Pos

Plt. Rektor UNUSIDA saat Mengunjungi SWAKARYA 2026, Pameran Tugas Akhir Mahasiswa DKV UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Mahasiswa DKV UNUSIDA Gelar Swakarya Pameran Tugas Akhir, Tampilkan Puluhan Karya Kreatif

SIDOARJO — Mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Swakarya: Pameran Tugas Akhir Mahasiswa yang berlangsung selama tiga hari, Kamis–Sabtu (25–27 Juni 2026). Kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa angkatan 2022 untuk memamerkan hasil karya terbaik mereka sebelum memasuki tahapan akhir akademik berupa ujian skripsi, yudisium, dan wisuda.

Pameran yang digelar di lingkungan Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) UNUSIDA tersebut menampilkan beragam karya kreatif mahasiswa DKV, mulai dari branding, ilustrasi, desain kampanye, fotografi, videografi, hingga berbagai karya visual yang lahir dari proses riset dan perancangan selama masa studi.

Dosen DKV sekaligus pembimbing tugas akhir, Sonhaji Arif, S.Pd., M.Sn., menyampaikan apresiasi atas perjuangan mahasiswa yang telah berhasil mencapai tahap pameran tugas akhir. Menurutnya, perjalanan hingga titik ini tidaklah mudah dan membutuhkan konsistensi serta kesungguhan yang tinggi.

“Setelah pameran ini, tahapan berikutnya adalah ujian skripsi, kemudian yudisium dan wisuda. Artinya, kalian tinggal menyelesaikan beberapa langkah terakhir sebelum resmi menjadi sarjana,” ujarnya saat membuka kegiatan.

Ia mengungkapkan bahwa dari sekitar 66 mahasiswa angkatan 2022, hanya sekitar 35 mahasiswa yang berhasil mencapai tahap pameran tugas akhir saat ini. Hal tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan semata, tetapi juga oleh komitmen dan konsistensi dalam menjalani proses.

“Banyak orang yang terlihat lebih hebat, tetapi belum tentu mampu bertahan hingga akhir. Yang membawa kalian sampai di sini adalah kesungguhan, kerja keras, dan konsistensi. Modal itulah yang nantinya juga akan sangat dibutuhkan ketika memasuki dunia kerja,” tegasnya.

Sementara itu, Dekan FILKOM UNUSIDA, Dr. Arda Surya Editya, S.Pd., M.T., menekankan bahwa pameran merupakan bagian penting dalam disiplin ilmu DKV yang berbasis seni dan komunikasi visual.

“DKV adalah rumpun keilmuan seni. Karena itu karya harus ditampilkan dan dikomunikasikan kepada publik. Pameran menjadi sarana untuk menunjukkan hasil proses kreatif yang selama ini dikerjakan mahasiswa,” jelasnya.

Menurut Arda, kegiatan pameran tidak hanya menjadi ajang apresiasi karya, tetapi juga membuka peluang kolaborasi dengan masyarakat, industri kreatif, hingga calon pengguna jasa desain yang berkunjung ke lokasi pameran.

“Kalau pameran, tentu harus ada yang dipamerkan. Karya-karya mahasiswa inilah yang menjadi bukti kompetensi mereka. Saya berharap kegiatan seperti ini terus berkembang dan dapat melibatkan lebih banyak pihak dari luar kampus sehingga karya mahasiswa semakin dikenal luas,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., memberikan motivasi kepada mahasiswa agar mampu menjaga kualitas sekaligus menyelesaikan studi tepat waktu.

“Masuk UNUSIDA harus bermutu dan lulus tepat waktu. Khusus di DKV, mutu itu dibuktikan melalui karya. Pameran ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa telah menghasilkan karya yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik maupun profesional,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya kemandirian dan keberanian mahasiswa dalam menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompetitif. Menurutnya, kemampuan teknis harus dibarengi dengan keberanian untuk menunjukkan hasil karya kepada publik.

“Jangan takut menunjukkan karya. Jangan berkecil hati. Kalian sudah berani memamerkan hasil kerja keras kepada masyarakat. Itu adalah langkah awal yang sangat penting untuk memasuki dunia profesional,” tuturnya.

Selain pameran karya, SWAKARYA 2026 juga menghadirkan seminar bersama praktisi kreatif yang membagikan pengalaman dan wawasan mengenai dunia industri kreatif. Pada hari pertama, seminar menghadirkan Habib Maulana, S.Ds. dengan tema Every Perspective Tells Motions. Sementara pada hari kedua, Charis Shodiq, S.Ds. berbagi materi bertajuk Menata Karier Pekerja Kreatif di Era Industri Digital.

Pameran ini dibuka untuk umum yang menjadi ruang apresiasi sekaligus inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus berkarya, berinovasi, dan menyelesaikan studi dengan mutu yang baik serta tepat waktu.

Salah satu mahasiswa sedang mempresentasikan sekaligus mendiseminasikan hasil karya ilmiah dan inovasi teknologi saat Diseminasi Tugas Akhir FILKOM UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

FILKOM UNUSIDA Diseminasi Tugas Akhir Secara Terbuka, Jadi Ajang Unjuk Karya Inovasi Mahasiswa

SIDOARJO — Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar kegiatan Diseminasi Tugas Akhir Mahasiswa di Hall Kampus 2 UNUSIDA, Rabu (17/6/2026). Kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mempresentasikan sekaligus mendiseminasikan hasil karya ilmiah dan inovasi teknologi yang telah dikembangkan sebagai tugas akhir kepada masyarakat akademik, dunia industri, dan sektor pendidikan.

Sebanyak 28 mahasiswa dari Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV), Sistem Informasi, dan Informatika turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Mereka memaparkan hasil penelitian, aplikasi, sistem informasi, produk digital, hingga karya desain yang telah disusun sebagai syarat penyelesaian studi.

Berbeda dari sidang tugas akhir pada umumnya, kegiatan ini menghadirkan berbagai pihak eksternal sebagai mitra dan pengguna potensial hasil karya mahasiswa. Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan industri dari PT SIAP, dosen, mahasiswa, serta perwakilan sektor pendidikan, termasuk guru dari SMK NU Ketegan.

Melalui forum diseminasi ini, para mahasiswa tidak hanya mempresentasikan hasil penelitiannya, tetapi juga melakukan demonstrasi dan uji coba langsung terhadap produk maupun sistem yang telah dikembangkan. Para peserta yang hadir diberikan kesempatan untuk memberikan masukan, kritik, dan saran guna menyempurnakan inovasi yang dihasilkan.

Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, yang hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan apresiasinya atas inisiatif FILKOM UNUSIDA dalam menghadirkan model pembelajaran yang menghubungkan karya akademik mahasiswa dengan kebutuhan nyata di masyarakat.

Menurutnya, kegiatan diseminasi tugas akhir menjadi langkah strategis untuk memastikan hasil penelitian mahasiswa tidak berhenti sebagai dokumen akademik semata, tetapi dapat dimanfaatkan oleh dunia industri, lembaga pendidikan, maupun masyarakat luas.

“Inovasi, kreativitas, dan solusi teknologi karya mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer UNUSIDA dipresentasikan dalam kegiatan Diseminasi Tugas Akhir sebagai wujud kontribusi nyata bagi masyarakat, dunia industri, dan perkembangan teknologi digital. Melalui forum ini, mahasiswa tidak hanya menyelesaikan studi, tetapi juga menunjukkan kemampuan dalam menghasilkan karya yang aplikatif, inovatif, dan berdampak,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa perkembangan teknologi yang begitu cepat menuntut perguruan tinggi untuk mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu menghadirkan solusi terhadap berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat dan dunia kerja.

Lebih lanjut, Dr. Hadi Ismanto menilai bahwa pelaksanaan diseminasi tugas akhir yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan merupakan langkah progresif yang patut dikembangkan di lingkungan UNUSIDA.

“Saya sangat mengapresiasi inisiatif FILKOM UNUSIDA yang menghadirkan berbagai pihak dari dunia industri dan pendidikan untuk melihat langsung karya mahasiswa. Dengan demikian, hasil penelitian dan inovasi yang dikembangkan dapat dikenalkan kepada mitra, dimanfaatkan oleh masyarakat, bahkan berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut sesuai kebutuhan pengguna,” ujarnya.

Menurutnya, model diseminasi seperti ini dapat menjadi pilot project bagi fakultas dan program studi lain di UNUSIDA. Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa didorong untuk menghasilkan karya yang tidak hanya memenuhi standar akademik, tetapi juga memiliki nilai guna dan dampak yang nyata.

“Kami berharap kegiatan ini dapat terus dikembangkan dan menjadi budaya akademik di UNUSIDA. Mahasiswa perlu diarahkan untuk menghasilkan inovasi dan karya ilmiah yang dapat diakses, dipahami, serta dimanfaatkan oleh berbagai kalangan masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, Dekan FILKOM UNUSIDA, Dr. Arda Surya Editya menjelaskan bahwa kegiatan diseminasi tugas akhir merupakan salah satu upaya untuk memperkuat keterhubungan antara dunia pendidikan tinggi dengan kebutuhan industri dan masyarakat. Selain menjadi ruang publikasi hasil penelitian mahasiswa, kegiatan ini juga membuka peluang kolaborasi dan pengembangan produk yang lebih luas.

Beragam karya yang dipamerkan dalam kegiatan tersebut menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam menjawab berbagai persoalan melalui pendekatan teknologi digital. Mulai dari pengembangan aplikasi berbasis web dan mobile, sistem informasi untuk kebutuhan organisasi dan pendidikan, hingga karya desain komunikasi visual yang mendukung promosi dan edukasi masyarakat.

Pihaknya sangat mendukung potensi mahasiswa untuk dapat menjelaskan konsep, proses pengembangan, hingga manfaat dari karya yang mereka hasilkan. Di sisi lain, para mitra industri dan guru yang hadir turut memberikan masukan mengenai peluang implementasi serta pengembangan produk agar lebih sesuai dengan kebutuhan pengguna.

“Melalui kegiatan Diseminasi Tugas Akhir ini, kami tidak hanya menunjukkan kualitas karya mahasiswa, tetapi juga mempertegas komitmennya dalam mencetak lulusan yang adaptif, kreatif, dan siap menghadapi tantangan era transformasi digital,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia berkomitmen untuk terus mendorong mahasiswa untuk menghasilkan karya yang relevan, solutif, dan berdaya saing, sehingga mampu berkontribusi dalam pembangunan ekosistem teknologi dan inovasi di Indonesia.

“Tentu, akan ada evaluasi dan inovasi disetiap penyelenggaraan. Kami ingin menunjukkan bahwa tugas akhir bukan sekadar syarat akademik untuk meraih gelar sarjana, melainkan dapat menjadi sarana lahirnya inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, dunia pendidikan, dan industri,” pungkasnya.

Mahasiswa Informatika UNUSIDA (dari kiri) Achmad Raffy Nadjib, Muhammad Rafi Nur Setyawan, dan M. Satrio Rohmatullah (Foto: Humas UNUSIDA)

Mahasiswa Informatika UNUSIDA Raih Juara 1 IYSA 2026 Kategori Sosial, Angkat Isu Kesenjangan Digital

SIDOARJO — Tiga mahasiswa Program Studi Informatika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) berhasil meraih Juara 1 dalam ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional yang diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association tahun 2026 kategori sosial.

Ketiga mahasiswa tersebut adalah Achmad Raffy Nadjib, Muhammad Rafi Nur Setyawan, dan M. Satrio Rohmatullah. Mereka mengusung karya berjudul ‘Implementasi Infrastruktur Nirkabel Point to Point (P2P) Jarak Jauh sebagai Solusi Kesenjangan Digital Pendidikan dan Masyarakat di Dusun Pucukan, Sidoarjo’.

Dengan mengangkat isu kesenjangan digital yang masih terjadi di wilayah Sidoarjo, khususnya di Dusun Pucukan. Ketua tim, Rafi Nur Setyawan menjelaskan bahwa ide tersebut berangkat dari kondisi nyata di lapangan, di mana masih terdapat wilayah yang memiliki keterbatasan akses digital, terutama untuk kebutuhan pendidikan.

“Awalnya ini dari keresahan kami melihat masih adanya kesenjangan akses internet. Padahal di era sekarang, akses digital sangat penting, khususnya untuk pendidikan,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (31/3/2026).

Karya yang diusung berfokus pada pembangunan infrastruktur jaringan nirkabel jarak jauh berbasis point to point (P2P) untuk mengatasi kesenjangan akses digital, khususnya di wilayah terpencil seperti Dusun Pucukan, Sidoarjo. Solusi ini diharapkan mampu meningkatkan akses pendidikan dan informasi bagi masyarakat setempat.

Menurutnya, keunggulan dari solusi yang mereka tawarkan terletak pada efisiensi dan kemampuannya menjangkau wilayah yang sulit terakses jaringan konvensional. Meski demikian, mereka mengakui terdapat tantangan dalam proses implementasi, terutama pada aspek teknis dan pengujian jaringan agar tetap stabil dalam berbagai kondisi.

“Harapan kami, solusi ini bisa benar-benar diterapkan dan memberikan dampak langsung bagi masyarakat,” tambahnya.

Ia menilai bahwa inovasi ini memiliki potensi besar untuk diterapkan secara lebih luas di berbagai daerah dengan kondisi geografis serupa di Indonesia.

Meski berhasil meraih juara pertama, Rafi dan tim mengaku belum merasa puas. Mereka menganggap capaian ini sebagai langkah awal dari perjalanan panjang dalam pengembangan karya.

“Bagi kami, lomba ini hanya panggung kecil. Tujuan kami bukan sekadar penghargaan, tetapi bagaimana solusi ini benar-benar bisa diterapkan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ungkap mereka.

Solusi yang ditawarkan berupa pembangunan jaringan nirkabel jarak jauh menggunakan teknologi point to point (P2P). Teknologi ini dinilai mampu menjangkau daerah terpencil dengan biaya yang lebih efisien dibandingkan infrastruktur konvensional.

Ke depan, ia berharap inovasi ini tidak hanya berhenti pada tahap karya ilmiah, tetapi dapat diimplementasikan secara nyata dan diperluas ke wilayah lain yang memiliki permasalahan serupa. Ia menekankan kepada mahasiswa terus peka terhadap permasalahan di sekitar dan berani mengembangkan solusi nyata.

“Mulailah dari masalah di sekitar kita, bukan hanya mencari judul yang terlihat menarik. Tetap santai, serius, dan sukses,” pungkasnya.

Mahasiswa Informatika (dari kiri) Khoirul Anam, Mochammad Rifky Sabilur Khaqiq, Muhammad Athaalf Attohir (Foto: Humas UNUSIDA)

Mahasiswa Informatika UNUSIDA Raih Juara 1 IYSA 2026 Lewat Inovasi Deteksi Longsor Si-Palang

SIDOARJO — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa program studi Informatika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Kali ini, 2 tim mahasiswa Program Studi Informatika berhasil meraih Juara 1 dalam ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional yang diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA) tahun 2026.

Ketua tim, Moch Rifky Sabilul Khaqiq menyebutkan bahwa keberhasilan ini berawal dari ide sederhana yang lama tertahan di kepala. Momentum hadir ketika kompetisi dari IYSA dibuka. Tim melihatnya sebagai wadah yang tepat untuk mengeksekusi gagasan tersebut.
“Bisa dibilang kami memanfaatkan kesempatan. Mumpung ada peluang, kami ambil dan kami maksimalkan,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (31/3/2026).

Rifky menjelaskan, ketertarikan terhadap topik ini tidak muncul begitu saja. Titik baliknya terjadi saat bencana longsor di Aceh pada tahun 2025. Peristiwa tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi tim, terutama karena longsor sebenarnya memiliki tanda-tanda awal yang berpotensi dideteksi.

Ia membandingkan dengan kemajuan teknologi di negara seperti Jepang, di mana gempa bumi saja sudah dapat diprediksi. Dari situ muncul dorongan kuat untuk menghadirkan solusi berbasis teknologi yang relevan dengan kondisi Indonesia.

Dari keresahan tersebut, lahirlah inovasi bernama Si-Palang (Sistem Pantau Lahan & Longsor). Sistem ini menggabungkan sensor kemiringan tanah dan kelembapan dengan algoritma Dynamic Thresholding.

Secara sederhana, alat ini mampu menyesuaikan ambang batas secara otomatis, seperti semakin miring tanah, semakin kecil toleransi kadar air sebelum sistem memberikan peringatan, serta dapat mengirim notifikasi ke ponsel warga melalui sistem geofencing.

“Keunggulan utama dari sistem ini adalah meminimalisir false alarm (peringatan palsu di area datar), mencegah gagal deteksi pada area lereng curam dan lebih dinamis, karena tidak bergantung pada satu parameter saja,” jelasnya.

Dalam proses pengembangan, tantangan terbesar yang dihadapi adalah tahap pengujian sistem, khususnya dalam menemukan korelasi yang tepat antara tingkat kemiringan dan kelembapan tanah.

Meski begitu, ia dan tim optimis bahwa inovasi ini memiliki potensi besar. Mengingat kondisi geografis Indonesia yang didominasi wilayah perbukitan dan dataran tinggi, teknologi seperti Si-Palang dapat menjadi solusi nyata dalam mitigasi bencana.

“Ke depan, kami berkomitmen untuk terus mengembangkan sistem agar semakin adaptif dan responsif terhadap kondisi lingkungan,” tandasnya.

Baginya, kemenangan ini bukanlah akhir. Rifky menganggap ajang ini hanya sebagai langkah awal dari perjalanan panjang inovasi mereka.

“Jujur saja, kami belum puas. Ini baru panggung kecil. Tujuan kami bukan sekadar piala atau sertifikat, tapi ketika Si-Palang benar-benar dipasang di daerah rawan longsor dan bisa menyelamatkan nyawa,” ungkapnya.

Menurutnya, prestasi ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi kampus, tetapi juga menjadi bukti bahwa karya mahasiswa mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Mulailah dari masalah nyata di sekitar kita, bukan sekadar mencari judul yang terlihat keren. Tetap santai, serius, dan sukses,” pungkasnya.