Pos

Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto saat menyampaikan sambutan dalam Pembukaan KARISMA FAI 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

Plt Rektor Ajak Mahasiswa Baru FAI UNUSIDA Aktif Berkarya dan Bangun Narasi Positif tentang Islam

SIDOARJO — Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Dr. Hadi Ismanto, mengajak mahasiswa baru Fakultas Agama Islam (FAI) untuk tidak sekadar menjalani perkuliahan, tetapi aktif mengembangkan potensi, memperluas pengalaman, serta berani membangun narasi positif tentang Islam di tengah masyarakat.

Di hadapan mahasiswa baru, ia membagikan perjalanan pendidikan dan kariernya sebagai contoh bahwa latar belakang pendidikan tidak menjadi batas untuk berkembang selama seseorang memiliki kemauan untuk belajar dan terus berusaha.

Dr. Hadi menceritakan bahwa dirinya merupakan lulusan Sarjana Hukum Islam. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia sempat berdoa agar segera mendapatkan pekerjaan. Perjalanan tersebut kemudian membawanya pada pengalaman menjadi pendidik dan berbagai kesempatan pengembangan profesional.

Ia mengisahkan salah satu pengalaman ketika mendapatkan kesempatan mengajar. Saat itu, dirinya menghadapi tantangan karena harus menguasai materi pembelajaran dan berhadapan dengan banyak peserta didik. Kondisi tersebut justru membuatnya terdorong untuk belajar lebih keras.

“Bukunya banyak, maka buku itu harus saya kuasai. Saya baca berkali-kali. Setelah saya mampu, baru saya masuk kelas,” tuturnya saat menyampaikan sambutan dalam pembukaan kegiatan Kajian, Orientasi, dan Silaturahmi Mahasiswa (KARISMA) FAI UNUSIDA 2026, Rabu (16/9/2026).

Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting bahwa kemampuan tidak hadir secara instan. Seseorang harus mau berproses, belajar, berlatih, dan menghadapi tantangan secara langsung.

Perjalanan tersebut kemudian membawanya memperoleh berbagai pengalaman profesional dan kesempatan mengikuti program pengembangan pendidikan. Bagi Dr. Hadi, setiap kesempatan yang datang harus dimanfaatkan sebagai ruang untuk belajar dan meningkatkan kapasitas diri.

Jangan Diam, Bangun Narasi tentang Islam

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Hadi juga menekankan pentingnya mahasiswa FAI memiliki keberanian untuk menyampaikan narasi positif tentang Islam dan pendidikan Islam kepada masyarakat.

Ia menggunakan kisah tentang kuliner Indonesia sebagai ilustrasi mengenai pentingnya narasi. Menurutnya, sesuatu yang memiliki nilai dan berasal dari Indonesia dapat dikenal secara berbeda ketika narasi yang dibangun tidak cukup kuat.

“Jangan diam saja, nanti seperti rawon. Jelas-jelas berasal dari Indonesia, tetapi kalau narasinya tidak dibangun, bisa saja orang lain yang lebih dulu dikenal,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa mahasiswa FAI memiliki peran untuk memperkenalkan nilai-nilai Islam secara lebih luas. Kebanggaan terhadap agama, menurutnya, tidak cukup hanya disimpan dalam diri, tetapi perlu diwujudkan melalui dakwah, karya, tulisan, maupun pemanfaatan media sosial.

“Sekarang tugas kita bersama, ceritakan. Jangan malu-malu, bangga dengan agama Islam. Bangga itu tidak cukup, tetapi bagaimana kita menyampaikan dan mendakwahkannya,” pesannya.

Menurutnya, media sosial dapat menjadi salah satu ruang strategis bagi mahasiswa untuk menyebarkan pengetahuan dan narasi positif. Mahasiswa tidak harus selalu menyampaikan sesuatu yang besar, tetapi dapat memulai dari informasi sederhana yang memiliki dasar data dan pengetahuan. “Kalau menyampaikan sesuatu, sampaikan data. Itulah narasi,” tegasnya.

Mahasiswa Diminta Tidak Hanya Pulang Setelah Kuliah

Dr. Hadi juga mengingatkan mahasiswa FAI agar tidak menjadikan kampus hanya sebagai tempat mengikuti perkuliahan kemudian pulang. Masa mahasiswa, menurutnya, harus dimanfaatkan untuk membangun pengalaman sebanyak mungkin. “Di FAI jangan pulang saja. Kalau pulang, harus beraktivitas untuk mengembangkan potensi saudara-saudara,” ujarnya.

Ia mendorong mahasiswa untuk mengikuti organisasi, komunitas, pelatihan, kursus, maupun kegiatan lain yang dapat meningkatkan kompetensi. Kemampuan tambahan, termasuk bahasa, komunikasi, kepemimpinan, dan keterampilan digital, dinilai dapat menjadi bekal penting bagi mahasiswa ketika terjun ke masyarakat.

Ia juga menyinggung pentingnya membangun kebiasaan belajar dan berlatih secara konsisten. Menurutnya, keberhasilan bukan semata-mata hasil dari keberuntungan, melainkan buah dari proses panjang dan latihan yang dilakukan secara terus-menerus.

Dr. Hadi kemudian menggunakan analogi olahraga untuk menggambarkan pentingnya latihan. Seorang pemain yang mampu melakukan teknik tertentu dengan baik, menurutnya, tidak langsung mendapat kemampuan tersebut, tetapi melalui latihan berulang. “Berhasil itu karena latihan. Itu namanya semangat,” pesannya.

Pentingnya Membuat Jurnal dan Menetapkan Target

Selain aktif berkegiatan, mahasiswa juga diajak untuk memiliki perencanaan yang jelas selama menempuh pendidikan. Dr. Hadi mendorong mahasiswa membuat jurnal atau catatan perkembangan diri sebagai sarana untuk menetapkan target dan mengevaluasi pencapaian.

Menurutnya, mahasiswa perlu mengetahui apa yang ingin dicapai selama empat tahun masa kuliah. Target tersebut kemudian dapat dipecah menjadi langkah-langkah yang lebih konkret dan terukur.

“Kalau kita tidak bisa berhitung, bagaimana kita tahu perkembangannya? Maka harus jelas tahapannya,” jelasnya.

Ia berharap mahasiswa FAI dapat memanfaatkan masa kuliah untuk membangun kompetensi sekaligus menghasilkan karya. Menurutnya, proses tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan lulusan yang memiliki bekal keilmuan dan pengalaman ketika kembali ke masyarakat.

Mengakhiri pesannya, Dr. Hadi mengucapkan selamat datang kepada seluruh mahasiswa baru FAI UNUSIDA. Ia berharap mahasiswa mampu menjalani perkuliahan dengan penuh semangat, aktif mengambil kesempatan, dan terus mengembangkan potensi diri.

“Selamat datang di Fakultas Agama Islam. Jangan hanya menjadi mahasiswa yang datang untuk kuliah, tetapi jadilah mahasiswa yang terus belajar, beraktivitas, berkarya, dan mengembangkan potensi,” pesannya.

Suasana Pembukaan KARISMA Fakultas Agama Islam 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

KARISMA FAI UNUSIDA 2026, Ajak Mahasiswa Baru Aktif Berorganisasi dan Kembangkan Pengalaman

SIDOARJO — Masa Kajian, Orientasi, dan Silaturahmi Mahasiswa (KARISMA) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) 2026 menjadi momentum bagi mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan kampus sekaligus mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akademik dan sosial selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa baru FAI UNUSIDA tidak hanya diperkenalkan dengan lingkungan akademik, tetapi juga diajak aktif mencari pengalaman melalui organisasi, kegiatan kemahasiswaan, serta berbagai aktivitas di luar ruang perkuliahan.

Ketua BEM FAI UNUSIDA, Wiwin Lestari, mengingatkan mahasiswa baru agar tidak menjadikan aktivitas kuliah sebatas datang ke kampus, mengikuti pembelajaran, kemudian langsung pulang. Menurutnya, masa perkuliahan merupakan kesempatan penting untuk memperluas pengalaman dan mengembangkan kemampuan yang nantinya dapat diterapkan di tengah masyarakat.

“Ilmu akademik adalah pembelajaran yang bisa kalian ikuti. Kuliah tidak harus pulang kuliah langsung pulang saja. Kalau seperti itu, pengalaman yang kalian dapatkan juga terbatas. Di kampus ini banyak pengalaman yang bisa kalian cari dan kembangkan untuk nantinya kalian bawa ketika terjun di masyarakat,” tuturnya saat menyampaikan sambutan dalam pembukaan KARISMA FAI 2026, Rabu (16/9/2026).

Ia juga menekankan bahwa mahasiswa FAI memiliki tanggung jawab lebih dalam mengembangkan keilmuan dan pengalaman, khususnya karena berada di lingkungan Fakultas Agama Islam. Pengalaman berorganisasi, berkomunikasi, bekerja sama, dan terlibat dalam berbagai kegiatan dinilai menjadi bagian penting dalam proses pembentukan mahasiswa.

“Apalagi kalian berada di Fakultas Agama Islam. Ada tuntutan untuk terus mengembangkan diri, bukan hanya dari sisi akademik, tetapi juga bagaimana ilmu dan pengalaman yang diperoleh dapat memberikan manfaat di masyarakat,” lanjutnya.

Sementara itu, Dekan FAI UNUSIDA, Feri Kuswanto, menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh mahasiswa baru yang telah memilih FAI UNUSIDA sebagai tempat melanjutkan pendidikan.

“Selamat bergabung di Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo. Kalian adalah mahasiswa yang terpilih dari sekian banyak anak yang memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Kesempatan yang baik ini mari kita gunakan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Feri menegaskan bahwa kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi tidak dimiliki oleh semua anak. Karena itu, mahasiswa diharapkan mampu memanfaatkan masa perkuliahan dengan sungguh-sungguh, baik dalam kegiatan akademik maupun pengembangan diri.

“Tidak semua anak di Indonesia mendapatkan kesempatan seperti ini. Maka di Fakultas Agama Islam, bagaimana mahasiswa mendapat kesempatan sebanyak-banyaknya untuk belajar, berkembang, dan memperoleh pengalaman,” jelasnya.

Ia juga mengajak mahasiswa baru untuk memandang masa perkuliahan sebagai proses menyiapkan masa depan. Setiap ilmu, pengalaman, dan proses yang dijalani selama menjadi mahasiswa merupakan bagian dari investasi untuk kehidupan setelah lulus.

“Percayalah, kita saat ini sedang menanam bibit kesuksesan dan akan memetik kesuksesan kelak,” pesannya.

Melalui KARISMA FAI UNUSIDA 2026, ia berharap mahasiswa baru tidak hanya mampu beradaptasi dengan lingkungan perguruan tinggi, tetapi juga memiliki semangat untuk belajar, aktif berorganisasi, mengembangkan potensi, serta membangun jejaring dan pengalaman sebagai bekal berkontribusi di tengah masyarakat.

“Jadikan momentum ini menjadi langkah awal bagi mahasiswa baru FAI UNUSIDA untuk menapaki perjalanan akademik sekaligus membangun karakter sebagai insan yang berilmu, berpengalaman, dan memiliki kepedulian sosial,” pungkasnya.

Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., saat menyampaikan sambutan dalam Yudisium ke-2 FAI UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Plt Rektor UNUSIDA: Lulusan FAI Harus Sadar, Kompeten, dan Berani Menciptakan Peluang

SIDOARJO — Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., berpesan kepada para lulusan Fakultas Agama Islam (FAI) UNUSIDA agar menjadikan kelulusan sebagai momentum memasuki babak baru kehidupan. Menurutnya, perubahan hanya dapat dimulai dari kesadaran diri untuk terus berkembang dan menghadapi tantangan.

Pesan tersebut disampaikan Hadi saat memberikan sambutan dalam Yudisium ke-2 Fakultas Agama Islam (FAI) UNUSIDA, yang diikuti para mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), Jum’at (7/8/2026).

Dalam kesempatan tersebut, pihaknya sangat mengapresiasi perjuangan para mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan, termasuk mereka yang sudah lama mengabdi sebagai guru namun tetap meluangkan waktu untuk menempuh pendidikan tinggi.

Menurutnya, proses pendidikan tidak selalu mudah. Ada mahasiswa yang menghadapi persoalan administrasi, keterbatasan waktu, hingga faktor usia. Namun, semangat untuk menyelesaikan pendidikan menjadi modal penting dalam membangun perubahan.

Mengutip gagasan tentang awareness before change, Hadi menekankan bahwa kesadaran merupakan pintu menuju perubahan. Ia mengajak para lulusan untuk menyadari bahwa kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal untuk memasuki kehidupan yang lebih luas dengan tanggung jawab yang lebih besar.

“Kalau saudara-saudara semua ingin berubah, nomor satu adalah sadar. Selesai. Akhirnya empat tahun memasuki babak baru. Kalau tidak sadar, maka akan menjadi problem,” tegasnya.

Hadi menilai kesadaran tersebut penting karena lulusan PGMI dan PIAUD akan menghadapi persaingan yang cukup besar. Ribuan lulusan bidang pendidikan terus bertambah setiap tahun, sehingga para lulusan UNUSIDA harus memiliki keunggulan dan keberanian untuk mengambil peluang.

“Sekarang banyak sekali yang melakukan pendidikan di sini. Lalu ke mana ribuan yang sudah lulus itu? Tempatnya banyak atau tambah sedikit? Oleh karena itu, sadar itu penting sekali,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan para lulusan, khususnya yang akan menekuni profesi guru, untuk menguasai kompetensi yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan. Ia menyebut tiga kompetensi utama guru, yakni kompetensi profesional, pedagogik, dan sosial.

“Kompetensi utama guru ada tiga, profesional, pedagogik, dan sosial. Kita harus sadar tantangan di depan kita itu besar,” ujarnya.

Menurutnya, kompetensi yang telah diperoleh selama kuliah harus benar-benar diterapkan dalam kehidupan nyata. Para lulusan tidak boleh hanya menunggu mendapatkan pekerjaan dari sekolah atau yayasan, tetapi harus berani menciptakan peluang sesuai dengan keahlian yang dimiliki.

Ia mencontohkan peluang menjadi guru les sebagai salah satu bentuk edupreneurship yang dapat dikembangkan lulusan pendidikan.

“Jangan takut membuat les. Banyak sekali anak-anak yang membutuhkan les, bukan hanya kelas enam, tetapi anak PAUD, TK, kelas satu dan dua. Itu peluang,” tuturnya.

Ia menyebut sikap tersebut sebagai bagian dari semangat edupreneur, yakni keberanian mengembangkan kompetensi pendidikan menjadi peluang yang memberikan manfaat sekaligus nilai ekonomi.

“Ini namanya edupreneur. Jangan takut. Tapi jangan berhenti untuk menaikkan kompetensi. Itu yang penting,” pesannya.

Tak hanya itu, ia berharap para lulusan tidak hanya mendapatkan gelar sarjana, tetapi mampu menghadirkan perubahan di lingkungan masing-masing. Bagi lulusan yang sudah bekerja, keberhasilan bukan sekadar mendapatkan ijazah, melainkan mampu menunjukkan perubahan positif di tempat kerja.

“Kalau yang sudah bekerja, perubahan apa di tempat kerja yang orang luar biasa itu hadir membawa perubahan,” katanya.

Ia mencontohkan keberadaan lembaga pendidikan di tingkat masyarakat yang berkembang sebagai bukti bahwa kehadiran seorang pendidik dapat meninggalkan jejak perubahan. Menurutnya, lulusan UNUSIDA harus mampu “menulis sejarah” melalui karya dan pengabdian yang dilakukan setelah menyelesaikan pendidikan.

“Setelah dikuasai, peluang itu akan datang. Jangan takut,” tegasnya.

Dalam sambutannya, Hadi juga menekankan pentingnya pendidikan tinggi sebagai investasi jangka panjang bagi keluarga dan generasi berikutnya.

Menurutnya, ketika orang tua memiliki pendidikan yang baik, maka wawasan dan cara pandang keluarga terhadap masa depan juga akan berkembang. Pendidikan kemudian tidak berhenti pada individu, tetapi dapat diwariskan menjadi semangat bagi generasi berikutnya.

Ia menggambarkan bahwa orang tua yang telah menyelesaikan pendidikan sarjana akan memiliki dorongan agar anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi.

“Maka saya ucapkan selamat karena saudara beruntung lulus di FAI UNUSIDA. Lulus bukan garis akhir. Lulus adalah awal untuk membuktikan bahwa ilmu yang diperoleh di UNUSIDA benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Foto bersama seluruh yudisiawan Yudisium ke-12 FAI UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Yudisium ke-2 FAI UNUSIDA: Teguhkan Dedikasi Cetak Guru Unggul dan Berakhlakul Karimah

SIDOARJO — Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menggelar Yudisium ke-2 dengan mengusung semangat ‘Meneguhkan Dedikasi, Menginspirasi Negeri, Mencetak Guru Unggul, Adaptif, dan Berakhlakul Karimah’, Jumat (7/8/2026).

Kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi mahasiswa setelah menyelesaikan rangkaian pendidikan di jenjang sarjana sekaligus menjadi awal untuk mengabdikan ilmu di tengah masyarakat.

Tanpak hadir Plt. Rektor UNUSIDA Dr. Hadi Ismanto, S.HI., M.Pd., BPP UNUSIDA Hj. Yuli Qayyumillah, MA., Dekan FAI UNUSIDA Feri Kuswanto, S.Pd.I., M.Pd.I., Ketua Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Moh. Anang Abidin, S.H.I., M.Pd., serta Ketua Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Rifatul Anita, S.Pd., M.Pd.

Dekan FAI UNUSIDA, Feri Kuswanto, menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja keras mahasiswa, dosen pembimbing, serta seluruh pemangku kepentingan di lingkungan UNUSIDA. Capaian kelulusan tersebut juga mengalami peningkatan sekitar 5,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Sudah tidak perlu mikir nilai saya jelek atau nilai saya baik. Sekarang sudah selesai. Itu masa-masa di bangku kuliah, sekarang sudah tidak lagi di bangku. Maka senyumnya jangan sampai kecut seperti saat menghadapi ujian skripsi,” ujar Feri dalam sambutannya.

Ia menegaskan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan pintu masuk menuju fase kehidupan dan pengabdian yang baru. Karena itu, para lulusan didorong untuk menentukan langkah setelah menyelesaikan pendidikan.

Menurutnya, setidaknya terdapat tiga pilihan yang dapat ditempuh para lulusan. Pertama, melanjutkan pendidikan ke jenjang magister (S2). Kedua, membangun karier dan keluarga dengan menjadi pribadi yang berprestasi. Ketiga, mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh selama kuliah di lembaga maupun lingkungan tempat mereka mengabdi.

Khusus bagi lulusan yang telah maupun akan berkecimpung di dunia pendidikan, Feri mengingatkan bahwa gelar sarjana kependidikan membawa tanggung jawab besar. Para lulusan tidak cukup hanya memiliki ijazah, tetapi harus mampu menerapkan kompetensi yang telah diperoleh selama perkuliahan.

Ia mencontohkan berbagai kompetensi yang telah dipelajari mahasiswa, mulai dari apersepsi, pre-test, elaborasi, post-test, asesmen, hingga penyusunan perangkat pembelajaran.

“Tidak boleh ada cerita dari mitra bahwa lulusan UNUSIDA tidak bisa mengerjakan RPS. Tantangan kita sering kali adalah hal yang kita bisa itu tidak kita lakukan,” tegasnya.

Feri juga mengingatkan pentingnya integritas akademik dalam menjalankan tugas sebagai pendidik. Menurutnya, perangkat pembelajaran seperti RPS dan RPP harus benar-benar disusun dan dilaksanakan sebagai bagian dari proses pendidikan, bukan sekadar dibuat untuk memenuhi kebutuhan administrasi atau akreditasi.

“Kunci sukses di dunia pendidikan itu tulis apa yang sudah dikerjakan, evaluasi, dan kerjakan apa yang sudah ditulis,” pesannya.

Ia berharap para lulusan FAI UNUSIDA mampu menjadi pendidik yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga menjunjung tinggi integritas, profesionalisme, adaptif terhadap perubahan, serta memiliki akhlakul karimah.

Dalam kesempatan tersebut, Feri juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan dengan berbagai dinamika. Sebagian mahasiswa menyelesaikan studi dalam waktu empat tahun, sementara lainnya membutuhkan waktu lebih panjang maupun lebih singkat sesuai dengan kondisi masing-masing.

Ia menegaskan bahwa proses akademik yang telah dilalui merupakan bagian penting dalam membentuk kesiapan mahasiswa menghadapi dunia profesional.

Feri turut menjelaskan kepada para peserta yudisium mengenai proses administrasi kelulusan, termasuk penerbitan ijazah dan Penomoran Ijazah Nasional (PIN). Ia mengingatkan mahasiswa untuk mengikuti seluruh tahapan administrasi sesuai ketentuan agar proses penerbitan dokumen kelulusan berjalan lancar.

“Selamat kepada seluruh mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan, semoga mampu membawa nama baik almamater, mengabdikan keilmuan di tengah masyarakat, serta mengambil peran dalam mencetak generasi yang unggul, adaptif, berkarakter, dan berakhlakul karimah,” tuturnya.

Seminar Hasil Penelitian sebagai bentuk diseminasi riset dosen PIAUD UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Dosen PIAUD UNUSIDA Diseminasi Hasil Riset, Perkuat Edukasi Orang Tua untuk Cegah Stunting

SIDOARJO — Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Seminar Hasil Penelitian sebagai bentuk diseminasi riset dosen yang berfokus pada peningkatan kesehatan dan gizi anak usia dini. Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Pertemuan, Gedung B Kampus UNUSIDA, Rabu (24/6/2026).

Seminar ini menghadirkan pemaparan hasil penelitian bertajuk ‘Analisis Tingkat Pemahaman Orang Tua tentang Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini (Studi Kasus Komparatif Wilayah Urban dan Rural di Jawa Timur)’. Penelitian tersebut dipimpin oleh Ketua Tim Peneliti, Shofiyatus Zahroh, bersama tim dosen PIAUD UNUSIDA.

Dalam paparannya, Shofiyatus Zahroh menjelaskan bahwa penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi tingkat pemahaman orang tua mengenai kesehatan dan gizi anak usia dini di wilayah perkotaan maupun pedesaan di Jawa Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa edukasi kepada orang tua menjadi faktor penting dalam mendukung tumbuh kembang anak sekaligus mencegah stunting sejak dini.

“Pemahaman orang tua mengenai kesehatan dan gizi anak memiliki peran strategis dalam mencegah stunting. Karena itu, penguatan edukasi keluarga perlu terus dilakukan agar anak memperoleh pemenuhan gizi dan pola pengasuhan yang tepat,” ujarnya.

Seminar hasil penelitian ini menjadi wadah bagi dosen untuk menyebarluaskan temuan ilmiah sekaligus membuka ruang diskusi bersama akademisi, praktisi pendidikan, dan peserta yang hadir. Melalui forum tersebut, berbagai masukan diberikan guna memperkaya hasil penelitian agar dapat diimplementasikan secara lebih luas di masyarakat.

Ketua Program Studi PIAUD UNUSIDA, Rif’atul Anita, menyampaikan bahwa penelitian yang dilakukan dosen merupakan bentuk komitmen perguruan tinggi dalam memberikan solusi terhadap persoalan nyata di masyarakat, khususnya isu kesehatan anak usia dini.

Ia berharap hasil penelitian tersebut tidak hanya menjadi dokumen akademik, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan dunia pendidikan.

Melalui seminar hasil penelitian ini, ia menegaskan komitmennya dalam mendukung pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, khususnya di bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Hasil riset yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan program edukasi keluarga, sekaligus memperkuat kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan serta gizi anak usia dini menuju generasi Indonesia yang lebih sehat dan berkualitas.

“Semoga hasil penelitian ini dapat menjadi kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan, peningkatan kualitas pendidikan anak usia dini, serta mendukung percepatan penurunan angka stunting di Indonesia,” ungkap Rif’atul Anita.

Pembekalan dan Pelepasan PLP PIAUD FAI UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

PIAUD UNUSIDA Lepas Peserta PLP Perdana, Siap Memberi Dampak di Sekolah

SIDOARJO — Mahasiswa Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) bersiap menjalani Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) perdana di sejumlah sekolah mitra. Sejumlah mahasiswa telah diberikan bekal dan secara resmi dilepas pada Senin (13/4/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., mengapresiasi kesiapan Prodi PIAUD dalam menyiapkan PLP perdana ini melalui perencanaan yang terstruktur.

“Menjadi pendidik anak usia dini membutuhkan fondasi karakter yang kuat. Pengalaman praktik ini penting agar mahasiswa siap menghadapi tantangan nyata di lapangan,” ujarnya saat menyampaikan sambutan.

Ia berharap, setelah PLP perdana ini, mahasiswa PIAUD UNUSIDA tidak hanya belajar dari praktik, tetapi juga mampu memberikan dampak positif di sekolah mitra melalui pembelajaran yang inspiratif dan bermakna bagi anak-anak.

“Menjadi guru anak usia dini membutuhkan fondasi karakter yang kuat. PLP ini diharapkan menjadi batu loncatan penting bagi penguatan kualitas mahasiswa sekaligus perkembangan UNUSIDA,” ungkapnya.

Sebelum diterjunkan, mahasiswa mengikuti pembekalan yang menekankan kesiapan pedagogik, kemampuan beradaptasi, serta penguatan karakter sebagai calon pendidik. Pembekalan ini juga membahas peran guru pamong di sekolah mitra yang akan mendampingi proses belajar mahasiswa selama PLP berlangsung.

Wakil Dekan FAI UNUSIDA Shofiyatuz Zahroh, M.Pd., menyampaikan bahwa PLP bukan sekadar agenda akademik, tetapi ruang belajar nyata bagi mahasiswa untuk memahami dinamika kelas, karakter anak, serta manajemen pembelajaran yang kreatif dan ramah anak. Menurutnya, kegiatan ini menjadi tahap awal mahasiswa terjun langsung ke lingkungan pendidikan anak usia dini dengan bekal kompetensi, etika profesi, dan semangat pengabdian.

“Mahasiswa saya harap mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di perkuliahan, menjaga etika, dan membawa nama baik almamater selama berada di sekolah,” pesannya.

Ia menyebutkan bahwa mahasiswa yang mengikuti PLP telah memenuhi persyaratan akademik dan dinilai siap mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah. Kegiatan ini menjadi momentum peneguhan peran mahasiswa sebagai calon guru yang siap belajar dari praktik nyata, beradaptasi dengan lingkungan pendidikan, serta menghadirkan pembelajaran yang ramah, kreatif, dan bermakna bagi anak-anak. Selain pembekalan kompetensi, mahasiswa juga mendapat penguatan etika profesi dan kesiapan mental sebelum diterjunkan ke sekolah.

“Silakan kembangkan ilmu di sekolah mitra dengan bimbingan guru pamong. Manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya dan buktikan bahwa kalian calon guru yang profesional. Jaga nama baik almamater, patuhi arahan pembimbing, serta terus belajar mengembangkan diri,” pungkasnya.

UNUSIDA dan BRIDA Jawa Timur Gelar Seminar Proposal Penelitian tentang Pemahaman Orang Tua terhadap Stunting (Foto: Humas UNUSIDA)

Dosen PIAUD UNUSIDA Jalin Kerja Sama Penelitian bersama BRIDA Jawa Timur tentang Pemahaman Orang Tua terhadap Stunting

SIDOARJO — Dosen Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Jawa Timur melakukan penelitian berdampak tentang Pemahaman Orang Tua terhadap Stunting.

Penelitian ini mengangkat judul ‘Analisis Tingkat Pemahaman Orang Tua tentang Stunting (Kesehatan dan Gizi) pada Anak Usia Dini (4–6 Tahun) (Studi Kasus di Sidoarjo–Sumenep)’. Penelitian ini diketuai oleh Shofiyatuz Zahro, S.Sos., M.Pd., dengan anggota Dr. H. Rangga Sa’adillah, S.A.P., M.Pd.I. dan Rif’atul Anita, S.Pd., M.Pd.

Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terjalinnya kerja sama penelitian tersebut. Ia menjelaskan bahwa UNUSIDA sebagai perguruan tinggi yang relatif muda memiliki energi besar untuk berkembang melalui kolaborasi.

“Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo memang belum lama berdiri, namun kami memiliki kekuatan energi dan semangat kolaborasi. Kerja sama seperti ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas akademik dan memberikan solusi nyata bagi masyarakat,” ujarnya saat menyampaikan sambutan dalam Seminar Proposal, di Hall Kampus 2 Unusida, Lingkar Timur, Sidoarjo, Kamis (19/2/2026).

Ia menambahkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai pusat solusi berbagai persoalan sosial, termasuk isu kesehatan masyarakat seperti stunting. Oleh karena itu, kolaborasi lintas lembaga dinilai menjadi jalan terbaik untuk meningkatkan mutu penelitian sekaligus memberikan dampak nyata.

“Riset kali ini menjadi bagian dari upaya kolaboratif antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam menghasilkan riset yang berdampak bagi masyarakat. Hal ini menjadi momentum penting bagi UNUSIDA untuk terus memperkuat budaya riset kolaboratif yang berdampak bagi masyarakat luas.,” katanya.

Sementara itu, Ketua BRIDA Jawa Timur, Dr. Andriyanto, S.H., M.Kes., menjelaskan bahwa penelitian ini didukung melalui anggaran pokok pikiran anggota DPRD Jawa Timur. Meski demikian, ia menegaskan bahwa proses penelitian harus tetap profesional, independen, dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Tema stunting merupakan prioritas di Jawa Timur. Hasil penelitian harus benar-benar bermanfaat dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik sehingga mampu memberikan kontribusi bagi kebijakan pemerintah,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Tim Penjamin Mutu BRIDA Jawa Timur, Prof. Dr. Suparto Wijoyo, S.H., M.Hum., menilai penelitian ini menarik dan inovatif karena berfokus pada akar persoalan stunting, yaitu pemahaman orang tua. Ia menekankan bahwa penelitian tidak hanya berhenti pada kajian akademik, tetapi perlu menghasilkan rekomendasi kebijakan yang aplikatif.

Menurutnya, pendekatan penelitian harus mampu menggali interaksi orang tua dengan anak secara lebih mendalam, termasuk pola pemberian makanan, perilaku kesehatan, hingga edukasi praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui seminar proposal ini, Wakil Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) tersebut berharap penelitian kolaboratif antara UNUSIDA dan BRIDA Jawa Timur dapat menghasilkan data ilmiah yang komprehensif sekaligus rekomendasi kebijakan berbasis bukti dalam upaya pencegahan stunting di wilayah Sidoarjo hingga Sumenep.

“Kompetisi hari ini dimenangkan oleh mereka yang mau berkolaborasi. Teruslah berkomitmen pada riset yang sungguh-sungguh agar UNUSIDA semakin berkontribusi bagi masyarakat,” pungkasnya.

FAI UNUSIDA Bekali Mahasiswa Terkait Tugas Akhir (Foto: Humas UNUSIDA)

FAI UNUSIDA Bekali Mahasiswa Tips Mengerjakan Tugas Akhir, Tekankan Pentingnya Kemandirian dan Perencanaan Matang

SIDOARJO — Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar kegiatan Pembekalan Tugas Akhir bagi mahasiswa tingkat akhir di Hall Lantai 3 Gedung A Kampus 2 UNUSIDA, Kamis (8/1/2026). Kegiatan ini menjadi momen penting yang telah lama dinantikan mahasiswa sementer akhir yang telah menempuh masa studi kurang lebih tiga tahun enam bulan ini.

Dekan FAI UNUSIDA, Feri Kuswanto, M.Pd.I., dalam sambutannya menyampaikan bahwa tugas akhir merupakan fase krusial yang menuntut kesiapan akademik, mental, dan manajemen waktu mahasiswa. Ia menekankan pentingnya kemandirian dan perencanaan yang matang sejak awal proses penyusunan tugas akhir.

“Tugas akhir ini adalah tahapan penting yang sudah lama ditunggu mahasiswa. Karena itu, sejak pengajuan judul, penyusunan proposal, hingga penulisan bab demi bab harus disiapkan dengan perencanaan yang jelas dan terukur,” ujarnya.

Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak bergantung pada pihak lain dan mampu menyusun jadwal pribadi secara mandiri. Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki schedule yang jelas agar proses penyusunan tugas akhir berjalan lancar tanpa alasan keterlambatan.

“Jangan menunggu arahan terus. Susun sendiri jadwal kapan mengerjakan proposal, Bab I, Bab II, hingga pencarian referensi. Kalau sudah punya program dan jadwal pribadi, tidak ada alasan tugas akhir tidak selesai,” tegasnya.

Feri juga menyoroti kemudahan akses referensi di era digital saat ini. Jika dahulu mahasiswa harus mencari buku cetak hingga ke luar kota, kini berbagai sumber ilmiah dapat diakses secara daring. Namun demikian, ia mengingatkan agar mahasiswa tetap menjunjung tinggi kejujuran akademik.

“Sekarang mencari referensi jauh lebih mudah. Tapi jangan sampai tergoda untuk menyalin karya orang lain. Ambil inspirasi boleh, tapi hasilnya harus tetap orisinal dan disusun dengan pemikiran sendiri agar benar-benar menjadi karya ilmiah,” pesannya.

Selain aspek akademik, Feri juga menekankan pentingnya pemenuhan kewajiban administrasi. Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak mengabaikan persyaratan administratif yang dapat menghambat proses penyelesaian tugas akhir.

“Saya harap mahasiswa mampu menyelesaikan tugas akhir dengan baik, tepat waktu, dan berkualitas, sekaligus membentuk sikap disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab sebagai bekal memasuki dunia profesional maupun akademik selanjutnya,” harapnya.

Suasana KARISMA FAI UNUSIDA 2025 di Hall Lantai 3 Kampus 2 UNUSIDA, Lingkar Timur, Sidoarjo (Foto: Humas UNUSIDA)

KARISMA FAI UNUSIDA 2025: Bekal Awal Mahasiswa Baru Menuju Tri Dharma Perguruan Tinggi

SIDOARJO — Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menyelenggarakan kegiatan Kajian, Orientasi, dan Silaturrahmi Mahasiswa (KARISMA) FAI 2025 di Lantai 3 Kampus 2 UNUSIDA, Lingkar Timur Sidoarjo, Sabtu–Ahad (20–21/9/2025). Kegiatan ini mengusung tema ‘Bersama dalam Ilmu, Bersatu dalam Iman’ dan diikuti oleh seluruh mahasiswa baru FAI sebagai bekal sebelum melaksanakan kuliah.

Dalam sambutannya, Dekan FAI UNUSIDA, Feri Kuswanto, S.Pd.I., M.Pd.I., menegaskan pentingnya mahasiswa memahami perbedaan mendasar antara jenjang SMA dengan dunia perkuliahan. Menurutnya, pendidikan tinggi menuntut mahasiswa tidak hanya fokus pada pembelajaran, tetapi juga pada penelitian dan pengabdian masyarakat.

“Tiga hal yang sering disebut dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Itulah yang akan menjadi bahan pokok pembelajaran yang akan diterapkan di FAI. Kalau di SMA cukup belajar, di perguruan tinggi ada belajar, ada penelitian, dan ada pengabdian. Bahkan karya ilmiah yang layak bisa diajukan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI), dan itu akan melekat atas nama mahasiswa yang bersangkutan,” jelasnya.

Feri juga menekankan pentingnya persiapan mental mahasiswa baru. Ia menuturkan, pendekatan belajar di SMA berbeda dengan di perguruan tinggi. “Kalau di SMA masih banyak ruang kosong yang harus diisi guru, di perkuliahan mahasiswa justru didorong untuk mengembangkan pengetahuan, soft skill, sikap, dan kompetensinya. Jadi tidak boleh hanya menunggu diajari dosen,” pesannya.

Dalam KARISMA FAI 2025 ini, mahasiswa baru mendapatkan pembekalan komprehensif kepada mahasiswa baru melalui rangkaian kegiatan orientasi tingkat fakultas. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya fakultas dalam menyiapkan mahasiswa menghadapi dinamika kehidupan akademik, sosial, dan organisasi.

Selama kegiatan, mahasiswa mendapatkan sejumlah materi strategis, di antaranya Kehidupan Kampus Tingkat Fakultas, Pengembangan Karakter dan Perilaku Mahasiswa, Teknik Penggunaan Aplikasi Akademik My Unusida dan E-Learning, serta Implementasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara.

Selain itu, mahasiswa juga diperkenalkan pada Aswaja sebagai Manhaj al-Fikr wal Harokah, yang menekankan pentingnya moderasi, pemikiran kritis, dan gerakan yang berakar pada tradisi Ahlussunnah wal Jamaah. Materi lain yang tidak kalah penting adalah Teknik Penulisan Makalah, untuk melatih keterampilan akademik, serta Pentingnya Organisasi bagi Mahasiswa, sebagai bekal pengembangan diri dan kepemimpinan.

Lebih lanjut, Feri menuturkan bahwa pembekalan ini tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga membentuk kepribadian mahasiswa agar siap menjadi insan berilmu sekaligus berkarakter.

Melalui kegiatan KARISMA FAI 2025 ini, mahasiswa baru diharapkan dapat memahami bahwa perkuliahan bukan hanya soal belajar di kelas, tetapi juga melibatkan pengabdian, penelitian, dan pengembangan diri melalui berbagai kegiatan kemahasiswaan. Juga mampu beradaptasi dengan cepat terhadap dinamika dunia kampus, sekaligus menjadikan ilmu dan iman sebagai landasan kebersamaan dalam menempuh pendidikan di UNUSIDA.

“Semoga kegiatan orientasi ini mampu membekali mahasiswa baru FAI UNUSIDA dengan pengetahuan, keterampilan, serta nilai-nilai yang akan menjadi landasan mereka selama menempuh pendidikan tinggi, sekaligus berkontribusi nyata bagi masyarakat,” pungkasnya. (MY)

Yudisium Ke-1 FAI UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Yudisium Perdana Fakultas Agama Islam UNUSIDA: Cetak Lulusan yang Siap Mengabdi dan Menginspirasi

SIDOARJO – Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) untuk pertama kalinya menggelar Yudisium Ke-1 pada bulan Agustus lalu. Momen bersejarah ini melibatkan dua program studi, yakni Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dengan 39 mahasiswa dan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) dengan 23 mahasiswa.

Acara yudisium ini menjadi tonggak baru bagi FAI UNUSIDA dalam melahirkan sarjana pendidikan Islam yang siap berkontribusi di masyarakat dengan bekal ilmu, akhlak, serta nilai spiritual.

Sementara itu, Rektor UNUSIDA, H. Fatkul Anam, menyampaikan apresiasi atas keberhasilan yudisium perdana ini. Menurutnya, momen ini menjadi catatan sejarah penting bagi Fakultas Agama Islam UNUSIDA.

“Ini adalah tonggak sejarah bagi FAI UNUSIDA. Lulusan pertama ini menjadi bukti perjuangan mahasiswa yang telah menuntaskan studinya dan dedikasi dosen yang dengan sabar membimbing. Saya sangat mengapresiasi, terlebih bagi mereka yang sambil bekerja tetap berkomitmen menyelesaikan pendidikan S1,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa lulusan FAI harus menjadi cerminan kualitas dan integritas, sekaligus tidak pernah berhenti untuk belajar sepanjang hayat.

“Sebagai lulusan pertama, kalian akan menjadi duta FAI di tengah masyarakat. Jangan puas dengan pencapaian saat ini, karena masih ada tahapan berikutnya. Lulusan FAI bukan hanya dituntut cerdas, tetapi juga harus matang secara spiritual, sehingga mampu menginspirasi dan memberi manfaat bagi sesama,” pesannya.

Dekan FAI UNUSIDA, Fery Kuswanto, dalam sambutannya menekankan pentingnya menjadi pribadi adaptif dan rendah hati ketika kembali ke tengah masyarakat.

“Setelah kembali ke rumah masing-masing, kalian harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan. Ilmu yang didapatkan harus membawa manfaat, bukan justru menjadikan tinggi hati karena telah meraih gelar S1. Jadilah bagian dari masyarakat yang terbaik, sebagaimana pesan Rasulullah: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi lingkungannya,” tuturnya.

Fery juga berharap para lulusan terus mengembangkan ilmu yang telah diperoleh, tidak berhenti pada jenjang sarjana, dan bahkan melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi.

Dengan diselenggarakannya Yudisium Ke-1 ini, Fakultas Agama Islam UNUSIDA resmi menorehkan sejarah baru. Ia berharap para lulusan dapat membawa nama baik almamater sekaligus berperan aktif dalam mencetak generasi yang berilmu, berakhlak, dan berdaya guna bagi bangsa dan agama.

“Syukur-syukur jika ada yang melanjutkan ke S2. Semoga gelar ini menjadi langkah awal untuk membawa citra kampus tercinta dan menjadikan kalian insan-insan mulia di masyarakat,” pungkasnya. (MY)