Rapat Koordinasi Akademik dalam rangka persiapan perkuliahan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027. (Foto: Humas UNUSIDA)

Mantapkan Persiapan Perkuliahan, UNUSIDA Gelar Rapat Koordinasi Akademik Semester Ganjil 2026/2027

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) melalui Lembaga Sumber Daya Manusia (LSDM) menggelar Rapat Koordinasi Akademik dalam rangka persiapan perkuliahan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027 di Hall Lantai 5 Gedung A, Kampus UNUSIDA, Lingkar Timur, Sidoarjo, Rabu (23/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi akademik sekaligus mendorong transformasi digital melalui pengenalan Sistem Data UNUSIDA (SIDANU) oleh Unit Pelayanan Teknis (UPT) Teknologi dan Informasi (TI) UNUSIDA yang terus bergerak menghadirkan inovasi digital untuk kampus yang terintegrasi, adaptif, dan berdampak.

SIDANU diperkenalkan sebagai platform digital terpadu yang dirancang untuk menghubungkan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, serta berbagai layanan kampus dalam satu pengalaman digital. Mengusung semangat Satu Akses. Satu Data. Satu UNUSIDA, sistem ini menjadi bagian dari upaya universitas dalam membangun ekosistem digital kampus yang terintegrasi, efektif, dan mudah diakses oleh seluruh civitas akademika.

Pengenalan SIDANU ini menjadi langkah strategis UNUSIDA untuk mengembangkan sistem akademik terpadu yang mampu mendukung kelancaran berbagai aktivitas perkuliahan. Melalui integrasi layanan dan data, proses pengelolaan informasi akademik diharapkan menjadi lebih efisien, terstruktur, dan mudah dimanfaatkan sesuai kebutuhan pengguna.

Transformasi digital di lingkungan perguruan tinggi menjadi salah satu upaya penting dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan. Pemanfaatan teknologi tidak hanya berkaitan dengan penggunaan aplikasi, tetapi juga bagaimana sistem yang dibangun mampu menyederhanakan proses administrasi, mempercepat akses informasi, serta mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat berdasarkan data.

Melalui SIDANU, UNUSIDA berupaya menghadirkan pengalaman digital yang lebih terhubung bagi seluruh civitas akademika. Mahasiswa diharapkan dapat memperoleh kemudahan dalam mengakses layanan akademik, sementara dosen dan tenaga kependidikan dapat terbantu dalam menjalankan tugas serta mengelola informasi yang berkaitan dengan kegiatan kampus.

Selain pengenalan sistem digital, rapat koordinasi akademik ini menjadi bagian penting dalam menyelaraskan kesiapan berbagai unsur universitas menjelang dimulainya perkuliahan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027. Koordinasi diperlukan agar penyelenggaraan kegiatan akademik berjalan lebih terarah, mulai dari kesiapan layanan hingga dukungan administrasi yang menunjang proses pembelajaran.

Pengembangan ekosistem digital terpadu juga membutuhkan keterlibatan seluruh unsur kampus. Karena itu, penerapan SIDANU diharapkan tidak hanya menjadi inovasi teknologi, tetapi juga mendorong terbentuknya budaya kerja yang lebih kolaboratif, adaptif, dan berorientasi pada pelayanan. Kesamaan akses terhadap data dan informasi menjadi salah satu fondasi untuk memperkuat koordinasi lintas unit di lingkungan universitas.

Dengan mengintegrasikan sistem akademik dan layanan kampus dalam satu platform, UNUSIDA terus berupaya menjawab kebutuhan perguruan tinggi di era digital. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen universitas untuk meningkatkan mutu tata kelola pendidikan tinggi melalui pemanfaatan teknologi yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan.

Ke depan, pengembangan SIDANU diharapkan dapat mendukung terwujudnya layanan akademik yang semakin mudah, cepat, dan terintegrasi. Melalui semangat Satu Akses. Satu Data. Satu UNUSIDA, seluruh civitas akademika diajak untuk bersama-sama membangun ekosistem digital kampus yang kuat, demi mendukung proses pembelajaran yang berkualitas dan tata kelola universitas yang semakin baik.

Rapat Koordinasi Akademik ini juga berkolaborasi dengan Biro Akademik UNUSIDA yang menyampaikan penjelasan mengenai hak dan kewajiban dosen dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran di lingkungan UNUSIDA. Penyampaian ini bertujuan untuk menyamakan pemahaman seluruh dosen terkait standar pelaksanaan perkuliahan, tanggung jawab dalam proses pembelajaran, serta pemenuhan hak dan kewajiban sesuai dengan ketentuan akademik yang berlaku. Melalui koordinasi ini, diharapkan dosen dapat menjalankan tugas secara profesional, disiplin, dan bertanggung jawab, sehingga tercipta proses pembelajaran yang tertib, berkualitas, serta mendukung peningkatan mutu akademik UNUSIDA.

UNUSIDA Kembali Torehkan Prestasi, Empat Publikasi Internasional Terindeks Scopus Terbit pada 2026 1

UNUSIDA Kembali Torehkan Prestasi, Empat Publikasi Internasional Terindeks Scopus Terbit pada 2026

Sidoarjo, 7 Oktober 2026 – Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menorehkan prestasi di bidang akademik melalui terbitnya empat artikel ilmiah pada publikasi internasional terindeks Scopus tahun 2026. Capaian ini mendapat apresiasi dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNUSIDA sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi dan dedikasi para dosen dalam mengembangkan ilmu pengetahuan melalui penelitian yang relevan dengan perkembangan zaman.

Keempat publikasi tersebut mengangkat tema-tema strategis yang berkaitan dengan transformasi pendidikan berbasis teknologi digital, pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI), pembelajaran interaktif, serta pengembangan konten pemasaran digital berbasis generative AI. Tema-tema tersebut mencerminkan perhatian sivitas akademika UNUSIDA terhadap inovasi, pemanfaatan teknologi, dan pengembangan pendekatan pembelajaran maupun komunikasi digital yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.

LPPM UNUSIDA menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus ucapan selamat dan apresiasi kepada seluruh dosen yang terlibat dalam publikasi tersebut. Capaian ini diharapkan menjadi motivasi bagi para dosen untuk terus meningkatkan produktivitas penelitian, memperluas kolaborasi akademik, dan menghasilkan karya ilmiah yang mampu memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan di tingkat nasional maupun internasional.

Empat Publikasi dengan Fokus Riset Strategis

Publikasi pertama berjudul “Roles of Artificial Intelligence in Early Childhood Education: A Systematic Review of Adaptive Learning, AI Literacy, and Safe Learning Ecosystems”. Artikel ini ditulis oleh Rif’Atul Anita, Shofiyatuz Zahroh, Ana Christanti, Wachyudi Achmad, dan Winda Qurrota Ayun.

Penelitian tersebut mengangkat peran kecerdasan buatan dalam pendidikan anak usia dini dengan meninjau pembelajaran adaptif, literasi AI, serta pembentukan ekosistem pembelajaran yang aman. Topik ini relevan dengan perkembangan teknologi pendidikan yang semakin mendorong personalisasi pembelajaran sekaligus menekankan pentingnya pemahaman teknologi dan perlindungan peserta didik. Kajian tersebut menjadi bagian dari diskusi akademik mengenai bagaimana teknologi AI dapat dipertimbangkan dalam proses pendidikan anak usia dini secara tepat dan bertanggung jawab.

Publikasi kedua berjudul “Future Education Through Wordwall-Based Project-Based Learning in Basic Education: A Digital Gamified Approach to Science and Social Humanities Learning”. Artikel ini ditulis oleh Moh. Anang Abidin, Risalul Ummah, Thaufan Falaki, Evi Mahsunah, Ali Masykuri, dan Dwinta Alfiyatun Nuriyah.

Artikel ini membahas pendekatan pembelajaran berbasis proyek yang memanfaatkan platform Wordwall melalui konsep gamifikasi digital dalam pembelajaran sains serta ilmu sosial dan humaniora pada pendidikan dasar. Pemanfaatan teknologi interaktif dalam pembelajaran menjadi salah satu pendekatan yang dapat mendukung pengalaman belajar yang lebih menarik dan partisipatif. Melalui tema tersebut, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan wacana mengenai inovasi pembelajaran yang memadukan aktivitas proyek dengan pemanfaatan media digital.

Publikasi ketiga berjudul “Kahoot-Based Digital Worksheets for Future Personalized Learning in English for Young Learners Descriptive Text Instruction”. Artikel ini ditulis oleh Ruri Fadhilah Kurniati, Elza Fiilmilla Sutejo, Muawwinatul Laili, Milla Ahmadia Apologia, dan Feri Kuswanto.

Penelitian ini menyoroti penggunaan lembar kerja digital berbasis Kahoot untuk mendukung pembelajaran bahasa Inggris bagi peserta didik usia dini, khususnya pada materi descriptive text. Pengembangan media pembelajaran digital menjadi salah satu upaya untuk menghadirkan kegiatan belajar yang lebih interaktif dan menyesuaikan kebutuhan peserta didik. Integrasi platform digital dengan materi pembelajaran bahasa Inggris juga membuka ruang pengembangan metode pengajaran yang lebih variatif sesuai dengan karakteristik pembelajar muda.

Sementara itu, publikasi keempat berjudul “Human–AI Co-Creation in Generative AI–Driven Social Media and Digital Marketing Content Production: A Systematic Literature Review”. Artikel ini ditulis oleh Athika Dwi Wiji Utami, Trias Widha Andari, Putra Uji Deva Satrio, Akhya’ Muhammad Khaidzir, Ragil Noviyanti, dan Amalia Hartiningrum.

Berbeda dari tiga publikasi sebelumnya yang berfokus pada bidang pendidikan, artikel ini mengkaji kolaborasi manusia dan AI generatif dalam produksi konten media sosial serta pemasaran digital melalui pendekatan tinjauan literatur sistematis. Topik ini memiliki relevansi dengan perkembangan industri kreatif dan pemasaran digital yang semakin memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan. Kajian tersebut turut memperkaya diskusi akademik mengenai hubungan kreativitas manusia, kapabilitas teknologi, dan proses produksi konten digital.

Memperkuat Budaya Riset dan Kolaborasi Akademik

Terbitnya empat publikasi internasional tersebut menjadi momentum penting bagi UNUSIDA untuk terus memperkuat budaya penelitian di lingkungan perguruan tinggi. Publikasi ilmiah pada jurnal atau prosiding internasional bereputasi merupakan salah satu sarana bagi dosen untuk menyebarluaskan gagasan, hasil kajian, dan pengembangan pengetahuan kepada komunitas akademik yang lebih luas.

Selain menjadi bentuk kontribusi akademik, publikasi internasional juga membuka peluang bagi pengembangan jejaring penelitian dan kolaborasi lintas disiplin. Keberagaman tema dalam keempat artikel menunjukkan luasnya ruang pengembangan riset di UNUSIDA, mulai dari pendidikan anak usia dini, inovasi pembelajaran pada pendidikan dasar, pembelajaran bahasa Inggris, hingga pemasaran digital berbasis kecerdasan buatan.

LPPM UNUSIDA diharapkan terus menjadi bagian penting dalam mendorong peningkatan kualitas penelitian dan publikasi ilmiah dosen. Dukungan terhadap pengembangan kapasitas peneliti, peningkatan kolaborasi, serta penguatan budaya akademik menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan produktivitas riset di lingkungan universitas.

Capaian ini sekaligus menjadi dorongan bagi seluruh sivitas akademika UNUSIDA untuk terus berkarya, mengembangkan inovasi, dan menghasilkan penelitian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat serta tantangan global. Dengan semangat kolaborasi dan pengabdian, penelitian diharapkan tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga memberikan inspirasi bagi pengembangan pendidikan, teknologi, dan praktik bisnis yang lebih baik.

LPPM UNUSIDA menyampaikan selamat dan apresiasi kepada seluruh dosen yang telah berkontribusi dalam capaian ini. Semoga prestasi tersebut menjadi penyemangat untuk terus meningkatkan kualitas penelitian, memperluas kontribusi keilmuan, dan membawa nama UNUSIDA semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional.

Terus berkhidmat untuk umat.

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM)
Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA)

Referensi publikasi:

  1. Roles of Artificial Intelligence in Early Childhood Education
  2. Future Education Through Wordwall-Based Project-Based Learning in Basic Education
  3. Kahoot-Based Digital Worksheets for Future Personalized Learning
  4. Human–AI Co-Creation in Generative AI–Driven Social Media and Digital Marketing Content Production
LSDM UNUSIDA Berikan Anugerah Dosen Berprestasi Periode Genap Tahun Akademik 2025/2026. (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA Berikan Anugerah Dosen Berprestasi Tahun Akademik 2025/2026, Apresiasi Dedikasi dan Kontribusi Nyata bagi Pendidikan

SIDOARJO – Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) memberikan Anugerah Dosen Berprestasi Tahun Akademik 2025/2026 Periode Genap sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi, konsistensi, dan kontribusi nyata para dosen dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi. Penghargaan ini diberikan saat Rapat Koordinasi Akademik Persiapan Perkuliahan Semester Ganjil 2026/2027, di Hall Lantai 5 Gedung A, Kampus UNUSIDA, Lingkar Timur, Sidoarjo, Rabu (23/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Dr. Hadi Ismanto, menegaskan bahwa dosen memiliki peran strategis dalam menentukan kualitas pendidikan dan membentuk generasi masa depan. Peran tersebut tidak hanya diwujudkan melalui pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga melalui penelitian, pengembangan keilmuan, pengabdian kepada masyarakat, serta keteladanan dalam kehidupan akademik.

Menurutnya, prestasi dosen merupakan salah satu indikator kontribusi nyata dalam pengembangan institusi. Capaian tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi seluruh sivitas akademika untuk terus meningkatkan kompetensi, menjaga integritas, dan memperkuat kontribusi bagi kemajuan universitas.

“Prestasi bukan hanya tentang pencapaian, tetapi tentang dedikasi, konsistensi, dan kontribusi nyata dalam memberikan dampak bagi pendidikan,” tegasnya.

Ia menyampaikan bahwa penghargaan terhadap prestasi dosen bukan sekadar bentuk apresiasi atas capaian individu. Lebih dari itu, penghargaan menjadi bagian dari upaya universitas dalam membangun budaya kerja yang unggul, produktif, dan berdampak bagi pengembangan akademik.

Melalui penghargaan tersebut, pihaknya mendorong para dosen untuk mempertahankan kinerja positif, terus berinovasi, serta menghasilkan karya yang memberikan manfaat lebih luas bagi mahasiswa, masyarakat, dan institusi.

“Tetap semangat berkarya dan komitmen terhadap peningkatan mutu pendidikan. Hal ini perlu menjadi landasan dalam menjalankan tugas tridarma perguruan tinggi. Dengan demikian, setiap capaian akademik dapat berkontribusi terhadap terciptanya lingkungan pendidikan yang berkualitas dan berkelanjutan,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Lembaga Sumber Daya Manusia (LSDM) UNUSIDA, Jeziano Rizkita Boyas, S.E., M.M., menjelaskan bahwa pemberian penghargaan dilakukan berdasarkan hasil penilaian terhadap kriteria yang telah ditentukan sebelumnya. Proses tersebut menjadi bagian dari upaya institusi untuk memberikan apresiasi secara terukur terhadap kinerja dosen.

Keberadaan dosen yang kompeten dan berdedikasi menjadi salah satu fondasi penting bagi perguruan tinggi dalam menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga karakter, integritas, serta kepedulian sosial. Oleh karena itu, apresiasi terhadap kinerja dosen merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk membangun ekosistem pendidikan yang semakin berkualitas.

Menurutnya, Anugerah Dosen Berprestasi merupakan bentuk penghargaan atas kinerja luar biasa yang telah ditunjukkan oleh para dosen. Penilaian berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan diharapkan dapat mendorong budaya profesionalisme, meningkatkan motivasi, serta memperkuat komitmen dosen dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab akademik.

“Penghargaan ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap mahasiswa yang berkembang, ada dosen yang terus menginspirasi, membimbing, dan berkarya. Anugerah ini juga merupakan bentuk apresiasi terhadap kinerja dosen yang telah memenuhi kriteria penilaian yang ditetapkan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia berharap penghargaan tersebut dapat menjadi motivasi bagi dosen lainnya untuk terus meningkatkan kompetensi, mengembangkan inovasi pembelajaran, memperkuat produktivitas akademik, serta menghadirkan kontribusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

“Semoga langkah ini menjadi penguatan sumber daya manusia merupakan langkah strategis untuk mendorong kemajuan institusi. Budaya apresiasi seperti ini juga dapat menumbuhkan lingkungan kerja yang positif, mendorong kolaborasi, dan memberikan ruang bagi setiap dosen untuk terus mengembangkan potensi serta menghasilkan karya yang bermanfaat,” harapnya.

Melalui Anugerah Dosen Berprestasi Tahun Akademik 2025/2026 Periode Genap, ia menegaskan komitmennya untuk terus menghargai kontribusi sivitas akademika sekaligus mendorong peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan.

Anugerah bagi dosen juga menjadi pengingat bahwa prestasi lahir melalui proses panjang yang membutuhkan komitmen, integritas, konsistensi, dan kemauan untuk terus berkembang. Pengakuan atas kinerja tersebut diharapkan dapat memperkuat motivasi sivitas akademika untuk bersama-sama membawa UNUSIDA menjadi perguruan tinggi yang semakin unggul dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.

“Selamat kepada seluruh dosen penerima Anugerah Dosen Berprestasi UNUSIDA Tahun Akademik 2025/2026 Periode Genap. Semoga penghargaan ini menjadi penyemangat untuk terus berkarya, menginspirasi, dan menciptakan dampak nyata bagi pendidikan tinggi, masyarakat, dan Indonesia,” pungkasnya.

Adapun tiga dosen yang meraih penghargaan tersebut adalah Achmad Wicaksono, S.Ak., M.Ak., yang menempati peringkat pertama, Muchammad Tamyiz, S.Si., M.Si., Ph.D., sebagai peringkat kedua, serta Ruri Fadhilah Kurniati, S.Hum., M.Pd., yang meraih peringkat ketiga.

Anugerah Dosen Berprestasi UNUSIDA Periode Genap Tahun Akademik 2025/2026 juga mendapat dukungan dari Pegadaian Syariah Sidoarjo, yang turut memberikan apresiasi berupa tabungan emas kepada para dosen berprestasi. Dukungan ini menjadi bentuk sinergi positif antara dunia pendidikan dan lembaga keuangan syariah dalam menghargai dedikasi serta kontribusi insan akademik.

Kisah Inspiratif Adinda Jannatin Aliyah, Alumni PIAUD UNUSIDA yang Berhasil Taklukkan Rasa Introvert dan Mengabdi sebagai Pendidik Anak Usia Dini 2

Kisah Inspiratif Adinda Jannatin Aliyah, Alumni PIAUD UNUSIDA yang Berhasil Taklukkan Rasa Introvert dan Mengabdi sebagai Pendidik Anak Usia Dini

SIDOARJO – Perjalanan menjadi seorang pendidik bukan hanya tentang menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga keberanian untuk terus berkembang, membangun kepercayaan diri, dan mengabdikan diri bagi generasi masa depan. Hal inilah yang tergambar dalam kisah Adinda Jannatin Aliyah Wahyu Permani, S.Pd., alumni Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) tahun 2025, yang kini berkiprah sebagai operator di RA Salman Al Farizi Medayu Utara.

Perjalanan Adinda menjadi inspirasi bahwa latar belakang kepribadian bukanlah batasan untuk meraih cita-cita. Berangkat dari pribadi yang cenderung introvert, ia berhasil membangun kepercayaan diri untuk tampil di depan kelas, berinteraksi dengan anak-anak, serta menjalankan peran dalam dunia pendidikan anak usia dini. Pengalaman selama menempuh pendidikan di PIAUD UNUSIDA menjadi salah satu bagian penting dalam proses pertumbuhan tersebut.

Bagi Adinda, kuliah di UNUSIDA bukan sekadar perjalanan akademik untuk memperoleh gelar sarjana. Lebih dari itu, masa perkuliahan menjadi ruang untuk mengenali potensi diri, mengembangkan keterampilan, dan mempersiapkan mental agar mampu menghadapi tantangan di dunia kerja. Berbagai ilmu dan pengalaman praktik yang diperoleh selama perkuliahan memberinya bekal untuk menjalani profesi di lingkungan pendidikan anak usia dini.

Menurutnya, pendidikan di PIAUD tidak hanya memberikan pemahaman teoretis mengenai tumbuh kembang anak, tetapi juga membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal praktik pembelajaran secara lebih dekat. Pengalaman tersebut menjadi modal penting bagi calon pendidik dalam memahami karakteristik anak, membangun komunikasi, serta menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan.

Bagi seseorang yang sebelumnya merasa kurang percaya diri untuk tampil di hadapan banyak orang, pengalaman praktik menjadi kesempatan berharga untuk melatih keberanian. Proses belajar, mencoba, dan menghadapi berbagai situasi selama perkuliahan membantunya membangun kesiapan untuk terjun ke dunia pendidikan. Kepercayaan diri yang tumbuh secara bertahap menjadi salah satu bekal yang ia bawa setelah menyelesaikan studi.

“Dari seorang introvert, menjadi seorang guru yang berani berdiri di depan kelas dengan penuh percaya diri. PIAUD UNUSIDA menjadi bagian penting dalam perjalanan karier saya sebagai Guru RA. Dari kampus ini, saya mendapatkan banyak ilmu, pengalaman praktik, sekaligus mental untuk mengajar dengan hati,” ungkap Adinda dalam refleksinya mengenai perjalanan selama menempuh pendidikan di UNUSIDA.

Kini, Adinda menjalankan perannya sebagai operator di RA Salman Al Farizi Medayu Utara. Pengalaman dan pengetahuan yang diperolehnya selama kuliah menjadi bekal untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja serta memahami dinamika lembaga pendidikan anak usia dini. Perannya di lingkungan RA juga menjadi bagian dari kontribusi dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan yang baik bagi anak-anak.

Dunia pendidikan anak usia dini membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menyampaikan materi. Dibutuhkan kesabaran, kepedulian, komunikasi yang baik, serta kemauan untuk memahami setiap anak sebagai individu yang memiliki karakter dan kebutuhan berbeda. Karena itu, pembelajaran selama kuliah menjadi fondasi penting untuk membangun sikap profesional sekaligus kepedulian terhadap proses tumbuh kembang anak.

Bagi Adinda, menjadi bagian dari dunia pendidikan merupakan kesempatan untuk terus belajar dan memberikan manfaat. Ia memahami bahwa setiap pengalaman, baik selama masa perkuliahan maupun ketika memasuki dunia kerja, dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan diri. Tantangan yang dihadapi bukan alasan untuk berhenti, melainkan kesempatan untuk memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang lebih siap dalam menjalankan tanggung jawab.

Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada PIAUD UNUSIDA atas ilmu dan pengalaman yang telah menjadi bagian dari perjalanannya. Menurutnya, bekal yang diperoleh dari kampus memberikan dorongan untuk terus berkembang, mendidik dengan penuh kepedulian, dan memberikan yang terbaik bagi anak-anak.

“Terima kasih PIAUD UNUSIDA. Berkat ilmu dan pengalaman yang diberikan, saya semakin percaya diri untuk mendidik, mendampingi, dan memberikan yang terbaik bagi anak-anak. Karena pendidikan bukan hanya tentang mengajar, tetapi tentang mengabdi dengan hati dan tumbuh bersama generasi masa depan,” tuturnya.

Kisah Adinda menjadi gambaran bahwa keberhasilan pendidikan tinggi tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari perubahan positif dalam diri mahasiswa dan kemampuan mereka menerapkan ilmu di tengah masyarakat. Keberanian untuk keluar dari zona nyaman, kemauan untuk terus belajar, dan kesungguhan dalam menjalankan profesi merupakan nilai penting yang dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa maupun calon mahasiswa.

Melalui kisah alumninya, UNUSIDA terus menghadirkan inspirasi mengenai pentingnya pendidikan yang mendukung pengembangan kompetensi sekaligus karakter. Pengalaman Adinda menunjukkan bahwa kampus dapat menjadi ruang untuk bertumbuh, menemukan potensi, dan mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja.

Perjalanan dari pribadi yang introvert hingga mampu membangun kepercayaan diri dalam dunia pendidikan menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berkembang. Dengan bekal ilmu, pengalaman, dan semangat pengabdian, Adinda Jannatin Aliyah Wahyu Permani membuktikan bahwa langkah kecil untuk berani mencoba dapat menjadi awal dari perjalanan besar dalam memberikan manfaat bagi generasi masa depan.

UNUSIDA, tempat bertumbuh, berdaya, dan melahirkan generasi yang siap memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Vinna Gayuh Asih, berhasil meraih Juara Harapan 3 kategori Stand Up Comedy dalam ajang KMI Expo XVII 2026. (Foto: Humas UNUSIDA)

Mahasiswa Akuntansi UNUSIDA, Vinna Gayuh Asih Raih Juara Harapan 3 Stand Up Comedy KMI Expo XVII

PURWOKERTO – Mahasiswa Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Vinna Gayuh Asih, berhasil meraih Juara Harapan 3 kategori Stand Up Comedy dalam ajang KMI Expo XVII 2026 yang diselenggarakan di Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) Purwokerto, Senin-Jum’at (27/9-2/10/2026) lalu.

Prestasi tersebut menjadi pengalaman istimewa bagi Vinna. Terlebih, kompetisi tersebut merupakan pengalaman pertamanya mengikuti lomba stand up comedy. Ia bahkan mengaku sebelumnya tidak pernah secara khusus menyaksikan penampilan para komika.

Perjalanan Vinna menuju KMI Expo XVII juga tidak berlangsung secara instan. Sebelum tampil di panggung nasional, terdapat sejumlah tahapan dan proses seleksi yang harus dilalui. Setiap tahap dipersiapkan dengan sebaik mungkin, termasuk mempelajari pengalaman peserta dan tim yang lolos pada tahun sebelumnya untuk kemudian dikembangkan dengan inovasi baru.

“Jujur senang, kaget, nggak expect, campur aduk. Alhamdulillah banget bisa diberi kesempatan untuk meraih Juara Harapan 3,” ujar Vinna kepada Humas UNUSIDA, Senin (5/10/2026).

Dalam tahap awal, Vinna mengirimkan materi stand up comedy melalui unggahan YouTube dengan durasi tiga bit. Setelah dinyatakan lolos 20 besar, ia harus mempersiapkan materi lima bit untuk ditampilkan dalam final show di UNSOED dengan durasi sekitar 8–9 menit.

Persiapan tersebut menjadi tantangan tersendiri. Dengan waktu yang relatif singkat, hanya sekitar tiga hari sebelum tampil, Ketua PAC IPPNU Wonoayu tersebut memaksimalkan proses menghafal, mendalami, dan membawakan materi di sela-sela kesibukannya mengikuti rangkaian KMI Expo.

“Sejujurnya saya tidak pernah stand up comedy. Saya hanya ingin coba-coba. Kemudian dibantu mas saya di PAC IPNU-IPPNU untuk sharing dan combud materi,” ungkapnya.

Menurut Vinna, dalam stand up comedy, penyampaian atau delivery menjadi bagian penting selain materi. Ia menyebut pengalaman tampil di panggung nasional dengan audiens dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia membuat adrenalinnya meningkat.

Situasi tersebut sempat membuat Vinna mengalami kendala ketika tampil. Ia mengaku sempat lupa sebagian materi dan hanya mampu membawakan sekitar dua setengah bit dari materi yang telah dipersiapkan.

Namun, pengalaman mengolah materi membuatnya mampu tetap melanjutkan penampilan. Materi yang telah disiapkan dengan pola yang saling berkesinambungan membantunya melakukan improvisasi ketika mengalami kendala di atas panggung.

“Adrenalinnya sangat besar. Saya sempat terlupa dan hafal dua bit setengah saja. Tapi untungnya materinya sudah disiapkan bomslide dan kalau lupa masih bisa berkesinambungan kalau lompat-lompat bit-nya,” tuturnya.

Angkat Keresahan dari Produk Kewirausahaan

Menariknya, materi yang dibawakan Vinna tidak dibuat tanpa konsep. Ia mendapatkan inspirasi dari tema utama kompetisi, yakni kewirausahaan, kemudian mengolah berbagai keresahan yang ditemuinya dalam pengalaman mengembangkan produk keripik gayam melalui program P2MW.

Dalam proses kreatifnya, Vinna menggunakan teknik little man in big situation, yakni menempatkan dirinya dalam situasi yang besar atau rumit. Dari berbagai keresahan tersebut kemudian dikembangkan menjadi premis komedi dengan pola dasar setup dan punchline.

Ia juga menerapkan sejumlah teknik dalam stand up comedy, seperti rule of three, callback, hingga riffing.

“Kalau waktu sharing, saya dapat ilmu bahwa materi stand up itu dari keresahan. Dari premis tersebut baru kita cari lucunya,” jelasnya.

Bagi Vinna, seluruh rangkaian KMI Expo XVII meninggalkan kesan tersendiri. Bukan hanya kompetisinya, tetapi juga suasana, rasa lelah, adrenalin, lingkungan, hingga kebersamaan bersama tim dan keluarga besar UNUSIDA.

Salah satu momen yang paling dikenangnya adalah kebersamaan bersama tim UNUSIDA di penginapan sebelum kembali melanjutkan perjuangan di arena kompetisi.

“Ada momen kebersamaan saat kumpul dan sharing bareng keluarga UNUSIDA di penginapan sebelum besok lanjut tempur, dan mencoba berbagi makanan serta camilan yang aneh-aneh waktu keliling stand,” katanya sambil tertawa.

Vinna tidak menjalani perjuangan tersebut seorang diri. Dukungan datang dari timnya, yakni Izza, Cecil, Naya, dan Usman, kakaknya, ibu dan kakaknya, dosen pembimbing, serta tim UNUSIDA yang turut hadir dalam KMI Expo XVII.

Bagi Vinna, keberhasilan tersebut memiliki makna tersendiri sebagai mahasiswa Akuntansi UNUSIDA. “Gini ya rasanya juara naik panggung sambil njereng bendera kampus tercinta dan masuk feed Instagram UNUSIDA.official, slebew,” ujarnya dengan nada penuh kegembiraan.

Jangan Takut Mencoba

Pengalaman pertama mengikuti stand up comedy hingga berhasil masuk 20 besar dan meraih Juara Harapan 3 menjadi pelajaran penting bagi Vinna. Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi dorongan bagi mahasiswa UNUSIDA maupun kader muda NU yang masih ragu menunjukkan bakatnya.

Ia berpesan agar mahasiswa tidak takut melewati pengalaman pertama, sebab setiap keberhasilan selalu diawali dengan keberanian untuk mencoba.

“Semua di dunia ini kalau sifatnya pertama kali itu asli susah. Tapi semua hal di dunia ini ada pertama kalinya. Kita hanya cukup melewati itu dan lakukan berulang kali untuk jadi pemenang,” pesannya.

Vinna juga mengingatkan agar mengikuti kompetisi tidak sekadar untuk menggugurkan kewajiban. Menurutnya, setiap kesempatan harus dipersiapkan dengan sungguh-sungguh dan disertai target terbaik.

“Perlu melakukan yang terbaik, biar Tuhan menyelesaikan sisanya. Kalau mau lomba, jangan hanya ikut dan selesai saja. Benar-benar incar juara satu. Kalau meleset, kita bisa juara dua atau tiga,” pungkasnya.

Mahasiswa UNUSIDA mengikuti upacara Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2026 yg diselenggarakan Pemkab Sidoarjo. (Foto: Humas UNUSIDA)

Hari Kesaktian Pancasila: Saatnya Mahasiswa Menghidupkan Nilai, Bukan Sekadar Menghafalnya

SIDOARJO — Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober bukan semata-mata momentum untuk mengenang perjalanan sejarah bangsa. Bagi mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), peringatan ini juga dapat menjadi ruang refleksi tentang bagaimana nilai-nilai Pancasila tetap relevan di tengah tantangan kehidupan generasi muda saat ini.

“Bagi saya, Hari Kesaktian Pancasila bukan sekadar mengenang peristiwa 1965, tetapi menjadi bahan refleksi. Pancasila dulu bertahan karena dijaga bersama. Sekarang tantangannya berbeda, bukan lagi sekadar pemberontakan, tetapi juga sikap apatis, intoleransi, dan korupsi,” ungkap Nelly seorang mahasiswi UNUSIDA, Kamis (1/10/2026).

Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya menghafalkan lima sila. Sebagai bagian dari generasi muda, mahasiswa juga memiliki tanggung jawab untuk memahami, mengkritisi, dan mengamalkan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau ada praktik yang tidak sesuai dengan nilai Pancasila, kita harus berani mengkritisi. Kesaktian Pancasila baru benar-benar terbukti kalau nilainya hidup dalam perilaku kita, bukan hanya dibacakan saat upacara,” ujarnya.

Pengamalan tersebut, lanjutnya, tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Lingkungan kampus justru menjadi tempat paling dekat untuk membangun karakter yang sesuai dengan nilai Pancasila.

Salah satunya adalah menjaga kejujuran dalam proses akademik. Tidak menyontek, tidak melakukan plagiarisme, serta mengerjakan tugas dengan kemampuan sendiri merupakan bentuk sederhana dari membangun integritas. Kejujuran menjadi bagian penting dalam menciptakan kehidupan yang adil dan bertanggung jawab.

“Mulai dari hal yang paling dekat. Jujur ketika mengerjakan tugas dan ujian, tidak menyontek atau melakukan plagiarisme. Integritas itu pondasi keadilan,” jelasnya.

Selain kejujuran, mahasiswa juga perlu membangun budaya berdiskusi dan bermusyawarah. Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam kehidupan kampus. Namun, perbedaan tersebut semestinya tidak menjadi alasan untuk merasa paling benar ataupun merendahkan pandangan orang lain.

Begitu pula dalam pergaulan. Mahasiswa dituntut untuk tidak memilih-milih teman berdasarkan suku, agama, maupun latar belakang organisasi. Lingkungan kampus yang beragam dapat menjadi ruang untuk belajar menghargai perbedaan sekaligus membangun persaudaraan.

“Kalau di kampus saja kita bisa belajar adil dan terbuka, nanti ketika terjun ke masyarakat kita sudah terbiasa menghadapi perbedaan dengan sikap yang dewasa,” tuturnya.

Ia juga menilai bahwa generasi muda yang mencerminkan nilai Pancasila bukan selalu mereka yang melakukan sesuatu dalam skala besar. Kepedulian terhadap lingkungan sekitar, keberanian bersikap dengan tetap menghormati perbedaan, serta kemauan untuk berkontribusi sesuai bidang masing-masing juga merupakan bentuk nyata pengamalan Pancasila.

“Tidak harus yang besar-besar. Yang penting konsisten dan bermanfaat bagi orang lain,” katanya.

Pada akhirnya, Hari Kesaktian Pancasila dapat menjadi pengingat bahwa mencintai Indonesia tidak cukup hanya dengan mengucapkan rasa bangga sebagai warga negara. Kebanggaan tersebut perlu dibuktikan melalui tindakan nyata, dimulai dari lingkungan terdekat.

“Jangan hanya bangga menjadi orang Indonesia, tetapi buktikan melalui tindakan. Pancasila akan benar-benar sakti kalau kita sebagai generasi muda mau menghidupkan nilainya setiap hari, mulai dari lingkungan terdekat,” tuturnya.

Baginya, Pancasila bukan sekadar materi yang dipelajari di ruang kelas atau lima sila yang dihafalkan. Ia menjadi nilai yang diuji melalui kejujuran, kepedulian, sikap menghargai perbedaan, keberanian menyampaikan pendapat, serta kemauan untuk memberikan manfaat bagi sesama.

“Selamat Hari Kesaktian Pancasila. Saatnya nilai Pancasila hidup dalam tindakan,” pungkasnya.

UKM MAHISRA dan PPK ORMAWA PBI UNUSIDA Dorong Aksi Nyata, Limbah Minyak Jelantah Disulap Jadi Sabun Bernilai Ekonomi 3

UKM MAHISRA dan PPK ORMAWA PBI UNUSIDA Dorong Aksi Nyata, Limbah Minyak Jelantah Disulap Jadi Sabun Bernilai Ekonomi

KEDUNGPANDAN, JABON, SIDOARJO — Kepedulian terhadap lingkungan kembali diwujudkan mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) melalui aksi nyata di tengah masyarakat. UKM Mahisra bersama PPK Ormawa HIMA PBI 2026 UNUSIDA sukses menyelenggarakan Program Pemanfaatan Limbah Minyak Jelantah Menjadi Sabun di Desa Kedungpandan, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo, Sabtu (26/9/2026).

Kegiatan yang mengusung tema “RUANG BINA; PETA LANGKAH MASYARAKAT” tersebut mendapat sambutan positif dari Pemerintah Desa Kedungpandan dan ibu-ibu PKK. Program ini menjadi ruang edukasi sekaligus praktik bagi masyarakat untuk memahami bahwa limbah rumah tangga, khususnya minyak jelantah, masih dapat dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai guna.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat mendapatkan edukasi mengenai pemanfaatan minyak jelantah untuk diolah menjadi produk rumah tangga, khususnya sabun cuci piring dan sabun cuci tangan. Selain mengurangi potensi pembuangan limbah minyak secara sembarangan, kegiatan ini juga memperkenalkan peluang pemanfaatan limbah menjadi produk yang berpotensi dikembangkan secara berkelanjutan.

Ketua Pelaksana Kegiatan, Mei Indah Ningrum, menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah mendukung terlaksananya kegiatan tersebut. Ia secara khusus mengucapkan terima kasih kepada Ketua UKM Mahisra, Diana Siti Ariyani, dan Ketua PPK Ormawa, Zainira Ihsanty, yang telah memberikan kepercayaan kepadanya untuk menjadi ketua pelaksana.

“Saya sangat berterima kasih kepada Ketua UKM Mahisra dan Ketua PPK Ormawa yang telah memberikan kepercayaan kepada saya sebagai ketua pelaksana. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Kepala Desa Kedungpandan, Bapak Wawan Hermawan, serta ibu-ibu PKK yang telah menyambut dan mengikuti kegiatan ini dengan penuh antusias,” ujar Mei.

Menurut Mei, program tersebut tidak hanya berorientasi pada keterampilan membuat produk, tetapi juga diharapkan mampu membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan limbah rumah tangga.

“Kita tidak perlu membuang minyak jelantah sembarangan atau mencampurkannya dengan sampah rumah tangga. Minyak jelantah dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang berguna, seperti sabun cuci piring dan sabun cuci tangan. Kami berharap program ini tidak berhenti pada kegiatan hari ini, tetapi dapat terus berlanjut dan dikembangkan bersama masyarakat Desa Kedungpandan,” tambahnya.

Dukungan terhadap program tersebut juga disampaikan Kepala Desa Kedungpandan, Wawan Hermawan. Ia mengapresiasi inisiatif mahasiswa UNUSIDA yang membawa pengetahuan dan keterampilan baru bagi masyarakat Desa Kedungpandan.

“Saya berterima kasih kepada kakak-kakak dari UKM Mahisra dan PPK Ormawa atas program yang dibawa ke Desa Kedungpandan. Kegiatan pemanfaatan limbah minyak jelantah menjadi sabun cuci tangan dan sabun cuci piring ini sangat bermanfaat dan menarik bagi masyarakat. Sebelumnya belum ada mahasiswa yang memberikan ide seperti ini kepada kami,” ungkap Wawan.

Wawan menilai, pemanfaatan minyak jelantah tidak hanya memiliki manfaat dari sisi lingkungan, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Apabila dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan, hasil olahan tersebut dapat diarahkan menjadi salah satu produk yang mendukung kegiatan UMKM di desa.

“Jika program ini dapat berjalan dengan baik dan dikembangkan secara berkelanjutan, hasil produknya dapat dipasarkan sehingga berpotensi membantu dan mendukung UMKM yang ada di Desa Kedungpandan,” lanjutnya.

Antusiasme masyarakat turut terlihat selama kegiatan berlangsung. Salah satu warga Desa Kedungpandan, Bu Suci, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan yang memberikan pengalaman dan keterampilan baru bagi warga.

“Saya sangat senang dengan adanya kegiatan ini. Warga di sini juga sangat antusias apabila diajak untuk membuat sesuatu yang bermanfaat. Saya berharap program kerja seperti ini dapat terus berlanjut dan ke depannya terdapat beberapa pilihan pengelolaan limbah lainnya yang bisa dikembangkan bersama masyarakat,” ujar Bu Suci.

Melalui program tersebut, UKM Mahisra dan PPK Ormawa HIMA PBI 2026 UNUSIDA berupaya menghadirkan aksi nyata berbasis pemberdayaan masyarakat. Mahasiswa tidak hanya hadir untuk memberikan edukasi, tetapi juga membuka ruang kolaborasi agar masyarakat dapat terlibat langsung dalam proses pembelajaran dan pengembangan potensi yang ada di lingkungannya.

Pemanfaatan minyak jelantah menjadi sabun menjadi salah satu langkah awal untuk mendorong perubahan cara pandang terhadap limbah rumah tangga. Limbah yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat diolah menjadi produk yang memiliki manfaat sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi masyarakat.

Program ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi dapat menjadi bagian dari proses pemberdayaan masyarakat Desa Kedungpandan. Dengan keberlanjutan program, edukasi pengelolaan limbah dapat berkembang menjadi berbagai inovasi lain yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa.

Melalui semangat “RUANG BINA; PETA LANGKAH MASYARAKAT”, mahasiswa UNUSIDA menunjukkan bahwa pengabdian dapat dimulai dari hal sederhana di sekitar masyarakat. Dari minyak jelantah, lahir keterampilan baru; dari keterampilan, terbuka peluang; dan dari kolaborasi, tumbuh langkah menuju masyarakat yang lebih peduli lingkungan sekaligus produktif.

Suasana pembukaan Festival Banjari UKM Religi Nahdlatus Syubban UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

UKM Religi Nahdatus Syubban UNUSIDA Sukses Gelar Festival Albanjari Se-Jawa Timur 2026

SIDOARJO — UKM Religi Nahdatus Syubban Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menggelar Festival Albanjari Se-Jawa Timur 2026 di Masjid KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, Komplek Kampus UNUSIDA, Lingkar Timur, Sidoarjo, Sabtu (26/9/2026). Kegiatan yang diikuti oleh puluhan grup banjari dari berbagai daerah di Jawa Timur ini mengusung tema “Menggema Berselawat, Menyatukan Generasi dalam Harmoni Islam.”

Ketua Pelaksana, Muhammad Zahidan, menyampaikan bahwa festival ini tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga wadah untuk mempererat tali silaturahmi antar kelompok banjari, mengembangkan kreativitas generasi muda, serta menumbuhkan kecintaan terhadap selawat dan seni musik Islami.

“Festival Albanjari Se-Jawa Timur 2026 ini kami selenggarakan sebagai sarana memperkuat ukhuwah Islamiah sekaligus melestarikan tradisi seni Islami yang menjadi bagian dari khazanah budaya Nahdlatul Ulama. Melalui kegiatan ini, generasi muda dapat terus berkarya dan berselawat bersama,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan rasa syukur atas antusiasme peserta yang sangat tinggi pada pelaksanaan tahun ini. Tercatat sebanyak 26 grup banjari dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur turut berpartisipasi dalam festival tersebut.

“Alhamdulillah, pelaksanaan festival tahun ini mendapatkan sambutan yang luar biasa. Sebanyak 26 peserta telah ikut berpartisipasi dan menunjukkan semangat yang tinggi dalam melestarikan seni selawat,” tambahnya.

Atas nama panitia, Zahidan juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, baik kepada panitia maupun peserta. Kepada seluruh peserta, kami ucapkan selamat mengikuti Festival Albanjari Se-Jawa Timur 2026. Tampilkan kemampuan terbaik, junjung tinggi sportivitas, dan yang paling utama, jadikan kegiatan ini sebagai sarana untuk berselawat, bersilaturahmi, serta mempererat ukhuwah Islamiah,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Umum UKM Nahdatus Syubban, Muhammad Habib Ali Dimyati, menyampaikan bahwa generasi muda saat ini masih memiliki kepedulian besar terhadap tradisi Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang diwariskan oleh para ulama dan Wali Songo. Ia berharap semangat berselawat, persaudaraan, dan pelestarian tradisi Islam Nusantara terus tumbuh di kalangan generasi muda, sehingga nilai-nilai Aswaja tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

“Generasi muda hari ini masih tidak melupakan tradisi Islam Nahdlatul Ulama, terutama nilai-nilai Aswaja. Tradisi yang diwariskan oleh Wali Songo, salah satunya melalui penggunaan alat-alat musik tradisional dalam seni banjari, harus terus dilestarikan. Festival Albanjari ini menjadi bukti bahwa generasi muda tetap mencintai dan menjaga tradisi Aswajanya,” ungkapnya.

Pada penutupan acara, panitia mengumumkan para pemenang Festival Albanjari Se-Jawa Timur 2026. Grup Al Irfan Malang berhasil meraih predikat Terbaik 1, disusul Santri Wako Mojokerto sebagai Terbaik 2, dan JDFI Firqotun Nujum Malang sebagai Terbaik 3. Adapun penghargaan Best Vokal diraih oleh GPS Sholawat Sidoarjo, sedangkan Best Aransemen diraih oleh Nur Syafa’ah Mojokerto.

Inspiratif! Savira Rizqiah Ilahi Buktikan Ilmu Manajemen UNUSIDA Berdampak di Dunia Pendidikan 4

Inspiratif! Savira Rizqiah Ilahi Buktikan Ilmu Manajemen UNUSIDA Berdampak di Dunia Pendidikan

Sidoarjo – Perjalanan pendidikan di perguruan tinggi tidak selalu berhenti pada pencapaian gelar. Bagi Savira Rizqiah Ilahi, M.M., alumni Program Studi Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) tahun 2025, pengalaman selama menempuh pendidikan justru menjadi bekal untuk mengembangkan diri dan menerapkan ilmu di dunia kerja.

Kini, Savira mengabdikan diri sebagai guru di MINU KH Mukmin Sidoarjo. Latar belakang pendidikan Manajemen yang ditempuh di UNUSIDA menjadi bagian penting dalam membentuk cara pandangnya terhadap pengelolaan organisasi, sumber daya manusia, kepemimpinan, hingga strategi peningkatan kualitas pendidikan.

Bagi Savira, kuliah bukan sekadar proses untuk mendapatkan gelar akademik. Lebih dari itu, perguruan tinggi menjadi ruang untuk membangun pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sekaligus kepercayaan diri yang dapat diterapkan dalam kehidupan profesional.

“Kuliah bukan sekadar meraih gelar, tetapi membangun pengetahuan dan keahlian manajemen yang dapat diterapkan di dunia pendidikan,” ujar Savira.

Menurutnya, berbagai pengetahuan yang diperoleh selama kuliah memiliki relevansi dengan aktivitas di lingkungan pendidikan. Pemahaman mengenai organisasi, misalnya, dapat membantu seseorang melihat bagaimana sebuah lembaga menjalankan peran dan tanggung jawab masing-masing untuk mencapai tujuan bersama.

Begitu pula dengan pengelolaan sumber daya manusia. Dalam lingkungan pendidikan, kemampuan memahami karakter, membangun komunikasi, serta mengelola potensi individu menjadi hal yang penting. Guru tidak hanya berperan dalam menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga berinteraksi dengan peserta didik, rekan kerja, orang tua, dan berbagai unsur dalam lembaga pendidikan.

Pengalaman belajar Manajemen di UNUSIDA turut memberikan perspektif bagi Savira bahwa kepemimpinan bukan semata-mata tentang posisi atau jabatan. Kepemimpinan juga berkaitan dengan kemampuan mengambil keputusan, bekerja sama, mengelola tanggung jawab, serta memberikan kontribusi bagi lingkungan sekitar.

“Mulai dari memahami organisasi, mengelola SDM, membangun kepemimpinan, hingga menyusun strategi untuk meningkatkan kualitas pendidikan,” ungkapnya.

Dalam perjalanan kariernya sebagai guru, ilmu tersebut menjadi bekal yang dapat mendukung Savira dalam menjalankan perannya di lingkungan pendidikan. Ia membawa pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah untuk terus belajar dan berkembang sesuai dengan kebutuhan di dunia kerja.

Bagi Savira, pengalaman menjadi bagian dari lingkungan akademik UNUSIDA juga menjadi proses pembentukan diri. Perkuliahan tidak hanya memberikan pengetahuan yang bersifat teoritis, tetapi juga membuka ruang untuk mengembangkan pola pikir, kemampuan berkomunikasi, kerja sama, dan keberanian untuk mengambil peran.

Hal tersebut menjadi penting ketika seorang lulusan memasuki dunia kerja. Tantangan yang dihadapi tidak selalu sama dengan situasi di ruang kelas. Karena itu, kemampuan beradaptasi dan mengembangkan pengetahuan menjadi bagian dari proses yang terus berjalan.

Savira pun memandang bahwa ilmu manajemen memiliki ruang penerapan yang luas, termasuk dalam dunia pendidikan. Kemampuan menyusun perencanaan, mengelola sumber daya, membangun koordinasi, dan mengevaluasi proses dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih terarah dan berkualitas.

“Ilmu dari kampus menjadi bekal untuk memimpin, berkembang, dan menciptakan perubahan yang berdampak,” tuturnya.

Kisah Savira menjadi bagian dari perjalanan alumni UNUSIDA yang mengembangkan kompetensi sesuai bidang dan lingkungan pengabdiannya. Setelah menyelesaikan studi Manajemen pada 2025, ia melanjutkan kiprahnya sebagai pendidik di MINU KH Mukmin Sidoarjo.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa kompetensi yang diperoleh dari perguruan tinggi dapat menemukan bentuk penerapannya di berbagai bidang. Ilmu manajemen yang dipelajari Savira menjadi salah satu bekal dalam menjalankan peran profesionalnya di dunia pendidikan.

Bagi UNUSIDA, perjalanan alumni merupakan bagian penting dari keberlanjutan proses pendidikan. Keberhasilan alumni dalam menerapkan ilmu dan berkontribusi di tengah masyarakat menjadi gambaran bahwa pembelajaran di perguruan tinggi dapat terus berkembang menjadi pengalaman nyata setelah mahasiswa menyelesaikan studi.

Melalui kisah Savira, semangat untuk terus belajar, beradaptasi, dan memberikan manfaat menjadi pesan yang relevan bagi mahasiswa maupun calon mahasiswa. Pendidikan tinggi bukan hanya tentang menyelesaikan perkuliahan, tetapi juga tentang mempersiapkan diri untuk mengambil peran di tengah masyarakat.

Savira pun terus melangkah dalam profesinya sebagai guru dengan membawa bekal ilmu Manajemen dari UNUSIDA. Baginya, pengetahuan yang diperoleh selama kuliah bukanlah sesuatu yang berhenti setelah wisuda, melainkan modal yang dapat terus dikembangkan dan diterapkan dalam berbagai situasi.

Dari ruang kuliah menuju ruang pendidikan, perjalanan Savira menjadi pengingat bahwa ilmu dapat memiliki banyak jalan untuk memberikan manfaat. Ketika pengetahuan dipadukan dengan pengalaman, kepemimpinan, dan kemauan untuk terus berkembang, proses pendidikan dapat menjadi bekal untuk menghadirkan kontribusi yang lebih luas bagi lingkungan dan masyarakat.

Suasana PKKMB UNUSIDA 2026 di Masjid KH Muhammad Hasyim Asy'ari PCNU Sidoarjo. (Foto: Humas UNUSIDA)

Mahasiswa UNUSIDA Harus Sedikit ‘Gila’ untuk Mengejar Mimpi Besar

SIDOARJO — Memulai perjalanan sebagai mahasiswa baru bukan sekadar berpindah dari bangku sekolah menengah menuju perguruan tinggi. Bagi mahasiswa baru Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) angkatan 2026/2027, masa awal perkuliahan seharusnya menjadi momentum untuk menentukan seberapa jauh mereka ingin melangkah dan seberapa besar mimpi yang ingin diwujudkan.

Dalam perjalanan itu, keberanian menjadi modal penting. Bahkan, mahasiswa terkadang perlu memiliki sedikit “kegilaan” dalam arti positif: berani memasang target tinggi, berani mengambil peluang, berani mencoba hal baru, dan berani keluar dari zona nyaman.

Ketika seorang mahasiswa baru menetapkan target akademik yang tinggi, memenangkan kompetisi, aktif dalam organisasi, menghasilkan karya ilmiah, atau bahkan membangun inovasi sejak semester awal, tidak semua orang akan langsung memahami pilihannya. Ada kalanya ambisi tersebut dianggap berlebihan atau tidak realistis.

Namun, penilaian lingkungan tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengecilkan mimpi.

Pola pikir serba rata-rata cenderung melahirkan capaian yang juga rata-rata. Jika mahasiswa menjalani kuliah hanya sebatas hadir di kelas, mengerjakan tugas, mengikuti ujian, kemudian menunggu wisuda, maka peluang untuk menghasilkan sesuatu yang luar biasa tentu menjadi lebih kecil.

Mimpi besar membutuhkan energi, fokus, disiplin, dan keberanian yang lebih besar pula.

Meski demikian, “gila” dalam mengejar cita-cita bukan berarti bertindak tanpa perhitungan. Justru keberanian yang dibutuhkan mahasiswa adalah keberanian yang rasional. Mengikuti kompetisi, mengambil peran dalam organisasi, melakukan penelitian, membangun usaha, maupun mencoba teknologi baru harus disertai kalkulasi risiko dan manajemen waktu yang baik.

Ambisi tanpa disiplin hanya akan berubah menjadi kekacauan. Sebaliknya, ambisi yang dipadukan dengan perencanaan matang dapat menjadi mesin penggerak prestasi.

Jangan Takut Keluar dari Zona Nyaman
Lingkungan sosial sering kali mendorong seseorang untuk memilih jalan yang aman. Menjadi mahasiswa yang biasa-biasa saja mungkin terasa nyaman karena tidak terlalu banyak menghadapi risiko kegagalan maupun kritik.

Tetapi kenyamanan yang berlebihan juga dapat menjadi jebakan.

Mahasiswa baru yang ingin berkembang perlu berani bertanya ketika belum memahami materi, berani tampil dalam kompetisi meskipun belum pernah menang, berani mengajukan gagasan meskipun masih mentah, dan berani menerima kritik ketika hasil pekerjaan belum sempurna.

Di sinilah ketahanan mental menjadi penting.

Kegagalan dalam ujian, proposal penelitian yang ditolak, revisi dari dosen, kekalahan dalam kompetisi, atau kegagalan menjalankan program organisasi seharusnya tidak langsung dianggap sebagai akhir perjalanan. Semua itu dapat diperlakukan sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki strategi.

Mentalitas seperti ini sejalan dengan konsep growth mindset yang diperkenalkan psikolog Carol Dweck, yakni pandangan bahwa kemampuan seseorang dapat berkembang melalui proses belajar, usaha, strategi yang tepat, dan pengalaman menghadapi tantangan.

Dengan pola pikir tersebut, tugas yang sulit bukan lagi sesuatu yang harus dihindari. Justru tantangan menjadi ruang untuk meningkatkan kemampuan.

Prestasi Tidak Lahir dari Kenyamanan
Perjalanan menuju prestasi membutuhkan konsistensi. Mahasiswa yang ingin menjadi lulusan terbaik tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan atau bakat.

Konsep grit yang dipopulerkan peneliti Angela Duckworth menekankan pentingnya ketekunan dan konsistensi dalam mengejar tujuan jangka panjang. Dalam konteks mahasiswa, grit dapat terlihat dari kesediaan untuk terus belajar meskipun hasil ujian belum sesuai harapan, memperbaiki penelitian berkali-kali, atau tetap berlatih setelah mengalami kegagalan.

Empat tahun masa perkuliahan adalah perjalanan yang panjang. Semangat yang muncul pada masa orientasi mahasiswa baru sangat mungkin mengalami pasang surut. Karena itu, mahasiswa membutuhkan alasan yang lebih kuat daripada sekadar motivasi sesaat.

Di sinilah makna sebuah cita-cita menjadi penting.

Mahasiswa yang memiliki visi jelas akan lebih mudah menentukan apa yang harus dilakukan dan apa yang perlu dikorbankan. Waktu untuk bersantai mungkin harus dikurangi ketika tenggat penelitian semakin dekat. Kesempatan mengikuti kegiatan yang kurang relevan mungkin harus dilewatkan ketika ada target akademik yang lebih penting.

Pengorbanan tersebut bukan berarti mahasiswa harus kehilangan keseimbangan hidup. Istilah “gila” dalam mengejar mimpi justru harus dipahami sebagai obsesi yang terkendali, semangat besar yang tetap berjalan bersama kesehatan, relasi sosial, tanggung jawab akademik, dan manajemen waktu.

Berani Tidak Populer
Salah satu tantangan terbesar mahasiswa bukan hanya tugas akademik, melainkan keinginan untuk mendapatkan validasi dari lingkungan.

Ada mahasiswa yang sebenarnya memiliki potensi besar, tetapi mengurungkan langkah karena takut dianggap sok pintar. Ada yang enggan mengikuti kompetisi karena takut kalah. Ada pula yang memilih tidak aktif karena khawatir berbeda dengan kelompok pertemanannya.

Padahal, perjalanan menuju prestasi tidak selalu populer.

Steve Jobs pernah dikenal luas karena pandangannya tentang orang-orang yang berani berpikir berbeda dan mengubah keadaan. Pesan yang dapat diambil bukanlah untuk bertindak secara sembrono, melainkan berani mempertanyakan kebiasaan lama dan membayangkan kemungkinan yang belum terlihat.

Dalam kehidupan kampus, keberanian berpikir berbeda dapat dimulai dari hal sederhana: memiliki target yang lebih tinggi, membaca lebih banyak, bertanya lebih kritis, mencoba teknologi baru, membangun jejaring, hingga berani menghasilkan karya.

Tidak semua orang akan langsung memberikan apresiasi. Dan itu tidak masalah. Validasi terbesar seorang mahasiswa pada akhirnya bukan berasal dari tepuk tangan teman, melainkan dari perkembangan dirinya sendiri dan karya nyata yang berhasil dihasilkan.

Kampus Sebagai Ruang untuk Menempa Diri
UNUSIDA bukan hanya tempat untuk memperoleh gelar sarjana. Kampus juga menjadi ruang untuk menempa karakter, kemampuan intelektual, kepemimpinan, kreativitas, serta kepedulian sosial.

Semangat tersebut semakin bermakna ketika perjalanan pendidikan ditempatkan dalam kerangka nilai pengabdian dan khidmah. Bagi mahasiswa UNUSIDA, cita-cita akademik idealnya tidak berhenti pada pencapaian pribadi, tetapi dapat diarahkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Karena itu, menjadi “gila” dalam konteks ini bukan tentang menjadi paling keras, paling sibuk, atau paling banyak kegiatan. Bukan pula tentang mengorbankan kesehatan demi prestasi.

Menjadi “gila” adalah berani memiliki visi yang besar, kemudian membayarnya dengan kerja keras yang nyata.

Berani bermimpi menjadi lulusan terbaik, lalu konsisten belajar.

Berani ingin memenangkan kompetisi, lalu disiplin berlatih.

Berani ingin menghasilkan penelitian, lalu siap menghadapi revisi.

Berani ingin menjadi pemimpin, lalu bersedia belajar mendengarkan.

Berani ingin menciptakan inovasi, lalu tidak takut gagal berkali-kali.

Pada akhirnya, setiap mahasiswa baru memiliki pilihan. Menjalani masa kuliah sekadar untuk menyelesaikan kewajiban atau menjadikannya sebagai perjalanan untuk membangun kapasitas diri dan menghasilkan karya yang berarti.

Jangan takut jika ide besar hari ini dianggap terlalu tinggi. Jangan pula buru-buru menyerah ketika langkah pertama belum menghasilkan apa-apa. Bisa jadi, apa yang hari ini disebut “gila” justru merupakan keberanian yang kelak mengantarkan seseorang menuju prestasi.

Untuk maba UNUSIDA 2026/2027, bermimpilah setinggi mungkin. Beranilah berpikir berbeda. Namun pastikan setiap keberanian dibarengi disiplin, strategi, dan tanggung jawab. Sebab mimpi besar tidak cukup hanya dibayangkan—ia harus diperjuangkan sampai menjadi kenyataan.