Pos

Plt. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Sidoarjo, Probo Agus Sunarno, S.Sos., M.M., saat menjadi Narasumber dalam Pembekalan KKN UNUSIDA Berdaya 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

Ratusan Mahasiswa UNUSIDA Ikuti Pembekalan KKN BERDAYA 2026, Tekankan Menjadi Mitra Pemberdayaan Masyarakat

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) menggelar kegiatan Pembekalan KKN UNUSIDA BERDAYA 2026 sebagai persiapan bagi mahasiswa sebelum terjun ke lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kegiatan ini dilaksanakan di Masjid KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, Kampus 2 UNUSIDA, Kamis (25/6/2026). dan diikuti oleh seluruh peserta KKN UNUSIDA BERDAYA 2026 dengan mengusung semangat ‘Berhikmah, Berkarya, dan Berdampak’.

Pembekalan ini menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa agar memiliki pemahaman yang utuh mengenai peran, tugas, serta tanggung jawab selama melaksanakan pengabdian di masyarakat.

Ketua LPPM UNUSIDA, Elsa Rosyidah, S.TP., M.I.L., menegaskan bahwa mahasiswa yang mengikuti KKN hadir di desa bukan sebagai pihak yang merasa paling tahu atau datang untuk menyelamatkan masyarakat, melainkan sebagai mitra pemberdayaan yang belajar bersama masyarakat.

“Mahasiswa hadir ke desa sebagai mitra pemberdayaan. Teman-teman tidak perlu datang dengan pemikiran bahwa akan menyelamatkan dunia atau membawa program-program yang terlalu muluk. Yang terpenting adalah program yang berdampak, realistis, dan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki,” ujar Elsa dalam sesi pembekalan.

Dosen Teknik Lingkungan tersebut juga mengingatkan bahwa mahasiswa pada dasarnya masih berada dalam proses belajar. Oleh karena itu, pendekatan yang dilakukan selama KKN harus mengedepankan sikap rendah hati, kemampuan mendengar, serta kesediaan memahami kebutuhan masyarakat secara langsung.

Dalam pemaparannya, Elsa menjelaskan bahwa mahasiswa KKN UNUSIDA BERDAYA 2026 memiliki beberapa peran utama selama berada di lokasi pengabdian. Pertama, sebagai pembelajar yang hadir untuk mendengarkan kebutuhan warga dan memahami kondisi serta konteks desa. Kedua, sebagai fasilitator yang mampu menghubungkan ilmu pengetahuan, data, dan solusi sederhana bagi masyarakat. Ketiga, sebagai kolaborator yang bekerja sama dengan pemerintah desa, kader masyarakat, sekolah, pelaku UMKM, dan berbagai komunitas lokal. Serta yang terakhir, sebagai pembawa dampak, yakni meninggalkan luaran, rekomendasi, serta program keberlanjutan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Lebih lanjut, Elsa menjelaskan bahwa tema besar KKN telah ditentukan oleh masing-masing fakultas dan akan menjadi dasar dalam penyusunan program kerja di setiap kelompok. Namun demikian, implementasi program tetap harus menyesuaikan karakteristik dan potensi masing-masing desa.

“Program kerja nantinya bergantung pada tema yang dibawa oleh masing-masing kelompok dan kondisi desa yang ditempati. Mahasiswa dapat berkonsultasi dengan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) maupun Tim Ahli Pendamping Masyarakat (TAPM) agar program yang disusun benar-benar tepat sasaran,” jelasnya.

Ia berharap, KKN UNUSIDA BERDAYA 2026 mampu menjadi wadah pembelajaran sekaligus pengabdian yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Elsa pun menutup arahannya dengan pesan yang sarat makna bagi seluruh peserta KKN.

“Datang dengan adab, bekerja dengan ilmu, pulang meninggalkan manfaat,” pesannya.

Pada kesempatan yang sama, panitia juga mengumumkan pembagian kelompok KKN UNUSIDA BERDAYA 2026. Seluruh peserta diminta untuk segera mengecek nama, kelompok, lokasi desa, serta Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) masing-masing melalui tautan yang telah disediakan disini

Setelah mengetahui kelompoknya, mahasiswa diimbau untuk segera berkoordinasi dengan anggota kelompok serta DPL guna mempersiapkan pelaksanaan program kerja dan keberangkatan ke lokasi KKN.

“Semoga seluruh peserta KKN UNUSIDA BERDAYA 2026 dapat melaksanakan pengabdian dengan penuh tanggung jawab, menjunjung tinggi nilai-nilai akademik dan kemasyarakatan, serta mampu menghadirkan kontribusi nyata bagi pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa,” harapnya.

Dalam pembekalan tersebut menghadirkan Plt. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Sidoarjo, Probo Agus Sunarno, S.Sos., M.M., sebagai narasumber utama. Dalam kesempatan tersebut, ia membagikan gambaran kondisi masyarakat Sidoarjo sekaligus tantangan pembangunan desa yang perlu dipahami mahasiswa.

Probo Agus Sunarno menjelaskan bahwa mahasiswa KKN tidak hanya hadir sebagai pelaksana program kerja, tetapi juga sebagai mitra pemerintah desa dalam mengidentifikasi potensi, memetakan persoalan, dan menghadirkan solusi yang dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Menurutnya, keberhasilan KKN tidak hanya diukur dari banyaknya program yang dilaksanakan, tetapi dari sejauh mana program tersebut mampu memberikan manfaat dan memberdayakan masyarakat.

“Mahasiswa harus mampu membaca kondisi riil masyarakat. Data yang kami sampaikan ini diharapkan menjadi bekal agar program KKN yang dijalankan benar-benar sesuai dengan kebutuhan desa, bukan sekadar melaksanakan kegiatan seremonial,” pungkasnya.

Pembukaan dan Pelepsan KKN Unusida 2024 di Pendopo Delta Wibawa Sidoarjo (Foto: Humas Unusida)

Unusida Berangkatkan 475 Peserta KKN 2024, Siap Mengabdi dan Berkhidmah di Masyarakat

Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu wujud dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat. Melalui KKN ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat, tetapi juga memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan dalam komunitas kita.

Pada tahun 2024 ini, KKN UNUSIDA BERDAYA diikuti oleh 475 mahasiswa, yang terbagi dalam 5 fokus kegiatan.

Pertama, penempatan di 31 RT di Sidoarjo yang merupakan pemenang lomba RT Dinas PMD, yaitu 6 pemenang RT Jimpitan, 6 pemenang RT Sehat, 7 pemenang RT Asri, 6 pemenang RT Berbudaya, dan 6 pemenang RT Mandiri .

Kedua, Kawasan wisata di Sedati di 3 desa yakni Desa Gisik Cemandi, Desa Tambak Cemandi dan Desa Banjar Kemuning. Ketiga, Fasilitas umum kerja sama dengan Dinas Perikanan Sidoarjo di kawasan depo pasar ikan.

Keempat, KKN di 2 pondok pesantren yakni Pondok Pesantren Nurul Ikhlas dan Pondok Pesantren Al Hidayah. Kelima, KKN tematik dari Fakultas Ilmu Komputer (Filkom).

Rektor Unusida, Dr. H Fatkul Anam berharap, melalui KKN kali ini mahasiswa dapat secara langsung terjun dan membaur di tengah masyarakat untuk mengimplementasikan teori-teori yang sudah di ajarkan di waktu kuliah. Dengan begitu, mahasiswa dapat belajar dalam bersosial untuk membantu memberikan solusi yang tepat guna bagi permasalahan di masyarakat.

“Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat belajar langsung dari masyarakat, dapat memetakan potensi yang ada, serta memberikan sumbangsih ide dan inovasi yang tepat guna,” terangnya saat menyampaikan sambutan dalam Pembukaan dan Pelepasan Peserta KKN Unusida Berdaya 2024 di Pendopo Delta Wibawa, Senin (22/07/2024).

KKN Unusida 2024 ini mengusung tema ‘Sinergi Komunitas, Pemberdayaan, dan Pengembangan Berkelanjutan di Sidoarjo melalui Inovasi dan Pariwisata’ yang berfokus pada pendampingan dan pemberdayaan masyarakat.

“Saya ucapkan selamat kepada para mahasiswa yang akan melaksanakan KKN. Semoga kalian dapat melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi tinggi. Marilah kita bersama-sama mewujudkan visi dan misi KKN UNUSIDA BERDAYA, memberikan kontribusi nyata untuk masyarakat, dan membawa perubahan positif bagi lingkungan sekitar,” tambahnya.

Informasi pendaftaran Unusida di PMB Unusida

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo, KH Zainal Abidin menuturkan bahwa momentum KKN menjadi kesempatan untuk menerapkan teori yang diajarkan di bangku kuliah untuk masyarakat. Menjadi momen untuk menunjukkan kredibilitas dan kualitas mahasiswa Unusida di tengah masyarakat.

“Prinsipnya KKN tidak hanya untuk memenuhi persyaratan akademik, akan tetapi juga terdapat nilai-nilai kebaikan di tempat KKN masing-masing. Selain itu, juga harus mengedepankan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah di setiap kegiatan dan seluruh program kerja nantinya,” jelasnya.

Kiai Zainal menegaskan bahwa, keberadaan Mahasiswa Unusida tidak hanya dapat membantu pembangunan secara fisik, akan tetapi juga berikhtiar membangun dari segi psikologi dan kerohanian masyarakat Sidoarjo.

“Mahasiswa Unusida sudah banyak diberikan pemahaman tentang Islam yang moderat, Islam yang rahmatan lil alamin dalam bingkai Aswaja. Sudah seharusnya mahasiswa Unusida mengenalkan dan memperkuat ajaran Ahlussunnah wal Jamaah An Nahdliyah di tengah masyarakat,” tutur kiai Zainal.

Sementara itu, Plt Bupati Sidoarjo, H Subandi menyampaikan bahwa KKN menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengamalkan ilmu yang diajarkan. Selain itu, juga bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam bentuk pengabdian masyarakat.

Ia sangat mengapresiasi segala bentuk program KKN yang dapat berkolaborasi dengan program Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, terutama dalam bidang pariwisata, ekonomi serta peduli dengan masyarakat di daerah pesisir yang menjadi identitas kota Delta.

“Terima kasih atas sumbangsih Unusida atas percepatan pembangunan di Kabupaten Sidoarjo, baik secara fisik dan keilmuan,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, pihaknya saat ini sedang mengupayakan dalam mengurangi kemiskinan dan pengangguran di Kabupaten Sidoarjo. Oleh karena itu, dibutuhkan eksekusi program oleh banyak pihak agar membawa dampak positif bagi masyarakat.

“Saya harap, hadirnya para mahasiswa Unusida yang tersebar di seluruh desa di Sidoarjo dapat menyampaikan pesan terhadap program Pemerintah Sidoarjo. Semoga KKN Unusida berjalan dengan lancar dan membawa kebermanfaatan untuk semuanya,” pungkasnya.

 

(my)

Maulidia, Mahasiswi PGSD Unusida Ajarkan Mengaji hingga Kenalkan Canva saat PLP di Thailand 1

Maulidia, Mahasiswi PGSD Unusida Ajarkan Mengaji hingga Kenalkan Canva saat PLP di Thailand

Mahasiswi Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida), Maulidia Nur Rachmah mengajarkan mengaji Al Qur’an bagi siswa-siswi di Sekolah Ban Yaning, Kecamatan Chuap, Kabupaten Cho Airong, Narathiwat, Thailand.

Hal tersebut yang diajarkan di sekolah tempatnya mengikuti program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional dalam kurun waktu 10 Januari-5 Februari 2024 di Nagara yang dijuluki Gajah Putih tersebut.

“Senang sekali dapat mengajarkan mengaji Al Qur’an bagi siswa-siswi di sekolah tempat saya mengikuti PLP di Thailand. Al Qur’an menjadi hal yang sangat penting dan harus diajarkan sejak dini kepada seorang anak,” ujarnya, Jum’at (15/03/2024).

Maulidia mengaku sempat mengalami kesulitan saat disuruh mengajar membaca Al Qur’an bagi siswa-siswi di Sekolah Ban Yaning. Sebab bahasa yang digunakan sehari-hari adalah Bahasa Melayu Pattani yang berbeda dengan Bahasa Melayu Malaysia.

“Juga kepenulisan huruf juga berbeda, seperti tulisan jawi tapi bagi mereka menjadi tulisan pego arab,” jelasnya.

Namun, seiring berjalannya waktu ia dapat berkomunikasi dengan baik dengan dibantu mahasiswa Thailand yang juga sedang PLP di sekolah yang sama. Maulidia juga tergabung dalam kelompok bersama 2 mahasiswi asal Lamongan selama PLP dan KKN Internasional di sekolah tersebut.

Selain mengajar mengaji, Maulidia juga mengenalkan Canva kepada siswa-siswi sebagai media pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi. Canva merupakan platform desain dan komunikasi visual yang banyak mendukung proses belajar mengajar di sekolah Indonesia. Ia berharap Canva juga dapat dikenal dan menjadi inovasi media pembelajaran baru bagi sekolah di Thailand.

“Sebelumnya, sekolah tempat saya PLP, belum mengenal Canva, cara penggunaan dan manfaatnya untuk belajar. Jadi tidak ada salahnya jika mengenalkan media pembelajaran visual dengan Canva bagi siswa-siswi di Thailand ini,” kata mahasiswi program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) angkatan 2021 tersebut.

Di wilayah Narathiwat kebutuhan akan teknologi seperti laptop dan komputer sangat memadai. Akan tetapi penggunaannya yang belum maksimal. “Seperti ketika saya menggunakan laptop dan mengetik dengan cepat, semua guru yang melihat sangat terkesima,” imbuhnya.

Menurutnya, budaya lingkungan sekolah di Thailand hampir sama dengan sekolah di Indonesia. Seperti pembiasaan sholat dhuha setiap pagi hingga kegiatan ekstrakurikuler di luar jam pelajaran untuk mengasah bakat dan membentuk karakter siswa dengan kegiatan di luar kelas.

“Secara pembiasaan untuk siswa-siswi di sekolah di Thailand dan Indonesia tidak jauh berbeda. Akan tetapi kedisiplinan dan ketertiban yang diterapkan dengan baik, hal tersebut yang membuat saya nyaman selama di sini,” ungkapnya.

Maulidia yang juga aktivis pramuka tidak canggung untuk menerapkan metode pembelajaran ekstrakurikuler dengan mengedepankan pembentukan kepribadian dan kecakapan siswa.

“Jadi, pembelajaran ekstrakurikuler sama kemas seperti kegiatan pramuka, seperti dengan lagu di sini senang di sana senang, hingga mengenalkan budaya Indonesia seperti pencak silat dan tari tradisional,” pungkasnya.

(my)

Mahasiswi Unusida, Elza Fiilmilla Sutejo (baju pink) saat PLP dan KKN Internasional di Todeng, Sung-Ai Padi, Narathiwat, Thailand. (Foto: Humas Unusida)

Elza Fiilmilla Sutejo, Mahasiswa PBI Unusida Kenalkan Budaya 5S Saat PLP di Thailand

Elza Fiilmilla Sutejo, seorang mahasiswi Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida) Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) angkatan 2021, mengenalkan budaya Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun (5S) Internasional di Ban Ai Batu School, Todeng, Sung-Ai Padi, Narathiwat, Thailand.

Elza menjelaskan, masyarakat di Kecamatan Todeng belum mengenal atau menerapkan sepenuhnya budaya 5S, baik di sekolah maupun di instansi tertentu. Oleh karena itu, ia memiliki inisiatif untuk mengenalkan budaya 5S di sekolah tempatnya menjalankan program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional di Negeri Gajah Putih tersebut.

“Alhamdulillah adaptasi pertama kali lancar dengan lingkungan sekolah, kemudian langsung diajak rapat pertama kali dan diberikan kesempatan menyampaikan gagasan. Saya pun mengenalkan budaya 5S yang sudah diterapkan di sekolah maupun instansi di Indonesia untuk juga dapat diterapkan di sekolah ini, dan mendapat sambutan sangat baik dari guru-guru di sana,” jelasnya, Kamis (14/03/2024).

Secara bahasa dan budaya, Elza mengaku tidak kesulitan dalam beradaptasi, sebab bahasa yang digunakan sehari-hari merupakan Bahasa Melayu Pattani yang mempunyai kemiripan dengan Bahasa Indonesia karena masih satu rumpun dengan Indonesia serta masyarakat sekitar yang juga mayoritas beragama Islam. Oleh karena itu, ia tidak mengalami kesulitan saat berkomunikasi atau menyampaikan pendapatnya.

Elza mencontohkan kebiasaannya dalam menerapkan budaya 5S, seperti senyum ketika berpapasan, permisi dan menunduk ketika bertemu dengan yang lebih tua, menyapa ketika di jalan, menyambut siswa-siswi ketika datang, hingga sopan santun ketika mengajar di kelas.

Menurutnya budaya 5S di sekolah dapat menguatkan karakter dan menjadikan semua warga sekolah untuk memiliki kepribadian yang baik. Selain itu, juga mengajarkan siswa untuk bersikap saling menghormati satu sama lain.

Melihat budaya 5S yang dijelaskan oleh Elza tersebut, kepala sekolah sangat menyambut baik dan menerapkannya di lingkungan sekolah dengan membuat poster besar di depan sekolah dan menyampaikan ke siswa-siswi saat apel pagi maupun di dalam kelas.

“Menurut kepala sekolah, itu budaya yang bagus dan sesuai dengan slogan sekolah yaitu bersapa dengan salam budayakan hidup secara islami,” ungkapnya.

Elza menceritakan kondisi lingkungan sekolah yang hampir sama dengan Indonesia. Seperti Sekolah Dasar (SD) pada umumnya, yang mana pembelajaran di dalamnya berisi pendidikan motorik yang dikemas dengan model belajar sambil bermain

Oleh karena itu, Elza sebagai pengajar Bahasa Inggris sangat mengutamakan kebutuhan siswa tanpa mengesampingkan Bahasa Melayu sebagai bahasa sehari-hari, dan Bahasa Thai sebagai bahasa nasional bagi masyarakat di Thailand.

Elza mengaku sangat senang dengan siswa-siswi di Thailand yang sangat semangat dan disiplin dalam belajar. Sebagai seorang guru asing, ia mendapatkan sambutan hangat hingga merasa sangat dekat dengan siswa-siswi. Kedekatan tersebut yang menjadi semangat dan memudahkannya dalam proses belajar mengajar.

“Siswa-siswi di Thailand sangat suka dengan orang Indo, karena melihat di Sosial Media atau TV. Tak jarang ia mengenalkan budaya Indonesia, seperti mengenalkan Bahasa Jawa lewat lagu yang sudah dikenal melalui Media Sosial,” katanya.

Diketahui, Elza mengikuti program PLP dan KKN Internasional selama 1 bulan, dari 10 Januari sampai 5 Februari 2024. Ia satu kelompok dengan 2 mahasiswi dari STIS Nurul Qarnain Jember yang di tempatkan di sekolah tersebut.

(my)

Unusida Lepas 2 Mahasiswi FKIP untuk Program PLP dan KKN Tematik Internasional di Thailand 2

Unusida Lepas 2 Mahasiswi FKIP untuk Program PLP dan KKN Tematik Internasional di Thailand

Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida) melepaskan 2 mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang akan mengikuti Program Pengenalan Lingkungan Persekolahan (PLP) dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Internasional Indonesia Thailand Tahun 2024. 2 mahasiswi tersebut akan menjalani PLP dan KKN Tematik selama 1 bulan, yaitu dari 9 Januari – 7 Februari 2024 yang ditempatkan di provinsi Songkhla, Thailand.

Dua mahasiswa tersebut yaitu, Maulidia Nur Rachmah dari program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dan Elza Fiilmilla Sutejo dari program studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) angkatan 2021. Kegiatan ini dinaungi oleh Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang yang juga menjalin kerja sama dengan 5 perguruan tinggi lain, salah satunya yaitu Unusida.

Rektor Unusida, Dr. H Fatkul Anam, M.Si menyampaikan kegiatan Internasional setiap tahun menjadi program yang sudah dirancang sejak lama. Akan tetapi belum bisa kita laksanakan rutin setiap tahun karena terbentuk beberapa regulasi pertukaran mahasiswa.

Ia mengungkapkan bahwa pihaknya selalu berusaha mencari celah prestasi yang dapat kita raih setiap tahunnya untuk meningkatkan sektor kelembagaan. Ia terinspirasi dari Universitas Nurul Jadid Probolinggo yang berada lebih di pelosok dari Unusida, akan tetapi memiliki prestasi pengabdian Internasional.

“Alhamdulillah tahun ini mahasiswa Unusida dapat kembali mengikuti program Internasional seperti ini adalah yang selalu kita harapkan. Semoga dapat menjadi inspirasi bagi kita semua,” ujarnya saat Pelepasan mahasiswa peserta PLP dan KKN Tematik Internasional, di Gedung Unusida, Senin (08/01/2024).

Alumni Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tersebut berharap melalui partisipasi kalo ini dapat membuka jalan baru dalam mengembangkan dan mengenalkan Unusida di kancah Internasional. Dengan demikian program yang akan diikuti di Thailand dapat menambah poin akreditasi Unusida nantinya.

“Pesan saya, sebagai pionir mahasiswa cari pengalaman yang sebanyak-banyaknya baik budaya, kehidupan kemasyarakatan, dan keilmuan. Semoga dapat membuka jalan serta menjadi bekal untuk mahasiswa Unusida selanjutnya untuk belajar di luar negeri,” tuturnya.

Sementara itu, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Mu’awinatul Laili, M.Pd menjelaskan Provinsi Songkhla Thailand memiliki penduduk yang mayoritas beragama Islam. Jadi mahasiswa Unusida dapat mudah beradaptasi sehingga dapat mengabdikan diri, baik dari segi religi, keilmuan dan kehidupan sosial.

“Melalui program seperti ini mahasiswa dapat pengalaman langka yang sangat berharga, yaitu praktik mengajar di luar negeri. Selain itu juga dapat mempelajari budaya baru serta melakukan pengabdian masyarakat lainya,” jelasnya.

Kepala International Relation Office (IRO) Unusida, Masitah Novianti mengatakan, melalui program Internasional ini menjadi pembelajaran bagi Unusida untuk memperbaiki sistem pertukaran mahasiswa di dunia Internasional. Agar ke depan dapat membuka peluang kerja sama di bidang yang lainya.

“Kami berharap Fakultas dan Program Studi lain di Unusida juga memiliki inisiatif untuk melakukan kerja sama kegiatan internasional yang saat ini sudah terbuka. Tinggal bagaimana kita menyusun program-program yang akan kita tawarkan,” katanya.

Lebih lanjut, Dekan FKIP Unusida, Nurul Aini, S.Pd,. M.Pd menuturkan, dua mahasiswa ini menjadi mahasiswa yang sudah mengikuti seleksi di tingkat prodi dengan melihat keaktifan di kampus, yang juga baru saja menyelesaikan program kampus mengajar.

Ia menambahkan, mahasiswa yang terpilih tidak hanya menyelesaikan tugas PLP dan KKN semata. Tetapi juga mencari peluang, mendapatkan informasi untuk menjalin kerja sama lebih lanjut di bidang lainnya. Sehingga mahasiswa Unusida setiap tahun ada yang dapat berangkat ke luar negeri sehingga memiliki pengalaman di dunia Internasional.

“Kami ingin mempertahankan akreditasi baik dengan mengikuti kegiatan internasional, dan mau melakukan komunikasi secara intensif. Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang sangat mendukung kegiatan ini dari awal hingga pelepasan ini,” pungkasnya.

(my)