Pos

KH. Abdul Mun’im DZ: Sejak Awal Berdiri, NU Memiliki Misi Merawat Jagat hingga Tingkat Internasional

SIDOARJO — Nahdlatul Ulama (NU) sejak awal berdiri telah memiliki visi perjuangan yang tidak hanya berorientasi pada kepentingan umat Islam di dalam negeri, tetapi juga mencakup upaya menjaga perdamaian dan kemaslahatan dunia. Semangat tersebut menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan Drs. K.H. Abdul Mun’im DZ dalam Webinar Nasional Hari Santri 2026 yang diselenggarakan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Rabu (21/10/2026), secara daring melalui Zoom Meeting.

Mengusung tema ‘Santri Go Internasional, Kontribusi Nahdlatul Ulama Merawat Jagat’, kegiatan ini menjadi ruang untuk mengulas kembali sejarah perjuangan NU sekaligus menggali relevansinya dalam menghadapi tantangan global. Dalam pemaparannya, K.H. Abdul Mun’im DZ menegaskan bahwa perjuangan umat Islam tidak semata-mata terbatas pada lingkungan pesantren. Meskipun NU lahir dari tradisi pesantren, cita-cita perjuangannya memiliki cakupan yang jauh lebih luas.

Menurutnya, tema merawat jagat bukanlah gagasan baru yang muncul karena mengikuti perkembangan zaman. Sejak awal pendiriannya, NU telah memiliki visi untuk berkontribusi dalam menjaga kehidupan, memperjuangkan kepentingan umat, serta menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat luas.

Ia menjelaskan bahwa kelahiran NU dilatarbelakangi oleh semangat para ulama dalam menjaga ajaran Islam dan memperjuangkan kepentingan umat ketika menghadapi berbagai tantangan. Salah satu bentuk perjuangan penting yang disorot adalah keterlibatan ulama Indonesia dalam merespons persoalan pelaksanaan ajaran Islam di Tanah Suci. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa ulama pesantren Indonesia memiliki keberanian dan kapasitas untuk mengambil peran dalam persoalan umat Islam pada tingkat internasional.

Lebih lanjut, K.H. Abdul Mun’im DZ mengungkapkan bahwa visi internasional NU sebenarnya telah tercermin dalam dokumen-dokumen organisasi sejak masa awal berdirinya. Salah satunya dapat ditelusuri melalui dokumen NU tahun 1928, ketika organisasi tersebut masih berusia sekitar tiga tahun.

Dalam catatan sejarah tersebut, NU menunjukkan perkembangan organisasi yang cukup pesat. Pergerakannya tidak hanya berkembang di wilayah Jawa, tetapi mulai menjangkau berbagai daerah di luar Jawa. Hal ini memperlihatkan bahwa sejak awal NU telah memiliki semangat untuk memperluas jangkauan perjuangan dan membangun kontribusi yang lebih besar.

Ia menambahkan, cita-cita untuk menjadikan NU sebagai organisasi yang memiliki kepedulian terhadap persoalan dunia telah diletakkan sejak generasi pendahulu. Karena itu, upaya membawa santri dan NU ke tingkat internasional sejatinya merupakan kelanjutan dari fondasi perjuangan yang telah dibangun oleh para ulama terdahulu.

Salah satu bukti nyata kontribusi NU dalam percaturan internasional juga terlihat melalui perjuangan pembebasan Irian Barat. K.H. Abdul Mun’im DZ menyoroti peran NU melalui kekuatan politiknya pada masa itu, khususnya ketika dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti K.H. Abdul Wahab Hasbullah.

Di tengah situasi ketika belum banyak kekuatan politik yang secara serius memperjuangkan persoalan tersebut melalui forum internasional, NU mengambil bagian dalam mendukung langkah pemerintah Indonesia. Perjuangan dilakukan dengan membangun dukungan dari negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), memengaruhi pandangan negara lain, serta memperkuat posisi Indonesia dalam memperjuangkan pembebasan Irian Barat.

Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan bahwa NU tidak hanya berperan dalam urusan keagamaan dan pendidikan pesantren, tetapi juga memiliki kontribusi dalam perjuangan kebangsaan dan diplomasi internasional. Keterlibatan NU dalam persoalan Irian Barat menjadi gambaran bagaimana organisasi keagamaan dapat mengambil peran strategis dalam memperjuangkan kepentingan bangsa di hadapan dunia.

Dari berbagai catatan sejarah tersebut, K.H. Abdul Mun’im DZ mengajak generasi santri untuk memahami bahwa semangat go international bukan sekadar tuntutan zaman atau upaya mengikuti tren globalisasi. Lebih dari itu, semangat tersebut merupakan bagian dari cita-cita perjuangan NU yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

“Saya mempunyai kespektasi bahwa santri masa kini mampu melanjutkan perjuangan tersebut dengan meningkatkan kapasitas keilmuan, memperluas wawasan, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan dan perdamaian dunia. Nilai-nilai pesantren harus tetap menjadi landasan dalam menghadapi perkembangan global, sehingga kemajuan yang dicapai tidak membuat generasi santri kehilangan identitas dan akar perjuangannya,” pesannya.

Pemikiran tersebut sekaligus mempertegas bahwa menjadi santri bukan berarti hanya berkiprah di lingkungan pesantren. Santri dapat hadir dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, politik, sosial, ekonomi, diplomasi, hingga pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ketua tim penyusun buku biografi K.H. Abdul Wahab Hasbullah (KH. Abdul Wahab Hasbullah Pendiri NU Penggerak NKRI) tersebut memberikan perspektif bahwa kontribusi Nahdlatul Ulama dalam merawat jagat memiliki akar sejarah yang kuat. Generasi santri saat ini memiliki tanggung jawab untuk meneruskan warisan perjuangan tersebut dengan menghadirkan gagasan, karya, dan pengabdian yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dunia.

“Semangat Santri Go Internasional bukan hanya tentang kemampuan bersaing di tingkat global, melainkan juga tentang bagaimana membawa nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin, tradisi pesantren, dan semangat kebangsaan untuk ikut merawat kehidupan serta membangun perdamaian dunia,” tuturnya.

Tampak ratusan Ratusan Dosen dan Mahasiswa UNUSIDA Sukseskan Upacara Hari Santri PCNU Sidoarjo. (Foto: Humas UNUSIDA)

Civitas Akademika UNUSIDA Sukseskan Upacara Hari Santri 2026 PCNU Sidoarjo, Ajak Santri Peduli Lingkungan

SIDOARJO — Civitas akademika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) turut menyukseskan upacara peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 yang diselenggarakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sidoarjo di Kampus UNUSIDA, kawasan Lingkar Timur, Sidoarjo, Kamis (22/10/2026) pagi.

Keterlibatan tersebut melibatkan seluruh unsur kampus, mulai dari dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, hingga tenaga operasional. Selain mengikuti upacara, sejumlah civitas akademika juga mengambil peran dalam berbagai tugas guna mendukung kelancaran seluruh rangkaian kegiatan.

Salah satu peserta upacara, Lili Itaurrahmah, mahasiswi Program Studi Manajemen UNUSIDA, mengungkapkan bahwa Hari Santri Nasional bukan sekadar momentum untuk mengenang sejarah perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Lebih dari itu, peringatan ini menjadi kesempatan untuk memperluas makna pengabdian santri dalam menjawab berbagai tantangan kebangsaan masa kini.

Menurut Duta Fakultas Ekonomi tersebut, jika dahulu santri berjuang mempertahankan kedaulatan bangsa, saat ini semangat perjuangan dapat diwujudkan melalui berbagai ikhtiar, termasuk menjaga kelestarian lingkungan, memperjuangkan hak masyarakat atas udara bersih, serta mengawal kebijakan publik yang berpihak pada keselamatan rakyat.

“Perjuangan santri hari ini tidak hanya tentang mengenang sejarah, tetapi juga bagaimana nilai-nilai perjuangan itu kita hadirkan untuk menjawab persoalan masyarakat, termasuk persoalan lingkungan,” tegasnya.

Ia menjelaskan, dalam tradisi Islam yang menjadi landasan pendidikan pesantren, manusia memiliki tanggung jawab sebagai khalifah fil ardh, yakni pengelola bumi yang berkewajiban menjaga keseimbangan dan menghindari kerusakan. Prinsip tersebut sejalan dengan semangat hifzh al-bi’ah, yaitu menjaga lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab etis dan keagamaan.

Karena itu, persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta pencemaran udara tidak semestinya dipandang sebagai isu yang terpisah dari kehidupan keagamaan. Kerusakan lingkungan berkaitan langsung dengan keselamatan manusia, keberlangsungan kehidupan, dan keadilan sosial.

Lili juga menyoroti kelompok masyarakat rentan yang kerap menanggung dampak paling berat ketika bencana terjadi. Anak-anak, lanjut usia, masyarakat berpenghasilan rendah, serta warga yang tinggal di kawasan rawan kebakaran membutuhkan perhatian khusus dalam kebijakan pencegahan maupun penanganan bencana.

Baginya, mahasiswa NU perlu meningkatkan empati dan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bentuk pengamalan nilai keagamaan sekaligus tanggung jawab sebagai warga negara. Langkah tersebut dapat dimulai dari hal sederhana, seperti edukasi lingkungan, kampanye pencegahan pembakaran lahan, penyebaran informasi resmi, kegiatan penghijauan, hingga pengawasan terhadap kebijakan publik sesuai kapasitas masing-masing.

Ia berharap, semangat Hari Santri dapat terus diwujudkan melalui kontribusi nyata dalam bidang pendidikan, sosial, kebangsaan, dan kepedulian terhadap lingkungan.

“Mahasiswa NU tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Kader muda NU perlu membangun tradisi berpikir kritis, membaca persoalan secara utuh, serta menyampaikan aspirasi masyarakat dengan argumentasi yang kuat dan bertanggung jawab,” katanya.

Sementara itu, Ketua PCNU Kabupaten Sidoarjo, KH Zainal Abidin, dalam amanat upacara mengajak para santri dan kader NU untuk melanjutkan perjuangan para ulama dan pejuang bangsa dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ia mengingatkan bahwa peringatan Hari Santri bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan momentum untuk mengambil inspirasi dari pengorbanan para kiai dan santri yang telah mempertaruhkan jiwa, raga, harta, serta waktu demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Pagi hari ini, di tengah terik matahari, kita bersama-sama berkhidmah mengikuti upacara peringatan Hari Santri Nasional. Panasnya matahari yang kita rasakan belum ada apa-apanya dibandingkan dengan pengorbanan para mujahid dan syuhada,” tuturnya.

Kiai Zainal juga menegaskan pentingnya menjaga tradisi baik yang diwariskan para pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus mempersiapkan diri menghadapi perkembangan zaman. Menurutnya, generasi penerus harus mampu menjawab berbagai tantangan, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Ia mengajak seluruh kader NU menjadikan semangat Resolusi Jihad sebagai inspirasi untuk memperkuat pengabdian kepada agama, masyarakat, dan negara.

“Jangan hanya sekadar berupacara dan mengibarkan bendera Merah Putih, tetapi mari kita jadikan Hari Santri sebagai inspirasi besar dalam jiwa kita,” pesannya.

Tangkapan Layar YouTube UNUSIDA TV saat Webinar Nasional Hari Santri 2026

Webinar Nasional Hari Santri 2026, UNUSIDA Dorong Santri Go Internasional dan Berkontribusi Merawat Jagat

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengkajian Islam dan Keaswajaan (PIK) menyelenggarakan Webinar Nasional dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026 pada Rabu (21/10/2026) secara daring melalui Zoom Meeting. Mengusung tema ‘Santri Go Internasional, Kontribusi Nahdlatul Ulama Merawat Jagat’, kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan wawasan bagi generasi santri untuk mengambil peran lebih luas di tingkat nasional maupun internasional.

Webinar tersebut menghadirkan Drs. K.H. Abdul Mun’im DZ sebagai narasumber. Kegiatan ini diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan. Dalam sambutannya, Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan. Ia menyebutkan bahwa jumlah peserta yang tercatat mencapai 267 orang dan terus mengalami peningkatan.

Dalam kesempatan tersebut Dr. Hadi Ismanto menegaskan bahwa pembahasan mengenai santri dan Nahdlatul Ulama (NU) tidak dapat dilepaskan dari keberadaan pesantren. Pesantren merupakan embrio sekaligus fondasi penting dalam perjalanan dan perkembangan NU. Meskipun seseorang tidak secara langsung menempuh pendidikan di pesantren, identitas santri tetap memiliki keterkaitan dengan nilai-nilai perjuangan, keilmuan, dan tradisi Nahdlatul Ulama.

Ia juga menyoroti besarnya potensi sumber daya manusia yang dimiliki NU. Berdasarkan data yang disampaikan dalam sambutannya, terdapat puluhan ribu pesantren dengan jutaan santri yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama. Potensi tersebut juga terlihat dalam bidang pendidikan tinggi. Ia menyampaikan bahwa terdapat sekitar 285 perguruan tinggi yang terafiliasi dengan NU, dengan 44 di antaranya berbadan hukum Nahdlatul Ulama serta jumlah mahasiswa yang mencapai sekitar 500 ribu orang.

Menurutnya, besarnya potensi tersebut perlu diiringi dengan upaya penguatan kualitas sumber daya manusia agar mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Tantangan selanjutnya bukan sekadar memiliki jumlah pesantren, santri, dan perguruan tinggi yang besar, melainkan bagaimana seluruh potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi kekuatan yang mampu bersaing di tingkat global.

“Bagaimana kita merawat potensi yang begitu besar ini? Kemudian, apa yang harus dimiliki oleh santri sehingga mampu go internasional?” menjadi salah satu pertanyaan penting yang perlu dijawab bersama melalui peningkatan kualitas pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan, dan penguatan kompetensi.

Lebih lanjut, Dr. Hadi Ismanto mengajak peserta untuk merefleksikan peran mahasiswa sekaligus santri dalam menjaga dan membangun bangsa. Menurutnya, generasi muda NU perlu mempersiapkan bekal yang memadai agar mampu berkontribusi di tengah perkembangan dunia yang semakin kompetitif. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, integritas, dan kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan.

“Semoga kegiatan ini mampu menumbuhkan kebanggaan sebagai bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama sekaligus mendorong lahirnya generasi santri yang berwawasan luas, kompetitif, dan memiliki kontribusi nyata bagi masyarakat. Sebab, perjuangan santri hari ini tidak hanya tentang menjaga warisan para pendahulu, tetapi juga tentang menghadirkan solusi, membangun peradaban, dan merawat jagat melalui karya serta pengabdian yang berdampak,” harapnya.

Sementara itu, Kepala UPT PIK UNUSIDA, H. Arisy Karomi, dalam pengantarnya menjelaskan bahwa kehadiran narasumber dalam webinar ini memiliki tujuan lebih dari sekadar berbagi pengetahuan. Kegiatan tersebut juga menjadi upaya menyambungkan pemikiran dan sanad perjuangan antara tokoh NU dengan generasi muda.

Ia berharap pertemuan secara daring ini dapat menjadi kesempatan bagi para kader dan mahasiswa untuk mengenal lebih dekat pemikiran serta pengalaman perjuangan narasumber, meskipun belum pernah bertemu secara langsung.

Menurut H. Arisy Karomi, kesinambungan pemikiran merupakan bagian penting dalam menjaga keberlanjutan perjuangan organisasi. Dari pemahaman terhadap pemikiran para tokoh, generasi muda diharapkan dapat meneruskan nilai perjuangan, membangun pergerakan, dan mengambil peran dalam menjawab tantangan zaman.

Ia juga mengungkapkan bahwa narasumber memiliki pengalaman dan kontribusi dalam berbagai proses perdamaian serta penyelesaian konflik. Melalui jalur organisasi dan pendekatan sosial-keagamaan, NU dinilai memiliki ruang untuk berkontribusi dalam membangun perdamaian, menjembatani perbedaan, serta merawat kehidupan masyarakat di tengah berbagai dinamika.

Selain itu, H. Arisy Karomi turut menyinggung perjalanan awal berdirinya UNUSIDA. Ia menyampaikan bahwa proses pengajuan pendirian universitas telah dimulai sejak 2010 dan menghadapi tantangan kebijakan moratorium perguruan tinggi. Dalam proses tersebut, terdapat kontribusi berbagai pihak, termasuk tokoh-tokoh yang turut memperjuangkan kebijakan agar pendirian perguruan tinggi dapat kembali memperoleh ruang.

Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa keberadaan UNUSIDA saat ini merupakan hasil dari proses panjang, ikhtiar, dan perjuangan berbagai pihak. Nilai perjuangan inilah yang diharapkan dapat dipahami serta diteruskan oleh generasi muda NU.

Melalui webinar ini, ia mengajak peserta untuk melihat bahwa menjadi santri tidak membatasi seseorang untuk berkembang dan berkiprah di tingkat global. Sebaliknya, nilai-nilai kepesantrenan seperti keilmuan, akhlak, kemandirian, toleransi, dan kepedulian sosial dapat menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan internasional.

“Peringatan Hari Santri Nasional 2026 menjadi momentum bagi UNUSIDA untuk memperkuat identitas sebagai perguruan tinggi yang berakar pada tradisi Nahdlatul Ulama, tetapi tetap terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan dinamika global,” tuturnya.

UNUSIDA resmi membuka Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Tahun Akademik 2027/2028 melalui prosesi pelepasan sembilan ekor burung merpati di halaman Kampus UNUSIDA. (Foto: Humas UNUSIDA)

Lepas Sembilan Merpati, UNUSIDA Resmi Buka PMB Tahun Akademik 2027/2028

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) resmi membuka Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Tahun Akademik 2027/2028 melalui prosesi pelepasan sembilan ekor burung merpati di halaman Kampus 2 UNUSIDA, Kamis (22/10/2026). Prosesi simbolis ini menjadi penanda dimulainya perjalanan penerimaan mahasiswa baru sekaligus membawa pesan tentang harapan, keteguhan, dan cita-cita generasi masa depan.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) PMB UNUSIDA, Achmad Wahyudi, menjelaskan bahwa pemilihan sembilan ekor burung merpati jenis megan memiliki filosofi tersendiri. Angka sembilan merepresentasikan nilai-nilai luhur Bintang Sembilan serta semangat menebarkan keberkahan dan ilmu pengetahuan.

Menurutnya, merpati menjadi simbol keteguhan, kebijaksanaan, dan harapan dalam menggapai masa depan. Sementara itu, prosesi pelepasan yang dilakukan bersama Plt. Rektor, Wakil Rektor II, Wakil Rektor III, jajaran dekanat, dan Tim PMB UNUSIDA mencerminkan sinergi serta komitmen seluruh elemen kampus dalam membuka jalan bagi generasi penerus yang berilmu, berakhlak, dan unggul.

“Terbang tinggi meraih cita-cita, melangkah bersama menuju masa depan gemilang bersama UNUSIDA,” menjadi semangat yang diusung dalam pembukaan PMB tahun akademik mendatang.

Ia mengajak generasi muda untuk mempersiapkan diri dan menjadi bagian dari keluarga besar kampus yang mengusung semangat Religius Campus with Entrepreneurship Spirit.

“Sebagaimana filosofi pelepasan sembilan merpati, semoga setiap mahasiswa UNUSIDA mampu terbang tinggi meraih cita-cita, berbekal ilmu pengetahuan, akhlak mulia, serta nilai-nilai keislaman dan ke-NU-an,” terangnya.

Dukungan terhadap penerimaan mahasiswa baru juga disampaikan Ketua PCNU Sidoarjo, Muhammad Zainal Abidin. Ia mengajak seluruh kader Nahdlatul Ulama, khususnya di Sidoarjo dan umumnya di seluruh Indonesia, termasuk calon mahasiswa dari luar negeri, untuk melanjutkan pendidikan tinggi di UNUSIDA.

“Saya Muhammad Zainal Abidin, Ketua PCNU Sidoarjo. Mari seluruh kader-kader Nahdlatul Ulama yang ada di Sidoarjo khususnya, seluruh Indonesia pada umumnya, dan mungkin mahasiswa dari luar negeri, mari kita belajar bersama-sama di Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo,” tuturnya.

Ia berharap, para mahasiswa yang menempuh pendidikan di UNUSIDA memperoleh ilmu yang bermanfaat dengan pendampingan para kiai dan masyaikh.

“Mudah-mudahan dengan belajar di UNUSIDA, ilmu panjenengan semua akan menjadi ilmu yang bermanfaat karena dikawal oleh para kiai dan para masyaikh. Semua cita-cita itu akan menjadi nyata,” imbuhnya.

Timeline Pendaftaran
Seiring dibukanya PMB Tahun Akademik 2027/2028, UNUSIDA menyediakan empat periode pendaftaran bagi calon mahasiswa baru. Pada Gelombang 1, pendaftaran berlangsung mulai 22 Oktober 2026 hingga 8 Januari 2027. Khusus pendaftar Gelombang 1, UNUSIDA menghadirkan promo spesial berupa diskon 20% biaya pendaftaran.

Adapun jadwal penerimaan mahasiswa baru UNUSIDA Tahun Akademik 2027/2028 sebagai berikut:

  • Gelombang 1: 22 Oktober 2026 – 8 Januari 2027.
  • Gelombang 2: 11 Januari – 2 April 2027.
  • Gelombang 3: 5 April – 2 Juli 2027.
  • Gelombang 4: 5 Juli – 27 Agustus 2027.

Calon mahasiswa dapat melakukan pendaftaran secara daring melalui laman resmi www.pmb.unusida.ac.id. Pendaftaran secara langsung juga tersedia di Kampus UNUSIDA, Jalan Lingkar Timur KM 5,5, Rangkah Kidul, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur 61234, pada hari Senin hingga Jumat.

Anggota Komisi X DPR RI Daerah Pemilihan Jawa Timur I (Surabaya–Sidoarjo), Adela Kanasya Adies saat menyampaikan keynote speaker dalam Workshop Bina Talenta di UNUSIDA. (Foto: Humas UNUSIDA)

Workshop Bina Talenta di UNUSIDA, Anggota DPR RI Komisi X Dorong Mahasiswa Siap Hadapi Era AI

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menjadi tuan rumah penyelenggaraan Workshop Bina Talenta hasil kolaborasi DPR RI Komisi X dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Kegiatan ini erlangsung di Hall Lantai 5 Gedung A Kampus UNUSIDA, Lingkar Timur KM 5,5 Rangkah Kidul, Sidoarjo, Sabtu (31/10/2026).

Dengan mengusung tema ‘Sinergi Kebijakan Pendidikan Tinggi, Riset, dan Inovasi dalam Mewujudkan Generasi Unggul, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan’, kegiatan yang diikuti sekitar 120 peserta yang terdiri atas dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa UNUSIDA ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat kolaborasi dalam pengembangan talenta mahasiswa dan menghadapi tantangan pendidikan tinggi di era transformasi digital.

Workshop . Hadir sejumlah narasumber terkemuka, di antaranya Prof. Junaidi Khotib, S.Si., M.Kes., Ph.D., Apt. (Narasumber 1), Dr. Ng. Tirto Adi, M.Pd. (Narasumber 2), dan Dr. H. Ali Masykuri, S.Pd., M.Pd.I. (Narasumber 3).

Dalam kesempatan tersebut, Anggota Komisi X DPR RI Daerah Pemilihan Jawa Timur I (Surabaya–Sidoarjo), dr. Adela Kanasya Adies menyoroti pentingnya kesiapan generasi muda dalam menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Menurutnya, tantangan pendidikan Indonesia saat ini bukan hanya memastikan masyarakat memperoleh akses pendidikan tinggi, melainkan juga menjamin lulusan perguruan tinggi memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah berbagai sektor pekerjaan. Sejumlah profesi baru bermunculan, bahkan jenis pekerjaan yang sebelumnya belum terpikirkan satu dekade lalu kini mulai menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Kondisi tersebut menuntut mahasiswa untuk terus belajar, meningkatkan keterampilan, dan memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.

Adela mengingatkan bahwa penguasaan teknologi harus berjalan beriringan dengan kemampuan berpikir kritis dan nilai-nilai kemanusiaan. AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan produktivitas, mengembangkan kreativitas, hingga mendukung penyelesaian berbagai pekerjaan. Namun, manusia tetap harus memiliki kendali atas proses berpikir dan pengambilan keputusan.

“Tantangan kita bukan untuk melawan teknologi, tetapi menguasai teknologi tanpa kehilangan rasa kemanusiaan. Kita bisa menggunakan dan mempelajari AI, tetapi jangan menyerahkan kemampuan berpikir sebagai manusia kepada teknologi,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa empati, tanggung jawab, integritas, serta keberanian mengambil keputusan merupakan nilai yang tidak boleh ditinggalkan dalam menghadapi perkembangan teknologi. Menurutnya, generasi muda harus mampu memanfaatkan kemajuan digital secara bijak tanpa kehilangan identitas dan tanggung jawab sosial.

Selain kesiapan teknologi, Adela menyoroti pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, peneliti, dan masyarakat dalam membangun ekosistem pendidikan serta inovasi. Ia mendorong agar hasil penelitian di perguruan tinggi tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga mampu dikembangkan menjadi inovasi, teknologi, kebijakan, maupun produk yang memberikan manfaat nyata.

Riset perguruan tinggi diharapkan dapat menjawab berbagai persoalan masyarakat, mulai dari sektor industri, UMKM, pertanian, pendidikan, hingga pembangunan daerah. Dalam konteks wilayah Surabaya dan Sidoarjo, ia melihat adanya potensi besar yang dapat dikembangkan melalui sinergi antarsektor. Surabaya memiliki ekosistem pendidikan yang kuat, sementara Sidoarjo didukung basis industri dan UMKM yang berkembang. Kedua potensi tersebut perlu dihubungkan melalui kolaborasi yang berkelanjutan.

Lebih lanjut, Adela mengajak mahasiswa untuk mengubah pola pikir dari sekadar menjadi pencari kerja menjadi generasi yang mampu menciptakan peluang dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Generasi unggul, menurutnya, tidak cukup diukur melalui capaian akademik, popularitas, maupun jumlah pengikut di media sosial. Hal yang lebih penting adalah kemampuan menghadirkan gagasan, memberikan solusi, dan menghasilkan dampak positif bagi masyarakat.

Ia turut mengingatkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting sebagai ruang pembentukan budaya demokrasi, pengembangan pemikiran kritis, serta pembelajaran dalam menghargai perbedaan pendapat yang dilandasi literasi dan tanggung jawab.

“Workshop ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif terhadap perubahan zaman,” pungkasnya.

Kegiatan Hari Santri 2026 Kelompok 3 FKIP UNUSIDA Mengajar. (Foto: Humas UNUSIDA)

Peringati Hari Santri 2026, FKIP UNUSIDA Mengajar Kelompok 3 Hadirkan Pembelajaran Kreatif di SDN Sekardangan

SIDOARJO — Kelompok 3 FKIP UNUSIDA Mengajar melaksanakan serangkaian kegiatan edukatif, kreatif, dan bernilai keagamaan di SDN Sekardangan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional. Kegiatan ini menjadi upaya untuk menanamkan nilai-nilai religius sekaligus menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna bagi para murid.

Rangkaian kegiatan diawali dengan apel peringatan Hari Santri Nasional yang petugasnya berasal dari anggota FKIP UNUSIDA Mengajar Kelompok 3. Pelaksanaan apel menjadi sarana untuk menumbuhkan sikap disiplin, tanggung jawab, serta mengenalkan makna peringatan Hari Santri kepada murid sejak dini.

Setelah apel, kegiatan dilanjutkan dengan penampilan Al-Banjari oleh murid SDN Sekardangan. Penampilan tersebut menjadi bentuk kecintaan terhadap seni Islami sekaligus sarana untuk menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW melalui lantunan selawat. Suasana kegiatan berlangsung dengan semangat kebersamaan, memperlihatkan keterlibatan aktif murid dalam memeriahkan peringatan Hari Santri Nasional.

Ketua Kelompok 3 FKIP UNUSIDA Mengajar, Agus Sofyan Munir, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai peringatan seremonial, tetapi juga sebagai kesempatan untuk mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan proses pembelajaran di sekolah. Melalui kegiatan yang beragam, murid diharapkan dapat memahami semangat Hari Santri sekaligus mengembangkan potensi diri melalui aktivitas kreatif.

Usai rangkaian kegiatan bersama, para murid mengikuti pembelajaran kreatif di kelas masing-masing sesuai dengan jenjang pendidikan. Setiap kegiatan dirancang untuk melatih keterampilan, mengembangkan kreativitas, serta membangun pengalaman belajar yang sesuai dengan usia murid.

Murid kelas I mengikuti kegiatan membuat kolase bergambar masjid. Dalam aktivitas ini, murid menyusun dan menempelkan berbagai bahan untuk membentuk gambar masjid. Selain mengenalkan salah satu simbol penting dalam kehidupan umat Islam, kegiatan tersebut juga bertujuan melatih kreativitas, koordinasi tangan dan mata, serta keterampilan motorik halus.

Sementara itu, murid kelas II dan III mengikuti kegiatan membuat karya pop-up bertema Hari Santri. Kegiatan diawali dengan mewarnai gambar, kemudian dilanjutkan dengan menyusun dan membentuk gambar menjadi karya pop-up yang menarik. Melalui aktivitas ini, murid diajak mengekspresikan kreativitas sekaligus melatih ketelitian, kesabaran, dan kemampuan mengikuti tahapan pengerjaan.

Adapun murid kelas V dan VI mengikuti kegiatan literasi kreatif berupa pembuatan karangan cerita berseri bertema keagamaan. Sebelum menyusun cerita, murid terlebih dahulu mewarnai gambar yang akan digunakan sebagai ilustrasi pendukung. Selanjutnya, mereka mengembangkan gagasan menjadi cerita berseri dengan memperhatikan alur dan keterkaitan antarbagiannya.

Kegiatan literasi tersebut memberikan ruang bagi murid untuk menuangkan imajinasi, mengembangkan kemampuan menulis, serta menyampaikan pesan-pesan positif melalui cerita. Tema keagamaan yang diangkat juga diharapkan dapat membantu murid mengenali dan memahami nilai-nilai kebaikan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pelaksanaan kegiatan peringatan Hari Santri Nasional di SDN Sekardangan tidak hanya berfokus pada pengenalan tradisi keagamaan, tetapi juga mengintegrasikan aspek kreativitas, literasi, dan pembentukan karakter. Perbedaan aktivitas pada setiap jenjang kelas menjadi upaya untuk menghadirkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan murid.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, murid diajak untuk belajar secara aktif, berani mengekspresikan gagasan, serta bekerja dengan penuh tanggung jawab. Aktivitas kolase, pembuatan pop-up, dan penulisan cerita berseri juga menjadi sarana untuk mengembangkan keterampilan yang mendukung proses belajar mereka di sekolah.

Selain memberikan pengalaman belajar kepada murid, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi anggota FKIP UNUSIDA Mengajar Kelompok 3 untuk mengimplementasikan pengetahuan dan keterampilan kependidikan secara langsung. Interaksi dengan murid memberikan pengalaman dalam merancang aktivitas pembelajaran yang kreatif, komunikatif, dan menyenangkan.

Melalui kegiatan ini, FKIP UNUSIDA Mengajar Kelompok 3 berharap para murid SDN Sekardangan memperoleh pengalaman belajar yang berkesan sekaligus semakin memahami nilai-nilai Hari Santri Nasional, seperti religiusitas, kedisiplinan, tanggung jawab, kebersamaan, dan semangat menuntut ilmu.

Peringatan Hari Santri Nasional pun menjadi momentum untuk menegaskan bahwa pendidikan karakter dapat ditanamkan melalui berbagai kegiatan sederhana yang dekat dengan kehidupan murid. Dengan memadukan nilai keagamaan dan pembelajaran kreatif, semangat Hari Santri diharapkan tidak berhenti pada perayaan, tetapi terus tumbuh dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto bersama Ketua HIPSI Sidoarjo, FIdi Handoko Usai Penandatanganan MoU. (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA Resmi Jalin Kerja Sama dengan HIPSI Sidoarjo, Perkuat Ekosistem Wirausaha Santri

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) resmi menjalin kerja sama dengan Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Sidoarjo sebagai upaya memperkuat pengembangan kewirausahaan di kalangan santri dan generasi muda. Kolaborasi ini menjadi bagian dari komitmen UNUSIDA dalam mewujudkan kampus wirausaha muda yang mendorong mahasiswa mengenali potensi diri, mengembangkan kreativitas, dan menciptakan peluang usaha.

Pelaksana Tugas (Plt) Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.HI., M.Pd., menegaskan bahwa perguruan tinggi perlu menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan akademik sekaligus membangun jiwa kewirausahaan. Menurutnya, mahasiswa dan santri perlu dipersiapkan agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menghasilkan karya dan menciptakan peluang ekonomi melalui pemanfaatan teknologi digital.

Ia berharap kerja sama ini dapat mendorong lahirnya berbagai inisiatif pengembangan usaha, pemanfaatan teknologi digital, serta penguatan jejaring kewirausahaan di kalangan mahasiswa dan santri.

“Semoga kerja sama dengan HIPSI Sidoarjo ini membuka peluang yang lebih luas bagi mahasiswa menjadi wadah untuk menempa diri, mengenali bakat dan potensi, serta memperoleh wawasan mengenai dunia usaha. Melalui kolaborasi tersebut, UNUSIDA berupaya menghubungkan proses pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan ekonomi digital,” jelasnya.

Hadi menjelaskan bahwa perkembangan teknologi membuka ruang yang semakin luas bagi generasi muda untuk berinovasi. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki keberanian untuk mencoba, mengembangkan gagasan, dan mengubah potensi yang dimiliki menjadi produk atau layanan yang bermanfaat.

Ia selalu berupaya meneguhkan komitmen UNUSIDA sebagai kampus yang mendorong tumbuhnya wirausaha muda. Dengan memadukan ilmu pengetahuan, nilai-nilai keislaman, dan inovasi, mahasiswa diharapkan mampu menjadi generasi yang mandiri sekaligus berkontribusi dalam memperkuat ekonomi umat di era digital.

“Komitmen tersebut sejalan dengan upaya UNUSIDA membangun lingkungan kampus yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga mendorong lahirnya wirausahawan muda yang mandiri, kreatif, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua HIPSI Sidoarjo, Fidi Handoko, S.E., S.Pd., menegaskan pentingnya menumbuhkan jiwa kewirausahaan di kalangan santri dan generasi muda di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

“Kolaborasi ini juga menjadi langkah untuk memperluas peran santri dalam pembangunan ekonomi masyarakat. Santri diharapkan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja, mengembangkan usaha, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya,” tandasnya.

Menurutnya, santri memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam penguatan ekonomi umat. Bekal ilmu pengetahuan dan akhlak yang dimiliki perlu diiringi dengan keberanian berinovasi, keterampilan mengelola usaha, serta kemampuan membaca peluang pasar.

Fidi menilai, kolaborasi antara perguruan tinggi dan organisasi pengusaha santri dapat membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal praktik kewirausahaan secara lebih luas. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga terdorong mengembangkan gagasan usaha yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

“Santri harus berilmu dan berani berinovasi untuk menguatkan ekonomi umat,” tuturnya.

Plt Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto saat menjadi keynote speaker dalam Seminar Spesial Hari Santri 2026 oleh HIPSI Sidoarjo. (Foto: Humas UNUSIDA)

Plt. Rektor UNUSIDA Dorong Santri Jadi Kreator dan Wirausahawan Digital

SIDOARJO — Pelaksana Tugas (Plt) Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Dr. Hadi Ismanto, S.HI., M.Pd., mendorong santri dan generasi muda untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu bertransformasi menjadi kreator dan wirausahawan digital. Pesan tersebut disampaikan saat menjadi keynote speaker dalam Seminar Spesial Hari Santri 2026 oleh Himma Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Sidoarjo di Hall Lantai 5 Gedung A Kampus UNUSIDA, Lingkar Timur, Sidoarjo, Selasa (20/10/2026).

Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari Badan Otonom (Banom) Nahdlatul Ulama, seperti Fatayat NU, GP Ansor, IPNU, dan IPPNU, hingga mahasiswa UNUSIDA. Keterlibatan lintas organisasi ini menjadi ruang untuk memperluas wawasan dan mendorong kolaborasi dalam pengembangan kewirausahaan di kalangan santri dan generasi muda.

Mengawali penyampaiannya, Hadi mengajak mahasiswa untuk mengenal lingkungan akademik serta para pimpinan yang akan mendampingi perjalanan mereka selama menempuh pendidikan di UNUSIDA. Menurutnya, lingkungan kampus tidak hanya menjadi tempat memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk mengembangkan potensi, kreativitas, dan kemampuan menghadapi perubahan zaman.

Ia menekankan bahwa perkembangan teknologi perlu disikapi dengan kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, dan berinovasi. Santri, menurutnya, memiliki peluang untuk mengambil peran lebih luas dengan memanfaatkan teknologi sebagai sarana menciptakan produk, membangun usaha, dan menghadirkan solusi bagi kebutuhan masyarakat.

“Kita harus dapat mengendalikan Artificial Intelligence (AI), jangan sampai kita yang dimanfaatkan. Teknologi ini yang harus kita manfaatkan untuk mendukung proses belajar sekaligus membuka peluang pengembangan produk dan layanan digital,” jelasnya.

Hadi menjelaskan, salah satu platform yang dapat dimanfaatkan adalah Quriosity, yakni platform berbasis AI yang dirancang untuk membuat kursus atau materi pembelajaran secara instan dan personal berdasarkan topik yang diinginkan pengguna.

Menurutnya, pemanfaatan platform semacam ini menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya berfungsi sebagai sarana konsumsi informasi, tetapi juga dapat membantu seseorang menghasilkan materi, mengembangkan pengetahuan, dan menciptakan produk digital sesuai kebutuhan pengguna.

“Santri dan mahasiswa harus mengenali potensi teknologi serta menggunakannya secara produktif. Kemampuan memanfaatkan AI perlu diimbangi dengan pemahaman terhadap kebutuhan pasar, kreativitas, dan kemampuan mengembangkan ide menjadi produk yang memiliki nilai guna,” tandasnya.

Dalam konteks kewirausahaan, ia menjelaskan bahwa penguasaan teknologi juga perlu disertai strategi yang tepat. Pemahaman terhadap data pasar, identifikasi kebutuhan konsumen, serta keberanian memulai usaha menjadi bagian penting dalam membangun bisnis digital yang berkelanjutan.

Semangat Hari Santri 2026 menjadi pengingat bahwa kontribusi santri terhadap bangsa dapat diwujudkan melalui berbagai bidang, termasuk inovasi teknologi dan kewirausahaan. Dengan bekal ilmu, akhlakul karimah, kreativitas, serta kemandirian, santri diharapkan mampu menjadi pelaku perubahan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pihaknya akan terus mendorong lahirnya generasi santri yang tidak berhenti sebagai pengguna teknologi, tetapi berani menciptakan karya, membangun usaha, dan mengambil peran dalam penguatan ekonomi digital menuju Indonesia Emas.

“Santri harus memiliki wawasan luas mengenai peluang ekonomi di era digital. Santri masa kini tidak hanya memiliki keunggulan dalam ilmu agama dan akhlak, tetapi juga mampu mengembangkan keterampilan yang relevan dengan perkembangan teknologi dan dunia kerja,” tuturnya.

Ketua HIPSI Sidoarjo Fidi Handoko, S.E., S.Pd. saat menjadi narasumber dalam Seminar Spesial Hari Santri Nasional Tahun 2026. (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA dan HIPSI Sidoarjo Hadirkan Seminar Spesial Hari Santri 2026, Bahas Peluang Bisnis Produk Digital

SIDOARJO — Himma Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Sidoarjo berkolaborasi dengan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menghadirkan Seminar Spesial Hari Santri 2026 bertema ‘Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas: Sharing Sukses Bisnis Produk Digital Zaman Now’ di Hall Lantai 5 Gedung A Kampus II UNUSIDA, Sidoarjo, Selasa (20/10/2026).

Hadir sebagai narasumber, Rektor UNUSIDA Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd.; Founder Santripreneur Academy Dr. Heri Cahyo Bagus Setiawan, M.S.M.; serta Ketua HIPSI Sidoarjo Fidi Handoko, S.E., S.Pd.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua HIPSI Sidoarjo, Fidi Handoko, S.E., S.Pd., menegaskan pentingnya mendorong santri dan generasi muda untuk mengembangkan jiwa kewirausahaan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan seminar kewirausahaan yang menjadi ruang inspirasi bagi peserta untuk mengenal peluang usaha di era modern.

Menurut Fidi, perkembangan teknologi digital membuka berbagai peluang bagi santri untuk membangun usaha, mengembangkan produk, serta memperluas jangkauan pasar. Karena itu, santri perlu membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan kewirausahaan agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Ia berharap, melalui seminar tersebut, peserta dapat memperoleh wawasan dan pengalaman mengenai pengembangan bisnis produk digital, strategi membangun usaha di era modern, serta peluang santri untuk berkontribusi dalam memperkuat perekonomian masyarakat.

“Seminar ini menjadi ruang inspirasi bagi santri dan generasi muda untuk mengenal peluang usaha di era digital sekaligus menumbuhkan jiwa kewirausahaan yang inovatif, mandiri, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi,” ujarnya.

Fidi menambahkan, pengembangan kewirausahaan di kalangan santri perlu didukung melalui kolaborasi berbagai pihak. Sinergi tersebut menjadi salah satu langkah untuk memperluas akses pengetahuan, membangun jejaring usaha, serta mendorong lahirnya wirausahawan muda yang mampu memanfaatkan teknologi secara produktif.

Menurutnya, santri memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam perkembangan ekonomi digital. Bekal ilmu agama dan akhlak yang dimiliki perlu diiringi dengan kemampuan berinovasi, keberanian mengambil peluang, serta keterampilan mengelola usaha.

“Kolaborasi ini menjadi salah satu upaya mendorong santri agar tidak hanya unggul dalam ilmu dan akhlak, tetapi juga mampu berinovasi, berwirausaha, serta mengambil peran dalam perkembangan ekonomi digital,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa penguatan kemandirian ekonomi santri merupakan bagian penting dari upaya mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan masa depan. Melalui kewirausahaan, ini menekankan santri tidak hanya mampu menciptakan peluang bagi dirinya sendiri, tetapi juga membuka kesempatan kerja dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Momentum Hari Santri 2026 kali ini menjadi kesempatan untuk memperkuat peran santri dalam pembangunan bangsa. Semangat perjuangan santri perlu diwujudkan melalui kreativitas, kemandirian ekonomi, penguasaan teknologi, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Ia berharap semakin banyak santri yang berani memulai usaha, mengembangkan produk digital, serta menjadi generasi mandiri yang mampu menjawab tantangan ekonomi di era transformasi teknologi.

“Santri harus mampu mengambil bagian dalam mewujudkan Indonesia Emas melalui pengembangan usaha yang inovatif dan berkelanjutan, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan akhlakul karimah,” terangnya.

Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari Badan Otonom (Banom) Nahdlatul Ulama, seperti Fatayat NU, GP Ansor, IPNU, dan IPPNU, hingga mahasiswa UNUSIDA.

Mahasiswa UNUSIDA mengikuti upacara Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2026 yg diselenggarakan Pemkab Sidoarjo. (Foto: Humas UNUSIDA)

Hari Kesaktian Pancasila: Saatnya Mahasiswa Menghidupkan Nilai, Bukan Sekadar Menghafalnya

SIDOARJO — Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober bukan semata-mata momentum untuk mengenang perjalanan sejarah bangsa. Bagi mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), peringatan ini juga dapat menjadi ruang refleksi tentang bagaimana nilai-nilai Pancasila tetap relevan di tengah tantangan kehidupan generasi muda saat ini.

“Bagi saya, Hari Kesaktian Pancasila bukan sekadar mengenang peristiwa 1965, tetapi menjadi bahan refleksi. Pancasila dulu bertahan karena dijaga bersama. Sekarang tantangannya berbeda, bukan lagi sekadar pemberontakan, tetapi juga sikap apatis, intoleransi, dan korupsi,” ungkap Nelly seorang mahasiswi UNUSIDA, Kamis (1/10/2026).

Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya menghafalkan lima sila. Sebagai bagian dari generasi muda, mahasiswa juga memiliki tanggung jawab untuk memahami, mengkritisi, dan mengamalkan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau ada praktik yang tidak sesuai dengan nilai Pancasila, kita harus berani mengkritisi. Kesaktian Pancasila baru benar-benar terbukti kalau nilainya hidup dalam perilaku kita, bukan hanya dibacakan saat upacara,” ujarnya.

Pengamalan tersebut, lanjutnya, tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Lingkungan kampus justru menjadi tempat paling dekat untuk membangun karakter yang sesuai dengan nilai Pancasila.

Salah satunya adalah menjaga kejujuran dalam proses akademik. Tidak menyontek, tidak melakukan plagiarisme, serta mengerjakan tugas dengan kemampuan sendiri merupakan bentuk sederhana dari membangun integritas. Kejujuran menjadi bagian penting dalam menciptakan kehidupan yang adil dan bertanggung jawab.

“Mulai dari hal yang paling dekat. Jujur ketika mengerjakan tugas dan ujian, tidak menyontek atau melakukan plagiarisme. Integritas itu pondasi keadilan,” jelasnya.

Selain kejujuran, mahasiswa juga perlu membangun budaya berdiskusi dan bermusyawarah. Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam kehidupan kampus. Namun, perbedaan tersebut semestinya tidak menjadi alasan untuk merasa paling benar ataupun merendahkan pandangan orang lain.

Begitu pula dalam pergaulan. Mahasiswa dituntut untuk tidak memilih-milih teman berdasarkan suku, agama, maupun latar belakang organisasi. Lingkungan kampus yang beragam dapat menjadi ruang untuk belajar menghargai perbedaan sekaligus membangun persaudaraan.

“Kalau di kampus saja kita bisa belajar adil dan terbuka, nanti ketika terjun ke masyarakat kita sudah terbiasa menghadapi perbedaan dengan sikap yang dewasa,” tuturnya.

Ia juga menilai bahwa generasi muda yang mencerminkan nilai Pancasila bukan selalu mereka yang melakukan sesuatu dalam skala besar. Kepedulian terhadap lingkungan sekitar, keberanian bersikap dengan tetap menghormati perbedaan, serta kemauan untuk berkontribusi sesuai bidang masing-masing juga merupakan bentuk nyata pengamalan Pancasila.

“Tidak harus yang besar-besar. Yang penting konsisten dan bermanfaat bagi orang lain,” katanya.

Pada akhirnya, Hari Kesaktian Pancasila dapat menjadi pengingat bahwa mencintai Indonesia tidak cukup hanya dengan mengucapkan rasa bangga sebagai warga negara. Kebanggaan tersebut perlu dibuktikan melalui tindakan nyata, dimulai dari lingkungan terdekat.

“Jangan hanya bangga menjadi orang Indonesia, tetapi buktikan melalui tindakan. Pancasila akan benar-benar sakti kalau kita sebagai generasi muda mau menghidupkan nilainya setiap hari, mulai dari lingkungan terdekat,” tuturnya.

Baginya, Pancasila bukan sekadar materi yang dipelajari di ruang kelas atau lima sila yang dihafalkan. Ia menjadi nilai yang diuji melalui kejujuran, kepedulian, sikap menghargai perbedaan, keberanian menyampaikan pendapat, serta kemauan untuk memberikan manfaat bagi sesama.

“Selamat Hari Kesaktian Pancasila. Saatnya nilai Pancasila hidup dalam tindakan,” pungkasnya.