Pos

Siti Fatimah Wisudawan terbaik dalam Wisuda ke-10 UNUSIDA (Foto:Humas UNUSIDA)

Siti Fatimah, Wisudawan Terbaik UNUSIDA: Gelar Sarjana Jadi Pengingat untuk Terus Bermanfaat

SURABAYA — Siti Fatimah, wisudawati Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi menjadi wisudawan terbaik dengan IPK 3.98 dalam wisuda ke-10 Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), di Dyandra Convention Center, Jl. Basuki Rahmat No.93-105, Embong Kaliasin, Kec. Genteng, Surabaya, Ahad (20/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Ima sapaan akrabnya menyampaikan rasa syukur sekaligus haru karena dapat berdiri mewakili teman-teman wisudawan. Menurutnya, mengenakan toga pada hari wisuda mengingatkan kembali pada perjalanan panjang yang telah dilalui selama masa perkuliahan.

“Perjalanan kita untuk sampai ke titik ini bukanlah perjalanan yang selalu mudah. Ada begitu banyak cerita, perjuangan, doa, air mata, dan juga harapan yang mungkin tidak semuanya dapat kita ceritakan kepada orang lain,” ungkapnya.

Ia mengajak seluruh wisudawan untuk memberikan apresiasi kepada diri sendiri atas berbagai perjuangan yang telah dilewati. Mulai dari menyelesaikan tugas, menghadapi tenggat waktu, menjalani proses skripsi, revisi, hingga berbagai tantangan akademik lainnya.

Ima yang selama kuliah juga aktif berorganisasi tersebut menyebutkan bahwa setiap mahasiswa memiliki cerita perjuangan yang berbeda. Ada yang harus membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan, berjuang melalui beasiswa, menjalani perkuliahan sembari mondok, aktif berorganisasi, hingga menghadapi tanggung jawab keluarga maupun persoalan pribadi.

Sebagai salah satu penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), Ima mengaku memahami bahwa kesempatan menempuh pendidikan tinggi merupakan amanah yang sangat berarti.

“Bagi saya, beasiswa ini bukan hanya tentang bantuan biaya pendidikan. Di dalamnya ada kesempatan untuk belajar, bertumbuh, membangun harapan, dan membuktikan bahwa keadaan awal seseorang tidak harus menjadi batas bagi masa depannya,” tuturnya.

Namun, ia menegaskan bahwa perjuangan tidak hanya dimiliki oleh mahasiswa penerima beasiswa. Setiap mahasiswa memiliki tantangan masing-masing yang layak untuk dihargai.

“Bukan waktunya untuk membandingkan siapa yang paling berat perjuangannya. Hari ini adalah waktunya untuk saling menghargai karena kita semua telah melewati proses yang tidak mudah,” katanya.

Gelar Sarjana sebagai Awal Perjalanan

Ima juga mengingatkan bahwa prosesi wisuda bukanlah akhir dari perjalanan. Setelah menyelesaikan pendidikan, para lulusan akan menghadapi babak kehidupan yang baru dengan berbagai pilihan, mulai dari bekerja, melanjutkan pendidikan, membangun usaha, mengabdi kepada masyarakat, maupun mencari kesempatan baru.

Ia berpesan agar para lulusan tidak menjadikan gelar sarjana sebagai tanda bahwa proses belajar telah selesai.

“Jangan pernah merasa bahwa gelar sarjana adalah tanda bahwa kita telah mengetahui segalanya. Justru gelar ini menjadi pengingat bahwa kita memiliki tanggung jawab untuk terus mengembangkan ilmu dan memberikan manfaat bagi orang lain,” ujarnya.

Ima juga mengajak para wisudawan untuk tetap menjaga integritas, menghargai proses, serta membawa nama baik almamater di mana pun berada.

Ia berharap ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di UNUSIDA dapat menjadi bekal untuk memberikan kontribusi bagi keluarga, masyarakat, agama, dan negara.

Terima Kasih untuk Orang Tua dan Almamater

Dalam sambutannya, Siti memberikan apresiasi khusus kepada orang tua dan keluarga yang selama ini menjadi sumber dukungan bagi para mahasiswa. “Gelar sarjana yang kami raih bukan hanya tentang pencapaian pribadi kami. Di dalamnya ada doa orang tua, ada perjuangan keluarga, dan ada harapan yang selama ini kita bawa,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada pimpinan UNUSIDA, para dosen, serta seluruh pihak yang telah mendukung proses pendidikan mahasiswa. Menurutnya, para dosen tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan, tetapi juga mengajarkan tanggung jawab, kedisiplinan, integritas, serta pentingnya untuk terus belajar.

Tak lupa, Siti mengapresiasi teman-teman seperjuangan yang telah menjadi bagian dari perjalanan selama masa perkuliahan. “Semoga persahabatan yang telah kita bangun selama masa perkuliahan tidak berhenti hanya karena hari ini kita telah mengenakan toga,” harapnya.

Ia mengajak seluruh wisudawan untuk terus melangkah dengan semangat dan tidak melupakan perjuangan yang telah mengantarkan mereka hingga hari wisuda.

“Jika suatu hari nanti kita menghadapi kegagalan, semoga kita mengingat kembali perjuangan hari ini. Jika suatu saat kita merasa tidak mampu, semoga kita kembali menemukan keberanian untuk melangkah,” pesannya.

Ia juga mendoakan agar seluruh lulusan senantiasa diberikan keberkahan, kesehatan, kekuatan, dan kemudahan dalam menapaki kehidupan setelah kampus. Ia mengajak para lulusan untuk turut mengenalkan dan menyampaikan kepada masyarakat bahwa UNUSIDA merupakan kampus yang luar biasa, sekaligus terus menjaga nama baik almamater di tengah masyarakat.

“Semoga ilmu yang kita peroleh menjadi ilmu yang bermanfaat, menjadi amal jariah, dan menjadi bekal untuk memberikan kontribusi bagi keluarga, masyarakat, agama, dan negara,” pungkasnya.

Sekretaris LPT-PBNU, Dr. rer. pol. Muhammad Faishal Aminuddin, S.S., M.Si. saat menyampaikan Orasi Ilmiah dalam Wisuda ke-10 UNUSIDA. (Foto: Humas UNUSIDA)

Wisuda ke-10 UNUSIDA, Sekretaris LPT-PBNU Tekankan Karakter, Lifelong Learning, dan Daya Saing Lulusan

SURABAYA — Sekretaris Lembaga Pendidikan Tinggi (LPT) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Dr. rer. pol. Muhammad Faishal Aminuddin, S.S., M.Si., menekankan pentingnya pembentukan karakter, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk terus belajar bagi para lulusan perguruan tinggi. Pesan tersebut disampaikan saat dirinya memberikan Orasi Ilmiah dalam Wisuda ke-10 Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) di Dyandra Convention Center, Jl. Basuki Rahmat No.93-105, Embong Kaliasin, Kec. Genteng, Surabaya, Ahad (20/9/2026).

Di hadapan para wisudawan, orang tua, dan sivitas akademika, Faishal mengingatkan bahwa gelar sarjana bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal untuk terus mengembangkan kapasitas diri. Menurutnya, kondisi dunia kerja yang terus berubah menuntut lulusan memiliki kemampuan untuk beradaptasi. Keahlian atau skill yang diperoleh selama kuliah memang penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya bekal.

“Keahlian itu bisa berubah, bisa diasah. Apa yang Anda pelajari hari ini mungkin lima atau sepuluh tahun yang akan datang tidak laku lagi,” ujarnya.

Ia mencontohkan perkembangan teknologi dan perangkat kerja yang membuat berbagai keterampilan terus mengalami perubahan. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki fondasi kemampuan belajar yang kuat agar dapat mengikuti perubahan zaman.

Karakter Lebih Panjang Umurnya daripada Skill

Faishal menilai karakter menjadi salah satu modal penting yang perlu dibawa lulusan ketika memasuki dunia profesional. Kemampuan teknis dapat dipelajari melalui berbagai pelatihan dalam waktu relatif singkat, sedangkan pembentukan karakter membutuhkan proses yang lebih panjang.

“Yang paling penting adalah bagaimana kita membangun karakter diri. Itu yang paling penting agar Anda bisa diterima, pergaulannya luas, jaringannya banyak, dan Anda bisa membuktikan bahwa Anda mampu serta bisa dipercaya untuk melaksanakan pekerjaan,” jelasnya.

Ia mengingatkan para wisudawan agar tidak memandang pendidikan tinggi hanya sebagai jalan untuk mendapatkan pekerjaan. Kuliah, kata dia, pada dasarnya merupakan proses untuk mencari ilmu agar seseorang menjadi pribadi yang lebih baik dan bijaksana.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah persoalan ketenagakerjaan dan ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Faishal menyebut kondisi tersebut sebagai mismatch, yakni ketika kompetensi atau bidang yang dipelajari tidak sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.

Namun, ia mengajak para lulusan untuk tidak memandang mismatch semata-mata sebagai hambatan. Lulusan justru harus mampu memperluas kemungkinan kontribusinya melalui kompetensi yang dimiliki.

“Yang menghidup kita itu Tuhan, yang menghidup kita itu Allah. Percaya sajalah,” pesannya.

Jangan Putus Hubungan dengan Almamater

Salah satu gagasan yang ditekankan Faishal dalam orasinya adalah pentingnya konsep lifelong learning atau pembelajaran sepanjang hayat. Ia mengusulkan agar hubungan mahasiswa dengan kampus tidak berakhir setelah prosesi wisuda. Para alumni diharapkan tetap terhubung dengan almamater, bukan sekadar untuk menjaga silaturahmi, tetapi juga sebagai ruang untuk meningkatkan kemampuan.

“Setelah lulus jangan kemudian tiba-tiba lepas dari UNUSIDA. Anda sebagai alumni harus tetap terhubung, meng-upgrade diri, dan UNUSIDA selalu harus menyediakan tempat itu,” katanya.

Menurutnya, perguruan tinggi perlu menyediakan berbagai layanan pengembangan kompetensi bagi alumni, terutama dalam menghadapi perubahan keterampilan yang berlangsung cepat.

Dengan demikian, hubungan antara perguruan tinggi dan alumni dapat menjadi ekosistem pembelajaran yang terus berlangsung meskipun mahasiswa telah menyelesaikan pendidikan formalnya.

Lulusan PTNU Harus Memiliki Penciri

Dalam kesempatan tersebut, Faishal juga menjelaskan peran LPT-PBNU dalam pengembangan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama. Ia menyampaikan bahwa LPT-PBNU membawahi 44 perguruan tinggi dan terus mendorong penguatan kualitas serta kekhasan pendidikan tinggi NU.

Menurutnya, perguruan tinggi NU perlu memiliki penciri yang jelas, sehingga lulusan PTNU memiliki identitas sekaligus kualitas yang dapat dibawa ke dunia profesional.

Ia meminta para lulusan UNUSIDA untuk tidak merasa rendah diri ketika harus bersaing dengan lulusan perguruan tinggi negeri maupun swasta lainnya.

“Yang dilihat pertama kali itu adalah mutu, bukan hanya sekadar kuliah,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa perguruan tinggi NU memiliki tanggung jawab besar untuk memberikan pendidikan yang dapat menampung keberagaman masyarakat. Nilai toleransi dan kemampuan hidup berdampingan dengan berbagai perbedaan menjadi bagian yang perlu terus dirawat.

Karena itu, lulusan PTNU diharapkan mampu membangun jejaring dengan sesama alumni perguruan tinggi NU di berbagai daerah. Jejaring tersebut dapat dikembangkan dalam dunia kerja maupun ruang profesional lainnya.

Tiga Pesan untuk Wisudawan

Menutup orasinya, Faishal menyampaikan tiga hal yang perlu diingat para wisudawan dalam menghadapi kehidupan setelah kampus.

Pertama, lulusan harus memiliki kesadaran untuk terus melakukan upgrading skill. Dunia terus berubah sehingga proses belajar tidak boleh berhenti setelah mendapatkan ijazah.

Kedua, lulusan harus memiliki daya saing tinggi. Daya saing tersebut dibuktikan dengan kemampuan dan kompetensi yang benar-benar dibutuhkan oleh dunia kerja. Bahkan, menurutnya, lulusan dengan mental kewirausahaan dapat memilih untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.

Ketiga, lulusan harus tetap memegang prinsip sebagai bagian dari keluarga besar perguruan tinggi Nahdlatul Ulama yang meyakini pentingnya keberkahan.

“Saya itu mulai dari desa, kuliah sampai di luar negeri, tinggal lama, itu tidak bisa lepas dari kepercayaan mengenai barokah, keberkahan. Karena sesuatu yang tidak mungkin itu bisa menjadi mungkin,” ungkapnya.

Tegaskan Status Transisi Kepemimpinan UNUSIDA

Dalam orasi tersebut, Faishal juga menyampaikan penjelasan mengenai status kepemimpinan UNUSIDA. Ia menegaskan bahwa badan hukum UNUSIDA berada di bawah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, sehingga kewenangan strategis terkait perguruan tinggi berada pada LPT-PBNU sebagai lembaga yang menangani pendidikan tinggi NU.

Ia menjelaskan bahwa posisi Pelaksana Tugas (Plt) Rektor merupakan bagian dari masa transisi dan proses penataan kelembagaan. “Status Plt ini transisi saja. Tidak lama lagi transisi itu akan bisa berakhir dan ada rektor definitif yang hak dan kewajibannya juga sama,” ujarnya.

Ia juga memastikan kepada para wisudawan dan keluarga bahwa ijazah yang diterbitkan tetap memiliki keabsahan. Menurutnya, LPT-PBNU telah memberikan mandat terkait otoritas dan keabsahan ijazah tersebut sehingga para lulusan tidak perlu meragukan status ijazah yang mereka terima.

Lebih lanjut, ia berharap para lulusan mampu membawa ilmu yang diperoleh selama berada di kampus untuk terus berkembang, memiliki daya saing, membangun jejaring, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Wisuda, bukanlah garis akhir pendidikan. Justru setelah mengenakan toga dan menerima ijazah, para lulusan memasuki fase baru untuk membuktikan bahwa ilmu, karakter, kompetensi, dan nilai yang diperoleh selama berada di UNUSIDA dapat menjadi bekal menghadapi perubahan zaman sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.

Momen foto bersama seluruh peserta Yudisium ke-10 Fakultas Teknik UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Yudisium ke-10 Fakultas Teknik UNUSIDA, Tekankan Pentingnya Menjaga Nama Baik Almamater

SIDOARJO — Fakultas Teknik (FT) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Yudisium ke-10 di Hall Gedung A, Kampus UNUSIDA Lingkar Timur Sidoarjo, Rabu (19/8/2026) malam. sebagai momentum pengukuhan sekaligus pelepasan mahasiswa yang telah menyelesaikan rangkaian pendidikan akademiknya.

Dekan Fakultas Teknik UNUSIDA, Listin Fitrianah, S.P., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan komitmen Fakultas Teknik untuk terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan, pengajaran, serta fasilitas penunjang pembelajaran. Salah satu pengembangan yang menjadi perhatian adalah penambahan fasilitas laboratorium.

Menurutnya, keberadaan laboratorium yang lengkap menjadi bagian penting dalam mendukung proses pembelajaran mahasiswa Fakultas Teknik. Sejumlah mahasiswa juga telah memanfaatkan fasilitas tersebut dalam kegiatan perkuliahan.

“Fakultas Teknik kalau laboratoriumnya tidak lengkap juga sulit. Karena itu, kami berharap pengembangan laboratorium dapat terus didukung secara bertahap sehingga bisa menunjang kebutuhan pembelajaran mahasiswa,” ujarnya.

Listin juga menyampaikan permohonan maaf mewakili jajaran struktural Fakultas Teknik apabila selama proses pendidikan terdapat kesalahan dalam pelayanan maupun penyampaian. Ia menegaskan bahwa Fakultas Teknik terus berupaya memberikan pelayanan, pengajaran, dan fasilitas terbaik bagi mahasiswa.

Memasuki fase setelah kelulusan, ia berpesan kepada para yudisiawan agar tetap menjaga nama baik almamater. Yudisium kali ini menjadi ruang refleksi atas perjuangan mahasiswa selama menempuh pendidikan sekaligus bekal untuk memasuki kehidupan profesional dan bermasyarakat. Menurutnya, status sebagai alumni UNUSIDA merupakan bagian dari perjalanan yang perlu dibanggakan sekaligus dijaga melalui sikap dan kontribusi positif di tengah masyarakat.

“Ketika kita lulus, tolong dijaga almamater kita. Kita harus bangga sebagai alumni UNUSIDA. Jika ada informasi maupun perkembangan dari luar, mari kita saling berbagi dan menyampaikannya kepada adik-adik tingkat,” pesannya.

Ia juga mengajak para alumni untuk turut berkontribusi dalam mengenalkan Fakultas Teknik UNUSIDA kepada keluarga, tetangga, maupun calon mahasiswa yang memiliki minat melanjutkan pendidikan di bidang teknik. Listin berharap dengan bekal akademik, pengalaman organisasi, serta nilai-nilai yang diperoleh selama berada di kampus, para alumni mampu hadir sebagai tenaga profesional sekaligus bagian dari masyarakat yang memberikan kontribusi nyata.

“Kalau ada keluarga atau tetangga yang berminat menjadi mahasiswa baru, mari kita ajak dan kita sampaikan bahwa Fakultas Teknik UNUSIDA memiliki dosen-dosen yang siap mendampingi mahasiswa dalam proses perkuliahan,” lanjutnya.

Sementara itu, Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., menekankan bahwa kelulusan bukan sekadar capaian akademik, melainkan hasil dari perjuangan panjang mahasiswa selama menempuh pendidikan.

Ia mengapresiasi perjuangan mahasiswa Fakultas Teknik yang menjalani proses perkuliahan dengan berbagai tantangan, termasuk bagi mahasiswa yang harus membagi waktu antara perkuliahan, pekerjaan, dan kehidupan keluarga.

“Perjuangan kuliah di Fakultas Teknik tidak mudah. Karena itu, saya menghargai proses yang telah dilalui hingga hari ini. Empat tahun atau bahkan lebih bukan waktu yang pendek. Ada perjuangan, kelelahan, dan proses panjang yang akhirnya mengantarkan saudara menyandang gelar Sarjana Teknik,” ungkapnya.

Menurutnya, setelah meninggalkan ruang kelas, para lulusan akan memasuki dunia nyata yang memiliki tantangan berbeda. Karena itu, ilmu yang diperoleh selama perkuliahan harus diwujudkan dalam sikap profesional, kemampuan memecahkan persoalan, serta perilaku yang mencerminkan nilai-nilai yang telah dipelajari selama menjadi mahasiswa.

“Dari ruang kelas menuju dunia nyata, ilmu yang diperoleh selama empat tahun harus digunakan untuk menghadapi berbagai persoalan. Bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga bagaimana cara kita berperilaku dan menjadi profesional,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan para lulusan agar tetap menjaga hubungan dengan almamater sebagai bagian dari keluarga besar UNUSIDA. Kelulusan, menurutnya, bukan akhir dari hubungan mahasiswa dengan kampus, melainkan awal dari perjalanan baru untuk membawa nilai-nilai UNUSIDA ke tengah masyarakat.

Lebih lanjut, Hadi menyampaikan apresiasi kepada para lulusan atas perjuangan yang telah mereka lalui serta berharap ilmu yang diperoleh dapat memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, nusa, dan bangsa.

“Selamat atas kelulusan saudara. Semoga ilmu yang diperoleh selama di UNUSIDA menjadi ilmu yang bermanfaat untuk nusa dan bangsa. Tetap jaga almamater, semangat, terus berdoa, serta jangan lupa menyampaikan salam dan terima kasih kepada orang tua dan keluarga masing-masing,” pungkasnya.

Viki Topan Fernando, S.Kom., alumni Program Studi Sistem Informasi angkatan lulus 2025 (Foto: Humas UNUSIDA)

Alumni UNUSIDA Jadi PPPK RSUD Eka Candrarini, Viki Topan Fernando: Karakter dan Integritas adalah Bekal Terpenting

Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menghadirkan kisah inspiratif dari alumninya. Kali ini datang dari Viki Topan Fernando, S.Kom., alumni Program Studi Sistem Informasi angkatan lulus 2025 yang kini mengabdi sebagai PPPK Bagian Umum dan Keuangan RSUD Eka Candrarini, Rungkut, Surabaya.

Bagi Viki, perjalanan selama menempuh pendidikan di UNUSIDA tidak hanya memberikan bekal akademik, tetapi juga membentuk karakter, prinsip, dan integritas yang menjadi modal utama dalam menjalani dunia kerja.

“UNUSIDA tidak hanya memberikan bekal ilmu pengetahuan, tetapi juga membantu membentuk karakter, prinsip, dan integritas yang kuat. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam menjalani karier dan memberikan kontribusi terbaik bagi instansi maupun perusahaan,” ungkap Viki kepada Humas UNUSIDA, Kamis (25/6/2026).

Ia juga mengenang suasana perkuliahan yang penuh dukungan dari para dosen dan teman-teman seperjuangan. Menurutnya, lingkungan akademik yang positif menjadi salah satu faktor penting dalam proses pembelajaran.

“Teman-teman yang luar biasa dan dosen-dosen yang keren serta sabar mendidik hingga saya menyelesaikan studi menjadi pengalaman yang sangat berharga. Mereka tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga memberikan teladan dalam bersikap dan bekerja,” tuturnya.

Viki meyakini bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya diukur dari pekerjaan yang diraih, tetapi juga dari nilai-nilai yang dibawa dalam setiap pengabdian kepada masyarakat.

“Kesuksesan bukan hanya tentang mendapatkan pekerjaan, tetapi juga tentang membawa nilai, integritas, dan manfaat bagi lingkungan sekitar. Pendidikan yang baik bukan hanya mencetak lulusan yang cerdas, tetapi juga pribadi yang berintegritas dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” tambahnya.

Ia bertekad ingin membuktikan bahwa lulusan UNUSIDA mampu bersaing di dunia kerja dengan bekal kompetensi, karakter, serta nilai-nilai ke-NU-an yang ditanamkan selama masa perkuliahan. Ia juga sangat mengapresiasi program Inspirasi Alumni, UNUSIDA terus menghadirkan cerita sukses para alumninya sebagai motivasi bagi mahasiswa maupun calon mahasiswa untuk terus belajar, mengembangkan potensi diri, dan mempersiapkan masa depan sejak di bangku kuliah.

“Semoga perjalanan karier saya menjadi inspirasi bahwa kesuksesan lahir dari perpaduan antara ilmu pengetahuan, karakter yang kuat, integritas, serta semangat untuk terus memberikan manfaat bagi sesama,” harapnya.

Ahmad Rio Afandi, S.T., alumni Program Studi S1 Teknik Kimia UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Dari Pekerja Menjadi Profesional di Industri Manufaktur, Rio Afandi Jadi Alumni Teknik Kimia UNUSIDA yang Raih Karir Impian

Perjuangan meraih pendidikan tinggi sering kali dihadapkan pada berbagai tantangan, terutama bagi mereka yang harus membagi waktu antara bekerja dan kuliah. Namun, keterbatasan tersebut tidak menjadi penghalang bagi Ahmad Rio Afandi, S.T., alumni Program Studi S1 Teknik Kimia Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), untuk mewujudkan impiannya.

Lulusan tahun 2023 tersebut kini berkarier di bidang manufaktur dan bekerja di PT Bidik Inovasi Global. Kesuksesan yang diraihnya saat ini tidak terlepas dari perjalanan panjang yang penuh perjuangan selama menempuh pendidikan di bangku kuliah.

Rio mengaku bahwa pada awalnya keinginan untuk melanjutkan pendidikan tinggi terasa seperti sesuatu yang sulit diwujudkan. Sebagai seorang pekerja, ia harus menghadapi berbagai keterbatasan, baik dari segi waktu maupun kesempatan untuk mengembangkan diri melalui pendidikan formal.

“Kondisi segala keterbatasan saya sebagai pekerja untuk meraih bangku kuliah seperti hal yang tabu. Namun UNUSIDA hadir membantu saya dengan segala kemudahan,” ungkap Rio kepada Humas UNUSIDA, Jum’at (5/6/2026).

Menurutnya, UNUSIDA memberikan ruang bagi siapa saja yang memiliki semangat untuk belajar dan berkembang. Berbagai fasilitas pendukung yang tersedia, ditambah dengan lingkungan akademik yang kondusif, membuatnya mampu menjalani perkuliahan dengan baik meskipun tetap harus bekerja.

Salah satu hal yang paling berkesan baginya adalah dukungan yang diberikan oleh para dosen selama proses perkuliahan. Ia merasakan bahwa para dosen tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga menjadi motivator yang senantiasa memberikan semangat kepada mahasiswa untuk terus berkembang dan menyelesaikan pendidikan.

“Dosen-dosen sangat suportif kepada saya sehingga saya dapat bekerja dengan nyaman sekaligus menyelesaikan kuliah dengan baik,” ujarnya.

Dukungan tersebut menjadi energi tambahan bagi Rio untuk tetap konsisten menjalani dua peran sekaligus, yaitu sebagai pekerja dan mahasiswa. Dengan manajemen waktu yang baik serta lingkungan kampus yang mendukung, ia berhasil menyelesaikan studi di Program Studi Teknik Kimia hingga meraih gelar sarjana.

Bagi Rio, memilih Teknik Kimia bukan sekadar mengikuti tren atau tuntutan pekerjaan. Ia memiliki ketertarikan yang besar terhadap bidang tersebut dan ingin mengembangkan kompetensi yang sesuai dengan minat serta potensi dirinya.

Selama menempuh pendidikan di UNUSIDA, ia memperoleh berbagai pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri. Mulai dari pemahaman mengenai proses kimia, pengolahan bahan, manajemen produksi, hingga kemampuan analisis yang dibutuhkan dalam dunia kerja.

Ia menilai bahwa kurikulum yang diterapkan di Program Studi Teknik Kimia UNUSIDA mampu memberikan fondasi yang kuat bagi mahasiswa untuk menghadapi tantangan industri yang terus berkembang.

“Teknik Kimia UNUSIDA yang mengantarkan saya pada pekerjaan impian saya saat ini,” katanya.

Saat ini, Rio berkiprah di PT Bidik Inovasi Global, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur. Pekerjaan yang dijalaninya sangat berkaitan dengan ilmu yang diperoleh selama masa kuliah, sehingga ia dapat mengaplikasikan berbagai konsep dan teori yang telah dipelajari di bangku perkuliahan.

Menurutnya, keberhasilan memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bidang studi merupakan salah satu pencapaian yang sangat membanggakan. Hal tersebut membuktikan bahwa pendidikan yang ditempuh memiliki relevansi yang kuat dengan kebutuhan dunia industri.

Tidak hanya bekal akademik, Rio juga merasakan manfaat besar dari pendidikan karakter dan nilai-nilai keagamaan yang diperoleh selama menjadi mahasiswa UNUSIDA. Sebagai perguruan tinggi yang berlandaskan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, UNUSIDA tidak hanya fokus pada pengembangan kompetensi akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan moral mahasiswa.

Rio mengaku bahwa nilai-nilai tersebut menjadi pegangan penting dalam menjalani kehidupan profesional maupun sosial di tengah masyarakat.

“Bekal ilmu akademik, norma agama, dan kehidupan yang saya peroleh saat kuliah membuat saya mampu survive di dunia luar, khususnya dalam dunia kerja,” tuturnya.

Menurutnya, dunia kerja tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga integritas, etika, kedisiplinan, serta kemampuan beradaptasi dengan berbagai situasi dan tantangan. Nilai-nilai tersebut menjadi modal penting yang terus ia pegang hingga saat ini.

Rio berharap pengalaman yang ia alami dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa maupun calon mahasiswa yang sedang berjuang menempuh pendidikan di tengah berbagai keterbatasan. Ia meyakini bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi, melainkan tantangan yang harus dihadapi dengan tekad dan kerja keras.

Ia juga mengajak generasi muda untuk memanfaatkan kesempatan belajar dengan sebaik-baiknya serta terus mengembangkan potensi diri agar mampu bersaing di dunia profesional.

“Dukungan lingkungan yang tepat, semangat belajar yang kuat, dan kemauan untuk terus berkembang menjadikan setiap orang memiliki kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik. Dari seorang pekerja yang sempat menganggap bangku kuliah sebagai sesuatu yang sulit dijangkau, kini ia berhasil berdiri sebagai profesional di bidang manufaktur yang bekerja sesuai dengan passion dan keilmuan yang ditekuninya,” pungkasnya.

Mochamad Dafa Perdana, S.Pd., alumni Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UNUSIDA angkatan 2023 (Foto: Humas UNUSIDA)

Kisah Alumni PBI UNUSIDA: Dari Kampus, Tumbuh Menjadi Pendidik yang Menginspirasi

Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menorehkan kebanggaan melalui kiprah para alumninya yang terus berkarya dan memberikan kontribusi nyata di dunia pendidikan. Salah satunya adalah Mochamad Dafa Perdana, S.Pd., alumni Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UNUSIDA angkatan 2023 yang kini mengabdikan diri sebagai Guru Bahasa Inggris di SMA Pembangunan Jaya Sidoarjo.

Bagi Dafa, menempuh pendidikan di UNUSIDA bukan sekadar perjalanan akademik untuk memperoleh gelar sarjana. Lebih dari itu, kampus menjadi ruang pembelajaran yang membentuk karakter, integritas, dan profesionalisme yang kini menjadi bekal utama dalam menjalankan tugas sebagai pendidik.

“Menjadi alumni UNUSIDA, khususnya dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, merupakan pengalaman yang sangat bermakna. Saya tidak hanya dibekali dengan pengetahuan tentang bahasa dan pedagogi, tetapi juga nilai-nilai karakter yang kuat yang membentuk saya menjadi pendidik yang lebih siap dan berprinsip,” ungkapnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (26/5/2026).

Selama masa perkuliahan, Dafa mendapatkan berbagai pengalaman yang mendukung pengembangan kompetensinya sebagai calon guru. Mulai dari pembelajaran akademik, praktik mengajar, hingga pendampingan dosen yang memberikan wawasan dan pengalaman berharga dalam dunia pendidikan.

Menurutnya, UNUSIDA memiliki peran penting dalam membangun fondasi kariernya sebagai seorang pendidik. Melalui proses pembelajaran yang terintegrasi antara teori dan praktik, ia memperoleh keterampilan profesional, rasa percaya diri, serta etos kerja yang kuat untuk menghadapi tantangan dunia pendidikan yang terus berkembang.

“UNUSIDA has played an important role in building the foundation of my career as an English educator. Through academic learning, teaching practice, and lecturers’ guidance, I gained professional skills, confidence, and a strong work ethic that have greatly supported my career development,”

“UNUSIDA telah memainkan peran penting dalam membangun fondasi karier saya sebagai pendidik bahasa Inggris. Melalui pembelajaran akademis, praktik mengajar, dan bimbingan dosen, saya memperoleh keterampilan profesional, kepercayaan diri, dan etos kerja yang kuat yang sangat mendukung pengembangan karier saya,”,” tuturnya.

Kini, sebagai guru Bahasa Inggris, Dafa berkomitmen untuk terus menghadirkan pembelajaran yang inspiratif dan bermakna bagi para peserta didiknya. Ia percaya bahwa seorang guru tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi teladan dalam membangun karakter generasi muda.

“Alhamdulillah, bangga sekali pernah menempuh pendidikan di UNUSIDA yang selalu melahirkan lulusan yang kompeten, berkarakter, dan siap memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Semoga bisa terus menginspirasi dan membawa semangat perubahan bagi masa depan pendidikan Indonesia,” pungkasnya.

Iyung Fachrur Rozi, Alumni Informatika UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Dari Ruang Kelas ke Dunia Industri: Iyung Fachrur Rozi, Alumni Informatika UNUSIDA yang Kini Berkarier sebagai Programmer

Dunia teknologi yang terus berkembang membutuhkan sumber daya manusia yang adaptif, inovatif, serta memiliki kemampuan problem solving yang kuat. Hal tersebut tercermin dalam perjalanan karier Iyung Fachrur Rozi, S.Kom., alumni Program Studi Informatika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) tahun 2025 yang kini berkarier sebagai Programmer di PT. Madina Mentari Teknologi.

Bagi Iyung, menjadi mahasiswa Informatika UNUSIDA bukan sekadar perjalanan akademik untuk memperoleh gelar sarjana. Lebih dari itu, masa perkuliahannya menjadi ruang pembelajaran yang membentuk kemampuan berpikir logis, keterampilan pemrograman, hingga kesiapan menghadapi kebutuhan industri teknologi yang dinamis.

“Menjadi mahasiswa Informatika UNUSIDA adalah pengalaman berkesan karena saya tidak hanya belajar teori, tetapi juga langsung praktik membangun sistem nyata yang relevan dengan dunia kerja,” ungkap Iyung kepada Humas UNUSIDA, Ahad (17/5/2026).

Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting dalam perjalanan profesionalnya saat ini. Di tengah perkembangan industri digital yang menuntut inovasi cepat dan kemampuan adaptasi tinggi, pengalaman praktik yang diperoleh selama masa kuliah memberikan nilai tambah tersendiri.

Selama menempuh pendidikan di UNUSIDA, Iyung merasakan bahwa proses pembelajaran yang diterapkan tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga menekankan aspek implementasi. Mahasiswa didorong untuk terlibat dalam berbagai proyek, pengembangan sistem, serta penyelesaian studi kasus yang relevan dengan kebutuhan dunia industri.

Pendekatan pembelajaran tersebut membantu mahasiswa memahami bagaimana konsep pemrograman, pengembangan perangkat lunak, serta manajemen sistem diterapkan secara nyata dalam lingkungan profesional. Melalui berbagai pengalaman proyek, mahasiswa tidak hanya belajar menulis kode, tetapi juga memahami proses analisis kebutuhan pengguna, desain sistem, hingga penyelesaian masalah berbasis teknologi.

Menurut Iyung, lingkungan akademik yang suportif menjadi salah satu faktor penting yang mendukung perkembangan kompetensinya. Dukungan dosen yang kompeten dan terbuka terhadap diskusi membuat proses belajar terasa lebih dinamis dan aplikatif.

“Lingkungan akademik yang suportif dan dosen yang kompeten membantu saya mengembangkan kemampuan problem solving serta logika pemrograman secara mendalam,” jelasnya.

Kemampuan problem solving sendiri menjadi salah satu aspek yang sangat penting dalam profesi programmer. Dalam dunia kerja, seorang programmer tidak hanya dituntut mampu membuat program berjalan dengan baik, tetapi juga harus mampu menemukan solusi atas berbagai tantangan teknis yang muncul selama proses pengembangan teknologi.

Kini, sebagai seorang programmer di PT. Madina Mentari Teknologi, Iyung merasakan secara langsung bagaimana fondasi yang dibangun selama kuliah berperan besar dalam mendukung pekerjaannya. Ia menghadapi berbagai tantangan industri yang membutuhkan ketelitian, kemampuan analitis, serta kecepatan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi.

Menurutnya, dunia teknologi adalah bidang yang bergerak sangat cepat. Bahasa pemrograman, framework, hingga kebutuhan industri dapat berubah dalam waktu singkat. Oleh sebab itu, seseorang yang berkarier di bidang teknologi harus memiliki pola pikir pembelajar dan kesiapan untuk terus mengembangkan kompetensi.

“Kini, sebagai seorang programmer, saya merasakan bahwa fondasi yang dibangun selama kuliah sangat berperan dalam menghadapi tantangan industri teknologi,” ujarnya.

Selain pembelajaran di kelas, pengalaman proyek selama kuliah juga menjadi bekal berharga dalam memahami kebutuhan industri secara nyata. Keterlibatan dalam proyek pengembangan sistem membuat Iyung terbiasa bekerja secara sistematis, memahami alur kerja pengembangan teknologi, serta berkolaborasi dalam menyelesaikan tugas berbasis tim.

Ia menilai bahwa kampus memiliki peran besar dalam membentuk dasar keilmuan sekaligus pola pikir profesional seorang mahasiswa. Melalui pembelajaran yang terstruktur dan aplikatif, mahasiswa tidak hanya dibekali kemampuan teknis, tetapi juga diajarkan bagaimana menghadapi tantangan pekerjaan secara profesional.

“Kampus berperan penting dalam membentuk dasar keilmuan dan pola pikir saya sebagai seorang programmer melalui pembelajaran yang terstruktur dan aplikatif. Dukungan dosen serta pengalaman proyek selama kuliah membantu saya memahami kebutuhan industri secara nyata,” tuturnya.

Bekal tersebut membuatnya lebih siap dan percaya diri dalam memulai serta mengembangkan karier di bidang teknologi. Baginya, kesiapan memasuki dunia kerja tidak dibangun secara instan, melainkan melalui proses belajar yang konsisten, lingkungan yang mendukung, dan kemauan untuk terus berkembang.

Kisah Iyung Fachrur Rozi menjadi salah satu gambaran nyata bagaimana pendidikan tinggi dapat berperan penting dalam membentuk generasi profesional yang siap bersaing di dunia kerja. Perjalanan kariernya menunjukkan bahwa kombinasi antara pembelajaran teoritis, praktik nyata, dan dukungan akademik mampu menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan industri.

Sebagai alumni Informatika UNUSIDA, Iyung juga memberikan pesan bagi mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan agar memanfaatkan masa kuliah sebaik mungkin untuk memperkuat kompetensi dan memperluas pengalaman.

Menurutnya, mahasiswa tidak perlu takut mencoba hal baru, mengikuti proyek, maupun mengasah keterampilan di luar ruang kelas. Sebab, pengalaman tersebut akan menjadi bekal penting ketika memasuki dunia profesional.

“Alumni UNUSIDA harus membuktikan bahwa lulusan muda hari ini mampu bersaing dan berkontribusi dalam industri teknologi. Kisah inspiratif ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa UNUSIDA untuk terus membangun kompetensi, mengembangkan inovasi, dan berani mengambil peran dalam menghadapi tantangan era digital,” pungkasnya.

Dosen Informatika UNUSIDA, Ahmad Khoir Alhaq, S.Kom., M.Kom. (Foto: Humas UNUSIDA)

Perjalanan Inspiratif Ahmad Khoir Alhaq, Alumni yang Kini Mengabdi Sebagai Dosen Informatika UNUSIDA

Perjalanan menuju kesuksesan tidak selalu dimulai dari hal besar, tetapi dari keberanian mencoba dan terus belajar. Hal ini tercermin dari sosok Ahmad Khoir Alhaq, S.Kom., M.Kom., alumni S1 Informatika tahun 2020 yang kini mengabdi sebagai dosen di Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA).

Sejak masa kuliah, Ahmad dikenal sebagai mahasiswa yang aktif berorganisasi. Keterlibatannya dalam berbagai kegiatan kampus menjadi titik awal terbentuknya karakter dan kepercayaan dirinya. Ia tidak hanya berperan sebagai anggota, tetapi juga dipercaya mengemban tanggung jawab sebagai wakil ketua panitia dalam sebuah seminar.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan hidupnya. Dalam peran tersebut, ia mendapatkan kesempatan untuk membawakan sambutan di hadapan banyak peserta. Meski sempat merasa gugup, Ahmad justru melihat hal itu sebagai bagian dari proses belajar yang berharga.

“Saya aktif berorganisasi hingga dipercaya menjadi wakil ketua panitia seminar dan membawakan sambutan. Meski sempat gugup, pengalaman tersebut melatih kemampuan komunikasi publik saya dan memperkuat rasa percaya diri dalam menghadapi audiens yang luas,” ungkapnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (29/4/2026).

Dari pengalaman sederhana itulah, Ahmad mulai menyadari bahwa organisasi bukan sekadar wadah berkegiatan, tetapi juga ruang pembentukan diri. Ia belajar bagaimana mengelola tanggung jawab, bekerja dalam tim, serta menyampaikan ide dengan baik di depan publik.

Menurutnya, kemampuan komunikasi publik menjadi salah satu keterampilan penting yang sering kali tidak disadari manfaatnya sejak dini. Padahal, di dunia akademik maupun profesional, kemampuan ini sangat dibutuhkan baik saat presentasi, mengajar, maupun berinteraksi dengan banyak orang.

Perjalanan Ahmad tidak berhenti setelah menyelesaikan studi sarjana. Semangat belajarnya membawanya melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. Ia berhasil mendapatkan kesempatan beasiswa untuk melanjutkan studi S2, sebuah pencapaian yang menjadi bukti bahwa kerja keras dan konsistensi akan selalu menemukan jalannya.

Selama menempuh pendidikan magister, Ahmad semakin mengasah kemampuan akademiknya sekaligus memperkuat visi untuk berkontribusi di dunia pendidikan. Hingga akhirnya, ia kembali ke almamater sebagai dosen Informatika, mengabdikan ilmu yang telah diperolehnya kepada generasi berikutnya.

Sebagai dosen, Ahmad tidak hanya mengajarkan materi perkuliahan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai penting kepada mahasiswa. Ia sering membagikan pengalaman pribadinya tentang pentingnya aktif berorganisasi dan berani keluar dari zona nyaman.

“Aktif berorganisasi bukan hanya soal pengalaman, tapi juga tentang membentuk keberanian dan kepercayaan diri. Dari rasa gugup hingga mampu berbicara di depan banyak orang, semua adalah proses yang berharga,” tuturnya.

Ia juga menekankan bahwa keterlibatan dalam organisasi membuka banyak peluang belajar yang tidak selalu didapatkan di ruang kelas. Mulai dari melatih kepemimpinan, manajemen waktu, hingga kemampuan beradaptasi dengan berbagai karakter.

Menurut Ahmad, mahasiswa yang aktif cenderung memiliki kesiapan lebih baik dalam menghadapi dunia kerja. Mereka terbiasa menghadapi tantangan, berkomunikasi, serta mengambil keputusan dalam situasi tertentu.

Kisah Ahmad menjadi bukti nyata bahwa pengalaman organisasi memiliki peran besar dalam membentuk masa depan seseorang. Dari rasa gugup saat pertama kali berbicara di depan umum, hingga kini mampu berdiri sebagai dosen yang mengajar di depan banyak mahasiswa, semuanya adalah hasil dari proses panjang yang dijalani dengan konsisten.

Ia berharap mahasiswa saat ini tidak ragu untuk mencoba berbagai pengalaman selama kuliah. Baginya, kegagalan atau rasa tidak percaya diri di awal bukanlah hambatan, melainkan bagian dari perjalanan menuju versi terbaik diri.

“Jangan takut untuk mencoba. Semua orang pernah merasa tidak percaya diri. Tapi dari situlah kita belajar dan berkembang,” pesannya.

Sebagai alumni, Ahmad juga merasa bangga dapat kembali ke UNUSIDA, tidak hanya sebagai lulusan, tetapi juga sebagai pengajar yang turut berkontribusi dalam mencetak generasi unggul di bidang teknologi.

Perjalanannya menjadi inspirasi bagi banyak mahasiswa bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik, tetapi juga oleh keberanian mengambil peluang, kemauan belajar, dan konsistensi dalam mengembangkan diri.

Dari organisasi, Ahmad belajar berbicara. Dari pengalaman, ia belajar percaya diri. Dan dari proses itulah, ia tumbuh menjadi sosok pendidik yang menginspirasi.

Kisah Ahmad Khoir Alhaq, S.Kom., M.Kom. mengingatkan bahwa setiap langkah kecil yang diambil hari ini dapat menjadi fondasi besar di masa depan. Aktif berorganisasi bukan hanya menambah pengalaman, tetapi juga membuka jalan menuju peluang yang lebih luas—bahkan hingga kembali mengabdi sebagai dosen di kampus tercinta.

Alumni Prodi Manajemen UNUSIDA Tahun 2023, Izzah Nadlifah Kirana (Foto: Humas UNUSIDA)

Inspirasi Alumni UNUSIDA: Izzah Nadlifah Kirana, dari Bangku Kuliah Menuju Finance Supervisor ZUMA Indonesia

Perjalanan pendidikan di bangku kuliah sering kali menjadi titik awal bagi seseorang untuk menemukan arah masa depan. Hal inilah yang dirasakan oleh Izzah Nadlifah Kirana, S.M., alumni Program Studi Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) yang kini berkarier sebagai Finance Supervisor di PT Dream Dare Discover atau yang lebih dikenal dengan ZUMA Indonesia.

Perempuan yang lulus pada tahun 2023 ini mengaku bahwa empat tahun masa kuliahnya di UNUSIDA menjadi pengalaman yang sangat berkesan dan penuh makna. Selama menempuh pendidikan, ia tidak hanya memperoleh ilmu akademik, tetapi juga berbagai pengalaman, relasi, serta kesempatan belajar yang sangat berharga sebagai bekal menghadapi dunia kerja.

“Empat tahun menempuh perjalanan kuliah di UNUSIDA sungguh luar biasa. Segala ilmu, relasi hingga pengalaman berharga saya dapatkan di sana,” ungkap Izzah ketika mengenang masa-masa kuliahnya.

Menurutnya, lingkungan akademik yang terbuka dan komunikatif menjadi salah satu faktor penting yang membentuk cara berpikirnya hingga saat ini. Di UNUSIDA, para dosen tidak hanya menyampaikan materi secara teoritis di dalam kelas, tetapi juga aktif mengajak mahasiswa untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman.

Hal tersebut menjadi pengalaman belajar yang sangat berkesan bagi Izzah. Ia merasakan bahwa proses pembelajaran yang dilakukan dosen benar-benar mendorong mahasiswa untuk memahami ilmu secara lebih mendalam serta mengaitkannya dengan situasi nyata di masyarakat maupun di dunia kerja.

“Yang paling menyenangkan adalah ketika dosen-dosen saya tidak pernah bosan untuk mengajak sharing dan diskusi. Seakan mereka selalu memastikan bahwa apa yang telah mereka ajarkan secara teori benar-benar mahasiswa terapkan dalam kehidupan nyata,” jelasnya.

Bagi Izzah, metode pembelajaran seperti ini membuat mahasiswa tidak hanya menjadi pendengar pasif di kelas, tetapi juga terlibat aktif dalam proses berpikir kritis. Diskusi yang dilakukan bersama dosen dan teman-teman kuliah sering kali membuka wawasan baru serta membantu mahasiswa memahami bagaimana teori manajemen dapat diterapkan secara praktis.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal penting ketika ia memasuki dunia kerja. Setelah menyelesaikan studi di Program Studi Manajemen UNUSIDA, Izzah berhasil mendapatkan pekerjaan di PT Dream Dare Discover atau ZUMA Indonesia. Di perusahaan tersebut, ia dipercaya untuk mengemban tanggung jawab sebagai Finance Supervisor.

Posisi tersebut tentu tidak mudah karena membutuhkan kemampuan analisis keuangan, ketelitian dalam mengelola data, serta kemampuan mengambil keputusan yang tepat. Namun, Izzah merasa bahwa ilmu yang ia pelajari selama kuliah memberikan fondasi yang kuat untuk menjalankan tugas tersebut.

Ia mengaku banyak materi perkuliahan yang ternyata sangat relevan dengan pekerjaan yang dijalaninya saat ini, mulai dari manajemen keuangan, pengelolaan anggaran, hingga kemampuan analisis data dan pengambilan keputusan dalam organisasi.

“Hal itulah yang membuat saya akhirnya mendapatkan pekerjaan sesuai dengan ilmu yang saya dapatkan di kuliah,” katanya.

Selain ilmu akademik, pengalaman berdiskusi dan membangun relasi selama masa kuliah juga membantu Izzah dalam mengembangkan kemampuan komunikasi dan kerja sama tim. Kemampuan tersebut menjadi salah satu keterampilan penting dalam dunia profesional, terutama ketika harus berkoordinasi dengan berbagai divisi di perusahaan.

Sebagai seorang supervisor di bidang keuangan, Izzah tidak hanya bertanggung jawab terhadap pengelolaan data finansial perusahaan, tetapi juga harus mampu memimpin tim dan memastikan seluruh proses keuangan berjalan secara efektif dan akurat. Tanggung jawab ini menuntut ketelitian, kedisiplinan, serta kemampuan berpikir strategis.

Menurutnya, pengalaman selama kuliah di UNUSIDA telah membantunya membangun kepercayaan diri untuk menghadapi berbagai tantangan di dunia kerja. Ia merasa bahwa bekal yang diberikan selama masa studi tidak hanya berupa teori, tetapi juga cara berpikir dan sikap profesional yang sangat dibutuhkan dalam karier.

Izzah juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para dosen yang telah membimbing dan memberikan banyak ilmu selama ia menempuh pendidikan di UNUSIDA. Baginya, dukungan dan dedikasi para dosen menjadi salah satu faktor penting yang membantunya mencapai posisi saat ini.

“Terima kasih bapak ibu dosen atas semua ilmu dan bimbingannya,” ujarnya.

Kini, setelah merasakan langsung manfaat dari pendidikan yang ia jalani, Izzah berharap kisah perjalanannya dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa maupun calon mahasiswa UNUSIDA. Ia percaya bahwa kesungguhan dalam belajar serta kemauan untuk terus berdiskusi dan berkembang akan membuka banyak peluang di masa depan.

Baginya, masa kuliah bukan hanya tentang mendapatkan gelar sarjana, tetapi juga tentang membangun karakter, memperluas jaringan, serta mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan dunia profesional.

Dengan penuh rasa bangga, Izzah menutup ceritanya dengan satu kalimat sederhana yang mencerminkan rasa cintanya terhadap almamater.

“UNUSIDA THE BEST!,” pungkasnya.

Alumni PGSD UNUSIDA, Izathun Alcharimah Ana Safitri, S.Pd., M.Pd. (Foto Humas UNUSIDA)

Dari Dunia Pendidikan ke Ruang Publik, Kisah Izathun Alcharimah Alumni PGSD UNUSIDA Berkiprah di Bawaslu Sidoarjo

Perjalanan karier tidak selalu berjalan lurus sesuai bidang studi. Hal inilah yang dibuktikan oleh alumni Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Izathun Alcharimah Ana Safitri, S.Pd., M.Pd. Lulusan tahun 2019 tersebut kini berkiprah sebagai penyelenggara pemilu di Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Sidoarjo.

Berangkat dari latar belakang pendidikan dasar, Izathun membuktikan bahwa ilmu yang diperoleh selama kuliah tidak hanya relevan di ruang kelas, tetapi juga dapat menjadi bekal penting dalam dunia publik yang dinamis. Menurutnya, pendidikan adalah fondasi dalam membangun kesadaran demokrasi dan integritas masyarakat.

“PGSD mengajarkan saya tentang kesabaran, komunikasi, dan tanggung jawab. Nilai-nilai itu sangat relevan ketika bekerja di ruang publik,” ungkapnya kepada Humas UNUSIDA, Kamis (5/3/2026).

Dalam perannya sebagai penyelenggara pemilu di Bawaslu Sidoarjo, Izathun terlibat dalam pengawasan berbagai tahapan pemilu di tingkat kabupaten. Tugasnya meliputi memastikan proses berjalan sesuai regulasi, menjaga netralitas, hingga menangani berbagai dinamika yang muncul di lapangan.

Peran tersebut menuntut ketelitian administrasi, keberanian dalam mengambil keputusan, serta kemampuan menyampaikan informasi secara objektif kepada masyarakat. Menurutnya, dunia kepemiluan merupakan ruang pembelajaran yang sangat kaya akan pengalaman.

“Ketika berada di dunia publik, kita belajar untuk lebih dewasa. Setiap ucapan dan tindakan memiliki konsekuensi. Kita harus bijak, netral, dan tetap berpegang pada aturan,” jelasnya.

Pengalaman tersebut menjadi jembatan menuju kematangan pribadi. Ia belajar mengelola emosi, bersikap profesional di tengah perbedaan pandangan, serta membangun komunikasi yang sehat dengan berbagai pihak—baik peserta pemilu, sesama penyelenggara, maupun masyarakat.

Sebagai alumni PGSD, Izathun juga merasakan bahwa kemampuan mendidik dan memberikan pemahaman kepada masyarakat menjadi nilai tambah tersendiri. Dalam berbagai kegiatan sosialisasi pengawasan partisipatif, latar belakang pendidikannya membantu dalam menyampaikan informasi secara komunikatif dan mudah dipahami.

“Edukasi kepada masyarakat itu penting. Demokrasi yang sehat tidak hanya bergantung pada penyelenggara, tetapi juga pada kesadaran masyarakat,” tuturnya.

Ia pun membagikan sejumlah pesan bagi mahasiswa, khususnya dari Prodi PGSD, agar tidak membatasi diri dalam menentukan masa depan. Menurutnya, lulusan PGSD memiliki kompetensi komunikasi, manajemen, dan kepemimpinan yang dapat diterapkan di berbagai bidang.

Selain itu, ia menekankan pentingnya membangun integritas sejak dini. Dalam dunia kepemiluan, netralitas dan kejujuran menjadi prinsip utama yang tidak dapat ditawar. Kemauan untuk terus belajar serta kesiapan menghadapi kritik juga menjadi bekal penting bagi siapa pun yang ingin berkiprah di ruang publik.

Bagi Izathun, perjalanan kariernya bukan sekadar tentang posisi atau jabatan, tetapi tentang proses bertumbuh sebagai pribadi. Dunia publik membentuknya menjadi lebih sabar, tegas, dan bertanggung jawab dalam menjalankan amanah.

Kini, sebagai bagian dari Bawaslu Sidoarjo, ia merasa memiliki tanggung jawab besar untuk turut menjaga kualitas demokrasi di daerah. Ia percaya bahwa demokrasi yang kuat memerlukan pengawasan yang profesional serta individu-individu yang matang secara karakter.

Kisah Izathun menjadi bukti bahwa alumni PGSD memiliki ruang kontribusi yang luas, termasuk di dunia kepemiluan. Pendidikan yang ia tempuh menjadi fondasi untuk memahami masyarakat, membangun komunikasi, serta menjaga integritas dalam setiap langkah pengabdian.

“Menjadi bagian dari penyelenggara pemilu bukan hanya tentang bekerja, tetapi tentang mengabdi. Dunia publik adalah ruang untuk belajar menjadi lebih dewasa dan bertanggung jawab,” pungkasnya.