Menggugah Kesadaran! Mahasiswa UNUSIDA Dorong Gerakan Kampus Lestari 1

Menggugah Kesadaran! Mahasiswa UNUSIDA Dorong Gerakan Kampus Lestari

Oleh: Wazir Mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan UNUSIDA

Persoalan lingkungan hari ini sering kali dibicarakan dalam skala yang besar. Perubahan iklim, pencemaran udara, kerusakan hutan, hingga krisis air menjadi isu yang terus mendapat perhatian publik. Namun, di tengah berbagai diskusi tersebut, ada satu persoalan mendasar yang terkadang luput dari perhatian kita, yaitu kesadaran manusia terhadap lingkungan.

Kita sering mengetahui bahwa menjaga lingkungan merupakan hal penting, tetapi belum tentu menjadikannya sebagai kebiasaan. Membuang sampah sembarangan, menggunakan kemasan sekali pakai secara berlebihan, atau mengabaikan penggunaan air dan energi masih dianggap sebagai persoalan sepele. Padahal, ketika perilaku tersebut dilakukan secara berulang oleh banyak orang, dampaknya dapat berkembang menjadi persoalan lingkungan yang jauh lebih besar.

Karena itu, tantangan lingkungan bukan semata-mata terletak pada kurangnya pengetahuan, melainkan bagaimana pengetahuan tersebut tumbuh menjadi kesadaran dan tindakan nyata. Kepedulian lingkungan seharusnya tidak berhenti sebagai wacana, tetapi tercermin dalam cara kita menjalani kehidupan sehari-hari.

Dari Kesadaran Menuju Tindakan Nyata

Generasi muda, khususnya mahasiswa, memiliki posisi strategis dalam mendorong perubahan tersebut. Perguruan tinggi memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengakses ilmu pengetahuan, mengembangkan pemikiran kritis, serta memahami persoalan masyarakat melalui pendekatan yang lebih analitis. Kesempatan ini merupakan sebuah keistimewaan yang semestinya diiringi tanggung jawab sosial.

Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi kelompok yang mampu mengkritik keadaan. Mereka juga perlu mengambil bagian dalam mencari dan menerapkan solusi. Sebab, pengetahuan yang diperoleh di ruang kuliah akan memiliki makna lebih besar ketika mampu menjawab persoalan nyata di lingkungan sekitar.

Bagi mahasiswa Teknik Lingkungan, tanggung jawab tersebut semakin relevan. Ilmu mengenai pengelolaan sampah, pengendalian pencemaran, sanitasi, konservasi sumber daya air, dan pengelolaan lingkungan bukan sekadar materi perkuliahan. Semua itu merupakan bekal untuk memahami persoalan sekaligus merancang solusi yang dapat diterapkan.

Ketika melihat persoalan sampah di kampus, misalnya, mahasiswa dapat memulainya dengan mengidentifikasi sumber sampah, mengevaluasi sistem pengelolaannya, kemudian menyusun rekomendasi yang realistis. Langkah tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat menjadi awal perubahan apabila dilakukan secara konsisten dan melibatkan banyak pihak.

Bahkan, kesadaran lingkungan perlu diperluas hingga ke aktivitas digital. Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) dan layanan digital memberikan banyak kemudahan, tetapi infrastruktur di baliknya, termasuk pusat data, membutuhkan energi dan dalam banyak kasus juga air untuk sistem pendinginan. Hal ini bukan berarti teknologi harus dihindari, melainkan digunakan secara bijak sesuai kebutuhan dan dengan kesadaran terhadap jejak lingkungannya.

Baca juga:  Manifesto Teo-Ekologis Mahasiswa Teknik Lingkungan Melawan Kolonialisme Sampah

Lumpur Lapindo: Pengingat bahwa Kerusakan Lingkungan Menyangkut Kehidupan Manusia

Bagi saya, persoalan lingkungan bukan sekadar sesuatu yang dipelajari melalui buku, berita, atau diskusi akademik. Saya merupakan warga Porong dan salah satu orang yang terdampak Lumpur Lapindo. Rumah saya dahulu berada di Desa Jatirejo, salah satu desa yang terdampak peristiwa tersebut.

Pengalaman itu memberikan perspektif tersendiri tentang bagaimana persoalan lingkungan dapat mengubah kehidupan manusia secara mendalam. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik lingkungan, tetapi juga menyentuh tempat tinggal, kehidupan sosial, mata pencaharian, dan masa depan masyarakat.

Peristiwa tersebut mengajarkan bahwa dampak kerusakan lingkungan dapat berlangsung jauh lebih lama daripada perhatian publik terhadap peristiwanya. Ketika suatu persoalan tidak ditangani secara memadai, masyarakat terdampak dapat menghadapi konsekuensi berkepanjangan yang tidak mudah dipulihkan.

Tentu, persoalan lingkungan berskala besar memiliki kompleksitas tersendiri dan tidak dapat disederhanakan menjadi satu penyebab. Namun, pengalaman tersebut memperkuat pemahaman saya tentang pentingnya tanggung jawab, pencegahan, pengelolaan risiko, dan perlindungan terhadap masyarakat dalam setiap keputusan yang berpotensi memengaruhi lingkungan.

Pengalaman inilah yang menjadi salah satu alasan saya menekuni bidang Teknik Lingkungan. Saya ingin memahami persoalan lingkungan bukan hanya dari sisi dampaknya, tetapi juga dari sisi pencegahan, pengelolaan, dan solusi yang dapat dikembangkan.

Sebab, lingkungan bukan hanya tentang alam yang kita lihat, melainkan juga tentang kehidupan manusia yang bergantung padanya. Pembangunan semestinya tidak mengabaikan keselamatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan demi kepentingan jangka pendek.

UNUSIDA Lestari: Menjadikan Kampus sebagai Laboratorium Perubahan

Pengalaman dan pemahaman tersebut mendorong saya untuk menawarkan sebuah gagasan, yaitu “UNUSIDA Lestari: Kampus Tumbuh, Lingkungan Terjaga.” Gagasan ini berangkat dari pemikiran bahwa perguruan tinggi seharusnya tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga berupaya menerapkannya dalam kehidupan kampus.

Baca juga:  UNUSIDA Berhasil Raih Peringkat 405 Webometrics Juli 2026, Reputasi Digital Kampus Semakin Kuat

Sebagai perguruan tinggi yang memiliki Program Studi Teknik Lingkungan, Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) memiliki peluang untuk mengembangkan kampus sebagai ruang pembelajaran dan praktik pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Ada tiga langkah yang dapat menjadi bagian dari gagasan tersebut.

Pertama, membangun pengelolaan lingkungan kampus berbasis riset. Dosen dan mahasiswa dapat berkolaborasi memetakan kondisi pengelolaan sampah, penggunaan air dan energi, sanitasi, serta aspek lingkungan lainnya. Hasil kajian kemudian digunakan untuk menentukan prioritas perbaikan dan menyusun rekomendasi yang terukur.

Dengan pendekatan ini, kegiatan lingkungan tidak sekadar menjadi agenda seremonial. Setiap program memiliki dasar permasalahan yang jelas, target yang realistis, serta evaluasi untuk mengetahui efektivitas pelaksanaannya.

Kedua, mengembangkan ruang terbuka hijau dan vegetasi yang sesuai dengan kondisi kampus. Penataan ruang hijau dapat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kenyamanan lingkungan dan mendukung kualitas ruang terbuka. Apabila berdasarkan kajian lapangan ditemukan kebutuhan yang relevan, pengembangan vegetasi dan green buffer dapat dipertimbangkan untuk membantu mengurangi paparan debu pada kondisi tertentu.

Namun, upaya penghijauan perlu direncanakan berdasarkan karakteristik lokasi dan jenis vegetasi yang tepat. Penghijauan bukan pengganti pengendalian pencemaran dari sumbernya, melainkan salah satu upaya pendukung dalam pengelolaan lingkungan secara menyeluruh.

Ketiga, memperkuat kolaborasi lintas organisasi dan unit kampus. Gerakan UNUSIDA Lestari tidak seharusnya menjadi tanggung jawab Program Studi Teknik Lingkungan semata. Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan, UKM MAPANUSIDA, organisasi mahasiswa lainnya, dosen, serta unit terkait perlu dilibatkan sesuai peran dan kapasitas masing-masing.

Dukungan birokrasi dan kelembagaan juga menjadi faktor penting. Melalui kolaborasi dengan unit terkait, termasuk Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), hasil penelitian dosen dan mahasiswa dapat dikembangkan menjadi program pengabdian yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pelaksanaannya dapat dimulai melalui pemetaan kondisi lingkungan kampus, penentuan prioritas, penerapan program percontohan, serta evaluasi berkala. Dengan demikian, keberhasilan tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang diselenggarakan, tetapi juga dari perubahan yang dapat diamati dan dipertahankan.

Harapannya, UNUSIDA tidak hanya menjadi tempat mahasiswa mempelajari ilmu lingkungan, tetapi juga menjadi ruang untuk menguji gagasan, membangun kebiasaan baik, dan menghasilkan solusi yang dapat dikembangkan lebih luas.

Baca juga:  UNUSIDA Menjadi Ruang Kreativitas dan Pembentukan Karakter, Kisah Inspiratif Agung Arie Iswanto Alumni Fakultas Ekonomi Prodi Manajemen

Menjaga Lingkungan adalah Tanggung Jawab Antargenerasi

Pada akhirnya, persoalan lingkungan membawa kita pada pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang akan kita tinggalkan bagi generasi berikutnya?

Dalam kehidupan masyarakat, kita mengenal istilah mbabat alas, sebuah gambaran tentang perjuangan generasi terdahulu dalam membuka jalan bagi kehidupan generasi selanjutnya. Kita menikmati berbagai hasil dari upaya mereka. Namun, sudahkah kita memikirkan lingkungan seperti apa yang akan diwariskan kepada anak cucu kita?

Jangan sampai generasi mendatang kehilangan kesempatan menikmati udara bersih, air yang layak, pepohonan, dan ruang terbuka hanya karena kita mengabaikan tanggung jawab hari ini. Jangan pula sampai kerusakan yang sebenarnya dapat dicegah berubah menjadi beban yang harus mereka tanggung.

Kepedulian lingkungan bukan hanya kewajiban kita terhadap generasi yang hidup saat ini, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral kepada generasi yang belum lahir.

Meski demikian, besarnya persoalan lingkungan tidak seharusnya membuat kita merasa bahwa tindakan individu tidak berarti. Kita tidak perlu menunggu menjadi pejabat, peneliti, atau pemimpin organisasi untuk memulai perubahan. Membawa botol minum sendiri, mengurangi sampah sekali pakai, menggunakan energi secara bijak, dan menjaga kebersihan lingkungan merupakan langkah awal yang dapat dilakukan.

Langkah tersebut perlu dilanjutkan dengan kolaborasi, pengembangan pengetahuan, dan upaya membangun sistem yang memungkinkan kebiasaan baik bertahan dalam jangka panjang.

Bagi mahasiswa, keberanian untuk memulai harus berjalan beriringan dengan kesediaan untuk belajar, mengevaluasi, dan memperbaiki tindakan. Tidak semua gagasan akan langsung berhasil, tetapi setiap upaya yang dilakukan secara bertanggung jawab dapat menjadi bagian dari proses perubahan.

Kita mungkin tidak mampu mewariskan dunia yang sempurna kepada generasi berikutnya. Namun, kita memiliki pilihan untuk tidak mewariskan kerusakan yang sebenarnya dapat dicegah.

Karena itu, jangan tunggu bumi semakin rusak untuk mulai bergerak. Mari jadikan kepedulian sebagai tindakan, ilmu sebagai solusi, dan kampus sebagai ruang perubahan. Melalui UNUSIDA Lestari, kita dapat memulai langkah kecil hari ini demi lingkungan yang lebih baik bagi generasi mendatang.