Suasana PKKMB UNUSIDA 2026 di Masjid KH Muhammad Hasyim Asy'ari PCNU Sidoarjo. (Foto: Humas UNUSIDA)

Mahasiswa UNUSIDA Harus Sedikit ‘Gila’ untuk Mengejar Mimpi Besar

SIDOARJO — Memulai perjalanan sebagai mahasiswa baru bukan sekadar berpindah dari bangku sekolah menengah menuju perguruan tinggi. Bagi mahasiswa baru Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) angkatan 2026/2027, masa awal perkuliahan seharusnya menjadi momentum untuk menentukan seberapa jauh mereka ingin melangkah dan seberapa besar mimpi yang ingin diwujudkan.

Dalam perjalanan itu, keberanian menjadi modal penting. Bahkan, mahasiswa terkadang perlu memiliki sedikit “kegilaan” dalam arti positif: berani memasang target tinggi, berani mengambil peluang, berani mencoba hal baru, dan berani keluar dari zona nyaman.

Ketika seorang mahasiswa baru menetapkan target akademik yang tinggi, memenangkan kompetisi, aktif dalam organisasi, menghasilkan karya ilmiah, atau bahkan membangun inovasi sejak semester awal, tidak semua orang akan langsung memahami pilihannya. Ada kalanya ambisi tersebut dianggap berlebihan atau tidak realistis.

Namun, penilaian lingkungan tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengecilkan mimpi.

Pola pikir serba rata-rata cenderung melahirkan capaian yang juga rata-rata. Jika mahasiswa menjalani kuliah hanya sebatas hadir di kelas, mengerjakan tugas, mengikuti ujian, kemudian menunggu wisuda, maka peluang untuk menghasilkan sesuatu yang luar biasa tentu menjadi lebih kecil.

Mimpi besar membutuhkan energi, fokus, disiplin, dan keberanian yang lebih besar pula.

Meski demikian, “gila” dalam mengejar cita-cita bukan berarti bertindak tanpa perhitungan. Justru keberanian yang dibutuhkan mahasiswa adalah keberanian yang rasional. Mengikuti kompetisi, mengambil peran dalam organisasi, melakukan penelitian, membangun usaha, maupun mencoba teknologi baru harus disertai kalkulasi risiko dan manajemen waktu yang baik.

Ambisi tanpa disiplin hanya akan berubah menjadi kekacauan. Sebaliknya, ambisi yang dipadukan dengan perencanaan matang dapat menjadi mesin penggerak prestasi.

Jangan Takut Keluar dari Zona Nyaman
Lingkungan sosial sering kali mendorong seseorang untuk memilih jalan yang aman. Menjadi mahasiswa yang biasa-biasa saja mungkin terasa nyaman karena tidak terlalu banyak menghadapi risiko kegagalan maupun kritik.

Baca juga:  Dosen FKIP UNUSIDA: Peringatan Hari Ayah Momentum Menguatkan Peran Orang Tua sebagai Pendidik di Era Digital

Tetapi kenyamanan yang berlebihan juga dapat menjadi jebakan.

Mahasiswa baru yang ingin berkembang perlu berani bertanya ketika belum memahami materi, berani tampil dalam kompetisi meskipun belum pernah menang, berani mengajukan gagasan meskipun masih mentah, dan berani menerima kritik ketika hasil pekerjaan belum sempurna.

Di sinilah ketahanan mental menjadi penting.

Kegagalan dalam ujian, proposal penelitian yang ditolak, revisi dari dosen, kekalahan dalam kompetisi, atau kegagalan menjalankan program organisasi seharusnya tidak langsung dianggap sebagai akhir perjalanan. Semua itu dapat diperlakukan sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki strategi.

Mentalitas seperti ini sejalan dengan konsep growth mindset yang diperkenalkan psikolog Carol Dweck, yakni pandangan bahwa kemampuan seseorang dapat berkembang melalui proses belajar, usaha, strategi yang tepat, dan pengalaman menghadapi tantangan.

Dengan pola pikir tersebut, tugas yang sulit bukan lagi sesuatu yang harus dihindari. Justru tantangan menjadi ruang untuk meningkatkan kemampuan.

Prestasi Tidak Lahir dari Kenyamanan
Perjalanan menuju prestasi membutuhkan konsistensi. Mahasiswa yang ingin menjadi lulusan terbaik tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan atau bakat.

Konsep grit yang dipopulerkan peneliti Angela Duckworth menekankan pentingnya ketekunan dan konsistensi dalam mengejar tujuan jangka panjang. Dalam konteks mahasiswa, grit dapat terlihat dari kesediaan untuk terus belajar meskipun hasil ujian belum sesuai harapan, memperbaiki penelitian berkali-kali, atau tetap berlatih setelah mengalami kegagalan.

Empat tahun masa perkuliahan adalah perjalanan yang panjang. Semangat yang muncul pada masa orientasi mahasiswa baru sangat mungkin mengalami pasang surut. Karena itu, mahasiswa membutuhkan alasan yang lebih kuat daripada sekadar motivasi sesaat.

Di sinilah makna sebuah cita-cita menjadi penting.

Mahasiswa yang memiliki visi jelas akan lebih mudah menentukan apa yang harus dilakukan dan apa yang perlu dikorbankan. Waktu untuk bersantai mungkin harus dikurangi ketika tenggat penelitian semakin dekat. Kesempatan mengikuti kegiatan yang kurang relevan mungkin harus dilewatkan ketika ada target akademik yang lebih penting.

Baca juga:  Refleksi HUT RI Ke-80: Dosen UNUSIDA Ajak Meneladani Sikap Keberanian dan Keikhlasan Para Pendiri Bangsa

Pengorbanan tersebut bukan berarti mahasiswa harus kehilangan keseimbangan hidup. Istilah “gila” dalam mengejar mimpi justru harus dipahami sebagai obsesi yang terkendali, semangat besar yang tetap berjalan bersama kesehatan, relasi sosial, tanggung jawab akademik, dan manajemen waktu.

Berani Tidak Populer
Salah satu tantangan terbesar mahasiswa bukan hanya tugas akademik, melainkan keinginan untuk mendapatkan validasi dari lingkungan.

Ada mahasiswa yang sebenarnya memiliki potensi besar, tetapi mengurungkan langkah karena takut dianggap sok pintar. Ada yang enggan mengikuti kompetisi karena takut kalah. Ada pula yang memilih tidak aktif karena khawatir berbeda dengan kelompok pertemanannya.

Padahal, perjalanan menuju prestasi tidak selalu populer.

Steve Jobs pernah dikenal luas karena pandangannya tentang orang-orang yang berani berpikir berbeda dan mengubah keadaan. Pesan yang dapat diambil bukanlah untuk bertindak secara sembrono, melainkan berani mempertanyakan kebiasaan lama dan membayangkan kemungkinan yang belum terlihat.

Dalam kehidupan kampus, keberanian berpikir berbeda dapat dimulai dari hal sederhana: memiliki target yang lebih tinggi, membaca lebih banyak, bertanya lebih kritis, mencoba teknologi baru, membangun jejaring, hingga berani menghasilkan karya.

Tidak semua orang akan langsung memberikan apresiasi. Dan itu tidak masalah. Validasi terbesar seorang mahasiswa pada akhirnya bukan berasal dari tepuk tangan teman, melainkan dari perkembangan dirinya sendiri dan karya nyata yang berhasil dihasilkan.

Kampus Sebagai Ruang untuk Menempa Diri
UNUSIDA bukan hanya tempat untuk memperoleh gelar sarjana. Kampus juga menjadi ruang untuk menempa karakter, kemampuan intelektual, kepemimpinan, kreativitas, serta kepedulian sosial.

Semangat tersebut semakin bermakna ketika perjalanan pendidikan ditempatkan dalam kerangka nilai pengabdian dan khidmah. Bagi mahasiswa UNUSIDA, cita-cita akademik idealnya tidak berhenti pada pencapaian pribadi, tetapi dapat diarahkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Baca juga:  Kartini Terinspirasi Albaqarah: 257

Karena itu, menjadi “gila” dalam konteks ini bukan tentang menjadi paling keras, paling sibuk, atau paling banyak kegiatan. Bukan pula tentang mengorbankan kesehatan demi prestasi.

Menjadi “gila” adalah berani memiliki visi yang besar, kemudian membayarnya dengan kerja keras yang nyata.

Berani bermimpi menjadi lulusan terbaik, lalu konsisten belajar.

Berani ingin memenangkan kompetisi, lalu disiplin berlatih.

Berani ingin menghasilkan penelitian, lalu siap menghadapi revisi.

Berani ingin menjadi pemimpin, lalu bersedia belajar mendengarkan.

Berani ingin menciptakan inovasi, lalu tidak takut gagal berkali-kali.

Pada akhirnya, setiap mahasiswa baru memiliki pilihan. Menjalani masa kuliah sekadar untuk menyelesaikan kewajiban atau menjadikannya sebagai perjalanan untuk membangun kapasitas diri dan menghasilkan karya yang berarti.

Jangan takut jika ide besar hari ini dianggap terlalu tinggi. Jangan pula buru-buru menyerah ketika langkah pertama belum menghasilkan apa-apa. Bisa jadi, apa yang hari ini disebut “gila” justru merupakan keberanian yang kelak mengantarkan seseorang menuju prestasi.

Untuk maba UNUSIDA 2026/2027, bermimpilah setinggi mungkin. Beranilah berpikir berbeda. Namun pastikan setiap keberanian dibarengi disiplin, strategi, dan tanggung jawab. Sebab mimpi besar tidak cukup hanya dibayangkan—ia harus diperjuangkan sampai menjadi kenyataan.