Iyung Fachrur Rozi, Alumni Informatika UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Dari Ruang Kelas ke Dunia Industri: Iyung Fachrur Rozi, Alumni Informatika UNUSIDA yang Kini Berkarier sebagai Programmer

Dunia teknologi yang terus berkembang membutuhkan sumber daya manusia yang adaptif, inovatif, serta memiliki kemampuan problem solving yang kuat. Hal tersebut tercermin dalam perjalanan karier Iyung Fachrur Rozi, S.Kom., alumni Program Studi Informatika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) tahun 2025 yang kini berkarier sebagai Programmer di PT. Madina Mentari Teknologi.

Bagi Iyung, menjadi mahasiswa Informatika UNUSIDA bukan sekadar perjalanan akademik untuk memperoleh gelar sarjana. Lebih dari itu, masa perkuliahannya menjadi ruang pembelajaran yang membentuk kemampuan berpikir logis, keterampilan pemrograman, hingga kesiapan menghadapi kebutuhan industri teknologi yang dinamis.

“Menjadi mahasiswa Informatika UNUSIDA adalah pengalaman berkesan karena saya tidak hanya belajar teori, tetapi juga langsung praktik membangun sistem nyata yang relevan dengan dunia kerja,” ungkap Iyung kepada Humas UNUSIDA, Ahad (17/5/2026).

Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting dalam perjalanan profesionalnya saat ini. Di tengah perkembangan industri digital yang menuntut inovasi cepat dan kemampuan adaptasi tinggi, pengalaman praktik yang diperoleh selama masa kuliah memberikan nilai tambah tersendiri.

Selama menempuh pendidikan di UNUSIDA, Iyung merasakan bahwa proses pembelajaran yang diterapkan tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga menekankan aspek implementasi. Mahasiswa didorong untuk terlibat dalam berbagai proyek, pengembangan sistem, serta penyelesaian studi kasus yang relevan dengan kebutuhan dunia industri.

Pendekatan pembelajaran tersebut membantu mahasiswa memahami bagaimana konsep pemrograman, pengembangan perangkat lunak, serta manajemen sistem diterapkan secara nyata dalam lingkungan profesional. Melalui berbagai pengalaman proyek, mahasiswa tidak hanya belajar menulis kode, tetapi juga memahami proses analisis kebutuhan pengguna, desain sistem, hingga penyelesaian masalah berbasis teknologi.

Menurut Iyung, lingkungan akademik yang suportif menjadi salah satu faktor penting yang mendukung perkembangan kompetensinya. Dukungan dosen yang kompeten dan terbuka terhadap diskusi membuat proses belajar terasa lebih dinamis dan aplikatif.

“Lingkungan akademik yang suportif dan dosen yang kompeten membantu saya mengembangkan kemampuan problem solving serta logika pemrograman secara mendalam,” jelasnya.

Kemampuan problem solving sendiri menjadi salah satu aspek yang sangat penting dalam profesi programmer. Dalam dunia kerja, seorang programmer tidak hanya dituntut mampu membuat program berjalan dengan baik, tetapi juga harus mampu menemukan solusi atas berbagai tantangan teknis yang muncul selama proses pengembangan teknologi.

Kini, sebagai seorang programmer di PT. Madina Mentari Teknologi, Iyung merasakan secara langsung bagaimana fondasi yang dibangun selama kuliah berperan besar dalam mendukung pekerjaannya. Ia menghadapi berbagai tantangan industri yang membutuhkan ketelitian, kemampuan analitis, serta kecepatan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi.

Menurutnya, dunia teknologi adalah bidang yang bergerak sangat cepat. Bahasa pemrograman, framework, hingga kebutuhan industri dapat berubah dalam waktu singkat. Oleh sebab itu, seseorang yang berkarier di bidang teknologi harus memiliki pola pikir pembelajar dan kesiapan untuk terus mengembangkan kompetensi.

“Kini, sebagai seorang programmer, saya merasakan bahwa fondasi yang dibangun selama kuliah sangat berperan dalam menghadapi tantangan industri teknologi,” ujarnya.

Selain pembelajaran di kelas, pengalaman proyek selama kuliah juga menjadi bekal berharga dalam memahami kebutuhan industri secara nyata. Keterlibatan dalam proyek pengembangan sistem membuat Iyung terbiasa bekerja secara sistematis, memahami alur kerja pengembangan teknologi, serta berkolaborasi dalam menyelesaikan tugas berbasis tim.

Ia menilai bahwa kampus memiliki peran besar dalam membentuk dasar keilmuan sekaligus pola pikir profesional seorang mahasiswa. Melalui pembelajaran yang terstruktur dan aplikatif, mahasiswa tidak hanya dibekali kemampuan teknis, tetapi juga diajarkan bagaimana menghadapi tantangan pekerjaan secara profesional.

“Kampus berperan penting dalam membentuk dasar keilmuan dan pola pikir saya sebagai seorang programmer melalui pembelajaran yang terstruktur dan aplikatif. Dukungan dosen serta pengalaman proyek selama kuliah membantu saya memahami kebutuhan industri secara nyata,” tuturnya.

Bekal tersebut membuatnya lebih siap dan percaya diri dalam memulai serta mengembangkan karier di bidang teknologi. Baginya, kesiapan memasuki dunia kerja tidak dibangun secara instan, melainkan melalui proses belajar yang konsisten, lingkungan yang mendukung, dan kemauan untuk terus berkembang.

Kisah Iyung Fachrur Rozi menjadi salah satu gambaran nyata bagaimana pendidikan tinggi dapat berperan penting dalam membentuk generasi profesional yang siap bersaing di dunia kerja. Perjalanan kariernya menunjukkan bahwa kombinasi antara pembelajaran teoritis, praktik nyata, dan dukungan akademik mampu menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan industri.

Sebagai alumni Informatika UNUSIDA, Iyung juga memberikan pesan bagi mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan agar memanfaatkan masa kuliah sebaik mungkin untuk memperkuat kompetensi dan memperluas pengalaman.

Menurutnya, mahasiswa tidak perlu takut mencoba hal baru, mengikuti proyek, maupun mengasah keterampilan di luar ruang kelas. Sebab, pengalaman tersebut akan menjadi bekal penting ketika memasuki dunia profesional.

“Alumni UNUSIDA harus membuktikan bahwa lulusan muda hari ini mampu bersaing dan berkontribusi dalam industri teknologi. Kisah inspiratif ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa UNUSIDA untuk terus membangun kompetensi, mengembangkan inovasi, dan berani mengambil peran dalam menghadapi tantangan era digital,” pungkasnya.

Bekal Disiplin dari UNUSIDA, Tegar Pratama Sukses Bangun Karier HRD Sejak Dini 1

Bekal Disiplin dari UNUSIDA, Tegar Pratama Sukses Bangun Karier HRD Sejak Dini

Menjadi bagian dari alumni Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo bukan sekadar menyandang gelar akademik, tetapi juga membawa nilai, pengalaman, dan bekal keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Hal inilah yang dirasakan oleh Moch Tegar Pratama, S.M., lulusan Program Studi Manajemen tahun 2024 yang kini berkarier sebagai Human Resource Development (HRD) di PT Xin Rui Internasional Konstruksi.

Sejak masa kuliah, Tegar dikenal sebagai mahasiswa yang aktif dan memiliki semangat belajar tinggi. Ia tidak hanya fokus pada teori di dalam kelas, tetapi juga berusaha memahami bagaimana ilmu manajemen dapat diterapkan dalam situasi nyata. Baginya, dunia perkuliahan adalah tempat untuk membangun fondasi yang kuat, baik dari sisi akademik maupun pengembangan diri.

“Bangga pernah menempuh pendidikan di UNUSIDA. Dari sini saya belajar disiplin, berani menghadapi tantangan, dan cepat beradaptasi—bekal berharga dari kurikulum yang aplikatif hingga mengantarkan saya meraih karier lebih cepat,” ungkap Tegar.

Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Selama menjalani studi, Tegar merasakan bahwa kurikulum yang diterapkan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mengasah kemampuan praktis. Hal ini menjadi salah satu faktor penting yang memudahkannya beradaptasi saat memasuki dunia kerja.

Perjalanan karier Tegar dimulai tidak lama setelah ia menyelesaikan studinya. Berbekal ilmu manajemen sumber daya manusia yang diperoleh selama kuliah, ia berhasil mendapatkan posisi sebagai HRD di PT Xin Rui Internasional Konstruksi. Peran ini tentu tidak sederhana, mengingat HRD memiliki tanggung jawab besar dalam mengelola sumber daya manusia dalam sebuah perusahaan.

Sebagai HRD, Tegar bertanggung jawab dalam berbagai aspek, mulai dari proses rekrutmen, pengelolaan karyawan, hingga pengembangan sumber daya manusia. Ia juga dituntut untuk mampu memahami karakter individu, membangun komunikasi yang efektif, serta menciptakan lingkungan kerja yang kondusif.

Menurutnya, tantangan terbesar di dunia kerja bukan hanya tentang kemampuan teknis, tetapi juga bagaimana seseorang mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan. Di sinilah nilai-nilai yang ia pelajari selama kuliah menjadi sangat relevan.

“Dunia kerja itu dinamis. Kita dituntut untuk cepat belajar dan menyesuaikan diri. Untungnya, selama kuliah saya sudah terbiasa dengan berbagai tantangan, baik melalui tugas, diskusi, maupun pengalaman organisasi,” tambahnya.

Selain kemampuan adaptasi, disiplin juga menjadi kunci penting dalam perjalanan karier Tegar. Ia menilai bahwa kedisiplinan yang dibangun sejak masa kuliah sangat membantu dalam menjalankan tanggung jawab profesional. Dalam dunia kerja, waktu, target, dan konsistensi menjadi hal yang tidak bisa ditawar.

Tak hanya itu, keberanian untuk menghadapi tantangan juga menjadi salah satu nilai yang terus ia pegang hingga saat ini. Tegar menyadari bahwa setiap peluang sering kali datang bersama risiko. Oleh karena itu, ia memilih untuk tidak ragu dalam mencoba hal baru selama masih dalam koridor positif.

Pengalaman Tegar menjadi bukti bahwa lulusan perguruan tinggi memiliki peluang besar untuk langsung terjun ke dunia kerja apabila dibekali dengan kompetensi yang tepat. Ia juga menekankan pentingnya kesiapan mental dan kemauan untuk terus belajar sebagai faktor pendukung kesuksesan.

Bagi mahasiswa yang saat ini masih menempuh pendidikan, Tegar berpesan agar tidak hanya fokus pada nilai akademik semata. Menurutnya, pengalaman di luar kelas seperti organisasi, pelatihan, dan praktik kerja lapangan memiliki peran yang tidak kalah penting dalam membentuk karakter dan keterampilan.

“Manfaatkan waktu kuliah sebaik mungkin. Jangan takut mencoba hal baru, karena dari situlah kita belajar. Dunia kerja membutuhkan lebih dari sekadar teori,” pesannya.

Ia juga mengingatkan bahwa setiap mahasiswa memiliki kesempatan yang sama untuk sukses, asalkan memiliki kemauan dan komitmen untuk berkembang. Kesuksesan tidak datang secara instan, melainkan melalui proses yang panjang dan penuh pembelajaran.

Perjalanan Moch Tegar Pratama, S.M., menjadi inspirasi nyata bagi generasi muda, khususnya mahasiswa dan alumni UNUSIDA. Dengan bekal disiplin, keberanian, dan kemampuan adaptasi, ia mampu membuktikan bahwa lulusan baru pun dapat bersaing dan meraih karier dalam waktu yang relatif cepat.

Kisah ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pendidikan tinggi bukan hanya tentang memperoleh gelar, tetapi juga tentang membentuk karakter, pola pikir, dan kesiapan menghadapi tantangan masa depan. Dengan semangat belajar yang terus dijaga, bukan tidak mungkin setiap mahasiswa dapat mengikuti jejak Tegar dalam meraih kesuksesan di bidang yang mereka tekuni.

Melalui cerita inspiratif ini, diharapkan semakin banyak mahasiswa yang termotivasi untuk memaksimalkan potensi diri dan mempersiapkan masa depan sejak dini. Karena pada akhirnya, kesuksesan adalah hasil dari usaha, konsistensi, dan keberanian untuk melangkah maju.

Dosen Informatika UNUSIDA, Ahmad Khoir Alhaq, S.Kom., M.Kom. (Foto: Humas UNUSIDA)

Perjalanan Inspiratif Ahmad Khoir Alhaq, Alumni yang Kini Mengabdi Sebagai Dosen Informatika UNUSIDA

Perjalanan menuju kesuksesan tidak selalu dimulai dari hal besar, tetapi dari keberanian mencoba dan terus belajar. Hal ini tercermin dari sosok Ahmad Khoir Alhaq, S.Kom., M.Kom., alumni S1 Informatika tahun 2020 yang kini mengabdi sebagai dosen di Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA).

Sejak masa kuliah, Ahmad dikenal sebagai mahasiswa yang aktif berorganisasi. Keterlibatannya dalam berbagai kegiatan kampus menjadi titik awal terbentuknya karakter dan kepercayaan dirinya. Ia tidak hanya berperan sebagai anggota, tetapi juga dipercaya mengemban tanggung jawab sebagai wakil ketua panitia dalam sebuah seminar.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan hidupnya. Dalam peran tersebut, ia mendapatkan kesempatan untuk membawakan sambutan di hadapan banyak peserta. Meski sempat merasa gugup, Ahmad justru melihat hal itu sebagai bagian dari proses belajar yang berharga.

“Saya aktif berorganisasi hingga dipercaya menjadi wakil ketua panitia seminar dan membawakan sambutan. Meski sempat gugup, pengalaman tersebut melatih kemampuan komunikasi publik saya dan memperkuat rasa percaya diri dalam menghadapi audiens yang luas,” ungkapnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (29/4/2026).

Dari pengalaman sederhana itulah, Ahmad mulai menyadari bahwa organisasi bukan sekadar wadah berkegiatan, tetapi juga ruang pembentukan diri. Ia belajar bagaimana mengelola tanggung jawab, bekerja dalam tim, serta menyampaikan ide dengan baik di depan publik.

Menurutnya, kemampuan komunikasi publik menjadi salah satu keterampilan penting yang sering kali tidak disadari manfaatnya sejak dini. Padahal, di dunia akademik maupun profesional, kemampuan ini sangat dibutuhkan baik saat presentasi, mengajar, maupun berinteraksi dengan banyak orang.

Perjalanan Ahmad tidak berhenti setelah menyelesaikan studi sarjana. Semangat belajarnya membawanya melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. Ia berhasil mendapatkan kesempatan beasiswa untuk melanjutkan studi S2, sebuah pencapaian yang menjadi bukti bahwa kerja keras dan konsistensi akan selalu menemukan jalannya.

Selama menempuh pendidikan magister, Ahmad semakin mengasah kemampuan akademiknya sekaligus memperkuat visi untuk berkontribusi di dunia pendidikan. Hingga akhirnya, ia kembali ke almamater sebagai dosen Informatika, mengabdikan ilmu yang telah diperolehnya kepada generasi berikutnya.

Sebagai dosen, Ahmad tidak hanya mengajarkan materi perkuliahan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai penting kepada mahasiswa. Ia sering membagikan pengalaman pribadinya tentang pentingnya aktif berorganisasi dan berani keluar dari zona nyaman.

“Aktif berorganisasi bukan hanya soal pengalaman, tapi juga tentang membentuk keberanian dan kepercayaan diri. Dari rasa gugup hingga mampu berbicara di depan banyak orang, semua adalah proses yang berharga,” tuturnya.

Ia juga menekankan bahwa keterlibatan dalam organisasi membuka banyak peluang belajar yang tidak selalu didapatkan di ruang kelas. Mulai dari melatih kepemimpinan, manajemen waktu, hingga kemampuan beradaptasi dengan berbagai karakter.

Menurut Ahmad, mahasiswa yang aktif cenderung memiliki kesiapan lebih baik dalam menghadapi dunia kerja. Mereka terbiasa menghadapi tantangan, berkomunikasi, serta mengambil keputusan dalam situasi tertentu.

Kisah Ahmad menjadi bukti nyata bahwa pengalaman organisasi memiliki peran besar dalam membentuk masa depan seseorang. Dari rasa gugup saat pertama kali berbicara di depan umum, hingga kini mampu berdiri sebagai dosen yang mengajar di depan banyak mahasiswa, semuanya adalah hasil dari proses panjang yang dijalani dengan konsisten.

Ia berharap mahasiswa saat ini tidak ragu untuk mencoba berbagai pengalaman selama kuliah. Baginya, kegagalan atau rasa tidak percaya diri di awal bukanlah hambatan, melainkan bagian dari perjalanan menuju versi terbaik diri.

“Jangan takut untuk mencoba. Semua orang pernah merasa tidak percaya diri. Tapi dari situlah kita belajar dan berkembang,” pesannya.

Sebagai alumni, Ahmad juga merasa bangga dapat kembali ke UNUSIDA, tidak hanya sebagai lulusan, tetapi juga sebagai pengajar yang turut berkontribusi dalam mencetak generasi unggul di bidang teknologi.

Perjalanannya menjadi inspirasi bagi banyak mahasiswa bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik, tetapi juga oleh keberanian mengambil peluang, kemauan belajar, dan konsistensi dalam mengembangkan diri.

Dari organisasi, Ahmad belajar berbicara. Dari pengalaman, ia belajar percaya diri. Dan dari proses itulah, ia tumbuh menjadi sosok pendidik yang menginspirasi.

Kisah Ahmad Khoir Alhaq, S.Kom., M.Kom. mengingatkan bahwa setiap langkah kecil yang diambil hari ini dapat menjadi fondasi besar di masa depan. Aktif berorganisasi bukan hanya menambah pengalaman, tetapi juga membuka jalan menuju peluang yang lebih luas—bahkan hingga kembali mengabdi sebagai dosen di kampus tercinta.

Zaza Wahyu Faradillah, Alumni PGSD UNUSIDA Tahun 2022 (Foto: Humas UNUSIDA)

Zaza Wahyu Faradillah, Alumni PGSD UNUSIDA Buktikan Bekal Ilmu yang Relevan dengan Dunia Kerja

Pengalaman perkuliahan yang relevan dengan kebutuhan profesi menjadi kunci keberhasilan lulusan saat memasuki dunia kerja. Hal inilah yang dirasakan oleh Zaza Wahyu Faradillah, alumni Program Studi PGSD Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) angkatan 2022.

Kini Zaza berprofesi sebagai guru di SD Negeri Pilang 1 Sidoarjo. Ia menuturkan bahwa ilmu dan pengalaman selama kuliah benar-benar membantunya memahami “medan” pekerjaan yang dijalani. Menurutnya, materi perkuliahan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi aplikatif dan selaras dengan praktik di sekolah.

“Ilmu sesuai jurusan yang saya pelajari di bangku kuliah sangat membimbing saya. Saat terjun ke dunia kerja, saya tidak terlalu kesulitan memahami ritme dan tantangan profesi guru,” ungkapnya.

Zaza menuturkan bahwa proses belajar di kampus telah membentuk fondasi penting untuk terus tumbuh, beradaptasi, serta berkembang menghadapi dinamika dunia pendidikan dan profesional yang terus berubah.

Menurutnya, pembiasaan berpikir kritis selama perkuliahan menjadi salah satu nilai utama yang sangat membantu dalam menghadapi tantangan di lapangan. Selain itu, latihan menyusun perangkat pembelajaran hingga pengalaman praktik lapangan juga menjadi bekal berharga yang kini dirasakan manfaatnya secara nyata.

“Proses belajar di kampus membentuk fondasi penting untuk tumbuh, beradaptasi, serta terus berkembang menghadapi dinamika dunia pendidikan. Pembiasaan berpikir kritis, latihan perangkat pembelajaran, hingga pengalaman praktik lapangan menjadi bekal berharga yang manfaatnya sangat terasa saat ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, selama kuliah di UNUSIDA dirinya merasakan dukungan penuh melalui kurikulum yang kontekstual, dosen yang mendampingi, serta pengalaman praktik yang terstruktur. Menurutnya, hal tersebut mampu menjembatani mahasiswa menuju dunia profesional dengan lebih siap dan percaya diri.

“UNUSIDA memberikan pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan zaman. Kurikulumnya kontekstual, dosennya mendampingi, dan praktiknya terarah, sehingga mahasiswa lebih siap memasuki dunia kerja,” jelasnya.

Zaza juga mengajak generasi muda untuk tidak ragu menentukan pilihan studi sesuai minat dan cita-cita. Ia meyakini, banyak pilihan jurusan yang tepat di UNUSIDA dan jika dijalani dengan sungguh-sungguh akan memudahkan langkah dalam meraih karier impian.

“Banyak pilihan jurusan yang tepat di UNUSIDA. Jika dipadukan dengan proses belajar yang sungguh-sungguh, maka akan memudahkan langkah ketika memasuki karier yang diimpikan,” pungkasnya.

Altara Dea Kumala Sari, S.T., lulusan Teknik Kimia tahun 2023 (Foto: Humas UNUSIDA)

Inspiratif! Kiprah Alumni Teknik Kimia UNUSIDA Berkontribusi Nyata di Desa melalui Riset dan Perencanaan

Kiprah alumni Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menunjukkan kontribusi nyata di tengah masyarakat. Salah satunya datang dari Altara Dea Kumala Sari, S.T., alumni Program Studi Teknik Kimia tahun 2023 yang kini mengemban amanah sebagai Kaur Perencanaan di Balai Desa Kedungsumur, Krembung.

Dalam perannya sebagai perangkat desa, Dea sapaan akrabnya terlibat aktif dalam proses perencanaan pembangunan yang berbasis data dan kebutuhan masyarakat. Ia mengungkapkan bahwa bekal ilmu selama kuliah di UNUSIDA sangat membantunya dalam memahami permasalahan di lapangan serta merumuskan solusi yang tepat.

Menurutnya, lingkungan akademik di Fakultas Teknik UNUSIDA memiliki kultur kekeluargaan yang kuat. Hal tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam proses pembentukan karakter dan kompetensi mahasiswa.

“Teknik UNUSIDA sangat menjunjung tinggi nilai kekeluargaan. Para dosen sangat mendukung dan membimbing saya dengan sabar, sehingga saya mampu berkembang dan percaya diri menghadapi tantangan di dunia kerja,” ungkapnya kepada Humas UNUSIDA, Rabu (8/4/2026).

Lebih lanjut, Dea menekankan pentingnya pengembangan riset yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Ia menilai bahwa penelitian tidak hanya berhenti pada tataran akademik, tetapi harus mampu memberikan dampak nyata.

“Pengembangan riset perlu diarahkan pada permasalahan yang ada di tengah masyarakat, dengan menghadirkan solusi yang tepat, inovatif, dan bermanfaat,” tambahnya.

Selain itu, Dea mengungkapkan bahwa pengalaman selama berkuliah tidak hanya membentuk kemampuan akademik, tetapi juga mengasah keterampilan non-akademik yang sangat dibutuhkan di dunia kerja. Salah satu faktor penting adalah lingkungan kampus yang mendukung mahasiswa untuk aktif dalam organisasi.

Ia tercatat pernah aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan, mulai dari Himpunan Mahasiswa hingga Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teknik. Keterlibatan tersebut, menurutnya, memberikan banyak pembelajaran berharga, khususnya dalam membangun jiwa kepemimpinan dan kemampuan problem solving.

“Lingkungan kampus sangat mendukung. Saya banyak belajar dari organisasi mahasiswa, mulai dari himpunan hingga BEM. Pengalaman itu menumbuhkan jiwa kepemimpinan dan kemampuan memecahkan masalah yang sangat membantu ketika terjun langsung di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengalaman organisasi juga melatih kemampuan komunikasi, kerja tim, serta pengambilan keputusan dalam berbagai situasi. Hal ini menjadi bekal penting dalam menjalankan perannya saat ini, di mana ia harus berhadapan langsung dengan dinamika kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya fokus pada akademik, tetapi juga perlu aktif mengembangkan diri melalui organisasi agar lebih siap menghadapi tantangan nyata setelah lulus.

Peran yang dijalankan Dea saat ini menjadi contoh bagaimana lulusan perguruan tinggi mampu menjembatani ilmu pengetahuan dengan kebutuhan riil di masyarakat. Sebagai Kaur Perencanaan, ia turut berkontribusi dalam menyusun program pembangunan desa yang lebih terarah, efektif, dan berkelanjutan.

Ia berharap, setiap pengabdian di masyarakat dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan alumni UNUSIDA lainnya bahwa peluang berkontribusi tidak hanya terbatas di dunia industri, tetapi juga terbuka luas di sektor pemerintahan dan masyarakat.

“UNUSIDA memiliki lingkungan kampus yang suportif dan kesempatan berorganisasi mampu mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara sosial dan kepemimpinan. Mari (mahasiswa dan alumni) UNUSIDA terus hadir sebagai agen perubahan yang mampu memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar,” pungkasnya.

Alumni Prodi Manajemen UNUSIDA Tahun 2023, Izzah Nadlifah Kirana (Foto: Humas UNUSIDA)

Inspirasi Alumni UNUSIDA: Izzah Nadlifah Kirana, dari Bangku Kuliah Menuju Finance Supervisor ZUMA Indonesia

Perjalanan pendidikan di bangku kuliah sering kali menjadi titik awal bagi seseorang untuk menemukan arah masa depan. Hal inilah yang dirasakan oleh Izzah Nadlifah Kirana, S.M., alumni Program Studi Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) yang kini berkarier sebagai Finance Supervisor di PT Dream Dare Discover atau yang lebih dikenal dengan ZUMA Indonesia.

Perempuan yang lulus pada tahun 2023 ini mengaku bahwa empat tahun masa kuliahnya di UNUSIDA menjadi pengalaman yang sangat berkesan dan penuh makna. Selama menempuh pendidikan, ia tidak hanya memperoleh ilmu akademik, tetapi juga berbagai pengalaman, relasi, serta kesempatan belajar yang sangat berharga sebagai bekal menghadapi dunia kerja.

“Empat tahun menempuh perjalanan kuliah di UNUSIDA sungguh luar biasa. Segala ilmu, relasi hingga pengalaman berharga saya dapatkan di sana,” ungkap Izzah ketika mengenang masa-masa kuliahnya.

Menurutnya, lingkungan akademik yang terbuka dan komunikatif menjadi salah satu faktor penting yang membentuk cara berpikirnya hingga saat ini. Di UNUSIDA, para dosen tidak hanya menyampaikan materi secara teoritis di dalam kelas, tetapi juga aktif mengajak mahasiswa untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman.

Hal tersebut menjadi pengalaman belajar yang sangat berkesan bagi Izzah. Ia merasakan bahwa proses pembelajaran yang dilakukan dosen benar-benar mendorong mahasiswa untuk memahami ilmu secara lebih mendalam serta mengaitkannya dengan situasi nyata di masyarakat maupun di dunia kerja.

“Yang paling menyenangkan adalah ketika dosen-dosen saya tidak pernah bosan untuk mengajak sharing dan diskusi. Seakan mereka selalu memastikan bahwa apa yang telah mereka ajarkan secara teori benar-benar mahasiswa terapkan dalam kehidupan nyata,” jelasnya.

Bagi Izzah, metode pembelajaran seperti ini membuat mahasiswa tidak hanya menjadi pendengar pasif di kelas, tetapi juga terlibat aktif dalam proses berpikir kritis. Diskusi yang dilakukan bersama dosen dan teman-teman kuliah sering kali membuka wawasan baru serta membantu mahasiswa memahami bagaimana teori manajemen dapat diterapkan secara praktis.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal penting ketika ia memasuki dunia kerja. Setelah menyelesaikan studi di Program Studi Manajemen UNUSIDA, Izzah berhasil mendapatkan pekerjaan di PT Dream Dare Discover atau ZUMA Indonesia. Di perusahaan tersebut, ia dipercaya untuk mengemban tanggung jawab sebagai Finance Supervisor.

Posisi tersebut tentu tidak mudah karena membutuhkan kemampuan analisis keuangan, ketelitian dalam mengelola data, serta kemampuan mengambil keputusan yang tepat. Namun, Izzah merasa bahwa ilmu yang ia pelajari selama kuliah memberikan fondasi yang kuat untuk menjalankan tugas tersebut.

Ia mengaku banyak materi perkuliahan yang ternyata sangat relevan dengan pekerjaan yang dijalaninya saat ini, mulai dari manajemen keuangan, pengelolaan anggaran, hingga kemampuan analisis data dan pengambilan keputusan dalam organisasi.

“Hal itulah yang membuat saya akhirnya mendapatkan pekerjaan sesuai dengan ilmu yang saya dapatkan di kuliah,” katanya.

Selain ilmu akademik, pengalaman berdiskusi dan membangun relasi selama masa kuliah juga membantu Izzah dalam mengembangkan kemampuan komunikasi dan kerja sama tim. Kemampuan tersebut menjadi salah satu keterampilan penting dalam dunia profesional, terutama ketika harus berkoordinasi dengan berbagai divisi di perusahaan.

Sebagai seorang supervisor di bidang keuangan, Izzah tidak hanya bertanggung jawab terhadap pengelolaan data finansial perusahaan, tetapi juga harus mampu memimpin tim dan memastikan seluruh proses keuangan berjalan secara efektif dan akurat. Tanggung jawab ini menuntut ketelitian, kedisiplinan, serta kemampuan berpikir strategis.

Menurutnya, pengalaman selama kuliah di UNUSIDA telah membantunya membangun kepercayaan diri untuk menghadapi berbagai tantangan di dunia kerja. Ia merasa bahwa bekal yang diberikan selama masa studi tidak hanya berupa teori, tetapi juga cara berpikir dan sikap profesional yang sangat dibutuhkan dalam karier.

Izzah juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para dosen yang telah membimbing dan memberikan banyak ilmu selama ia menempuh pendidikan di UNUSIDA. Baginya, dukungan dan dedikasi para dosen menjadi salah satu faktor penting yang membantunya mencapai posisi saat ini.

“Terima kasih bapak ibu dosen atas semua ilmu dan bimbingannya,” ujarnya.

Kini, setelah merasakan langsung manfaat dari pendidikan yang ia jalani, Izzah berharap kisah perjalanannya dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa maupun calon mahasiswa UNUSIDA. Ia percaya bahwa kesungguhan dalam belajar serta kemauan untuk terus berdiskusi dan berkembang akan membuka banyak peluang di masa depan.

Baginya, masa kuliah bukan hanya tentang mendapatkan gelar sarjana, tetapi juga tentang membangun karakter, memperluas jaringan, serta mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan dunia profesional.

Dengan penuh rasa bangga, Izzah menutup ceritanya dengan satu kalimat sederhana yang mencerminkan rasa cintanya terhadap almamater.

“UNUSIDA THE BEST!,” pungkasnya.

Alumni PGSD UNUSIDA, Izathun Alcharimah Ana Safitri, S.Pd., M.Pd. (Foto Humas UNUSIDA)

Dari Dunia Pendidikan ke Ruang Publik, Kisah Izathun Alcharimah Alumni PGSD UNUSIDA Berkiprah di Bawaslu Sidoarjo

Perjalanan karier tidak selalu berjalan lurus sesuai bidang studi. Hal inilah yang dibuktikan oleh alumni Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Izathun Alcharimah Ana Safitri, S.Pd., M.Pd. Lulusan tahun 2019 tersebut kini berkiprah sebagai penyelenggara pemilu di Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Sidoarjo.

Berangkat dari latar belakang pendidikan dasar, Izathun membuktikan bahwa ilmu yang diperoleh selama kuliah tidak hanya relevan di ruang kelas, tetapi juga dapat menjadi bekal penting dalam dunia publik yang dinamis. Menurutnya, pendidikan adalah fondasi dalam membangun kesadaran demokrasi dan integritas masyarakat.

“PGSD mengajarkan saya tentang kesabaran, komunikasi, dan tanggung jawab. Nilai-nilai itu sangat relevan ketika bekerja di ruang publik,” ungkapnya kepada Humas UNUSIDA, Kamis (5/3/2026).

Dalam perannya sebagai penyelenggara pemilu di Bawaslu Sidoarjo, Izathun terlibat dalam pengawasan berbagai tahapan pemilu di tingkat kabupaten. Tugasnya meliputi memastikan proses berjalan sesuai regulasi, menjaga netralitas, hingga menangani berbagai dinamika yang muncul di lapangan.

Peran tersebut menuntut ketelitian administrasi, keberanian dalam mengambil keputusan, serta kemampuan menyampaikan informasi secara objektif kepada masyarakat. Menurutnya, dunia kepemiluan merupakan ruang pembelajaran yang sangat kaya akan pengalaman.

“Ketika berada di dunia publik, kita belajar untuk lebih dewasa. Setiap ucapan dan tindakan memiliki konsekuensi. Kita harus bijak, netral, dan tetap berpegang pada aturan,” jelasnya.

Pengalaman tersebut menjadi jembatan menuju kematangan pribadi. Ia belajar mengelola emosi, bersikap profesional di tengah perbedaan pandangan, serta membangun komunikasi yang sehat dengan berbagai pihak—baik peserta pemilu, sesama penyelenggara, maupun masyarakat.

Sebagai alumni PGSD, Izathun juga merasakan bahwa kemampuan mendidik dan memberikan pemahaman kepada masyarakat menjadi nilai tambah tersendiri. Dalam berbagai kegiatan sosialisasi pengawasan partisipatif, latar belakang pendidikannya membantu dalam menyampaikan informasi secara komunikatif dan mudah dipahami.

“Edukasi kepada masyarakat itu penting. Demokrasi yang sehat tidak hanya bergantung pada penyelenggara, tetapi juga pada kesadaran masyarakat,” tuturnya.

Ia pun membagikan sejumlah pesan bagi mahasiswa, khususnya dari Prodi PGSD, agar tidak membatasi diri dalam menentukan masa depan. Menurutnya, lulusan PGSD memiliki kompetensi komunikasi, manajemen, dan kepemimpinan yang dapat diterapkan di berbagai bidang.

Selain itu, ia menekankan pentingnya membangun integritas sejak dini. Dalam dunia kepemiluan, netralitas dan kejujuran menjadi prinsip utama yang tidak dapat ditawar. Kemauan untuk terus belajar serta kesiapan menghadapi kritik juga menjadi bekal penting bagi siapa pun yang ingin berkiprah di ruang publik.

Bagi Izathun, perjalanan kariernya bukan sekadar tentang posisi atau jabatan, tetapi tentang proses bertumbuh sebagai pribadi. Dunia publik membentuknya menjadi lebih sabar, tegas, dan bertanggung jawab dalam menjalankan amanah.

Kini, sebagai bagian dari Bawaslu Sidoarjo, ia merasa memiliki tanggung jawab besar untuk turut menjaga kualitas demokrasi di daerah. Ia percaya bahwa demokrasi yang kuat memerlukan pengawasan yang profesional serta individu-individu yang matang secara karakter.

Kisah Izathun menjadi bukti bahwa alumni PGSD memiliki ruang kontribusi yang luas, termasuk di dunia kepemiluan. Pendidikan yang ia tempuh menjadi fondasi untuk memahami masyarakat, membangun komunikasi, serta menjaga integritas dalam setiap langkah pengabdian.

“Menjadi bagian dari penyelenggara pemilu bukan hanya tentang bekerja, tetapi tentang mengabdi. Dunia publik adalah ruang untuk belajar menjadi lebih dewasa dan bertanggung jawab,” pungkasnya.

Dari Bangku Kuliah ke Dunia Industri: Kiprah Anggun Fitria Laila Ningsih, S.T., Alumni Teknik Kimia Lulusan Tahun 2019 2

Dari Bangku Kuliah ke Dunia Industri: Kiprah Anggun Fitria Laila Ningsih, S.T., Alumni Teknik Kimia Lulusan Tahun 2019

Sidoarjo – Dunia industri menuntut ketelitian, konsistensi, dan tanggung jawab tinggi, terutama dalam bidang pengendalian mutu. Hal inilah yang kini dijalani oleh Anggun Fitria Laila Ningsih, S.T., alumni Teknik Kimia angkatan 2019, yang berkarier sebagai QC-QA Laboratory Analyst di PT. Abadi Agrosindo Persada.

Perjalanan Anggun memasuki dunia kerja merupakan proses yang penuh pembelajaran. Sebagai lulusan Teknik Kimia, ia dibekali pemahaman tentang proses industri, analisis kimia, pengendalian mutu, hingga manajemen proses produksi. Bekal akademik tersebut menjadi fondasi kuat dalam menjalankan tanggung jawabnya di laboratorium perusahaan yang bergerak di bidang agribisnis dan pengolahan hasil pertanian.

Dalam perannya sebagai QC-QA Laboratory Analyst, Anggun bertugas melakukan pengujian dan analisis terhadap bahan baku maupun produk akhir untuk memastikan kualitasnya sesuai standar perusahaan. Ia juga melakukan pencatatan dan pelaporan hasil uji secara sistematis, memastikan setiap proses berjalan sesuai standar operasional prosedur (SOP).

Menurut Anggun, dunia kerja memberikan tantangan yang berbeda dibandingkan perkuliahan. Jika di bangku kuliah fokus pada pemahaman konsep dan penyelesaian tugas, maka di dunia industri setiap keputusan memiliki dampak nyata terhadap kualitas produk dan kepercayaan konsumen.

“Ketelitian menjadi hal utama. Dalam analisis laboratorium, kesalahan kecil bisa berdampak besar. Karena itu, disiplin dan fokus sangat penting,” ungkapnya.

Ia mengakui bahwa pengalaman praktikum selama kuliah di Teknik Kimia sangat membantu dalam beradaptasi di lingkungan laboratorium industri. Kebiasaan bekerja dengan prosedur, memahami alat ukur, serta melakukan analisis data menjadi bekal yang sangat relevan dengan pekerjaannya saat ini.

Namun, Anggun menegaskan bahwa keberhasilan di dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh hard skills semata. Soft skills seperti komunikasi, kerja sama tim, manajemen waktu, dan kemampuan beradaptasi juga memiliki peran besar.

“Di dunia kerja, kita bertemu dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda. Kemampuan menempatkan diri dan berkomunikasi dengan baik sangat membantu dalam membangun lingkungan kerja yang sehat,” jelasnya.

Sebagai alumni Teknik Kimia, Anggun membagikan beberapa wawasan penting bagi mahasiswa yang akan terjun ke dunia kerja:

1. Kuasai konsep dasar dengan kuat.
Pemahaman tentang dasar-dasar kimia, proses industri, dan analisis laboratorium menjadi modal utama untuk berkembang di bidang industri.

2. Manfaatkan praktikum sebagai latihan profesional.
Jangan menganggap praktikum sekadar tugas akademik. Anggaplah sebagai simulasi dunia kerja yang menuntut ketelitian dan tanggung jawab.

3. Bangun integritas sejak dini.
Dalam bidang quality control dan quality assurance, kejujuran dalam melaporkan hasil analisis adalah hal yang mutlak. Data harus akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

4. Terus belajar dan terbuka terhadap evaluasi.
Dunia industri terus berkembang. Standar mutu, teknologi, dan metode analisis selalu diperbarui. Kemauan untuk belajar menjadi kunci agar tetap relevan.

5. Siapkan mental untuk beradaptasi.
Lingkungan kerja berbeda dengan dunia kampus. Target, tekanan waktu, dan tanggung jawab profesional membutuhkan kesiapan mental yang matang.

Anggun juga menekankan pentingnya pengalaman tambahan seperti magang, pelatihan, maupun sertifikasi pendukung. Pengalaman tersebut tidak hanya memperkaya CV, tetapi juga melatih kesiapan menghadapi ritme kerja industri.

Kini, setelah beberapa tahun berkiprah sebagai QC-QA Laboratory Analyst, Anggun memandang setiap proses sebagai bagian dari pembelajaran hidup. Ia percaya bahwa perjalanan karier adalah proses bertahap yang membentuk karakter dan profesionalitas seseorang.

“Setiap tahap punya pelajaran. Kuncinya adalah konsisten, bertanggung jawab, dan terus memperbaiki diri,” tuturnya.

Kisah Anggun Fitria Laila Ningsih, S.T. menjadi inspirasi bahwa lulusan Teknik Kimia memiliki peluang luas di dunia industri, khususnya dalam bidang pengendalian mutu. Dengan kompetensi akademik yang kuat, integritas, serta kesiapan mental, dunia kerja bukan lagi sesuatu yang menakutkan, melainkan ruang untuk bertumbuh dan berkontribusi.

Bagi mahasiswa Teknik Kimia yang sedang mempersiapkan diri menuju dunia profesional, pesan Anggun sederhana namun bermakna: manfaatkan masa kuliah untuk membangun kompetensi dan karakter. Karena pada akhirnya, yang membawa seseorang bertahan dan berkembang di dunia kerja bukan hanya ilmunya, tetapi juga sikap dan komitmennya terhadap kualitas.

Mokh. Yahya, S.T., Lulusan Teknik Lingkungan UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Dedikasi Mokh. Yahya, S.T., Lulusan Teknik Lingkungan yang Berkontribusi untuk Masyarakat melalui Penerangan Jalan

Perjalanan hidup setiap alumni selalu menyimpan cerita perjuangan, proses pembelajaran, serta perubahan cara pandang yang mengantarkan mereka menuju dunia profesional. Hal tersebut tergambar dari sosok Mokh. Yahya, S.T., alumni Program Studi S1 Teknik Lingkungan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) yang lulus pada tahun 2020. Kini, ia mengabdikan diri sebagai Teknisi Penerangan Jalan Umum (PJU) di Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo, sebuah peran strategis yang berkontribusi langsung terhadap keselamatan dan kenyamanan masyarakat.

Bagi Yahya, masa kuliah bukan sekadar proses akademik untuk meraih gelar sarjana, melainkan ruang pembentukan mindset, karakter, serta penguatan soft skills dan hard skills yang sangat dibutuhkan ketika memasuki dunia kerja. Ia menyadari bahwa keberhasilan profesional tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh disiplin, tanggung jawab, komunikasi, dan kemampuan bekerja dalam tim.

“Selama kuliah, saya belajar bahwa ilmu tidak cukup hanya dipahami di kelas. Kita harus aktif mencari pengalaman, berani mencoba, dan terus mengembangkan diri,” ungkap Yahya.

Prinsip tersebut membantunya beradaptasi dengan cepat ketika mulai bekerja di lingkungan pemerintahan yang menuntut ketelitian, kecepatan, serta pelayanan publik yang optimal.

Sebagai Teknisi PJU, Yahya bertanggung jawab memastikan sistem penerangan jalan umum berfungsi dengan baik, mulai dari pemeriksaan jaringan listrik, perawatan lampu jalan, hingga penanganan gangguan teknis di lapangan. Peran ini sangat penting karena penerangan jalan berkaitan erat dengan keselamatan pengguna jalan, keamanan lingkungan, serta aktivitas ekonomi masyarakat pada malam hari.

Latar belakang pendidikan Teknik Lingkungan yang ia miliki memberikan bekal relevan, terutama dalam memahami aspek keselamatan kerja, efisiensi energi, serta dampak infrastruktur terhadap lingkungan. Hard skills seperti analisis teknis dan pemecahan masalah menjadi fondasi utama dalam menjalankan tugasnya.

Namun, Yahya menekankan bahwa soft skills justru menjadi kunci keberhasilan yang sering tidak disadari mahasiswa. Kemampuan berkomunikasi, koordinasi dengan masyarakat, manajemen waktu, serta ketahanan mental saat menghadapi tekanan pekerjaan sangat menentukan kinerja di lapangan.

“Di dunia kerja, kita bertemu banyak karakter dan situasi yang tidak selalu sesuai rencana. Di sinilah pentingnya kesabaran, kerja sama, dan pola pikir yang terus berkembang,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa perubahan mindset dari mahasiswa menjadi profesional harus dibangun sejak dini dengan membiasakan diri bersikap proaktif dan solutif.

Perjalanan karier Yahya menjadi bukti bahwa setiap lulusan memiliki peluang besar untuk berkontribusi di berbagai sektor, termasuk pelayanan publik. Bekerja di instansi pemerintah memberikan pengalaman berharga karena pekerjaan yang dilakukan berdampak langsung bagi masyarakat luas, sekaligus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kompetensi diri.

Ia pun berpesan kepada mahasiswa agar tidak ragu mengembangkan potensi di luar perkuliahan melalui organisasi, pelatihan, maupun kegiatan lapangan. “Jangan menunggu sempurna untuk mulai. Terus belajar, terus mencoba, dan jangan takut gagal,” pesannya.

Kisah Mokh. Yahya, S.T. menunjukkan bahwa keberhasilan alumni UNUSIDA bukan hanya tentang nilai akademik, tetapi juga tentang kemauan untuk berubah, belajar, dan beradaptasi. Melalui dedikasinya sebagai Teknisi PJU, ia tidak hanya menjalankan profesi, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Lampu-lampu jalan yang menyala setiap malam menjadi simbol kerja keras, tanggung jawab, dan kontribusi seorang alumni yang terus berupaya memberi terang bagi lingkungan sekitarnya.

Ia berharap, pengalamannya dapat memotivasi mahasiswa dan alumni lainnya untuk terus mengembangkan diri, membangun pola pikir positif, serta berani mengambil peran di tengah masyarakat. Karena pada akhirnya, keberhasilan sejati adalah ketika ilmu yang dimiliki mampu memberikan manfaat bagi banyak orang.

Mahmuda, S.M., Alumni Manajemen UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Dari Bangku Kuliah ke Dunia Kerja: Kisah Inspiratif Mahmuda, Alumni Manajemen UNUSIDA

Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) terus melahirkan alumni-alumni yang mampu berkiprah di dunia profesional. Salah satunya adalah Mahmuda, S.M., alumni Program Studi Manajemen pertama tahun 2014, yang kini berkarier di PT Sinar Surya Trans pada bagian Administrasi.

Mahmuda mengungkapkan bahwa mengungkapkan bahwa UNUSIDA memiliki peran besar dalam perjalanan kariernya. Menurutnya, kampus tidak hanya membekali ilmu akademik, tetapi juga menyediakan ruang pengembangan diri melalui organisasi dan program magang yang membantunya memahami dunia kerja secara nyata. Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting yang mengantarkannya lebih percaya diri memasuki dunia profesional.

Perjalanan kariernya tidak lepas dari pengalaman aktif selama masa kuliah. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan kampus, termasuk bergabung dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Menurutnya, organisasi menjadi ruang penting untuk mengasah soft skill sekaligus memperluas jejaring.

“Lewat organisasi, kita bisa memperluas jaringan dengan sesama mahasiswa maupun dosen. Dari situ wawasan dan pengalaman juga bertambah,” ujarnya saat dihubungi oleh Humas UNUSIDA, Selasa (27/1/2026).

Tak hanya itu, Mahmuda juga menyebut bahwa UNUSIDA memiliki peran besar dalam pengembangan dirinya melalui program magang. Ia pernah menjalani magang di The Sun Hotel pada bagian HR & GA, pengalaman yang menjadi bekal berharga saat memasuki dunia kerja profesional.

“Kampus menyediakan wadah untuk pengembangan diri, salah satunya lewat magang. Dari sana saya belajar langsung bagaimana dunia kerja berjalan,” tuturnya.

Kini, sebagai staf administrasi di PT Sinar Surya Trans, Mahmuda terus mengembangkan kompetensinya dengan semangat belajar yang sama seperti saat masih menjadi mahasiswa. Ia berharap kisahnya ini dapat memotivasi mahasiswa UNUSIDA untuk aktif berorganisasi, memanfaatkan peluang magang, dan berani mengembangkan potensi diri sejak dini.

Bagi Mahmuda yang lulus pada tahun 2019 lalu, masa kuliah bukan hanya tentang mengejar nilai akademik, tetapi juga tentang membangun karakter, relasi, dan pengalaman hidup yang kelak menjadi bekal berharga di dunia kerja.

“Pengalaman akademik maupun non akademik di luar kelas ketika kuliah adalah bekal berharga untuk membentuk karakter, memperluas jejaring, dan menyiapkan diri menghadapi dunia kerja. UNUSIDA, kampus yang tepat untuk tumbuh, berprestasi, dan menjemput masa depan,” ungkapnya.