bagian dari pembentukan sikap profesional yang harus dibiasakan sejak mahasiswa menjalani praktik lapangan.

Lebih lanjut, Feri berharap mahasiswa mampu mengintegrasikan pengetahuan akademik dengan pengalaman praktis di lapangan. Mahasiswa juga diharapkan dapat menunjukkan sikap disiplin, adaptif, serta mampu membangun hubungan baik dengan pihak sekolah dan masyarakat.

“Pelaksanaan PLP dan KKN Tematik menjadi bagian dari komitmen FAI UNUSIDA dalam mempersiapkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kompetensi profesional, karakter yang kuat, dan kepedulian sosial. Dengan bekal ilmu, kesiapan mental, serta semangat pengabdian, dapat menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mampu memberikan kontribusi positif bagi sekolah dan masyarakat sekaligus membawa nama baik UNUSIDA,” pungkasnya.

Kegiatan Hari Santri 2026 Kelompok 3 FKIP UNUSIDA Mengajar. (Foto: Humas UNUSIDA)

Peringati Hari Santri 2026, FKIP UNUSIDA Mengajar Kelompok 3 Hadirkan Pembelajaran Kreatif di SDN Sekardangan

SIDOARJO — Kelompok 3 FKIP UNUSIDA Mengajar melaksanakan serangkaian kegiatan edukatif, kreatif, dan bernilai keagamaan di SDN Sekardangan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional. Kegiatan ini menjadi upaya untuk menanamkan nilai-nilai religius sekaligus menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna bagi para murid.

Rangkaian kegiatan diawali dengan apel peringatan Hari Santri Nasional yang petugasnya berasal dari anggota FKIP UNUSIDA Mengajar Kelompok 3. Pelaksanaan apel menjadi sarana untuk menumbuhkan sikap disiplin, tanggung jawab, serta mengenalkan makna peringatan Hari Santri kepada murid sejak dini.

Setelah apel, kegiatan dilanjutkan dengan penampilan Al-Banjari oleh murid SDN Sekardangan. Penampilan tersebut menjadi bentuk kecintaan terhadap seni Islami sekaligus sarana untuk menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW melalui lantunan selawat. Suasana kegiatan berlangsung dengan semangat kebersamaan, memperlihatkan keterlibatan aktif murid dalam memeriahkan peringatan Hari Santri Nasional.

Ketua Kelompok 3 FKIP UNUSIDA Mengajar, Agus Sofyan Munir, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai peringatan seremonial, tetapi juga sebagai kesempatan untuk mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan proses pembelajaran di sekolah. Melalui kegiatan yang beragam, murid diharapkan dapat memahami semangat Hari Santri sekaligus mengembangkan potensi diri melalui aktivitas kreatif.

Usai rangkaian kegiatan bersama, para murid mengikuti pembelajaran kreatif di kelas masing-masing sesuai dengan jenjang pendidikan. Setiap kegiatan dirancang untuk melatih keterampilan, mengembangkan kreativitas, serta membangun pengalaman belajar yang sesuai dengan usia murid.

Murid kelas I mengikuti kegiatan membuat kolase bergambar masjid. Dalam aktivitas ini, murid menyusun dan menempelkan berbagai bahan untuk membentuk gambar masjid. Selain mengenalkan salah satu simbol penting dalam kehidupan umat Islam, kegiatan tersebut juga bertujuan melatih kreativitas, koordinasi tangan dan mata, serta keterampilan motorik halus.

Sementara itu, murid kelas II dan III mengikuti kegiatan membuat karya pop-up bertema Hari Santri. Kegiatan diawali dengan mewarnai gambar, kemudian dilanjutkan dengan menyusun dan membentuk gambar menjadi karya pop-up yang menarik. Melalui aktivitas ini, murid diajak mengekspresikan kreativitas sekaligus melatih ketelitian, kesabaran, dan kemampuan mengikuti tahapan pengerjaan.

Adapun murid kelas V dan VI mengikuti kegiatan literasi kreatif berupa pembuatan karangan cerita berseri bertema keagamaan. Sebelum menyusun cerita, murid terlebih dahulu mewarnai gambar yang akan digunakan sebagai ilustrasi pendukung. Selanjutnya, mereka mengembangkan gagasan menjadi cerita berseri dengan memperhatikan alur dan keterkaitan antarbagiannya.

Kegiatan literasi tersebut memberikan ruang bagi murid untuk menuangkan imajinasi, mengembangkan kemampuan menulis, serta menyampaikan pesan-pesan positif melalui cerita. Tema keagamaan yang diangkat juga diharapkan dapat membantu murid mengenali dan memahami nilai-nilai kebaikan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pelaksanaan kegiatan peringatan Hari Santri Nasional di SDN Sekardangan tidak hanya berfokus pada pengenalan tradisi keagamaan, tetapi juga mengintegrasikan aspek kreativitas, literasi, dan pembentukan karakter. Perbedaan aktivitas pada setiap jenjang kelas menjadi upaya untuk menghadirkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan murid.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, murid diajak untuk belajar secara aktif, berani mengekspresikan gagasan, serta bekerja dengan penuh tanggung jawab. Aktivitas kolase, pembuatan pop-up, dan penulisan cerita berseri juga menjadi sarana untuk mengembangkan keterampilan yang mendukung proses belajar mereka di sekolah.

Selain memberikan pengalaman belajar kepada murid, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi anggota FKIP UNUSIDA Mengajar Kelompok 3 untuk mengimplementasikan pengetahuan dan keterampilan kependidikan secara langsung. Interaksi dengan murid memberikan pengalaman dalam merancang aktivitas pembelajaran yang kreatif, komunikatif, dan menyenangkan.

Melalui kegiatan ini, FKIP UNUSIDA Mengajar Kelompok 3 berharap para murid SDN Sekardangan memperoleh pengalaman belajar yang berkesan sekaligus semakin memahami nilai-nilai Hari Santri Nasional, seperti religiusitas, kedisiplinan, tanggung jawab, kebersamaan, dan semangat menuntut ilmu.

Peringatan Hari Santri Nasional pun menjadi momentum untuk menegaskan bahwa pendidikan karakter dapat ditanamkan melalui berbagai kegiatan sederhana yang dekat dengan kehidupan murid. Dengan memadukan nilai keagamaan dan pembelajaran kreatif, semangat Hari Santri diharapkan tidak berhenti pada perayaan, tetapi terus tumbuh dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

UKM Teater Sae UNUSIDA meraih penghargaan Munali Patah Award 2026. (Foto: Humas UNUSIDA)

Membanggakan! UKM Teater SAE UNUSIDA Raih Munali Patah Award 2026, Teguhkan Kiprah Seni Mahasiswa

SIDOARJO — Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater SAE Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) meraih penghargaan dalam ajang Munali Patah Award 2026 yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda). Penghargaan tersebut diberikan dalam rangkaian Festival Munali Patah 2026 yang berlangsung di kawasan Paseban Alun-Alun Kabupaten Sidoarjo, Sabtu (17/10/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Dekesda memberikan Munali Patah Award kepada 67 penerima sebagai bentuk penghormatan terhadap dedikasi para pelaku seni dalam menjaga, mengembangkan, dan melestarikan kesenian daerah.

Ketua UKM Teater SAE UNUSIDA, M. Agus Muhsinin, mengatakan bahwa penghargaan tersebut menjadi momentum penting bagi organisasi untuk terus mengembangkan kreativitas mahasiswa melalui seni pertunjukan.

Menurutnya, capaian ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi anggota Teater SAE, tetapi juga menjadi motivasi untuk memperluas ruang ekspresi dan menghadirkan karya seni yang memiliki nilai artistik serta relevansi dengan kehidupan masyarakat.

“Penghargaan ini menjadi dorongan bagi kami untuk terus berkarya, meningkatkan kualitas pertunjukan, dan menjadikan seni sebagai ruang ekspresi sekaligus pembelajaran bagi mahasiswa,” ujarnya.

Ia menjelaskan, aktivitas seni di lingkungan perguruan tinggi memiliki peluang besar untuk berkembang dan memberikan kontribusi nyata bagi ekosistem kebudayaan. Melalui proses latihan, eksplorasi gagasan, dan kolaborasi, mahasiswa dapat mengasah kreativitas, kedisiplinan, serta kepekaan terhadap persoalan sosial.

Bagi Teater SAE, seni pertunjukan bukan sekadar sarana hiburan, melainkan juga media untuk menyampaikan pesan, merefleksikan realitas sosial, dan memperkaya perspektif masyarakat.

Munali Patah Award 2026 merupakan bagian dari upaya memberikan apresiasi kepada insan seni dalam ekosistem kebudayaan Sidoarjo. Penghargaan tersebut hadir bersamaan dengan Festival Munali Patah 2026 yang mengusung tema ‘Menghidupkan Tradisi, Menyatukan Generasi’. Tema tersebut menegaskan pentingnya menjaga keberlanjutan seni tradisi sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda dalam merawat warisan budaya.

Festival ini turut dimeriahkan dengan beragam pertunjukan seni, mulai dari sastra, musik angklung, musik keroncong, hingga Tari Remo Munali Patah yang melibatkan sekitar 600 penari dari berbagai daerah.

Rangkaian pertunjukan tersebut menjadi ruang pertemuan bagi seniman, komunitas, dan masyarakat untuk saling mengenal serta mengapresiasi keberagaman ekspresi budaya.

Keterlibatan generasi muda dalam kegiatan kebudayaan dinilai penting untuk menjembatani nilai-nilai tradisi yang diwariskan generasi terdahulu dengan kreativitas yang relevan dengan perkembangan zaman.

“Alhamdulillah, UKM Teater SAE UNUSIDA selama ini menjadi salah satu ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi, mengolah gagasan, dan membangun kepekaan sosial melalui seni pertunjukan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Agus berharap raihan Munali Patah Award 2026 ini menjadi langkah penting bagi Teater SAE UNUSIDA untuk memperkuat eksistensi komunitas seni mahasiswa. Penghargaan ini sekaligus menjadi penyemangat untuk meningkatkan kualitas karya, memperluas jejaring dengan komunitas seni, serta berkontribusi dalam kehidupan kebudayaan di lingkungan kampus maupun masyarakat luas.

Baginya, prestasi mahasiswa dalam bidang seni dan budaya merupakan bagian dari pengembangan potensi mahasiswa secara menyeluruh. Pendidikan tinggi tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kreativitas, membangun karakter, dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sosial.

“Semoga capaian ini akan terus melahirkan karya-karya kreatif yang inspiratif serta mampu memperkuat kontribusi mahasiswa dalam memajukan seni dan budaya Indonesia. Menjadi penyemangat untuk terus berproses, berkarya, dan mengambil bagian dalam perjalanan kebudayaan. Dengan semangat tersebut, Teater SAE UNUSIDA berkomitmen menjadikan seni pertunjukan sebagai ruang tumbuh bagi generasi muda yang kreatif, berkarakter, dan berdampak bagi masyarakat,” pungkasnya.

Menggugah Kesadaran! Mahasiswa UNUSIDA Dorong Gerakan Kampus Lestari 1

Menggugah Kesadaran! Mahasiswa UNUSIDA Dorong Gerakan Kampus Lestari

Oleh: Wazir Mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan UNUSIDA

Persoalan lingkungan hari ini sering kali dibicarakan dalam skala yang besar. Perubahan iklim, pencemaran udara, kerusakan hutan, hingga krisis air menjadi isu yang terus mendapat perhatian publik. Namun, di tengah berbagai diskusi tersebut, ada satu persoalan mendasar yang terkadang luput dari perhatian kita, yaitu kesadaran manusia terhadap lingkungan.

Kita sering mengetahui bahwa menjaga lingkungan merupakan hal penting, tetapi belum tentu menjadikannya sebagai kebiasaan. Membuang sampah sembarangan, menggunakan kemasan sekali pakai secara berlebihan, atau mengabaikan penggunaan air dan energi masih dianggap sebagai persoalan sepele. Padahal, ketika perilaku tersebut dilakukan secara berulang oleh banyak orang, dampaknya dapat berkembang menjadi persoalan lingkungan yang jauh lebih besar.

Karena itu, tantangan lingkungan bukan semata-mata terletak pada kurangnya pengetahuan, melainkan bagaimana pengetahuan tersebut tumbuh menjadi kesadaran dan tindakan nyata. Kepedulian lingkungan seharusnya tidak berhenti sebagai wacana, tetapi tercermin dalam cara kita menjalani kehidupan sehari-hari.

Dari Kesadaran Menuju Tindakan Nyata

Generasi muda, khususnya mahasiswa, memiliki posisi strategis dalam mendorong perubahan tersebut. Perguruan tinggi memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengakses ilmu pengetahuan, mengembangkan pemikiran kritis, serta memahami persoalan masyarakat melalui pendekatan yang lebih analitis. Kesempatan ini merupakan sebuah keistimewaan yang semestinya diiringi tanggung jawab sosial.

Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi kelompok yang mampu mengkritik keadaan. Mereka juga perlu mengambil bagian dalam mencari dan menerapkan solusi. Sebab, pengetahuan yang diperoleh di ruang kuliah akan memiliki makna lebih besar ketika mampu menjawab persoalan nyata di lingkungan sekitar.

Bagi mahasiswa Teknik Lingkungan, tanggung jawab tersebut semakin relevan. Ilmu mengenai pengelolaan sampah, pengendalian pencemaran, sanitasi, konservasi sumber daya air, dan pengelolaan lingkungan bukan sekadar materi perkuliahan. Semua itu merupakan bekal untuk memahami persoalan sekaligus merancang solusi yang dapat diterapkan.

Ketika melihat persoalan sampah di kampus, misalnya, mahasiswa dapat memulainya dengan mengidentifikasi sumber sampah, mengevaluasi sistem pengelolaannya, kemudian menyusun rekomendasi yang realistis. Langkah tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat menjadi awal perubahan apabila dilakukan secara konsisten dan melibatkan banyak pihak.

Bahkan, kesadaran lingkungan perlu diperluas hingga ke aktivitas digital. Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) dan layanan digital memberikan banyak kemudahan, tetapi infrastruktur di baliknya, termasuk pusat data, membutuhkan energi dan dalam banyak kasus juga air untuk sistem pendinginan. Hal ini bukan berarti teknologi harus dihindari, melainkan digunakan secara bijak sesuai kebutuhan dan dengan kesadaran terhadap jejak lingkungannya.

Lumpur Lapindo: Pengingat bahwa Kerusakan Lingkungan Menyangkut Kehidupan Manusia

Bagi saya, persoalan lingkungan bukan sekadar sesuatu yang dipelajari melalui buku, berita, atau diskusi akademik. Saya merupakan warga Porong dan salah satu orang yang terdampak Lumpur Lapindo. Rumah saya dahulu berada di Desa Jatirejo, salah satu desa yang terdampak peristiwa tersebut.

Pengalaman itu memberikan perspektif tersendiri tentang bagaimana persoalan lingkungan dapat mengubah kehidupan manusia secara mendalam. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik lingkungan, tetapi juga menyentuh tempat tinggal, kehidupan sosial, mata pencaharian, dan masa depan masyarakat.

Peristiwa tersebut mengajarkan bahwa dampak kerusakan lingkungan dapat berlangsung jauh lebih lama daripada perhatian publik terhadap peristiwanya. Ketika suatu persoalan tidak ditangani secara memadai, masyarakat terdampak dapat menghadapi konsekuensi berkepanjangan yang tidak mudah dipulihkan.

Tentu, persoalan lingkungan berskala besar memiliki kompleksitas tersendiri dan tidak dapat disederhanakan menjadi satu penyebab. Namun, pengalaman tersebut memperkuat pemahaman saya tentang pentingnya tanggung jawab, pencegahan, pengelolaan risiko, dan perlindungan terhadap masyarakat dalam setiap keputusan yang berpotensi memengaruhi lingkungan.

Pengalaman inilah yang menjadi salah satu alasan saya menekuni bidang Teknik Lingkungan. Saya ingin memahami persoalan lingkungan bukan hanya dari sisi dampaknya, tetapi juga dari sisi pencegahan, pengelolaan, dan solusi yang dapat dikembangkan.

Sebab, lingkungan bukan hanya tentang alam yang kita lihat, melainkan juga tentang kehidupan manusia yang bergantung padanya. Pembangunan semestinya tidak mengabaikan keselamatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan demi kepentingan jangka pendek.

UNUSIDA Lestari: Menjadikan Kampus sebagai Laboratorium Perubahan

Pengalaman dan pemahaman tersebut mendorong saya untuk menawarkan sebuah gagasan, yaitu “UNUSIDA Lestari: Kampus Tumbuh, Lingkungan Terjaga.” Gagasan ini berangkat dari pemikiran bahwa perguruan tinggi seharusnya tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga berupaya menerapkannya dalam kehidupan kampus.

Sebagai perguruan tinggi yang memiliki Program Studi Teknik Lingkungan, Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) memiliki peluang untuk mengembangkan kampus sebagai ruang pembelajaran dan praktik pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Ada tiga langkah yang dapat menjadi bagian dari gagasan tersebut.

Pertama, membangun pengelolaan lingkungan kampus berbasis riset. Dosen dan mahasiswa dapat berkolaborasi memetakan kondisi pengelolaan sampah, penggunaan air dan energi, sanitasi, serta aspek lingkungan lainnya. Hasil kajian kemudian digunakan untuk menentukan prioritas perbaikan dan menyusun rekomendasi yang terukur.

Dengan pendekatan ini, kegiatan lingkungan tidak sekadar menjadi agenda seremonial. Setiap program memiliki dasar permasalahan yang jelas, target yang realistis, serta evaluasi untuk mengetahui efektivitas pelaksanaannya.

Kedua, mengembangkan ruang terbuka hijau dan vegetasi yang sesuai dengan kondisi kampus. Penataan ruang hijau dapat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kenyamanan lingkungan dan mendukung kualitas ruang terbuka. Apabila berdasarkan kajian lapangan ditemukan kebutuhan yang relevan, pengembangan vegetasi dan green buffer dapat dipertimbangkan untuk membantu mengurangi paparan debu pada kondisi tertentu.

Namun, upaya penghijauan perlu direncanakan berdasarkan karakteristik lokasi dan jenis vegetasi yang tepat. Penghijauan bukan pengganti pengendalian pencemaran dari sumbernya, melainkan salah satu upaya pendukung dalam pengelolaan lingkungan secara menyeluruh.

Ketiga, memperkuat kolaborasi lintas organisasi dan unit kampus. Gerakan UNUSIDA Lestari tidak seharusnya menjadi tanggung jawab Program Studi Teknik Lingkungan semata. Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan, UKM MAPANUSIDA, organisasi mahasiswa lainnya, dosen, serta unit terkait perlu dilibatkan sesuai peran dan kapasitas masing-masing.

Dukungan birokrasi dan kelembagaan juga menjadi faktor penting. Melalui kolaborasi dengan unit terkait, termasuk Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), hasil penelitian dosen dan mahasiswa dapat dikembangkan menjadi program pengabdian yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pelaksanaannya dapat dimulai melalui pemetaan kondisi lingkungan kampus, penentuan prioritas, penerapan program percontohan, serta evaluasi berkala. Dengan demikian, keberhasilan tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang diselenggarakan, tetapi juga dari perubahan yang dapat diamati dan dipertahankan.

Harapannya, UNUSIDA tidak hanya menjadi tempat mahasiswa mempelajari ilmu lingkungan, tetapi juga menjadi ruang untuk menguji gagasan, membangun kebiasaan baik, dan menghasilkan solusi yang dapat dikembangkan lebih luas.

Menjaga Lingkungan adalah Tanggung Jawab Antargenerasi

Pada akhirnya, persoalan lingkungan membawa kita pada pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang akan kita tinggalkan bagi generasi berikutnya?

Dalam kehidupan masyarakat, kita mengenal istilah mbabat alas, sebuah gambaran tentang perjuangan generasi terdahulu dalam membuka jalan bagi kehidupan generasi selanjutnya. Kita menikmati berbagai hasil dari upaya mereka. Namun, sudahkah kita memikirkan lingkungan seperti apa yang akan diwariskan kepada anak cucu kita?

Jangan sampai generasi mendatang kehilangan kesempatan menikmati udara bersih, air yang layak, pepohonan, dan ruang terbuka hanya karena kita mengabaikan tanggung jawab hari ini. Jangan pula sampai kerusakan yang sebenarnya dapat dicegah berubah menjadi beban yang harus mereka tanggung.

Kepedulian lingkungan bukan hanya kewajiban kita terhadap generasi yang hidup saat ini, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral kepada generasi yang belum lahir.

Meski demikian, besarnya persoalan lingkungan tidak seharusnya membuat kita merasa bahwa tindakan individu tidak berarti. Kita tidak perlu menunggu menjadi pejabat, peneliti, atau pemimpin organisasi untuk memulai perubahan. Membawa botol minum sendiri, mengurangi sampah sekali pakai, menggunakan energi secara bijak, dan menjaga kebersihan lingkungan merupakan langkah awal yang dapat dilakukan.

Langkah tersebut perlu dilanjutkan dengan kolaborasi, pengembangan pengetahuan, dan upaya membangun sistem yang memungkinkan kebiasaan baik bertahan dalam jangka panjang.

Bagi mahasiswa, keberanian untuk memulai harus berjalan beriringan dengan kesediaan untuk belajar, mengevaluasi, dan memperbaiki tindakan. Tidak semua gagasan akan langsung berhasil, tetapi setiap upaya yang dilakukan secara bertanggung jawab dapat menjadi bagian dari proses perubahan.

Kita mungkin tidak mampu mewariskan dunia yang sempurna kepada generasi berikutnya. Namun, kita memiliki pilihan untuk tidak mewariskan kerusakan yang sebenarnya dapat dicegah.

Karena itu, jangan tunggu bumi semakin rusak untuk mulai bergerak. Mari jadikan kepedulian sebagai tindakan, ilmu sebagai solusi, dan kampus sebagai ruang perubahan. Melalui UNUSIDA Lestari, kita dapat memulai langkah kecil hari ini demi lingkungan yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Inspiratif! Alumni Teknik Industri UNUSIDA 2023 Sukses Jadi CEO, Buktikan Pentingnya Growth Mindset 2

Inspiratif! Alumni Teknik Industri UNUSIDA 2023 Sukses Jadi CEO, Buktikan Pentingnya Growth Mindset

Sidoarjo, UNUSIDA – Perjalanan menuju kesuksesan tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak ilmu yang diperoleh di ruang kelas, tetapi juga oleh kemampuan membangun relasi, membentuk karakter, dan terus beradaptasi dengan perubahan. Prinsip inilah yang menjadi bagian dari perjalanan Yoga Wahyu Pratama, S.T., alumni Program Studi S1 Teknik Industri Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) tahun 2023, yang kini dipercaya menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) PT Boss Trans Tour & Travel.

Perjalanan Yoga menjadi salah satu potret inspiratif alumni UNUSIDA yang mampu mengembangkan diri dan mengambil peran di dunia profesional. Pengalaman selama menempuh pendidikan tinggi tidak hanya menjadi bekal akademik, tetapi juga membantunya membangun pola pikir terbuka, memperluas perspektif, serta menumbuhkan keberanian untuk terus berkembang.

Bagi Yoga, kuliah bukan sekadar proses memperoleh gelar sarjana. Lebih dari itu, masa perkuliahan merupakan kesempatan untuk mengenal berbagai karakter, membangun jaringan, dan belajar memahami sudut pandang yang beragam. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk dirinya sebagai pribadi yang lebih siap menghadapi tantangan setelah lulus.

Kuliah Bukan Sekadar Belajar, tetapi Membentuk Karakter

Yoga memandang bahwa pengalaman selama menjadi mahasiswa memiliki peran besar dalam proses pengembangan dirinya. Ilmu yang diperoleh di ruang kelas menjadi fondasi, sedangkan interaksi dan pengalaman selama perkuliahan memberikan kesempatan untuk belajar menghadapi berbagai situasi.

Menurutnya, lingkungan kampus dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan interpersonal, memperluas pertemanan, serta membangun relasi yang bermanfaat bagi perjalanan karier. Berbagai pengalaman tersebut juga mendorong mahasiswa untuk lebih terbuka terhadap ide dan perspektif baru.

“Kuliah di UNUSIDA bukan hanya tentang mendapatkan ilmu di ruang kelas, tetapi juga tentang memperluas relasi, membangun jaringan, dan membentuk karakter,” ungkap Yoga dalam refleksinya mengenai pengalaman selama menempuh pendidikan di UNUSIDA.

Baginya, menjadi pribadi yang open-minded atau berpikiran terbuka merupakan salah satu hal penting dalam menghadapi kehidupan profesional. Kemampuan melihat persoalan dari berbagai perspektif membantu seseorang memahami situasi secara lebih luas, sekaligus membuka peluang untuk menemukan solusi yang lebih baik.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa proses pendidikan tinggi tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kesiapan menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan studi.

Growth Mindset, Kunci untuk Terus Berkembang

Di tengah dunia kerja yang terus mengalami perubahan, kemauan untuk belajar menjadi salah satu bekal penting bagi setiap individu. Yoga menekankan pentingnya memiliki growth mindset, yakni pola pikir yang mendorong seseorang untuk terus mengembangkan kemampuan, belajar dari pengalaman, dan tidak berhenti memperbaiki diri.

Menurutnya, setiap proses dalam kehidupan memberikan kesempatan untuk memperoleh pembelajaran baru. Tantangan bukan semata-mata hambatan, melainkan bagian dari perjalanan yang dapat membantu seseorang memahami potensi dirinya dan menemukan cara untuk berkembang.

Prinsip tersebut relevan dengan kebutuhan dunia profesional yang menuntut kemampuan beradaptasi, keterbukaan terhadap perubahan, serta kesediaan untuk terus meningkatkan kompetensi. Bagi seorang pemimpin, pola pikir bertumbuh juga menjadi landasan untuk menghadapi dinamika pekerjaan dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan dalam mengambil keputusan.

Perjalanan Yoga hingga dipercaya menjadi CEO PT Boss Trans Tour & Travel menjadi konteks yang relevan untuk melihat pentingnya pengembangan diri secara berkelanjutan. Meski demikian, setiap pencapaian tetap merupakan bagian dari proses panjang yang membutuhkan pembelajaran, pengalaman, dan kemauan untuk terus melangkah.

Ia meyakini bahwa keberhasilan bukan hanya tentang mencapai posisi tertentu, melainkan juga tentang bagaimana seseorang terus bertumbuh dan memberikan manfaat melalui peran yang dijalankannya.

Alumni UNUSIDA, Terus Bertumbuh dan Siap Memberikan Dampak

Kisah Yoga Wahyu Pratama memberikan perspektif bahwa pengalaman kuliah dapat menjadi salah satu fondasi dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja. Bekal akademik, relasi, karakter, dan pola pikir yang terbuka merupakan unsur yang saling melengkapi dalam perjalanan pengembangan diri.

Bagi mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di UNUSIDA, perjalanan tersebut dapat menjadi motivasi untuk memanfaatkan masa kuliah sebaik mungkin. Mengikuti kegiatan akademik, membangun relasi yang positif, mengembangkan keterampilan, dan berani mencoba hal baru merupakan langkah yang dapat membantu memperluas pengalaman.

Mahasiswa juga perlu menyadari bahwa proses belajar tidak berhenti ketika wisuda tiba. Perubahan kebutuhan industri dan perkembangan zaman menuntut setiap individu untuk terus memperbarui pengetahuan serta menyesuaikan diri dengan tantangan yang dihadapi.

Melalui semangat tersebut, UNUSIDA mendorong mahasiswa dan alumni untuk terus mengembangkan potensi, membangun karakter, serta mengambil peran positif di tengah masyarakat.

Sebagaimana refleksi yang disampaikan Yoga, perjalanan kuliah bukan hanya tentang menjadi pintar, tetapi juga tentang menjadi pribadi yang terus bertumbuh, beradaptasi, dan siap memberikan dampak.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa masa depan dibangun melalui proses yang berkelanjutan. Dengan kemauan untuk terus belajar, keberanian melihat berbagai perspektif, dan pola pikir yang terbuka, setiap alumni memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensinya dan memberikan kontribusi melalui bidang yang ditekuni.

UNUSIDA percaya bahwa setiap alumni memiliki cerita dan perjalanan unik untuk menginspirasi generasi berikutnya. Melalui semangat bertumbuh dan berdampak, alumni diharapkan terus membawa nilai-nilai positif dari bangku kuliah ke dunia profesional maupun kehidupan bermasyarakat.

Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto bersama Ketua HIPSI Sidoarjo, FIdi Handoko Usai Penandatanganan MoU. (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA Resmi Jalin Kerja Sama dengan HIPSI Sidoarjo, Perkuat Ekosistem Wirausaha Santri

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) resmi menjalin kerja sama dengan Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Sidoarjo sebagai upaya memperkuat pengembangan kewirausahaan di kalangan santri dan generasi muda. Kolaborasi ini menjadi bagian dari komitmen UNUSIDA dalam mewujudkan kampus wirausaha muda yang mendorong mahasiswa mengenali potensi diri, mengembangkan kreativitas, dan menciptakan peluang usaha.

Pelaksana Tugas (Plt) Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.HI., M.Pd., menegaskan bahwa perguruan tinggi perlu menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan akademik sekaligus membangun jiwa kewirausahaan. Menurutnya, mahasiswa dan santri perlu dipersiapkan agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menghasilkan karya dan menciptakan peluang ekonomi melalui pemanfaatan teknologi digital.

Ia berharap kerja sama ini dapat mendorong lahirnya berbagai inisiatif pengembangan usaha, pemanfaatan teknologi digital, serta penguatan jejaring kewirausahaan di kalangan mahasiswa dan santri.

“Semoga kerja sama dengan HIPSI Sidoarjo ini membuka peluang yang lebih luas bagi mahasiswa menjadi wadah untuk menempa diri, mengenali bakat dan potensi, serta memperoleh wawasan mengenai dunia usaha. Melalui kolaborasi tersebut, UNUSIDA berupaya menghubungkan proses pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan ekonomi digital,” jelasnya.

Hadi menjelaskan bahwa perkembangan teknologi membuka ruang yang semakin luas bagi generasi muda untuk berinovasi. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki keberanian untuk mencoba, mengembangkan gagasan, dan mengubah potensi yang dimiliki menjadi produk atau layanan yang bermanfaat.

Ia selalu berupaya meneguhkan komitmen UNUSIDA sebagai kampus yang mendorong tumbuhnya wirausaha muda. Dengan memadukan ilmu pengetahuan, nilai-nilai keislaman, dan inovasi, mahasiswa diharapkan mampu menjadi generasi yang mandiri sekaligus berkontribusi dalam memperkuat ekonomi umat di era digital.

“Komitmen tersebut sejalan dengan upaya UNUSIDA membangun lingkungan kampus yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga mendorong lahirnya wirausahawan muda yang mandiri, kreatif, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua HIPSI Sidoarjo, Fidi Handoko, S.E., S.Pd., menegaskan pentingnya menumbuhkan jiwa kewirausahaan di kalangan santri dan generasi muda di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

“Kolaborasi ini juga menjadi langkah untuk memperluas peran santri dalam pembangunan ekonomi masyarakat. Santri diharapkan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja, mengembangkan usaha, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya,” tandasnya.

Menurutnya, santri memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam penguatan ekonomi umat. Bekal ilmu pengetahuan dan akhlak yang dimiliki perlu diiringi dengan keberanian berinovasi, keterampilan mengelola usaha, serta kemampuan membaca peluang pasar.

Fidi menilai, kolaborasi antara perguruan tinggi dan organisasi pengusaha santri dapat membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal praktik kewirausahaan secara lebih luas. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga terdorong mengembangkan gagasan usaha yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

“Santri harus berilmu dan berani berinovasi untuk menguatkan ekonomi umat,” tuturnya.

Plt Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto saat menjadi keynote speaker dalam Seminar Spesial Hari Santri 2026 oleh HIPSI Sidoarjo. (Foto: Humas UNUSIDA)

Plt. Rektor UNUSIDA Dorong Santri Jadi Kreator dan Wirausahawan Digital

SIDOARJO — Pelaksana Tugas (Plt) Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Dr. Hadi Ismanto, S.HI., M.Pd., mendorong santri dan generasi muda untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu bertransformasi menjadi kreator dan wirausahawan digital. Pesan tersebut disampaikan saat menjadi keynote speaker dalam Seminar Spesial Hari Santri 2026 oleh Himma Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Sidoarjo di Hall Lantai 5 Gedung A Kampus UNUSIDA, Lingkar Timur, Sidoarjo, Selasa (20/10/2026).

Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari Badan Otonom (Banom) Nahdlatul Ulama, seperti Fatayat NU, GP Ansor, IPNU, dan IPPNU, hingga mahasiswa UNUSIDA. Keterlibatan lintas organisasi ini menjadi ruang untuk memperluas wawasan dan mendorong kolaborasi dalam pengembangan kewirausahaan di kalangan santri dan generasi muda.

Mengawali penyampaiannya, Hadi mengajak mahasiswa untuk mengenal lingkungan akademik serta para pimpinan yang akan mendampingi perjalanan mereka selama menempuh pendidikan di UNUSIDA. Menurutnya, lingkungan kampus tidak hanya menjadi tempat memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk mengembangkan potensi, kreativitas, dan kemampuan menghadapi perubahan zaman.

Ia menekankan bahwa perkembangan teknologi perlu disikapi dengan kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, dan berinovasi. Santri, menurutnya, memiliki peluang untuk mengambil peran lebih luas dengan memanfaatkan teknologi sebagai sarana menciptakan produk, membangun usaha, dan menghadirkan solusi bagi kebutuhan masyarakat.

“Kita harus dapat mengendalikan Artificial Intelligence (AI), jangan sampai kita yang dimanfaatkan. Teknologi ini yang harus kita manfaatkan untuk mendukung proses belajar sekaligus membuka peluang pengembangan produk dan layanan digital,” jelasnya.

Hadi menjelaskan, salah satu platform yang dapat dimanfaatkan adalah Quriosity, yakni platform berbasis AI yang dirancang untuk membuat kursus atau materi pembelajaran secara instan dan personal berdasarkan topik yang diinginkan pengguna.

Menurutnya, pemanfaatan platform semacam ini menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya berfungsi sebagai sarana konsumsi informasi, tetapi juga dapat membantu seseorang menghasilkan materi, mengembangkan pengetahuan, dan menciptakan produk digital sesuai kebutuhan pengguna.

“Santri dan mahasiswa harus mengenali potensi teknologi serta menggunakannya secara produktif. Kemampuan memanfaatkan AI perlu diimbangi dengan pemahaman terhadap kebutuhan pasar, kreativitas, dan kemampuan mengembangkan ide menjadi produk yang memiliki nilai guna,” tandasnya.

Dalam konteks kewirausahaan, ia menjelaskan bahwa penguasaan teknologi juga perlu disertai strategi yang tepat. Pemahaman terhadap data pasar, identifikasi kebutuhan konsumen, serta keberanian memulai usaha menjadi bagian penting dalam membangun bisnis digital yang berkelanjutan.

Semangat Hari Santri 2026 menjadi pengingat bahwa kontribusi santri terhadap bangsa dapat diwujudkan melalui berbagai bidang, termasuk inovasi teknologi dan kewirausahaan. Dengan bekal ilmu, akhlakul karimah, kreativitas, serta kemandirian, santri diharapkan mampu menjadi pelaku perubahan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pihaknya akan terus mendorong lahirnya generasi santri yang tidak berhenti sebagai pengguna teknologi, tetapi berani menciptakan karya, membangun usaha, dan mengambil peran dalam penguatan ekonomi digital menuju Indonesia Emas.

“Santri harus memiliki wawasan luas mengenai peluang ekonomi di era digital. Santri masa kini tidak hanya memiliki keunggulan dalam ilmu agama dan akhlak, tetapi juga mampu mengembangkan keterampilan yang relevan dengan perkembangan teknologi dan dunia kerja,” tuturnya.

Ketua HIPSI Sidoarjo Fidi Handoko, S.E., S.Pd. saat menjadi narasumber dalam Seminar Spesial Hari Santri Nasional Tahun 2026. (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA dan HIPSI Sidoarjo Hadirkan Seminar Spesial Hari Santri 2026, Bahas Peluang Bisnis Produk Digital

SIDOARJO — Himma Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Sidoarjo berkolaborasi dengan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menghadirkan Seminar Spesial Hari Santri 2026 bertema ‘Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas: Sharing Sukses Bisnis Produk Digital Zaman Now’ di Hall Lantai 5 Gedung A Kampus II UNUSIDA, Sidoarjo, Selasa (20/10/2026).

Hadir sebagai narasumber, Rektor UNUSIDA Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd.; Founder Santripreneur Academy Dr. Heri Cahyo Bagus Setiawan, M.S.M.; serta Ketua HIPSI Sidoarjo Fidi Handoko, S.E., S.Pd.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua HIPSI Sidoarjo, Fidi Handoko, S.E., S.Pd., menegaskan pentingnya mendorong santri dan generasi muda untuk mengembangkan jiwa kewirausahaan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan seminar kewirausahaan yang menjadi ruang inspirasi bagi peserta untuk mengenal peluang usaha di era modern.

Menurut Fidi, perkembangan teknologi digital membuka berbagai peluang bagi santri untuk membangun usaha, mengembangkan produk, serta memperluas jangkauan pasar. Karena itu, santri perlu membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan kewirausahaan agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Ia berharap, melalui seminar tersebut, peserta dapat memperoleh wawasan dan pengalaman mengenai pengembangan bisnis produk digital, strategi membangun usaha di era modern, serta peluang santri untuk berkontribusi dalam memperkuat perekonomian masyarakat.

“Seminar ini menjadi ruang inspirasi bagi santri dan generasi muda untuk mengenal peluang usaha di era digital sekaligus menumbuhkan jiwa kewirausahaan yang inovatif, mandiri, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi,” ujarnya.

Fidi menambahkan, pengembangan kewirausahaan di kalangan santri perlu didukung melalui kolaborasi berbagai pihak. Sinergi tersebut menjadi salah satu langkah untuk memperluas akses pengetahuan, membangun jejaring usaha, serta mendorong lahirnya wirausahawan muda yang mampu memanfaatkan teknologi secara produktif.

Menurutnya, santri memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam perkembangan ekonomi digital. Bekal ilmu agama dan akhlak yang dimiliki perlu diiringi dengan kemampuan berinovasi, keberanian mengambil peluang, serta keterampilan mengelola usaha.

“Kolaborasi ini menjadi salah satu upaya mendorong santri agar tidak hanya unggul dalam ilmu dan akhlak, tetapi juga mampu berinovasi, berwirausaha, serta mengambil peran dalam perkembangan ekonomi digital,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa penguatan kemandirian ekonomi santri merupakan bagian penting dari upaya mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan masa depan. Melalui kewirausahaan, ini menekankan santri tidak hanya mampu menciptakan peluang bagi dirinya sendiri, tetapi juga membuka kesempatan kerja dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Momentum Hari Santri 2026 kali ini menjadi kesempatan untuk memperkuat peran santri dalam pembangunan bangsa. Semangat perjuangan santri perlu diwujudkan melalui kreativitas, kemandirian ekonomi, penguasaan teknologi, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Ia berharap semakin banyak santri yang berani memulai usaha, mengembangkan produk digital, serta menjadi generasi mandiri yang mampu menjawab tantangan ekonomi di era transformasi teknologi.

“Santri harus mampu mengambil bagian dalam mewujudkan Indonesia Emas melalui pengembangan usaha yang inovatif dan berkelanjutan, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan akhlakul karimah,” terangnya.

Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari Badan Otonom (Banom) Nahdlatul Ulama, seperti Fatayat NU, GP Ansor, IPNU, dan IPPNU, hingga mahasiswa UNUSIDA.