Pos

Mochamad Dafa Perdana, S.Pd., alumni Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UNUSIDA angkatan 2023 (Foto: Humas UNUSIDA)

Kisah Alumni PBI UNUSIDA: Dari Kampus, Tumbuh Menjadi Pendidik yang Menginspirasi

Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menorehkan kebanggaan melalui kiprah para alumninya yang terus berkarya dan memberikan kontribusi nyata di dunia pendidikan. Salah satunya adalah Mochamad Dafa Perdana, S.Pd., alumni Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UNUSIDA angkatan 2023 yang kini mengabdikan diri sebagai Guru Bahasa Inggris di SMA Pembangunan Jaya Sidoarjo.

Bagi Dafa, menempuh pendidikan di UNUSIDA bukan sekadar perjalanan akademik untuk memperoleh gelar sarjana. Lebih dari itu, kampus menjadi ruang pembelajaran yang membentuk karakter, integritas, dan profesionalisme yang kini menjadi bekal utama dalam menjalankan tugas sebagai pendidik.

“Menjadi alumni UNUSIDA, khususnya dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, merupakan pengalaman yang sangat bermakna. Saya tidak hanya dibekali dengan pengetahuan tentang bahasa dan pedagogi, tetapi juga nilai-nilai karakter yang kuat yang membentuk saya menjadi pendidik yang lebih siap dan berprinsip,” ungkapnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (26/5/2026).

Selama masa perkuliahan, Dafa mendapatkan berbagai pengalaman yang mendukung pengembangan kompetensinya sebagai calon guru. Mulai dari pembelajaran akademik, praktik mengajar, hingga pendampingan dosen yang memberikan wawasan dan pengalaman berharga dalam dunia pendidikan.

Menurutnya, UNUSIDA memiliki peran penting dalam membangun fondasi kariernya sebagai seorang pendidik. Melalui proses pembelajaran yang terintegrasi antara teori dan praktik, ia memperoleh keterampilan profesional, rasa percaya diri, serta etos kerja yang kuat untuk menghadapi tantangan dunia pendidikan yang terus berkembang.

“UNUSIDA has played an important role in building the foundation of my career as an English educator. Through academic learning, teaching practice, and lecturers’ guidance, I gained professional skills, confidence, and a strong work ethic that have greatly supported my career development,”

“UNUSIDA telah memainkan peran penting dalam membangun fondasi karier saya sebagai pendidik bahasa Inggris. Melalui pembelajaran akademis, praktik mengajar, dan bimbingan dosen, saya memperoleh keterampilan profesional, kepercayaan diri, dan etos kerja yang kuat yang sangat mendukung pengembangan karier saya,”,” tuturnya.

Kini, sebagai guru Bahasa Inggris, Dafa berkomitmen untuk terus menghadirkan pembelajaran yang inspiratif dan bermakna bagi para peserta didiknya. Ia percaya bahwa seorang guru tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi teladan dalam membangun karakter generasi muda.

“Alhamdulillah, bangga sekali pernah menempuh pendidikan di UNUSIDA yang selalu melahirkan lulusan yang kompeten, berkarakter, dan siap memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Semoga bisa terus menginspirasi dan membawa semangat perubahan bagi masa depan pendidikan Indonesia,” pungkasnya.

Mahasiswa Kelompok KKN dan PLP FKIP UNUSIDA di Sanggar Belajar Pantai Dalam Malaysia (Foto: Humas UNUSIDA)

Tumbuhkan Semangat Kartini: Mahasiswa UNUSIDA Padukan Karakter, Nasionalisme, dan Budaya di Sanggar Belajar Malaysia

KUALA LUMPUR — Semangat Hari Kartini menyeberangi batas negara dan menemukan wujud nyatanya di tengah aktivitas Sanggar Belajar Pantai Dalam Malaysia. Di ruang belajar sederhana itu, mahasiswa peserta program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Pengenalan Lingkungan Persekolahan (PLP) Internasional dari Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menginisiasi rangkaian kegiatan yang memadukan pendidikan karakter, nasionalisme, dan pelestarian budaya bagi anak-anak Indonesia di perantauan.

Kelompok KKN dan PLP Internasional Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNUSIDA tersebut terdiri dari M. Ainur Rofik, Muhammad Firman Firdaus, M. Adani Maulidan, dan Ahmad Isroki Kholilurrohman bersama dosen pembimbing lapangan, Wahyu Maulida Lestari, M.Pd.

Bagi M. Ainur Rofik, peringatan Kartini di luar negeri bukan sekadar seremonial. Ia memaknai Habis Gelap Terbitlah Terang sebagai simbol perjuangan melawan keterbatasan. Bukan hanya akses sekolah, tetapi keberanian untuk bermimpi dan berdaya meski jauh dari tanah air.

“Cahaya terang itu sudah ada, sudah menyinari ruang kelas di sanggar belajar ini. Namun, tugas kita bukan sekadar menikmati terangnya, melainkan menjadi penyambung cahaya tersebut,” ungkapnya di sela kegiatan, Jumat (24/4/2026).

Rangkaian program yang disusun meliputi upacara bendera untuk menumbuhkan jiwa nasionalis, seminar anti-bullying demi menciptakan lingkungan belajar yang aman, serta workshop membatik eco-print untuk mengenalkan kekayaan budaya Indonesia. Melalui seminar, ia ingin menghapus kegelapan berupa krisis empati dan tekanan sosial di kalangan siswa; melalui batik, ia mengajak mereka bangga pada identitas bangsanya.

Tantangan di lapangan terutama keragaman kemampuan belajar siswa menjadi pengingat bahwa terang adalah proses berkelanjutan. Baginya, menjadi guru bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi hadir sebagai teman, pendengar, dan pembimbing.

“Tidak ada yang langsung mahir menjadi guru. Murid akan tumbuh, begitu juga dengan dirimu,” tambahnya.

Menurutnya, pengalaman KKN dan PLP Internasional ini, sangat relevan dengan teori yang dipelajari di bangku kuliah seperti Manajemen Pendidikan dan Bimbingan Konseling, yang kini dipraktikkan sebagai bentuk nyata pengabdian.

Ia berharap langkah kecil yang dilakukan dapat memicu para siswa menjadi kartini-kartini kecil yang berani bermimpi dan berusaha meraih cita-cita. Sekecil apa pun jejak kebaikan, diyakininya, adalah bagian dari upaya memastikan cahaya pendidikan Indonesia terus berpendar hingga ke sudut-sudut terjauh.

“Menjadi perempuan adalah fitrah, tetapi menjadi tangguh dan mandiri adalah pilihan. Mari terus menyalakan cahaya bagi masa depan generasi penerus bangsa,” pungkasnya.

LKMM-TD FKIP UNUSIDA 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

LKMM-TD FKIP UNUSIDA 2026: Sinergi Manajemen Diri dan Organisasi Hadapi Tantangan Global

SIDOARJO — Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menyelenggarakan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Dasar (LKMM-TD) 2026 dengan mengusung tema ‘Sinergi Manajemen Diri dan Organisasi Menghadapi Tantangan Global (SIGMA) yang dilaksanakan di Hall Kampus 2 UNUSIDA dan Villa Asia Jaya, Pecet, Mojokerto pada Rabu–Kamis (21–23/4/2026). Kegiatan ini bertepatan dengan momentum Hari Kartini, sebagai pengingat bahwa semangat emansipasi pendidikan harus diwujudkan melalui kapasitas diri, karakter, dan kepemimpinan mahasiswa.

Ketua Pelaksana Wahyu Maulida Lestari, M.Pd., melaporkan bahwa LKMM-TD tahun ini diikuti 157 peserta dari angkatan 2023–2025, dengan rincian 136 mahasiswa PGSD dan 21 mahasiswa PBI. Ia menegaskan, program ini dirancang untuk membekali mahasiswa dengan manajemen diri, manajemen waktu, dan manajemen konflik sebagai fondasi kepemimpinan.

“Semoga tidak hanya digaungkan slogan Ibu Kartini. Mari bersama menyongsong FKIP yang gemilang. Kita membutuhkan sinergi kuat mahasiswa untuk mampu memanajemen diri, waktu, dan konflik. Tanpa kalian, FKIP sulit memancarkan gemilangnya,” ujarnya.

Melalui tema SIGMA, ia menekankan bahwa momentum LKMM-TD menjadi ruang strategis untuk menyatukan kesadaran personal dan kecakapan organisasi dalam menghadapi tantangan global. Harapannya, lahir calon guru yang tidak hanya cakap mengajar, tetapi juga kuat karakter, matang kepemimpinan, dan siap memberi dampak nyata bagi kampus, masyarakat, dan dunia pendidikan.

“LKMM-TD ini diharapkan tidak berhenti di forum, tetapi diaplikasikan dalam kehidupan akademik dan organisasi,” tandasnya.

Dekan FKIP UNUSIDA Muawwinatul Laili, S.S., M.Pd., menekankan bahwa mahasiswa calon pendidik tidak hanya dituntut profesional dan kompeten, tetapi juga harus menjadi agen perubahan yang kritis, inovatif, dan solutif di tengah masyarakat.

“Tunjukkan karakter baik dalam hal-hal kecil, seperti adab saat pembacaan ayat suci Al-Qur’an pada pembukaan. Ikuti kegiatan ini dengan tanggung jawab. Harga diri dijaga, kesehatan dijaga, dan patuhi aturan panitia. Tanggung jawab ada pada diri kalian sendiri,” pesannya.

Sementara itu, Plt Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., mengaitkan semangat Kartini dengan peran mahasiswa FKIP sebagai calon pemimpin pendidikan masa depan.

“Mahasiswa FKIP harus menjadi pimpinan tertinggi suatu hari. Jangan minder, jadikan momen ini latihan untuk menjadi lebih baik. Pertahankan prestasi, terus berkembang, dan niatkan mencari ilmu yang bermanfaat,” tuturnya.

FKIP Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo Berangkatkan 19 Mahasiswa KKN–PLP Internasional ke Malaysia (Foto: Humas UNUSIDA)

FKIP UNUSIDA Berangkatkan 19 Mahasiswa KKN–PLP Internasional ke Malaysia

SIDOARJO – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) secara resmi memberangkatkan 19 mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) Internasional ke Malaysia pada Selasa (31/3/2026). Program ini akan berlangsung mulai 2 April hingga 29 April 2026 di sejumlah sanggar bimbingan dan satuan pendidikan mitra di wilayah Kuala Lumpur dan sekitarnya.

Dekan FKIP UNUSIDA, Muawwinatul Laili, M.Pd., menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kualitas mahasiswa melalui pengalaman pembelajaran berbasis internasional. Menurutnya, kegiatan ini memberikan banyak manfaat strategis bagi mahasiswa, baik dari sisi akademik maupun pengalaman lapangan.

“Mahasiswa akan mendapatkan konversi akademik hingga 20 SKS, dengan maksimal 12 SKS berasal dari mata kuliah. Selain itu, mereka juga memperoleh sertifikat kegiatan internasional yang menjadi nilai tambah penting dalam dunia kerja,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keikutsertaan dalam program ini akan memberikan pengalaman berbeda dibandingkan mahasiswa lainnya, terutama dalam hal adaptasi budaya, komunikasi global, serta praktik pendidikan di lingkungan internasional.

Program KKN dan PLP internasional ini akan dilaksanakan di beberapa sekolah mitra di wilayah Kuala Lumpur. FKIP UNUSIDA telah menjalin komunikasi dan kerja sama dengan pihak sekolah serta institusi setempat, sehingga pelaksanaan kegiatan dipastikan berjalan dengan baik dan terstruktur.

Mahasiswa akan didampingi oleh dosen pembimbing lapangan (DPL) serta tim pendamping selama kegiatan berlangsung. Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa akan ditempatkan di berbagai sekolah dengan sistem pembagian kelompok. Setiap lokasi telah disiapkan fasilitas penunjang, termasuk tempat tinggal dan kebutuhan dasar mahasiswa.

“Alhamdulillah, lokasi kegiatan sudah siap dan beberapa institusi di Malaysia juga sudah berpengalaman menerima mahasiswa dari Indonesia untuk program serupa,” tambahnya.

Ia juga mengingatkan kepada mahasiswa untuk menjaga komunikasi yang baik dengan orang tua serta menjaga nama baik institusi selama berada di luar negeri.

Selain kegiatan akademik dan pengabdian, mahasiswa juga akan mendapatkan kesempatan mengenal lingkungan sekitar sebagai bagian dari pembelajaran budaya dan sosial. Program ini dijadwalkan berakhir pada tanggal 28–29 April 2026 mendatang, dengan kepulangan mahasiswa ke Indonesia setelah menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan.

“Melalui program ini, kami berkomitmen untuk mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki wawasan global, kemampuan adaptasi, serta kesiapan menghadapi tantangan di dunia internasional,” ungkapnya.

Daftar Mahasiswa & Penempatan KKN–PLP Internasional Malaysia

No Nama Prodi Penempatan
1 Azzawiyatul Annajiyah PBI Sanggar Bimbingan An Nahdlo
2 Afifah Rochmadin PBI Sanggar Bimbingan An Nahdlo
3 Fahira Nur Ramadhania PGSD Sanggar Bimbingan An Nahdlo
4 Luthfiyah Rahmah Ahmadiy PBI Sanggar Bimbingan Sentul
5 Alycia Agnie Aryane Putri PGSD Sanggar Bimbingan Sentul
6 Ariandin Nur Yasidh PBI Sanggar Bimbingan Segambut
7 Hanifah PBI Sanggar Bimbingan Segambut
8 Muhammad Adani Maulidan PBI Sanggar Bimbingan Pantai Dalam
9 Ahmad Isrofi Kholilurrohman PGSD Sanggar Bimbingan Pantai Dalam
10 M. Anwar Rofik PGSD Sanggar Bimbingan Pantai Dalam
11 Muhammad Firman Firdaus PGSD Sanggar Bimbingan Pantai Dalam
12 Nuril Safra Rahayu PBI Sanggar Bimbingan Ampang
13 Yesi Alviyanti PBI Sanggar Bimbingan Ampang
14 Lailatul Rahma Agustina PGSD Sanggar Bimbingan Ampang
15 Ken Izun Nadlifah PBI Sanggar Bimbingan Pandan Jaya
16 Aula Fadhi Olivia PGSD Sanggar Bimbingan Pandan Jaya
17 Azlin Azha PBI Sanggar Bimbingan At-Tanzil
18 Nur Thazim M. PGSD Sanggar Bimbingan At-Tanzil
19 Durrotun Naliyah Putri Al Arifani PGSD Sanggar Bimbingan At-Tanzil

Lebih lanjut, Plt. Rektor UNUSIDA Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., mengingatkan agar seluruh mahasiswa menyusun perencanaan kegiatan dengan baik sejak awal keberangkatan. Setiap aktivitas yang dilakukan selama di luar negeri diharapkan terdokumentasi secara sistematis.

Ia juga menyoroti bahwa pengalaman belajar di luar negeri harus mampu meningkatkan kemampuan komunikasi, keberanian, serta kesiapan mahasiswa dalam menghadapi tantangan global. Mahasiswa juga diminta untuk mencatat rencana dan aktivitas harian dalam bentuk laporan atau buku kegiatan sebagai bentuk akuntabilitas kepada kampus dan orang tua.

“Semua kegiatan harus terencana dan terdokumentasi dengan baik, sehingga orang tua juga dapat memantau perkembangan aktivitas mahasiswa selama di luar negeri,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia turut memberikan motivasi kepada mahasiswa agar tetap menjaga sikap, etika, serta nama baik institusi selama berada di Malaysia.

“Selamat berjuang. Tunjukkan bahwa mahasiswa UNUSIDA mampu bersaing, beradaptasi, dan memberikan kontribusi nyata di lingkungan internasional,” pesannya.

Mahasiswa PBI UNUSIDA Dibekali Pelatihan Table Manner Course di Hotel Aston Sidoarjo (Foto: Humas UNUSIDA)

Mahasiswa PBI UNUSIDA Dibekali Pelatihan Table Manner untuk Penguatan Soft Skill

SIDOARJO – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) mendapatkan pembekalan soft skill melalui kegiatan Pelatihan Table Manner Course yang diselenggarakan sebagai bagian dari penguatan kompetensi non-akademik mahasiswa. Kegiatan ini didampingi langsung oleh dosen PBI UNUSIDA, Masyitah Noviyanti, S.Pd., M.Pd., dan dilaksanakan bekerja sama dengan Hotel Aston Sidoarjo, Rabu (7/1/2026).

Kepala Bagian Kerja Sama Internasional UNUSIDA tersebut, menyebut kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan level soft skill mahasiswa, terutama dalam aspek pengembangan diri (self-development) dan pembentukan karakter sosial. Menurutnya, table manner bukan sekadar tentang cara makan, tetapi juga berkaitan erat dengan pembentukan sikap, etika, dan tata krama dalam kehidupan sosial.

Ia menjelaskan bahwa pelatihan table manner ini dirancang untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai etika makan dan tata krama formal yang selama ini belum menjadi budaya sehari-hari di lingkungan mahasiswa. Kemampuan tersebut dinilai penting sebagai bekal profesional, khususnya bagi mahasiswa PBI yang nantinya akan berhadapan dengan dunia kerja, relasi internasional, maupun lingkungan akademik global.

“Kami terus berkomitmen dalam membekali mahasiswa tidak hanya dengan kemampuan akademik dan bahasa, tetapi juga dengan soft skill dan etika profesional. Salah satunya melalui pelatihan table manner ini yang diharapkan mampu mendukung mata kuliah dalam pembentukan karakter mahasiswa yang berwawasan global, beretika, dan siap bersaing di dunia kerja,” jelasnya.

Ia menuturkan bahwa etika makan menjadi titik awal pembelajaran adab karena dari sanalah nilai-nilai kesopanan, kedisiplinan, dan penghormatan terhadap orang lain dapat dibentuk. Melalui pelatihan ini, ia berharap mahasiswa dapat memiliki gambaran dan pemahaman yang lebih luas tentang pentingnya manner, khususnya dalam konteks profesional dan sosial.

“Alhamdulillah, terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memfasilitasi kegiatan tersebut, semoga pengalaman ini dapat menjadi bekal berharga bagi mahasiswa di masa depan,” ungkapnya.

Selain mengikuti pelatihan selama kurang lebih tiga hingga empat jam, mahasiswa juga diberikan tugas untuk membuat review kegiatan. Tugas tersebut berisi refleksi berupa kesan, pesan, serta pengalaman yang diperoleh selama mengikuti table manner course, sebagai bagian dari proses pembelajaran dan evaluasi.

Sementara itu, Food and Beverage Manager Hotel Aston Sidoarjo, Ivan Andriansyah, sangat menyambut baik akan kepercayaan kepada Hotel Aston sebagai tempat belajar bagi mahasiswa PBI UNUSIDA. Menurutnya, pelatihan ini merupakan kesempatan yang sangat baik bagi mahasiswa untuk memahami dasar-dasar table manner secara benar, mulai dari penataan meja, cara berbicara, etika makan, hingga sopan santun yang berlaku dalam dunia perhotelan dan pelayanan.

Ia juga menekankan bahwa mahasiswa tidak perlu ragu untuk bertanya selama pelatihan berlangsung, karena seluruh materi akan dijelaskan secara rinci oleh instruktur. Sebab, output kegiatan ini adalah mahasiswa mampu mengenali fungsi peralatan makan dan menu yang disajikan sebagai bagian dari pemahaman praktis table manner.

“Terima kasih dan selamat belajar kepada seluruh mahasiswa UNUSIDA. Silahkan explore ilmu sebanyak-banyaknya untuk bekal yang bermanfaat nantinya,” pungkasnya.

Dinda Adinda, S.Pd. - Alumni PBI UNUSIDA (Foto: HEC 1 Pare)

Kisah Sukses Dinda Adinda Membangun Ekosistem Bahasa Inggris, Menembus Batas dengan Literasi

Pendidikan bukan sekadar tentang gelar akademik, melainkan bagaimana ilmu yang diperoleh mampu ditransformasikan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat. Prinsip inilah yang dibuktikan oleh Dinda Adinda, S.Pd., alumni inspiratif Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA).

Kini, Dinda dikenal sebagai pendidik yang inspiratif, seorang pengajar muda di bidang pendidikan bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare, Kediri, yang dikenal sebagai terbesar di Indonesia.

Dinda merupakan pengajar aktif Happy English Course (HEC) 1 Pare sekaligus Owner di Samudra Course. Kiprahnya di dunia pendidikan nonformal menjadi bukti bahwa lulusan PBI UNUSIDA memiliki daya saing tinggi, tidak hanya sebagai tenaga pendidik, tetapi juga sebagai edupreneur yang mampu menciptakan lapangan kerja dan menghadirkan inovasi pembelajaran yang adaptif.

Dari Ruang Kelas Menuju Kemandirian Ekonomi
Perjalanan Dinda bermula dari kecintaannya terhadap dunia pendidikan dan metodologi pengajaran yang ia pelajari selama menempuh studi di UNUSIDA. Ia menyadari bahwa penguasaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, merupakan kunci strategis untuk membuka peluang global.

“Ilmu yang saya dapatkan di Prodi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UNUSIDA sangat komprehensif. Tidak hanya tentang grammar dan keterampilan bahasa, tetapi juga bagaimana membangun kepercayaan diri siswa serta mengelola lembaga pendidikan secara profesional,” ungkap Dinda.

Sebagai pemilik Samudra Course, Dinda bertanggung jawab penuh atas manajemen lembaga, pengembangan kurikulum, hingga strategi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan zaman. Di sisi lain, perannya sebagai pengajar di HEC 1 Pare menunjukkan komitmennya untuk tetap hadir langsung di ruang-ruang belajar, menyapa dan membimbing para peserta didik.

Menjaga Integritas dan Semangat Santri
Berkarier di Pare yang dikenal memiliki persaingan lembaga kursus sangat ketat tentu bukan perkara mudah. Namun, Dinda membawa nilai-nilai khas yang ia peroleh selama menempuh pendidikan di UNUSIDA, kerja keras, integritas, dan spiritualitas.

Ia meyakini bahwa pengajaran bahasa Inggris tidak boleh sekadar berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga harus mengedepankan pendekatan humanis dan pembentukan karakter.

“PBI UNUSIDA membekali kami dengan pandangan filosofis bahwa mengajar adalah bagian dari pengabdian. Di Pare, saya tidak hanya melayani dalam pendidikan, tetapi membangun komunitas belajar. Semangat Reach Your Dream Through the Galaxy yang sering digaungkan prodi benar-benar memacu saya untuk bermimpi setinggi mungkin, namun tetap membumi dalam pelayanan,” tuturnya.

Lebih lanjut, Dinda yang juga gemar menulis novel tersebut, berpesan kepada mahasiswa PBI UNUSIDA agar tidak membatasi mimpi hanya pada profesi guru di sekolah formal. Menurutnya, peluang di dunia edupreneurship sangat terbuka lebar, terutama bagi generasi muda yang berani berinovasi.

“Kemampuan bahasa Inggris yang kuat, jika dipadukan dengan keterampilan manajemen dan kreativitas, akan menjadi kombinasi yang sangat kompetitif di dunia kerja,” pesannya.

Keberhasilannya ini menjadi bukti nyata bahwa UNUSIDA mampu mencetak lulusan yang mandiri, adaptif, dan siap menjadi pemimpin di bidangnya. Kisah ini menjadi pengingat bahwa dengan ilmu yang bermanfaat, integritas, dan tekad yang kuat, alumni UNUSIDA mampu menembus batas kemungkinan dan menginspirasi generasi selanjutnya untuk terus bergerak maju.

FKIP UNUSIDA Gelar Workshop Proyek Independen Volume 2 (Foto: Humas UNUSIDA)

FKIP UNUSIDA Gelar Workshop Proyek Independen Volume 2, Kupas Tuntas Kajian Teori dan Referensi

SIDOARJO – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menggelar Workshop Proyek Independen Volume 2 dengan fokus pembahasan penulisan kajian teori dan pengelolaan referensi, Selasa (23/12/2025).

Workshop ini menghadirkan dua narasumber, Machfudzil Asror, S.Pd.I., M.Pd., dan Achmad Wahyudi, S.Pd.I., M.Pd., yang membekali mahasiswa dengan pemahaman mendalam mengenai pentingnya kajian teori sebagai fondasi penelitian serta pengelolaan referensi ilmiah yang sistematis dan akuntabel.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa didorong untuk tidak hanya menulis secara teknis, tetapi juga mampu membangun kerangka berpikir ilmiah yang kuat dan relevan dengan topik penelitian. Penggunaan aplikasi manajemen referensi seperti Mendeley turut menjadi bagian penting dalam workshop guna meningkatkan kualitas dan etika penulisan karya ilmiah.

Achmad Wahyudi, S.Pd.I., M.Pd., dalam materinya menekankan bahwa kajian teori merupakan fondasi utama dalam sebuah penelitian. Menurutnya, kajian teori tidak sekadar rangkuman pendapat para ahli, tetapi menjadi pijakan konseptual yang menentukan arah, kedalaman, dan ketajaman analisis penelitian.

Ia menjelaskan bahwa kajian teori yang kuat akan membantu peneliti memahami posisi penelitiannya di antara penelitian-penelitian sebelumnya, sekaligus memperjelas konsep, variabel, dan kerangka berpikir yang digunakan. Tanpa kajian teori yang memadai, sebuah penelitian berisiko kehilangan fokus dan kekuatan akademiknya.

Selain itu, Achmad Wahyudi juga membekali mahasiswa dengan pemahaman tentang pentingnya pengelolaan referensi ilmiah secara sistematis dan akuntabel. Ia menegaskan bahwa ketertiban dalam mencatat, mengelola, dan menyajikan sumber rujukan merupakan bagian dari etika akademik dan tanggung jawab ilmiah peneliti.

Melalui pemanfaatan aplikasi manajemen referensi, mahasiswa diarahkan untuk menulis secara lebih terstruktur, menghindari plagiarisme, serta memastikan setiap gagasan yang disampaikan memiliki dasar rujukan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, karya ilmiah yang dihasilkan tidak hanya memenuhi kaidah metodologis, tetapi juga menjunjung tinggi integritas akademik.

Workshop Proyek Independen Vol. 2 menjadi wujud komitmen FKIP UNUSIDA dalam mendampingi mahasiswa agar siap menghadapi tantangan akademik, riset, dan publikasi ilmiah. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya berkelanjutan FKIP UNUSIDA dalam menciptakan iklim akademik yang produktif, kritis, dan berdaya saing.

Para Pemenang English Festival Hima PBI UNUSIDA Tingkat SMA/Sederajat se-Jawa Timur (Foto: Humas UNUSIDA)

Hima PBI UNUSIDA Sukses Gelar English Festival 2025 Tingkat SMA/Sederajat se-Jawa Timur

SIDOARJO – Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris (Hima PBI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses melalui penyelenggaraan English Festival 2025. Acara tahunan yang digelar di Gedung PCNU Sidoarjo ini diikuti puluhan pelajar SMA/sederajat dari berbagai daerah di Jawa Timur, Selasa (6/8/2025).

Tahun ini, English Festival menghadirkan empat cabang lomba bergengsi: Singing Competition, Speech Contest, News Anchor Competition,dan Story Telling Contest. Setiap cabang dirancang untuk mengasah keterampilan berbahasa Inggris peserta, sekaligus menguji kreativitas, kepercayaan diri, dan kemampuan tampil di depan publik.

Acara dibuka secara resmi oleh Dekan FKIP UNUSIDA, Muawwinatul Laili, S.S., M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya kegiatan seperti ini sebagai wadah pengembangan diri generasi muda.

English Festival bukan hanya lomba, tetapi ajang untuk mengasah kemampuan bahasa Inggris, membangun rasa percaya diri, dan membentuk generasi yang siap bersaing di era global,” ujarnya.

Sepanjang kompetisi, peserta menunjukkan performa terbaik mereka. Ada yang memukau dengan kepiawaian berbicara di depan umum, membawakan berita layaknya jurnalis profesional, menjiwai cerita dengan penuh ekspresi, hingga menampilkan vokal yang memikat.

Adapun lomba kali ini menghadirkan dewan juri terdiri dari dosen PBI UNUSIDA dan alumni yang berkiprah di bidang bahasa Inggris. Penilaian dilakukan secara profesional berdasarkan penguasaan bahasa, teknik penyampaian, kreativitas, dan orisinalitas ide.

Puncak acara ditandai dengan pengumuman pemenang di setiap cabang lomba. Para juara menerima penghargaan secara langsung di hadapan peserta, panitia, dan tamu undangan, sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras dan persiapan mereka.

Sementara itu, Ketua panitia, Afifatur Rachmadina menyampaikan harapannya agar English Festival dapat menjadi agenda yang terus berkembang. Dengan antusiasme peserta dan dukungan penuh dari civitas akademika UNUSIDA, English Festival 2025 menjadi bukti komitmen Hima PBI dalam mencetak generasi muda yang unggul, berprestasi, dan berwawasan global.

Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang lomba, tetapi juga membangun jaringan dan kerja sama antar sekolah di Jawa Timur, serta memotivasi siswa untuk terus belajar dan percaya diri menggunakan bahasa Inggris,” tuturnya.

Penulis: Ken Izzun (MY)

Flyer Dosen UNUSIDA Raih Pendanaan Program Pengabdian Masyarakat BiMA 2025 (Foto: Humas UNUSIDA)

Dosen UNUSIDA Raih Pendanaan Program Pengabdian Masyarakat BiMA 2025: Dorong Inovasi Pembelajaran Bahasa Inggris Berbasis AI di Pesantren

Sidoarjo – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh sivitas akademika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Kali ini, dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNUSIDA, Ryan Purnomo, S.Pd., M.Pd. selaku ketua tim bersama Mohammad Setyo Wardono, S.Pd., M.Pd. sebagai anggota, berhasil meraih Pendanaan Program Pengabdian Masyarakat Batch II Tahun Anggaran 2025 dari Direktorat Belmawa, Ditjen Diktiristek (BiMA), Kemdikbudristek RI.

Dalam program ini, keduanya mengusung judul pengabdian bertema inovasi pendidikan berteknologi, dengan judul ‘Pemanfaatan Aplikasi ELSA Interaktif untuk Pembelajaran Speaking secara Aktif di Pondok Pesantren Baitul Qur’an Krembung – Sidoarjo’.

Menurut Ryan Purnomo, program ini merupakan bentuk respon terhadap tantangan digitalisasi pembelajaran di lingkungan pesantren, khususnya dalam penguasaan Bahasa Inggris secara lisan (speaking skill).

“Masih banyak pesantren yang tertinggal dalam pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI), padahal teknologi ini bisa menjadi solusi efektif untuk pengajaran yang lebih interaktif dan kontekstual,” ujarnya.

Melalui aplikasi English Language Speech Assistant (ELSA) yang berbasis AI, santri Pondok Pesantren Baitul Qur’an diberikan akses untuk belajar speaking secara mandiri, terarah, dan menyenangkan. Ryan menjelaskan bahwa aplikasi ini memungkinkan santri untuk melatih pengucapan Bahasa Inggris secara akurat dengan fitur repetisi (repetition), feedback otomatis, dan permainan edukatif.

“Dengan pendekatan ini, santri bisa berlatih berbicara, menerima koreksi langsung, dan belajar lewat game yang menarik, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih hidup,” tambahnya.

Strategi Pelaksanaan Program: Dari Sosialisasi Hingga Integrasi

Secara teknis, pengabdian ini diawali dengan pengenalan aplikasi kepada para santri dan guru, dilanjutkan dengan pelatihan integratif antara teori dan praktik berbicara menggunakan ELSA. Prosesnya mencakup tiga tahap utama, mulai dari pengenalan dan demonstrasi aplikasi, latihan praktik speaking dengan pendampingan, serta evaluasi dan penguatan pemahaman melalui kuis dan game berbasis aplikasi.

Namun, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah keterbatasan perangkat digital di lingkungan pondok. Akan tetapi ia tidak kehabisan ide, yaitu dengan membuat server terpusat yang dapat dimanfaatkan oleh semua santri dan guru.

“Fasilitas di pesantren memang belum maksimal. Tapi kami menyiasatinya dengan memanfaatkan satu server terpusat yang dapat digunakan secara bergantian oleh beberapa santri,” jelas Ryan.

Kendati demikian, respon pihak pondok sangat positif dan antusias. Pengurus dan guru sangat mendukung kegiatan ini karena dirasa membawa angin segar dalam metode pengajaran. Bahkan, menurut Ryan, hal ini bisa menjadi pemicu perubahan paradigma dari pesantren tradisional menuju pesantren modern berbasis IT.

“Kami berharap pengabdian ini dapat menjadi langkah awal menjadikan Pesantren Baitul Qur’an sebagai salah satu pilot project pesantren berbasis teknologi dan AI di Sidoarjo,” tuturnya.

Dukungan, Kolaborasi, dan Harapan ke Depan

Kegiatan ini tidak hanya memberikan dampak kepada santri, tetapi juga memotivasi para pengajar dalam mengembangkan model pengajaran bahasa yang lebih kontekstual dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

“Melalui kolaborasi kampus dan pesantren, kami ingin menunjukkan bahwa inovasi digital juga bisa menyentuh dunia pesantren, tidak hanya terbatas di ruang-ruang kelas formal,” jelas Ryan.

Sebagai bagian dari komitmen jangka panjang, Ryan dan tim berharap kerja sama ini dapat terus dikembangkan baik melalui program pengabdian lanjutan, pelatihan guru, maupun pengembangan kurikulum pesantren berbasis teknologi.

“UNUSIDA dan Pesantren Baitul Qur’an bisa saling menguatkan, baik dalam program akademis maupun non-akademis. Harapannya, sinergi ini bisa menjadi inspirasi bagi kampus dan pesantren lain di seluruh Indonesia untuk berinovasi dalam pengajaran berbasis AI,” pungkasnya. (MY)