Memasuki Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026, Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) berada pada sebuah titik transisi penting. Pergeseran dari semester gasal ke genap bukan sekadar pergantian kalender akademik, melainkan momentum reflektif untuk menilai ulang efektivitas interaksi pembelajaran di ruang kelas. Di tengah akselerasi visi UNUSIDA menuju keunggulan IPTEKS yang berlandaskan nilai-nilai An-Nahdliyah, perubahan perilaku akademik mahasiswa menjadi kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda.
Mahasiswa tidak lagi dapat diposisikan sebagai objek pasif pembelajaran. Paradigma lama yang menempatkan mahasiswa sekadar sebagai penerima informasi harus digeser menuju peran baru: mahasiswa sebagai mitra dialogis teman diskusi yang setara, kritis, dan bertanggung jawab. Transformasi inilah yang menjadi inti dari revolusi mental akademik di UNUSIDA.
Sinergi Behavioristik dan Konstruktivisme
Upaya mengonstruksi perilaku akademik mahasiswa berpijak pada dua fondasi teori pendidikan modern: behavioristik dan konstruktivisme. Pendekatan behavioristik dimanfaatkan untuk membentuk kebiasaan akademik melalui stimulus diskusi yang menantang serta sistem penguatan (reinforcement) yang menghargai keberanian berpikir kritis. Apresiasi terhadap partisipasi aktif, argumentasi logis, dan etika berdiskusi menjadi instrumen penting dalam membangun iklim akademik yang hidup.
Sementara itu, pendekatan konstruktivistik memosisikan kelas sebagai ruang sosial tempat pengetahuan dibangun secara aktif melalui dialog dan refleksi bersama. Mahasiswa tidak lagi sekadar menghafal teori, melainkan berperan sebagai arsitek gagasan yang mampu membedah realitas sosial, ekonomi, dan budaya. Sinergi kedua pendekatan ini bertujuan melahirkan ekosistem pembelajaran yang dinamis dan transformatif.
Menghancurkan Pendidikan Gaya Bank
Pemikir pendidikan kritis Paulo Freire, dalam Pedagogy of the Oppressed, mengkritik model pendidikan gaya bank yang menempatkan dosen sebagai pemilik kebenaran dan mahasiswa sebagai celengan kosong penampung informasi. Model ini terbukti melumpuhkan daya kritis dan kreativitas.
Refleksi atas proses pembelajaran di Semester Gasal menunjukkan bahwa pendekatan semacam ini perlu ditinggalkan. Sejalan dengan gagasan problem-posing education, pembelajaran di UNUSIDA harus mendorong dosen dan mahasiswa menjadi subjek yang bersama-sama merefleksikan realitas. Mahasiswa diberi ruang untuk mempertanyakan, menganalisis, bahkan mengkritisi, dengan tujuan menemukan solusi atas problematika masyarakat secara ilmiah dan beretika.
Reinforcement Positif sebagai Pemantik Keberanian
Dalam perspektif behavioristik, B.F. Skinner menegaskan bahwa perilaku yang diikuti oleh konsekuensi positif cenderung akan diulang. Kelas yang sunyi dan minim dialog sering kali bukan karena mahasiswa tidak mampu berpikir kritis, melainkan karena lingkungan belajar belum memberi penguatan positif terhadap keberanian berpendapat.
Semester Genap 2025/2026 harus menjadi ruang aman akademik, di mana kesalahan dalam berargumen tidak dipandang sebagai kegagalan, melainkan bagian dari proses belajar. Dosen berperan menyediakan stimulus intelektual yang menantang, sementara mahasiswa meresponsnya dengan argumentasi yang terbangun secara bertahap dan reflektif.
Dialektika dalam Zone of Proximal Development
Teori Konstruktivisme Sosial Lev Vygotsky memperkenalkan konsep Zone of Proximal Development (ZPD), yakni wilayah belajar di mana individu dapat mencapai pemahaman lebih tinggi melalui bantuan interaksi sosial. Dalam konteks ini, peran mahasiswa sebagai teman diskusi menjadi krusial.
Dosen di UNUSIDA berfungsi sebagai scaffold penyangga intelektual yang memfasilitasi mahasiswa untuk naik ke level pemahaman yang lebih matang melalui dialog yang bermakna. Sebagaimana ditegaskan John Dewey, “pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup; pendidikan adalah hidup itu sendiri.” Maka, ruang kelas harus menjadi miniatur kehidupan sosial yang demokratis, dialogis, dan partisipatif.
Etika Santun sebagai Penyeimbang Nalar Kritis
Namun demikian, menjadi mitra diskusi tidak berarti mengedepankan kebebasan berpikir tanpa batas. UNUSIDA memiliki kekhasan nilai yang membedakannya. Mengacu pada pemikiran Imam Al-Ghazali tentang adab menuntut ilmu, kecerdasan intelektual harus berjalan seiring dengan keluhuran akhlak.
Keberanian berpendapat merupakan bentuk ijtihad kecil di ruang kelas, tetapi tetap harus dipayungi oleh adab, sikap tawadhu’, dan penghormatan terhadap sumber ilmu. Inilah karakter mahasiswa UNUSIDA yang hendak dibangun: tajam dalam berpikir, santun dalam bersikap, dan moderat dalam bersikap di tengah arus globalisasi.
Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 harus menjadi titik awal komitmen kolektif seluruh civitas akademika UNUSIDA. Mengonstruksi perilaku akademik bukan semata soal metode mengajar, melainkan perubahan budaya akademik secara menyeluruh.
Dengan memadukan kedisiplinan behavioristik dan kemerdekaan berpikir konstruktivistik, UNUSIDA berpeluang melahirkan sarjana yang tidak hanya unggul secara transkrip nilai, tetapi juga matang secara dialektika dan etika. Kampus ini membutuhkan pemikir yang berani menjadi mitra dialog karena di tangan para teman diskusi inilah, masa depan peradaban Nahdlatul Ulama dipertaruhkan.