Perspektif Pendidikan Modern: Keteladanan Ibu dalam Pembentukan Karakter Anak Usia Sekolah
Dalam momentum peringatan Hari Ibu, Wakil Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Dr. Arie Widya Murni, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa karakter anak usia sekolah tidak dapat dipisahkan dari keteladanan ibu dalam kehidupan sehari-hari. Dalam perspektif pendidikan modern, karakter bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama dalam membentuk generasi yang berintegritas, empatik, dan bertanggung jawab.
Menurutnya, sekolah memang memiliki peran strategis dalam pengembangan akademik dan sosial anak, namun berbagai kajian pendidikan menunjukkan bahwa keluarga. Terutama ibu yang memegang peran paling menentukan dalam pembentukan karakter anak usia sekolah.
“Di tengah tantangan zaman seperti kecanduan gawai, menurunnya empati sosial, serta pergeseran nilai moral, keteladanan ibu menjadi benteng pertama yang menjaga arah tumbuh kembang kepribadian anak,” ujarnya.
Ibu sebagai Role Model Pertama Pendidikan Karakter
Ia menjelaskan bahwa karakter anak tidak dibentuk melalui nasihat semata, melainkan melalui keteladanan yang konsisten. Hal ini sejalan dengan teori social learning dari Albert Bandura yang menyatakan bahwa anak belajar perilaku melalui observasi dan imitasi.
“Dalam konteks ini, sikap dan perilaku ibu sehari-hari sejatinya adalah ‘kurikulum hidup’ yang terus dibaca dan ditiru oleh anak,” jelasnya.
Beberapa bentuk keteladanan ibu yang sangat berpengaruh antara lain kemampuan mengelola emosi, menunjukkan empati dan kepedulian sosial, menegakkan disiplin dan tanggung jawab, serta membangun budaya literasi dan sikap positif terhadap pendidikan di rumah.
Lebih lanjut, Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) tersebut menekankan bahwa pendidikan modern menempatkan keluarga dan sekolah sebagai mitra sejajar. Kurikulum karakter di sekolah tidak akan efektif tanpa penguatan nilai yang konsisten di rumah. Pendekatan seperti pendidikan holistik, Social-Emotional Learning (SEL), dan positive parenting menegaskan pentingnya stabilitas emosi, empati, komunikasi terbuka, serta penguatan positif yang dimulai dari keluarga.
Dalam era digital, peran ibu menjadi semakin krusial. Anak-anak yang tumbuh sebagai digital natives membutuhkan contoh nyata dalam literasi digital, komunikasi terbuka, serta keseimbangan antara penggunaan teknologi, keluarga, dan kehidupan sosial. Ia menuturkan bahwa ibu adalah sekolah pertama bagi anak, karakter adalah kurikulumnya, dan keteladanan adalah metode utamanya.
“Ibu bukan hanya pengawas penggunaan gawai, tetapi teladan utama bagaimana teknologi digunakan secara sehat, produktif, dan bertanggung jawab,” tuturnya.
Menguatkan Peran Ibu dalam Pendidikan Karakter
Arie menegaskan bahwa berbagai riset psikologi dan pendidikan menunjukkan ikatan emosional ibu dan anak membentuk secure attachment yang berdampak langsung pada perilaku dan prestasi belajar. Anak dengan figur ibu yang hangat dan suportif cenderung lebih percaya diri serta memiliki motivasi belajar yang tinggi hingga dewasa.
Sebagai rekomendasi, ia mendorong adanya program parenting berbasis sekolah, pendampingan karakter anak secara kolaboratif antara guru dan orang tua, penguatan literasi keluarga, serta dukungan kesehatan mental bagi ibu.
“Ibu yang sehat secara emosional akan lebih mampu menghadirkan keteladanan yang positif dan konsisten,” tambahnya.
“Pendidikan modern hanya akan berjalan efektif jika keluarga, terutama ibu menjadi pusat pembentukan karakter yang memadukan cinta, keteladanan, dan disiplin dalam komitmen yang berkelanjutan,” pungkasnya.
Oleh: Dr. Arie Widya Murni, S.Pd., M.Pd. (Wakil Dekan FKIP UNUSIDA)




