Pos

Workshop Penyusunan Perangkat Pembelajaran Mendalam dan Pengelolaan Perpustakaan (Foto: Humas UNUSIDA)

Mahasiswa FKIP UNUSIDA Mengajar 2025 Dibekali Penyusunan Perangkat Pembelajaran Mendalam dan Pengelolaan Perpustakaan

SIDOARJO — Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menyelenggarakan Workshop Penyusunan Perangkat Pembelajaran Mendalam dan Pengelolaan Perpustakaan Sekolah. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Hall Lantai 5 Kampus 2 UNUSIDA, selama 2 hari Senin-Selasa (15-16/9/2025) ini dalam rangka mempersiapkan mahasiswa menghadapi program FKIP UNUSIDA Mengajar Angkatan 2 Tahun 2025,

Workshop ini diikuti oleh mahasiswa semester 7 dari program studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris dan S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar yang sudah lulus dalam mata kuliah Micro Teaching untuk mengikuti program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) dalam FKIP UNUSIDA Mengajar kali ini.

Ketua Pelaksana, Nurul Aini, S.Pd., M.Pd menyampaikan bahwa workshop ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam merancang perangkat pembelajaran yang mendalam serta berorientasi pada pengembangan berpikir kritis, kreatif, dan reflektif. Memberikan pemahaman praktis mengenai pengelolaan perpustakaan sekolah sebagai salah satu penunjang utama dalam proses pembelajaran juga mempersiapkan mahasiswa agar lebih siap dan profesional dalam melaksanakan tugas mengajar di sekolah-sekolah mitra FKIP UNUSIDA.

Ia juga menekankan bahwa mahasiswa yang tidak mengikuti workshop ini tidak akan diberangkatkan dalam program FKIP Mengajar Angkatan 2. Karena itu, partisipasi aktif dalam kegiatan ini menjadi syarat penting sebelum terjun langsung ke sekolah mitra.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari pembekalan wajib. Mahasiswa yang tidak mengikuti workshop ini tidak akan diberangkatkan sebagai peserta FKIP Mengajar Angkatan 2,” tegasnya.

Ketua UPT Perpustakaan UNUSIDA tersebut menjelaskan fokus utama kegiatan ini adalah penyusunan perangkat pembelajaran yang mendalam serta pemahaman praktis tentang pengelolaan perpustakaan sekolah. Ia menyebutkan, workshop menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang keahlian, antara lain Kepala SDN Gelam 1 Sidoarjo, Ninik Fatmawati, S.Pd., M.Pd yang merupakan praktisi pendidikan berpengalaman, Dekan FKIP UNUSIDA, Muawwinatul Laili, M.Pd., yang memberikan materi tentang penyusunan laporan praktik mengajar, perwakilan dari Mutiara Rindang, yang akan menyampaikan materi terkait pengelolaan perpustakaan sekolah.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya siap secara teori, tetapi juga secara praktik. Mereka dibekali keterampilan menyusun perangkat pembelajaran yang mampu mendorong berpikir kritis, kreatif, dan reflektif. Selain itu, pemahaman tentang pengelolaan perpustakaan menjadi penting karena perpustakaan adalah sumber belajar yang harus dimaksimalkan di sekolah,” terangnya.

Sementara itu, Dekan FKIP UNUSIDA, Muawwinatul Laili, menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan ini. Ia menegaskan pentingnya mahasiswa menerapkan seluruh ilmu yang telah diperoleh selama kuliah, khususnya pada mata kuliah Micro Teaching, saat melaksanakan praktik mengajar di lapangan.

“FKIP Mengajar bukan sekadar program akademik, tetapi juga wadah untuk mengasah profesionalisme dan dedikasi sebagai calon guru. Kami berharap kalian benar-benar menerapkan apa yang dipelajari, agar bisa menjadi guru yang mampu membawa perubahan positif di sekolah mitra,” pungkasnya. (MY)

Dewi Sulistiyowati saat Menerima Piagam Penghargaan dalam Yudisium Ke-9 FKIP UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Kisah Dewi Sulistiyowati, Lulusan Terbaik FKIP UNUSIDA Berkat Keteguhan Hati dan Semangat Juang

SIDOARJO – Dewi Sulistiyowati, mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) angkatan 2021 berhasil mencatatkan prestasi membanggakan sebagai lulusan terbaik dalam Yudisium ke-9 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) pada beberapa waktu yang lalu.

Di balik capaian tersebut, tersimpan kisah perjuangan panjang, keteguhan hati, dan pengorbanan demi mewujudkan cita-cita sebagai seorang guru. Dewi sapaan akrabnya, merupakan lulusan SMK jurusan Multimedia tahun 2019.

Namun, ia baru bisa melanjutkan kuliah pada tahun 2021 karena harus bekerja terlebih dahulu selama dua tahun untuk membantu ekonomi keluarga. Dengan latar belakang keluarga sederhana, ayah sebagai kuli bangunan dan ibu sebagai ibu rumah tangga. Dewi menyadari bahwa pendidikan adalah jalan utama untuk mengangkat derajat keluarga.

“Saya ingin salah satu anak dari keluarga kami berhasil dan dapat mengangkat derajat orang tua. Sudah cukup saya melihat mereka direndahkan oleh lingkungan sekitar,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA, Rabu (20/8/2025).

Cita-citanya menjadi seorang guru membawanya memilih FKIP UNUSIDA, khususnya Program Studi PGSD. Tak heran perolehan IPKnya hampir menyentuh angka 3,92.  Ketertarikannya pada dunia anak dan dukungan dari para dosen serta teman-temannya membuat Dewi terus berjuang meskipun sempat mengalami masa-masa sulit.

Momen terberat dalam hidupnya datang saat ia ditinggalkan oleh ibunda tercinta pada akhir semester enam. Peristiwa itu sempat membuatnya jatuh dan kehilangan semangat. “Saya benar-benar down. Butuh waktu hampir satu tahun untuk kembali bangkit. Namun saya ingat, ibu ingin saya lulus tepat waktu,” kenangnya penuh haru.

Baginya, dukungan serta motivasi dari para dosen dan teman-teman menjadi kekuatan utama untuk bangkit dan menuntaskan studinya. Ia juga membagikan tips untuk tetap fokus kuliah di tengah berbagai tantangan, yakni dengan membagi waktu antara bekerja, mengajar les, dan menyelesaikan tugas kuliah, serta mencari hal sederhana yang dapat menenangkan hati. “Kalau saya pribadi, biasanya cukup dengan minum kopi hitam tanpa gula,” tuturnya.

Dalam proses belajar, Dewi lebih menyukai metode belajar sambil melakukan, sesuai dengan gaya belajar kinestetik-visual yang dimilikinya. Prinsip yang selalu ia pegang ialah mengerjakan setiap tugas sebaik dan semampu mungkin, serta meyakini bahwa setiap orang yang ditemuinya bisa menjadi guru.

Pengalaman paling berharga selama kuliah adalah mendapat kesempatan menjadi penerima KIP Kuliah dan mengikuti program Kampus Mengajar. Program tersebut bahkan menjadi batu loncatan baginya untuk berkarier sebagai guru di SDN Cemengbakalan 1, tempat ia saat ini mengabdikan diri setelah sebelumnya ikut program kampus mengajar di sekolah tersebut.

Materi perkuliahan, seperti teori pembelajaran, pengenalan karakter siswa, hingga metode Teams Games Tournament (TGT), berhasil ia terapkan dalam praktik mengajar di kelas. “Setiap siswa memiliki gaya belajar yang berbeda. Di SD tempat saya mengajar, rata-rata siswa bergaya belajar kinestetik, sehingga metode TGT sangat cocok diterapkan,” jelasnya.

Dewi berharap, UNUSIDA terus menjadi kampus yang mencetak lulusan berkualitas dan bermanfaat untuk masyarakat, khususnya warga Nahdlatul Ulama. Ia juga berkeinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang PPG maupun S2 agar bisa terus mengembangkan kapasitasnya sebagai pendidik.

“Untuk teman-teman yang masih kuliah, tetap semangat. Apapun kondisi kita, apa yang telah kita mulai harus kita tuntaskan. Kuliah tidak akan terasa berat jika kita punya niat dan tekad yang kuat,” pungkasnya.

Suasana Yudisium Ke-9 FKIP UNUSIDA 2025 (Foto: Humas UNUSIDA)

Yudisium Ke-9 FKIP UNUSIDA: Cetak Calon Guru Visioner, Berdampak, dan Berintegritas di Era Digital

SIDOARJO – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Yudisium ke-9 dengan tema ‘Mencetak Calon Guru yang Visioner, Berdampak, dan Berintegritas di Era Teknologi Digital’. Kegiatan ini dipusatkan di Jie Poek DW, Jl. Sunandar Priyo Sudarmo, Larangan blok Ruko Royal Palace Larangan BlokN9-12 dan Blok M15-18, Kabupaten Sidoarjo, Selasa (12/8/2025).

Dalam kesempatan tersebut, Rektor UNUSIDA, Dr. H. Fatkul Anam, M.Si, menyampaikan bahwa Yudisium ini menjadi momen penting bagi para lulusan untuk meneguhkan peran sebagai pendidik yang tak hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi dan menjadi teladan di tengah masyarakat. Namun, ia menegaskan bahwa yudisium bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal pengabdian yang lebih luas bagi bangsa, agama, dan masyarakat.

“Mulai detik ini, kalian sudah bisa menggunakan gelar S.Pd di belakang nama. Tetapi lebih dari itu, ilmu yang telah kalian raih adalah awal dari proses pengabdian. FKIP memiliki peran strategis membentuk generasi penerus bangsa, bukan hanya dibekali pengetahuan akademis dan keterampilan pedagogis, tetapi juga nilai akhlak mulia dan karakter islami yang menjadi ciri khas lulusan Nahdlatul Ulama,” jelasnya saat menyampaikan sambutan.

Ia menyoroti besarnya tanggung jawab guru di era modern, terlebih dengan banyaknya contoh negatif di lingkungan sosial yang terekam dalam budaya populer. Ia mengingatkan bahwa guru harus menjadi teladan yang memberi arah moral bagi peserta didik.

Oleh karena itu, Fatkul Anam menekankan tiga hal penting ketika menjadi seorang pendidik nantinya. Pertama, jadilah pendidik yang besar. Guru bukan sekadar penyampai materi, tetapi pembentuk akhlak dan legenda kejujuran serta keteladanan.

Yang kedua, teruslah belajar sepanjang hayat. Dunia pendidikan dan teknologi terus berkembang. Guru sejati adalah mereka yang tidak berhenti mengasah kompetensi dan mengikuti perkembangan zaman.

Ketiga, teruslah menebarkan manfaat di manapun berada. Sebab, keberhasilan sejati seorang pendidik tidak diukur dari gelar atau jabatan, tetapi dari seberapa besar ia memberi manfaat dan menginspirasi orang lain. Ia berharap, lulusan FKIP UNUSIDA siap menjadi guru visioner yang berdampak positif, menjunjung tinggi integritas, dan mampu beradaptasi di tengah arus teknologi digital.

“Keberhasilan kalian diukur dari sejauh mana anak-anak, keluarga, dan masyarakat dapat meneladani apa yang kalian lakukan. Mari jadikan momen ini sebagai pijakan untuk menembus batas dan menjadi pendidik yang mencerdaskan kehidupan bangsa,” tuturnya.

Sementara itu, Sekretaris Badan Pelaksana Penyelenggara (BPP) UNUSIDA, Dr. H. Sholehuddin, M.Pd.I memberikan motivasi mendalam kepada peserta yudisium. Menurutnya, kesuksesan dalam dunia pendidikan tidak hanya ditentukan oleh pengetahuan akademis, tetapi juga kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman dan hidup berdampingan dengan masyarakat.

“Sejauh mana Anda bisa mengikuti perkembangan dan mampu hidup berdampingan dengan masyarakat, saat itulah Anda akan menemukan hal-hal yang sebelumnya tak pernah terbayangkan. Justru dari sanalah kesuksesan akan hadir, di tengah ketatnya kompetisi dunia pendidikan,” ujarnya.

Ketua Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Sidoarjo tersebut juga mengingatkan pentingnya kreativitas dan semangat pengabdian. Ia menekankan pesan Ketua BPP UNUSIDA bahwa di manapun berada, lulusan harus memiliki niat hikmah kepada jami’ah (lembaga) dan berkomitmen mengembangkan agama.

Ia membagikan pengalamannya yang berawal dari guru ngaji hingga kini dipercaya menjadi Sekretaris BPP UNUSIDA. Perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa pengabdian dan pengalaman adalah bekal penting untuk menjadi pribadi yang tangguh dan siap menghadapi berbagai tantangan.

“Kalau kita berhikmat, insyaallah rezeki akan datang, bukan kita yang mengejar rezeki. Jadilah guru yang menjaga nama baik profesi, bermanfaat bagi lingkungan, dan terus menebar kebaikan. Bahkan jika tak menjadi guru formal, Anda bisa menjadi guru ngaji, pelatih, atau pendidik dalam bentuk lainnya,” pesannya.

Yudisium ke-9 FKIP UNUSIDA ini diakhiri dengan penyerahan SK kelulusan dan ucapan selamat kepada seluruh peserta. Para calon lulusan diharapkan tidak hanya menjadi pendidik yang cakap di bidangnya, tetapi juga menjadi insan yang visioner, berdampak positif bagi masyarakat, serta menjunjung tinggi integritas di era teknologi digital. (MY)

Mahasiswa UNUSIDA Raih Gold Winner di Kompetisi Internasional di Turki (Foto: Humas Unusida)

Mahasiswa UNUSIDA Raih Gold Winner dalam Kompetisi Internasional di Turki

Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) di kancah internasional. Tim gabungan dari Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) berhasil meraih predikat Gold Winner dalam ajang 1 IDEA 1 World International Innovation, Design, and Startup Competition 2025 yang diselenggarakan di Ankara, Turki, pada 25–26 April 2025 lalu.

Tim yang terdiri dari Muhammad Tegar Kurniawan (Informatika), Ismialifatarbiyah (Desain Komunikasi Visual), Afifahtur Rachmadina (Pendidikan Bahasa Inggris), Aininna Halizah Rahma (Pendidikan Guru Sekolah Dasar), dan Irwan Febriansyah (Sistem Informasi) ini mengusung proyek inovatif berjudul IoTConnect: A Smart City Social Media Platform for Real-Time Sensor-Based Updates.

Dosen pembimbing UNUSIDA, Arda Surya Editya, menyampaikan apresiasi atas pencapaian ini. Ia berharap agar prestasi tersebut dapat menjadi inspirasi bagi seluruh civitas akademika untuk terus berinovasi dan berkontribusi dalam pembangunan masyarakat melalui teknologi.

“Keberhasilan ini berkat kolaborasi mahasiswa dari lintas disiplin ilmu. Sehingga mampu menciptakan solusi cerdas untuk masa depan kota yang lebih informatif dan responsif,” kata Arda.

Dekan FILKOM UNUSIDA tersebut menambahkan bahwa inovasi ini sejalan dengan prinsip open government dan smart governance yang menekankan pentingnya transparansi data dan kolaborasi antara pemerintah dan warganya.

“Keterbukaan informasi berbasis teknologi ini menjadi kunci dalam membangun kota yang adaptif dan responsif terhadap kebutuhan warganya,” tandasnya.

Sementara itu, ketua tim, Muhammad Tegar Kurniawan menjelaskan, proyek ini menawarkan solusi berbasis Internet of Things (IoT) yang mengintegrasikan sensor-sensor kota dengan platform media sosial untuk memberikan pembaruan informasi secara real-time kepada masyarakat. Inovasi ini bertujuan untuk meningkatkan partisipasi publik dan responsivitas pemerintah dalam pengelolaan kota pintar.

Tegar sapaan akrabnya mengungkapkan rasa syukur atas keberhasilan tim UNUSIDA dalam kompetisi ini. Menurutnya, prestasi ini menunjukkan bahwa kemampuan mahasiswa UNUSIDA juga memiliki potensi dalam mengembangkan solusi teknologi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat global. Selain itu, prestasi ini juga menjadi bukti komitmen UNUSIDA dalam mendorong inovasi dan kolaborasi lintas disiplin ilmu di kalangan mahasiswa.

“Terima kasih kepada dosen pembimbing Arda Surya Editya. Semoga prestasi ini dapat menginspirasi untuk terus berkarya dan berinovasi,” katanya kepada Humas UNUSIDA, Jum’at (23/5/2025).

Tegar menerangkan, inovasi ini memungkinkan berbagai sensor, seperti pendeteksi kualitas udara, kebisingan, suhu, hingga sensor banjir. Yang kemudian dapat mengirimkan data secara otomatis ke sebuah dashboard digital yang terhubung dengan akun media sosial resmi pemerintah daerah. Informasi ini kemudian dipublikasikan dalam bentuk notifikasi cepat, peta visual, atau peringatan dini yang bisa diakses oleh warga secara langsung melalui media sosial seperti Twitter, Instagram, atau WhatsApp Business.

“Kami ingin mendorong keterlibatan masyarakat dalam pemantauan kondisi kota. Sekaligus memberikan alat bantu bagi pemerintah agar bisa merespons lebih cepat terhadap situasi darurat atau perubahan kondisi lingkungan,” ujarnya

Melalui pendekatan yang mengandalkan sistem digital ini, ia dan tim tidak hanya berfokus pada pemantauan pasif. Tetapi juga membuka ruang partisipatif bagi masyarakat. Warga bisa memberikan umpan balik, melaporkan kondisi di lapangan, dan berdiskusi langsung melalui kanal digital yang disediakan.

“Kita sebagai mahasiswa, mencoba turut serta dalam pembangunan daerah. Menjadi pionir dalam mendorong penggunaan teknologi secara inklusif dan berkelanjutan,” pungkasnya. (MY)