Pos

Alumni Prodi Manajemen UNUSIDA Tahun 2023, Izzah Nadlifah Kirana (Foto: Humas UNUSIDA)

Inspirasi Alumni UNUSIDA: Izzah Nadlifah Kirana, dari Bangku Kuliah Menuju Finance Supervisor ZUMA Indonesia

Perjalanan pendidikan di bangku kuliah sering kali menjadi titik awal bagi seseorang untuk menemukan arah masa depan. Hal inilah yang dirasakan oleh Izzah Nadlifah Kirana, S.M., alumni Program Studi Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) yang kini berkarier sebagai Finance Supervisor di PT Dream Dare Discover atau yang lebih dikenal dengan ZUMA Indonesia.

Perempuan yang lulus pada tahun 2023 ini mengaku bahwa empat tahun masa kuliahnya di UNUSIDA menjadi pengalaman yang sangat berkesan dan penuh makna. Selama menempuh pendidikan, ia tidak hanya memperoleh ilmu akademik, tetapi juga berbagai pengalaman, relasi, serta kesempatan belajar yang sangat berharga sebagai bekal menghadapi dunia kerja.

“Empat tahun menempuh perjalanan kuliah di UNUSIDA sungguh luar biasa. Segala ilmu, relasi hingga pengalaman berharga saya dapatkan di sana,” ungkap Izzah ketika mengenang masa-masa kuliahnya.

Menurutnya, lingkungan akademik yang terbuka dan komunikatif menjadi salah satu faktor penting yang membentuk cara berpikirnya hingga saat ini. Di UNUSIDA, para dosen tidak hanya menyampaikan materi secara teoritis di dalam kelas, tetapi juga aktif mengajak mahasiswa untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman.

Hal tersebut menjadi pengalaman belajar yang sangat berkesan bagi Izzah. Ia merasakan bahwa proses pembelajaran yang dilakukan dosen benar-benar mendorong mahasiswa untuk memahami ilmu secara lebih mendalam serta mengaitkannya dengan situasi nyata di masyarakat maupun di dunia kerja.

“Yang paling menyenangkan adalah ketika dosen-dosen saya tidak pernah bosan untuk mengajak sharing dan diskusi. Seakan mereka selalu memastikan bahwa apa yang telah mereka ajarkan secara teori benar-benar mahasiswa terapkan dalam kehidupan nyata,” jelasnya.

Bagi Izzah, metode pembelajaran seperti ini membuat mahasiswa tidak hanya menjadi pendengar pasif di kelas, tetapi juga terlibat aktif dalam proses berpikir kritis. Diskusi yang dilakukan bersama dosen dan teman-teman kuliah sering kali membuka wawasan baru serta membantu mahasiswa memahami bagaimana teori manajemen dapat diterapkan secara praktis.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal penting ketika ia memasuki dunia kerja. Setelah menyelesaikan studi di Program Studi Manajemen UNUSIDA, Izzah berhasil mendapatkan pekerjaan di PT Dream Dare Discover atau ZUMA Indonesia. Di perusahaan tersebut, ia dipercaya untuk mengemban tanggung jawab sebagai Finance Supervisor.

Posisi tersebut tentu tidak mudah karena membutuhkan kemampuan analisis keuangan, ketelitian dalam mengelola data, serta kemampuan mengambil keputusan yang tepat. Namun, Izzah merasa bahwa ilmu yang ia pelajari selama kuliah memberikan fondasi yang kuat untuk menjalankan tugas tersebut.

Ia mengaku banyak materi perkuliahan yang ternyata sangat relevan dengan pekerjaan yang dijalaninya saat ini, mulai dari manajemen keuangan, pengelolaan anggaran, hingga kemampuan analisis data dan pengambilan keputusan dalam organisasi.

“Hal itulah yang membuat saya akhirnya mendapatkan pekerjaan sesuai dengan ilmu yang saya dapatkan di kuliah,” katanya.

Selain ilmu akademik, pengalaman berdiskusi dan membangun relasi selama masa kuliah juga membantu Izzah dalam mengembangkan kemampuan komunikasi dan kerja sama tim. Kemampuan tersebut menjadi salah satu keterampilan penting dalam dunia profesional, terutama ketika harus berkoordinasi dengan berbagai divisi di perusahaan.

Sebagai seorang supervisor di bidang keuangan, Izzah tidak hanya bertanggung jawab terhadap pengelolaan data finansial perusahaan, tetapi juga harus mampu memimpin tim dan memastikan seluruh proses keuangan berjalan secara efektif dan akurat. Tanggung jawab ini menuntut ketelitian, kedisiplinan, serta kemampuan berpikir strategis.

Menurutnya, pengalaman selama kuliah di UNUSIDA telah membantunya membangun kepercayaan diri untuk menghadapi berbagai tantangan di dunia kerja. Ia merasa bahwa bekal yang diberikan selama masa studi tidak hanya berupa teori, tetapi juga cara berpikir dan sikap profesional yang sangat dibutuhkan dalam karier.

Izzah juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para dosen yang telah membimbing dan memberikan banyak ilmu selama ia menempuh pendidikan di UNUSIDA. Baginya, dukungan dan dedikasi para dosen menjadi salah satu faktor penting yang membantunya mencapai posisi saat ini.

“Terima kasih bapak ibu dosen atas semua ilmu dan bimbingannya,” ujarnya.

Kini, setelah merasakan langsung manfaat dari pendidikan yang ia jalani, Izzah berharap kisah perjalanannya dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa maupun calon mahasiswa UNUSIDA. Ia percaya bahwa kesungguhan dalam belajar serta kemauan untuk terus berdiskusi dan berkembang akan membuka banyak peluang di masa depan.

Baginya, masa kuliah bukan hanya tentang mendapatkan gelar sarjana, tetapi juga tentang membangun karakter, memperluas jaringan, serta mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan dunia profesional.

Dengan penuh rasa bangga, Izzah menutup ceritanya dengan satu kalimat sederhana yang mencerminkan rasa cintanya terhadap almamater.

“UNUSIDA THE BEST!,” pungkasnya.

Alumni PGSD UNUSIDA, Izathun Alcharimah Ana Safitri, S.Pd., M.Pd. (Foto Humas UNUSIDA)

Dari Dunia Pendidikan ke Ruang Publik, Kisah Izathun Alcharimah Alumni PGSD UNUSIDA Berkiprah di Bawaslu Sidoarjo

Perjalanan karier tidak selalu berjalan lurus sesuai bidang studi. Hal inilah yang dibuktikan oleh alumni Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Izathun Alcharimah Ana Safitri, S.Pd., M.Pd. Lulusan tahun 2019 tersebut kini berkiprah sebagai penyelenggara pemilu di Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Sidoarjo.

Berangkat dari latar belakang pendidikan dasar, Izathun membuktikan bahwa ilmu yang diperoleh selama kuliah tidak hanya relevan di ruang kelas, tetapi juga dapat menjadi bekal penting dalam dunia publik yang dinamis. Menurutnya, pendidikan adalah fondasi dalam membangun kesadaran demokrasi dan integritas masyarakat.

“PGSD mengajarkan saya tentang kesabaran, komunikasi, dan tanggung jawab. Nilai-nilai itu sangat relevan ketika bekerja di ruang publik,” ungkapnya kepada Humas UNUSIDA, Kamis (5/3/2026).

Dalam perannya sebagai penyelenggara pemilu di Bawaslu Sidoarjo, Izathun terlibat dalam pengawasan berbagai tahapan pemilu di tingkat kabupaten. Tugasnya meliputi memastikan proses berjalan sesuai regulasi, menjaga netralitas, hingga menangani berbagai dinamika yang muncul di lapangan.

Peran tersebut menuntut ketelitian administrasi, keberanian dalam mengambil keputusan, serta kemampuan menyampaikan informasi secara objektif kepada masyarakat. Menurutnya, dunia kepemiluan merupakan ruang pembelajaran yang sangat kaya akan pengalaman.

“Ketika berada di dunia publik, kita belajar untuk lebih dewasa. Setiap ucapan dan tindakan memiliki konsekuensi. Kita harus bijak, netral, dan tetap berpegang pada aturan,” jelasnya.

Pengalaman tersebut menjadi jembatan menuju kematangan pribadi. Ia belajar mengelola emosi, bersikap profesional di tengah perbedaan pandangan, serta membangun komunikasi yang sehat dengan berbagai pihak—baik peserta pemilu, sesama penyelenggara, maupun masyarakat.

Sebagai alumni PGSD, Izathun juga merasakan bahwa kemampuan mendidik dan memberikan pemahaman kepada masyarakat menjadi nilai tambah tersendiri. Dalam berbagai kegiatan sosialisasi pengawasan partisipatif, latar belakang pendidikannya membantu dalam menyampaikan informasi secara komunikatif dan mudah dipahami.

“Edukasi kepada masyarakat itu penting. Demokrasi yang sehat tidak hanya bergantung pada penyelenggara, tetapi juga pada kesadaran masyarakat,” tuturnya.

Ia pun membagikan sejumlah pesan bagi mahasiswa, khususnya dari Prodi PGSD, agar tidak membatasi diri dalam menentukan masa depan. Menurutnya, lulusan PGSD memiliki kompetensi komunikasi, manajemen, dan kepemimpinan yang dapat diterapkan di berbagai bidang.

Selain itu, ia menekankan pentingnya membangun integritas sejak dini. Dalam dunia kepemiluan, netralitas dan kejujuran menjadi prinsip utama yang tidak dapat ditawar. Kemauan untuk terus belajar serta kesiapan menghadapi kritik juga menjadi bekal penting bagi siapa pun yang ingin berkiprah di ruang publik.

Bagi Izathun, perjalanan kariernya bukan sekadar tentang posisi atau jabatan, tetapi tentang proses bertumbuh sebagai pribadi. Dunia publik membentuknya menjadi lebih sabar, tegas, dan bertanggung jawab dalam menjalankan amanah.

Kini, sebagai bagian dari Bawaslu Sidoarjo, ia merasa memiliki tanggung jawab besar untuk turut menjaga kualitas demokrasi di daerah. Ia percaya bahwa demokrasi yang kuat memerlukan pengawasan yang profesional serta individu-individu yang matang secara karakter.

Kisah Izathun menjadi bukti bahwa alumni PGSD memiliki ruang kontribusi yang luas, termasuk di dunia kepemiluan. Pendidikan yang ia tempuh menjadi fondasi untuk memahami masyarakat, membangun komunikasi, serta menjaga integritas dalam setiap langkah pengabdian.

“Menjadi bagian dari penyelenggara pemilu bukan hanya tentang bekerja, tetapi tentang mengabdi. Dunia publik adalah ruang untuk belajar menjadi lebih dewasa dan bertanggung jawab,” pungkasnya.

Mokh. Yahya, S.T., Lulusan Teknik Lingkungan UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Dedikasi Mokh. Yahya, S.T., Lulusan Teknik Lingkungan yang Berkontribusi untuk Masyarakat melalui Penerangan Jalan

Perjalanan hidup setiap alumni selalu menyimpan cerita perjuangan, proses pembelajaran, serta perubahan cara pandang yang mengantarkan mereka menuju dunia profesional. Hal tersebut tergambar dari sosok Mokh. Yahya, S.T., alumni Program Studi S1 Teknik Lingkungan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) yang lulus pada tahun 2020. Kini, ia mengabdikan diri sebagai Teknisi Penerangan Jalan Umum (PJU) di Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo, sebuah peran strategis yang berkontribusi langsung terhadap keselamatan dan kenyamanan masyarakat.

Bagi Yahya, masa kuliah bukan sekadar proses akademik untuk meraih gelar sarjana, melainkan ruang pembentukan mindset, karakter, serta penguatan soft skills dan hard skills yang sangat dibutuhkan ketika memasuki dunia kerja. Ia menyadari bahwa keberhasilan profesional tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh disiplin, tanggung jawab, komunikasi, dan kemampuan bekerja dalam tim.

“Selama kuliah, saya belajar bahwa ilmu tidak cukup hanya dipahami di kelas. Kita harus aktif mencari pengalaman, berani mencoba, dan terus mengembangkan diri,” ungkap Yahya.

Prinsip tersebut membantunya beradaptasi dengan cepat ketika mulai bekerja di lingkungan pemerintahan yang menuntut ketelitian, kecepatan, serta pelayanan publik yang optimal.

Sebagai Teknisi PJU, Yahya bertanggung jawab memastikan sistem penerangan jalan umum berfungsi dengan baik, mulai dari pemeriksaan jaringan listrik, perawatan lampu jalan, hingga penanganan gangguan teknis di lapangan. Peran ini sangat penting karena penerangan jalan berkaitan erat dengan keselamatan pengguna jalan, keamanan lingkungan, serta aktivitas ekonomi masyarakat pada malam hari.

Latar belakang pendidikan Teknik Lingkungan yang ia miliki memberikan bekal relevan, terutama dalam memahami aspek keselamatan kerja, efisiensi energi, serta dampak infrastruktur terhadap lingkungan. Hard skills seperti analisis teknis dan pemecahan masalah menjadi fondasi utama dalam menjalankan tugasnya.

Namun, Yahya menekankan bahwa soft skills justru menjadi kunci keberhasilan yang sering tidak disadari mahasiswa. Kemampuan berkomunikasi, koordinasi dengan masyarakat, manajemen waktu, serta ketahanan mental saat menghadapi tekanan pekerjaan sangat menentukan kinerja di lapangan.

“Di dunia kerja, kita bertemu banyak karakter dan situasi yang tidak selalu sesuai rencana. Di sinilah pentingnya kesabaran, kerja sama, dan pola pikir yang terus berkembang,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa perubahan mindset dari mahasiswa menjadi profesional harus dibangun sejak dini dengan membiasakan diri bersikap proaktif dan solutif.

Perjalanan karier Yahya menjadi bukti bahwa setiap lulusan memiliki peluang besar untuk berkontribusi di berbagai sektor, termasuk pelayanan publik. Bekerja di instansi pemerintah memberikan pengalaman berharga karena pekerjaan yang dilakukan berdampak langsung bagi masyarakat luas, sekaligus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kompetensi diri.

Ia pun berpesan kepada mahasiswa agar tidak ragu mengembangkan potensi di luar perkuliahan melalui organisasi, pelatihan, maupun kegiatan lapangan. “Jangan menunggu sempurna untuk mulai. Terus belajar, terus mencoba, dan jangan takut gagal,” pesannya.

Kisah Mokh. Yahya, S.T. menunjukkan bahwa keberhasilan alumni UNUSIDA bukan hanya tentang nilai akademik, tetapi juga tentang kemauan untuk berubah, belajar, dan beradaptasi. Melalui dedikasinya sebagai Teknisi PJU, ia tidak hanya menjalankan profesi, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Lampu-lampu jalan yang menyala setiap malam menjadi simbol kerja keras, tanggung jawab, dan kontribusi seorang alumni yang terus berupaya memberi terang bagi lingkungan sekitarnya.

Ia berharap, pengalamannya dapat memotivasi mahasiswa dan alumni lainnya untuk terus mengembangkan diri, membangun pola pikir positif, serta berani mengambil peran di tengah masyarakat. Karena pada akhirnya, keberhasilan sejati adalah ketika ilmu yang dimiliki mampu memberikan manfaat bagi banyak orang.

Mahmuda, S.M., Alumni Manajemen UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Dari Bangku Kuliah ke Dunia Kerja: Kisah Inspiratif Mahmuda, Alumni Manajemen UNUSIDA

Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) terus melahirkan alumni-alumni yang mampu berkiprah di dunia profesional. Salah satunya adalah Mahmuda, S.M., alumni Program Studi Manajemen pertama tahun 2014, yang kini berkarier di PT Sinar Surya Trans pada bagian Administrasi.

Mahmuda mengungkapkan bahwa mengungkapkan bahwa UNUSIDA memiliki peran besar dalam perjalanan kariernya. Menurutnya, kampus tidak hanya membekali ilmu akademik, tetapi juga menyediakan ruang pengembangan diri melalui organisasi dan program magang yang membantunya memahami dunia kerja secara nyata. Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting yang mengantarkannya lebih percaya diri memasuki dunia profesional.

Perjalanan kariernya tidak lepas dari pengalaman aktif selama masa kuliah. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan kampus, termasuk bergabung dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Menurutnya, organisasi menjadi ruang penting untuk mengasah soft skill sekaligus memperluas jejaring.

“Lewat organisasi, kita bisa memperluas jaringan dengan sesama mahasiswa maupun dosen. Dari situ wawasan dan pengalaman juga bertambah,” ujarnya saat dihubungi oleh Humas UNUSIDA, Selasa (27/1/2026).

Tak hanya itu, Mahmuda juga menyebut bahwa UNUSIDA memiliki peran besar dalam pengembangan dirinya melalui program magang. Ia pernah menjalani magang di The Sun Hotel pada bagian HR & GA, pengalaman yang menjadi bekal berharga saat memasuki dunia kerja profesional.

“Kampus menyediakan wadah untuk pengembangan diri, salah satunya lewat magang. Dari sana saya belajar langsung bagaimana dunia kerja berjalan,” tuturnya.

Kini, sebagai staf administrasi di PT Sinar Surya Trans, Mahmuda terus mengembangkan kompetensinya dengan semangat belajar yang sama seperti saat masih menjadi mahasiswa. Ia berharap kisahnya ini dapat memotivasi mahasiswa UNUSIDA untuk aktif berorganisasi, memanfaatkan peluang magang, dan berani mengembangkan potensi diri sejak dini.

Bagi Mahmuda yang lulus pada tahun 2019 lalu, masa kuliah bukan hanya tentang mengejar nilai akademik, tetapi juga tentang membangun karakter, relasi, dan pengalaman hidup yang kelak menjadi bekal berharga di dunia kerja.

“Pengalaman akademik maupun non akademik di luar kelas ketika kuliah adalah bekal berharga untuk membentuk karakter, memperluas jejaring, dan menyiapkan diri menghadapi dunia kerja. UNUSIDA, kampus yang tepat untuk tumbuh, berprestasi, dan menjemput masa depan,” ungkapnya.

Dinda Adinda, S.Pd. - Alumni PBI UNUSIDA (Foto: HEC 1 Pare)

Kisah Sukses Dinda Adinda Membangun Ekosistem Bahasa Inggris, Menembus Batas dengan Literasi

Pendidikan bukan sekadar tentang gelar akademik, melainkan bagaimana ilmu yang diperoleh mampu ditransformasikan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat. Prinsip inilah yang dibuktikan oleh Dinda Adinda, S.Pd., alumni inspiratif Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA).

Kini, Dinda dikenal sebagai pendidik yang inspiratif, seorang pengajar muda di bidang pendidikan bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare, Kediri, yang dikenal sebagai terbesar di Indonesia.

Dinda merupakan pengajar aktif Happy English Course (HEC) 1 Pare sekaligus Owner di Samudra Course. Kiprahnya di dunia pendidikan nonformal menjadi bukti bahwa lulusan PBI UNUSIDA memiliki daya saing tinggi, tidak hanya sebagai tenaga pendidik, tetapi juga sebagai edupreneur yang mampu menciptakan lapangan kerja dan menghadirkan inovasi pembelajaran yang adaptif.

Dari Ruang Kelas Menuju Kemandirian Ekonomi
Perjalanan Dinda bermula dari kecintaannya terhadap dunia pendidikan dan metodologi pengajaran yang ia pelajari selama menempuh studi di UNUSIDA. Ia menyadari bahwa penguasaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, merupakan kunci strategis untuk membuka peluang global.

“Ilmu yang saya dapatkan di Prodi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UNUSIDA sangat komprehensif. Tidak hanya tentang grammar dan keterampilan bahasa, tetapi juga bagaimana membangun kepercayaan diri siswa serta mengelola lembaga pendidikan secara profesional,” ungkap Dinda.

Sebagai pemilik Samudra Course, Dinda bertanggung jawab penuh atas manajemen lembaga, pengembangan kurikulum, hingga strategi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan zaman. Di sisi lain, perannya sebagai pengajar di HEC 1 Pare menunjukkan komitmennya untuk tetap hadir langsung di ruang-ruang belajar, menyapa dan membimbing para peserta didik.

Menjaga Integritas dan Semangat Santri
Berkarier di Pare yang dikenal memiliki persaingan lembaga kursus sangat ketat tentu bukan perkara mudah. Namun, Dinda membawa nilai-nilai khas yang ia peroleh selama menempuh pendidikan di UNUSIDA, kerja keras, integritas, dan spiritualitas.

Ia meyakini bahwa pengajaran bahasa Inggris tidak boleh sekadar berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga harus mengedepankan pendekatan humanis dan pembentukan karakter.

“PBI UNUSIDA membekali kami dengan pandangan filosofis bahwa mengajar adalah bagian dari pengabdian. Di Pare, saya tidak hanya melayani dalam pendidikan, tetapi membangun komunitas belajar. Semangat Reach Your Dream Through the Galaxy yang sering digaungkan prodi benar-benar memacu saya untuk bermimpi setinggi mungkin, namun tetap membumi dalam pelayanan,” tuturnya.

Lebih lanjut, Dinda yang juga gemar menulis novel tersebut, berpesan kepada mahasiswa PBI UNUSIDA agar tidak membatasi mimpi hanya pada profesi guru di sekolah formal. Menurutnya, peluang di dunia edupreneurship sangat terbuka lebar, terutama bagi generasi muda yang berani berinovasi.

“Kemampuan bahasa Inggris yang kuat, jika dipadukan dengan keterampilan manajemen dan kreativitas, akan menjadi kombinasi yang sangat kompetitif di dunia kerja,” pesannya.

Keberhasilannya ini menjadi bukti nyata bahwa UNUSIDA mampu mencetak lulusan yang mandiri, adaptif, dan siap menjadi pemimpin di bidangnya. Kisah ini menjadi pengingat bahwa dengan ilmu yang bermanfaat, integritas, dan tekad yang kuat, alumni UNUSIDA mampu menembus batas kemungkinan dan menginspirasi generasi selanjutnya untuk terus bergerak maju.

Athfal Hanif Azwara - Alumni DKV UNUSIDA

Jejak Kreatif Athfal Hanif Azwara: Mengubah Estetika Menjadi Strategi di Industri Creative Marketing

Dunia desain komunikasi visual bukan sekadar tentang menciptakan tampilan yang menarik, melainkan bagaimana sebuah pesan mampu menggerakkan audiens dan memberi nilai strategis bagi sebuah jenama. Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh Athfal Hanif Azwara, S.Ds., alumni Program Studi S1 Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA).

Lulus pada tahun 2022, Hanif sapaan akrabnya, kini menapaki karier profesional sebagai tenaga ahli Creative Marketing di PT Inayalesy Indonesia. Perjalanan kariernya menjadi bukti nyata bahwa proses akademik di UNUSIDA mampu mencetak lulusan yang adaptif, kompetitif, dan siap bersaing di industri kreatif yang terus berkembang.

Menghubungkan Kreativitas dengan Kebutuhan Pasar
Hanif mengungkapkan bahwa bekal ilmu yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di UNUSIDA memberikan fondasi kuat dalam menghadapi tantangan dunia kerja. Di perusahaan tempatnya bernaung saat ini, ia tidak hanya berperan sebagai desainer visual, tetapi juga terlibat dalam perumusan strategi pemasaran kreatif yang mampu menghubungkan produk dengan emosi konsumen.

“DKV UNUSIDA mengajarkan saya bahwa desain adalah proses pemecahan masalah. Di dunia Creative Marketing, kami dituntut berpikir kritis: bagaimana visual tidak hanya menarik, tetapi juga selaras dengan tujuan bisnis perusahaan,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa pemahaman tentang psikologi visual, manajemen branding, dan riset audiens menjadi aspek penting yang sangat relevan dengan kebutuhan industri saat ini.

Tantangan Era Digital dan Bekal dari UNUSIDA
Bekerja di era digital menuntut kecepatan adaptasi terhadap tren dan teknologi. Menurut Hanif, penguasaan perangkat lunak desain saja tidak cukup, tetapi harus dibarengi dengan kemampuan storytelling dan komunikasi visual yang kuat.

Pengalaman berorganisasi serta pendampingan dosen selama kuliah di UNUSIDA turut membentuk mentalitas profesional yang tangguh, komunikatif, dan beretika.

“Keunggulan lulusan UNUSIDA terletak pada nilai etika dan kemaslahatan. Setiap karya tidak hanya berorientasi pada visual, tetapi juga membawa dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat,” tambahnya.

Sebagai alumni, Hanif memberikan pesan inspiratif kepada mahasiswa DKV dan generasi muda UNUSIDA agar memanfaatkan masa kuliah sebagai ruang eksplorasi dan pembentukan portofolio.

Ia mendorong mahasiswa untuk tidak ragu menjelajahi bidang-bidang pendukung seperti riset pemasaran, analisis data media sosial, hingga strategi konten digital. Menurutnya, industri kreatif saat ini membutuhkan talenta multidisipliner yang mampu berpikir strategis sekaligus kreatif.

Keberhasilan Athfal Hanif Azwara di PT Inayalesy Indonesia menjadi kebanggaan tersendiri bagi civitas akademika UNUSIDA. Hal ini menegaskan bahwa lulusan S1 DKV UNUSIDA memiliki daya saing tinggi dan mampu menempati posisi strategis di dunia industri, sekaligus membawa semangat inovasi yang berkelanjutan.

Zahra Jahriah Zainal Alumni PIAUD UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Zahra Jahriah Zainal: Kuliah di PIAUD UNUSIDA Jadi Bekal Membentuk Guru RA yang Percaya Diri dan Profesional

Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) terus membuktikan komitmennya dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara spiritual dan profesional. Hal ini tercermin dari kisah inspiratif Zahra Jahriah Zainal, Alumni Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Tahun 2025, yang kini mengabdikan diri sebagai guru di RA Insan Madani Surabaya.

Zahra mengungkapkan rasa syukur atas pengalaman perkuliahan yang ia jalani selama menempuh studi di UNUSIDA. Menurutnya, proses kuliah tidak hanya memberikan pengetahuan akademik, tetapi juga membentuk karakter dan spiritualitas sebagai calon pendidik.

“Alhamdulillah, kuliah di UNUSIDA memberikan saya banyak pembelajaran berharga, baik akademik maupun spiritual. Pengalaman ini membantu saya lebih percaya diri dan profesional di dunia kerja, dan Alhamdulillah saat ini saya bekerja sesuai dengan jurusan saya,” ungkapnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (16/12/2025).

Sebagai alumni PIAUD, Zahra menilai kesan paling berharga selama kuliah adalah suasana pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna. Ia merasa dibekali ilmu tentang pendidikan anak usia dini yang diajarkan di UNUSIDA sangat relevan, sekaligus diarahkan menjadi pendidik yang berkarakter religius dan memiliki kepedulian tinggi terhadap tumbuh kembang anak.

Ia juga menegaskan bahwa mata kuliah berbasis praktik menjadi bekal utama dalam menjalankan profesinya saat ini. Mata kuliah seperti strategi pembelajaran PAUD, pengembangan kurikulum, asesmen perkembangan anak, serta microteaching sangat membantu Zahra dalam menjalankan tugasnya sebagai guru RA.

Melalui pengalaman akademik yang aplikatif, ditambah suasana kampus yang mendukung pengembangan diri, membuatnya merasa lebih siap ketika memasuki dunia profesional. Ia mengaku mampu beradaptasi dengan cepat, bekerja secara percaya diri, serta menjalankan tugas secara bertanggung jawab sesuai kompetensi yang dimiliki.

“Ilmu tersebut sangat relevan dan langsung dapat diterapkan di RA Insan Madani, mulai dari merancang RPPH, mengelola kelas, hingga memahami karakter setiap anak,” jelasnya.

Lebih lanjut, Zahra menekankan pentingnya menempuh pendidikan sesuai dengan jurusan yang diminati. Menurutnya, kuliah yang linier dengan profesi sangat berpengaruh terhadap rasa percaya diri dan profesionalisme di dunia kerja.

“Kuliah sesuai jurusan itu sangat penting karena membuat saya lebih siap dan yakin menjalankan peran sebagai guru RA, dengan pemahaman yang tepat tentang perkembangan anak dan metode pembelajaran yang sesuai,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Zahra memberikan pesan inspiratif kepada mahasiswa PIAUD UNUSIDA agar benar-benar memanfaatkan masa perkuliahan sebagai proses pembentukan diri. Ia ingin membuktikan bahwa UNUSIDA sebagai kampus NU terus melahirkan lulusan yang religius, profesional, dan siap mengabdi, khususnya di bidang pendidikan anak usia dini, demi mencetak generasi masa depan yang unggul dan berakhlakul karimah.

“Manfaatkan setiap proses perkuliahan dengan sungguh-sungguh. Perbanyak pengalaman praktik, jangan takut belajar dari lapangan, dan tanamkan niat yang tulus dalam mendidik anak. Ilmu yang diperoleh di bangku kuliah akan menjadi bekal berharga saat terjun ke dunia kerja,” pesannya.

Muh. Zakaria Dimas Pratama, S.Kom., Alumni Prodi Informatika UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Muh. Zakaria Dimas Pratama, S.Kom., dari Aktivis Kampus Menuju Anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo

Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menorehkan kebanggaan melalui kiprah salah satu alumninya, Muh. Zakaria Dimas Pratama, S.Kom., yang kini mengemban amanah sebagai Anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo. Lulusan Program Studi Informatika tersebut membagikan kisah inspiratif tentang perjalanan akademik dan pengalaman organisasi yang membentuk karakter serta mengantarnya pada dunia kepemimpinan dan politik.

Dimas sapaan akrabnya, mengenang masa kuliahnya di UNUSIDA sebagai periode yang tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan identitas diri. Ia mengaku bahwa pengalaman paling berkesan adalah ketika aktif dalam organisasi kemahasiswaan.

“Menjadi mahasiswa di UNUSIDA adalah pengalaman yang bukan hanya sebatas akademik, tetapi perjalanan pembentukan karakter. Melalui organisasi, saya belajar mengelola waktu antara kuliah, kegiatan, dan kehidupan pribadi,” ujarnya.

Keterlibatannya dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan memberikan ruang belajar yang luas di luar kelas. Diskusi panjang, kegiatan sosial, hingga advokasi mahasiswa menjadi sarana untuk memahami arti kepemimpinan, solidaritas, serta keberanian menyuarakan aspirasi.

“UNUSIDA memberi wadah bagi kami untuk tumbuh melalui forum ilmiah, pengabdian masyarakat, dan kegiatan budaya. Yang paling berkesan adalah bagaimana kami saling mendukung dan bergandengan tangan untuk mewujudkan perubahan kecil yang bermanfaat,” tambahnya.

Menurutnya, pengalaman sebagai aktivis kampus menjadi bekal berharga dalam perjalanan hidupnya setelah lulus. Ia belajar bahwa gelar akademik harus diimbangi dengan integritas, jiwa sosial, serta kepedulian terhadap sesama, nilai yang terus ia pegang dalam dunia profesional dan pengabdiannya di masyarakat.

Peran UNUSIDA dalam Perjalanan Karier
Dimas menegaskan bahwa UNUSIDA memiliki peran besar dalam membentuk dirinya hingga dipercaya duduk sebagai wakil rakyat.

“Di bangku kuliah, saya tidak hanya mendapatkan ilmu akademik, tetapi juga dibentuk dengan nilai kepemimpinan, tanggung jawab, dan kepedulian sosial,” jelasnya.

Organisasi kemahasiswaan, diskusi intelektual, serta kegiatan pengabdian masyarakat melatihnya untuk menyerap aspirasi, memahami persoalan di lapangan, dan mencari solusi tepat. Pengalaman-pengalaman inilah yang menguatkan mentalitasnya ketika menghadapi dinamika politik di DPRD.

“Kampus mengajarkan kedisiplinan, komitmen, dan pentingnya menjaga integritas. Nilai-nilai ini saya bawa ketika mengemban amanah sebagai wakil rakyat,” ungkapnya.

Ia menilai bahwa UNUSIDA bukan sekadar tempat menimba ilmu, tetapi merupakan kawah candradimuka yang menyiapkan mahasiswa untuk berkiprah lebih luas, termasuk dalam ranah kepemimpinan dan pelayanan publik.

Alumni yang Menjadi Teladan
Kisah perjalanan Muh. Zakaria Dimas Pratama menjadi inspirasi bagi seluruh mahasiswa UNUSIDA. Dedikasinya dalam organisasi, semangat belajar, serta komitmennya dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat menunjukkan bahwa pendidikan tinggi bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter mulia dan integritas.

“Ia berharap kehadiran para alumni dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa agar terus berkembang, berprestasi, dan berkontribusi bagi masyarakat, bangsa, serta Nahdlatul Ulama,” pungkasnya.

Alumni Prodi Infromatika Unusida, Edi Arianto atau Mas Owdy saat menerima Penghargaan Santri of The Year 2025 Kategori Santri Milenial Inspiratif (Foto: Mas Owdy)

Alumni Informatika UNUSIDA, Edi Arianto Raih Penghargaan “Santri of The Year 2025” Kategori Santri Milenial Inspiratif

SIDOARJO — Alumni Program Studi (Prodi) Informatika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Edi Arianto, atau yang akrab disapa Mas Owdy, berhasil menorehkan prestasi membanggakan di penghujung tahun 2025. Ia dianugerahi Penghargaan Santri of The Year 2025 Kategori Santri Milenial Inspiratif. Penghargaan tersebut diberikan oleh Islam Nusantara Center (INC) bekerja sama dengan DPR RI dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional 2025, yang puncaknya digelar di Kompleks DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Ahad (9/11/2025) lalu.

Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan kreativitasnya dalam berdakwah melalui media digital. Melalui karya-karya konten positif dan syiar shalawat, Edi Arianto dinilai mampu menghadirkan semangat keislaman yang damai, kreatif, dan relevan dengan generasi muda masa kini.

Dalam kesempatan tersebut, ia mengungkapkan rasa syukur dan haru atas penghargaan yang diterimanya. Ia mendedikasikan capaian tersebut kepada seluruh pihak yang telah berperan dalam perjalanan hidup dan kariernya.

“Alhamdulillah, di penghujung tahun 2025 ini kami mendapatkan penghargaan Santri of The Year 2025. Penghargaan ini saya persembahkan untuk kedua orang tua, istri tercinta, para guru, sahabat, kerabat, serta keluarga besar Banjari Hero Multimedia dan Delta Video Shooting. Semoga prestasi ini menambah semangat untuk terus bersyiar melalui konten positif di media sosial, serta menjadi inspirasi bagi santri lainnya,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (11/11/2025).

Ajang Santri of The Year merupakan kegiatan tahunan yang digelar untuk menampilkan figur-figur santri yang memberikan kontribusi nyata bagi bangsa, baik melalui gagasan, karya, maupun prestasi. Pada tahun ini, INC memperkenalkan beberapa kategori baru, di antaranya Santri Milenial Inspiratif, Santri Legislator Inspiratif, Santri Perempuan Penggerak Inspiratif, Santri Bhayangkara Inspiratif, dan Mahasantri Bhakti Negeri.

Secara umum, kategori Santri Milenial Inspiratif diberikan kepada individu yang dinilai berhasil memanfaatkan teknologi dan platform digital untuk menyebarkan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan. Dalam hal ini, Edi Arianto menonjol karena konsistensi dan orisinalitasnya dalam menggabungkan tradisi pesantren (shalawat) dengan media modern seperti YouTube dan broadcast digital.

“Konten saya bukan sekadar hiburan, tapi juga dakwah yang ringan, relevan, dan mudah diterima audiens milenial. Ini adalah upaya membawa ruh pesantren ke ruang digital yang sangat luas. Kami berupaya menjembatani gap antara kearifan lokal pesantren dengan tren global digital,” ungkapnya.

Edi menuturkan bahwa motivasinya sederhana, yakni khidmah (pengabdian) kepada para guru, kiai, dan agamanya. Melalui karya konten shalawat dan siar digital, ia ingin menunjukkan bahwa santri tidak hanya bisa mengaji kitab kuning, tetapi juga bisa menjadi pelopor dakwah kreatif di era modern.

“Konten shalawat yang saya buat adalah bentuk rasa cinta dan syukur kepada Rasulullah SAW. Saya ingin menunjukkan bahwa santri juga bisa menjadi garda terdepan dalam menyebarkan kedamaian, akhlakul karimah, dan kecintaan kepada Nabi melalui bahasa dan platform yang dimengerti oleh anak muda,” terangnya.

Bagi Edi, penghargaan ini bukan sekadar pengakuan nasional, melainkan amanah besar untuk terus konsisten dalam berdakwah melalui media digital. Edi juga menceritakan bahwa sumber inspirasinya datang dari dua kutub penting dalam kehidupannya.

“Pertama, para kiai dan guru di pesantren yang mengajarkan tentang istiqamah dan keikhlasan. Mereka adalah kompas spiritual saya. Kedua, tokoh-tokoh santripreneur yang sukses memadukan nilai spiritual dengan profesionalisme. Mereka menjadi contoh bahwa santri juga bisa modern tanpa kehilangan ruh keislamannya,” jelasnya.

Kombinasi ajaran salaf dan semangat milenial inilah yang menurutnya menjadi energi tak terbatas dalam setiap karya yang ia hasilkan. “Apresiasi ini adalah cambuk semangat untuk terus berbuat baik. Saya ingin setiap karya digital santri menjadi bagian dari dakwah yang menenangkan, bukan memecah. Karena dunia digital pun bisa menjadi ladang amal jika dijalani dengan niat yang tulus,” tandasnya.

Alumni Pondok Pesantren Sabilillah Lamongan tersebut, berharap dapat terus menjadi inspirasi bagi santri-santri muda di seluruh Indonesia untuk berani berkarya, berinovasi, dan berdakwah dengan cara yang kreatif namun tetap berakar pada nilai-nilai pesantren.

“Bagi saya, kata inspiratif bagi santri milenial adalah tentang kemampuan untuk beradaptasi tanpa kehilangan identitas. Inspiratif berarti menjadi jembatan: menjembatani ajaran salaf dengan tantangan khalaf (masa kini); menjembatani ruang Pesantren yang damai dengan hutan belantara dunia maya yang kadang toksik,” imbuhnya.

Menurutnya, santri masa kini harus mampu menjadi Filter dan Fountain di dunia digital. “Sebagai Filter, santri harus mampu menyaring hoaks, radikalisme, dan konten negatif dengan bekal ilmu agama dan akhlaq. Sebagai Fountain (air mancur), santri juga harus aktif menyebarkan konten positif dan mencerahkan. Bukan hanya mengaji teks, tapi juga mengaji konteks. Literasi digital adalah bagian dari dakwah masa kini,” terangnya.

Melalui kanal dan komunitas kreatif yang ia rintis, seperti Banjari Hero Multimedia dan Delta Video Shooting, ia berupaya menghidupkan semangat dakwah yang ringan, estetis, dan mudah diterima generasi muda. Konten yang ia produksi tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi sarana syiar yang menyejukkan dan penuh nilai spiritual.

Ke depan, Edi yang juga mahir bermain berbagai alat musik seperti rebana, kendang dan piano modern tersebut, berkomitmen memperluas ekosistem broadcast dan santripreneurship yang telah dibangunnya. Ia berharap pemerintah dan lembaga terkait dapat memberikan dukungan nyata berupa pelatihan digital, infrastruktur, dan permodalan bagi para santri kreatif di seluruh Indonesia.

“Langkah terdekat adalah memperluas ekosistem broadcast dan entrepreneurship yang sudah ada. Saya ingin menciptakan lebih banyak ruang bagi santri lain untuk berkolaborasi dan berkarya. Harapan saya, kategori Santri Milenial Inspiratif ini terus ada dan makin diakui secara nasional,” harapnya.

“Jadilah santri yang merawat tradisi dan merangkul teknologi. Jangan takut dengan perubahan zaman. Pondasi kita adalah tafaqquh fiddin dan akhlaq mulia. Manfaatkan gadget bukan hanya untuk konsumsi, tapi untuk kontribusi. Jadikan setiap karya sebagai dakwah, dan setiap unggahan sebagai amal jariyah. Karena masa depan bangsa ini ada di tangan santri yang berdaya di segala bidang,” pungkasnya. (MY)

Mohamad Gofur, S.T. Alumni Teknik Industri UNUSIDA

Mohamad Gofur, Alumni Teknik Industri UNUSIDA Buktikan Peran Kampus Penting dalam Karir Profesional

Mohamad Gofur, S.T., alumnus Program Studi Teknik Industri Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) tahun 2022 yang kini berkarier di PT Bintang Indokarya Gemilang pada bagian HR Insurance. Sebuah pencapaian yang ia raih berkat perpaduan antara ilmu, pengalaman organisasi, dan nilai-nilai pesantren yang melekat kuat dalam dirinya.

Gofur menuturkan bahwa pengalaman belajar selama kuliah di UNUSIDA menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter profesional dan kemampuan manajerialnya di dunia kerja. Ia menilai bahwa kurikulum Teknik Industri UNUSIDA tidak hanya fokus pada teori, tetapi juga menanamkan keterampilan praktis serta etika kerja yang kuat.

“Banyak hal yang saya pelajari di kampus sangat relevan dengan pekerjaan saya sekarang. Mulai dari manajemen industri, pengelolaan sumber daya manusia, hingga kemampuan komunikasi dan leadership. Semua itu menjadi bekal berharga untuk menunjang karier saya di dunia industri,” ungkapnya kepada Humas UNUSIDA, Kamis (6/11/2025).

Selain pembelajaran di kelas, Gofur juga mengakui bahwa lingkungan kampus yang inklusif dan kolaboratif turut membentuk kepercayaan dirinya untuk terus berkembang. Dukungan dosen dan kesempatan mengikuti berbagai kegiatan kampus menjadi pengalaman berharga yang memperluas wawasan dan jejaring profesionalnya.

“Peran kampus dalam karier saya sangat luar biasa, pengalaman belajar di UNUSIDA membentuk karakter profesional dan kemampuan manajerial yang menjadi bekal penting di dunia kerja,” katanya.

Selain itu, pria asli Brebes, Jawa Tengah ini dikenal sebagai sosok mahasiswa aktif dan berprestasi selama menempuh studi di UNUSIDA. Gofur memulai kiprahnya di organisasi mahasiswa sejak tahun pertama, bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Program Studi (Hima Prodi) Teknik Industri, kemudian melanjutkan langkahnya ke Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik (BEM FT).

Puncaknya, pada tahun 2021, ia dipercaya menjabat sebagai Ketua BEM Fakultas Teknik UNUSIDA. Melalui peran tersebut, Gofur banyak belajar tentang kepemimpinan, manajemen tim, dan komunikasi lintas organisasi, kemampuan yang kini sangat berguna dalam karier profesionalnya.

“Organisasi mengajarkan saya bagaimana mengelola waktu, berkoordinasi dengan banyak pihak, dan mengambil keputusan yang berdampak. Semua itu menjadi bekal nyata ketika saya terjun ke dunia kerja,” ujarnya.

Tak hanya aktif di kampus, Gofur juga menjalani kehidupan sebagai santri Pondok Pesantren Al Kholil, Jetis, Sidoarjo, yang diasuh oleh Gus Arisy Karomy. Selama kuliah, ia tetap konsisten mengabdi di pondok sambil menyeimbangkan antara tanggung jawab akademik dan spiritual.

“Menjadi santri membuat saya belajar disiplin, tangguh, dan rendah hati. Nilai-nilai itulah yang selalu saya bawa dalam bekerja dan berinteraksi,” tutur Gofur.

Kini, setelah menapaki dunia profesional, Gofur melihat bahwa kombinasi antara pendidikan tinggi dan nilai-nilai pesantren merupakan kekuatan luar biasa dalam membentuk karakter dan integritas seseorang. Ia berharap semakin banyak mahasiswa UNUSIDA yang percaya diri untuk bersaing di dunia kerja dengan bekal kemampuan, karakter, dan nilai-nilai yang ditanamkan selama kuliah.

“Oleh karena itu, jangan takut untuk bermimpi besar. Kampus sudah memberi kita pondasi melalui ilmu, organisasi memberi pengalaman, dan pesantren memberi arah hidup. Semua saling melengkapi, tinggal bagaimana kita berusaha dan terus belajar,” pungkasnya.