Dosen UNUSIDA Soroti Kerawanan Baru bagi Anak: Lahgun Gadget, Apa Itu?
SURABAYA – Fenomena lahgun (penyalahgunaan) gadget oleh anak-anak kini menjadi perhatian serius akademisi dan pemerhati sosial. Hal ini ditegaskan oleh Dr. H. Rangga Sa’adillah, S.A.P., M.Pd.I., Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sekaligus Kepala Bagian Pengelolaan Mata Kuliah Umum. Ia tampil sebagai fasilitator bersama Novri Susan, Ph.D., Sosiolog Konflik Universitas Airlangga (UNAIR) dan mantan Staf Khusus Presiden RI era Joko Widodo, dalam Rapat Koordinasi Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Provinsi Jawa Timur yang digelar di Hotel Aria Surabaya, Jum’at-Ahad (21–23/11/2025) lalu.
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber kunci, di antaranya, Ketua FKDM Jawa Timur Dr. Listyono Santoso, S.S., M.Hum., Kepala Bakesbangpol Jawa Timur Eddy Supriyanto, M.SDM., dan Guru Besar Sosiologi Universitas Airlangga Prof. Bagong Suyanto.
Penyalahgunaan Gadget: Kerawanan Baru bagi Anak
Dalam sesi fasilitasi yang dipimpinnya, Dr. Rangga Sa’adillah menekankan bahwa penyalahgunaan gadget kini menjadi salah satu bentuk kerawanan sosial baru yang tidak boleh diremehkan.
Menurutnya, gadget tidak hanya sekadar alat komunikasi, tetapi telah menjadi medium penyebaran berbagai bentuk kekerasan digital, termasuk perundungan (cyberbullying) lewat game online maupun platform seperti YouTube dan media sosial lainnya.
“Anak-anak hari ini hidup dalam dunia yang tidak lagi berbatas ruang fisik. Tanpa pengawasan memadai, gadget dapat menjadi pintu masuk berbagai bentuk kekerasan digital,” tegasnya.
Selain risiko perundungan, Dr. Rangga juga menyoroti potensi paparan konten radikalisme berbasis agama pada anak-anak. Ia mencontohkan kasus tragedi peledakan di SMAN 72 Jakarta, yang dilakukan oleh seorang pelajar dan diduga kuat terinspirasi dari konten YouTube.
“Beberapa tayangan dapat menginspirasi pemahaman keagamaan yang ekstrem. Ini harus diwaspadai sejak dini,” tambahnya.
Perlu Respons Serius dari Banyak Pihak
Dr. Rangga menyatakan bahwa problem lahgun gadget tidak bisa diselesaikan hanya oleh satu institusi. Kerawanan ini, menurutnya, harus mendapat respons cepat dari berbagai pihak, seperti pemangku kebijakan pendidikan, Kementerian Agama (Kemenag), Dinas Komunikasi dan Informatika, Akademisi hingga Pemerintah daerah hingga tingkat desa.
“Mari ciptakan lingkungan yang sehat untuk anak-anak. Bukan hanya sehat fisik, tetapi juga sehat digital,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa paparan ekstremisme yang muncul melalui ajaran keagamaan masih bisa diimbangi dengan moderasi beragama. Namun, paparan melalui layar biru digital jauh lebih sulit dikendalikan jika tidak ada regulasi dan literasi yang tepat.
“Karena itu, krusial untuk merumuskan kebijakan penggunaan gadget bagi anak-anak guna mencegah kerawanan yang lebih besar,” tandasnya.
IDDIDIKEMAS: Instrumen Baru untuk Deteksi Dini Kerawanan Sosial
Sebagai tindak lanjut strategis, forum Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Jawa Timur menginisiasi IDDIKEMAS, Instrumen Deteksi Dini Kerawanan Masyarakat. Instrumen ini dirancang untuk memetakan potensi kerawanan sosial, memantau perkembangan isu kerawanan dari tingkat provinsi hingga desa, serta menguatkan ketahanan masyarakat dalam menghadapi ancaman era digital.
Instrumen ini menjadi harapan baru bagi pemerintah daerah dan masyarakat dalam memperkuat upaya pencegahan dini yang lebih sistematis, menyeluruh, dan efektif hingga akar rumput. Melalui forum ini, kembali ditegaskan pentingnya kolaborasi lintas akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam menghadapi kompleksitas kerawanan sosial di era digital yang terus berkembang.










