Pos

Neng PGSD UNUSIDA, Munzilatun Jinan Berhasil Sabet Juara 2 Lomba Da’i GENVESTA Tingkat Jawa Timur (Foto: Humas UNUSIDA)

Inspiratif! Neng PGSD UNUSIDA Raih Juara 2 Lomba Da’i GENVESTA Tingkat Jawa Timur

SURABAYA — Kabar membanggakan kembali datang dari mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Munzilatun Jinan, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) 2025 A, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNUSIDA, berhasil meraih Juara 2 Lomba Da’i General Event of State Affairs (GENVESTA) Tingkat Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Sabtu (12/9/2026).

Bagi Zila sapaan akrabnya, keberhasilan tersebut tidak datang secara instan. Sebelumnya, ia telah beberapa kali mengikuti perlombaan dakwah secara daring, tetapi belum memperoleh kesempatan untuk menjadi juara. Pengalaman tersebut justru menjadi motivasi untuk kembali mencoba dan memperbaiki diri.

“Sebelumnya saya pernah mengikuti beberapa kali perlombaan melalui online, tetapi belum ditakdirkan untuk mendapatkan juara. Kemudian saya mencoba lagi di lomba yang diadakan oleh HMPHTN UINSA melalui beberapa tahapan seleksi online, kemudian lanjut babak final offline yang diadakan di Kampus 1 UINSA. Alhamdulillah, di babak final ini saya diberikan kesempatan menjadi Juara 2 di Lomba Da’i GENVESTA 2026,” ungkap Zila.

Dalam kompetisi tersebut, Neng PGSD tersebut mengangkat tema ‘Menjadi Pengguna Media Sosial yang Etis dan Bernalar Kritis’. Tema tersebut dipilih untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai pentingnya menggunakan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan media sosial membuat informasi dapat tersebar dengan sangat cepat. Namun, kecepatan penyebaran informasi perlu diimbangi dengan kemampuan untuk berpikir kritis. Informasi yang viral tidak selalu berarti informasi tersebut benar sehingga masyarakat perlu memastikan kebenarannya sebelum mempercayai maupun membagikannya.

“Saya mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam bermedia sosial, karena tidak semua berita yang viral itu benar. Semua harus kita teliti dulu kebenarannya sebelum membagikan kepada orang lain,” jelasnya.

Untuk menghadapi babak final, Munzilatun melakukan berbagai persiapan, terutama dalam penguasaan materi dakwah. Ia juga meminta masukan dari guru terkait materi yang telah dipersiapkan agar pesan yang disampaikan dapat tersusun dengan baik dan lebih mudah diterima oleh audiens.

Persiapan tersebut telah dilakukan sejak Juni ketika peserta mulai mengumpulkan karya untuk mengikuti tahap seleksi. Setelah dinyatakan lolos, Munzilatun kembali mematangkan materi dan penampilan hingga akhirnya mengikuti babak final pada September 2026.

Tidak hanya memberikan pengalaman berkompetisi, keikutsertaan dalam Lomba Da’i GENVESTA juga menjadi ruang bagi Munzilatun untuk bertemu dengan para juri dan peserta yang memiliki pengalaman serta kemampuan di bidang dakwah. Dari proses tersebut, ia memperoleh wawasan baru yang dapat menjadi bekal untuk mengembangkan kemampuannya.

“Saya merasa sangat bersyukur karena diberikan kesempatan untuk bertemu dengan juri dan peserta yang hebat. Dari sana saya mendapatkan banyak ilmu dari mereka yang ahli dalam bidang da’i,” tuturnya.

Ketertarikan Munzilatun terhadap dunia dakwah berawal dari keinginannya untuk terus belajar sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Baginya, dakwah tidak hanya sebatas menyampaikan pesan keislaman, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun pribadi yang mampu memberikan pengaruh positif bagi masyarakat.

Di tengah perkembangan teknologi, ia menilai generasi muda memiliki peran penting dalam menyampaikan nilai-nilai dakwah. Dengan kreativitas dan kemampuan memanfaatkan media digital, anak muda memiliki ruang yang luas untuk menyebarkan pesan positif kepada masyarakat.

“Peran generasi muda saat ini sangatlah penting dalam menyampaikan sebuah dakwah, karena bangsa yang baik dilihat dari bagaimana seorang pemuda mengimplementasikan nilai-nilai keislamannya dalam kehidupan sehari-hari serta dapat menyampaikannya kepada masyarakat luas,” ujarnya.

Bagi Munzilatun, pencapaian sebagai Juara 2 Lomba Da’i GENVESTA 2026 bukan sekadar sebuah penghargaan. Prestasi tersebut menjadi pembelajaran bahwa keberhasilan membutuhkan proses, keberanian untuk mencoba kembali, serta kesediaan untuk terus belajar dari pengalaman sebelumnya.

“Makna dari pencapaian ini bagi saya adalah sebuah pembelajaran bahwa segala sesuatu yang indah tidak diraih dengan perjuangan yang mudah,” katanya.

Ia berharap pencapaian tersebut dapat menjadi bagian dari perjalanan untuk terus berkembang dan berkarya. Munzilatun juga menyampaikan harapannya agar UNUSIDA semakin maju serta mampu melahirkan lebih banyak mahasiswa berprestasi di berbagai bidang.

“Harapan saya untuk kampus UNUSIDA adalah semoga lebih bersinar ke depannya, semoga bisa menjadi kampus yang maju dan berprestasi,” pungkasnya.

Suasana English Festival UNUSIDA 2026 yang dilaksanakan oleh Hima PBI dan UKM English Club UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Meriah! Puluhan Peserta Unjuk Bakat dalam English Festival 2026 di UNUSIDA

SIDOARJO — Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (HIMA PBI) bersama UKM English Club Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses menggelar English Festival 2026. Kegiatan yang diikuti oleh puluhan peserta tersebut dilaksanakan di Hall Kampus 2 Gedung A UNUSIDA, Sabtu (22/8/2026).

Dalam kegiatan tersebut, peserta berkesempatan menunjukkan kemampuan mereka melalui empat kategori perlombaan, yakni Speech, Singing, Storytelling, dan News Anchor. Melalui kategori tersebut, peserta tidak hanya ditantang untuk menguasai kemampuan berbahasa Inggris, tetapi juga mengembangkan keterampilan komunikasi, ekspresi, kreativitas, serta keberanian tampil di depan publik.

Kepala Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UNUSIDA, Evi Mahsunah, S.S., M.Pd., mengapresiasi pelaksanaan kegiatan yang digagas mahasiswa tersebut. Menurutnya, English Festival memberikan pengalaman belajar di luar pembelajaran formal sekaligus mendorong mahasiswa mengembangkan kompetensi bahasa Inggris melalui praktik langsung.

“English Festival menjadi ruang bagi peserta untuk belajar, berkompetisi, membangun jejaring, sekaligus memperoleh pengalaman baru dalam menggunakan bahasa Inggris,” ujarnya.

English Festival 2026 menjadi ruang bagi mahasiswa dan peserta untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris sekaligus menyalurkan kreativitas dan bakat melalui kompetisi yang edukatif dan kreatif. Kegiatan ini mengusung semangat untuk membangun kepercayaan diri peserta dalam menggunakan bahasa Inggris secara aktif dan aplikatif.

Tampak antusiasme puluhan peserta terlihat dalam berbagai kategori perlombaan. Mereka tampil dengan gaya dan kreativitas masing-masing, sekaligus menunjukkan keberanian dalam mengembangkan kemampuan komunikasi berbahasa Inggris.

Evi menjelaskan Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya PBI UNUSIDA menciptakan ekosistem pembelajaran yang lebih aplikatif. Kompetisi tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga proses belajar, pengalaman, dan pengembangan potensi peserta.

Melalui tema ‘Speak with Confidence, Perform with Passion, Shine with Excellence’, ia ingin mendorong Organisasi Mahasiswa (Ormawa) di lingungan program studi untuk aktif dalam menghadirkan ruang yang mendorong peserta untuk berani berkomunikasi, berkarya, dan mengembangkan potensi melalui bahasa Inggris.

“English Festival 2026 ini menjadi momentum untuk menumbuhkan budaya berbahasa Inggris yang lebih aktif di lingkungan pendidikan serta memperluas kesempatan bagi mahasiswa dan peserta untuk terus belajar dan berkembang,” pungkasnya.

Seluruh yudisiawan berfoto bersama dengan Dosen dan Tenaga Kependidikan dalam Yudisium ke-11 UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Yudisium ke-11 FKIP UNUSIDA Cetak 171 Calon Pendidik Berkarakter, Inovatif, dan Adaptif

SIDOARJO — Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Yudisium ke-11 dengan mengusung tema ‘Mencetak Pendidik yang Berkarakter, Inovatif, dan Adaptif untuk Mewujudkan Pendidikan yang Berdampak’ di Graha Delta Sekretariat Daerah Kabupaten Sidoarjo, Rabu (5/8/2026).

Sebanyak 171 mahasiswa resmi diyudisium, terdiri atas 23 lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) dan 148 lulusan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Para peserta berasal dari beberapa angkatan, yakni mahasiswa angkatan 2019, 2020, 2021, dan 2022 yang berhasil menuntaskan studinya pada semester genap Tahun Akademik 2025/2026.

Hadir dalam kegiatan tersebut Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor UNUSIDA Dr. Hadi Ismanto, S.H., M.Pd., Ketua Badan Pelaksana Penyelenggara (BPP) UNUSIDA, Dekan FKIP Muawwinatul Laili, S.S., M.Pd., jajaran pimpinan universitas dan fakultas, dosen, orang tua, serta para yudisiumwan.

Dalam sambutannya, Dekan FKIP UNUSIDA Muawwinatul Laili, S.S., M.Pd. menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya prosesi yudisium yang diikuti 171 lulusan. Ia berharap momen tersebut menjadi awal keberkahan bagi seluruh lulusan dalam mengabdikan ilmunya kepada masyarakat.

Menurutnya, tema yudisium tahun ini menegaskan pentingnya tiga kompetensi utama yang harus dimiliki seorang calon pendidik, yaitu berkarakter, inovatif, dan adaptif. Ketiga kompetensi tersebut dinilai menjadi bekal penting dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan dinamika dunia pendidikan.

“Jadilah pendidik yang memiliki karakter positif, mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta terus menghadirkan inovasi dalam proses pembelajaran,” ujarnya.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa terdapat satu nilai yang lebih utama daripada seluruh kompetensi tersebut, yakni akhlakul karimah yang berlandaskan Ahlussunnah wal Jamaah. “Jadilah pendidik yang berakhlakul karimah dengan menjunjung tinggi nilai kejujuran. Akhlak menjadi fondasi utama yang harus dimiliki setiap lulusan FKIP UNUSIDA,” pesannya.

Ia mengingatkan bahwa seorang guru bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menjadi teladan bagi peserta didik melalui ucapan, sikap, dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyebutkan bahwa momen Yudisium awal pengabdian sebagai lulusan untuk menjadi pendidik profesional, berkarakter, inovatif, adaptif, dan memberikan dampak positif bagi kemajuan pendidikan di Indonesia.

“Mulai hari ini, apa yang kalian lakukan akan menjadi contoh bagi peserta didik. Jadikan seluruh proses selama kuliah sebagai pengalaman positif yang dapat dibanggakan dan diceritakan kepada generasi berikutnya,” tambahnya.

Sementara itu, Plt. Rektor UNUSIDA Dr. Hadi Ismanto, S.H., M.Pd. menyampaikan apresiasi atas capaian para lulusan FKIP. Ia menekankan bahwa guru merupakan sosok yang menjadi role model bagi peserta didik sehingga harus terus meningkatkan kualitas diri, baik dari sisi keilmuan maupun akhlak.

Menurutnya, seorang pendidik tidak boleh berhenti belajar karena perkembangan ilmu pengetahuan terus berlangsung.

“Guru adalah teladan bagi muridnya. Seorang guru tidak boleh berhenti menambah ilmu, kemampuan, dan kualitas dirinya,” katanya.

Hadi juga mengingatkan pentingnya menjaga ibadah, khususnya salat lima waktu, sebagai kunci keselamatan dan keberkahan dalam menjalani kehidupan maupun profesi sebagai pendidik.

“Kunci hidup adalah menjaga salat lima waktu. Kalau bisa berjamaah dan dilaksanakan di awal waktu. Insyaallah Allah akan menjaga setiap langkah kehidupan kita,” pesannya.

Di kesempatan yang sama, Ketua Badan Pelaksana Penyelenggara (BPP) UNUSIDA, Drs. H. Arli Fauzi, S.H., M.Hum., menyampaikan bahwa profesi guru merupakan salah satu profesi yang paling mulia karena mendidik manusia dengan penuh ketulusan.

“Seorang guru mengajar dan mendidik dengan hati. Guru menerima peserta didik apa adanya, membimbing yang sudah baik menjadi lebih baik, dan membantu yang belum baik agar berkembang. Itulah amal jariyah seorang pendidik,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan para lulusan agar tidak berkecil hati apabila nantinya berkarier di luar profesi guru. Menurutnya, ilmu yang diperoleh selama kuliah tetap dapat memberikan manfaat dalam berbagai bidang pekerjaan.

“Kesuksesan seseorang tidak selalu ditentukan oleh kesesuaian antara ijazah dan profesinya. Yang terpenting adalah tetap menjaga nilai-nilai yang telah dipelajari dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT,” tuturnya.

FKIP UNUSIDA Gelar FGD Bahas Integrasi TPACK bersama Sri Surachmi W, dosen dan akademisi di Universitas Muria Kudus (UMK). (Foto: Humas UNUSIDA)

FKIP UNUSIDA Gelar FGD, Bahas Integrasi TPACK Berbasis Genre dalam Pembelajaran

SIDOARJO — Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema ‘Integrasi TPACK Berbasis Genre-Based Pedagogy dalam Pembelajaran’ pada Senin (20/7/2026).

Kegiatan ini menghadirkan narasumber Sri Surachmi W, dosen dan akademisi dari Universitas Muria Kudus (UMK), yang membahas pentingnya integrasi teknologi dalam pembelajaran di era digital.

Dalam pemaparannya, Sri Surachmi menjelaskan bahwa keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh kemampuan pendidik dalam mengintegrasikan materi, pedagogi, dan teknologi melalui kerangka Technological Pedagogical and Content Knowledge (TPACK).

“Teknologi bukan tujuan pembelajaran, tetapi sarana untuk membantu peserta didik memahami materi secara lebih efektif,” jelasnya.

Ia memaparkan bahwa TPACK terdiri dari tiga komponen utama, yaitu Content Knowledge (CK), Pedagogical Knowledge (PK), dan Technological Knowledge (TK). Ketiga aspek tersebut saling berinteraksi hingga membentuk integrasi pembelajaran yang utuh dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Selain itu, Sri Surachmi juga mengulas Pendekatan Berbasis Genre (Genre-Based Approach) yang berfokus pada pengembangan literasi melalui pemahaman berbagai jenis teks sesuai fungsi komunikatifnya. Pendekatan ini dinilai sejalan dengan implementasi Kurikulum Merdeka karena mampu meningkatkan kemampuan membaca, menulis, berpikir kritis, dan komunikasi peserta didik.

Dalam penerapannya, pembelajaran berbasis genre dilakukan melalui empat tahapan utama, yaitu:

  1. Building Knowledge of the Field (BKOF)
  2. Modeling of the Text (MOT)
  3. Joint Construction of the Text (JCOT)
  4. Independent Construction of the Text (ICOT)

Keempat tahapan tersebut dapat dipadukan dengan pemanfaatan berbagai teknologi digital seperti YouTube, Canva, Google Docs, hingga platform kolaboratif lainnya untuk menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif dan bermakna.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa integrasi TPACK berbasis genre tidak hanya membuat pembelajaran lebih kontekstual, tetapi juga mampu meningkatkan literasi digital serta keterampilan abad ke-21 (4C), yaitu critical thinking, creativity, collaboration, dan communication.

Meski demikian, ia juga mengingatkan adanya tantangan dalam implementasi, seperti keterbatasan kompetensi digital pendidik, akses teknologi, serta kecenderungan penggunaan aplikasi tanpa mempertimbangkan relevansi pembelajaran.

“Perencanaan yang matang menjadi kunci agar teknologi benar-benar mendukung kualitas pembelajaran, bukan sekadar mengikuti tren,” tegasnya.

Sementara itu, Dekan FKIP UNUSIDA, Muawwinatul Laili, menyampaikan bahwa kegiatan FGD ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di lingkungan fakultas.

Dengan adanya penguatan konsep TPACK berbasis genre, pihaknya berkomitmen untuk terus mendorong terciptanya praktik pembelajaran yang relevan dengan perkembangan teknologi serta kebutuhan peserta didik masa kini.

“Semoga melalui kegiatan FGD ini, para dosen dan pendidik di lingkungan FKIP UNUSIDA dapat semakin memahami pentingnya integrasi TPACK berbasis genre dalam menciptakan pembelajaran yang inovatif, adaptif, dan berpusat pada peserta didik. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wadah kolaborasi dan pertukaran ide antar pendidik guna menjawab tantangan pendidikan di era digital,” pungkasnya.

Beberapa Tangkapan Layar Zoom Meeting saat Webinar Internasional BEM FKIP UNUSIDA (Foto: Istimewa)

BEM FKIP UNUSIDA Gelar International Webinar 2026, Hadirkan Ruang Akademik yang Bedaya Saing Global

SIDOARJO — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses menyelenggarakan International Webinar 2026 dengan mengusung tema ‘The Heart of Education: Everyone Can Inspire, Everyone Can Educate’ pada Rabu (17/6/2026). Kegiatan yang dilaksanakan secara luring di Auditorium Lantai 5 Kampus II UNUSIDA dan daring melalui Zoom Meeting ini diikuti ratusan peserta dari berbagai kalangan.

Webinar internasional tersebut menghadirkan narasumber inspiratif, yakni Dr. Nico Irawan, M.Pd dan Dr. Hj. Farida Ulvi Naimah, M.H.I. Sementara itu, Dekan FKIP UNUSIDA, Muawwinatul Laili, S.S., M.Pd., hadir sebagai keynote speaker yang memberikan pandangan mengenai pentingnya pendidikan yang berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan dan inspirasi.

Dalam sambutannya, Muawwinatul Laili menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber, peserta, mahasiswa, serta panitia yang telah berkontribusi menyukseskan kegiatan tersebut. Menurutnya, tema webinar menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, melainkan hadir dalam setiap aspek kehidupan.

“Pendidikan adalah panggilan hati. Setiap individu memiliki potensi untuk mengajar melalui tindakan, nilai-nilai, dan pengalaman yang dimilikinya. Karena itu, setiap orang dapat menjadi inspirasi dan setiap orang dapat menjadi pendidik,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa webinar ini menjadi ruang penting untuk bertukar gagasan, pengalaman, serta inovasi pendidikan yang dapat memperkuat kolaborasi antarpendidik dan akademisi lintas negara. Melalui diskusi yang berlangsung, peserta diharapkan mampu memperluas wawasan sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan di lingkungan masing-masing.

Sementara itu, Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya webinar internasional yang diinisiasi oleh BEM FKIP UNUSIDA. Ia menilai kegiatan tersebut menjadi bukti semangat mahasiswa dalam menghadirkan ruang akademik yang berkualitas dan berdaya saing global.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Dekan FKIP beserta jajarannya, serta Ketua BEM FKIP dan seluruh panitia yang telah menyelenggarakan kegiatan luar biasa ini. Kehadiran lebih dari 280 peserta menunjukkan tingginya antusiasme terhadap pengembangan pendidikan dan kolaborasi internasional,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Hadi Ismanto juga mengajak mahasiswa untuk memaknai pendidikan secara lebih luas. Menurutnya, pendidikan bukan hanya soal proses belajar mengajar di ruang kelas, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mampu memberikan inspirasi, teladan, serta menciptakan peluang bagi masyarakat.

“Jantung pendidikan bukan hanya kurikulum, gedung sekolah, atau teknologi pembelajaran, melainkan manusia yang saling menginspirasi dan membimbing satu sama lain. Pendidikan pada hakikatnya adalah proses memanusiakan manusia,” tegasnya.

Ia juga mendorong mahasiswa FKIP untuk berani berinovasi dan mengembangkan jiwa kewirausahaan di bidang pendidikan. Menurutnya, perkembangan teknologi digital membuka peluang yang luas bagi para pendidik untuk menciptakan media pembelajaran, platform edukasi, maupun berbagai inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ia menegaskan bahwa setiap individu memiliki peran dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Tidak harus menjadi guru di sekolah, setiap orang dapat berkontribusi sebagai pendidik melalui keteladanan, kreativitas, dan aksi nyata yang memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.

“Semoga kegiatan menjadi wadah untuk memperkuat jejaring akademik internasional sekaligus menginspirasi mahasiswa FKIP UNUSIDA agar terus berkembang menjadi pendidik yang inovatif, adaptif, dan mampu menjawab tantangan pendidikan di era global,” pungkasnya.

Mahasiswa Kelompok KKN dan PLP FKIP UNUSIDA di Sanggar Belajar Pantai Dalam Malaysia (Foto: Humas UNUSIDA)

Tumbuhkan Semangat Kartini: Mahasiswa UNUSIDA Padukan Karakter, Nasionalisme, dan Budaya di Sanggar Belajar Malaysia

KUALA LUMPUR — Semangat Hari Kartini menyeberangi batas negara dan menemukan wujud nyatanya di tengah aktivitas Sanggar Belajar Pantai Dalam Malaysia. Di ruang belajar sederhana itu, mahasiswa peserta program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Pengenalan Lingkungan Persekolahan (PLP) Internasional dari Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menginisiasi rangkaian kegiatan yang memadukan pendidikan karakter, nasionalisme, dan pelestarian budaya bagi anak-anak Indonesia di perantauan.

Kelompok KKN dan PLP Internasional Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNUSIDA tersebut terdiri dari M. Ainur Rofik, Muhammad Firman Firdaus, M. Adani Maulidan, dan Ahmad Isroki Kholilurrohman bersama dosen pembimbing lapangan, Wahyu Maulida Lestari, M.Pd.

Bagi M. Ainur Rofik, peringatan Kartini di luar negeri bukan sekadar seremonial. Ia memaknai Habis Gelap Terbitlah Terang sebagai simbol perjuangan melawan keterbatasan. Bukan hanya akses sekolah, tetapi keberanian untuk bermimpi dan berdaya meski jauh dari tanah air.

“Cahaya terang itu sudah ada, sudah menyinari ruang kelas di sanggar belajar ini. Namun, tugas kita bukan sekadar menikmati terangnya, melainkan menjadi penyambung cahaya tersebut,” ungkapnya di sela kegiatan, Jumat (24/4/2026).

Rangkaian program yang disusun meliputi upacara bendera untuk menumbuhkan jiwa nasionalis, seminar anti-bullying demi menciptakan lingkungan belajar yang aman, serta workshop membatik eco-print untuk mengenalkan kekayaan budaya Indonesia. Melalui seminar, ia ingin menghapus kegelapan berupa krisis empati dan tekanan sosial di kalangan siswa; melalui batik, ia mengajak mereka bangga pada identitas bangsanya.

Tantangan di lapangan terutama keragaman kemampuan belajar siswa menjadi pengingat bahwa terang adalah proses berkelanjutan. Baginya, menjadi guru bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi hadir sebagai teman, pendengar, dan pembimbing.

“Tidak ada yang langsung mahir menjadi guru. Murid akan tumbuh, begitu juga dengan dirimu,” tambahnya.

Menurutnya, pengalaman KKN dan PLP Internasional ini, sangat relevan dengan teori yang dipelajari di bangku kuliah seperti Manajemen Pendidikan dan Bimbingan Konseling, yang kini dipraktikkan sebagai bentuk nyata pengabdian.

Ia berharap langkah kecil yang dilakukan dapat memicu para siswa menjadi kartini-kartini kecil yang berani bermimpi dan berusaha meraih cita-cita. Sekecil apa pun jejak kebaikan, diyakininya, adalah bagian dari upaya memastikan cahaya pendidikan Indonesia terus berpendar hingga ke sudut-sudut terjauh.

“Menjadi perempuan adalah fitrah, tetapi menjadi tangguh dan mandiri adalah pilihan. Mari terus menyalakan cahaya bagi masa depan generasi penerus bangsa,” pungkasnya.

LKMM-TD FKIP UNUSIDA 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

LKMM-TD FKIP UNUSIDA 2026: Sinergi Manajemen Diri dan Organisasi Hadapi Tantangan Global

SIDOARJO — Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menyelenggarakan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Dasar (LKMM-TD) 2026 dengan mengusung tema ‘Sinergi Manajemen Diri dan Organisasi Menghadapi Tantangan Global (SIGMA) yang dilaksanakan di Hall Kampus 2 UNUSIDA dan Villa Asia Jaya, Pecet, Mojokerto pada Rabu–Kamis (21–23/4/2026). Kegiatan ini bertepatan dengan momentum Hari Kartini, sebagai pengingat bahwa semangat emansipasi pendidikan harus diwujudkan melalui kapasitas diri, karakter, dan kepemimpinan mahasiswa.

Ketua Pelaksana Wahyu Maulida Lestari, M.Pd., melaporkan bahwa LKMM-TD tahun ini diikuti 157 peserta dari angkatan 2023–2025, dengan rincian 136 mahasiswa PGSD dan 21 mahasiswa PBI. Ia menegaskan, program ini dirancang untuk membekali mahasiswa dengan manajemen diri, manajemen waktu, dan manajemen konflik sebagai fondasi kepemimpinan.

“Semoga tidak hanya digaungkan slogan Ibu Kartini. Mari bersama menyongsong FKIP yang gemilang. Kita membutuhkan sinergi kuat mahasiswa untuk mampu memanajemen diri, waktu, dan konflik. Tanpa kalian, FKIP sulit memancarkan gemilangnya,” ujarnya.

Melalui tema SIGMA, ia menekankan bahwa momentum LKMM-TD menjadi ruang strategis untuk menyatukan kesadaran personal dan kecakapan organisasi dalam menghadapi tantangan global. Harapannya, lahir calon guru yang tidak hanya cakap mengajar, tetapi juga kuat karakter, matang kepemimpinan, dan siap memberi dampak nyata bagi kampus, masyarakat, dan dunia pendidikan.

“LKMM-TD ini diharapkan tidak berhenti di forum, tetapi diaplikasikan dalam kehidupan akademik dan organisasi,” tandasnya.

Dekan FKIP UNUSIDA Muawwinatul Laili, S.S., M.Pd., menekankan bahwa mahasiswa calon pendidik tidak hanya dituntut profesional dan kompeten, tetapi juga harus menjadi agen perubahan yang kritis, inovatif, dan solutif di tengah masyarakat.

“Tunjukkan karakter baik dalam hal-hal kecil, seperti adab saat pembacaan ayat suci Al-Qur’an pada pembukaan. Ikuti kegiatan ini dengan tanggung jawab. Harga diri dijaga, kesehatan dijaga, dan patuhi aturan panitia. Tanggung jawab ada pada diri kalian sendiri,” pesannya.

Sementara itu, Plt Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., mengaitkan semangat Kartini dengan peran mahasiswa FKIP sebagai calon pemimpin pendidikan masa depan.

“Mahasiswa FKIP harus menjadi pimpinan tertinggi suatu hari. Jangan minder, jadikan momen ini latihan untuk menjadi lebih baik. Pertahankan prestasi, terus berkembang, dan niatkan mencari ilmu yang bermanfaat,” tuturnya.

Kolaborasi Ormawa FKIP UNUSIDA Sukses Gelar Gebyar Lomba Islami Pelajar (Foto: Humas UNUSIDA)

Kolaborasi Ormawa FKIP UNUSIDA Sukses Gelar Gebyar Lomba Islami Pelajar: Semangat Meraih Berkah Syawal

SIDOARJO — Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses menggelar Gebyar Lomba Islami Pelajar. Kegiatan bertajuk ‘Semangat Meraih Berkah Syawal’ dilaksanakan di Hall Kampus 2 UNUSIDA, Sabtu (11/4/2026).

Tiga cabang lomba dipertandingkan dalam kegiatan ini, yaitu Da’i Cilik, MHQ (Musabaqah Hifdzil Qur’an), dan MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an). Masing-masing cabang menampilkan kemampuan terbaik para pelajar dalam berdakwah, menghafal, dan melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan tartil dan penuh penghayatan.

Ketua Pelaksana, Muhammad Nur Ilyas, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai momentum Syawal untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap Al-Qur’an sekaligus melatih keberanian tampil di ruang publik. Menurutnya, kegiatan ini menjadi ruang syiar sekaligus ajang pengembangan bakat pelajar dalam bidang keislaman, yang dilaksanakan di lingkungan kampus UNUSIDA dengan antusiasme peserta dari berbagai sekolah.

“Gebyar ini bukan hanya perlombaan, tetapi juga media pembinaan karakter Islami pelajar. Kami ingin menghadirkan suasana Syawal yang penuh nilai ibadah, ilmu, dan prestasi,” jelasnya.

Sementara itu, Gubernur Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FKIP UNUSIDA, Zakiyatul Fakhiroh, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya agenda kolaboratif Ormawa FKIP yang dinilai mampu menghadirkan atmosfer akademik religius dan inspiratif di lingkungan fakultas.

Apresiasi tersebut disampaikan menyusul suksesnya sinergi antarorganisasi mahasiswa, khususnya kolaborasi antara Himpunan Mahasiswa Program Studi (Hima Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) dalam menyelenggarakan kegiatan yang memadukan nilai akademik, kreativitas, dan nuansa keislaman.

Menurutnya, kolaborasi lintas prodi menjadi contoh nyata bagaimana Ormawa tidak hanya bergerak pada ranah kegiatan seremonial, tetapi juga mampu menciptakan ruang-ruang pembinaan yang berdampak bagi mahasiswa maupun pelajar.

“Kegiatan ini menunjukkan bahwa Ormawa FKIP mampu berkontribusi aktif dalam membangun kultur akademik yang religius, kolaboratif, dan inspiratif. Sinergi antar Hima Prodi seperti PGSD dan PBI patut diapresiasi dan dijadikan model untuk agenda-agenda berikutnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, semangat kolaborasi tersebut selaras dengan visi FKIP UNUSIDA dalam mencetak calon pendidik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter dan memiliki sensitivitas sosial-keagamaan.

“Kami harap melalui Gebyar Lomba Islami Pelajar ini, dapat terus menghadirkan kegiatan positif yang mendorong pelajar untuk mencintai Al-Qur’an, mengasah potensi diri, serta memperkuat nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari,” harapnya.

Mahasiswa FKIP UNUSIDA Mulai Jalani KKN dan PLP Internasional di 7 Sanggar Bimbingan Malaysia (Foto: Humas UNUSIDA)

Mahasiswa FKIP UNUSIDA Mulai Jalani KKN dan PLP Internasional di 7 Sanggar Bimbingan Malaysia

KUALA LUMPUR – Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) resmi memulai rangkaian Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) Internasional melalui prosesi penyerahan di sejumlah Sanggar Bimbingan (SB) yang tersebar di beberapa wilayah Malaysia.

Prosesi penyerahan mahasiswa dilaksanakan di beberapa titik, di antaranya Sanggar Bimbingan An-Nahdloh di Tanjung Sepat, SB At Tanzil, SB Segambut, serta SB Pantai Dalam. Momentum ini menandai dimulainya aktivitas pengabdian dan praktik kependidikan mahasiswa FKIP UNUSIDA di lingkungan pendidikan nonformal bagi anak-anak Indonesia di perantauan.

Dalam sambutan penyerahan, dosen pendamping FKIP UNUSIDA, Wahyu Maulida Lestari, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa kehadiran mahasiswa di Sanggar Bimbingan bukan hanya untuk menjalankan program akademik, tetapi juga menjadi duta pendidikan dan budaya Indonesia. Mahasiswa diharapkan mampu beradaptasi dengan lingkungan baru sekaligus memberikan kontribusi nyata melalui kegiatan literasi, numerasi, pendampingan belajar, hingga aktivitas kreatif edukatif.

Pengelola Sanggar Bimbingan menyambut hangat kedatangan mahasiswa FKIP UNUSIDA. Mereka menilai program KKN dan PLP Internasional ini sangat membantu proses pembelajaran anak-anak Indonesia yang berada di Malaysia, khususnya dalam penguatan materi dasar sekolah serta motivasi belajar.

Adapun terdapat 7 Sanggar Bimbingan yang menjadi lokasi penempatan mahasiswa FKIP UNUSIDA, yaitu:

  1. SB An-Nahdloh (Tanjung Sepat)
  2. SB At Tanzil
  3. SB Ampang
  4. SB Pandan Jaya
  5. SB Sentul
  6. SB Segambut
  7. SB Pantai Dalam

Melalui sebaran lokasi ini, mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung menghadapi karakteristik peserta didik yang beragam, kondisi sarana prasarana yang berbeda, serta tantangan pembelajaran di lingkungan komunitas pekerja migran Indonesia.

Program KKN dan PLP Internasional ini menjadi bagian dari penguatan kompetensi mahasiswa sebagai calon pendidik FKIP UNUSIDA dalam konteks global. Selain mengasah keterampilan mengajar, mahasiswa juga belajar tentang empati sosial, komunikasi lintas budaya, serta pengabdian nyata kepada masyarakat Indonesia di luar negeri.

Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung selama beberapa pekan ke depan dengan pendampingan intensif dari dosen pembimbing serta koordinasi bersama pengelola Sanggar Bimbingan di masing-masing lokasi.

“Kami berharap kehadiran mahasiswa FKIP UNUSIDA mampu memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi proses pendidikan anak-anak Indonesia di Malaysia,” pungkasnya.

FKIP UNUSIDA dan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur Teken MoA dan IA untuk KKN–PLP Internasional (Foto: Humas UNUSIDA)

FKIP UNUSIDA Teken MoA dan IA Bersama SIKL Malaysia, Buka Ruang Belajar Lintas Negara Bagi Mahasiswa

KUALA LUMPUR – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) melalui FKIP resmi menjalin kerja sama internasional dengan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) melalui penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) dan Implementation Arrangement (IA), Jum’at (3/5/2026). Kesepakatan ini difokuskan pada pelaksanaan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) Internasional bagi mahasiswa FKIP.

Penandatanganan dokumen kerja sama ini menjadi tonggak penting dalam penguatan jejaring global FKIP UNUSIDA, sekaligus membuka ruang pengalaman belajar lintas negara bagi mahasiswa calon pendidik. Melalui MoA dan IA tersebut, mahasiswa akan mendapatkan kesempatan melaksanakan praktik kependidikan secara langsung di lingkungan sekolah Indonesia di luar negeri dengan standar internasional.

Dekan FKIP UNUSIDA, Muawwinatul Laili, S.S., M.Pd., menyampaikan bahwa program ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian mahasiswa dalam konteks pendidikan global. “Mahasiswa tidak hanya belajar mengajar di kelas, tetapi juga belajar adaptasi budaya, komunikasi lintas negara, serta memahami sistem pendidikan Indonesia di luar negeri,” ujarnya.

Ia menyebutkan program KKN–PLP Internasional ini juga menjadi bagian dari strategi internasionalisasi kampus yang terus dikembangkan UNUSIDA. Dengan pengalaman praktik di luar negeri, mahasiswa diharapkan memiliki daya saing lebih tinggi serta perspektif pendidikan yang lebih luas saat kembali mengabdi di masyarakat.

” Kami berharap kerja sama internasional ini menjadi awal dari kolaborasi berkelanjutan di bidang pendidikan, penelitian, serta pengembangan kapasitas guru dan calon guru dalam skala internasional,” ungkapnya.

Sementara itu, pihak SIKL menyambut baik kolaborasi ini sebagai bagian dari penguatan peran sekolah Indonesia di luar negeri dalam mendukung peningkatan kualitas calon guru dari tanah air. Kehadiran mahasiswa FKIP UNUSIDA dinilai akan memberikan energi baru dalam proses pembelajaran, sekaligus menjadi ajang pertukaran pengalaman pendidikan.

Ruang lingkup kerja sama dalam IA mencakup penempatan mahasiswa KKN dan PLP, pendampingan oleh guru pamong di SIKL, supervisi akademik dari dosen pembimbing FKIP, hingga evaluasi bersama terhadap pelaksanaan program. Skema ini memastikan kegiatan berjalan terstruktur, terukur, dan memberikan dampak nyata baik bagi mahasiswa maupun pihak sekolah.