Pos

Gebrakan Mahasiswa UNUSIDA untuk UMKM Naik Kelas di Era Digital 1

Gebrakan Mahasiswa UNUSIDA untuk UMKM Naik Kelas di Era Digital

Oleh: Siti Nur Rohmaniyah Mahasiswa prodi Manajemen UNUSIDA

Menguatkan UMKM di Tengah Persaingan Ekonomi Digital

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian masyarakat. UMKM tidak hanya menjadi sumber penghasilan bagi pelaku usaha, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan dan mendorong tumbuhnya kreativitas masyarakat. Namun, di tengah perkembangan teknologi dan persaingan ekonomi yang semakin ketat, pelaku UMKM dituntut untuk terus berinovasi agar mampu bertahan dan berkembang.

Menurut saya, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi UMKM saat ini adalah pemasaran dan persaingan harga. Banyak pelaku UMKM memiliki produk yang berkualitas, tetapi belum mampu mempromosikannya secara optimal sehingga kurang dikenal oleh masyarakat luas. Di sisi lain, persaingan harga juga semakin ketat karena banyak penjual menawarkan produk serupa. Kondisi ini membuat pelaku UMKM perlu menemukan strategi yang tepat agar produknya memiliki nilai lebih dan mampu menarik perhatian konsumen.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, UMKM tidak cukup hanya mengandalkan penjualan secara langsung. Pelaku usaha perlu mulai memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana untuk memperluas jangkauan pemasaran, membangun identitas produk, dan menjalin hubungan dengan konsumen. Transformasi digital bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman, melainkan menjadi salah satu langkah untuk membuka peluang usaha yang lebih luas.

Inovasi Produk dan Pemasaran sebagai Kunci Daya Saing

Salah satu langkah yang dapat dilakukan UMKM adalah mengembangkan inovasi produk dan pemasaran. Inovasi produk dapat diwujudkan melalui penambahan variasi, warna, bentuk, model, maupun kemasan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan minat konsumen. Dengan begitu, produk tidak hanya memiliki fungsi, tetapi juga daya tarik yang membedakannya dari produk pesaing.

Selain inovasi produk, strategi pemasaran juga perlu disesuaikan dengan kebiasaan konsumen saat ini. Media sosial seperti TikTok dan Instagram dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk melalui video kreatif, ulasan produk, cerita di balik proses produksi, hingga siaran langsung atau live streaming. Promosi berupa diskon pada waktu tertentu juga dapat menjadi pilihan untuk menarik perhatian calon pembeli.

Meski demikian, inovasi tidak harus selalu membutuhkan biaya besar. Pelaku UMKM dapat memulai dari perubahan sederhana, seperti memperbaiki foto produk, menyusun katalog yang lebih rapi, atau membuat konten yang menjelaskan keunggulan produknya. Hal terpenting adalah memahami kebutuhan konsumen dan menunjukkan alasan mengapa produk tersebut layak dipilih.

Memanfaatkan Teknologi Digital dengan Cara Sederhana

Mahasiswa dapat berperan dalam membantu UMKM memanfaatkan teknologi digital. Media sosial dapat digunakan sebagai etalase produk, sedangkan marketplace membuka kesempatan bagi pelaku usaha untuk menjangkau konsumen di luar wilayah tempat mereka berjualan. Sementara itu, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dapat dimanfaatkan untuk mencari inspirasi konten, menyusun ide promosi, membuat draf caption, serta membantu merancang konsep visual pemasaran.

Bagi UMKM yang memiliki keterbatasan modal, pemanfaatan fasilitas gratis menjadi solusi yang realistis. Pelaku usaha dapat mengambil foto produk menggunakan telepon genggam, mengeditnya dengan aplikasi yang tersedia, membuat video promosi secara mandiri, dan mengunggahnya ke media sosial. Katalog digital juga dapat dibuat menggunakan aplikasi gratis agar calon konsumen lebih mudah melihat pilihan produk dan informasi harga.

Namun, penggunaan teknologi tetap perlu disertai ketelitian. Foto hasil penyuntingan AI, misalnya, harus tetap menggambarkan produk sebenarnya agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Konten promosi juga perlu memuat informasi yang jelas dan jujur. Dengan demikian, teknologi tidak hanya membantu meningkatkan daya tarik pemasaran, tetapi juga mendukung kepercayaan konsumen.

Mahasiswa sebagai Mitra Transformasi Digital UMKM

Sebagai mahasiswa, saya percaya bahwa pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah dapat diterapkan secara langsung untuk membantu masyarakat. Salah satu pengalaman yang relevan adalah kegiatan KKN UNUSIDA Sepande 2026. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dapat mengambil peran dalam memperkenalkan produk UMKM kepada masyarakat melalui media digital.

Upaya yang dapat dilakukan antara lain membuat akun TikTok khusus UMKM Sepande, memproduksi konten promosi bersama pelaku usaha, menyusun katalog produk, serta membantu proses pendaftaran usaha ke marketplace. Mahasiswa juga dapat mendampingi pelaku UMKM dalam mengenali tren pasar dan membandingkan harga produk sejenis agar strategi penjualan yang diterapkan lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Pendampingan tersebut sebaiknya tidak berhenti pada pembuatan akun atau unggahan konten. Mahasiswa juga perlu membantu pelaku UMKM memahami cara membuat konten secara mandiri, membaca respons konsumen, menjaga konsistensi promosi, dan mengevaluasi hasil pemasaran. Dengan begitu, pelaku usaha tidak hanya memperoleh bantuan sesaat, tetapi juga memiliki keterampilan yang dapat digunakan secara berkelanjutan.

Kolaborasi untuk UMKM yang Lebih Berdaya Saing

Transformasi digital UMKM membutuhkan proses, konsistensi, dan kerja sama berbagai pihak. Pelaku usaha perlu terbuka terhadap inovasi, mahasiswa dapat berkontribusi melalui pengetahuan dan keterampilan digital, sedangkan perguruan tinggi dapat menjadi penghubung antara kebutuhan masyarakat dan solusi yang dikembangkan dalam dunia akademik.

Pada akhirnya, keberhasilan UMKM tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal atau kecanggihan teknologi yang digunakan. Kemampuan memahami konsumen, menjaga kualitas produk, membangun kepercayaan, serta beradaptasi dengan perubahan pasar juga menjadi faktor penting.

Bagi saya, mahasiswa tidak harus menunggu lulus untuk memberikan kontribusi nyata. Melalui langkah sederhana, seperti membantu membuat konten promosi, menyusun katalog digital, dan memperkenalkan produk lokal ke pasar yang lebih luas, mahasiswa dapat menjadi bagian dari perubahan. Dari ide yang sederhana, lahir aksi yang bermanfaat. Dari pendampingan yang konsisten, UMKM dapat tumbuh lebih inovatif, adaptif, dan berdaya saing di tengah persaingan ekonomi digital.

Menggugah Kesadaran! Mahasiswa UNUSIDA Dorong Gerakan Kampus Lestari 2

Menggugah Kesadaran! Mahasiswa UNUSIDA Dorong Gerakan Kampus Lestari

Oleh: Wazir Mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan UNUSIDA

Persoalan lingkungan hari ini sering kali dibicarakan dalam skala yang besar. Perubahan iklim, pencemaran udara, kerusakan hutan, hingga krisis air menjadi isu yang terus mendapat perhatian publik. Namun, di tengah berbagai diskusi tersebut, ada satu persoalan mendasar yang terkadang luput dari perhatian kita, yaitu kesadaran manusia terhadap lingkungan.

Kita sering mengetahui bahwa menjaga lingkungan merupakan hal penting, tetapi belum tentu menjadikannya sebagai kebiasaan. Membuang sampah sembarangan, menggunakan kemasan sekali pakai secara berlebihan, atau mengabaikan penggunaan air dan energi masih dianggap sebagai persoalan sepele. Padahal, ketika perilaku tersebut dilakukan secara berulang oleh banyak orang, dampaknya dapat berkembang menjadi persoalan lingkungan yang jauh lebih besar.

Karena itu, tantangan lingkungan bukan semata-mata terletak pada kurangnya pengetahuan, melainkan bagaimana pengetahuan tersebut tumbuh menjadi kesadaran dan tindakan nyata. Kepedulian lingkungan seharusnya tidak berhenti sebagai wacana, tetapi tercermin dalam cara kita menjalani kehidupan sehari-hari.

Dari Kesadaran Menuju Tindakan Nyata

Generasi muda, khususnya mahasiswa, memiliki posisi strategis dalam mendorong perubahan tersebut. Perguruan tinggi memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengakses ilmu pengetahuan, mengembangkan pemikiran kritis, serta memahami persoalan masyarakat melalui pendekatan yang lebih analitis. Kesempatan ini merupakan sebuah keistimewaan yang semestinya diiringi tanggung jawab sosial.

Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi kelompok yang mampu mengkritik keadaan. Mereka juga perlu mengambil bagian dalam mencari dan menerapkan solusi. Sebab, pengetahuan yang diperoleh di ruang kuliah akan memiliki makna lebih besar ketika mampu menjawab persoalan nyata di lingkungan sekitar.

Bagi mahasiswa Teknik Lingkungan, tanggung jawab tersebut semakin relevan. Ilmu mengenai pengelolaan sampah, pengendalian pencemaran, sanitasi, konservasi sumber daya air, dan pengelolaan lingkungan bukan sekadar materi perkuliahan. Semua itu merupakan bekal untuk memahami persoalan sekaligus merancang solusi yang dapat diterapkan.

Ketika melihat persoalan sampah di kampus, misalnya, mahasiswa dapat memulainya dengan mengidentifikasi sumber sampah, mengevaluasi sistem pengelolaannya, kemudian menyusun rekomendasi yang realistis. Langkah tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat menjadi awal perubahan apabila dilakukan secara konsisten dan melibatkan banyak pihak.

Bahkan, kesadaran lingkungan perlu diperluas hingga ke aktivitas digital. Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) dan layanan digital memberikan banyak kemudahan, tetapi infrastruktur di baliknya, termasuk pusat data, membutuhkan energi dan dalam banyak kasus juga air untuk sistem pendinginan. Hal ini bukan berarti teknologi harus dihindari, melainkan digunakan secara bijak sesuai kebutuhan dan dengan kesadaran terhadap jejak lingkungannya.

Lumpur Lapindo: Pengingat bahwa Kerusakan Lingkungan Menyangkut Kehidupan Manusia

Bagi saya, persoalan lingkungan bukan sekadar sesuatu yang dipelajari melalui buku, berita, atau diskusi akademik. Saya merupakan warga Porong dan salah satu orang yang terdampak Lumpur Lapindo. Rumah saya dahulu berada di Desa Jatirejo, salah satu desa yang terdampak peristiwa tersebut.

Pengalaman itu memberikan perspektif tersendiri tentang bagaimana persoalan lingkungan dapat mengubah kehidupan manusia secara mendalam. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik lingkungan, tetapi juga menyentuh tempat tinggal, kehidupan sosial, mata pencaharian, dan masa depan masyarakat.

Peristiwa tersebut mengajarkan bahwa dampak kerusakan lingkungan dapat berlangsung jauh lebih lama daripada perhatian publik terhadap peristiwanya. Ketika suatu persoalan tidak ditangani secara memadai, masyarakat terdampak dapat menghadapi konsekuensi berkepanjangan yang tidak mudah dipulihkan.

Tentu, persoalan lingkungan berskala besar memiliki kompleksitas tersendiri dan tidak dapat disederhanakan menjadi satu penyebab. Namun, pengalaman tersebut memperkuat pemahaman saya tentang pentingnya tanggung jawab, pencegahan, pengelolaan risiko, dan perlindungan terhadap masyarakat dalam setiap keputusan yang berpotensi memengaruhi lingkungan.

Pengalaman inilah yang menjadi salah satu alasan saya menekuni bidang Teknik Lingkungan. Saya ingin memahami persoalan lingkungan bukan hanya dari sisi dampaknya, tetapi juga dari sisi pencegahan, pengelolaan, dan solusi yang dapat dikembangkan.

Sebab, lingkungan bukan hanya tentang alam yang kita lihat, melainkan juga tentang kehidupan manusia yang bergantung padanya. Pembangunan semestinya tidak mengabaikan keselamatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan demi kepentingan jangka pendek.

UNUSIDA Lestari: Menjadikan Kampus sebagai Laboratorium Perubahan

Pengalaman dan pemahaman tersebut mendorong saya untuk menawarkan sebuah gagasan, yaitu “UNUSIDA Lestari: Kampus Tumbuh, Lingkungan Terjaga.” Gagasan ini berangkat dari pemikiran bahwa perguruan tinggi seharusnya tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga berupaya menerapkannya dalam kehidupan kampus.

Sebagai perguruan tinggi yang memiliki Program Studi Teknik Lingkungan, Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) memiliki peluang untuk mengembangkan kampus sebagai ruang pembelajaran dan praktik pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Ada tiga langkah yang dapat menjadi bagian dari gagasan tersebut.

Pertama, membangun pengelolaan lingkungan kampus berbasis riset. Dosen dan mahasiswa dapat berkolaborasi memetakan kondisi pengelolaan sampah, penggunaan air dan energi, sanitasi, serta aspek lingkungan lainnya. Hasil kajian kemudian digunakan untuk menentukan prioritas perbaikan dan menyusun rekomendasi yang terukur.

Dengan pendekatan ini, kegiatan lingkungan tidak sekadar menjadi agenda seremonial. Setiap program memiliki dasar permasalahan yang jelas, target yang realistis, serta evaluasi untuk mengetahui efektivitas pelaksanaannya.

Kedua, mengembangkan ruang terbuka hijau dan vegetasi yang sesuai dengan kondisi kampus. Penataan ruang hijau dapat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kenyamanan lingkungan dan mendukung kualitas ruang terbuka. Apabila berdasarkan kajian lapangan ditemukan kebutuhan yang relevan, pengembangan vegetasi dan green buffer dapat dipertimbangkan untuk membantu mengurangi paparan debu pada kondisi tertentu.

Namun, upaya penghijauan perlu direncanakan berdasarkan karakteristik lokasi dan jenis vegetasi yang tepat. Penghijauan bukan pengganti pengendalian pencemaran dari sumbernya, melainkan salah satu upaya pendukung dalam pengelolaan lingkungan secara menyeluruh.

Ketiga, memperkuat kolaborasi lintas organisasi dan unit kampus. Gerakan UNUSIDA Lestari tidak seharusnya menjadi tanggung jawab Program Studi Teknik Lingkungan semata. Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan, UKM MAPANUSIDA, organisasi mahasiswa lainnya, dosen, serta unit terkait perlu dilibatkan sesuai peran dan kapasitas masing-masing.

Dukungan birokrasi dan kelembagaan juga menjadi faktor penting. Melalui kolaborasi dengan unit terkait, termasuk Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), hasil penelitian dosen dan mahasiswa dapat dikembangkan menjadi program pengabdian yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pelaksanaannya dapat dimulai melalui pemetaan kondisi lingkungan kampus, penentuan prioritas, penerapan program percontohan, serta evaluasi berkala. Dengan demikian, keberhasilan tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang diselenggarakan, tetapi juga dari perubahan yang dapat diamati dan dipertahankan.

Harapannya, UNUSIDA tidak hanya menjadi tempat mahasiswa mempelajari ilmu lingkungan, tetapi juga menjadi ruang untuk menguji gagasan, membangun kebiasaan baik, dan menghasilkan solusi yang dapat dikembangkan lebih luas.

Menjaga Lingkungan adalah Tanggung Jawab Antargenerasi

Pada akhirnya, persoalan lingkungan membawa kita pada pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang akan kita tinggalkan bagi generasi berikutnya?

Dalam kehidupan masyarakat, kita mengenal istilah mbabat alas, sebuah gambaran tentang perjuangan generasi terdahulu dalam membuka jalan bagi kehidupan generasi selanjutnya. Kita menikmati berbagai hasil dari upaya mereka. Namun, sudahkah kita memikirkan lingkungan seperti apa yang akan diwariskan kepada anak cucu kita?

Jangan sampai generasi mendatang kehilangan kesempatan menikmati udara bersih, air yang layak, pepohonan, dan ruang terbuka hanya karena kita mengabaikan tanggung jawab hari ini. Jangan pula sampai kerusakan yang sebenarnya dapat dicegah berubah menjadi beban yang harus mereka tanggung.

Kepedulian lingkungan bukan hanya kewajiban kita terhadap generasi yang hidup saat ini, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral kepada generasi yang belum lahir.

Meski demikian, besarnya persoalan lingkungan tidak seharusnya membuat kita merasa bahwa tindakan individu tidak berarti. Kita tidak perlu menunggu menjadi pejabat, peneliti, atau pemimpin organisasi untuk memulai perubahan. Membawa botol minum sendiri, mengurangi sampah sekali pakai, menggunakan energi secara bijak, dan menjaga kebersihan lingkungan merupakan langkah awal yang dapat dilakukan.

Langkah tersebut perlu dilanjutkan dengan kolaborasi, pengembangan pengetahuan, dan upaya membangun sistem yang memungkinkan kebiasaan baik bertahan dalam jangka panjang.

Bagi mahasiswa, keberanian untuk memulai harus berjalan beriringan dengan kesediaan untuk belajar, mengevaluasi, dan memperbaiki tindakan. Tidak semua gagasan akan langsung berhasil, tetapi setiap upaya yang dilakukan secara bertanggung jawab dapat menjadi bagian dari proses perubahan.

Kita mungkin tidak mampu mewariskan dunia yang sempurna kepada generasi berikutnya. Namun, kita memiliki pilihan untuk tidak mewariskan kerusakan yang sebenarnya dapat dicegah.

Karena itu, jangan tunggu bumi semakin rusak untuk mulai bergerak. Mari jadikan kepedulian sebagai tindakan, ilmu sebagai solusi, dan kampus sebagai ruang perubahan. Melalui UNUSIDA Lestari, kita dapat memulai langkah kecil hari ini demi lingkungan yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Inspiratif! Alumni Teknik Industri UNUSIDA 2023 Sukses Jadi CEO, Buktikan Pentingnya Growth Mindset 3

Inspiratif! Alumni Teknik Industri UNUSIDA 2023 Sukses Jadi CEO, Buktikan Pentingnya Growth Mindset

Sidoarjo, UNUSIDA – Perjalanan menuju kesuksesan tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak ilmu yang diperoleh di ruang kelas, tetapi juga oleh kemampuan membangun relasi, membentuk karakter, dan terus beradaptasi dengan perubahan. Prinsip inilah yang menjadi bagian dari perjalanan Yoga Wahyu Pratama, S.T., alumni Program Studi S1 Teknik Industri Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) tahun 2023, yang kini dipercaya menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) PT Boss Trans Tour & Travel.

Perjalanan Yoga menjadi salah satu potret inspiratif alumni UNUSIDA yang mampu mengembangkan diri dan mengambil peran di dunia profesional. Pengalaman selama menempuh pendidikan tinggi tidak hanya menjadi bekal akademik, tetapi juga membantunya membangun pola pikir terbuka, memperluas perspektif, serta menumbuhkan keberanian untuk terus berkembang.

Bagi Yoga, kuliah bukan sekadar proses memperoleh gelar sarjana. Lebih dari itu, masa perkuliahan merupakan kesempatan untuk mengenal berbagai karakter, membangun jaringan, dan belajar memahami sudut pandang yang beragam. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk dirinya sebagai pribadi yang lebih siap menghadapi tantangan setelah lulus.

Kuliah Bukan Sekadar Belajar, tetapi Membentuk Karakter

Yoga memandang bahwa pengalaman selama menjadi mahasiswa memiliki peran besar dalam proses pengembangan dirinya. Ilmu yang diperoleh di ruang kelas menjadi fondasi, sedangkan interaksi dan pengalaman selama perkuliahan memberikan kesempatan untuk belajar menghadapi berbagai situasi.

Menurutnya, lingkungan kampus dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan interpersonal, memperluas pertemanan, serta membangun relasi yang bermanfaat bagi perjalanan karier. Berbagai pengalaman tersebut juga mendorong mahasiswa untuk lebih terbuka terhadap ide dan perspektif baru.

“Kuliah di UNUSIDA bukan hanya tentang mendapatkan ilmu di ruang kelas, tetapi juga tentang memperluas relasi, membangun jaringan, dan membentuk karakter,” ungkap Yoga dalam refleksinya mengenai pengalaman selama menempuh pendidikan di UNUSIDA.

Baginya, menjadi pribadi yang open-minded atau berpikiran terbuka merupakan salah satu hal penting dalam menghadapi kehidupan profesional. Kemampuan melihat persoalan dari berbagai perspektif membantu seseorang memahami situasi secara lebih luas, sekaligus membuka peluang untuk menemukan solusi yang lebih baik.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa proses pendidikan tinggi tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kesiapan menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan studi.

Growth Mindset, Kunci untuk Terus Berkembang

Di tengah dunia kerja yang terus mengalami perubahan, kemauan untuk belajar menjadi salah satu bekal penting bagi setiap individu. Yoga menekankan pentingnya memiliki growth mindset, yakni pola pikir yang mendorong seseorang untuk terus mengembangkan kemampuan, belajar dari pengalaman, dan tidak berhenti memperbaiki diri.

Menurutnya, setiap proses dalam kehidupan memberikan kesempatan untuk memperoleh pembelajaran baru. Tantangan bukan semata-mata hambatan, melainkan bagian dari perjalanan yang dapat membantu seseorang memahami potensi dirinya dan menemukan cara untuk berkembang.

Prinsip tersebut relevan dengan kebutuhan dunia profesional yang menuntut kemampuan beradaptasi, keterbukaan terhadap perubahan, serta kesediaan untuk terus meningkatkan kompetensi. Bagi seorang pemimpin, pola pikir bertumbuh juga menjadi landasan untuk menghadapi dinamika pekerjaan dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan dalam mengambil keputusan.

Perjalanan Yoga hingga dipercaya menjadi CEO PT Boss Trans Tour & Travel menjadi konteks yang relevan untuk melihat pentingnya pengembangan diri secara berkelanjutan. Meski demikian, setiap pencapaian tetap merupakan bagian dari proses panjang yang membutuhkan pembelajaran, pengalaman, dan kemauan untuk terus melangkah.

Ia meyakini bahwa keberhasilan bukan hanya tentang mencapai posisi tertentu, melainkan juga tentang bagaimana seseorang terus bertumbuh dan memberikan manfaat melalui peran yang dijalankannya.

Alumni UNUSIDA, Terus Bertumbuh dan Siap Memberikan Dampak

Kisah Yoga Wahyu Pratama memberikan perspektif bahwa pengalaman kuliah dapat menjadi salah satu fondasi dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja. Bekal akademik, relasi, karakter, dan pola pikir yang terbuka merupakan unsur yang saling melengkapi dalam perjalanan pengembangan diri.

Bagi mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di UNUSIDA, perjalanan tersebut dapat menjadi motivasi untuk memanfaatkan masa kuliah sebaik mungkin. Mengikuti kegiatan akademik, membangun relasi yang positif, mengembangkan keterampilan, dan berani mencoba hal baru merupakan langkah yang dapat membantu memperluas pengalaman.

Mahasiswa juga perlu menyadari bahwa proses belajar tidak berhenti ketika wisuda tiba. Perubahan kebutuhan industri dan perkembangan zaman menuntut setiap individu untuk terus memperbarui pengetahuan serta menyesuaikan diri dengan tantangan yang dihadapi.

Melalui semangat tersebut, UNUSIDA mendorong mahasiswa dan alumni untuk terus mengembangkan potensi, membangun karakter, serta mengambil peran positif di tengah masyarakat.

Sebagaimana refleksi yang disampaikan Yoga, perjalanan kuliah bukan hanya tentang menjadi pintar, tetapi juga tentang menjadi pribadi yang terus bertumbuh, beradaptasi, dan siap memberikan dampak.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa masa depan dibangun melalui proses yang berkelanjutan. Dengan kemauan untuk terus belajar, keberanian melihat berbagai perspektif, dan pola pikir yang terbuka, setiap alumni memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensinya dan memberikan kontribusi melalui bidang yang ditekuni.

UNUSIDA percaya bahwa setiap alumni memiliki cerita dan perjalanan unik untuk menginspirasi generasi berikutnya. Melalui semangat bertumbuh dan berdampak, alumni diharapkan terus membawa nilai-nilai positif dari bangku kuliah ke dunia profesional maupun kehidupan bermasyarakat.

Inspiratif! Dosen Manajemen UNUSIDA Ungkap Strategi Jitu Transformasi My Sneaker SBY Menuju UMKM Berdaya Saing 4

Inspiratif! Dosen Manajemen UNUSIDA Ungkap Strategi Jitu Transformasi My Sneaker SBY Menuju UMKM Berdaya Saing

Oleh: Achmad Zaki, S.E., M.M.
Dosen Program Studi Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo dan Pelaku Usaha My Sneaker SBY

Menjadi seorang dosen bukan hanya tentang menyampaikan teori di ruang kelas, tetapi juga tentang bagaimana ilmu pengetahuan dapat diterapkan untuk menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat. Bagi saya, dunia akademik dan dunia usaha merupakan dua ruang yang saling melengkapi. Keduanya memberikan kesempatan untuk terus belajar, menguji gagasan, membangun inovasi, serta menciptakan nilai yang bermanfaat bagi orang lain.

Pengalaman menjalankan My Sneaker SBY menjadi salah satu ruang pembelajaran bagi saya dalam memahami dinamika bisnis secara langsung. Di dunia usaha, berbagai konsep manajemen yang dipelajari secara akademis berhadapan dengan realitas yang jauh lebih kompleks. Pelaku usaha tidak hanya dituntut mampu menghasilkan produk atau layanan yang baik, tetapi juga harus memahami kebutuhan konsumen, menjaga kualitas, mengelola keuangan, membangun kepercayaan, dan beradaptasi dengan perubahan pasar.

Merintis usaha mengajarkan bahwa keberhasilan bisnis tidak terbentuk dalam satu malam. Ada proses mengenali peluang, memahami perilaku konsumen, menyusun strategi pemasaran, membangun identitas usaha, hingga mengevaluasi keputusan yang telah diambil. Setiap tantangan menjadi bahan pembelajaran, sedangkan setiap perubahan pasar menuntut pelaku usaha untuk terus memperbarui cara berpikir dan cara bekerja.

Dalam konteks bisnis yang semakin kompetitif, usaha di bidang perawatan dan kebersihan sepatu seperti My Sneaker SBY memiliki peluang untuk dikembangkan melalui pendekatan yang berorientasi pada kebutuhan pelanggan. Sepatu bukan sekadar perlengkapan penunjang aktivitas, melainkan juga bagian dari gaya hidup, penampilan, dan identitas seseorang. Perubahan gaya hidup masyarakat, terutama generasi muda, membuka peluang bagi layanan yang mengutamakan kebersihan, perawatan, kenyamanan, dan kualitas pelayanan.

Namun, peluang pasar saja tidak cukup untuk menjamin keberlanjutan usaha. Pelaku bisnis perlu memahami bahwa konsumen tidak hanya membeli produk atau menggunakan layanan, tetapi juga menilai pengalaman yang mereka peroleh. Ketepatan waktu, komunikasi yang jelas, kualitas hasil, transparansi harga, dan kemudahan akses menjadi bagian penting dalam membangun kepuasan pelanggan.

Dari pengalaman tersebut, saya memandang bahwa salah satu kunci mengembangkan usaha adalah kemampuan menggabungkan kualitas layanan dengan inovasi. Inovasi tidak selalu berarti menciptakan teknologi yang rumit atau mengeluarkan investasi besar. Inovasi dapat dimulai dari hal sederhana, seperti memperbaiki alur pelayanan, menyediakan informasi yang lebih mudah dipahami, membangun sistem pencatatan transaksi, mengoptimalkan media sosial, serta menjadikan masukan pelanggan sebagai dasar perbaikan.

Digitalisasi juga memberikan peluang besar bagi usaha kecil untuk meningkatkan daya saing. Melalui media sosial, pelaku usaha dapat memperkenalkan layanan, menampilkan dokumentasi hasil pekerjaan, membangun interaksi dengan pelanggan, dan memperluas jangkauan pasar tanpa harus bergantung sepenuhnya pada promosi konvensional. Sementara itu, pencatatan keuangan digital dapat membantu pemilik usaha memisahkan keuangan pribadi dan bisnis, memantau biaya operasional, menghitung keuntungan, serta merencanakan pengembangan usaha secara lebih terukur.

Meski demikian, digitalisasi bukan sekadar mengikuti tren. Teknologi harus digunakan untuk menyelesaikan persoalan bisnis yang nyata. Pelaku usaha perlu menentukan platform yang sesuai dengan karakteristik konsumennya, membuat konten yang relevan, menjaga konsistensi komunikasi, dan mengevaluasi efektivitas setiap strategi pemasaran. Dengan demikian, aktivitas digital tidak berhenti pada peningkatan jumlah pengikut, tetapi diarahkan untuk membangun kepercayaan, meningkatkan transaksi, dan mempertahankan pelanggan.

Perspektif tersebut memiliki relevansi penting dalam pendampingan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). UMKM merupakan bagian penting dari perekonomian masyarakat karena membuka peluang kerja, menggerakkan aktivitas ekonomi lokal, serta memberikan ruang bagi tumbuhnya kreativitas dan kemandirian. Akan tetapi, sebagian pelaku UMKM masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan keuangan, pemasaran, pengembangan produk, pemanfaatan teknologi, dan perencanaan bisnis.

Menurut saya, pendampingan UMKM perlu bergerak melampaui kegiatan pelatihan yang hanya menyampaikan materi. Pendampingan yang efektif harus berangkat dari kebutuhan nyata pelaku usaha dan diarahkan pada perubahan yang dapat diukur. Sebelum memberikan solusi, pendamping perlu memahami karakteristik usaha, proses bisnis, konsumen, sumber daya, serta kendala yang dihadapi. Dari hasil pemetaan tersebut, program pendampingan dapat disusun secara lebih relevan dan aplikatif.

Sebagai contoh, UMKM yang mengalami kesulitan menjangkau konsumen dapat didampingi untuk menyusun strategi pemasaran digital, memperbaiki foto produk, membuat katalog, dan mengoptimalkan media sosial. UMKM yang belum memiliki pencatatan keuangan dapat dibantu membangun sistem pembukuan sederhana. Sementara itu, usaha yang menghadapi persaingan ketat dapat diarahkan untuk memperjelas keunggulan produk, meningkatkan kualitas layanan, dan mengembangkan nilai tambah yang membedakannya dari pesaing.

Dalam hal ini, perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai mitra pengembangan usaha masyarakat. Dosen tidak hanya berperan sebagai pengajar dan peneliti, tetapi juga dapat menjadi fasilitator yang menjembatani pengetahuan akademik dengan kebutuhan pelaku usaha. Melalui kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, perguruan tinggi dapat membantu UMKM mengidentifikasi persoalan, merancang solusi, menguji inovasi, dan mengevaluasi hasil pendampingan.

Di Program Studi Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), semangat tersebut dapat diwujudkan melalui pembelajaran yang semakin dekat dengan realitas bisnis. Mahasiswa perlu memperoleh kesempatan untuk mengamati usaha secara langsung, menganalisis model bisnis, menyusun strategi pemasaran, membuat prototipe produk atau layanan, serta mendampingi UMKM dalam memanfaatkan teknologi digital. Dengan cara ini, mahasiswa tidak hanya memahami konsep manajemen secara teoritis, tetapi juga mengembangkan keterampilan memecahkan masalah, berkomunikasi, berkolaborasi, dan mengambil keputusan.

Pengalaman praktik bisnis juga dapat menjadi sumber pembelajaran yang berharga bagi mahasiswa. Melalui studi kasus dari usaha yang dijalankan, mahasiswa dapat memahami bahwa keputusan bisnis selalu berkaitan dengan keterbatasan sumber daya, perubahan kebutuhan pelanggan, ketidakpastian pasar, dan tuntutan menjaga kualitas. Mereka belajar bahwa strategi yang baik bukan sekadar strategi yang terlihat menarik di atas kertas, melainkan strategi yang dapat dilaksanakan, dievaluasi, dan disesuaikan dengan kondisi nyata.

Saya meyakini bahwa masa depan UMKM tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan produk yang berkualitas, tetapi juga oleh kemampuan membangun sistem usaha yang sehat, memanfaatkan teknologi secara tepat, mengembangkan sumber daya manusia, dan menciptakan hubungan jangka panjang dengan pelanggan. Pelaku usaha harus terus belajar, sedangkan perguruan tinggi perlu membuka ruang kolaborasi yang lebih luas agar pengetahuan dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Pada akhirnya, perjalanan mengembangkan usaha seperti My Sneaker SBY bukan semata-mata tentang membangun bisnis, melainkan juga tentang memahami bagaimana sebuah usaha dapat tumbuh melalui proses belajar, inovasi, dan keberanian beradaptasi. Dunia usaha memberikan pengalaman nyata, dunia akademik menyediakan kerangka berpikir, dan masyarakat menjadi ruang tempat gagasan diuji serta manfaatnya dirasakan.

Bagi saya, keberhasilan seorang dosen sekaligus pelaku usaha bukan hanya diukur dari apa yang berhasil dibangun untuk dirinya sendiri, tetapi juga dari seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan tersebut dapat dibagikan untuk membantu orang lain berkembang. Ketika ruang kelas terhubung dengan dunia usaha dan inovasi diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat, perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan yang memahami bisnis, tetapi juga generasi yang mampu menciptakan peluang, mengembangkan UMKM, dan menghadirkan dampak ekonomi yang berkelanjutan.

UNUSIDA Kembali Torehkan Prestasi, Empat Publikasi Internasional Terindeks Scopus Terbit pada 2026 5

UNUSIDA Kembali Torehkan Prestasi, Empat Publikasi Internasional Terindeks Scopus Terbit pada 2026

Sidoarjo, 7 Oktober 2026 – Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menorehkan prestasi di bidang akademik melalui terbitnya empat artikel ilmiah pada publikasi internasional terindeks Scopus tahun 2026. Capaian ini mendapat apresiasi dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNUSIDA sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi dan dedikasi para dosen dalam mengembangkan ilmu pengetahuan melalui penelitian yang relevan dengan perkembangan zaman.

Keempat publikasi tersebut mengangkat tema-tema strategis yang berkaitan dengan transformasi pendidikan berbasis teknologi digital, pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI), pembelajaran interaktif, serta pengembangan konten pemasaran digital berbasis generative AI. Tema-tema tersebut mencerminkan perhatian sivitas akademika UNUSIDA terhadap inovasi, pemanfaatan teknologi, dan pengembangan pendekatan pembelajaran maupun komunikasi digital yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.

LPPM UNUSIDA menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus ucapan selamat dan apresiasi kepada seluruh dosen yang terlibat dalam publikasi tersebut. Capaian ini diharapkan menjadi motivasi bagi para dosen untuk terus meningkatkan produktivitas penelitian, memperluas kolaborasi akademik, dan menghasilkan karya ilmiah yang mampu memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan di tingkat nasional maupun internasional.

Empat Publikasi dengan Fokus Riset Strategis

Publikasi pertama berjudul “Roles of Artificial Intelligence in Early Childhood Education: A Systematic Review of Adaptive Learning, AI Literacy, and Safe Learning Ecosystems”. Artikel ini ditulis oleh Rif’Atul Anita, Shofiyatuz Zahroh, Ana Christanti, Wachyudi Achmad, dan Winda Qurrota Ayun.

Penelitian tersebut mengangkat peran kecerdasan buatan dalam pendidikan anak usia dini dengan meninjau pembelajaran adaptif, literasi AI, serta pembentukan ekosistem pembelajaran yang aman. Topik ini relevan dengan perkembangan teknologi pendidikan yang semakin mendorong personalisasi pembelajaran sekaligus menekankan pentingnya pemahaman teknologi dan perlindungan peserta didik. Kajian tersebut menjadi bagian dari diskusi akademik mengenai bagaimana teknologi AI dapat dipertimbangkan dalam proses pendidikan anak usia dini secara tepat dan bertanggung jawab.

Publikasi kedua berjudul “Future Education Through Wordwall-Based Project-Based Learning in Basic Education: A Digital Gamified Approach to Science and Social Humanities Learning”. Artikel ini ditulis oleh Moh. Anang Abidin, Risalul Ummah, Thaufan Falaki, Evi Mahsunah, Ali Masykuri, dan Dwinta Alfiyatun Nuriyah.

Artikel ini membahas pendekatan pembelajaran berbasis proyek yang memanfaatkan platform Wordwall melalui konsep gamifikasi digital dalam pembelajaran sains serta ilmu sosial dan humaniora pada pendidikan dasar. Pemanfaatan teknologi interaktif dalam pembelajaran menjadi salah satu pendekatan yang dapat mendukung pengalaman belajar yang lebih menarik dan partisipatif. Melalui tema tersebut, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan wacana mengenai inovasi pembelajaran yang memadukan aktivitas proyek dengan pemanfaatan media digital.

Publikasi ketiga berjudul “Kahoot-Based Digital Worksheets for Future Personalized Learning in English for Young Learners Descriptive Text Instruction”. Artikel ini ditulis oleh Ruri Fadhilah Kurniati, Elza Fiilmilla Sutejo, Muawwinatul Laili, Milla Ahmadia Apologia, dan Feri Kuswanto.

Penelitian ini menyoroti penggunaan lembar kerja digital berbasis Kahoot untuk mendukung pembelajaran bahasa Inggris bagi peserta didik usia dini, khususnya pada materi descriptive text. Pengembangan media pembelajaran digital menjadi salah satu upaya untuk menghadirkan kegiatan belajar yang lebih interaktif dan menyesuaikan kebutuhan peserta didik. Integrasi platform digital dengan materi pembelajaran bahasa Inggris juga membuka ruang pengembangan metode pengajaran yang lebih variatif sesuai dengan karakteristik pembelajar muda.

Sementara itu, publikasi keempat berjudul “Human–AI Co-Creation in Generative AI–Driven Social Media and Digital Marketing Content Production: A Systematic Literature Review”. Artikel ini ditulis oleh Athika Dwi Wiji Utami, Trias Widha Andari, Putra Uji Deva Satrio, Akhya’ Muhammad Khaidzir, Ragil Noviyanti, dan Amalia Hartiningrum.

Berbeda dari tiga publikasi sebelumnya yang berfokus pada bidang pendidikan, artikel ini mengkaji kolaborasi manusia dan AI generatif dalam produksi konten media sosial serta pemasaran digital melalui pendekatan tinjauan literatur sistematis. Topik ini memiliki relevansi dengan perkembangan industri kreatif dan pemasaran digital yang semakin memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan. Kajian tersebut turut memperkaya diskusi akademik mengenai hubungan kreativitas manusia, kapabilitas teknologi, dan proses produksi konten digital.

Memperkuat Budaya Riset dan Kolaborasi Akademik

Terbitnya empat publikasi internasional tersebut menjadi momentum penting bagi UNUSIDA untuk terus memperkuat budaya penelitian di lingkungan perguruan tinggi. Publikasi ilmiah pada jurnal atau prosiding internasional bereputasi merupakan salah satu sarana bagi dosen untuk menyebarluaskan gagasan, hasil kajian, dan pengembangan pengetahuan kepada komunitas akademik yang lebih luas.

Selain menjadi bentuk kontribusi akademik, publikasi internasional juga membuka peluang bagi pengembangan jejaring penelitian dan kolaborasi lintas disiplin. Keberagaman tema dalam keempat artikel menunjukkan luasnya ruang pengembangan riset di UNUSIDA, mulai dari pendidikan anak usia dini, inovasi pembelajaran pada pendidikan dasar, pembelajaran bahasa Inggris, hingga pemasaran digital berbasis kecerdasan buatan.

LPPM UNUSIDA diharapkan terus menjadi bagian penting dalam mendorong peningkatan kualitas penelitian dan publikasi ilmiah dosen. Dukungan terhadap pengembangan kapasitas peneliti, peningkatan kolaborasi, serta penguatan budaya akademik menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan produktivitas riset di lingkungan universitas.

Capaian ini sekaligus menjadi dorongan bagi seluruh sivitas akademika UNUSIDA untuk terus berkarya, mengembangkan inovasi, dan menghasilkan penelitian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat serta tantangan global. Dengan semangat kolaborasi dan pengabdian, penelitian diharapkan tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga memberikan inspirasi bagi pengembangan pendidikan, teknologi, dan praktik bisnis yang lebih baik.

LPPM UNUSIDA menyampaikan selamat dan apresiasi kepada seluruh dosen yang telah berkontribusi dalam capaian ini. Semoga prestasi tersebut menjadi penyemangat untuk terus meningkatkan kualitas penelitian, memperluas kontribusi keilmuan, dan membawa nama UNUSIDA semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional.

Terus berkhidmat untuk umat.

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM)
Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA)

Referensi publikasi:

  1. Roles of Artificial Intelligence in Early Childhood Education
  2. Future Education Through Wordwall-Based Project-Based Learning in Basic Education
  3. Kahoot-Based Digital Worksheets for Future Personalized Learning
  4. Human–AI Co-Creation in Generative AI–Driven Social Media and Digital Marketing Content Production
Kisah Inspiratif Adinda Jannatin Aliyah, Alumni PIAUD UNUSIDA yang Berhasil Taklukkan Rasa Introvert dan Mengabdi sebagai Pendidik Anak Usia Dini 6

Kisah Inspiratif Adinda Jannatin Aliyah, Alumni PIAUD UNUSIDA yang Berhasil Taklukkan Rasa Introvert dan Mengabdi sebagai Pendidik Anak Usia Dini

SIDOARJO – Perjalanan menjadi seorang pendidik bukan hanya tentang menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga keberanian untuk terus berkembang, membangun kepercayaan diri, dan mengabdikan diri bagi generasi masa depan. Hal inilah yang tergambar dalam kisah Adinda Jannatin Aliyah Wahyu Permani, S.Pd., alumni Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) tahun 2025, yang kini berkiprah sebagai operator di RA Salman Al Farizi Medayu Utara.

Perjalanan Adinda menjadi inspirasi bahwa latar belakang kepribadian bukanlah batasan untuk meraih cita-cita. Berangkat dari pribadi yang cenderung introvert, ia berhasil membangun kepercayaan diri untuk tampil di depan kelas, berinteraksi dengan anak-anak, serta menjalankan peran dalam dunia pendidikan anak usia dini. Pengalaman selama menempuh pendidikan di PIAUD UNUSIDA menjadi salah satu bagian penting dalam proses pertumbuhan tersebut.

Bagi Adinda, kuliah di UNUSIDA bukan sekadar perjalanan akademik untuk memperoleh gelar sarjana. Lebih dari itu, masa perkuliahan menjadi ruang untuk mengenali potensi diri, mengembangkan keterampilan, dan mempersiapkan mental agar mampu menghadapi tantangan di dunia kerja. Berbagai ilmu dan pengalaman praktik yang diperoleh selama perkuliahan memberinya bekal untuk menjalani profesi di lingkungan pendidikan anak usia dini.

Menurutnya, pendidikan di PIAUD tidak hanya memberikan pemahaman teoretis mengenai tumbuh kembang anak, tetapi juga membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal praktik pembelajaran secara lebih dekat. Pengalaman tersebut menjadi modal penting bagi calon pendidik dalam memahami karakteristik anak, membangun komunikasi, serta menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan.

Bagi seseorang yang sebelumnya merasa kurang percaya diri untuk tampil di hadapan banyak orang, pengalaman praktik menjadi kesempatan berharga untuk melatih keberanian. Proses belajar, mencoba, dan menghadapi berbagai situasi selama perkuliahan membantunya membangun kesiapan untuk terjun ke dunia pendidikan. Kepercayaan diri yang tumbuh secara bertahap menjadi salah satu bekal yang ia bawa setelah menyelesaikan studi.

“Dari seorang introvert, menjadi seorang guru yang berani berdiri di depan kelas dengan penuh percaya diri. PIAUD UNUSIDA menjadi bagian penting dalam perjalanan karier saya sebagai Guru RA. Dari kampus ini, saya mendapatkan banyak ilmu, pengalaman praktik, sekaligus mental untuk mengajar dengan hati,” ungkap Adinda dalam refleksinya mengenai perjalanan selama menempuh pendidikan di UNUSIDA.

Kini, Adinda menjalankan perannya sebagai operator di RA Salman Al Farizi Medayu Utara. Pengalaman dan pengetahuan yang diperolehnya selama kuliah menjadi bekal untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja serta memahami dinamika lembaga pendidikan anak usia dini. Perannya di lingkungan RA juga menjadi bagian dari kontribusi dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan yang baik bagi anak-anak.

Dunia pendidikan anak usia dini membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menyampaikan materi. Dibutuhkan kesabaran, kepedulian, komunikasi yang baik, serta kemauan untuk memahami setiap anak sebagai individu yang memiliki karakter dan kebutuhan berbeda. Karena itu, pembelajaran selama kuliah menjadi fondasi penting untuk membangun sikap profesional sekaligus kepedulian terhadap proses tumbuh kembang anak.

Bagi Adinda, menjadi bagian dari dunia pendidikan merupakan kesempatan untuk terus belajar dan memberikan manfaat. Ia memahami bahwa setiap pengalaman, baik selama masa perkuliahan maupun ketika memasuki dunia kerja, dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan diri. Tantangan yang dihadapi bukan alasan untuk berhenti, melainkan kesempatan untuk memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang lebih siap dalam menjalankan tanggung jawab.

Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada PIAUD UNUSIDA atas ilmu dan pengalaman yang telah menjadi bagian dari perjalanannya. Menurutnya, bekal yang diperoleh dari kampus memberikan dorongan untuk terus berkembang, mendidik dengan penuh kepedulian, dan memberikan yang terbaik bagi anak-anak.

“Terima kasih PIAUD UNUSIDA. Berkat ilmu dan pengalaman yang diberikan, saya semakin percaya diri untuk mendidik, mendampingi, dan memberikan yang terbaik bagi anak-anak. Karena pendidikan bukan hanya tentang mengajar, tetapi tentang mengabdi dengan hati dan tumbuh bersama generasi masa depan,” tuturnya.

Kisah Adinda menjadi gambaran bahwa keberhasilan pendidikan tinggi tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari perubahan positif dalam diri mahasiswa dan kemampuan mereka menerapkan ilmu di tengah masyarakat. Keberanian untuk keluar dari zona nyaman, kemauan untuk terus belajar, dan kesungguhan dalam menjalankan profesi merupakan nilai penting yang dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa maupun calon mahasiswa.

Melalui kisah alumninya, UNUSIDA terus menghadirkan inspirasi mengenai pentingnya pendidikan yang mendukung pengembangan kompetensi sekaligus karakter. Pengalaman Adinda menunjukkan bahwa kampus dapat menjadi ruang untuk bertumbuh, menemukan potensi, dan mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja.

Perjalanan dari pribadi yang introvert hingga mampu membangun kepercayaan diri dalam dunia pendidikan menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berkembang. Dengan bekal ilmu, pengalaman, dan semangat pengabdian, Adinda Jannatin Aliyah Wahyu Permani membuktikan bahwa langkah kecil untuk berani mencoba dapat menjadi awal dari perjalanan besar dalam memberikan manfaat bagi generasi masa depan.

UNUSIDA, tempat bertumbuh, berdaya, dan melahirkan generasi yang siap memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

UKM MAHISRA dan PPK ORMAWA PBI UNUSIDA Dorong Aksi Nyata, Limbah Minyak Jelantah Disulap Jadi Sabun Bernilai Ekonomi 7

UKM MAHISRA dan PPK ORMAWA PBI UNUSIDA Dorong Aksi Nyata, Limbah Minyak Jelantah Disulap Jadi Sabun Bernilai Ekonomi

KEDUNGPANDAN, JABON, SIDOARJO — Kepedulian terhadap lingkungan kembali diwujudkan mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) melalui aksi nyata di tengah masyarakat. UKM Mahisra bersama PPK Ormawa HIMA PBI 2026 UNUSIDA sukses menyelenggarakan Program Pemanfaatan Limbah Minyak Jelantah Menjadi Sabun di Desa Kedungpandan, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo, Sabtu (26/9/2026).

Kegiatan yang mengusung tema “RUANG BINA; PETA LANGKAH MASYARAKAT” tersebut mendapat sambutan positif dari Pemerintah Desa Kedungpandan dan ibu-ibu PKK. Program ini menjadi ruang edukasi sekaligus praktik bagi masyarakat untuk memahami bahwa limbah rumah tangga, khususnya minyak jelantah, masih dapat dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai guna.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat mendapatkan edukasi mengenai pemanfaatan minyak jelantah untuk diolah menjadi produk rumah tangga, khususnya sabun cuci piring dan sabun cuci tangan. Selain mengurangi potensi pembuangan limbah minyak secara sembarangan, kegiatan ini juga memperkenalkan peluang pemanfaatan limbah menjadi produk yang berpotensi dikembangkan secara berkelanjutan.

Ketua Pelaksana Kegiatan, Mei Indah Ningrum, menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah mendukung terlaksananya kegiatan tersebut. Ia secara khusus mengucapkan terima kasih kepada Ketua UKM Mahisra, Diana Siti Ariyani, dan Ketua PPK Ormawa, Zainira Ihsanty, yang telah memberikan kepercayaan kepadanya untuk menjadi ketua pelaksana.

“Saya sangat berterima kasih kepada Ketua UKM Mahisra dan Ketua PPK Ormawa yang telah memberikan kepercayaan kepada saya sebagai ketua pelaksana. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Kepala Desa Kedungpandan, Bapak Wawan Hermawan, serta ibu-ibu PKK yang telah menyambut dan mengikuti kegiatan ini dengan penuh antusias,” ujar Mei.

Menurut Mei, program tersebut tidak hanya berorientasi pada keterampilan membuat produk, tetapi juga diharapkan mampu membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan limbah rumah tangga.

“Kita tidak perlu membuang minyak jelantah sembarangan atau mencampurkannya dengan sampah rumah tangga. Minyak jelantah dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang berguna, seperti sabun cuci piring dan sabun cuci tangan. Kami berharap program ini tidak berhenti pada kegiatan hari ini, tetapi dapat terus berlanjut dan dikembangkan bersama masyarakat Desa Kedungpandan,” tambahnya.

Dukungan terhadap program tersebut juga disampaikan Kepala Desa Kedungpandan, Wawan Hermawan. Ia mengapresiasi inisiatif mahasiswa UNUSIDA yang membawa pengetahuan dan keterampilan baru bagi masyarakat Desa Kedungpandan.

“Saya berterima kasih kepada kakak-kakak dari UKM Mahisra dan PPK Ormawa atas program yang dibawa ke Desa Kedungpandan. Kegiatan pemanfaatan limbah minyak jelantah menjadi sabun cuci tangan dan sabun cuci piring ini sangat bermanfaat dan menarik bagi masyarakat. Sebelumnya belum ada mahasiswa yang memberikan ide seperti ini kepada kami,” ungkap Wawan.

Wawan menilai, pemanfaatan minyak jelantah tidak hanya memiliki manfaat dari sisi lingkungan, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Apabila dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan, hasil olahan tersebut dapat diarahkan menjadi salah satu produk yang mendukung kegiatan UMKM di desa.

“Jika program ini dapat berjalan dengan baik dan dikembangkan secara berkelanjutan, hasil produknya dapat dipasarkan sehingga berpotensi membantu dan mendukung UMKM yang ada di Desa Kedungpandan,” lanjutnya.

Antusiasme masyarakat turut terlihat selama kegiatan berlangsung. Salah satu warga Desa Kedungpandan, Bu Suci, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan yang memberikan pengalaman dan keterampilan baru bagi warga.

“Saya sangat senang dengan adanya kegiatan ini. Warga di sini juga sangat antusias apabila diajak untuk membuat sesuatu yang bermanfaat. Saya berharap program kerja seperti ini dapat terus berlanjut dan ke depannya terdapat beberapa pilihan pengelolaan limbah lainnya yang bisa dikembangkan bersama masyarakat,” ujar Bu Suci.

Melalui program tersebut, UKM Mahisra dan PPK Ormawa HIMA PBI 2026 UNUSIDA berupaya menghadirkan aksi nyata berbasis pemberdayaan masyarakat. Mahasiswa tidak hanya hadir untuk memberikan edukasi, tetapi juga membuka ruang kolaborasi agar masyarakat dapat terlibat langsung dalam proses pembelajaran dan pengembangan potensi yang ada di lingkungannya.

Pemanfaatan minyak jelantah menjadi sabun menjadi salah satu langkah awal untuk mendorong perubahan cara pandang terhadap limbah rumah tangga. Limbah yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat diolah menjadi produk yang memiliki manfaat sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi masyarakat.

Program ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi dapat menjadi bagian dari proses pemberdayaan masyarakat Desa Kedungpandan. Dengan keberlanjutan program, edukasi pengelolaan limbah dapat berkembang menjadi berbagai inovasi lain yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa.

Melalui semangat “RUANG BINA; PETA LANGKAH MASYARAKAT”, mahasiswa UNUSIDA menunjukkan bahwa pengabdian dapat dimulai dari hal sederhana di sekitar masyarakat. Dari minyak jelantah, lahir keterampilan baru; dari keterampilan, terbuka peluang; dan dari kolaborasi, tumbuh langkah menuju masyarakat yang lebih peduli lingkungan sekaligus produktif.

Inspiratif! Savira Rizqiah Ilahi Buktikan Ilmu Manajemen UNUSIDA Berdampak di Dunia Pendidikan 8

Inspiratif! Savira Rizqiah Ilahi Buktikan Ilmu Manajemen UNUSIDA Berdampak di Dunia Pendidikan

Sidoarjo – Perjalanan pendidikan di perguruan tinggi tidak selalu berhenti pada pencapaian gelar. Bagi Savira Rizqiah Ilahi, M.M., alumni Program Studi Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) tahun 2025, pengalaman selama menempuh pendidikan justru menjadi bekal untuk mengembangkan diri dan menerapkan ilmu di dunia kerja.

Kini, Savira mengabdikan diri sebagai guru di MINU KH Mukmin Sidoarjo. Latar belakang pendidikan Manajemen yang ditempuh di UNUSIDA menjadi bagian penting dalam membentuk cara pandangnya terhadap pengelolaan organisasi, sumber daya manusia, kepemimpinan, hingga strategi peningkatan kualitas pendidikan.

Bagi Savira, kuliah bukan sekadar proses untuk mendapatkan gelar akademik. Lebih dari itu, perguruan tinggi menjadi ruang untuk membangun pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sekaligus kepercayaan diri yang dapat diterapkan dalam kehidupan profesional.

“Kuliah bukan sekadar meraih gelar, tetapi membangun pengetahuan dan keahlian manajemen yang dapat diterapkan di dunia pendidikan,” ujar Savira.

Menurutnya, berbagai pengetahuan yang diperoleh selama kuliah memiliki relevansi dengan aktivitas di lingkungan pendidikan. Pemahaman mengenai organisasi, misalnya, dapat membantu seseorang melihat bagaimana sebuah lembaga menjalankan peran dan tanggung jawab masing-masing untuk mencapai tujuan bersama.

Begitu pula dengan pengelolaan sumber daya manusia. Dalam lingkungan pendidikan, kemampuan memahami karakter, membangun komunikasi, serta mengelola potensi individu menjadi hal yang penting. Guru tidak hanya berperan dalam menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga berinteraksi dengan peserta didik, rekan kerja, orang tua, dan berbagai unsur dalam lembaga pendidikan.

Pengalaman belajar Manajemen di UNUSIDA turut memberikan perspektif bagi Savira bahwa kepemimpinan bukan semata-mata tentang posisi atau jabatan. Kepemimpinan juga berkaitan dengan kemampuan mengambil keputusan, bekerja sama, mengelola tanggung jawab, serta memberikan kontribusi bagi lingkungan sekitar.

“Mulai dari memahami organisasi, mengelola SDM, membangun kepemimpinan, hingga menyusun strategi untuk meningkatkan kualitas pendidikan,” ungkapnya.

Dalam perjalanan kariernya sebagai guru, ilmu tersebut menjadi bekal yang dapat mendukung Savira dalam menjalankan perannya di lingkungan pendidikan. Ia membawa pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah untuk terus belajar dan berkembang sesuai dengan kebutuhan di dunia kerja.

Bagi Savira, pengalaman menjadi bagian dari lingkungan akademik UNUSIDA juga menjadi proses pembentukan diri. Perkuliahan tidak hanya memberikan pengetahuan yang bersifat teoritis, tetapi juga membuka ruang untuk mengembangkan pola pikir, kemampuan berkomunikasi, kerja sama, dan keberanian untuk mengambil peran.

Hal tersebut menjadi penting ketika seorang lulusan memasuki dunia kerja. Tantangan yang dihadapi tidak selalu sama dengan situasi di ruang kelas. Karena itu, kemampuan beradaptasi dan mengembangkan pengetahuan menjadi bagian dari proses yang terus berjalan.

Savira pun memandang bahwa ilmu manajemen memiliki ruang penerapan yang luas, termasuk dalam dunia pendidikan. Kemampuan menyusun perencanaan, mengelola sumber daya, membangun koordinasi, dan mengevaluasi proses dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih terarah dan berkualitas.

“Ilmu dari kampus menjadi bekal untuk memimpin, berkembang, dan menciptakan perubahan yang berdampak,” tuturnya.

Kisah Savira menjadi bagian dari perjalanan alumni UNUSIDA yang mengembangkan kompetensi sesuai bidang dan lingkungan pengabdiannya. Setelah menyelesaikan studi Manajemen pada 2025, ia melanjutkan kiprahnya sebagai pendidik di MINU KH Mukmin Sidoarjo.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa kompetensi yang diperoleh dari perguruan tinggi dapat menemukan bentuk penerapannya di berbagai bidang. Ilmu manajemen yang dipelajari Savira menjadi salah satu bekal dalam menjalankan peran profesionalnya di dunia pendidikan.

Bagi UNUSIDA, perjalanan alumni merupakan bagian penting dari keberlanjutan proses pendidikan. Keberhasilan alumni dalam menerapkan ilmu dan berkontribusi di tengah masyarakat menjadi gambaran bahwa pembelajaran di perguruan tinggi dapat terus berkembang menjadi pengalaman nyata setelah mahasiswa menyelesaikan studi.

Melalui kisah Savira, semangat untuk terus belajar, beradaptasi, dan memberikan manfaat menjadi pesan yang relevan bagi mahasiswa maupun calon mahasiswa. Pendidikan tinggi bukan hanya tentang menyelesaikan perkuliahan, tetapi juga tentang mempersiapkan diri untuk mengambil peran di tengah masyarakat.

Savira pun terus melangkah dalam profesinya sebagai guru dengan membawa bekal ilmu Manajemen dari UNUSIDA. Baginya, pengetahuan yang diperoleh selama kuliah bukanlah sesuatu yang berhenti setelah wisuda, melainkan modal yang dapat terus dikembangkan dan diterapkan dalam berbagai situasi.

Dari ruang kuliah menuju ruang pendidikan, perjalanan Savira menjadi pengingat bahwa ilmu dapat memiliki banyak jalan untuk memberikan manfaat. Ketika pengetahuan dipadukan dengan pengalaman, kepemimpinan, dan kemauan untuk terus berkembang, proses pendidikan dapat menjadi bekal untuk menghadirkan kontribusi yang lebih luas bagi lingkungan dan masyarakat.

Gen Z Naik Kelas! Dobrak Cara Pandang, Ciptakan Masa Depan Gemilang Sejak Bangku Kuliah 9

Gen Z Naik Kelas! Dobrak Cara Pandang, Ciptakan Masa Depan Gemilang Sejak Bangku Kuliah

Oleh: Pingkia Angelica Taufani
Gubernur Fakultas Ekonomi UNUSIDA 

Menjadi mahasiswa di era digital memberikan banyak kesempatan yang mungkin tidak dimiliki generasi sebelumnya. Akses terhadap informasi semakin terbuka, teknologi berkembang begitu cepat, dan media sosial dapat menjadi ruang untuk belajar, membangun jaringan, bahkan menciptakan penghasilan. Namun, di tengah berbagai peluang tersebut, masih ada satu pertanyaan penting yang perlu kita renungkan: apakah kita benar-benar memanfaatkan masa kuliah untuk membangun masa depan, atau hanya sekadar mengejar gelar?

Sudah waktunya Gen Z mengubah cara pandang terhadap dunia perkuliahan. Kuliah seharusnya tidak hanya dipahami sebagai jalan untuk mendapatkan ijazah dan pekerjaan setelah wisuda. Kampus merupakan ruang untuk bereksperimen, mengembangkan kemampuan, membangun relasi, menghasilkan karya, dan menciptakan peluang.

Selama ini, pertanyaan yang sering muncul di benak mahasiswa adalah, “Apa yang bisa saya dapatkan dari kampus?” Pertanyaan tersebut tidak salah. Namun, akan jauh lebih bermakna jika kita mulai mengubahnya menjadi, “Apa yang bisa saya ciptakan selama berada di kampus?”

Perubahan pertanyaan sederhana tersebut dapat mengubah cara kita menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.

Ketika mahasiswa mulai berpikir tentang apa yang dapat diciptakan, maka organisasi bukan lagi sekadar tempat mencari pengalaman kepemimpinan, tetapi menjadi ruang untuk menghasilkan program yang berdampak. Tugas kuliah bukan lagi hanya kewajiban akademik, tetapi dapat menjadi kesempatan untuk menghasilkan ide, penelitian, produk, maupun solusi terhadap permasalahan di sekitar.

Begitu pula dengan kewirausahaan. Menjadi mahasiswa tidak harus menunggu sampai memiliki modal besar untuk memulai bisnis. Banyak usaha besar berawal dari ide sederhana, kemampuan membaca kebutuhan masyarakat, dan keberanian untuk mencoba. Gen Z memiliki keunggulan berupa kemampuan memanfaatkan teknologi dan media sosial. Kemampuan tersebut dapat menjadi modal awal untuk membangun usaha bahkan sejak masih duduk di bangku kuliah.

Namun, menjadi entrepreneur mahasiswa bukan berarti harus mengorbankan pendidikan. Justru keduanya dapat berjalan beriringan. Ilmu yang diperoleh di kelas dapat diterapkan dalam dunia nyata. Konsep pemasaran dapat digunakan untuk mempromosikan produk. Ilmu manajemen dapat diterapkan untuk mengelola bisnis. Pengetahuan keuangan dapat membantu mengatur arus kas. Bahkan tugas perkuliahan dapat dikembangkan menjadi ide bisnis yang memiliki nilai ekonomi.

Di sinilah makna “Gen Z naik kelas” menjadi penting. Naik kelas bukan hanya tentang memperoleh nilai akademik yang tinggi. Naik kelas berarti berkembang menjadi pribadi yang memiliki kemampuan untuk menciptakan nilai, menyelesaikan masalah, beradaptasi dengan perubahan, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Gen Z juga perlu berhenti takut terhadap kegagalan. Salah satu alasan mahasiswa enggan memulai adalah kekhawatiran bahwa ide mereka tidak sempurna. Padahal, tidak ada karya yang langsung sempurna sejak pertama kali dibuat. Kegagalan, kritik, dan proses evaluasi merupakan bagian dari perjalanan untuk menjadi lebih baik.

Lebih baik memulai dari sesuatu yang sederhana daripada terus menunggu sampai semuanya sempurna. Sebuah konten pertama mungkin belum memiliki banyak penonton. Sebuah produk pertama mungkin belum langsung laku. Sebuah kegiatan pertama mungkin memiliki banyak kekurangan. Namun, dari proses itulah pengalaman terbentuk.

Selain menghasilkan karya dan usaha, mahasiswa juga perlu membangun personal branding. Di era digital, kemampuan seseorang tidak hanya dilihat dari ijazah, tetapi juga dari karya dan kontribusi yang dapat ditunjukkan. Portofolio menjadi bukti bahwa seseorang pernah melakukan sesuatu, menyelesaikan masalah, dan menghasilkan nilai.

Karena itu, masa kuliah seharusnya menjadi masa untuk membangun portofolio kehidupan. Mengikuti organisasi, mengikuti kompetisi, membuat konten edukatif, melakukan penelitian, membangun bisnis kecil, mengikuti program magang, hingga terlibat dalam kegiatan sosial merupakan bagian dari proses tersebut.

Kampus pada akhirnya bukan sekadar tempat untuk menunggu masa depan datang. Kampus adalah tempat untuk mempersiapkan sekaligus menciptakan masa depan.

Maka, jangan tunggu lulus untuk mulai berkarya. Jangan tunggu memiliki pekerjaan untuk mulai belajar menghasilkan uang. Jangan menunggu memiliki jabatan untuk mulai memberikan dampak. Dan jangan menunggu sempurna untuk mulai mencoba.

Gen Z memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana masa depannya dibangun. Pertanyaannya bukan lagi sekadar “Setelah lulus saya akan menjadi apa?”, tetapi juga “Selama menjadi mahasiswa, apa yang sudah saya bangun?”

Sebab, masa depan bukanlah hadiah yang otomatis diberikan setelah wisuda. Masa depan adalah hasil dari keputusan, keberanian, keterampilan, relasi, karya, dan pengalaman yang kita bangun sejak hari ini.

Mari kuliah bukan hanya untuk mendapatkan gelar. Mari kuliah untuk bertumbuh, berkarya, menciptakan peluang, dan memberikan dampak. Karena menjadi mahasiswa bukan sekadar fase menunggu masa depan—tetapi kesempatan untuk mulai menciptakannya.

FKIP UNUSIDA Mengajar Angkatan 3 Resmi Dimulai, Bekali 143 Mahasiswa Jadi Calon Guru Inspiratif 10

FKIP UNUSIDA Mengajar Angkatan 3 Resmi Dimulai, Bekali 143 Mahasiswa Jadi Calon Guru Inspiratif

Sidoarjo, 17 September 2026 – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Pembekalan FKIP UNUSIDA Mengajar Angkatan 3 sebagai langkah strategis mempersiapkan mahasiswa sebelum terjun langsung ke satuan pendidikan. Mengusung tema “Mendidik, Mengabdi, Menginspirasi”, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kesiapan mahasiswa dalam menjalankan peran sebagai calon pendidik.

Sebanyak 143 mahasiswa FKIP UNUSIDA akan mengikuti program mengajar yang ditempatkan di 12 Sekolah Dasar (SD), 1 Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan 1 Sekolah Menengah Atas (SMA). Kegiatan mengajar tersebut dijadwalkan berlangsung mulai akhir September hingga akhir November 2026.

Dekan FKIP UNUSIDA, Muawwinatul Laili, S.S., M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa pembekalan merupakan tahapan penting untuk memastikan mahasiswa memiliki kesiapan sebelum menghadapi kondisi pembelajaran secara langsung di sekolah.

Menurutnya, mahasiswa tidak hanya membutuhkan penguasaan materi akademik, tetapi juga kemampuan pedagogik, sosial, dan profesional. Selama berada di sekolah mitra, mahasiswa diharapkan mampu beradaptasi dengan lingkungan sekolah, membangun komunikasi yang baik dengan peserta didik dan guru, serta memahami dinamika pembelajaran secara nyata.

“Pembekalan ini menjadi bagian penting agar mahasiswa memiliki kesiapan akademik, pedagogik, sosial, dan profesional ketika melaksanakan kegiatan mengajar di sekolah,” ujarnya.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd. Dalam arahannya, ia menegaskan bahwa kegiatan mengajar tidak semata-mata menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mempraktikkan ilmu yang telah diperoleh selama perkuliahan.

Lebih dari itu, pengalaman di sekolah menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar, beradaptasi, membangun karakter, sekaligus memahami tanggung jawab seorang pendidik.

Ia mendorong mahasiswa agar mampu mengintegrasikan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah dengan kondisi pembelajaran yang sesungguhnya. Dengan demikian, pengalaman mengajar dapat menjadi proses pembelajaran yang utuh bagi mahasiswa sekaligus memberikan kontribusi positif kepada sekolah mitra.

“Mahasiswa harus mampu hadir sebagai pembelajar sekaligus calon pendidik yang profesional. Jadikan setiap pengalaman di sekolah sebagai kesempatan untuk belajar, berkolaborasi, dan memberikan kontribusi positif bagi peserta didik,” pesan Dr. Hadi.

Pembekalan semakin relevan dengan hadirnya Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo, Dr. Netti Lastiningsih, M.Pd., yang memberikan pengarahan mengenai kebijakan pendidikan di Sidoarjo melalui materi “Upgrade Calon Guru: sebagai Pemimpin Pembelajaran di Era Digital.”

Dalam paparannya, Dr. Netti membahas tantangan calon guru di tengah perkembangan teknologi dan perubahan ekosistem pendidikan. Ia juga menyampaikan penerjemahan Asta Cita Kemendikdasmen melalui berbagai program prioritas pendidikan di Indonesia