Flyer Dosen UNUSIDA Raih Pendanaan Program Pengabdian Masyarakat BiMA 2025 (Foto: Humas UNUSIDA)

Dosen UNUSIDA Raih Pendanaan Program Pengabdian Masyarakat BiMA 2025: Dorong Inovasi Pembelajaran Bahasa Inggris Berbasis AI di Pesantren

Sidoarjo – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh sivitas akademika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Kali ini, dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNUSIDA, Ryan Purnomo, S.Pd., M.Pd. selaku ketua tim bersama Mohammad Setyo Wardono, S.Pd., M.Pd. sebagai anggota, berhasil meraih Pendanaan Program Pengabdian Masyarakat Batch II Tahun Anggaran 2025 dari Direktorat Belmawa, Ditjen Diktiristek (BiMA), Kemdikbudristek RI.

Dalam program ini, keduanya mengusung judul pengabdian bertema inovasi pendidikan berteknologi, dengan judul ‘Pemanfaatan Aplikasi ELSA Interaktif untuk Pembelajaran Speaking secara Aktif di Pondok Pesantren Baitul Qur’an Krembung – Sidoarjo’.

Menurut Ryan Purnomo, program ini merupakan bentuk respon terhadap tantangan digitalisasi pembelajaran di lingkungan pesantren, khususnya dalam penguasaan Bahasa Inggris secara lisan (speaking skill).

“Masih banyak pesantren yang tertinggal dalam pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI), padahal teknologi ini bisa menjadi solusi efektif untuk pengajaran yang lebih interaktif dan kontekstual,” ujarnya.

Melalui aplikasi English Language Speech Assistant (ELSA) yang berbasis AI, santri Pondok Pesantren Baitul Qur’an diberikan akses untuk belajar speaking secara mandiri, terarah, dan menyenangkan. Ryan menjelaskan bahwa aplikasi ini memungkinkan santri untuk melatih pengucapan Bahasa Inggris secara akurat dengan fitur repetisi (repetition), feedback otomatis, dan permainan edukatif.

“Dengan pendekatan ini, santri bisa berlatih berbicara, menerima koreksi langsung, dan belajar lewat game yang menarik, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih hidup,” tambahnya.

Strategi Pelaksanaan Program: Dari Sosialisasi Hingga Integrasi

Secara teknis, pengabdian ini diawali dengan pengenalan aplikasi kepada para santri dan guru, dilanjutkan dengan pelatihan integratif antara teori dan praktik berbicara menggunakan ELSA. Prosesnya mencakup tiga tahap utama, mulai dari pengenalan dan demonstrasi aplikasi, latihan praktik speaking dengan pendampingan, serta evaluasi dan penguatan pemahaman melalui kuis dan game berbasis aplikasi.

Baca juga:  Mahasiswa PGSD Unusida Raih Juara 3 Lomba Media Pembelajaran Tingkat Nasional

Namun, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah keterbatasan perangkat digital di lingkungan pondok. Akan tetapi ia tidak kehabisan ide, yaitu dengan membuat server terpusat yang dapat dimanfaatkan oleh semua santri dan guru.

“Fasilitas di pesantren memang belum maksimal. Tapi kami menyiasatinya dengan memanfaatkan satu server terpusat yang dapat digunakan secara bergantian oleh beberapa santri,” jelas Ryan.

Kendati demikian, respon pihak pondok sangat positif dan antusias. Pengurus dan guru sangat mendukung kegiatan ini karena dirasa membawa angin segar dalam metode pengajaran. Bahkan, menurut Ryan, hal ini bisa menjadi pemicu perubahan paradigma dari pesantren tradisional menuju pesantren modern berbasis IT.

“Kami berharap pengabdian ini dapat menjadi langkah awal menjadikan Pesantren Baitul Qur’an sebagai salah satu pilot project pesantren berbasis teknologi dan AI di Sidoarjo,” tuturnya.

Dukungan, Kolaborasi, dan Harapan ke Depan

Kegiatan ini tidak hanya memberikan dampak kepada santri, tetapi juga memotivasi para pengajar dalam mengembangkan model pengajaran bahasa yang lebih kontekstual dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

“Melalui kolaborasi kampus dan pesantren, kami ingin menunjukkan bahwa inovasi digital juga bisa menyentuh dunia pesantren, tidak hanya terbatas di ruang-ruang kelas formal,” jelas Ryan.

Sebagai bagian dari komitmen jangka panjang, Ryan dan tim berharap kerja sama ini dapat terus dikembangkan baik melalui program pengabdian lanjutan, pelatihan guru, maupun pengembangan kurikulum pesantren berbasis teknologi.

“UNUSIDA dan Pesantren Baitul Qur’an bisa saling menguatkan, baik dalam program akademis maupun non-akademis. Harapannya, sinergi ini bisa menjadi inspirasi bagi kampus dan pesantren lain di seluruh Indonesia untuk berinovasi dalam pengajaran berbasis AI,” pungkasnya. (MY)