Pos

FKIP UNUSIDA Gelar FGD Bahas Integrasi TPACK bersama Sri Surachmi W, dosen dan akademisi di Universitas Muria Kudus (UMK). (Foto: Humas UNUSIDA)

FKIP UNUSIDA Gelar FGD, Bahas Integrasi TPACK Berbasis Genre dalam Pembelajaran

SIDOARJO — Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema ‘Integrasi TPACK Berbasis Genre-Based Pedagogy dalam Pembelajaran’ pada Senin (20/7/2026).

Kegiatan ini menghadirkan narasumber Sri Surachmi W, dosen dan akademisi dari Universitas Muria Kudus (UMK), yang membahas pentingnya integrasi teknologi dalam pembelajaran di era digital.

Dalam pemaparannya, Sri Surachmi menjelaskan bahwa keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh kemampuan pendidik dalam mengintegrasikan materi, pedagogi, dan teknologi melalui kerangka Technological Pedagogical and Content Knowledge (TPACK).

“Teknologi bukan tujuan pembelajaran, tetapi sarana untuk membantu peserta didik memahami materi secara lebih efektif,” jelasnya.

Ia memaparkan bahwa TPACK terdiri dari tiga komponen utama, yaitu Content Knowledge (CK), Pedagogical Knowledge (PK), dan Technological Knowledge (TK). Ketiga aspek tersebut saling berinteraksi hingga membentuk integrasi pembelajaran yang utuh dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Selain itu, Sri Surachmi juga mengulas Pendekatan Berbasis Genre (Genre-Based Approach) yang berfokus pada pengembangan literasi melalui pemahaman berbagai jenis teks sesuai fungsi komunikatifnya. Pendekatan ini dinilai sejalan dengan implementasi Kurikulum Merdeka karena mampu meningkatkan kemampuan membaca, menulis, berpikir kritis, dan komunikasi peserta didik.

Dalam penerapannya, pembelajaran berbasis genre dilakukan melalui empat tahapan utama, yaitu:

  1. Building Knowledge of the Field (BKOF)
  2. Modeling of the Text (MOT)
  3. Joint Construction of the Text (JCOT)
  4. Independent Construction of the Text (ICOT)

Keempat tahapan tersebut dapat dipadukan dengan pemanfaatan berbagai teknologi digital seperti YouTube, Canva, Google Docs, hingga platform kolaboratif lainnya untuk menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif dan bermakna.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa integrasi TPACK berbasis genre tidak hanya membuat pembelajaran lebih kontekstual, tetapi juga mampu meningkatkan literasi digital serta keterampilan abad ke-21 (4C), yaitu critical thinking, creativity, collaboration, dan communication.

Meski demikian, ia juga mengingatkan adanya tantangan dalam implementasi, seperti keterbatasan kompetensi digital pendidik, akses teknologi, serta kecenderungan penggunaan aplikasi tanpa mempertimbangkan relevansi pembelajaran.

“Perencanaan yang matang menjadi kunci agar teknologi benar-benar mendukung kualitas pembelajaran, bukan sekadar mengikuti tren,” tegasnya.

Sementara itu, Dekan FKIP UNUSIDA, Muawwinatul Laili, menyampaikan bahwa kegiatan FGD ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di lingkungan fakultas.

Dengan adanya penguatan konsep TPACK berbasis genre, pihaknya berkomitmen untuk terus mendorong terciptanya praktik pembelajaran yang relevan dengan perkembangan teknologi serta kebutuhan peserta didik masa kini.

“Semoga melalui kegiatan FGD ini, para dosen dan pendidik di lingkungan FKIP UNUSIDA dapat semakin memahami pentingnya integrasi TPACK berbasis genre dalam menciptakan pembelajaran yang inovatif, adaptif, dan berpusat pada peserta didik. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wadah kolaborasi dan pertukaran ide antar pendidik guna menjawab tantangan pendidikan di era digital,” pungkasnya.

Mahasiswa Kelompok KKN dan PLP FKIP UNUSIDA di Sanggar Belajar Pantai Dalam Malaysia (Foto: Humas UNUSIDA)

Tumbuhkan Semangat Kartini: Mahasiswa UNUSIDA Padukan Karakter, Nasionalisme, dan Budaya di Sanggar Belajar Malaysia

KUALA LUMPUR — Semangat Hari Kartini menyeberangi batas negara dan menemukan wujud nyatanya di tengah aktivitas Sanggar Belajar Pantai Dalam Malaysia. Di ruang belajar sederhana itu, mahasiswa peserta program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Pengenalan Lingkungan Persekolahan (PLP) Internasional dari Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menginisiasi rangkaian kegiatan yang memadukan pendidikan karakter, nasionalisme, dan pelestarian budaya bagi anak-anak Indonesia di perantauan.

Kelompok KKN dan PLP Internasional Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNUSIDA tersebut terdiri dari M. Ainur Rofik, Muhammad Firman Firdaus, M. Adani Maulidan, dan Ahmad Isroki Kholilurrohman bersama dosen pembimbing lapangan, Wahyu Maulida Lestari, M.Pd.

Bagi M. Ainur Rofik, peringatan Kartini di luar negeri bukan sekadar seremonial. Ia memaknai Habis Gelap Terbitlah Terang sebagai simbol perjuangan melawan keterbatasan. Bukan hanya akses sekolah, tetapi keberanian untuk bermimpi dan berdaya meski jauh dari tanah air.

“Cahaya terang itu sudah ada, sudah menyinari ruang kelas di sanggar belajar ini. Namun, tugas kita bukan sekadar menikmati terangnya, melainkan menjadi penyambung cahaya tersebut,” ungkapnya di sela kegiatan, Jumat (24/4/2026).

Rangkaian program yang disusun meliputi upacara bendera untuk menumbuhkan jiwa nasionalis, seminar anti-bullying demi menciptakan lingkungan belajar yang aman, serta workshop membatik eco-print untuk mengenalkan kekayaan budaya Indonesia. Melalui seminar, ia ingin menghapus kegelapan berupa krisis empati dan tekanan sosial di kalangan siswa; melalui batik, ia mengajak mereka bangga pada identitas bangsanya.

Tantangan di lapangan terutama keragaman kemampuan belajar siswa menjadi pengingat bahwa terang adalah proses berkelanjutan. Baginya, menjadi guru bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi hadir sebagai teman, pendengar, dan pembimbing.

“Tidak ada yang langsung mahir menjadi guru. Murid akan tumbuh, begitu juga dengan dirimu,” tambahnya.

Menurutnya, pengalaman KKN dan PLP Internasional ini, sangat relevan dengan teori yang dipelajari di bangku kuliah seperti Manajemen Pendidikan dan Bimbingan Konseling, yang kini dipraktikkan sebagai bentuk nyata pengabdian.

Ia berharap langkah kecil yang dilakukan dapat memicu para siswa menjadi kartini-kartini kecil yang berani bermimpi dan berusaha meraih cita-cita. Sekecil apa pun jejak kebaikan, diyakininya, adalah bagian dari upaya memastikan cahaya pendidikan Indonesia terus berpendar hingga ke sudut-sudut terjauh.

“Menjadi perempuan adalah fitrah, tetapi menjadi tangguh dan mandiri adalah pilihan. Mari terus menyalakan cahaya bagi masa depan generasi penerus bangsa,” pungkasnya.

LKMM-TD FKIP UNUSIDA 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

LKMM-TD FKIP UNUSIDA 2026: Sinergi Manajemen Diri dan Organisasi Hadapi Tantangan Global

SIDOARJO — Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menyelenggarakan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Dasar (LKMM-TD) 2026 dengan mengusung tema ‘Sinergi Manajemen Diri dan Organisasi Menghadapi Tantangan Global (SIGMA) yang dilaksanakan di Hall Kampus 2 UNUSIDA dan Villa Asia Jaya, Pecet, Mojokerto pada Rabu–Kamis (21–23/4/2026). Kegiatan ini bertepatan dengan momentum Hari Kartini, sebagai pengingat bahwa semangat emansipasi pendidikan harus diwujudkan melalui kapasitas diri, karakter, dan kepemimpinan mahasiswa.

Ketua Pelaksana Wahyu Maulida Lestari, M.Pd., melaporkan bahwa LKMM-TD tahun ini diikuti 157 peserta dari angkatan 2023–2025, dengan rincian 136 mahasiswa PGSD dan 21 mahasiswa PBI. Ia menegaskan, program ini dirancang untuk membekali mahasiswa dengan manajemen diri, manajemen waktu, dan manajemen konflik sebagai fondasi kepemimpinan.

“Semoga tidak hanya digaungkan slogan Ibu Kartini. Mari bersama menyongsong FKIP yang gemilang. Kita membutuhkan sinergi kuat mahasiswa untuk mampu memanajemen diri, waktu, dan konflik. Tanpa kalian, FKIP sulit memancarkan gemilangnya,” ujarnya.

Melalui tema SIGMA, ia menekankan bahwa momentum LKMM-TD menjadi ruang strategis untuk menyatukan kesadaran personal dan kecakapan organisasi dalam menghadapi tantangan global. Harapannya, lahir calon guru yang tidak hanya cakap mengajar, tetapi juga kuat karakter, matang kepemimpinan, dan siap memberi dampak nyata bagi kampus, masyarakat, dan dunia pendidikan.

“LKMM-TD ini diharapkan tidak berhenti di forum, tetapi diaplikasikan dalam kehidupan akademik dan organisasi,” tandasnya.

Dekan FKIP UNUSIDA Muawwinatul Laili, S.S., M.Pd., menekankan bahwa mahasiswa calon pendidik tidak hanya dituntut profesional dan kompeten, tetapi juga harus menjadi agen perubahan yang kritis, inovatif, dan solutif di tengah masyarakat.

“Tunjukkan karakter baik dalam hal-hal kecil, seperti adab saat pembacaan ayat suci Al-Qur’an pada pembukaan. Ikuti kegiatan ini dengan tanggung jawab. Harga diri dijaga, kesehatan dijaga, dan patuhi aturan panitia. Tanggung jawab ada pada diri kalian sendiri,” pesannya.

Sementara itu, Plt Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., mengaitkan semangat Kartini dengan peran mahasiswa FKIP sebagai calon pemimpin pendidikan masa depan.

“Mahasiswa FKIP harus menjadi pimpinan tertinggi suatu hari. Jangan minder, jadikan momen ini latihan untuk menjadi lebih baik. Pertahankan prestasi, terus berkembang, dan niatkan mencari ilmu yang bermanfaat,” tuturnya.

Aininna Halizah Rahma, Putri Kampus UNUSIDA saat Magang menjadi Pengajar di WIJABA (Foto: NU Delta)

Magang di WIJABA Jadi Momentum untuk Belajar, Mengabdi, dan Menginspirasi Bagi Calon Guru

SIDOARJO — Semangat Hari Kartini menemukan wujud nyatanya dalam diri Aininna Halizah Rahma, Putri Kampus dari Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) yang saat ini menjalani magang sebagai pengajar di WIJABA. Mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) ini memaknai Kartini bukan sekadar simbol kebaya dan seremoni, melainkan simbol pendidikan, kebebasan berpikir, dan keberanian mengambil peran.

Motivasinya mengikuti program WIJABA terbilang sederhana: keluar dari zona nyaman. Berawal dari ajakan teman lombanya, Ainina tertarik pada program edukasi lingkungan yang menantang dirinya untuk mengenal karakter anak, memahami sistem sekolah, sekaligus melatih emosi dan kemampuan adaptasi. Dari sejumlah pendaftar, ia menjadi satu-satunya mahasiswa dari Prodi PGSD yang lolos seleksi.

“Bagi saya, Hari Kartini adalah simbol pendidikan dan kebebasan. Esensinya bisa diambil siapa saja, terutama calon guru yang idealis,” ungkapnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (21/4/2026).

Selama mendampingi proses belajar, Ainina mengaku mendapatkan pengalaman yang sangat berkesan. Ia belajar memahami beragam karakter anak, mendengarkan cerita-cerita polos mereka, hingga berinteraksi langsung dengan kepala sekolah dan guru fasilitator. Pengalaman ini juga membawanya menjangkau sekolah-sekolah di daerah yang sebelumnya belum pernah ia datangi.

Tantangan terberat yang ia hadapi adalah perbedaan kemampuan belajar anak dalam satu kelas, terlebih ketika mendampingi anak berkebutuhan khusus yang belum memiliki shadow teacher. Untuk mengatasinya, Ainina menggunakan pendekatan variatif seperti ice breaking kreatif, belajar sambil bermain dan bernyanyi, serta membangun komunikasi personal dengan siswa.

Menurutnya, semangat Kartini tercermin dari keberanian untuk terus belajar, berinovasi, dan tidak menyerah dalam mendidik. Prinsip yang selalu ia pegang adalah, “Tidak ada yang langsung mahir menjadi guru. Muridmu akan tumbuh, begitu juga dengan dirimu,” tuturnya.

Ia juga menekankan pentingnya menanamkan rasa percaya diri, rasa ingin tahu, dan kemandirian kepada anak-anak generasi saat ini. Harapannya, mereka bisa menjadi Kartini kecil zaman now yang berani bermimpi dan berusaha meraih impian. Ia merasa pengalaman magang ini terasa sangat relevan dengan perkuliahannya di PGSD. Beberapa mata kuliah yang paling ia rasakan manfaatnya di lapangan antara lain Manajemen Pendidikan, Dasar-dasar Perencanaan Pembelajaran, dan Bimbingan Konseling SD.

Lebih jauh, Aininna menyadari bahwa profesi guru bukan sekadar mengajar. Guru adalah teman, pendengar, pembimbing, bahkan figur orang tua di sekolah. Ia menilai profesi ini sangat prestisius, namun masih sering diremehkan dari sisi kesejahteraan, yang berdampak pada kualitas pendidikan nasional.

Ainina berpesan agar setiap langkah hidup meninggalkan jejak kebaikan. Baginya, menjadi perempuan adalah fitrah, tetapi menjadi tangguh dan mandiri adalah pilihan yang memperkuat martabat.

“Negara tidak akan maju jika kualitas pendidikannya tidak baik. Sudah saatnya profesi guru dihargai melalui peningkatan kualitas dan kesejahteraannya,” tegasnya.

Zaza Wahyu Faradillah, Alumni PGSD UNUSIDA Tahun 2022 (Foto: Humas UNUSIDA)

Zaza Wahyu Faradillah, Alumni PGSD UNUSIDA Buktikan Bekal Ilmu yang Relevan dengan Dunia Kerja

Pengalaman perkuliahan yang relevan dengan kebutuhan profesi menjadi kunci keberhasilan lulusan saat memasuki dunia kerja. Hal inilah yang dirasakan oleh Zaza Wahyu Faradillah, alumni Program Studi PGSD Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) angkatan 2022.

Kini Zaza berprofesi sebagai guru di SD Negeri Pilang 1 Sidoarjo. Ia menuturkan bahwa ilmu dan pengalaman selama kuliah benar-benar membantunya memahami “medan” pekerjaan yang dijalani. Menurutnya, materi perkuliahan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi aplikatif dan selaras dengan praktik di sekolah.

“Ilmu sesuai jurusan yang saya pelajari di bangku kuliah sangat membimbing saya. Saat terjun ke dunia kerja, saya tidak terlalu kesulitan memahami ritme dan tantangan profesi guru,” ungkapnya.

Zaza menuturkan bahwa proses belajar di kampus telah membentuk fondasi penting untuk terus tumbuh, beradaptasi, serta berkembang menghadapi dinamika dunia pendidikan dan profesional yang terus berubah.

Menurutnya, pembiasaan berpikir kritis selama perkuliahan menjadi salah satu nilai utama yang sangat membantu dalam menghadapi tantangan di lapangan. Selain itu, latihan menyusun perangkat pembelajaran hingga pengalaman praktik lapangan juga menjadi bekal berharga yang kini dirasakan manfaatnya secara nyata.

“Proses belajar di kampus membentuk fondasi penting untuk tumbuh, beradaptasi, serta terus berkembang menghadapi dinamika dunia pendidikan. Pembiasaan berpikir kritis, latihan perangkat pembelajaran, hingga pengalaman praktik lapangan menjadi bekal berharga yang manfaatnya sangat terasa saat ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, selama kuliah di UNUSIDA dirinya merasakan dukungan penuh melalui kurikulum yang kontekstual, dosen yang mendampingi, serta pengalaman praktik yang terstruktur. Menurutnya, hal tersebut mampu menjembatani mahasiswa menuju dunia profesional dengan lebih siap dan percaya diri.

“UNUSIDA memberikan pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan zaman. Kurikulumnya kontekstual, dosennya mendampingi, dan praktiknya terarah, sehingga mahasiswa lebih siap memasuki dunia kerja,” jelasnya.

Zaza juga mengajak generasi muda untuk tidak ragu menentukan pilihan studi sesuai minat dan cita-cita. Ia meyakini, banyak pilihan jurusan yang tepat di UNUSIDA dan jika dijalani dengan sungguh-sungguh akan memudahkan langkah dalam meraih karier impian.

“Banyak pilihan jurusan yang tepat di UNUSIDA. Jika dipadukan dengan proses belajar yang sungguh-sungguh, maka akan memudahkan langkah ketika memasuki karier yang diimpikan,” pungkasnya.

FKIP Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo Berangkatkan 19 Mahasiswa KKN–PLP Internasional ke Malaysia (Foto: Humas UNUSIDA)

FKIP UNUSIDA Berangkatkan 19 Mahasiswa KKN–PLP Internasional ke Malaysia

SIDOARJO – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) secara resmi memberangkatkan 19 mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) Internasional ke Malaysia pada Selasa (31/3/2026). Program ini akan berlangsung mulai 2 April hingga 29 April 2026 di sejumlah sanggar bimbingan dan satuan pendidikan mitra di wilayah Kuala Lumpur dan sekitarnya.

Dekan FKIP UNUSIDA, Muawwinatul Laili, M.Pd., menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kualitas mahasiswa melalui pengalaman pembelajaran berbasis internasional. Menurutnya, kegiatan ini memberikan banyak manfaat strategis bagi mahasiswa, baik dari sisi akademik maupun pengalaman lapangan.

“Mahasiswa akan mendapatkan konversi akademik hingga 20 SKS, dengan maksimal 12 SKS berasal dari mata kuliah. Selain itu, mereka juga memperoleh sertifikat kegiatan internasional yang menjadi nilai tambah penting dalam dunia kerja,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keikutsertaan dalam program ini akan memberikan pengalaman berbeda dibandingkan mahasiswa lainnya, terutama dalam hal adaptasi budaya, komunikasi global, serta praktik pendidikan di lingkungan internasional.

Program KKN dan PLP internasional ini akan dilaksanakan di beberapa sekolah mitra di wilayah Kuala Lumpur. FKIP UNUSIDA telah menjalin komunikasi dan kerja sama dengan pihak sekolah serta institusi setempat, sehingga pelaksanaan kegiatan dipastikan berjalan dengan baik dan terstruktur.

Mahasiswa akan didampingi oleh dosen pembimbing lapangan (DPL) serta tim pendamping selama kegiatan berlangsung. Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa akan ditempatkan di berbagai sekolah dengan sistem pembagian kelompok. Setiap lokasi telah disiapkan fasilitas penunjang, termasuk tempat tinggal dan kebutuhan dasar mahasiswa.

“Alhamdulillah, lokasi kegiatan sudah siap dan beberapa institusi di Malaysia juga sudah berpengalaman menerima mahasiswa dari Indonesia untuk program serupa,” tambahnya.

Ia juga mengingatkan kepada mahasiswa untuk menjaga komunikasi yang baik dengan orang tua serta menjaga nama baik institusi selama berada di luar negeri.

Selain kegiatan akademik dan pengabdian, mahasiswa juga akan mendapatkan kesempatan mengenal lingkungan sekitar sebagai bagian dari pembelajaran budaya dan sosial. Program ini dijadwalkan berakhir pada tanggal 28–29 April 2026 mendatang, dengan kepulangan mahasiswa ke Indonesia setelah menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan.

“Melalui program ini, kami berkomitmen untuk mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki wawasan global, kemampuan adaptasi, serta kesiapan menghadapi tantangan di dunia internasional,” ungkapnya.

Daftar Mahasiswa & Penempatan KKN–PLP Internasional Malaysia

No Nama Prodi Penempatan
1 Azzawiyatul Annajiyah PBI Sanggar Bimbingan An Nahdlo
2 Afifah Rochmadin PBI Sanggar Bimbingan An Nahdlo
3 Fahira Nur Ramadhania PGSD Sanggar Bimbingan An Nahdlo
4 Luthfiyah Rahmah Ahmadiy PBI Sanggar Bimbingan Sentul
5 Alycia Agnie Aryane Putri PGSD Sanggar Bimbingan Sentul
6 Ariandin Nur Yasidh PBI Sanggar Bimbingan Segambut
7 Hanifah PBI Sanggar Bimbingan Segambut
8 Muhammad Adani Maulidan PBI Sanggar Bimbingan Pantai Dalam
9 Ahmad Isrofi Kholilurrohman PGSD Sanggar Bimbingan Pantai Dalam
10 M. Anwar Rofik PGSD Sanggar Bimbingan Pantai Dalam
11 Muhammad Firman Firdaus PGSD Sanggar Bimbingan Pantai Dalam
12 Nuril Safra Rahayu PBI Sanggar Bimbingan Ampang
13 Yesi Alviyanti PBI Sanggar Bimbingan Ampang
14 Lailatul Rahma Agustina PGSD Sanggar Bimbingan Ampang
15 Ken Izun Nadlifah PBI Sanggar Bimbingan Pandan Jaya
16 Aula Fadhi Olivia PGSD Sanggar Bimbingan Pandan Jaya
17 Azlin Azha PBI Sanggar Bimbingan At-Tanzil
18 Nur Thazim M. PGSD Sanggar Bimbingan At-Tanzil
19 Durrotun Naliyah Putri Al Arifani PGSD Sanggar Bimbingan At-Tanzil

Lebih lanjut, Plt. Rektor UNUSIDA Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., mengingatkan agar seluruh mahasiswa menyusun perencanaan kegiatan dengan baik sejak awal keberangkatan. Setiap aktivitas yang dilakukan selama di luar negeri diharapkan terdokumentasi secara sistematis.

Ia juga menyoroti bahwa pengalaman belajar di luar negeri harus mampu meningkatkan kemampuan komunikasi, keberanian, serta kesiapan mahasiswa dalam menghadapi tantangan global. Mahasiswa juga diminta untuk mencatat rencana dan aktivitas harian dalam bentuk laporan atau buku kegiatan sebagai bentuk akuntabilitas kepada kampus dan orang tua.

“Semua kegiatan harus terencana dan terdokumentasi dengan baik, sehingga orang tua juga dapat memantau perkembangan aktivitas mahasiswa selama di luar negeri,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia turut memberikan motivasi kepada mahasiswa agar tetap menjaga sikap, etika, serta nama baik institusi selama berada di Malaysia.

“Selamat berjuang. Tunjukkan bahwa mahasiswa UNUSIDA mampu bersaing, beradaptasi, dan memberikan kontribusi nyata di lingkungan internasional,” pesannya.

Alumni PGSD UNUSIDA, Izathun Alcharimah Ana Safitri, S.Pd., M.Pd. (Foto Humas UNUSIDA)

Dari Dunia Pendidikan ke Ruang Publik, Kisah Izathun Alcharimah Alumni PGSD UNUSIDA Berkiprah di Bawaslu Sidoarjo

Perjalanan karier tidak selalu berjalan lurus sesuai bidang studi. Hal inilah yang dibuktikan oleh alumni Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Izathun Alcharimah Ana Safitri, S.Pd., M.Pd. Lulusan tahun 2019 tersebut kini berkiprah sebagai penyelenggara pemilu di Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Sidoarjo.

Berangkat dari latar belakang pendidikan dasar, Izathun membuktikan bahwa ilmu yang diperoleh selama kuliah tidak hanya relevan di ruang kelas, tetapi juga dapat menjadi bekal penting dalam dunia publik yang dinamis. Menurutnya, pendidikan adalah fondasi dalam membangun kesadaran demokrasi dan integritas masyarakat.

“PGSD mengajarkan saya tentang kesabaran, komunikasi, dan tanggung jawab. Nilai-nilai itu sangat relevan ketika bekerja di ruang publik,” ungkapnya kepada Humas UNUSIDA, Kamis (5/3/2026).

Dalam perannya sebagai penyelenggara pemilu di Bawaslu Sidoarjo, Izathun terlibat dalam pengawasan berbagai tahapan pemilu di tingkat kabupaten. Tugasnya meliputi memastikan proses berjalan sesuai regulasi, menjaga netralitas, hingga menangani berbagai dinamika yang muncul di lapangan.

Peran tersebut menuntut ketelitian administrasi, keberanian dalam mengambil keputusan, serta kemampuan menyampaikan informasi secara objektif kepada masyarakat. Menurutnya, dunia kepemiluan merupakan ruang pembelajaran yang sangat kaya akan pengalaman.

“Ketika berada di dunia publik, kita belajar untuk lebih dewasa. Setiap ucapan dan tindakan memiliki konsekuensi. Kita harus bijak, netral, dan tetap berpegang pada aturan,” jelasnya.

Pengalaman tersebut menjadi jembatan menuju kematangan pribadi. Ia belajar mengelola emosi, bersikap profesional di tengah perbedaan pandangan, serta membangun komunikasi yang sehat dengan berbagai pihak—baik peserta pemilu, sesama penyelenggara, maupun masyarakat.

Sebagai alumni PGSD, Izathun juga merasakan bahwa kemampuan mendidik dan memberikan pemahaman kepada masyarakat menjadi nilai tambah tersendiri. Dalam berbagai kegiatan sosialisasi pengawasan partisipatif, latar belakang pendidikannya membantu dalam menyampaikan informasi secara komunikatif dan mudah dipahami.

“Edukasi kepada masyarakat itu penting. Demokrasi yang sehat tidak hanya bergantung pada penyelenggara, tetapi juga pada kesadaran masyarakat,” tuturnya.

Ia pun membagikan sejumlah pesan bagi mahasiswa, khususnya dari Prodi PGSD, agar tidak membatasi diri dalam menentukan masa depan. Menurutnya, lulusan PGSD memiliki kompetensi komunikasi, manajemen, dan kepemimpinan yang dapat diterapkan di berbagai bidang.

Selain itu, ia menekankan pentingnya membangun integritas sejak dini. Dalam dunia kepemiluan, netralitas dan kejujuran menjadi prinsip utama yang tidak dapat ditawar. Kemauan untuk terus belajar serta kesiapan menghadapi kritik juga menjadi bekal penting bagi siapa pun yang ingin berkiprah di ruang publik.

Bagi Izathun, perjalanan kariernya bukan sekadar tentang posisi atau jabatan, tetapi tentang proses bertumbuh sebagai pribadi. Dunia publik membentuknya menjadi lebih sabar, tegas, dan bertanggung jawab dalam menjalankan amanah.

Kini, sebagai bagian dari Bawaslu Sidoarjo, ia merasa memiliki tanggung jawab besar untuk turut menjaga kualitas demokrasi di daerah. Ia percaya bahwa demokrasi yang kuat memerlukan pengawasan yang profesional serta individu-individu yang matang secara karakter.

Kisah Izathun menjadi bukti bahwa alumni PGSD memiliki ruang kontribusi yang luas, termasuk di dunia kepemiluan. Pendidikan yang ia tempuh menjadi fondasi untuk memahami masyarakat, membangun komunikasi, serta menjaga integritas dalam setiap langkah pengabdian.

“Menjadi bagian dari penyelenggara pemilu bukan hanya tentang bekerja, tetapi tentang mengabdi. Dunia publik adalah ruang untuk belajar menjadi lebih dewasa dan bertanggung jawab,” pungkasnya.

HIMA PGSD UNUSIDA Gelar LENTERA 2026, Orientasi Jurusan Perdana bagi Calon Pendidik Bangsa 1

HIMA PGSD UNUSIDA Gelar LENTERA 2026, Orientasi Jurusan Perdana bagi Calon Pendidik Bangsa

SIDOARJO — Himpunan Mahasiswa Program Studi (Hima Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo sukses menggelar acara orientasi jurusan perdana bertajuk LENTERA, Ahad (15/2/2026). Kegiatan tersebut dilaksanakan di Aula Lantai 5 Kampus UNUSIDA di Sidoarjo, kegiatan ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa angkatan 2025 untuk memulai langkah sebagai calon pendidik bangsa.

Dengan mengusung tema ‘Menghidupkan Nilai Luhur Pendidikan Dasar dalam Langkah Awal Calon Pendidik Bangsa’, kegiatan ini menghadirkan perpaduan antara penguatan akademik dan pembentukan karakter. Peserta tidak hanya menerima materi mendalam mengenai ke-PGSD-an, tetapi juga dibekali sesi motivasi untuk menumbuhkan rasa bangga dan dedikasi terhadap profesi guru sekolah dasar.

Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi (HIMA PGSD) UNUSIDA, Zafrina Jihan Sajida, menegaskan pentingnya peran mahasiswa PGSD sebagai calon pendidik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat dan kepedulian sosial.

Hal tersebut ia sampaikan dalam salah satu kegiatan kemahasiswaan PGSD UNUSIDA yang diikuti mahasiswa lintas angkatan. Menurutnya, organisasi mahasiswa menjadi ruang strategis bagi mahasiswa untuk mengembangkan soft skills, kepemimpinan, serta kemampuan kolaborasi yang akan sangat dibutuhkan ketika terjun ke dunia pendidikan.

“Mahasiswa PGSD bukan hanya belajar menjadi guru di dalam kelas, tetapi juga harus belajar menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui organisasi, kita dilatih untuk bertanggung jawab, bekerja sama, dan memiliki jiwa kepemimpinan,” ujarnya.

Zafrina juga menekankan bahwa HIMA PGSD UNUSIDA berkomitmen menghadirkan program kerja yang inovatif dan bermanfaat bagi mahasiswa, baik dalam aspek akademik maupun pengembangan karakter. Ia berharap seluruh mahasiswa PGSD dapat aktif berpartisipasi dalam kegiatan organisasi sebagai bagian dari proses pembelajaran di luar perkuliahan formal.

Lebih lanjut, ia mengajak mahasiswa untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap profesi guru sekolah dasar, mengingat peran guru sangat penting dalam membentuk generasi masa depan bangsa.

“Kita adalah calon pendidik yang akan membentuk karakter anak-anak Indonesia. Maka sejak sekarang kita harus mempersiapkan diri dengan ilmu, sikap, dan pengalaman organisasi yang baik,” tambahnya.

Ketua Pelaksana, Abdillah Daffa Wahyu menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang secara inklusif untuk menyatukan seluruh mahasiswa PGSD angkatan 2025, baik dari kelas reguler maupun mahasiswa yang berdomisili di pondok pesantren.

“Melalui LENTERA, kami ingin membangun sinergi dan rasa kekeluargaan tanpa sekat. Nilai-nilai luhur pendidikan dasar kami tanamkan dengan cara yang menyenangkan. Saya berterima kasih kepada seluruh panitia serta dosen fakultas maupun prodi atas dukungan dan support-nya sehingga acara ini dapat berjalan maksimal. Cinta PGSD, jaya selalu UNUSIDA,” jelasnya.

Suasana semakin meriah saat memasuki sesi outbound dan berbagai permainan kelompok yang dirancang untuk melatih kerja sama tim. Aktivitas tersebut berhasil mencairkan suasana sekaligus mempererat keakraban antar mahasiswa dari latar belakang yang berbeda.

Salah satu peserta mengaku sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut. “Acaranya sangat seru, terutama saat sesi permainan kelompok. Selain mendapatkan ilmu tentang prodi PGSD, kami juga lebih semangat untuk kuliah karena banyak motivasi baru. Saya jadi lebih kenal dekat dengan teman-teman. Walaupun agendanya sebentar, tapi pokoknya seru banget,” ungkapnya.

Penulis: Akmal Khuluq

Mahasiswa PGSD UNUSIDA Persembahkan Ragam Tari Nusantara dalam Pentas “Raga yang Menari, Jejak Budaya yang Terpatri” (Foto: Humas UNUSIDA)

Mahasiswa PGSD UNUSIDA Persembahkan Ragam Tari Nusantara

SIDOARJO — Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) mempersembahkan ragam tari Nusantara dalam sebuah kegiatan bertajuk ‘Raga yang Menari, Jejak Budaya yang Terpatri’ di Halaman Kampus 2 UNUSIDA, Rabu (7/1/2026). Kegiatan ini menjadi ruang ekspresi seni sekaligus upaya pelestarian budaya melalui gerak tari dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam pentas seni tersebut seluruh mahasiswa PGSD UNUSIDA menampilkan berbagai tarian tradisional dari beragam daerah, lengkap dengan pakaian daerah yang menggambarkan kekayaan budaya bangsa. Setiap gerakan tari tidak hanya menjadi bentuk keindahan visual, tetapi juga sarat makna, nilai luhur, dan filosofi yang diwariskan secara turun-temurun.

Wakil Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNUSIDA, Dr. Arie Widya Murni, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas kreativitas dan semangat mahasiswa PGSD dalam mengangkat seni budaya Nusantara. Menurutnya, kegiatan ini sejalan dengan visi pendidikan yang tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan kecintaan terhadap budaya bangsa.

“Melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa tidak hanya belajar tentang seni tari, tetapi juga menanamkan nilai-nilai budaya, kebersamaan, dan nasionalisme. Ini menjadi bekal penting bagi calon guru sekolah dasar agar kelak mampu menanamkan kecintaan budaya kepada peserta didik sejak usia dini,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa seni tari dapat menjadi media pembelajaran yang kontekstual dan menyenangkan, khususnya di jenjang pendidikan dasar. Dengan demikian, mahasiswa PGSD diharapkan mampu mengintegrasikan seni dan budaya dalam praktik pembelajaran di sekolah.

Ia berharap mahasiswa UNUSIDA dapat merawat warisan budaya bangsa. Melalui setiap gerak tari yang ditampilkan, mahasiswa tidak hanya mengekspresikan kreativitas, tetapi juga merajut nilai luhur dan identitas budaya Indonesia agar tetap hidup dan terpatri di tengah generasi muda.

“Melalui kegiatan ini juga menjadi upaya dalam merajut nilai-nilai luhur serta identitas budaya bangsa di tengah arus digitalisasi. Kegiatan ini menjadi implementasi mata kuliah dalam melestarikan tari dan busana budaya, yang kelak akan mereka ajarkan kepada generasi selanjutnya saat menjadi seorang pendidik,” pungkasnya.

FKIP UNUSIDA Gelar Workshop Proyek Independen Volume 2 (Foto: Humas UNUSIDA)

FKIP UNUSIDA Gelar Workshop Proyek Independen Volume 2, Kupas Tuntas Kajian Teori dan Referensi

SIDOARJO – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menggelar Workshop Proyek Independen Volume 2 dengan fokus pembahasan penulisan kajian teori dan pengelolaan referensi, Selasa (23/12/2025).

Workshop ini menghadirkan dua narasumber, Machfudzil Asror, S.Pd.I., M.Pd., dan Achmad Wahyudi, S.Pd.I., M.Pd., yang membekali mahasiswa dengan pemahaman mendalam mengenai pentingnya kajian teori sebagai fondasi penelitian serta pengelolaan referensi ilmiah yang sistematis dan akuntabel.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa didorong untuk tidak hanya menulis secara teknis, tetapi juga mampu membangun kerangka berpikir ilmiah yang kuat dan relevan dengan topik penelitian. Penggunaan aplikasi manajemen referensi seperti Mendeley turut menjadi bagian penting dalam workshop guna meningkatkan kualitas dan etika penulisan karya ilmiah.

Achmad Wahyudi, S.Pd.I., M.Pd., dalam materinya menekankan bahwa kajian teori merupakan fondasi utama dalam sebuah penelitian. Menurutnya, kajian teori tidak sekadar rangkuman pendapat para ahli, tetapi menjadi pijakan konseptual yang menentukan arah, kedalaman, dan ketajaman analisis penelitian.

Ia menjelaskan bahwa kajian teori yang kuat akan membantu peneliti memahami posisi penelitiannya di antara penelitian-penelitian sebelumnya, sekaligus memperjelas konsep, variabel, dan kerangka berpikir yang digunakan. Tanpa kajian teori yang memadai, sebuah penelitian berisiko kehilangan fokus dan kekuatan akademiknya.

Selain itu, Achmad Wahyudi juga membekali mahasiswa dengan pemahaman tentang pentingnya pengelolaan referensi ilmiah secara sistematis dan akuntabel. Ia menegaskan bahwa ketertiban dalam mencatat, mengelola, dan menyajikan sumber rujukan merupakan bagian dari etika akademik dan tanggung jawab ilmiah peneliti.

Melalui pemanfaatan aplikasi manajemen referensi, mahasiswa diarahkan untuk menulis secara lebih terstruktur, menghindari plagiarisme, serta memastikan setiap gagasan yang disampaikan memiliki dasar rujukan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, karya ilmiah yang dihasilkan tidak hanya memenuhi kaidah metodologis, tetapi juga menjunjung tinggi integritas akademik.

Workshop Proyek Independen Vol. 2 menjadi wujud komitmen FKIP UNUSIDA dalam mendampingi mahasiswa agar siap menghadapi tantangan akademik, riset, dan publikasi ilmiah. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya berkelanjutan FKIP UNUSIDA dalam menciptakan iklim akademik yang produktif, kritis, dan berdaya saing.