Pos

Ayu Munjidah, S.Pd., alumni Program Studi S1 PGSD UNUSIDA sebagai guru di MI Al Abror Pekauman. (Foto: Humas UNUSIDA)

Inspiratif! Ayu Munjidah Menebar Manfaat sebagai Pendidik Berbekal Ilmu dan Pengalaman Organisasi

Pendidikan bukan sekadar proses memperoleh gelar akademik, tetapi juga perjalanan membentuk karakter, mengembangkan potensi, serta menyiapkan generasi muda untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Nilai itulah yang dirasakan oleh Ayu Munjidah, S.Pd., alumni Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) angkatan 2020 yang kini mengabdikan diri sebagai guru di MI Al Abror Pekauman.

Bagi Ayu, perjalanan selama menempuh pendidikan di UNUSIDA menjadi salah satu fase paling berharga dalam hidupnya. Tidak hanya memperoleh bekal ilmu akademik, ia juga mendapatkan pengalaman organisasi, karya ilmiah, hingga pembinaan karakter yang menjadi modal utama dalam menjalankan profesinya sebagai seorang pendidik.

Saat mengenang masa-masa kuliah, Ayu mengaku memiliki banyak pengalaman yang sulit dilupakan. Salah satu momen yang paling membanggakan adalah ketika dirinya berhasil menerbitkan dua buku antologi puisi bersama beberapa dosen UNUSIDA.

Karya tersebut lahir melalui proses pendampingan dan bimbingan yang intensif dari para dosen, khususnya Agung Purnomo, beserta dosen-dosen lainnya yang terus mendorong mahasiswa untuk berani berkarya dan mengembangkan kreativitas di luar kegiatan akademik.

“Pengalaman saya selama kuliah di UNUSIDA yang paling berkesan adalah ketika saya memiliki dua buku puisi karya saya bersama beberapa dosen UNUSIDA dengan bimbingan Pak Agung Purnomo dan beberapa dosen lainnya,” ungkap Ayu.

Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa lingkungan akademik UNUSIDA tidak hanya mendorong mahasiswa untuk unggul di bidang akademik, tetapi juga memberikan ruang yang luas bagi pengembangan minat, bakat, dan kreativitas mahasiswa.

Selain aktif berkarya, Ayu juga menjadi bagian dari perjalanan awal berdirinya Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Unggul. Bersama rekan-rekan mahasiswa lainnya, ia turut merintis organisasi tersebut dari awal hingga berkembang menjadi salah satu wadah pengembangan prestasi mahasiswa di lingkungan kampus.

Menurutnya, membangun sebuah organisasi bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan komitmen, kerja sama, serta semangat untuk terus belajar dan berproses bersama.

“Pengalaman bersama teman-teman UKM Mahasiswa Unggul menjadi salah satu cerita yang tidak akan pernah saya lupakan. Kami merintis dan membangun UKM tersebut mulai dari nol hingga berada di titik seperti sekarang,” kenangnya.

Melihat perkembangan UKM Mahasiswa Unggul yang terus melahirkan mahasiswa berprestasi setiap tahunnya memberikan kebanggaan tersendiri bagi Ayu. Ia merasa perjuangan yang dilakukan bersama teman-teman saat merintis organisasi tersebut kini mulai membuahkan hasil.

“Saya sangat bangga melihat perkembangan UKM Mahasiswa Unggul yang dari tahun ke tahun bisa berkarya lebih baik lagi dan terus dilanjutkan oleh adik-adik junior yang hebat,” ujarnya.

Kini, ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama menjadi mahasiswa UNUSIDA menjadi bekal utama Ayu dalam menjalankan amanah sebagai seorang pendidik di MI Al Abror Pekauman.

Ia menilai bahwa UNUSIDA memberikan banyak manfaat bagi perjalanan kariernya. Tidak hanya membekali mahasiswa dengan kompetensi akademik, tetapi juga membentuk karakter serta memberikan nilai-nilai kehidupan yang sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan.

“Kampus UNUSIDA banyak memberikan manfaat untuk karier saya yang sekarang, alhamdulillah masih diamanahi menjadi seorang pendidik,” tuturnya.

Menurut Ayu, keberhasilan seorang guru tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengajar, tetapi juga oleh keteladanan, kesabaran, dan semangat untuk terus belajar. Nilai-nilai tersebut banyak ia pelajari dari para dosen selama menempuh pendidikan di UNUSIDA.

Ia mengaku masih mengingat dengan baik setiap ilmu, nasihat, dan keteladanan yang diberikan oleh para dosen. Baginya, para dosen UNUSIDA bukan hanya pengajar, tetapi juga mentor yang memberikan inspirasi dalam menjalani profesi sebagai pendidik.

“Di bangku kuliah, saya bertemu dengan dosen-dosen yang hebat dan kompeten. Mereka menjadi salah satu penunjang bagi saya ketika kuliah dan sampai detik ini saya masih mengingat jasa serta ilmu yang beliau ajarkan kepada kami,” katanya.

Pengalaman belajar bersama dosen yang berdedikasi membuat Ayu semakin yakin bahwa menjadi seorang guru adalah profesi yang mulia sekaligus penuh tanggung jawab. Ia berkomitmen untuk meneruskan nilai-nilai yang telah diajarkan selama kuliah kepada peserta didiknya.

Sebagai alumni, Ayu berharap UNUSIDA terus melahirkan lulusan-lulusan yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, semangat berkarya, serta siap memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ia juga berpesan kepada mahasiswa yang saat ini sedang menempuh pendidikan agar memanfaatkan setiap kesempatan yang ada di kampus, baik melalui kegiatan akademik maupun organisasi kemahasiswaan.

Menurutnya, pengalaman berorganisasi, berkarya, dan membangun jejaring selama kuliah akan menjadi bekal yang sangat berharga ketika memasuki dunia kerja.

“Perjalanan di bangku kuliah bukan sekadar mengejar nilai atau gelar, melainkan proses membentuk pribadi yang tangguh, kreatif, dan siap mengabdi kepada masyarakat. Dengan bekal ilmu, pengalaman organisasi, serta bimbingan para dosen, yang menjadi inspirasi hingga kini untuk terus mengabdikan diri di dunia pendidikan dengan harapan dapat mencetak generasi penerus bangsa yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia,” pungkasnya.

Viki Topan Fernando, S.Kom., alumni Program Studi Sistem Informasi angkatan lulus 2025 (Foto: Humas UNUSIDA)

Alumni UNUSIDA Jadi PPPK RSUD Eka Candrarini, Viki Topan Fernando: Karakter dan Integritas adalah Bekal Terpenting

Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menghadirkan kisah inspiratif dari alumninya. Kali ini datang dari Viki Topan Fernando, S.Kom., alumni Program Studi Sistem Informasi angkatan lulus 2025 yang kini mengabdi sebagai PPPK Bagian Umum dan Keuangan RSUD Eka Candrarini, Rungkut, Surabaya.

Bagi Viki, perjalanan selama menempuh pendidikan di UNUSIDA tidak hanya memberikan bekal akademik, tetapi juga membentuk karakter, prinsip, dan integritas yang menjadi modal utama dalam menjalani dunia kerja.

“UNUSIDA tidak hanya memberikan bekal ilmu pengetahuan, tetapi juga membantu membentuk karakter, prinsip, dan integritas yang kuat. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam menjalani karier dan memberikan kontribusi terbaik bagi instansi maupun perusahaan,” ungkap Viki kepada Humas UNUSIDA, Kamis (25/6/2026).

Ia juga mengenang suasana perkuliahan yang penuh dukungan dari para dosen dan teman-teman seperjuangan. Menurutnya, lingkungan akademik yang positif menjadi salah satu faktor penting dalam proses pembelajaran.

“Teman-teman yang luar biasa dan dosen-dosen yang keren serta sabar mendidik hingga saya menyelesaikan studi menjadi pengalaman yang sangat berharga. Mereka tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga memberikan teladan dalam bersikap dan bekerja,” tuturnya.

Viki meyakini bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya diukur dari pekerjaan yang diraih, tetapi juga dari nilai-nilai yang dibawa dalam setiap pengabdian kepada masyarakat.

“Kesuksesan bukan hanya tentang mendapatkan pekerjaan, tetapi juga tentang membawa nilai, integritas, dan manfaat bagi lingkungan sekitar. Pendidikan yang baik bukan hanya mencetak lulusan yang cerdas, tetapi juga pribadi yang berintegritas dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” tambahnya.

Ia bertekad ingin membuktikan bahwa lulusan UNUSIDA mampu bersaing di dunia kerja dengan bekal kompetensi, karakter, serta nilai-nilai ke-NU-an yang ditanamkan selama masa perkuliahan. Ia juga sangat mengapresiasi program Inspirasi Alumni, UNUSIDA terus menghadirkan cerita sukses para alumninya sebagai motivasi bagi mahasiswa maupun calon mahasiswa untuk terus belajar, mengembangkan potensi diri, dan mempersiapkan masa depan sejak di bangku kuliah.

“Semoga perjalanan karier saya menjadi inspirasi bahwa kesuksesan lahir dari perpaduan antara ilmu pengetahuan, karakter yang kuat, integritas, serta semangat untuk terus memberikan manfaat bagi sesama,” harapnya.

Iyung Fachrur Rozi, Alumni Informatika UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Dari Ruang Kelas ke Dunia Industri: Iyung Fachrur Rozi, Alumni Informatika UNUSIDA yang Kini Berkarier sebagai Programmer

Dunia teknologi yang terus berkembang membutuhkan sumber daya manusia yang adaptif, inovatif, serta memiliki kemampuan problem solving yang kuat. Hal tersebut tercermin dalam perjalanan karier Iyung Fachrur Rozi, S.Kom., alumni Program Studi Informatika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) tahun 2025 yang kini berkarier sebagai Programmer di PT. Madina Mentari Teknologi.

Bagi Iyung, menjadi mahasiswa Informatika UNUSIDA bukan sekadar perjalanan akademik untuk memperoleh gelar sarjana. Lebih dari itu, masa perkuliahannya menjadi ruang pembelajaran yang membentuk kemampuan berpikir logis, keterampilan pemrograman, hingga kesiapan menghadapi kebutuhan industri teknologi yang dinamis.

“Menjadi mahasiswa Informatika UNUSIDA adalah pengalaman berkesan karena saya tidak hanya belajar teori, tetapi juga langsung praktik membangun sistem nyata yang relevan dengan dunia kerja,” ungkap Iyung kepada Humas UNUSIDA, Ahad (17/5/2026).

Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting dalam perjalanan profesionalnya saat ini. Di tengah perkembangan industri digital yang menuntut inovasi cepat dan kemampuan adaptasi tinggi, pengalaman praktik yang diperoleh selama masa kuliah memberikan nilai tambah tersendiri.

Selama menempuh pendidikan di UNUSIDA, Iyung merasakan bahwa proses pembelajaran yang diterapkan tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga menekankan aspek implementasi. Mahasiswa didorong untuk terlibat dalam berbagai proyek, pengembangan sistem, serta penyelesaian studi kasus yang relevan dengan kebutuhan dunia industri.

Pendekatan pembelajaran tersebut membantu mahasiswa memahami bagaimana konsep pemrograman, pengembangan perangkat lunak, serta manajemen sistem diterapkan secara nyata dalam lingkungan profesional. Melalui berbagai pengalaman proyek, mahasiswa tidak hanya belajar menulis kode, tetapi juga memahami proses analisis kebutuhan pengguna, desain sistem, hingga penyelesaian masalah berbasis teknologi.

Menurut Iyung, lingkungan akademik yang suportif menjadi salah satu faktor penting yang mendukung perkembangan kompetensinya. Dukungan dosen yang kompeten dan terbuka terhadap diskusi membuat proses belajar terasa lebih dinamis dan aplikatif.

“Lingkungan akademik yang suportif dan dosen yang kompeten membantu saya mengembangkan kemampuan problem solving serta logika pemrograman secara mendalam,” jelasnya.

Kemampuan problem solving sendiri menjadi salah satu aspek yang sangat penting dalam profesi programmer. Dalam dunia kerja, seorang programmer tidak hanya dituntut mampu membuat program berjalan dengan baik, tetapi juga harus mampu menemukan solusi atas berbagai tantangan teknis yang muncul selama proses pengembangan teknologi.

Kini, sebagai seorang programmer di PT. Madina Mentari Teknologi, Iyung merasakan secara langsung bagaimana fondasi yang dibangun selama kuliah berperan besar dalam mendukung pekerjaannya. Ia menghadapi berbagai tantangan industri yang membutuhkan ketelitian, kemampuan analitis, serta kecepatan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi.

Menurutnya, dunia teknologi adalah bidang yang bergerak sangat cepat. Bahasa pemrograman, framework, hingga kebutuhan industri dapat berubah dalam waktu singkat. Oleh sebab itu, seseorang yang berkarier di bidang teknologi harus memiliki pola pikir pembelajar dan kesiapan untuk terus mengembangkan kompetensi.

“Kini, sebagai seorang programmer, saya merasakan bahwa fondasi yang dibangun selama kuliah sangat berperan dalam menghadapi tantangan industri teknologi,” ujarnya.

Selain pembelajaran di kelas, pengalaman proyek selama kuliah juga menjadi bekal berharga dalam memahami kebutuhan industri secara nyata. Keterlibatan dalam proyek pengembangan sistem membuat Iyung terbiasa bekerja secara sistematis, memahami alur kerja pengembangan teknologi, serta berkolaborasi dalam menyelesaikan tugas berbasis tim.

Ia menilai bahwa kampus memiliki peran besar dalam membentuk dasar keilmuan sekaligus pola pikir profesional seorang mahasiswa. Melalui pembelajaran yang terstruktur dan aplikatif, mahasiswa tidak hanya dibekali kemampuan teknis, tetapi juga diajarkan bagaimana menghadapi tantangan pekerjaan secara profesional.

“Kampus berperan penting dalam membentuk dasar keilmuan dan pola pikir saya sebagai seorang programmer melalui pembelajaran yang terstruktur dan aplikatif. Dukungan dosen serta pengalaman proyek selama kuliah membantu saya memahami kebutuhan industri secara nyata,” tuturnya.

Bekal tersebut membuatnya lebih siap dan percaya diri dalam memulai serta mengembangkan karier di bidang teknologi. Baginya, kesiapan memasuki dunia kerja tidak dibangun secara instan, melainkan melalui proses belajar yang konsisten, lingkungan yang mendukung, dan kemauan untuk terus berkembang.

Kisah Iyung Fachrur Rozi menjadi salah satu gambaran nyata bagaimana pendidikan tinggi dapat berperan penting dalam membentuk generasi profesional yang siap bersaing di dunia kerja. Perjalanan kariernya menunjukkan bahwa kombinasi antara pembelajaran teoritis, praktik nyata, dan dukungan akademik mampu menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan industri.

Sebagai alumni Informatika UNUSIDA, Iyung juga memberikan pesan bagi mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan agar memanfaatkan masa kuliah sebaik mungkin untuk memperkuat kompetensi dan memperluas pengalaman.

Menurutnya, mahasiswa tidak perlu takut mencoba hal baru, mengikuti proyek, maupun mengasah keterampilan di luar ruang kelas. Sebab, pengalaman tersebut akan menjadi bekal penting ketika memasuki dunia profesional.

“Alumni UNUSIDA harus membuktikan bahwa lulusan muda hari ini mampu bersaing dan berkontribusi dalam industri teknologi. Kisah inspiratif ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa UNUSIDA untuk terus membangun kompetensi, mengembangkan inovasi, dan berani mengambil peran dalam menghadapi tantangan era digital,” pungkasnya.

Dosen Informatika UNUSIDA, Ahmad Khoir Alhaq, S.Kom., M.Kom. (Foto: Humas UNUSIDA)

Perjalanan Inspiratif Ahmad Khoir Alhaq, Alumni yang Kini Mengabdi Sebagai Dosen Informatika UNUSIDA

Perjalanan menuju kesuksesan tidak selalu dimulai dari hal besar, tetapi dari keberanian mencoba dan terus belajar. Hal ini tercermin dari sosok Ahmad Khoir Alhaq, S.Kom., M.Kom., alumni S1 Informatika tahun 2020 yang kini mengabdi sebagai dosen di Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA).

Sejak masa kuliah, Ahmad dikenal sebagai mahasiswa yang aktif berorganisasi. Keterlibatannya dalam berbagai kegiatan kampus menjadi titik awal terbentuknya karakter dan kepercayaan dirinya. Ia tidak hanya berperan sebagai anggota, tetapi juga dipercaya mengemban tanggung jawab sebagai wakil ketua panitia dalam sebuah seminar.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan hidupnya. Dalam peran tersebut, ia mendapatkan kesempatan untuk membawakan sambutan di hadapan banyak peserta. Meski sempat merasa gugup, Ahmad justru melihat hal itu sebagai bagian dari proses belajar yang berharga.

“Saya aktif berorganisasi hingga dipercaya menjadi wakil ketua panitia seminar dan membawakan sambutan. Meski sempat gugup, pengalaman tersebut melatih kemampuan komunikasi publik saya dan memperkuat rasa percaya diri dalam menghadapi audiens yang luas,” ungkapnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (29/4/2026).

Dari pengalaman sederhana itulah, Ahmad mulai menyadari bahwa organisasi bukan sekadar wadah berkegiatan, tetapi juga ruang pembentukan diri. Ia belajar bagaimana mengelola tanggung jawab, bekerja dalam tim, serta menyampaikan ide dengan baik di depan publik.

Menurutnya, kemampuan komunikasi publik menjadi salah satu keterampilan penting yang sering kali tidak disadari manfaatnya sejak dini. Padahal, di dunia akademik maupun profesional, kemampuan ini sangat dibutuhkan baik saat presentasi, mengajar, maupun berinteraksi dengan banyak orang.

Perjalanan Ahmad tidak berhenti setelah menyelesaikan studi sarjana. Semangat belajarnya membawanya melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. Ia berhasil mendapatkan kesempatan beasiswa untuk melanjutkan studi S2, sebuah pencapaian yang menjadi bukti bahwa kerja keras dan konsistensi akan selalu menemukan jalannya.

Selama menempuh pendidikan magister, Ahmad semakin mengasah kemampuan akademiknya sekaligus memperkuat visi untuk berkontribusi di dunia pendidikan. Hingga akhirnya, ia kembali ke almamater sebagai dosen Informatika, mengabdikan ilmu yang telah diperolehnya kepada generasi berikutnya.

Sebagai dosen, Ahmad tidak hanya mengajarkan materi perkuliahan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai penting kepada mahasiswa. Ia sering membagikan pengalaman pribadinya tentang pentingnya aktif berorganisasi dan berani keluar dari zona nyaman.

“Aktif berorganisasi bukan hanya soal pengalaman, tapi juga tentang membentuk keberanian dan kepercayaan diri. Dari rasa gugup hingga mampu berbicara di depan banyak orang, semua adalah proses yang berharga,” tuturnya.

Ia juga menekankan bahwa keterlibatan dalam organisasi membuka banyak peluang belajar yang tidak selalu didapatkan di ruang kelas. Mulai dari melatih kepemimpinan, manajemen waktu, hingga kemampuan beradaptasi dengan berbagai karakter.

Menurut Ahmad, mahasiswa yang aktif cenderung memiliki kesiapan lebih baik dalam menghadapi dunia kerja. Mereka terbiasa menghadapi tantangan, berkomunikasi, serta mengambil keputusan dalam situasi tertentu.

Kisah Ahmad menjadi bukti nyata bahwa pengalaman organisasi memiliki peran besar dalam membentuk masa depan seseorang. Dari rasa gugup saat pertama kali berbicara di depan umum, hingga kini mampu berdiri sebagai dosen yang mengajar di depan banyak mahasiswa, semuanya adalah hasil dari proses panjang yang dijalani dengan konsisten.

Ia berharap mahasiswa saat ini tidak ragu untuk mencoba berbagai pengalaman selama kuliah. Baginya, kegagalan atau rasa tidak percaya diri di awal bukanlah hambatan, melainkan bagian dari perjalanan menuju versi terbaik diri.

“Jangan takut untuk mencoba. Semua orang pernah merasa tidak percaya diri. Tapi dari situlah kita belajar dan berkembang,” pesannya.

Sebagai alumni, Ahmad juga merasa bangga dapat kembali ke UNUSIDA, tidak hanya sebagai lulusan, tetapi juga sebagai pengajar yang turut berkontribusi dalam mencetak generasi unggul di bidang teknologi.

Perjalanannya menjadi inspirasi bagi banyak mahasiswa bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik, tetapi juga oleh keberanian mengambil peluang, kemauan belajar, dan konsistensi dalam mengembangkan diri.

Dari organisasi, Ahmad belajar berbicara. Dari pengalaman, ia belajar percaya diri. Dan dari proses itulah, ia tumbuh menjadi sosok pendidik yang menginspirasi.

Kisah Ahmad Khoir Alhaq, S.Kom., M.Kom. mengingatkan bahwa setiap langkah kecil yang diambil hari ini dapat menjadi fondasi besar di masa depan. Aktif berorganisasi bukan hanya menambah pengalaman, tetapi juga membuka jalan menuju peluang yang lebih luas—bahkan hingga kembali mengabdi sebagai dosen di kampus tercinta.

Zaza Wahyu Faradillah, Alumni PGSD UNUSIDA Tahun 2022 (Foto: Humas UNUSIDA)

Zaza Wahyu Faradillah, Alumni PGSD UNUSIDA Buktikan Bekal Ilmu yang Relevan dengan Dunia Kerja

Pengalaman perkuliahan yang relevan dengan kebutuhan profesi menjadi kunci keberhasilan lulusan saat memasuki dunia kerja. Hal inilah yang dirasakan oleh Zaza Wahyu Faradillah, alumni Program Studi PGSD Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) angkatan 2022.

Kini Zaza berprofesi sebagai guru di SD Negeri Pilang 1 Sidoarjo. Ia menuturkan bahwa ilmu dan pengalaman selama kuliah benar-benar membantunya memahami “medan” pekerjaan yang dijalani. Menurutnya, materi perkuliahan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi aplikatif dan selaras dengan praktik di sekolah.

“Ilmu sesuai jurusan yang saya pelajari di bangku kuliah sangat membimbing saya. Saat terjun ke dunia kerja, saya tidak terlalu kesulitan memahami ritme dan tantangan profesi guru,” ungkapnya.

Zaza menuturkan bahwa proses belajar di kampus telah membentuk fondasi penting untuk terus tumbuh, beradaptasi, serta berkembang menghadapi dinamika dunia pendidikan dan profesional yang terus berubah.

Menurutnya, pembiasaan berpikir kritis selama perkuliahan menjadi salah satu nilai utama yang sangat membantu dalam menghadapi tantangan di lapangan. Selain itu, latihan menyusun perangkat pembelajaran hingga pengalaman praktik lapangan juga menjadi bekal berharga yang kini dirasakan manfaatnya secara nyata.

“Proses belajar di kampus membentuk fondasi penting untuk tumbuh, beradaptasi, serta terus berkembang menghadapi dinamika dunia pendidikan. Pembiasaan berpikir kritis, latihan perangkat pembelajaran, hingga pengalaman praktik lapangan menjadi bekal berharga yang manfaatnya sangat terasa saat ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, selama kuliah di UNUSIDA dirinya merasakan dukungan penuh melalui kurikulum yang kontekstual, dosen yang mendampingi, serta pengalaman praktik yang terstruktur. Menurutnya, hal tersebut mampu menjembatani mahasiswa menuju dunia profesional dengan lebih siap dan percaya diri.

“UNUSIDA memberikan pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan zaman. Kurikulumnya kontekstual, dosennya mendampingi, dan praktiknya terarah, sehingga mahasiswa lebih siap memasuki dunia kerja,” jelasnya.

Zaza juga mengajak generasi muda untuk tidak ragu menentukan pilihan studi sesuai minat dan cita-cita. Ia meyakini, banyak pilihan jurusan yang tepat di UNUSIDA dan jika dijalani dengan sungguh-sungguh akan memudahkan langkah dalam meraih karier impian.

“Banyak pilihan jurusan yang tepat di UNUSIDA. Jika dipadukan dengan proses belajar yang sungguh-sungguh, maka akan memudahkan langkah ketika memasuki karier yang diimpikan,” pungkasnya.

Alumni Prodi Manajemen UNUSIDA Tahun 2023, Izzah Nadlifah Kirana (Foto: Humas UNUSIDA)

Inspirasi Alumni UNUSIDA: Izzah Nadlifah Kirana, dari Bangku Kuliah Menuju Finance Supervisor ZUMA Indonesia

Perjalanan pendidikan di bangku kuliah sering kali menjadi titik awal bagi seseorang untuk menemukan arah masa depan. Hal inilah yang dirasakan oleh Izzah Nadlifah Kirana, S.M., alumni Program Studi Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) yang kini berkarier sebagai Finance Supervisor di PT Dream Dare Discover atau yang lebih dikenal dengan ZUMA Indonesia.

Perempuan yang lulus pada tahun 2023 ini mengaku bahwa empat tahun masa kuliahnya di UNUSIDA menjadi pengalaman yang sangat berkesan dan penuh makna. Selama menempuh pendidikan, ia tidak hanya memperoleh ilmu akademik, tetapi juga berbagai pengalaman, relasi, serta kesempatan belajar yang sangat berharga sebagai bekal menghadapi dunia kerja.

“Empat tahun menempuh perjalanan kuliah di UNUSIDA sungguh luar biasa. Segala ilmu, relasi hingga pengalaman berharga saya dapatkan di sana,” ungkap Izzah ketika mengenang masa-masa kuliahnya.

Menurutnya, lingkungan akademik yang terbuka dan komunikatif menjadi salah satu faktor penting yang membentuk cara berpikirnya hingga saat ini. Di UNUSIDA, para dosen tidak hanya menyampaikan materi secara teoritis di dalam kelas, tetapi juga aktif mengajak mahasiswa untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman.

Hal tersebut menjadi pengalaman belajar yang sangat berkesan bagi Izzah. Ia merasakan bahwa proses pembelajaran yang dilakukan dosen benar-benar mendorong mahasiswa untuk memahami ilmu secara lebih mendalam serta mengaitkannya dengan situasi nyata di masyarakat maupun di dunia kerja.

“Yang paling menyenangkan adalah ketika dosen-dosen saya tidak pernah bosan untuk mengajak sharing dan diskusi. Seakan mereka selalu memastikan bahwa apa yang telah mereka ajarkan secara teori benar-benar mahasiswa terapkan dalam kehidupan nyata,” jelasnya.

Bagi Izzah, metode pembelajaran seperti ini membuat mahasiswa tidak hanya menjadi pendengar pasif di kelas, tetapi juga terlibat aktif dalam proses berpikir kritis. Diskusi yang dilakukan bersama dosen dan teman-teman kuliah sering kali membuka wawasan baru serta membantu mahasiswa memahami bagaimana teori manajemen dapat diterapkan secara praktis.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal penting ketika ia memasuki dunia kerja. Setelah menyelesaikan studi di Program Studi Manajemen UNUSIDA, Izzah berhasil mendapatkan pekerjaan di PT Dream Dare Discover atau ZUMA Indonesia. Di perusahaan tersebut, ia dipercaya untuk mengemban tanggung jawab sebagai Finance Supervisor.

Posisi tersebut tentu tidak mudah karena membutuhkan kemampuan analisis keuangan, ketelitian dalam mengelola data, serta kemampuan mengambil keputusan yang tepat. Namun, Izzah merasa bahwa ilmu yang ia pelajari selama kuliah memberikan fondasi yang kuat untuk menjalankan tugas tersebut.

Ia mengaku banyak materi perkuliahan yang ternyata sangat relevan dengan pekerjaan yang dijalaninya saat ini, mulai dari manajemen keuangan, pengelolaan anggaran, hingga kemampuan analisis data dan pengambilan keputusan dalam organisasi.

“Hal itulah yang membuat saya akhirnya mendapatkan pekerjaan sesuai dengan ilmu yang saya dapatkan di kuliah,” katanya.

Selain ilmu akademik, pengalaman berdiskusi dan membangun relasi selama masa kuliah juga membantu Izzah dalam mengembangkan kemampuan komunikasi dan kerja sama tim. Kemampuan tersebut menjadi salah satu keterampilan penting dalam dunia profesional, terutama ketika harus berkoordinasi dengan berbagai divisi di perusahaan.

Sebagai seorang supervisor di bidang keuangan, Izzah tidak hanya bertanggung jawab terhadap pengelolaan data finansial perusahaan, tetapi juga harus mampu memimpin tim dan memastikan seluruh proses keuangan berjalan secara efektif dan akurat. Tanggung jawab ini menuntut ketelitian, kedisiplinan, serta kemampuan berpikir strategis.

Menurutnya, pengalaman selama kuliah di UNUSIDA telah membantunya membangun kepercayaan diri untuk menghadapi berbagai tantangan di dunia kerja. Ia merasa bahwa bekal yang diberikan selama masa studi tidak hanya berupa teori, tetapi juga cara berpikir dan sikap profesional yang sangat dibutuhkan dalam karier.

Izzah juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para dosen yang telah membimbing dan memberikan banyak ilmu selama ia menempuh pendidikan di UNUSIDA. Baginya, dukungan dan dedikasi para dosen menjadi salah satu faktor penting yang membantunya mencapai posisi saat ini.

“Terima kasih bapak ibu dosen atas semua ilmu dan bimbingannya,” ujarnya.

Kini, setelah merasakan langsung manfaat dari pendidikan yang ia jalani, Izzah berharap kisah perjalanannya dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa maupun calon mahasiswa UNUSIDA. Ia percaya bahwa kesungguhan dalam belajar serta kemauan untuk terus berdiskusi dan berkembang akan membuka banyak peluang di masa depan.

Baginya, masa kuliah bukan hanya tentang mendapatkan gelar sarjana, tetapi juga tentang membangun karakter, memperluas jaringan, serta mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan dunia profesional.

Dengan penuh rasa bangga, Izzah menutup ceritanya dengan satu kalimat sederhana yang mencerminkan rasa cintanya terhadap almamater.

“UNUSIDA THE BEST!,” pungkasnya.

Alumni PGSD UNUSIDA, Izathun Alcharimah Ana Safitri, S.Pd., M.Pd. (Foto Humas UNUSIDA)

Dari Dunia Pendidikan ke Ruang Publik, Kisah Izathun Alcharimah Alumni PGSD UNUSIDA Berkiprah di Bawaslu Sidoarjo

Perjalanan karier tidak selalu berjalan lurus sesuai bidang studi. Hal inilah yang dibuktikan oleh alumni Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Izathun Alcharimah Ana Safitri, S.Pd., M.Pd. Lulusan tahun 2019 tersebut kini berkiprah sebagai penyelenggara pemilu di Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Sidoarjo.

Berangkat dari latar belakang pendidikan dasar, Izathun membuktikan bahwa ilmu yang diperoleh selama kuliah tidak hanya relevan di ruang kelas, tetapi juga dapat menjadi bekal penting dalam dunia publik yang dinamis. Menurutnya, pendidikan adalah fondasi dalam membangun kesadaran demokrasi dan integritas masyarakat.

“PGSD mengajarkan saya tentang kesabaran, komunikasi, dan tanggung jawab. Nilai-nilai itu sangat relevan ketika bekerja di ruang publik,” ungkapnya kepada Humas UNUSIDA, Kamis (5/3/2026).

Dalam perannya sebagai penyelenggara pemilu di Bawaslu Sidoarjo, Izathun terlibat dalam pengawasan berbagai tahapan pemilu di tingkat kabupaten. Tugasnya meliputi memastikan proses berjalan sesuai regulasi, menjaga netralitas, hingga menangani berbagai dinamika yang muncul di lapangan.

Peran tersebut menuntut ketelitian administrasi, keberanian dalam mengambil keputusan, serta kemampuan menyampaikan informasi secara objektif kepada masyarakat. Menurutnya, dunia kepemiluan merupakan ruang pembelajaran yang sangat kaya akan pengalaman.

“Ketika berada di dunia publik, kita belajar untuk lebih dewasa. Setiap ucapan dan tindakan memiliki konsekuensi. Kita harus bijak, netral, dan tetap berpegang pada aturan,” jelasnya.

Pengalaman tersebut menjadi jembatan menuju kematangan pribadi. Ia belajar mengelola emosi, bersikap profesional di tengah perbedaan pandangan, serta membangun komunikasi yang sehat dengan berbagai pihak—baik peserta pemilu, sesama penyelenggara, maupun masyarakat.

Sebagai alumni PGSD, Izathun juga merasakan bahwa kemampuan mendidik dan memberikan pemahaman kepada masyarakat menjadi nilai tambah tersendiri. Dalam berbagai kegiatan sosialisasi pengawasan partisipatif, latar belakang pendidikannya membantu dalam menyampaikan informasi secara komunikatif dan mudah dipahami.

“Edukasi kepada masyarakat itu penting. Demokrasi yang sehat tidak hanya bergantung pada penyelenggara, tetapi juga pada kesadaran masyarakat,” tuturnya.

Ia pun membagikan sejumlah pesan bagi mahasiswa, khususnya dari Prodi PGSD, agar tidak membatasi diri dalam menentukan masa depan. Menurutnya, lulusan PGSD memiliki kompetensi komunikasi, manajemen, dan kepemimpinan yang dapat diterapkan di berbagai bidang.

Selain itu, ia menekankan pentingnya membangun integritas sejak dini. Dalam dunia kepemiluan, netralitas dan kejujuran menjadi prinsip utama yang tidak dapat ditawar. Kemauan untuk terus belajar serta kesiapan menghadapi kritik juga menjadi bekal penting bagi siapa pun yang ingin berkiprah di ruang publik.

Bagi Izathun, perjalanan kariernya bukan sekadar tentang posisi atau jabatan, tetapi tentang proses bertumbuh sebagai pribadi. Dunia publik membentuknya menjadi lebih sabar, tegas, dan bertanggung jawab dalam menjalankan amanah.

Kini, sebagai bagian dari Bawaslu Sidoarjo, ia merasa memiliki tanggung jawab besar untuk turut menjaga kualitas demokrasi di daerah. Ia percaya bahwa demokrasi yang kuat memerlukan pengawasan yang profesional serta individu-individu yang matang secara karakter.

Kisah Izathun menjadi bukti bahwa alumni PGSD memiliki ruang kontribusi yang luas, termasuk di dunia kepemiluan. Pendidikan yang ia tempuh menjadi fondasi untuk memahami masyarakat, membangun komunikasi, serta menjaga integritas dalam setiap langkah pengabdian.

“Menjadi bagian dari penyelenggara pemilu bukan hanya tentang bekerja, tetapi tentang mengabdi. Dunia publik adalah ruang untuk belajar menjadi lebih dewasa dan bertanggung jawab,” pungkasnya.

Mokh. Yahya, S.T., Lulusan Teknik Lingkungan UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Dedikasi Mokh. Yahya, S.T., Lulusan Teknik Lingkungan yang Berkontribusi untuk Masyarakat melalui Penerangan Jalan

Perjalanan hidup setiap alumni selalu menyimpan cerita perjuangan, proses pembelajaran, serta perubahan cara pandang yang mengantarkan mereka menuju dunia profesional. Hal tersebut tergambar dari sosok Mokh. Yahya, S.T., alumni Program Studi S1 Teknik Lingkungan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) yang lulus pada tahun 2020. Kini, ia mengabdikan diri sebagai Teknisi Penerangan Jalan Umum (PJU) di Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo, sebuah peran strategis yang berkontribusi langsung terhadap keselamatan dan kenyamanan masyarakat.

Bagi Yahya, masa kuliah bukan sekadar proses akademik untuk meraih gelar sarjana, melainkan ruang pembentukan mindset, karakter, serta penguatan soft skills dan hard skills yang sangat dibutuhkan ketika memasuki dunia kerja. Ia menyadari bahwa keberhasilan profesional tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh disiplin, tanggung jawab, komunikasi, dan kemampuan bekerja dalam tim.

“Selama kuliah, saya belajar bahwa ilmu tidak cukup hanya dipahami di kelas. Kita harus aktif mencari pengalaman, berani mencoba, dan terus mengembangkan diri,” ungkap Yahya.

Prinsip tersebut membantunya beradaptasi dengan cepat ketika mulai bekerja di lingkungan pemerintahan yang menuntut ketelitian, kecepatan, serta pelayanan publik yang optimal.

Sebagai Teknisi PJU, Yahya bertanggung jawab memastikan sistem penerangan jalan umum berfungsi dengan baik, mulai dari pemeriksaan jaringan listrik, perawatan lampu jalan, hingga penanganan gangguan teknis di lapangan. Peran ini sangat penting karena penerangan jalan berkaitan erat dengan keselamatan pengguna jalan, keamanan lingkungan, serta aktivitas ekonomi masyarakat pada malam hari.

Latar belakang pendidikan Teknik Lingkungan yang ia miliki memberikan bekal relevan, terutama dalam memahami aspek keselamatan kerja, efisiensi energi, serta dampak infrastruktur terhadap lingkungan. Hard skills seperti analisis teknis dan pemecahan masalah menjadi fondasi utama dalam menjalankan tugasnya.

Namun, Yahya menekankan bahwa soft skills justru menjadi kunci keberhasilan yang sering tidak disadari mahasiswa. Kemampuan berkomunikasi, koordinasi dengan masyarakat, manajemen waktu, serta ketahanan mental saat menghadapi tekanan pekerjaan sangat menentukan kinerja di lapangan.

“Di dunia kerja, kita bertemu banyak karakter dan situasi yang tidak selalu sesuai rencana. Di sinilah pentingnya kesabaran, kerja sama, dan pola pikir yang terus berkembang,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa perubahan mindset dari mahasiswa menjadi profesional harus dibangun sejak dini dengan membiasakan diri bersikap proaktif dan solutif.

Perjalanan karier Yahya menjadi bukti bahwa setiap lulusan memiliki peluang besar untuk berkontribusi di berbagai sektor, termasuk pelayanan publik. Bekerja di instansi pemerintah memberikan pengalaman berharga karena pekerjaan yang dilakukan berdampak langsung bagi masyarakat luas, sekaligus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kompetensi diri.

Ia pun berpesan kepada mahasiswa agar tidak ragu mengembangkan potensi di luar perkuliahan melalui organisasi, pelatihan, maupun kegiatan lapangan. “Jangan menunggu sempurna untuk mulai. Terus belajar, terus mencoba, dan jangan takut gagal,” pesannya.

Kisah Mokh. Yahya, S.T. menunjukkan bahwa keberhasilan alumni UNUSIDA bukan hanya tentang nilai akademik, tetapi juga tentang kemauan untuk berubah, belajar, dan beradaptasi. Melalui dedikasinya sebagai Teknisi PJU, ia tidak hanya menjalankan profesi, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Lampu-lampu jalan yang menyala setiap malam menjadi simbol kerja keras, tanggung jawab, dan kontribusi seorang alumni yang terus berupaya memberi terang bagi lingkungan sekitarnya.

Ia berharap, pengalamannya dapat memotivasi mahasiswa dan alumni lainnya untuk terus mengembangkan diri, membangun pola pikir positif, serta berani mengambil peran di tengah masyarakat. Karena pada akhirnya, keberhasilan sejati adalah ketika ilmu yang dimiliki mampu memberikan manfaat bagi banyak orang.

Mahmuda, S.M., Alumni Manajemen UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Dari Bangku Kuliah ke Dunia Kerja: Kisah Inspiratif Mahmuda, Alumni Manajemen UNUSIDA

Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) terus melahirkan alumni-alumni yang mampu berkiprah di dunia profesional. Salah satunya adalah Mahmuda, S.M., alumni Program Studi Manajemen pertama tahun 2014, yang kini berkarier di PT Sinar Surya Trans pada bagian Administrasi.

Mahmuda mengungkapkan bahwa mengungkapkan bahwa UNUSIDA memiliki peran besar dalam perjalanan kariernya. Menurutnya, kampus tidak hanya membekali ilmu akademik, tetapi juga menyediakan ruang pengembangan diri melalui organisasi dan program magang yang membantunya memahami dunia kerja secara nyata. Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting yang mengantarkannya lebih percaya diri memasuki dunia profesional.

Perjalanan kariernya tidak lepas dari pengalaman aktif selama masa kuliah. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan kampus, termasuk bergabung dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Menurutnya, organisasi menjadi ruang penting untuk mengasah soft skill sekaligus memperluas jejaring.

“Lewat organisasi, kita bisa memperluas jaringan dengan sesama mahasiswa maupun dosen. Dari situ wawasan dan pengalaman juga bertambah,” ujarnya saat dihubungi oleh Humas UNUSIDA, Selasa (27/1/2026).

Tak hanya itu, Mahmuda juga menyebut bahwa UNUSIDA memiliki peran besar dalam pengembangan dirinya melalui program magang. Ia pernah menjalani magang di The Sun Hotel pada bagian HR & GA, pengalaman yang menjadi bekal berharga saat memasuki dunia kerja profesional.

“Kampus menyediakan wadah untuk pengembangan diri, salah satunya lewat magang. Dari sana saya belajar langsung bagaimana dunia kerja berjalan,” tuturnya.

Kini, sebagai staf administrasi di PT Sinar Surya Trans, Mahmuda terus mengembangkan kompetensinya dengan semangat belajar yang sama seperti saat masih menjadi mahasiswa. Ia berharap kisahnya ini dapat memotivasi mahasiswa UNUSIDA untuk aktif berorganisasi, memanfaatkan peluang magang, dan berani mengembangkan potensi diri sejak dini.

Bagi Mahmuda yang lulus pada tahun 2019 lalu, masa kuliah bukan hanya tentang mengejar nilai akademik, tetapi juga tentang membangun karakter, relasi, dan pengalaman hidup yang kelak menjadi bekal berharga di dunia kerja.

“Pengalaman akademik maupun non akademik di luar kelas ketika kuliah adalah bekal berharga untuk membentuk karakter, memperluas jejaring, dan menyiapkan diri menghadapi dunia kerja. UNUSIDA, kampus yang tepat untuk tumbuh, berprestasi, dan menjemput masa depan,” ungkapnya.

Dinda Adinda, S.Pd. - Alumni PBI UNUSIDA (Foto: HEC 1 Pare)

Kisah Sukses Dinda Adinda Membangun Ekosistem Bahasa Inggris, Menembus Batas dengan Literasi

Pendidikan bukan sekadar tentang gelar akademik, melainkan bagaimana ilmu yang diperoleh mampu ditransformasikan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat. Prinsip inilah yang dibuktikan oleh Dinda Adinda, S.Pd., alumni inspiratif Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA).

Kini, Dinda dikenal sebagai pendidik yang inspiratif, seorang pengajar muda di bidang pendidikan bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare, Kediri, yang dikenal sebagai terbesar di Indonesia.

Dinda merupakan pengajar aktif Happy English Course (HEC) 1 Pare sekaligus Owner di Samudra Course. Kiprahnya di dunia pendidikan nonformal menjadi bukti bahwa lulusan PBI UNUSIDA memiliki daya saing tinggi, tidak hanya sebagai tenaga pendidik, tetapi juga sebagai edupreneur yang mampu menciptakan lapangan kerja dan menghadirkan inovasi pembelajaran yang adaptif.

Dari Ruang Kelas Menuju Kemandirian Ekonomi
Perjalanan Dinda bermula dari kecintaannya terhadap dunia pendidikan dan metodologi pengajaran yang ia pelajari selama menempuh studi di UNUSIDA. Ia menyadari bahwa penguasaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, merupakan kunci strategis untuk membuka peluang global.

“Ilmu yang saya dapatkan di Prodi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UNUSIDA sangat komprehensif. Tidak hanya tentang grammar dan keterampilan bahasa, tetapi juga bagaimana membangun kepercayaan diri siswa serta mengelola lembaga pendidikan secara profesional,” ungkap Dinda.

Sebagai pemilik Samudra Course, Dinda bertanggung jawab penuh atas manajemen lembaga, pengembangan kurikulum, hingga strategi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan zaman. Di sisi lain, perannya sebagai pengajar di HEC 1 Pare menunjukkan komitmennya untuk tetap hadir langsung di ruang-ruang belajar, menyapa dan membimbing para peserta didik.

Menjaga Integritas dan Semangat Santri
Berkarier di Pare yang dikenal memiliki persaingan lembaga kursus sangat ketat tentu bukan perkara mudah. Namun, Dinda membawa nilai-nilai khas yang ia peroleh selama menempuh pendidikan di UNUSIDA, kerja keras, integritas, dan spiritualitas.

Ia meyakini bahwa pengajaran bahasa Inggris tidak boleh sekadar berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga harus mengedepankan pendekatan humanis dan pembentukan karakter.

“PBI UNUSIDA membekali kami dengan pandangan filosofis bahwa mengajar adalah bagian dari pengabdian. Di Pare, saya tidak hanya melayani dalam pendidikan, tetapi membangun komunitas belajar. Semangat Reach Your Dream Through the Galaxy yang sering digaungkan prodi benar-benar memacu saya untuk bermimpi setinggi mungkin, namun tetap membumi dalam pelayanan,” tuturnya.

Lebih lanjut, Dinda yang juga gemar menulis novel tersebut, berpesan kepada mahasiswa PBI UNUSIDA agar tidak membatasi mimpi hanya pada profesi guru di sekolah formal. Menurutnya, peluang di dunia edupreneurship sangat terbuka lebar, terutama bagi generasi muda yang berani berinovasi.

“Kemampuan bahasa Inggris yang kuat, jika dipadukan dengan keterampilan manajemen dan kreativitas, akan menjadi kombinasi yang sangat kompetitif di dunia kerja,” pesannya.

Keberhasilannya ini menjadi bukti nyata bahwa UNUSIDA mampu mencetak lulusan yang mandiri, adaptif, dan siap menjadi pemimpin di bidangnya. Kisah ini menjadi pengingat bahwa dengan ilmu yang bermanfaat, integritas, dan tekad yang kuat, alumni UNUSIDA mampu menembus batas kemungkinan dan menginspirasi generasi selanjutnya untuk terus bergerak maju.