Pos

Mahasiswa Teknik Lingkungan UNUSIDA usai mengikuti Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Alun-alun Sidoarjo (Foto: Humas UNUSIDA)

Manifesto Teo-Ekologis Mahasiswa Teknik Lingkungan Melawan Kolonialisme Sampah

Bagaimana mungkin kita dapat khusyuk memperingati Hari Lahir Pancasila, sementara pada saat yang sama bumi tempat kita berpijak perlahan kehilangan daya dukungnya akibat limbah yang kita hasilkan sendiri?

Setiap tanggal 1 Juni, masyarakat Indonesia kembali mengenang lahirnya dasar negara yang menjadi pemersatu bangsa. Tahun ini, tema yang diusung adalah Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia. Tema tersebut mengandung pesan luhur tentang pentingnya persatuan dan perdamaian. Namun, sebagai mahasiswa Teknik Lingkungan yang tumbuh dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) An-Nahdliyah di Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), kami memandang bahwa perdamaian tidak hanya berbicara tentang hubungan antarmanusia, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan lingkungan.

Perdamaian dunia tidak akan pernah terwujud jika kita masih gagal berdamai dengan alam yang menjadi sumber kehidupan. Keadilan sosial yang menjadi cita-cita Pancasila pun tidak mungkin tercapai apabila lingkungan hidup terus mengalami kerusakan akibat perilaku manusia yang eksploitatif.

Krisis Sampah yang Mengkhawatirkan
Realitas pengelolaan sampah di Indonesia menunjukkan kondisi yang patut menjadi perhatian bersama. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), timbulan sampah nasional mencapai puluhan juta ton setiap tahun, dengan sampah plastik menjadi salah satu penyumbang terbesar.

Persoalan tidak berhenti pada jumlah sampah yang dihasilkan, melainkan juga pada rendahnya tingkat pengelolaan yang optimal. Sebagian besar sampah masih berakhir di tempat pemrosesan akhir yang kapasitasnya semakin terbatas, mencemari sungai, laut, dan lingkungan sekitar.

Bagi masyarakat Jawa Timur, termasuk Kabupaten Sidoarjo yang berada di kawasan penyangga metropolitan Surabaya, persoalan sampah bukanlah isu yang asing. Tumpukan sampah, pencemaran badan air, hingga berkurangnya kualitas lingkungan menjadi tantangan yang nyata di hadapan kita.

Krisis ini bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga mencerminkan krisis kesadaran kolektif. Ketika sampah terus meningkat dan lingkungan semakin tercemar, sesungguhnya kita sedang menghadapi kegagalan dalam menjaga amanah sebagai penghuni bumi.

Pancasila dan Aswaja dalam Perspektif Ekologis
Pancasila sejatinya mengandung nilai-nilai yang sangat relevan dalam menjawab persoalan lingkungan. Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengajarkan bahwa setiap tindakan harus mempertimbangkan dampaknya terhadap sesama, termasuk generasi yang akan datang. Sementara Sila Kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menegaskan pentingnya distribusi manfaat dan risiko lingkungan secara adil.

Kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini pada dasarnya merupakan bentuk ketidakadilan ekologis. Generasi mendatang harus menanggung konsekuensi dari perilaku konsumtif dan pengelolaan sampah yang tidak bertanggung jawab yang dilakukan hari ini.

Dalam tradisi Aswaja An-Nahdliyah, nilai-nilai tersebut diperkuat melalui prinsip-prinsip dasar yang menjadi pedoman kehidupan. Nilai tawassuth (moderat) dan iqtishad (hemat serta proporsional) mengajarkan pentingnya menghindari perilaku berlebihan, termasuk dalam pola konsumsi yang menghasilkan banyak sampah. Sementara nilai tawazun (keseimbangan) menuntut harmonisasi hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia, dan alam semesta.

Ketika seseorang membuang sampah sembarangan atau mengabaikan upaya pengurangan sampah, sesungguhnya ia sedang merusak keseimbangan yang diajarkan dalam nilai tawazun. Menjaga lingkungan bukan hanya kewajiban sosial, melainkan juga bentuk pengabdian spiritual sebagai khalifah fil ardh yang diberi amanah untuk merawat bumi.

Melawan Kolonialisme Sampah
Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah apa yang dapat disebut sebagai kolonialisme sampah. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika kehidupan manusia dikendalikan oleh budaya konsumtif yang menghasilkan limbah dalam jumlah besar. Kita menjadi bergantung pada produk sekali pakai, kemasan plastik berlebih, dan pola hidup instan yang secara perlahan menjajah kesadaran ekologis masyarakat.

Kolonialisme sampah tidak hadir dalam bentuk penjajahan fisik, melainkan melalui kebiasaan yang membuat manusia kehilangan kendali atas lingkungannya sendiri. Akibatnya, ruang hidup yang seharusnya menjadi sumber kesejahteraan berubah menjadi tempat akumulasi limbah.

Sebagai mahasiswa Teknik Lingkungan, kami percaya bahwa perlawanan terhadap kolonialisme sampah harus dilakukan melalui pendekatan ilmiah sekaligus moral. Pengembangan teknologi pengelolaan limbah, penerapan ekonomi sirkular, peningkatan budaya daur ulang, serta edukasi lingkungan harus berjalan beriringan dengan penguatan nilai-nilai Pancasila dan Aswaja.

Persatuan untuk Keadilan Ekologis
Hari Lahir Pancasila seharusnya menjadi momentum untuk memperluas makna persatuan bangsa. Persatuan tidak hanya diwujudkan melalui slogan dan seremoni, tetapi juga melalui gotong royong menjaga lingkungan hidup.

Di hadapan ancaman krisis iklim, pencemaran mikroplastik, dan menurunnya kualitas lingkungan, seluruh elemen masyarakat memiliki nasib yang sama. Perbedaan suku, agama, golongan, maupun latar belakang sosial menjadi tidak relevan ketika kualitas udara yang kita hirup, air yang kita minum, dan tanah yang kita pijak mengalami kerusakan.

Karena itu, menjaga lingkungan adalah bentuk nyata pengamalan Pancasila di abad ke-21. Bumi bukan warisan yang dapat dieksploitasi tanpa batas, melainkan titipan yang harus dijaga untuk generasi berikutnya.

Selamat Hari Lahir Pancasila. Mari bersatu melawan kolonialisme sampah, merawat bumi sebagai rumah bersama, dan menegakkan keadilan ekologis demi Indonesia yang berkelanjutan. Sebab, mencintai lingkungan bukan sekadar pilihan, melainkan tanggung jawab kebangsaan dan kemanusiaan.

Penulis: Muchammad Waziruddin

Mahasiswa Teknik UNUSIDA Didorong Siap Sambut Peluang Program Nasional PPK Ormawa (Foto: BEM FT UNUSIDA)

BEM-FT UNUSIDA Gelar Workshop PPK Ormawa, Siap Hadirkan Program Pengabdian Berdampak

SIDOARJO — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teknik (FT) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menyelenggarakan Workshop Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) dengan mengusung tema ‘Lead the Change, Impact in Action’ di Auditorium Lantai 5 Kampus 2 UNUSIDA, Ahad (08/03/2026). Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran strategis bagi organisasi mahasiswa di lingkungan Fakultas Teknik dalam mempersiapkan proposal program pengabdian masyarakat melalui skema PPK Ormawa.

Program PPK Ormawa merupakan inisiatif Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Belmawa yang mendorong organisasi mahasiswa berperan aktif dalam pemberdayaan masyarakat berbasis inovasi, riset terapan, serta solusi nyata bagi desa atau kelurahan mitra.

Dekan Fakultas Teknik UNUSIDA, Listin Fitrianah turut memberikan apresiasi terhadap konsistensi organisasi mahasiswa di lingkungan Fakultas Teknik. Ia menilai selama ini mahasiswa telah menunjukkan semangat yang tinggi dalam mengikuti berbagai program pengembangan organisasi, termasuk PPK Ormawa.

Menurutnya, partisipasi aktif mahasiswa dalam program nasional tersebut menjadi bukti bahwa organisasi mahasiswa Fakultas Teknik mampu bersaing dan berprestasi di tingkat nasional. Bahkan, beberapa organisasi mahasiswa di lingkungan fakultas tersebut berhasil memperoleh pendanaan dari program PPK Ormawa.

“Kami sangat mengapresiasi konsistensi organisasi mahasiswa Fakultas Teknik yang terus aktif mengikuti program PPK Ormawa hingga berhasil mendapatkan pendanaan nasional. Ini menjadi bukti bahwa mahasiswa kita memiliki potensi besar untuk berkontribusi melalui program-program yang inovatif dan berdampak,” ungkapnya.

Ketua pelaksana, Annisa Lailatul Rahmadini, menyampaikan bahwa workshop ini diikuti oleh seluruh organisasi mahasiswa di Fakultas Teknik, yakni BEM Fakultas Teknik, Himpunan Mahasiswa Teknik Industri (HMTI), Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL), serta Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (HMTK).

“Melalui workshop ini kami berharap seluruh ormawa Fakultas Teknik dapat memahami mekanisme penyusunan proposal PPK Ormawa secara komprehensif sehingga mampu menghadirkan program pengabdian yang inovatif dan berdampak nyata bagi masyarakat,” ujar mahasiswa Program Studi Teknik Industri angkatan 2023 yang juga menjabat sebagai Sekretaris I BEM-FT 2026 tersebut.

Sementara itu, Gubernur BEM Fakultas Teknik periode 2026, Marendra Firdaus Putra menekankan bahwa mahasiswa harus mampu memanfaatkan berbagai program pengembangan organisasi yang disediakan pemerintah, salah satunya melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa). Menurutnya, program tersebut tidak hanya menjadi ajang kompetisi ide, tetapi juga ruang belajar bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan gagasan yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa kesiapan organisasi mahasiswa sangat penting, baik dari segi manajemen program, kolaborasi tim, maupun kemampuan merancang program pengabdian yang berkelanjutan. Dengan kesiapan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu berpartisipasi aktif sekaligus meraih prestasi di tingkat nasional.

“PPK Ormawa menjadi peluang besar bagi mahasiswa untuk mengembangkan kapasitas organisasi sekaligus memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Oleh karena itu, organisasi mahasiswa harus siap merespons peluang tersebut dengan perencanaan yang matang dan kerja tim yang solid,” jelasnya.

Memasuki sesi inti, materi disampaikan oleh Medya Ayunda Fitri, S.T., M.T., dosen Program Studi Teknik Kimia yang berpengalaman sebagai dosen pendamping tim PPK Ormawa. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan berbagai aspek teknis penyusunan proposal, mulai dari pemformatan dokumen hingga keterkaitan program dengan agenda pembangunan global Sustainable Development Goals (SDGs).

Kegiatan dilanjutkan dengan presentasi subproposal oleh BEM Fakultas Teknik dan HIMA Teknik Industri yang memaparkan rancangan program pemberdayaan UMKM dan pengembangan teknologi tepat guna bagi masyarakat desa mitra. Presentasi tersebut mendapatkan berbagai masukan dari narasumber untuk penyempurnaan proposal sebelum diajukan ke seleksi nasional.

Melalui kegiatan ini, Marendra berharap Ormawa Fakultas Teknik UNUSIDA mampu menyusun proposal PPK Ormawa yang berkualitas sekaligus memperkuat kontribusi mahasiswa dalam pemberdayaan masyarakat melalui inovasi dan pengabdian berbasis keilmuan.

“Semoga ke depan semakin banyak organisasi mahasiswa yang terlibat dalam program-program nasional serupa, sehingga dapat memperkuat kapasitas organisasi sekaligus memperluas kontribusi mahasiswa dalam pembangunan masyarakat,” pungkasnya.

ENVIRO CAMP 2025 HIMA Teknik Lingkungan UNUSIDA (Foto: Muchammad Waziruddin)

HMTL UNUSIDA Gelar ENVIRO CAMP 2025: Menyemai Orientasi Akademik dan Jejak Alumni untuk Masa Depan Lestari

PACET Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) bersama Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HIMA TL) UNUSIDA kembali menggelar ENVIRO CAMP 2025, sebuah agenda rutin tahunan yang sarat nilai edukatif dan reflektif. Kegiatan ini dilaksanakan di Villa Greenpeace, Kambengan, Pacet, Sabtu-Ahad (22–23/12/2025) serta terintegrasi dengan kegiatan OASE 2.0 sebagai bagian dari implementasi Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus bagi mahasiswa baru Teknik Lingkungan UNUSIDA.

Dengan mengusung tema ‘Melangkah Bersama Alam untuk Masa Depan yang Lestari’, ENVIRO CAMP 2025 dirancang tidak hanya sebagai wahana pengenalan lingkungan alam, tetapi juga sebagai ruang dialog akademik antara mahasiswa, dosen, dan alumni terkait dinamika dunia kerja serta peluang pengembangan diri di bidang teknik lingkungan.

Peserta utama kegiatan ini adalah mahasiswa baru angkatan 2025, yang diperkuat kehadirannya oleh mahasiswa aktif angkatan 2022–2024 serta alumni Teknik Lingkungan UNUSIDA angkatan 2016 hingga 2019 yang hadir sebagai tamu undangan. Kehadiran lintas generasi ini menciptakan suasana pembelajaran yang inklusif dan kolaboratif.

Alumni Berbagi Jejak Karier dan Realitas Dunia Kerja
Salah satu sesi utama ENVIRO CAMP 2025 adalah penyampaian materi motivasi dan peluang karier di bidang teknik lingkungan yang disampaikan oleh Mokh. Yahya, S.T., alumni Teknik Lingkungan UNUSIDA angkatan 2016 yang kini berkiprah di Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo.

Dalam pemaparannya, Mokh. Yahya menekankan bahwa kompetensi teknik lingkungan memiliki irisan yang luas dengan berbagai sektor, termasuk transportasi dan tata kelola wilayah. Ia membagikan pengalamannya dalam pemetaan serta analisis lingkungan kawasan transportasi sebagai bagian dari perencanaan pembangunan berkelanjutan.

“Ilmu teknik lingkungan tidak selalu bekerja di balik cerobong atau instalasi pengolahan limbah. Di dunia kerja, kita dituntut mampu membaca ruang, memetakan dampak, dan memastikan pembangunan berjalan selaras dengan daya dukung lingkungan,” ungkapnya.

Ia juga berpesan agar mahasiswa tidak membatasi diri pada satu gambaran profesi semata. Menurutnya, fleksibilitas, integritas, dan kemauan untuk terus belajar menjadi kunci utama bagi lulusan teknik lingkungan di tengah perubahan dunia kerja yang dinamis.

Tracer Study sebagai Upaya Reflektif Program Studi
Selain forum motivasi, ENVIRO CAMP 2025 juga dimanfaatkan sebagai media tracer study yang diinisiasi oleh Kepala Program Studi Teknik Lingkungan UNUSIDA, Muchammad Tamyiz, S.Si., M.Si., Ph.D. Kehadiran para alumni lintas angkatan menjadi momentum strategis untuk menelusuri jejak lulusan sekaligus memetakan relevansi kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.

Dalam sambutannya, Muchammad Tamyiz menegaskan bahwa tracer study bukan sekadar pendataan administratif, melainkan bagian dari proses reflektif dan evaluatif program studi.

“Melalui pertemuan seperti ini, kami ingin mendengar langsung cerita alumni, memahami tantangan yang mereka hadapi, dan menjadikannya masukan berharga bagi pengembangan kurikulum. Harapannya, mahasiswa yang hari ini mengikuti ENVIRO CAMP dapat melihat gambaran masa depan mereka secara lebih nyata dan terarah,” ujarnya.

Membangun Ekosistem Pembelajaran yang Holistik
Suasana kegiatan berlangsung hangat dan partisipatif. Interaksi antara mahasiswa baru, mahasiswa aktif, dan alumni tidak hanya membahas capaian akademik, tetapi juga menyentuh aspek mentalitas, etika kerja, serta peran engineer lingkungan dalam menjawab isu keberlanjutan di tingkat lokal maupun nasional.

Melalui ENVIRO CAMP 2025, Program Studi Teknik Lingkungan UNUSIDA dan HIMA TL UNUSIDA menegaskan komitmennya dalam membangun ekosistem pembelajaran yang holistik. Kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan mahasiswa baru pada alam dan lingkungan sekitar, tetapi juga menautkan mereka dengan realitas profesi, jejaring alumni, serta nilai keberlanjutan yang menjadi ruh keilmuan teknik lingkungan.

“Dengan semangat melangkah bersama alam, ENVIRO CAMP 2025 menjadi pijakan awal bagi lahirnya generasi engineer lingkungan yang adaptif, reflektif, dan berorientasi pada masa depan yang lestari,” pungkasnya.

Penulis: Muchammad Waziruddin

OASE 2.0 Prodi Teknik Lingkungan UNUSIDA (Foto: Prodi Teknik Lingkungan UNUSIDA)

HMTL UNUSIDA Bekali Mahasiswa Baru Perancangan Program Nyata dalam Berorganisasi

PACET Kegiatan Orientation and Academic Skills for Environmental Engineers (OASE 2.0) kembali menjadi ruang pembelajaran awal bagi mahasiswa baru Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Kegiatan ini diselenggarakan di Villa Greenpeace, Kambengan, Pacet, Mojokerto, Sabtu-Ahad (22–23/11/2025) lalu.

Dalam kesempatan tersebut juga menjadi ajang mengenalkan Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) UNUSIDA yang sejalan dengan tujuan kegiatan yang menekankan penguatan orientasi akademik sekaligus keorganisasian bagi mahasiswa baru angkatan 2025. Hal tersebut menjadi salah satu fokus utama OASE 2.0 tahun ini yaitu orientasi berorganisasi di lingkungan HMTL UNUSIDA.

Ketua HMTL UNUSIDA, Ihsan Abu Ridho menegaskan bahwa OASE 2.0 tidak berhenti pada pengenalan kampus semata, melainkan diarahkan untuk membangun kesiapan mahasiswa baru dalam memahami dinamika organisasi, tanggung jawab struktural, serta budaya kerja kolektif selama menjadi bagian dari HMTL UNUSIDA.

“OASE 2.0 kami arahkan sebagai proses awal pembentukan karakter berorganisasi. Mahasiswa baru tidak hanya diperkenalkan pada lingkungan kampus, tetapi juga dibekali pemahaman tentang bagaimana bekerja dalam tim, memikul tanggung jawab, dan berkontribusi secara nyata selama menjadi bagian dari HMTL UNUSIDA,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, peserta juga dibekali dengan materi pengenalan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) di lingkup program studi yaitu HMTL, termasuk keterkaitannya dengan Ikatan Mahasiswa Teknik Lingkungan Indonesia (IMTLI) serta struktur dan fungsi departemen di HMTL UNUSIDA yang disampaikan oleh Sheli Juwati Anggreni, Wakil Ketua HIMA Teknik Lingkungan UNUSIDA Periode 2023–2024. ]

Dalam pemaparannya, Sheli menegaskan bahwa organisasi mahasiswa merupakan ruang belajar kepemimpinan dan pengabdian. “Himpunan bukan sekadar tempat berkegiatan, tetapi laboratorium karakter, tempat mahasiswa belajar mengelola gagasan, konflik, dan tanggung jawab secara nyata,” ujarnya.

Sheli juga menjelaskan bahwa keberadaan HMTL UNUSIDA sebagai bagian dari jejaring IMTLI membuka peluang kolaborasi yang luas, baik di tingkat regional maupun nasional. Pemahaman struktur organisasi sejak awal dinilai penting agar mahasiswa baru dapat menentukan peran dan minatnya secara terarah, sekaligus menyadari kontribusi strategis setiap departemen dalam mendukung keberlanjutan organisasi dan program studi.

Lebih lanjut, mahasiswa juga dibekali dengan materi Administrasi dan Kesekretariatan yang disampaikan oleh Muchammad Waziruddin, Sekretaris 1 HIMA Teknik Lingkungan UNUSIDA Periode 2025. Materi ini menitikberatkan pada praktik dasar administrasi organisasi, mulai dari tata naskah dinas, pengelolaan surat-menyurat, hingga penyusunan proposal kegiatan dan rencana anggaran biaya (RAB).

“Administrasi sering dianggap teknis, padahal ia adalah fondasi profesionalisme organisasi. Gagasan yang baik tidak akan berjalan tanpa administrasi yang rapi, tertib, dan akuntabel,” tegas Wazir.

Diskusi pada sesi ini berlangsung dinamis dan interaktif. Mahasiswa baru secara aktif mengajukan pertanyaan seputar mekanisme penyusunan proposal, pembagian peran kepanitiaan, hingga strategi menyusun program kerja yang selaras dengan visi organisasi. Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa peserta tidak hanya memahami organisasi secara konseptual, tetapi juga mulai berpikir aplikatif.

Kedua materi orientasi berorganisasi ini menjadi penegasan arah OASE 2.0 sebagai orientasi berbasis praktik. Output utama yang dihasilkan adalah penugasan kepada seluruh peserta untuk menyusun proposal kegiatan secara berkelompok, yang mencakup konsep kegiatan, tujuan, susunan kepanitiaan, serta rencana anggaran biaya yang realistis dan terukur.

Menariknya, proposal-proposal tersebut tidak sekadar menjadi latihan, melainkan akan dikurasi dan diproyeksikan untuk direalisasikan sebagai program kerja HMTL UNUSIDA pada periode kepengurusan berikutnya. Dengan demikian, OASE 2.0 menjadi titik awal keterlibatan aktif mahasiswa baru dalam proses perencanaan dan pengembangan kegiatan kemahasiswaan yang berkelanjutan.

Melalui pendekatan ini, ia menegaskan komitmennya dalam membentuk mahasiswa Teknik Lingkungan UNUSIDA yang tidak hanya memahami identitas akademiknya, tetapi juga siap berorganisasi, berpikir sistematis, dan bertanggung jawab dalam mewujudkan gagasan menjadi program nyata.

“Semangat Green Integrity, Bright Future bukan sekadar sebagai slogan kegiatan, melainkan diimplementasikan sebagai praktik pembelajaran nyata yang ditanamkan sejak hari pertama mahasiswa memasuki dunia kampus. Nilai integritas, kepedulian lingkungan, dan tanggung jawab akademik dihadirkan melalui proses belajar yang reflektif, kolaboratif, dan aplikatif, sehingga mahasiswa sejak awal diarahkan untuk membangun karakter sebagai insan akademik dan calon engineer lingkungan yang beretika serta berorientasi pada keberlanjutan,” pungkasnya.

OASE 2.0 Teknik Lingkungan UNUSIDA (Foto: Muchammad Waziruddin)

OASE 2.0 Teknik Lingkungan UNUSIDA, Kuatkan Integritas dan Keilmuan Sebagai Fondasi Pembentukan Karakter Mahasiswa

PACET Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (HIMA TL UNUSIDA) berkolaborasi dengan Program Studi Teknik Lingkungan UNUSIDA menyelenggarakan Orientation and Academic Skills for Environmental Engineers (OASE 2.0) sebagai implementasi Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus bagi mahasiswa baru angkatan 2025. Kegiatan yang mengusung tema ‘Green Integrity, Bright Future: Mendorong Mahasiswa Berintegritas dan Peduli Lingkungan untuk Masa Depan’ ini dilaksanakan pada Sabtu–Ahad (22–23 November 2025) bertempat di Villa Greenpeace, Kambengan, Pacet, Mojokerto.

Ketua Pelaksana Kegiatan Moh. Rofiqi Malik, mengatakan bahwa OASE 2.0 dirancang dengan pendekatan pembelajaran kontekstual yang menekankan penguatan integritas, keilmuan, dan kepedulian lingkungan sebagai fondasi awal pembentukan karakter mahasiswa Teknik Lingkungan. Kegiatan ini menjadi ruang transisi akademik bagi mahasiswa baru agar siap menghadapi dunia perkuliahan sekaligus tantangan profesi sebagai calon engineer lingkungan.

Mahasiswa Teknik Lingkungan angkatan 2024 menegaskan bahwa OASE 2.0 tidak hanya bertujuan mengenalkan lingkungan kampus, tetapi juga membekali mahasiswa baru dengan orientasi nilai, keterampilan belajar, serta kesiapan berorganisasi.

“Melalui OASE 2.0, kami ingin mahasiswa baru memahami arah pengembangan diri sebagai calon engineer lingkungan yang berintegritas dan solutif terhadap persoalan lingkungan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua HIMA Teknik Lingkungan UNUSIDA, Ihsan Abu Ridho, menekankan peran strategis mahasiswa sebagai agen perubahan berbasis sains dan etika. Menurutnya, HIMA TL hadir sebagai ruang pendampingan agar mahasiswa memiliki keberanian berpikir kritis, kepekaan sosial, serta komitmen kuat terhadap keberlanjutan lingkungan.

Ia menyoroti pentingnya solidaritas dan kolaborasi lintas program studi di lingkup Fakultas Teknik (FT) UNUSIDA dalam mendukung kegiatan yang berdampak nantinya. Melalui OASE 2.0, ia berkomitmen dalam mencetak engineer lingkungan muda yang berintegritas, berwawasan ilmiah, dan peduli lingkungan.

“Alhamdulillah, terima kasih atas dukungan dari seluruh pihak. Kegiatan ini menjadi pijakan awal menuju masa depan cerah, tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga bertanggung jawab secara sosial dan ekologis. Keberagaman latar belakang mahasiswa adalah kekuatan. Dari sana, kolaborasi antarbidang teknik dapat melahirkan solusi lingkungan yang berdampak nyata,” ungkapnya.

Kegiatan OASE 2.0 dibuka secara resmi oleh Kepala Program Studi Teknik Lingkungan UNUSIDA, Muchammad Tamyiz, S.Si., M.Si., Ph.D. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa OASE 2.0 merupakan fondasi awal pembentukan karakter akademik mahasiswa.

“OASE 2.0 adalah pintu masuk untuk menanamkan integritas, etos ilmiah, dan tanggung jawab profesional. Output yang kami harapkan adalah mahasiswa yang unggul secara kompetensi dan matang secara karakter,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan materi pertama bertajuk Lingkup dan Kompetensi Program Studi Teknik Lingkungan. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan tentang peta kompetensi lulusan, relevansi kurikulum dengan tantangan lingkungan global dan nasional, serta peran strategis engineer lingkungan dalam pembangunan berkelanjutan.

“Teknik lingkungan tidak hanya soal teknologi, tetapi juga keputusan berbasis data, etika profesi, dan keberpihakan pada keberlanjutan,” jelasnya.

Lebih lanjut, materi kedua mengenai PKM, PPK Ormawa, dan Safety Laboratorium disampaikan oleh Khilyatul Afkar, S.T., yang merupakan laboran Laboratorium Kualitas Lingkungan Fakultas Teknik UNUSIDA. Berbekal pengalaman lolos pendanaan PKM dan PPK Ormawa, ia menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam riset dan pengabdian masyarakat, tanpa mengabaikan aspek keselamatan kerja.

“Pengalaman riset dan pengabdian akan membentuk daya saing mahasiswa. Namun, keselamatan di laboratorium adalah prasyarat utama yang tidak bisa ditawar,” terang khilya yang merupakan alumni Teknik Lingkungan angkatan 2018 tersebut.

Penulis: Muchammad Waziruddin (MY)

Webinar EcoEdu.id Tata Ruang 120 HIMA Teknik Lingkungan UNUSIDA (Foto: Muchammad Waziruddin)

HIMA Teknik Lingkungan UNUSIDA Dorong Tata Ruang Adaptif sebagai Pilar Ketahanan dalam Webinar Nasional EcoEdu.id

SIDOARJO — Isu perubahan iklim menuntut perhatian dan respons serius dari berbagai pihak, termasuk dalam aspek perencanaan wilayah dan tata ruang. Menyadari pentingnya integrasi antara tata ruang dan strategi adaptasi serta mitigasi iklim, Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (HIMA TL UNUSIDA) berpartisipasi aktif dalam Webinar Nasional EcoEdu.id Edisi ke-120 bertema ‘Tata Ruang Responsif Iklim: Menata Wilayah untuk Masa Depan yang Tangguh’.

Kegiatan ini berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting, dengan menghadirkan Nurrohman Wijaya, Ph.D., dosen Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Institut Teknologi Bandung (ITB), sebagai pemateri utama.

Partisipasi HIMA TL UNUSIDA merupakan bagian dari program unggulan bertajuk ENVIRO INSIGHT, yang digagas oleh Departemen AIR (Akademik, Inovasi, dan Riset) HIMA TL, dan dilaksanakan secara kolaboratif dengan Departemen UDARA (Urusan Sosial, Diplomasi, dan Relasi Kemitraan).

Menurut Kepala Departemen AIR Chalimatus Sa’diyah, sekaligus penanggung jawab partisipasi, kegiatan ini bukan hanya ruang belajar, tetapi juga bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam mengembangkan perspektif strategis perencanaan lingkungan yang relevan terhadap tantangan krisis iklim global.

“Kami ingin menunjukkan bahwa mahasiswa Teknik Lingkungan tidak hanya belajar di kelas, tapi juga ikut aktif dalam dialog nasional. Sebagai bentuk sinergi akademik dan aksi mahasiswa dalam forum nasional menyuarakan pentingnya transformasi perencanaan ruang yang lebih adaptif dan visioner,” ujarnya, Jum’at (12/9/2025).

Dalam paparannya, Nurrohman Wijaya, Ph.D. menekankan bahwa tata ruang sebagai instrumen adaptasi iklim. Tata ruang tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pengaturan lahan, tetapi juga sebagai alat penting dalam strategi adaptasi iklim.

“Perencanaan spasial yang responsif iklim artinya menata wilayah dengan mempertimbangkan risiko iklim yang meningkat, seperti kenaikan muka air laut, bencana hidrometeorologi, dan peningkatan suhu global. Sekaligus menjamin keberlanjutan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Diskusi yang berlangsung interaktif ini turut membahas berbagai pendekatan perencanaan adaptif, integrasi teknologi spasial, serta peran komunitas dalam mendesain ruang yang lebih tangguh dan berkeadilan secara ekologis dan sosial.

Webinar ini diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga lingkungan di seluruh Indonesia. Keterlibatan HIMA TL UNUSIDA merupakan komitmen jangka panjang untuk kolaborasi dan aksi nyata, menjadi langkah strategis untuk memperkuat kapasitas mahasiswa dalam menjawab tantangan perencanaan wilayah berbasis krisis iklim.

Partisipasi ini juga menjadi bentuk komitmen jangka panjang HIMA TL UNUSIDA untuk menjalin kemitraan aktif dengan PT. Eco Edu Indonesia, sebagai pusat pelatihan dan edukasi lingkungan yang berfokus pada peningkatan kesadaran publik dan advokasi kebijakan berbasis ilmu pengetahuan.

Melalui kegiatan ini, HIMA TL UNUSIDA menegaskan bahwa tata ruang adaptif bukan hanya konsep teknis, tetapi juga merupakan strategi visioner untuk membangun ketahanan sosial-ekologis di masa depan. Keterlibatan mahasiswa dalam forum seperti ini menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi muda yang peduli, kritis, dan kolaboratif dalam menghadapi tantangan lingkungan global.

“Kami percaya, masa depan yang tangguh tidak dibangun sendirian. Kolaborasi, ilmu, dan keberanian untuk berubah adalah kuncinya,” pungkasnya.

(MY)

ZE Talk - Mengenal Inisiatif Proyek Karbon Pertamina Group HIMA Teknik Lingkungan UNUSIDA (Foto:Muchammad Waziruddin)

HIMA Teknik Lingkungan UNUSIDA Berpartisipasi Aktif dalam ZE Talk: Mengenal Inisiatif Proyek Karbon Pertamina Group

SIDOARJO – Dalam semangat kolaborasi dan penguatan wawasan mahasiswa mengenai isu-isu strategis energi berkelanjutan di Indonesia, Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HIMA TL) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) berpartisipasi aktif dalam kegiatan nasional bertajuk ZE Talk yang diselenggarakan oleh zonaebt.com. Webinar edisi kali ini mengangkat tema ‘Mengenal Inisiatif Proyek Karbon Pertamina Group’ yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Senin (28/07/2025).

ZE Talk merupakan program unggulan dari PT Zona Media Pembaru, sebuah startup berbasis media informasi dan edukasi yang sejak 2021 konsisten berfokus pada literasi energi terbarukan dan ekosistem transisi energi di Indonesia. Kegiatan ini melibatkan berbagai institusi akademik dan komunitas pemuda sebagai mitra partisipatif, termasuk HIMA TL UNUSIDA yang mengirimkan delegasi pengurus dan anggota sebagai peserta aktif.

Koordinator Hubungan Eksternal & Kemitraan sekaligus penanggung jawab partisipasi, Gilang Ramadhani Kurniawan, menegaskan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam agenda strategis nasional. Tak hanya itu, partisipasi HIMA TL UNUSIDA kali ini menjadi bagian dari implementasi program kerja ENVIRO NEXUS, yang diinisiasi oleh Departemen UDARA (Urusan Sosial, Diplomasi, dan Relasi Kemitraan).

“Kami berharap mahasiswa teknik lingkungan tidak hanya memahami teori di ruang kelas, tetapi juga mampu terlibat dalam dinamika kebijakan dan proyek nyata yang dijalankan pelaku industri, seperti proyek karbon di Pertamina Group,” ujarnya.

Melalui keikutsertaan dalam ZE Talk edisi ini, HIMA TL UNUSIDA menegaskan komitmennya untuk terus menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. “Alhamdulillah, kami sebagai mahasiswa dapat terus aktif dalam forum lingkungan yang dapat memperkuat kapasitas intelektual, jejaring strategis, dan kontribusi nyata generasi muda teknik lingkungan di masa kini maupun mendatang,” ungkapnya.

Webinar menghadirkan Vice President Strategic Partnership, Acquisition & Marketing Pertamina New & Renewable Energy, Yessa Arthur Erriadita sebagai pembicara utama. Dalam pemaparannya, Yessa menekankan bahwa proyek karbon bukan sekadar offset emisi, tetapi transformasi struktural menuju model bisnis energi yang berkelanjutan.

“Inisiatif ini mencakup pendekatan holistik dari pengembangan teknologi hingga skema kemitraan strategis lintas sektor. Pertamina mendukung penuh target Net Zero Emission 2060 melalui implementasi proyek karbon berbasis energi baru terbarukan,” jelasnya.

Peserta memperoleh pemahaman mendalam mengenai mekanisme pasar karbon, peran Pertamina dalam menginisiasi proyek karbon nasional, serta integrasi inisiatif tersebut dengan agenda transisi energi. Diskusi interaktif juga menyoroti pentingnya literasi publik dan kontribusi generasi muda dalam mendukung keberhasilan agenda hijau nasional.

Delegasi HIMA TL UNUSIDA tampak aktif dalam sesi tanya jawab, menunjukkan semangat kontribusi mahasiswa terhadap isu strategis lingkungan dan keberlanjutan. Partisipasi ini tidak hanya menjadi sarana pembelajaran, tetapi juga ruang memperluas jejaring serta membuka dialog antara akademisi dan pelaku industri energi.

Penulis: Muchammad Waziruddin (MY)

Webinar EcoEdu.id 119 ~ Pajak Karbon dalam Transisi Energi, Ekonomi Hijau, dan Net Zero Emission (NZE) 2060 (Foto: UNUSIDA/Muchammad Waziruddin)

Perkuat Kolaborasi Edukasi Iklim, HIMA Teknik Lingkungan UNUSIDA Berpartisipasi dalam Webinar Nasional EcoEdu.id

SIDOARJO – Isu perubahan iklim dan transisi energi kembali mengemuka dalam forum ilmiah tingkat nasional melalui Webinar EcoEdu.id bertema ‘Pajak Karbon dalam Transisi Energi, Ekonomi Hijau, dan Net Zero Emission (NZE) 2060’. Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada Kamis (17/07/2025) ini diikuti dengan antusias oleh mahasiswa, akademisi, dan praktisi lingkungan dari berbagai daerah di Indonesia.

Webinar tersebut menjadi ruang dialog penting dalam memperkuat kesadaran publik mengenai peran instrumen ekonomi dalam pengendalian emisi karbon. Pajak karbon dibahas bukan hanya sebagai kebijakan fiskal, melainkan sebagai pilar transisi menuju sistem energi rendah emisi dan ekonomi berketahanan iklim.

Dalam pemaparannya, Carbon Specialist Muhammad Luthfan Awwal, S.Pt., M.Sc., M.IL., menjelaskan bahwa pajak karbon merupakan langkah strategis untuk mendorong inovasi teknologi bersih, investasi energi terbarukan, serta efisiensi industri.

“Pajak karbon bukan hanya menekan pelaku usaha, tetapi menginternalisasi biaya eksternal emisi ke dalam sistem ekonomi dan membuka jalan menuju ekonomi hijau,” tegasnya.

Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HIMA TL) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo turut berpartisipasi aktif dalam forum ini melalui jalur kolaboratif bersama PT Eco Edu Indonesia, lembaga pelatihan lingkungan yang berfokus pada peningkatan kapasitas publik. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari program unggulan ENVIRO INSIGHT yang digagas oleh Departemen Akademik, Inovasi, dan Riset (AIR) dan dijalankan bersama Departemen Urusan Sosial, Diplomasi, dan Relasi Kemitraan (UDARA).

Kepala Departemen AIR, Chalimatus Sa’diyah, menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam forum lintas institusi seperti ini sangat penting untuk mempertemukan teori di kelas dengan dinamika kebijakan yang terjadi di lapangan.

“Pajak karbon bukan hanya isu kebijakan, tetapi tantangan interdisipliner yang membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk mahasiswa,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa webinar ini relevan dengan kurikulum Prodi Teknik Lingkungan UNUSIDA, khususnya pada topik emisi, transisi energi, dan pengendalian pencemaran.

Selain memperkaya diskursus akademik, forum ini juga memperkuat jejaring antar mahasiswa teknik lingkungan dari berbagai perguruan tinggi. HIMA TL UNUSIDA menyatakan komitmennya untuk terus menjalin kerja sama jangka panjang dengan PT Eco Edu Indonesia dalam penyelenggaraan webinar, pelatihan, dan berbagai program edukatif lainnya terkait isu lingkungan dan keberlanjutan.

Di tengah dinamika kebijakan iklim global maupun nasional, partisipasi aktif mahasiswa dalam forum ilmiah seperti ini menjadi bentuk kontribusi nyata untuk masa depan bumi. Webinar EcoEdu.id tidak hanya menyajikan wawasan, tetapi juga menyampaikan pesan penting: masa depan lingkungan bergantung pada keberanian kita menata ulang sistem hari ini, dan kolaborasi adalah kuncinya.

Penulis: Muchammad Waziruddin (MY)

Keikutsertaan HIMA Teknik Lingkungan UNUSIDA dalam Forum Internasional ZE Talk (Foto: Istimewa)

HMTL UNUSIDA Ikut Serta dalam ZE Talk: Kupas Tuntas Peluang Karier Insinyur Indonesia di Industri Energi Australia

Sidoarjo – Komitmen untuk memperluas wawasan global dan membangun relasi profesional terus digaungkan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Hal ini dibuktikan melalui partisipasi aktif HMTL dalam forum inspiratif ZE Talk bertajuk ‘Bongkar Rahasia Karier Insinyur Indonesia di Industri Energi Australia’, yang diselenggarakan oleh PT Zona Media Pembaru (zonaebt.com), sebuah startup edukasi dan media berbasis energi terbarukan yang aktif sejak 2021.

Kegiatan ini berlangsung secara daring melalui platform Zoom Meeting, Selasa (1/7/2025) yang menghadirkan Harso Adjie Brotosukmono, seorang Project Manager & Economic Consultant di perusahaan konsultan teknik multinasional di Perth, Australia. Forum internasional ini memberikan pemahaman mendalam mengenai strategi membangun karier insinyur Indonesia di luar negeri, khususnya di industri energi di Australia.

Dengan fokus pada tiga pilar utama, yaitu qualification, working rights, dan smart strategy. Para peserta diajak menelaah tantangan sekaligus peluang karier global dalam era transisi energi terbarukan. Forum ini pun menjadi jendela pembelajaran langsung dari pengalaman profesional diaspora Indonesia di sektor strategis energi dunia.

Koordinator Hubungan Eksternal & Kemitraan HMTL UNUSIDA, Gilang Ramadhani Kurniawan, menyampaikan bahwa partisipasi dalam ZE Talk ini membawa manfaat besar dalam membuka cakrawala berpikir mahasiswa.

Ia menyebutkan bahwa Keterlibatan HIMA TL UNUSIDA dalam ZE Talk merupakan implementasi nyata dari program kerja unggulan bertajuk ‘ENVIRO NEXUS’ yang digagas oleh Departemen Urusan Sosial, Diplomasi, dan Relasi Kemitraan (UDARA). Program ini berfokus pada penguatan relasi eksternal dan kolaborasi keprofesian guna menyiapkan mahasiswa teknik lingkungan yang adaptif terhadap perubahan global.

“Kami percaya bahwa wawasan global sangat penting bagi mahasiswa teknik lingkungan hari ini. Melalui ZE Talk, kami berharap teman-teman mendapatkan insight praktis dan perspektif nyata tentang tantangan serta peluang karier insinyur Indonesia di kancah internasional, khususnya dalam industri energi terbarukan,” tutur Gilang, Kamis (18/7/2025).

Dalam kegiatan ini, HMTL UNUSIDA mendelegasikan sejumlah pengurus dan anggota untuk menjadi partisipan aktif. Mereka tidak hanya hadir sebagai pendengar, namun juga turut terlibat dalam sesi diskusi dan membangun koneksi dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Partisipasi ini menegaskan peran HMTL UNUSIDA sebagai fasilitator pengembangan kapasitas mahasiswa, khususnya dalam bidang keprofesian dan kesiapan menghadapi tantangan global. Sinergi antara organisasi mahasiswa dan zonaebt.com juga menjadi bukti bahwa kolaborasi strategis antara dunia kampus dan ekosistem profesional sangat penting dalam mendukung transisi energi terbarukan yang inklusif dan berkelanjutan.

Lebih lanjut, Gilang menjelaskan bahwa tertarik dengan tema pembahasan yang relevan dan narasumber berpengalaman. ZE Talk menghadirkan atmosfer pembelajaran yang terbuka dan inspiratif, sesuai dengan kebutuhan mahasiswa teknik lingkungan masa kini.

Keikutsertaan HIMA TL UNUSIDA dalam kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal yang akan membuka lebih banyak peluang kolaborasi internasional, serta memperkuat posisi mahasiswa sebagai bagian dari generasi muda yang visioner, kompeten, dan siap bersaing di dunia energi masa depan.

“Forum ini juga mendorong mahasiswa untuk berpikir lebih luas dan strategis dalam menapaki jenjang karier, baik di dalam negeri maupun di pasar global,” ungkapnya.

Penulis: Muchammad Waziruddin (MY)

HMTL UNUSIDA Ikut Serta Dalam Webinar Nasional ECOEDU.id (Foto: Istimewa)

Perkuat Literasi Udara Bersih: HIMA Teknik Lingkungan UNUSIDA Ikuti Webinar Nasional ECOEDU.id

Sidoarjo – Komitmen terhadap penguatan wawasan dan pemahaman teknis dalam bidang pencemaran udara terus diperlihatkan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Sikap tersebut ditunjukkan melalui partisipasi aktif dalam Webinar Nasional ECOEDU.id yang bertajuk Inventarisasi Emisi Pencemar Udara. Kegiatan ini diselenggarakan secara daring oleh PT. Eco Edu Indonesia, pada Kamis, (26/6/2025) melalui Zoom Meeting.

Webinar ini bersifat terbuka untuk umum dan menghadirkan narasumber utama Dosen Teknik Lingkungan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr.Eng. Asep Sofyan, S.T., M.T. Dalam paparannya, Dr. Asep menjelaskan secara mendalam mengenai proses inventarisasi emisi, sebuah pendekatan sistematis untuk mengidentifikasi, mengklasifikasikan, dan menghitung jumlah emisi pencemar udara dari berbagai sumber, baik bergerak maupun tidak bergerak.

Pakar di bidang pengelolaan kualitas udara tersebut menegaskan bahwa inventarisasi emisi merupakan instrumen vital dalam penyusunan kebijakan pengendalian pencemaran udara, evaluasi efektivitas program lingkungan, serta penyusunan perencanaan jangka panjang untuk pengurangan emisi secara nasional.

Keikutsertaan HMTL UNUSIDA dalam webinar ini merupakan bagian dari program kerja unggulan bertajuk ‘ENVIRO INSIGHT’, yang digagas oleh Departemen Akademik, Inovasi, dan Riset (AIR) dan dijalankan secara kolaboratif bersama Departemen Urusan Sosial, Diplomasi, dan Relasi Kemitraan (UDARA). Program ini dirancang sebagai forum belajar dan kolaborasi lintas sektor yang mendorong mahasiswa Teknik Lingkungan agar siap menjadi pelaku perubahan menuju masa depan yang hijau dan berkelanjutan.

Kepala Departemen AIR sekaligus penanggung jawab kegiatan, Chalimatus Sa’diyah, menyampaikan bahwa topik webinar sangat relevan dengan materi akademik yang dipelajari mahasiswa Teknik Lingkungan.

“Webinar ini memperkuat pembelajaran kami di kelas, khususnya pada mata kuliah Pencemaran Udara yang diampu oleh Ibu Listin Fitrianah, S.P., M.Si., yang juga merupakan Dekan Fakultas Teknik UNUSIDA,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam forum ilmiah nasional menjadi langkah penting untuk memperkuat literasi lingkungan berbasis data, analisis, dan kebijakan yang komprehensif.

Webinar ini diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, mulai dari mahasiswa, dosen, hingga praktisi lingkungan. Selain sesi pemaparan, diskusi interaktif dengan narasumber juga menjadi ajang pertukaran ide mengenai tantangan dan peluang membangun sistem inventarisasi emisi yang standar, adaptif, dan responsif terhadap kondisi Indonesia.

Melalui partisipasi aktif dalam kegiatan berskala nasional ini, HMTL UNUSIDA tidak hanya memperluas wawasan akademis anggotanya, tetapi juga membangun jejaring strategis dengan komunitas lingkungan hidup di seluruh Indonesia. Diharapkan, kegiatan seperti ini mampu mencetak generasi muda yang tidak hanya sadar lingkungan, namun juga siap berkontribusi nyata dalam pembangunan berkelanjutan.

Penulis: Muchammad Waziruddin (MY)