Pos

Pembekalan dan Pelepasan PLP PIAUD FAI UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

PIAUD UNUSIDA Lepas Peserta PLP Perdana, Siap Memberi Dampak di Sekolah

SIDOARJO — Mahasiswa Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) bersiap menjalani Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) perdana di sejumlah sekolah mitra. Sejumlah mahasiswa telah diberikan bekal dan secara resmi dilepas pada Senin (13/4/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., mengapresiasi kesiapan Prodi PIAUD dalam menyiapkan PLP perdana ini melalui perencanaan yang terstruktur.

“Menjadi pendidik anak usia dini membutuhkan fondasi karakter yang kuat. Pengalaman praktik ini penting agar mahasiswa siap menghadapi tantangan nyata di lapangan,” ujarnya saat menyampaikan sambutan.

Ia berharap, setelah PLP perdana ini, mahasiswa PIAUD UNUSIDA tidak hanya belajar dari praktik, tetapi juga mampu memberikan dampak positif di sekolah mitra melalui pembelajaran yang inspiratif dan bermakna bagi anak-anak.

“Menjadi guru anak usia dini membutuhkan fondasi karakter yang kuat. PLP ini diharapkan menjadi batu loncatan penting bagi penguatan kualitas mahasiswa sekaligus perkembangan UNUSIDA,” ungkapnya.

Sebelum diterjunkan, mahasiswa mengikuti pembekalan yang menekankan kesiapan pedagogik, kemampuan beradaptasi, serta penguatan karakter sebagai calon pendidik. Pembekalan ini juga membahas peran guru pamong di sekolah mitra yang akan mendampingi proses belajar mahasiswa selama PLP berlangsung.

Wakil Dekan FAI UNUSIDA Shofiyatuz Zahroh, M.Pd., menyampaikan bahwa PLP bukan sekadar agenda akademik, tetapi ruang belajar nyata bagi mahasiswa untuk memahami dinamika kelas, karakter anak, serta manajemen pembelajaran yang kreatif dan ramah anak. Menurutnya, kegiatan ini menjadi tahap awal mahasiswa terjun langsung ke lingkungan pendidikan anak usia dini dengan bekal kompetensi, etika profesi, dan semangat pengabdian.

“Mahasiswa saya harap mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di perkuliahan, menjaga etika, dan membawa nama baik almamater selama berada di sekolah,” pesannya.

Ia menyebutkan bahwa mahasiswa yang mengikuti PLP telah memenuhi persyaratan akademik dan dinilai siap mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah. Kegiatan ini menjadi momentum peneguhan peran mahasiswa sebagai calon guru yang siap belajar dari praktik nyata, beradaptasi dengan lingkungan pendidikan, serta menghadirkan pembelajaran yang ramah, kreatif, dan bermakna bagi anak-anak. Selain pembekalan kompetensi, mahasiswa juga mendapat penguatan etika profesi dan kesiapan mental sebelum diterjunkan ke sekolah.

“Silakan kembangkan ilmu di sekolah mitra dengan bimbingan guru pamong. Manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya dan buktikan bahwa kalian calon guru yang profesional. Jaga nama baik almamater, patuhi arahan pembimbing, serta terus belajar mengembangkan diri,” pungkasnya.

UNUSIDA dan BRIDA Jawa Timur Gelar Seminar Proposal Penelitian tentang Pemahaman Orang Tua terhadap Stunting (Foto: Humas UNUSIDA)

Dosen PIAUD UNUSIDA Jalin Kerja Sama Penelitian bersama BRIDA Jawa Timur tentang Pemahaman Orang Tua terhadap Stunting

SIDOARJO — Dosen Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Jawa Timur melakukan penelitian berdampak tentang Pemahaman Orang Tua terhadap Stunting.

Penelitian ini mengangkat judul ‘Analisis Tingkat Pemahaman Orang Tua tentang Stunting (Kesehatan dan Gizi) pada Anak Usia Dini (4–6 Tahun) (Studi Kasus di Sidoarjo–Sumenep)’. Penelitian ini diketuai oleh Shofiyatuz Zahro, S.Sos., M.Pd., dengan anggota Dr. H. Rangga Sa’adillah, S.A.P., M.Pd.I. dan Rif’atul Anita, S.Pd., M.Pd.

Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terjalinnya kerja sama penelitian tersebut. Ia menjelaskan bahwa UNUSIDA sebagai perguruan tinggi yang relatif muda memiliki energi besar untuk berkembang melalui kolaborasi.

“Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo memang belum lama berdiri, namun kami memiliki kekuatan energi dan semangat kolaborasi. Kerja sama seperti ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas akademik dan memberikan solusi nyata bagi masyarakat,” ujarnya saat menyampaikan sambutan dalam Seminar Proposal, di Hall Kampus 2 Unusida, Lingkar Timur, Sidoarjo, Kamis (19/2/2026).

Ia menambahkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai pusat solusi berbagai persoalan sosial, termasuk isu kesehatan masyarakat seperti stunting. Oleh karena itu, kolaborasi lintas lembaga dinilai menjadi jalan terbaik untuk meningkatkan mutu penelitian sekaligus memberikan dampak nyata.

“Riset kali ini menjadi bagian dari upaya kolaboratif antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam menghasilkan riset yang berdampak bagi masyarakat. Hal ini menjadi momentum penting bagi UNUSIDA untuk terus memperkuat budaya riset kolaboratif yang berdampak bagi masyarakat luas.,” katanya.

Sementara itu, Ketua BRIDA Jawa Timur, Dr. Andriyanto, S.H., M.Kes., menjelaskan bahwa penelitian ini didukung melalui anggaran pokok pikiran anggota DPRD Jawa Timur. Meski demikian, ia menegaskan bahwa proses penelitian harus tetap profesional, independen, dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Tema stunting merupakan prioritas di Jawa Timur. Hasil penelitian harus benar-benar bermanfaat dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik sehingga mampu memberikan kontribusi bagi kebijakan pemerintah,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Tim Penjamin Mutu BRIDA Jawa Timur, Prof. Dr. Suparto Wijoyo, S.H., M.Hum., menilai penelitian ini menarik dan inovatif karena berfokus pada akar persoalan stunting, yaitu pemahaman orang tua. Ia menekankan bahwa penelitian tidak hanya berhenti pada kajian akademik, tetapi perlu menghasilkan rekomendasi kebijakan yang aplikatif.

Menurutnya, pendekatan penelitian harus mampu menggali interaksi orang tua dengan anak secara lebih mendalam, termasuk pola pemberian makanan, perilaku kesehatan, hingga edukasi praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui seminar proposal ini, Wakil Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) tersebut berharap penelitian kolaboratif antara UNUSIDA dan BRIDA Jawa Timur dapat menghasilkan data ilmiah yang komprehensif sekaligus rekomendasi kebijakan berbasis bukti dalam upaya pencegahan stunting di wilayah Sidoarjo hingga Sumenep.

“Kompetisi hari ini dimenangkan oleh mereka yang mau berkolaborasi. Teruslah berkomitmen pada riset yang sungguh-sungguh agar UNUSIDA semakin berkontribusi bagi masyarakat,” pungkasnya.

FAI UNUSIDA Bekali Mahasiswa Terkait Tugas Akhir (Foto: Humas UNUSIDA)

FAI UNUSIDA Bekali Mahasiswa Tips Mengerjakan Tugas Akhir, Tekankan Pentingnya Kemandirian dan Perencanaan Matang

SIDOARJO — Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar kegiatan Pembekalan Tugas Akhir bagi mahasiswa tingkat akhir di Hall Lantai 3 Gedung A Kampus 2 UNUSIDA, Kamis (8/1/2026). Kegiatan ini menjadi momen penting yang telah lama dinantikan mahasiswa sementer akhir yang telah menempuh masa studi kurang lebih tiga tahun enam bulan ini.

Dekan FAI UNUSIDA, Feri Kuswanto, M.Pd.I., dalam sambutannya menyampaikan bahwa tugas akhir merupakan fase krusial yang menuntut kesiapan akademik, mental, dan manajemen waktu mahasiswa. Ia menekankan pentingnya kemandirian dan perencanaan yang matang sejak awal proses penyusunan tugas akhir.

“Tugas akhir ini adalah tahapan penting yang sudah lama ditunggu mahasiswa. Karena itu, sejak pengajuan judul, penyusunan proposal, hingga penulisan bab demi bab harus disiapkan dengan perencanaan yang jelas dan terukur,” ujarnya.

Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak bergantung pada pihak lain dan mampu menyusun jadwal pribadi secara mandiri. Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki schedule yang jelas agar proses penyusunan tugas akhir berjalan lancar tanpa alasan keterlambatan.

“Jangan menunggu arahan terus. Susun sendiri jadwal kapan mengerjakan proposal, Bab I, Bab II, hingga pencarian referensi. Kalau sudah punya program dan jadwal pribadi, tidak ada alasan tugas akhir tidak selesai,” tegasnya.

Feri juga menyoroti kemudahan akses referensi di era digital saat ini. Jika dahulu mahasiswa harus mencari buku cetak hingga ke luar kota, kini berbagai sumber ilmiah dapat diakses secara daring. Namun demikian, ia mengingatkan agar mahasiswa tetap menjunjung tinggi kejujuran akademik.

“Sekarang mencari referensi jauh lebih mudah. Tapi jangan sampai tergoda untuk menyalin karya orang lain. Ambil inspirasi boleh, tapi hasilnya harus tetap orisinal dan disusun dengan pemikiran sendiri agar benar-benar menjadi karya ilmiah,” pesannya.

Selain aspek akademik, Feri juga menekankan pentingnya pemenuhan kewajiban administrasi. Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak mengabaikan persyaratan administratif yang dapat menghambat proses penyelesaian tugas akhir.

“Saya harap mahasiswa mampu menyelesaikan tugas akhir dengan baik, tepat waktu, dan berkualitas, sekaligus membentuk sikap disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab sebagai bekal memasuki dunia profesional maupun akademik selanjutnya,” harapnya.

Suasana KARISMA FAI UNUSIDA 2025 di Hall Lantai 3 Kampus 2 UNUSIDA, Lingkar Timur, Sidoarjo (Foto: Humas UNUSIDA)

KARISMA FAI UNUSIDA 2025: Bekal Awal Mahasiswa Baru Menuju Tri Dharma Perguruan Tinggi

SIDOARJO — Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menyelenggarakan kegiatan Kajian, Orientasi, dan Silaturrahmi Mahasiswa (KARISMA) FAI 2025 di Lantai 3 Kampus 2 UNUSIDA, Lingkar Timur Sidoarjo, Sabtu–Ahad (20–21/9/2025). Kegiatan ini mengusung tema ‘Bersama dalam Ilmu, Bersatu dalam Iman’ dan diikuti oleh seluruh mahasiswa baru FAI sebagai bekal sebelum melaksanakan kuliah.

Dalam sambutannya, Dekan FAI UNUSIDA, Feri Kuswanto, S.Pd.I., M.Pd.I., menegaskan pentingnya mahasiswa memahami perbedaan mendasar antara jenjang SMA dengan dunia perkuliahan. Menurutnya, pendidikan tinggi menuntut mahasiswa tidak hanya fokus pada pembelajaran, tetapi juga pada penelitian dan pengabdian masyarakat.

“Tiga hal yang sering disebut dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Itulah yang akan menjadi bahan pokok pembelajaran yang akan diterapkan di FAI. Kalau di SMA cukup belajar, di perguruan tinggi ada belajar, ada penelitian, dan ada pengabdian. Bahkan karya ilmiah yang layak bisa diajukan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI), dan itu akan melekat atas nama mahasiswa yang bersangkutan,” jelasnya.

Feri juga menekankan pentingnya persiapan mental mahasiswa baru. Ia menuturkan, pendekatan belajar di SMA berbeda dengan di perguruan tinggi. “Kalau di SMA masih banyak ruang kosong yang harus diisi guru, di perkuliahan mahasiswa justru didorong untuk mengembangkan pengetahuan, soft skill, sikap, dan kompetensinya. Jadi tidak boleh hanya menunggu diajari dosen,” pesannya.

Dalam KARISMA FAI 2025 ini, mahasiswa baru mendapatkan pembekalan komprehensif kepada mahasiswa baru melalui rangkaian kegiatan orientasi tingkat fakultas. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya fakultas dalam menyiapkan mahasiswa menghadapi dinamika kehidupan akademik, sosial, dan organisasi.

Selama kegiatan, mahasiswa mendapatkan sejumlah materi strategis, di antaranya Kehidupan Kampus Tingkat Fakultas, Pengembangan Karakter dan Perilaku Mahasiswa, Teknik Penggunaan Aplikasi Akademik My Unusida dan E-Learning, serta Implementasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara.

Selain itu, mahasiswa juga diperkenalkan pada Aswaja sebagai Manhaj al-Fikr wal Harokah, yang menekankan pentingnya moderasi, pemikiran kritis, dan gerakan yang berakar pada tradisi Ahlussunnah wal Jamaah. Materi lain yang tidak kalah penting adalah Teknik Penulisan Makalah, untuk melatih keterampilan akademik, serta Pentingnya Organisasi bagi Mahasiswa, sebagai bekal pengembangan diri dan kepemimpinan.

Lebih lanjut, Feri menuturkan bahwa pembekalan ini tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga membentuk kepribadian mahasiswa agar siap menjadi insan berilmu sekaligus berkarakter.

Melalui kegiatan KARISMA FAI 2025 ini, mahasiswa baru diharapkan dapat memahami bahwa perkuliahan bukan hanya soal belajar di kelas, tetapi juga melibatkan pengabdian, penelitian, dan pengembangan diri melalui berbagai kegiatan kemahasiswaan. Juga mampu beradaptasi dengan cepat terhadap dinamika dunia kampus, sekaligus menjadikan ilmu dan iman sebagai landasan kebersamaan dalam menempuh pendidikan di UNUSIDA.

“Semoga kegiatan orientasi ini mampu membekali mahasiswa baru FAI UNUSIDA dengan pengetahuan, keterampilan, serta nilai-nilai yang akan menjadi landasan mereka selama menempuh pendidikan tinggi, sekaligus berkontribusi nyata bagi masyarakat,” pungkasnya. (MY)

Yudisium Ke-1 FAI UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Yudisium Perdana Fakultas Agama Islam UNUSIDA: Cetak Lulusan yang Siap Mengabdi dan Menginspirasi

SIDOARJO – Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) untuk pertama kalinya menggelar Yudisium Ke-1 pada bulan Agustus lalu. Momen bersejarah ini melibatkan dua program studi, yakni Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dengan 39 mahasiswa dan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) dengan 23 mahasiswa.

Acara yudisium ini menjadi tonggak baru bagi FAI UNUSIDA dalam melahirkan sarjana pendidikan Islam yang siap berkontribusi di masyarakat dengan bekal ilmu, akhlak, serta nilai spiritual.

Sementara itu, Rektor UNUSIDA, H. Fatkul Anam, menyampaikan apresiasi atas keberhasilan yudisium perdana ini. Menurutnya, momen ini menjadi catatan sejarah penting bagi Fakultas Agama Islam UNUSIDA.

“Ini adalah tonggak sejarah bagi FAI UNUSIDA. Lulusan pertama ini menjadi bukti perjuangan mahasiswa yang telah menuntaskan studinya dan dedikasi dosen yang dengan sabar membimbing. Saya sangat mengapresiasi, terlebih bagi mereka yang sambil bekerja tetap berkomitmen menyelesaikan pendidikan S1,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa lulusan FAI harus menjadi cerminan kualitas dan integritas, sekaligus tidak pernah berhenti untuk belajar sepanjang hayat.

“Sebagai lulusan pertama, kalian akan menjadi duta FAI di tengah masyarakat. Jangan puas dengan pencapaian saat ini, karena masih ada tahapan berikutnya. Lulusan FAI bukan hanya dituntut cerdas, tetapi juga harus matang secara spiritual, sehingga mampu menginspirasi dan memberi manfaat bagi sesama,” pesannya.

Dekan FAI UNUSIDA, Fery Kuswanto, dalam sambutannya menekankan pentingnya menjadi pribadi adaptif dan rendah hati ketika kembali ke tengah masyarakat.

“Setelah kembali ke rumah masing-masing, kalian harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan. Ilmu yang didapatkan harus membawa manfaat, bukan justru menjadikan tinggi hati karena telah meraih gelar S1. Jadilah bagian dari masyarakat yang terbaik, sebagaimana pesan Rasulullah: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi lingkungannya,” tuturnya.

Fery juga berharap para lulusan terus mengembangkan ilmu yang telah diperoleh, tidak berhenti pada jenjang sarjana, dan bahkan melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi.

Dengan diselenggarakannya Yudisium Ke-1 ini, Fakultas Agama Islam UNUSIDA resmi menorehkan sejarah baru. Ia berharap para lulusan dapat membawa nama baik almamater sekaligus berperan aktif dalam mencetak generasi yang berilmu, berakhlak, dan berdaya guna bagi bangsa dan agama.

“Syukur-syukur jika ada yang melanjutkan ke S2. Semoga gelar ini menjadi langkah awal untuk membawa citra kampus tercinta dan menjadikan kalian insan-insan mulia di masyarakat,” pungkasnya. (MY)

Festival PIAUD UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Festival PIAUD UNUSIDA, Semarak Kreativitas Mahasiswa dan Anak Usia Dini

Himpunan Mahasiswa Program Studi (Hima Prodi) Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses menggelar Festival PIAUD (FESPIDA) untuk kedua kalinya atau Vol 2. Kegiatan ini mengusung tema ‘Semarak Inspirasi, Semangat Generasi: Menyalakan Cahaya Karya, Menyatukan Semangat Generasi Muda dalam Harmoni, Aksi, Inovasi, dan Ekspresi’ yang dipusatkan di Hall Lantai 3 Kampus 2 UNUSIDA, Selasa (8/7/2025).

Festival ini menjadi momentum istimewa yang mempertemukan semangat mahasiswa dan keceriaan anak-anak usia dini dalam sebuah wadah edukatif dan ekspresif. Berbagai lomba digelar, mulai dari lomba menari hingga lomba mewarnai, yang melibatkan anak-anak sebagai peserta utama. Tak hanya itu, mahasiswa PIAUD juga turut tampil menawan dalam sejumlah pertunjukan dan aktivitas sebagai bagian dari penilaian Ujian Akhir Semester (UAS) mereka.

Kaprodi PIAUD, Rifatul Anita, menyampaikan bahwa FESPIDA bukan hanya ajang seni dan kreativitas, tetapi juga menjadi ruang strategis bagi mahasiswa untuk mengekspresikan potensi yang dimiliki. Menurutnya, selain materi yang di dapatkan saat pembelajaran, mahasiswa juga layak diberikan kesempatan untuk unjuk gigi menampilkan hasil belajarnya selama ini.

“Festival ini menjadi wadah untuk kreativitas mahasiswa, sekaligus menjadi nilai plus bagi UNUSIDA. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana promosi untuk memperkenalkan PIAUD UNUSIDA ke masyarakat luas,” ujarnya.

Ia berharap, dengan semangat dan dukungan semua pihak, FESPIDA diharapkan dapat menjadi agenda tahunan yang terus memperkuat eksistensi PIAUD UNUSIDA di tengah masyarakat. Sebab kegiatan ini juga sebagai sarana promosi kami untuk mempromosikan program studi PIAUD ini ke masyarakat luas.

“Acara ini menjadi wujud komitmen mahasiswa untuk berkontribusi nyata dalam pendidikan anak usia dini. Setiap penampilan mahasiswa mencerminkan pemahaman mendalam mereka terhadap dunia anak-anak, serta menunjukkan kesiapan mereka menjadi pendidik profesional yang penuh dedikasi dan cinta,” jelasnya.

Dengan mengusung semangat #BahagiaPenuhCinta, kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati hari lahir ke-4 Program Studi PIAUD sekaligus menyemarakkan Harlah ke-11 UNUSIDA yang berlangsung meriah.

Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) UNUSIDA, Feri Kuswanto, menegaskan pentingnya peran guru PIAUD dalam pendidikan seorang anak sejak usia dini. Ia menjelaskan guru PIAUD adalah orang yang mengajar dari ruang pertama bagi seorang anak. Pelajaran pertama seorang anak didapatkan dari melihat menirukan mendengar di sekelilingnya, hal tersebut yang menjadi tugas dari guru PAUD.

“Seorang guru PIAUD adalah pengajar pertama dalam kehidupan anak. Mereka membentuk dasar pendidikan dari ruang pertama. Tidak semua guru mampu bersabar dan telaten seperti guru PAUD,” ungkapnya.

FERPIDA Vol. 2 ini tak hanya menjadi ajang lomba dan hiburan, namun juga menjadi langkah nyata dalam menciptakan ruang edukatif yang penuh cinta, semangat, dan inspirasi. Melalui kegiatan ini, UNUSIDA kembali menegaskan visinya untuk mencetak generasi pendidik yang unggul, berkarakter, dan mampu membawa perubahan positif sejak usia dini.

Lebih lanjut, Feri menyatakan bahwa pihaknya berkomitmen untuk membentuk calon guru-guru PIAUD yang berkompeten dan profesional. Melalui inovasi dari mahasiswa dengan kegiatan sosial akan membuat PIAUD UNUSIDA ke jenjang yang lebih bagus dan memiliki daya tarik tersendiri sehingga menjadi Program Studi favorit di Sidoarjo

“Jangan pernah kecil hati mengambil jurusan PIAUD, percayalah nanti yang paling dikenal oleh siswa adalah guru yang pertama kali mengajarnya,” pungkasnya.

 

Penulis: Dinda Permata (MY)

FAI UNUSIDA Benchmarking dan Visiting Lecturer ke UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (Foto: Humas Unusida)

Tingkatkan Mutu Akademik, FAI UNUSIDA Gelar Benchmarking dan Visiting Lecturer ke UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) melaksanakan kegiatan Benchmarking and Visiting Lecturer ke akultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kegiatan ini dirangkai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU) dan Memorandum of Agreement (MOA) di kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang dihadiri oleh jajaran pimpinan dari kedua institusi, Rabu (11/6/2025).

Dekan FAI UNUSIDA Feri Kuswanto, S.Pd.I, M.Pd.I, menyampaikan bahwa kerja sama ini adalah bentuk nyata komitmen FAI UNUSIDA untuk terus bertransformasi dan bersaing di kancah nasional. Kerja sama ini mencakup peningkatkan kualitas kurikulum Outcome Based Education (OBE) di 2 Program Studi (Prodi) di FAI UNUSIDA. Yaitu Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD).

Selain itu, kerja sama juga meliputi penguatan kompetensi lulusan agar menjadi lulusan dengan kompetensi yang unggul, peningkatan kualitas dosen dan pengajaran, perbaikan manajemen dan tata kelola Prodi, penguatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, serta meningkatkan akreditasi dari baik menjadi unggul.

“Kami berharap kemitraan ini menjadi motor penggerak peningkatan mutu akademik dan kualitas lulusan PGMI yang siap menjawab tantangan dunia pendidikan di era revolusi industri 4.0 dan society 5.0,” harapnya.

Feri mengungkapkan tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kualitas akreditasi program studi, memperkuat kurikulum, mengelola jurnal ilmiah secara profesional, serta memperbaiki tata kelola kelembagaan melalui pembelajaran langsung dari program studi yang telah meraih predikat unggul.

Menurutnya, penguatan kemitraan dengan institusi ternama seperti UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta merupakan strategi yang tepat dalam membangun daya saing FAI UNUSIDA. Ia juga menegaskan pentingnya membangun budaya riset dan inovasi di kalangan dosen serta mahasiswa. Yang ke depannya dapat menghasilkan karya-karya akademik yang relevan dan berdampak nyata di masyarakat.

Kerja sama ini diharapkan memberikan sejumlah output strategis bagi kedua belah pihak. Di antaranya adalah peningkatan kualitas publikasi ilmiah, penyelenggaraan program magang bersama, pengembangan kurikulum berbasis MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) serta terselenggaranya seminar dan workshop nasional secara berkala. Kolaborasi ini juga membuka peluang bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman belajar lintas kampus dan memperluas jejaring akademik.

“Melalui sinergi ini, kami ingin menciptakan atmosfer akademik yang terbuka dan kolaboratif. Ini juga menjadi bagian dari proses penguatan kapasitas kelembagaan dan SDM dosen yang berdaya saing,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof. Dr. Sigit Purnama, M.Pd, menegaskan bahwa penguatan kolaborasi antarprodi PGMI akan mendorong inovasi pembelajaran yang kontekstual dan berkelanjutan. Ia menjelaskan bahwa pihaknya menyambut baik inisiatif kerja sama ini karena sejalan dengan visi UIN Sunan Kalijaga dalam membangun jejaring keilmuan berbasis kolaborasi.

“Kerja sama ini merupakan langkah penting untuk membangun ekosistem pendidikan Islam yang saling mendukung dan berbasis keunggulan lokal maupun nasional. Kami percaya bahwa sinergi ini akan menghasilkan berbagai terobosan dalam pengembangan profesionalisme bagi kedua belah pihak. Baik melalui riset, pengabdian masyarakat, maupun penguatan literasi digital dalam pembelajaran,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Kaprodi PIAUD UNUSIDA Rif’atul Anita, S.Pd., M.Pd mengatakan, kegiatan ini menjadi momen penting dalam penguatan tata kelola akademik dan peningkatan mutu program studi, mengingat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta merupakan salah satu PTKIN dengan reputasi unggul dalam pengelolaan Prodi PIAUD dan PGMI.

Dari kunjungan tersebut, terdapat sejumlah aspek penting yang dapat dipelajari dan diadaptasi oleh UNUSIDA, antara lain strategi akreditasi unggul, pengembangan kurikulum OBE berbasis keislaman, penguatan manajemen jurnal berbasis Open Journal System (OJS), strategi pengembangan kreativitas mahasiswa melalui produk inovatif yang dapat diajukan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Kemudian yang selanjutnya, pola pembinaan kegiatan Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) intra kampus menjadi salah satu kunci dalam menumbuhkan karakter dan potensi kepemimpinan, skema kolaboratif antara dosen dan mahasiswa dalam kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi, serta aktif menjalin kerja sama dengan berbagai institusi untuk pengembangan pendidikan yang lebih luas dan berkualitas.

“Melalui hasil kunjungan ini, FAI UNUSIDA optimis akan mampu mendorong peningkatan mutu akademik Prodi secara signifikan menuju program studi yang unggul dan adaptif terhadap perkembangan zaman,” pungkasnya. (MY)