Pos

Mahmuda, S.M., Alumni Manajemen UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Dari Bangku Kuliah ke Dunia Kerja: Kisah Inspiratif Mahmuda, Alumni Manajemen UNUSIDA

Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) terus melahirkan alumni-alumni yang mampu berkiprah di dunia profesional. Salah satunya adalah Mahmuda, S.M., alumni Program Studi Manajemen pertama tahun 2014, yang kini berkarier di PT Sinar Surya Trans pada bagian Administrasi.

Mahmuda mengungkapkan bahwa mengungkapkan bahwa UNUSIDA memiliki peran besar dalam perjalanan kariernya. Menurutnya, kampus tidak hanya membekali ilmu akademik, tetapi juga menyediakan ruang pengembangan diri melalui organisasi dan program magang yang membantunya memahami dunia kerja secara nyata. Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting yang mengantarkannya lebih percaya diri memasuki dunia profesional.

Perjalanan kariernya tidak lepas dari pengalaman aktif selama masa kuliah. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan kampus, termasuk bergabung dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Menurutnya, organisasi menjadi ruang penting untuk mengasah soft skill sekaligus memperluas jejaring.

“Lewat organisasi, kita bisa memperluas jaringan dengan sesama mahasiswa maupun dosen. Dari situ wawasan dan pengalaman juga bertambah,” ujarnya saat dihubungi oleh Humas UNUSIDA, Selasa (27/1/2026).

Tak hanya itu, Mahmuda juga menyebut bahwa UNUSIDA memiliki peran besar dalam pengembangan dirinya melalui program magang. Ia pernah menjalani magang di The Sun Hotel pada bagian HR & GA, pengalaman yang menjadi bekal berharga saat memasuki dunia kerja profesional.

“Kampus menyediakan wadah untuk pengembangan diri, salah satunya lewat magang. Dari sana saya belajar langsung bagaimana dunia kerja berjalan,” tuturnya.

Kini, sebagai staf administrasi di PT Sinar Surya Trans, Mahmuda terus mengembangkan kompetensinya dengan semangat belajar yang sama seperti saat masih menjadi mahasiswa. Ia berharap kisahnya ini dapat memotivasi mahasiswa UNUSIDA untuk aktif berorganisasi, memanfaatkan peluang magang, dan berani mengembangkan potensi diri sejak dini.

Bagi Mahmuda yang lulus pada tahun 2019 lalu, masa kuliah bukan hanya tentang mengejar nilai akademik, tetapi juga tentang membangun karakter, relasi, dan pengalaman hidup yang kelak menjadi bekal berharga di dunia kerja.

“Pengalaman akademik maupun non akademik di luar kelas ketika kuliah adalah bekal berharga untuk membentuk karakter, memperluas jejaring, dan menyiapkan diri menghadapi dunia kerja. UNUSIDA, kampus yang tepat untuk tumbuh, berprestasi, dan menjemput masa depan,” ungkapnya.

Dinda Adinda, S.Pd. - Alumni PBI UNUSIDA (Foto: HEC 1 Pare)

Kisah Sukses Dinda Adinda Membangun Ekosistem Bahasa Inggris, Menembus Batas dengan Literasi

Pendidikan bukan sekadar tentang gelar akademik, melainkan bagaimana ilmu yang diperoleh mampu ditransformasikan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat. Prinsip inilah yang dibuktikan oleh Dinda Adinda, S.Pd., alumni inspiratif Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA).

Kini, Dinda dikenal sebagai pendidik yang inspiratif, seorang pengajar muda di bidang pendidikan bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare, Kediri, yang dikenal sebagai terbesar di Indonesia.

Dinda merupakan pengajar aktif Happy English Course (HEC) 1 Pare sekaligus Owner di Samudra Course. Kiprahnya di dunia pendidikan nonformal menjadi bukti bahwa lulusan PBI UNUSIDA memiliki daya saing tinggi, tidak hanya sebagai tenaga pendidik, tetapi juga sebagai edupreneur yang mampu menciptakan lapangan kerja dan menghadirkan inovasi pembelajaran yang adaptif.

Dari Ruang Kelas Menuju Kemandirian Ekonomi
Perjalanan Dinda bermula dari kecintaannya terhadap dunia pendidikan dan metodologi pengajaran yang ia pelajari selama menempuh studi di UNUSIDA. Ia menyadari bahwa penguasaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, merupakan kunci strategis untuk membuka peluang global.

“Ilmu yang saya dapatkan di Prodi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UNUSIDA sangat komprehensif. Tidak hanya tentang grammar dan keterampilan bahasa, tetapi juga bagaimana membangun kepercayaan diri siswa serta mengelola lembaga pendidikan secara profesional,” ungkap Dinda.

Sebagai pemilik Samudra Course, Dinda bertanggung jawab penuh atas manajemen lembaga, pengembangan kurikulum, hingga strategi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan zaman. Di sisi lain, perannya sebagai pengajar di HEC 1 Pare menunjukkan komitmennya untuk tetap hadir langsung di ruang-ruang belajar, menyapa dan membimbing para peserta didik.

Menjaga Integritas dan Semangat Santri
Berkarier di Pare yang dikenal memiliki persaingan lembaga kursus sangat ketat tentu bukan perkara mudah. Namun, Dinda membawa nilai-nilai khas yang ia peroleh selama menempuh pendidikan di UNUSIDA, kerja keras, integritas, dan spiritualitas.

Ia meyakini bahwa pengajaran bahasa Inggris tidak boleh sekadar berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga harus mengedepankan pendekatan humanis dan pembentukan karakter.

“PBI UNUSIDA membekali kami dengan pandangan filosofis bahwa mengajar adalah bagian dari pengabdian. Di Pare, saya tidak hanya melayani dalam pendidikan, tetapi membangun komunitas belajar. Semangat Reach Your Dream Through the Galaxy yang sering digaungkan prodi benar-benar memacu saya untuk bermimpi setinggi mungkin, namun tetap membumi dalam pelayanan,” tuturnya.

Lebih lanjut, Dinda yang juga gemar menulis novel tersebut, berpesan kepada mahasiswa PBI UNUSIDA agar tidak membatasi mimpi hanya pada profesi guru di sekolah formal. Menurutnya, peluang di dunia edupreneurship sangat terbuka lebar, terutama bagi generasi muda yang berani berinovasi.

“Kemampuan bahasa Inggris yang kuat, jika dipadukan dengan keterampilan manajemen dan kreativitas, akan menjadi kombinasi yang sangat kompetitif di dunia kerja,” pesannya.

Keberhasilannya ini menjadi bukti nyata bahwa UNUSIDA mampu mencetak lulusan yang mandiri, adaptif, dan siap menjadi pemimpin di bidangnya. Kisah ini menjadi pengingat bahwa dengan ilmu yang bermanfaat, integritas, dan tekad yang kuat, alumni UNUSIDA mampu menembus batas kemungkinan dan menginspirasi generasi selanjutnya untuk terus bergerak maju.

Athfal Hanif Azwara - Alumni DKV UNUSIDA

Jejak Kreatif Athfal Hanif Azwara: Mengubah Estetika Menjadi Strategi di Industri Creative Marketing

Dunia desain komunikasi visual bukan sekadar tentang menciptakan tampilan yang menarik, melainkan bagaimana sebuah pesan mampu menggerakkan audiens dan memberi nilai strategis bagi sebuah jenama. Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh Athfal Hanif Azwara, S.Ds., alumni Program Studi S1 Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA).

Lulus pada tahun 2022, Hanif sapaan akrabnya, kini menapaki karier profesional sebagai tenaga ahli Creative Marketing di PT Inayalesy Indonesia. Perjalanan kariernya menjadi bukti nyata bahwa proses akademik di UNUSIDA mampu mencetak lulusan yang adaptif, kompetitif, dan siap bersaing di industri kreatif yang terus berkembang.

Menghubungkan Kreativitas dengan Kebutuhan Pasar
Hanif mengungkapkan bahwa bekal ilmu yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di UNUSIDA memberikan fondasi kuat dalam menghadapi tantangan dunia kerja. Di perusahaan tempatnya bernaung saat ini, ia tidak hanya berperan sebagai desainer visual, tetapi juga terlibat dalam perumusan strategi pemasaran kreatif yang mampu menghubungkan produk dengan emosi konsumen.

“DKV UNUSIDA mengajarkan saya bahwa desain adalah proses pemecahan masalah. Di dunia Creative Marketing, kami dituntut berpikir kritis: bagaimana visual tidak hanya menarik, tetapi juga selaras dengan tujuan bisnis perusahaan,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa pemahaman tentang psikologi visual, manajemen branding, dan riset audiens menjadi aspek penting yang sangat relevan dengan kebutuhan industri saat ini.

Tantangan Era Digital dan Bekal dari UNUSIDA
Bekerja di era digital menuntut kecepatan adaptasi terhadap tren dan teknologi. Menurut Hanif, penguasaan perangkat lunak desain saja tidak cukup, tetapi harus dibarengi dengan kemampuan storytelling dan komunikasi visual yang kuat.

Pengalaman berorganisasi serta pendampingan dosen selama kuliah di UNUSIDA turut membentuk mentalitas profesional yang tangguh, komunikatif, dan beretika.

“Keunggulan lulusan UNUSIDA terletak pada nilai etika dan kemaslahatan. Setiap karya tidak hanya berorientasi pada visual, tetapi juga membawa dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat,” tambahnya.

Sebagai alumni, Hanif memberikan pesan inspiratif kepada mahasiswa DKV dan generasi muda UNUSIDA agar memanfaatkan masa kuliah sebagai ruang eksplorasi dan pembentukan portofolio.

Ia mendorong mahasiswa untuk tidak ragu menjelajahi bidang-bidang pendukung seperti riset pemasaran, analisis data media sosial, hingga strategi konten digital. Menurutnya, industri kreatif saat ini membutuhkan talenta multidisipliner yang mampu berpikir strategis sekaligus kreatif.

Keberhasilan Athfal Hanif Azwara di PT Inayalesy Indonesia menjadi kebanggaan tersendiri bagi civitas akademika UNUSIDA. Hal ini menegaskan bahwa lulusan S1 DKV UNUSIDA memiliki daya saing tinggi dan mampu menempati posisi strategis di dunia industri, sekaligus membawa semangat inovasi yang berkelanjutan.

Zahra Jahriah Zainal Alumni PIAUD UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Zahra Jahriah Zainal: Kuliah di PIAUD UNUSIDA Jadi Bekal Membentuk Guru RA yang Percaya Diri dan Profesional

Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) terus membuktikan komitmennya dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara spiritual dan profesional. Hal ini tercermin dari kisah inspiratif Zahra Jahriah Zainal, Alumni Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Tahun 2025, yang kini mengabdikan diri sebagai guru di RA Insan Madani Surabaya.

Zahra mengungkapkan rasa syukur atas pengalaman perkuliahan yang ia jalani selama menempuh studi di UNUSIDA. Menurutnya, proses kuliah tidak hanya memberikan pengetahuan akademik, tetapi juga membentuk karakter dan spiritualitas sebagai calon pendidik.

“Alhamdulillah, kuliah di UNUSIDA memberikan saya banyak pembelajaran berharga, baik akademik maupun spiritual. Pengalaman ini membantu saya lebih percaya diri dan profesional di dunia kerja, dan Alhamdulillah saat ini saya bekerja sesuai dengan jurusan saya,” ungkapnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (16/12/2025).

Sebagai alumni PIAUD, Zahra menilai kesan paling berharga selama kuliah adalah suasana pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna. Ia merasa dibekali ilmu tentang pendidikan anak usia dini yang diajarkan di UNUSIDA sangat relevan, sekaligus diarahkan menjadi pendidik yang berkarakter religius dan memiliki kepedulian tinggi terhadap tumbuh kembang anak.

Ia juga menegaskan bahwa mata kuliah berbasis praktik menjadi bekal utama dalam menjalankan profesinya saat ini. Mata kuliah seperti strategi pembelajaran PAUD, pengembangan kurikulum, asesmen perkembangan anak, serta microteaching sangat membantu Zahra dalam menjalankan tugasnya sebagai guru RA.

Melalui pengalaman akademik yang aplikatif, ditambah suasana kampus yang mendukung pengembangan diri, membuatnya merasa lebih siap ketika memasuki dunia profesional. Ia mengaku mampu beradaptasi dengan cepat, bekerja secara percaya diri, serta menjalankan tugas secara bertanggung jawab sesuai kompetensi yang dimiliki.

“Ilmu tersebut sangat relevan dan langsung dapat diterapkan di RA Insan Madani, mulai dari merancang RPPH, mengelola kelas, hingga memahami karakter setiap anak,” jelasnya.

Lebih lanjut, Zahra menekankan pentingnya menempuh pendidikan sesuai dengan jurusan yang diminati. Menurutnya, kuliah yang linier dengan profesi sangat berpengaruh terhadap rasa percaya diri dan profesionalisme di dunia kerja.

“Kuliah sesuai jurusan itu sangat penting karena membuat saya lebih siap dan yakin menjalankan peran sebagai guru RA, dengan pemahaman yang tepat tentang perkembangan anak dan metode pembelajaran yang sesuai,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Zahra memberikan pesan inspiratif kepada mahasiswa PIAUD UNUSIDA agar benar-benar memanfaatkan masa perkuliahan sebagai proses pembentukan diri. Ia ingin membuktikan bahwa UNUSIDA sebagai kampus NU terus melahirkan lulusan yang religius, profesional, dan siap mengabdi, khususnya di bidang pendidikan anak usia dini, demi mencetak generasi masa depan yang unggul dan berakhlakul karimah.

“Manfaatkan setiap proses perkuliahan dengan sungguh-sungguh. Perbanyak pengalaman praktik, jangan takut belajar dari lapangan, dan tanamkan niat yang tulus dalam mendidik anak. Ilmu yang diperoleh di bangku kuliah akan menjadi bekal berharga saat terjun ke dunia kerja,” pesannya.

Muh. Zakaria Dimas Pratama, S.Kom., Alumni Prodi Informatika UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Muh. Zakaria Dimas Pratama, S.Kom., dari Aktivis Kampus Menuju Anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo

Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menorehkan kebanggaan melalui kiprah salah satu alumninya, Muh. Zakaria Dimas Pratama, S.Kom., yang kini mengemban amanah sebagai Anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo. Lulusan Program Studi Informatika tersebut membagikan kisah inspiratif tentang perjalanan akademik dan pengalaman organisasi yang membentuk karakter serta mengantarnya pada dunia kepemimpinan dan politik.

Dimas sapaan akrabnya, mengenang masa kuliahnya di UNUSIDA sebagai periode yang tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan identitas diri. Ia mengaku bahwa pengalaman paling berkesan adalah ketika aktif dalam organisasi kemahasiswaan.

“Menjadi mahasiswa di UNUSIDA adalah pengalaman yang bukan hanya sebatas akademik, tetapi perjalanan pembentukan karakter. Melalui organisasi, saya belajar mengelola waktu antara kuliah, kegiatan, dan kehidupan pribadi,” ujarnya.

Keterlibatannya dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan memberikan ruang belajar yang luas di luar kelas. Diskusi panjang, kegiatan sosial, hingga advokasi mahasiswa menjadi sarana untuk memahami arti kepemimpinan, solidaritas, serta keberanian menyuarakan aspirasi.

“UNUSIDA memberi wadah bagi kami untuk tumbuh melalui forum ilmiah, pengabdian masyarakat, dan kegiatan budaya. Yang paling berkesan adalah bagaimana kami saling mendukung dan bergandengan tangan untuk mewujudkan perubahan kecil yang bermanfaat,” tambahnya.

Menurutnya, pengalaman sebagai aktivis kampus menjadi bekal berharga dalam perjalanan hidupnya setelah lulus. Ia belajar bahwa gelar akademik harus diimbangi dengan integritas, jiwa sosial, serta kepedulian terhadap sesama, nilai yang terus ia pegang dalam dunia profesional dan pengabdiannya di masyarakat.

Peran UNUSIDA dalam Perjalanan Karier
Dimas menegaskan bahwa UNUSIDA memiliki peran besar dalam membentuk dirinya hingga dipercaya duduk sebagai wakil rakyat.

“Di bangku kuliah, saya tidak hanya mendapatkan ilmu akademik, tetapi juga dibentuk dengan nilai kepemimpinan, tanggung jawab, dan kepedulian sosial,” jelasnya.

Organisasi kemahasiswaan, diskusi intelektual, serta kegiatan pengabdian masyarakat melatihnya untuk menyerap aspirasi, memahami persoalan di lapangan, dan mencari solusi tepat. Pengalaman-pengalaman inilah yang menguatkan mentalitasnya ketika menghadapi dinamika politik di DPRD.

“Kampus mengajarkan kedisiplinan, komitmen, dan pentingnya menjaga integritas. Nilai-nilai ini saya bawa ketika mengemban amanah sebagai wakil rakyat,” ungkapnya.

Ia menilai bahwa UNUSIDA bukan sekadar tempat menimba ilmu, tetapi merupakan kawah candradimuka yang menyiapkan mahasiswa untuk berkiprah lebih luas, termasuk dalam ranah kepemimpinan dan pelayanan publik.

Alumni yang Menjadi Teladan
Kisah perjalanan Muh. Zakaria Dimas Pratama menjadi inspirasi bagi seluruh mahasiswa UNUSIDA. Dedikasinya dalam organisasi, semangat belajar, serta komitmennya dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat menunjukkan bahwa pendidikan tinggi bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter mulia dan integritas.

“Ia berharap kehadiran para alumni dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa agar terus berkembang, berprestasi, dan berkontribusi bagi masyarakat, bangsa, serta Nahdlatul Ulama,” pungkasnya.

Wujud Guru Muda Profesional dari PGSD UNUSIDA 1

Wujud Guru Muda Profesional dari PGSD UNUSIDA

Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menghadirkan kisah inspiratif dari para lulusan terbaiknya. Kali ini, sorotan tertuju kepada Alfiadny Firdausy, S.Pd., alumni Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) angkatan lulus 2024 yang kini berkarier sebagai guru di SD Islam Sabilillah Sidoarjo. Sosoknya dikenal ramah, tekun, dan penuh dedikasi—sebuah representasi nyata dari kualitas lulusan UNUSIDA yang siap berkontribusi dalam dunia pendidikan.

Dalam perbincangan yang hangat, Alfiadny berbagi pengalaman selama menempuh pendidikan di UNUSIDA, pengalaman yang tidak hanya memberi bekal akademik tetapi juga membentuk karakter, jaringan pertemanan, dan kemampuan profesional yang kini sangat menunjang kariernya. Baginya, masa kuliah bukan sekadar proses memperoleh gelar, tetapi sebuah perjalanan penuh pembelajaran yang sangat berkesan.

“UNUSIDA memberi banyak pengetahuan dan ilmu yang sangat bermanfaat bagi karier saya,” ujarnya. Ia menuturkan bahwa pengalaman belajar di PGSD UNUSIDA merupakan fondasi kuat yang membentuk cara berpikir kritis, kedewasaan bersikap, dan kesiapan mental untuk terjun ke dunia kerja. Setiap mata kuliah, proyek, dan bimbingan dosen menjadi batu loncatan menuju kompetensi guru profesional yang ia bangun hari ini.

Salah satu hal yang paling membekas bagi Alfiadny adalah sosok para dosen yang disebutnya “luar biasa dan penuh dedikasi”. Menurutnya, setiap dosen memiliki karakter, metode, dan gaya mengajar yang berbeda-beda, namun sama-sama memiliki satu tujuan: mengembangkan mahasiswa menjadi calon pendidik yang kompeten dan berkarakter.

Ia menceritakan bagaimana para dosen PGSD tidak hanya mengajar teori, tetapi juga memberikan contoh nyata praktik pembelajaran, mengajak mahasiswa berdiskusi aktif, dan membimbing dengan penuh kesabaran. “Banyak dosen di UNUSIDA yang benar-benar peduli pada mahasiswanya. Mereka bukan hanya mengajar, tetapi mendampingi dan memberi motivasi ketika kami kesulitan,” ceritanya.

Bagi Alfiadny, interaksi dengan dosen adalah bagian penting dari proses pendewasaan diri. Ia belajar bagaimana seorang pendidik semestinya bersikap: profesional, tegas, namun tetap humanis. Hal itu pula yang kini ia praktikkan saat mengajar murid-muridnya di SD Islam Sabilillah.

Selain dukungan dari dosen, pengalaman belajar dalam kelas maupun lapangan menjadi kenangan yang membentuk keterampilannya sebagai guru. Proses microteaching, observasi ke sekolah, hingga praktik mengajar langsung membuatnya semakin percaya diri dalam menghadapi berbagai karakter siswa.

Menurutnya, kurikulum PGSD UNUSIDA sangat relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Mata kuliah tentang literasi, numerasi, media pembelajaran digital, hingga kurikulum merdeka menjadi bekal nyata dalam merancang pembelajaran kreatif, inovatif, dan efektif.

“Cara belajar di UNUSIDA itu benar-benar membuka wawasan saya. Tidak hanya menerima materi, tetapi kami diajak berpikir, menganalisis, mencoba, dan menciptakan sesuatu,” ungkapnya. Ia merasa setiap pengalaman akademik selama kuliah memperkaya strategi mengajar yang kini ia gunakan di kelas.

Memperluas Relasi Hingga ke Luar Kampus

Tak hanya itu, selama berkuliah Alfiadny mendapatkan jaringan relasi yang sangat luas. Baginya, hubungan baik dengan teman seangkatan, senior, alumni, hingga pihak luar kampus menjadi aset penting yang masih ia rasakan manfaatnya hingga sekarang.

Ia tidak hanya bersosialisasi dalam lingkup perkuliahan, tetapi juga terlibat dalam kegiatan di luar kampus yang memperluas koneksi dan pemahaman tentang dunia pendidikan. “Relasi itu penting sekali. Banyak kesempatan yang saya dapatkan justru lewat teman, alumni, atau kegiatan organisasi yang saya ikuti. Semua itu berawal dari UNUSIDA,” jelasnya.

Relasi inilah yang pada akhirnya turut membuka peluang kerja dan kesempatan pengembangan diri setelah lulus kuliah.

Selama kuliah, Alfiadny juga aktif mengikuti beberapa organisasi kampus. Kegiatan ini menjadi ruang untuk mengasah kemampuan leadership, komunikasi, kerja sama tim, serta manajemen waktu—soft skills yang sangat dibutuhkan dalam dunia kerja, terutama profesi guru.

Ia menuturkan bahwa organisasi membuatnya lebih percaya diri dan mampu menghadapi tantangan dengan lebih tenang. “Lewat organisasi, saya belajar bagaimana mengatur kegiatan, berkolaborasi dengan banyak orang, menghadapi konflik, bahkan belajar berbicara di depan umum. Semua itu sangat membantu saya saat harus memimpin kelas sebagai guru,” katanya.

Kini, dalam perannya sebagai guru, Alfiadny merasakan betul betapa pentingnya ilmu dan pembiasaan yang ia dapatkan di PGSD UNUSIDA. Mulai dari menyusun RPP, membuat media pembelajaran kreatif, mengelola kelas, hingga membangun kedekatan emosional dengan siswa—semuanya merupakan kompetensi yang ia pelajari selama kuliah.

Ia mengaku bangga menjadi bagian dari keluarga besar UNUSIDA. “Pengalaman belajar di kampus menjadi bekal berharga dalam membentuk cara berpikir, sikap profesional, dan kemampuan beradaptasi di dunia kerja,” tuturnya.

Kisah Alfiadny Firdausy membuktikan bahwa UNUSIDA bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter, jejaring, dan pengalaman yang mempersiapkan mahasiswa menjadi profesional sejati. Perjalanan seorang guru tidak dimulai dari kelas tempat ia mengajar, tetapi dari kampus yang membentuknya.

Dengan semangat dan dedikasi yang ia tunjukkan, Alfiadny menjadi contoh bahwa lulusan UNUSIDA siap bersaing, siap mengabdi, dan siap menjadi agen perubahan dalam dunia pendidikan.

Alumni Prodi Infromatika Unusida, Edi Arianto atau Mas Owdy saat menerima Penghargaan Santri of The Year 2025 Kategori Santri Milenial Inspiratif (Foto: Mas Owdy)

Alumni Informatika UNUSIDA, Edi Arianto Raih Penghargaan “Santri of The Year 2025” Kategori Santri Milenial Inspiratif

SIDOARJO — Alumni Program Studi (Prodi) Informatika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Edi Arianto, atau yang akrab disapa Mas Owdy, berhasil menorehkan prestasi membanggakan di penghujung tahun 2025. Ia dianugerahi Penghargaan Santri of The Year 2025 Kategori Santri Milenial Inspiratif. Penghargaan tersebut diberikan oleh Islam Nusantara Center (INC) bekerja sama dengan DPR RI dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional 2025, yang puncaknya digelar di Kompleks DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Ahad (9/11/2025) lalu.

Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan kreativitasnya dalam berdakwah melalui media digital. Melalui karya-karya konten positif dan syiar shalawat, Edi Arianto dinilai mampu menghadirkan semangat keislaman yang damai, kreatif, dan relevan dengan generasi muda masa kini.

Dalam kesempatan tersebut, ia mengungkapkan rasa syukur dan haru atas penghargaan yang diterimanya. Ia mendedikasikan capaian tersebut kepada seluruh pihak yang telah berperan dalam perjalanan hidup dan kariernya.

“Alhamdulillah, di penghujung tahun 2025 ini kami mendapatkan penghargaan Santri of The Year 2025. Penghargaan ini saya persembahkan untuk kedua orang tua, istri tercinta, para guru, sahabat, kerabat, serta keluarga besar Banjari Hero Multimedia dan Delta Video Shooting. Semoga prestasi ini menambah semangat untuk terus bersyiar melalui konten positif di media sosial, serta menjadi inspirasi bagi santri lainnya,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (11/11/2025).

Ajang Santri of The Year merupakan kegiatan tahunan yang digelar untuk menampilkan figur-figur santri yang memberikan kontribusi nyata bagi bangsa, baik melalui gagasan, karya, maupun prestasi. Pada tahun ini, INC memperkenalkan beberapa kategori baru, di antaranya Santri Milenial Inspiratif, Santri Legislator Inspiratif, Santri Perempuan Penggerak Inspiratif, Santri Bhayangkara Inspiratif, dan Mahasantri Bhakti Negeri.

Secara umum, kategori Santri Milenial Inspiratif diberikan kepada individu yang dinilai berhasil memanfaatkan teknologi dan platform digital untuk menyebarkan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan. Dalam hal ini, Edi Arianto menonjol karena konsistensi dan orisinalitasnya dalam menggabungkan tradisi pesantren (shalawat) dengan media modern seperti YouTube dan broadcast digital.

“Konten saya bukan sekadar hiburan, tapi juga dakwah yang ringan, relevan, dan mudah diterima audiens milenial. Ini adalah upaya membawa ruh pesantren ke ruang digital yang sangat luas. Kami berupaya menjembatani gap antara kearifan lokal pesantren dengan tren global digital,” ungkapnya.

Edi menuturkan bahwa motivasinya sederhana, yakni khidmah (pengabdian) kepada para guru, kiai, dan agamanya. Melalui karya konten shalawat dan siar digital, ia ingin menunjukkan bahwa santri tidak hanya bisa mengaji kitab kuning, tetapi juga bisa menjadi pelopor dakwah kreatif di era modern.

“Konten shalawat yang saya buat adalah bentuk rasa cinta dan syukur kepada Rasulullah SAW. Saya ingin menunjukkan bahwa santri juga bisa menjadi garda terdepan dalam menyebarkan kedamaian, akhlakul karimah, dan kecintaan kepada Nabi melalui bahasa dan platform yang dimengerti oleh anak muda,” terangnya.

Bagi Edi, penghargaan ini bukan sekadar pengakuan nasional, melainkan amanah besar untuk terus konsisten dalam berdakwah melalui media digital. Edi juga menceritakan bahwa sumber inspirasinya datang dari dua kutub penting dalam kehidupannya.

“Pertama, para kiai dan guru di pesantren yang mengajarkan tentang istiqamah dan keikhlasan. Mereka adalah kompas spiritual saya. Kedua, tokoh-tokoh santripreneur yang sukses memadukan nilai spiritual dengan profesionalisme. Mereka menjadi contoh bahwa santri juga bisa modern tanpa kehilangan ruh keislamannya,” jelasnya.

Kombinasi ajaran salaf dan semangat milenial inilah yang menurutnya menjadi energi tak terbatas dalam setiap karya yang ia hasilkan. “Apresiasi ini adalah cambuk semangat untuk terus berbuat baik. Saya ingin setiap karya digital santri menjadi bagian dari dakwah yang menenangkan, bukan memecah. Karena dunia digital pun bisa menjadi ladang amal jika dijalani dengan niat yang tulus,” tandasnya.

Alumni Pondok Pesantren Sabilillah Lamongan tersebut, berharap dapat terus menjadi inspirasi bagi santri-santri muda di seluruh Indonesia untuk berani berkarya, berinovasi, dan berdakwah dengan cara yang kreatif namun tetap berakar pada nilai-nilai pesantren.

“Bagi saya, kata inspiratif bagi santri milenial adalah tentang kemampuan untuk beradaptasi tanpa kehilangan identitas. Inspiratif berarti menjadi jembatan: menjembatani ajaran salaf dengan tantangan khalaf (masa kini); menjembatani ruang Pesantren yang damai dengan hutan belantara dunia maya yang kadang toksik,” imbuhnya.

Menurutnya, santri masa kini harus mampu menjadi Filter dan Fountain di dunia digital. “Sebagai Filter, santri harus mampu menyaring hoaks, radikalisme, dan konten negatif dengan bekal ilmu agama dan akhlaq. Sebagai Fountain (air mancur), santri juga harus aktif menyebarkan konten positif dan mencerahkan. Bukan hanya mengaji teks, tapi juga mengaji konteks. Literasi digital adalah bagian dari dakwah masa kini,” terangnya.

Melalui kanal dan komunitas kreatif yang ia rintis, seperti Banjari Hero Multimedia dan Delta Video Shooting, ia berupaya menghidupkan semangat dakwah yang ringan, estetis, dan mudah diterima generasi muda. Konten yang ia produksi tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi sarana syiar yang menyejukkan dan penuh nilai spiritual.

Ke depan, Edi yang juga mahir bermain berbagai alat musik seperti rebana, kendang dan piano modern tersebut, berkomitmen memperluas ekosistem broadcast dan santripreneurship yang telah dibangunnya. Ia berharap pemerintah dan lembaga terkait dapat memberikan dukungan nyata berupa pelatihan digital, infrastruktur, dan permodalan bagi para santri kreatif di seluruh Indonesia.

“Langkah terdekat adalah memperluas ekosistem broadcast dan entrepreneurship yang sudah ada. Saya ingin menciptakan lebih banyak ruang bagi santri lain untuk berkolaborasi dan berkarya. Harapan saya, kategori Santri Milenial Inspiratif ini terus ada dan makin diakui secara nasional,” harapnya.

“Jadilah santri yang merawat tradisi dan merangkul teknologi. Jangan takut dengan perubahan zaman. Pondasi kita adalah tafaqquh fiddin dan akhlaq mulia. Manfaatkan gadget bukan hanya untuk konsumsi, tapi untuk kontribusi. Jadikan setiap karya sebagai dakwah, dan setiap unggahan sebagai amal jariyah. Karena masa depan bangsa ini ada di tangan santri yang berdaya di segala bidang,” pungkasnya. (MY)

Mohamad Gofur, S.T. Alumni Teknik Industri UNUSIDA

Mohamad Gofur, Alumni Teknik Industri UNUSIDA Buktikan Peran Kampus Penting dalam Karir Profesional

Mohamad Gofur, S.T., alumnus Program Studi Teknik Industri Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) tahun 2022 yang kini berkarier di PT Bintang Indokarya Gemilang pada bagian HR Insurance. Sebuah pencapaian yang ia raih berkat perpaduan antara ilmu, pengalaman organisasi, dan nilai-nilai pesantren yang melekat kuat dalam dirinya.

Gofur menuturkan bahwa pengalaman belajar selama kuliah di UNUSIDA menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter profesional dan kemampuan manajerialnya di dunia kerja. Ia menilai bahwa kurikulum Teknik Industri UNUSIDA tidak hanya fokus pada teori, tetapi juga menanamkan keterampilan praktis serta etika kerja yang kuat.

“Banyak hal yang saya pelajari di kampus sangat relevan dengan pekerjaan saya sekarang. Mulai dari manajemen industri, pengelolaan sumber daya manusia, hingga kemampuan komunikasi dan leadership. Semua itu menjadi bekal berharga untuk menunjang karier saya di dunia industri,” ungkapnya kepada Humas UNUSIDA, Kamis (6/11/2025).

Selain pembelajaran di kelas, Gofur juga mengakui bahwa lingkungan kampus yang inklusif dan kolaboratif turut membentuk kepercayaan dirinya untuk terus berkembang. Dukungan dosen dan kesempatan mengikuti berbagai kegiatan kampus menjadi pengalaman berharga yang memperluas wawasan dan jejaring profesionalnya.

“Peran kampus dalam karier saya sangat luar biasa, pengalaman belajar di UNUSIDA membentuk karakter profesional dan kemampuan manajerial yang menjadi bekal penting di dunia kerja,” katanya.

Selain itu, pria asli Brebes, Jawa Tengah ini dikenal sebagai sosok mahasiswa aktif dan berprestasi selama menempuh studi di UNUSIDA. Gofur memulai kiprahnya di organisasi mahasiswa sejak tahun pertama, bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Program Studi (Hima Prodi) Teknik Industri, kemudian melanjutkan langkahnya ke Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik (BEM FT).

Puncaknya, pada tahun 2021, ia dipercaya menjabat sebagai Ketua BEM Fakultas Teknik UNUSIDA. Melalui peran tersebut, Gofur banyak belajar tentang kepemimpinan, manajemen tim, dan komunikasi lintas organisasi, kemampuan yang kini sangat berguna dalam karier profesionalnya.

“Organisasi mengajarkan saya bagaimana mengelola waktu, berkoordinasi dengan banyak pihak, dan mengambil keputusan yang berdampak. Semua itu menjadi bekal nyata ketika saya terjun ke dunia kerja,” ujarnya.

Tak hanya aktif di kampus, Gofur juga menjalani kehidupan sebagai santri Pondok Pesantren Al Kholil, Jetis, Sidoarjo, yang diasuh oleh Gus Arisy Karomy. Selama kuliah, ia tetap konsisten mengabdi di pondok sambil menyeimbangkan antara tanggung jawab akademik dan spiritual.

“Menjadi santri membuat saya belajar disiplin, tangguh, dan rendah hati. Nilai-nilai itulah yang selalu saya bawa dalam bekerja dan berinteraksi,” tutur Gofur.

Kini, setelah menapaki dunia profesional, Gofur melihat bahwa kombinasi antara pendidikan tinggi dan nilai-nilai pesantren merupakan kekuatan luar biasa dalam membentuk karakter dan integritas seseorang. Ia berharap semakin banyak mahasiswa UNUSIDA yang percaya diri untuk bersaing di dunia kerja dengan bekal kemampuan, karakter, dan nilai-nilai yang ditanamkan selama kuliah.

“Oleh karena itu, jangan takut untuk bermimpi besar. Kampus sudah memberi kita pondasi melalui ilmu, organisasi memberi pengalaman, dan pesantren memberi arah hidup. Semua saling melengkapi, tinggal bagaimana kita berusaha dan terus belajar,” pungkasnya.

UNUSIDA dan PKSS Surabaya Gelar Pembekalan dan Rekrutmen bagi Alumni, Disertai Penandatanganan MoU Kerja Sama Strategis (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA dan PKSS Surabaya Gelar Pembekalan dan Rekrutmen bagi Alumni, Jembatani Kampus dan Dunia Kerja

SIDOARJO – Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) bekerja sama dengan PT Prima Karya Sarana Sejahtera (PKSS) Surabaya, anak perusahaan Bank Rakyat Indonesia (BRI), sukses menyelenggarakan kegiatan Pembekalan dan Rekrutmen Pegawai Khusus Alumni UNUSIDA yang berlangsung di Hall Gedung A Kampus 2 UNUSIDA, Jum’at (24/10/2025).

Kegiatan ini merupakan langkah nyata dalam memperluas peluang kerja bagi lulusan UNUSIDA sekaligus memperkuat kemitraan antara perguruan tinggi dengan dunia industri. Melalui program ini, para alumni mendapatkan pembekalan seputar kesiapan diri, etika profesional, serta strategi menghadapi proses rekrutmen kerja di perusahaan mitra BUMN.

Branch Manager PKSS Surabaya, Rusmanto, dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya kepada UNUSIDA yang telah memberi ruang bagi mahasiswa dan alumni untuk mengasah kompetensi.

“Kami menganggap teman-teman yang hadir di sini adalah lulusan terbaik Universitas NU Sidoarjo. Dunia kerja kini terbuka luas, tetapi tidak semua bisa langsung masuk. Diperlukan persiapan dan mental yang siap bersaing. Karena itu, kami hadir memberikan pembekalan dan kesempatan langsung untuk mengikuti proses seleksi,” ujarnya.

Rusmanto juga menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari amanah BUMN untuk membuka lapangan kerja bagi generasi muda Indonesia. Ia menambahkan, pelatihan yang biasanya berbayar ini diberikan secara gratis kepada peserta sebagai bentuk dukungan PKSS terhadap peningkatan kualitas SDM di lingkungan kampus.

Ia menegaskan bahwa pihaknya melihat potensi besar dari para alumni UNUSIDA. Selanjutnya, ia dan tim berkomitmen untuk membangun kerja sama berkelanjutan dalam hal pelatihan, magang, serta penyaluran tenaga kerja.

“Kami memandang bahwa mahasiswa dan alumni UNUSIDA adalah generasi yang siap berkembang. Melalui kegiatan ini, kami tidak hanya membuka peluang kerja, tetapi juga memberikan pembekalan karakter, mental, dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia industri,” ungkapnya.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pelatihan dan rekrutmen bagi alumni, tetapi juga momentum penting dengan dilaksanakannya penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara UNUSIDA dan PKSS Surabaya sebagai langkah awal kerja sama dalam bidang pengembangan sumber daya manusia dan penyaluran tenaga kerja.

Penandatanganan MoU dilakukan oleh Rektor UNUSIDA Prof. Dr. H. Fatkul Anam, M.Si., dan Branch Manager PKSS Surabaya, Rusmanto, disaksikan oleh jajaran pimpinan universitas serta perwakilan manajemen PKSS.

Sementara itu, Rektor UNUSIDA, Prof. Dr. H. Fatkul Anam, M.Si., menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kerja sama strategis ini. Menurutnya, kolaborasi ini sebagai wujud nyata sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri.

“Saya sangat menyambut baik kegiatan ini, dengan pembekalan dan rekrutmen tenaga kerja menjadi wujud nyata sinergi antara perguruan tinggi dan dunia kerja. Kami berharap alumni UNUSIDA dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya untuk menunjukkan kemampuan dan karakter unggul yang mereka miliki,” tuturnya.

Dalam kegiatan tersebut, para peserta tidak hanya mendapat pembekalan materi dari tim PKSS, tetapi juga mengikuti simulasi wawancara, pelatihan kesiapan kerja, dan proses rekrutmen langsung. Suasana penuh semangat tampak dari antusiasme para alumni yang berpartisipasi sejak awal hingga akhir acara.

Melalui kegiatan ini, UNUSIDA menegaskan komitmennya untuk terus berperan aktif dalam menyiapkan lulusan yang siap kerja, berdaya saing tinggi, dan berkarakter Aswaja an-Nahdliyah.

“Kami ingin memastikan bahwa setiap alumni UNUSIDA tidak hanya berilmu, tapi juga siap menjadi bagian dari solusi bagi dunia kerja dan masyarakat,” pungkasnya.

Dewi Sri Rahayu, S.Ak saat Menerima Piagam Penghargaan Lulusan Terbaik Fakultas Ekonomi UNUSIDA dari Rektor (Foto: Humas UNUSIDA)

Dewi Sri Rahayu: Lulusan Terbaik Fakultas Ekonomi UNUSIDA, Bukti Kerja Keras dan Doa

SIDOARJO – Dewi Sri Rahayu, S.Ak, menjadi lulusan terbaik Program Studi Akuntansi sekaligus Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Hal tersebut disampaikan saat Yudisium ke-9 FE UNUSIDA di Ballroom PCNU Sidoarjo, Kamis (7/8/2025) lalu.

Dewi berhasil lulus dengan IPK 3,94 mengungguli lulusan Fakultas Ekonomi UNUSIDA lainnya. Meskipun begitu, Dewi mengaku bahwa pencapaian ini menjadi momen yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Alhamdulillah, tentu perasaan saya sangat bersyukur dan terharu bisa mendapat penghargaan sebagai lulusan terbaik. Saya percaya pencapaian ini bukan hanya hasil usaha saya pribadi, tapi juga doa orang tua, bimbingan dosen, dan dukungan teman-teman,” ungkapnya saat diwawancara oleh Tim Humas UNUSIDA, Selasa (26/8/2025).

Motivasi Ganda: Membanggakan Orang Tua dan Membuktikan Diri

Bagi Dewi, motivasi terbesar selama kuliah adalah kedua orang tua dan keluarga. Sejak awal menempuh pendidikan tinggi, ia tidak hanya belajar, tetapi juga bekerja untuk membiayai studinya sendiri.

“Selain ingin membuat orang tua bangga, saya juga ingin membuktikan kepada diri sendiri bahwa dengan kerja keras dan doa, semua bisa tercapai,” tuturnya.

Tantangan yang Menguatkan

Menjalani kuliah sembari bekerja bukan perkara mudah. Dewi harus pintar membagi waktu, tenaga, dan pikiran agar semua kewajiban dapat terselesaikan.

“Tantangan terbesar adalah menyeimbangkan kuliah dan pekerjaan. Ada kalanya benar-benar lelah, tapi justru dari situ saya belajar tentang disiplin, tanggung jawab, manajemen waktu, dan pentingnya konsistensi,” ujarnya.

Peran UNUSIDA dalam Perjalanan Akademik

Dewi juga menegaskan bahwa peran UNUSIDA, khususnya Fakultas Ekonomi, sangat besar dalam perjalanan akademiknya. Selain mendapatkan bekal ilmu, ia juga mendapat kesempatan bekerja di lingkungan kampus yang sangat membantunya.

“Saya berterima kasih kepada dosen-dosen yang bukan hanya membimbing di kelas, tetapi juga memberi arahan tentang kehidupan dan karier. Dukungan itu menjadi salah satu alasan saya bisa menyelesaikan studi sampai akhir,” jelasnya.

Pesan untuk Mahasiswa

Sebagai lulusan terbaik, Dewi memberikan pesan berharga untuk adik tingkatnya. Menurutnya, hal terpenting dalam hidupnya adalah dapat menikmati setiap proses dalam kuliah maupun bekerja.

“Jangan pernah menyerah pada keadaan. Nikmati prosesnya, jangan hanya mengejar hasil. Dan yang paling penting, libatkan doa orang tua dalam setiap langkah, serta jangan takut meminta arahan dari dosen. Percayalah, usaha tidak akan mengkhianati hasil,” pesannya.

Rencana ke Depan

Setelah lulus, Dewi berencana untuk terus mengembangkan diri melalui studi lanjut maupun memperluas pengalaman kerja.

“Kalau soal menikah, tentu itu bagian dari rencana hidup juga, tapi waktunya biar Allah yang atur. Yang jelas, saya ingin tetap produktif dan bermanfaat, di jalur apa pun yang saya tempuh,” ujarnya.

Harapan untuk UNUSIDA

Lebih lanjut, Dewi menyampaikan harapannya untuk kampus tercinta. Ia berharap, UNUSIDA dapat berkembang menjadi kampus yang diperhitungkan di tengah masyarakat.

“Semoga UNUSIDA, khususnya Fakultas Ekonomi, terus berkembang menjadi kampus yang melahirkan generasi unggul, berdaya saing, dan berakhlak. Semoga semakin banyak inovasi, kesempatan, dan fasilitas yang mendukung mahasiswa untuk berprestasi, baik akademik maupun non-akademik. Dan semoga nama UNUSIDA semakin harum, bukan hanya di Sidoarjo, tapi juga di tingkat nasional dan internasional,” harapnya. (MY)