Pos

LPTNU Gelar Seminar dan Anugerah Pendidikan Tinggi 2026 1

LPTNU Gelar Seminar dan Anugerah Pendidikan Tinggi 2026

Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) akan menggelar rangkaian anugerah pendidikan tinggi 2026. Kegiatan ini diselenggarakan pada hari selasa, 10 Maret 2026 di Kampus B Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA). Dalam rangkaian kegiatan ini, terdapat dua agenda utama yaitu Seminar untuk merumuskan rekomendasi arah pendidikan tinggi NU dalam 15 tahun kedepan. Seminar ini akan diikuti oleh semua pimpinan PTNU dengan 6 rektor sebagai penyaji utama yaitu untuk sesi Pembaruan Kurikulum dan Metode Pembelajaran akan diisi oleh Prof.Dr Fatkul Anam (UNU Sidoarjo), Prof.Dr Junadi Mistar (Unisma Malang), Prof.Dr Muammar Bakry (UIM Makasar) dan dimoderatori oleh Dr. Baiq Mulianah (UNU NTB). Dalam sesi membangun ekosistem riset dan inovasi, terdapat Prof.Dr.Helmy Purwanto (Unwahas Semarang), Prof.Dr.Tri Yogi Yuwono (UNUSA Surabaya), Prof.Dr Hamdani (UNU Kaltim) dengan Dr. Ali Formen sebagai moderator. Seluruh pimpinan PTNU akan memberikan tanggapan secara tertulis yang dikompilasi dan dibahas dalam sesi rekomendasi yang dipimpin oleh Dr. Abu Amar Bustomi (UNU Pasuruan).

Ketua LPTNU, Prof.Dr. H. Ainun Na’im menjelaskan bahwa tujuan penyelenggaraan kegiatan ini ada dua yaitu: “Pertama, memastikan bahwa PTNU memiliki tingkat respon dan adaptasi yang tinggi terhadap perubahan. Pendidikan tinggi memiliki persoalan yang kompleks sehingga perlu diurai lalu secara simultan mempersiapkan berbagai skenario dan perencanaan untuk menjawabnya. Kedua, anugerah pendidikan tinggi adalah bagian dari apresiasi yang dilakukan oleh LPTNU terhadap kinerja dan capaian dari sivitas akademikanya. Diharapkan bisa memberikan kebanggaan dan motivasi terhadap yang lain agar senantiasa memberikan kontribusi terbaik terhadap lembaga”.

Secara terpisah, Sekretaris LPTNU Dr.H.M.Faishal Aminuddin menjelaskan bahwa Anugerah LPTNU ini terdiri atas beberapa kategori: 1) kategori ilmuwan muslim berpengaruh dalam bidang kedokteran, sains terapan, teknologi, ekonomi dan lingkungan hidup. 2) kategori Pengabdi sepanjang hayat bagi tokoh NU yang berkontribusi terhadap pendidikan tinggi dalam proses kebijakan, filantropi dan pembangunan infrastruktur. 3) Dosen dengan Karya Ilmiah dalam bidang Saintek, Sosial Humaniora, Ilmu Agama dan Karya Kemasyarakatan dengan total 18 bidang ilmu. 4) Tenaga Kependidikan terbaik dengan bidang layanan dan pengabdian. 5) Lembaga / Pusat Studi terbaik dalam bidang inovasi, kerjasama dan pembangunan komunitas dan 6) Mahasiswa berprestasi dengan kategori akademik, olahraga, keagamaan dan Duta PTNU. “Anugerah LPTNU ini menjadi pengakuan bersama atas segala daya, upaya, ketekunan dan capaian sivitas akademika yang senantiasa berkhidmat dalam pengembangan ilmu pengetahuan, kontribusi terhadap masyarakat dan kemandirian jam’iyyah” tuturnya.

Dalam keterangan selanjutnya, Ketua Tim Juri, Prof.Dr Fatkul Anam memaparkan bahwa proses penjurian dilakukan oleh tim panel juri dengan cara berjenjang dimana sumber data utama berasal dari penambangan data yang dilakukan oleh tim LPTNU dan nominasi usulan dari PTNU. Semua data yang masuk diverifikasi, diberikan penilaian dan diusulkan sampai kandidat 3 besar. Setiap kategori yang berisi 3 kandidat akan diputuskan dalam rapat pleno untuk diputuskan siapa yang mendapatkan penghargaan. Dia menegaskan bahwa “Tim dari LPTNU sudah bekerja mengumpulkan data sejak awal bulan Januari 2026. Kami benar-benar menjaga integritas dalam semua proses penilaian. Kehati-hatian dan kerahasiaan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penilaian yang diberikan”. Sekalipun misalnya, ada rektor PTNU yang kebetulan menjadi Ketua tim panel kategori, tidak bisa begitu saja memasukkan calon dari kampusnya sebagai kandidat 3 besar. Bahkan dia harus legowo, seandainya tidak ada satupun nominasi dari kampusnya tidak masuk kriteria.

Sementara Ketua panitia seminar, Dr Abu Amar Bustomi menyampaikan bahwa acara seminar dibuka dengan pemaparan Prof.Dr. M Nuh sebagai Keynote Speaker. “beliau akan menyampaikan topik mendefinisikan tantangan Perguruan Tinggi dalam 10 tahun kedepan dan peran PTNU didalamnya”. Seminar ini berangkat dari dinamika global dunia pendidikan menuntut sebuah reorientasi fundamental terhadap peran institusi akademik dalam
ekosistem kehidupan berbangsa. Seiring dengan percepatan disrupsi teknologi
yang ditandai oleh integrasi kecerdasan buatan (AI) yang semakin masif,
transformasi sosial yang dinamis, serta kompleksitas geopolitik. Institusi pendidikan tinggi saat ini memikul mandat untuk menjadi motor penggerak yang adaptif, kolaboratif, dan mampu memberikan solusi nyata terhadap berbagai persoalan kebangsaan yang semakin kompleks. Semua pimpinan PTNU memberikan pandangan secara tertulis dan memberikan umpan balik dalam diskusi panel dimana semua hasilnya akan dirumuskan oleh LPTNU menjadi rekomendasi kepada PBNU.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Panitia Malam Anugerah LPTNU, Dr. Mustadin menyampaikan bahwa perhelatan yang digelar setelah shalat tarawih tersebut akan dihadiri oleh 200 undangan dari PTNU dan 100 undangan dari perwakilan pengurus NU dan Banom serta undangan dari lembaga lainnya. Dia menambahkan bahwa yang diumumkan profil peraih anugerah LPTNU bisa dibagi sesuai dengan jenis penghargaannya yaitu: Plakat emas diberikan kepada kategori Ilmuwan Muslim berpengaruh dan Pengabdian Sepanjang Hayat. Lalu untuk Plakat perak diberikan kepada Kategori Dosen dengan Karya Ilmiah dan Karya Kemasyarakatan. Terakhir Plakat Perunggu untuk kategori Tenaga Kependidikan dan Pusat Studi Terbaik. Adapun untuk mahasiswa terdapat medali bintang emas untuk Duta PTNU pertama, perak untuk kedua dan perunggu untuk ketiga. Sedangkan untuk kategori prestasi mahasiswa akan diberikan medali. Selain kategori penghargaan diatas, ada tambahan penghargaan lain-lain yang lebih bersifat apresiasi daripada kompetisi. Pungkasnya. (FA)

Dari Bangku Kuliah ke Dunia Industri: Kiprah Anggun Fitria Laila Ningsih, S.T., Alumni Teknik Kimia Lulusan Tahun 2019 2

Dari Bangku Kuliah ke Dunia Industri: Kiprah Anggun Fitria Laila Ningsih, S.T., Alumni Teknik Kimia Lulusan Tahun 2019

Sidoarjo – Dunia industri menuntut ketelitian, konsistensi, dan tanggung jawab tinggi, terutama dalam bidang pengendalian mutu. Hal inilah yang kini dijalani oleh Anggun Fitria Laila Ningsih, S.T., alumni Teknik Kimia angkatan 2019, yang berkarier sebagai QC-QA Laboratory Analyst di PT. Abadi Agrosindo Persada.

Perjalanan Anggun memasuki dunia kerja merupakan proses yang penuh pembelajaran. Sebagai lulusan Teknik Kimia, ia dibekali pemahaman tentang proses industri, analisis kimia, pengendalian mutu, hingga manajemen proses produksi. Bekal akademik tersebut menjadi fondasi kuat dalam menjalankan tanggung jawabnya di laboratorium perusahaan yang bergerak di bidang agribisnis dan pengolahan hasil pertanian.

Dalam perannya sebagai QC-QA Laboratory Analyst, Anggun bertugas melakukan pengujian dan analisis terhadap bahan baku maupun produk akhir untuk memastikan kualitasnya sesuai standar perusahaan. Ia juga melakukan pencatatan dan pelaporan hasil uji secara sistematis, memastikan setiap proses berjalan sesuai standar operasional prosedur (SOP).

Menurut Anggun, dunia kerja memberikan tantangan yang berbeda dibandingkan perkuliahan. Jika di bangku kuliah fokus pada pemahaman konsep dan penyelesaian tugas, maka di dunia industri setiap keputusan memiliki dampak nyata terhadap kualitas produk dan kepercayaan konsumen.

“Ketelitian menjadi hal utama. Dalam analisis laboratorium, kesalahan kecil bisa berdampak besar. Karena itu, disiplin dan fokus sangat penting,” ungkapnya.

Ia mengakui bahwa pengalaman praktikum selama kuliah di Teknik Kimia sangat membantu dalam beradaptasi di lingkungan laboratorium industri. Kebiasaan bekerja dengan prosedur, memahami alat ukur, serta melakukan analisis data menjadi bekal yang sangat relevan dengan pekerjaannya saat ini.

Namun, Anggun menegaskan bahwa keberhasilan di dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh hard skills semata. Soft skills seperti komunikasi, kerja sama tim, manajemen waktu, dan kemampuan beradaptasi juga memiliki peran besar.

“Di dunia kerja, kita bertemu dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda. Kemampuan menempatkan diri dan berkomunikasi dengan baik sangat membantu dalam membangun lingkungan kerja yang sehat,” jelasnya.

Sebagai alumni Teknik Kimia, Anggun membagikan beberapa wawasan penting bagi mahasiswa yang akan terjun ke dunia kerja:

1. Kuasai konsep dasar dengan kuat.
Pemahaman tentang dasar-dasar kimia, proses industri, dan analisis laboratorium menjadi modal utama untuk berkembang di bidang industri.

2. Manfaatkan praktikum sebagai latihan profesional.
Jangan menganggap praktikum sekadar tugas akademik. Anggaplah sebagai simulasi dunia kerja yang menuntut ketelitian dan tanggung jawab.

3. Bangun integritas sejak dini.
Dalam bidang quality control dan quality assurance, kejujuran dalam melaporkan hasil analisis adalah hal yang mutlak. Data harus akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

4. Terus belajar dan terbuka terhadap evaluasi.
Dunia industri terus berkembang. Standar mutu, teknologi, dan metode analisis selalu diperbarui. Kemauan untuk belajar menjadi kunci agar tetap relevan.

5. Siapkan mental untuk beradaptasi.
Lingkungan kerja berbeda dengan dunia kampus. Target, tekanan waktu, dan tanggung jawab profesional membutuhkan kesiapan mental yang matang.

Anggun juga menekankan pentingnya pengalaman tambahan seperti magang, pelatihan, maupun sertifikasi pendukung. Pengalaman tersebut tidak hanya memperkaya CV, tetapi juga melatih kesiapan menghadapi ritme kerja industri.

Kini, setelah beberapa tahun berkiprah sebagai QC-QA Laboratory Analyst, Anggun memandang setiap proses sebagai bagian dari pembelajaran hidup. Ia percaya bahwa perjalanan karier adalah proses bertahap yang membentuk karakter dan profesionalitas seseorang.

“Setiap tahap punya pelajaran. Kuncinya adalah konsisten, bertanggung jawab, dan terus memperbaiki diri,” tuturnya.

Kisah Anggun Fitria Laila Ningsih, S.T. menjadi inspirasi bahwa lulusan Teknik Kimia memiliki peluang luas di dunia industri, khususnya dalam bidang pengendalian mutu. Dengan kompetensi akademik yang kuat, integritas, serta kesiapan mental, dunia kerja bukan lagi sesuatu yang menakutkan, melainkan ruang untuk bertumbuh dan berkontribusi.

Bagi mahasiswa Teknik Kimia yang sedang mempersiapkan diri menuju dunia profesional, pesan Anggun sederhana namun bermakna: manfaatkan masa kuliah untuk membangun kompetensi dan karakter. Karena pada akhirnya, yang membawa seseorang bertahan dan berkembang di dunia kerja bukan hanya ilmunya, tetapi juga sikap dan komitmennya terhadap kualitas.

UNUSIDA Hadir dalam LKBBT Gayatra 2025 Wadah Pembinaan Disiplin dan Kehormatan Pelajar Jawa Timur 3

UNUSIDA Hadir dalam LKBBT Gayatra 2025 Wadah Pembinaan Disiplin dan Kehormatan Pelajar Jawa Timur

Sidoarjo, 23 November 2025 — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan Lomba Ketangkasan Baris-Berbaris Tongkat (LKBBT) GAYATRA 2025, sebuah ajang kompetisi prestisius yang mempertemukan pasukan baris-berbaris terbaik dari berbagai sekolah di Jawa Timur. Kegiatan yang berlangsung pada Minggu, 23 November 2025 ini sukses menarik perhatian publik, menghadirkan 20 tim pilihan dari jenjang SMP/MTs hingga SMA/MA/SMK se-Jawa Timur. Dukungan penuh yang diberikan UNUSIDA membuat pelaksanaan lomba berlangsung meriah, tertib, dan sangat kompetitif. Suasana di area kampus terasa hidup sejak pagi hari, ketika para kontingen mulai memasuki arena lomba dengan formasi lengkap dan penuh semangat juang. Para peserta memadukan disiplin, kekompakan, dan kreativitas gerakan PBB Tongkat yang memukau, sehingga menjadikan GAYATRA 2025 sebagai salah satu kompetisi baris-berbaris tingkat provinsi yang paling ditunggu setiap tahunnya.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor 3 UNUSIDA, Ali Masykuri. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa ajang seperti GAYATRA bukan hanya ruang kompetisi, tetapi juga wahana pembentukan karakter. “Lomba bukan hanya tentang siapa yang terbaik, tetapi tentang bagaimana kalian menjaga kejujuran, sportivitas, dan integritas dalam setiap langkah. Nilai itu yang akan menentukan kualitas diri kalian di masa depan,” ujarnya. Pesan tersebut menjadi energi sekaligus pengingat bagi seluruh peserta agar tetap menjunjung tinggi nilai luhur dalam setiap kategori yang mereka ikuti. UNUSIDA sebagai tuan rumah juga menegaskan komitmennya dalam mendukung kegiatan pembinaan generasi muda, khususnya dalam aspek kedisiplinan dan tanggung jawab sosial.

Selama kompetisi berlangsung, para peserta tampil dalam tiga kategori penilaian utama, yaitu PBB dasar, variasi formasi, serta ketangkasan pasukan. Gerakan-gerakan yang ditampilkan tidak hanya menuntut presisi, tetapi juga kreativitas, keserasian ritme, dan kekompakan antaranggota tim. Para penyimak yang hadir ikut terbawa suasana, menyaksikan bagaimana setiap tim mengekspresikan kemampuan terbaik mereka melalui derap langkah dan hentakan tongkat yang tegas dan ritmis. Penilaian dilakukan oleh dewan juri profesional yang berasal dari beberapa institusi kredibel, di antaranya anggota Kodim 0816 Sidoarjo, Tim Kwarcab Sidoarjo, serta perwakilan DKD Jawa Timur. Kolaborasi tim juri tersebut memastikan proses penjurian berjalan objektif, terukur, dan sesuai standar lomba baris-berbaris nasional. Ketatnya penilaian justru memberikan motivasi lebih kepada peserta untuk tampil maksimal.

Salah satu tokoh yang turut hadir dan memberikan apresiasi adalah Purna UKM Khatulistiwa UNUSIDA, Kak Nazar. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa GAYATRA bukan sekadar lomba, tetapi ruang pembentukan karakter generasi muda. “Bagi saya, GAYATRA UNUSIDA 2025 bukan sekadar lomba baris-berbaris. Ini adalah momentum pembuktian bahwa disiplin, loyalitas, dan kehormatan bukan hanya dibawa di lapangan, tapi dihidupi dalam setiap langkah,” ungkapnya. Apresiasi ini menjadi penyemangat tambahan bagi para peserta yang telah mempersiapkan diri berbulan-bulan untuk bertanding di level provinsi.

Salah satu peserta dari SMA Kemala Bhayangkari 3 Porong, M. Dwi Prayoga, juga membagikan motivasi pribadinya dalam mengikuti kompetisi ini. Ia mengaku bahwa berada di GAYATRA 2025 merupakan kesempatan berharga untuk menguji mental dan kemampuan diri. “Saya berdiri di GAYATRA 2025 dengan satu tekad: memberikan yang terbaik tanpa menyisakan ragu. Setiap langkah yang saya ambil adalah wujud komitmen saya terhadap tim dan diri sendiri. Bagi saya, ini bukan tentang menang atau kalah, ini tentang pembuktian bahwa saya tidak mundur ketika tantangan berdiri di depan mata,” ucapnya. Kutipan ini mencerminkan semangat juang peserta yang hadir bukan hanya untuk bersaing, tetapi juga untuk memperkuat karakter diri melalui disiplin dan kerja tim.

Melalui penyelenggaraan GAYATRA 2025, panitia berharap dapat memberikan dampak positif bagi generasi muda Jawa Timur. Lebih dari sekadar kompetisi, kegiatan ini diharapkan menjadi ruang pembinaan mental yang konsisten, membentuk karakter pelajar agar lebih percaya diri, kompak, tangguh, dan menjunjung tinggi nilai kehormatan. Ajang ini juga menjadi sarana bagi pelajar untuk memperluas pengalaman organisasi, memperluas jejaring pertemanan antar sekolah, serta belajar tentang pentingnya kerja sama dalam tim. UNUSIDA, sebagai tuan rumah, kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung kegiatan pelajar yang bersifat edukatif dan pembentukan karakter. Selain itu, GAYATRA menjadi momentum bagi kampus untuk semakin dekat dengan masyarakat, khususnya sekolah-sekolah di Jawa Timur.

Pada akhir acara, panitia mengumumkan pasukan terbaik dari masing-masing kategori lomba serta menyerahkan trofi penghargaan kepada para juara. Suasana haru dan bangga menyelimuti peserta ketika nama-nama tim terbaik disebutkan. Meski begitu, seluruh peserta tetap menunjukkan sportivitas tinggi, saling memberikan selamat, dan merayakan kebersamaan setelah seharian penuh berkompetisi. Penyelenggaraan LKBBT GAYATRA 2025 di UNUSIDA diharapkan menjadi contoh nyata bahwa kompetisi kepemudaan dapat berjalan dengan tertib, inspiratif, dan berorientasi pada pembentukan karakter. Dengan demikian, GAYATRA 2025 bukan hanya meninggalkan jejak prestasi, tetapi juga memupuk nilai disiplin, loyalitas, dan kehormatan yang melekat kuat di hati para pelajar sebagai generasi masa depan Indonesia.

Bangun Kewaspadaan Dini Masyarakat, Dosen UNUSIDA Soroti Kerawanan Penyalahgunaan Gadget pada Anak 4

Bangun Kewaspadaan Dini Masyarakat, Dosen UNUSIDA Soroti Kerawanan Penyalahgunaan Gadget pada Anak

Bangkalan — Rabu, 19 November 2025, Aula Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Bangkalan menjadi pusat perhatian publik setelah digelarnya kegiatan dialog kebangsaan bertema penguatan kewaspadaan dini masyarakat. Acara ini menghadirkan sejumlah tokoh penting, di antaranya Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Bangkalan, Kepala Bakesbangpol Bangkalan, dan Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kabupaten Bangkalan, serta para pemangku kepentingan yang selama ini aktif dalam isu sosial kemasyarakatan.

Salah satu narasumber utama dalam kegiatan ini adalah Dr. H. Rangga Sa’adillah, S.A.P., M.Pd.I., Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sekaligus Kepala Bagian Pengelola Mata Kuliah Umum (MKU). Dalam pemaparannya, ia mengusung tema “Membangun Kewaspadaan Dini Masyarakat melalui Peran FKDM”, namun perhatian peserta justru tersita pada bahasan mendalam mengenai kerawanan penyalahgunaan gadget pada anak, isu yang oleh Dr. Rangga disebut sebagai “ancaman sosial baru yang harus segera ditangani.”

Dalam paparannya, Dr. Rangga mengungkapkan bahwa kehidupan anak di era digital kian jauh dari situasi aman, mengingat derasnya arus paparan media yang tidak terkontrol. Ia merujuk pada teori Neil Postman yang menyatakan bahwa batas antara dunia anak dan dunia dewasa kini semakin kabur, dan hal tersebut semakin diperparah oleh kehadiran media digital seperti gadget, televisi, dan internet.

“Gadget kini menjadi seperti anggota keluarga baru yang hadir tanpa pengawasan,” ungkapnya. Ia menjelaskan bahwa kehadiran media digital secara berlebihan memberikan dampak nyata pada perkembangan psikologis, sosial, bahkan moral anak. Mulai dari perubahan perilaku, menurunnya empati, hingga melemahnya kemampuan komunikasi interpersonal.

Dalam sesi presentasi, Dr. Rangga menunjukkan data yang mengejutkan. Sejak 1 Januari hingga 20 Februari 2025, tercatat 437 anak berhadapan dengan hukum sebagai terlapor kasus pencurian. Angka ini dinilainya sebagai alarm serius bahwa banyak kasus kenakalan anak berakar dari pola konsumsi digital yang tidak sehat. “Ini bukan sekadar angka. Ini adalah sinyal bahwa kita sedang kehilangan masa kanak-kanak generasi kita,” tegasnya.

Dr. Rangga juga memetakan beragam ancaman yang muncul dari penggunaan gadget secara bebas. Tidak hanya soal paparan konten tidak pantas, tetapi juga menyangkut kecanduan terhadap gim, ketergantungan pada media sosial, hingga paparan hoaks yang memicu ketakutan dan persepsi keliru pada anak.

“Anak-anak hidup dalam kepungan layar. Jika tanpa literasi digital yang memadai dan kontrol orang tua, gadget bisa menjadi pintu masuk gangguan kecemasan, depresi, hingga penurunan fokus belajar,” ujarnya.

Ia juga menyinggung fenomena meningkatnya jumlah Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan kasus pemasungan di Jawa Timur. Menurutnya, hal tersebut harus menjadi peringatan bahwa kesehatan mental bukan hanya isu orang dewasa, tetapi juga anak dan remaja sebagai kelompok rentan.

Sebagai bagian dari solusi, Dr. Rangga mengusulkan pembentukan Sistem Deteksi Dini Kerawanan Sosial Digital, sebuah mekanisme yang memungkinkan masyarakat mendeteksi dan merespon lebih cepat potensi kerawanan yang muncul akibat penyalahgunaan gadget.

Sistem tersebut melibatkan kolaborasi lintas elemen, antara lain:

  1. Peran aktif orang tua dan keluarga dalam pendampingan penggunaan gadget di rumah.

  2. Peningkatan literasi digital masyarakat, terutama kemampuan memilah sumber informasi dan mengenali hoaks.

  3. Kerja sama sekolah, tokoh masyarakat, lembaga agama, dan kampus, termasuk FKDM dan UNUSIDA, untuk melakukan edukasi serta sosialisasi terkait bahaya kerawanan digital.

Menurutnya, deteksi dini tidak hanya bertujuan mencegah dampak buruk pada anak, tetapi juga membangun budaya penggunaan teknologi yang sehat dan bertanggung jawab.

Dr. Rangga menutup sesi pemaparannya dengan seruan kuat dan penuh pesan moral. “Jika masa kanak-kanak hilang karena gadget, maka kita kehilangan generasi,” ujarnya di hadapan peserta.

Ia menegaskan bahwa pengawasan bukan hanya soal membatasi waktu penggunaan gadget, tetapi juga menghadirkan kehangatan dalam keluarga, dialog yang mendidik, serta bimbingan penuh empati. Menurutnya, orang tua adalah filter pertama yang akan menentukan bagaimana seorang anak mempersepsikan dunia di sekitarnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak. “Teknologi tidak bisa dihentikan, tetapi bisa diarahkan. Kita harus hadir bersama-sama menciptakan ruang digital yang aman bagi anak-anak,” tambahnya.

Kegiatan ini ditutup dengan pernyataan komitmen dari seluruh pemangku kepentingan yang hadir. Mereka menyepakati pentingnya memperkuat sinergi antara masyarakat, lembaga pemerintahan, akademisi, dan organisasi sosial dalam menghadapi ancaman sosial yang kian kompleks, termasuk kerawanan digital yang berkembang cepat.

Sinergi ini diharapkan dapat menciptakan sistem perlindungan sosial yang lebih responsif, terutama bagi generasi muda Bangkalan dan Jawa Timur yang menjadi kelompok paling rentan terhadap dampak negatif teknologi.

Wujud Guru Muda Profesional dari PGSD UNUSIDA 5

Wujud Guru Muda Profesional dari PGSD UNUSIDA

Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menghadirkan kisah inspiratif dari para lulusan terbaiknya. Kali ini, sorotan tertuju kepada Alfiadny Firdausy, S.Pd., alumni Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) angkatan lulus 2024 yang kini berkarier sebagai guru di SD Islam Sabilillah Sidoarjo. Sosoknya dikenal ramah, tekun, dan penuh dedikasi—sebuah representasi nyata dari kualitas lulusan UNUSIDA yang siap berkontribusi dalam dunia pendidikan.

Dalam perbincangan yang hangat, Alfiadny berbagi pengalaman selama menempuh pendidikan di UNUSIDA, pengalaman yang tidak hanya memberi bekal akademik tetapi juga membentuk karakter, jaringan pertemanan, dan kemampuan profesional yang kini sangat menunjang kariernya. Baginya, masa kuliah bukan sekadar proses memperoleh gelar, tetapi sebuah perjalanan penuh pembelajaran yang sangat berkesan.

UNUSIDA memberi banyak pengetahuan dan ilmu yang sangat bermanfaat bagi karier saya,” ujarnya. Ia menuturkan bahwa pengalaman belajar di PGSD UNUSIDA merupakan fondasi kuat yang membentuk cara berpikir kritis, kedewasaan bersikap, dan kesiapan mental untuk terjun ke dunia kerja. Setiap mata kuliah, proyek, dan bimbingan dosen menjadi batu loncatan menuju kompetensi guru profesional yang ia bangun hari ini.

Salah satu hal yang paling membekas bagi Alfiadny adalah sosok para dosen yang disebutnya “luar biasa dan penuh dedikasi”. Menurutnya, setiap dosen memiliki karakter, metode, dan gaya mengajar yang berbeda-beda, namun sama-sama memiliki satu tujuan: mengembangkan mahasiswa menjadi calon pendidik yang kompeten dan berkarakter.

Ia menceritakan bagaimana para dosen PGSD tidak hanya mengajar teori, tetapi juga memberikan contoh nyata praktik pembelajaran, mengajak mahasiswa berdiskusi aktif, dan membimbing dengan penuh kesabaran. “Banyak dosen di UNUSIDA yang benar-benar peduli pada mahasiswanya. Mereka bukan hanya mengajar, tetapi mendampingi dan memberi motivasi ketika kami kesulitan,” ceritanya.

Bagi Alfiadny, interaksi dengan dosen adalah bagian penting dari proses pendewasaan diri. Ia belajar bagaimana seorang pendidik semestinya bersikap: profesional, tegas, namun tetap humanis. Hal itu pula yang kini ia praktikkan saat mengajar murid-muridnya di SD Islam Sabilillah.

Selain dukungan dari dosen, pengalaman belajar dalam kelas maupun lapangan menjadi kenangan yang membentuk keterampilannya sebagai guru. Proses microteaching, observasi ke sekolah, hingga praktik mengajar langsung membuatnya semakin percaya diri dalam menghadapi berbagai karakter siswa.

Menurutnya, kurikulum PGSD UNUSIDA sangat relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Mata kuliah tentang literasi, numerasi, media pembelajaran digital, hingga kurikulum merdeka menjadi bekal nyata dalam merancang pembelajaran kreatif, inovatif, dan efektif.

Cara belajar di UNUSIDA itu benar-benar membuka wawasan saya. Tidak hanya menerima materi, tetapi kami diajak berpikir, menganalisis, mencoba, dan menciptakan sesuatu,” ungkapnya. Ia merasa setiap pengalaman akademik selama kuliah memperkaya strategi mengajar yang kini ia gunakan di kelas.

Memperluas Relasi Hingga ke Luar Kampus

Tak hanya itu, selama berkuliah Alfiadny mendapatkan jaringan relasi yang sangat luas. Baginya, hubungan baik dengan teman seangkatan, senior, alumni, hingga pihak luar kampus menjadi aset penting yang masih ia rasakan manfaatnya hingga sekarang.

Ia tidak hanya bersosialisasi dalam lingkup perkuliahan, tetapi juga terlibat dalam kegiatan di luar kampus yang memperluas koneksi dan pemahaman tentang dunia pendidikan. “Relasi itu penting sekali. Banyak kesempatan yang saya dapatkan justru lewat teman, alumni, atau kegiatan organisasi yang saya ikuti. Semua itu berawal dari UNUSIDA,” jelasnya.

Relasi inilah yang pada akhirnya turut membuka peluang kerja dan kesempatan pengembangan diri setelah lulus kuliah.

Selama kuliah, Alfiadny juga aktif mengikuti beberapa organisasi kampus. Kegiatan ini menjadi ruang untuk mengasah kemampuan leadership, komunikasi, kerja sama tim, serta manajemen waktu—soft skills yang sangat dibutuhkan dalam dunia kerja, terutama profesi guru.

Ia menuturkan bahwa organisasi membuatnya lebih percaya diri dan mampu menghadapi tantangan dengan lebih tenang. “Lewat organisasi, saya belajar bagaimana mengatur kegiatan, berkolaborasi dengan banyak orang, menghadapi konflik, bahkan belajar berbicara di depan umum. Semua itu sangat membantu saya saat harus memimpin kelas sebagai guru,” katanya.

Kini, dalam perannya sebagai guru, Alfiadny merasakan betul betapa pentingnya ilmu dan pembiasaan yang ia dapatkan di PGSD UNUSIDA. Mulai dari menyusun RPP, membuat media pembelajaran kreatif, mengelola kelas, hingga membangun kedekatan emosional dengan siswa—semuanya merupakan kompetensi yang ia pelajari selama kuliah.

Ia mengaku bangga menjadi bagian dari keluarga besar UNUSIDA. “Pengalaman belajar di kampus menjadi bekal berharga dalam membentuk cara berpikir, sikap profesional, dan kemampuan beradaptasi di dunia kerja,” tuturnya.

Kisah Alfiadny Firdausy membuktikan bahwa UNUSIDA bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter, jejaring, dan pengalaman yang mempersiapkan mahasiswa menjadi profesional sejati. Perjalanan seorang guru tidak dimulai dari kelas tempat ia mengajar, tetapi dari kampus yang membentuknya.

Dengan semangat dan dedikasi yang ia tunjukkan, Alfiadny menjadi contoh bahwa lulusan UNUSIDA siap bersaing, siap mengabdi, dan siap menjadi agen perubahan dalam dunia pendidikan.

FE UNUSIDA Teken MoA dengan KOPAMA BERHAD Malaysia: Perkuat Sinergi Internasional dan Pemberdayaan UMKM Lintas Negara 6

FE UNUSIDA Teken MoA dengan KOPAMA BERHAD Malaysia: Perkuat Sinergi Internasional dan Pemberdayaan UMKM Lintas Negara

Kuala Lumpur, 29 Oktober 2025 — Fakultas Ekonomi Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (FE UNUSIDA) menorehkan langkah strategis dalam memperkuat jejaring global melalui penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) dengan Koperasi KOPAMA BERHAD Malaysia (NGO). Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu, 29 Oktober 2025, ini menandai komitmen kedua pihak untuk berkolaborasi dalam bidang pengembangan UMKM, pendidikan ekonomi, dan pengabdian masyarakat internasional.

Penandatanganan MoA ini menjadi tindak lanjut dari hubungan baik antara UNUSIDA dan KOPAMA BERHAD yang telah terjalin melalui berbagai kegiatan kolaboratif. Fokus kerja sama kali ini diarahkan pada pengenalan dan penguatan sistem pengelolaan UMKM yang tergabung dalam koperasi, pertukaran pengetahuan antar lembaga, serta pengembangan kapasitas mahasiswa melalui program International Community Service dan riset kolaboratif.

Dalam kegiatan tersebut, rombongan FE UNUSIDA disambut hangat oleh jajaran pengurus KOPAMA BERHAD Malaysia di kantor pusatnya. Acara dimulai dengan sesi sharing session tentang praktik pengelolaan koperasi di Malaysia, diikuti dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Devika Cherly P., S.Mn., M.M. selaku perwakilan FE UNUSIDA dan Datuk Abd Rahim Haji Hashim, Ketua KOPAMA BERHAD Malaysia.

Menurut Devika Cherly P., S.Mn., M.M., kerja sama ini merupakan langkah penting bagi Fakultas Ekonomi UNUSIDA dalam mengembangkan model pembelajaran dan pengabdian masyarakat berbasis internasional.

“Melalui penandatanganan MoA ini, kami ingin memperluas ruang belajar mahasiswa dan dosen, agar tidak hanya memahami teori ekonomi di kelas, tetapi juga dapat melihat langsung praktik pengelolaan UMKM dan koperasi di tingkat global,” ujar Devika.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini membuka peluang besar untuk pertukaran pengetahuan dan pengalaman antar dua lembaga yang memiliki visi serupa dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“KOPAMA BERHAD memiliki sistem manajemen koperasi yang profesional dan berbasis komunitas, yang bisa menjadi inspirasi bagi koperasi di Indonesia. Kami ingin membawa semangat ini untuk memperkuat ekosistem UMKM di bawah binaan FE UNUSIDA,” imbuhnya.

Sementara itu, Datuk Abd Rahim Haji Hashim, Ketua KOPAMA BERHAD Malaysia, menyambut antusias kerja sama ini dan berharap agar kolaborasi tersebut dapat berjalan berkelanjutan.

“Kami merasa terhormat dapat menjalin kemitraan resmi dengan Fakultas Ekonomi UNUSIDA. MoA ini bukan hanya sekadar dokumen kerja sama, melainkan bentuk nyata dari komitmen dua negara serumpun untuk memperkuat ekonomi berbasis komunitas,” ungkap Datuk Abd Rahim.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa KOPAMA BERHAD selama ini berperan aktif dalam pemberdayaan UMKM di Malaysia, baik melalui pendampingan usaha, pelatihan kewirausahaan, maupun pengembangan jaringan pemasaran.
“Kami percaya, kerja sama lintas negara seperti ini akan menciptakan sinergi positif dalam mengembangkan koperasi modern yang berdaya saing global. Kami terbuka untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan mahasiswa serta dosen UNUSIDA, agar bisa bersama-sama membangun ekonomi masyarakat yang inklusif,” tambahnya.

Kegiatan ini juga mencakup kunjungan lapangan ke beberapa unit UMKM binaan KOPAMA BERHAD, seperti sektor kuliner lokal, kerajinan tangan, dan produk inovatif berbasis komunitas. Melalui kunjungan ini, delegasi FE UNUSIDA dapat mengamati langsung sistem tata kelola koperasi, manajemen keuangan, serta strategi pemasaran yang diterapkan oleh anggota koperasi.

Dari kegiatan tersebut, diharapkan muncul output konkret berupa peningkatan kerja sama dalam bentuk riset terapan, pertukaran mahasiswa dan dosen, serta pelaksanaan program joint community service yang menitikberatkan pada pengembangan UMKM lintas negara. Bagi FE UNUSIDA, kerja sama ini menjadi jembatan penting dalam memperluas wawasan internasional mahasiswa dan memperkuat kompetensi global di bidang ekonomi dan manajemen.

Devika Cherly menegaskan bahwa hasil dari penandatanganan ini tidak hanya berhenti pada simbol kerja sama, tetapi juga akan ditindaklanjuti dengan program nyata.

“Kami akan menyusun agenda lanjutan berupa workshop dan training program bersama KOPAMA BERHAD yang melibatkan dosen dan mahasiswa. Harapannya, mahasiswa kami dapat belajar langsung mengenai praktik koperasi yang berorientasi pada pemberdayaan dan keberlanjutan. Ini juga sejalan dengan visi UNUSIDA untuk mencetak lulusan yang berdaya saing global dan berjiwa sosial,” jelasnya.

Selain memperluas jejaring akademik, MoA ini juga diharapkan dapat memberi dampak sosial-ekonomi yang signifikan. Dengan menghubungkan dunia pendidikan dan sektor koperasi, kedua pihak berupaya menciptakan model kolaborasi yang mampu memperkuat ekonomi masyarakat di era digital. Mahasiswa akan mendapatkan pengalaman internasional yang aplikatif, sementara koperasi memperoleh akses terhadap inovasi dan gagasan baru dari lingkungan akademik.

Sebagai simbolisasi kerja sama, acara ditutup dengan penyerahan cenderamata antara FE UNUSIDA dan KOPAMA BERHAD serta sesi foto bersama. Kedua pihak sepakat untuk melanjutkan komunikasi intensif dalam menyiapkan program lanjutan pada tahun 2026, termasuk pengiriman mahasiswa magang dan riset bersama dalam bidang kewirausahaan dan manajemen koperasi.

Melalui penandatanganan MoA antara FE UNUSIDA dan KOPAMA BERHAD Malaysia, Fakultas Ekonomi UNUSIDA menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat peran akademisi dalam pembangunan ekonomi global berbasis nilai kemanusiaan dan kerja sama lintas negara. Kegiatan ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan internasionalisasi UNUSIDA, sekaligus bukti nyata bahwa kampus bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang kolaborasi yang melahirkan perubahan bagi masyarakat dunia.

FE UNUSIDA Gelar International Community Service di Malaysia: Perkuat Kolaborasi dan Pengenalan UMKM di KOPAMA BERHAD 7

FE UNUSIDA Gelar International Community Service di Malaysia: Perkuat Kolaborasi dan Pengenalan UMKM di KOPAMA BERHAD

Kuala Lumpur, 29 Oktober 2025 — Fakultas Ekonomi Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (FE UNUSIDA) terus memperluas kiprah dan jejaring internasionalnya melalui kegiatan International Community Service yang dilaksanakan di Koperasi KOPAMA BERHAD Malaysia (NGO). Kegiatan ini menjadi bagian dari program pengabdian masyarakat bertaraf internasional dengan fokus utama pada pengenalan dan penguatan peran UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) dalam mendukung ekonomi komunitas.

Pelaksanaan kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 29 Oktober 2025 ini diikuti oleh dosen dan mahasiswa FE UNUSIDA. Mereka berkesempatan untuk berdialog langsung dengan pengurus dan anggota KOPAMA BERHAD Malaysia mengenai pengelolaan koperasi, strategi pemasaran produk UMKM, serta sistem pemberdayaan anggota koperasi berbasis komunitas. Melalui kunjungan dan diskusi ini, para peserta dapat belajar langsung tentang praktik ekonomi kerakyatan yang telah sukses diterapkan di Malaysia.

Menurut Devika Cherly P., S.Mn., M.M., selaku dosen pendamping kegiatan, program ini merupakan wujud nyata komitmen FE UNUSIDA dalam mencetak lulusan yang memiliki wawasan global dan kepedulian sosial.

“Kegiatan International Community Service ini bukan hanya sekadar pertukaran pengalaman, tetapi juga bentuk nyata pengabdian lintas negara. Mahasiswa diajak untuk memahami bagaimana UMKM dapat tumbuh melalui sinergi antara koperasi, pemerintah, dan masyarakat. Ini menjadi pelajaran berharga yang bisa diadaptasi untuk pengembangan koperasi di Indonesia,” ungkap Devika Cherly.

Ia menambahkan bahwa FE UNUSIDA berkomitmen mengintegrasikan kegiatan akademik dengan program pengabdian masyarakat internasional. “Melalui pengalaman ini, mahasiswa belajar tentang pentingnya inovasi, kolaborasi, dan adaptasi dalam menghadapi tantangan ekonomi global. Kami ingin lulusan kami tidak hanya siap bekerja di sektor industri, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan di lingkungan masyarakatnya,” jelasnya.

Sementara itu, Datuk Abd Rahim Haji Hashim, selaku Ketua KOPAMA BERHAD Malaysia, menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas terjalinnya kerja sama dengan FE UNUSIDA.

“Kami merasa terhormat dapat menerima kunjungan dari rekan-rekan UNUSIDA. Kolaborasi ini menunjukkan semangat persaudaraan dan komitmen kedua pihak dalam memperkuat peran UMKM di tingkat regional. Kami di KOPAMA percaya bahwa kerja sama lintas negara seperti ini sangat penting untuk memperluas wawasan, meningkatkan daya saing, dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” ujar Datuk Abd Rahim.

Beliau juga menekankan bahwa KOPAMA BERHAD selalu terbuka untuk kolaborasi di bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. “Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus dikembangkan agar mahasiswa dari Indonesia dan Malaysia bisa saling bertukar gagasan, inovasi, serta praktik terbaik dalam pengembangan usaha kecil dan koperasi,” tambahnya.

Kegiatan International Community Service ini diharapkan membawa dampak signifikan bagi pengembangan kapasitas mahasiswa dan lembaga. Bagi mahasiswa FE UNUSIDA, kegiatan ini menjadi ajang pembelajaran nyata tentang bagaimana koperasi dapat menjadi penggerak ekonomi rakyat yang tangguh dan profesional. Mereka juga memperoleh pemahaman tentang pentingnya digitalisasi dan inovasi produk dalam memperluas pasar UMKM di era globalisasi.

Bagi KOPAMA BERHAD, kerja sama ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan sistem tata kelola koperasi di Malaysia serta menjalin hubungan strategis dengan lembaga pendidikan di Indonesia. Sinergi ini diharapkan dapat membuka peluang kerja sama berkelanjutan dalam bidang pelatihan, riset, dan pengembangan kewirausahaan komunitas.

Devika Cherly menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi awal dari misi internasional FE UNUSIDA untuk memperkuat jejaring akademik dan sosial antarnegara ASEAN.

“Kami melihat potensi besar untuk menjadikan kegiatan ini berkelanjutan. Ke depan, kami ingin membangun joint program antara UNUSIDA dan KOPAMA dalam bentuk pelatihan, riset bersama, dan proyek pengembangan UMKM lintas negara. Hal ini sejalan dengan visi FE UNUSIDA untuk menjadi fakultas yang unggul, berdaya saing, dan berperan aktif dalam pemberdayaan masyarakat internasional,” paparnya.

Selain sesi diskusi dan pemaparan, kegiatan ini juga diisi dengan kunjungan lapangan ke beberapa unit usaha UMKM binaan KOPAMA BERHAD. Para peserta mengamati langsung berbagai sektor, mulai dari industri makanan, kerajinan tangan, hingga produk inovatif berbasis bahan lokal. Melalui pengalaman ini, mahasiswa dapat mengidentifikasi praktik baik dalam pengelolaan usaha kecil yang efisien dan berorientasi pasar.

Sebagai penutup kegiatan, dilakukan penyerahan cenderamata dan sertifikat kerja sama antara FE UNUSIDA dan KOPAMA BERHAD Malaysia sebagai simbol komitmen memperkuat kolaborasi dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan sosial. Kedua pihak sepakat untuk terus menjalin komunikasi dan menindaklanjuti hasil kegiatan dengan program lanjutan di masa mendatang.

Dengan terlaksananya kegiatan ini, Fakultas Ekonomi UNUSIDA menegaskan perannya sebagai fakultas yang tidak hanya berfokus pada teori akademik, tetapi juga aktif dalam praktik nyata pemberdayaan masyarakat global. Program International Community Service ini menjadi wujud nyata dari semangat “Belajar, Berkolaborasi, dan Mengabdi untuk Dunia”, sekaligus membuka jalan bagi generasi muda UNUSIDA untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Kolaborasi Internasional FE UNUSIDA dan MSU Malaysia Dorong Sinergi Riset dan Pengembangan Dosen

Sidoarjo, 28 Oktober 2025 — Fakultas Ekonomi Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (FE UNUSIDA) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas jejaring akademik internasional melalui kegiatan Guest Lecturer bersama Management & Science University (MSU) Malaysia. Kegiatan bergengsi yang dilaksanakan pada Selasa, 28 Oktober 2025 ini dihadiri oleh dosen-dosen MSU Malaysia dan civitas akademika FE UNUSIDA. Mengusung tema “Research Collaboration and Lecturer Development,” acara ini berfokus pada penguatan kapasitas riset, peningkatan kualitas dosen, serta pengembangan kolaborasi akademik lintas negara sebagai upaya menuju pendidikan tinggi yang berdaya saing global.

Acara tersebut berlangsung di ruang pertemuan Fakultas Ekonomi UNUSIDA dalam suasana akademik yang hangat dan inspiratif. Kegiatan dibuka dengan sambutan dari jajaran pimpinan fakultas yang menekankan pentingnya sinergi antarperguruan tinggi dalam menghadapi tantangan global di bidang ekonomi dan manajemen. Dalam kesempatan tersebut, perwakilan dari MSU Malaysia turut menyampaikan apresiasi terhadap semangat kolaboratif UNUSIDA yang dinilai progresif dalam memperkuat kerja sama internasional.

Selanjutnya, sesi utama diisi dengan paparan dari dosen MSU yang membahas berbagai peluang riset bersama, potensi publikasi internasional, hingga strategi pengembangan kapasitas dosen melalui proyek kolaboratif. Sesi ini kemudian dilanjutkan dengan diskusi interaktif antara peserta, di mana para dosen UNUSIDA dapat berbagi pengalaman, bertukar pandangan, dan mengajukan ide-ide riset yang potensial untuk dikembangkan secara bersama-sama. Topik-topik yang dibahas mencakup tren riset ekonomi digital, manajemen berkelanjutan, serta tantangan integrasi teknologi dalam dunia akademik.

Menurut Devika Cherly P., S.Mn., M.M., dosen FE UNUSIDA sekaligus perwakilan International Cooperation Division, kegiatan ini merupakan langkah konkret UNUSIDA dalam menguatkan posisi institusi di tingkat global. “Guest Lecturer bersama MSU Malaysia ini tidak hanya menjadi ajang berbagi ilmu dan pengalaman, tetapi juga membuka peluang kerja sama riset lintas negara yang lebih luas antara dosen UNUSIDA dan akademisi dari universitas mitra. Melalui kolaborasi seperti ini, kami berharap akan lahir berbagai penelitian yang aplikatif, inovatif, dan berdampak langsung pada masyarakat,” tutur Devika.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini juga menjadi momentum penting bagi dosen-dosen muda UNUSIDA untuk memperluas jejaring akademik dan meningkatkan kepercayaan diri dalam publikasi ilmiah internasional. “Kami ingin para dosen muda berani berkolaborasi, menulis di jurnal internasional, serta aktif dalam forum akademik global. Kolaborasi dengan MSU Malaysia adalah langkah awal yang sangat strategis untuk mencapai tujuan tersebut,” tambahnya.

Achmad Zaki, S.E., M.M., selaku Secretary of Management Department FE UNUSIDA, juga memberikan pandangan bahwa kegiatan ini menjadi simbol komitmen fakultas terhadap peningkatan kualitas akademik dan profesional dosen. “Kami berkomitmen menciptakan lingkungan akademik yang mendorong kolaborasi lintas negara. Melalui kegiatan seperti ini, dosen-dosen kami memperoleh wawasan baru, baik dari segi metodologi penelitian, pendekatan pembelajaran, maupun strategi publikasi ilmiah,” jelasnya.

Zaki menegaskan bahwa kolaborasi internasional bukan hanya tentang pertukaran ide, tetapi juga tentang membangun kepercayaan dan hubungan jangka panjang antara institusi. “Kami berharap kerja sama dengan MSU Malaysia dapat terus berkembang dalam bentuk joint research, visiting lecturer, hingga program dual degree. Kolaborasi ini juga akan membantu UNUSIDA memperkaya kurikulum agar lebih adaptif terhadap kebutuhan global,” tambahnya dengan penuh optimisme.

Sementara itu, Cynthia Eka Violita, S.M., M.S.M., dosen FE UNUSIDA, menilai bahwa kegiatan ini menjadi pengalaman berharga untuk memperkuat sinergi dan inovasi akademik. “Dalam forum seperti ini, kami tidak hanya mendengarkan teori, tetapi juga bertukar perspektif dan metode penelitian langsung dengan akademisi dari luar negeri. Hal ini memperluas cara pandang kami terhadap isu-isu ekonomi global,” ungkap Cynthia.

Ia juga menyoroti pentingnya keberlanjutan kerja sama seperti ini agar manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh civitas akademika UNUSIDA. “Kami ingin agar hasil dari kegiatan ini tidak berhenti di ruang diskusi saja. Ke depan, hasilnya harus diwujudkan dalam bentuk penelitian bersama, publikasi internasional, dan peningkatan kualitas pengajaran di kelas. Dengan demikian, kegiatan ini memiliki dampak nyata bagi kemajuan universitas,” tambahnya.

Dampak dari kegiatan Guest Lecturer ini diharapkan dapat memperluas wawasan para dosen FE UNUSIDA dalam melaksanakan penelitian berstandar internasional serta memperkuat jejaring akademik antara Indonesia dan Malaysia. Melalui kerja sama dengan MSU Malaysia, fakultas berkomitmen untuk terus mengembangkan agenda kolaboratif jangka panjang seperti joint research projects, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta pengembangan program dual degree di masa depan. Kolaborasi ini sejalan dengan visi UNUSIDA untuk menjadi universitas berdaya saing global yang tetap berakar pada nilai-nilai keislaman, kemandirian, dan kemanusiaan.

Lebih dari sekadar kegiatan akademik, Guest Lecturer ini juga mencerminkan semangat internasionalisasi UNUSIDA yang berfokus pada peningkatan mutu pendidikan dan riset. Melalui interaksi lintas negara, dosen UNUSIDA memperoleh kesempatan untuk memperkaya wawasan tentang praktik riset terkini, memperluas jejaring publikasi, serta mengembangkan pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual dan relevan dengan perkembangan zaman.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa kolaborasi internasional bukan sekadar formalitas, tetapi merupakan kebutuhan strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia,” ujar Devika dalam pernyataan penutupnya. Ia menambahkan, semangat kolaborasi harus terus dijaga agar dosen-dosen muda mampu berkembang dan memberikan kontribusi signifikan terhadap kemajuan ilmu pengetahuan.

Kegiatan Guest Lecturer bersama MSU Malaysia menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan internasionalisasi Fakultas Ekonomi UNUSIDA. Melalui interaksi akademik lintas negara ini, UNUSIDA semakin mempertegas perannya sebagai lembaga pendidikan tinggi yang progresif, terbuka terhadap inovasi, dan adaptif terhadap perubahan global.

Di tengah era globalisasi dan revolusi digital yang terus berkembang, kolaborasi seperti ini menjadi bukti bahwa UNUSIDA berkomitmen untuk mencetak dosen dan mahasiswa yang unggul, berwawasan internasional, serta memiliki kepedulian terhadap pembangunan berkelanjutan. Melalui sinergi yang kuat antara UNUSIDA dan MSU Malaysia, diharapkan akan lahir penelitian-penelitian kolaboratif yang mampu menjawab tantangan ekonomi modern sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat dan kemajuan d

Mahasiswa FE UNUSIDA Ikuti Student Exchange ke Malaysia: Bahas Cryptocurrency dan SDGs di MSU 9

Mahasiswa FE UNUSIDA Ikuti Student Exchange ke Malaysia: Bahas Cryptocurrency dan SDGs di MSU

Sidoarjo, 28 Oktober 2025 — Fakultas Ekonomi Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (FE UNUSIDA) kembali mencetak langkah penting dalam upaya internasionalisasi kampus dengan mengirimkan tujuh mahasiswanya dalam program Student Exchange ke Management & Science University (MSU) Malaysia. Kegiatan yang berlangsung pada 28 Oktober 2025 ini mengusung topik “Cryptocurrency and Sustainable Development Goals (SDGs)”, menghadirkan ruang diskusi akademik lintas negara mengenai perkembangan ekonomi digital dan kontribusinya terhadap pembangunan berkelanjutan.

Program student exchange ini merupakan hasil kerja sama antara FE UNUSIDA dan MSU Malaysia dalam rangka memperluas wawasan global mahasiswa, memperdalam pemahaman terhadap isu-isu ekonomi modern, serta memperkuat jejaring akademik antarperguruan tinggi di Asia Tenggara. Kegiatan diisi dengan sesi kuliah interaktif, diskusi panel, dan case study yang membahas implikasi teknologi blockchain dan mata uang kripto terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), seperti pengurangan kemiskinan, pemerataan akses keuangan, dan inovasi industri berkelanjutan.

Sebanyak tujuh mahasiswa FE UNUSIDA terpilih untuk mengikuti program ini, yakni Satria Noval Windianto, Lisa Imamatul Khikmah, Rindi Antika, Vinanti Luthariana, Rizza Nahdiatul Ilmi, Dinda Fatichatul Ilma, dan Deva Arya Wiguna. Selama kegiatan, mereka berkesempatan berinteraksi langsung dengan mahasiswa MSU serta para dosen yang menjadi pakar di bidang financial technology dan sustainable economics. Pertukaran ide lintas budaya ini tidak hanya memperkaya pemahaman akademik, tetapi juga melatih kemampuan komunikasi dan kolaborasi internasional mahasiswa UNUSIDA.

Satria Noval Windianto, salah satu peserta program, mengungkapkan rasa bangganya bisa mewakili UNUSIDA dalam kegiatan akademik internasional tersebut. “Kami belajar banyak tentang bagaimana cryptocurrency dapat berperan dalam mendorong inklusi keuangan di negara berkembang. Diskusi dengan mahasiswa MSU membuka wawasan baru tentang potensi teknologi ini untuk mendukung tujuan SDGs, khususnya dalam konteks ekonomi digital yang berkeadilan,” ujarnya dengan antusias.

Senada dengan itu, Lisa Imamatul Khikmah menambahkan bahwa kegiatan student exchange ini memberikan pengalaman belajar yang sangat berbeda dari suasana perkuliahan di dalam negeri. “Selain mendapatkan materi yang sangat aktual, kami juga belajar bagaimana etika dan regulasi mengenai cryptocurrency diterapkan di Malaysia. Pengalaman ini sangat berharga bagi kami sebagai calon ekonom muda yang ingin memahami dinamika global,” tutur Lisa.

Rindi Antika, mahasiswa lainnya, menilai bahwa tema kegiatan sangat relevan dengan tantangan ekonomi masa kini. “Topik cryptocurrency sering dianggap jauh dari prinsip keberlanjutan, tetapi melalui kegiatan ini kami menyadari bahwa teknologi finansial justru bisa menjadi alat untuk mencapai SDGs jika dikelola dengan bijak dan transparan,” jelasnya.

Sementara itu, Vinanti Luthariana dan Rizza Nahdiatul Ilmi menyoroti aspek kolaborasi lintas budaya sebagai hal yang paling berkesan. “Bisa berdiskusi dan bertukar pandangan dengan mahasiswa internasional membuat kami belajar lebih terbuka terhadap berbagai perspektif ekonomi global. Selain itu, kami juga belajar tentang perbedaan sistem pendidikan dan pendekatan penelitian di luar negeri,” ungkap Vinanti.

Dinda Fatichatul Ilma menambahkan bahwa kegiatan ini memperkuat semangat mahasiswa UNUSIDA untuk terus berinovasi dan berpikir kritis. “Kami menjadi lebih percaya diri untuk berpartisipasi dalam forum akademik internasional. Diskusi seputar cryptocurrency dan SDGs membuat kami memahami bahwa ekonomi masa depan memerlukan kolaborasi lintas sektor dan negara,” katanya.

Deva Arya Wiguna, peserta terakhir, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi pengalaman berharga untuk mengasah kemampuan kepemimpinan dan berpikir strategis. “Pertukaran pelajar bukan hanya tentang belajar di luar negeri, tetapi juga tentang membangun jejaring global dan berkontribusi pada solusi ekonomi berkelanjutan. Kami berharap hasil pembelajaran ini bisa kami terapkan di kampus maupun di masyarakat,” ujar Deva.

Melalui kegiatan Student Exchange ini, Fakultas Ekonomi UNUSIDA berharap dapat melahirkan generasi muda yang tidak hanya memahami teori ekonomi, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam konteks global yang berkelanjutan. Dampak yang diharapkan dari kegiatan ini antara lain peningkatan wawasan internasional mahasiswa, kemampuan adaptasi terhadap perkembangan teknologi finansial, serta terciptanya jejaring akademik yang berkelanjutan antara UNUSIDA dan MSU Malaysia.

Wakil Dekan Fakultas Ekonomi UNUSIDA menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari strategi internasionalisasi kampus yang berfokus pada peningkatan kapasitas mahasiswa dan dosen. “Kami berkomitmen untuk terus memperluas kerja sama akademik dengan universitas luar negeri. Melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa dapat memperoleh pengalaman belajar global yang akan memperkaya perspektif mereka dalam menghadapi dunia kerja dan penelitian,” ujarnya.

Kerja sama ini juga diharapkan membuka peluang kolaborasi lanjutan antara UNUSIDA dan MSU Malaysia, seperti riset bersama, joint class, dan program dual degree. Selain itu, hasil pembelajaran dari kegiatan ini akan diseminasi melalui seminar kampus, agar mahasiswa lain turut mendapatkan manfaat dari pengalaman peserta student exchange.

Dalam penutupan kegiatan, para mahasiswa UNUSIDA menyampaikan apresiasi kepada pihak fakultas dan MSU Malaysia atas kesempatan yang diberikan. Mereka berkomitmen untuk menjadi duta kampus yang mampu membawa semangat kolaborasi, inovasi, dan keberlanjutan dalam setiap langkah akademik maupun sosial.

Program Student Exchange antara Fakultas Ekonomi UNUSIDA dan Management & Science University Malaysia ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan tinggi bukan sekadar ruang belajar, melainkan juga jembatan untuk membangun masa depan ekonomi global yang inklusif, inovatif, dan berkelanjutan. Melalui sinergi ini, UNUSIDA semakin menegaskan perannya sebagai kampus yang siap bersaing di tingkat internasional, dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan keberlanjutan. (AS)

UNUSIDA Menjadi Ruang Kreativitas dan Pembentukan Karakter, Kisah Inspiratif Agung Arie Iswanto Alumni Fakultas Ekonomi Prodi Manajemen 10

UNUSIDA Menjadi Ruang Kreativitas dan Pembentukan Karakter, Kisah Inspiratif Agung Arie Iswanto Alumni Fakultas Ekonomi Prodi Manajemen

Sidoarjo, 2025 — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menorehkan kisah inspiratif dari para alumninya. Salah satunya datang dari Agung Arie Iswanto, S.M., lulusan Fakultas Ekonomi Program Studi Manajemen, yang kini mengabdikan diri sebagai Perangkat Desa Sentul Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo.

Bagi Agung, perjalanan menempuh pendidikan di kampus hijau UNUSIDA bukan sekadar proses akademik, melainkan perjalanan pembentukan karakter dan ruang luas untuk mengasah kreativitas serta jiwa kepemimpinan. “UNUSIDA menjadi ruang kreativitas bagi mahasiswa. Saya bersyukur menjadi bagian dari kampus hijau ini. Di sini saya tidak hanya belajar teori, tetapi juga mendapat pengalaman berharga tentang manajemen, kepemimpinan, dan pengabdian masyarakat,” ungkap Agung saat ditemui di kantornya.

Sebagai mahasiswa yang aktif, Agung mengaku bahwa proses pembelajaran di Fakultas Ekonomi UNUSIDA memberinya bekal nyata untuk terjun di dunia kerja. Ia menilai, dosen-dosen di UNUSIDA memiliki kualitas akademik sekaligus pengalaman praktis yang sangat membantu mahasiswa memahami penerapan teori dalam konteks nyata. “Saya bisa menikmati materi tentang manajemen dan ekonomi dengan dosen yang berkualitas dan berpengalaman. Ruang diskusi selalu terbuka lebar, sehingga kami bisa berdialog, bertukar pikiran, dan belajar langsung dari pengalaman para dosen,” ujarnya.

Selain pembelajaran di kelas, Agung juga menilai bahwa pengalaman kunjungan industri ke berbagai perusahaan dan instansi menjadi momen berharga yang membuka mindset mahasiswa terhadap realitas dunia kerja. “Kunjungan ke berbagai perusahaan membuka wawasan kami tentang bagaimana teori manajemen diterapkan secara nyata. Itu menjadi bekal penting bagi kami untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja yang begitu cepat dan kompetitif,” tambahnya.

Namun, pengalaman paling berkesan bagi Agung selama kuliah di UNUSIDA justru datang dari aktivitas organisasi kemahasiswaan. Ia aktif mulai dari Himpunan Mahasiswa Program Studi (Himaprodi) hingga dipercaya menjadi bagian dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas. Dari organisasi inilah, ia belajar banyak hal tentang kepemimpinan, komunikasi, dan manajemen kegiatan.

Berorganisasi di UNUSIDA mengasah soft skill kami. Kami belajar berdiskusi, bernegosiasi, menyampaikan pendapat dengan cara yang elegan, dan menjadi jembatan komunikasi antara mahasiswa dan dosen. Kami juga belajar mengkonsep kegiatan seperti seminar Economic Outlook, yang mengasah kemampuan konseptual dan kolaboratif kami,” kenang Agung.

Ia juga menambahkan, keterlibatan dalam organisasi membuatnya semakin percaya diri dalam berbicara di depan umum dan mampu berpikir kritis terhadap berbagai persoalan sosial. “Melalui organisasi, saya belajar public speaking, membangun mental yang tangguh, dan memperluas jaringan. Bahkan, melalui program magang dan PKL, kami berkesempatan merasakan atmosfir kerja nyata yang menjadi bekal saat terjun ke dunia profesional,” jelasnya.

Kini, pengalaman itu terbukti sangat relevan dengan pekerjaannya sebagai Perangkat Desa Sentul Kecamatan Tanggulangin. Ia menuturkan bahwa banyak mata kuliah dan pengalaman organisasi di kampus yang aplikatif dan selaras dengan tanggung jawabnya di pemerintahan desa.

Semua teori yang saya pelajari, baik di ruang akademik maupun ruang aktivis, sangat kongkrit dengan pekerjaan saya saat ini. Misalnya, mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) membantu saya memahami bagaimana mengelola tim dan berinteraksi dengan masyarakat. Begitu juga dengan mata kuliah Psikologi Publik, yang sangat relevan ketika kami harus berhadapan langsung dengan berbagai karakter masyarakat,” tuturnya.

Menurut Agung, prinsip manajerial organisasi, koordinasi tugas pokok dan fungsi, hingga pelibatan masyarakat dalam pembangunan desa adalah hal yang sejalan dengan ilmu manajemen yang ia pelajari di UNUSIDA. “Manajemen itu bukan hanya tentang bisnis, tapi tentang mengelola sumber daya manusia dan potensi secara efektif. Di pemerintahan desa, kami juga menerapkan prinsip itu untuk mencapai kemajuan bersama,” lanjutnya.

Sebagai alumni, Agung berharap mahasiswa UNUSIDA saat ini dapat memanfaatkan semua kesempatan yang diberikan kampus untuk mengembangkan diri, baik di bidang akademik maupun non-akademik. Ia juga berpesan agar mahasiswa tidak ragu mengambil peran di organisasi karena pengalaman itu menjadi pembeda yang signifikan di dunia kerja.

Gunakan waktu kuliah sebaik mungkin untuk berproses. Jangan takut aktif di organisasi, karena di situlah kita belajar memimpin, bekerja sama, dan menghadapi tantangan. Semua itu akan terasa manfaatnya nanti ketika kita bekerja. Saya adalah contoh kecil dari hasil proses itu,” pesannya penuh semangat.

Bagi Agung, UNUSIDA bukan sekadar tempat menuntut ilmu, melainkan rumah kedua yang menumbuhkan nilai-nilai keislaman, kemandirian, dan profesionalisme. “Saya bangga menjadi bagian dari Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo. Kampus ini bukan hanya mendidik secara akademik, tetapi juga membentuk karakter dan moralitas mahasiswa agar siap menjadi insan yang bermanfaat bagi masyarakat,” tutupnya.

Melalui kisah Agung Arie Iswanto, UNUSIDA membuktikan komitmennya dalam mencetak lulusan yang profesional, berkarakter, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Sinergi antara pembelajaran akademik, pengalaman praktis, dan pembinaan karakter di kampus hijau ini menjadi kunci keberhasilan para alumninya untuk berkontribusi nyata di berbagai bidang, termasuk di pemerintahan dan pelayanan publik.