Pos

Kepala UPT PIK UNUSIDA, Gus Arisy Kuswanto saat Ngaji Rutin Kitab Nashoihul Ibad. (Foto: Humas UNUSIDA)

Ngaji Rutin Kitab Nashoihul Ibad: Koreksi Diri dalam Ibadah dan Belajar Menumbuhkan Rasa Syukur

SIDOARJO — Kajian rutin Kitab Nashoihul Ibad bersama H. M. Arisy Karomy, S.T., M.Pd.I., kembali digelar di Masjid KH Muhammad Hasyim Asy’ari PCNU Sidoarjo, Selasa Kliwon, (22/9/2026). Dalam kajian tersebut, Gus Arisy mengajak jamaah untuk senantiasa melakukan muhasabah atau introspeksi diri, khususnya dalam pelaksanaan ibadah salat. Menurutnya, seorang muslim perlu membiasakan diri mengevaluasi kualitas ibadah, bukan sibuk menilai ibadah orang lain.

“Coba koreksi diri kita sendiri. Salat kita, gerakan dan doa-doanya, apakah sudah sempurna?” pesannya.

Ia juga mengingatkan agar amal ibadah tidak menjadi alasan untuk menyombongkan diri ataupun mencari pengakuan dari orang lain. Amal seharusnya menjadi jalan seorang hamba untuk semakin merendahkan diri di hadapan Allah SWT.

“Tidak perlu melihat validasi orang lain. Cukup bersimpuh di hadapan Allah. Kita perlu melatih diri setiap hari untuk mengakui kekurangan dan kelemahan kita,” tuturnya.

Melihat ke Atas dalam Urusan Akhirat

Dalam kajian tersebut, jamaah juga diajak membangun cara pandang yang tepat dalam menjalani kehidupan. Untuk urusan akhirat, seseorang dianjurkan melihat kepada mereka yang lebih baik dalam beribadah.

Jika ada orang yang lebih disiplin menjaga salat, termasuk menjalankan salat-salat sunnah, maka hal tersebut dapat dijadikan teladan. Begitu pula ketika melihat orang yang lebih tekun membaca Al-Qur’an, hendaknya muncul keinginan untuk meniru dan meningkatkan kualitas diri.

Menurutnya, melihat orang lain dalam konteks tersebut bukan untuk merasa rendah diri, melainkan sebagai motivasi untuk memperbaiki kualitas ibadah.

Dalam Urusan Dunia, Belajarlah Melihat ke Bawah

Sebaliknya, ketika berbicara mengenai urusan duniawi, manusia dianjurkan melihat kepada mereka yang memiliki keterbatasan lebih besar.

Ia memberikan gambaran sederhana. Ketika seseorang sudah memiliki sepeda motor, jangan hanya melihat orang yang mempunyai mobil. Sebaliknya, lihatlah mereka yang bahkan belum memiliki sepeda motor.

Begitu pula dengan kesehatan. Ketika diberikan kesehatan, jangan hanya membandingkan diri dengan orang yang memiliki kondisi lebih baik. Lihat pula mereka yang sedang sakit dan mungkin belum memiliki kesempatan untuk datang mengaji atau menjalankan aktivitas seperti biasa.

Cara pandang tersebut dapat menumbuhkan rasa syukur atas berbagai nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Menurutnya, kehidupan tidak hanya membutuhkan usaha untuk meningkatkan kualitas diri, tetapi juga kemampuan untuk mengenali nikmat dan keterbatasan yang dimiliki.

“Dengan begitu akan muncul rasa syukur. Melalui muhasabah, keteladanan dalam ibadah, serta kebiasaan melihat ke bawah dalam urusan dunia, seseorang diharapkan mampu menjalani kehidupan dengan hati yang lebih rendah diri, tidak mudah membandingkan diri secara berlebihan, dan semakin dekat kepada Allah SWT.,” jelasnya.

Dr. H. Rangga Sa’adilah, S.A.P., M.Pd.I. saat menyampaikan tausiah dalam kajian rutin setelah sholat Dhuhur tersebut bertempat di Masjid KH. M. Hasyim Asy’ari PCNU Sidoarjo. (Foto: Humas UNUSIDA)

Kajian Aswaja, Dosen FAI UNUSIDA Dorong Pelestarian Sholawat Thobibiyah dan Budaya Sholat Jamaah

SIDOARJO — Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) Dr. H. Rangga Sa’adilah, S.A.P., M.Pd.I., menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga keberadaan sholawat atau pujian yang dilantunkan setelah adzan dan sebelum iqamah. Menurutnya, tradisi tersebut tidak sekadar menjadi lantunan yang mengisi waktu antara adzan dan iqamah, tetapi juga memiliki nilai pendidikan dan pembiasaan bagi umat.

Sholawat Thobibiyah dipandang sebagai salah satu bentuk doa dan pujian kepada Allah SWT serta Nabi Muhammad SAW. Lantunan tersebut menjadi bagian dari tradisi keagamaan yang telah dilakukan secara turun-temurun di tengah masyarakat Muslim, khususnya dalam lingkungan Nahdlatul Ulama.

“Pembiasaan melantunkan sholawat dan pujian sebelum pelaksanaan sholat berjamaah sangat penting dalam melestarikan tradisi yang telah diwariskan oleh para ulama dan leluhur dalam kehidupan umat Islam,” jelasnya saat menyampaikan tausiah dalam kajian rutin setelah sholat Dhuhur tersebut bertempat di Masjid KH. M. Hasyim Asy’ari PCNU Sidoarjo, Selasa (15/9/2026).

Dalam kajian tematik tersebut, Dr. Rangga menjelaskan bahwa waktu antara adzan dan iqamah merupakan waktu yang memiliki keutamaan untuk berdoa. Karena itu, lantunan pujian sebelum iqamah dapat menjadi momentum bagi jamaah untuk memanjatkan doa sekaligus mempersiapkan diri melaksanakan sholat berjamaah.

“Setiap doa di antara adzan dan iqamah tidak akan pernah tertolak,” menjadi salah satu pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut sebagai pengingat kepada jamaah agar memanfaatkan waktu antara adzan dan iqamah dengan aktivitas yang bernilai ibadah.

Lebih dari sekadar tradisi, lantunan sholawat dan pujian sebelum iqamah juga dinilai memiliki fungsi edukatif. Suara sholawat yang terdengar oleh lingkungan sekitar dapat menjadi pengingat bagi masyarakat untuk segera bersiap melaksanakan sholat berjamaah.

Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu strategi untuk mendidik umat Islam, termasuk generasi muda dan anak-anak, agar semakin dekat dengan masjid dan terbiasa dengan suasana sholat berjamaah. Pesan-pesan keagamaan yang disampaikan melalui lantunan sholawat dapat diterima secara sederhana dan berulang dalam kehidupan sehari-hari.

“Lantunan pujian sebelum iqamah adalah strategi untuk mendidik umat Islam, tetangga kita, dan anak-anak kita,” ungkapnya.

Tradisi tersebut juga memperlihatkan bagaimana dakwah dapat dilakukan melalui pendekatan yang lembut dan merangkul. Sholawat yang dilantunkan sebelum iqamah menjadi sarana untuk mengajak masyarakat menuju masjid tanpa tekanan. Suasana religius yang tercipta diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran dan kecintaan terhadap sholat berjamaah.

Hal ini sejalan dengan karakter dakwah Ahlussunnah wal Jamaah yang mengedepankan pendekatan yang santun dalam menyampaikan ajaran Islam. Tradisi yang diwariskan para ulama tidak hanya dipandang dari bentuk pelaksanaannya, tetapi juga perlu dipahami nilai dan tujuan yang terkandung di dalamnya.

“Begitu indahnya lantunan sholawat yang diajarkan oleh ulama-ulama kita, dengan merangkul tanpa memukul. Mari kita lestarikan bersama,” pesannya.

Pelestarian tradisi keagamaan tersebut juga dinilai penting di lingkungan pendidikan, termasuk perguruan tinggi. Kampus bukan hanya menjadi tempat pengembangan ilmu pengetahuan dan keterampilan profesional, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan karakter, spiritualitas, serta kepedulian sosial mahasiswa.

Dalam konteks UNUSIDA, budaya sholat berjamaah diharapkan dapat terus tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan sivitas akademika. Kebiasaan sederhana seperti memenuhi panggilan adzan, menuju masjid, melaksanakan sholat berjamaah, hingga menjaga suasana religius di lingkungan kampus dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter mahasiswa.

“Mari kita gerakkan budaya sholat jamaah menjadi mempengaruhi di setiap lini di kampus kita,” menjadi ajakan untuk menjadikan sholat berjamaah bukan sekadar aktivitas rutin, tetapi budaya positif yang dapat memberikan pengaruh bagi lingkungan sekitar.

Kajian Aswaja ini menjadi salah satu ikhtiar untuk menjaga kesinambungan tradisi keislaman sekaligus memperkuat pemahaman warga UNUSIDA dan masyarakat terhadap nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Melalui kajian dan pembiasaan, tradisi keagamaan diharapkan tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi terus hidup dan relevan dalam kehidupan generasi saat ini.

Dengan semangat merangkul tanpa memukul, pelestarian sholawat, pujian sebelum iqamah, dan budaya sholat berjamaah diharapkan mampu menjadi gerakan bersama. Dari masjid, lingkungan keluarga, masyarakat, hingga kampus, nilai-nilai tersebut dapat terus ditanamkan sebagai bagian dari kehidupan umat Islam.

“Menjaga tradisi bukan hanya tentang mempertahankan kebiasaan, tetapi juga memahami nilai pendidikan, spiritualitas, dan kebersamaan yang ada di dalamnya. Melalui langkah-langkah sederhana dan dilakukan secara konsisten, budaya sholat berjamaah diharapkan semakin kuat dan memberikan dampak positif bagi kehidupan sivitas akademika serta masyarakat luas,” pungkasnya.