Workshop Penyusunan Karya Ilmiah, Kerja Sama UNUSIDA, BRIN, dan DPR RI (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA Jalin Kerja Sama dengan BRIN dan DPR RI: Dorong Peningkatan Kapasitas Riset dan Inovasi Berbasis Karya Ilmiah

Sidoarjo – Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong budaya riset dan inovasi di lingkungan akademik. Hal tersebut dibuktikan dengan menjalin kerja sama strategis bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).

Proses penandatanganan kerja sama ini dirangkai dengan kegiatan Workshop Penyusunan Karya Ilmiah Peningkatan Kapasitas Pengguna Riset dan Inovasi untuk Masyarakat, di Hall Kampus 2 UNUSIDA, Lingkar Timur, Sidoarjo, Senin (4/8/2025). Workshop ini diikuti oleh puluhan  mahasiswa lintas program studi yang antusias mendalami strategi dan teknik penyusunan karya ilmiah yang kuat, aplikatif, dan berdampak nyata bagi masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor UNUSIDA, H Fatkul Anam memberikan dukungan penuh terhadap kolaborasi ini. Ia sangat mengapresiasi semangat riset yang terus ditunjukkan oleh seluruh sivitas akademika UNUSIDA. Menurutnya, kerja sama ini dapat difokuskan pada peningkatan kapasitas pengguna riset dan inovasi dalam menyusun karya ilmiah, baik di kalangan dosen maupun mahasiswa.

“Saya sangat mendukung kegiatan riset mahasiswa dan dosen UNUSIDA yang telah banyak menghasilkan solusi konkret di tengah masyarakat. Riset bukan hanya tanggung jawab akademisi, tetapi juga kontribusi nyata untuk menjawab kebutuhan bangsa,” ungkapnya.

“UNUSIDA menargetkan lebih banyak karya ilmiah yang tidak hanya terpublikasi di jurnal, tetapi juga aplikatif dan berdampak langsung pada pembangunan sosial, ekonomi, dan lingkungan di tingkat lokal maupun nasional,” imbuhnya.

Sementara itu, narasumber dari BRIN, Brian Muhammad menjelaskan bahwa penulisan karya ilmiah membutuhkan ide yang kreatif dan inovatif. Oleh karena itu, ia memfokuskan pada tahapan penting dalam proses penelitian, mulai dari membangun critical thinking, menemukan kebaruan (novelty), menyusun proposal riset, menentukan metode yang tepat, hingga merumuskan karya ilmiah berbasis data terukur dengan pendekatan populasi dan sampel yang valid.

Seperti melalui pendekatan yang menggabungkan kemampuan manusia dengan teknologi kecerdasan buatan atau yang biasa dikenal dengan Artificial Intelligence (AI), proses penelitian menjadi lebih efisien dan menghasilkan temuan yang berkualitas serta berdampak nyata bagi masyarakat.

“Dengan berpikir kritis, mencari kebaruan, menyusun proposal, menentukan metode penelitian yang tepat, hingga menghasilkan karya tulis berbasis data yang terukur dengan sampel populasi yang valid, mahasiswa dan dosen dapat menghasilkan riset hebat dengan dukungan AI,” jelasnya.

Para peserta juga diajak memanfaatkan teknologi terkini, khususnya kecerdasan buatan atau AI, dalam proses riset. AI dinilai mampu mempercepat proses pencarian referensi, pengolahan data, serta perumusan gagasan penelitian. Namun, kekuatan utama tetap terletak pada peneliti itu sendiri, yaitu kemampuan dalam membangun nalar ilmiah dan sensitivitas terhadap persoalan masyarakat.

“Riset yang baik lahir dari perpaduan antara kepekaan terhadap persoalan masyarakat dan kemampuan akademik untuk menyusun solusi ilmiah yang terukur dan aplikatif. AI bisa mempercepat proses itu, tetapi tetap dibutuhkan pemikiran kritis dan arah tujuan yang jelas dari penelitinya,” ujar

Ia berharap, kolaborasi ini  tidak hanya meningkatkan kualitas riset di lingkungan kampus, tetapi juga memperluas ekosistem inovasi yang berpihak pada kebutuhan masyarakat.

“Mari wujudkan langkah nyata dalam membangun ekosistem riset yang berorientasi pada solusi dan inovasi untuk masyarakat,” pungkasnya. (MY)

Unusida Bersholawat, Puncak Rangkaian Kegiatan Harlah Ke-11 UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA Bersholawat: Wujud Cinta Rasul dan Doa untuk Keberkahan Negeri

Sidoarjo – Suasana penuh khidmat menyelimuti malam puncak peringatan Harlah ke-11 Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) tahun ini. Ribuan jamaah dari berbagai elemen masyarakat, mahasiswa, dosen, dan tokoh agama tumpah ruah di pelataran Kampus 2 UNUSIDA, Kamis (31/7/2025) malam, bersama-sama melantunkan sholawat sebagai wujud cinta kepada Nabi Muhammad SAW.

Gelaran UNUSIDA Bersholawat ini menghadirkan para habaib dan ulama ternama, di antaranya Habib Abu Bakar bin Idrus Al-Habsy, Habib M. Soleh bin Abdullah, dan Ust. Firman Achsani, serta diiringi oleh Tim Hadroh Ahbabul Musthofa Sidoarjo. Lantunan sholawat yang bergema sepanjang malam menjadi penguat spiritual sekaligus perekat persaudaraan di tengah masyarakat.

Dalam sambutannya, Rektor UNUSIDA, H. Fatkul Anam, M.Pd.I, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang telah mendukung kelancaran acara ini. Terutama jajaran Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNUSIDA yang menginisiasi acara puncak rangkaian Harlah ke-11 dengan meriah.

Menurutnya, UNUSIDA Bersholawat tahun ini tidak hanya menjadi perayaan spiritual, tetapi juga simbol harapan dan komitmen bersama untuk membangun masa depan yang lebih baik dengan semangat keislaman, keilmuan, dan kebangsaan.

“Terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak, seluruh panitia, para sponsor, dan saudara-saudara sekalian yang terlibat. Khususnya jajaran pengurus dan BEM UNUSIDA yang sudah bekerja keras hingga acara malam ini dapat berjalan lancar,” ujar beliau.

Ucapan terima kasih khusus juga ditujukan kepada PCNU dan PC Muslimat NU Sidoarjo yang selama ini terus mendukung UNUSIDA hingga memasuki usia ke-11 tahun.

“Alhamdulillah, di usia yang ke-11 ini, UNUSIDA terus menapak maju dan berkomitmen untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat,” tambahnya.

Rektor UNUSIDA juga mendorong seluruh sivitas akademika untuk terus berkreasi dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan dan kesejahteraan masyarakat. Ia berharap UNUSIDA akan semakin berkembang menjadi universitas kebanggaan masyarakat Sidoarjo.

Sementara itu, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Sidoarjo, H Khudori menekankan makna sholawat sebagai oase penyejuk hati di tengah dinamika kehidupan yang semakin kompleks. Sholawat, menurutnya, bukan hanya ritual, melainkan juga sarana memperkuat iman, menyatukan umat, dan menumbuhkan semangat kebersamaan.

“Mari kita jadikan sholawat sebagai jalan untuk mempererat persaudaraan, menjaga kerukunan, dan menciptakan suasana damai serta harmonis di Kabupaten Sidoarjo. Semoga acara seperti ini terus berlanjut, tidak hanya sebagai peringatan, tapi juga sebagai wadah silaturahim antar elemen masyarakat,” jelasnya.

Lebih lanjut, Wakil Bendahara PCNU Sidoarjo tersebut mengajak seluruh hadirin untuk menjadikan Sidoarjo sebagai daerah yang penuh keberkahan.

“Mari kita jadikan Sidoarjo sebagai daerah baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Negeri yang makmur dan diberkahi oleh Allah SWT,” tutupnya. (MY)

Festival Banjari Antar Pelajar Se-Jawa Timur oleh UKM Religi Nahdlatus Syubban (Foto: Humas UNUSIDA)

UKM Religi Nahdlatus Syubban Gelar Festival Al-Banjari Pelajar se-Jawa Timur: Meriahkan Harlah ke-11 UNUSIDA

Sidoarjo – Dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-11 Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Religi Nahdlatus Syubban sukses menyelenggarakan Festival Al-Banjari Tingkat Pelajar se-Jawa Timur. Kegiatan ini disambut antusias oleh puluhan grup hadrah dari berbagai daerah yang berlomba menunjukkan kemampuan terbaik dalam melantunkan sholawat Nabi dengan iringan musik tradisional Islami.

Festival yang digelar di halaman kampus UNUSIDA ini menjadi bagian dari rangkaian acara Harlah ke-11 sekaligus menjadi ajang silaturahmi dan syiar budaya Islam di kalangan generasi muda. Sebanyak 15 grup Al-Banjari dari lembaga pendidikan se-Jawa Timur ambil bagian dalam festival ini, terdiri dari peserta tingkat SD/MI, SMP/MTs, MA/SMA/SMK, hingga TPQ.

Rektor UNUSIDA, Dr. H. Fatkul Anam, M.Si. menyampaikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif para mahasiswa yang tergabung dalam UKM Religi Nahdlatus Syubban. Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya ajang kompetisi seni Islami, tetapi juga bentuk kecintaan terhadap Rasulullah SAW dan sarana untuk mempererat ukhuwah antarpelajar se-Jawa Timur.

“Saya sangat mengapresiasi semangat mahasiswa dalam memeriahkan Harlah ke-11 UNUSIDA. Semoga semangat bersholawat ini terus menjadi ruh dalam setiap langkah pembangunan kampus kita,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Rektor UNUSIDA juga mengajak seluruh civitas akademika dan masyarakat untuk meramaikan acara puncak Harlah UNUSIDA, yaitu UNUSIDA Bersholawat yang akan menghadirkan tokoh-tokoh besar seperti Habib Abu Bakar bin Idrus Al-Habsy, Habib M. Soleh bin Abdullah, dan Ust. Firman Achsani, serta akan diiringi oleh Tim Hadroh Ahbabul Musthofa Sidoarjo.

“Semoga lantunan sholawat ini dapat mengiringi pembangunan dan perkembangan UNUSIDA dengan penuh keberkahan,” tambahnya.

Sementara itu, ketua UKM Religi Nahdlatus Syubban UNUSIDA, menjelaskan bahwa acara ini tidak hanya bertujuan mencari pemenang, melainkan juga untuk menumbuhkan semangat cinta Rasulullah SAW sejak usia dini serta melestarikan tradisi kesenian Islam yang telah mengakar di tengah masyarakat.

“Melalui festival ini, kami ingin menghadirkan sholawat sebagai nafas kehidupan yang memberi semangat perubahan ke arah yang lebih baik. Sholawat bukan hanya lantunan, tapi juga inspirasi peradaban,” ujarnya.

Menurutnya, Festival Al-Banjari ini menjadi bukti bahwa semangat religiusitas dan kecintaan terhadap budaya Islam di kalangan pelajar dan mahasiswa masih sangat kuat. Lebih dari sekadar kompetisi, acara ini menjadi medium edukasi, spiritualitas, dan pelestarian tradisi yang telah lama hidup dalam masyarakat Nahdliyyin.

“Saya berharap, kegiatan ini menjadi momentum spiritual yang membawa keberkahan dan semangat baru bagi UNUSIDA dalam membangun peradaban kampus yang unggul dan berkarakter,” harapnya. (MY)

Pameran Visualistation VIII DKV Unusida (Foto: Istimewa)

DKV UNUSIDA Sukses Gelar Pameran Visualistation XIII, Padukan Kearifan Lokal dan Semangat Modern

Sidoarjo – Mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) sukses menggelar pameran tahunan bertajuk Visualistation XIII yang kali ini mengusung tema ‘Javanism in Modernization‘ yang dipusatkan di Rumah Budaya Sidoarjo, Jum’at-Ahad (25-27/7/2025). Acara yang berlangsung meriah ini menjadi wadah kreatif mahasiswa untuk mengekspresikan perpaduan nilai-nilai budaya Jawa dengan unsur modernitas melalui beragam karya visual dan pertunjukan seni.

Pameran ini tidak hanya menampilkan hasil karya dan eksplorasi visual mahasiswa, tetapi juga diramaikan dengan berbagai kegiatan interaktif yang melibatkan publik. Beberapa contoh karya seni dipamerkan Visualistation XIII diantaranya poster budaya, motion graphic, desain kemasan produk lokal, fotografi, karakter wayang modern, katalog desain merchandise, hingga typography aksara jawa modern.

Tak hanya pameran karya, beragam agenda turut menghidupkan suasana Visualistation XIII, di antaranya:

  • Lomba Live Art dan Live Mural yang memperlihatkan langsung proses kreatif seniman muda dalam menginterpretasikan tema ‘Javanism in Modernization‘,

  • Seminar Menggambar Ilustrasi yang diisi oleh ilustrator profesional dan memberikan wawasan tentang teknik, karakter, dan visual storytelling,

  • Talkshow DKV yang menghadirkan praktisi industri kreatif untuk berbagi pengalaman dan perkembangan dunia desain saat ini,

  • Talkshow Branding yang membahas strategi branding kontemporer yang tetap menghargai identitas budaya lokal,

  • Talkshow Kebudayaan Jawa, sebagai bentuk refleksi pentingnya melestarikan budaya di tengah arus globalisasi,

  • Blind Date Art, sebuah konsep interaktif yang mempertemukan pengunjung dengan karya seni secara acak, membangun pengalaman emosional yang unik,

  • Stand-up Comedy yang memberikan sentuhan hiburan ringan dan menyegarkan,

  • Live Music dari musisi lokal dan mahasiswa yang turut menghidupkan suasana malam akhir pameran ini.

Ketua Himpunan Mahasiswa DKV UNUSIDA, Muhammad Ainul Falah menyampaikan bahwa tema tahun ini dipilih sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya Jawa yang tetap relevan meskipun zaman terus bergerak maju.

“Kami ingin menunjukkan bahwa budaya lokal tidak harus terpinggirkan oleh modernisasi. Justru, keduanya bisa saling melengkapi dan menghasilkan karya yang kaya makna,” ujarnya, Kamis (31/7/2025).

Ia mengungkapkan, Pameran Visualistation XIII ini menjadi bukti bahwa mahasiswa DKV tidak hanya piawai dalam desain, tetapi juga memiliki kepekaan budaya dan kemampuan merespons isu-isu kontemporer.  Menurutnya, pameran ini bukan sekadar ajang unjuk karya, melainkan juga menjadi media eksplorasi identitas dan refleksi nilai-nilai lokal yang dibingkai dalam bahasa visual yang relevan dengan zaman.

Melalui tema Javanism in Modernization ini yang menjadi wujud kegelisahan sekaligus harapan para desainer muda dalam menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan adaptif di tengah perkembangan teknologi dan gaya hidup global. Dengan perpaduan budaya dan modernitas, acara ini mendapat sambutan antusias dari pengunjung umum, pegiat seni, hingga akademisi.

“Kami ingin membuktikan bahwa budaya Jawa bukan sesuatu yang kuno atau usang, tapi justru bisa menjadi inspirasi utama dalam menciptakan karya-karya desain yang progresif dan bermakna,” ungkapnya. (MY)

Dr. Arda Surya Editya, S.Pd., M.T., Dekan FILKOM UNUSIDA saat menjadi narasumber Pembelajaran Coding dan Artificial Intelligence (AI) LP Ma'arif NU Sidoarjo (Foto: Humas UNUSIDA)

Dekan FILKOM UNUSIDA Jelaskan Peran Penting AI dalam Dunia Pendidikan

Sidoarjo – Dekan Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Dr. Arda Surya Editya, S.Pd., M.T., menjadi narasumber utama dalam Pembelajaran Coding dan AI di Aula Pusdiklat LP Ma’arif PCNU Sidoarjo, Selasa-Rabu (29-30/7/2025).

Kegiatan yang diinisiasi oleh Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo ini mengusung tema ‘Belajar AI dan Coding Menyenangkan untuk Peningkatan Kualitas Pendidikan SD/MI, MTs, SMP, MA/SMA, dan SMK Se-Kabupaten Sidoarjo’. Acara ini dihadiri oleh para guru, kepala sekolah, serta perwakilan siswa dari satuan pendidikan di bawah naungan LP Ma’arif NU yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Sidoarjo.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian upaya kolaboratif antara LP Ma’arif PCNU Sidoarjo dan UNUSIDA dalam membekali tenaga pendidik dan peserta didik dengan kompetensi masa depan yang berbasis teknologi namun tetap berpijak pada nilai-nilai kebudayaan dan kemanusiaan.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Arda memberikan pemaparan mendalam terkait peran penting Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan, khususnya dalam mengembangkan inovasi pengajaran dan menggali potensi generasi muda.

Ia menjelaskan bahwa AI adalah kemampuan komputer atau mesin untuk meniru cara berpikir, belajar, dan menyelesaikan masalah seperti manusia. Teknologi ini bekerja menggunakan model matematika, umumnya dalam bentuk matriks, yang kemudian dilatih dengan data dalam jumlah besar agar mampu mengenali pola-pola tertentu di dalamnya.

“AI bukan hanya alat canggih, tetapi merupakan sarana untuk membantu manusia berpikir dan mencipta. Guru dan pelajar perlu memahami bahwa AI adalah mitra dalam proses belajar, bukan pengganti,” jelasnya.

Dalam konteks generasi muda, Dr. Arda menyoroti bagaimana Generasi Z (Gen-Z) yang dikenal sangat adaptif terhadap teknologi, justru belum menggunakan AI secara optimal. Ia menyebut bahwa saat ini Gen-Z cenderung menggunakan AI secara pasif, seperti hanya mengandalkan chatbot atau fitur otomatis tanpa memahami cara kerja di baliknya.

“Sayangnya, penggunaan AI secara pasif justru membuat Gen-Z malas berpikir dan kurang eksploratif. Padahal mereka adalah kelompok yang paling berpotensi mengembangkan AI secara kreatif jika dibekali dengan pemahaman dan keterampilan yang tepat,” terangnya.

Lebih lanjut, Dr. Arda menyampaikan bahwa AI juga memiliki potensi besar untuk membantu guru dalam menyusun strategi pembelajaran yang inovatif. Dengan memanfaatkan AI, guru dapat mempersonalisasi pembelajaran, menemukan pendekatan yang lebih tepat bagi siswa, dan mengatasi kebuntuan dalam merancang metode pengajaran.

“AI dapat mempercepat proses inovasi pembelajaran, terutama bagi guru yang ingin keluar dari pola mengajar yang monoton. Ini adalah peluang besar untuk menjadikan kelas lebih hidup, adaptif, dan relevan dengan dunia nyata,” tambahnya.

Ia mengingatkan pentingnya kesiapan dalam menghadapi revolusi digital, peran guru tetap sentral, dan AI seharusnya menjadi alat bantu untuk memaksimalkan proses pendidikan, bukan hanya sekadar tren teknologi.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya penguasaan teknologi digital bagi pendidik dan pelajar, khususnya dalam menghadapi tantangan dunia pendidikan abad ke-21. “Coding dan AI bukan hanya untuk mereka yang ingin jadi programmer. Ini adalah skill masa depan yang harus dikenalkan sejak dini agar anak-anak kita tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tapi juga pencipta,” pungkasnya. (MY)

Flyer 3 Tim Mahasiswa Unusida Lolos Pendanaan P2MW 2025 (Foto: Humas Unusida)

Tiga Tim Mahasiswa UNUSIDA Lolos Pendanaan P2MW 2025: Inovasi Wirausaha Sosial dan Kreatif Berbasis Kearifan Lokal

Sidoarjo – Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menorehkan prestasi gemilang dalam dunia kewirausahaan mahasiswa. Tiga tim dari UNUSIDA berhasil lolos dan mendapatkan pendanaan dalam ajang bergengsi Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2025, yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.

Ketiga tim tersebut berasal dari dua program studi, yaitu: Dua tim dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dan Satu tim dari Program Studi Manajemen. Tim pertama bersama dosen pembimbing, Mohammad Setyo Wardono, S.Pd., M.Pd, yang diketuai oleh Bahtiar Fuadi, mengusung judul ‘Local Wisdom Academy: Bimbingan Belajar Kreatif untuk Anak Marjinal’.

Sedangan tim kedua bersama dosen pembimbing Fajar Nur Yasin, S.Pd., M.Pd, yang diketuai oleh Ahmad Rofiun Nizar, mengusung judul ‘EcoCraft by Craft House Inovasi Kerajinan Estetik dan Fungsional Berbasis Limbah Kertas Nasi Stik dan Sendok Menuju Ekonomi Kreatif Berkelanjutan’, dan tim ketiga bersama dosen pembimbing Jeziano Rizkita Boyas, S.E., M.M, yang diketuai oleh Ahmad Bakhrul Ulum dengan mengusung judul ‘Ahmad Cathouse Solusi Breeding Kucing Ras Berkualitas Bebas Bau dan Ideal untuk Keluarga’.

Rektor UNUSIDA, Dr. H. Fatkul Anam, M.Si, menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas capaian ini. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa UNUSIDA tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki semangat inovasi, jiwa sosial, dan potensi wirausaha yang kuat, terutama dalam menciptakan solusi atas berbagai persoalan di masyarakat.

“P2MW adalah ajang yang tidak hanya melatih kemampuan berwirausaha mahasiswa, tetapi juga melatih kepekaan sosial, daya inovasi, dan keberanian mengambil peran di tengah masyarakat. Kami bangga, mahasiswa UNUSIDA mampu bersaing di tingkat nasional dan menunjukkan bahwa mereka siap membawa perubahan,” ungkapnya.

Salah satu ketua tim, Bahtiar Fuadi menjelaskan, ia dan tim mengusung konsep wirausaha sosial berbasis pendidikan yang mengintegrasikan kearifan lokal sebagai pendekatan pembelajaran alternatif dan inklusif. Program ini ditujukan secara khusus kepada anak-anak marjinal yang selama ini kerap terpinggirkan dalam sistem pendidikan formal.

Program ini fokus pada pelestarian budaya lokal melalui metode bimbingan belajar yang ramah anak dan inklusif, ditujukan bagi anak-anak dari kelompok marjinal. Dengan pendekatan berbasis kearifan lokal, tim ini berusaha memberikan akses pendidikan berkualitas dengan biaya terjangkau sambil menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.

“Local Wisdom Academy lahir dari keprihatinan terhadap hilangnya nilai-nilai kearifan lokal di kalangan anak-anak, terutama di era modern yang didominasi oleh gadget dan teknologi. Anak-anak sekarang lebih mengenal game online daripada permainan tradisional atau budaya lokal. Kami ingin menghidupkan kembali warisan budaya tersebut sambil memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak yang kurang beruntung,” jelasnya, Rabu (30/7/2025).

Program ini tidak hanya menyediakan bimbingan akademik, tetapi juga menanamkan nilai-nilai budaya lokal melalui metode kreatif, seperti permainan tradisional, eksplorasi lingkungan, dan diskusi kelompok. Pendekatan ini diharapkan mampu membentuk karakter sekaligus memperkuat identitas budaya peserta didik.

Dalam pelaksanaannya, Local Wisdom Academy dirancang agar bisa berkelanjutan melalui beberapa strategi kewirausahaan, seperti membuka kelas berbayar untuk siswa umum (subsidi silang), menjual modul pembelajaran berbasis kearifan lokal, hingga menjalin kerja sama dengan lembaga CSR dan pemerintah daerah.

Secara sosial, inisiatif ini ingin menghapus stigma diskriminatif terhadap anak-anak marjinal. “Kami percaya bahwa semua anak berhak atas pendidikan yang setara, meskipun di luar sistem formal. Maka dari itu, kami hadir dengan biaya yang sangat terjangkau dan pendekatan yang ramah terhadap realitas mereka,” tambahnya.

Tim Local Wisdom Academy menyadari tantangan besar dalam menjalankan program ini, mulai dari keterbatasan sumber daya manusia, rendahnya minat anak terhadap budaya lokal, hingga kesulitan dalam merancang modul yang relevan dengan kurikulum. Namun, tim ini sudah menyusun timeline kegiatan secara rinci, sistem monitoring dan evaluasi berkala, serta menjalin komunikasi intensif antaranggota untuk memastikan keberhasilan program.

Sebagai bentuk dukungan terhadap mahasiswa wirausaha sosial, tim ini juga menyampaikan harapan kepada UNUSIDA agar semakin memperkuat kemitraan dengan komunitas lokal, UMKM, dan sektor swasta. Selain itu, dukungan pembiayaan juga menjadi aspek penting agar mahasiswa dapat terus mengembangkan inovasi sosial.

“Kami berharap UNUSIDA bisa menjadi jembatan yang menghubungkan mahasiswa dengan akses pendanaan, CSR, dan lembaga sosial yang relevan. Karena wirausaha sosial seperti kami juga membutuhkan keberpihakan dan dorongan konkret dari institusi,” pungkasnya. (MY)

HIMA Teknik Lingkungan UNUSIDA Aktif dalam Webinar Nasional Ecoedu.id 'Perlindungan dan Restorasi Ekosistem' (Foto: Istimewa)

HIMA Teknik Lingkungan UNUSIDA Aktif dalam Webinar Nasional Perlindungan dan Restorasi Ekosistem

Sidoarjo – Dalam semangat kolaborasi dan kepedulian terhadap isu lingkungan global, Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menunjukkan komitmennya melalui partisipasi aktif dalam Webinar Nasional EcoEdu.id yang mengusung tema ‘Perlindungan dan Restorasi Ekosistem’. Kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa, akademisi, hingga praktisi lingkungan dari seluruh penjuru Indonesia ini diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Kamis (10/7/2025).

Webinar ini menjadi bagian dari program unggulan ENVIRO INSIGHT, yang digagas oleh Departemen Akademik, Inovasi, dan Riset (AIR) dan berkolaborasi dengan Departemen Urusan Sosial, Diplomasi, dan Relasi Kemitraan (UDARA) HMTL UNUSIDA. Partisipasi ini merupakan cerminan keseriusan mahasiswa Teknik Lingkungan dalam membangun jejaring, meningkatkan kapasitas keilmuan, serta memperkuat kesadaran kolektif terhadap tantangan lingkungan hidup yang semakin kompleks.

Sebagai narasumber utama, webinar menghadirkan Fitrian Ardiansyah, ESG and Impact Director di ACLF, ADM Capital Climate, Hongkong. Dengan segudang pengalaman di tingkat internasional, Fitrian membedah urgensi perlindungan dan restorasi ekosistem sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan dan strategi mitigasi krisis iklim. Ia menegaskan bahwa ekosistem yang sehat bukan hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga sosial dan ekonomi, seperti penyimpanan karbon, pengendalian banjir, dan pelestarian keanekaragaman hayati.

Fitrian juga menggarisbawahi pentingnya pendekatan lintas sektor dan integrasi prinsip Environmental, Social, Governance (ESG) dalam setiap kebijakan publik dan kebijakan korporasi. “Restorasi ekosistem tidak cukup hanya dengan teknologi dan regulasi. Diperlukan komitmen moral, kesadaran sosial, dan aksi nyata dari seluruh elemen masyarakat,” tegasnya.

Webinar ini memiliki relevansi tinggi dengan pembelajaran akademik di Prodi Teknik Lingkungan UNUSIDA, khususnya bagi mahasiswa yang sedang mempelajari mata kuliah Remediasi Badan Air dan Pesisir di bawah bimbingan Elsa Rosyidah, S.TP., M.IL.. Materi yang disampaikan memperkaya perspektif teoritis dan praktis mahasiswa melalui pengalaman dan insight dari praktisi profesional.

Kepala Departemen AIR, Chalimatus Sa’diyah, menyatakan bahwa keterlibatan dalam kegiatan ini merupakan bagian dari strategi HIMA TL untuk mengembangkan wawasan dan memperluas relasi antar kampus.

“Mahasiswa tidak cukup hanya belajar dari buku teks. Mereka harus terkoneksi dengan isu global dan gagasan para ahli. Forum seperti ini sangat penting untuk membuka cakrawala dan menumbuhkan sensitivitas lingkungan yang lebih dalam,” ujarnya.

Selain itu, kegiatan ini turut menjadi ajang penguatan jaringan antarmahasiswa teknik lingkungan dari berbagai perguruan tinggi, membuka peluang kerja sama dalam bentuk riset, pengabdian masyarakat, hingga pertukaran ide dan pengalaman organisasi.

HIMA TL UNUSIDA juga mendelegasikan beberapa pengurus dan anggota untuk terlibat aktif dalam diskusi, mencatat poin-poin strategis, dan membagikannya kembali dalam forum internal kampus sebagai bagian dari pengayaan akademik dan organisasi.

Melalui Enviro Insight, HIMA TL UNUSIDA bertekad menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual, adaptif, dan partisipatif, sebagai wujud kontribusi nyata dalam mencetak insinyur lingkungan yang kritis, kompeten, dan kolaboratif.

Di tengah eskalasi krisis iklim dan degradasi ekologis, kehadiran webinar nasional ini menjadi pengingat bahwa perlindungan dan restorasi ekosistem adalah tanggung jawab bersama, bukan semata beban pemerintah atau lembaga internasional. Partisipasi aktif mahasiswa adalah langkah kecil yang bermakna untuk masa depan bumi yang lebih lestari.

Penulis: Muchammad Waziruddin (MY)

Flyer Dosen UNUSIDA Raih Pendanaan Program Pengabdian Masyarakat BiMA 2025 (Foto: Humas UNUSIDA)

Dosen UNUSIDA Raih Pendanaan Program Pengabdian Masyarakat BiMA 2025: Dorong Inovasi Pembelajaran Bahasa Inggris Berbasis AI di Pesantren

Sidoarjo – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh sivitas akademika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Kali ini, dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNUSIDA, Ryan Purnomo, S.Pd., M.Pd. selaku ketua tim bersama Mohammad Setyo Wardono, S.Pd., M.Pd. sebagai anggota, berhasil meraih Pendanaan Program Pengabdian Masyarakat Batch II Tahun Anggaran 2025 dari Direktorat Belmawa, Ditjen Diktiristek (BiMA), Kemdikbudristek RI.

Dalam program ini, keduanya mengusung judul pengabdian bertema inovasi pendidikan berteknologi, dengan judul ‘Pemanfaatan Aplikasi ELSA Interaktif untuk Pembelajaran Speaking secara Aktif di Pondok Pesantren Baitul Qur’an Krembung – Sidoarjo’.

Menurut Ryan Purnomo, program ini merupakan bentuk respon terhadap tantangan digitalisasi pembelajaran di lingkungan pesantren, khususnya dalam penguasaan Bahasa Inggris secara lisan (speaking skill).

“Masih banyak pesantren yang tertinggal dalam pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI), padahal teknologi ini bisa menjadi solusi efektif untuk pengajaran yang lebih interaktif dan kontekstual,” ujarnya.

Melalui aplikasi English Language Speech Assistant (ELSA) yang berbasis AI, santri Pondok Pesantren Baitul Qur’an diberikan akses untuk belajar speaking secara mandiri, terarah, dan menyenangkan. Ryan menjelaskan bahwa aplikasi ini memungkinkan santri untuk melatih pengucapan Bahasa Inggris secara akurat dengan fitur repetisi (repetition), feedback otomatis, dan permainan edukatif.

“Dengan pendekatan ini, santri bisa berlatih berbicara, menerima koreksi langsung, dan belajar lewat game yang menarik, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih hidup,” tambahnya.

Strategi Pelaksanaan Program: Dari Sosialisasi Hingga Integrasi

Secara teknis, pengabdian ini diawali dengan pengenalan aplikasi kepada para santri dan guru, dilanjutkan dengan pelatihan integratif antara teori dan praktik berbicara menggunakan ELSA. Prosesnya mencakup tiga tahap utama, mulai dari pengenalan dan demonstrasi aplikasi, latihan praktik speaking dengan pendampingan, serta evaluasi dan penguatan pemahaman melalui kuis dan game berbasis aplikasi.

Namun, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah keterbatasan perangkat digital di lingkungan pondok. Akan tetapi ia tidak kehabisan ide, yaitu dengan membuat server terpusat yang dapat dimanfaatkan oleh semua santri dan guru.

“Fasilitas di pesantren memang belum maksimal. Tapi kami menyiasatinya dengan memanfaatkan satu server terpusat yang dapat digunakan secara bergantian oleh beberapa santri,” jelas Ryan.

Kendati demikian, respon pihak pondok sangat positif dan antusias. Pengurus dan guru sangat mendukung kegiatan ini karena dirasa membawa angin segar dalam metode pengajaran. Bahkan, menurut Ryan, hal ini bisa menjadi pemicu perubahan paradigma dari pesantren tradisional menuju pesantren modern berbasis IT.

“Kami berharap pengabdian ini dapat menjadi langkah awal menjadikan Pesantren Baitul Qur’an sebagai salah satu pilot project pesantren berbasis teknologi dan AI di Sidoarjo,” tuturnya.

Dukungan, Kolaborasi, dan Harapan ke Depan

Kegiatan ini tidak hanya memberikan dampak kepada santri, tetapi juga memotivasi para pengajar dalam mengembangkan model pengajaran bahasa yang lebih kontekstual dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

“Melalui kolaborasi kampus dan pesantren, kami ingin menunjukkan bahwa inovasi digital juga bisa menyentuh dunia pesantren, tidak hanya terbatas di ruang-ruang kelas formal,” jelas Ryan.

Sebagai bagian dari komitmen jangka panjang, Ryan dan tim berharap kerja sama ini dapat terus dikembangkan baik melalui program pengabdian lanjutan, pelatihan guru, maupun pengembangan kurikulum pesantren berbasis teknologi.

“UNUSIDA dan Pesantren Baitul Qur’an bisa saling menguatkan, baik dalam program akademis maupun non-akademis. Harapannya, sinergi ini bisa menjadi inspirasi bagi kampus dan pesantren lain di seluruh Indonesia untuk berinovasi dalam pengajaran berbasis AI,” pungkasnya. (MY)

Tri Maharani, Mahasiswi Manajemen UNUSIDA Raih Juara 2 Nasional Pencak Silat "Malang Championship 5" 2025 (Foto: Humas UNUSIDA)

Tri Maharani, Mahasiswi UNUSIDA Raih Juara 2 Nasional Pencak Silat ‘Malang Championship 5’ 2025

Sidoarjo – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Kali ini, Tri Maharani, mahasiswi Program Studi Manajemen angkatan 2024, berhasil meraih Juara 2 Nasional dalam ajang Kejuaraan Pencak Silat ‘Malang Championship 5’ Tahun 2025 yang memperebutkan Piala KEMENDIKBUD RI dan Wali Kota Malang.

Kejuaraan tingkat nasional tersebut diikuti oleh ratusan pesilat dari berbagai provinsi di Indonesia. Tri Maharani menunjukkan performa luar biasa hingga mencapai partai final dan meraih juara 2. Ia mengaku merasa bangga dan bersyukur atas pencapaiannya.

“Sudah pasti saya merasa bangga dan bersyukur karena masih bisa mendapatkan juara 2, walaupun belum bisa meraih posisi juara 1,” ungkapnya, Selasa (29/7/2025).

Rani sapaan akrabnya menjelaskan bahwa motivasi terbesarnya dalam mengikuti kejuaraan ini adalah keinginan untuk menguji kemampuan diri, serta membuktikan bahwa ia mampu bersaing di tingkat nasional dan membanggakan orang tua.

Mengawali perjalanan di dunia pencak silat sejak masih duduk di bangku SMK, Rani terus menunjukkan konsistensinya. Ia mengaku jatuh cinta pada olahraga bela diri tradisional ini karena mampu membentuk kedisiplinan dan meningkatkan rasa percaya dirinya.

“Saya sangat menyukai pencak silat. Selain menjaga kesehatan dan kebugaran, pencak silat juga mendidik kita untuk disiplin dan percaya diri,” tambahnya.

Dalam mempersiapkan diri menghadapi kejuaraan, Rani menjalani latihan intensif selama 6 bulan dengan jadwal padat, yakni empat kali seminggu. Namun, perjuangannya tidak berjalan mulus. Ia sempat mengalami cedera beberapa minggu sebelum pertandingan.

“Tantangan terbesar saya adalah cedera. Tapi alhamdulillah, saya bisa pulih dan siap bertanding,” ujarnya.

Salah satu momen paling berkesan bagi Rani adalah ketika berhasil mengalahkan lawan tangguh dari provinsi lain di babak semifinal, pengalaman yang ia sebut sebagai pembuktian nyata atas kerja kerasnya selama ini.

Rani juga menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam menjaga dan melestarikan pencak silat sebagai warisan budaya bangsa. Ia berharap mahasiswa tidak hanya fokus pada dunia akademik, tetapi juga aktif di bidang non-akademik sebagai bentuk pengembangan diri.

“Mahasiswa bisa menjadi agen pelestari budaya. Pencak silat bukan hanya olahraga, tapi juga bagian dari identitas bangsa yang harus kita jaga bersama,” tegasnya.

Lebih lanjut, Rani memberikan semangat kepada rekan-rekan mahasiswa UNUSIDA untuk terus berani mencoba, menggali potensi, dan jangan pernah takut gagal.

“Jangan ragu untuk mencoba hal-hal baru. Teruslah mengembangkan diri dan jadilah versi terbaik dari dirimu, baik di bidang akademik maupun non-akademik,” tuturnya.

Ke depan, Tri menargetkan untuk berkompetisi di ajang internasional dan menorehkan prestasi yang lebih tinggi. Ia berkomitmen untuk terus meningkatkan kemampuan dan membawa nama baik kampus serta bangsa di kancah global.

Prestasi Tri Maharani ini menambah deretan mahasiswa berprestasi UNUSIDA dan menjadi bukti bahwa semangat juang, latihan yang konsisten, dan dukungan penuh dari lingkungan sekitar adalah kunci keberhasilan menuju podium kemenangan. (MY)

Malinda Dwi Harjani Setyo, Mahasiswi Manajemen UNUSIDA peraih Juara 3 Nasional Kejuaraan Pencak Silat “Malang Championship 5” Tahun 2025 (Foto: Istimewa)

Cerita Inspiratif Malinda, Mahasiswi UNUSIDA Peraih Juara 3 Nasional Pencak Silat 2025

Sidoarjo – Malinda Dwi Hanjani Setyo, mahasiswi Program Studi Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) angkatan 2024, berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih Juara 3 Nasional dalam ajang Kejuaraan Pencak Silat Malang Championship 5 Tahun 2025, memperebutkan Piala KEMENDIKBUD RI dan Piala Wali Kota Malang.

Dalam wawancara, Malinda mengungkapkan perasaan haru dan bangganya atas capaian tersebut. “Perasaan saya sungguh sangat senang dan bangga pada diri sendiri karena sudah mau berjuang sampai di titik ini,” ujarnya, Selasa (29/7/2025).

Motivasi Tak Pernah Padam

Sejak duduk di bangku kelas 8 SMP pada tahun 2018, Malinda telah menaruh minat besar terhadap dunia pencak silat. Berawal dari kejuaraan tingkat pondok pesantren se-Jawa dan Bali, ia terus mengasah kemampuan dan mengikuti berbagai kompetisi, dari tingkat provinsi hingga nasional. Meski kerap menemui kegagalan, ia tak pernah menyerah.

“Motivasi yang selalu saya tanamkan adalah, jika orang lain bisa, maka saya juga harus bisa,” tegasnya.

Pernah mengalami kegagalan karena kelebihan berat badan, bahkan kecelakaan parah yang membuatnya gagal ikut seleksi Porprov, tak membuat semangat Malinda padam. Sebaliknya, semua itu ia jadikan batu loncatan untuk terus membuktikan diri, termasuk kepada keluarganya yang sempat meragukan pilihannya menekuni dunia persilatan.

Perjalanan Panjang Penuh Cerita

Sebelum sukses di Malang Championship 5, Malinda sempat mengikuti berbagai kejuaraan, mulai dari O2SN, Kejurkab, Kejurda, hingga PORSENI NU tingkat nasional di Solo. Ia juga aktif dalam berbagai kategori, mulai dari tanding individu, jurus tunggal, hingga beregu bersama rekan satu kampusnya, Tri Maharani.

Tantangan pun tak hanya datang di arena pertandingan. Ketika hendak mengikuti kejuaraan di Malang, ia dan Tri Maharani bahkan hampir membatalkan keberangkatan karena kendala biaya. Berkat dukungan dari dari teman seperjuangan, serta restu orang tua dan pelatih, mereka akhirnya bisa berangkat dan pulang membawa prestasi.

“Usaha tidak akan mengkhianati hasil. Dengan effort besar, mulai dari waktu, pikiran, hingga materi, semua akhirnya terbayar lunas dengan kemenangan ini,” ucap Malinda penuh haru.

Persiapan Kilat dan Mental Tangguh

Dengan waktu persiapan yang hanya empat hari, Malinda berlatih keras untuk menghadapi kejuaraan nasional ini. Meskipun latihan berlangsung singkat, fokus dan determinasi membuatnya tetap percaya diri. Ia mengakui bahwa tantangan terberat justru saat menjelang pertandingan, ketika rasa gugup mulai muncul.

“Grogi itu manusiawi. Tapi saya punya cara sendiri untuk mengatasi, salah satunya dengan bercanda bersama teman dan tidak mencari tahu siapa lawan saya. Fokus saja pada yang saya bawa ke atas matras,” jelasnya.

Momen Tak Terlupakan dan Pandangan tentang Pencak Silat

Bagi Malinda, momen paling berkesan dalam kejuaraan ini bukan hanya saat menerima medali, tapi kebersamaan bersama tim: tidur bersama di satu tempat, latihan bareng, panik bersama, dan tentu saja saling menyemangati.

“Pencak silat bukan hanya olahraga, tapi juga budaya dan karakter. Mahasiswa punya peran besar dalam melestarikannya dan menyebarkan nilai-nilai seperti disiplin, kerja sama, dan cinta tanah air,” ungkapnya.

Pesan dan Harapan

Malinda menegaskan pentingnya semangat pantang menyerah dalam meraih mimpi. “Jangan pernah takut mencoba meski hasilnya tak sesuai harapan. Habiskan masa sulitmu di masa muda, dan nikmati suksesmu di masa tua. Jangan malas berusaha dan libatkan Tuhan, orang tua, pelatih, dan orang terdekatmu dalam setiap langkahmu,” tuturnya.

Target ke depan, Malinda ingin terus berprestasi dan menorehkan pencapaian yang lebih tinggi lagi di dunia persilatan. Prestasi ini bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tapi juga ia persembahkan membanggakan almamater UNUSIDA, yang senantiasa mendorong mahasiswa untuk aktif, berprestasi, dan melestarikan budaya bangsa melalui berbagai jalur, termasuk pencak silat.

“Saya ingin terus melangkah lebih jauh. Semua ini bukan hanya tentang kejuaraan, tapi juga tentang membuktikan kepada diri sendiri dan keluarga bahwa saya bisa. Ini baru awal dari perjalanan panjang saya,” pungkasnya. (MY)