Pos

Diklatsar II MAPANUSIDA di Lembah Madu Pandaan (Foto: Humas UNUSIDA)

Diklatsar II MAPANUSIDA Jadi Momentum Meneguhkan Kembali Nilai Khitah Gerakan Intelektual Soe Hok Gie

PASURUAN — Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pecinta Alam Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (MAPANUSIDA) kembali meneguhkan komitmennya dalam membangun karakter mahasiswa melalui pelaksanaan Diklatsar II yang dilaksanakan di Lembah Madu, Pandaan, Sabtu-Ahad (20-21/6/2026).

Ketua UKM MAPANUSIDA, Muhammad Reza Sujali menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda regenerasi organisasi, tetapi juga sebagai ruang transformasi nilai untuk membentuk pribadi yang tangguh, kritis, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan realitas sosial.

Semangat tersebut berangkat dari pemikiran Soe Hok Gie, tokoh yang dikenal sebagai penggagas lahirnya organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) di Indonesia. Gie mendirikan Mapala sebagai bentuk kegelisahannya terhadap kondisi mahasiswa yang dinilai terlalu larut dalam politik praktis dan kehilangan independensi berpikir. Menurutnya, kampus harus menjadi ruang lahirnya manusia merdeka yang kritis, bukan sekadar perpanjangan kepentingan tertentu.

“Diklatsar bukan sekadar gerbang masuk organisasi, melainkan ruang transformasi manusia. Dari proses ini, kami berharap lahir kader-kader yang tidak hanya kuat di medan alam, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, kemampuan berpikir kritis, dan kesadaran untuk berkontribusi bagi masyarakat,” jelasnya.

Melalui Mapala, Gie menghadirkan ruang yang inklusif dan nonpolitik, tempat mahasiswa dari berbagai latar belakang dapat belajar bersama tanpa sekat kepentingan. Alam dipilih sebagai media pembelajaran karena dianggap sebagai ruang paling jujur untuk memahami kehidupan. Di alam, manusia dituntut untuk mengandalkan kemampuan diri, menjunjung solidaritas, serta menjaga kejujuran dalam menghadapi berbagai tantangan.

Nilai-nilai tersebut kini terus dihidupkan oleh MAPANUSIDA. Bagi organisasi ini, mendaki gunung, menjelajah alam, maupun mengikuti kegiatan lapangan bukan sekadar aktivitas rekreasi, melainkan cara untuk membaca realitas kehidupan secara lebih autentik. Setiap perjalanan, rasa lelah, hingga proses bertahan dalam situasi sulit menjadi bagian dari pendidikan karakter yang membentuk ketahanan mental dan kesadaran kritis.

Di tengah era modern, organisasi pecinta alam menghadapi berbagai tantangan, mulai dari anggapan sebagai organisasi yang kurang diminati, stigma aktivitas berisiko, hingga pandangan bahwa kegiatan Mapala tidak memiliki kontribusi akademik yang signifikan. Padahal, di balik setiap prosesnya, terdapat pembelajaran penting tentang disiplin, kepemimpinan, solidaritas, manajemen risiko, serta kepedulian terhadap lingkungan.

Ia menegaskan bahwa organisasi pecinta alam merupakan ruang pembelajaran yang mampu membentuk karakter, mental, dan kepemimpinan mahasiswa melalui berbagai pengalaman nyata di lapangan. Menurutnya, setiap kegiatan yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada eksplorasi alam, tetapi juga menjadi proses pembelajaran yang membangun nilai-nilai kehidupan.

Oleh karena itu, melalui Diklatsar II ini, MAPANUSIDA berupaya menjawab tantangan tersebut dengan menghadirkan proses kaderisasi yang berorientasi pada transfer nilai. Peserta tidak hanya ditempa secara fisik, tetapi juga diajak memahami makna dari setiap proses yang dijalani. Ketahanan fisik dipadukan dengan pembentukan mental, sehingga melahirkan pribadi yang mampu menghadapi dinamika kehidupan dengan lebih matang.

“MAPANUSIDA bukan hanya tempat berkumpulnya mahasiswa yang memiliki minat terhadap alam bebas. Lebih dari itu, organisasi ini menjadi laboratorium kehidupan yang mengajarkan tentang tanggung jawab, kerja sama, kepedulian sosial, kedisiplinan, hingga kemampuan mengambil keputusan dalam berbagai situasi,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa aktivitas di alam terbuka memberikan pengalaman yang tidak selalu diperoleh di ruang kelas. Berhadapan langsung dengan berbagai kondisi alam menuntut setiap anggota untuk mampu beradaptasi, berpikir cepat, dan bekerja sama dalam menyelesaikan tantangan yang dihadapi.

Melalui proses tersebut, mahasiswa belajar memahami arti penting kepemimpinan, solidaritas, serta rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri maupun kelompok. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal berharga yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maupun saat terjun ke masyarakat.

Menurutnya, keberadaan organisasi pecinta alam juga memiliki peran penting dalam menumbuhkan kesadaran lingkungan di kalangan generasi muda. Di tengah berbagai persoalan lingkungan yang semakin kompleks, mahasiswa dituntut untuk tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga mampu mengambil peran sebagai bagian dari solusi.

“Kami ingin menanamkan kesadaran bahwa menjaga alam bukan hanya tanggung jawab kelompok tertentu, melainkan tanggung jawab bersama. Melalui berbagai kegiatan konservasi, edukasi lingkungan, dan pengabdian kepada masyarakat, anggota MAPANUSIDA diajak untuk menjadi pribadi yang peduli terhadap keberlangsungan lingkungan hidup,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Reza menuturkan bahwa pengalaman berorganisasi di MAPANUSIDA turut membentuk mental tangguh yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan kehidupan. Kegiatan lapangan yang menuntut ketahanan fisik dan mental menjadi sarana bagi anggota untuk mengenali potensi diri sekaligus belajar mengelola berbagai situasi yang tidak terduga.

Baginya, setiap perjalanan di alam merupakan proses pembelajaran yang sarat makna. Alam mengajarkan manusia tentang kesederhanaan, kesabaran, rasa syukur, dan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dengan lingkungan sekitarnya.

“Alam bukan sekadar tujuan perjalanan. Alam adalah ruang belajar yang mengajarkan banyak hal tentang kehidupan. Ketika berada di alam, kita belajar menghargai proses, memahami keterbatasan diri, dan menyadari bahwa manusia merupakan bagian dari ekosistem yang harus hidup berdampingan dengan lingkungan,” pungkasnya.

Penulis: Rifki Hidayat (MY)

MAPALA UNUSIDA Jadi Relawan di Dapur Umum Musibah Ambruknya Bangunan Pesantren Al Khoziny (Foto: MAPALA UNUSIDA)

MAPALA UNUSIDA Jadi Relawan Dapur Umum di Lokasi Musibah Pesantren Al Khoziny Buduran

SIDOARJO – Musibah ambruknya salah satu bangunan di Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, pada Senin (29/9/2025) lalu tidak hanya menyisakan kepanikan di kalangan santri dan pengurus, tetapi juga memunculkan gelombang kepedulian dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari Unit Kegiatan Mahasiswa Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) yang sigap hadir sebagai relawan di dapur umum.

Sejak kabar musibah tersebar, puluhan anggota MAPALA UNUSIDA langsung berkoordinasi dan memutuskan terjun ke lokasi. Mereka tidak hanya fokus pada evakuasi korban, tetapi juga memastikan kebutuhan dasar para santri, khususnya makanan, tetap terpenuhi. Para mahasiswa pecinta alam itu bekerja sama dengan pengurus pesantren, warga, dan tim tanggap darurat lain untuk mengolah logistik, memasak, hingga mendistribusikan makanan bagi santri, relawan, dan aparat yang berjibaku di lapangan.

Suasana kebersamaan terasa ketika mahasiswa dengan penuh semangat mengaduk panci besar, menyiapkan nasi bungkus, hingga membagikan air minum. Bahkan sebagian dari mahasiswa juga ikut mendata kebutuhan logistik agar aliran bantuan tepat sasaran.

Pembina MAPALA UNUSIDA, Jeziano Rizkita Boyas, S.E., M.M., menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa di dapur umum adalah wujud nyata pengabdian sosial sekaligus pembelajaran karakter.

“Mahasiswa tidak boleh hanya terpaku pada aktivitas akademik, tetapi juga harus hadir di tengah masyarakat dalam situasi sulit. Membantu di dapur umum bukan perkara sepele, ini adalah kerja kemanusiaan yang memastikan semua pihak memiliki energi untuk bertahan. Saya bangga anak-anak MAPALA UNUSIDA mampu menjalankan tugas dengan semangat, disiplin, dan kepedulian,” ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua MAPALA UNUSIDA, Reza Sujali, menambahkan bahwa peran di dapur umum sama pentingnya dengan evakuasi di lapangan. Keterlibatan MAPALA UNUSIDA dirasakan langsung oleh pesantren dan para santri. Kebutuhan pangan tetap terpenuhi meski kondisi penuh keterbatasan, sehingga relawan lain dapat fokus pada evakuasi.

“Kami sadar tidak semua orang bisa langsung terlibat dalam evakuasi, tetapi semua orang butuh makan untuk bertahan. Karena itu kami memilih fokus juga di dapur umum, menyiapkan makanan bagi santri, relawan, dan aparat. Dari sinilah semangat gotong royong terus hidup,” ungkapnya saat dikonfirmasi pada Kamis (2/10/2025).

Mahasiswa Prodi Teknik Industri tersebut menjelaskan, melalui aksi sederhana tetapi vital ini, MAPALA UNUSIDA membuktikan bahwa mahasiswa bukan hanya agen perubahan dalam teori, melainkan juga garda kemanusiaan di lapangan. Pengalaman ini menjadi ruang belajar berharga untuk melatih kedisiplinan, kerjasama tim, dan kepekaan sosial, sekaligus memperkuat sinergi antara kampus, pesantren, dan masyarakat.

Ia berharap dapat terus menanamkan nilai kepedulian, kebersamaan, dan semangat gotong royong, sesuai dengan jati diri mahasiswa dan spirit Ahlussunnah wal Jama’ah yang menjadi landasan UNUSIDA.

“Kami hadir untuk membantu meringankan beban para korban dan menunjukkan bahwa mahasiswa juga memiliki peran sosial dalam setiap musibah kemanusiaan,” pungkasnya. (MY)