Pos

Mahasiswi FKIP UNUSIDA Raih Prestasi Best Intern Putri Program Magang WIJABA 1

Mahasiswi FKIP UNUSIDA Raih Prestasi Best Intern Putri Program Magang WIJABA

SURABAYA – Kabar membanggakan kembali datang dari mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Ainina Halizah Rahma, mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), berhasil meraih penghargaan sebagai Best Intern Putri Divisi Edukasi Lingkungan dalam program Magang WIJABA.

Penghargaan tersebut diterima Ainina pada rangkaian acara graduation program Magang WIJABA yang dilaksanakan di Excotel Hotel Surabaya, Jalan Ahmad Yani No. 119, Jemur Wonosari, Surabaya. Prestasi tersebut menjadi pencapaian membanggakan karena Ainina terpilih sebagai peserta magang terbaik putri dari tiga regional, yakni Sidoarjo, Bali, dan Kediri.

Pencapaian ini sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa UNUSIDA mampu mengembangkan potensi dan kompetensinya tidak hanya melalui kegiatan akademik di dalam kelas, tetapi juga melalui pengalaman profesional di luar kampus. Keikutsertaan dalam program magang menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan, membangun pengalaman kerja, memperluas jejaring, serta mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Sebagai mahasiswa PGSD, Ainina memiliki latar belakang pendidikan yang erat dengan dunia pendidikan dan pengembangan karakter generasi muda. Melalui keterlibatannya dalam Divisi Edukasi Lingkungan, ia memperoleh pengalaman untuk berkontribusi dalam kegiatan edukatif yang berkaitan dengan kepedulian terhadap lingkungan.

Penghargaan Best Intern Putri Divisi Edukasi Lingkungan menjadi bukti atas dedikasi, tanggung jawab, serta kontribusi Ainina selama mengikuti program magang. Capaian tersebut juga menjadi motivasi bahwa mahasiswa dapat mengembangkan kompetensi lintas bidang dengan memanfaatkan berbagai kesempatan pembelajaran yang tersedia.

Program Magang WIJABA memberikan kesempatan kepada peserta untuk memperoleh pengalaman langsung dalam lingkungan kerja dan kegiatan profesional. Selama menjalani program, peserta dituntut untuk mampu beradaptasi, bekerja sama dalam tim, menyelesaikan tanggung jawab, serta menunjukkan kreativitas dalam menjalankan berbagai tugas yang diberikan.

Bagi Ainina, pengalaman tersebut menjadi proses pembelajaran yang berharga. Tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, ia juga berkesempatan mengembangkan kemampuan komunikasi, koordinasi, kerja sama, kepemimpinan, dan pengelolaan kegiatan. Berbagai pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.

Keberhasilan Ainina menjadi Best Intern Putri dari tiga regional juga menunjukkan bahwa persaingan dalam program tersebut berlangsung secara luas. Peserta berasal dari beberapa wilayah dengan latar belakang dan potensi yang beragam. Karena itu, capaian yang diraih Ainina menjadi prestasi yang patut diapresiasi sekaligus menjadi representasi positif mahasiswa UNUSIDA dalam mengikuti program pengembangan diri di luar kampus.

Prestasi ini juga selaras dengan komitmen UNUSIDA dalam mendorong mahasiswa untuk menjadi pribadi yang unggul, adaptif, dan berdampak. Perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam memberikan bekal pengetahuan akademik, tetapi juga perlu membuka ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman praktis dan mengembangkan soft skill yang dibutuhkan di dunia profesional.

Bagi mahasiswa PGSD, pengalaman di bidang edukasi lingkungan memiliki nilai tambah tersendiri. Guru masa depan tidak hanya dituntut memiliki kemampuan mengajar, tetapi juga mampu menanamkan nilai kepedulian, tanggung jawab, dan kesadaran terhadap lingkungan kepada peserta didik. Pengalaman yang diperoleh Ainina selama mengikuti program magang dapat menjadi modal berharga untuk dikembangkan dalam dunia pendidikan.

Kegiatan graduation menjadi momentum penting untuk memberikan apresiasi kepada para peserta yang telah menyelesaikan rangkaian program Magang WIJABA. Penghargaan yang diterima Ainina menjadi salah satu capaian yang menambah deretan prestasi mahasiswa UNUSIDA sekaligus menunjukkan pentingnya keberanian mahasiswa dalam mengambil kesempatan untuk belajar dan berkembang.

Ke depan, capaian tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa UNUSIDA lainnya untuk aktif mengikuti berbagai program magang, kompetisi, organisasi, maupun kegiatan pengembangan kompetensi. Setiap pengalaman yang dijalani selama masa perkuliahan dapat menjadi bagian penting dalam membangun portofolio dan kesiapan menghadapi dunia profesional.

Prestasi Ainina Halizah Rahma juga menjadi pengingat bahwa proses belajar tidak terbatas pada ruang kelas. Pengalaman langsung, interaksi dengan berbagai pihak, kemampuan beradaptasi, serta keberanian mengambil tanggung jawab merupakan bagian penting dari perjalanan mahasiswa menuju dunia kerja.

Dengan diraihnya penghargaan Best Intern Putri Divisi Edukasi Lingkungan, Ainina telah membawa nama baik FKIP dan Program Studi PGSD UNUSIDA dalam program Magang WIJABA. Capaian tersebut diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk terus menorehkan prestasi sekaligus memberikan kontribusi positif di bidang pendidikan dan lingkungan.

UNUSIDA pun terus mendorong lahirnya mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki pengalaman, kompetensi, kreativitas, dan kepedulian sosial. Prestasi Ainina menjadi bukti bahwa dengan dedikasi, kemauan belajar, dan keberanian mengambil peluang, mahasiswa mampu menghasilkan pencapaian yang membanggakan serta memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.

Mahasiswa UNUSIDA Arifin Lolos Top 20 Finalist NPEA 2026, Bawa Nama Kampus dalam Kompetisi Desain Kemasan 2

Mahasiswa UNUSIDA Arifin Lolos Top 20 Finalist NPEA 2026, Bawa Nama Kampus dalam Kompetisi Desain Kemasan

Sidoarjo, 22 Agustus 2026 — Kabar membanggakan datang dari Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Salah satu mahasiswa UNUSIDA, Arifin (NIM 22424064), berhasil masuk dalam jajaran Top 20 Finalist Nusantara Packaging Experience Awards (NPEA) 2026, sebuah kompetisi yang mengangkat kreativitas dan inovasi dalam bidang desain kemasan.

Pencapaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi UNUSIDA karena Arifin berhasil bersaing dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi dan menunjukkan kemampuan dalam menghasilkan karya desain kemasan yang kreatif serta memiliki nilai inovasi. Keberhasilan masuk 20 besar menjadi bukti bahwa mahasiswa UNUSIDA memiliki potensi untuk berkompetisi dan berprestasi di tingkat nasional.

Informasi mengenai keberhasilan Arifin sebagai Top 20 Finalist NPEA 2026 disampaikan oleh Kabiro Humas Kerjasama Sonhaji, yang turut memberikan dukungan atas capaian mahasiswa tersebut. Prestasi ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa UNUSIDA lainnya untuk terus mengembangkan kemampuan, berani mengikuti kompetisi, serta membawa nama baik almamater di berbagai ajang prestasi.

NPEA 2026 memberikan ruang bagi mahasiswa dan generasi muda untuk mengeksplorasi ide-ide kreatif dalam desain kemasan. Kemasan tidak hanya berfungsi sebagai pelindung produk, tetapi juga memiliki peran penting dalam membangun identitas merek, menarik perhatian konsumen, menyampaikan informasi produk, serta meningkatkan daya saing sebuah produk di pasar.

Dalam konteks tersebut, kompetisi desain kemasan menjadi salah satu wadah strategis bagi mahasiswa untuk menggabungkan kreativitas, kemampuan desain, pemahaman terhadap kebutuhan konsumen, serta perspektif pemasaran. Bagi mahasiswa bidang manajemen dan kewirausahaan, kemampuan memahami kemasan sebagai bagian dari strategi pemasaran juga menjadi kompetensi yang relevan dengan perkembangan dunia bisnis saat ini.

Keberhasilan Arifin menembus Top 20 Finalist NPEA 2026 sekaligus menunjukkan pentingnya kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi melalui kegiatan di luar pembelajaran akademik. Kompetisi dapat menjadi sarana untuk menguji kemampuan, memperoleh pengalaman baru, membangun jejaring, sekaligus mendapatkan apresiasi atas karya yang telah dihasilkan.

UNUSIDA menyampaikan apresiasi dan dukungan kepada Arifin atas pencapaiannya tersebut. Masuknya mahasiswa UNUSIDA dalam jajaran 20 besar finalis merupakan sebuah capaian yang patut diapresiasi dan diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju prestasi yang lebih tinggi.

“Selamat dan sukses kepada Arifin, mahasiswa UNUSIDA yang berhasil masuk Top 20 Finalist NPEA 2026. Semoga pencapaian ini menjadi motivasi untuk terus berkarya, berinovasi, dan mengharumkan nama Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo,” demikian pesan dukungan yang disampaikan sebagai bentuk apresiasi terhadap prestasi tersebut.

Selanjutnya, para finalis akan mengikuti rangkaian menuju NPEA Awards Ceremony yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Agustus 2026. Momentum tersebut menjadi kesempatan bagi para finalis untuk mendapatkan apresiasi atas karya dan proses kreatif yang telah mereka lalui selama kompetisi.

Bagi UNUSIDA, prestasi mahasiswa bukan hanya menjadi kebanggaan individu, tetapi juga bagian dari kontribusi mahasiswa dalam membangun reputasi positif perguruan tinggi. Setiap prestasi yang diraih mahasiswa menjadi bukti bahwa proses pendidikan di kampus dapat berjalan beriringan dengan pengembangan kreativitas, inovasi, kompetensi, dan keberanian untuk berkompetisi.

UNUSIDA terus mendorong mahasiswa agar aktif mengikuti berbagai kompetisi, kegiatan ilmiah, pengembangan kreativitas, kewirausahaan, maupun kegiatan lainnya yang dapat memperkuat kompetensi dan pengalaman mereka. Dukungan terhadap prestasi mahasiswa juga sejalan dengan semangat UNUSIDA sebagai kampus yang mendorong lahirnya generasi muda yang kreatif, kompeten, berdaya saing, dan mampu memberikan dampak bagi masyarakat.

Capaian Arifin di NPEA 2026 diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk tidak ragu menuangkan ide dan kreativitas ke dalam karya yang bernilai. Perjalanan menuju Top 20 Finalist merupakan pencapaian yang patut diapresiasi, sekaligus menjadi motivasi untuk terus berkembang dan memberikan prestasi terbaik.

UNUSIDA pun memberikan dukungan penuh kepada Arifin untuk mengikuti tahapan selanjutnya hingga malam penghargaan. Semoga Arifin mampu memberikan hasil terbaik dan kembali membawa kabar membanggakan bagi keluarga, almamater, serta seluruh sivitas akademika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo.

Selamat kepada Arifin atas keberhasilannya menjadi Top 20 Finalist NPEA 2026. Terus berkarya, berinovasi, dan harumkan nama UNUSIDA!

kajian aswaja ngaji rutin pasaran unusida

Shalat: Dari Kewajiban Ritual Menuju Transformasi Akhlak dan Kepedulian Sosial

Oleh: Dr. H. Wachyudi Achmad, M.Pd.

Salat merupakan salah satu ibadah utama yang menjadi kewajiban setiap Muslim. Salat tidak hanya menjadi bentuk penghambaan seorang manusia kepada Allah SWT, tetapi juga memiliki tujuan yang lebih luas, yaitu membentuk pribadi yang bertakwa, berakhlak mulia, dan memiliki kepedulian terhadap sesama. Oleh karena itu, memahami salat tidak cukup hanya dari sisi tata cara pelaksanaannya, tetapi juga perlu memahami makna dan dampaknya terhadap kehidupan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-‘Ankabut ayat 45 bahwa sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ayat tersebut memberikan gambaran yang sangat jelas bahwa salat memiliki fungsi transformatif. Salat seharusnya mampu memberikan perubahan dalam diri seseorang. Semakin baik kualitas salat seseorang, idealnya semakin baik pula perilaku dan akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.

Salat merupakan kewajiban yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Bahkan ketika seseorang berada dalam kondisi sakit dan tidak mampu melaksanakan salat secara normal, Allah SWT tetap memberikan kemudahan. Salat dapat dilaksanakan dengan duduk atau berbaring sesuai dengan kemampuan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya salat sehingga dalam kondisi apa pun seorang Muslim tetap diperintahkan untuk menjaga hubungan dengan Allah SWT.

Namun, ada sebuah pertanyaan yang penting untuk kita renungkan. Mengapa seseorang yang telah melaksanakan salat masih dapat menyimpan kebencian di dalam hati? Mengapa seseorang yang rajin salat terkadang masih kurang memiliki kepedulian terhadap tetangga, saudara, atau orang-orang yang berada di sekitarnya?

Pertanyaan tersebut membawa kita kepada pemahaman bahwa salat memiliki dimensi yang lebih luas. Salat dapat dipahami melalui dua dimensi, yaitu dimensi eksoteris dan dimensi esoteris.

Dimensi eksoteris merupakan dimensi lahiriah yang berkaitan dengan pelaksanaan salat berdasarkan ketentuan syariat. Salat dimulai dengan niat, takbiratul ihram, dilanjutkan dengan rukun dan bacaan yang telah ditentukan, kemudian diakhiri dengan salam. Semua ketentuan tersebut harus dipenuhi agar salat dapat dilaksanakan secara benar.

Akan tetapi, salat tidak berhenti pada aspek lahiriah. Terdapat dimensi esoteris yang berkaitan dengan hati dan kedalaman spiritual seseorang. Dimensi inilah yang seharusnya menjadi perhatian dalam kehidupan seorang Muslim. Salat seharusnya menghadirkan kesadaran bahwa kita sedang berhadapan dan bermunajat kepada Allah SWT.

Ketika seseorang berdiri dalam salat, sesungguhnya ia sedang belajar untuk tunduk, menyerahkan diri, dan mengakui bahwa dirinya adalah hamba Allah. Kesadaran tersebut seharusnya tidak hanya hadir selama beberapa menit ketika salat berlangsung, tetapi juga terbawa setelah seseorang selesai melaksanakan salat.

Jika salat benar-benar dihayati, maka hati akan menjadi lebih peka. Kepekaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga hubungan manusia dengan manusia. Orang yang memahami makna salat seharusnya memiliki kepedulian terhadap kesulitan orang lain, memperhatikan kondisi tetangga, membantu saudara yang membutuhkan, dan tidak bersikap egois terhadap lingkungan sosialnya.

Di sinilah pentingnya membedakan antara sekadar menjalankan salat dan menghadirkan nilai salat dalam kehidupan. Seseorang mungkin telah memenuhi ketentuan lahiriah salat, tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya belum sepenuhnya terwujud dalam perilakunya. Karena itu, yang perlu dilakukan bukan mempertanyakan keberadaan salatnya, tetapi melakukan introspeksi terhadap kualitas penghayatan salat tersebut.

Salat juga merupakan momentum bagi manusia untuk mengadu kepada Allah SWT. Setiap manusia memiliki persoalan dan problematika kehidupan. Ada persoalan keluarga, pekerjaan, ekonomi, pendidikan, maupun berbagai persoalan lainnya. Dalam salat, seorang hamba memiliki ruang untuk menyerahkan segala kegelisahan tersebut kepada Allah SWT.

Pesan tersebut semakin kuat ketika kita memahami Surah Al-Fatihah, khususnya ayat “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.” Hanya kepada Allah kita menyembah dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. Ayat tersebut mengajarkan tentang ketundukan sekaligus ketergantungan manusia kepada Allah SWT.

Karena itu, mari kita menjadikan salat bukan sekadar rutinitas lima waktu, tetapi sebagai proses pembentukan diri. Salat harus menjadi sumber kekuatan spiritual, ketenangan hati, pengendalian diri, dan dorongan untuk berbuat baik kepada sesama.

Pada akhirnya, kualitas salat dapat tercermin dari kualitas kehidupan seseorang. Salat yang benar akan mendorong seseorang untuk menjauhi keburukan, memperbaiki akhlak, meningkatkan kepekaan sosial, serta semakin dekat kepada Allah SWT.

Salat adalah perjalanan dari gerakan menuju kesadaran, dari kewajiban menuju kebutuhan, dan dari ibadah menuju transformasi akhlak. Semoga kita semua mampu menjaga salat secara lahir dan batin, sehingga menjadi hamba-hamba Allah SWT yang bertakwa, beriman, memiliki kepedulian sosial, serta memperoleh keberuntungan dalam kehidupan dunia dan akhirat.

IRONI PERAYAAN KEMERDEKAAN 3

IRONI PERAYAAN KEMERDEKAAN

Rangga Sa’adillah S.A.P.

Tatkala memasuki bulan Agustus, suasana perayaan mulai terasa di berbagai pelosok desa. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, gang-gang dihiasi berbagai ornamen kemerdekaan, perlombaan digelar, panggung hiburan didirikan, dan masyarakat larut dalam kegembiraan. Anak-anak berlarian mengikuti berbagai permainan, para pemuda sibuk mempersiapkan kegiatan, sementara orang tua turut menikmati suasana kebersamaan.

Semua itu tentu sah-sah saja sebagai bentuk ekspresi kebahagiaan atas kemerdekaan yang telah kita nikmati selama puluhan tahun. Bahkan, kegembiraan dan kebersamaan masyarakat merupakan bagian penting dari kehidupan sosial. Kemerdekaan memang patut dirayakan.

Namun, saya merasakan sebuah ironi ketika perayaan kemerdekaan justru kehilangan ruh kemerdekaan itu sendiri. Ketika semangat memperingati perjuangan para pahlawan bergeser menjadi sekadar hura-hura. Ketika kebahagiaan seolah diukur dari seberapa meriah panggung hiburan, seberapa besar kerumunan masyarakat, dan seberapa keras suara musik yang diperdengarkan.

Sound horeg menjadi pusat perhatian dalam perayaan. Persoalannya bukan semata-mata tentang musik atau hiburan. Yang patut kita renungkan adalah ketika kemeriahan tersebut justru mengganggu ketenteraman masyarakat, mengusik kenyamanan orang lain, atau menjadikan perayaan kemerdekaan kehilangan nilai edukatif dan moralnya.

Apakah demikian cara kita memaknai kemerdekaan?

Pertanyaan yang sama juga layak kita ajukan terhadap berbagai bentuk perlombaan. Perlombaan sejatinya dapat menjadi media pendidikan karakter. Di dalamnya terdapat nilai perjuangan, sportivitas, kerja sama, keberanian, kreativitas, dan kegigihan. Namun, ketika perlombaan justru lebih banyak diarahkan kepada sekadar tontonan dan sensasi, kita patut melakukan refleksi.

Misalnya, ketika sebuah perlombaan sepak bola dikemas dengan menggunakan kostum yang menyerupai perempuan atau waria: seperti sepak bola berdaster, barangkali bagi sebagian orang itu dianggap lucu dan menghibur. Tetapi apakah kita pernah bertanya, nilai pendidikan apa yang sedang kita tanamkan kepada anak-anak dan generasi muda melalui tontonan tersebut?

Kita tentu tidak sedang berbicara tentang persoalan boleh atau tidak boleh seseorang mengenakan pakaian tertentu dalam sebuah permainan. Yang lebih penting adalah pertanyaan mengenai arah budaya perayaan yang sedang kita bangun. Apakah kita sedang membentuk generasi yang gagah dalam arti positif berani, tangguh, kreatif, sportif, dan bertanggung jawab. Atau justru membiasakan mereka bahwa kemeriahan harus selalu diwujudkan melalui sensasi dan olok-olok?

Kemerdekaan Republik Indonesia adalah rahmat dan nikmat dari Allah SWT yang semestinya disyukuri dengan cara-cara yang baik dan benar. Kemerdekaan bukan sekadar momentum untuk bersenang-senang, tetapi amanah yang diwariskan oleh para pendahulu kepada generasi penerus.

Kemerdekaan juga bukan hadiah yang turun begitu saja dari langit. Ia lahir dari perjuangan panjang. Ada air mata, darah, harta, bahkan nyawa yang dikorbankan oleh para pahlawan. Mereka berjuang bukan agar generasi setelahnya hanya menikmati pesta kemerdekaan, tetapi agar anak cucunya dapat hidup sebagai bangsa yang merdeka, bermartabat, dan memiliki masa depan.

Karena itu, memperingati kemerdekaan semestinya tidak berhenti pada merayakan, tetapi juga menghayati dan melanjutkan perjuangan.

Jika para pahlawan dahulu berjuang mengangkat senjata untuk merebut kemerdekaan, maka perjuangan kita hari ini adalah menjaga kemerdekaan agar tidak kehilangan makna. Kita berjuang melawan kebodohan, kemiskinan, korupsi, ketidakadilan, intoleransi, kerusakan lingkungan, narkoba, dan berbagai bentuk penjajahan baru yang secara perlahan dapat menggerogoti martabat bangsa.

Perjuangan hari ini tidak selalu membutuhkan senjata. Seorang guru berjuang melalui pendidikan. Orang tua berjuang mendidik anak-anaknya. Pelajar berjuang dengan belajar. Mahasiswa berjuang dengan ilmu dan gagasan. Para pekerja berjuang dengan kejujuran dan profesionalitas. Para pemimpin berjuang dengan amanah. Dan masyarakat berjuang dengan menjaga persaudaraan serta ketenteraman lingkungan.

Maka, tidak ada salahnya kita bergembira. Tidak ada salahnya mengadakan perlombaan, pentas seni, pengajian, kegiatan sosial, maupun berbagai kegiatan masyarakat. Tetapi kegembiraan jangan sampai mengalahkan rasa syukur; kemeriahan jangan sampai menghilangkan penghormatan kepada para pahlawan; dan kebebasan jangan sampai berubah menjadi kebisingan yang mengganggu kebebasan orang lain.

Bukankah salah satu hakikat kemerdekaan adalah hidup dalam kebebasan yang tetap menghormati hak dan ketenteraman sesama?

Karena itu, barangkali kita perlu bertanya kembali kepada diri sendiri:

Sudahkah cara kita merayakan kemerdekaan menjadi bagian dari rasa syukur kepada Allah?

Sudahkah perayaan itu mendidik anak-anak kita untuk mengenal sejarah perjuangan bangsanya?

Sudahkah kemeriahan itu mempererat persaudaraan warga?

Sudahkah kegembiraan itu menghadirkan kemaslahatan bagi lingkungan?

Dan yang tidak kalah penting, sudahkah kita mengisi kemerdekaan dengan menjadi manusia yang lebih baik dan bangsa yang lebih bermartabat?

Kemerdekaan tidak membutuhkan kebisingan untuk membuktikan bahwa kita bahagia. Kemerdekaan membutuhkan kesadaran bahwa ada harga yang sangat mahal yang telah dibayar oleh para pahlawan.

Maka, mari kita rayakan kemerdekaan dengan gembira, tetapi jangan kehilangan makna. Kita boleh meriah, tetapi tetap santun. Kita boleh bersenang-senang, tetapi tetap peduli kepada sesama. Kita boleh menikmati kebebasan, tetapi jangan menjadikan kebebasan sebagai alasan untuk mengganggu orang lain.

Sebab kemerdekaan bukan sekadar tentang bebas dari penjajahan. Kemerdekaan adalah tentang kemampuan sebuah bangsa menggunakan kebebasannya untuk menghadirkan kebaikan.

Mari kita wariskan kepada generasi berikutnya bukan hanya cerita tentang betapa meriahnya perayaan kemerdekaan, tetapi juga cerita tentang betapa besar perjuangan untuk mendapatkannya dan betapa mulianya tanggung jawab untuk menjaganya.

Dirgahayu Republik Indonesia.

Mari merayakan kemerdekaan dengan syukur, bukan sekadar dengan gemuruh.

 

*(Kabag MKU UNUSIDA, Komisi Pendidikan MUI Kab. Sidoarjo, KP3 MUI Jatim)

KKN UNUSIDA Sukses Dongkrak Kreativitas Siswa MA Nurul Ikhlas lewat Pembuatan Sabun Cuci Piring 4

KKN UNUSIDA Sukses Dongkrak Kreativitas Siswa MA Nurul Ikhlas lewat Pembuatan Sabun Cuci Piring

Sidoarjo – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNUSIDA menggelar kegiatan sosialisasi pembuatan sabun cuci piring bersama siswi Madrasah Aliyah (MA) Nurul Ikhlas, Desa Sepande, Kecamatan Candi, Sidoarjo, Kamis (13/8/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 13.00 WIB hingga selesai tersebut menjadi bagian dari program kerja KKN yang diarahkan untuk memberikan pengetahuan, wawasan, sekaligus keterampilan praktis kepada siswa.

Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan sebagai bentuk kontribusi mahasiswa KKN dalam mendukung pengembangan keterampilan peserta didik di lingkungan masyarakat. Tidak hanya memperoleh materi secara teori, para siswi juga mendapatkan kesempatan untuk mengenal tahapan pembuatan sabun cuci piring melalui pemaparan dan praktik yang dilakukan bersama mahasiswa KKN.

Pemilihan pembuatan sabun cuci piring sebagai materi kegiatan didasarkan pada pertimbangan bahwa produk tersebut dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sabun cuci piring merupakan salah satu kebutuhan rumah tangga yang mudah ditemukan dan digunakan. Melalui kegiatan tersebut, siswa diharapkan tidak hanya memahami proses pembuatannya, tetapi juga dapat melihat peluang kreativitas dan kewirausahaan dari produk sederhana yang memiliki manfaat praktis.

Kegiatan diawali dengan penyampaian materi oleh mahasiswa KKN mengenai pengenalan sabun cuci piring serta gambaran umum proses pembuatannya. Materi disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami agar peserta dapat mengikuti kegiatan dengan baik.

Mahasiswa KKN kemudian memberikan pemaparan mengenai tahapan-tahapan yang perlu diperhatikan dalam proses pembuatan sabun cuci piring. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif sehingga para siswi dapat mengikuti kegiatan dengan antusias. Mahasiswa juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan pertanyaan terkait materi maupun proses yang sedang dipelajari.

Sesi diskusi dan tanya jawab menjadi salah satu bagian yang menarik dalam kegiatan tersebut. Para siswi diberikan ruang untuk menyampaikan rasa ingin tahu mereka mengenai proses pembuatan sabun cuci piring. Interaksi dua arah antara mahasiswa KKN dan peserta membuat kegiatan sosialisasi tidak hanya berlangsung sebagai penyampaian materi, tetapi juga menjadi ruang bertukar informasi dan pengalaman.

Setelah mendapatkan pemahaman melalui pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan sabun cuci piring. Pada tahap ini, mahasiswa KKN memberikan arahan kepada para siswi agar dapat memahami proses secara lebih nyata. Praktik tersebut sekaligus menjadi sarana untuk melatih ketelitian, kreativitas, kerja sama, dan keberanian siswa dalam mencoba sesuatu yang baru.

Melalui praktik secara langsung, peserta dapat melihat bahwa proses menghasilkan sebuah produk membutuhkan tahapan yang harus dilakukan dengan cermat. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menumbuhkan sikap teliti dan bertanggung jawab sekaligus mendorong siswa untuk lebih percaya diri dalam mengembangkan keterampilan.

Kegiatan ini juga memiliki nilai edukatif yang lebih luas. Mahasiswa KKN tidak hanya berperan sebagai penyelenggara kegiatan, tetapi juga menjadi fasilitator yang berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada siswa. Sementara itu, para siswi MA Nurul Ikhlas mendapatkan kesempatan untuk memperoleh wawasan baru yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain memberikan pengetahuan dan wawasan, sosialisasi pembuatan sabun cuci piring diharapkan dapat membuka pandangan siswa mengenai pentingnya keterampilan produktif. Keterampilan tersebut dapat menjadi salah satu modal untuk mengembangkan kreativitas maupun mengenali peluang usaha sederhana di masa mendatang.

Program kerja KKN seperti ini menjadi bentuk implementasi pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Ilmu yang diperoleh selama berada di lingkungan perguruan tinggi tidak hanya diterapkan dalam ruang akademik, tetapi juga dibagikan kepada masyarakat melalui kegiatan yang memberikan manfaat secara langsung.

Bagi mahasiswa KKN, kegiatan sosialisasi juga menjadi pengalaman dalam membangun komunikasi dengan peserta didik. Mahasiswa dituntut mampu menyampaikan materi dengan jelas, mengelola kegiatan, menjawab pertanyaan peserta, serta menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Hal tersebut menjadi pengalaman penting dalam meningkatkan kemampuan komunikasi dan kerja sama.

Antusiasme para siswi selama mengikuti rangkaian kegiatan menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis praktik dapat menjadi metode yang menarik untuk mengenalkan keterampilan baru. Materi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari membuat peserta lebih mudah memahami manfaat dari pengetahuan yang diberikan.

Melalui kegiatan sosialisasi pembuatan sabun cuci piring ini, mahasiswa KKN berharap pengetahuan dan keterampilan yang telah diberikan dapat terus dikembangkan oleh para siswi MA Nurul Ikhlas. Tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, pengalaman tersebut diharapkan menjadi pemantik bagi siswa untuk terus belajar, berkreasi, dan menghasilkan berbagai inovasi sederhana yang bermanfaat.

Kegiatan yang berlangsung di MA Nurul Ikhlas, Desa Sepande, Kecamatan Candi, tersebut menjadi salah satu langkah nyata mahasiswa KKN dalam menghadirkan program yang edukatif, aplikatif, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat. Dengan memadukan penyampaian materi, pemaparan, diskusi, tanya jawab, serta praktik, kegiatan ini diharapkan mampu memberikan pengalaman belajar yang berkesan sekaligus membangun keterampilan dan kreativitas siswa.

KKN Kelompok 14 Pondok Pesantren Nurul Ikhlas UNUSIDA Sukses Bazar, Sabun Cuci Piring Jadi Produk Unggulan yang Ludes Diborong 5

KKN Kelompok 14 Pondok Pesantren Nurul Ikhlas UNUSIDA Sukses Bazar, Sabun Cuci Piring Jadi Produk Unggulan yang Ludes Diborong

Sidoarjo – Kreativitas dan semangat kewirausahaan ditunjukkan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 14 di Pondok Pesantren Nurul Ikhlas melalui kegiatan bazar yang menghadirkan berbagai produk unggulan. Salah satu produk yang paling menarik perhatian pengunjung adalah sabun cuci piring hasil inovasi mahasiswa KKN UNUSIDA. Produk tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat hingga ludes diborong pembeli.

KKN Kelompok 14 Pondok Pesantren Nurul Ikhlas UNUSIDA Sukses Bazar, Sabun Cuci Piring Jadi Produk Unggulan yang Ludes Diborong 6

Keikutsertaan KKN Kelompok 14 dalam bazar menjadi salah satu momentum untuk memperkenalkan potensi produk yang dikembangkan selama pelaksanaan program KKN. Sabun cuci piring dipilih sebagai produk unggulan karena memiliki manfaat praktis dalam kebutuhan rumah tangga sekaligus berpotensi dikembangkan menjadi produk usaha yang bernilai ekonomis.

Sejak bazar dimulai, stan KKN Kelompok 14 tampak mendapat perhatian dari para pengunjung. Mereka tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga memberikan informasi mengenai manfaat dan keunggulan sabun cuci piring yang dipasarkan. Antusiasme pembeli terlihat dari meningkatnya jumlah transaksi hingga seluruh produk yang disiapkan berhasil terjual.

Keberhasilan tersebut menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa KKN Kelompok 14. Mereka mendapatkan kesempatan untuk menerapkan secara langsung berbagai keterampilan, mulai dari proses produksi, pengemasan, pemasaran, komunikasi dengan konsumen, hingga pengelolaan transaksi.

Ketua Pelaksana KKN Kelompok 14, Herlinawati, menyampaikan rasa syukur atas antusiasme masyarakat terhadap produk yang dihadirkan dalam bazar. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa untuk belajar membangun sebuah produk sekaligus memahami proses pemasaran secara langsung.

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur karena produk sabun cuci piring yang kami bawa dalam kegiatan bazar mendapat respons yang sangat baik dari masyarakat. Produk yang kami siapkan bahkan ludes diborong pembeli. Bagi kami, ini bukan hanya tentang produk yang terjual, tetapi juga menjadi pengalaman berharga untuk belajar bekerja sama, berkomunikasi dengan konsumen, dan membangun jiwa kewirausahaan,” ujar Herlinawati.

Ia menambahkan, keberhasilan tersebut tidak lepas dari kerja sama seluruh anggota kelompok. Mulai dari persiapan produk, pengemasan, promosi, hingga pelayanan kepada pembeli dilakukan secara bersama-sama.

“Harapan kami, pengalaman ini dapat menjadi bekal bagi anggota kelompok untuk terus berani berinovasi dan menciptakan produk yang memiliki nilai manfaat serta nilai jual. Kami juga berharap kegiatan seperti ini dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar Pondok Pesantren Nurul Ikhlas,” lanjutnya.

Sementara itu, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Kelompok 14, Afifatus Sholikhah, memberikan apresiasi atas kreativitas dan kerja keras mahasiswa dalam mengikuti kegiatan bazar. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian penting dari proses pembelajaran mahasiswa di tengah masyarakat.

“Keikutsertaan mahasiswa dalam bazar ini merupakan bentuk pembelajaran nyata. Mahasiswa tidak hanya belajar secara akademik, tetapi juga belajar bagaimana melihat peluang, mengembangkan produk, melakukan pemasaran, serta membangun komunikasi dengan masyarakat. Saya mengapresiasi kerja keras Kelompok 14 yang mampu menghasilkan produk sabun cuci piring dan mendapatkan respons positif dari konsumen,” tutur Afifatus Sholikhah.

Ia berharap pengalaman yang diperoleh mahasiswa selama kegiatan KKN dapat menjadi bekal untuk menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan. Jiwa kewirausahaan, kreativitas, kemampuan bekerja sama, dan keberanian mengambil peluang dinilai menjadi kompetensi penting yang perlu terus dikembangkan.

“Semoga pengalaman ini tidak berhenti pada kegiatan KKN saja. Apa yang telah dilakukan mahasiswa dapat menjadi awal untuk mengembangkan potensi kewirausahaan secara berkelanjutan. Ketika sebuah produk sederhana mampu mendapatkan sambutan baik dari masyarakat, itu menunjukkan bahwa kreativitas dan kerja keras dapat menghasilkan sesuatu yang bernilai,” tambahnya.

Bagi KKN Kelompok 14, ludesnya produk sabun cuci piring dalam bazar menjadi pencapaian tersendiri. Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa produk yang lahir dari proses kreativitas mahasiswa dapat diterima oleh masyarakat ketika dikembangkan dengan memperhatikan kebutuhan konsumen dan dikemas secara menarik.

Kegiatan bazar juga menjadi sarana untuk mempererat interaksi antara mahasiswa KKN dan masyarakat di sekitar Pondok Pesantren Nurul Ikhlas. Melalui aktivitas tersebut, mahasiswa dapat memahami secara lebih dekat bagaimana sebuah kegiatan ekonomi berjalan sekaligus mengenali potensi yang dapat dikembangkan di lingkungan masyarakat.

Lebih dari sekadar kegiatan jual beli, pengalaman KKN Kelompok 14 dalam bazar menjadi bukti bahwa program pengabdian mahasiswa dapat diarahkan pada kegiatan yang kreatif, produktif, dan berdampak. Produk sabun cuci piring yang ludes diborong pembeli menjadi kisah sukses tersendiri sekaligus pemantik semangat bagi mahasiswa untuk terus menciptakan inovasi.

Dengan semangat kolaborasi dan kewirausahaan, KKN Kelompok 14 Pondok Pesantren Nurul Ikhlas diharapkan mampu melanjutkan berbagai ide kreatif yang telah dirintis selama program berlangsung. Bazar tersebut menjadi salah satu momentum yang memperlihatkan bahwa dari proses sederhana, mahasiswa dapat menghadirkan produk yang bermanfaat sekaligus memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi usaha berkelanjutan.

inspirasi alumni unusida masudin fahmi

Luar Biasa! Alumni DKV UNUSIDA Sukses Berkarya sebagai Guru, Kreator, dan Desainer

SIDOARJO– Perjalanan pendidikan di perguruan tinggi tidak hanya menjadi proses untuk memperoleh gelar akademik, tetapi juga menjadi ruang untuk menemukan potensi, mengasah keterampilan, membangun karakter, dan mempersiapkan diri menghadapi dunia profesional. Hal tersebut tercermin dalam perjalanan Masudin Fahmi, S.Ds., alumni Program Studi S1 Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) tahun 2022.

Setelah menyelesaikan pendidikan di UNUSIDA, Masudin terus mengembangkan kompetensi dan berkarya di berbagai bidang yang sesuai dengan keahliannya. Saat ini, ia menjalani beberapa profesi sekaligus, yakni sebagai Guru Seni Rupa di SMP PGRI 1 Buduran, Konten Kreator, Graphic Designer di PT Garvita Jaladri Logistik, serta Guru Sanggar Lukis di Sanggar Lukis Jenggolo.

Perjalanan tersebut menjadi gambaran bahwa kompetensi yang diperoleh selama menempuh pendidikan DKV dapat diterapkan secara luas dalam berbagai bidang kreatif dan profesional. Ilmu desain, seni, komunikasi visual, serta pengalaman selama menjadi mahasiswa menjadi fondasi bagi Masudin untuk mengembangkan karier sekaligus menyalurkan kreativitasnya.

Bagi Masudin, pengalaman selama kuliah di UNUSIDA memiliki peran besar dalam membentuk pribadi dan perjalanan kariernya. Ia mengakui bahwa begitu banyak pengalaman berharga yang diperoleh selama menjadi mahasiswa hingga sulit untuk dijabarkan satu per satu.

“*Sangat banyak pengalaman berharga yang saya dapatkan selama kuliah di UNUSIDA, hingga sulit untuk saya jabarkan satu per satu. Yang pasti, jika saya tidak berkuliah di UNUSIDA, mungkin saya tidak akan pernah menjadi pribadi seperti sekarang.*” ungkap Masudin.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa proses pendidikan bagi seorang mahasiswa tidak hanya berlangsung melalui materi perkuliahan. Interaksi dengan dosen, teman, lingkungan kampus, tugas akademik, kegiatan kreatif, hingga berbagai tantangan selama menjalani studi menjadi bagian dari pengalaman yang turut membentuk kemampuan dan karakter.

Sebagai mahasiswa Program Studi DKV, Masudin mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan di bidang desain dan seni visual. Kompetensi tersebut kemudian menjadi bekal penting untuk memasuki dunia kerja sekaligus mengembangkan profesi yang memiliki keterkaitan erat dengan kreativitas.

Di bidang pendidikan, Masudin kini mengabdikan dirinya sebagai *Guru Seni Rupa di SMP PGRI 1 Buduran*. Peran tersebut memberikan kesempatan baginya untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada generasi muda. Seni rupa tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis dalam menghasilkan karya, tetapi juga mendorong siswa untuk mengembangkan kreativitas, imajinasi, keberanian berekspresi, serta kemampuan melihat berbagai persoalan dari sudut pandang yang berbeda.

Selain menjadi guru, Masudin juga aktif sebagai *Guru Sanggar Lukis di Sanggar Lukis Jenggolo*. Aktivitas tersebut semakin memperkuat kiprahnya dalam dunia seni. Melalui sanggar, ia dapat terus mengembangkan kemampuan melukis sekaligus mendampingi para peserta dalam mengenal dan mengeksplorasi dunia seni rupa.

Di sisi lain, kemampuan desain komunikasi visual yang diperoleh selama kuliah juga diterapkan dalam dunia industri. Masudin menjalani profesi sebagai *Graphic Designer di PT Garvita Jaladri Logistik*. Dalam profesi ini, kemampuan visual, kreativitas, ketelitian, serta pemahaman terhadap komunikasi melalui desain menjadi kompetensi yang sangat dibutuhkan.

Tidak berhenti di dunia pendidikan dan industri, Masudin juga mengembangkan dirinya sebagai *konten kreator*. Perkembangan media digital memberikan ruang yang luas bagi lulusan DKV untuk mengembangkan karya sekaligus menyampaikan pesan melalui berbagai bentuk konten visual. Kemampuan mengolah ide menjadi konten yang menarik dan komunikatif menjadi salah satu keterampilan yang semakin relevan di era digital.

Perjalanan Masudin menunjukkan bahwa lulusan DKV memiliki peluang karier yang beragam. Keahlian di bidang komunikasi visual dapat dikembangkan untuk memasuki dunia industri kreatif, pendidikan, media digital, periklanan, desain grafis, maupun berbagai bidang lain yang membutuhkan kreativitas dan kemampuan visual.

Kisah tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya mahasiswa untuk tidak membatasi diri pada satu bidang saja. Selama memiliki kompetensi yang kuat, kemauan belajar, dan keberanian mencoba berbagai peluang, ilmu yang diperoleh di perguruan tinggi dapat dikembangkan menjadi beragam profesi.

Bagi mahasiswa DKV UNUSIDA, perjalanan Masudin dapat menjadi inspirasi untuk memanfaatkan masa perkuliahan secara maksimal. Selain memahami teori dan keterampilan teknis, mahasiswa perlu membangun portofolio, mengembangkan kreativitas, mengikuti perkembangan teknologi, serta berani menghasilkan karya yang dapat menjadi bekal ketika memasuki dunia profesional.

Pengalaman Masudin juga menjadi bukti bahwa proses belajar di perguruan tinggi dapat memberikan dampak jangka panjang. Setiap tugas, proyek, diskusi, maupun pengalaman yang dijalani selama kuliah dapat menjadi bagian dari proses membentuk kemampuan yang berguna setelah lulus.

UNUSIDA terus mendorong mahasiswa untuk menjadi lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, memiliki kreativitas, serta memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat. Kisah para alumni yang berkembang di berbagai bidang menjadi salah satu cerminan bahwa pendidikan yang diperoleh di kampus dapat menjadi fondasi untuk membangun masa depan.

Perjalanan Masudin Fahmi menjadi contoh bahwa keberhasilan tidak selalu harus diwujudkan melalui satu profesi. Dengan mengembangkan potensi dan berani mengambil berbagai kesempatan, seorang lulusan dapat berkarya di banyak ruang sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Dari ruang kuliah DKV UNUSIDA, Masudin kini hadir sebagai pendidik, seniman, kreator, dan desainer. Perjalanannya menjadi bukti bahwa pengalaman selama kuliah dapat menjadi bagian penting dalam membentuk pribadi dan menentukan arah masa depan.

Kisah inspiratif Masudin diharapkan dapat memotivasi mahasiswa dan alumni UNUSIDA untuk terus belajar, berkarya, dan mengembangkan potensi. Sebab, setiap pengalaman yang diperoleh selama proses pendidikan dapat menjadi bekal berharga untuk menghadapi dunia profesional dan menciptakan karya yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Siti Nur Aini, M.Pd: Bangga Jadi Bagian dari UNUSIDA, Kampus yang Membentuk Karakter dan Kompetensi 7

Siti Nur Aini, M.Pd: Bangga Jadi Bagian dari UNUSIDA, Kampus yang Membentuk Karakter dan Kompetensi

Sidoarjo – “Pengalaman berkuliah di UNUSIDA bukan hanya momen belajar dan berdialektika di dalam kelas. Tetapi banyak sekali pengalaman, dari segi keilmuan, sarana prasarana, dan tidak kalah menarik di UNUSIDA juga jajaran civitas akademiknya yang berkualitas. Saya bangga menjadi alumni UNUSIDA, semoga UNUSIDA semakin maju dan berkualitas.”
Demikian ungkapan yang disampaikan oleh Siti Nur Aini, M.Pd, alumni Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), ketika mengenang masa-masa kuliahnya di kampus yang telah membentuk jalan karier dan kehidupannya saat ini.

Bagi Aini, sapaan akrabnya, UNUSIDA bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang belajar kehidupan. Di kampus ini, ia menemukan arti sejati dari proses, perjuangan, dan nilai-nilai yang menuntun dirinya menjadi pendidik yang berintegritas.

Belajar Lebih dari Sekadar di Dalam Kelas

Siti Nur Aini menuturkan bahwa perjalanan studinya di UNUSIDA tidak berhenti pada tumpukan teori atau diskusi di ruang kuliah. Ia justru banyak belajar dari dinamika interaksi antar mahasiswa, kegiatan kampus, serta berbagai kesempatan pengabdian masyarakat yang menjadi bagian integral dari sistem pendidikan di UNUSIDA.

“UNUSIDA mengajarkan kami untuk tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial. Saya banyak belajar bagaimana mengelola emosi, bekerja sama, dan berpikir kreatif dalam menghadapi tantangan di dunia nyata,” ujarnya.

Di bawah bimbingan para dosen PGSD yang berpengalaman, Aini belajar memahami dunia pendidikan dasar secara utuh—bagaimana cara menumbuhkan karakter siswa, merancang pembelajaran aktif, hingga menggunakan media digital dalam proses belajar mengajar.
Semangat dosen-dosen UNUSIDA yang selalu terbuka dan dekat dengan mahasiswa menjadi inspirasi tersendiri baginya. “Para dosen bukan hanya pengajar, tetapi juga pembimbing yang menuntun dengan hati,” tambahnya.

Sarana dan Prasarana yang Mendukung Proses Belajar

Bagi Aini, salah satu keunggulan UNUSIDA adalah keseriusannya dalam menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Fasilitas kampus yang representatif, laboratorium microteaching, ruang diskusi yang nyaman, serta dukungan digital learning environment menjadi pengalaman berharga selama kuliah.

“Sebagai mahasiswa PGSD, kami sering melakukan praktik mengajar di laboratorium pembelajaran. Fasilitas yang lengkap membuat kami lebih percaya diri ketika terjun langsung ke sekolah,” ungkapnya.

Selain itu, UNUSIDA juga terus berinovasi dalam pengembangan sistem pembelajaran. Penggunaan teknologi digital dan pendekatan student-centered learning membuat mahasiswa terbiasa berpikir mandiri dan aktif. “Saya merasakan langsung bagaimana dosen-dosen UNUSIDA menekankan pentingnya kreativitas dan literasi digital. Itu sangat berguna ketika saya mulai mengajar,” lanjutnya.

Civitas Akademika yang Profesional dan Humanis

Siti Nur Aini juga mengapresiasi peran besar civitas akademika UNUSIDA yang memiliki dedikasi tinggi terhadap kemajuan mahasiswa. Ia mengakui, suasana akademik di kampus terasa hangat dan kekeluargaan, namun tetap menjunjung profesionalitas.

“Hubungan antara dosen dan mahasiswa di UNUSIDA sangat dekat. Kami tidak segan untuk berdiskusi atau meminta bimbingan di luar jam kuliah. Para dosen memberikan contoh nyata tentang bagaimana menjadi pribadi yang rendah hati namun berwawasan luas,” kenangnya.

UNUSIDA, menurutnya, bukan hanya mencetak sarjana, tetapi juga membentuk insan berkarakter. Nilai-nilai ke-NU-an seperti tawadhu’, mandiri, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat menjadi ruh dalam setiap kegiatan akademik.
“Nilai itu yang terus saya bawa hingga kini. Dalam mengajar anak-anak, saya belajar menanamkan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan seperti yang saya dapatkan di kampus,” ucapnya.

Menjadi Guru dengan Jiwa Pengabdian

Setelah menyelesaikan studinya, Siti Nur Aini kini berprofesi sebagai pendidik di salah satu sekolah dasar di Sidoarjo. Ia mengaku banyak menerapkan ilmu yang diperoleh dari kampus dalam dunia kerja, terutama dalam hal metodologi pengajaran, komunikasi efektif dengan siswa, serta manajemen kelas.

“Ketika terjun ke lapangan, saya merasa siap. Materi-materi yang saya pelajari di UNUSIDA benar-benar aplikatif. Bahkan, saat menghadapi siswa dengan latar belakang berbeda, saya teringat pembelajaran tentang psikologi anak yang dulu diajarkan dosen,” tuturnya dengan bangga.

Baginya, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga bentuk pengabdian. Ia berharap bisa menjadi contoh bagi generasi muda agar tidak berhenti belajar dan terus memberikan manfaat di lingkungannya.
“Saya merasa UNUSIDA menanamkan semangat pengabdian itu. Kami tidak hanya diajarkan untuk menjadi cerdas, tetapi juga untuk bermanfaat,” katanya.

Bangga Menjadi Bagian dari UNUSIDA

Bagi Aini, gelar yang ia sandang kini adalah hasil kerja keras, doa, dan dukungan lingkungan kampus yang positif. Ia menilai UNUSIDA telah menjadi tempat yang ideal bagi generasi muda untuk tumbuh menjadi pribadi berilmu dan berakhlak.

“Saya bangga menjadi alumni UNUSIDA. Kampus ini bukan hanya mencetak sarjana, tetapi juga membentuk karakter dan kompetensi. Harapan saya, semoga UNUSIDA terus maju, semakin berkualitas, dan melahirkan lebih banyak lulusan yang siap berkontribusi untuk bangsa,” tutupnya.

UNUSIDA: Kampus yang Terus Berkembang

Sejak berdiri, Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo telah konsisten membangun reputasi sebagai kampus yang unggul dalam bidang akademik, riset, dan pengabdian masyarakat. Melalui berbagai inovasi pembelajaran, peningkatan akreditasi, dan penguatan jejaring kerja sama dengan dunia industri dan lembaga pendidikan, UNUSIDA terus berkomitmen menjadi kampus unggul yang berlandaskan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.

Semangat alumni seperti Siti Nur Aini, M.Pd menjadi bukti nyata bahwa UNUSIDA tidak hanya mengantarkan mahasiswa menuju gelar akademik, tetapi juga membekali mereka dengan karakter, etika, dan kemampuan untuk menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.

“UNUSIDA bukan sekadar tempat kuliah,” kata Aini menutup kisahnya, “tetapi tempat di mana cita-cita dan nilai-nilai kehidupan saya dibentuk. Saya akan selalu bangga menjadi bagian dari keluarga besar UNUSIDA.”

UNUSIDA Cetak Alumni Inspiratif, Imam Santoso Wahyu Nugroho Kini Sukses Jadi Pengawas Lapangan BPVP Banyuwangi 8

UNUSIDA Cetak Alumni Inspiratif, Imam Santoso Wahyu Nugroho Kini Sukses Jadi Pengawas Lapangan BPVP Banyuwangi

Sidoarjo – Setiap alumni memiliki kisah inspiratif yang bisa menjadi motivasi bagi mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan tinggi. Begitu pula dengan perjalanan Imam Santoso Wahyu Nugroho, S.Kom., alumni Program Studi Teknik Informatika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) yang lulus pada tahun 2021 dan kini berkarier sebagai Pengawas Lapangan di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Banyuwangi. Perjalanan Imam adalah gambaran nyata bagaimana kerja keras, ketekunan, serta pengalaman berorganisasi dan akademik selama kuliah dapat menjadi bekal penting untuk meniti karier di dunia profesional.

Sejak awal kuliah, Imam sudah memiliki ketertarikan besar pada dunia teknologi informasi. Ia menuturkan bahwa pilihannya masuk Prodi Teknik Informatika UNUSIDA didorong oleh keyakinan bahwa teknologi adalah bidang yang selalu berkembang dan akan terus dibutuhkan. Ketertarikan itu mendorongnya untuk terus belajar, mendalami materi perkuliahan, sekaligus mencari pengalaman di luar kelas. Kini, setelah beberapa tahun lulus, Imam dipercaya untuk bekerja sebagai pengawas lapangan di BPVP Banyuwangi, sebuah lembaga pelatihan di bawah naungan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia yang fokus pada peningkatan keterampilan dan produktivitas tenaga kerja. Dalam posisinya, Imam bertanggung jawab memastikan kelancaran berbagai program pelatihan, mengawasi teknis pelaksanaan di lapangan, serta berkoordinasi dengan berbagai pihak agar kegiatan berjalan sesuai standar. “Bekerja di BPVP Banyuwangi memberikan saya banyak pengalaman baru. Tugas saya bukan hanya sekadar mengawasi, tetapi juga belajar memahami karakter orang, bagaimana mengelola tim, serta memastikan target pelatihan tercapai. Itu semua membutuhkan kesabaran dan kedisiplinan,” ujarnya.

Dibalik pencapaian tersebut, Imam tidak lupa mengenang masa-masa kuliahnya di UNUSIDA. Ia mengaku salah satu pengalaman paling berkesan adalah saat harus rela mengerjakan tugas hingga larut malam, bahkan sampai dini hari. “Kalau ditanya yang paling berkesan, tentu saya ingat betul momen-momen begadang demi tugas. Kadang saya dan teman-teman harus menyelesaikan project pemrograman atau laporan praktikum sampai tengah malam. Walaupun lelah, justru dari situlah saya belajar arti tanggung jawab dan kerja sama,” kenangnya sambil tersenyum. Pengalaman itu ternyata menjadi bekal berharga dalam dunia kerja. Tekanan deadline, tuntutan ketelitian, dan kemampuan mengatur waktu yang dilatih selama masa kuliah benar-benar terpakai ketika ia menghadapi tantangan di pekerjaannya sekarang. “Rupanya begadang mengerjakan tugas waktu kuliah itu semacam simulasi kecil untuk kehidupan kerja sekarang,” tambahnya.

Menurut Imam, UNUSIDA tidak hanya memberikan pengetahuan akademik, tetapi juga menanamkan nilai-nilai karakter yang mendukung alumninya di dunia kerja. Ia merasakan betul bagaimana para dosen di Prodi Teknik Informatika selalu memberikan dorongan untuk berpikir kritis, disiplin, serta terbuka terhadap perkembangan teknologi. Selain itu, kegiatan organisasi dan forum diskusi di kampus juga membentuk kepribadiannya. Dari situ, ia belajar bagaimana bekerja dalam tim, bagaimana menyampaikan ide dengan baik, dan bagaimana menyelesaikan masalah secara bersama-sama. Semua itu sangat relevan dengan pekerjaan yang ia jalani sekarang, di mana komunikasi dan kolaborasi menjadi hal utama. Imam juga menilai bahwa dukungan dosen yang selalu terbuka untuk diskusi adalah salah satu kekuatan UNUSIDA. Para pengajar tidak hanya membimbing mahasiswa dalam perkuliahan, tetapi juga mendorong mereka untuk berani mencoba hal-hal baru dan mengembangkan potensi diri.

Sebagai alumni, Imam tidak lupa memberikan pesan motivasi kepada adik-adiknya di UNUSIDA. Ia menekankan bahwa masa kuliah adalah waktu yang sangat berharga untuk membangun bekal masa depan. Menurutnya, mahasiswa sebaiknya tidak hanya kuliah untuk mengejar nilai, melainkan juga memanfaatkan kesempatan untuk belajar soft skill seperti manajemen waktu, kerja sama tim, dan komunikasi. “Percayalah, semua itu akan sangat berguna ketika kalian sudah terjun ke dunia kerja,” ujarnya penuh semangat. Imam juga berpesan agar mahasiswa tidak takut menghadapi kesulitan. Tugas yang menumpuk, jadwal padat, dan tantangan akademik bukanlah hambatan, melainkan latihan untuk membentuk mental yang kuat. “Kalau kita sudah terbiasa menghadapi tekanan di masa kuliah, kita akan lebih siap menghadapi tantangan di dunia kerja,” tegasnya.

Kehadiran Imam di dunia kerja, khususnya di instansi pemerintah seperti BPVP Banyuwangi, menjadi bukti nyata bahwa UNUSIDA telah berhasil mencetak lulusan yang kompeten dan mampu bersaing. Peran alumni seperti Imam juga menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya bahwa dengan usaha, disiplin, dan ketekunan, peluang untuk sukses selalu terbuka lebar. Bagi UNUSIDA, kisah Imam bukan hanya sekadar cerita pribadi, tetapi juga cerminan keberhasilan program pendidikan yang diterapkan. Dengan mengombinasikan teori, praktik, serta pembinaan karakter, kampus berhasil menyiapkan lulusan yang siap menghadapi tantangan di berbagai bidang pekerjaan.

Kisah perjalanan Imam Santoso Wahyu Nugroho, S.Kom., dari seorang mahasiswa yang rela begadang demi tugas hingga menjadi Pengawas Lapangan BPVP Banyuwangi, adalah inspirasi bagi seluruh mahasiswa UNUSIDA. Semangat, dedikasi, dan kerja kerasnya menunjukkan bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia. Apa yang ia alami selama kuliah di UNUSIDA menjadi fondasi kokoh dalam membangun karier profesionalnya. Dan kini, ia berdiri sebagai contoh nyata bahwa dengan tekad dan konsistensi, setiap mahasiswa bisa menggapai cita-cita.

UNUSIDA Umumkan Prodi Terbaik dalam Audit Mutu Internal 2025: PGSD, Akuntansi, dan Informatika Raih Juara 9

UNUSIDA Umumkan Prodi Terbaik dalam Audit Mutu Internal 2025: PGSD, Akuntansi, dan Informatika Raih Juara

Sidoarjo – Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan melalui kegiatan Audit Mutu Internal (AMI) Tahun 2025. Dari keseluruhan program studi yang ada di UNUSIDA, tiga program studi berhasil meraih predikat terbaik, yaitu Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) sebagai Juara 1, Program Studi Akuntansi sebagai Juara 2, dan Program Studi Informatika sebagai Juara 3. Pengumuman pemenang dilakukan pada Kamis, 18 September 2025 bertempat di Auditorium UNUSIDA. Acara ini dihadiri langsung oleh Rektor UNUSIDA Dr. H. Fatkul Anam, M.Si., jajaran wakil rektor, dekan, ketua program studi, dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa perwakilan organisasi kampus. Penghargaan AMI 2025 diberikan kepada program studi terbaik yang berhasil menunjukkan kinerja unggul dalam aspek akademik, administrasi, penelitian, pengabdian masyarakat, dan tata kelola mutu. Penilaian dilakukan melalui serangkaian audit dokumen, wawancara, observasi, serta verifikasi lapangan oleh tim auditor mutu internal yang ditunjuk oleh Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LPMPP) UNUSIDA. Proses audit sendiri berlangsung sejak Agustus 2025, sebelum akhirnya diumumkan dalam acara penghargaan ini. Tujuan utama dari penghargaan ini adalah memberikan apresiasi, menumbuhkan budaya mutu, serta mendorong kompetisi sehat antar prodi di UNUSIDA agar seluruhnya terus melakukan perbaikan berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Rektor UNUSIDA Dr. H. Fatkul Anam, M.Si. memberikan apresiasi atas capaian yang diraih tiga prodi terbaik. “Saya sangat bangga dengan kerja keras seluruh program studi yang telah mengikuti AMI tahun ini. Khususnya kepada Prodi PGSD, Akuntansi, dan Informatika yang berhasil menjadi juara terbaik dari keseluruhan prodi di UNUSIDA. Penghargaan ini bukan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk terus menjaga mutu pendidikan. Kami ingin UNUSIDA selalu menjadi rumah akademik yang dipercaya masyarakat karena kualitasnya,” ungkap beliau. Beliau menambahkan bahwa penghargaan ini menjadi bukti bahwa UNUSIDA telah menempatkan sistem mutu sebagai fondasi dalam mengembangkan tridharma perguruan tinggi.Adapun tiga prodi terbaik memiliki keunggulan masing-masing. Prodi PGSD yang meraih Juara 1 dinilai unggul dalam pengembangan kurikulum berbasis kebutuhan sekolah dasar modern, inovasi pembelajaran, serta kontribusi penelitian dan pengabdian di bidang pendidikan dasar. Prodi Akuntansi yang meraih Juara 2 berhasil memadukan pembelajaran akuntansi dengan teknologi digital, meningkatkan publikasi ilmiah, serta membekali mahasiswa dengan keterampilan praktis sesuai kebutuhan industri. Sementara itu, Prodi Informatika yang meraih Juara 3 menonjol karena konsistensinya dalam mendorong inovasi teknologi, kolaborasi dengan dunia usaha, serta prestasi mahasiswa di berbagai kompetisi teknologi tingkat nasional.

Penghargaan AMI 2025 tidak hanya memberikan kebanggaan, tetapi juga membawa dampak nyata terhadap pengembangan UNUSIDA secara menyeluruh. Pertama, penghargaan ini mendorong prodi lain untuk memperbaiki kualitas dan bersaing secara sehat, sehingga tercipta iklim akademik yang dinamis. Kedua, kegiatan ini semakin meneguhkan UNUSIDA sebagai perguruan tinggi yang menjadikan mutu sebagai pilar utama dalam semua aspek tridharma perguruan tinggi. Ketiga, keberhasilan ini akan meningkatkan kepercayaan publik dan mitra eksternal terhadap UNUSIDA, baik dalam bidang akademik maupun kerja sama dengan dunia industri dan pemerintah. Keempat, dengan mutu yang terjaga, mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar yang lebih berkualitas, relevan dengan kebutuhan zaman, dan memiliki daya saing tinggi di dunia kerja. Kelima, LPMPP UNUSIDA akan terus melakukan pendampingan agar prodi yang belum meraih juara dapat memperbaiki diri, sehingga kualitas meningkat secara merata di seluruh fakultas. Rektor UNUSIDA juga menegaskan bahwa penghargaan AMI akan dilaksanakan secara rutin setiap tahun. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa setiap program studi memiliki kesadaran dan tanggung jawab dalam menjalankan standar mutu perguruan tinggi. “Saya berharap penghargaan ini menjadi penyemangat. Tahun depan, mungkin akan ada prodi lain yang tampil sebagai juara. Yang terpenting adalah bagaimana setiap prodi memiliki komitmen terhadap peningkatan mutu, bukan hanya untuk meraih penghargaan, tetapi demi mahasiswa, masyarakat, dan masa depan bangsa,” tutup Dr. H. Fatkul Anam, M.Si.

Penghargaan AMI Tahun 2025 yang diberikan kepada Prodi PGSD, Akuntansi, dan Informatika menjadi tonggak penting dalam perjalanan UNUSIDA sebagai perguruan tinggi yang berkomitmen penuh pada budaya mutu. Tidak hanya sebagai bentuk apresiasi, penghargaan ini juga merupakan cerminan visi besar UNUSIDA untuk mencetak lulusan yang unggul, berdaya saing, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Dengan pencapaian ini, UNUSIDA semakin memperkuat posisinya di antara perguruan tinggi lain, sekaligus menunjukkan bahwa kualitas dan integritas adalah kunci keberhasilan dalam membangun pendidikan tinggi yang berkelanjutan. (AS)