Pos

Dekan FAI UNUSIDA Saat Menyampaikan sambutan saat Pembukaan Workshop dan Pelepasan PLP dan KKN Tematik 2026. (Foto: Humas UNUSIDA)

FAI UNUSIDA Gelar Workshop dan Pelepasan Mahasiswa PLP serta KKN Tematik 2026

SIDOARJO — Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Workshop dan Pelepasan Mahasiswa Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) serta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik di Hall Lantai 5 Gedung A, Rabu (28/10/2026).

Dekan FAI UNUSIDA, Feri Kuswanto, menegaskan bahwa PLP dan KKN Tematik merupakan bagian penting dari proses pendidikan mahasiswa, khususnya dalam mempersiapkan calon pendidik yang kompeten, profesional, dan bertanggung jawab. Kegiatan ini menjadi langkah awal bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan teori dan ilmu yang telah diperoleh selama perkuliahan melalui praktik langsung di lingkungan sekolah dan masyarakat.

Menurutnya, pelaksanaan PLP memiliki sejumlah persyaratan akademik yang harus dipenuhi mahasiswa. Salah satunya adalah kelulusan mata kuliah microteaching sebagai bekal keterampilan dasar sebelum terjun ke sekolah.

“PLP bisa dilaksanakan apabila mahasiswa telah dinyatakan lulus mata kuliah microteaching. Mata kuliah ini menjadi salah satu bekal penting agar mahasiswa siap melaksanakan praktik pembelajaran di sekolah,” jelasnya.

Ia menyampaikan bahwa mahasiswa telah memperoleh berbagai materi pendukung sejak semester awal, di antaranya teori belajar dan pembelajaran, psikologi perkembangan anak, microteaching, serta mata kuliah keahlian sesuai program studi. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat diterapkan secara nyata selama menjalani PLP.

Feri juga mengingatkan bahwa tugas seorang guru tidak hanya sebatas menyampaikan materi di dalam kelas. Guru harus mampu merencanakan pembelajaran secara menyeluruh, mulai dari menyiapkan perangkat pembelajaran, menentukan metode dan model pembelajaran, hingga menyusun evaluasi yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.

Dalam praktiknya, mahasiswa juga perlu memahami perbedaan pendekatan pembelajaran untuk siswa kelas rendah, yakni kelas I hingga III, dan kelas tinggi, yakni kelas IV hingga VI. Pemahaman terhadap tahap perkembangan anak menjadi dasar untuk menentukan strategi pembelajaran yang efektif.

Selain kesiapan akademik, Feri menekankan pentingnya kedisiplinan, etika, dan tanggung jawab selama mahasiswa menjalani praktik di sekolah mitra. Ia meminta seluruh peserta menjaga nama baik fakultas, program studi, dan universitas.

Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak datang terlambat, meninggalkan kelas tanpa izin, atau meninggalkan lingkungan sekolah tanpa persetujuan pihak yang berwenang.

“Jaga nama baik fakultas dan program studi kita. Jangan terlambat, jangan meninggalkan kelas saat praktik, dan jangan meninggalkan sekolah tanpa kesepakatan dengan pimpinan atau kepala sekolah,” pesannya.

Menurutnya, PLP bukan sekadar kesempatan untuk mengajar, tetapi juga menjadi sarana mengenal lingkungan sekolah secara menyeluruh. Mahasiswa diharapkan aktif mengikuti berbagai kegiatan, seperti rapat guru, memahami program sekolah, mengamati karakter peserta didik, serta belajar menghadapi persoalan yang muncul dalam proses pembelajaran.

Melalui keterlibatan tersebut, mahasiswa dapat memperoleh pengalaman langsung mengenai budaya kerja guru, pengelolaan kelas, dan upaya mendampingi siswa yang mengalami kesulitan belajar.

Feri juga menjelaskan bahwa mahasiswa perlu memanfaatkan waktu pelaksanaan PLP secara optimal. Kegiatan praktik tidak boleh hanya berfokus pada jumlah pertemuan mengajar, tetapi juga mencakup persiapan pembelajaran, pelaksanaan kegiatan sekolah, dan refleksi terhadap pengalaman yang diperoleh.

“Jalani seluruh aktivitas PLP dengan sungguh-sungguh. Manfaatkan kesempatan ini untuk belajar sebanyak-banyaknya, baik melalui praktik mengajar maupun kegiatan lain yang ada di sekolah,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Feri turut mengingatkan mahasiswa agar mempersiapkan kebutuhan teknis sebelum berangkat ke lokasi penempatan. Mahasiswa diminta mempelajari rute perjalanan, memperkirakan waktu tempuh, serta mengantisipasi kemungkinan kemacetan agar dapat tiba tepat waktu. Kesiapan tersebut dinilai sebagai bagian dari pembentukan sikap profesional yang harus dibiasakan sejak mahasiswa menjalani praktik lapangan.

Lebih lanjut, Feri berharap mahasiswa mampu mengintegrasikan pengetahuan akademik dengan pengalaman praktis di lapangan. Mahasiswa juga diharapkan dapat menunjukkan sikap disiplin, adaptif, serta mampu membangun hubungan baik dengan pihak sekolah dan masyarakat.

“Pelaksanaan PLP dan KKN Tematik menjadi bagian dari komitmen FAI UNUSIDA dalam mempersiapkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kompetensi profesional, karakter yang kuat, dan kepedulian sosial. Dengan bekal ilmu, kesiapan mental, serta semangat pengabdian, dapat menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mampu memberikan kontribusi positif bagi sekolah dan masyarakat sekaligus membawa nama baik UNUSIDA,” pungkasnya.

Nuzula Firdausi, S.Pd., Staf Tata Usaha Fakultas Agama Islam (FAI) UNUSIDA, dalam kegiatan Sosialisasi Penguatan Kedisiplinan, Tata Kelola Arsip, dan Apresiasi SDM UNUSIDA di Hall Lantai 5 Gedung A, Kampus UNUSIDA, Selasa (13/10/2026). (Foto: Humas UNUSIDA)

Staf Tata Usaha FAI UNUSIDA Bagikan Praktik Tata Kelola Arsip Modern, Perkuat Kompetensi Tenaga Kependidikan

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) terus memperkuat kompetensi tenaga kependidikan melalui peningkatan pemahaman tentang tata kelola arsip yang tertib, sistematis, dan akuntabel. Upaya tersebut diwujudkan melalui pemaparan materi oleh Nuzula Firdausi, S.Pd., Staf Tata Usaha Fakultas Agama Islam (FAI) UNUSIDA, dalam kegiatan Sosialisasi Penguatan Kedisiplinan, Tata Kelola Arsip, dan Apresiasi SDM UNUSIDA di Hall Lantai 5 Gedung A, Kampus UNUSIDA, Selasa (13/10/2026).

Nuzula Firdausi sebelumnya terpilih sebagai peserta Program Tendik Berdampak Kemdikbudristek Tahun 2025 bidang Arsiparis. Pengalaman tersebut menjadi bekal untuk membagikan ilmu dan pengetahuan mengenai pengelolaan arsip kepada tenaga kependidikan di lingkungan UNUSIDA.

Kesempatan ini dimanfaatkan untuk mendorong peningkatan kompetensi sumber daya manusia sekaligus memperkuat kesadaran bahwa pengelolaan arsip merupakan bagian penting dari tata kelola perguruan tinggi. Arsip tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan dokumen, tetapi juga menjadi bukti administrasi, sumber informasi, serta dasar pertanggungjawaban atas pelaksanaan kegiatan institusi.

Dalam pemaparannya, Nuzula menjelaskan bahwa arsip memiliki bentuk yang beragam. Arsip tidak terbatas pada dokumen kertas, tetapi juga dapat berupa rekaman digital, video, foto, serta berbagai berkas elektronik yang tersimpan dalam perangkat maupun layanan penyimpanan digital, seperti Google Drive.

Menurutnya, setiap kegiatan di lingkungan perguruan tinggi menghasilkan dokumen yang perlu dikelola dengan baik. Dokumen tersebut antara lain surat masuk dan surat keluar, surat permohonan, surat undangan, daftar hadir, notula rapat, foto kegiatan, jadwal acara, surat tugas, laporan kegiatan, hingga materi paparan narasumber.

Setiap dokumen memiliki fungsi dan nilai informasi yang berbeda. Oleh karena itu, pegawai perlu memahami tujuan pembuatan dokumen, keterkaitannya dengan kegiatan, serta cara penyimpanan yang sesuai agar arsip mudah ditemukan kembali ketika dibutuhkan.

Alumni Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UNUSIDA tersebut menjelaskan pengelompokan dokumen berdasarkan kedekatannya dengan kegiatan utama, yakni dokumen primer, sekunder, dan tersier. Dokumen primer merupakan dokumen utama yang menjadi dasar keputusan atau bukti resmi pelaksanaan kegiatan, seperti surat keputusan dan surat tugas.

Sementara itu, dokumen sekunder merupakan dokumen pendukung yang berkaitan dengan proses persiapan maupun pelaksanaan kegiatan, seperti surat permohonan dan dokumen konfirmasi. Adapun dokumen tersier berfungsi sebagai pelengkap informasi, misalnya surat pengantar, pemberitahuan, dan dokumen pendukung lainnya.

Ia menekankan bahwa pengelompokan tersebut perlu mempertimbangkan fungsi dan peran dokumen, bukan hanya jenis atau bentuk suratnya. Satu jenis dokumen dapat memiliki kedudukan berbeda bergantung pada konteks penggunaannya dalam suatu kegiatan.

Selain pengelompokan, aspek penting lainnya adalah penentuan masa simpan arsip. Nuzula menerangkan bahwa arsip perlu dikelola berdasarkan frekuensi penggunaan dan nilai gunanya. Arsip yang masih sering digunakan dalam pekerjaan sehari-hari dapat disimpan di unit kerja sebagai arsip aktif. Ketika frekuensi penggunaannya menurun, arsip dapat dipindahkan menjadi arsip inaktif sesuai ketentuan yang berlaku.

Adapun arsip yang memiliki nilai sejarah, nilai guna berkelanjutan, atau kepentingan pertanggungjawaban tertentu perlu mendapatkan perlakuan khusus sesuai jadwal retensi arsip dan ketentuan kearsipan yang berlaku. Dengan demikian, penyimpanan arsip tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan berdasarkan klasifikasi, masa retensi, dan nilai guna masing-masing dokumen.

Dalam praktiknya, tata kelola arsip yang baik juga membutuhkan sistem penyimpanan yang konsisten, baik untuk dokumen fisik maupun digital. Penamaan berkas yang jelas, pengelompokan berdasarkan kegiatan atau unit kerja, serta penataan folder yang sistematis akan membantu mempercepat proses pencarian dokumen dan mengurangi risiko kehilangan data.

Pengelolaan arsip digital juga perlu memperhatikan keamanan informasi, pengaturan hak akses, serta pencadangan data. Langkah tersebut penting agar dokumen tetap terlindungi, dapat diakses oleh pihak yang berwenang, dan tersedia ketika dibutuhkan untuk kepentingan administrasi maupun evaluasi institusi.

Melalui pemaparan tersebut, Nuzula mengajak tenaga kependidikan UNUSIDA untuk mulai membangun kebiasaan pengelolaan arsip yang tertib dari unit kerja masing-masing. Kesadaran dalam mengelola dokumen sejak awal akan membantu menciptakan administrasi yang lebih efisien, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Berbekal pengalaman yang diperoleh melalui Program Tendik Berdampak bidang Arsiparis, ia turut mendorong penerapan praktik kearsipan yang lebih baik di lingkungan kampus.

“Dengan pengelolaan arsip yang terstruktur dan berkelanjutan, mampu membangun sistem administrasi yang semakin profesional, mendukung kelancaran layanan akademik, serta menjaga dokumen institusi sebagai sumber informasi dan bukti pertanggungjawaban bagi kemajuan universitas,” terangnya.

Dr. H. Rangga Sa’adilah, S.A.P., M.Pd.I. saat menyampaikan tausiah dalam kajian rutin setelah sholat Dhuhur tersebut bertempat di Masjid KH. M. Hasyim Asy’ari PCNU Sidoarjo. (Foto: Humas UNUSIDA)

Kajian Aswaja, Dosen FAI UNUSIDA Dorong Pelestarian Sholawat Thobibiyah dan Budaya Sholat Jamaah

SIDOARJO — Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) Dr. H. Rangga Sa’adilah, S.A.P., M.Pd.I., menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga keberadaan sholawat atau pujian yang dilantunkan setelah adzan dan sebelum iqamah. Menurutnya, tradisi tersebut tidak sekadar menjadi lantunan yang mengisi waktu antara adzan dan iqamah, tetapi juga memiliki nilai pendidikan dan pembiasaan bagi umat.

Sholawat Thobibiyah dipandang sebagai salah satu bentuk doa dan pujian kepada Allah SWT serta Nabi Muhammad SAW. Lantunan tersebut menjadi bagian dari tradisi keagamaan yang telah dilakukan secara turun-temurun di tengah masyarakat Muslim, khususnya dalam lingkungan Nahdlatul Ulama.

“Pembiasaan melantunkan sholawat dan pujian sebelum pelaksanaan sholat berjamaah sangat penting dalam melestarikan tradisi yang telah diwariskan oleh para ulama dan leluhur dalam kehidupan umat Islam,” jelasnya saat menyampaikan tausiah dalam kajian rutin setelah sholat Dhuhur tersebut bertempat di Masjid KH. M. Hasyim Asy’ari PCNU Sidoarjo, Selasa (15/9/2026).

Dalam kajian tematik tersebut, Dr. Rangga menjelaskan bahwa waktu antara adzan dan iqamah merupakan waktu yang memiliki keutamaan untuk berdoa. Karena itu, lantunan pujian sebelum iqamah dapat menjadi momentum bagi jamaah untuk memanjatkan doa sekaligus mempersiapkan diri melaksanakan sholat berjamaah.

“Setiap doa di antara adzan dan iqamah tidak akan pernah tertolak,” menjadi salah satu pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut sebagai pengingat kepada jamaah agar memanfaatkan waktu antara adzan dan iqamah dengan aktivitas yang bernilai ibadah.

Lebih dari sekadar tradisi, lantunan sholawat dan pujian sebelum iqamah juga dinilai memiliki fungsi edukatif. Suara sholawat yang terdengar oleh lingkungan sekitar dapat menjadi pengingat bagi masyarakat untuk segera bersiap melaksanakan sholat berjamaah.

Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu strategi untuk mendidik umat Islam, termasuk generasi muda dan anak-anak, agar semakin dekat dengan masjid dan terbiasa dengan suasana sholat berjamaah. Pesan-pesan keagamaan yang disampaikan melalui lantunan sholawat dapat diterima secara sederhana dan berulang dalam kehidupan sehari-hari.

“Lantunan pujian sebelum iqamah adalah strategi untuk mendidik umat Islam, tetangga kita, dan anak-anak kita,” ungkapnya.

Tradisi tersebut juga memperlihatkan bagaimana dakwah dapat dilakukan melalui pendekatan yang lembut dan merangkul. Sholawat yang dilantunkan sebelum iqamah menjadi sarana untuk mengajak masyarakat menuju masjid tanpa tekanan. Suasana religius yang tercipta diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran dan kecintaan terhadap sholat berjamaah.

Hal ini sejalan dengan karakter dakwah Ahlussunnah wal Jamaah yang mengedepankan pendekatan yang santun dalam menyampaikan ajaran Islam. Tradisi yang diwariskan para ulama tidak hanya dipandang dari bentuk pelaksanaannya, tetapi juga perlu dipahami nilai dan tujuan yang terkandung di dalamnya.

“Begitu indahnya lantunan sholawat yang diajarkan oleh ulama-ulama kita, dengan merangkul tanpa memukul. Mari kita lestarikan bersama,” pesannya.

Pelestarian tradisi keagamaan tersebut juga dinilai penting di lingkungan pendidikan, termasuk perguruan tinggi. Kampus bukan hanya menjadi tempat pengembangan ilmu pengetahuan dan keterampilan profesional, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan karakter, spiritualitas, serta kepedulian sosial mahasiswa.

Dalam konteks UNUSIDA, budaya sholat berjamaah diharapkan dapat terus tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan sivitas akademika. Kebiasaan sederhana seperti memenuhi panggilan adzan, menuju masjid, melaksanakan sholat berjamaah, hingga menjaga suasana religius di lingkungan kampus dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter mahasiswa.

“Mari kita gerakkan budaya sholat jamaah menjadi mempengaruhi di setiap lini di kampus kita,” menjadi ajakan untuk menjadikan sholat berjamaah bukan sekadar aktivitas rutin, tetapi budaya positif yang dapat memberikan pengaruh bagi lingkungan sekitar.

Kajian Aswaja ini menjadi salah satu ikhtiar untuk menjaga kesinambungan tradisi keislaman sekaligus memperkuat pemahaman warga UNUSIDA dan masyarakat terhadap nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Melalui kajian dan pembiasaan, tradisi keagamaan diharapkan tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi terus hidup dan relevan dalam kehidupan generasi saat ini.

Dengan semangat merangkul tanpa memukul, pelestarian sholawat, pujian sebelum iqamah, dan budaya sholat berjamaah diharapkan mampu menjadi gerakan bersama. Dari masjid, lingkungan keluarga, masyarakat, hingga kampus, nilai-nilai tersebut dapat terus ditanamkan sebagai bagian dari kehidupan umat Islam.

“Menjaga tradisi bukan hanya tentang mempertahankan kebiasaan, tetapi juga memahami nilai pendidikan, spiritualitas, dan kebersamaan yang ada di dalamnya. Melalui langkah-langkah sederhana dan dilakukan secara konsisten, budaya sholat berjamaah diharapkan semakin kuat dan memberikan dampak positif bagi kehidupan sivitas akademika serta masyarakat luas,” pungkasnya.

Dosen FAI UNUSIDA, Rangga Sa'adillah S.A.P. (Foto: Humas UNUSIDA)

Dosen UNUSIDA Sebut Kortas Tipikor sebagai Manifestasi Etika Publik dan Maqashid Syariah

SIDOARJO — Pembentukan Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortas Tipikor) di tubuh Kepolisian Republik Indonesia dinilai tidak semata-mata sebagai perubahan struktur kelembagaan, tetapi juga dapat dimaknai sebagai upaya memperkuat etika publik dan menghadirkan pendekatan yang lebih komprehensif dalam pemberantasan korupsi.

Pandangan tersebut disampaikan Rangga Sa’adillah, S.A.P., Dosen dan Kabag MKU Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), dalam opininya bertajuk ‘Kortas Tipikor Polri: Manifestasi Maqashid Syariah dalam Pemberantasan Korupsi’. Menurutnya, korupsi tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan administratif atau pelanggaran prosedur hukum. Korupsi merupakan bentuk kerusakan yang berdampak luas terhadap keadilan, kesejahteraan masyarakat, kohesi sosial, hingga legitimasi negara.

“Korupsi adalah kejahatan yang memiskinkan kemanusiaan. Maka, perlawanan terhadapnya tidak bisa lagi bersandar pada rasionalitas hukum yang usang dan parsial,” tulisnya.

Ia menilai kehadiran Kortas Tipikor dapat menjadi momentum untuk menghadirkan pendekatan baru dalam penegakan hukum. Terlebih, pemberantasan korupsi tidak cukup berhenti pada proses penindakan dan pemidanaan, tetapi juga harus memastikan kerugian negara dapat dipulihkan.

Penegakan Hukum Harus Berorientasi Pemulihan

Wakil Sekretaris Komisi Pengkajian, Penelitian, dan Pelatihan (KP3) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur tersebut menjelaskan, selama ini penegakan hukum acap kali terjebak dalam paradigma positivistik yang memandang hukum sebatas teks dan keadilan sebagai proses penghukuman.

Padahal, menurutnya, korupsi meninggalkan kerusakan sosial dan ekonomi yang jauh lebih luas. Karena itu, penegakan hukum idealnya memiliki orientasi pemulihan terhadap hak-hak publik yang telah dirampas.

Dalam konteks tersebut, fungsi penelusuran dan pengamanan aset menjadi sangat penting. Pengembalian aset hasil korupsi, lanjutnya, bukan sekadar bentuk pembalasan kepada pelaku, melainkan bagian dari upaya menghadirkan keadilan bagi masyarakat.

“Memiskinkan koruptor dan mengembalikan kerugian negara bukanlah tindakan balas dendam, melainkan rasionalitas tertinggi dari keadilan itu sendiri,” tegasnya.

Hifdzul Mal sebagai Landasan Etis

Lebih jauh, Rangga mengaitkan pemberantasan korupsi dengan konsep Maqashid Syariah, khususnya prinsip Hifdzul Mal atau perlindungan terhadap harta.

Dalam perspektif tersebut, APBN, pajak, dan sumber daya alam merupakan bagian dari harta publik yang diamanahkan untuk dikelola demi kemaslahatan masyarakat. Penyalahgunaan kekayaan publik, menurutnya, bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga bentuk pengkhianatan terhadap amanah.

Karena itu, ia melihat penguatan institusi pemberantasan korupsi sebagai bagian dari upaya melembagakan prinsip perlindungan terhadap harta publik dalam tata kelola negara modern.

“Dengan memusatkan energi pada pencegahan dan penyelamatan aset, aparat penegak hukum sedang menjalankan mandat moral tertinggi dari Maqashid Syariah,” jelasnya.

Ia menambahkan, perlindungan terhadap harta publik juga memiliki keterkaitan dengan prinsip Hifdzun Nafs atau perlindungan jiwa dan Hifdzun Nasl atau perlindungan generasi masa depan.

Anggaran negara yang berhasil diselamatkan dari praktik korupsi, kata dia, pada akhirnya dapat dikembalikan untuk kepentingan masyarakat, seperti pembangunan fasilitas kesehatan, pendidikan, infrastruktur, dan berbagai pelayanan publik.

Kolaborasi, Bukan Kompetisi Kelembagaan

Komisi Pendidikan MUI Kabupaten Sidoarjo tersebut juga menyadari adanya pandangan kritis mengenai keberadaan Kortas Tipikor, termasuk kekhawatiran terkait potensi tumpang tindih kewenangan dengan lembaga penegak hukum lain.

Namun, ia menilai persoalan tersebut seharusnya tidak dilihat dalam kerangka kompetisi antarinstansi. Menurutnya, korupsi merupakan kejahatan yang kompleks dan sistemik sehingga membutuhkan kerja bersama seluruh lembaga penegak hukum.

“ Kita harus menggeser kerangka pandang kita menuju tata kelola kolaboratif (collaborative governance) yang berlandaskan prinsip ta’awun, yakni tolong-menolong dalam penegakan kebaikan,” ujarnya.

Menurutnya, jaringan kewilayahan Polri yang luas dapat menjadi kekuatan strategis dalam membangun sistem pencegahan dan deteksi dini terhadap praktik korupsi. Jika dikelola secara profesional dan berintegritas, struktur tersebut dapat memperkuat pengawasan hingga ke tingkat pemerintahan paling bawah.

Harus Diiringi Transformasi Kultur

Meski memberikan optimisme terhadap pembentukan Kortas Tipikor, Rangga menegaskan bahwa dukungan tersebut bukanlah cek kosong. Penguatan struktur kelembagaan harus berjalan beriringan dengan pengawasan masyarakat dan pembenahan budaya organisasi.

Integritas, profesionalitas, transparansi, serta keberanian untuk menindak korupsi tanpa pandang bulu menjadi faktor penting agar Kortas Tipikor benar-benar mampu menjalankan mandatnya.

“Transformasi struktural ini wajib diiringi oleh transformasi kultural di dalam tubuh kepolisian itu sendiri. Integritas, profesionalitas, dan keberanian membongkar kejahatan tanpa pandang bulu adalah ruh yang akan menghidupkan kerangka institusi ini,” ungkapnya.

Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat sipil untuk turut mengawal penguatan pemberantasan korupsi. Menurutnya, Kortas Tipikor harus mampu berkembang menjadi instrumen keadilan yang benar-benar menghadirkan manfaat bagi masyarakat, bukan sekadar menjadi simbol birokrasi baru.

“Dengan mengintegrasikan ketajaman epistemologis dalam melihat kejahatan dan mengamalkan prinsip Maqashid Syariah dalam melindungi hak publik, kita memiliki alasan yang sah untuk berharap bahwa babak baru perang melawan korupsi telah menemukan momentumnya,” pungkasnya.

Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., saat menyampaikan sambutan dalam Yudisium ke-2 FAI UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Plt Rektor UNUSIDA: Lulusan FAI Harus Sadar, Kompeten, dan Berani Menciptakan Peluang

SIDOARJO — Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., berpesan kepada para lulusan Fakultas Agama Islam (FAI) UNUSIDA agar menjadikan kelulusan sebagai momentum memasuki babak baru kehidupan. Menurutnya, perubahan hanya dapat dimulai dari kesadaran diri untuk terus berkembang dan menghadapi tantangan.

Pesan tersebut disampaikan Hadi saat memberikan sambutan dalam Yudisium ke-2 Fakultas Agama Islam (FAI) UNUSIDA, yang diikuti para mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), Jum’at (7/8/2026).

Dalam kesempatan tersebut, pihaknya sangat mengapresiasi perjuangan para mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan, termasuk mereka yang sudah lama mengabdi sebagai guru namun tetap meluangkan waktu untuk menempuh pendidikan tinggi.

Menurutnya, proses pendidikan tidak selalu mudah. Ada mahasiswa yang menghadapi persoalan administrasi, keterbatasan waktu, hingga faktor usia. Namun, semangat untuk menyelesaikan pendidikan menjadi modal penting dalam membangun perubahan.

Mengutip gagasan tentang awareness before change, Hadi menekankan bahwa kesadaran merupakan pintu menuju perubahan. Ia mengajak para lulusan untuk menyadari bahwa kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal untuk memasuki kehidupan yang lebih luas dengan tanggung jawab yang lebih besar.

“Kalau saudara-saudara semua ingin berubah, nomor satu adalah sadar. Selesai. Akhirnya empat tahun memasuki babak baru. Kalau tidak sadar, maka akan menjadi problem,” tegasnya.

Hadi menilai kesadaran tersebut penting karena lulusan PGMI dan PIAUD akan menghadapi persaingan yang cukup besar. Ribuan lulusan bidang pendidikan terus bertambah setiap tahun, sehingga para lulusan UNUSIDA harus memiliki keunggulan dan keberanian untuk mengambil peluang.

“Sekarang banyak sekali yang melakukan pendidikan di sini. Lalu ke mana ribuan yang sudah lulus itu? Tempatnya banyak atau tambah sedikit? Oleh karena itu, sadar itu penting sekali,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan para lulusan, khususnya yang akan menekuni profesi guru, untuk menguasai kompetensi yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan. Ia menyebut tiga kompetensi utama guru, yakni kompetensi profesional, pedagogik, dan sosial.

“Kompetensi utama guru ada tiga, profesional, pedagogik, dan sosial. Kita harus sadar tantangan di depan kita itu besar,” ujarnya.

Menurutnya, kompetensi yang telah diperoleh selama kuliah harus benar-benar diterapkan dalam kehidupan nyata. Para lulusan tidak boleh hanya menunggu mendapatkan pekerjaan dari sekolah atau yayasan, tetapi harus berani menciptakan peluang sesuai dengan keahlian yang dimiliki.

Ia mencontohkan peluang menjadi guru les sebagai salah satu bentuk edupreneurship yang dapat dikembangkan lulusan pendidikan.

“Jangan takut membuat les. Banyak sekali anak-anak yang membutuhkan les, bukan hanya kelas enam, tetapi anak PAUD, TK, kelas satu dan dua. Itu peluang,” tuturnya.

Ia menyebut sikap tersebut sebagai bagian dari semangat edupreneur, yakni keberanian mengembangkan kompetensi pendidikan menjadi peluang yang memberikan manfaat sekaligus nilai ekonomi.

“Ini namanya edupreneur. Jangan takut. Tapi jangan berhenti untuk menaikkan kompetensi. Itu yang penting,” pesannya.

Tak hanya itu, ia berharap para lulusan tidak hanya mendapatkan gelar sarjana, tetapi mampu menghadirkan perubahan di lingkungan masing-masing. Bagi lulusan yang sudah bekerja, keberhasilan bukan sekadar mendapatkan ijazah, melainkan mampu menunjukkan perubahan positif di tempat kerja.

“Kalau yang sudah bekerja, perubahan apa di tempat kerja yang orang luar biasa itu hadir membawa perubahan,” katanya.

Ia mencontohkan keberadaan lembaga pendidikan di tingkat masyarakat yang berkembang sebagai bukti bahwa kehadiran seorang pendidik dapat meninggalkan jejak perubahan. Menurutnya, lulusan UNUSIDA harus mampu “menulis sejarah” melalui karya dan pengabdian yang dilakukan setelah menyelesaikan pendidikan.

“Setelah dikuasai, peluang itu akan datang. Jangan takut,” tegasnya.

Dalam sambutannya, Hadi juga menekankan pentingnya pendidikan tinggi sebagai investasi jangka panjang bagi keluarga dan generasi berikutnya.

Menurutnya, ketika orang tua memiliki pendidikan yang baik, maka wawasan dan cara pandang keluarga terhadap masa depan juga akan berkembang. Pendidikan kemudian tidak berhenti pada individu, tetapi dapat diwariskan menjadi semangat bagi generasi berikutnya.

Ia menggambarkan bahwa orang tua yang telah menyelesaikan pendidikan sarjana akan memiliki dorongan agar anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi.

“Maka saya ucapkan selamat karena saudara beruntung lulus di FAI UNUSIDA. Lulus bukan garis akhir. Lulus adalah awal untuk membuktikan bahwa ilmu yang diperoleh di UNUSIDA benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Foto bersama seluruh yudisiawan Yudisium ke-12 FAI UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Yudisium ke-2 FAI UNUSIDA: Teguhkan Dedikasi Cetak Guru Unggul dan Berakhlakul Karimah

SIDOARJO — Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menggelar Yudisium ke-2 dengan mengusung semangat ‘Meneguhkan Dedikasi, Menginspirasi Negeri, Mencetak Guru Unggul, Adaptif, dan Berakhlakul Karimah’, Jumat (7/8/2026).

Kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi mahasiswa setelah menyelesaikan rangkaian pendidikan di jenjang sarjana sekaligus menjadi awal untuk mengabdikan ilmu di tengah masyarakat.

Tanpak hadir Plt. Rektor UNUSIDA Dr. Hadi Ismanto, S.HI., M.Pd., BPP UNUSIDA Hj. Yuli Qayyumillah, MA., Dekan FAI UNUSIDA Feri Kuswanto, S.Pd.I., M.Pd.I., Ketua Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Moh. Anang Abidin, S.H.I., M.Pd., serta Ketua Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Rifatul Anita, S.Pd., M.Pd.

Dekan FAI UNUSIDA, Feri Kuswanto, menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja keras mahasiswa, dosen pembimbing, serta seluruh pemangku kepentingan di lingkungan UNUSIDA. Capaian kelulusan tersebut juga mengalami peningkatan sekitar 5,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Sudah tidak perlu mikir nilai saya jelek atau nilai saya baik. Sekarang sudah selesai. Itu masa-masa di bangku kuliah, sekarang sudah tidak lagi di bangku. Maka senyumnya jangan sampai kecut seperti saat menghadapi ujian skripsi,” ujar Feri dalam sambutannya.

Ia menegaskan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan pintu masuk menuju fase kehidupan dan pengabdian yang baru. Karena itu, para lulusan didorong untuk menentukan langkah setelah menyelesaikan pendidikan.

Menurutnya, setidaknya terdapat tiga pilihan yang dapat ditempuh para lulusan. Pertama, melanjutkan pendidikan ke jenjang magister (S2). Kedua, membangun karier dan keluarga dengan menjadi pribadi yang berprestasi. Ketiga, mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh selama kuliah di lembaga maupun lingkungan tempat mereka mengabdi.

Khusus bagi lulusan yang telah maupun akan berkecimpung di dunia pendidikan, Feri mengingatkan bahwa gelar sarjana kependidikan membawa tanggung jawab besar. Para lulusan tidak cukup hanya memiliki ijazah, tetapi harus mampu menerapkan kompetensi yang telah diperoleh selama perkuliahan.

Ia mencontohkan berbagai kompetensi yang telah dipelajari mahasiswa, mulai dari apersepsi, pre-test, elaborasi, post-test, asesmen, hingga penyusunan perangkat pembelajaran.

“Tidak boleh ada cerita dari mitra bahwa lulusan UNUSIDA tidak bisa mengerjakan RPS. Tantangan kita sering kali adalah hal yang kita bisa itu tidak kita lakukan,” tegasnya.

Feri juga mengingatkan pentingnya integritas akademik dalam menjalankan tugas sebagai pendidik. Menurutnya, perangkat pembelajaran seperti RPS dan RPP harus benar-benar disusun dan dilaksanakan sebagai bagian dari proses pendidikan, bukan sekadar dibuat untuk memenuhi kebutuhan administrasi atau akreditasi.

“Kunci sukses di dunia pendidikan itu tulis apa yang sudah dikerjakan, evaluasi, dan kerjakan apa yang sudah ditulis,” pesannya.

Ia berharap para lulusan FAI UNUSIDA mampu menjadi pendidik yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga menjunjung tinggi integritas, profesionalisme, adaptif terhadap perubahan, serta memiliki akhlakul karimah.

Dalam kesempatan tersebut, Feri juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan dengan berbagai dinamika. Sebagian mahasiswa menyelesaikan studi dalam waktu empat tahun, sementara lainnya membutuhkan waktu lebih panjang maupun lebih singkat sesuai dengan kondisi masing-masing.

Ia menegaskan bahwa proses akademik yang telah dilalui merupakan bagian penting dalam membentuk kesiapan mahasiswa menghadapi dunia profesional.

Feri turut menjelaskan kepada para peserta yudisium mengenai proses administrasi kelulusan, termasuk penerbitan ijazah dan Penomoran Ijazah Nasional (PIN). Ia mengingatkan mahasiswa untuk mengikuti seluruh tahapan administrasi sesuai ketentuan agar proses penerbitan dokumen kelulusan berjalan lancar.

“Selamat kepada seluruh mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan, semoga mampu membawa nama baik almamater, mengabdikan keilmuan di tengah masyarakat, serta mengambil peran dalam mencetak generasi yang unggul, adaptif, berkarakter, dan berakhlakul karimah,” tuturnya.

Seminar Hasil Penelitian sebagai bentuk diseminasi riset dosen PIAUD UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Dosen PIAUD UNUSIDA Diseminasi Hasil Riset, Perkuat Edukasi Orang Tua untuk Cegah Stunting

SIDOARJO — Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Seminar Hasil Penelitian sebagai bentuk diseminasi riset dosen yang berfokus pada peningkatan kesehatan dan gizi anak usia dini. Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Pertemuan, Gedung B Kampus UNUSIDA, Rabu (24/6/2026).

Seminar ini menghadirkan pemaparan hasil penelitian bertajuk ‘Analisis Tingkat Pemahaman Orang Tua tentang Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini (Studi Kasus Komparatif Wilayah Urban dan Rural di Jawa Timur)’. Penelitian tersebut dipimpin oleh Ketua Tim Peneliti, Shofiyatus Zahroh, bersama tim dosen PIAUD UNUSIDA.

Dalam paparannya, Shofiyatus Zahroh menjelaskan bahwa penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi tingkat pemahaman orang tua mengenai kesehatan dan gizi anak usia dini di wilayah perkotaan maupun pedesaan di Jawa Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa edukasi kepada orang tua menjadi faktor penting dalam mendukung tumbuh kembang anak sekaligus mencegah stunting sejak dini.

“Pemahaman orang tua mengenai kesehatan dan gizi anak memiliki peran strategis dalam mencegah stunting. Karena itu, penguatan edukasi keluarga perlu terus dilakukan agar anak memperoleh pemenuhan gizi dan pola pengasuhan yang tepat,” ujarnya.

Seminar hasil penelitian ini menjadi wadah bagi dosen untuk menyebarluaskan temuan ilmiah sekaligus membuka ruang diskusi bersama akademisi, praktisi pendidikan, dan peserta yang hadir. Melalui forum tersebut, berbagai masukan diberikan guna memperkaya hasil penelitian agar dapat diimplementasikan secara lebih luas di masyarakat.

Ketua Program Studi PIAUD UNUSIDA, Rif’atul Anita, menyampaikan bahwa penelitian yang dilakukan dosen merupakan bentuk komitmen perguruan tinggi dalam memberikan solusi terhadap persoalan nyata di masyarakat, khususnya isu kesehatan anak usia dini.

Ia berharap hasil penelitian tersebut tidak hanya menjadi dokumen akademik, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan dunia pendidikan.

Melalui seminar hasil penelitian ini, ia menegaskan komitmennya dalam mendukung pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, khususnya di bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Hasil riset yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan program edukasi keluarga, sekaligus memperkuat kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan serta gizi anak usia dini menuju generasi Indonesia yang lebih sehat dan berkualitas.

“Semoga hasil penelitian ini dapat menjadi kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan, peningkatan kualitas pendidikan anak usia dini, serta mendukung percepatan penurunan angka stunting di Indonesia,” ungkap Rif’atul Anita.

Salah satu teatrikal drama Roro Jonggrang yang ditampilkan dalam FAI Got Talent 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

FAI Got Talent 2026 Jadi Panggung Mahasiswa Tampilkan Bakat dan Kreativitas di UNUSIDA

SIDOARJO — Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses menggelar FAI Got Talent 2026 di Hall Kampus 2 UNUSIDA, Sabtu (27/6/2026). Kegiatan yang digagas Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FAI UNUSIDA ini menjadi ajang perdana untuk menampilkan potensi, kreativitas, dan bakat mahasiswa sekaligus melibatkan peserta dari tingkat sekolah dasar.

Beragam penampilan seni, mulai dari tari, musik, hingga pertunjukan kreativitas lainnya, memeriahkan acara. FAI Got Talent tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi ruang pengembangan soft skills bagi mahasiswa agar lebih percaya diri dalam mengekspresikan kemampuan yang dimiliki.

Ketua BEM FAI UNUSIDA, Wiwin Lestari, menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras menyukseskan kegiatan tersebut. Menurutnya, keberhasilan FAI Got Talent merupakan hasil kerja sama seluruh tim yang telah mempersiapkan acara dengan maksimal.

“Hari ini saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia dan jajaran yang telah menyelesaikan rangkaian acara dengan baik. Harapan saya, FAI Got Talent tidak berhenti sampai di sini, tetapi dapat terus menjadi agenda tahunan Fakultas Agama Islam UNUSIDA dan berkembang lebih baik di tahun-tahun mendatang,” ujarnya saat menyampaikan sambutan.

Sementara itu, Kaprodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) UNUSIDA, Rif’atul Anita, mengungkapkan bahwa FAI Got Talent merupakan kegiatan perdana yang menjadi tonggak baru bagi BEM Fakultas Agama Islam dalam memberikan ruang ekspresi kepada mahasiswa.

“Ini adalah kegiatan perdana dari BEM Fakultas Agama Islam. Saya mengapresiasi seluruh panitia yang telah bekerja luar biasa, bahkan sampai lembur demi mempersiapkan acara ini. Semoga segala usaha yang dilakukan menjadi amal ibadah dan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT,” tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut selaras dengan tema ‘Show Your Talent, Be the Inspiration’, yaitu memberikan kesempatan kepada mahasiswa Program Studi PGMI maupun PIAUD untuk menunjukkan bakat sekaligus menginspirasi orang lain melalui karya seni.

“FAI memang berbasis keagamaan, tetapi mahasiswa juga harus memiliki kemampuan di bidang seni. Seni sangat penting untuk membentuk jiwa, kreativitas, dan rasa percaya diri. Apa yang ditampilkan hari ini akan menjadi bekal ketika nanti menjadi guru dan terjun ke masyarakat,” jelasnya.

Menurutnya, pelaksanaan FAI Got Talent juga dirangkaikan dengan proses pembelajaran mata kuliah seni yang sedang ditempuh mahasiswa. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman praktik secara langsung di atas panggung.

“Ketika nanti lulus dan menjadi guru, mahasiswa tidak akan canggung lagi saat mendampingi murid dalam pentas seni, lomba tari, atau kegiatan sekolah lainnya. Mereka sudah memiliki pengalaman mengelola penampilan, mengenakan kostum, hingga tampil di depan banyak orang,” tambahnya.

Selain penampilan mahasiswa, FAI Got Talent 2026 juga menghadirkan lomba tari yang diikuti oleh siswa-siswi tingkat sekolah dasar se-Kabupaten Sidoarjo. Kehadiran peserta dari luar kampus diharapkan menjadi sarana memperkenalkan Fakultas Agama Islam UNUSIDA kepada masyarakat luas.

Anita berharap pengalaman mengikuti perlombaan di UNUSIDA akan menjadi kenangan yang membekas bagi para peserta sejak usia dini. Ia menegaskan komitmennya untuk tidak hanya mencetak lulusan yang unggul dalam bidang keislaman, tetapi juga memiliki kreativitas, keberanian berekspresi, serta kemampuan seni yang dapat mendukung profesionalisme mereka sebagai pendidik di masa depan.

“Kami ingin adik-adik memiliki pengalaman berharga dan mengenal UNUSIDA sejak sekarang. Semoga ketika nanti mereka melanjutkan pendidikan tinggi, mereka teringat bahwa di UNUSIDA ada Program Studi PGMI dan PIAUD yang siap mencetak calon guru profesional, kreatif, dan berkarakter,” ungkapnya.

FGD Penelitian Dosen PIAUD UNUSIDA Ungkap Tingkat Pemahaman Orang Tua tentang Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini (Foto: Humas UNUSIDA)

PIAUD UNUSIDA Soroti Peran Orang Tua dan Lembaga PAUD dalam Peningkatan Kesehatan dan Gizi Anak

SIDOARJO — Upaya meningkatkan kualitas kesehatan dan gizi anak usia dini membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari keluarga, lembaga pendidikan, hingga pemerintah. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) penelitian yang diselenggarakan oleh tim peneliti dari Dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Rabu (10/6/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari riset yang dipimpin oleh Ketua Peneliti, Shofiyatuz Zahroh, S.Sos., M.Pd. FGD tersebut menjadi forum strategis untuk memotret kondisi riil di lapangan sekaligus menghimpun berbagai masukan guna memperkuat kebijakan dan praktik pendidikan anak usia dini, khususnya terkait kesehatan dan gizi anak.

Dalam pemaparannya, tim peneliti menegaskan bahwa kesehatan dan gizi merupakan dua faktor utama yang sangat menentukan tumbuh kembang anak. Kedua aspek tersebut juga menjadi perhatian serius dalam berbagai program nasional, termasuk upaya percepatan penanganan masalah gizi anak di Indonesia.

“Data yang kami sampaikan masih bersifat sementara dan apa adanya. Namun, dari temuan awal ini akan muncul berbagai hal yang mungkin tidak kita duga sebelumnya dan dapat membuka kesadaran bersama tentang pentingnya peran orang tua,” ungkapnya.

Hasil sementara penelitian menunjukkan adanya perbedaan tingkat pemahaman orang tua mengenai kesehatan dan gizi anak berdasarkan wilayah. Kabupaten Sidoarjo mencatat skor tertinggi dalam pemahaman kesehatan dan gizi anak. Sebaliknya, wilayah Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Madura, masih berada pada tingkat pemahaman yang relatif rendah.

Temuan menarik lainnya menunjukkan bahwa keberadaan lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memiliki pengaruh yang sangat signifikan dalam meningkatkan literasi orang tua mengenai kesehatan dan gizi anak. Di wilayah Waru, misalnya, tingkat pemahaman orang tua terkait kesehatan dan gizi anak tergolong lebih baik dibandingkan daerah lainnya.

Penelitian ini juga menemukan bahwa tingkat pendidikan maupun pendapatan orang tua tidak selalu berbanding lurus dengan pemahaman gizi anak. Orang tua dengan latar belakang pendidikan dan ekonomi yang lebih tinggi cenderung memberikan kebebasan lebih besar kepada anak dalam memilih makanan atau jajanan. Namun di sisi lain, mereka umumnya memiliki perhatian lebih tinggi terhadap aspek kesehatan seperti imunisasi, pemeriksaan kesehatan, dan penanganan medis.

Wakil Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) UNUSIDA tersebut berharap, melalui FGD ini mampu melahirkan berbagai rekomendasi yang dapat menjadi dasar penguatan program pendidikan keluarga, peningkatan literasi kesehatan, serta pengembangan kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan tumbuh kembang anak usia dini.

“Investasi terbaik dalam pembangunan bangsa sesungguhnya dimulai dari perhatian yang serius terhadap kesehatan, gizi, dan pendidikan anak sejak usia dini. Sebab, kualitas generasi masa depan sangat ditentukan oleh bagaimana bangsa ini merawat dan mempersiapkan anak-anaknya hari ini,” terangnya.

Sementara itu, Koordinator Litbangjirap BRIDA Jawa Timur, Wiwik Heny Winarsih, M.Si., yang hadir sebagai narasumber memberikan penekanan penting terkait literasi gizi bagi masyarakat. Menurutnya, masih banyak orang tua yang memiliki persepsi keliru mengenai indikator kesehatan anak.

“Pemahaman masyarakat masih perlu diperkuat. Tidak semua anak yang tampak gemuk itu sehat. Justru sekarang banyak ditemukan kasus kelebihan gula pada anak. Ini perlu edukasi serius, termasuk pembatasan konsumsi makanan tertentu sejak dini,” ujarnya.

Wiwik juga mengingatkan pentingnya mengenalkan berbagai jenis makanan kepada anak sejak usia dini. Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat membantu anak memiliki pola konsumsi yang lebih sehat dan beragam. Oleh karena itu, pihaknya sepakat bahwa peningkatan kualitas kesehatan dan gizi anak tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Sinergi antara keluarga, lembaga pendidikan, tenaga kesehatan, dan pemangku kebijakan menjadi kunci utama agar berbagai program intervensi dapat berjalan efektif dan memberikan dampak nyata.

“Anak yang sejak kecil tidak dikenalkan variasi makanan cenderung memiliki preferensi makanan yang terbatas dan lebih mudah bergantung pada makanan instan. Karena itu, pembiasaan pola makan beragam perlu dilakukan sejak dini,” tambahnya.

Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak strategis sebagai pemangku kebijakan, di antaranya perwakilan dari Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, serta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sidoarjo. Selain itu, forum ini juga dihadiri oleh organisasi profesi dan mitra lembaga pendidikan anak usia dini, seperti IGRA, IGTKI, HIMPAUDI, serta sejumlah kepala RA, TK, dan KB di wilayah Sidoarjo dan sekitarnya.

PIAUD UNUSIDA Aktif di RAT ke-6 PPIAUD Indonesia (Foto; Humas UNUSIDA)

PIAUD UNUSIDA Turut Berperan Aktif di RAT ke-6 PPIAUD Indonesia, Dorong Penguatan Mutu dan Isu Strategis RA Negeri

BATU — Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) berpartisipasi aktif dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) ke-6 Perkumpulan Program Studi PIAUD Indonesia yang digelar di Amartahills Hotel and Resort Batu, Malang, Rabu-Kamis (29–30/4/2026).

Forum nasional ini menjadi ajang strategis dalam memperkuat jejaring antar Program Studi PIAUD se-Indonesia, meningkatkan mutu tata kelola program studi, mendorong kolaborasi tridharma perguruan tinggi, serta merumuskan arah kebijakan pendidikan anak usia dini di tingkat perguruan tinggi.

Kegiatan RAT tahun ini dipandu oleh tiga tuan rumah, yakni UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Universitas Islam Malang, dan Universitas Al-Qolam Malang. Rangkaian kegiatan meliputi pengabdian kepada masyarakat, visiting lecture, stadium general, international conference, PPIAUD Award, penyusunan RPS berbasis Outcome-Based Education (OBE), hingga pemilihan kepengurusan periode 2026–2029.

Dalam forum tersebut, Kaprodi PIAUD UNUSIDA, Rif’atul Anita, S.Pd., M.Pd., turut mendorong pembahasan isu-isu strategis pendidikan anak usia dini dalam forum nasional PPIAUD. Salah satu perhatian utama yang diangkat adalah pentingnya penegerian Raudhatul Athfal (RA) di Indonesia sebagai langkah penguatan tata kelola, pemerataan mutu, serta peningkatan kesejahteraan lembaga dan pendidik RA di berbagai daerah.

Menurutnya, penegerian RA menjadi bagian dari upaya menghadirkan layanan pendidikan anak usia dini yang lebih berkualitas, terstandar, dan berkelanjutan. Isu ini dinilai krusial karena RA selama ini memiliki kontribusi besar dalam pendidikan karakter dan fondasi keagamaan anak sejak dini, namun masih menghadapi berbagai keterbatasan dalam dukungan kebijakan dan pembiayaan.

Selain itu, Rif’atul Anita juga menekankan pentingnya respons dunia pendidikan terhadap tantangan zaman melalui integrasi teknologi dan kecerdasan buatan (AI) dalam proses pembelajaran PIAUD. Ia menilai, perkembangan teknologi harus diimbangi dengan kesiapan dosen dan mahasiswa dalam meningkatkan literasi digital.

“Peningkatan literasi digital dosen dan mahasiswa menjadi fokus penting, sekaligus pengembangan model pembelajaran yang adaptif, kreatif, dan berpusat pada anak,” ujarnya.

Seluruh peserta RAT menyepakati dan menandatangani komitmen bersama untuk mengajukan RA Negeri kepada kementerian terkait. Langkah ini dinilai penting dalam meningkatkan kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan, sekaligus membuka peluang status ASN bagi pendidik RA di masa depan.

Perkumpulan Program Studi PIAUD Indonesia memiliki peran strategis sebagai simpul koordinasi nasional antar Prodi PIAUD. Organisasi ini mendorong peningkatan mutu melalui penyusunan standar kurikulum bersama, fasilitasi kolaborasi tridharma, serta kemitraan strategis dengan pemerintah dalam pengembangan kebijakan PAUD.

Selain itu, forum juga menjadi ruang berbagi praktik baik (best practices) yang dapat diadopsi oleh masing-masing program studi, di antaranya Penguatan tata kelola program studi, Pengembangan kurikulum dan RPS berbasis OBE, Implementasi pembelajaran berbasis teknologi, Perluasan kerja sama antar anggota PPIAUD dan Inovasi riset dan pengabdian berbasis kebutuhan anak usia dini.

Integrasi teknologi dalam pembelajaran PIAUD, lanjutnya, bukan sekadar penggunaan perangkat digital, tetapi bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan, interaktif, serta sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak usia dini.

Anita berharap, keikutsertaan PIAUD UNUSIDA dalam forum PPIAUD ini dapat semakin memperkuat posisi program studi dalam jejaring nasional antar PIAUD di Indonesia. Forum tersebut juga membuka peluang kolaborasi riset, baik di tingkat nasional maupun internasional, yang dapat berdampak langsung pada peningkatan mutu akademik.

Lebih jauh, keberadaan PPIAUD dinilai memiliki peran strategis sebagai jembatan efektif antara perguruan tinggi dan para pemangku kebijakan dalam merumuskan standar pendidikan PIAUD masa depan yang unggul, inklusif, dan berkelanjutan. Melalui forum ini, aspirasi akademisi PIAUD dapat terakomodasi dalam kebijakan pendidikan anak usia dini di Indonesia.