Pos

Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto usai menjadi Keynote Speaker dalam kegiatan 16th International Conference on Economics, Law, Social, Engineering, and Innovation (IC-ELSEI 2026) (Foto: Humas UNUSIDA)

Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto Bawa Gagasan Inovasi Berkelanjutan di Forum Internasional IC-ELSEI 2026

BALI — Plt. Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Dr. Hadi Ismanto, S.HI., M.Pd., dipercaya sebagai Keynote Speaker dalam kegiatan 16th International Conference on Economics, Law, Social, Engineering, and Innovation (IC-ELSEI 2026) yang diselenggarakan di Hotel Santika Kuta, Badung, Bali, Sabtu (5/9/2026).

Dalam forum internasional tersebut, Dr. Hadi Ismanto hadir dengan membawa perspektif mengenai inovasi berkelanjutan ala Nahdlatul Ulama (NU). Gagasan yang disampaikan menekankan bahwa inovasi dan perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar, tetapi dapat dibangun melalui kebiasaan sederhana yang dimulai dari lingkungan terdekat, terutama keluarga.

Pada kesempatan tersebut, Dr. Hadi Ismanto, yang tercantum sebagai Rector of Universitas Nahdlatul Ulama, Sidoarjo, Indonesia, menegaskan bahwa membangun inovasi berkelanjutan membutuhkan proses yang konsisten. Perubahan dapat dimulai dari keluarga dengan membiasakan pola pikir, perilaku, dan budaya akademik yang terstruktur.

Menurutnya, keluarga merupakan lingkungan pertama yang memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan kebiasaan seseorang. Dari lingkungan tersebut, nilai-nilai positif kemudian dapat berkembang ke lingkungan pendidikan, organisasi, hingga masyarakat.

“Inovasi berkelanjutan ala Nahdlatul Ulama dimulai dari keluarga terdekat. Kita membiasakan kebiasaan akademik yang terstruktur, kemudian menularkannya kepada masyarakat sekitar hingga akhirnya menjadi sebuah gerakan bersama,” jelas Dr. Hadi dalam pemaparannya.

Gagasan tersebut menjadi salah satu penekanan penting dalam materi yang disampaikan di hadapan peserta IC-ELSEI 2026. Inovasi, menurutnya, tidak cukup hanya menghasilkan gagasan baru, tetapi harus mampu menciptakan kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus sehingga memberikan dampak nyata.

Dimulai dari Kebiasaan Kecil

Dr. Hadi menjelaskan bahwa budaya inovasi dapat tumbuh ketika lingkungan terdekat mampu menciptakan kebiasaan yang mendukung proses belajar, berpikir kritis, berdiskusi, dan menyelesaikan persoalan secara sistematis.

Kebiasaan akademik yang terstruktur dapat diwujudkan melalui berbagai aktivitas sederhana. Misalnya, membangun budaya membaca, berdiskusi, mencatat, melakukan evaluasi, menyusun rencana, serta membiasakan diri mencari solusi atas berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.

“Ketika kebiasaan baik sudah terbentuk di keluarga, kebiasaan tersebut akan lebih mudah dibawa ke lingkungan yang lebih luas. Dari keluarga ke kampus, dari kampus ke masyarakat, dan dari masyarakat kemudian menjadi gerakan bersama,” ungkapnya.

Konsep tersebut sejalan dengan semangat pengabdian dan pemberdayaan yang menjadi bagian penting dari nilai-nilai Nahdlatul Ulama. Pengetahuan tidak berhenti pada individu, tetapi diharapkan dapat memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

Dari Individu Menjadi Gerakan Bersama

Lebih lanjut, Dr. Hadi menekankan pentingnya membangun inovasi yang memiliki keberlanjutan. Sebuah inovasi tidak boleh berhenti pada sebuah program atau kegiatan sesaat, melainkan harus mampu melahirkan ekosistem yang membuat masyarakat dapat melanjutkan dan mengembangkannya.

Dalam konteks perguruan tinggi, budaya tersebut dapat dibangun melalui sinergi antara pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa dan sivitas akademika tidak hanya didorong untuk memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu mengimplementasikan ilmu pengetahuan dalam menjawab kebutuhan masyarakat.

Semangat tersebut juga menjadi bagian dari upaya UNUSIDA dalam menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memiliki dampak sosial. Perguruan tinggi diharapkan mampu menjadi ruang lahirnya gagasan, inovasi, dan gerakan yang memberikan manfaat secara berkelanjutan.

Kehadiran Dr. Hadi Ismanto sebagai keynote speaker dalam IC-ELSEI 2026 sekaligus menjadi momentum bagi UNUSIDA untuk memperkenalkan perspektif pendidikan dan inovasi berbasis nilai-nilai Nahdlatul Ulama di forum internasional.

Forum IC-ELSEI 2026 ini sendiri mempertemukan berbagai akademisi dan pemangku kepentingan dari sejumlah institusi dalam membahas perkembangan ekonomi, hukum, sosial, teknik, serta inovasi.

Melalui forum tersebut, Dr. Hadi Ismanto membawa pesan bahwa inovasi berkelanjutan bukan sekadar tentang teknologi atau menciptakan sesuatu yang baru, tetapi tentang membangun kebiasaan baik, menumbuhkan budaya akademik, dan memastikan manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat.

Dari keluarga sebagai lingkungan terdekat, kebiasaan baik ditanamkan. Dari kebiasaan, lahirlah budaya. Dari budaya, tumbuh inovasi. Dan dari inovasi yang dilakukan secara bersama-sama, tercipta gerakan yang memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat.

“UNUSIDA terus berkomitmen menghadirkan pendidikan yang berdaya, inovatif, dan berdampak, sekaligus membawa nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah untuk menjawab tantangan masa depan,” tandasnya.

Khilyatul Afkar, Laboran Fakultas Teknik Unusida (Foto: Humas Unusida)

Laboran Fakultas Teknik Unusida Ciptakan Inovasi dalam Pengolahan Limbah Cair Laboratorium

Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida) memiliki Program Studi (Prodi) Teknik Lingkungan dan Teknik Kimia yang mana kedua Prodi tersebut dilengkapi dengan kegiatan praktikum untuk memahami konsep teoritis guna menunjang pembelajaran. Namun, praktikum juga berpotensi menghasilkan limbah cair yang dapat mencemari lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan jika tidak diolah dengan benar.

Hal tersebut yang disikapi oleh Laboran (Tenaga Kerja di Laboratorium) Fakultas Teknik (FT) Unusida, Khilyatul Afkar, S. T. Ia mencoba menciptakan pengolahan limbah cair laboratorium dengan menggunakan teknologi fotokatalis. Teknologi tersebut menggunakan cahaya tampak untuk menghasilkan radikal hidroksil yang dapat mendegradasi limbah cair.

Khilya bersama kepala Laboratorium Unusida, Muchammad Tamyiz yang juga sebagai pembimbing mencoba menciptakan solusi dari masalah sebagai konsekuensi dari aktivitas praktikum di laboratorium, yaitu dua limbah cair hasil dari aktivitas di laboratorium.

Di mana limbah cair tersebut mengandung berbagai senyawa berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia jika tidak diolah dengan baik dan benar. Limbah cair laboratorium mengandung senyawa organik maupun anorganik.

Menurutnya, limbah cair laboratorium yang dikumpulkan dalam kurun waktu yang lama akan mencemari lingkungan jika langsung dibuang ke lingkungan sehingga merusak struktur tanah, membahayakan kelangsungan hidup ekosistem air maupun darat, serta berdampak bagi kesehatan manusia. Berdasarkan hal tersebut, limbah cair laboratorium perlu diolah agar tidak mencemari lingkungan.

“Keunggulan teknologi ini adalah mineralisasi total terhadap polutan organik, proses yang cepat, tanpa racun, dan memiliki kemampuan penggunaan jangka panjang,” terangnya, Kamis (20/06/2024).

Melalui Inovasi pengolahan limbah tersebut, ia menjadi penerima Hibah Karya Inovasi Laboran (KILab) 2024 dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek). Dalam penelitiannya, ia mengangkat topik Pengembangan Teknologi Fotokatalis dengan judul ‘Sintesis Komposit Karbon Nitrida Grafit (g-C3N4) dan Hydrochar Tempurung Kelapa Sebagai Fotokatalis untuk Mendegradasi Limbah Cair Sisa Praktikum di Laboratorium Kualitas Lingkungan’.

Alumni Teknik Lingkungan Unusida tersebut menjelaskan, teknologi fotokatalis memanfaatkan cahaya menjadi energi kimia yang dapat menghasilkan radikal hidroksil dan akan bereaksi redoks terhadap senyawa polutan, sehingga dapat meningkatkan kualitas air karena telah terdegradasi.

Bahan fotokatalis yang digunakan adalah g-C3N4 yang disintesis dari urea, sedangkan Hydrochar disintesis dari limbah tempurung kelapa yang akan dilakukan pengujian menggunakan FTIR, XRD, dan SEM untuk mengidentifikasi senyawa organik, analisis struktur kristal, dan struktur morfologi komposit tersebut.

“Jadi, saya mencoba untuk mengurangi polutan yang terkandung di dalam limbah cair dari hasil penelitian mahasiswa yang menumpuk dengan berfokus pada penggabungan metode adsorpsi dan fotodegradasi menggunakan g-C3N4 dan Hydrochar untuk memaksimalkan degradasi limbah cair laboratorium,” terangnya.

Khilya menjelaskan, selain bahan seperti urea dan tempurung mudah didapat karena jumlahnya melimpah di alam, alasannya melakukan penelitian dengan sintesis ini karena dapat menghasilkan kuantum yang sangat tinggi di bawah cahaya tampak (LED Blue), besarnya lebih tinggi dari hasil sebelumnya untuk evolusi hidrogen dengan g-C3N4.

Dengan begitu, limbah cair laboratorium yang semula mengandung kadar polutan (sesuatu yang mencemari tanah dan air di dalam tanah) yang tinggi dapat dinetralisir untuk mencegah pencemaran lingkungan.

“Melalui proses ini dapat mengurangi kadar BOD, COD, TSS, TDS, Logam, Pb dan Cd sebesar 40% kadar polutan pada limbah,” jelasnya.

Lebih lanjut, Khilya menyebutkan bahwa penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan material yang dapat digunakan di masa depan. Seperti dengan mengembangkan material komposit aktif agar lebih kuat untuk mendegradasi kadar polutan dalam limbah hingga mencapai kadar aman.

Ia bertekad untuk menyelesaikan penelitian ini dengan sebaik-baiknya. Sebab, melalui inovasi pengolahan limbah cair laboratorium ini juga dapat mengurangi biaya dalam melakukan penampungan.

“Rencana jangka pendek selanjutnya adalah menyelesaikan penelitian ini dengan maksimal. Sudah seharusnya limbah yang bersifat toxic atau beracun lebih baik ditampung terlebih dahulu, untuk kebaikan lingkungan dan manusia,” imbuhnya.

Ia mengungkapkan bahwa inovasi yang didapatkan dari materi kuliah Teknik Lingkungan. Ia memiliki keinginan untuk menyelesaikan permasalahan limbah di laboratorium, dengan memberikan pandangan bagi mahasiswa tentang pengolahan limbah yang baik dan benar juga dapat menghemat biaya.

“Terima kasih kepada dosen pembimbing, bapak Muchammad Tamyiz, M. Si., Ph. D dan semua pihak yang selalu mendukung penelitian. Saya sangat senang dan bersyukur karena bisa lolos pendanaan dan berkontribusi untuk UNUSIDA dan lingkungan sekitar khususnya di bidang sains dan teknologi” ungkapnya.

Diketahui, program KILab tersebut resmi diluncurkan oleh Direktorat Sumber Daya pada Tahun 2023 lalu yang bertujuan untuk meningkatkan mutu dan layanan di perguruan tinggi. Juga untuk memfasilitasi hasil karya inovatif yang bermanfaat bagi perguruan tinggi pengusul.

Program ini dirancang untuk mendorong peningkatan mutu layanan di laboratorium, pengembangan kompetensi dan profesi para Penyelenggara Laboratorium Pendidikan (PLP) dan Laboran, serta mendiseminasikan pemanfaatan hasil karya inovatif mereka.

 

(my)