Dalam momentum Hari Kartini, Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Afifatus Sholikhah, S.M., M.M. menyampaikan gagasan reflektif bahwa Kartini tidak lagi sekadar sosok sejarah, melainkan representasi nyata dari perempuan masa kini yang menjalani perannya dengan keberanian, ketulusan, dan makna.
Menurutnya, Kartini hari ini hadir dalam berbagai wajah: perempuan pekerja, ibu rumah tangga, mahasiswi, pelaku usaha, hingga mereka yang berjuang dalam diam. Tidak ada standar tunggal tentang bagaimana menjadi perempuan hebat, karena setiap perempuan adalah Kartini dengan versinya masing-masing.
“Dunia tidak membutuhkan perempuan yang seragam, tetapi perempuan yang autentik, yang mampu menjalani perannya dengan kesadaran dan tanggung jawab,” ujarnya.
Kepala Bagian Humas dan Informasi Publik UNUSIDA tersebut menyoroti perempuan yang bekerja sebagai wujud nyata emansipasi yang hidup dalam tindakan sehari-hari. Bangun pagi, menghadapi tuntutan pekerjaan, menyelesaikan tanggung jawab, hingga tetap berusaha memberikan yang terbaik adalah bentuk perjuangan yang sering kali tak terlihat, namun sangat bermakna.
Di sisi lain, ia juga menegaskan bahwa peran ibu rumah tangga memiliki kemuliaan yang sama. Mengurus rumah, mendidik anak, dan menjaga keharmonisan keluarga merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban. “Dari tangan seorang ibu, lahir generasi yang kuat, berakhlak, dan berdaya,” tambahnya.
Baginya, baik perempuan yang bekerja, ibu rumah tangga, maupun yang menjalani keduanya, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Yang membedakan hanyalah jalan yang dipilih, bukan nilai dari peran itu sendiri.
Lebih jauh, ia mengajak perempuan masa kini untuk berani bermimpi, berkembang, dan tidak terjebak pada standar sosial yang tidak realistis. Menjadi perempuan hebat bukan berarti harus sempurna, tetapi berani menjadi diri sendiri dan terus bertumbuh.
Hari Kartini, lanjutnya, menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan belum selesai. Namun perjuangan itu bisa dimulai dari hal kecil: keberanian untuk berbicara, keteguhan untuk bertahan, dan ketulusan dalam menjalani peran sehari-hari. Dalam refleksi ini, alumni UNUSIDA tersebut mengajak untuk merayakan setiap perjuangan perempuan, sekecil apa pun, serta menghargai setiap peran yang dijalani dengan penuh keyakinan bahwa tidak ada usaha yang sia-sia.
“Sebagai perempuan, kita tidak harus menjadi orang lain untuk dianggap hebat. Kita hanya perlu menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri,” pungkasnya.