Pos

Ayu Munjidah, S.Pd., alumni Program Studi S1 PGSD UNUSIDA sebagai guru di MI Al Abror Pekauman. (Foto: Humas UNUSIDA)

Inspiratif! Ayu Munjidah Menebar Manfaat sebagai Pendidik Berbekal Ilmu dan Pengalaman Organisasi

Pendidikan bukan sekadar proses memperoleh gelar akademik, tetapi juga perjalanan membentuk karakter, mengembangkan potensi, serta menyiapkan generasi muda untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Nilai itulah yang dirasakan oleh Ayu Munjidah, S.Pd., alumni Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) angkatan 2020 yang kini mengabdikan diri sebagai guru di MI Al Abror Pekauman.

Bagi Ayu, perjalanan selama menempuh pendidikan di UNUSIDA menjadi salah satu fase paling berharga dalam hidupnya. Tidak hanya memperoleh bekal ilmu akademik, ia juga mendapatkan pengalaman organisasi, karya ilmiah, hingga pembinaan karakter yang menjadi modal utama dalam menjalankan profesinya sebagai seorang pendidik.

Saat mengenang masa-masa kuliah, Ayu mengaku memiliki banyak pengalaman yang sulit dilupakan. Salah satu momen yang paling membanggakan adalah ketika dirinya berhasil menerbitkan dua buku antologi puisi bersama beberapa dosen UNUSIDA.

Karya tersebut lahir melalui proses pendampingan dan bimbingan yang intensif dari para dosen, khususnya Agung Purnomo, beserta dosen-dosen lainnya yang terus mendorong mahasiswa untuk berani berkarya dan mengembangkan kreativitas di luar kegiatan akademik.

“Pengalaman saya selama kuliah di UNUSIDA yang paling berkesan adalah ketika saya memiliki dua buku puisi karya saya bersama beberapa dosen UNUSIDA dengan bimbingan Pak Agung Purnomo dan beberapa dosen lainnya,” ungkap Ayu.

Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa lingkungan akademik UNUSIDA tidak hanya mendorong mahasiswa untuk unggul di bidang akademik, tetapi juga memberikan ruang yang luas bagi pengembangan minat, bakat, dan kreativitas mahasiswa.

Selain aktif berkarya, Ayu juga menjadi bagian dari perjalanan awal berdirinya Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Unggul. Bersama rekan-rekan mahasiswa lainnya, ia turut merintis organisasi tersebut dari awal hingga berkembang menjadi salah satu wadah pengembangan prestasi mahasiswa di lingkungan kampus.

Menurutnya, membangun sebuah organisasi bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan komitmen, kerja sama, serta semangat untuk terus belajar dan berproses bersama.

“Pengalaman bersama teman-teman UKM Mahasiswa Unggul menjadi salah satu cerita yang tidak akan pernah saya lupakan. Kami merintis dan membangun UKM tersebut mulai dari nol hingga berada di titik seperti sekarang,” kenangnya.

Melihat perkembangan UKM Mahasiswa Unggul yang terus melahirkan mahasiswa berprestasi setiap tahunnya memberikan kebanggaan tersendiri bagi Ayu. Ia merasa perjuangan yang dilakukan bersama teman-teman saat merintis organisasi tersebut kini mulai membuahkan hasil.

“Saya sangat bangga melihat perkembangan UKM Mahasiswa Unggul yang dari tahun ke tahun bisa berkarya lebih baik lagi dan terus dilanjutkan oleh adik-adik junior yang hebat,” ujarnya.

Kini, ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama menjadi mahasiswa UNUSIDA menjadi bekal utama Ayu dalam menjalankan amanah sebagai seorang pendidik di MI Al Abror Pekauman.

Ia menilai bahwa UNUSIDA memberikan banyak manfaat bagi perjalanan kariernya. Tidak hanya membekali mahasiswa dengan kompetensi akademik, tetapi juga membentuk karakter serta memberikan nilai-nilai kehidupan yang sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan.

“Kampus UNUSIDA banyak memberikan manfaat untuk karier saya yang sekarang, alhamdulillah masih diamanahi menjadi seorang pendidik,” tuturnya.

Menurut Ayu, keberhasilan seorang guru tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengajar, tetapi juga oleh keteladanan, kesabaran, dan semangat untuk terus belajar. Nilai-nilai tersebut banyak ia pelajari dari para dosen selama menempuh pendidikan di UNUSIDA.

Ia mengaku masih mengingat dengan baik setiap ilmu, nasihat, dan keteladanan yang diberikan oleh para dosen. Baginya, para dosen UNUSIDA bukan hanya pengajar, tetapi juga mentor yang memberikan inspirasi dalam menjalani profesi sebagai pendidik.

“Di bangku kuliah, saya bertemu dengan dosen-dosen yang hebat dan kompeten. Mereka menjadi salah satu penunjang bagi saya ketika kuliah dan sampai detik ini saya masih mengingat jasa serta ilmu yang beliau ajarkan kepada kami,” katanya.

Pengalaman belajar bersama dosen yang berdedikasi membuat Ayu semakin yakin bahwa menjadi seorang guru adalah profesi yang mulia sekaligus penuh tanggung jawab. Ia berkomitmen untuk meneruskan nilai-nilai yang telah diajarkan selama kuliah kepada peserta didiknya.

Sebagai alumni, Ayu berharap UNUSIDA terus melahirkan lulusan-lulusan yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, semangat berkarya, serta siap memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ia juga berpesan kepada mahasiswa yang saat ini sedang menempuh pendidikan agar memanfaatkan setiap kesempatan yang ada di kampus, baik melalui kegiatan akademik maupun organisasi kemahasiswaan.

Menurutnya, pengalaman berorganisasi, berkarya, dan membangun jejaring selama kuliah akan menjadi bekal yang sangat berharga ketika memasuki dunia kerja.

“Perjalanan di bangku kuliah bukan sekadar mengejar nilai atau gelar, melainkan proses membentuk pribadi yang tangguh, kreatif, dan siap mengabdi kepada masyarakat. Dengan bekal ilmu, pengalaman organisasi, serta bimbingan para dosen, yang menjadi inspirasi hingga kini untuk terus mengabdikan diri di dunia pendidikan dengan harapan dapat mencetak generasi penerus bangsa yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia,” pungkasnya.

Mochamad Dafa Perdana, S.Pd., alumni Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UNUSIDA angkatan 2023 (Foto: Humas UNUSIDA)

Kisah Alumni PBI UNUSIDA: Dari Kampus, Tumbuh Menjadi Pendidik yang Menginspirasi

Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menorehkan kebanggaan melalui kiprah para alumninya yang terus berkarya dan memberikan kontribusi nyata di dunia pendidikan. Salah satunya adalah Mochamad Dafa Perdana, S.Pd., alumni Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UNUSIDA angkatan 2023 yang kini mengabdikan diri sebagai Guru Bahasa Inggris di SMA Pembangunan Jaya Sidoarjo.

Bagi Dafa, menempuh pendidikan di UNUSIDA bukan sekadar perjalanan akademik untuk memperoleh gelar sarjana. Lebih dari itu, kampus menjadi ruang pembelajaran yang membentuk karakter, integritas, dan profesionalisme yang kini menjadi bekal utama dalam menjalankan tugas sebagai pendidik.

“Menjadi alumni UNUSIDA, khususnya dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, merupakan pengalaman yang sangat bermakna. Saya tidak hanya dibekali dengan pengetahuan tentang bahasa dan pedagogi, tetapi juga nilai-nilai karakter yang kuat yang membentuk saya menjadi pendidik yang lebih siap dan berprinsip,” ungkapnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (26/5/2026).

Selama masa perkuliahan, Dafa mendapatkan berbagai pengalaman yang mendukung pengembangan kompetensinya sebagai calon guru. Mulai dari pembelajaran akademik, praktik mengajar, hingga pendampingan dosen yang memberikan wawasan dan pengalaman berharga dalam dunia pendidikan.

Menurutnya, UNUSIDA memiliki peran penting dalam membangun fondasi kariernya sebagai seorang pendidik. Melalui proses pembelajaran yang terintegrasi antara teori dan praktik, ia memperoleh keterampilan profesional, rasa percaya diri, serta etos kerja yang kuat untuk menghadapi tantangan dunia pendidikan yang terus berkembang.

“UNUSIDA has played an important role in building the foundation of my career as an English educator. Through academic learning, teaching practice, and lecturers’ guidance, I gained professional skills, confidence, and a strong work ethic that have greatly supported my career development,”

“UNUSIDA telah memainkan peran penting dalam membangun fondasi karier saya sebagai pendidik bahasa Inggris. Melalui pembelajaran akademis, praktik mengajar, dan bimbingan dosen, saya memperoleh keterampilan profesional, kepercayaan diri, dan etos kerja yang kuat yang sangat mendukung pengembangan karier saya,”,” tuturnya.

Kini, sebagai guru Bahasa Inggris, Dafa berkomitmen untuk terus menghadirkan pembelajaran yang inspiratif dan bermakna bagi para peserta didiknya. Ia percaya bahwa seorang guru tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi teladan dalam membangun karakter generasi muda.

“Alhamdulillah, bangga sekali pernah menempuh pendidikan di UNUSIDA yang selalu melahirkan lulusan yang kompeten, berkarakter, dan siap memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Semoga bisa terus menginspirasi dan membawa semangat perubahan bagi masa depan pendidikan Indonesia,” pungkasnya.

HIMA PGMI UNUSIDA Gelar Webinar Kurikulum Berbasis Cinta (Foto: Tangkapan Layar HIMA PGMI UNUSIDA)

HIMA PGMI UNUSIDA Gelar Webinar Kurikulum Berbasis Cinta, Dorong Pendidikan Humanis dan Berkarakter

SIDOARJO — Himpunan Mahasiswa Program Studi (Hima Prodi) Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses menyelenggarakan Webinar Nasional dengan mengusung tema ‘Mendesain Masa Depan Pendidikan melalui Kurikulum Berbasis Cinta’ yang dilaksanakan secara daring, Sabtu (4/42026). Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa, pendidik, serta peserta umum dari berbagai daerah.

Ketua HIMA PGMI UNUSIDA, Nurul Eka Maulidia, menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi ikhtiar untuk membuka ruang refleksi sekaligus inspirasi dalam merancang kurikulum pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga berlandaskan nilai cinta, empati, dan kemanusiaan.

“Saya sangat mengapresiasi kepada seluruh jajaran panitia maupun peserta yang telah antusias mengikuti kegiatan ini. Harapannya, tema yang diangkat mampu menjadi gagasan transformatif di dunia pendidikan,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, ia berharap peserta tidak hanya memperoleh wawasan baru, tetapi juga termotivasi untuk mengimplementasikan nilai-nilai cinta dan empati dalam praktik pendidikan sehari-hari. “Semoga webinar ini menjadi kontribusi nyata dalam upaya membangun masa depan pendidikan yang lebih berkarakter, humanis, dan bermakna,” ungkapnya.

Memasuki sesi inti, webinar menghadirkan narasumber kompeten di bidang pendidikan, yakni Risalul Ummah, S.Pd., M.Pd. dan Moh Anang Abidin, M.Pd. Keduanya memaparkan konsep, strategi, serta contoh implementasi kurikulum berbasis cinta dalam praktik pembelajaran di berbagai jenjang pendidikan.

Dalam pemaparannya, Ketua Program Studi PGMI UNUSIDA, Moh. Anang Abidin menjelaskan bahwa kurikulum berbasis cinta menekankan pada pendekatan humanis yang mengedepankan empati, kasih sayang, serta penghargaan terhadap potensi setiap individu. Menurutnya, suasana belajar yang dilandasi rasa cinta akan menciptakan lingkungan yang nyaman, inklusif, dan mendorong siswa untuk berkembang secara optimal.

“Pendidikan bukan hanya transfer ilmu, tetapi juga proses membangun hubungan yang penuh makna antara guru dan peserta didik. Dari situlah nilai-nilai kebaikan dapat tumbuh secara alami,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menguraikan sejumlah strategi implementasi, seperti pendekatan pembelajaran yang dialogis, penguatan pendidikan karakter, serta integrasi nilai-nilai spiritual dan sosial dalam setiap kegiatan belajar. Selain itu, guru juga didorong untuk menjadi teladan dalam menumbuhkan sikap peduli, toleransi, dan tanggung jawab.

Tidak hanya sebatas konsep, Moh. Anang Abidin juga memberikan contoh konkret penerapan kurikulum berbasis cinta di kelas, mulai dari pembiasaan sikap saling menghargai, penggunaan metode pembelajaran kolaboratif, hingga refleksi harian yang membantu siswa memahami nilai-nilai kehidupan.

“Melalui gagasan ini, saya yakin para pendidik mampu menciptakan proses pembelajaran yang lebih bermakna dan berdampak positif bagi perkembangan akademik maupun karakter peserta didik di semua jenjang pendidikan,” jelasnya.

Suasana kegiatan berlangsung interaktif saat sesi diskusi dan tanya jawab dibuka. Peserta menunjukkan antusiasme tinggi dengan menyampaikan pertanyaan, pandangan, serta berbagi pengalaman dalam mengelola pembelajaran di berbagai konteks pendidikan.

Secara keseluruhan, webinar berjalan lancar, tertib, dan sesuai dengan rencana. Tingginya partisipasi peserta menjadi indikator bahwa tema kurikulum berbasis cinta dinilai relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini yang menekankan keseimbangan antara aspek akademik dan nilai kemanusiaan.

Alumni PGSD UNUSIDA, Izathun Alcharimah Ana Safitri, S.Pd., M.Pd. (Foto Humas UNUSIDA)

Dari Dunia Pendidikan ke Ruang Publik, Kisah Izathun Alcharimah Alumni PGSD UNUSIDA Berkiprah di Bawaslu Sidoarjo

Perjalanan karier tidak selalu berjalan lurus sesuai bidang studi. Hal inilah yang dibuktikan oleh alumni Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Izathun Alcharimah Ana Safitri, S.Pd., M.Pd. Lulusan tahun 2019 tersebut kini berkiprah sebagai penyelenggara pemilu di Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Sidoarjo.

Berangkat dari latar belakang pendidikan dasar, Izathun membuktikan bahwa ilmu yang diperoleh selama kuliah tidak hanya relevan di ruang kelas, tetapi juga dapat menjadi bekal penting dalam dunia publik yang dinamis. Menurutnya, pendidikan adalah fondasi dalam membangun kesadaran demokrasi dan integritas masyarakat.

“PGSD mengajarkan saya tentang kesabaran, komunikasi, dan tanggung jawab. Nilai-nilai itu sangat relevan ketika bekerja di ruang publik,” ungkapnya kepada Humas UNUSIDA, Kamis (5/3/2026).

Dalam perannya sebagai penyelenggara pemilu di Bawaslu Sidoarjo, Izathun terlibat dalam pengawasan berbagai tahapan pemilu di tingkat kabupaten. Tugasnya meliputi memastikan proses berjalan sesuai regulasi, menjaga netralitas, hingga menangani berbagai dinamika yang muncul di lapangan.

Peran tersebut menuntut ketelitian administrasi, keberanian dalam mengambil keputusan, serta kemampuan menyampaikan informasi secara objektif kepada masyarakat. Menurutnya, dunia kepemiluan merupakan ruang pembelajaran yang sangat kaya akan pengalaman.

“Ketika berada di dunia publik, kita belajar untuk lebih dewasa. Setiap ucapan dan tindakan memiliki konsekuensi. Kita harus bijak, netral, dan tetap berpegang pada aturan,” jelasnya.

Pengalaman tersebut menjadi jembatan menuju kematangan pribadi. Ia belajar mengelola emosi, bersikap profesional di tengah perbedaan pandangan, serta membangun komunikasi yang sehat dengan berbagai pihak—baik peserta pemilu, sesama penyelenggara, maupun masyarakat.

Sebagai alumni PGSD, Izathun juga merasakan bahwa kemampuan mendidik dan memberikan pemahaman kepada masyarakat menjadi nilai tambah tersendiri. Dalam berbagai kegiatan sosialisasi pengawasan partisipatif, latar belakang pendidikannya membantu dalam menyampaikan informasi secara komunikatif dan mudah dipahami.

“Edukasi kepada masyarakat itu penting. Demokrasi yang sehat tidak hanya bergantung pada penyelenggara, tetapi juga pada kesadaran masyarakat,” tuturnya.

Ia pun membagikan sejumlah pesan bagi mahasiswa, khususnya dari Prodi PGSD, agar tidak membatasi diri dalam menentukan masa depan. Menurutnya, lulusan PGSD memiliki kompetensi komunikasi, manajemen, dan kepemimpinan yang dapat diterapkan di berbagai bidang.

Selain itu, ia menekankan pentingnya membangun integritas sejak dini. Dalam dunia kepemiluan, netralitas dan kejujuran menjadi prinsip utama yang tidak dapat ditawar. Kemauan untuk terus belajar serta kesiapan menghadapi kritik juga menjadi bekal penting bagi siapa pun yang ingin berkiprah di ruang publik.

Bagi Izathun, perjalanan kariernya bukan sekadar tentang posisi atau jabatan, tetapi tentang proses bertumbuh sebagai pribadi. Dunia publik membentuknya menjadi lebih sabar, tegas, dan bertanggung jawab dalam menjalankan amanah.

Kini, sebagai bagian dari Bawaslu Sidoarjo, ia merasa memiliki tanggung jawab besar untuk turut menjaga kualitas demokrasi di daerah. Ia percaya bahwa demokrasi yang kuat memerlukan pengawasan yang profesional serta individu-individu yang matang secara karakter.

Kisah Izathun menjadi bukti bahwa alumni PGSD memiliki ruang kontribusi yang luas, termasuk di dunia kepemiluan. Pendidikan yang ia tempuh menjadi fondasi untuk memahami masyarakat, membangun komunikasi, serta menjaga integritas dalam setiap langkah pengabdian.

“Menjadi bagian dari penyelenggara pemilu bukan hanya tentang bekerja, tetapi tentang mengabdi. Dunia publik adalah ruang untuk belajar menjadi lebih dewasa dan bertanggung jawab,” pungkasnya.

Rektor Unusida, H Fatkul Anam saat menerima Anugerah Pendidikan NU 2025 (Foto: TVNU)

UNUSIDA Bangga Raih Anugerah Pendidikan Nahdlatul Ulama 2025, Bukti Dedikasi dalam Dunia Pendidikan

Di usia ke 10 Tahun, Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) dikenal menjadi Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) dengan segudang prestasi, baik di kancah regional, nasional, hingga internasional. Kali ini UNUSIDA kembali memantapkan diri sebagai salah satu kampus NU terbaik setelah meraih Anugerah Pendidikan Nahdlatul Ulama 2025 untuk Kategori Pendidikan Tinggi. Pemberian penghargaan itu masih dalam rangkaian dari agenda Kongres Pendidikan NU di Hotel Bidakara Jakarta, Rabu (23/01/2025).

Rektor UNUSIDA, H Fatkul Anam yang juga turut hadir dan mengikuti Kongres Pendidikan Nahdlatul Ulama 2025, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas penghargaan tersebut. Ia menyebutkan bahwa terdapat tiga PTNU yang mendapat Anugerah Pendidikan NU 2025. Selain UNUSIDA yang menjadi satu-satunya di Pulau Jawa, dua PTNU lainnya yang menerima penghargaan serupa yaitu Universitas Nahdlatul Ulama NTB, dan Universitas Maarif NU Lampung.

“Bagi UNUSIDA Capaian ini sungguh sangat membanggakan. Ini sekaligus menambah deretan prestasi lainnya sepanjang 2024, di antaranya UNUSIDA naik ke Klaster Utama dalam Klasterisasi PT penyelenggara pendidikan akademik,” terangnya.

Lebih lanjut, ketua Forum Rektor PTNU tersebut menyampaikan komitmen UNUSIDA melalui berbagai program pendidikan yang tidak hanya unggul dalam aspek akademik, tetapi juga dalam pengembangan karakter mahasiswa.

Ia mengatakan, penghargaan ini dapat semakin melecut semangat UNUSIDA untuk terus berkiprah dan berkontribusi dalam mempersiapkan generasi muda yang berkompeten dan berdaya saing global.

Selain itu, penghargaan ini menjadi bukti bahwa pendidikan yang berlandaskan pada nilai-nilai Aswaja dan kebangsaan yang diterapkan di UNUSIDA sangat relevan dalam menciptakan SDM yang unggul dan siap menghadapi tantangan global.

“Penghargaan ini saya persembahkan untuk seluruh civitas akademika UNUSIDA yang telah bekerja keras dalam menciptakan pendidikan berkualitas dan berdaya saing. Kami akan terus berupaya untuk menjaga dan meningkatkan kualitas pendidikan di UNUSIDA, serta memberi kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa,” ujarnya.

Ketua BPP UNUSIDA, KH Arly Fauzi mengungkapkan rasa bangga dan mengapresiasi seluruh civitas akademika atas prestasi ini. “Alhamdulillah, Allahu Akbar ini hasil kerja keras seluruh civitas akademika UNUSIDA. Juga berkat doa para kiai hingga menjadikan UNUSIDA kebanggaan warga NU Sidoarjo,” katanya melalui pesan WhatsApp.

Tidak kalah bangganya, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU Sidoarjo), KH Zainal Abidin juga sangat menyambut dengan bangga capaian ini. Ia berharap UNUSIDA dapat menjadi contoh bagi PTNU lain untuk terus berinovasi dalam menciptakan pendidikan yang lebih baik dan berdaya saing, serta menjaga tradisi dan nilai-nilai luhur NU.

“Setahap demi setahap UNUSIDA melangkah pasti dengan menunjukkan capaian dan prestasi yang membanggakan. PCNU akan terus mendorong agar UNUSIDA terus menunjukkan progres menuju perguruan tinggi yang unggul,” katanya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Kongres Pendidikan NU 2025, Prof H Mohammad Mukri, yang dalam laporannya diwakili Gus Ulil Abshar Abdalla menjelaskan bahwa terdapat beragam kriteria dalam Penghargaan Anugerah Pendidikan NU 2025.

Gus Ulil menjelaskan penentuan penghargaan kepada lembaga dan tokoh yang layak mendapatkan penghargaan yang ditentukan oleh Tim Tujuh yakni Ketua PBNU KH Ulil Abshar Abdalla dan KH Ahmad Suaedy, Rektor UNU Yogyakarta Widya Priyahita Pudjibudojo, Ketua RMI PBNU KH Hodri Arif, dan Wakil Sekretaris PBNU Sidrotun Naim.

Kriteria penghargaan ini mencakup lembaga-lembaga pendidikan yang bekerja secara tim, seperti madrasah dan sekolah-sekolah yang dikelola dengan baik dan terakreditasi. Di antaranya mulai di tingkat universitas, Madrasah Aliyah (MA), atau lembaga pendidikan lainnya yang berafiliasi terhadap NU.

“Insyaallah, penghargaan ini akan diberikan dalam lima kategori yang telah disebutkan: RA/TK, LP Ma’arif NU, RMINU, LPTNU, dan pondok pesantren. Semua penghargaan ini akan diberikan kepada lembaga-lembaga di bawah NU,” jelasnya.

Terkait kriteria lembaga, Prof Mukri menegaskan bahwa fokus pada lembaga-lembaga yang tidak hanya berprestasi dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki nilai tambah dalam pengelolaan lingkungan, keberlanjutan, atau sistem pendidikan yang terstruktur dengan baik.

 

(my)