UNUSIDA Menjadi Ruang Kreativitas dan Pembentukan Karakter, Kisah Inspiratif Agung Arie Iswanto Alumni Fakultas Ekonomi Prodi Manajemen 1

UNUSIDA Menjadi Ruang Kreativitas dan Pembentukan Karakter, Kisah Inspiratif Agung Arie Iswanto Alumni Fakultas Ekonomi Prodi Manajemen

Sidoarjo, 2025 — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menorehkan kisah inspiratif dari para alumninya. Salah satunya datang dari Agung Arie Iswanto, S.M., lulusan Fakultas Ekonomi Program Studi Manajemen, yang kini mengabdikan diri sebagai Perangkat Desa Sentul Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo.

Bagi Agung, perjalanan menempuh pendidikan di kampus hijau UNUSIDA bukan sekadar proses akademik, melainkan perjalanan pembentukan karakter dan ruang luas untuk mengasah kreativitas serta jiwa kepemimpinan. “UNUSIDA menjadi ruang kreativitas bagi mahasiswa. Saya bersyukur menjadi bagian dari kampus hijau ini. Di sini saya tidak hanya belajar teori, tetapi juga mendapat pengalaman berharga tentang manajemen, kepemimpinan, dan pengabdian masyarakat,” ungkap Agung saat ditemui di kantornya.

Sebagai mahasiswa yang aktif, Agung mengaku bahwa proses pembelajaran di Fakultas Ekonomi UNUSIDA memberinya bekal nyata untuk terjun di dunia kerja. Ia menilai, dosen-dosen di UNUSIDA memiliki kualitas akademik sekaligus pengalaman praktis yang sangat membantu mahasiswa memahami penerapan teori dalam konteks nyata. “Saya bisa menikmati materi tentang manajemen dan ekonomi dengan dosen yang berkualitas dan berpengalaman. Ruang diskusi selalu terbuka lebar, sehingga kami bisa berdialog, bertukar pikiran, dan belajar langsung dari pengalaman para dosen,” ujarnya.

Selain pembelajaran di kelas, Agung juga menilai bahwa pengalaman kunjungan industri ke berbagai perusahaan dan instansi menjadi momen berharga yang membuka mindset mahasiswa terhadap realitas dunia kerja. “Kunjungan ke berbagai perusahaan membuka wawasan kami tentang bagaimana teori manajemen diterapkan secara nyata. Itu menjadi bekal penting bagi kami untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja yang begitu cepat dan kompetitif,” tambahnya.

Namun, pengalaman paling berkesan bagi Agung selama kuliah di UNUSIDA justru datang dari aktivitas organisasi kemahasiswaan. Ia aktif mulai dari Himpunan Mahasiswa Program Studi (Himaprodi) hingga dipercaya menjadi bagian dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas. Dari organisasi inilah, ia belajar banyak hal tentang kepemimpinan, komunikasi, dan manajemen kegiatan.

“Berorganisasi di UNUSIDA mengasah soft skill kami. Kami belajar berdiskusi, bernegosiasi, menyampaikan pendapat dengan cara yang elegan, dan menjadi jembatan komunikasi antara mahasiswa dan dosen. Kami juga belajar mengkonsep kegiatan seperti seminar Economic Outlook, yang mengasah kemampuan konseptual dan kolaboratif kami,” kenang Agung.

Ia juga menambahkan, keterlibatan dalam organisasi membuatnya semakin percaya diri dalam berbicara di depan umum dan mampu berpikir kritis terhadap berbagai persoalan sosial. “Melalui organisasi, saya belajar public speaking, membangun mental yang tangguh, dan memperluas jaringan. Bahkan, melalui program magang dan PKL, kami berkesempatan merasakan atmosfir kerja nyata yang menjadi bekal saat terjun ke dunia profesional,” jelasnya.

Kini, pengalaman itu terbukti sangat relevan dengan pekerjaannya sebagai Perangkat Desa Sentul Kecamatan Tanggulangin. Ia menuturkan bahwa banyak mata kuliah dan pengalaman organisasi di kampus yang aplikatif dan selaras dengan tanggung jawabnya di pemerintahan desa.

“Semua teori yang saya pelajari, baik di ruang akademik maupun ruang aktivis, sangat kongkrit dengan pekerjaan saya saat ini. Misalnya, mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) membantu saya memahami bagaimana mengelola tim dan berinteraksi dengan masyarakat. Begitu juga dengan mata kuliah Psikologi Publik, yang sangat relevan ketika kami harus berhadapan langsung dengan berbagai karakter masyarakat,” tuturnya.

Menurut Agung, prinsip manajerial organisasi, koordinasi tugas pokok dan fungsi, hingga pelibatan masyarakat dalam pembangunan desa adalah hal yang sejalan dengan ilmu manajemen yang ia pelajari di UNUSIDA. “Manajemen itu bukan hanya tentang bisnis, tapi tentang mengelola sumber daya manusia dan potensi secara efektif. Di pemerintahan desa, kami juga menerapkan prinsip itu untuk mencapai kemajuan bersama,” lanjutnya.

Sebagai alumni, Agung berharap mahasiswa UNUSIDA saat ini dapat memanfaatkan semua kesempatan yang diberikan kampus untuk mengembangkan diri, baik di bidang akademik maupun non-akademik. Ia juga berpesan agar mahasiswa tidak ragu mengambil peran di organisasi karena pengalaman itu menjadi pembeda yang signifikan di dunia kerja.

“Gunakan waktu kuliah sebaik mungkin untuk berproses. Jangan takut aktif di organisasi, karena di situlah kita belajar memimpin, bekerja sama, dan menghadapi tantangan. Semua itu akan terasa manfaatnya nanti ketika kita bekerja. Saya adalah contoh kecil dari hasil proses itu,” pesannya penuh semangat.

Bagi Agung, UNUSIDA bukan sekadar tempat menuntut ilmu, melainkan rumah kedua yang menumbuhkan nilai-nilai keislaman, kemandirian, dan profesionalisme. “Saya bangga menjadi bagian dari Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo. Kampus ini bukan hanya mendidik secara akademik, tetapi juga membentuk karakter dan moralitas mahasiswa agar siap menjadi insan yang bermanfaat bagi masyarakat,” tutupnya.

Melalui kisah Agung Arie Iswanto, UNUSIDA membuktikan komitmennya dalam mencetak lulusan yang profesional, berkarakter, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Sinergi antara pembelajaran akademik, pengalaman praktis, dan pembinaan karakter di kampus hijau ini menjadi kunci keberhasilan para alumninya untuk berkontribusi nyata di berbagai bidang, termasuk di pemerintahan dan pelayanan publik.

Siti Nur Aini, M.Pd: Bangga Jadi Bagian dari UNUSIDA, Kampus yang Membentuk Karakter dan Kompetensi 2

Siti Nur Aini, M.Pd: Bangga Jadi Bagian dari UNUSIDA, Kampus yang Membentuk Karakter dan Kompetensi

Sidoarjo – “Pengalaman berkuliah di UNUSIDA bukan hanya momen belajar dan berdialektika di dalam kelas. Tetapi banyak sekali pengalaman, dari segi keilmuan, sarana prasarana, dan tidak kalah menarik di UNUSIDA juga jajaran civitas akademiknya yang berkualitas. Saya bangga menjadi alumni UNUSIDA, semoga UNUSIDA semakin maju dan berkualitas.”
Demikian ungkapan yang disampaikan oleh Siti Nur Aini, M.Pd, alumni Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), ketika mengenang masa-masa kuliahnya di kampus yang telah membentuk jalan karier dan kehidupannya saat ini.

Bagi Aini, sapaan akrabnya, UNUSIDA bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang belajar kehidupan. Di kampus ini, ia menemukan arti sejati dari proses, perjuangan, dan nilai-nilai yang menuntun dirinya menjadi pendidik yang berintegritas.

Belajar Lebih dari Sekadar di Dalam Kelas

Siti Nur Aini menuturkan bahwa perjalanan studinya di UNUSIDA tidak berhenti pada tumpukan teori atau diskusi di ruang kuliah. Ia justru banyak belajar dari dinamika interaksi antar mahasiswa, kegiatan kampus, serta berbagai kesempatan pengabdian masyarakat yang menjadi bagian integral dari sistem pendidikan di UNUSIDA.

“UNUSIDA mengajarkan kami untuk tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial. Saya banyak belajar bagaimana mengelola emosi, bekerja sama, dan berpikir kreatif dalam menghadapi tantangan di dunia nyata,” ujarnya.

Di bawah bimbingan para dosen PGSD yang berpengalaman, Aini belajar memahami dunia pendidikan dasar secara utuh—bagaimana cara menumbuhkan karakter siswa, merancang pembelajaran aktif, hingga menggunakan media digital dalam proses belajar mengajar.
Semangat dosen-dosen UNUSIDA yang selalu terbuka dan dekat dengan mahasiswa menjadi inspirasi tersendiri baginya. “Para dosen bukan hanya pengajar, tetapi juga pembimbing yang menuntun dengan hati,” tambahnya.

Sarana dan Prasarana yang Mendukung Proses Belajar

Bagi Aini, salah satu keunggulan UNUSIDA adalah keseriusannya dalam menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Fasilitas kampus yang representatif, laboratorium microteaching, ruang diskusi yang nyaman, serta dukungan digital learning environment menjadi pengalaman berharga selama kuliah.

“Sebagai mahasiswa PGSD, kami sering melakukan praktik mengajar di laboratorium pembelajaran. Fasilitas yang lengkap membuat kami lebih percaya diri ketika terjun langsung ke sekolah,” ungkapnya.

Selain itu, UNUSIDA juga terus berinovasi dalam pengembangan sistem pembelajaran. Penggunaan teknologi digital dan pendekatan student-centered learning membuat mahasiswa terbiasa berpikir mandiri dan aktif. “Saya merasakan langsung bagaimana dosen-dosen UNUSIDA menekankan pentingnya kreativitas dan literasi digital. Itu sangat berguna ketika saya mulai mengajar,” lanjutnya.

Civitas Akademika yang Profesional dan Humanis

Siti Nur Aini juga mengapresiasi peran besar civitas akademika UNUSIDA yang memiliki dedikasi tinggi terhadap kemajuan mahasiswa. Ia mengakui, suasana akademik di kampus terasa hangat dan kekeluargaan, namun tetap menjunjung profesionalitas.

“Hubungan antara dosen dan mahasiswa di UNUSIDA sangat dekat. Kami tidak segan untuk berdiskusi atau meminta bimbingan di luar jam kuliah. Para dosen memberikan contoh nyata tentang bagaimana menjadi pribadi yang rendah hati namun berwawasan luas,” kenangnya.

UNUSIDA, menurutnya, bukan hanya mencetak sarjana, tetapi juga membentuk insan berkarakter. Nilai-nilai ke-NU-an seperti tawadhu’, mandiri, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat menjadi ruh dalam setiap kegiatan akademik.
“Nilai itu yang terus saya bawa hingga kini. Dalam mengajar anak-anak, saya belajar menanamkan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan seperti yang saya dapatkan di kampus,” ucapnya.

Menjadi Guru dengan Jiwa Pengabdian

Setelah menyelesaikan studinya, Siti Nur Aini kini berprofesi sebagai pendidik di salah satu sekolah dasar di Sidoarjo. Ia mengaku banyak menerapkan ilmu yang diperoleh dari kampus dalam dunia kerja, terutama dalam hal metodologi pengajaran, komunikasi efektif dengan siswa, serta manajemen kelas.

“Ketika terjun ke lapangan, saya merasa siap. Materi-materi yang saya pelajari di UNUSIDA benar-benar aplikatif. Bahkan, saat menghadapi siswa dengan latar belakang berbeda, saya teringat pembelajaran tentang psikologi anak yang dulu diajarkan dosen,” tuturnya dengan bangga.

Baginya, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga bentuk pengabdian. Ia berharap bisa menjadi contoh bagi generasi muda agar tidak berhenti belajar dan terus memberikan manfaat di lingkungannya.
“Saya merasa UNUSIDA menanamkan semangat pengabdian itu. Kami tidak hanya diajarkan untuk menjadi cerdas, tetapi juga untuk bermanfaat,” katanya.

Bangga Menjadi Bagian dari UNUSIDA

Bagi Aini, gelar yang ia sandang kini adalah hasil kerja keras, doa, dan dukungan lingkungan kampus yang positif. Ia menilai UNUSIDA telah menjadi tempat yang ideal bagi generasi muda untuk tumbuh menjadi pribadi berilmu dan berakhlak.

“Saya bangga menjadi alumni UNUSIDA. Kampus ini bukan hanya mencetak sarjana, tetapi juga membentuk karakter dan kompetensi. Harapan saya, semoga UNUSIDA terus maju, semakin berkualitas, dan melahirkan lebih banyak lulusan yang siap berkontribusi untuk bangsa,” tutupnya.

UNUSIDA: Kampus yang Terus Berkembang

Sejak berdiri, Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo telah konsisten membangun reputasi sebagai kampus yang unggul dalam bidang akademik, riset, dan pengabdian masyarakat. Melalui berbagai inovasi pembelajaran, peningkatan akreditasi, dan penguatan jejaring kerja sama dengan dunia industri dan lembaga pendidikan, UNUSIDA terus berkomitmen menjadi kampus unggul yang berlandaskan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.

Semangat alumni seperti Siti Nur Aini, M.Pd menjadi bukti nyata bahwa UNUSIDA tidak hanya mengantarkan mahasiswa menuju gelar akademik, tetapi juga membekali mereka dengan karakter, etika, dan kemampuan untuk menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.

“UNUSIDA bukan sekadar tempat kuliah,” kata Aini menutup kisahnya, “tetapi tempat di mana cita-cita dan nilai-nilai kehidupan saya dibentuk. Saya akan selalu bangga menjadi bagian dari keluarga besar UNUSIDA.”

UNUSIDA Cetak Alumni Inspiratif, Imam Santoso Wahyu Nugroho Kini Sukses Jadi Pengawas Lapangan BPVP Banyuwangi 3

UNUSIDA Cetak Alumni Inspiratif, Imam Santoso Wahyu Nugroho Kini Sukses Jadi Pengawas Lapangan BPVP Banyuwangi

Sidoarjo – Setiap alumni memiliki kisah inspiratif yang bisa menjadi motivasi bagi mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan tinggi. Begitu pula dengan perjalanan Imam Santoso Wahyu Nugroho, S.Kom., alumni Program Studi Teknik Informatika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) yang lulus pada tahun 2021 dan kini berkarier sebagai Pengawas Lapangan di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Banyuwangi. Perjalanan Imam adalah gambaran nyata bagaimana kerja keras, ketekunan, serta pengalaman berorganisasi dan akademik selama kuliah dapat menjadi bekal penting untuk meniti karier di dunia profesional.

Sejak awal kuliah, Imam sudah memiliki ketertarikan besar pada dunia teknologi informasi. Ia menuturkan bahwa pilihannya masuk Prodi Teknik Informatika UNUSIDA didorong oleh keyakinan bahwa teknologi adalah bidang yang selalu berkembang dan akan terus dibutuhkan. Ketertarikan itu mendorongnya untuk terus belajar, mendalami materi perkuliahan, sekaligus mencari pengalaman di luar kelas. Kini, setelah beberapa tahun lulus, Imam dipercaya untuk bekerja sebagai pengawas lapangan di BPVP Banyuwangi, sebuah lembaga pelatihan di bawah naungan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia yang fokus pada peningkatan keterampilan dan produktivitas tenaga kerja. Dalam posisinya, Imam bertanggung jawab memastikan kelancaran berbagai program pelatihan, mengawasi teknis pelaksanaan di lapangan, serta berkoordinasi dengan berbagai pihak agar kegiatan berjalan sesuai standar. “Bekerja di BPVP Banyuwangi memberikan saya banyak pengalaman baru. Tugas saya bukan hanya sekadar mengawasi, tetapi juga belajar memahami karakter orang, bagaimana mengelola tim, serta memastikan target pelatihan tercapai. Itu semua membutuhkan kesabaran dan kedisiplinan,” ujarnya.

Dibalik pencapaian tersebut, Imam tidak lupa mengenang masa-masa kuliahnya di UNUSIDA. Ia mengaku salah satu pengalaman paling berkesan adalah saat harus rela mengerjakan tugas hingga larut malam, bahkan sampai dini hari. “Kalau ditanya yang paling berkesan, tentu saya ingat betul momen-momen begadang demi tugas. Kadang saya dan teman-teman harus menyelesaikan project pemrograman atau laporan praktikum sampai tengah malam. Walaupun lelah, justru dari situlah saya belajar arti tanggung jawab dan kerja sama,” kenangnya sambil tersenyum. Pengalaman itu ternyata menjadi bekal berharga dalam dunia kerja. Tekanan deadline, tuntutan ketelitian, dan kemampuan mengatur waktu yang dilatih selama masa kuliah benar-benar terpakai ketika ia menghadapi tantangan di pekerjaannya sekarang. “Rupanya begadang mengerjakan tugas waktu kuliah itu semacam simulasi kecil untuk kehidupan kerja sekarang,” tambahnya.

Menurut Imam, UNUSIDA tidak hanya memberikan pengetahuan akademik, tetapi juga menanamkan nilai-nilai karakter yang mendukung alumninya di dunia kerja. Ia merasakan betul bagaimana para dosen di Prodi Teknik Informatika selalu memberikan dorongan untuk berpikir kritis, disiplin, serta terbuka terhadap perkembangan teknologi. Selain itu, kegiatan organisasi dan forum diskusi di kampus juga membentuk kepribadiannya. Dari situ, ia belajar bagaimana bekerja dalam tim, bagaimana menyampaikan ide dengan baik, dan bagaimana menyelesaikan masalah secara bersama-sama. Semua itu sangat relevan dengan pekerjaan yang ia jalani sekarang, di mana komunikasi dan kolaborasi menjadi hal utama. Imam juga menilai bahwa dukungan dosen yang selalu terbuka untuk diskusi adalah salah satu kekuatan UNUSIDA. Para pengajar tidak hanya membimbing mahasiswa dalam perkuliahan, tetapi juga mendorong mereka untuk berani mencoba hal-hal baru dan mengembangkan potensi diri.

Sebagai alumni, Imam tidak lupa memberikan pesan motivasi kepada adik-adiknya di UNUSIDA. Ia menekankan bahwa masa kuliah adalah waktu yang sangat berharga untuk membangun bekal masa depan. Menurutnya, mahasiswa sebaiknya tidak hanya kuliah untuk mengejar nilai, melainkan juga memanfaatkan kesempatan untuk belajar soft skill seperti manajemen waktu, kerja sama tim, dan komunikasi. “Percayalah, semua itu akan sangat berguna ketika kalian sudah terjun ke dunia kerja,” ujarnya penuh semangat. Imam juga berpesan agar mahasiswa tidak takut menghadapi kesulitan. Tugas yang menumpuk, jadwal padat, dan tantangan akademik bukanlah hambatan, melainkan latihan untuk membentuk mental yang kuat. “Kalau kita sudah terbiasa menghadapi tekanan di masa kuliah, kita akan lebih siap menghadapi tantangan di dunia kerja,” tegasnya.

Kehadiran Imam di dunia kerja, khususnya di instansi pemerintah seperti BPVP Banyuwangi, menjadi bukti nyata bahwa UNUSIDA telah berhasil mencetak lulusan yang kompeten dan mampu bersaing. Peran alumni seperti Imam juga menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya bahwa dengan usaha, disiplin, dan ketekunan, peluang untuk sukses selalu terbuka lebar. Bagi UNUSIDA, kisah Imam bukan hanya sekadar cerita pribadi, tetapi juga cerminan keberhasilan program pendidikan yang diterapkan. Dengan mengombinasikan teori, praktik, serta pembinaan karakter, kampus berhasil menyiapkan lulusan yang siap menghadapi tantangan di berbagai bidang pekerjaan.

Kisah perjalanan Imam Santoso Wahyu Nugroho, S.Kom., dari seorang mahasiswa yang rela begadang demi tugas hingga menjadi Pengawas Lapangan BPVP Banyuwangi, adalah inspirasi bagi seluruh mahasiswa UNUSIDA. Semangat, dedikasi, dan kerja kerasnya menunjukkan bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia. Apa yang ia alami selama kuliah di UNUSIDA menjadi fondasi kokoh dalam membangun karier profesionalnya. Dan kini, ia berdiri sebagai contoh nyata bahwa dengan tekad dan konsistensi, setiap mahasiswa bisa menggapai cita-cita.

Fathandy Isragana Naim, S.T.: Dari Teknik Lingkungan UNUSIDA Menuju Profesional di Dunia Laboratorium 4

Fathandy Isragana Naim, S.T.: Dari Teknik Lingkungan UNUSIDA Menuju Profesional di Dunia Laboratorium

Sidoarjo – Setiap alumni memiliki kisahnya masing-masing tentang bagaimana masa kuliah menjadi bekal penting untuk perjalanan karier. Begitu pula dengan Fathandy Isragana Naim, S.T., lulusan Program Studi S1 Teknik Lingkungan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), yang kini berkarier sebagai Staff QC Laboratorium di PT. UNIChemCandi Indonesia. Baginya, pengalaman semasa kuliah bukan hanya tentang mengejar gelar sarjana, melainkan proses pembentukan diri, penanaman nilai, dan penguatan kompetensi yang berperan besar dalam pekerjaannya sekarang.

Bekal dari Kampus untuk Dunia Kerja

Masa perkuliahan, menurut Fathandy, adalah ruang yang sangat berharga untuk mengasah kemahiran, memperluas jaringan, hingga mencicipi dunia kerja melalui program magang. Sebagai mahasiswa Teknik Lingkungan UNUSIDA, ia merasa mendapat banyak kesempatan untuk belajar langsung dari pengalaman, baik di kelas maupun di lapangan.

“Menjadi bagian dari Teknik Lingkungan UNUSIDA memberikan saya pengalaman dan wawasan yang luas yang sebelumnya tidak pernah saya alami. Apa yang telah diajarkan bapak dan ibu dosen sangat membantu di dunia kerja. Kami diajarkan untuk menjadi profesional, bukan hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengaplikasikannya,” ungkapnya.

Baginya, menjadi seorang sarjana Teknik Lingkungan berarti memiliki tanggung jawab besar sebagai agen perubahan: menjaga kelestarian alam, melindungi kesehatan manusia, mengendalikan pencemaran, serta memastikan keberlanjutan lingkungan untuk generasi mendatang.

Pengalaman Berkesan Selama Kuliah

Fathandy tak hanya mengingat kuliah sebagai rutinitas akademik, melainkan juga wadah untuk mengembangkan diri secara menyeluruh. Ia mengaku mendapatkan banyak dukungan, baik dari dosen maupun lingkungan kampus, yang memberinya ruang untuk berproses.

“Kesempatan yang saya dapatkan sangat bermanfaat, seperti menjadi asisten laboratorium, mengikuti berbagai perlombaan, serta seminar nasional dan internasional. Keakraban dengan dosen dan teman kuliah, kurikulum yang relevan, hingga metode learning by doing benar-benar membuat saya berkembang. Di situ saya bisa mengasah soft skill baru, meningkatkan public speaking, membangun relasi, hingga melatih kedisiplinan dan mental tahan banting,” jelasnya.

Menurutnya, pengalaman-pengalaman tersebut kini sangat terasa manfaatnya di dunia kerja, terutama ketika menghadapi dinamika laboratorium dan tuntutan standar kualitas di PT. UNIChemCandi Indonesia.

Organisasi sebagai Sekolah Kehidupan

Selain akademik, Fathandy aktif dalam berbagai organisasi baik di dalam maupun luar kampus. Ia terlibat dalam kegiatan URC FOREST, Palang Merah Indonesia (PMI), serta relawan BPBD. Keterlibatannya dalam organisasi kebencanaan dan lingkungan memberinya banyak pelajaran tentang kepemimpinan, kerja tim, dan kepedulian sosial.

“Bagi saya, membangun jaringan dan skill adalah keterampilan penting yang harus diasah sejak kuliah. Dengan ikut organisasi, saya bisa mengasah soft skill, melatih komunikasi, serta memperluas relasi. Dari relasi itulah sering muncul kesempatan-kesempatan berharga yang bisa bermanfaat untuk masa depan,” tutur Fathandy.

Ia percaya, pengalaman berorganisasi memperkuat dirinya dalam menghadapi berbagai situasi di dunia kerja, termasuk saat harus mengambil keputusan penting, memimpin sebuah tim, atau beradaptasi dengan lingkungan baru.

Dari Kampus ke Dunia Industri

Kini, sebagai Staff QC Laboratorium, Fathandy mengaplikasikan langsung ilmu yang diperoleh di bangku kuliah. Ia bertanggung jawab memastikan kualitas dan standar produk sesuai dengan regulasi yang berlaku, sebuah pekerjaan yang membutuhkan ketelitian, keterampilan teknis, serta pemahaman mendalam tentang lingkungan dan kesehatan.

“Pengalaman praktikum dan penelitian semasa kuliah benar-benar jadi bekal utama. Saya terbiasa melakukan uji coba, membaca data, serta menarik kesimpulan. Itu sangat relevan dengan pekerjaan saya sekarang di laboratorium,” katanya.

Pesan untuk Mahasiswa UNUSIDA

Sebagai alumni, Fathandy menitipkan pesan motivasi bagi mahasiswa UNUSIDA agar tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga aktif mencari pengalaman lain yang bisa memperkaya diri.

“Untuk adik-adik mahasiswa UNUSIDA, jangan pernah patah semangat untuk mengejar mimpi kalian. Ubah mindset untuk mengubah masa depan. Jangan takut mencoba hal baru, sekalipun gagal. Jadikan kegagalan sebagai pelajaran untuk memperbaiki diri dan meraih keberhasilan,” pesannya penuh semangat.

Ia juga menekankan pentingnya menjadikan pengetahuan sebagai investasi utama. “Memiliki wawasan luas adalah senjata terbaik untuk masa depan. Ingatlah kehidupan kampus sebagai masa emas untuk terus mengasah diri. Jangan habiskan waktu untuk berkeluh kesah, gunakan setiap momen untuk bertumbuh,” tambahnya.

Inspirasi bagi Generasi Selanjutnya

Kisah perjalanan Fathandy Isragana Naim, S.T. menjadi bukti bahwa UNUSIDA telah menyiapkan lulusannya untuk bersaing di dunia kerja sekaligus berkontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Dari pengalaman praktikum, penelitian, hingga organisasi, ia berhasil membentuk kompetensi profesional yang kini membawanya menjadi bagian penting dari dunia industri.

Lebih dari sekadar perjalanan pribadi, kisah Fathandy juga menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan calon mahasiswa UNUSIDA. Bahwa dengan semangat belajar, keberanian mencoba, dan kesediaan menghadapi tantangan, setiap orang bisa menapaki jalan menuju masa depan yang gemilang.

Dewi Sri Rahayu, S.Ak saat Menerima Piagam Penghargaan Lulusan Terbaik Fakultas Ekonomi UNUSIDA dari Rektor (Foto: Humas UNUSIDA)

Dewi Sri Rahayu: Lulusan Terbaik Fakultas Ekonomi UNUSIDA, Bukti Kerja Keras dan Doa

SIDOARJO – Dewi Sri Rahayu, S.Ak, menjadi lulusan terbaik Program Studi Akuntansi sekaligus Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Hal tersebut disampaikan saat Yudisium ke-9 FE UNUSIDA di Ballroom PCNU Sidoarjo, Kamis (7/8/2025) lalu.

Dewi berhasil lulus dengan IPK 3,94 mengungguli lulusan Fakultas Ekonomi UNUSIDA lainnya. Meskipun begitu, Dewi mengaku bahwa pencapaian ini menjadi momen yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Alhamdulillah, tentu perasaan saya sangat bersyukur dan terharu bisa mendapat penghargaan sebagai lulusan terbaik. Saya percaya pencapaian ini bukan hanya hasil usaha saya pribadi, tapi juga doa orang tua, bimbingan dosen, dan dukungan teman-teman,” ungkapnya saat diwawancara oleh Tim Humas UNUSIDA, Selasa (26/8/2025).

Motivasi Ganda: Membanggakan Orang Tua dan Membuktikan Diri

Bagi Dewi, motivasi terbesar selama kuliah adalah kedua orang tua dan keluarga. Sejak awal menempuh pendidikan tinggi, ia tidak hanya belajar, tetapi juga bekerja untuk membiayai studinya sendiri.

“Selain ingin membuat orang tua bangga, saya juga ingin membuktikan kepada diri sendiri bahwa dengan kerja keras dan doa, semua bisa tercapai,” tuturnya.

Tantangan yang Menguatkan

Menjalani kuliah sembari bekerja bukan perkara mudah. Dewi harus pintar membagi waktu, tenaga, dan pikiran agar semua kewajiban dapat terselesaikan.

“Tantangan terbesar adalah menyeimbangkan kuliah dan pekerjaan. Ada kalanya benar-benar lelah, tapi justru dari situ saya belajar tentang disiplin, tanggung jawab, manajemen waktu, dan pentingnya konsistensi,” ujarnya.

Peran UNUSIDA dalam Perjalanan Akademik

Dewi juga menegaskan bahwa peran UNUSIDA, khususnya Fakultas Ekonomi, sangat besar dalam perjalanan akademiknya. Selain mendapatkan bekal ilmu, ia juga mendapat kesempatan bekerja di lingkungan kampus yang sangat membantunya.

“Saya berterima kasih kepada dosen-dosen yang bukan hanya membimbing di kelas, tetapi juga memberi arahan tentang kehidupan dan karier. Dukungan itu menjadi salah satu alasan saya bisa menyelesaikan studi sampai akhir,” jelasnya.

Pesan untuk Mahasiswa

Sebagai lulusan terbaik, Dewi memberikan pesan berharga untuk adik tingkatnya. Menurutnya, hal terpenting dalam hidupnya adalah dapat menikmati setiap proses dalam kuliah maupun bekerja.

“Jangan pernah menyerah pada keadaan. Nikmati prosesnya, jangan hanya mengejar hasil. Dan yang paling penting, libatkan doa orang tua dalam setiap langkah, serta jangan takut meminta arahan dari dosen. Percayalah, usaha tidak akan mengkhianati hasil,” pesannya.

Rencana ke Depan

Setelah lulus, Dewi berencana untuk terus mengembangkan diri melalui studi lanjut maupun memperluas pengalaman kerja.

“Kalau soal menikah, tentu itu bagian dari rencana hidup juga, tapi waktunya biar Allah yang atur. Yang jelas, saya ingin tetap produktif dan bermanfaat, di jalur apa pun yang saya tempuh,” ujarnya.

Harapan untuk UNUSIDA

Lebih lanjut, Dewi menyampaikan harapannya untuk kampus tercinta. Ia berharap, UNUSIDA dapat berkembang menjadi kampus yang diperhitungkan di tengah masyarakat.

“Semoga UNUSIDA, khususnya Fakultas Ekonomi, terus berkembang menjadi kampus yang melahirkan generasi unggul, berdaya saing, dan berakhlak. Semoga semakin banyak inovasi, kesempatan, dan fasilitas yang mendukung mahasiswa untuk berprestasi, baik akademik maupun non-akademik. Dan semoga nama UNUSIDA semakin harum, bukan hanya di Sidoarjo, tapi juga di tingkat nasional dan internasional,” harapnya. (MY)

Mengukir Karier Cemerlang: Kisah Inspiratif Alumni UNUSIDA di Dunia Profesional 5

Mengukir Karier Cemerlang: Kisah Inspiratif Alumni UNUSIDA di Dunia Profesional

Sidoarjo – Dunia kerja yang penuh persaingan menuntut kesiapan dan keterampilan yang mumpuni dari setiap lulusan perguruan tinggi. Hal ini juga dirasakan oleh Nafa Putri Maulidya, S.M, salah satu alumni Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) yang kini sukses meniti karier di Bagian Sekretariat RSI Siti Hajar Sidoarjo. Perjalanan Nafa menjadi bukti nyata bahwa peran kampus sangat penting dalam membentuk kesiapan mahasiswa menghadapi tantangan dunia profesional (25-08-2025).

Menurut Nafa, pengalaman yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di UNUSIDA memberikan bekal berharga, bukan hanya berupa teori, tetapi juga keterampilan praktis. Melalui berbagai program kampus seperti kegiatan magang, penguasaan keterampilan, hingga pengabdian masyarakat, Nafa merasa lebih siap untuk melangkah ke dunia kerja yang lebih luas. “Peran kampus dalam karier sangatlah penting dan berpengaruh, khususnya bagi mahasiswa untuk mempersiapkan diri memasuki dunia kerja yang lebih luas dan membangun karier yang lebih sukses,” ungkapnya.

Magang menjadi salah satu pengalaman yang sangat berkesan bagi Nafa. Dari program tersebut, ia dapat merasakan langsung suasana kerja yang sesungguhnya, belajar menghadapi dinamika organisasi, serta mengasah kemampuan komunikasi dan manajemen waktu. Pengalaman ini membuatnya semakin percaya diri ketika akhirnya memasuki dunia kerja yang nyata. Selain itu, melalui pengabdian masyarakat, ia belajar bagaimana mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah untuk membantu masyarakat secara langsung, sekaligus menumbuhkan rasa kepedulian sosial yang tinggi.

Kini, Nafa membuktikan bahwa bekal ilmu dan pengalaman dari kampus mampu menjadi landasan kuat dalam membangun karier. Di posisi strategisnya sebagai staf sekretariat di RSI Siti Hajar Sidoarjo, ia dituntut untuk bekerja dengan teliti, disiplin, serta mampu berkomunikasi dengan berbagai pihak. Semua keterampilan itu, menurutnya, sudah mulai terasah sejak di bangku kuliah. Ia juga menekankan pentingnya keaktifan mahasiswa dalam mengikuti berbagai kegiatan di kampus, karena dari situlah jaringan, pengalaman, dan keterampilan tambahan bisa didapatkan.

Perjalanan karier Nafa memberikan pesan kuat bagi mahasiswa dan generasi muda, khususnya di UNUSIDA. Bahwa kesuksesan tidak datang secara instan, melainkan melalui proses panjang yang penuh perjuangan. Keseriusan dalam belajar, memanfaatkan setiap kesempatan magang, aktif dalam organisasi, serta keterlibatan dalam pengabdian masyarakat akan menjadi modal besar untuk meraih masa depan yang lebih cerah.

Kisah inspiratif ini diharapkan mampu memotivasi mahasiswa UNUSIDA agar tidak hanya fokus pada nilai akademik, tetapi juga aktif mengembangkan diri melalui berbagai program kampus yang tersedia. Dengan begitu, mereka akan lebih siap menghadapi dunia kerja yang kompetitif, sekaligus mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Bagi Nafa, sukses bukan hanya soal posisi atau jabatan, tetapi tentang bagaimana ilmu yang diperoleh dapat bermanfaat bagi orang lain. Dengan semangat itu, ia terus melangkah maju, sekaligus membawa nama baik almamater tercinta, Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo. (AS)