Pos

LKMM-TD FAI UNUSIDA di Pondok Darul Muta'alimin, Trawas, Mojokerto (Foto: Humas UNUSIDA)

FAI UNUSIDA Sukses Gelar LKMM-TD, Tekankan Kepemimpinan yang Berakhlak dan Berdampak

SIDOARJO — Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Dasar (LKMM-TD) bertema ‘Pemimpin Muda Berakhlaqul Karimah, Inovatif, Kolaboratif, dan Berdampak’ yang dilaksanakan di i Kampus 2 UNUSIDA dan Pondok Darul Muta’alimin, Trawas, Mojokerto, Selasa–Rabu (14–15/4/2026).

Selama dua hari, peserta mengikuti sesi materi kepemimpinan, manajemen kegiatan, komunikasi tim, serta refleksi nilai akhlak dalam kepemimpinan. Kegiatan juga menyesuaikan kondisi peserta, termasuk yang sudah bekerja dan berkeluarga.

Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., menegaskan pentingnya arah dan perencanaan yang jelas dalam pengembangan perguruan tinggi. Menurutnya, LKMM-TD menjadi bagian dari ikhtiar kampus menyiapkan mahasiswa yang relevan dengan kebutuhan lapangan.

“Perguruan tinggi harus memiliki kompas yang jelas. LKMM ini bagian dari perencanaan itu, agar mahasiswa memiliki kapasitas manajerial, kemampuan komunikasi, dan kesiapan menghadapi tantangan nyata,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya penguatan kemampuan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, sebagai bekal interaksi global mahasiswa di masa depan.

Menurutnya, mahasiswa saat ini harus memiliki kesiapan menghadapi dunia yang semakin terhubung secara internasional. Penguasaan bahasa Inggris dinilai menjadi salah satu kompetensi penting agar lulusan mampu bersaing, berjejaring, serta beradaptasi di tingkat global.

“Mahasiswa perlu mempersiapkan diri sejak dini, tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga kemampuan bahasa asing sebagai sarana komunikasi dan interaksi global,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Panitia LKMM-TD, Ganal Arief Rahmawan, S.Psi., M.Si., menjelaskan bahwa kegiatan tahun ini difokuskan sebagai pembekalan dasar manajemen organisasi, penguatan kemampuan problem solving, serta keterampilan mengelola diri dan tim.

Ia menyampaikan, LKMM-TD dirancang sebagai fondasi dalam membangun kapasitas kepemimpinan mahasiswa. Selain itu, kegiatan juga menjadi ruang belajar bersama melalui penyampaian materi, diskusi interaktif, hingga simulasi yang aplikatif.

“Melalui LKMM-TD ini, kami berharap akan lahir pemimpin muda dari FAI UNUSIDA yang tidak hanya cakap secara manajerial, tetapi juga berakhlak, adaptif, dan mampu berkolaborasi memberi dampak di lingkungan organisasi maupun masyarakat,” pungkasnya.

Pembekalan dan Pelepasan PLP PIAUD FAI UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

PIAUD UNUSIDA Lepas Peserta PLP Perdana, Siap Memberi Dampak di Sekolah

SIDOARJO — Mahasiswa Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) bersiap menjalani Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) perdana di sejumlah sekolah mitra. Sejumlah mahasiswa telah diberikan bekal dan secara resmi dilepas pada Senin (13/4/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., mengapresiasi kesiapan Prodi PIAUD dalam menyiapkan PLP perdana ini melalui perencanaan yang terstruktur.

“Menjadi pendidik anak usia dini membutuhkan fondasi karakter yang kuat. Pengalaman praktik ini penting agar mahasiswa siap menghadapi tantangan nyata di lapangan,” ujarnya saat menyampaikan sambutan.

Ia berharap, setelah PLP perdana ini, mahasiswa PIAUD UNUSIDA tidak hanya belajar dari praktik, tetapi juga mampu memberikan dampak positif di sekolah mitra melalui pembelajaran yang inspiratif dan bermakna bagi anak-anak.

“Menjadi guru anak usia dini membutuhkan fondasi karakter yang kuat. PLP ini diharapkan menjadi batu loncatan penting bagi penguatan kualitas mahasiswa sekaligus perkembangan UNUSIDA,” ungkapnya.

Sebelum diterjunkan, mahasiswa mengikuti pembekalan yang menekankan kesiapan pedagogik, kemampuan beradaptasi, serta penguatan karakter sebagai calon pendidik. Pembekalan ini juga membahas peran guru pamong di sekolah mitra yang akan mendampingi proses belajar mahasiswa selama PLP berlangsung.

Wakil Dekan FAI UNUSIDA Shofiyatuz Zahroh, M.Pd., menyampaikan bahwa PLP bukan sekadar agenda akademik, tetapi ruang belajar nyata bagi mahasiswa untuk memahami dinamika kelas, karakter anak, serta manajemen pembelajaran yang kreatif dan ramah anak. Menurutnya, kegiatan ini menjadi tahap awal mahasiswa terjun langsung ke lingkungan pendidikan anak usia dini dengan bekal kompetensi, etika profesi, dan semangat pengabdian.

“Mahasiswa saya harap mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di perkuliahan, menjaga etika, dan membawa nama baik almamater selama berada di sekolah,” pesannya.

Ia menyebutkan bahwa mahasiswa yang mengikuti PLP telah memenuhi persyaratan akademik dan dinilai siap mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah. Kegiatan ini menjadi momentum peneguhan peran mahasiswa sebagai calon guru yang siap belajar dari praktik nyata, beradaptasi dengan lingkungan pendidikan, serta menghadirkan pembelajaran yang ramah, kreatif, dan bermakna bagi anak-anak. Selain pembekalan kompetensi, mahasiswa juga mendapat penguatan etika profesi dan kesiapan mental sebelum diterjunkan ke sekolah.

“Silakan kembangkan ilmu di sekolah mitra dengan bimbingan guru pamong. Manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya dan buktikan bahwa kalian calon guru yang profesional. Jaga nama baik almamater, patuhi arahan pembimbing, serta terus belajar mengembangkan diri,” pungkasnya.

Dr. Rangga Sa’adillah S.A.P. (Kabag MKU UNUSIDA)

Memperoleh Lailatul Qadar dan Habituasi Setelahnya, Membangun Spiritualitas yang Berkelanjutan

Malam 27 Bulan Ramadhan kali ini tampak berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Pada malam ini hampir separuhnya diguyur hujan dengan intensitas tinggi hingga sedang. Bagi sebagian wilayah yang merasakan guyuran hujan dengan intensitas tinggi mereka akan merasakan bahwa hujan pada malam ini tidak menimbulkan dampak negatif, seperti banjir yang merusak atau angin yang memporak-porandakan lingkungan. Kelembaban udara serta suhu pada malam ini juga tidak begitu gerah dan tidak begitu dingin serasa sejuk meski tidak ada angin yang berhembus.

Suasana yang nyaman pada malam 27 ini dimanfaatkan oleh banyak orang untuk beribadah secara individual maupun kolektif. Pada waktu sepertiganya, sekitar pukul satu dini hari. Tampak terlihat beberapa kerumunan orang berbondong-bondong ke masjid atau musholla untuk qiyamul lail. Mereka benar-benar menghidupkan malam ini dengan pengabdian penuh kepada Allah SWT. Shalat Tahajud, Shalat Taubat, Shalat Hajat hingga Shalat Tasbih mereka persembahkan untuk Allah. Demikian juga dengan panjatan harapan serta doa terbaik mereka mohonkan kepada Sang Penunai Hajat. Mereka menengadahkan tangan, memohon, meminta, memuji, mengagungkan Tuhan Semesta Alam. Memang pada dasarnya malam 27 ini seperti terkondisikan nyaman untuk beribadah.

Praktik beribadah secara kolektif semacam ini dilakukan dengan berbagai macam motivasi. Seperti motivasi untuk memperoleh fadhilah malam Lailatul Qadar. Beribadah dengan motivasi mendapatkan Lailatul Qadar sah saja sebab kaum Muslimin memang diajarkan untuk mencari dan menghidupkan malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Artinya, nilai ibadah pada malam tersebut memiliki keutamaan yang luar biasa besar, melampaui nilai ibadah yang dilakukan selama puluhan tahun.

Motivasi memperoleh Lailatul Qadar inilah yang kemudian mendorong banyak orang untuk meningkatkan intensitas ibadahnya pada penghujung Ramadhan. Masjid-masjid yang biasanya mulai sepi setelah pertengahan malam tiba-tiba kembali hidup. Lampu-lampu menyala, lantunan doa terdengar khusyuk, dan jamaah duduk bersila membaca Al-Qur’an atau berzikir dengan penuh harap. Ada semacam kesadaran kolektif bahwa kesempatan ini tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Namun demikian, terdapat satu pertanyaan penting yang patut kita renungkan bersama. Apakah semangat ibadah yang memuncak pada malam-malam tertentu di bulan Ramadhan itu akan terus berlanjut setelah Ramadhan berlalu? Ataukah semangat tersebut hanya menjadi fenomena musiman yang menghilang begitu saja ketika kalender telah berganti menjadi bulan Syawal?

Di sinilah pentingnya memahami makna spiritual Lailatul Qadar secara lebih mendalam. Lailatul Qadar bukan sekadar malam yang diburu untuk mendapatkan pahala berlipat ganda, tetapi juga momentum transformasi spiritual bagi seorang Muslim. Malam ini seharusnya menjadi titik balik kesadaran manusia untuk memperbaiki hubungan dengan Tuhan sekaligus memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Jika seseorang benar-benar merasakan kehadiran spiritual Lailatul Qadar, maka dampaknya tidak berhenti pada satu malam saja. Pengalaman spiritual tersebut semestinya melahirkan perubahan sikap, perubahan perilaku, dan perubahan orientasi hidup hingga seribu bulan lamanya. Orang yang merasakan kedekatan dengan Tuhan pada malam itu akan terdorong untuk mempertahankan kualitas ibadahnya pada hari-hari berikutnya, itulah Lailatul Qadar yang membekas pada spiritualitasnya.

Dalam perspektif pendidikan spiritual, hal ini dapat disebut sebagai proses habituasi atau pembiasaan. Ramadhan pada dasarnya adalah madrasah ruhaniyah yang melatih manusia untuk membentuk kebiasaan baik. Puasa melatih pengendalian diri, tarawih melatih konsistensi ibadah malam, sedekah melatih kepedulian sosial, dan tadarus Al-Qur’an melatih kedekatan dengan wahyu Ilahi.

Semua latihan tersebut mencapai puncaknya pada sepuluh hari terakhir Ramadhan ketika umat Islam berlomba-lomba mencari Lailatul Qadar. Namun, tujuan akhir dari latihan tersebut bukanlah sekadar pengalaman spiritual yang bersifat sesaat, melainkan terbentuknya karakter religius yang berkelanjutan.

Dalam konteks inilah, habituasi setelah Ramadan menjadi sangat penting. Orang yang terbiasa bangun malam selama Ramadhan idealnya tetap melanjutkan kebiasaan tersebut meskipun dalam kadar yang lebih sederhana. Orang yang terbiasa membaca Al-Qur’an setiap hari selama Ramadhan juga diharapkan tetap menjaga kedekatannya dengan Al-Qur’an pada bulan-bulan berikutnya. Demikian pula dengan kebiasaan bersedekah, menjaga lisan, dan memperbanyak doa.

Habituasi ini penting karena dalam ajaran Islam, amal yang paling dicintai oleh Allah bukanlah amal yang besar tetapi dilakukan sekali, melainkan amal yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit. Konsistensi atau istiqamah inilah yang menjadi indikator kematangan spiritual seseorang.

Dengan demikian, keberhasilan seseorang memperoleh keberkahan Lailatul Qadar tidak hanya diukur dari seberapa khusyuk ia beribadah pada malam itu, tetapi juga dari sejauh mana ia mampu mempertahankan nilai-nilai spiritual Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari setelahnya. Jika setelah Ramadhan seseorang kembali pada kebiasaan lama yang jauh dari nilai-nilai ketakwaan, maka bisa jadi ia hanya mendapatkan euforia spiritual sesaat tanpa transformasi yang nyata.

Sebaliknya, jika pengalaman spiritual pada malam-malam Ramadhan mampu melahirkan kebiasaan baik yang terus dipelihara, maka di situlah hakikat keberkahan Lailatul Qadar benar-benar terwujud. Malam itu tidak hanya menjadi malam yang penuh pahala, tetapi juga menjadi awal dari perjalanan spiritual yang lebih matang.

Walhasil, Lailatul Qadar bukan hanya tentang satu malam yang penuh kemuliaan, tetapi tentang bagaimana kemuliaan malam tersebut mampu membentuk kebiasaan hidup yang lebih baik hingga seribu bulan. Ramadhan mungkin akan berlalu, tetapi nilai-nilai spiritual yang ditanamkan di dalamnya seharusnya tetap hidup dalam diri setiap Muslim. Dengan cara itulah, cahaya Lailatul Qadar tidak hanya menerangi satu malam, tetapi juga menerangi perjalanan hidup manusia sepanjang waktu. Semoga kita diperkenankan oleh Allah untuk menjumpai Ramadhan berikutnya.

Oleh: Dr. Rangga Sa’adillah S.A.P. (Kabag MKU UNUSIDA)

Kepala UPT PIK UNUSIDA, Aris Kuswanto saat menerima penghargaan LPTNU Award 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

Kepala UPT PIK UNUSIDA, Aris Kuswanto Raih Peringkat 2 Dosen Berdampak pada Masyarakat dalam Anugerah LPTNU Award 2026

SIDOARJO – Kepala UPT Pengkajian Islam dan Keaswajaan (PIK) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Aris Kuswanto, M.Pd.I, meraih Peringkat 2 Kategori Dosen Berdampak pada Masyarakat Bidang Khidmat Jam’iyah dalam ajang Anugerah LPTNU Award 2026 di Auditorium Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) Tower Lt.9 Jalan Jemursari No.51-57 Surabaya, Selasa (10/03/2026) malam.

Penghargaan ini diberikan oleh Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebagai bentuk apresiasi kepada dosen yang dinilai memiliki kontribusi nyata dalam pengabdian kepada masyarakat serta penguatan nilai-nilai ke-NU-an di lingkungan perguruan tinggi.

Menanggapi penghargaan tersebut, Aris Kuswanto menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT atas kesempatan yang diberikan untuk terus berkhidmat melalui dunia pendidikan tinggi.

“Pertama tentu saya bersyukur kepada Allah SWT karena diberi kesempatan untuk terus melanjutkan khidmah melalui pendidikan tinggi sebagai dosen, akademisi, dan pendidik. Bisa bertemu dengan mahasiswa, berdiskusi dengan sesama dosen, serta bersama-sama berkontribusi untuk kemajuan pendidikan dan bangsa,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA, Jum’at (13/3/2026).

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan dukungan, mulai dari LPTNU, pimpinan UNUSIDA, hingga rekan-rekan dosen serta civitas akademika yang selama ini bekerja bersama dalam membangun kampus. Menurutnya, penghargaan tersebut bukanlah capaian pribadi semata, melainkan hasil dari kerja bersama seluruh elemen di lingkungan UNUSIDA.

“Ini sebenarnya bukan prestasi individu. Banyak pihak yang berkontribusi dan bekerja keras di kampus. Kebetulan saja nama saya yang mewakili dalam kategori ini. Jadi penghargaan ini milik kita bersama,” ungkapnya.

Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UNUSIDA tersebut, mengenang perjalanan panjang keterlibatannya dalam proses berdirinya UNUSIDA sejak masa awal perintisan. Ia mengaku turut berkontribusi dalam berbagai upaya pengembangan kampus, mulai dari penyusunan kurikulum Aswaja, pendampingan organisasi kampus, hingga berbagai tugas pengelolaan lembaga.

“Sejak sebelum kampus berdiri kami sudah berikhtiar bersama, baik secara lahir maupun batin. Saya juga pernah diminta membantu menyusun kurikulum Aswaja, ikut dalam berbagai tim pengembangan, hingga mendampingi pengelolaan di beberapa unit di kampus,” jelasnya.

Baginya, khidmah di perguruan tinggi merupakan bentuk pelayanan terhadap lembaga dan masyarakat. Dalam konsep tersebut, dosen tidak hanya mengajar, tetapi juga melayani dan memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan institusi.

“Dalam khidmah, kita melayani lembaga. Artinya kita menjalankan tugas sesuai amanah yang diberikan. Sebagai pelayan lembaga, tugas kita adalah melaksanakan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya,” tuturnya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga keistiqamahan dalam berjuang membangun lembaga pendidikan. Menurutnya, perjalanan membangun kampus tidak selalu mudah, karena terdapat berbagai tantangan yang harus dihadapi.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Kholil, Jetis, Sidoarjo tersebut mengingat kembali masa-masa awal ketika UNUSIDA masih menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari sarana prasarana hingga proses perkuliahan yang harus menumpang di beberapa sekolah.

“Kami pernah mengalami masa ketika kampus masih kekurangan ruang kelas dan harus menumpang di sekolah lain. Bahkan ada pengalaman-pengalaman yang cukup menguji kesabaran. Namun semua itu menjadi bagian dari proses perjuangan,” kenangnya.

Kini, setelah berbagai upaya dan kerja keras dilakukan, ia mengaku bersyukur dapat menyaksikan perkembangan UNUSIDA yang semakin maju dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

“Sekarang kita mulai menikmati hasil dari perjuangan tersebut. Ini sekaligus menjadi tantangan bagi kita semua untuk tetap menjaga keikhlasan dan komitmen dalam berkhidmah,” katanya.

Selain manfaat ekonomi, Aris menilai pengabdian di perguruan tinggi juga memberikan banyak pengalaman berharga, seperti perluasan jaringan, peningkatan kapasitas keilmuan, serta kesempatan bertemu dengan berbagai tokoh akademisi dan ulama.

“Banyak hal yang saya dapatkan di sini, bukan hanya materi tetapi juga ilmu, jaringan pertemanan, serta kesempatan belajar dari para profesor, doktor, dan kiai. Itu semua menjadi pengalaman yang sangat berharga,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Aris memberikan pesan kepada generasi muda, khususnya para akademisi dan mahasiswa, agar tetap istiqamah dalam menjalankan tugas dan proses kehidupan.

“Pesannya sederhana, nikmati proses yang diberikan Allah kepada kita. Jalankan tugas dengan sebaik-baiknya, terus belajar, dan tingkatkan kapasitas intelektual serta emosional. Jika itu dilakukan dengan sungguh-sungguh, insyaAllah hasilnya akan mengikuti,” pesannya.

UNUSIDA dan BRIDA Jawa Timur Gelar Seminar Proposal Penelitian tentang Pemahaman Orang Tua terhadap Stunting (Foto: Humas UNUSIDA)

Dosen PIAUD UNUSIDA Jalin Kerja Sama Penelitian bersama BRIDA Jawa Timur tentang Pemahaman Orang Tua terhadap Stunting

SIDOARJO — Dosen Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Jawa Timur melakukan penelitian berdampak tentang Pemahaman Orang Tua terhadap Stunting.

Penelitian ini mengangkat judul ‘Analisis Tingkat Pemahaman Orang Tua tentang Stunting (Kesehatan dan Gizi) pada Anak Usia Dini (4–6 Tahun) (Studi Kasus di Sidoarjo–Sumenep)’. Penelitian ini diketuai oleh Shofiyatuz Zahro, S.Sos., M.Pd., dengan anggota Dr. H. Rangga Sa’adillah, S.A.P., M.Pd.I. dan Rif’atul Anita, S.Pd., M.Pd.

Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terjalinnya kerja sama penelitian tersebut. Ia menjelaskan bahwa UNUSIDA sebagai perguruan tinggi yang relatif muda memiliki energi besar untuk berkembang melalui kolaborasi.

“Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo memang belum lama berdiri, namun kami memiliki kekuatan energi dan semangat kolaborasi. Kerja sama seperti ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas akademik dan memberikan solusi nyata bagi masyarakat,” ujarnya saat menyampaikan sambutan dalam Seminar Proposal, di Hall Kampus 2 Unusida, Lingkar Timur, Sidoarjo, Kamis (19/2/2026).

Ia menambahkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai pusat solusi berbagai persoalan sosial, termasuk isu kesehatan masyarakat seperti stunting. Oleh karena itu, kolaborasi lintas lembaga dinilai menjadi jalan terbaik untuk meningkatkan mutu penelitian sekaligus memberikan dampak nyata.

“Riset kali ini menjadi bagian dari upaya kolaboratif antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam menghasilkan riset yang berdampak bagi masyarakat. Hal ini menjadi momentum penting bagi UNUSIDA untuk terus memperkuat budaya riset kolaboratif yang berdampak bagi masyarakat luas.,” katanya.

Sementara itu, Ketua BRIDA Jawa Timur, Dr. Andriyanto, S.H., M.Kes., menjelaskan bahwa penelitian ini didukung melalui anggaran pokok pikiran anggota DPRD Jawa Timur. Meski demikian, ia menegaskan bahwa proses penelitian harus tetap profesional, independen, dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Tema stunting merupakan prioritas di Jawa Timur. Hasil penelitian harus benar-benar bermanfaat dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik sehingga mampu memberikan kontribusi bagi kebijakan pemerintah,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Tim Penjamin Mutu BRIDA Jawa Timur, Prof. Dr. Suparto Wijoyo, S.H., M.Hum., menilai penelitian ini menarik dan inovatif karena berfokus pada akar persoalan stunting, yaitu pemahaman orang tua. Ia menekankan bahwa penelitian tidak hanya berhenti pada kajian akademik, tetapi perlu menghasilkan rekomendasi kebijakan yang aplikatif.

Menurutnya, pendekatan penelitian harus mampu menggali interaksi orang tua dengan anak secara lebih mendalam, termasuk pola pemberian makanan, perilaku kesehatan, hingga edukasi praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui seminar proposal ini, Wakil Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) tersebut berharap penelitian kolaboratif antara UNUSIDA dan BRIDA Jawa Timur dapat menghasilkan data ilmiah yang komprehensif sekaligus rekomendasi kebijakan berbasis bukti dalam upaya pencegahan stunting di wilayah Sidoarjo hingga Sumenep.

“Kompetisi hari ini dimenangkan oleh mereka yang mau berkolaborasi. Teruslah berkomitmen pada riset yang sungguh-sungguh agar UNUSIDA semakin berkontribusi bagi masyarakat,” pungkasnya.

FAI UNUSIDA Launching Program Pembiasaan Amaliyah Aswaja (P2A) (Foto: Humas UNUSIDA)

Cetak Pemimpin Keagamaan Muda, FAI UNUSIDA Launching Program Pembiasaan Amaliyah Aswaja

SIDOARJO — Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) secara resmi meluncurkan Program Pembiasaan Amaliyah Aswaja (P2A) sebagai ikhtiar strategis dalam membentuk karakter mahasiswa yang religius, berakhlak, serta siap menjadi pemimpin kegiatan keagamaan di tengah masyarakat. Kegiatan tersebut dipusatkan di Hall Kampus 2 Gedung A, Lantai 5 UNUSIDA, Jum’at (23/1/2026).

Launching program ini disampaikan langsung oleh Dekan FAI UNUSIDA, Feri Kuswanto, S.Pd.I., M.Pd.I., yang menegaskan bahwa pelaksanaan P2A telah dipertimbangkan secara matang agar tidak mengganggu aktivitas akademik mahasiswa, khususnya di awal semester ganjil.

“Kami melaporkan kepada Bapak Rektor dan memilih waktu yang tepat agar program ini tidak mengganggu perkuliahan. P2A ini adalah inisiatif dosen-dosen FAI untuk memfasilitasi mahasiswa mempersiapkan diri menjadi pemimpin di masyarakat, tanpa harus menunggu lulus,” ujarnya.

Tujuh Amaliyah Aswaja Dibiasakan Secara Terstruktur
Feri menyebutkan bahwa program P2A dirancang dengan tujuh bentuk amaliyah Aswaja yang akan dibiasakan secara berkelanjutan, meliputi pembukaan acara, pembacaan tawassul, Yasin, istighotsah, tahlil, doa, hingga sambutan. Seluruh rangkaian ini dikemas menyerupai tradisi keagamaan di pesantren dan masyarakat Nahdlatul Ulama.

Pada tahap awal, mahasiswa tidak dituntut untuk menghafal, melainkan membaca sesuai pedoman yang telah disiapkan fakultas. Mahasiswa dibagi dalam kelompok kecil beranggotakan 10–11 orang dan didampingi oleh Dosen Wali Aswaja. Setiap pertemuan, peran mahasiswa akan diputar agar seluruh peserta memperoleh pengalaman memimpin seluruh rangkaian amaliyah.

“Target kami, mahasiswa bukan hanya bisa mengikuti, tetapi mampu memimpin. Hafal istighotsah, berani tampil, dan siap memimpin kegiatan keagamaan di lingkungannya,” tegasnya.

Merangkul Mahasiswa Beragam Latar Belakang
Ia mengungkapkan, program ini dirancang inklusif bagi mahasiswa yang berlatar belakang pesantren maupun non-pesantren. Mahasiswa yang belum terbiasa dengan amaliyah Aswaja tidak perlu khawatir, karena seluruh proses dilakukan bertahap dengan pendampingan intensif.

“FAI ini lengkap. Ada yang dari pesantren, ada yang bukan. Justru P2A menjadi kawah candradimuka untuk membekali yang belum terbiasa sekaligus memperkuat yang sudah memiliki dasar,” imbuhnya.

Sementara itu, Rektor UNUSIDA, Prof. Dr. H. Fatkul Anam, M.Si. dalam sambutannya menyampaikan bahwa nilai-nilai dalam pembiasaan amaliyah Aswaja sangat relevan untuk menjawab tantangan zaman di tengah arus globalisasi dan perubahan sosial yang cepat.

Menurutnya, pembiasaan ini bukan hanya membentuk kecakapan spiritual, tetapi juga memperkuat karakter, akhlak, kecintaan terhadap tradisi, serta rasa tanggung jawab sosial mahasiswa.

“Nilai-nilai Aswaja ini menjadi pondasi penting agar mahasiswa tetap kokoh dalam akidah, berakhlak mulia, dan cinta tanah air. Ini perlu dimonitor dan dievaluasi agar menjadi budaya akademik yang berkelanjutan,” terangnya.

Ia berharap menjadi keunggulan khas FAI UNUSIDA, sekaligus identitas lulusan yang matang secara intelektual, spiritual, dan sosial. Ke depan, P2A akan dilaksanakan secara rutin setiap Jumat tanpa perkuliahan, terpusat, dan dievaluasi secara berkala. Selain itu, program ini akan menjadi pilot project bagi seluruh prodi dan fakultas di UNUSIDA.

“Melalui Program Pembiasaan Amaliyah Aswaja, kami optimistis UNUSIDA mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga siap hadir, memimpin, dan mengabdi di tengah masyarakat dengan nilai-nilai ke-NU-an yang kokoh dan relevan sepanjang zaman,” pungkasnya.

FAI UNUSIDA Bekali Mahasiswa Terkait Tugas Akhir (Foto: Humas UNUSIDA)

FAI UNUSIDA Bekali Mahasiswa Tips Mengerjakan Tugas Akhir, Tekankan Pentingnya Kemandirian dan Perencanaan Matang

SIDOARJO — Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar kegiatan Pembekalan Tugas Akhir bagi mahasiswa tingkat akhir di Hall Lantai 3 Gedung A Kampus 2 UNUSIDA, Kamis (8/1/2026). Kegiatan ini menjadi momen penting yang telah lama dinantikan mahasiswa sementer akhir yang telah menempuh masa studi kurang lebih tiga tahun enam bulan ini.

Dekan FAI UNUSIDA, Feri Kuswanto, M.Pd.I., dalam sambutannya menyampaikan bahwa tugas akhir merupakan fase krusial yang menuntut kesiapan akademik, mental, dan manajemen waktu mahasiswa. Ia menekankan pentingnya kemandirian dan perencanaan yang matang sejak awal proses penyusunan tugas akhir.

“Tugas akhir ini adalah tahapan penting yang sudah lama ditunggu mahasiswa. Karena itu, sejak pengajuan judul, penyusunan proposal, hingga penulisan bab demi bab harus disiapkan dengan perencanaan yang jelas dan terukur,” ujarnya.

Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak bergantung pada pihak lain dan mampu menyusun jadwal pribadi secara mandiri. Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki schedule yang jelas agar proses penyusunan tugas akhir berjalan lancar tanpa alasan keterlambatan.

“Jangan menunggu arahan terus. Susun sendiri jadwal kapan mengerjakan proposal, Bab I, Bab II, hingga pencarian referensi. Kalau sudah punya program dan jadwal pribadi, tidak ada alasan tugas akhir tidak selesai,” tegasnya.

Feri juga menyoroti kemudahan akses referensi di era digital saat ini. Jika dahulu mahasiswa harus mencari buku cetak hingga ke luar kota, kini berbagai sumber ilmiah dapat diakses secara daring. Namun demikian, ia mengingatkan agar mahasiswa tetap menjunjung tinggi kejujuran akademik.

“Sekarang mencari referensi jauh lebih mudah. Tapi jangan sampai tergoda untuk menyalin karya orang lain. Ambil inspirasi boleh, tapi hasilnya harus tetap orisinal dan disusun dengan pemikiran sendiri agar benar-benar menjadi karya ilmiah,” pesannya.

Selain aspek akademik, Feri juga menekankan pentingnya pemenuhan kewajiban administrasi. Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak mengabaikan persyaratan administratif yang dapat menghambat proses penyelesaian tugas akhir.

“Saya harap mahasiswa mampu menyelesaikan tugas akhir dengan baik, tepat waktu, dan berkualitas, sekaligus membentuk sikap disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab sebagai bekal memasuki dunia profesional maupun akademik selanjutnya,” harapnya.

Webinar Nasional “Aswaja di Dunia Digital” PGMI UNUSIDA (Foto: Istimewa)

PGMI UNUSIDA Inisiasi Gelar Webinar Nasional Aswaja di Dunia Digital, Meneguhkan Adab Bermedia Sosial

SIDOARJO — Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat menuntut generasi muda untuk tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga matang secara etika dan adab. Menjawab tantangan tersebut, Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) bersama Pimpinan Ranting (PR) GP Ansor Banjarasri  menyelenggarakan Webinar Nasional bertajuk ‘Aswaja di Dunia Digital: Adab Bermedsos Menurut Ulama Aswaja’ dengan semangat tagline #AswajaDiDuniaDigital.

Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Ahad (21/12/2025) lalu ini menjadi bagian dari upaya edukatif sekaligus pemenuhan tugas Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Aswaja. Webinar ini bertujuan membekali generasi muda dengan pemahaman mendalam tentang bagaimana bermedia sosial secara bijak, beradab, dan selaras dengan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja).

Webinar nasional ini menghadirkan pemateri eksklusif H. M. Arisy Karomy, S.T., M.Pd.I., (Gus Arisy) Pengasuh Pondok Pesantren Al-Kholil Jetis Sidoarjo sekaligus Dosen PGMI UNUSIDA. Selain itu, turut hadir sebagai pembicara utama Moh. Anang Abidin, M.Pd., selaku Ketua Program Studi PGMI Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA).

Dalam pemaparannya, Gus Arisy menekankan bahwa media sosial tidak boleh dipandang semata sebagai ruang hiburan tanpa batas. Bermedia sosial, menurut perspektif ulama Aswaja, memiliki berbagai dimensi, antara lain sebagai sarana hiburan, gaya hidup, kebutuhan, ibadah, hingga alat perjuangan dan dakwah. Oleh karena itu, setiap aktivitas digital harus dilandasi niat yang benar serta adab yang terjaga.

“Saya harap nilai-nilai Aswaja dapat terus hidup dan relevan di tengah arus digitalisasi, serta menjadi pedoman etis bagi generasi muda dalam bermedia sosial secara cerdas, santun, dan bertanggung jawab,” harapnya.

Lebih lanjut, Gus Arisy menjelaskan bahwa terdapat sejumlah prinsip penting yang harus diperhatikan dalam bermedia sosial, seperti ghadhul bashar (menjaga pandangan), menjaga aurat, menghindari riya’, serta menjaga privasi diri dan orang lain. Media sosial juga diingatkan dapat menjadi ladang amal jariyah, namun sebaliknya dapat pula berpotensi menjadi dosa jariyah apabila disalahgunakan.

“Mari menjadikan media sosial sebagai sarana dakwah, mempererat silaturahmi, serta menyebarkan kebaikan di tengah masyarakat digital. Bermedia sosial bukan hanya tentang eksistensi, tetapi tentang tanggung jawab moral dan spiritual,” tuturnya.

Tampak antusiasme peserta terlihat dari jumlah pendaftar yang mencapai lebih dari 130 orang, berasal dari berbagai perguruan tinggi dan kalangan umum. Mayoritas peserta merupakan mahasiswa PGMI UNUSIDA, disusul peserta dari Surabaya serta masyarakat umum. Selain memperoleh wawasan baru, peserta juga mendapatkan ruang diskusi interaktif serta kesempatan memperluas jejaring dalam memahami praktik bermedia sosial ala ulama Aswaja.

Mahasiswa FAI UNUSIDA Gelar Seminar Bijak Digital Sejak Dini (Foto: FAI UNUSIDA)

Mahasiswa FAI UNUSIDA Gelar Seminar Bijak Digital Sejak Dini, Dampingi Orang Tua Hadapi Tantangan Parenting

SIDOARJO – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, tantangan pengasuhan anak (parenting) kini memasuki babak baru. Menyikapi kondisi tersebut, mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menyelenggarakan seminar edukasi bertajuk ‘Bijak Digital Sejak Dini’ di lembaga RA Al-Qur’an Hidayatulloh Sidoarjo, Jumat (19/12/2025) lalu.

Kegiatan ini bertujuan membantu para orang tua memahami cara menyeimbangkan pemanfaatan teknologi dengan tumbuh kembang optimal anak, khususnya pada masa usia emas (golden age). Seminar ini mendapat respons positif dari para wali murid yang hadir, mengingat meningkatnya penggunaan gawai pada anak usia dini dalam kehidupan sehari-hari.

Data menunjukkan bahwa paparan layar (screen time) pada anak usia dini mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Meski smartphone menawarkan beragam konten edukatif, penggunaan yang tidak terkontrol berpotensi menimbulkan dampak negatif, seperti keterlambatan bicara (speech delay), menurunnya konsentrasi, hingga terbatasnya kemampuan interaksi sosial anak.

Salah satu pemateri, Ziyarotul Ummah, mahasiswi Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) UNUSIDA, menegaskan pentingnya peran aktif orang tua dalam mendampingi anak saat menggunakan teknologi.

Smartphone bukanlah pengasuh elektronik. Kunci utama bagi anak usia dini bukan pada pelarangan total, melainkan pada pembatasan durasi dan pendampingan aktif dari orang tua. Kita ingin anak-anak menjadi pengguna teknologi yang cerdas, bukan sekadar konsumen konten yang pasif,” jelasnya.

Dalam pemaparannya, Ziyarotul membagikan tiga pilar utama penggunaan smartphone yang bijak bagi anak usia dini. Pertama, durasi yang terukur, di mana anak usia di bawah dua tahun disarankan tidak terpapar layar sama sekali kecuali untuk video call, sementara anak usia 2–5 tahun dibatasi maksimal satu jam per hari dengan konten berkualitas. Kedua, konten yang edukatif dan interaktif, yakni konten yang mendorong kreativitas dan kemampuan berpikir, bukan tontonan berulang yang bersifat pasif. Ketiga, interaksi dua arah, di mana orang tua diajak untuk turut menemani anak dan berdiskusi tentang konten yang ditonton guna menstimulasi kemampuan bahasa dan kognitif.

Selain fokus pada pengelolaan layar, seminar ini juga menekankan pentingnya aktivitas fisik dan permainan sensorik di dunia nyata. Keseimbangan antara aktivitas digital dan eksplorasi fisik dinilai sangat penting untuk mendukung perkembangan motorik kasar dan halus anak.

Ia menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat. Ia berharap, berbagai seminar dan panduan praktis seperti ini dapat membantu keluarga Indonesia tetap berdaya, bijak, dan berakhlak di tengah gempuran teknologi digital.

“Semoga melalui pendampingan kepada orang tua dapat semakin bijak dalam membimbing putra-putrinya dalam menggunakan teknologi,” pungkasnya.

Feri Kuswanto, S.Pd.I., M.Pd.I. Dekan Fakultas Agama Islam UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Membangun Budaya Anti Korupsi dalam Perspektif Fikih dan Tasawuf, Jalan Menuju Umat yang Berintegritas

Peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia yang diperingati setiap tanggal 9 Desember 2025 ini, menjadi momentum bagi Bangsa Indonesia yang harus kembali dihadapkan pada refleksi mendalam terkait persoalan besar yang belum kunjung usai, yaitu korupsi. Meski berbagai instrumen regulasi telah disiapkan oleh negara, praktik korupsi masih terjadi di banyak sektor—pemerintahan, pendidikan, bisnis, bahkan institusi sosial yang seharusnya menjadi teladan moral bagi publik.

Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum. Ia adalah luka moral, kerusakan akhlak, dan penyakit sosial yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa. Karena itulah, pemberantasan korupsi tidak cukup hanya mengandalkan hukum, sanksi, dan pengawasan. Dibutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif: pendekatan fikih, tasawuf, dan pendidikan karakter yang dapat membersihkan perilaku lahir sekaligus menata batin.

Undang-undang Indonesia melalui UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001 mengelompokkan tujuh jenis utama tindak pidana korupsi:

  1. Merugikan keuangan negara,

  2. Suap-menyuap,

  3. Penggelapan dalam jabatan,

  4. Pemerasan,

  5. Perbuatan curang,

  6. Benturan kepentingan,

  7. Gratifikasi.

Fikih Islam memandang seluruh tindakan ini sebagai perbuatan yang bertentangan secara mutlak dengan syariat. Korupsi bukan hanya mencederai hukum negara, tetapi juga pengkhianatan terhadap amanah yang berasal dari Allah SWT. Dalam literatur fikih, perilaku koruptif dikenal dengan istilah:

  • Ghulul (penggelapan),

  • Risywah (suap),

  • Aklu al-maal bi al-bathil (memakan harta secara batil),

  • Khiyanah (pengkhianatan).

Selain itu, Al-Qur’an juga mengingatkan dengan tegas dalam QS. Al-Baqarah: 188: “Janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan cara yang batil dan janganlah kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim untuk memakan sebagian harta orang lain dengan dosa, padahal kamu mengetahui”

Korupsi merendahkan martabat pelakunya, mencoreng lembaga yang menaunginya, menistakan keluarganya, dan menurunkan kepercayaan publik. Pelaku korupsi tidak hanya diadili di dunia, melalui pidana dan kewajiban mengembalikan kerugian negara, tetapi juga akan dihukum oleh masyarakat secara moral serta diadili di hadapan Allah SWT.

Jika fikih mengatur batasan hukum, maka tasawuf menata kedalaman hati. Korupsi adalah buah dari penyakit spiritual seperti tamak, cinta dunia berlebihan, hilangnya rasa malu, dan hilangnya kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi.

Yang ironis, pelaku korupsi bukan orang yang kekurangan, tetapi mereka yang telah berkecukupan, namun tetap tidak merasa puas.

Tasawuf menawarkan “obat rohani” melalui nilai-nilai seperti:

  • Muraqabah (merasa diawasi Allah)

  • Muhasabah (introspeksi diri)

  • Zuhud (tidak diperbudak oleh dunia)

  • Qana’ah (merasa cukup atas karunia Allah)

Nilai-nilai ini bukan menghalangi manusia untuk sukses secara duniawi, tetapi menempatkan harta pada tempatnya: sebagai sarana ibadah, bukan tujuan hidup. Ketika tasawuf mengaliri karakter seseorang, ia akan menolak korupsi meski tidak ada yang melihat, karena merasa diawasi oleh Yang Maha Melihat.

Fikih dan tasawuf tidak dapat dipisahkan dalam membangun budaya antikorupsi. Fikih mengatur apa yang halal dan haram. Sementara Tasawuf mengajarkan apa yang pantas dan tidak pantas.

Jika digabungkan, keduanya akan melahirkan pribadi yang taat hukum, jujur, berakhlak, matang secara emosional dan spiritual, dan menjauhi korupsi bukan karena takut hukuman, tetapi karena cinta pada kebenaran. Inilah konsep ideal Muslim berintegritas.

Peran Strategis Fakultas Agama Islam UNUSIDA
Sebagai institusi pendidikan Islam, UNUSIDA khususnya Fakultas Agama Islam memiliki tanggung jawab moral dalam menyiapkan generasi muda yang berkarakter antikorupsi. Pendidikan agama tidak boleh berhenti pada teori, tetapi harus hadir dalam praktik kehidupan kampus. Beberapa langkah penting yang perlu terus diperkuat, diantaranya:

  • Kajian fikih antikorupsi,

  • Seminar dan diskusi integritas publik,

  • Mata kuliah ASWAJA,

  • Program Pembiasaan Amaliyah ASWAJA (P2A),

  • Budaya akademik yang jujur dan transparan,

  • Keteladanan dosen dan pimpinan fakultas,

  • Bebas pungutan liar dan administrasi yang bersih,

  • Penilaian akademik yang objektif.

Mahasiswa harus melihat teladan langsung, bukan hanya mendengar teori. Ketika kampus bersih, mahasiswa akan belajar menjadi pribadi yang bersih.

Momentum Hari Antikorupsi: Saatnya Refleksi Kolektif
Hari Antikorupsi Sedunia bukan sekadar seremoni tahunan. Ini adalah momen untuk memperbaiki diri dan sistem sosial yang kita jalankan. Setiap pemangku kebijakan—baik lembaga pemerintah, pendidikan, maupun masyarakat—perlu memperkuat komitmen bersama untuk menghentikan praktik KKN di segala lini.

Amanah yang diberikan kepada kita bukan sekadar tugas duniawi, tetapi janji yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Semoga semangat antikorupsi tumbuh dalam diri kita, keluarga kita, kampus, dan masyarakat Indonesia secara luas. Dengan integritas moral dan kekuatan spiritual, kita dapat membangun bangsa yang lebih bersih, adil, dan bermartabat.

Oleh: Feri Kuswanto, S.Pd.I., M.Pd.I.
Dekan Fakultas Agama Islam UNUSIDA.