Pos

Flyer Ucapan Mahasiswa UNUSIDA Raih Juara 3 International Business Plan Competition di Universitas Khairun Maluku (Foto: Istimewa)

Mahasiswa UNUSIDA Raih Juara 3 International Business Plan Competition, Usung Inovasi Cheese Moringa Biscuits Dukung Program MBG

SIDOARJO Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Tim mahasiswa lintas prodi berhasil meraih Juara 3 International Business Plan Competition 2025 yang diselenggarakan oleh Universitas Khairun Maluku.

Tim ini beranggotakan tiga mahasiswa dari program studi berbeda, yaitu Ketua Tim Lailatul Ma’rifah (Manajemen 2024), Syifa Aristawati (Akuntansi 2024), Aulia Hilda Bilqis Maruapey (Pendidikan Bahasa Inggris 2024) dengan Dosen Pembimbing: Jeziano Riskita Boyas, S.E., M.M., CH.

Dalam kompetisi tingkat internasional ini, tim UNUSIDA mengusung inovasi produk bertajuk ‘Cheese Moringa Biscuits: A Healthy Snack Innovation for Supporting MBG’. Produk camilan sehat ini dirancang sebagai solusi inovatif untuk mendukung program MBG (Makan Bergizi) pemerintah, terutama dalam upaya mengurangi angka stunting di Indonesia.

Ketua tim, Lailatul Ma’rifah mengungkapkan rasa syukurnya atas pencapaian ini. Menurutnya, prestasi ini menjadi bukti komitmen tim dalam memperbaiki kualitas ide bisnis sekaligus meningkatkan kemampuan berkompetisi di tingkat internasional.

“Alhamdulillah, pastinya sangat senang. Ini tahun kedua UNUSIDA mengikuti kompetisi ini. Tahun lalu kami meraih juara 5, dan tahun ini bisa meningkat menjadi juara 3. Ada peningkatan, dan itu sangat membahagiakan bagi kami,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA, Kamis (4/11/2025).

Laila mengatakan, meski berasal dari prodi yang berbeda dan memiliki jadwal yang tidak selalu sejalan, tim ini tetap solid.

“Tantangan terbesar adalah waktu. Kami jarang bisa bertemu langsung, jadi koordinasi banyak dilakukan lewat grup WhatsApp. Tapi komunikasi tetap terjaga dan semua tetap berkontribusi,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, gagasan biskuit daun kelor dan keju ini lahir dari kepekaan tim terhadap kondisi di lapangan, terutama terkait program MBG yang digagas pemerintah. Daun kelor dipilih karena kandungan nutrisinya yang kaya, seperti protein, vitamin, mineral, dan lemak sehat. Produk ini juga mendukung kebutuhan nutrisi anak serta membantu mengatasi malnutrisi.

“Banyak anak-anak yang kurang menyukai sayuran. Akhirnya sayur dari program MBG kadang terbuang. Kami membuat solusi agar nutrisi sayuran tetap bisa dikonsumsi melalui camilan yang mereka suka: biskuit berbahan kelor dan keju,” jelas Laila.

Ia menegaskan bahwa Cheese Moringa Biscuits memiliki kelebihan dibanding biskuit sehat lainnya, antara lain menggunakan daun kelor yang memiliki sumber nutrisi tinggi, pemakaian gula aren sebagai pemanis alami, bukan gula pasir. Kemudian kandungan dalam Gluten-free yang menggunakan tepung jagung, sehingga aman untuk lansia dan pelaku diet, serta rasa tetap enak, gurih, dan manis, meski berbahan kelor.

Laila menerangkan bahwa saat ini produk masih dalam tahap rencana bisnis, namun tim sudah membuat prototipenya meski uji pasar belum dilakukan. Terkait strategi bisnis, tim telah menyiapkan konsep pemasaran hybrid.

“Online lewat marketplace seperti Shopee, Lazada, dan Tokopedia. Offline lewat kantin sekolah, posyandu anak, hingga peluang masuk ke program MBG,” terang Syifa.

Meski belum merencanakan inkubasi atau kolaborasi UMKM, Laila dan tim berharap ke depan produk ini dapat dikembangkan lebih serius. Ia yakin produk ini bisa memberi manfaat luas. Sebab, Branding produk akan menonjolkan nilai utama, yaitu camilan sehat pengganti sayuran yang enak dan bergizi.

“Karena bahan-bahannya sehat, bukan hanya anak-anak, tapi juga orang tua lanjut usia bisa mengonsumsinya. Kandungan vitamin A, kalsium, protein, dan lemak baik sangat bermanfaat untuk otak dan jantung,” tandasnya.

Sementara itu, Dosen pembimbing, Jeziano Riskita Boyas, S.E., M.M., CH., mengapresiasi kerja keras mahasiswa dan menegaskan bahwa inovasi ini relevan dengan isu kekinian. Ia memandang pentingnya mahasiswa mengikuti tren dan fenomena aktual, seperti program MBG.

“Inovasi ini muncul dari fenomena nyata. Banyak anak tidak suka sayur, sehingga nutrisi perlu diolah ke bentuk yang lebih disukai. Itulah yang mereka lakukan,” katanya.

Jeziano juga berpesan kepada mahasiswa UNUSIDA untuk berani mencoba. Ia mengingatkan pentingnya menghormati orang tua dan menjaga niat baik dalam berkarya.

“Jangan takut melakukan hal baru. Gagasan tidak akan menjadi apa-apa jika hanya disimpan dalam pikiran. Cobalah, bahkan kalau gagal sekali pun, kalian tetap selangkah lebih maju daripada yang tidak pernah mencoba,” tuturnya.

Ke depan, hasil inovasi ini rencananya akan diikutsertakan dalam PKM maupun P2MW, serta berbagai ajang kompetisi kewirausahaan lainnya. Pihaknya berkomitmen untuk terus mendorong munculnya generasi muda kreatif yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, salah satunya melalui inovasi pangan sehat seperti Cheese Moringa Biscuits.

“Prestasi ini sekaligus menegaskan bahwa mahasiswa UNUSIDA mampu bersaing di tingkat internasional dengan inovasi yang solutif dan relevan. Selamat kepada Tim Cheese Moringa Biscuits, Semoga prestasi ini menjadi langkah awal lahirnya produk sehat yang bermanfaat bagi bangsa dan menginspirasi mahasiswa UNUSIDA lainnya,” pungkasnya.

Yusuf dan Sania, Kader IPNU-IPPNU UNUSIDA Raih Juara 1 dalam Ajang UNEC 2025 (Foto: Flyer Humas UNUSIDA)

Mahasiswa UNUSIDA Raih Juara 1 Kompetisi Business Plan Tingkat Nasional Lewat Inovasi Energi Terbarukan EcoPaska

Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Adalah tim Callmeysn yang berhasil meraih Juara 1 dalam ajang UNUSIDA National Econpreneur Competition (UNEC) 2025.

Kompetisi ini diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi (FE) UNUSIDA yang dilaksanakan pada bulan Juni 2025 lalu secara virtual. Kompetisi ini diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Tim Callmeysn terdiri 2 orang mahasiswa, yaitu Nur Syaifullah Yusufal Ichwan Prodi Teknik Industri 2024 (Ketua), dan Fahimatus Sania – Akuntansi 2024 (Anggota) yang mewakili tim UNUSIDA berhasil memukau dewan juri berkat orisinalitas ide, kejelasan perencanaan bisnis, dan dampak sosial yang diusung. Tim UNUSIDA berhasil mengungguli kontentan lain, diantaranya dari Tim EliXirelk Politektik Negeri Malang yang meraih Juara 2 dan tim S.I.B Consultant dari Universitas Negeri Suarabaya (UNESA) yang meraih Juara 3.

Yusuf sapaan akrabnya, menjelaskan keberhasilannya kali inimenghadirkan inovasi brilian melalui bisnis sosial bernama EcoPaska. Usaha ini berfokus pada pengolahan limbah ampas kopi menjadi briket ramah lingkungan, sebagai alternatif bahan bakar yang hemat, bersih, dan ekonomis.

Mahasiswa Teknik Industri 2024 tersebut menyebutkan, ide ini muncul sebagai respon atas dua persoalan lingkungan yang sering terabaikan: limbah ampas kopi yang terbuang sia-sia dan masih terbatasnya pemanfaatan bahan bakar alternatif yang murah serta bersih di Indonesia. Ia dan sania mengusung tagline ‘EcoPaska Dari Ampas Tersisa, Jadi Energi Luar Biasa’, dengan menitikberatkan pada pengembangan industri kreatif berbasis energi terbarukan.

“Ide ini bermula pada keprihatinan terhadap limbah ampas kopi yang melimpah dan terbuang sia-sia, khususnya dari caffe, kedai kopi dan rumah tangga,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA, Kamis (3/7/2025).

Ia mencoba menghadirkan EcoPaska sebagai solusi kreatif untuk mengurangi limbah rumah tangga, sekaligus mendukung transisi menuju energi terbarukan berbasis komunitas. Melalui pendekatan circular economy, ia dan tim berusaha menunjukkan bahwa limbah kopi yang selama ini terbuang sia-sia, ternyata memiliki potensi tinggi sebagai sumber bahan bakar alternatif yang efisien, bersih, dan murah.

“Produk briket EcoPaska tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga berdaya saing tinggi dan bisa dikembangkan dalam skala industri rumahan maupun UMKM,” katanya.

Ia melihat peluang dari limbah tersebut untuk disulap menjadi produk energi berbasis ekonomi sirkular. Melalui pendekatan green entrepreneurship, ampas tersebut diubah menjadi briket hemat energi yang aman, bersih, dan ekonomis. Kepedulian terhadap lingkungan serta semangat kewirausahaan menjadi motivasi utama dalam mengembangkan usaha.

“Kami percaya bahwa limbah bukan akhir dari nilai guna, tapi bisa menjadi awal dari solusi baru,” tegasnya.

Sementara itu, anggota tim Callmeysn UNUSIDA, Sania menyebutkan bahwa EcoPaska dapat memproduksi briket dari 95% ampas kopi dan 5% perekat alami. Produk ini memiliki keunggulan seperti daya tahan panas tinggi, minim asap dan bau, serta aman digunakan di dalam maupun luar ruangan. Produk dikemas dalam desain kraft box yang edukatif dan ramah lingkungan, dilengkapi QR Code berisi informasi penggunaan dan dampak ekologis.

Mahasiswi Akuntansi tersebut menjelaskan bahwa proses distribusi produk nantinya akan dilakukan melalui marketplace seperti Shopee dan media sosial instagram, dengan strategi pemasaran kolaboratif bersama kafe mitra dan komunitas lingkungan.

“Kami tidak hanya akan menjual produk, EcoPaska juga menjalankan kampanye edukasi daur ulang dan gaya hidup hijau di masyarakat, itu tujuan utama kami,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Sania menceritakan perjalanan mengikuti kompetisi yang tak mudah dan penuh dengan tantangan. Mulai dari menyusun proposal hingga memproduksi prototipe, keduanya harus membagi waktu antara akademik dan pengembangan usaha.

“Jujur, mengikuti kompetisi seperti UNEC 2025 tidak terbayang untuk menang sebelumnya. Sebab, penuh tantangan dan lika-liku proses yang harus kami lalui. Tapi dari setiap tantangan itu, kami belajar banyak soal manajemen waktu, kerja tim, dan pentingnya percaya diri terhadap ide sendiri. Rasanya semua terbayar waktu EcoPaska bisa tampil dan mendapat apresiasi. Semoga usaha kecil kami ini bisa terus berdampak lebih luas.” ungkapnya.

Tak hanya itu, ia juga telah merancang tindak lanjut pengembangan produk pasca kompetisi ini. EcoPaska akan terus dikembangkan melalui beberapa rencana strategis, antara lain: investasi mesin semi-otomatis untuk mempercepat produksi, diversifikasi produk (varian aroma, ukuran kemasan), pemberdayaan barista untuk pengumpulan limbah serta membuka program reseller bagi mahasiswa dan komunitas peduli lingkungan.

“Semoga usaha kecil yang kami hadirkan ini dapat menginspirasi dan menghidupi banyak orang di masa yang akan datang, bismillah,” harapnya. (MY)