Gagasan dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo
Memperoleh Lailatul Qadar dan Habituasi Setelahnya, Membangun Spiritualitas yang Berkelanjutan
/in Gagasan/by UNUSIDA AuthorMalam 27 Bulan Ramadhan kali ini tampak berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Pada malam ini hampir separuhnya diguyur hujan dengan intensitas tinggi hingga sedang. Bagi sebagian wilayah yang merasakan guyuran hujan dengan intensitas tinggi mereka akan merasakan bahwa hujan pada malam ini tidak menimbulkan dampak negatif, seperti banjir yang merusak atau angin yang memporak-porandakan lingkungan. Kelembaban udara serta suhu pada malam ini juga tidak begitu gerah dan tidak begitu dingin serasa sejuk meski tidak ada angin yang berhembus.
Suasana yang nyaman pada malam 27 ini dimanfaatkan oleh banyak orang untuk beribadah secara individual maupun kolektif. Pada waktu sepertiganya, sekitar pukul satu dini hari. Tampak terlihat beberapa kerumunan orang berbondong-bondong ke masjid atau musholla untuk qiyamul lail. Mereka benar-benar menghidupkan malam ini dengan pengabdian penuh kepada Allah SWT. Shalat Tahajud, Shalat Taubat, Shalat Hajat hingga Shalat Tasbih mereka persembahkan untuk Allah. Demikian juga dengan panjatan harapan serta doa terbaik mereka mohonkan kepada Sang Penunai Hajat. Mereka menengadahkan tangan, memohon, meminta, memuji, mengagungkan Tuhan Semesta Alam. Memang pada dasarnya malam 27 ini seperti terkondisikan nyaman untuk beribadah.
Praktik beribadah secara kolektif semacam ini dilakukan dengan berbagai macam motivasi. Seperti motivasi untuk memperoleh fadhilah malam Lailatul Qadar. Beribadah dengan motivasi mendapatkan Lailatul Qadar sah saja sebab kaum Muslimin memang diajarkan untuk mencari dan menghidupkan malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Artinya, nilai ibadah pada malam tersebut memiliki keutamaan yang luar biasa besar, melampaui nilai ibadah yang dilakukan selama puluhan tahun.
Motivasi memperoleh Lailatul Qadar inilah yang kemudian mendorong banyak orang untuk meningkatkan intensitas ibadahnya pada penghujung Ramadhan. Masjid-masjid yang biasanya mulai sepi setelah pertengahan malam tiba-tiba kembali hidup. Lampu-lampu menyala, lantunan doa terdengar khusyuk, dan jamaah duduk bersila membaca Al-Qur’an atau berzikir dengan penuh harap. Ada semacam kesadaran kolektif bahwa kesempatan ini tidak boleh dilewatkan begitu saja.
Namun demikian, terdapat satu pertanyaan penting yang patut kita renungkan bersama. Apakah semangat ibadah yang memuncak pada malam-malam tertentu di bulan Ramadhan itu akan terus berlanjut setelah Ramadhan berlalu? Ataukah semangat tersebut hanya menjadi fenomena musiman yang menghilang begitu saja ketika kalender telah berganti menjadi bulan Syawal?
Di sinilah pentingnya memahami makna spiritual Lailatul Qadar secara lebih mendalam. Lailatul Qadar bukan sekadar malam yang diburu untuk mendapatkan pahala berlipat ganda, tetapi juga momentum transformasi spiritual bagi seorang Muslim. Malam ini seharusnya menjadi titik balik kesadaran manusia untuk memperbaiki hubungan dengan Tuhan sekaligus memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Jika seseorang benar-benar merasakan kehadiran spiritual Lailatul Qadar, maka dampaknya tidak berhenti pada satu malam saja. Pengalaman spiritual tersebut semestinya melahirkan perubahan sikap, perubahan perilaku, dan perubahan orientasi hidup hingga seribu bulan lamanya. Orang yang merasakan kedekatan dengan Tuhan pada malam itu akan terdorong untuk mempertahankan kualitas ibadahnya pada hari-hari berikutnya, itulah Lailatul Qadar yang membekas pada spiritualitasnya.
Dalam perspektif pendidikan spiritual, hal ini dapat disebut sebagai proses habituasi atau pembiasaan. Ramadhan pada dasarnya adalah madrasah ruhaniyah yang melatih manusia untuk membentuk kebiasaan baik. Puasa melatih pengendalian diri, tarawih melatih konsistensi ibadah malam, sedekah melatih kepedulian sosial, dan tadarus Al-Qur’an melatih kedekatan dengan wahyu Ilahi.
Semua latihan tersebut mencapai puncaknya pada sepuluh hari terakhir Ramadhan ketika umat Islam berlomba-lomba mencari Lailatul Qadar. Namun, tujuan akhir dari latihan tersebut bukanlah sekadar pengalaman spiritual yang bersifat sesaat, melainkan terbentuknya karakter religius yang berkelanjutan.
Dalam konteks inilah, habituasi setelah Ramadan menjadi sangat penting. Orang yang terbiasa bangun malam selama Ramadhan idealnya tetap melanjutkan kebiasaan tersebut meskipun dalam kadar yang lebih sederhana. Orang yang terbiasa membaca Al-Qur’an setiap hari selama Ramadhan juga diharapkan tetap menjaga kedekatannya dengan Al-Qur’an pada bulan-bulan berikutnya. Demikian pula dengan kebiasaan bersedekah, menjaga lisan, dan memperbanyak doa.
Habituasi ini penting karena dalam ajaran Islam, amal yang paling dicintai oleh Allah bukanlah amal yang besar tetapi dilakukan sekali, melainkan amal yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit. Konsistensi atau istiqamah inilah yang menjadi indikator kematangan spiritual seseorang.
Dengan demikian, keberhasilan seseorang memperoleh keberkahan Lailatul Qadar tidak hanya diukur dari seberapa khusyuk ia beribadah pada malam itu, tetapi juga dari sejauh mana ia mampu mempertahankan nilai-nilai spiritual Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari setelahnya. Jika setelah Ramadhan seseorang kembali pada kebiasaan lama yang jauh dari nilai-nilai ketakwaan, maka bisa jadi ia hanya mendapatkan euforia spiritual sesaat tanpa transformasi yang nyata.
Sebaliknya, jika pengalaman spiritual pada malam-malam Ramadhan mampu melahirkan kebiasaan baik yang terus dipelihara, maka di situlah hakikat keberkahan Lailatul Qadar benar-benar terwujud. Malam itu tidak hanya menjadi malam yang penuh pahala, tetapi juga menjadi awal dari perjalanan spiritual yang lebih matang.
Walhasil, Lailatul Qadar bukan hanya tentang satu malam yang penuh kemuliaan, tetapi tentang bagaimana kemuliaan malam tersebut mampu membentuk kebiasaan hidup yang lebih baik hingga seribu bulan. Ramadhan mungkin akan berlalu, tetapi nilai-nilai spiritual yang ditanamkan di dalamnya seharusnya tetap hidup dalam diri setiap Muslim. Dengan cara itulah, cahaya Lailatul Qadar tidak hanya menerangi satu malam, tetapi juga menerangi perjalanan hidup manusia sepanjang waktu. Semoga kita diperkenankan oleh Allah untuk menjumpai Ramadhan berikutnya.
Oleh: Dr. Rangga Sa’adillah S.A.P. (Kabag MKU UNUSIDA)
Mengonstruksi Perilaku Akademik Mahasiswa UNUSIDA: Revolusi Mental di Semester Genap 2025/2026
/in Gagasan/by UNUSIDA AuthorMemasuki Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026, Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) berada pada sebuah titik transisi penting. Pergeseran dari semester gasal ke genap bukan sekadar pergantian kalender akademik, melainkan momentum reflektif untuk menilai ulang efektivitas interaksi pembelajaran di ruang kelas. Di tengah akselerasi visi UNUSIDA menuju keunggulan IPTEKS yang berlandaskan nilai-nilai An-Nahdliyah, perubahan perilaku akademik mahasiswa menjadi kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda.
Mahasiswa tidak lagi dapat diposisikan sebagai objek pasif pembelajaran. Paradigma lama yang menempatkan mahasiswa sekadar sebagai penerima informasi harus digeser menuju peran baru: mahasiswa sebagai mitra dialogis teman diskusi yang setara, kritis, dan bertanggung jawab. Transformasi inilah yang menjadi inti dari revolusi mental akademik di UNUSIDA.
Sinergi Behavioristik dan Konstruktivisme
Upaya mengonstruksi perilaku akademik mahasiswa berpijak pada dua fondasi teori pendidikan modern: behavioristik dan konstruktivisme. Pendekatan behavioristik dimanfaatkan untuk membentuk kebiasaan akademik melalui stimulus diskusi yang menantang serta sistem penguatan (reinforcement) yang menghargai keberanian berpikir kritis. Apresiasi terhadap partisipasi aktif, argumentasi logis, dan etika berdiskusi menjadi instrumen penting dalam membangun iklim akademik yang hidup.
Sementara itu, pendekatan konstruktivistik memosisikan kelas sebagai ruang sosial tempat pengetahuan dibangun secara aktif melalui dialog dan refleksi bersama. Mahasiswa tidak lagi sekadar menghafal teori, melainkan berperan sebagai arsitek gagasan yang mampu membedah realitas sosial, ekonomi, dan budaya. Sinergi kedua pendekatan ini bertujuan melahirkan ekosistem pembelajaran yang dinamis dan transformatif.
Menghancurkan Pendidikan Gaya Bank
Pemikir pendidikan kritis Paulo Freire, dalam Pedagogy of the Oppressed, mengkritik model pendidikan gaya bank yang menempatkan dosen sebagai pemilik kebenaran dan mahasiswa sebagai celengan kosong penampung informasi. Model ini terbukti melumpuhkan daya kritis dan kreativitas.
Refleksi atas proses pembelajaran di Semester Gasal menunjukkan bahwa pendekatan semacam ini perlu ditinggalkan. Sejalan dengan gagasan problem-posing education, pembelajaran di UNUSIDA harus mendorong dosen dan mahasiswa menjadi subjek yang bersama-sama merefleksikan realitas. Mahasiswa diberi ruang untuk mempertanyakan, menganalisis, bahkan mengkritisi, dengan tujuan menemukan solusi atas problematika masyarakat secara ilmiah dan beretika.
Reinforcement Positif sebagai Pemantik Keberanian
Dalam perspektif behavioristik, B.F. Skinner menegaskan bahwa perilaku yang diikuti oleh konsekuensi positif cenderung akan diulang. Kelas yang sunyi dan minim dialog sering kali bukan karena mahasiswa tidak mampu berpikir kritis, melainkan karena lingkungan belajar belum memberi penguatan positif terhadap keberanian berpendapat.
Semester Genap 2025/2026 harus menjadi ruang aman akademik, di mana kesalahan dalam berargumen tidak dipandang sebagai kegagalan, melainkan bagian dari proses belajar. Dosen berperan menyediakan stimulus intelektual yang menantang, sementara mahasiswa meresponsnya dengan argumentasi yang terbangun secara bertahap dan reflektif.
Dialektika dalam Zone of Proximal Development
Teori Konstruktivisme Sosial Lev Vygotsky memperkenalkan konsep Zone of Proximal Development (ZPD), yakni wilayah belajar di mana individu dapat mencapai pemahaman lebih tinggi melalui bantuan interaksi sosial. Dalam konteks ini, peran mahasiswa sebagai teman diskusi menjadi krusial.
Dosen di UNUSIDA berfungsi sebagai scaffold penyangga intelektual yang memfasilitasi mahasiswa untuk naik ke level pemahaman yang lebih matang melalui dialog yang bermakna. Sebagaimana ditegaskan John Dewey, “pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup; pendidikan adalah hidup itu sendiri.” Maka, ruang kelas harus menjadi miniatur kehidupan sosial yang demokratis, dialogis, dan partisipatif.
Etika Santun sebagai Penyeimbang Nalar Kritis
Namun demikian, menjadi mitra diskusi tidak berarti mengedepankan kebebasan berpikir tanpa batas. UNUSIDA memiliki kekhasan nilai yang membedakannya. Mengacu pada pemikiran Imam Al-Ghazali tentang adab menuntut ilmu, kecerdasan intelektual harus berjalan seiring dengan keluhuran akhlak.
Keberanian berpendapat merupakan bentuk ijtihad kecil di ruang kelas, tetapi tetap harus dipayungi oleh adab, sikap tawadhu’, dan penghormatan terhadap sumber ilmu. Inilah karakter mahasiswa UNUSIDA yang hendak dibangun: tajam dalam berpikir, santun dalam bersikap, dan moderat dalam bersikap di tengah arus globalisasi.
Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 harus menjadi titik awal komitmen kolektif seluruh civitas akademika UNUSIDA. Mengonstruksi perilaku akademik bukan semata soal metode mengajar, melainkan perubahan budaya akademik secara menyeluruh.
Dengan memadukan kedisiplinan behavioristik dan kemerdekaan berpikir konstruktivistik, UNUSIDA berpeluang melahirkan sarjana yang tidak hanya unggul secara transkrip nilai, tetapi juga matang secara dialektika dan etika. Kampus ini membutuhkan pemikir yang berani menjadi mitra dialog karena di tangan para teman diskusi inilah, masa depan peradaban Nahdlatul Ulama dipertaruhkan.
Hari Gerakan Satu Juta Pohon: Komitmen Peran Akademisi dalam Pelestarian Lingkungan dan Keberlanjutan
/in Gagasan/by UNUSIDA AuthorPeringatan Hari Gerakan Satu Juta Pohon setiap tanggal 10 Januari merupakan momentum strategis untuk memperkuat kesadaran kolektif dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup. Bagi perguruan tinggi, peringatan ini tidak sekadar bersifat seremonial, tetapi menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan peran kampus dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dalam perspektif keilmuan Teknik Lingkungan, pohon memiliki fungsi ekologis yang sangat vital. Pohon berperan sebagai penyerap karbon dioksida, pengendali iklim mikro, pelindung tanah dan sumber daya air, serta peningkat kualitas udara. Di tengah tantangan perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan krisis ekologi yang semakin kompleks, keterlibatan institusi pendidikan tinggi menjadi bagian penting dari solusi jangka panjang.
Sebagai kampus yang terus mengembangkan konsep green campus, peringatan Hari Gerakan Satu Juta Pohon dapat diimplementasikan melalui kegiatan penanaman pohon yang terencana dan berbasis fungsi lingkungan. Penanaman vegetasi peneduh, tanaman penahan erosi, maupun pohon dengan kemampuan menyerap polutan merupakan langkah konkret untuk menciptakan lingkungan kampus yang sehat, asri, dan berkelanjutan.
Selain berdampak secara ekologis, kegiatan tersebut juga memiliki nilai edukatif yang kuat. Penanaman pohon dapat menjadi media pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa. Melalui keterlibatan langsung dalam aksi lingkungan, mahasiswa tidak hanya memahami konsep keberlanjutan sebagai teori di ruang kelas, tetapi juga sebagai praktik nyata yang terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari.
Lebih jauh, momentum Hari Gerakan Satu Juta Pohon dapat menjadi titik awal pengembangan penelitian terapan dan program pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada isu lingkungan. Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan masyarakat sekitar kampus diharapkan mampu menghasilkan dampak yang lebih luas, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai agen perubahan sosial dan lingkungan.
Melalui peringatan ini, civitas akademika diharapkan dapat menanamkan kesadaran bahwa pelestarian lingkungan bukan sekadar kegiatan tahunan, melainkan komitmen berkelanjutan yang harus diwujudkan dalam setiap aktivitas akademik. Dengan mengintegrasikan nilai lingkungan, green campus, dan keberlanjutan ke dalam Tridharma Perguruan Tinggi, kampus berkontribusi nyata dalam menyiapkan generasi yang peduli, bertanggung jawab, dan berorientasi pada masa depan bumi yang lebih baik.
Oleh: Muchammad Tamyiz, S.Si., M.Si., Ph.D.
Kepala Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA)
Jelang RAKER UNUSIDA, Mari Mewujudkan Mimpi Besar Mulai dari Hal Kecil
/in Gagasan/by UNUSIDA AuthorSetiap institusi besar tidak lahir dari keajaiban semalam. Ia tumbuh dari sebuah mimpi besar (grand vision) yang dirawat dengan ketekunan, kesabaran, dan konsistensi. Menjelang Rapat Kerja (RAKER) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) di Utama Raya Paiton, Situbondo, pada 15–16 Januari 2026 mendatang. Sudah saatnya kita melakukan pergeseran paradigma: kejayaan universitas tidak dibangun dengan mengejar apa yang belum dimiliki, melainkan dengan mengoptimalkan apa yang sudah ada di tangan.
Mewujudkan mimpi besar tidak selalu dimulai dengan langkah raksasa yang menggelegar. Ia justru bermula dari keberanian menekuni hal-hal kecil yang kerap luput dari perhatian. Seperti pohon beringin yang kokoh, ia tidak serta-merta menjulang ke langit, tetapi berawal dari sebutir benih yang sabar menguatkan akar di dalam tanah. Begitu pula UNUSIDA, mimpi menjadi mercusuar peradaban dibangun dari disiplin administratif, ketulusan pelayanan, dan integritas akademik yang dilakukan setiap hari.
Dalam strategi modern, kita sering terjebak pada obsesi lompatan besar, padahal fondasi kuat lahir dari perbaikan kecil yang konsisten. James Clear dalam Atomic Habits menyebutkan bahwa kesuksesan adalah akumulasi dari perbaikan kecil sebesar satu persen yang dilakukan terus-menerus. Jika setiap unit kerja di UNUSIDA melakukan peningkatan kualitas kecil setiap hari, maka efek bola salju akan tercipta dan mengubah wajah institusi secara signifikan.
Pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) mengajarkan kita untuk tidak terus-menerus memandang kekurangan. Dalam tradisi NU, kita diajarkan untuk qana’ah namun tetap memiliki himmah yang tinggi. UNUSIDA memiliki modal sosial besar berupa kepercayaan jamaah Nahdliyin. Raker ini semestinya menjadi ruang audit talenta, tempat mengonversi keahlian dosen, jejaring kiai, dan potensi mahasiswa menjadi kekuatan akademik dan sosial yang berdampak luas.
Membangun mimpi besar sejatinya adalah membangun sistem melalui kebiasaan. Dalam nafas pesantren, inilah yang disebut istiqamah. Konsistensi dalam hal kecil—ketepatan waktu, kerapian administrasi, dan kualitas pelayanan adalah karomah organisasi. Peter Senge dalam The Fifth Discipline mengingatkan bahaya bekerja dalam sekat-sekat. Dalam tradisi NU, kita mengenalnya sebagai pentingnya silaturahmi dan sinergi.
Menggerakkan organisasi bukan semata soal instruksi, melainkan inspirasi khidmah. Sebagaimana Fiqih Sosial KH. Sahal Mahfudh, setiap kerja harus bermuara pada kemaslahatan. Jika setiap sivitas akademika memaknai tugas kecilnya sebagai bentuk pengabdian kepada NU dan ilmu pengetahuan, maka energi besar akan lahir secara alami.
Mimpi besar UNUSIDA bukan utopia. Ia akan menjadi nyata jika kita setia pada hal-hal kecil yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Mari jadikan Raker 15–16 Januari 2026 mendatang sebagai momentum menyatukan niat khidmah. Sebab, besar adalah akumulasi dari yang kecil, dan hebat adalah kristalisasi dari yang konsisten.
Oleh: Achmad Wahyudi (Kepala UPT PMB UNUSIDA)
Pulang dari Liburan: Mengubah Jeda Menjadi Momentum Inspirasi dan Motivasi Peningkatan Performa Kinerja
/in Gagasan/by UNUSIDA AuthorLibur panjang seperti akhir tahun, kerap disalahpahami sebagai jeda yang memutus produktivitas. Padahal, jika dilihat melalui perspektif literasi inovasi, liburan justru merupakan fase strategic renewal, pembaruan strategis yang penting bagi keberlanjutan performa kerja. Bagi sekitar 24,76 juta angkatan kerja di Jawa Timur, khususnya di kawasan aglomerasi industri seperti Sidoarjo, tantangan pasca liburan bukan sekadar melawan rasa malas, melainkan menavigasi transisi dari mode rekreasi menuju kinerja yang lebih adaptif dan eksponensial.
Dialektika Ruang: Ruang Publik sebagai Mesin Reset Mental
Ruang publik di Jawa Timur, mulai dari Alun-Alun Sidoarjo hingga kawasan Kota Lama Surabaya bukan sekadar ornamen kota. Dalam Theory of Supportive Design, psikolog lingkungan Roger Ulrich menegaskan bahwa ruang terbuka dengan elemen alam mampu menurunkan kadar kortisol atau hormon stres secara signifikan.
Ruang publik yang bersih, inklusif, dan edukatif berfungsi sebagai zona dekompresi mental. Ketika seorang pekerja menikmati ruang publik sebelum kembali ke rutinitas pabrik atau kantor, ia sedang melakukan mental priming. Proses ini membantu memastikan bahwa inspirasi selama liburan tidak kandas akibat kejutan budaya ketika kembali pada ritme kerja yang kaku dan menuntut.
Mengubah Trauma Menjadi Performa: Pelajaran dari Lusi
Sidoarjo juga menyimpan pelajaran besar tentang resiliensi melalui fenomena Lumpur Sidoarjo (Lusi). Dari sudut pandang literasi inovasi, Lusi adalah simbol bagaimana krisis dapat ditransformasikan menjadi sumber pembelajaran. John Kotter, pakar manajemen perubahan, menekankan bahwa urgensi dan adaptasi adalah inti dari inovasi.
Wisata edukatif Lusi mengajarkan bahwa hambatan termasuk jeda liburan yang kerap dianggap mematahkan momentum yang sejatinya membuka ruang refleksi. Jika bencana sebesar Lusi mampu diolah menjadi sarana edukasi, maka tantangan pasca liburan seharusnya dapat menjadi titik awal untuk memperbaiki inefisiensi kerja dan pola lama yang tidak produktif.
Performa kerja tidak mungkin optimal jika seseorang terbebani tekanan psikologis akibat pengelolaan keuangan yang buruk selama liburan. Fenomena judi online dan pinjaman online ilegal yang sering berkedok hiburan instan menjadi ancaman serius pasca libur.
Sosiolog Zygmunt Bauman, melalui konsep Liquid Modernity, mengingatkan tentang bahaya konsumsi instan yang menggerus rasionalitas. Literasi inovasi digital termasuk melalui ruang publik virtual seperti portal layanan pemerintah Jawa Timur berperan sebagai filter moral dan rasional. Stabilitas finansial dan kesehatan mental adalah fondasi penting agar fokus dan integritas kerja tetap terjaga.
Strategi Akselerasi: Mengonversi Jeda Menjadi Aksi
Mengubah inspirasi menjadi performa memerlukan strategi inertia braking atau memecah kelembaman. James Clear, pakar produktivitas, menegaskan bahwa performa tinggi lahir dari akumulasi langkah kecil yang konsisten, bukan dari ledakan motivasi sesaat.
Inspirasi selama liburan seperti efisiensi layanan hotel atau kebersihan destinasi wisata yang perlu dibawa ke ruang kerja sebagai bahan diskusi inovasi. Prinsip Attention Restoration Theory (ART) juga relevan: mulailah hari pertama kerja dengan tugas fokus berdurasi pendek namun bermakna untuk mengaktifkan kembali fungsi eksekutif otak.
Untuk membantu transisi, berikut ritual Checklist 5 menit sederhana namun strategis:
-
Visual Re-Orientation (1 menit): Arahkan pandangan pada elemen hijau di ruang publik atau kantor.
-
Idea Anchoring (1 menit): Catat satu ide perbaikan kerja yang terinspirasi dari liburan.
-
Digital Detox (1 menit): Tutup aplikasi hiburan dan aktifkan mode kerja bebas distraksi.
-
Budget Alignment (1 menit): Pastikan kondisi keuangan pasca libur aman untuk ketenangan pikiran.
-
Social Priming (1 menit): Tebarkan energi positif kepada rekan kerja untuk membangun atmosfer kolaboratif.
Pulang dari liburan bukan berarti meninggalkan kebahagiaan demi kembali ke beban. Dengan literasi inovasi, liburan justru menjadi investasi bagi kapasitas berpikir dan ketangguhan mental. Jawa Timur, melalui dinamika ruang publik dan pembelajaran sosialnya, menyediakan infrastruktur mental bagi masyarakat untuk tumbuh.
Momentum pasca liburan adalah pijakan untuk melompat lebih tinggi. Kinerja unggul dimulai dari pikiran yang segar, hati yang terjaga dari perilaku destruktif, dan tekad untuk mengubah inspirasi menjadi aksi nyata.
Ditulis oleh: Achmad Wahyudi, S.Pd.I., M.Pd.
Perspektif Pendidikan Modern: Keteladanan Ibu dalam Pembentukan Karakter Anak Usia Sekolah
/in Berita, Gagasan/by UNUSIDA AuthorDalam momentum peringatan Hari Ibu, Wakil Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Dr. Arie Widya Murni, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa karakter anak usia sekolah tidak dapat dipisahkan dari keteladanan ibu dalam kehidupan sehari-hari. Dalam perspektif pendidikan modern, karakter bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama dalam membentuk generasi yang berintegritas, empatik, dan bertanggung jawab.
Menurutnya, sekolah memang memiliki peran strategis dalam pengembangan akademik dan sosial anak, namun berbagai kajian pendidikan menunjukkan bahwa keluarga. Terutama ibu yang memegang peran paling menentukan dalam pembentukan karakter anak usia sekolah.
“Di tengah tantangan zaman seperti kecanduan gawai, menurunnya empati sosial, serta pergeseran nilai moral, keteladanan ibu menjadi benteng pertama yang menjaga arah tumbuh kembang kepribadian anak,” ujarnya.
Ibu sebagai Role Model Pertama Pendidikan Karakter
Ia menjelaskan bahwa karakter anak tidak dibentuk melalui nasihat semata, melainkan melalui keteladanan yang konsisten. Hal ini sejalan dengan teori social learning dari Albert Bandura yang menyatakan bahwa anak belajar perilaku melalui observasi dan imitasi.
“Dalam konteks ini, sikap dan perilaku ibu sehari-hari sejatinya adalah ‘kurikulum hidup’ yang terus dibaca dan ditiru oleh anak,” jelasnya.
Beberapa bentuk keteladanan ibu yang sangat berpengaruh antara lain kemampuan mengelola emosi, menunjukkan empati dan kepedulian sosial, menegakkan disiplin dan tanggung jawab, serta membangun budaya literasi dan sikap positif terhadap pendidikan di rumah.
Lebih lanjut, Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) tersebut menekankan bahwa pendidikan modern menempatkan keluarga dan sekolah sebagai mitra sejajar. Kurikulum karakter di sekolah tidak akan efektif tanpa penguatan nilai yang konsisten di rumah. Pendekatan seperti pendidikan holistik, Social-Emotional Learning (SEL), dan positive parenting menegaskan pentingnya stabilitas emosi, empati, komunikasi terbuka, serta penguatan positif yang dimulai dari keluarga.
Dalam era digital, peran ibu menjadi semakin krusial. Anak-anak yang tumbuh sebagai digital natives membutuhkan contoh nyata dalam literasi digital, komunikasi terbuka, serta keseimbangan antara penggunaan teknologi, keluarga, dan kehidupan sosial. Ia menuturkan bahwa ibu adalah sekolah pertama bagi anak, karakter adalah kurikulumnya, dan keteladanan adalah metode utamanya.
“Ibu bukan hanya pengawas penggunaan gawai, tetapi teladan utama bagaimana teknologi digunakan secara sehat, produktif, dan bertanggung jawab,” tuturnya.
Menguatkan Peran Ibu dalam Pendidikan Karakter
Arie menegaskan bahwa berbagai riset psikologi dan pendidikan menunjukkan ikatan emosional ibu dan anak membentuk secure attachment yang berdampak langsung pada perilaku dan prestasi belajar. Anak dengan figur ibu yang hangat dan suportif cenderung lebih percaya diri serta memiliki motivasi belajar yang tinggi hingga dewasa.
Sebagai rekomendasi, ia mendorong adanya program parenting berbasis sekolah, pendampingan karakter anak secara kolaboratif antara guru dan orang tua, penguatan literasi keluarga, serta dukungan kesehatan mental bagi ibu.
“Ibu yang sehat secara emosional akan lebih mampu menghadirkan keteladanan yang positif dan konsisten,” tambahnya.
“Pendidikan modern hanya akan berjalan efektif jika keluarga, terutama ibu menjadi pusat pembentukan karakter yang memadukan cinta, keteladanan, dan disiplin dalam komitmen yang berkelanjutan,” pungkasnya.
Oleh: Dr. Arie Widya Murni, S.Pd., M.Pd. (Wakil Dekan FKIP UNUSIDA)
Prospek Ekonomi 2026: Tantangan Digitalisasi, Ekonomi Hijau, dan SDM
/in Gagasan/by UNUSIDA AuthorMenatap tahun 2026, Indonesia berada pada persimpangan penting dalam perjalanan pembangunan ekonominya. Di tengah dinamika global yang terus berubah, mulai dari disrupsi teknologi hingga tekanan isu lingkungan. Indonesia dihadapkan pada peluang besar sekaligus tantangan serius. Setidaknya terdapat tiga isu strategis yang akan sangat menentukan arah dan kualitas pertumbuhan ekonomi nasional, yakni digitalisasi, pengembangan ekonomi hijau, dan penguatan sumber daya manusia (SDM).
Digitalisasi: Peluang Inklusif yang Masih Menyisakan Kesenjangan
Digitalisasi telah menjadi keniscayaan dalam kehidupan ekonomi modern. Pemanfaatan kecerdasan buatan, big data, serta otomatisasi kini bukan lagi sekadar inovasi, melainkan standar baru dalam dunia usaha dan industri. Transformasi digital memberikan peluang efisiensi, perluasan pasar, serta peningkatan daya saing nasional.
Namun demikian, tantangan besar masih membayangi, terutama kesenjangan digital yang dialami sektor UMKM. Banyak pelaku usaha kecil dan menengah yang belum memiliki literasi digital memadai, keterbatasan infrastruktur, maupun akses pembiayaan untuk adopsi teknologi. Tanpa kebijakan yang berpihak pada peningkatan kapasitas UMKM, digitalisasi justru berpotensi memperlebar ketimpangan ekonomi. Oleh karena itu, intervensi pemerintah melalui pelatihan, perluasan infrastruktur digital, serta skema pembiayaan yang inklusif menjadi kebutuhan mendesak.
Ekonomi Hijau: Antara Potensi Besar dan Tantangan Transformasi
Di sisi lain, ekonomi hijau menjadi agenda strategis yang tak terpisahkan dari komitmen Indonesia terhadap pembangunan berkelanjutan. Tekanan global akibat perubahan iklim mendorong negara-negara, termasuk Indonesia, untuk mengadopsi praktik ekonomi yang lebih ramah lingkungan. Dengan kekayaan sumber daya alam dan potensi energi terbarukan yang melimpah, Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemain utama dalam ekonomi hijau.
Meski demikian, transisi menuju ekonomi hijau bukanlah proses yang mudah. Diperlukan keberanian untuk mengubah pola produksi konvensional, investasi serius pada teknologi hijau, serta konsistensi kebijakan publik dalam mendukung transisi energi. Tanpa komitmen jangka panjang, ekonomi hijau berisiko hanya menjadi jargon tanpa dampak nyata.
SDM: Fondasi Utama Transformasi Ekonomi
Keberhasilan digitalisasi dan ekonomi hijau pada akhirnya sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia. Tantangan terbesar Indonesia ke depan adalah memastikan tenaga kerja memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan zaman. Kemampuan analitik, literasi teknologi, kreativitas, hingga green skills menjadi kompetensi kunci yang harus dimiliki generasi mendatang.
Dalam konteks ini, perguruan tinggi memegang peran strategis. Institusi pendidikan tinggi dituntut untuk adaptif melalui pengembangan kurikulum yang relevan, pembelajaran berbasis praktik, serta kolaborasi erat dengan dunia industri. Perguruan tinggi tidak hanya menjadi pusat transfer ilmu, tetapi juga motor penghasil SDM unggul yang siap menjawab tantangan ekonomi masa depan.
Bagi Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), tantangan ekonomi tersebut selaras dengan identitas kampus NU yang mengusung motto Religius Campus With Entrepreneurship Spirit. Artinya, pembangunan ekonomi tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga harus berpijak pada nilai-nilai keislaman, kemandirian, dan kemaslahatan umat.
UNUSIDA memandang penguatan SDM sebagai proses menyeluruh: mengintegrasikan keilmuan, nilai ke-NU-an, dan semangat kewirausahaan. Mahasiswa diharapkan tidak hanya siap menjadi pekerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja yang berorientasi pada kemaslahatan.
Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, akademisi, dan sektor bisnis, tantangan digitalisasi, ekonomi hijau, dan penguatan SDM bukanlah hambatan, melainkan peluang strategis. Saya optimis, jika dikelola secara terencana dan berkelanjutan, tahun 2026 dapat menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk melangkah menuju ekonomi yang lebih tangguh, berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan.
Oleh: Dr. Hj. Muhafidhah Novie, S.E., M.M.
Dekan Fakultas Ekonomi
Membangun Budaya Anti Korupsi dalam Perspektif Fikih dan Tasawuf, Jalan Menuju Umat yang Berintegritas
/in Gagasan/by UNUSIDA AuthorPeringatan Hari Anti Korupsi Sedunia yang diperingati setiap tanggal 9 Desember 2025 ini, menjadi momentum bagi Bangsa Indonesia yang harus kembali dihadapkan pada refleksi mendalam terkait persoalan besar yang belum kunjung usai, yaitu korupsi. Meski berbagai instrumen regulasi telah disiapkan oleh negara, praktik korupsi masih terjadi di banyak sektor—pemerintahan, pendidikan, bisnis, bahkan institusi sosial yang seharusnya menjadi teladan moral bagi publik.
Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum. Ia adalah luka moral, kerusakan akhlak, dan penyakit sosial yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa. Karena itulah, pemberantasan korupsi tidak cukup hanya mengandalkan hukum, sanksi, dan pengawasan. Dibutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif: pendekatan fikih, tasawuf, dan pendidikan karakter yang dapat membersihkan perilaku lahir sekaligus menata batin.
Undang-undang Indonesia melalui UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001 mengelompokkan tujuh jenis utama tindak pidana korupsi:
-
Merugikan keuangan negara,
-
Suap-menyuap,
-
Penggelapan dalam jabatan,
-
Pemerasan,
-
Perbuatan curang,
-
Benturan kepentingan,
-
Gratifikasi.
Fikih Islam memandang seluruh tindakan ini sebagai perbuatan yang bertentangan secara mutlak dengan syariat. Korupsi bukan hanya mencederai hukum negara, tetapi juga pengkhianatan terhadap amanah yang berasal dari Allah SWT. Dalam literatur fikih, perilaku koruptif dikenal dengan istilah:
-
Ghulul (penggelapan),
-
Risywah (suap),
-
Aklu al-maal bi al-bathil (memakan harta secara batil),
-
Khiyanah (pengkhianatan).
Selain itu, Al-Qur’an juga mengingatkan dengan tegas dalam QS. Al-Baqarah: 188: “Janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan cara yang batil dan janganlah kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim untuk memakan sebagian harta orang lain dengan dosa, padahal kamu mengetahui”
Korupsi merendahkan martabat pelakunya, mencoreng lembaga yang menaunginya, menistakan keluarganya, dan menurunkan kepercayaan publik. Pelaku korupsi tidak hanya diadili di dunia, melalui pidana dan kewajiban mengembalikan kerugian negara, tetapi juga akan dihukum oleh masyarakat secara moral serta diadili di hadapan Allah SWT.
Jika fikih mengatur batasan hukum, maka tasawuf menata kedalaman hati. Korupsi adalah buah dari penyakit spiritual seperti tamak, cinta dunia berlebihan, hilangnya rasa malu, dan hilangnya kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi.
Yang ironis, pelaku korupsi bukan orang yang kekurangan, tetapi mereka yang telah berkecukupan, namun tetap tidak merasa puas.
Tasawuf menawarkan “obat rohani” melalui nilai-nilai seperti:
-
Muraqabah (merasa diawasi Allah)
-
Muhasabah (introspeksi diri)
-
Zuhud (tidak diperbudak oleh dunia)
-
Qana’ah (merasa cukup atas karunia Allah)
Nilai-nilai ini bukan menghalangi manusia untuk sukses secara duniawi, tetapi menempatkan harta pada tempatnya: sebagai sarana ibadah, bukan tujuan hidup. Ketika tasawuf mengaliri karakter seseorang, ia akan menolak korupsi meski tidak ada yang melihat, karena merasa diawasi oleh Yang Maha Melihat.
Fikih dan tasawuf tidak dapat dipisahkan dalam membangun budaya antikorupsi. Fikih mengatur apa yang halal dan haram. Sementara Tasawuf mengajarkan apa yang pantas dan tidak pantas.
Jika digabungkan, keduanya akan melahirkan pribadi yang taat hukum, jujur, berakhlak, matang secara emosional dan spiritual, dan menjauhi korupsi bukan karena takut hukuman, tetapi karena cinta pada kebenaran. Inilah konsep ideal Muslim berintegritas.
Peran Strategis Fakultas Agama Islam UNUSIDA
Sebagai institusi pendidikan Islam, UNUSIDA khususnya Fakultas Agama Islam memiliki tanggung jawab moral dalam menyiapkan generasi muda yang berkarakter antikorupsi. Pendidikan agama tidak boleh berhenti pada teori, tetapi harus hadir dalam praktik kehidupan kampus. Beberapa langkah penting yang perlu terus diperkuat, diantaranya:
-
Kajian fikih antikorupsi,
-
Seminar dan diskusi integritas publik,
-
Mata kuliah ASWAJA,
-
Program Pembiasaan Amaliyah ASWAJA (P2A),
-
Budaya akademik yang jujur dan transparan,
-
Keteladanan dosen dan pimpinan fakultas,
-
Bebas pungutan liar dan administrasi yang bersih,
-
Penilaian akademik yang objektif.
Mahasiswa harus melihat teladan langsung, bukan hanya mendengar teori. Ketika kampus bersih, mahasiswa akan belajar menjadi pribadi yang bersih.
Momentum Hari Antikorupsi: Saatnya Refleksi Kolektif
Hari Antikorupsi Sedunia bukan sekadar seremoni tahunan. Ini adalah momen untuk memperbaiki diri dan sistem sosial yang kita jalankan. Setiap pemangku kebijakan—baik lembaga pemerintah, pendidikan, maupun masyarakat—perlu memperkuat komitmen bersama untuk menghentikan praktik KKN di segala lini.
Amanah yang diberikan kepada kita bukan sekadar tugas duniawi, tetapi janji yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Semoga semangat antikorupsi tumbuh dalam diri kita, keluarga kita, kampus, dan masyarakat Indonesia secara luas. Dengan integritas moral dan kekuatan spiritual, kita dapat membangun bangsa yang lebih bersih, adil, dan bermartabat.
Oleh: Feri Kuswanto, S.Pd.I., M.Pd.I.
Dekan Fakultas Agama Islam UNUSIDA.
Hari Guru Nasional Jangan Berhenti pada Seremonial
/in Gagasan/by UNUSIDA AuthorDalam momentum Hari Guru Nasional yang diperingati setiap 25 November, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Muawwinatul Laili, S.S., M.Pd., menyampaikan pandangan mengenai pentingnya mengembalikan esensi peringatan Hari Guru sebagai upaya penguatan martabat dan profesionalitas pendidik. Ia menegaskan bahwa Hari Guru tidak seharusnya berhenti pada rangkaian seremoni dan ucapan formal tahunan.
Dalam keterangannya, ia mengajak semua pihak untuk menjadikan Hari Guru sebagai refleksi kolektif atas kondisi nyata profesi pendidik di Indonesia. “Hari Guru Nasional tidak boleh berhenti pada ucapan selamat dan unggahan foto. Ini adalah momen penting untuk meninjau kembali bagaimana negara, masyarakat, dan institusi pendidikan memahami profesi guru,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (25/11/2025).
Menurutnya, guru saat ini menghadapi spektrum tantangan yang makin kompleks, mulai dari beban administrasi yang tinggi, tuntutan kurikulum yang dinamis, hingga kewajiban beradaptasi dengan teknologi pendidikan yang berkembang begitu cepat.
“Guru adalah aktor utama dalam masa depan pendidikan. Namun, sering kali mereka justru menjadi pihak yang paling terbebani oleh sistem. Jika pendidikan adalah fondasi bangsa, maka guru harus ditempatkan pada posisi terhormat, bukan hanya dipuji setahun sekali,” imbuhnya.
Sebagai lembaga pencetak tenaga pendidik, FKIP UNUSIDA menegaskan komitmennya dalam membekali mahasiswa dengan kompetensi komprehensif, mulai dari penguatan karakter, pedagogi inovatif, integrasi teknologi digital, hingga kepekaan sosial sebagai dasar pendidikan yang berkelanjutan.
Ia menekankan bahwa peringatan Hari Guru tahun ini perlu dimaknai sebagai ajakan untuk menghadirkan kebijakan yang lebih manusiawi, memberikan ruang kreativitas bagi guru, serta mengurangi beban administratif yang selama ini kerap menghambat kinerja mereka.
“FKIP UNUSIDA terus mendorong mahasiswa calon guru memahami bahwa profesi ini bukan hanya pekerjaan, tetapi panggilan moral. Namun panggilan ini membutuhkan ekosistem yang sehat, mulai dari penghargaan, dukungan kebijakan, dan kesempatan untuk berkembang,” jelasnya.
Ia juga mengajak masyarakat agar melihat guru sebagai mitra strategis dalam membangun peradaban, bukan sekadar penyampai materi pelajaran.
Sebagai bentuk kontribusi akademik, FKIP UNUSIDA juga akan menyelenggarakan International Webinar dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional 2025 dengan menghadirkan narasumber dari Indonesia dan Thailand.
Peringatan Hari Guru Nasional diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, dan masyarakat dalam memberikan dukungan nyata bagi guru sebagai pilar utama pendidikan bangsa. Hari Guru semestinya menjadi pengingat bahwa kualitas pendidikan tidak akan pernah melampaui kualitas guru yang mengabdikan diri di dalamnya.

Kampus II: Jl. Lingkar Timur KM 5,5 Rangkah Kidul, Kec. Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur 61234
Telepon: (031) 8079900
Email: humas@unusida.ac.id
Akses Cepat
Unduhan Cepat
Kelembagaan
- Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
- Badan Pengelola Sumber Daya Manusia
- Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran
- Badan Satuan Pengawas Internal
- Biro Akademik
- Biro Umum
- Biro Keuangan
- Biro Humas dan Kerjasama
- Biro Kemahasiswaan dan Alumni
- UPT Penerimaan Mahasiswa Baru
- UPT Pengembangan dan Inovasi Pendidikan
- UPT Perpustakaan
- UPT Teknologi Informasi dan Digitalisasi
- UPT Inkubasi Bisnis
- UPT Halal Centre
- UPT Pengkajian Islam dan Keaswajaan
Waktu Pelayanan
Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) berkomitmen untuk memberikan pelayanan yang prima kepada mahasiswa, staf, dan masyarakat secara umum untuk memenuhi kebutuhan dan mendukung perkembangan akademik serta administratif.
- Senin s.d. Jum'at: 08.00 WIB - 16.00 WIB
- Sabtu dan Minggu: Tutup










